80% menganggap dokumen ini bermanfaat (5 suara)
37K tayangan39 halaman

Contoh Proposal UT

Dokumen tersebut membahas upaya guru dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa melalui metode kerja kelompok pada pelajaran IPS tentang tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tujuannya adalah mengetahui apakah metode tersebut dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.

Diunggah oleh

hartikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
80% menganggap dokumen ini bermanfaat (5 suara)
37K tayangan39 halaman

Contoh Proposal UT

Dokumen tersebut membahas upaya guru dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa melalui metode kerja kelompok pada pelajaran IPS tentang tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tujuannya adalah mengetahui apakah metode tersebut dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.

Diunggah oleh

hartikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA GURU DALAM MENGEFEKTIFKAN METODE

BERTANYA DAN DISKUSI PADA PELAJARAN IPS TENTANG


MENGHARGAI JASA DAN PERANAN TOKOH DALAM
MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN
KELAS V SDN 6 MENSERE MELALUI METODE

Usulan Proposal Penelitian Tindakan Kelas

Diajukan oleh:

HARTIKASARI
NIM. 836965101

PROGRAM STUDI S 1
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR KELAS
UNIVERSITAS TERBUKA

ii
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................
1.4 Manfaat Penelitian ..........................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan tentang Keaktifan Belajar Siswa.....................
2.1.1 Pengertian Keaktifan Belajar.................................
2.1.2 Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan
Keaktifan Belajar Siswa .......................................
2.1.3 Bentuk Upaya Guru dalam Mengembangkan
Keaktifan Belajar Siswa........................................
2.2 Tinjauan Tentang Mata Pelajaran IPA di SD ...................
2.2.1 Pengertian IPA .......................................................
2.2.2 Sains dalam kurikulum Sekolah Dasar..................
2.3 Tinjauan Tentang Metode
Kerja Kelompok yang Bermakna....................................
2.4 Kerangka Berpikir............................................................
2.5 Hipotesis Tindakan...........................................................
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Subjek Penelitian ............................................................
3.2 Prosedur Penelitian .........................................................
3.2.1 Perencanaan .....................................................

i
3.2.2 Pelaksanaan.......................................................
3.2.3 Observasi ..........................................................
3.2.4 Refleksi.............................................................
3.2.5 Matriks Metode Penelitian................................
3.2.6 Jadwal Penelitian .............................................
3.2.7 Biaya Penelitian ...............................................
3.2.8 Personalia Penelitian ........................................

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................
Lampiran - lampiran

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam menjadikan manusia
yang berilmu, berbudaya, bertakwa serta mampu menghadapi tantangan masa
datang. Dengan pendidikan tersebut juga akan melahirkan peserta didik yang
cerdas serta mempunyai kompetensi dan skill untuk dikembangankan ditengah-
tengah [Link] mewujudkan hal demikian tidak terlepas dari faktor
penentu dalam keberhasilan peserta didik dalam pendidikan. Salah satu faktor
utamanya adalah kemampuan guru mengunakan metode dalam proses
pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran di SDN No 6 MENSERE, guru menggunakan
metode ceramah, pemberian tugas, dan tanya [Link] mengajar mengacu pada
kurikulum tingkat satuan pendidikan,menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan
materi pelajaran dan media yang menunjang proses pembelajaran. Diharapkan
dengan proses pembelajaran tersebut,siswa dapat berperan aktif dan indikator
yang diharapkan dalam KTSP dapat tercapai.
Selama proses pembelajaran berlangsung,siswa kelas V mengikuti
pelajaran dengan baik,tetapi siswa kurang merespon materi yang diberikan oleh
[Link] mempelajari materi pelajaran hanya di sekkolah saja dan tidak diulang
ketika di rumah,siswa juga tidak memahami konsep pembelajaran sehingga ketika
diujikan kembali jawaban siswa tersebut [Link] itu siswa kurang mau
terlibat dalam proses pembelajaran,contohnya tidak menjawab pertanyaan yang
diajukan guru saat proses pembelajaran [Link] tersebut
mengganggu jalannya proses pembelajaran dan terkesan siswa pasif serta kurang
mau berpikir kritis dan tidak kreatif.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ditemukan berbagai
permasalahan yang mengganggu proses pembelajaran yaitu siswa tidak
mengerjakan tugas/PR ,siswa kurang aktif saat proses pembelajaran, siswa keluar

iii
masuk selama proses pembelajaran,dan siswa kurang bersemangat dalam KBM
serta siswa rebut saat proses pembelajaran.
Masalah yang dipilih untuk diteliti adalah siswa kurang aktif saat proses
[Link] masalah ternyata 10 orang siswa kelas V SDN 6
MENSERE kurang aktif selama proses [Link] masalah tersebut
adalah siswa tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru,siswa tidak
mau bertanya tentang materi yang belum dipahami dan saat diberi kesempatan
bertanya,dan siswa tidak memperhatikan penjelasan guru pada saat proses
[Link] siswa sering tidak tuntas mengerjakan tugas/latihan sedangkan
jam pelajaran telah [Link] yang akan dilakukan adalah menggunakan
metode kerja kelompok yang bermakna saat proses pembelajaran.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas dapat dirumuskan :
Bagaimana meningkatkan keaktifan belajar IPA siswa Kelas V SDN 6
MENSERE melalui metode kerja kelompok yang bermakna?

1.3. TUJUAN PENELITIAN


Tujuan utama dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui apakah dengan menerapkan metode kerja kelompok yang
bermakna, keaktifan belajar siswa di kelas V SDN 6 MENSERE dapat
ditingkatkan.

1.4. MANFAAT PENELITIAN


Penelitian yang dilaksanakan di SDN 6 MENSERE memiliki beberapa
manfaat,yaitu :
1. Bagi Peneliti,penelitian ini menjadi pengalaman,sebagai masukan sekaligus
sebagai pengetahuan untuk mengetahui upaya meningkatkan keaktifan siswa
di kelas melalui metode kerja kelompok yang bermakna

iv
2. Bagi Guru,jika hasil penelitian dirasakan dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan para guru agar dapat menerapkan metode kerja kelompok
sebagai usaha meningkatkan keaktifan belajar siswa.
3. Bagi Siswa, dengan penelitian ini diharapkan keaktifan belajar siswa di kelas
meningkat
4. Bagi Pembaca,penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
referensi untuk melakukan penelitian berikutnya

v
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN TENTANG KEAKTIFAN BELAJAR SISWA

2.1.1. Pengertian Keaktifan Belajar


Keaktifan belajar terdiri dari kata kreativitas dan kata belajar. “Keaktifan
memiliki kata dasar aktif yang berarti giat dalam belajar atau berusaha” (Ratmi,
2004). Keaktifan belajar berarti suatu usaha atau kerja yang dilakukan dengan giat
dalam belajar.
Ciri-ciri Keaktifan Belajar
Ada empat ciri keaktifan belajar siswa yaitu
1) Keinginan dan keberanian menampilkan perasaan,
2) Keinginan dan keberanian serta kesempatan berprestasi dalam kegiatan baik
persiapan, proses dan kelanjutan belajar,
3) Penampilan berbagai usaha dan kreativitas belajar mengajar dalam menjalani
dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilannya,
4) Kebebasan dan kekeluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa tekanan guru
atau pihak lain
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
Mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hasil belajar, Nana Sudjana
(dalam Ratmi,04) menyatakan bahwa ada lima hal yang mempengaruhi keaktifan
belajar, yakni:
1) stimulus belajar,
2) perhatian dan motivasi,
3) respon yang dipelajarinya,
4) penguatan,
5) pemakaian dan pemindahan (I Wayan Gde Wiradana,[Link])

vi
2.1.2 Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar
Siswa

Guru merupakan penanggung jawab kegiatan proses pembelajaran di


dalam kelas. Sebab gurulah yang langsung memberikan kemungkinan bagi para
siswa belajar dengan efektif melalui pembelajaran yang dikelolanya. Dalam
konteks ini Nana Sudjana yang dikutip Cece Wijaya dan A. Tabrani
mengemukakan sebagai berikut:

Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap
memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat
digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern
sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai,
perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses
pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa guru memegang peranan penting


terhadap proses belajar siswa melalui pembelajaran yang dikelolanya. Untuk itu
guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi
yang baik dengan siswa, agar mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar
dengan efektif.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung
jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta
mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam
belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang
bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa.
Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar
tersebut.”
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga
merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu [Link] hal ini E.
Mulyasa mengatakan bahwa: Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas

vii
apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik
terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran,
di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang
besar, dan rasa percaya pada diri [Link] siswa terlibat aktif dalam proses
pembelajaran, maka diperlukan berbagai upaya dari guru untuk dapat
membangkitkan keaktifan mereka.

Sehubungan dengan pentingnya upaya guru dalam membangkitkan


keaktifan siswa dalam belajar, R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan
bahwa:
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam
pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar
siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru
merencanakan pengajaran, yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas
belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Aktivitas atau tugas-
tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat siswa, dibutuhkan dalam
perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam pembelajaran upaya guru


dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa sangatlah penting. Sebab
keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang
dilaksanakan.

2.1.3 Bentuk Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar


Siswa

Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar.
Dalam pembelajaran, siswalah yang menjadi subjek, jadi siswalah yang menjadi
pelaku kegiatan belajar. Demikian pula dalam pembelajaran, agar siswa berperan
sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka guru hendaknya mengondisikan
pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
Beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan

viii
keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran adalah di antaranya dengan
meningkatkan minat siswa, membangkitkan motivasi siswa, menerapkan prinsip
individualitas siswa, serta menggunakan media dalam pembelajaran.

1. Meningkatkan minat siswa


Kondisi pembelajaran yang efektif adalah dengan adanya minat dan
perhatian siswa dalam belajar. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar
sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya.
Sebaliknya, tanpa adanya minat seseorang tidak mungkin akan melakukan
sesuatu. Siswa yang memiliki minat yang besar terhadap suatu pelajaran akan
lebih aktif untuk mempelajarinya dan sebaliknya, siswa akan kurang keaktifannya
dalam mempelajari pelajaran yang kurang diminatinya. Oleh karena itu, William
Jams, seperti di kemukakan Moh. Uzer Usman, yang melihat bahwa minat siswa
merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. jadi,
minat merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam
belajar.
Selanjutnya minat siswa juga berhubungan dengan perhatian [Link]
adalah minat sifatnya lebih menetap sedangkan perhatian sifatnya lebih sementara
dan adakalanya menghilang. Dalam proses belajar siswa, perhatian memegang
peranan penting.
Thomas M. Risk yang dikutip Zakiah Daradjat mengemukakan “no
learning takes place without attention.” Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan
bahwa suatu pelajaran tidak akan berlangsung tanpa adanya perhatian dari siswa.
Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan lancar bila siswa memiliki
minat yang besar yang menimbulkan perhatiannya dalam belajar. Oleh karena itu,
guru perlu membangkitkan minat siswa-siswanya agar pelajaran yang diberikan
mudah dipahami sehingga mereka terlibat aktif dalam pembelajaran.
( http:/abangilham. wordpress. com/feed/ )

ix
2.2. TINJAUAN TENTANG MATA PELAJARAN IPA DI SD
2.2.1. Pengertian IPA

Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau Sains dalam arti sempit telah dijelaskan
diatas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan
life sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu
astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika, sedangkan life
science meliputi anatomi, fisiologi, zoologi, citologi, embriologi, mikrobiologi.

IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau


meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh
dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam
itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan Sains
semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar. Namun
dari waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan "
Sains hari ini adalah teknologi hari esok" merupakan semboyan yang berkali-kali
dibuktikan oleh sejarah. Bahkan kini Sains dan teknologi manunggal menjadi
budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer),
ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of
Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of
technology).

IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis


yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh
manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (dalam Wina-putra,
1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala
alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum
yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan [Link] pelajaran ini pula
di gunakan dalam UN dan UASBN

x
2.2.2. Sains dalam kurikulum Sekolah Dasar

Sains adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai Obyek, menggunakan


metode Ilmiah sehingga perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Setiap guru harus
paham akan alasan mengapa sains perlu diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai
alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasuk ke dalam kurikulum
suatu sekolah. Usman Samatowa (2006) menegemukakan empat Alasan sains
dimasukan dikurikulum Sekolah Dasar yaitu:

 Bahwa sains berfaedah Bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu


dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak
sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang sains, sebab
sains merupakan dasar teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang
punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains.
Orang tidak menjadi Insinyur elektronika yang baik, atau dokter yang
baik, tanpa dasar yang cukup luas mengenai berbagai gejala alam.
 Bila diajarkan sains menurut cara yang tepat, maka sains merupakan suatu
mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya
sains diajarkan dengan mengikuti metode "menemukan sendiri". Dengan
ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya dapat dikemukakan
suatu masalah demikian". Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?" Anak
diminta untuk mencari dan menyelidiki hal ini.
 Bila sains diajarkan melalui percobaan -percobaan yang dilakukan sendiri
oleh anak. maka sains tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat
hafalan belaka.
 Mata pelajaran ini mempunyai: nilai – nilai pendidikan yaitu mempunyai
potensi yang dapat membentuk keprbadian anak secara keseluruhan.

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/ MI


merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta

xi
didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan
pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik
untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang
difasilitasi oleh guru. ( [Link] )

2.3. TINJAUAN TENTANG METODE KERJA KELOMPOK YANG


BERMAKNA
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan
yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah,maka metode menyangkut
masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang
bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai
[Link] tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para
pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat
atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.( Oemar Hamalik :
2001 ).

Salah satu bentuk metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah


metode kerja kelompok. Kerja kelompok merupakan salah satu metode mengajar
yang diterapkan pada hampir semua bentuk pembelajaran. Kerja kelompok
dilakukan sebagai pendekatan pembelajaran, karena:

1. Melatih bekerja dalam kelompok (teamwork)


2. Melatih keterampilan berkomunikasi
3. Pembagian kerja
4. Melatih kemampuan bertanggung jawab
5. Melatih keterampilan sosial (kepemimpinan, sikap positif)

Untuk menjadikan kerja kelompok bermakna dan bukan hanya sekedar


sebagai metode yang diharapkan dilaksanakan, perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut.
1. Pengelolaan Kerja Kelompok

xii
1. Anggota kelompok tidak boleh lebih dari 6 karena dapat
mengganggu komunikasi.

2. Untuk SD/SMP sebaiknya setiap kelompok diberi nama (misalnya


nama binatang, bintang, ilmuwan)

3. Setiap kelompok harus mempunyai pembicara, penulis, yang diatur


secara bergantian

4. Anggota kelompok harus saling mengenal satu sama lain

5. Pembentukan kelompok dilakukan oleh siswa sendiri namun guru


dapat mengubah sesuai dengan situasi kelas.
6. Kelompok-kelompok harus mengetahui apa yang akan dilakukan
dan dapat mengatur posisi kerja kelompok.

7. Perintah harus diberikan kepada siswa dalam bentuk tertulis


sebelum siswa bekerja sehingga setiap anggota kelompok
mengetahui apa yang menjadi tugasnya.

8. Guru harus menentukan waktu untuk kegiatan kerja kelompok.

9. Pembicara kelompok harus melaporkan hasil kelompok kepada


kelas. Hasil observasi serta hasil lain harus ditulis di papan tulis.

10. Sementara siswa bekerja guru berkeliling untuk membantu siswa


yang menemui kesulitan. Harus diingat bahwa guru hanya
membantu bila diperlukan.

2. Memformulasi petunjuk untuk bekerja kelompok

Untuk memperoleh hasil kerja kelompok seperti yang diharapkan maka


petunjuk-petunjuk harus dirumuskan secara cermat dan dengan memperhatikan

xiii
tingkat kesukaran serta disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, terutama
jika di SD.

 Petunjuk tentang peraga, alat-alat, bahan eksperimen, dan lain-lain harus


sederhana. Ini untuk menjaga supaya setiap orang berbicara tentang hal
yang sama. Petunjuk ini dapat berupa:
Amatilah..., Deskripsikan/Uraikan..., Apa yang kamu temukan.?..., dll.
 Berikan pertanyaan yang menantang, yang memerlukan aktivitas
keterampilan proses, komunikasi, serta kerja sama antar anggota
kelompok.
 Formulasikan petunjuk yang mendorong pemecahan masalah
 Menurut pengalaman seharusnya instruksi tidak boleh lebih dari 3
hal. (Hadi Suwono : 2004)
2.4. KERANGKA BERPIKIR

Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat secara teori hubungan langsung


sebab akibat antara variabel dependent dan variabel independent, bahwa metode
kerja kelompok yang bermakna diperkirakan dapat meningkatkan keaktifan
belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Hubungan antara variabel dependen dan
independent dapat digambarkan dengan diagram berikut ini :

Kurangnya Penerapan Meningkatnya


keaktifan belajar Metode Kerja keaktifan
siswa pada mata Kelompok belajar siswa
pelajaran IPA yang
Bermakna

2.5. HIPOTESIS TINDAKAN

xiv
Berdasarkan uraian teori dan kerangka berpikir maka hipotesis penelitian ini
dapat di rumuskan sebagai berikut :

Keaktifan siswa selama proses pembelajaran dalam pembelajaran IPA


akan meningkat dengan menggunakan metode kerja kelompok yang bermakna.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. SUBJEK PENELITIAN

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 6 MENSERE. Subjek penelitian


adalah siswa kelas 5. Kelas lima berjumlah 30 orang; tujuh belas orang siswa laki-
laki dan tiga belas orang siswa peremuan. Siswa kelas lima berumur rata-rata
antara 10 tahun sampai 12 tahun. Siswa kelas lima SDN 6 MENSERE memiliki
kecerdasan menengah dengan nilai rata-rata kelas 6 untuk pelajaran IPA. Siswa
kelas 5 berasal dari keluarga prasejahtera. Pendidikan orang tua siswa rata – rata
hanya lulusan SD.

3.2. PROSEDUR PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan selama tiga siklus. Setiap
siklus terdiri dari empat fase; perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

3..2.1. PERENCANAAN
Dalam tahap perencanaan peneliti melakukan 6 kegiatan utama; meneliti
kelas untuk menentukan dan merumuskan masalah penelitian, mentukan tindakan,

xv
membuat Rencana Pelakasanaan Pembelajaran Perbaikan, membuat lembaran
observasi, menentukan jadwal penelitian, dan membuat matrik metodologi
penelitian.
a. Meneliti kelas
Dalam tahapan pertama ini, peneliti menemukan beberapa masalah;
 siswa tidak mengerjakan tugas/PR ,
 siswa kurang aktif saat proses pembelajaran,
 siswa keluar masuk selama proses pembelajaran,
 siswa kurang bersemangat dalam KBM
 siswa ribut saat proses pembelajaran.

Berdasarkan masalah-masalah tersebut peneliti mengambil salah satu


masalah yaitu ; 10 orang siswa kelas 5 dari 30 orang siswa SDN 6 MENSER
tidak aktif selama proses pembelajaran IPA.
b. Menentukan tindakan
1. Metode mengajar yang digunakan adalah metode kerja kelompok
yang bermakna.
2. Memberikan latihan-latihan
c. Membuat RPP Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini berlangsung selama 3 siklus.
RPP tindakan atau perbaikan terlampir.
d. Membuat lembaran observasi
Masalah yang diteliti adalah keaktifan siswa dalam mata pelajaran IPA.
Keaktifan siswa dalam mata pelajaran IPA akan dilihat dalam hal faktor;
(1)perhatian siswa sewaktu guru menerangkan materi (2)keberanian dalam
bertanya sewaktu guru menerangkan pelajaran, (3)kehadiran siswa, (4) keberanian
siswa dalam menjawab pertanyaan guru (5) jawaban siswa pada buku
tugas(6)siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru ( 7) ketuntasan siswa dalam
melakukan tugas dengan waktu yang diberikan guru
Lembaran observasi yang disiapkan dapat dilihat pada lampiran 2.
e. Membuat jadwal penelitian

xvi
Jadwal penelitian yang akan dilaksanakan disesuaikan dengan jadwal
pelajaran IPA.
[Link] matriks penelitian

3.2.2. PELAKSANAAN TINDAKAN


Penelitian ini dilaksanakan di SDN 6 MENSERE semester 2 tahun ajaran
2017/2018.

3.2.3 OBSERVASI

Observasi dilaksanakan waktu penelitian,teknik yang dilakukan adalah


tekhnik obervasi [Link] melakukan observasi peneliti menggunakan
pedoman berupa angket siswa dan lembaran obervasi.
Observasi ini dilakukan selama penelitian berlangsung agar data yang
didapatkan valid.

3.2.4 REFLEKSI

Kegiatan penelitian dilaksanakan secara sistematis, yaitu penelitian


dilakukan tahap demi tahap untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa setelah
perbaikan dilakukan
Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain :
a. Menganalisa data.
Untuk data tentang aktivitas siswa dianalis dengan cara penilaian setiap
siswa diberikan penilaian 1 untuk yang memenuhi/sesuai dengan indikator
sedangkan yang tidak memenuhi indikator diberikan skor nol, selanjutnya skor
masing-masing siswa dicari melalui jumlah skor yang didapat siswa dibagi
dengan jumlah skor maksimal yaitu 20 dikalikan dengan 100, selanjutnya
dikonversi kedalan pedoman konversi berikut.
A = Sangat baik ( 85 – 100 )B = Baik ( 75 – 84 )C = Cukup ( 69– 74 )

xvii
D = Kurang ( 60 – 68 )E = Sangat kurang ( 60 kebawah )

Untuk data tentang prestasi belajar siswa dianalisis dengan memberikan


skor 5 pada setiap item soal, sedangkan prestasi masing-masing siswa di dapat
dari jumlah item soal benar dikalikan dengan 5, selanjutnya baru dibandingkan
dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA kelas V
yaitu 75 untuk menentukan apakah siswa tersebut sudah tuntas atau belum.

Indikator keberhasilan kinerja dalam penelitian ini dapat ditetapkan


sebagai berikut.
Aktivitas siswa dikatakan berhasil jika kualifikasinya berkatagori baik atau
dengan nilai paling rendah 75.
Prestasi belajar siswa dikatakan berhasil jika nilai rata-rata yang diperoleh siswa
lebih besar dari KKM yaitu 75.
Tanggapan siswa dikatakan positif jika 75% siswa setuju dengan penerapan
metode kerja kelompok yang bermakna

b. Menyajikan hasil analisis.


Setelah dilakukan analisis data, maka peneliti menyajikan hasil penelitian
dalam bentuk proposal yang dibuat secara sitematis.
c. Menginterprestasikan hasil analisis.
Apabila hasil siklus I belum seperti yang diharapkan,berdasarkan hasil refleksi
peneliti mengadakan perbaikan pada Daur 2.

3.2.5 MATRIKS METODE PENELITIAN


Judul : Meningkatkan Keaktifan Belajar IPA Siswa SDN 6
MENSERE melalui metode kerja kelompok yang
bermakna.
Nama Peneliti : HARTIKASARI

xviii
No Rumusan Masalah Variabel Defenisi Instr Sumbe Cara Anali
yang di operasional umen r data pengamb sis
amati variabel ilan data
1. Siswa
Bagaimana Keaktifa kelas
meningkatkan n belajar V
keaktifan belajar siswa
IPA siswa Kelas
V SDN 6
MENSERE
melalui metode
kerja kelompok
yang bermakna?

3.2.6 JADWAL PENELITIAN

No Kegiatan Minggu ke
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Perencanaan √
2 Proses pembelajaran √ √ √
3 Evaluasi √
4 Pengumpulan data √ √
5 Analisis Data √ √
6 Penyusunan Hasil √ √
7 Pelaporan Hasil √

xix
DAFTAR PUSTAKA

Oemar Hamalik, Proes Belajar Mengajar, Jakarta : 2001 : Bumi Aksara

Ratna Willis Dahar. 1989. Teori-teori Belajar. Erlangga: Jakarta

Ratmi, Ni Wayan, 2004. Implementasi metode demonstrasi dan beberapa media


belajar untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar.

Sugiono. 2009 .Metode Penelitian Pendidikan ( pendekatan kuantitatif, kualitatif,


dan R&D ) . Bandung : [Link].

Wardhani,IGAK.& Wihardit,Kuswaya. 2008 . Penelitian Tindakan Kelas .


Jakarta : Universitas Terbuka.
[Link]
mengembangkan-keaktifan-belajar-siswa/

[Link]

[Link]

xx
Lampiran 1

LEMBAR OBSERVASI KEAKTIFAN SISWA KELAS V SDN 208/IV


TELANAI PURA DALAM MATA PELAJARAN IPA KEAKTIFAN
SISWA KELAS V SDN 208/IV TELANAI PURA DALAM MATA
PELAJARAN IPA

Faktor –faktor yang di observasi


No Nama Siswa
1 2 3 4 5 6 7
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Faktor – faktor yang di observasi :


[Link] siswa sewaktu guru menerangkan materi
[Link] dalam bertanya sewaktu guru menerangkan pelajaran,
[Link] siswa,
[Link] siswa dalam menjawab pertanyaan guru
[Link] siswa pada buku tugas
[Link] mengerjakan tugas yang diberikan guru
[Link] siswa dalam melakukan tugas dengan waktu yang sudah
ditentukan
Keterangan :
A = Sangat baik ( 80 – 100 )
B = Baik ( 70 – 79 )

xxi
C = Cukup ( 60 – 69 )
D = Kurang ( 50 – 59 )
E = Sangat kurang ( 50 kebawah )

Lampiran 2

LEMBAR OBERVASI PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran
Kelas/Sekolah
Nama Pengajar

TAHAP/ASPEK INDIKATOR HASIL OBSERVASI


[Link] yang dilakukan
guru untuk menggali
pengetahuan awal atau
memotivasi siswa?
KEGIATAN AWAL [Link] respons
Apersepsi dan motivasi siswa?Apakah siswa
bertanya tentang sesuatu
masalah terkait dengan
apa yang disajikan guru
pada kegiatan awal?
[Link] guru
memberikan penjelasan
umum tentang bahan ajar
atau prosedur kegiatan
KEGIATAN INTI yang harus dilakukan
siswa?
Materi Ajar [Link] ketarkaitan
antara pembelajaran
dengan realita
kehidupan ,lingkungan
dan pengetahuan lainnya?
[Link] guru
terampildalam
memanfaatkan dan
Pengelolaan sumber mampu memanipulasi
belajar/media media pembelajaran?
[Link] interaksi
siswa dengan sumber
belajar/media?

xxii
[Link] proses
pembelajaran
dilaksanakan dengan
strategi yang sesuai
Strategi Pembelajaran
dengan lancar?
[Link] siswa dapat
mengikuti alur kegiatan
belajar?
[Link] cara guru
memberikan arahan yang
mendorong siswa untuk
bertanya,berpikir dan
berkegiatan?
[Link] siswa aktif
melakukan kegiatan fisik
dan mental(berpikir)?
Berapa banyak siswa
yang aktif belajar?
[Link] cara guru
memberikan penguatan
dengan
KEGIATAN PENUTUP mereview,merangkum
atau menyimpulkan?
Penguatan/konsolidasi [Link] guru
memberikan tugas rumah
untuk remidi atau
penguatan?
[Link] cara guru
melakukan evaluasi
Evaluasi pembelajaran?
[Link] ketuntasan
belajar siswa?
Kerterlaksanaan skenario pembelajaran
( berdasarkan RPP):
Pelajaran Berharga yang data dietik oleh pengamat:
Komentar Pengamat
Lain-lain:

………….,……………..
Observer

xxiii
Jabatan/posisi:

Lampiran 3

ANGKET KEAKTIFAN SISWA KELAS V SDN 208/IV TELANAI PURA


DALAM MATA PELAJARAN IPA
Mata Pelajaran : IPA
Kelas/ Semester : V / I
Hari/tanggal : ………………

Petunjuk
1. Pada angket ini terdapat 34 pernyataan. Pertimbangkan baik-baik
setiap pernyataan dalam kaitannya dengan materi pembelajaran yang baru
selesai kamu pelajari, dan tentukan kebenaranya. Berilah jawaban yang benar-
benar cocok dengan pilihanmu..
2. Pertimbangkan setiap pernyataan secara terpisah dan tentukan
kebenarannya. Jawabanmu jangan dipengaruhi oleh jawaban terhadap
pernyataan lain.
3. Catat responmu pada lembar jawaban yang tersedia, dan ikuti
petunjuk-petunjuk lain yang mungkin diberikan berkaitan dengan lembar
jawaban.

Terima kasih.
Keterangan Pilihan jawaban:
1. = sangat tidak setuju
2. = tidak setuju
3. = ragu-ragu
4. = setuju
5. = sangat setuju

PERNYATAAN Pilihan Jawaban

xxiv
1. Guru benar-benar mengetahui bagaimana membuat kami 12345
menjadi antuasias terhadap materi pelajaran.
2. Hal-hal yang saya pelajari dalam pembelajaran ini akan 12345
bermanfaat bagi saya.
3. Saya yakin bahwa saya akan berhasil dalam 12345
pembelajaran ini.
4. Pembelajaran ini kurang menarik bagi saya. 12345
5. Guru membuat materi pelajaran ini menjadi penting. 12345
6. Saya perlu beruntung agar mendapat nilai yang baik 12345
dalam pembelajaran ini.
7. Saya harus bekerja sangat keras agar berhasil dalam 12345
pembelajaran ini.
8. Saya tidak melihat bagaimana hubungan antara isi 12345
pelajaran ini dengan sesuatu yang telah saya ketahui.
9. Guru membuat suasana menjadi tegang apabila 12345
membangun sesuatu pengertian.
10. Materi pembelajaran ini terlalu sulit bagi saya 12345
11. Apakah saya akan berhasil/tidak berhasil dalam 12345
pembelajaran ini, hal itu tergantung pada saya.
12. Saya merasa bahwa pembelajaran ini memberikan 12345
banyak kepuasan kepada saya.
13. Dalam pembelajaran ini, saya mencoba menentukan 12345
standar keberhasilan yang sempurna.
14. Saya berpendapat bahwa nilai dan penghargaan lain yang 12345
saya terima adalah adil jika dibandingkan dengan yang
diterima oleh siswa lain.
15. Siswa di dalam pembelajaran ini tampak rasa ingin 12345
tahunya terhadap materi pelajaran.
16. Saya senang bekerja dalam pembelajaran ini. 12345
17. Sulit untuk memprediksi berapa nilai yang akan 12345
diberikan oleh guru untuk tugas-tugas yang diberikan

xxv
kepada saya.
18. Saya puas dengan evaluasi yang dilakukan oleh guru 12345
dibandingkan dengan penilaian saya sendiri terhadap
kinerja saya.
19. Saya merasa puas dengan apa yang saya peroleh dari 12345
pembelajaran ini.
20. Isi pembelajaran ini sesuai dengan harapan dan tujuan 12345
21. Guru melakukan hal-hal yang tidak lazim dan 12345
menakjubkan yang menarik.
22. Para siswa berperan aktif di dalam pembelajaran. 12345
23. Untuk mencapai tujuan saya, penting bagi saya untuk 12345
berhasil dalam pembelajaran ini.
24. Guru menggunakan bermacam-macam teknik mengajar 12345
yang menarik.
25. Saya tidak berpendapat bahwa saya akan memperoleh 12345
banyak keuntungan dari pembelajaran ini.
26. Saya sering melamun di dalam kelas. 12345
27. Pada saat saya mengikuti pembelajaran ini, saya percaya
bahwa saya dapat berhasil jika saya berupaya cukup 12345
keras.
28. Manfaat pribadi dari pembelajaran ini jelas bagi saya. 12345
29. Rasa ingin tahu saya sering kali tergerak oleh pertanyaan
yang dikemukakan dan masalah yang diberikan guru 12345
pada materi pembelajaran ini.
30. Saya berpendapat bahwa tingkat tantangan dalam
pembelajaran ini tepat, tidak terlalu gampang dan tidak 12345
terlalu sulit.
31. Saya merasa agak kecewa dengan pembelajaran ini. 12345
32. Saya merasa memperoleh cukup penghargaan terhadap
hasil kerja saya dalam pembelajaran ini, baik dalam 12345
bentuk nilai, komentar atau masukan lain.

xxvi
33. Jumlah tugas yang harus saya lakukan adalah memadai 12345
untuk pembelajaran semacam ini.
34. Saya memperoleh masukan yang cukup untuk 12345
mengetahui tingkat keberhasilan kinerja saya

Lampiran 4
RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Hari/tanggal :
Mata pelajaran : IPA
Pertemuan ke :1
Alokasi waktu : 2 x 35 menit
Kelas/semester : V/I

A. Standar Kompetensi
Memahami cara tumbuhan hijau membuat makanan
B. Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi cara tumbuhan hijau membuat makanan
C. Indikator
- Menyebutkan zat-zat yang diperlukan tumbuhan dalam proses fotosintesis
D. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat : Menyebutkan zat-zat yang diperlukan tumbuhan dalam proses
fotosintesis
E. Materi Pokok
Tumbuhan hijau
F. Metode Pembelajaran
Ceramah,tanya jawab,latihan
G. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan awal (15 menit).
[Link]
 Menyiapkan kelas
 Absensi

xxvii
 Motivasi ( membahas materi yang lalu dan menghubungkan dengan
materi yang akan dipelajari ).

2. Kegiatan inti ( 40 menit )


- Tanya jawab tentang zat-zat yang dibutuhkan dalam peroses
fotosintesis
- Siswa mengerjakan latihan yang diberikan
- Guru dan siswa membahas latihan yang dikerjakan
3. Kegiatan akhir ( 15 menit )
- Guru memberikan penugasan pekerjaan
- Guru menginformasikan kepada siswa agar membawa alat-alat yang
diperlukan pada percobaan pertemuan mendatang dan membagi
kelompok kerja siswa.
H. Alat/bahan dan Sumber Belajar
Buku “IPA” untuk Kelas V SD/MI, Penerbit : Erlangga
I. Penilaian
Tes tertulis.
Soal.
[Link] yang dimaksud dengan fotosintesis?
[Link]-zat apa saja yang diperlukan dalan proses fotosintesis?
[Link] bila salah satu zat itu tidak ada dalam proses fotosintesis?
Jawaban
[Link] adalah proses pembuatan makanan pada tumbuhan.
[Link] siswa: cahaya,klorofil
[Link] siswa : tumbuhan hijau tidak bisa membuat makanannya

Mengetahui, Mensere, 2018


Kepala SDN 6 Mensere Guru Kelas

xxviii
Z. ABIDIN, [Link] HARTIKASARI
NIP.19620118 198410 1 002 NIM. 836965101

Lampiran 5
RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Hari/tanggal :
Mata pelajaran : IPA
Pertemuan ke :2
Alokasi waktu : 2 x 35 menit
Kelas/semester : V/I

[Link] Kompetensi
Memahami cara tumbuhan hijau membuat makanan
[Link] Dasar
Mengidentifikasi cara tumbuhan hijau membuat makanan
C. Indikator
- Menjelaskan cara tumbuhan hijau membuat makanan
[Link] Pembelajaran
Siswa dapat : melakukan percobaan tentang cara tumbuhan hijau memasak
makanannya.
E. Materi Pokok
Tumbuhan hijau
FMetode Pembelajaran
Ceramah,kerja kelompok,dan diskusi
G. Langkah-langkah Pembelajaran
[Link] awal (15 menit).
b. Apersepsi
 Menyiapkan kelas
 Absensi

xxix
 Motivasi ( membahas materi yang lalu dan menghubungkan dengan
materi yang akan dipelajari ).
[Link] inti ( 40 menit )
1. Siswa duduk sesuai kelompok yang telah dibagi,dan menyiapkan
bahan-bahan yang telah disediakan dan yang telah diberitahukan pada
pertemuan sebelunmya.
2. Siswa mengerjakan percobaan tersebut sesuai dengan LKS yang telah
dibagikan ( LKS terlampir ).
3. Guru membimbing siswa dan mengarahkan pada pembuatan
kesimpulan percobaan
3. Kegiatan akhir ( 15 menit )
- Guru bersama-sama siswa menyimpulkan percobaan yang telah
dikerjakan
H. Alat/bahan dan Sumber Belajar
Buku “IPA” untuk Kelas V SD/MI, Penerbit : Erlangga
[Link]
Penilaian dilakukan pada saat kerja kelompok
Aspek yang dinilai
Kerjasama Ketepatan Waktu yang
Nama
kelompok jawaban ditentukan
Kelompok

A = Sangat baik ( 80 – 100 ),B = Baik ( 70 – 79 ),C = Cukup ( 60 – 69 ),D =


Kurang( 50 – 59 ),E = Sangat kurang ( 50 kebawah)

Mengetahui, Mensere, 2018


Kepala SDN 6 Mensere Guru Kelas

Z. ABIDIN, [Link] HARTIKASARI

xxx
NIP.19620118 198410 1 002 NIM. 836965101

Lampiran 6
RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Hari/tanggal :
Mata pelajaran : IPA
Pertemuan ke :3
Alokasi waktu : 2 x 35 menit
Kelas/semester : V/I

[Link] Kompetensi
Memahami cara tumbuhan hijau membuat makanan
[Link] Dasar
Mengidentifikasi cara tumbuhan hijau membuat makanan
C. Indikator
- Membuktikan bahwa pada fotosintesis akan menghasilkan gas
- Mengamati bahwa cahaya langsung mempengaruhi mempengaruhi jumlah
gas yang dihasilkan.
[Link] Pembelajaran
Siswa dapat : melakukan percobaan tentang fotosintesis akan menghasilkan
gas dan cahaya langsung mempengaruhi mempengaruhi jumlah gas yang
dihasilkan.
E. Materi Pokok
Tumbuhan hijau
[Link] Pembelajaran
Ceramah,kerja kelompok dan diskusi
G. Langkah-langkah Pembelajaran
[Link] awal (15 menit).
[Link]
 Menyiapkan kelas
 Absensi

xxxi
 Motivasi ( membahas materi yang lalu dan menghubungkan dengan
materi yang akan dipelajari ).

[Link] inti ( 40 menit )


[Link] duduk sesuai kelompok yang telah dibagi,dan menyiapkan bahan-
bahan yang telah disediakan dan diberitahukan pada pertemuan sebelunmya.
[Link] mengerjakan percobaan tersebut sesuai dengan LKS yang telah
dibagikan ( LKS terlampir ).
[Link] membimbing siswa dan mengarahkan pada pembuatan kesimpulan
percobaan
3. Kegiatan akhir ( 15 menit )
- Guru bersama-sama siswa menyimpulkan percobaan yang telah
dikerjakan
H. Alat/bahan dan Sumber Belajar
Buku “IPA” untuk Kelas V SD/MI, Penerbit : Erlangga
I. Penilaian
Penilaian dilakukan pada saat kerja kelompok
Aspek yang dinilai
Nama Kerjasama Ketepatan Waktu yang
Kelompok kelompok jawaban ditentukan

A = Sangat baik ( 80 – 100 ),B = Baik ( 70 – 79 ),C = Cukup ( 60 – 69 ),D =


Kurang( 50 – 59 ),E = Sangat kurang ( 50 kebawah)

Mengetahui, Mensere, 2018


Kepala SDN 6 Mensere Guru Kelas

Z. ABIDIN, [Link] HARTIKASARI


NIP.19620118 198410 1 002 NIM. 836965101
Lampiran 7

xxxii
LKS

LEMBAR KERJA SISWA

Tujuan : siswa terampil melakukan percobaan untuk mengetahui proses tumbuhan


hijau membuat makanannya.

Alat ban bahan:


[Link]/lugol 7. daun hijau
[Link] 8. pita isolasi hitam
[Link] timah /kertas karbon/aluminium foil 9. alkohol
[Link] kertas [Link] petri
[Link]/gelas beaker 11. pemanas
[Link] 12. pinsetmenit
[Link] kanji
Langkah Kegiatan
[Link] daun yang telah ditutup dalam air yang mendidih agar sel- selnya mati
kira-kira 3-4 menit.
[Link] daun dari air mendidih kemudian masukkan ke dalam alkohol yang
dipanaskan ,agar kolrofil larut dalam alkohol kira-kira 3 – 4 menit
[Link] daun dengan iodium untuk menarik kesimpulan.

Soal
[Link] daun di angkat dari air mendidih kemudian dimasukan ke dalam alcohol
agar klorofil larut,Apakah daun sudah berwarna pucat ?
[Link] warna daun pada bagian yang ditutup setelah ditetesi dengan
iodium ?
[Link] warna daun pada bagian yang tidak ditututp setelah ditetesi
dengan iodium ?
[Link] ada kesamaan warna dengan tepung kanji yang ditetesi iodium ?

xxxiii
Kesimpulan :
Jika warna daun berubah menjadi warna ………..dan warna tepung kanji manjadi
warna …………setelah ditetesi iodium,dapat dipastikan bahwa diperlukannya
………………dan …………dalam fotosintesis.

xxxiv
Lampiran 8
LKS

LEMBAR KERJA SISWA

Tujuan : 1. membuktikan bahwa pada fotosintesis akan menghasilkan gas


2. mengamati bahwa cahaya langsung mempengaruhi jumlah gas yang
dihasilkan

Alat ban bahan:


[Link] gelas erlemenyer
[Link] bening
[Link] reaksi
[Link]
[Link] air,misalnya hydrilla
[Link]

Langkah Kegiatan
[Link] dua set rangkaian alat yang masing-masing terdiri dari erlemenyer yang
berisi air,hydrilla dan tabung reaksi penuh air
[Link] kedua rangkaian tersebut di temat yang berbeda,satu didalam kelas
dan yang lainnya diluar kelas yang terkena cahaya matahari langsung.
[Link] gelembung udara yang keluar dan bandingkan jumlah gelembung gas
yang dihasilkan tumbuhan hydrilla yang berada di dalam kelas dengan yang
terkena cahaya matahari langsung pada waktu rentang yang sama

Soal
[Link] yang lebih banyak menghasilkan gelembung gas
 Rangkaian yang diletakkan di luar atau
 Rangkaian yang diletakkan dalam kelas?
[Link] yang diletakkan di manakah yang paling banyak memperoleh cahaya
matahari?

xxxv
Kesimpulan:
Bahwa yang menghasilkan gelembung udara paling banyak adalah rangkaian yang
berada di ………………………..hal itu membuktikan bahwa proses fotosintesis
menghasilkan…………………..

xxxvi
xxxvii

Common questions

Didukung oleh AI

Key factors that influence active learning include student motivation, teacher's pedagogical skills, and the availability of resources and supportive learning environments. Strategies to enhance these factors involve employing varied instructional techniques like group work, hands-on activities, and inquiry-based learning to keep students engaged. Teachers should receive ongoing professional development to stay updated with effective teaching methods, and schools should cultivate a positive learning culture with access to adequate materials and facilities. These approaches collectively promote an active, interactive, and student-centered classroom environment .

Teacher effectiveness in questioning and discussion methods is crucial for student engagement as it fosters active participation, critical thinking, and creativity. Effective questioning by teachers encourages students to respond actively and engage with the material beyond passive learning. It helps in addressing the issue where students do not interact with the learning material outside class and fail to think critically, thus impacting their learning outcomes negatively . By employing meaningful questioning techniques, teachers can stimulate a student's intellectual curiosity and drive their active involvement in the classroom .

The structure of group work has a significant impact on learning outcomes, specifically in fostering student participation and engagement. Well-structured group work with defined roles, balanced group sizes, and clear objectives elevates student engagement by ensuring inclusivity and individual accountability. When students understand their roles and feel valued, their participation increases, leading to richer learning experiences and better outcomes. Conversely, poorly structured group work can lead to unequal participation and disengagement. Therefore, careful planning and facilitation are essential to optimize the benefits of group work structures in education .

The structure of group work in primary schools should be adapted to the developmental stages of students by considering factors such as cognitive and social abilities, attention spans, and the ability to follow instructions. For younger students, tasks may need to be more guided with frequent teacher involvement to ensure understanding and productivity. As students progress, greater autonomy can be introduced, with increasingly complex tasks that promote critical thinking and self-management. Creating developmentally appropriate group tasks ensures that students remain engaged and derive maximum benefit from the group learning experiences .

The use of varied instructional methods like group work and discussion significantly enhances student curiosity and motivation by catering to diverse learning preferences and promoting an engaging learning environment. Such methods allow for different perspectives and problem-solving approaches, which pique student interest and encourage active involvement. When students experience a mix of pedagogical techniques, they are more likely to feel challenged appropriately and rewarded for their learning endeavors, leading to increased motivation and curiosity toward the subject matter .

Student accountability in group work is crucial for ensuring all students contribute equitably and learn effectively from the group activities. Measures that can be implemented to enhance accountability include setting clear individual roles within the group, utilizing peer assessment and reflection on group performance, and providing tools for self-assessment that are linked to specific learning outcomes. These measures ensure that each student is responsible for their part of the task, promoting a sense of ownership in learning and ensuring the overall effectiveness of group work .

The introduction of meaningful group work positively impacts the classroom learning environment by enhancing the participation of students who are typically less active during lessons. It encourages collaboration and allows students to express their understanding and challenges within a safe group setting. This approach motivates less active students to contribute, ask questions, and engage more deeply with the learning material. By fostering peer interactions and cooperative learning, group work can transform passive learners into proactive participants .

Group work contributes to the development of critical thinking and problem-solving skills by fostering an environment where students can discuss, challenge ideas, and collaborate to solve problems. This collaborative process encourages students to think critically about different perspectives and develop well-reasoned arguments or solutions. By working in groups, students are exposed to diverse ideas that spark innovative thinking and require them to negotiate and synthesize information effectively, thereby enhancing their problem-solving capabilities .

A teacher's involvement is irreplaceable because of the human elements they bring to the learning process, such as understanding emotional nuances, fostering a nurturing learning environment, and applying pedagogical skills to cater to different student needs. Complex human attributes like empathy, adaptability, and the ability to interpret student behavior during lessons cannot be entirely replicated by technology. Teachers also play a crucial role in creating meaningful connections with students, stimulating their motivation, and guiding them through personalized learning paths that machines currently cannot achieve .

Implementing group work in primary schools comes with challenges such as unequal participation, conflict among group members, and varying levels of student readiness. However, the benefits include the development of social skills, cooperative learning, and enhanced problem-solving abilities. These challenges can be addressed by setting clear guidelines, ensuring equitable group compositions, and training students in conflict resolution skills. By doing so, group work can be structured to ensure inclusivity and maximize learning outcomes as students learn to collaborate and leverage each other's strengths .

Anda mungkin juga menyukai