0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan10 halaman

Replanting of Palm Oil (Elaeis Guineensis Jacq.) in Seruyan Estate, Minamas Plantation Group, Seruyan, Central Borneo

This document summarizes a study on oil palm replanting (Elaeis guineensis Jacq.) at Seruyan Estate in Central Kalimantan, Indonesia. The study was conducted from February to June 2016 and observed the replanting process to analyze compliance with RSPO and ISPO sustainability standards. The replanting process involved two phases: land preparation through activities like census, stacking, felling, and road building. And planting, including setting spots, planting seedlings, and hole digging. Seruyan Estate met RSPO and ISPO criteria by conserving high conservation value areas and not using fire for land clearing. The replanting program was found to follow proper technical standards and responsibility to the

Diunggah oleh

agnes popy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan10 halaman

Replanting of Palm Oil (Elaeis Guineensis Jacq.) in Seruyan Estate, Minamas Plantation Group, Seruyan, Central Borneo

This document summarizes a study on oil palm replanting (Elaeis guineensis Jacq.) at Seruyan Estate in Central Kalimantan, Indonesia. The study was conducted from February to June 2016 and observed the replanting process to analyze compliance with RSPO and ISPO sustainability standards. The replanting process involved two phases: land preparation through activities like census, stacking, felling, and road building. And planting, including setting spots, planting seedlings, and hole digging. Seruyan Estate met RSPO and ISPO criteria by conserving high conservation value areas and not using fire for land clearing. The replanting program was found to follow proper technical standards and responsibility to the

Diunggah oleh

agnes popy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bul.

Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

Peremajaan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Seruyan Estate, Minamas Plantation Group,
Seruyan, Kalimantan Tengah

Replanting of Palm Oil (Elaeis guineensis Jacq.) in Seruyan Estate, Minamas Plantation Group,
Seruyan, Central Borneo

Wisnu Hari Wibowo dan Ahmad Junaedi*

Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor


(Bogor Agricultural University), Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia
Telp.&Faks. 62-251-8629353 e-mail [email protected]
*
Penulis untuk korespondensi : [email protected]

Disetujui 16 Januari 2017/ Published Online 24 Januari 2017

ABSTRACT

This research conducted in Seruyan Estate from February to June 2016. The purpose of the
internship was to learn the technical and managerial aspects of the palm oil replanting and to analyze the
compliance with the RSPO and ISPO criteria during the replanting activity. Observations made include the
right steps of replanting based on standards that established by the company, machine job performance, and
employee performance. The observations then analyzed descriptively based on standards that applied to the
replanting program. The results showed that the phase of replanting was divided into two phases: the land
preparation that includes palm oil census, stacking spot setting, felling, chipping, stacking, deboling, closing
the deboling hole, road construction; and the planting stage that includes the setting of planting spot,
planting LCC, hole digging and palm oil planting. Seruyan Estate met the criteria of RSPO and ISPO in
term of the obligation to conserve the High Conservation Value Area. In addition, the replanting program in
Seruyan Estate also didn’t use fire for the land preparation.

Keywords : conservation, job performance, land preparation

ABSTRAK

Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Seruyan Estate dari Februari hingga Juni 2016. Kegiatan
magang ini bertujuan untuk mempelajari aspek teknis dan manajerial peremajaan kelapa sawit dan
menganalisis kesesuaiannya dengan kriteria RSPO dan ISPO saat kegiatan replanting. Pengamatan yang
dilakukan meliputi tahap-tahap peremajaan yang tepat berdasarkan standar yang telah ditetapkan
perusahaan, prestasi kerja alat, dan prestasi kerja karyawan. Hasil pengamatan tersebut kemudian
dianalisis secara deskriptif berdasarkan standar yang berlaku pada kegiatan peremajaan. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa tahap peremajaan dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan lahan yang
meliputi sensus pokok, pancang rumpuk, penumbangan, pencincangan, merumpuk pokok, deboling, tutup
lubang deboling, pembuatan jalan kontur; dan tahap penanaman yang meliputi pemancangan titik tanam,
penanaman kacangan penutup tanah, pembuatan lubang tanam, dan penanaman tanaman kelapa sawit.
Seruyan Estate telah memenuhi kriteria RSPO dan ISPO dikarenakan adanya kewajiban mengelola area
Nilai Konservasi Tinggi di dalam kebun. Selain itu, kegiatan peremajaan di Seruyan Estate juga tidak
menggunakan api saat melakukan persiapan lahan.

Kata kunci : konservasi, persiapan lahan, prestasi kerja

Peremajaan Kelapa Sawit . . . 107


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

PENDAHULUAN akan tercapai produksi puncak pada tanaman.


Keadaan produksi yang maksimal sepanjang
Pasar industri kelapa sawit (Elaeis siklus tanaman juga akan menjadikan semua fixed
guineensis Jacq.) yang baik dan berkelanjutan cost yang harus ditanggung perusahaan akan
dapat dicapai apabila perusahaan memiliki berfungsi secara optimal (Pahan, 2008). Menurut
stabilitas di dalam produksinya. Oleh karena itu, Nurkhoiry et al. (2006) pertimbangan suatu kebun
dalam rangka meningkatkan produksi atau saat akan melakukan peremajaan adalah melihat
stabilitas produksi, teknik dalam pembudidayaan produktivitas tanaman dalam kebun tersebut
kelapa sawit menjadi penting. Menurut terlebih dahulu, meliputi kerapatan tanaman per
Setyamidjaja (2006), teknik budidaya kelapa sawit hektar dan serangan hama penyakit. Apabila
terdiri dari beberapa tahap, antara lain pembibitan, produktivitas tanaman di bawah standar yang
pembukaan lahan, rancangan kebun, penanaman, telah ditetapkan perusahaan, maka perlu diadakan
tanaman penutup tanah, pemeliharaan tanaman peremajaan. Selain itu, peremajaan juga dapat
belum menghasilkan (TBM), pemeliharaan dipertimbangkan apabila panen sulit dilakukan
tanaman menghasilkan (TM), dan peremajaan. akibat tanaman yang sudah terlalu tinggi.
Salah satu kegiatan yang penting dalam Hasil peremajaan yang baik tidak hanya
teknik budidaya adalah peremajaan. Program berdasarkan perencanaan dan teknik yang baik,
peremajaan tanaman harus disiapkan dengan baik, namun juga berdasarkan tanggung jawab
khususnya pada perkebunan plasma. Menurut perusahaan terhadap lingkungan di sekitarnya.
Hutasoit et al. (2015), persepsi petani terhadap Penerapan tanggung jawab terhadap lingkungan
kegiatan peremajaan sangat baik. Hal ini pada perkebunan kelapa sawit ini tercantum pada
berimplikasi pada tingginya tingkat kesiapan prinsip RSPO (Roundtable on Sustainable Palm
petani untuk melakukan peremajaan kelapa sawit Oil) sebagai organisasi yang bertujuan untuk
saat umur tanaman kelapa sawit sudah tidak mendorong perluasan sektor kelapa sawit yang
produktif lagi. Petani telah mengetahui pentingnya lebih memperhatikan aspek lingkungan untuk
peremajaan untuk menjaga keberlanjutan usaha memenuhi permintaan minyak dan lemak kelapa
perkebunan kelapa sawit. Petani juga telah sawit global. Selain itu, RSPO juga dibentuk
memperoleh berbagai pelatihan mengenai untuk menetralkan isu-isu negatif perusahaan
pentingnya kegiatan peremajaan bagi kelapa sawit terkait pencemaran lingkungan
keberlanjutan usaha perkebunan kelapa sawit (Colchester et al., 2006). Indonesia juga secara
yang lestari. khusus memiliki sertifikasi untuk kelapa sawit
Penelitian yang dilakukan Susanti et al. yang berkelanjutan yang disebut ISPO (Indonesia
(2014) menyatakan bahwa alternatif model Sustainable Palm Oil). Berbeda dengan RSPO
peremajaan underplanting mampu memberikan yang bersifat sukarela, sertifikasi ISPO wajib
keuntungan secara finansial dibandingkan model dimiliki oleh seluruh perusahaan kelapa sawit di
peremajaan intercropping (tanaman sela). Indonesia. ISPO dibentuk berdasarkan kesadaran
Peremajaan model underplanting telah dinilai pemerintah bahwa pengelolaan kelapa sawit di
lebih efektif dan efisien. Model ini menebang Indonesia juga harus dilakukan secara
tanaman tua secara bertahap atau tidak secara berkelanjutan.
keseluruhan sehingga memungkinkan perusahaan Secara umum, tujuan dari kegiatan
tidak kehilangan pendapatan selama tanaman penelitian antara lain memperoleh pengalaman
yang diremajakan belum menghasilkan karena serta meningkatkan kemampuan teknis dan
masih tersedianya pendapatan dari tanaman tua manajerial, meningkatkan keterampilan
yang disisakan. mahasiswa dalam praktek kerja yang nyata, dan
Peremajaan dilakukan berdasarkan teori memperluas wawasan dalam pengelolaan
produksi kelapa sawit. Data yang diperoleh dari perkebunan kelapa sawit. Tujuan khusus dari
BPS (2014) menunjukkan pada tahun 2014 luas kegiatan penelitian yang dilaksanakan antara lain
lahan perkebunan besar kelapa sawit seluas 10.9 melakukan observasi teknis-teknis kegiatan
juta ha. Secara teoritis, produksi tanaman kelapa peremajaan dan menganalisis kesesuaiannya
sawit per satuan luas menunjukkan dengan kriteria RSPO dan ISPO pada kegiatan
kecenderungan yang meningkat secara tajam pada peremajaan.
umur 4-7 tahun, melandai pada umur 8-15 tahun,
dan mulai turun pada umur > 16 tahun. Teori METODE PENELITIAN
tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa
produksi per hektar per tahun kelapa sawit akan Kegiatan penelitian ini dilaksanakan
optimal jika umur tanaman rata-rata 15 tahun. selama empat bulan mulai dari bulan Februari
Acuan ini didasarkan karena pada umur 15 tahun sampai Juni 2016 bertempat di Seruyan Estate,

108 Wisnu H. Wibowo dan Ahmad Juanedi


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah. Republik Indonesia nomor


Kegiatan penelitian yang dilakukan terdiri dari 11/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Sistem
dua aspek, yaitu aspek teknis dan aspek Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan
manajerial. Aspek teknis adalah kegiatan di (Departemen Pertanian, 2015), yaitu
lapangan sebagai Karyawan Harian Lepas (KHL), 1. Praktik-praktik meminimalkan dan mengontrol
sedangkan aspek manajerial berupa kegiatan erosi dan degradasi tanah. (RSPO poin 4.3)
sebagai pendamping mandor dan pendamping 2. Status spesies langka, terancam, atau terancam
asisten kebun. punah dan habitat dengan Nilai Konservasi
Metode dalam kegiatan penelitian adalah Tinggi lainnya, apabila ada yang terdapat
metode langsung dan tidak langsung yang dalam perkebunan atau yang dapat terpengaruh
digunakan untuk memperoleh data-data primer oleh manajemen perkebunan atau pabrik
dan sekunder. Metode langsung yang dilakukan minyak sawit, harus diidentifikasi dan kegiatan
adalah praktek kerja di lapangan dengan operasional harus dikelola sedemikian rupa
mengikuti pelaksanaan kegiatan teknis dan untuk menjamin bahwa spesies dan habitat
manajerial perusahaan dan melakukan wawancara tersebut terjaga dan/atau terlindungi dengan
ataupun diskusi dengan para staf dan pekerja baik. (RSPO poin 5.2)
kebun. Metode tidak langsung dilakukan dengan 3. Penggunaan metode pembakaran untuk
mengumpulkan data berdasarkan laporan harian, membuka lahan atau menanam ulang dihindari,
bulanan, dan tahunan dari arsip kebun. kecuali dalam situasi khusus sebagaimana
Kegiatan penelitian pada satu bulan telahdiidentifikasi dalam pedoman ASEAN
pertama adalah sebagai Karyawan Harian Lepas atau praktik terbaik egional lainnya. (RSPO
(KHL), satu bulan kemudian menjadi pendamping poin 5.5)
mandor, dan dua bulan setelahnya menjadi 4. Perusahaan Perkebunan dalam melakukan
pendamping asisten kebun. Kegiatan selama penanaman harus menggunakan benih unggul.
menjadi KHL meliputi kerjasama dengan KHL (ISPO poin 2.2.3)
lainnya untuk melakukan kegiatan sesuai yang 5. Perusahaan Perkebunan harus menjaga dan
diperintahkan oleh mandor, antara lain kegiatan melestarikan keanekaragaman hayati pada
peremajaan, pembibitan, pemeliharaan, areal yang dikelola. (ISPO poin 4.6)
pemanenan, dan kegiatan lainnya. Kegiatan 6. Perusahaan Perkebunan harus melakukan
selama menjadi pendamping mandor meliputi koservasi lahan dan menghindari erosi sesuai
mempelajari batas kewenangan seorang mandor peraturan perundang-undangan. (ISPO poin
yang diantaranya adalah menentukan kebutuhan 4.9)
tenaga kerja, menentukan daerah yang akan Pengamatan dilakukan dengan mengamati
dilakukan pemeliharaan, menghitung prestasi prestasi kerja alat berat yang digunakan dan
kerja tenaga kerja, dan lain-lain. Sebagai prestasi kerja karyawan di lapangan. Prestasi kerja
pendamping asisten kebun, penulis mempelajari alat berat dapat diperoleh berdasarkan besarnya
aspek manajerial berupa cara memimpin tenaga satuan yang dikerjakan alat berat tersebut per
kerja yang berada pada tingkat divisi. satuan waktu dan prestasi kerja karyawan di
Pengamatan mengenai sistem peremajaan lapangan berdasarkan luasan lahan yang
meliputi urutan pekerjaan peremajaan dan jenis- dikerjakan per HK.
jenis pekerjaan pada peremajaan. Pekerjaan pada Data yang diperoleh dalam kegiatan
kegiatan peremajaan menurut Pahan (2008) antara penelitian adalah data primer dan data sekunder.
lain adalah Data primer diperoleh dengan metode langsung,
1. Pemancangan artinya penulis bekerja langsung di lapangan
2. Pembuatan parit (pada daerah rendah) sebagai Karyawan Harian Lepas (KHL),
3. Pembuatan jaringan jalan pendamping mandor, pendamping asisten kebun,
4. Pembuatan lubang tanam dan sebagai pengamat di lapangan. Pengamatan
5. Pembongkaran pokok data primer di lapangan sebagian dipusatkan pada
6. Penyemprotan gawangan dengan herbisida kegiatan peremajaan meliputi aspek teknis dan
7. Sorong batang dari lubang tanaman dan teras manajerial dari kegiatan peremajaan dan sebagian
8. Penanaman kacang-kacangan penutup tanah lagi pada kegiatan pemeliharaan, pemanenan, dan
9. Penanaman kelapa sawit kegiatan-kegiatan lainnya. Data primer juga
Pengamatan kegiatan peremajaan didapatkan dari wawancara langsung dengan
dilakukan sesuai dengan Panduan untuk pekerja kebun. Data-data sekunder diperoleh dari
memenuhi Prinsip dan Kriteria RSPO untuk telaah pustaka mengenai kondisi umum kebun
produksi minyak sawit berkelanjutan (Global yang berupa lokasi kebun, letak geografis,
Sustainability Associated, 2014) dan Permentan ketinggian, keadaan iklim, keadaan tanah, luas

Peremajaan Kelapa Sawit . . . 109


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

areal perkebunan dan tata guna lahan, serta arsip- HASIL DAN PEMBAHASAN
arsip kebun yang berhubungan dengan kegiatan
yang dilaksanakan. Kondisi Umum
Analisis data dan informasi secara
keseluruhan diperoleh dari data jumlah Hari Seruyan Estate secara geografis terletak
Orang Kerja (HOK), prestasi kerja, dan hari kerja o o
antara 2.391-2.471 LS dan 111.984-112.083 BT
optimum yang kemudian dibandingkan dengan yang terletak di Desa Pembuang Hulu II,
standar kerja perusahaan tempat penelitian Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan,
tersebut. Hasil kegiatan ini kemudian dianalisis Kalimantan Tengah. Luas areal Hak Guna Usaha
menggunakan analisis deskriptif dengan (HGU) di kebun Seruyan Estate adalah 3.233,466
membandingkan standar yang berlaku meliputi ha yang terbagi menjadi 3 divisi yaitu Divisi 1
ISPO dan RSPO. Data tersebut akan dianalisis seluas 965,998 ha, Divisi 2 seluas 1.075,444 ha,
untuk mengetahui faktor-fakor yang dan Divisi 3 seluas 1.023,744 ha. Tanaman kelapa
mempengaruhi peremajaan pada perkebunan sawit yang diusahakan di Seruyan Estate adalah
kelapa sawit dan standar yang telah diterapkan varietas Marihat yang diproduksi oleh Pusat
oleh perusahaan. Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dan varietas
Socfindo yang diproduksi oleh PT. Socfindo.
Seruyan Estate saat ini memiliki enam variasi
tahun tanam, yaitu tahun 1992, 1993, 1994, 2013,
2014, dan 2015. Data produksi dan produktivitas
Kebun Seruyan Estate dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Produksi dan Produktivitas Kebun Seruyan Estate tahun 2011-2015


Luas lahan Produksi TBS Produksi Produktivitas BJR
Tahun -1
(ha) (janjang) (ton) (ton.ha ) (kg)
2011 3 231.106 4 743 117 103 316.83 31.76 21.78
2012 3 231.106 3 566 377 81 092.99 24.93 22.74
2013 3 231.106 4 320 321 91 908.26 30.97 21.27
2014 2 641.382 3 763 872 81 503.90 30.45 21.65
2015 2 359.512 3 213 446 62 102.60 26.24 19.33

Tabel 1 menunjukkan bahwa produksi sebagian terdiri atas tanah ultisol sebanyak 94.4%
kelapa sawit di Seruyan Estate sempat mengalami dan sebagian kecil terdiri atas tanah spodosol
penurunan dan kenaikan. Produksi kebun sebanyak 5.6%.
mengalami penurunan dari tahun 2011 ke tahun
2012, namun pada tahun 2013 produksi kembali Perencanaan Peremajaan
naik walaupun tidak sebanyak tahun 2011. Luas
lahan pada tahun 2014 dan 2015 mengalami Peremajaan kelapa sawit merupakan
penurunan dikarenakan adanya aktivitas kegiatan penggantian tanaman kelapa sawit tua
peremajaan. yang sudah tidak ekonomis lagi dengan tanaman
Keadaan iklim Seruyan Estate menurut kelapa sawit baru. Tahap pertama dalam kegiatan
klasifikasi Schmidth-Ferguson termasuk dalam peremajaan yaitu perencanaan. Kebun akan
tipe iklim A (sangat basah). Curah hujan selama 5 membuat perencanaan peremajaan jangka panjang
tahun terakhir (2011-2015) di Seruyan Estate untuk mengetahui umur-umur tanaman yang
memiliki rata-rata 2 569 mm/tahun dengan hari sudah harus dipertimbangkan untuk diremajakan.
hujan rata-rata 174 hari. Kondisi lahan di Seruyan Tabel perencanaan peremajaan jangka panjang
Estate pada umumnya memiliki topografi relatif tahun 2012-2017 di Seruyan Estate dapat dilihat
datar dengan kemiringan 0-8% dan sebagian kecil pada Tabel 2.
memiliki topografi gelombang berbukit dengan
kemiringan 8-15%. Jenis tanah di Seruyan Estate

110 Wisnu H. Wibowo dan Ahmad Juanedi


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

Tabel 2. Perencanaan peremajaan jangka panjang tahun 2012-2017


No Periode Tahun Blok Tahun Tanam Luas (ha) Total Luas (ha)
E 012 1992 97.390
1 2012 - 2013 E 013 1992 89.010 281.870
E 014 1992 95.470
C 014 1992 58.310
D 012 1992 92.690
2 2013 - 2014 275.110
D 013 1992 60.010
D 014 1992 64.100
B 012 1992 82.148
B 013 1992 83.772
3 2014 - 2015 307.854
C 012 1992 84.693
C 013 1992 57.241
A 012 1993 46.625
A 013 1993 88.590
4 2015 – 2016 B 014 1992 81.886 390.927
B 015 1993 116.721
C 015 1993 57.105
E 015 1993 55.539
E 016 1993 83.938
5 2016 – 2017 319.120
E 017 1993 82.560
E 018 1993 97.083

Teknis kegiatan dibagi menjadi dua tahap, kontraktor. Perusahaan kontraktor akan membantu
yaitu tahap persiapan lahan dan tahap penanaman. melaksanakan kegiatan peremajaan dari awal
Kegiatan-kegiatan pada tahap persiapan lahan sampai akhir berdasarkan SPK (Surat Perjanjian
meliputi sensus pokok, pancang rumpuk, Kerja) yang telah disepakati bersama. Kebun
penumbangan, pencincangan, dan merumpuk Seruyan Estate menggunakan lima alat excavator
pokok, deboling, tutup lubang deboling, dan bertipe PC 200, satu alat bulldozer tipe D85E-SS
pembuatan jalan kontur. Setelah tahap persiapan dan dua alat hole digger dengan satu orang
lahan selesai, kegiatan pada tahap penanaman operator dan satu orang sebagai cadangan pada
adalah pemancangan titik tanam, penanaman masing-masing alat. Tabel jadwal perencanaan
kacangan penutup tanah, pembuatan lubang teknis kegiatan peremajaan untuk blok dengan
tanam, dan penanaman tanaman kelapa sawit. luas 57 ha di Seruyan Estate dapat dilihat pada
Kebun Seruyan Estate melakukan peremajaan Tabel 3.
menggunakan sistem kontrak dengan perusahaan

Tabel 3. Jadwal perencanaan kegiatan peremajaan di Seruyan Estate


Minggu ke-
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Sensus pokok (maks 6 bulan sebelum tumbang)
2 Pancang rumpuk
3 Tumbang, cincang, dan rumpuk
4 Deboling
5 Pembuatan jalan kontur
6 Pancang titik tanam
7 Menanam kacangan penutup tanah
8 Pembuatan lubang tanam
9 Tanam kelapa sawit

Sensus Pokok Kegiatan sensus pokok bertujuan untuk


mengetahui jumlah pokok kelapa sawit yang
Sensus pokok merupakan kegiatan masih hidup dan yang mati dalam setiap hektar,
peremajaan setelah perencanaan selesai dilakukan. blok, dan areal tertentu sehingga dapat
Peremajaan Kelapa Sawit . . . 111
Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

mengetahui jumlah pokok yang akan ditumbang Pancang Rumpuk


pada tahap penumbangan. Sensus pokok
dilakukan maksimal enam bulan sebelum Kegiatan yang dilakukan setelah
dilakukan penumbangan. Sensus dilakukan mengetahui jumlah pokok yang akan ditumbang
dengan cara karyawan SKU akan memasuki setiap adalah penentuan titik pancang kepala/utama.
pasar rintis dan menghitung jumlah pokok pada Pancang kepala/utama dipasang pada titik ujung
setiap baris dalam setiap pasar rintis dengan barat selatan blok yang akan diremajakan.
prestasi kerja rata-rata 10 ha/HK. Data yang Pancang rumpukan perlu dilakukan karena adanya
diperoleh dari sensus pokok antara lain jumlah perubahan jarak tanam lama yaitu 9.2 x 9.2 x 9.2
pokok hidup, pokok mati, pokok terserang menjadi 7.9 x 7.9 x 7.9 sehingga menyebabkan
penyakit Ganoderma boninense dan jumlah pokok adanya perubahan jumlah populasi. Kegiatan ini
pada areal konservasi. Menurut Susanto et al. memerlukan ketelitian yang sangat tinggi karena
(2006), ciri-ciri pokok yang terserang penyakit dapat mempengaruhi letak titik tanam baru dan
Ganoderma boninense antara lain menguningnya jumlah populasi per hektarnya. Tenaga kerja yang
daun yang akan diikuti oleh mengeringnya anak diperlukan untuk kegiatan ini adalah 4-5 orang
daun dan pelepah dan berakhir dengan ditambah satu orang mandor sebagai pengawas di
pembusukan pada daerah batang. Apabila pada lapangan dengan rata-rata prestasi kerja 5 ha/HK.
saat sensus terdapat pokok yang terserang Alat-alat yang dibutuhkan antara lain tali seling
Ganoderma boninense, maka pokok tersebut akan yang telah diberi tanda sesuai ukuran yang
ditumbang, dicincang, dan ditimbun dalam lubang dibutuhkan, pancang yang terbuat dari bambu atau
ukuran 2 m x 2 m x 1.2 m. Perlakuan terhadap pelepah kelapa sawit, dan kompas untuk
pokok yang terserang Ganoderma boninense mengetahui arah mata angin. Ilustrasi kegiatan
tersebut dilakukan 6 bulan sebelum dilakukan pancang rumpuk di Seruyan Estate dapat dilihat
peremajaan. pada Gambar 1.

Gambar 1. Ilustrasi kegiatan pancang rumpuk

Penumbangan, Pencincangan, dan Merumpuk rhinoceros pada pokok yang sudah mati.
Pokok Pencincangan dilakukan dari bagian bonggol akar
hingga ujung pelepah. Batang kelapa sawit yang
Kegiatan penumbangan, pencincangan, telah dicincang akan disusun rapi sesuai dengan
dan merumpuk pokok merupakan suatu rangkaian pancang rumpuk yang telah ditentukan
yang tidak terpisahkan karena ketiga kegiatan sebelumnya. Rumpukan ini bertujuan untuk
tersebut dilakukan langsung secara berurutan di merapikan baris tanaman, sebagai mulsa tanaman,
lapangan. Penumbangan pokok dilakukan dengan dan bermanfaat sebagai bahan organik yang dapat
tujuan untuk mempermudah kegiatan menyuburkan tanaman.
pencincangan batang kelapa sawit. Kegiatan Tabel 4 menunjukkan bahwa satu alat
pencincangan dilakukan langsung setelah pokok excavator rata-rata dapat menumbang,
kelapa sawit tumbang dengan menggunakan mencincang, dan merumpuk 132 pokok kelapa
bucket pisau yang telah dipasang pada bucket sawit dalam satu hari kerja. Jam kerja excavator
excavator. Pencincangan ini bertujuan untuk normalnya adalah 10 HM (Hours machine)
mempercepat pelapukan pokok sawit dan sehingga dalam satu jam, satu excavator dapat
menghindari perkembangbiakan Oryctes menumbang, mencincang, dan merumpuk 13

112 Wisnu H. Wibowo dan Ahmad Juanedi


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

pokok kelapa sawit. Kegiatan menumbang, Pembuatan Jalan Kontur


mencincang, dan merumpuk dapat terhambat
apabila di lapangan terjadi hujan. Kondisi lahan Pembuatan jalan kontur di kebun
yang becek dapat memperberat kinerja mesin dan dilakukan dengan menggunakan bulldozer.
dapat membuat mesin menjadi cepat rusak. Pembuatan jalan ini bertujuan untuk memudahkan
dalam operasional pekerjaan di lapangan,
Tabel 4. Prestasi kerja satu alat excavator pada terutama dalam pencatatan produksi, pengaturan
kegiatan penumbangan, pencincangan, organisasi kerja, pengukuran ouput kerja, dan
dan merumpuk pokok pengawasan lapangan. Batas-batas blok
Hari ke- Jumlah Hari ke- Jumlah
diusahakan selurus mungkin, walaupun hal ini
pokok pokok sulit diterapkan pada areal yang berbukit.
1 132 6 167
Minamas Plantation (2013) menyatakan bahwa
2 126 7 101 jalan dalam kebun juga tidak boleh memiliki
3 131 8 139 kemiringan lebih dari 60. Jalan yang dibuat harus
4 159 9 68 tersambung dengan jalan lainnya sehingga tidak
5 161 10 134 ditemukan jalan buntu dalam kebun.
Rata - rata 131,8 Tabel 6 menunjukkan bahwa satu alat
bulldozer rata-rata dapat membuat jalan kontur
Deboling sepanjang 953 m dalam satu hari kerja. Jam kerja
bulldozer normalnya adalah 10 HM (Hours
Deboling adalah kegiatan pembongkaran machine) sehingga dalam satu jam, satu excavator
sisa bonggol termasuk perakaran lama pokok dapat membuat 95 m jalan kontur. Seperti halnya
kelapa sawit yang telah ditumbang menggunakan kegiatan lainnya yang menggunakan alat berat,
excavator. Ukuran penggalian lubang adalah 2 m kegiatan deboling juga terhambat apabila cuaca
x 2 m x 1 m. Kegiatan ini dilakukan 1-2 minggu sedang hujan. Hal ini akan memperberat kinerja
setelah kegiatan pencincangan selesai. Bekas mesin, membuat jalan menjadi susah untuk
galian dibiarkan terbuka selama 2 minggu dengan dilewati dan dibentuk, serta dapat membuat mesin
tujuan untuk mengangkat perakaran ke permukaan menjadi cepat rusak.
dan mengurangi potensi tumbuhnya jamur
Ganoderma. Prestasi excavator dalam kegiatan ini Tabel 6. Prestasi kerja satu alat bulldozer pada
200 lubang/unit/hari dengan jam kerja 10 HM. kegiatan pembuatan jalan kontur
Tabel 4 menunjukkan bahwa satu alat Hari ke- Panjang jalan koleksi (m)
excavator rata-rata dapat membongkar 200 lubang 1 955
perakaran dalam satu hari kerja. Jam kerja 2 955
excavator normalnya adalah 10 HM (Hours 3 952
machine) sehingga dalam satu jam, satu excavator 4 951
dapat membongkar 20 lubang bekas perakaran 5 951
kelapa sawit. Seperti halnya kegiatan Rata-rata 953
menumbang, mencincang, dan merumpuk,
kegiatan deboling juga terhambat apabila cuaca Pemancangan Titik Tanam
sedang hujan. Hal ini akan memperberat kinerja
mesin dan dapat membuat mesin menjadi cepat Pemancangan titik tanam adalah salah
rusak. satu kegiatan yang terpenting dalam tahap
kegiatan peremajaan karena kegiatan ini akan
Tabel 5. Prestasi kerja satu alat excavator pada memberikan dampak terhadap pertumbuhan dan
kegiatan deboling perkembangan tanaman kelapa sawit ke depannya.
Pancang tanam bertujuan untuk memudahkan
Hari ke- Jumlah Hari ke- Jumlah
pengaturan jarak tanam dan mendapatkan
lubang lubang
populasi yang optimal dalam penanaman kelapa
1 191 6 200 sawit. Kegiatan ini membutuhkan 4-5 orang
2 222 7 200 tenaga ahli dengan satu orang pembidik dan satu
3 216 8 228 orang mandor. Alat-alat yang dibutuhkan antara
4 174 9 155
lain dua buah tali seling berukuran 150 m dengan
5 208 10 209
satu tali seling diberi tanda setiap 3,96 m dan tali
Rata - rata 131,8 seling lainnya diberi tanda setiap 6,9 m, pancang
berukuran 2 m yang terbuat dari bambu atau
pelepah kelapa sawit, dan kompas untuk

Peremajaan Kelapa Sawit . . . 113


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

mengetahui arah mata angin. Prestasi kerja pada 10 ha/HK. Ilustrasi kegiatan pemancangan titik
kegiatan memancang titik tanam rata-rata adalah tanam dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Ilustrasi kegiatan pemancangan titik tanam

Penanaman Kacangan Penutup Tanah permukaan tanah. Jenis kacangan yang digunakan
di kebun Seruyan Estate antara lain adalah
Penanaman kacangan sebagai penutup Pueraria javanica (PJ), Calopogonium
tanah dilakukan setelah pemancangan titik tanam mucunoides (CM), dan Mucuna bracteata (MB).
selesai dilakukan. Penanaman kacangan ini Menurut Subronto dan Harahap (2004), Mucuna
bertujuan untuk menutup rumpukan sehingga bracteata menghasilkan bahan organik yang
meminimalkan potensi perkembangbiakan hama tinggi dan akan sangat bermanfaat jika ditanam di
Oryctes rhinoceros dan menjaga kelembaban daerah yang sering mengalami kekeringan dan
tanah. Menurut Sunarko (2014), penanaman pada areal yang rendah kandungan bahan
kacangan juga bertujuan untuk menekan organiknya. Ilustrasi penanaman kacangan
pertumbuhan gulma, meningkatkan kandungan penutup tanah dapat dilihat pada Gambar 3.
bahan organik tanah dan mengendalikan erosi

a b
(a) Alur penanaman PJ dan CM (b) titik tanam MB
Gambar 3. Ilustrasi kegiatan penanaman kacangan penutup tanah: (a) PJ dan CM, (b) MB

Pembuatan Lubang Tanam menggunakan hole digger yang dikendalikan


dengan traktor.
Pembuatan lubang tanam dilakukan Tabel 7 menunjukkan bahwa satu alat
setelah penanaman PJ dan CM selesai dilakukan. hole digger rata-rata dapat menggali 870 lubang
Pembuatan lubang tanam bertujuan sebagai tanam dalam satu hari kerja. Jam kerja hole digger
tempat penanaman tanaman kelapa sawit yang normalnya adalah 10 HM (Hours machine)
baru. Lubang tanam memiliki ketentuan diameter sehingga dalam satu jam, satu hole digger dapat
45 cm dan kedalaman 60 cm. Lubang tanam menggali 87 lubang untuk penanaman kelapa
dibuat berdasarkan pancang tanam yang telah sawit. Seperti halnya kegiatan lainnya, kegiatan
dilakukan sebelumnya. Lubang tanam digali pembuatan lubang tanam juga terhambat apabila

114 Wisnu H. Wibowo dan Ahmad Juanedi


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

cuaca sedang hujan. Hal ini akan memperberat terdapat tingkat keanekaragaman hayati yang
kinerja mesin dan dapat membuat mesin menjadi tinggi. Areal HCV ini juga menyebabkan
cepat rusak. berkurangnya luas areal produktif dikarenakan
adanya area-area tertentu yang sudah tidak boleh
Tabel 7. Prestasi kerja satu alat hole digger pada ditanami kembali. Oleh karena itu, Perusahaan
kegiatan pembuatan lubang tanam Minamas membuat kebijakan peningkatan
Hari ke- Jumlah Hari ke- Jumlah
populasi dalam satu hektar yang awalnya hanya
lubang lubang 136 pokok menjadi 180 pokok di Seruyan Estate.
1 6 Bibit tanaman kelapa sawit yang ditanam
765 686
2 7 saat peremajaan berasal dari benih yang
850 510
3 8
bersertifikat. Hal ini dibuktikan oleh jenis bibit
1 020 1 275
yang ditanam adalah bibit Marihat dari PPKS
4 850 9 1 156
(Pusat Penelitian Kelapa Sawit) dan bibit
5 680 10 910 Socfindo dari PT Socfindo . Menurut Purba et al.
Rata - rata 131,8 (2006), keunggulan bibit jenis marihat antara lain
berpotensi memiliki tandan yang besar, mesokarp
Penanaman Kelapa Sawit tebal, dan dapat ditanam di areal yang berlereng.
Kebun Seruyan Estate juga mengikuti kebijakan
Kegiatan penanaman kelapa sawit ISPO dan RSPO yang menginginkan tidak adanya
dilakukan setelah pembuatan lubang tanam selesai pembakaran dalam program pembukaan lahan
dilakukan. Bibit yang ditanam standarnya ataupun saat kegiatan peremajaan.
berumur 12 bulan dan bebas dari bibit afkir. Bibit
kelapa sawit yang ditanam di Seruyan Estate KESIMPULAN
adalah bibit Marihat yang berasal dari PPKS
(Pusat Penelitian Kelapa Sawit) dan Socfindo Kegiatan penelitian telah memberikan
yang berasal dari PT Socfindo dengan varietas wawasan dan pengalaman kepada mahasiswa
Tenera. Menurut Tim Bina Karya Tani (2009), tentang kegiatan teknis dan manajerial dalam
sebelum menanam, dasar lubang terlebih dahulu pengelolaan kebun kelapa sawit, khususnya pada
dipupuk dan lubang tanam diisi tanah secukupnya aspek peremajaan kebun kelapa sawit. Peremajaan
sampai mencapai kedalaman lubang setinggi di Seruyan Estate telah dilaksanakan selama tiga
polybag dan dilakukan pemotongan akar bibit tahun berturut-turut dengan prestasi kerja alat dan
yang menembus keluar polybag. Lubang tanam karyawan yang sesuai standart perusahaan.
diberi pupuk rock phosphate (RP) 500 Kegiatan-kegiatan peremajaan tersebut juga
gram/pokok untuk membantu mempercepat dilakukan secara berurutan sesuai dengan
tumbuhnya perakaran. Tanah dipadatkan dengan perencanaan yang telah ditentukan.
cara menginjak tanah di sekitar tanaman kelapa Kebun Seruyan Estate telah memenuhi
sawit hingga permukaan tanah dalam polybag kriteria RSPO dan ISPO. Hal ini dibuktikan
sejajar dengan permukaan tanah. Hal ini bertujuan dengan tidak adanya kegiatan peremajaan pada
agar tanaman tidak mudah doyong atau miring areal HCV yang merupakan salah satu syarat yang
apabila terkena angin. Prestasi kerja karyawan harus dipenuhi oleh semua perkebunan kelapa
pada kegiatan penanaman kelapa sawit rata-rata sawit. Bibit-bibit yang dipakai pada kegiatan
adalah 100 pokok/HK yang dikerjakan oleh 10 peremajaan juga berasal dari benih yang
orang tenaga kerja. bersertifikat. Selain itu, peremajaan yang
dilakukan oleh kebun Seruyan Estate juga
Pemenuhan Kriteria RSPO dan ISPO pada mengedepankan konsep tanpa pembakaran lahan
Kegiatan Peremajaan yang merupakan salah satu kriteria dalam RSPO
dan ISPO.
Sesuai dengan Panduan untuk memenuhi
Prinsip dan Kriteria RSPO untuk produksi minyak DAFTAR PUSTAKA
sawit berkelanjutan dan Permentan Republik
Indonesia nomor 11/Permentan/OT.140/3/2015 Colchester, M., Jiwan, N., Andiko, S., Firdaus,
tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit M., Surambo, A.Y., Pane, H. 2006. Tanah
Berkelanjutan (ISPO), kebun Seruyan Estate tidak Yang Dijanjikan. Minyak Kelapa Sawit
melakukan kegiatan peremajaan dilahan sungai dan Pembebasan Tanah di Indonesia:
dan sekitar mata air. Hal ini didukung dengan Implikasi terhadap Masyarakat Lokal dan
adanya areal HCV (High Conservation Value). Masyarakat Adat. Forest Peoples
Areal HCV merupakan areal yang didalamnya Programme dan Perkumpulan Sawit

Peremajaan Kelapa Sawit . . . 115


Bul. Agrohorti 5 (1) : 107 – 116 (2017)

Watch. Pahan, I. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit:


Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga
Departemen Pertanian. 2015. Peraturan Menteri Hilir. Jakarta(ID): Penebar Swadaya.
Pertanian Republik Indonesia nomor
11/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Purba, A.R., Suprianto, E., Yenni, Y., Sujadi,
sistem sertifikasi kelapa sawit Supena, N. 2006. Karakteristik Bahan
berkelanjutan Indonesia. Departemen Unggul PPKS dan Pola
Pertanian, Jakarta, ID. Pengelompokannya di Pembibitan. Pusat
Penelitian Kelapa Sawit, Medan, ID.
[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan.
2014. Pertumbuhan Areal Kelapa Sawit Setyamidjaja, D. 2006. Seri Budidaya Kelapa
Meningkat. [internet] [diunduh 2016 Sawit. Yoyakarta(ID): Kanisius.
Agust 13] http://ditjenbun.pertanian.go.id/
Subronto, Harahap, I.Y. 2004. Penggunaan
Global Sustainability Associated. 2014. Kacangan Penutup Tanah Mucuna
Persyaratan Sistem Pengelolaan RSPO Bracteata pada Pertanaman Kelapa Sawit.
dan Panduan untuk Sertifikasi Kelompok Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit,
Produksi TBS. [internet] [diunduh 2016 Medan, ID.
Jan 06] http://www.rspo.org/ .
Sunarko. 2014. Petunjuk Praktis Budidaya dan
Hutasoit, F., Hutabarat, S., Muwadi, D. 2015. Pengolahan Kebun Kelapa Sawit. Jakarta
Analisis persepsi petani kelapa sawit (ID): Agromedia Pustaka.
swadaya bersertifikasi RSPO dalam
menghadapi kegiatan peremajaan Susanti, E., Hutabarat, S., Muwardi, D. 2014.
perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Analisis perbandingan alternatif model
Ukui, Kabupaten Pelalawan. Jurnal peremajaan kelapa sawit konvensional
Faperta Vol 2 No 1. Universitas Riau. dengan underplanting pola Perkebunan
Riau, ID. Inti Rakyat (PIR) di Desa Sei Lambu
Makmur, Kecamatan Tapung, Kabupaten
Minamas Plantation. 2013. Standard Operating Kampar. Jurnal Faperta Vol 1 No 2.
Procedure: Referensi Manual Agronomi Universitas Riau. Riau, ID.
Penanaman Kelapa Sawit. Minamas
Plantation, ID. Susanto, A., Purba, R.Y., Utomo, C.. 2006.
Penyakit-Penyakit pada Kelapa Sawit.
Nurkhoiry, R., Agustira, M.A., Wahyono, T., Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan,
Moechtar, D., Kurniawan, A., Harahap, ID.
I.Y., Koedadri, A.D. 2006. Pedoman
Norma Kerja Perkebunan Kelapa Sawit Tim Bina Karya Tani. 2009. Pedoman Bertanam
pada Lahan Mineral. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Yrama Widya, Bandung,
Kelapa Sawit, Medan, ID. ID.

116 Wisnu H. Wibowo dan Ahmad Juanedi

Anda mungkin juga menyukai