PARADIGMA OLD PUBLIC ADMINISTRATION
TUGAS MATA KULIAH
“TEORI ADMINISTRASI LANJUTAN”
DOSEN PENGAMPU:
RACHMAT HIDAYAT, [Link]., [Link]., [Link]., Ph.D.
Oleh
Fauzan
NIM 190930101001
PROGRAM PASCASARJANA ILMU ADMINISTRASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2019
1
A. Prolog
Dalam penyelenggaraan pemerintahan di manapun, Administrasi Publik
akan memainkan peran penting diantaranya dalam menyelenggarakan pelayanan
publik guna mewujudkan salah satu tujuan utama dibentuknya Negara yakni
kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dalam konteks Indonesia misalnya, tujuan dari
dibentuknya pemerintahan sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang-
Undang Dasar (UUD) 1945 diantaranya adalah untuk memajukan kesejahteraan
umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perjalanan penyelenggaraan peran
Administrasi Publik yang demikian, telah mengalami berbagai macam
perkembangan dimulai pada masa sebelum lahirnya konsep Negara Bangsa
hingga lahirnya ilmu modern dari Administrasi Publik yang hingga saat ini telah
mengalami beberapa kali pergeseran paradigma, mulai dari model klasik yang
berkembang dalam kurun waktu 1855/1887 hingga akhir 1980 an;
Konsep yang pertama berkembang saat itu adalah konsep The Old Public
Administration. Konsep ini pertama kali dikemukan oleh seorang Presiden AS dan
juga merupakan Guru Besar Ilmu politik, Woodrow Wilson. Beliau menyatakan
bidang administrasi itu sama dengan bidang bisnis. Maka dari itu munculah
konsep Old Public Administration yang memiliki tujuan melaksanakan kebijakan
dan memberikan pelayanan, dimana dalam pelaksanaannya, dilakukan secara
netral, profesional, dan lurus mengarah kepada tujuan yang telah ditetapkan. Ada
dua kunci dalam memahami Old Public Administration ini, pertama, adanya
perbedaan yang jelas antara politik (policy) dengan administrasi. Kedua, perhatian
untuk membuat struktur dan startegi pengelolaannya hak organisasi publik
2
diberikan kepada manajernya (pemimpin), agar tugas-tugas dapat dilakukan
secara efektif dan efisien.
Seiring dengan berkembangnya keadaan sosial yang ada di masyarakat dan
perkembangan proses pembangunan bagaimana membangun suatu institusi yang
lebih baik, konsep Old Public Administration (OPA) dianggap tidak lagi relevan
dengan keadaan saat itu. Old Public Administration (OPA) dianggap lebih
berpihak kepada kekuasaan kelompok yang dominan dalam masyarakat, namun
tidak berpihak kepada kekuasaan diluar struktur kekuasaan yang ada di setiap
jenjang pemerintahan, sehingga kemudian muncul suatu konsep baru yaitu New
Public Administration.
B. Paradigma Old Publik Administration
Paradigma Administrasi Negara Lama dikenal juga dengan sebutan
Administrasi Negara Tradisional atau Klasik. Paradigma ini merupakan
paradigma yang berkembang pada awal kelahiran ilmu administrasi negara. Tokoh
paradigma ini adalah antara lain adalah pelopor berdirinya ilmu administrasi
negara Woodrow Wilson dengan karyanya “The Study of Administration” (1887)
serta F.W. Taylor dengan bukunya “Principles of Scientific Management”.
Dalam paradigma OPA, gerakan untuk melakukan perubahan yang lebih
baik telah diprakarsai oleh Woodrow Wilson. Ia menyarankan agar administrasi
publik harus dipisahkan dari dunia politik (dikotomi politik-administrasi).
Berdasarkan pengalaman Wilson, negara terlalu memberi peluang bagi para
administrator untuk mempratekan sistem nepotisme dan spoil. Karenanya ia
3
mengeluarkan doktrin untuk melakukan pemisahan antara dunia legislatif (politik)
dengan dunia eksekutif, dimana para legislator hanya merumuskan kebijakan dan
para administrator hanya mengeksekusi atau mengimplementasikan kebijakan.
Sosok birokrasi yang ditawarkan Wilson ini sejalan dengan jiwa atau
semangat bisnis. Wilson menuntut agar para administrator publik selalu
mengutamakan nilai efisiensi dan ekonomis sehingga mereka harus diangkat
berdasarkan kecocokan dan kecakapan dalam bekerja ketimbang keanggotaan
atau kedudukan dalam suatu partai politik. Ajakan Wilson untuk meniru dunia
bisnis ini membawa suatu implikasi penting dalam pemerintahan yaitu bahwa
prinsip-prinsip dalam dunia bisnis yang diparkasai oleh Taylor pantas untuk
diperhatikan. Metode keilmuan, menurut Taylor, harus menggeser metode rule of
thumb. Tenaga kerja harus diseleksi, dilatih dan dikembangkan secara ilmiah, dan
didorong untuk bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai tugas pekerjaan
sesuai prinsip-prinsip keilmuan. Dunia telah mengakui kebesaran Taylor dalam
membangun prinsip manajemen yang profesional.
Max Weber, ahli hukum dan sosiologi terkenal, sekaligus filsuf ilmu sosial
yang terkenal, melahirkan adanya suatu konsep birokrasi ideal untuk dijalankan
dalam suatu negara . konsep itu adalah Weber mengemukakan karakteristik-
karakteristik teori birokrasi miliknya, :
Adanya pembagian tugas/tanggung jawab yg jelas dan formal, sehingga
batas-batas otoritas atau peran dari setiap unit organisasi dapat diketahui
dengan jelas dan tegas
4
Adanya hierarki tanggung jawab dan wewenang, dimana unit bawahan
dikontrol oleh unit atasan. Mata rantai komando disusun secara resmi,
prosedural, jelas dan tegas
Pengelolaan kegiatan dan interaksi antara unit-unit organisasi dilakukan
berdasarkan dokumen-dokumen resmi
Hubungan bersifat impersonal
Pembagian tugas dan penunjukan jabatan resmi dilakukan berdasarkan
pertimbangan kompetensi teknis
Para individu dalam birokrasi dituntut bekerja sepenuh waktu (full time) dan
umumnya dalam jangka waktu yang panjang (bahkan umumnya sampai
pensiun)
Para birokrat atau pengelola birokrasi bertindak atau berperan dengan harus
mengikuti peraturan-peraturan tertentu è para birokrat dilindungi secara
hukum, bebas dari tekanan pihak manapun.
Birokrasi tidak memihak atau secara politik adalah netral è harus bertindak
secara profesional juga mengajak untuk melaksanakan prinsip-prinsip Taylor.
Menurut Weber, ketika masyarakat berkembang semakin kompleks maka
dibutuhkan atau diperlukan suatu institusi yang rasional yaitu “birokrasi”.
Dalam birokrasi ini diatur perilaku yang tidak saja produktif tetapi juga loyal
terhadap pimpinan dan organisasi. Perilaku yang “impersonal” dan “saklek”
harus diterapkan. Hubungan kekeluargaan, kelompok sosial dan sebagainya
tidak mendapat tempat untuk dipertimbangkan dalam birokrasi. Karenanya,
para anggota organisasi harus ditempatkan berdasarkan kemampuan yang
dimiliki, dikembangkan dan dituntun dengan peraturan yang jelas dalam
menjalankan tugasnya.
5
Dalam perkembangannya, doktrin OPA di atas menghadapi masalah
(fallacies). Misalnya, Taylor sangat yakin bahwa hanya ada satu cara terbaik (one
best way of doing the task) untuk melakukan tugas, padahal dalam perkembangan
jaman terdapat banyak cara lain untuk bekerja terbaik, hasil rekayasa teknologi
dan ilmu pengetahuan (Taylor fallacy). Demikian pula, Wilson cenderung melihat
dunia administrasi publik sebagai kegiatan yang tidak politis, padahal dalam
kenyataannya bersifat politis (Wilson fallacy). Weber yakin sosok organisasi
birokrasi sangat ideal, padahal dalam perkembangannya bisa berubah sifatnya
menjadi sangat kaku, karena tidak ada inovasi dari para karyawannya. bertele-tele
karena sangat struktural hierarkis , dan penuh red-tape atau pemnyimpangan-
penimpangan dalam suatu birokrasi itu sendiri. (Weber fallacy).
Menurut Owen [Link] (1994), ada 6 alasan munculnya paradigma baru
yaitu :
1) Administrasi publik tradisional telah gagal mencapai tujuannya secara efektif
dan efisien sehingga perlu diubah menuju ke orientasi yang lebih
memusatkan perhatian pada pencapaian hasil(kinerja) dan akuntabilitas;
2) Adanya dorongan yang kuat untuk mengganti tipe birokrasi klasik yang kaku
menuju ke kondisi organisasi public, kepegawaian, dan pekerjaan yang lebih
luwes;
3) Perlunya menetapkan tujuan organisasi da pribadi secara jelas dan juga perlu
ditetapkan alat ukur keberhasilan kinerja lewat indicator kinerja;
4) Perlunya para pegawai senior lebih punya komitmen politik pada pemerintah
yang sedang berkuasa daripada bersikap netral atau non partisan;
5) Fungsi-fungsi yang dijalankan pemerintah hendaknya lebih disesuaikan
dengan tuntutan dan signal pasar; dan
6
6) Adanya kecenderungan untuk mereduksi peran dan fungsi pemerintah dengan
melakukan kontrak kerja dengan pihak lain (contracting out) dan privatisasi.
Meski demikian, dari paradigma OPA ini dapat dipelajari bahwa untuk
membangun birokrasi diperlukan profesionalitas, penerapan aturan dan
standardisasi secara tegas, sikap yang netral dan perilaku yang mendorong
efisiensi dan efektivitas.
C. Epilog
Dari dinamika paradigma administrasi yang telah dipaparkan, dapat ditarik
konklusi bahwa perkembangan paradigma akan terus berlanjut karena kebutuhan
dan aspek lebih representatif dan relevan terhadap perkembangan zaman. Setiap
kegagalan dalam implementasi konsep paradigma akan ditindaklanjuti dengan
evaluasi dan kritik untuk memperbaiki paradigma. Selain itu, paradigma juga
disesuaikan dengan ekologi masyarakat untuk dapat mewujudkan administrasi
publik yang ideal dalam memberikan kontribusi pelayanan pada publik.
Paradigma Administrasi Negara Lama dikenal juga dengan sebutan
Administrasi Negara Tradisional atau Klasik. Paradigma ini merupakan
paradigma yang berkembang pada awal kelahiran ilmu administrasi negara. Tokoh
paradigma ini adalah antara lain adalah pelopor berdirinya ilmu administrasi
negara Woodrow Wilson dengan karyanya “The Study of Administration”(1887)
serta F.W. Taylor dengan bukunya “Principles of Scientific Management”
D. Daftar Pustaka
7
Dwiyanto, Agus. 2006. Reorientasi Ilmu Administrasi Publik: Dari Government
ke Governance (Kumpulan Tulisan dalam buku Dari Administrasi Negara
ke Administrasi Publik). Gama press. Yogyakarta.
Erwan Agus Purwanto.2005.“Pelayanan Publik Partisipatif ”, Mewujudkan Good
Governance melalui Pelayanan Publik. Gadjah Mada University
[Link].
Frederickson, H, G. 1997. The Spirit of Public Administration. Jossey-Bass Inc.
California.
Indah mindarti, Leli. 2007. Revolusi Adinistrasi Publik, Malang: Bayu Media
Publishing.
Kencana, Inu Syafiie dkk.1999. Ilmu Administrasi [Link] Cipta. Jakarta.
Keban,T. Yeremias. [Link] Dimensi Strategis Administrasi Publik :
Konsep,Reori dan Isu. Gava Media. Yogyakarta
Nicholas [Link] Administration and Public Affairs (Sixth Edition),
Englewood Cliffs, New Jersey.
Osborne, D.,and Gabler, T. 1992. Reinventing Government. Reading, Mass.
Addison-Wessley.
Suharyanto, Hadriyanus. 2005. Administrasi Publik: Entrepreneurship,
Kemitraan, Dan Reinventing Government. Cetakan [Link]
Wacana. Yogyakarta.
Thoha, Miftah .2008. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer. Kencana Prenada
Media Group. Jakarta.
__________. 2002. Dimensi-dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara. PT
RajaGrafindo Persada. Jakarta
Utomo Warsito .2006. Administrasi Publik Baru Indonesia : perubahan
padadigma dari administrasi Negara ke administrasi public. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta.