0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan13 halaman

Kadar Klorofil

Dokumen ini membahas cara mengukur kadar klorofil pada daun tanaman Walisongo dengan umur yang berbeda-beda menggunakan spektrofotometer. Variabel yang diukur adalah kadar klorofil a, b, total, dan absorbansi pada panjang gelombang 649 dan 665 nm.

Diunggah oleh

Rizma Fatikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan13 halaman

Kadar Klorofil

Dokumen ini membahas cara mengukur kadar klorofil pada daun tanaman Walisongo dengan umur yang berbeda-beda menggunakan spektrofotometer. Variabel yang diukur adalah kadar klorofil a, b, total, dan absorbansi pada panjang gelombang 649 dan 665 nm.

Diunggah oleh

Rizma Fatikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara mengukur kadar klorofil berbagai daun dari suatu tanaman
yang umurnya berbeda-beda ?
B. Tujuan Percobaan
1. Mengukur kadar klorofil berbagai daun dari suatu tanaman yang umurnya
berbeda-beda.
C. Hipotesis
H(0) : Tidak ada pengaruh letak nodus tanaman walisongo terhadap kadar
klorofil.
H(1) : Ada pengaruh letak nodus tanaman walisongo terhadap kadar klorofil.
D. Kajian Pustaka
Klorofil
Klorofil merupakan sebagian besar pigmen yang ditemukan dalam
membran tilakoid kloroplas. Pigmen hijau pada daun berperan untuk
mengabsorpsi cahaya dalam fotosintesis fase I, yaitu reaksi fotolisis (Salisbury
dan Ross, 1995 dalam Gogahu et al (2016). Pigmen klorofil tidak hanya
berperan sebagai pigmen fotosintesis, tetapi juga dapat bermanfaat sebagai
disinfektan, antibiotik dan sebagai makanan tambahan. Klorofil dapat
digunakan sebagai makanan tambahan karena mengandung nutrisi yang
dibutuhkan untuk tubuh manusia (Hendriani , 2009).
Pada tumbuhan tingkat tinggi, klorofil a dan klorofil b merupakan
pigmen utama fotosintetik, yang berperan menyerap cahaya violet, biru, merah
dan memantulkan cahaya hijau (Salaki 2000). Molekul klorofil adalah suatu
derivat porfirin yang mempunyai struktur tetrapirol siklis dengan satu cincin
pirol yang sebagian tereduksi. Inti tetrapirol mengandung atom Mg non-ionik
yang diikat oleh dua ikatan kovalen, dan memiliki rantai samping. Perubahan
protoklorofilid menjadi klorofilid a pada tumbuhan angiospermae mutlak
membutuhkan cahaya. Selanjutnya klorofil jenis yang lain disintesis dari
klorofil a (Pandey dan Sinha, 1979). Kandungan klorofil pada daun akan
mempengaruhi reaksi fotosintesis. Kadar klorofil yang sedikit tentu tidak akan
menjadikan reaksi fotosintesis maksimal. Ketika reaksi fotosintesis tidak
maksimal, senyawa karbohidrat yang dihasilkan juga tidak bisa maksimal.
Yohanis (2009) menyatakan pada tumbuhan karbohidrat terdapat sebagai
selulosa, yaitu senyawa yang membentuk dinding sel tumbuhan. Serat kapas
dapat dikatakan seluruhnya terdiri atas selulosa. Warna hijau ini dihasilkan
oleh kombinasi pigmen dalam tumbuhan, kadang lebih dominan klorofil a
sehingga warnanya cenderung hijau muda, kadang lebih dominan karotenoid
sehingga warnanya cenderung kekuningan.Khususnya klorofil a dan
b.Perbedaan warna daun menunjukkan adanya perbedaan kandungan pigmen
daun termasuk pigmen klorofil. Kemampuan daun untuk melakukan
fotosintesis semakin lama semakin meningkat sampai daun berkembang penuh
dan kemudian mulai menurun secara perlahan. Daun tua yang hampir mati
kemudian berubah warnanya menjadi kuning dan tidak mampu berfotosintesis
karena klorofil rusak dan fungsi kloroplas hilang. Menurut Mowli dalam
Karliansyah (1997), penurunan kadar klorofil terjadi sejalan dengan
peningkatan pencemaran udara. Perubahan jumlah kadar klorofil terjadi akibat
pemaparan pencemar dalam waktu yang lama dan kadar yang cukup tinggi
(Rahayu dalam Karliansyah, 1997). Carlson dalam Arrohmah (2007)
menambahkan bahwa, klorofil mengalami degradasi karena kehilangan atom
Mg dari molekul pusat atau hilangnya rantai ekor fitol. Molekul hasil degradasi
atom Mg dari klorofil adalah feofitin dan molekul hasil degradasi rantai ekor
fitol adalah klorofilida, sedangkan feoforbida terjadi ketika klorofil telah
terdegradasi atom Mg serta rantai ekor fitolnya. Degradasi dari feofitin atau
klorofilida akan menghasilkan molekul feoforbida, molekul ini terbentuk
karena hilangnya rantai ekor fitol dan hilangnya Mg. Fitol adalah alkohol
primer jenuh yang mempunyai daya afinitas yang kuat terhadap O2 dalam
proses reduksi klorofil (Muthalib, 2009). Klorofil disintesis dengan cara
fotoreduksi protoklorofilid menjadi klorofilid a, yang diikuti oleh esterifikasi
fitol membentuk klorofil a. Klorofil a juga terdapat pada daun dengan warna
merah kecoklatan tetapi dengan jumlah sedikit. Selanjutnya xantofil dibentuk
melalui penggabungan molekul oksigen dengan karoten yang menyebabkan
daun berubah warna menjadi hijau kekuningan. Sintesis klorofil a dari
klorofilid a tidak membutuhkan cahaya., Perubahan protoklorofilid menjadi
klorofilid a pada Angiospermae mutlak membutuhkan cahaya, tetapi pada
Gymnospermae (beberapa paku-pakuan dan alga, klorofil dapat dibentuk
dalam keadaan gelap (Pandey dan Sinha, 1979). Pada daerah pangkal daun,
yang mempunyai kandungan klorofil terbesar, terjadi sintesis klorofil b
menjadi klorofil a dalam jumlah yang besar, yang diikuti dengan
berkembangnya daun tersebut. Sintesis klorofil b terus berlanjut bersamaan
dengan perkembangan daun yang ditandai dengan berubahnya warna daun
hijau muda menjadi hijau tua. Kandungan klorofil pada daun warna hijau tua
72% lebih besar daripada daun warna hijau muda. Klorofil b dibentuk dari
klorofilid a atau klorofil a (Wolf dan Price, 1971 dalam Pandey dan Sinha,
1979). Kemampuan daun untuk berfotosintesis juga meningkat sampai daun
berkembang penuh, dan kemudian mulai menurun secara perlahan. dalam
sintesis klorofil. Semua tanaman hijau mengandung klorofil a dan klorofil b.
Klorofil a menyusun 75 % dari total klorofil. Kandungan klorofil pada tanaman
adalah sekitar 1% berat kering (Subandi, 2008).
Tanaman Walisongo ( Schafflera grandiflora)
Tanaman Walisongo adalah tanaman berbunga di
keluarga Araliaceae , asli Taiwan serta Hainan . [1] [2] Nama umumnya
adalah pohon payung kerdil , yang tampaknya merupakan versi yang lebih
kecil dari pohon payung, Schefflera actinophylla . Ini
adalah semak cemara yang tumbuh setinggi 8–9 m, berdiri bebas, atau
menempel di batang pohon lain. Daunnya merupakan senyawa palem , dengan
7-9 selebaran, selebaran dengan panjang 9-20 cm dan lebar 4–10 cm
(meskipun sering lebih kecil dalam budidaya). Bunga - bunga diproduksi
dalam malai 20 cm umbel kecil, masing-masing umbel berdiameter 7-10 mm
dengan 5-10 bunga. Ini umumnya ditanam sebagai tanaman hias , populer
karena toleransinya terhadap pengabaian dan kondisi pertumbuhan yang
buruk. Ini juga tumbuh sebagai tanaman lanskap di iklim yang lebih dingin di
mana salju tidak parah. Banyak kultivar telah dipilih untuk variasi warna dan
pola daun, sering beraneka ragam dengan pinggiran atau pusat berwarna krem-
putih, dan bentuk kerdil . Kultivar 'Capella Emas' telah
memperoleh Penghargaan Perkebunan dari Royal Horticultural
Society . Tanaman payung cocok untuk bentuk bonsai dan populer
sebagai bonsai dalam ruangan.Dalam kondisi yang tepat, tanaman ini akan
menghasilkan akar udara yang, ketika mencapai tanah, akan dikonversi
menjadi akar yang berfungsi penuh. Mereka memberikan tanaman penampilan
yang tidak biasa dan menarik. Tiga kondisi harus dipertahankan agar tanaman
dapat menghasilkannya: tingkat pertumbuhan yang tinggi, akar batang yang
tidak mencukupi (tanaman terikat dengan akar atau akar-akar ini dipangkas)
dan kelembaban konstan, sangat tinggi.

Spektofotometer
Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari
spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Jadi
spektrofotometer digunakan untuk mengukur energy relatif jika energy
tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi panjang
gelombang. Kelebihan spektrofotometer dengan fotometer adalah panjang
gelombang dari sinar putih dapat lebih di deteksi dan cara ini diperoleh dengan
alat pengurai seperti prisma, grating atau celah optis. Pada fotometer filter dari
berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek pada panjang
gelombang tertentu (Gandjar,2007)
E. Variabel Penelitian
1. Variabel Manipulasi : Nodus daun tanaman walisongo (Schafflera
grandiflora).
2. Variabel Kontrol : Jumlah alkohol,berat daun tanaman,panjang
gelombang.
3. Variabel Respon : Kadar klorofil A,kadar klorofil b,kadar klorofil
total, nilai absorbansi (Optical Density)
F. Definisi Operasional Variabel
Variabel manipulasi pada praktikum adalah nodus daun tanaman walisongo
yaitu nodus ke-2 sebagai daun muda dan nodus ke-8 sebagai daun tua .
Variabel kontrol pada praktikum adalah jumlah alkohol yang digunakan adalah
50 ml untuk setiap satu umur daun, berat daun muda dan daun tua adalah
masing- masing 0,5 gram dan panjang gelombang pada spectrofotometer
adalah 649 dan 665 nm . Variabel respon pada praktikum ini adalah kadar
klorofil a,b,klorofil total dan nilai absorbansi (Optical Density).

G. Alat dan Bahan


Alat
1. Pipet tetes 1 Buah
2. Gelas ukur 1 Buah
3. Lumpang porselin 1 Buah
4. Kertas saring Secukupnya
5. Spectrofotometer 1 Buah
6. Erlenmeyer 250 ml 1 Buah
7. Erlenmeyer 300 ml 1 Buah
Bahan
1. Daun dengan umur yang berbeda –beda :
 Daun muda yang diambil
dari nodus ke-2 tumbuhan 0,5 gram
 Daun tua yang diambil
dari nodus ke-8 tumbuhan 0,5 gram
2. Alkohol 95% 100 ml
H. Rancangan Percobaan

1. Timbang 0,5 gram daun 2. Gerus potongan daun dalam


yang masih segar lalu lumpang porselin.
dipotong kecil-kecil.

4. Saring ekstrak daun 3. Ekstraksi gerusan daun


dengan menggunkan kertas dengan menguunakan saring
sampai volume akhir mencapai 50 ml alkohol 95%.
50 ml, Jika volume filtrat
kurang dari 50 ml tambahkan
alkohol 95% kembali .

5. Ukur kadar klorofil menggu- 6. Kadar klorofil a, kadar


nakan Spectrofotometer pada kadar klorofil b,dan kadar
panjang gelombang 649 nm klorofil total dapat dihitung
dan 665 nm . dengan rumus dari Winter-
mans dan de Mots .

I. Langkah Kerja
1. Timbang 0,5 gram daun yang masih segar,kemudian potong kecil-kecil .
2. Gerus potongan –potongan daun tersebut dalam lumpang porselin sampai
habis.
3. Ekstraksi gerusan daun tersebut menggunakan 50 ml alkohol 95%.
4. Saring ekstrak tersebut dengan menggunakan kertas saring sampai volume
filtrate mencapai 50 ml. Jika volume filtrate kurang dari 50 ml
ditambahkan kembali alkohol 95% .
5. Ukur kadar klorofil filtrat tersebut dengan menggunakan Spectrofotometer
pada panjang gelombang 649 nm dan 665 nm .
Sebelum pengukuran perlu dikalibrasi terlebih dahulu.
Larutan yang digunakan sebagai pelarut untuk kalibrasi adalah alkohol
95%.
Catat nilai absorbansi (Optical Density) larutan tersebut.
6. Kadar klorofil a,kadar klorofil dan kadar klorofil total dapat dihitung
dengan rumus dari Wintermans dan de Mots sebagai berikut :
- Klorofil A : 13,7 x OD 665 – 5,76 x OD 649 (mg/l)
- Klorofil B : 25,8 x OD 649 – 7,7 x OD 665 (mg/l)
- Klorofil total : 20,0 x OD 649 + 6,1 x OD 665 (mg/l)

Hasil pengamatan : Catatlah data kadar klorofil berbagai daun pada umur
yang berbeda.
J. Rancangan Tabel Pengamatan

Tabel 1 Rancangan tabel pengamatan pengukuran kadar klorofil pada daun


tanaman walisongo (Schafflera grandiflora)
Umur Daun Klorofil A Klorofil B Klorofil Tabel

Daun Muda
(nodus ke-2)

Daun Tua
(nodus ke-8)

K. Rencana Analisis Data


1. Jelaskan mengapa kadar klorofil pada daun berbagai umur berbeda .
Kemukakan pendapat saudara dengan memberikan teori- teori yang
mendukung .
Jawaban :
Kemampuan daun untuk melakukan fotosintesis semakin lama semakin
meningkat sampai daun berkembang penuh dan kemudian mulai menurun
secara perlahan. Daun tua yang hampir mati kemudian berubah warnanya
menjadi kuning dan tidak mampu berfotosintesis karena klorofil rusak dan
fungsi kloroplas hilang. Menurut Mowli dalam Karliansyah (1997),
penurunan kadar klorofil terjadi sejalan dengan peningkatan pencemaran
udara. Perubahan jumlah kadar klorofil terjadi akibat pemaparan pencemar
dalam waktu yang lama dan kadar yang cukup tinggi (Rahayu dalam
Karliansyah, 1997).

2. Jelaskan fungsi klorofil didalam proses fotosintesis .


Jawaban :
Pigmen hijau pada daun berperan untuk mengabsorpsi cahaya dalam
fotosintesis fase I, yaitu reaksi fotolisis (Salisbury dan Ross, 1995 dalam
Gogahu et al (2016). Pigmen klorofil tidak hanya berperan sebagai pigmen
fotosintesis, tetapi juga dapat bermanfaat sebagai disinfektan, antibiotik
dan sebagai makanan tambahan. klorofil a dan klorofil b merupakan
pigmen utama fotosintetik, yang berperan menyerap cahaya violet, biru,
merah dan memantulkan cahaya hijau (Salaki 2000).

3. Manakah diantara tumbuhan terdedah dan ternaung (pada spesies yang


sama ) yang memiliki jumlah klorofil terbesar ? Mengapa demikian ?
Jawaban :
Tumbuhan ternaung karena tumbuhan ternanung mendapatkan penyinaran
sinar matahari yang lebih sedikit dibanding tanaman terdedah. Yang dapat
menyebabkan penurunan rasio kadar klorofil a dan b yang dapat membuat
peningkatanklorofil b.

L. Hasil Analisis Data


Tabel
Tabel 2 Hasil pengukuran kadar klorofil pada daun tanaman walisongo
(Schafflera grandiflora)
Umur Daun Klorofil A Klorofil B Klorofil Total

Daun Muda
1,9507 mg/l 1,566 mg/l 3,5312 mg/l
(nodus ke-2)

Daun Tua
2,7623 mg/l 2,1703 mg/l 4,9531 mg/l
(nodus ke-8)
Grafik

Grafik Kadar Klorofil pada Daun Tanaman walisongo


(Schafflera grandiflora)
Klorofil A Klorofil B Klorofil total

6 4.9531
KADAR KLOROFIL (MG/L)

5
4 3.5312
2.7602
3 1.9507 2.1703
2 1.566
1
0
Daun muda Daun tua
UMUR DAUN

Gambar 1 Grafik kadar klorofil pada daun tanaman walisongo (Schafflera


grandiflora )

Analisis
Hasil pengamatan pada daun muda yang diambil dari nodus ke-2 pada
tanaman walisongo (Schafflera grandiflora) menunjukkan jika kadar klorofil a
lebih besar dibanding kadar klorofil a. Banyak klorofil a yang dimiliki oleh
daun adalah sebesar 1,9507 mg/l,banyak klorofil b yang dimiliki oleh daun
adalah sebesar 1,566 mg/l dan banyak klorofil total adalah 3,5312 mg/l.
Hasil pengamatan pada daun muda yang diambil dari nodus ke-8 pada
tanaman walisongo (Schafflera grandiflora) menunjukkan jika kadar klorofil a
lebih besar dibanding kadar klorofil b. Banyak klorofil a yang dimiliki oleh
daun adalah sebesar 2,7602 mg/l,banyak klorofil b yang dimiliki oleh daun
adalah sebesar 2,1703 mg/l dan banyak klorofil total adalah 4,9531 mg/l.Kadar
klorofil total pada daun tua lebih banyak dibaning dengan daun muda.

Pembahasan
Jumlah klorofil pada daun tua lebih banyak dibanding daun muda hal
tersebut disebabkan karena Kandungan klorofil pada daun akan mempengaruhi
reaksi fotosintesis. Kadar klorofil yang sedikit tentu tidak akan menjadikan
reaksi fotosintesis maksimal. Ketika reaksi fotosintesis tidak maksimal,
senyawa karbohidrat yang dihasilkan juga tidak bisa maksimal. Warna hijau
ini dihasilkan oleh kombinasi pigmen dalam tumbuhan, kadang lebih dominan
klorofil a sehingga warnanya cenderung hijau muda, kadang lebih dominan
karotenoid sehingga warnanya cenderung kekuningan.Khususnya klorofil a
dan b.Perbedaan warna daun menunjukkan adanya perbedaan kandungan
pigmen daun termasuk pigmen klorofil. Kemampuan daun untuk melakukan
fotosintesis semakin lama semakin meningkat sampai daun berkembang penuh
dan kemudian mulai menurun secara perlahan.namun, Daun tua yang hampir
mati kemudian berubah warnanya menjadi kuning dan tidak mampu
berfotosintesis karena klorofil rusak dan fungsi kloroplas hilang. Menurut
Mowli dalam Karliansyah (1997), penurunan kadar klorofil terjadi sejalan
dengan peningkatan pencemaran udara. Perubahan jumlah kadar klorofil
terjadi akibat pemaparan pencemar dalam waktu yang lama dan kadar yang
cukup tinggi (Rahayu dalam Karliansyah, 1997). Carlson dalam Arrohmah
(2007) menambahkan bahwa, klorofil mengalami degradasi karena kehilangan
atom Mg dari molekul pusat atau hilangnya rantai ekor fitol. Molekul hasil
degradasi atom Mg dari klorofil adalah feofitin dan molekul hasil degradasi
rantai ekor fitol adalah klorofilida, sedangkan feoforbida terjadi ketika klorofil
telah terdegradasi atom Mg serta rantai ekor fitolnya. Pada daerah pangkal
daun, yang mempunyai kandungan klorofil terbesar, terjadi sintesis klorofil b
menjadi klorofil a dalam jumlah yang besar, yang diikuti dengan
berkembangnya daun tersebut. Sintesis klorofil b terus berlanjut bersamaan
dengan perkembangan daun yang ditandai dengan berubahnya warna daun
hijau muda menjadi hijau tua. Kandungan klorofil pada daun warna hijau tua
72% lebih besar daripada daun warna hijau muda. Klorofil b dibentuk dari
klorofilid a atau klorofil a (Wolf dan Price, 1971 dalam Pandey dan Sinha,
1979). Kemampuan daun untuk berfotosintesis juga meningkat sampai daun
berkembang penuh, dan kemudian mulai menurun secara perlahan. dalam
sintesis klorofil. Semua tanaman hijau mengandung klorofil a dan klorofil b.
Klorofil a menyusun 75 % dari total klorofil. Kandungan klorofil pada tanaman
adalah sekitar 1% berat kering (Subandi, 2008).
Pengukuran kadar klorofil menggunakan alat spektofotometer yang
dapat menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu
dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau
diabsorbsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energy relatif jika
energy tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi
panjang gelombang.pengukuran menggunakan rumus dari Wintermans dan de
Mots yaitu :
Perhitungan
a. Daun muda
Klorofil A = 13,7 x OD 665 - 5,76 x OD 649
= 13,7 x 0,192 - 5,76 x 0,118
= 2,6304 - 0,6797
= 1,9507 mg/l
Klorofil B = 25,8 x OD 649 - 7,7 x OD 665
= 25,8 x 0,118 - 7,7 x 0,192
= 3,0444 - 1,4784
= 1,566 mg/l
Klorofil total = 20,0 x OD 649 - 6,1 x OD 649
= 20,0 x 0,118 - 6,1 x 0,192
= 2,36 - 1,712
= 3,5312 mg/l
Daun tua
Klorofil A = 13,7 x OD 665 - 5,76 x OD 649
= 13,7 x 0,271 - 5,76 x 0,165
= 3,7127 - 0,9504
= 2,7623 mg/l
Klorofil B = 25,8 x OD 649 - 7,7 x OD 665
= 25,8 x 0,165 - 7,7 x 0,271
= 4,257 - 2,0867
= 2,1703 mg/l

Klorofil total = 20,0 x OD 649 - 6,1 x OD 649


= 20,0 x 0,165 - 6,1 x 0,271
= 3,3 - 1,6531
= 4,9531 mg/l

M. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan ,dapat disimpulkan bahwa
umur daun mempengaruhi kadar klorofil pada daun. Semakin tua umur daun
maka akan semakin tinggi kadar klorofil yang dimiliki ,terjadi pada daun
tanaman walisongo memiliki kadar klorofil sebanyak 3,5312 mg/l sedangkan
Semakin muda umur tanaman maka akan semakin rendah kadar klorofil yang
dimiliki, terjadi pada daun tanaman walisongo memiliki kadar klorofil
sebanyak 4,9531 mg/l.

N. Daftar Pustaka
Arrohmah. 2007. Studi Karakteristik Klorofil Daun Sebagai Material
Photodetector Organik. Skripsi Fisika MIPA Surakarta:UNS.
Gandjar, Ibnu Gholib. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Gogahu, Y., N. S. Ai, P. Siahaan. 2016. Konsentrasi Klorofil Pada Beberapa
Varietas Tanaman Puring (Codiaeum varigatum L.). Jurnal MIPA
Unsrat Online. Vol. 5(2): 76-80.
Hendriyani, I.S dan N. Setiari. 2009. Kandungan Klorofil dan Pertumbuhan
Kacang Panjang (Vigna sinensis) Pada Tingkat Penyediaan Air yang
Berbeda. Artikel Penelitian.Semarang : Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Diponegoro.
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Schefflera_arboricola/ diakses tanggal 1
oktober 2019.
Karliansyah, N. S. W. (1997). Kerusakan Daun Tanaman sebagai
Bioindikator Pencemaran Udara (Studi Kasus Tanaman Peneduh
Jalan Angsana dan Mahoni dengan Pencemar Udara NOx dan SO.
(Tesis tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu Lingkungan,
Program Pascasarjana, Jakarta :Universitas Indonesia.
Muthalib, A. (2009). Klorofil dan Penyebaran di Perairan. Retrieved form
http://www.abdulmuthalib.co.cc/2009/06 diakses tanggal 1 oktober
2019.
Pandey SN, Sinha BX (1979) Plant physiology. NewDelhi : Vikas Publishing
House FVT Ltd.
Salaki M (2000) Biologi sel. Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi
Indonesia Timur Kerjasama Universitas Sam Ratulangi Canadian
Internasional Development Agency Simon Fraser University
Subandi, A. (2008). Metabolisme. Retrieved from
http://metabolisme.blogspot.com/ diakses tanggal 1 oktober 2019
Sumenda, L. (2011). Analisis Kandungan Klorofil Daun Mangga (Mangifera
Indica L.) Pada Tingkat Perkembangan Daun Yang Berbeda.
Bioslogos, 1, (1).
Yohanis, N. (2009). Biokimia : Struktur dan Fungsi Biomolekul. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
LAMPIRAN

Gambar 2 Menimbang Gambar 3 Menggerus Gambar 4 Menyaring


daun sebanyak 0,5 gram potongan daun kecil dalam hasil gerusan daun
lalu dipotong kecil- lumpang porselin dengan dengan kertas saring dan
kecil. diberi 50 ml alkohol 50% . mengambil ekstrak
(Dokumen Pribadi) (Dokumen Pribadi) volume harus mencapai
50 ml diletakkan di
erlenmeyer.
(Dokumen Pribadi)

Gambar 5 Memasukkan Gambar 6 Memasukkan Gambar Memasukkan


dalam Spectrofotometer dalam dalam Spectrofotometer
dan mengatur panjang Spectrofotometer dan dan mengatur panjang
gelombang yaitu 649nm mengatur panjang gelombang yaitu 649
untuk daun muda. . gelombang yaitu dan 665 nm untuk daun
(Dokumen Pribadi) 665nm untuk daun tua .
muda. . (Dokumen Pribadi)
(Dokumen Pribadi)
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

Mengukur Kadar Klorofil Daun

Disusun Oleh :
RIZMA NUR FATIKASARI
18030244018
BIOLOGI 2018 D

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2019

Anda mungkin juga menyukai