0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan18 halaman

Dinamika Pengunjung TN Alas Purwo

This document analyzes the dynamics of ecotourism visitors to Alas Purwo National Park in East Java. It finds that the park has nine main ecotourism attractions. The number of visitors has fluctuated over the past six years, peaking in June. Domestic visitors prefer November and December while foreign visitors increase from May to October for surfing. Most domestic visitors come from East Java, Bali, and Central Java, while foreign visitors are predominantly Australian, American, and European. The research also examines the positive and negative impacts of ecotourism on the local community and environment.

Diunggah oleh

Khafid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan18 halaman

Dinamika Pengunjung TN Alas Purwo

This document analyzes the dynamics of ecotourism visitors to Alas Purwo National Park in East Java. It finds that the park has nine main ecotourism attractions. The number of visitors has fluctuated over the past six years, peaking in June. Domestic visitors prefer November and December while foreign visitors increase from May to October for surfing. Most domestic visitors come from East Java, Bali, and Central Java, while foreign visitors are predominantly Australian, American, and European. The research also examines the positive and negative impacts of ecotourism on the local community and environment.

Diunggah oleh

Khafid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DINAMIKA PENGUNJUNG WISATA ALAM DI TAMAN

NASIONAL ALAS PURWO, JAWA TIMUR


(The Dynamics of Ecotourism Visitors in Alas Purwo
National Park, East Java)

Oleh/by :
Hendra Gunawan, Subarudi dan ElvidaY. Suryandari

ABSTRACT

Alas Purwo National Park (TNAP) is a basis and main priority for ecotourism development in Banyuwangi and
its visitors tend to increase from year to year. However, up to now there is no information regarding the dynamic of
ecotourism visitors in TNAP. Therefore, a research on dynamic of ecotourism visitors is required. The goal of this
research is to analyse the dynamics of ecotourism visitors and its objectives are: (1) to identify the objects of ecotourism, (2)
to analyse the dynamics of visitors, (3) to investigate the preferences of visitor to ecotourism objects, and (4) to analyse the
impact of ecotourism activities on the TNAP Management. The results show that TNAP has nine ecotourism objects,
i.e. Trianggulasi, Sadengan, Ngagelan, Rowobendo, Pancur, Goa Istana, Pasir putih, Segoro anak and Pantai
Plengkung. Number of visitors visiting TNAP in last six years has been fluctuated. In one year (2004) numbers of
visitors increase in May to July and reach the peak season in June. Foreign visitors begin to increase in May to October with
the purpose for surfing. Most of domestic visitors attended in November and December for visiting natural swimming pool
at Taman Suruh and Makam Datuk. Most of domestic visitors came from East Java, Bali, Central Java and the lowest
number came from West Java. Foreign visitors were dominated by Australian, American, European, Asian and
African. The positive impacts of ecotourism activities are: (1) providing local employment, (2) creating job opportunities,
(3) increasing appreciation from community toward TNAP, and (4) increasing original revenues of the local district. On
the other side, the negative impacts are: (1) vandalism, (2) tourist facilities that unfriendly with the environment, (3)
disturbance to the wildlife, and (4) degradation of environmental quality.

Keywords: ecotourism, visitors, national park, Alas Purwo.

ABSTRAK

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan basis dan unggulan pengembangan wisata
alam di Banyuwangi. Kunjungan ke taman nasional ini dari tahun ke tahun cenderung meningkat,
namun saat ini belum ada informasi tentang dinamika pengunjung wisata alam ke TNAP. Oleh karena
itu penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui dinamika pengunjung ekowisata di TNAP dengan
tujuan : (1) mengidentifikasi obyek wisata, (2) menganalisis dinamika jumlah kunjungan, (3)
mempelajari preferensi pengunjung terhadap obyek wisata, dan (4) mengidentifikasi dampak kegiatan
wisata alam dan implikasinya bagi pengelolaan TNAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
TNAP memiliki sembilan obyek wisata alam andalan yaitu : Trianggulasi, Sadengan, Ngagelan,
Rowobendo, Pancur, Goa Istana, Pasir putih, Segoro Anak dan Pantai Plengkung. Jumlah kunjungan
wisatwan ke TNAP dalam enam tahun terakhir mengalami fluktuasi. Dalam setahun (2004), kunjungan
wisatawan meningkat pada bulan Mei hingga Juli dan mencapai puncaknya pada bulan Juni. Wisatawan
mancanegara mulai meningkat pada bulan Mei hingga Oktober dengan tujuan surfing. Sementara,
wisatwan nusantara terkonsentrasi pada bulan November dan Desember dan kebanyakan mengunjungi
pemandian alam Taman Suruh dan Makam Datuk. Wisatawan nusantara terbanyak berturut-turut
datang dari Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah dan yang terendah dari Jawa Barat. Sementara wisatawan
mancanegara didominasi oleh bangsa Australia, Amerika, Eropa, Asia dan Afrika. Dampak positif
dari kegiatan wisata alam antara lain adalah (1) tersedianya lapangan kerja, (2) terciptanya kesempatan

271
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
berusaha, (3) meningkatnya penghargaan masyarakat terhadap TNAP, dan (4) meningkatnya
pendapatan asli daerah. Sementara dampak negatif yang timbul dari kegiatan wisata alam antara lain
adalah (1) vandalisme, (2) berkembangnya sarana dan fasilitas wisata yang tidak ramah lingkungan, (3)
terganggunya satwaliar, dan (4) menurunnya kualitas lingkungan.

Kata kunci : ekowisata, pengunjung, taman nasional, Alas Purwo.

I. PENDAHULUAN

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri


Kehutanan Nomor 283/Kpts-II/1992 dengan luas 43.420 ha. Taman nasional ini memiliki
kekayaan vegetasi berupa hutan pantai, hutan mangrove, savana, hutan bambu dan hutan
hujan tropika dataran rendah. Sampai saat ini telah teridentifikasi 158 jenis tumuhan dari
59 famili dari hutan pantai, mangrove dan dataran rendah. TNAP memiliki kekayaan fauna
darat 129 jenis (tidak termasuk serangga) yang terdiri dari 21 jenis mamalia, 94 jenis burung
dan 14 jenis reptilia. Dari 21 jenis mamalia, 12 diantaranya merupakan jenis dilindungi.
94 jenis burung, 39 jenis diantaranya merupakan burung migran. Dari 14 jenis reptilia,
empat diantaranya adalah jenis penyu yang sering mendarat di sepanjang pantai di kawasan
TNAP (Balai Taman Nasional Alaas Purwo, 1999).
Satwa mamalia yang penting di TNAP antara lain Banteng (Bos javanicus), Kijang
(Muntiacus muntjak), Rusa (Cervus timorensus), Lutung (Presbytis cristata), Kancil (Tragulus
javanicus), Macan tutul (Panthera pardus), Anjing hutan (Cuon alpinus) dan Kucing hutan (Felis
bengalensis). Burung langka yang mudah dijumpai di taman nasional ini adalah Rangkok badak
(Buceros rhinoceros), Kangkareng perut putih (Anthracocerus convexus), Merak (Pavo muticus), Ayam
hutan hijau (Gallus varius) dan Ayam hutan merah (Gallus gallus). Empat jenis penyu yang
sering mendarat dan bertelur di pantai kawasan TNAP adalah Penyu abu-abu (Lepidochelys
olivacea), Penyu belimbing (Dermochelys coriaceae), Penyu hijau (Chelonia mydas) dan Penyu sisik
(Eretmochelys imbricata) (Balai Taman Nasional Alaas Purwo, 1999).
Disamping kekayaan flora fauna, TNAP juga kaya akan obyek wisata, sehingga menjadi
salah satu unggulan dalam pengembangan industri pariwisata di Jawa Timur umumnya dan
Kabupaten Banyuwangi khususnya. Berdasarkan bentuk fisiknya, obyek wisata di TNAP
antara lain berupa pantai, hutan, gua, situs pura kuno, sumber air keramat dan satwaliar.
Obyek-obyek wisata tersebut menarik wisatawan untuk berbagai tujuan kunjungan seperti
menikmati panorama alam dan satwaliar, wisata sejarah, budaya atau spiritual, berselancar
(surfing), snorkling, berperahu dan lintas wana (jungle tracking).
TNAP dipilih sebagai lokasi studi karena taman nasional ini merupakan basis dan
unggulan pengembangan wisata alam di Banyuwangi. Disamping itu, adanya kecenderungan
peningkatan jumlah kunjungan ke taman nasional ini dari tahun ke tahun perlu dipelajari
penyebabnya, tujuan kunjungan dan dampaknya bagi masyarakat sekitar dan taman nasional.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pengunjung ekowisata di TNAP
melalui (1) identifikasi obyek wisata, (2) analisis dinamika jumlah kunjungan, (3) mempelajari
preferensi pengunjung terhadap obyek wisata, dan (4) mempelajari dampak dan implikasinya
terhadap pengelolaan TNAP.

272
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
II. METODOLOGI

A. Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di TNAP yang secara geografis terletak diantara 114o20'16'
dan 114o36'36” BT dan diantara 8o26'45” dan 8o47'00' LS. Secara administratif pemerintahan
termasuk kedalam wilayah Kecamatan Tegaldlimo, Purwoharjo dan Muncar, Kabupaten
Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan dari Tanggal 4 sampai 11 Juli 2005.

B. Metode Pengumpulan Data

Data sekunder diperoleh dari kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo, Pengusaha
Wisata Alam, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya, dan Badan Pusat Statistik Kabupaten
Banyuwangi. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan masyarakat, pengunjung,
agen perjalanan, pemegang konsesi wisata di TNAP dan petugas taman nasional. Penentuan
responden dengan cara kebetulan (incidental) atau tidak dipilih yaitu orang yang ditemui pada
kesempatan pertama di setiap lokasi pengamatan.
Responden masyarakat berjumlah 15 orang terdiri dari dari pedagang makanan (5),
pekerja sarana jalan (4), pekerja angkutan (3) dan pekerja di perusahaan konsesi wisata (4).
Responden pemegang konsesi berjumlah tiga perusahaan, responden agen perjalanan lima
orang, dan petugas taman nasional sebanyak 10 orang. Sementara jumlah pengunjung yang
menjadi responden sebanyak 40 orang yang terdiri dari wisatawan mancanegara dengan
tujuan surfing (5), wisatawan nusantara dengan tujuan rekreasi (15), pengunjung untuk tujuan
penelitian/pendidikan (5), pengunjung dengan tujuan wisata budaya/spiritual (15).

C. Analisis Data

Data yang dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif dengan
tabulasi. Analisis juga dilakukan terhadap preferensi wisatawan domestik maupun manca
negara terhadap obyek-obyek wisata alam di Banyuwangi umumnya dan TNAP khususnya.
1. Potensi obyek wisata di dalam TNAP diidentifikasi nama lokasi, jenis kegiatan wisata
yang dapat dilakukan, daya tarik utama dan aksesibilitas dengan indikator jarak dari obyek
wisata terdekat atau kota/desa terdekat yang disinggahi angkutan umum.
2. Dinamika kunjungan selama lima tahun dan fluktuasi kunjungan dalam satu tahun
terakhir disajikan dalam histogram untuk mengetahui kecenderungannya (naik atau
turun). Kemudian berdasarkan referensi dan wawancara dengan petugas taman nasional,
agen perjalanan dan pemegang konsesi dicari tahu penyebabnya.
3. Preferensi Terhadap Obyek Wisata di TNAP dicari dengan membuat persentase jumlah
pengunjung ke semua obyek wisata yang tersedia di taman nasional tersebut. Preferensi
terhadap suatu obyek wisata diindikasikan oleh persentase jumlah pengunjung yang pada
obyek wisata tersebut.
4. Asal wisatwan mancanegara dikelompokkan berdasarkan kebangsaan menurut benua
(Eropa, Asia, Australia, Amerika, dan Afrika). Asal wisatwan nusantara dikelompokkan
menurut provinsi. Masing-masing kelompok asal dipersentasekan dan disajikan dalam
Pie chart.
5. Dampak dari adanya kegiatan ekowisata di TNAP, merupakan hasil diskusi dengan
petugas taman nasional setelah melihat fakta di lapangan.

273
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Potensi Obyek Wisata

Kabupaten Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki luas wilayah
5.782,50 km2 yang terbentang dari laut sampai pegunungan. Bagian selatan dan timur wilayah
ini dilingkupi oleh pantai yang indah sepanjang 175,8 km dan memiliki 10 buah pulau kecil
(BPS Kabupaten Banyuwangi, 2004). Kabupaten Banyuwangi kaya akan obyek wisata dan
bertetangga dengan kabupaten lain yang juga kaya akan obyek wisata seperti Situbondo
(TN. Baluran), Bondowoso (Kawah Ijen), Jember (TN. Meru Betiri), Buleleng dan Jembrana
(TN. Bali Barat).
Dari 34 obyek wisata yang sedang dipromosikan oleh Kabupaten Banyuwangi,
beberapa diantaranya merupakan obyek wisata alam yang terdapat di dalam Taman Nasional
Alas Purwo. Bahkan salah satu obyek wisata andalan yaitu Pantai Plengkung (G-land) terletak
di dalam kawasan TNAP. Ombak di pantai Plengkung diakui sebagai salah satu yang terbaik
di dunia sebagai wahana selancar (surfing). Beberapa obyek wisata yang ada di TNAP antara
lain disajikan pada Tabel 1 dan letaknya dapat dilihat pada Gambar 1.

Tabel 1. Obyek wisata di Taman Nasional Alas Purwo


Nama Lokasi Jenis Wisata Daya Tarik Jarak

Sadengan Mengamati satwaliar Banteng, Kijang, Rusa, 12 km dari Gerbang


Kancil, babi hutan, Merak Pasar Anyar
dan burung lain.
Trianggulasi Berkemah, wisata pantai, Hutan pantai, pasir putih, 13 km dari Gerbang
mengamati satwaliar monyet, lutung dan buurung Pasar Anyar
Ngagelan Wisata pantai, Penyu bertelur, 7 km dari Gerbang
mengamati penyu penangkaran penyu dan Pasar Anyar
bertelur melepas tukik ke laut
Plengkung Berselancar (Surfing), Ombak yang terbaik untuk 10 km dari
wisata pantai, lintas berselancar Trianggulasi
wana (Jungle tracking)
Segoro Anak Bersampan, berenang, Panorama alam yang masih 25 menit dari
memancing, ski air, asli, burung migran Grajagan dengan
mengamati burung perahu
migran
Rowobendo Wisata budaya, Upacara Situs pura kuno dan Pura 1 km dari Gerbang
Pagerwesi umat hindu Agung Giri Salaka Pasar Anyar
Pancur Wisata budaya/spiritual, Sumur yang dikeramatkan 3 km dari Trianggulasi
wisata pantai, berkemah oleh praktisi paranormal,
pantai pasir putih dan
karang
Goa Istana, Goa Pedepokan dan Wisata budaya/spiritual Gua yang dikeramatkan 2 km dari Pancur
Goa Putri (terdapat 40 formasi goa di (Meditasi atau semedi), oleh praktisi paranormal,
TNAP) lintas wana (Jungle hutan sepanjang jalan
tracking) menuju goa
Pasir putih Wisata pantai, snorkling, Pasir putih, laut tenang, Dari Gerbang Muncar
diving, berenang, monyet, babi hutan, kijang atau Gerbang Pasar
berperahu, mengamati dan berbagai jenis burung Anyar
satwa
Sumber : Balai Taman Nasional Alas Purwo (1999); Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten
Banyuwangi (2004) dan Departemen Kehutanan (2003).

274
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Gambar 1. Peta obyek wisata alam di Taman Nasional Alas Purwo

B. Dinamika Kunjungan

1. Dinamika Lima Tahun Terakhir

Dinamika kunjungan wisatawan ke TNAP dalam enam tahun terakhir dapat dilihat
pada Gambar 2. Dari Gambar 2 tampak bahwa jumlah kunjungan meningkat pada tahun
2000 dan mencapai puncaknya pada tahun 2001, namun kemudian menurun terus hingga
tahun 2004. Fluktuasi jumlah kunjungan tampaknya lebih banyak disebabkan oleh jumlah
wisatawan nusantara (wisnu) yang mengalami pasang surut. Pasang surut pengunjung
ke TNAP antara lain diduga dipengaruhi oleh keadaan perekonomian masyarakat, dimana
pada tahun 2001 sampai 2004 keadaan perekonomian yang memburuk akibat krisis moneter
belum pulih kembali. Semua perhatian dan pendapatan yang diperoleh masih difokuskan
pada kebutuhan pokok. Sementara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman)
relatif stabil selama periode tersebut.
Adanya obyek wisata alternatif yang lebih dekat dengan akses lebih mudah dan biaya
perjalanan yang lebih murah seperti Taman Suruh, Makam Datuk dan Kampung Osing
di Banyuwangi dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Malang. Taman nasional
paling banyak dikunjungi di Jawa Timur adalah TN. Bromo Tengger Semeru, yang kedua TN.
Alas Purwo dan paling sedikit dikunjungi adalah TN. Meru Betiri (Anonim, 2004).

275
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Dinamika Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Taman Nasional
Alas Purwo Periode 1999 - 2004
35000
30000
Jumlah Kunjungan

25000
20000
27644
15000 23608
17963 17523
10000 13466 14361

5000
2898 3680 3332 2680 2641 3121
0
1999 2000 2001 2002 2003 2004

WISMAN WISNU

Gambar 2. Dinamika jumlah kunjungan wisatwan ke Taman Nasional Alas Purwo


periode 1999 2004

Jumlah wisatawan mancanegara ke TNAP mencapai puncaknya pada tahun 2000,


selanjutnya menurun pada tahun 2001, hal ini diduga disebabkan oleh insiden bom di World
Trade Center, New York. Setelah tragedi bom Bali 12 Oktober 2002, jumlah wisatawan
mancanegara ke TNAP terus menurun hingga tahun 2003. Situasi politik dan keamanan di
Indonesia turut mempengaruhi minat wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia.

2. Dinamika Tahunan

Jumlah kunjungan ke TNAP dalam setahun mengalami fluktuasi sebagaimana


ditunjukkan pada Gambar 3. Pada Gambar 3 tampak bahwa secara umum jumlah kunjungan
meningkat pada bulan Mei sampai Juli dan mencapai puncaknya pada bulan Juni. Secara
spesifik berdasarkan tujuan kunjungan, maka masing-masing menunjukkan karakteristik yang
berbeda. Sebagai contoh, wisatawan dengan tujuan berselancar (surfing), yang kebanyakan
merupakan wisatawan mancanegara tampak berdatangan sejak bulan Mei dan berakhir pada
bulan Oktober. Pada bulan Maret hingga bulan Oktober merupakan bulan-bulan terbaik
untuk surfing sehingga agen-agen perjalanan menawarkan paket yang menarik pada bulan-
bulan tersebut (Anonim, 2005). Disamping itu, bulan-bulan tersebut merupakan liburan
musim panas (summer) di negara mereka.
Sementara kunjungan wisatwan nusantara dengan tujuan karyawisata (umumnya para
pelajar) tampak meningkat pada bulan Januari, Juni, Juli dan Desember. Hal ini diduga
karena pada bulan-bulan tersebut merupakan musim liburan akhir tahun ajaran dan masa
akhir semester dimana biasanya para pelajar mendapat tugas karya wisata. Pengunjung
dengan tujuan berekreasi mencapai puncaknya pada bulan Juli, dimana merupakan masa
liburan sekolah. Sedangkan pengunjung dengan tujuan wisata budaya atau melakukan
kegiatan spiritual relatif menyebar sepanjang tahun dengan jumlah yang cukup banyak, tetapi
pada bulan Juni terjadi lonjakan yang sangat mencolok.

276
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Fluktuasi Jumlah Kunjungan ke Taman Nasional Alas
Purwo Menurut Tujuannya Selama Tahun 2004

2500
Jumlah Pengunjung

2000

1500

1000

500

0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nov Des
Bulan

Karya Wisata Wisata Budaya Rekreasi Surfing

Gambar 3. Fluktuasi jumlah kunjungan ke Taman Nasional Alas Purwo menurut tujuannya
selama tahun 2004

Sebaran pengunjung spiritual tidak spesifik sepanjang tahun, kecuali untuk umat
Hindu yang berdatangan untuk melakukan upacara Pagerwesi ke Pura Agung di TNAP setiap
210 hari, dimana pada tahun 2004 yang lalu jatuh pada bulan Juni. Pagerwesi merupakan
upacara untuk menyucikan benda-benda keramat yang terbuat dari besi, seperti keris, tombak
dan lain-lain. Dalam upacara tersebut, terdapat tiga prosesi, yaitu palemahan, pawongan dan
kayangan. Palemahan adalah membuang sesaji ke tanah agar dimakan Batara Kala.
Pawongan merupakan upacara untuk menerima ilmu dan Kayangan merupakan upacara
tanda syukur kepada Sang Dewa (Susanto, 2004). Sementara para praktisi kebatinan
(Paranormal) banyak yang memilih berdatangan ke TNAP untuk melakukan semedi atau
meditasi pada bulan Sura.
Berbeda dengan kunjungan ke TNAP, kunjungan ke obyek-obyek wisata di Kabupaten
banyuwangi secara keseluruhan memiliki karakteristik yang berbeda. Pada Gambar 4
menunjukkan bahwa jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke obyek-obyek wisata
di Kabupaten Banyuwangi mencapai puncaknya pada Bulan November dan Desember
pada tahun 2004. Hal ini terutama disumbang oleh banyaknya jumlah pengunjung di taman
wisata yang ramai dikunjungi pada masa liburan puasa dan lebaran yaitu antara Taman
Suruh dan Makam Datuk. Masyarakat setempat memiliki budaya untuk menyucikan diri
dengan mandi di pemandian alam Taman Suruh pada awal bulan puasa (pada tahun 2004
jatuh pada bulan November). Budaya setempat lainnya adalah berziarah ke makam alim
ulama seperti Makam Datuk pada awal bulan puasa dan Idul Fitri.

277
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Fluktuasi Jumlah Pengunjung Wisatawan Nusantara ke Obyek-obyek Wisata
di Kabupaten Banyuwangi Selama Tahun 2004

60000

50000
Jumlah Pengunjung

40000

30000

20000

10000

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Bulan

Gambar 4. Fluktuasi jumlah pengunjung wisatawan nusantara ke obyek-obyek wisata di


Kabupaten Banyuwangi selama tahun 2004

Berbeda dengan wisatwan nusantara, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke


obyek-obyek wisata di Kabupaten Banyuwangi mulai meningkat pada bulan Mei dan
mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September (Gambar 5). Peningkatan ini
terutama disumbang oleh wisatawan yang bertujuan untuk berselancar di pantai Plengkung
di dalam TNAP dimana masa liburan di negara mereka dan waktu terbaik untuk berselancar
pada bulan-bulan tersebut (Anonim, 2005).

C. Preferensi Terhadap Obyek Wisata di Alas Purwo

Secara umum, wisata alam merupakan andalan kepariwisataan di Kabupaten


Banyuwangi dan menarik sebagian besar wisatawan yang datang ke kabupaten ini. Dari 12
obyek wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Pantai Plengkung di TNAP merupakan
obyek yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara (43,67%) pada tahun 2004
(Gambar 6). Sementara wisatawan nusantara sebagian besar (42,22%) mengunjungi
pemandian alam Taman Suruh (Gambar 7).
Di Taman Nasional Alas Purwo sendiri, pengunjung dapat dikelompokkan berdasarkan
tujuan utamanya (Gambar 8) Berdasarkan Gambar 8, pengunjung TNAP terbanyak (33,03
%) bertujuan untuk wisata budaya, yang terdiri dari pengunjung yang bermaksud
melaksanakan ritual keagamaan di Pura Agung Giri Salaka dan paranormal yang melakukan
perjalanan spiritual (bertapa, semedi atau meditasi). Kegiatan paranormal ini dikenal dengan
sebutan Lelono yang arti harafiahnya berkelana. Mereka berkelana ke TNAP untuk
mendapatkan “ilmu”, “wangsit” atau “ketenangan jiwa” yang ditandai dengan kepasrahan
total kepada yang kuasa. Kunjungan para spiritual ini merupakan kekhasan TNAP yang tidak
dimiliki oleh taman nasional lain di Indonesia.

278
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Fluktuasi Jumlah Pengunjung Wisatawan Mancanegara ke Obyek-obyek
Wisata di Kabupaten Banyuwangi Selama Tahun 2004

900
JUMLAH WISATAWAN

800
700
600
500
400
300
200
100
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

BULAN

Gambar 5. Fluktuasi jumlah pengunjung wisatawan mancanegara ke obyek-obyek wisata


di Kabupaten Banyuwangi selama tahun 2004

Komposisi Jumlah Kunjungan Wisatawan


Mancanegara ke Obyek-obyek Wisata di Kabupaten
Banyuwangi Tahun 2004

Kalongan Indah Desa Wisata Osing


Jambe Rowo
0,07% 3,15%
1,17%
Baluran
4,30%

Kendeng Lembu Plengkung


13,28% 43,67%

Taman Suruh
17,25%
Kawah Ijen
5,39%
Watudodol
Sukamade
2,09% Kaliklatak Grajagan 7,02%
2,49% 0,13%

Gambar 6. Komposisi jumlah kunjungan wisatwan mancanegara ke obyek-obyek wisata di


Kabupaten Banyuwangi tahun 2004

279
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Kegiatan wisata lainnya di TNAP adalah berselancar (18,77 %), karya wisata (23,26 %)
dan rekreasi (24,70 %). Berselancar hampir 100% dilakukan oleh wisatawan mancanegara.
Karya wisata merupakan kegiatan wisata yang dilakukan oleh para pelajar. Sedangkan rekreasi
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pengunjung umum baik individual maupun
rombongan. Pengunjung yang bertujuan melakukan kegiatan penelitian hanya 0,23 % dari
jumlah pengunjung. Topik penelitian umumnya mengenai konservasi flora, fauna, wisata
alam dan ekosistem hutan. Peneliti umumnya merupakan mahasiswa yang sedang
menyelesaikan tugas akhir Skripsi (S-1) maupun Tesis (S-2), antara lain dari Universitas
Jember, Universitas Udayana, Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor dan
perguruan tinggi lokal sekitar Banyuwangi.

Komposisi Jumlah Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Obyek-obyek Wisata di


Kabupaten Banyuwangi Tahun 2004

Kendeng Lembu Makam Datuk Baluran


0,004% 11,24% 2,23% Kalongan Indah
0,146%
Pemandian Taman Suruh
Jambe Rowo
42,22%
0,004%

Desa Wisata Osing


19,09%

Watudodol Malangsari
1,88% 0,005%

Kaliklatak Grajagan Alas Purwo


Sukamade
0,002% 18,01% 4,67%
0,51%

Gambar 7. Komposisi jumlah kunjungan wisatwan mancanegara ke obyek-obyek wisata


di Kabupaten Banyuwangi tahun 2004

Di Taman Nasional Alas Purwo sendiri, pengunjung dapat dikelompokkan berdasarkan


tujuan utamanya (Gambar 8). Dari Gambar 8 tampak bahwa pengunjung TNAP terbanyak
(33,03%) melakukan wisata budaya yang terdiri dari ritual keagamaan di Pura Agung Giri
Salaka dan paranormal yang melakukan perjalanan spiritual yang arti harafiahnya berkelana.
Mereka berkelana ke TNAP untuk mendapatkan “ilmu batin”, wangsit atau “ketenangan
jiwa” yang ditandai dengan kepasrahan total kepada yang Maha Kuasa. Kunjungan spiritual
merupakan keunikan TNAP yang tidak dimiliki oleh taman nasional lain di Indonesia.

280
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Komposisi Pengunjung Taman Nasional Alas Purwo
Berdasarkan Tujuannya pada Tahun 2004

Berselancar
Karya Wisata
Penelitian 18,77%
23,26%
0,23%

Rekreasi Budaya
24,70% 33,03%

Gambar 8. Komposisi pengunjung Taman Nasional Alas Purwo berdasarkan tujuannya


pada tahun 2004

D. Asal Wisatawan

Wisatawan nusantara yang mengunjungi TNAP mayoritas berasal dari Provinsi Jawa
Timur dan Bali (Gambar 9). Hal ini diduga karena faktor kedekatan lokasi yang selanjutnya
mempengaruhi daya beli yang dipengaruhi oleh biaya yang harus dikeluarkan. Pada
umumnya, wisatawan membelanjakan sebagian besar uangnya untuk transportasi, diikuti oleh
penginapan, makan dan minum, cindera mata dan yang terendah adalah sightseeing (Nuryati,
1999). Oleh karena itu, ada korelasi positif antara jarak (kedekatan lokasi) dengan biaya
transportasi yang berbanding terbalik dengan jumlah pengunjung, atau dengan perkataan
lain, semakin jauh lokasi menyebabkan semakin tinggi biaya transportasi dan berimplikasi
pada semakin sedikitnya pengunjung. Faktor kedua adalah tujuan pengunjung dimana
pengunjung asal Jawa Timur dan Bali umumnya adalah umat hindu yang melakukan
persembahyangan di Pura Agung Giri Salaka di dalam TNAP.

281
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Komposisi Wisatawan Nusantara ke Taman
Nasional Alas Purwo Berdasarkan Asalnya
Tahun 2004

Bali Jabar Jateng


22% 2% 4%

Jatim
72%

Gambar 9. Komposisi Wisatawan Nusantara ke Taman Nasional Alas Purwo berdasarkan


asalnya pada tahun 2004

Asal wisatawan mancanegara yang mengunjungi TNAP dikelompokkan menjadi


lima benua yaitu Australia, Amerika, Asia, Eropa dan Afrika. Wisatawan asal Australia
meupakan pengunjung TNAP yang terbanyak (46%), berturut-turut diikuti oleh Amerika
(36%), Eropa (12%), Asia (4%) dan yang paling sedikit adalah wisatawan asal Afrika (2%)
(Gambar 10).

Komposisi Wisatawan Mancanegara ke Taman Nasional Alas


Purwo Berdasarkan Asalnya Tahun 2004

Asia Afrika
Eropa
4% 2%
12%

Amerika Australia
36% 46%

Gambar 10. Komposisi Wisatawan Mancanegara ke Taman Nasional Alas Purwo


berdasarkan asal kelompok negara pada tahun 2004

282
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
E. Dampak Kegiatan Wisata

Kegiatan wisata alam di dalam TNAP sampai saat ini belum menampakkan indikasi
dampak negatif yang penting. Sementara dampak positif penting sudah mulai tampak,
meskipun belum semaksimal yang diharapkan. Dampak positif yang sudah tampak antara
lain 1) Tersedianya lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal sebagai karyawan agen wisata
mulai dari house-keeper, bartender, koki sampai manajer. 2) Terbukanya kesempatan berusaha
bagi masyarakat mulai dari sebagai pedagang makanan dan cendera mata, tukang ojek,
pengusaha angkutan dan pekerja harian pemeliharaan sarana dan prasarana wisata yang
dikelola oleh koperasi. 3) Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap taman nasional secara
umum dan pelestarian alam khususnya. 4) Dampak ekonomi finansial yaitu peningkatan
Pendapatan Asli Daerah bagi Propinsi Jatim pada umumnya, dan Kabupaten Banyuwangi
pada khususnya yang diperoleh dari retribusi, iuran dan pajak yang berasal dari usaha
pariwisata.

Keuntungan dari berkembangnya ekowisata di suatu daerah bagi pertumbuhan


ekonomi yang jauh lebih besar dan penting tetapi jarang diperhitungkan adalah efek
multiplier. Sebagai contoh di Oriente, Ekuador, koefisien multiplier efeknya 1,17 atau setiap
wisatawan membelanjakan US$ 1,0 dihasilkan US$ 1,17 income di Ekuador (Drumm, 1991).
Aspek ekonomi pariwisata tidak hanya berhubungan dengan kegiatan ekonomi yang langsung
berkaitan dengan kegiatan pariwisata seperti perhotelan, restoran dan paket wisata, tetapi
juga kegiatan ekonomi lainnya yang berhubungan erat dengan pariwisata seperti transportasi,
telekomunikasi dan bisnis eceran. Pariwisata di Indonesia telah dianggap sebagai salah satu
sektor ekonomi yang penting, bahkan diharapkan dapat menjadi penghasil devisa nomor satu
(Suwantoro, 1997).
Pengembangan ekowisata juga dapat menjadi solusi untuk menurunkan angka
pengangguran, karena ekowisata dapat menciptakan lapangan kerja dan memiliki efek
berantai hingga dapat menciptakan lapangan kerja di sektor lain yang terkait. Berkembangnya
ekowisata di TNAP bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, khususnya dan Provinsi Jawa
Timur pada umumnya dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan dapat
memacu pembangunan wilayah serta meningkatkan aktivitas perekonomian setempat. Bila
ekowisata dikembangkan secara terkendali dan dikelola secara profesional maka dapat
menjadi cara yang ampuh untuk melestarikan sumberdaya hutan dimana ekowisata tersebut
dikembangkan.
Sementara itu, dampak negatif yang saat ini belum muncul atau belum signifikan
tetapi di masa mendatang dapat merugikan dan menjadi kendala dalam pengembangan
ekowisata di TNAP, antara lain adalah 1) Vandalisme, sampah dan limbah hotel. 2)
Tumbuhnya kegiatan pendukung pariwisata yang tidak terkendali dan tidak ramah lingkungan
seperti : prostitusi, over crowded, munculnya pedagang-pedagang liar dan penjual jasa
(guide, pijat) ilegal. 3) Terganggunya satwaliar oleh padatnya pengunjung dan lalu lintas
kendaraan bermesin. 4) Peningkatan kualitas sarana jalan dapat berakibat pada meningkatnya
jumlah pengunjung dan kendaraan bermotor yang berdampak buruk pada satwa, lingkungan
dan menurunnya kepuasan pengunjung. 5) Tiket murah (wisatawan mancanegara
Rp. 20.000,- dan wisatawan nusantara Rp. 2.500,-) berdampak pada rendahnya kepedulian
dan apresiasi terhadap sumberdaya obyek wisata; kepadatan pengunjung yang berlebihan
(over crowded), dan menurunnya kualitas dan daya dukung (carrying capacity) lingkungan
TNAP. 6) Secara sosial budaya, ekowisata dapat memberikan dampak negatif, karena adanya

283
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
interaksi langsung antara wisatawan dengan masyarakat setempat. Kecenderungan terjadinya
perubahan sosial budaya tersebut sebagai akibat dari tiga asumsi umum, yaitu (1) perubahan
akibat intrusi budaya dari luar, (2) bersifat destruktif terhadap budaya asli (indigenous), (3)
homogenisasi budaya (Martin, 1998 dalam Pitana, 2005). 7) Banyaknya pengunjung yang
tidak membayar dapat menurunkan apresiasi mereka terhadap taman nasional yang
berdampak pada berkurangnya kepedulian terhadap kelestarian alam.

F. Implikasi Pengelolaan

Dari uraian di atas dapat ditarik benang merah bahwa pengunjung wisata alam di TNAP
semakin meningkat dan terdapat indikasi bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan
alam semakin tinggi. Antusiasme dan kepedulian masyarakat terhadap alam ini harus
disambut dengan langkah-langkah positif dan konstruktif oleh para pihak yang bergerak di
bidang usaha kepariwisataan dan pengelola kawasan-kawasan konservasi yang merupakan
basis utama pengembangan wisata alam. Langkah-langkah positif tersebut antara lain dengan
cara mengakomodasi demand wisatawan dengan menyediakan supply obyek wisata yang
mampu memuaskan wisatawan. Langkah konstruktif yang dimaksud di sini adalah
membangun apresiasi masyarakat terhadap kelestarian alam dan memberikan pendidikan
lingkungan melalui kegiatan interpretasi.
Permintaan jasa wisata alam di Banyuwangi pada umumnya dan di TNAP khususnya
cukup tinggi. Sayangnya permintaan yang tinggi ini tidak dikelola secara profesional,
misalnya dengan melakukan kajian pasar (supply-demand) untuk menetapkan besarnya tarif
masuk sehingga dapat diperoleh pendapatan yang optimal. Tarif masuk ditetapkan secara
nasional oleh Menteri Kehutanan yang besarnya sama rata untuk seluruh taman nasional
(wisatawan mancanegara Rp. 20.000,- dan wisatawan nusantara Rp. 2.500,-), tanpa
memperhatikan potensi (supply) yang dapat dinikmati pengunjung dan tingginya animo
pengunjung (demand). Akibatnya, taman nasional seperti Alas Purwo yang memiliki sembilan
obyek wisata dengan aksesibilitas tinggi (Tabel 1) dihargai sama - misalnya - dengan Taman
Nasional Rawa Aopa yang hanya memiliki tiga obyek wisata utama (Pulau Harapan II, Pantai
Lonowulu dan Gunung Watumohai) dengan aksesibilitas yang relatif lebih rendah
(Departemen Kehutanan, 2007).
Pentarifan yang tidak didasarkan pada kajian pasar sangat tidak menguntungkan dan
tidak memberikan insentif bagi pengembangan ekowisata berkelanjutan yang berbasiskan
sumberdaya hutan. Hal ini juga berarti tidak memberikan insentif bagi pengelolaan
sumberdaya hutan secara lestari, melalui pemanfaatan jasa wisata. Tiket masuk taman nasional
yang murah juga tidak memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat konsumen
ekowisata. Hal ini karena menimbulkan persepsi bahwa keberadaan dan kelestarian hutan
yang mereka nikmati dapat diperoleh dengan harga murah. Harga yang murah juga
menurunkan rasa kepedulian, penghargaan dan kebanggaan terhadap kekayaan alam yang
sangat penting tersebut. Bagi stakeholder lain, seperti Pemerintah Daerah, tiket masuk taman
nasional yang rendah memberikan kesan bahwa pelestarian alam tidak memberikan
keuntungan ekonomi langsung oleh karena itu pelestarian alam bisa menjadi bukan prioritas
dalam pembangunan daerah.
Dilihat dari potensi wisata yang ada dan jumlah pengunjung mancanegara yang cukup
banyak ke TNAP, khususnya untuk tujuan surfing di Pantai Plengkung, memungkinkan
untuk menaikkan tiket masuk ke TNAP atau mengenakan tiket terusan untuk Pantai
Plengkung. Menurut para peselancar, Pantai Plengkung merupakan arena surfing terbaik

284
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
ke tiga di dunia (Setelah Hawai dan Afrika), sehingga sangatlah tidak sepadan jika tiket masuk
ke TNAP dimana Pantai Plengkung merupakan salah satu obyek wisatanya, hanya
Rp.20.000,- per orang per sekali masuk (walaupun mereka tinggal di dalam TNAP lebih dari
sehari). Beberapa wisatawan yang ditemui masih mau membayar Rp. 100.000,- untuk dapat
berselancar di Pantai Plengkung.
Pemasangan tarif masuk TNAP yang sesuai, merupakan langkah strategis dalam
kerangka mendorong kemandirian pengelolaan taman nasional sesuai dengan era otonomi
yang sudah digulirkan sejak tahun 2000. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah (c.q.
Departemen Kehutanan) yang menetapkan Taman Nasional Alas Purwo bersama 20 taman
nasional lainnya sebagai taman nasional model yang bertujuan untuk percepatan
pengelolaan taman nasional yang efisien, efektif dan optimal menuju terwujudnya taman
nasional mandiri (Departemen Kehutanan, 2006).
Di sisi lain, sebagian besar pengunjung dengan tujuan ritual keagamaan maupun
lelono tidak dipungut biaya atau dipungut biaya tetapi tidak bersedia membayar dengan alasan
mereka tidak berwisata. Padahal, mereka merupakan pengunjung terbanyak dan merupakan
penerima manfaat terbanyak dari keberadaan taman nasional. Oleh karena itu, ke depan
perlu dipikirkan cara dan besarnya kontribusi yang harus mereka berikan kepada taman
nasional. Dengan mengenakan tarif tertentu maka akan menumbuhkan apresiasi mereka
terhadap keberadaan taman nasional, dimana mereka dapat menerima manfaat yang mereka
butuhkan.
Dalam pengembangan wisata alam pada khususnya dan pengelolaan TNAP pada
umumnya, koordinasi lintas sektoral belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sektor-
sektor yang terkait dengan pengembangan wisata dan pengelolaan TNAP antara lain adalah
Dinas Pendapatan Daerah (berkaitan dengan tiket masuk), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
(berkaitan dengan promosi, pembinaan usaha jasa wisata dan ikutannya serta pembinaan
budaya setempat sebagai aset wisata), Dinas Pekerjaan Umum atau Pemukiman dan Prasarana
Wilayah (berkaitan dengan pembangunan sarana-prasarana seperti jalan akses), Badan
Perencana Pembangunan Daerah (berkaitan dengan penetapan perwilayahan prioritas
pembangunan dan penataan ruang), Dinas Kehutanan (berkaitan dengan pengelolaan hutan-
hutan di sekitar TNAP), Perum Perhutani (berkaitan dengan pengelolaan hutan produksi
yang berbatasan dengan TNAP dan penggunaan jalan Perum Perhutani sebagai akses ke
TNAP), Dinas Kepurbakalaan (berkaitan dengan pemeliharaan situs peninggalan
sejarah/purbakala di dalam TNAP), Departemen Agama (berkaitan dengan pembinaan umat
dan pemeliharaan sarana ibadah di dalam TNAP), Dinas Perhubungan (berkaitan dengan
penyediaan fasilitas angkutan ke dan dari TNAP), Kepolisian (berkaitan dengan pengamanan
kawasan serta keamanan dan ketertiban pengunjung), Dinas perindustrian (berkaitan dengan
pengembangan dan pembinaan industri kecil pendukung pariwisata seperti makanan dan
cindera mata serta pemanfaatan air dari TNAP sebagai bahan baku air mineral) serta
peusahaan swasta di bidang jasa transportasi, agen perjalanan, perhotelan, rumah makan dan
usaha cindera mata.
Beberapa kelemahan yang ditemui saat penelitian dan perlu segera dibenahi antara lain
adalah 1) Pengusaha wisata belum secara optimal memberikan sumbangan yang signifikan
bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. 2) Pengusaha wisata belum memberikan
kontribusi secara optimal bagi pengelolaan taman nasional secara umum. 3) Penetapan
tarif masuk perlu ditinjau kembali disesuaikan dengan “nilai jual” obyek wisata yang ada.
Pengenaan tarif secara flat untuk seluruh taman nasional kurang efektif untuk meng

285
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
“apresiasi“ potensi alam. 4) Perlu mekanisme penetapan sistem bagi hasil yang lebih baik
dari kegiatan usaha wisata alam di dalam taman nasional antara pengusaha dengan pengelola
(pemilik kawasan) untuk kepentingan pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat lokal.
Ke depan perlu dibentuk suatu lembaga atau forum sebagai mediator koordinasi lintas
sektor dalam pengelolaan taman nasional secara umum dan wisata alam khususnya. Lembaga
atau forum ini terdiri dari instansi sektoral terkait, pengusaha terkait, lembaga swadaya
masyarakat dan wakil masyarakat lokal. Implementasi pembangunan di dalam taman
nasional seperti pembangunan sarana dan prasarana harus dikoordinasikan dalam forum ini.
Forum ini juga harus mengadvokasi pengelolaan taman nasional dan wisata alam partisipatif
yang berbasis masyarakat lokal.
Untuk menutupi berbagai kelemahan dan mengantisipasi dampak buruk ekowisata,
maka pemerintah perlu menetapkan berbagai kebijakan. Ruang-ruang kebijakan yang
perlu disentuh dalam pengembangan ekowisata antara lain adalah (Suwantoro, 1997)
1) Mekanisme perolehan pendapatan dari ekowisata dan pengembaliannya bagi pengelolaan
dan pelestarian alam. 2) Kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi masyarakat
3) Pengusahaan ekowisata 4) Penerimaan negara 5) Peran serta masyarakat 6) Pengendalian
ekowisata agar tetap berwawasan lingkungan dan berkelanjutan

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memliki sembilan obyek wisata alam andalan yaitu :
Triangulasi, Sadengan, Ngagelan, Rowobendo, Pancur, Goa istana, Pasir putih, Segoro
anak dan Pantai Plengkung.
2. Jumlah kunjungan wisatawan ke TNAP dalam enam tahun terakhir mengalami pasang
surut, yaitu meningkat sejak ahun 2000 dan mencapai puncak pada tahun 2001 tetapi
kemudian menurun hingga tahun 2004.
3. Dalam setahun (2004), kunjungan wisatawan meningkat antara bulan Mei hingga Juli dan
puncaknya pada bulan Juni. Wisatawan mancanegara meningkat pada bulan Mei hingga
Oktober, sementara wisatawan nusantara tekonsentrasi pada bulan November dan
Desember.
4. Pantai Plengkung merupakan salah satu obyek wisata di Banyuwangi yang paling banyak
dikunjungi wisatawan mancanegara dengan tujuan surfing, sementara wisatawan
nusantara lebih banyak mengunjungi pemandian alam Taman Suruh dan Makam Datuk.
5. Wisatawan nusantara terbanyak berturut-turut berasal dari Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah
dan yang terendah dari Jawa Barat. Wisatawan mancangara terbanyak berturut-turut
berasal dari Australia, Amerika, eropa, Asia dan Afrika.
6. Dampak positif dari kegiatan ekowisata di TNAP adalah (1) tersedianya lapangan kerja
bagi tenaga kerja lokal, (2) tersedianya kesempatan berusaha, (3) meningkatnya apresiasi
masyarakat terhadap taman nasional, dan (4) meningkatnya Pendapatan Asli Daerah dari
sektor pariwisata.
7. Dampak negatif dari kegiatan ekowisata yang potensial di TNAP adalah (1) vandalisme,
(2) pembangunan sarana yang tidak ramah lingkungan, (3) terganggunya satwaliar, dan (4)
menurunnya kualitas lingkungan.

286
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
B. Saran

1. Perlu dilakukan penyesuaian tarif masuk taman nasional secara progresif berdasarkan
kajian pasar (supply-demand).
2. Perlu dilakukan peninjauan kembali sistem dan ketentuan konsesi wisata di dalam taman
nasional sehingga lebih banyak memberikan kontribusi bagi upaya pengelolaan kawasan
pelestarian alam tersebut.
3. Ketentuan yang harus ditambahkan dalam konsesi antara lain : kuota tenaga kerja lokal
yang harus dipekerjakan, audit. keuangan perusahan wisata pemegang konsesi oleh
akuntan publik, proporsi bagi hasil antara Departemen Kehutanan, Pemerintah Daerah,
masyarakat dan pengusaha, dan kewajiban pemegang konsesi untuk meningkatkan
ketrampilan tenaga kerja lokal.
4. Perlu adanya penghitungan ulang sistem bagi manfaat (benefit sharing) sesuai dengan bagi
tanggungjawab (responsibility sharing) sehingga berkeadilan.
5. Untuk mengefektifkan koordinasi dalam pengembangan ekowisata di taman nasional
perlu dibentuk forum sebagai mediator atau sarana kordinasi semua pihak yang terkait
dengan pengelolaan taman nasional secara umum dan pengembangan ekowisata pada
khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Jumlah Pengunjung Obyek Wisata di Jawa Timur Tahun 1999-2003.
Statistik Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Tahun 1999-2003. Surabaya.
______. 2005. G-Land Jungle Surf Camp : The Ultimate Surfing Adventure.
Http://www.g-land.com. Diakses 15 Maret 2006.
Balai Taman Nasional Alas Purwo. 1999. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Alas Purwo
1999-2004. Balai Taman Nasional Alas Purwo. Banyuwangi. Tidak Diterbitkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyuwangi. 2004. Kabupaten Banyuwangi Dalam
Angka Tahun 2004. BPS Kabupaten Banyuwangi.
Departemen Kehutanan. 2003. Buku Panduan 41 Taman Nasional di Indonesia.
Depatemen Kehutanan bekerjasama dengan UNESCO dan CIFOR. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 2006. Mengenal 21 Taman Nasional Model di Indonesia. Ditjen
PHKA, Departemen Kehutanan. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 2007. 50 Taman Nasional di Indonesia. Ditjen PHKA kerjasama
dengan LHI dan JICA. Jakarta.
Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Banyuwangi. 2004. Brighten your Day Visit
Banyuwangi the Real Tropical Country. Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten
Banyuwangi.
Drumm, A. 1991. An Integrated Impact Assessment of Nature Tourism in Ecuador's
Amazon Region. School of Environmental Sciences, University of Greenwich.
London.

287
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Nuryanti, W. dan H. Al Bajari. 1999. Pemanfaatan Agrocultura untuk Pariwisata. Seminar
Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dalam Rangka Otonomi Daerah. Dies
Natalis UGM ke-50. Yogyakarta.
Pitana, I. Gede dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Suwantoro, G. 1997. Dasar-Dasar Pariwisata. Penerbit Andi. Yogyakarta.

288
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288

Anda mungkin juga menyukai