0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
118 tayangan18 halaman

Filt Rasi

Filtrasi adalah proses pemisahan zat padat dari fluida dengan menggunakan medium berpori. Terdapat beberapa jenis filtrasi seperti filter pasir lambat, filter pasir cepat, filter karbon aktif dan filter membran. Setiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pengolahan air minum.

Diunggah oleh

praditia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
118 tayangan18 halaman

Filt Rasi

Filtrasi adalah proses pemisahan zat padat dari fluida dengan menggunakan medium berpori. Terdapat beberapa jenis filtrasi seperti filter pasir lambat, filter pasir cepat, filter karbon aktif dan filter membran. Setiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pengolahan air minum.

Diunggah oleh

praditia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FILTRASI

A. Pengertian Filtrasi
Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada
medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan akan terendapkan. Filtrasi adalah
suatu operasi atau proses dimana campuran heterogen antara fluida dan partikel-partikel padatan
dipisahkan oleh media filter yang meloloskan fluida tetapi menahan partikel padatan. Filtrasi
adalah pemisahan koloid atau partikel padat dari fluida dengan menggunakan media penyaringan
atau saringan. Air yang mengandung suatu padatan atau koloid dilewatkan pada media saring
dengan ukuran pori-pori yang lebih kecil dari ukuran suatu padatan tersebut.

B. Tujuan Filtrasi

Filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cair maupun gas) yang
membawanya menggunakan suatu medium berpori atau bahan berpori lain untuk menghilangkan
sebanyak mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan koloid. Pada pengolahan air minum,
filtrasi digunakan untuk menyaring air hasil dari proses koagulasi – flokulasi – sedimentasi
sehingga dihasilkan air minum dengan kualitas tinggi. Di samping mereduksi kandungan zat
padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan bakteri, menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan
mangan. Perencanaan suatu sistem filter untuk pengolahan air tergantung pada tujuan pengolahan
dan pre-treatment yang telah dilakukan pada air baku sebagai influen filter.

Pada filtrasi dengan media berbutir, terdapat mekanisme filtrasi sebagai berikut:

a. Penyaringan secara mekanis (mechanical straining)


b. Sedimentasi
c. Adsorpsi atau gaya elektrokinetik
d. Koagulasi di dalam filter bed
e. Aktivitas biologis

C. Jenis-jenis Filtrasi
Pengolahan dengan menggunakan metode filtrasi atau penyaringan merupakan metode fisik
yang dilakukan dalam mengolah air sebagai air minum. Proses filtrasi ini cara kerjanya bisa
dipengaruhi oleh gravitasi ataupun tenaga putar. Ada beberapa jenis filtrasi yang digunakan
dalam pengolahan air untuk air minum. Proses filtrasi dibagi menjadi beberapa jenis yaitu filter
pasir lambat, filter pasir cepat, filter karbon aktif dan filter karbon membrane.

Gambar 1. Skema Metode Filter Pada Proses Filtrasi

Berdasarkan kecepatan penyaringan, filtrasi dibagi menjadi dua yaitu :

1. Slow Sand Filter (Saringan Pasir Lambat)


Filtrasi dengan metode Slow Sand Filter merupakan penyaringan partikel yang tidak
didahului oleh proses pengolahan kimiawi (koagulasi). Kecepatan aliran dalam media pasir
ini kecil karena ukuran media pasir lebih kecil. Saringan pasir lambat lebih menyerupai
penyaringan air secara alami.
Filter pasir lambat adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi lambat. Kecepatan
filtrasi pada filter lambat sekitar 20 – 50 kali lebih lambat, yaitu sekitar 0,1 hingga 0,4 m/jam.
Kecepatan yang lebih lambat ini disebabkan ukuran media pasir juga lebih kecil (effective size
= 0,15 – 0,35 mm). Filter lambat digunakan untuk menghilangkan kandungan organic dan
organism pathogen dari air baku. Filter pasir lambat ini efektif digunakan dengan kekeruhan
relatif rendah yaitu dibawah 50 NTU tergantung distribusi ukuran partikel pasir, ratio luas
permukaan filter terhadap kedalaman dan kecepatan filtrasi.
Filter pasir lambat bekerja dengan cara pembentukan lapisan gelatin atau biofilm yang
disebut lapisan hypogeal atau Schmutzdecke. Lapisannya mengandung bateri, fungsi,
protozoa, rotifer, dan larva serangga air. Schmutzdecke merupakan lapisan yang melakukan
pemurnian efektif dalam pengolahan air minum. Dalam Schmutzdecke, partikel terperangkap
dan organic yang terlarut akan terabsorbsi, diserap dan dicerna oleh bakteri, fungi, an
protozoa. Proses utama Schmutzdecke adalah mechanical straining terhadap bahan tersuspensi
dalam lapisan tipis yang berpori sangat kecil. Keuntungan dari filter lambat yaitu:
a. Biaya kontruksi yang murah
b. Rancangan dan operasinya sederhana
c. Tidak perlu tambahan bahan kimia
d. Variasi kualitas air baku tidak menggangu
e. Tidak perlu banyak air untuk pencucian karena hanya dilakukan di bagian atas media
tanpa backwash

Sedangkan kerugiannya adalah filter pasir lambat adalah besarnya kebutuhan lahan
sebagai akubat lambatnya kecepatan proses filtrasi.

Gambar 2. Skema filter pasir lambat

2. Rapid Sand Filter (Saringan Pasir Cepat)


Proses filtrasi dengan cara ini merupakan jenis unti filtrasi yang mampu menghasilkan
debit air yang lebih banyak, namun kurang efektif untuk mengatasi bau dan rasa yang ada
pada air yang disaring. Debit air yang cepat tersebut menyebabkan lapisan bakteri yang
berguna untuk menghilangkan patogen namun membutuhkan proses desinfeksi yang lebih
intensif. Arah aliran airnya dari bawah ke atas. Pada proses ini umumnya melakukan
backwash atau pencucian saringan tanpa membongkar keseluruhan saringan.
Media yang digunakan untuk proses Rapid Sand Filter tersusun dari pasir silica alami,
anthrasit, atau pasir garnet yang memiliki variasi ukuran, bentuk dan komposisi kimia.
Dasar filternya terdiri dari sistem pipa yang tersusun dari lateral dan manifold untuk
mengalirkan air terolah yang penerimaan airnya diterima melalui lubang orifice yang
diletakkan pada pipa lateral. Penggunaan manifold dan lateral bertujuan agar ditribusinya
merata.

Saat proses filtrasi berlangsung, terjadi penurunan debit air produksi akibat clogging atau
pemampatan oleh kotoran yang tersaring dan tertahan pada media yang menyebabkan
diameter pori mengecil. Hal ini ditandai oleh :
1. Penurunan kapasitas produksi
2. Peningkatan kehilangan energi (headloss) yang diikuti oleh kenaikan muka
air di atas media filter.
3. Penurunan kualitas air terproduksi.
Teknik pencucian ini dapat dilakukan dengan menggunakan back washing, dengan
kecepatan tertentu agar media filter terfluidisasi dan terjadi tumbukan antar media sehingga
kotoran yang menempel pada media akan lepas dan terbawa bersama aliran air.
Dalam melakukan proses filtrasi dengan metode ini perlu diperhatikan beberapa hal.
Mekanisme filtrasi dengan filter pasir cepat yaitu :
a. Penyaringan secara mekanis (mechanical straining)
b. Sedimentasi
c. Adsorpsi atau gaya elektrokinetik
d. Koagulasi di dalam filter bed
e. Aktivitas biologis

3. Filter Karbon
Filter karbon merupakan metode karbon aktif dengan media granular (Granular Activated
Carbon) merupakan proses filtrasi yang berfungsi untuk menghilangkan bahan-bahan organik,
desinfeksi, serta menghilangkan bau dan rasa yang disebabkan oleh senyawa-senyawa
organik. Selain fungsi tersebut juga digunakan untuk menyisihkan senyawa-senyawa organic
dan menyisihkan partikel-partikel terlarut.
Metode pengolahan karbon aktif prinsipnya adalah mengadsorbsi bahan pencemar
menggunakan media karbon. Proses adsorbsi tergantung pada luas permukaan media yang
digunakan dan berhubungan dengan luas total pori-pori yang terdapat dalam media. Agar
proses absorbsi bisa dilakukan secara efektif diperlukan waktu kontak yang cukup antara
permukaan media dengan air yang diolah sehingga nantinya zat pencemar dapat dihilangkan.
Ada alternative lain yang bisa dilakukan jika waktu kontak tidak mencukupi, caranya
yaitu dengan menaikan luas permukaan media dengan ukuran yang lebih kecil. Zat yang ada
dalam air yang mengalami absorbsi berupa senyawa organik (menyebabkan bau dan rasa yang
tidak diinginkan), trihalometane, serta Volatile Organic coumpunds (VOCs).
Instalasi pengolahan air minum biasanya menggunakan karbon aktif yang dilakukan
sebelum proses ozonisasi karena secara umum unit pengolahan karbon aktif tidak dapat
menyisihkan mikroorganisme patogen seperti virus dan bakteri. Selain itu, juga tidak efektif
dalam menyisihkan kalsium (Ca) dan magnesium (Mn) yang menimbulkan kesadahan pada
air, flour dan nitrat. Sedangkan media yang digunakan dapat berupa arang kayu, batok kelapa
dan batubara.
Batubara merupakan media yang sering digunakan dalam unit pengolahan dengan
menggunakan karbon aktif. Namun batubara yang digunakan yang telah mengalami proses
pembakaran dengan temperature sedang dalam kondisi anaerob. Sehingga batubara tidak akan
terbakar tetapi mengalami perubahan menjadi material karbon yang berpori (porous).
Batubara tersebut diaktifkan melalui proses pemanasan dengan uap air dan udara pada
temperatur 1500 oF dan proses ini akan mengoksidasi permukaan dan pori-pori media.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan karbon aktif ini adalah debit pengolahan
dan headloss yang tersedia, senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam air baku, media
yang digunakan, ukuran media karbon aktif, kecepatan filtrasi, waktu kontak, dan waktu
pembersihan media karbon aktif. Media karbon aktif harus dibersihkan atau di regenerasi
kembali dalam waktu tertentu karena media ini akan mengalami keadaan jenuh dimana
kemampuan media untuk mengabsorbsi senyawa-senyawa organik dan polutan akan
berkurang. Proses regenerasi karbon aktif ini dilakukan dengan tiga cara yaitu penguapan,
pemanasan dan penggunaan bahan kimia.

4. Filter Membran
Filtrasi dengan menggunakan membran ini merupakan alternative yang digunakan untuk
menggantikan filtrasi pasir lambat (slow sand filtration). Teknologi ini mengurangi biaya
operasional dan instalasi. Teknologi membrane ini digunakan dalam instalasi pengolahan air
dengan tujuan untuk menghasilkan air layak minum.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja membran, diantaranya yaitu:
karakteristik membran, yang merupakan material membran; tekanan operasi, tekanan operasi
sangat berpengaruh terhadap fluks yang dihasilkan serta kemampuan rejeksi membran; pH
umpan; Periode Operasi membran; konsentrasi umpan; temperatur; serta kadar suspended
solid dalam air umpan (Rahmadyanti, 2004 dalam anonim, 2016)
Keunggulan dari membran ini adalah mempunyai ukuran yang lebih kecil, kapasitas
pengolahan lebih besar, serta mampu menghasilkan air layak minum. Sistem membran ini
umumnya dibedakan menjadi empat jenis yaitu Reverse osmosis (RO), Elektrodialisis (ED),
Ultrafiltrasi (UF), dan Mikrofiltrasi (MF).

Tabel 1. Jenis-jenis Membran

Jenis Membran Jari-jari Lubang Tekanan Kerja (psi)


(micron)

Reverse osmosis 0.0006 >500


Elektrodialisis 0.001 Menggunakan potensial
listrik
Ultrafiltrasi 0.002-0.1 30-100
Mikrofiltrasi 0.03-10 15-60
Sumber: Susumu kawamura, Integrated Design Of Water Treatment Facilities,1991. (Dalam
anonim, 2016)

Media yang digunakan dalam pembuatan filter membran ada dalam berbagai jenis material dan
metode pembuatannya. Media yang digunakan digolongkan menjadi media absolut dan nominal
tergantung kemampuan untuk menahan partikel yang mempunyai ukuran sama atau lebih besar
dari ukuran pada media. Media membrane digolongkan sebagai media absolute sedangkan untuk
media nominal biasanya menggunakan bahan fiber glass, polimer serta keramik.
Berdasarkan struktur lubang medianya, filter membran dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Membran tipis (screen membrane)
Membran tipis mempunyai lubang dengan bentuk lingkaran yang sempurna atau hampir
sempurna yang tersebar secara acak pada permukaan membran. Membran dibuat melalui
proses pelubangan menggunakan penembakan electron (nuclear track), dan penggoresan
(etch process).
Membran ini digunakan pada proses analisi gravimetric, sitologi, analisis partikulat, analisis
aerosol, dan penyaring darah.
2. Membran tebal (depth membrane)
Membran tebal mempunyai struktur permukaan yang tidak beraturan dan tampak kasar.
Filter ini dibuat dari berbagai jenis polimer melalui proses pencetakan. Bahan utama yang
digunakan adalah ester selulosa. Aplikasi membran yang digunakan berdasarkan ukuran
pori-pori membran dan mekanisme kerja membran atau proses pemisahannya dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Mikrofiltrasi
Proses ini merupakan proses cross-flow tekanan rendah untuk memisahkan pertikel
koloid dan tersuspensi. Ukuran pori yang digunakan yang sekitar 0,05 – 10 mikron.
Kegunaan mikrofiltrasi dalam teknik lingkungan adalah mengisolasi coliform dari
contoh air yang diteliti. Selain itu juga dapat digunakan untuk menyisihkan partikulat di
udara yang akan digunakan sebagai bahan baku generator ozon. Namun penggunaan
terus menerus akan menyebabkan tersumbat yang berakibat debit turun drastis dan bila
ini terjadi maka membran harus diganti.

b. Ultrafiltrasi
Proses ini merupakan pemisahan efektif yang menggunakan membran dengan
ukuran pori sekitar 0,005 – 10 mikron. Ultrafiltrasi mampu menyisihkan virus, bakteri,
partikel koloid, dan senyawa organic berat bermolekul tinggi. Jika terjadi fouling maka
membran harus diganti. Beberapa jenis membrane ultrafiltrasi tertentu dapat di
backwash. Membrane ini tersusun atas dua lapisan yang sangat tipis dan lebih tebal
diatasnya dengan pori-pori halus.

c. Dialisis
Merupakan pemisahan solute dari ion atau zat berukuran pori sekitar 0,0005 – 0,1
mikron. Slarutan yang didialisis dipisahkan dari pelarutnya dengan membrane
semipermeabel.

d. Elektrodialisis
Merupakan proses pemisahan elektrokimia yang memindahkan ion melewati
membrane semipermeabel dengan ukuran pori sekitar 0,0005 – 0,01 mikron. Pada
dasarnya sama dengan peruses dialysis hanya saja yang membedakan adalah pada
driving force yang mempunyai gaya elektromotif sehingga akan menghasilkan tingkat
transfer ion yang meningkat. Efisiensi dari elektrodialisis akan berkurang jika terjadi
polarisasi konsentrasi serta timbulnya endapan yang menempel pada permukaan
membran. Hal ini mengakibatkan kenaikan tegangan listrik yang diberikan untuk
mempertahankan kualitas air yang diinginkan. Untuk mengolah air baku, diperlukan
pengolahan pendahuluan untuk menghilangkan senyawa organik, besi, dan kekeruhan..

e. Reverse Osmosis
Reverse osmosis meliputi pemisahan pelarut (solvent), seperti air, dari larutan garam
dengan menggunakan membran semi permeabel dan tekanan [Link] pori
sekitar 0,0005 – 0,008 mikron.

D. Prinsip Dasar Reverse Osmosis


Apabila ada dua buah larutan dengan konsentrasi encer dan konsentrasi pekat dipisahkan
oleh membran semi permeabel, maka larutan dengan konsentrasi yang encer akan terdifusi
melalui membran semi permeabel tersebut dan masuk ke dalam larutan yang pekat sampai terjadi
kesetimbangan konsentrasi. Phenomena tersebut dikenal sebagai proses osmosis. Sebagai contoh
misalnya, jika air tawar dan air payau/ asin dipisahkan dengan membran semi permeabel, maka
air tawar akan terdifusi ke dalam air asin melalui membran semi permeabel tersebut sampai
terjadi kesetimbangan. Daya penggerak yang menyebabkan terjadinya aliran/difusi air tawar ke
dalam air asin melalui membran semi permeabel tersebut dinamakan tekanan osmosis. Besarnya
tekanan osmosis tersebut dipengaruhi oleh karakteristik/ jenis membran, temperatur air, dan
konsentarsi garam serta senyawa lain yang terlarut dalam air. Tekanan osmotik normal air-laut
yang mengandung TDS ± 35.000 ppm pada suhu 25oC kira-kira 26,7 kg/cm2, dan untuk air laut
di daerah timur tengah atau laut Merah yang mengandung TDS ± 42,000 ppm, pada suhu 30oC,
tekanan osmosis ± 32,7 kg /m2. Apabila pada suatu sistem osmosis tersebut, diberikan tekanan
yang lebih besar dari tekanan osmosisnya, maka aliran air tawar akan berbalik yakni dari air asin
ke air tawar melalui membran semi permeabel, sedangkan garamnya tetap tertinggal di dalam
larutan garammya sehingga menjadi lebih pekat. Proses tersebut dikenal dengan proses osmosa
balik. (Wahyu Hidayat dan Satmoko, 2002 dalam anonim, 2016)

E. Tipe Filter
Berdasarkan pada kapasitas produksi air yang terolah, filter pasir dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu filter pasir cepat dan filter pasir lambat.

1. Filter Pasir Cepat


Filter pasir cepat atau rapid sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi cepat,
berkisar 4 hingga 21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi – flokulasi dan
pengendapan untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada influen filter pasir
cepat berkisar 5 – 10 NTU maka efisiensi penurunan kekeruhannya dapat mencapai 90 – 98%.
Bagian-bagian dari filter pasir cepat meliputi (Gambar 7.1):

a. Bak filter, merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak
tergantung debit pengolahan (minimum dua bak).

b. Media filter, merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori-pori di


antara butiran media. Pada pori-pori inilah air mengalir dan terjadi proses
penyaringan.

c. Sistem underdrain. Underdrain merupakan sistem pengaliran air yang telah


melewati proses filtrasi yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri
atas:
• Orifice, yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya
air dari media filter ke dalam pipa.
• Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak di sepanjang pipa manifold.
Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan mengalirkannya ke bangunan
penampung air.
Gambar 3. Bagian-bagian filter

Pengoperasian filter pasir cepat adalah sebagai berikut:

1. Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di
media filter. Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyangga,
masuk lubang/orifice, ke pipa lateral, terkumpul di pipa manifold, dan akhirnya air
keluar menuju bak penampung (lihat Gambar 7.2).

2. Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori-pori media
sehingga terjadi clogging (penyumbatan). Clogging ini akan meningkatkan
headloss aliran air di media. Peningkatan headloss dapat dilihat dari meningkatnya
permukaan air di atas media atau menurunnya debit filtrasi. Untuk menghilangkan
clogging, dilakukan pencucian media.

3. Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik pada media (backwash)
dengan tujuan untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat
pori- pori media filter. Aliran air dari manifold, ke lateral, keluar orifice, naik ke
media hingga media terangkat, dan air dibuang melewati gutter yang terletak di atas
media (lihat Gambar 7.3).

4. Bila media filter telah bersih, filter dapat dioperasikan kembali.


Gambar 4. Aliran air pada saat operasi filter

Gambar 4. Aliran air pada saat pencucian filter

F. Filter pasir cepat dapat dibedakan dalam beberapa kategori:


1. Menurut sistem kontrol kecepatan filtrasi
2. Menurut arah aliran
3. Menurut sistem pengaliran

 Tipe Filter Berdasar Sistem Kontrol Kecepatan


Berdasarkan sistem kontrol kecepatannya, filter dikelompokkan menjadi :
1. Constant rate: debit hasil proses filtrasi konstan sampai pada level tertentu. Hal ini
dilakukan dengan memberikan kebebasan kenaikan level muka air di atas media
filter.
2. Declining rate atau constant head: debit hasil proses filtrasi menurun seiring
dengan waktu filtrasi, atau level muka air di atas media filter dirancang pada nilai
yang tetap.

 Tipe Filter Berdasar Arah Aliran


Berdasarkan arah alirannya, filter dikelompokkan menjadi:

1. Filter aliran down flow (kebawah).

2. Filter aliran upflow (keatas).

3. Filter aliran horizontal.

 Tipe Filter Berdasar Sistem Pengaliran


Berdasarkan sistem pengalirannya, filter dikelompokkan menjadi:

1. Filter dengan aliran secara grafitasi (gravity filter).

2. Filter dengan aliran bertekanan (pressure filter).

2. Filter Pasir Lambat


Filter pasir lambat atau slow sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi
lambat, yaitu sekitar 0,1 hingga 0,4 m/jam. Kecepatan yang lebih lambat ini disebabkan
ukuran media pasir lebih kecil (effective size = 0,15 – 0,35 mm). Filter pasir lambat
merupakan sistem filtrasi yang pertama kali digunakan untuk pengolahan air, dimana
sistem ini dikembangkan sejak tahun 1800 SM. Prasedimantasi dilakukan pada air baku
mendahului proses filtrasi.

Filter pasir lambat cukup efektif digunakan untuk menghilangkan kandungan bahan
organik dan organisme patogen pada air baku yang mempunyai kekeruhan relatif rendah.
Filter pasir lambat banyak digunakan untuk pengolahan air dengan kekeruhan air baku di
bawah 50 NTU. Efisiensi filter pasir lambat tergantung pada distribusi ukuran partikel
pasir, ratio luas permukaan filter terhadap kedalaman dan kecepatan filtrasi.

Filter pasir lambat bekerja dengan cara pembentukan lapisan biofilm di beberapa
milimeter bagian atas lapisan pasir halus yang disebut lapisan hypogeal atau schmutzdecke.
Lapisan ini mengandung bakteri, fungi, protozoa, rotifera, dan larva serangga air.
Schmutzdecke adalah lapisan yang melakukan pemurnian efektif dalam pengolahan air
minum. Selama air melewati schmutzdecke, partikel akan terperangkap dan organik terlarut
akan teradsorpsi, diserap dan dicerna oleh bakteri, fungi, dan protozoa. Proses yang terjadi
dalam schmutzdecke sangat kompleks dan bervariasi, tetapi yang utama adalah mechanical
straining terhadap kebanyakan bahan tersuspensi dalam lapisan tipis yang berpori-pori
sangat kecil, kurang dari satu mikron. Ketebalan lapisan ini meningkat terhadap waktu
hingga mencapai sekitar 25 mm, yang menyebabkan aliran mengecil. Ketika kecepatan
filtrasi turun sampai tingkat tertentu, filter harus dicuci dengan mengambil lapisan pasir
bagian atas setebal sekitar 25 mm.

Keuntungan filter lambat antara lain:

 Biaya konstruksi rendah

 Rancangan dan pengoperasian lebih sederhana

 Tidak diperlukan tambahan bahan kimia

 Variasi kualitas air baku tidak terlalu mengganggu

 Tidak diperlukan banyak air untuk pencucian, pencucian tidak menggunakan


backwash, hanya dilakukan di bagian atas media

Kerugian filter pasir lambat adalah besarnya kebutuhan lahan, yaitu sebagai akibat dari
lambatnya kecepatan filtrasi. Secara umum, filter pasir lambat hampir sama dengan filter
pasir cepat. Filter lambat tersusun oleh bak filter, media pasir, dan sistem underdrain
(Gambar 5). Perbedaan filter pasir cepat dan filter pasir lambat dapat dilihat pada Tabel 2.

Gambar 5. Skema Filter Pasir Lambat

Tabel 2 Perbedaan Kriteria Filter Pasir Cepat dan Filter Pasir Lambat

Kriteri Filter Pasir Cepat Filter Pasir Lambat


a
Kecepatan filtrasi 4 – 21 m/jam 0,1 – 0,4 m/jam
Ukuran bed Kecil, 40 – 400 m2 Besar, 2000 m2
Kedalaman bed 30 – 45 cm kerikil, 60 – 70 30 cm kerikil, 90 – 110 cm
cm pasir, tidak berkurang pasir,
saat pencucian berkurang 50 – 80 cm
saat pencucian
Ukuran pasir Effective size >0,55 mm, Effective size 0,25-0,3 mm,
uniformity coefficient <1,5 uniformity coefficient 2-3
Distribusi ukuran Terstratifikasi Tidak terstratifikasi
media
Sistem underdrain Pipa lateral berlubang yang Sama dengan filter cepat
mengalirkan air ke pipa atau batu kasar dan beton
utama berlubang
sebagai saluran utama
Kehilangan energi 30 cm saat awal, hingga 275 6 cm saat awal, hingga 120
cm saat akhir cm saat akhir
Filter run (jarak waktu 12 – 72 jam 20 – 60 hari
pencucian)
Metoda pembersihan Mengangkat kotoran dan Mengambil lapisan pasir di
pasir ke atas dengan permukaan dan mencucinya
backwash
Jumlah air untuk 1 – 6% dari air tersaring 0,2 – 0,6% dari air
pembersihan tersaring
Pengolahan Koagulasi-flokulasi- Biasanya tidak ada bila
pendahuluan sedimentasi kekeruhan kurang dari 50
NTU
Biaya konstruksi Relatif tinggi Relatif rendah
Biaya operasi Relatif tinggi Relatif rendah
Biaya depresiasi Relatif tinggi Relatif rendah
G. Media-Media Penyaring Pada Sistem reverse Osmosis
 Media Sediment
Pada system Reverse Osmosis air hasil penyaringan dari filter konvensional masih
harus melalui proses penyaringan dengan media sediment, media ini berfungsi untuk
penyaringan flock-flockmmelayang tersuspensi didalam air, karena tidak menutup
kemungkinan air hasil penyaringan pada filter konvensional masih mengandung flock-
flock yang tersuspensi.

 Media Carbon Aktif
Setelah melalui media sediment air baku masih harus melalui media Carbon Aktif.
Fungsi dari media ini tidak berbeda dengan media carbon aktif yang dipakai pada sistem
konvensional. Yang membedakan hanyalah wadah dari carbon aktif ini terbuat dari
tabung yang dilapisi oleh kasa penyaring.

 Media Chlorin
Media ini memiliki fungsi sebagai desinfektan, yang tujuannya adalah sebagai
pembunuh bakteri-bakteri penyebab penyakit yang terdapat didalam [Link] air yang
telah melalui media ini akan terbebas dari bakteri-bakteri dan mikro-organisme penyebab
penyakit. Kemudian air yang telah terbebas dari bakteri ini akan masuk kedalam
membran Reverse Osmosis, fungsi dan pemgertiannya telah dijabarkan diatas.

 Media Carbon Post


Pada tahapan terakhir dari alat ini terpasang alat dengan nama carbon post, alat ini
berfungsi untuk menjaga kualitas air hasil filtrasi serta menjamin air tidak berasa dan
berwarna. (Alam, 2008 dalam anonim, 2016)

Berdasarkan jenis dan jumlah media yang digunakan dalam penyaringan, media filter
dikategorikan menjadi:
 Single media: Satu jenis media seperti pasir silika, atau dolomit saja. Filter cepat
tradisional biasanya menggunakan pasir kwarsa. Pada sistem ini penyaringan SS terjadi
pada lapisan paling atas sehingga dianggap kurang efektif karena sering dilakukan
pencucian.

 Dual media: misalnya digunakan pasir silica, dan anthrasit. Filter dual media sering
digunakan filter dengan media pasir kwarsa di lapisan bawah dan antharasit pada
lapisan atas. Keuntungan dual media:
 Kecepatan filtrasi lebih tinggi (10 – 15 m/jam)

 Periode pencucian lebih lama

 Merupakan peningkatan filter single media (murah)


 Multi media: misalnya digunakan pasir silica, anthrasit dan garnet atau dolomit. Fungsi multi
media adalah untuk memfungsikan seluruh lapisan filter agar berperan sebagai penyaring.

H. Bagian Alat Filtrasi :

1.. Bak filter

Bak tempat proses filtrasi berlangsung Jumlah dan ukuran bak tergantung debit pengolahan
(minum dua bak)..

2.. Media filter


Bahan berbutir granullar sebagai media penyaringan, dimana air akan mellewattii pori-pori
diantara butiran tersebut. Macam media: singlemedia, dualmedia, multimedia
Susunanberdasarkan ukuran: seragam, gradasi, tercampur.

3.. Sistem underdrain


Merupakan sistem pengaliran air yang telah melewati proses filtrasi terletak di bawah media filter
terdiri dari: manifold, lateral dan orifice.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2016. Bab 7 unit filtrasi. Bandung: FTSL ITB Bandung. Halaman 1 – 8.

D. Indrawati, 2016. Bab ii tinjauan pustaka. Semarang: Eprintis Undip. Halaman 9 – 20.

Nurul Ismillayli, dkk. 2018. Penerapan Metode Filtrasi, Adsorpsi Dan Reverse Osmosis Untuk
Pengolahan Air Sungai Menjadi Air Siap Minum. Mataram: J. Pijar MIPA, Vol XIII No.
1.

Sri Widyastuti & antik s. Sari, 2011. Kinerja Pengolahan Air Bersih Dengan Proses Filtrasi
Dalam Mereduksi Kesadahan. Jurnal Teknik Waktu Volume 09 Nomor 1. Halaman 43 –
44

Anda mungkin juga menyukai