LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM
“MORFOLOGI DAN ANATOMI TUMBUHAN TINGKAT
TINGGI”
Diajukan untuk Memenuhi salah satu syarat Mata Kuliah Biologi Umum
Disusun oleh :
Nama : Febrianto
NIM : 4442160064
Kelas :IA
Kelompok : 5 (lima)
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas karunianyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum
Biologi Dasar tentang Anatomi Tumbuhan Tingkat Tinggi.
Penulis menyadari bahwa hasil yang dicapai dalam penulisan laporan ini
masih mengandung berbagai kelemahan dan kekurangan. Untuk itu,kritik dan
saran yang sifatnya membangun sang. Penyusun harapkan demi kesempurnaaan
laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima
kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah membantu baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam penulisan laporan ini.
Serang, November 2016
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................1
1.2 Tujuan ....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfolog ................................................................................................3
2.2 Anatomi ..................................................................................................3
2.3 Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) ..........................................4
2.4 Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) ...........................................5
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat .................................................................................6
3.2 Alat dan Bahan .......................................................................................6
3.3 Cara Kerja ..............................................................................................6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Anatomi ..................................................................................................7
4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Anatomi .......................................................7
4.1.2 Pembahasan .........................................................................................8
4.2 Morfologi .............................................................................................10
4.2.1 Tabel Hasil Pengamatan Morfologi ..................................................10
4.2.2 Pembahasan .......................................................................................11
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................12
5.2 Saran .....................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang keanekaragaman hayati yang
melimpah baik flora maupun fauna, keanekaragaman hayati dapat
memberikan manfaat bagi masyarakat, diantaranya dapat memenuhi
kebutuhan manusia yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin
dan mineral. Protein sebagai salah satu sumber pembangun tubuh yang
berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani).
Dalam mengetahui klasifikasi, morfologi, anatomi, kekerabatan, dan
asal – usul suatu makhluk hidup diperlukan sistematika. Dalam praktikkum
ini khusus mempelajari tumbuhan tingkat tinggi. Tumbuhan tingkat tinggi
digolongkan ke dalam kingdom Plantae. Kingdom ini sudah ada sejak
pertama kali melakukan klasifikasi makhluk hidup. Kingdom plantae
memiliki sel yang bertipe eukariotik (memiliki membrane nucleus). Sel
eukariotik terdapat pada sel hewan dan sel tumbuhan multiseluler.
Tumbuhan memiliki struktur dan fungsi dan jaringan yang berbeda
dengan hewa, persamaan antara sel hewan dan tumbuhan adalah keduanya
memiliki organel-organel di dalam sitoplasmanya. Tumbuhan tingkat tinggi
yang dimaksud di sini adalah tumbuhan yang mempunyai bunga dan
menghasilkan biji, yaitu Spermatophyta yang terbagi menjadi Gymnospermae
dan Angiospermae. Pada kelas Angiospermae dibagi menjadi dua kelompok
yaitu monokotil dan dikotil.
Struktu tumbuhan spermatophyta tersusun atas dua system organ utama,
yaitu akar dan batang. Daun dan organ-organ reproduktif termasuk ke dalam
bagian batang yang dibahas secara terpisah dari akar dan batang.
1
1.2 TUJUAN
1. Mengenal morfologi dan anatomi tumbuhan tingkat tinggi.
2. Mengidentifikasi tumbuhan berdasarkan persamaan ciri morfologi
yang tampak.
3. Mengidentifikasi tumbuhan berdasarkan ciri anatomi yang tampak.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi
Karakter morfologi mempunyai peran penting di dalam sistematika, sebab
walaupun banyak pendekatan yang dipakai dalam menyusun system
klasifikasi, namun semuanya berpangkal pada karakter morfologi. Selain itu
pendekatan ini memberikan jalan tercepan memperagakan keanekaragaman
dunia tumbuhan, dan dapat dipakai sebagai system pengacuan umum yang
dapat menampung pernyataan data-data dari bidang lainnya. Karakter
morfologi mudah dilihat sehingga variasinya dapat dapat dinilai dengan cepat
jika dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya, karena menurut Stace
pembatasan takson yang baik dilakukan dengan menggunakan karakter-
karakter yang mudah dilihat, dan bukan oleh karakter-karakter yang
tersembunyi (Sri Endarti Rahayu, Sri Handayani, 2008).
2.2 Anatomi
Pendekatan anatomi dapat menunjukkan korelasi antara karakter anatomi
dan karakter-karakter yang lain, oleh karena itu data ini dapat digunakan untuk
menguatkan batasan-batasan takson, terutama untuk bukti-bukti taksonomi seperti
karakter morfologi yang masih meragukan. Umumnya karakter anatomi
merupakan basis yang dapat diandalkan untuk membedakan jenis, tetapi biasanya
karakter anatomi ini memiliki kegunaan yang besar pada takson infragenerik.
Karakter-karakter ini cukup konstan dan dapat bersifat diagnostic. Karakter
anatomi digunakan baik untuk praktek identifikasi maupun untuk menentukan
hubungan filogenetik. Secara anatomi, daun sangat bervariasi dan menyediakan
banyak karakter yang secara sistematik nyata. Karakter-karakter yang digunakan
adalah lapisan sel epidermis, banyaknya lapisan hypodermis, stomata, sel-sel
Kristal dan ikatan pembuluh (Sri Endarti Rahayu, Sri Handayani, 2008).
3
2.3 Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka)
Gymnospermae disebut juga tumbuhan berbiji terbuka. Pada umumnya
biji yang dihasilkan tidak dilindungi oleh daun buah, tetapi berada di
permukaan luar daun buah dalam susunan strobilus (Sudjono, 2005).
Secara harfiah Gymnospermaen berarti gym=telanjang dan
spermae=tumbuhan yang menghasilkan biji. Jadi, Gymnospermae adalah
tumbuhan yang memiliki biji terbuka. Tumbuhan kelompok Gymnospermaen
mempunyai ciri, yaitu:
1. Bakal biji tidak terlindungi oleh daun buah
2. Berakar tunggang
3. Umumnya berupa pohon
4. Memmpunyai akar, batang, dan daun sejati
Para ahli biologi menggolongkan Gymnospermae menjadi beberapa ordo
dan division, yaitu:
1. Cycadales division Cycadophyta, contoh pakis haji (Cycas rumphii)
2. Ginkgoales division Ginkgophyta, contoh Ginkgo biloba
3. Coniferales division Pinophyta, contoh pinus, cemara, dan dammar
4. Gnetales division Gnetophyta, contoh melinjo (Gnetum gnemon)
Semua gymnospermae adalah heterostrop, artinya mempunyai dua macam
spora, yaitu mikrospora dan megaspore. Mikrospora atau polen menghasilkan
gametofit jantan, sedan megaspore yang tunggal menghasilkan gametofit
betina, dan pada gametofit ini terbentuk arkegonia. Kedua macam spora yang
dihasilkan di dalam sporangia yang terdapat pada sporofit yang tersusun
sporal pada aksis strobili.
Sporofit yang menghasilkan mikrosporofil dengan mikrospongia disebut
mikrosporangiat atau strobilus jantan (staminate cones), sedangkan yang
menghasilkan megasporofil dengan ovulum (bersama mengasporangia)
disebut megasporangiat atau strobili betina (pistillate cones). Mokrospora dan
megaspore bersifat haploid, dan berkembang sebagai hasil pembelahan
meiosis sel induk spora. Ukuran dan letak strobili pada tanaman bervariasi.
4
2.4 Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup)
Tumbuhan biji tertutup memiliki jumlah spesies lebih banyak
dibandingkan dengan tumbuhan berbiji terbuka. Tumbuhan kelompok
angiospermae memiliki lebih banyak spesies karena tanaman gymnospermae
hanya tumbuh pada lingkungan tertentu, sedangkan tumbuhan angiospermae
dapat tumbuh di berbagai kondisi alam dan kebanyakan berumah 1 sehingga
memungkinkan untuk terjadi persilangan yang menghasilkan varian baru
dalam 1 spesies.
Tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) berasal dari kata angio=bunga
dan spermae=tumbuhan berbiji. Tumbuhan ini memiliki bunga yang
sesungguhnya yang terdiri dari mahkota bunga, kelopak bunga, putik, dan
benang sari.
Secara umum, tumbuhan berbiji tertutup memiliki ciri yang sama dengan
tumbuhan berbiji terbuka. Keunikan tumbuhan berbiji tertutup terletak pada
bijinya yang tersusun oleh keeping lembaga (kotiledon). Keeping lembaga
pada tumbuhan berbiji tertutup membentuk dua kelompok tumbuhan, yaitu
tumbuhan berbiji tunggal (Monocotyledonae) dan tumbuhan berbiji
berkeping dua (Dicotyledonae).
(http://ronymedan.blogspot.co.id/2016/02/laporan-praktikum-
perbedaan_3.html, terakhir diakses 03 Februari 2016).
5
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari Senin, 07 November 2016 pada pukul
11.00–13.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Bioteknologi Fakultas
Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang dipakai praktikkum ini adalah mikroskop cahaya, preparat
instan, alat tulis, akar monokotil, batang monokotil, akar dikotil, dan daun
dikotil.
3.3 Cara Kerja
A. Cara kerja pada anatomi tumbuhan, yaitu:
1. Didengarkan materi tentang tumbuhan tingkat tinggi.
2. Digambarkan morfologi pohon mangga dan pohon cabai serta
bagian-bagiannya.
3. Digambarkan anatomi batang monokotil, akar dikotil, dan daun
dikotil serta bagian-bagiannya.
4. Dibuat hasil dalam bentuk laporan.
B. Cara kerja pada morfologi tumbuhan, yaitu:
1. Diamati daun pohon mangga (bentuk daun, bentuk ujung daun,
tulang daun, dan pangkal daun).
2. Diamati batang pohon mangga (arah tumbuh dan pangkal daun).
3. Digambarkan hasil pengamatan dengan menggunakan kertas A4.
4. Dilakukan juga pengamatan yang sama pada tanaman cabai.
5. Dicocokkan bentuk pada daun dan batang dari susunan pohon
mangga dan tanaman cabai yang didapatkan dari hasil penelitian
dengan materi teori tentang morfologi tumbuhan dari referensi.
6
BAB IV
HASIL
4.1 Anatomi
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur tubuh manusia,
berasal dari bahasa yuanani “ana” yang berarti habis atau ke atas dan “tomos”
yang berarti memotong atau mengiri. Maksudnya anatomi adalah ilmu yang
mempelajari struktur tubuh makhluk hidup dengan cara menguraikan bagian-
bagiannya yang paling kecil dengan cara memotong atau mengirisnya hingga tipis
dan kemudia diangkat, dipelajari, dan diperiksa menggunakan mikroskop.
4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Anatomi Tumbuhan Tingkat Tinggi
No Nama organ Gambar Bagian-bagiannya
tumbuhan
Batang - Floem
Monokotil - Xylem
1 - Epidermis
- Endodermis
- Korteks
Akar Diktotil - Epidermis
- Korteks
2 - Cambium
- Xylem
- Floem
- Perisikel
- Endodermis
7
Daun Dikotil - Epidermis
- Kutikula
- Stomata
3 - Rambut daun
- Kelenjar
- Mesofil
- Urat daun
4.1.2 Pembahasan
Dari segi anatomi warga Monocotyledoneae mempunyai cirri-ciri: akar
mempunyai struktur yang terdiri atas jaringan-jaringan primer saja dengan silinder
dengan pusat tergolong aktinostele dan endodermis yang pada penampang lintang
jelas dapat dibedakan sel-sel yang menebal dan tidak dapat dilalui air serta zat-zat
makanan yang terlarut di dalamnya dengan sel-sel yang biasanya berhadapan
dengan suatu berkas pembuluh kayu yang dindingnya tidak menebal dan
merupakan pintu masuknya air dari bagian luar akar ke dalam berkas-berkas
pembuluh pengankutan (Tjirosoepomo, 2007).
Kelas Monocotyledoneae membawahi sejumlah bangsa dan suku
tumbuhan yang warganya dianggap mempunyai tingkat perkembangan filogenetik
yang tertinggi. Jenis-jenis tumbuhan yang tergolong dalam kelas ini dikenal
dengan cirri-ciri anatomi sebagai berikut:
1. Akar mempunyai struktur yang terdiri atas jaringan-jaringan primer saja.
2. Tidak adanya cambium sehingga akar tidak bertambah besar, tidak ada
pembentukan jaringan baru, begitu pula pada batang.
3. Berkas-berkas pembuluh angkut bersifat kolateral tertutup, berserakan
biasanya dari pinggir ke tengah semakin jarang.
Dari segi anatomi warga Dicotyledoneae memiliki berkas pembuluh yang
terlihat lebih teratur. Berkas pembuluh terdiri dari xylem dan floem. Xylem suatu
alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut sari makanan dan unsure hara
dari tanah keseluruh tubuh tumbuhan. Floem yaitu berkas yang berfungsi sebagai
pengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh tumbuhan (Aryuliana,
8
2004). Pada akar tumbuhan dikotil di antara xylem dan floem terdapat cambium,
sedangkan pada akar tumbuhan monokotil di antara xylem dan floem tidak
dijumpai cambium. Cambium merupakan titik pertumbuhan sekunder ke arah
dalam membentuk xylem dan ke arah luar membentuk floem. Sedangkan pada
batang monokotil memiliki ikatan pembuluh angkut dan anatomi batang muda dan
batang tua sama. Dan untuk batang dikotil memiliki ikatan pembuluh angkut dan
anatomi batang muda dan batang muda berbeda yaitu ditemukannya empelur pada
batan muda dan sebaliknya pada batang tua (Atinirmala, 2006).
9
4.2 Morfologi
Morfologi adalah sebuah cabang ilmu biologi yang secara khusus
mempelajari tentang bentuk struktur/bentuk luar dari sebuah organism, terutama
pada hewan dan tumbuhan. Pengertian morfologi dalam biologi adalah studi
biologis mengenai bentuk dan struktur makhluk hidup baik itu struktur eksternal
dan internal organisme. Dengan demikian, morfologi dapat dibagi menjadi dua
cabang yang berbeda yaitu anatomi dan eidonomi.
4.2.1 Tabel Hasil Pengamatan Morfologi Tumbuhan Tingkat Tinggi
No Nama Tumbuhan Organ Tumbuhan
Daun
1 Pohon Mangga
(Mangifera
indica) Batang
Daun
2 Pohon Cabai
(Capsicum
annuum) Batang
10
4.2.2 Pembahasan
Mangga tumbuh berupa pohon berbatang tegak, bercabang banyak, dan
bertajuk rindang hijau sepanjang tahun. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 10-
40 m. Umur pohon bisa mencapai 100 tahun lebih. Morfologi pohon mangga
terdiri atas akar, batang, daun, dan bunga. Bunga menghasilkan buah dan biji
(plok) yang secara generatife dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Kulit
batangnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas
tangkai daun. Warna pepagan (kulit batang) yang sudah tua biasanya coklat
keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam. Akar tunggang pohon mangga sangat
panjang, dapat mencapai 6 m dalamnya. Pemanjangan akar tunggang akan
berhenti kalau ujung akar telah mencapai permukaan air tanah. (Yoga Oktavianto,
dkk, 2015).
Tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang
berbentuk oval, lonjong, bahkan ada yang lanset. Warna permukaan daun bagian
atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan
permukaan daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat
atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus ada pula yang berkerut-kerut.
Ukuran panjang daun cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara 1-5 cm. Tanaman
cabai juga merupakan tanaman perdu dengan batang tidak berkayu. Biasanya,
batang akan tumbuh sampai ketinggian tertentu, kemudian membentuk banyak
percabangan. Untuk jenis-jenis cabai rawit, panjang batan biasanya tidak melebihi
100 cm. Namun, utuk jenis cabai besar, panjang batan (ketinggian) dapat
mencapai 2 meter bahkan lebih. Batang tanaman cabai berwarna hijau, hijau tua,
atau hijau muda. Pada batang-batang yang telah tua (biasanya batang paling
bawah), akan muncul warna cokelat seperti kayu. Ini merupkan kayu semu, yang
diperoleh dari pengerasan jaringan parenkim. Tanaman cabai memiliki perakaran
yang cukup rumit dan hanya terdiri dari akar serabut saja. Biasanya di akar
terdapat bintil-bintil yang merupakan hasil simbiosis dengan beberapa
mikroorganisme. Meskipun tidak memiliki akar tunggang, namun ada beberapa
akar tumbuh kea rah bawah yang berfungsi sebagai akar tunggang semu.
11
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari praktikkum kali ini dapat diketahui morfologi pada pohom mangga
dan cabai. Morfologi pada pohon mangga dan cabai sangat berbeda mulai
dari bentuk akar, batang, dan daunnya. Diketahui pula anatomi dari tumbuhan
dikotil yang dapat dilihat oleh mikroskop bentuk sel akar, batang, dan
daunnya.
5.2 Saran
Keterbatasan ruangan menjadi hal yang lumrah untuk praktikkum ini,
situasi yang non kondusif membuat peserta binggung dengan penjelasannya
oleh aslab saat menerangi. Praktikkum ini juga membuat peserta susah
bergerak leluasa karena ruangan yang kurang memadai. Dalam laporan ini
peserta kebingungan karena adanya info mendadak dari aslab mengenai
gambar untuk table yang kurang.
12
DAFTAR PUSTAKA
Atinirmala, Pratita. 2006. Biologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Aryuliana, Diah dkk. 2004. Biologi. Surabaya: Erlangga.
Medan, Rony. 2016. Laporan Praktikkum Perbedaan Gymnospermae dan
Angiospermae.
http://ronymedan.blogspot.co.id/2016/02/laporan-praktikum-
perbedaan_3.html. Diakses pada tanggal 11 November 2016
pukul 20:40 WIB.
Sri Endarti Rahayu, Sri Handayani. 2008. Keanekaragaman Morfologi Dan
Anatomi Pandanus (Pandanaceae) Di
Jawa Barat. Journal Unas. Volume 01
No. 2.
Sudjono. 2005. Biologi. Jakarta: Rajawalipress.
Tjirosoepomo, Gembong. 2007. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yoga Oktavianto, Sunaryo, Agus Suryanto. 2015. Karakterisasi Tanaman
Mangga (Magnifera Indica L.)
Cantek, Ireng, Empok, Jempol
Di Desa Tiron, Kecamatan
Banyakan Kabupaten Kediri.
Jurnal Produksi Tanaman.
Volume 3 No. 2.
13
LAMPIRAN
14