Dinamika Pengunjung TN Alas Purwo
Dinamika Pengunjung TN Alas Purwo
Oleh/by :
Hendra Gunawan, Subarudi dan ElvidaY. Suryandari
ABSTRACT
Alas Purwo National Park (TNAP) is a basis and main priority for ecotourism development in Banyuwangi and
its visitors tend to increase from year to year. However, up to now there is no information regarding the dynamic of
ecotourism visitors in TNAP. Therefore, a research on dynamic of ecotourism visitors is required. The goal of this
research is to analyse the dynamics of ecotourism visitors and its objectives are: (1) to identify the objects of ecotourism, (2)
to analyse the dynamics of visitors, (3) to investigate the preferences of visitor to ecotourism objects, and (4) to analyse the
impact of ecotourism activities on the TNAP Management. The results show that TNAP has nine ecotourism objects,
i.e. Trianggulasi, Sadengan, Ngagelan, Rowobendo, Pancur, Goa Istana, Pasir putih, Segoro anak and Pantai
Plengkung. Number of visitors visiting TNAP in last six years has been fluctuated. In one year (2004) numbers of
visitors increase in May to July and reach the peak season in June. Foreign visitors begin to increase in May to October with
the purpose for surfing. Most of domestic visitors attended in November and December for visiting natural swimming pool
at Taman Suruh and Makam Datuk. Most of domestic visitors came from East Java, Bali, Central Java and the lowest
number came from West Java. Foreign visitors were dominated by Australian, American, European, Asian and
African. The positive impacts of ecotourism activities are: (1) providing local employment, (2) creating job opportunities,
(3) increasing appreciation from community toward TNAP, and (4) increasing original revenues of the local district. On
the other side, the negative impacts are: (1) vandalism, (2) tourist facilities that unfriendly with the environment, (3)
disturbance to the wildlife, and (4) degradation of environmental quality.
ABSTRAK
Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan basis dan unggulan pengembangan wisata
alam di Banyuwangi. Kunjungan ke taman nasional ini dari tahun ke tahun cenderung meningkat,
namun saat ini belum ada informasi tentang dinamika pengunjung wisata alam ke TNAP. Oleh karena
itu penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui dinamika pengunjung ekowisata di TNAP dengan
tujuan : (1) mengidentifikasi obyek wisata, (2) menganalisis dinamika jumlah kunjungan, (3)
mempelajari preferensi pengunjung terhadap obyek wisata, dan (4) mengidentifikasi dampak kegiatan
wisata alam dan implikasinya bagi pengelolaan TNAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
TNAP memiliki sembilan obyek wisata alam andalan yaitu : Trianggulasi, Sadengan, Ngagelan,
Rowobendo, Pancur, Goa Istana, Pasir putih, Segoro Anak dan Pantai Plengkung. Jumlah kunjungan
wisatwan ke TNAP dalam enam tahun terakhir mengalami fluktuasi. Dalam setahun (2004), kunjungan
wisatawan meningkat pada bulan Mei hingga Juli dan mencapai puncaknya pada bulan Juni. Wisatawan
mancanegara mulai meningkat pada bulan Mei hingga Oktober dengan tujuan surfing. Sementara,
wisatwan nusantara terkonsentrasi pada bulan November dan Desember dan kebanyakan mengunjungi
pemandian alam Taman Suruh dan Makam Datuk. Wisatawan nusantara terbanyak berturut-turut
datang dari Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah dan yang terendah dari Jawa Barat. Sementara wisatawan
mancanegara didominasi oleh bangsa Australia, Amerika, Eropa, Asia dan Afrika. Dampak positif
dari kegiatan wisata alam antara lain adalah (1) tersedianya lapangan kerja, (2) terciptanya kesempatan
271
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
berusaha, (3) meningkatnya penghargaan masyarakat terhadap TNAP, dan (4) meningkatnya
pendapatan asli daerah. Sementara dampak negatif yang timbul dari kegiatan wisata alam antara lain
adalah (1) vandalisme, (2) berkembangnya sarana dan fasilitas wisata yang tidak ramah lingkungan, (3)
terganggunya satwaliar, dan (4) menurunnya kualitas lingkungan.
I. PENDAHULUAN
272
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
II. METODOLOGI
Penelitian ini dilaksanakan di TNAP yang secara geografis terletak diantara 114o20'16'
dan 114o36'36” BT dan diantara 8o26'45” dan 8o47'00' LS. Secara administratif pemerintahan
termasuk kedalam wilayah Kecamatan Tegaldlimo, Purwoharjo dan Muncar, Kabupaten
Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan dari Tanggal 4 sampai 11 Juli 2005.
Data sekunder diperoleh dari kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo, Pengusaha
Wisata Alam, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya, dan Badan Pusat Statistik Kabupaten
Banyuwangi. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan masyarakat, pengunjung,
agen perjalanan, pemegang konsesi wisata di TNAP dan petugas taman nasional. Penentuan
responden dengan cara kebetulan (incidental) atau tidak dipilih yaitu orang yang ditemui pada
kesempatan pertama di setiap lokasi pengamatan.
Responden masyarakat berjumlah 15 orang terdiri dari dari pedagang makanan (5),
pekerja sarana jalan (4), pekerja angkutan (3) dan pekerja di perusahaan konsesi wisata (4).
Responden pemegang konsesi berjumlah tiga perusahaan, responden agen perjalanan lima
orang, dan petugas taman nasional sebanyak 10 orang. Sementara jumlah pengunjung yang
menjadi responden sebanyak 40 orang yang terdiri dari wisatawan mancanegara dengan
tujuan surfing (5), wisatawan nusantara dengan tujuan rekreasi (15), pengunjung untuk tujuan
penelitian/pendidikan (5), pengunjung dengan tujuan wisata budaya/spiritual (15).
C. Analisis Data
Data yang dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif dengan
tabulasi. Analisis juga dilakukan terhadap preferensi wisatawan domestik maupun manca
negara terhadap obyek-obyek wisata alam di Banyuwangi umumnya dan TNAP khususnya.
1. Potensi obyek wisata di dalam TNAP diidentifikasi nama lokasi, jenis kegiatan wisata
yang dapat dilakukan, daya tarik utama dan aksesibilitas dengan indikator jarak dari obyek
wisata terdekat atau kota/desa terdekat yang disinggahi angkutan umum.
2. Dinamika kunjungan selama lima tahun dan fluktuasi kunjungan dalam satu tahun
terakhir disajikan dalam histogram untuk mengetahui kecenderungannya (naik atau
turun). Kemudian berdasarkan referensi dan wawancara dengan petugas taman nasional,
agen perjalanan dan pemegang konsesi dicari tahu penyebabnya.
3. Preferensi Terhadap Obyek Wisata di TNAP dicari dengan membuat persentase jumlah
pengunjung ke semua obyek wisata yang tersedia di taman nasional tersebut. Preferensi
terhadap suatu obyek wisata diindikasikan oleh persentase jumlah pengunjung yang pada
obyek wisata tersebut.
4. Asal wisatwan mancanegara dikelompokkan berdasarkan kebangsaan menurut benua
(Eropa, Asia, Australia, Amerika, dan Afrika). Asal wisatwan nusantara dikelompokkan
menurut provinsi. Masing-masing kelompok asal dipersentasekan dan disajikan dalam
Pie chart.
5. Dampak dari adanya kegiatan ekowisata di TNAP, merupakan hasil diskusi dengan
petugas taman nasional setelah melihat fakta di lapangan.
273
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kabupaten Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki luas wilayah
5.782,50 km2 yang terbentang dari laut sampai pegunungan. Bagian selatan dan timur wilayah
ini dilingkupi oleh pantai yang indah sepanjang 175,8 km dan memiliki 10 buah pulau kecil
(BPS Kabupaten Banyuwangi, 2004). Kabupaten Banyuwangi kaya akan obyek wisata dan
bertetangga dengan kabupaten lain yang juga kaya akan obyek wisata seperti Situbondo
(TN. Baluran), Bondowoso (Kawah Ijen), Jember (TN. Meru Betiri), Buleleng dan Jembrana
(TN. Bali Barat).
Dari 34 obyek wisata yang sedang dipromosikan oleh Kabupaten Banyuwangi,
beberapa diantaranya merupakan obyek wisata alam yang terdapat di dalam Taman Nasional
Alas Purwo. Bahkan salah satu obyek wisata andalan yaitu Pantai Plengkung (G-land) terletak
di dalam kawasan TNAP. Ombak di pantai Plengkung diakui sebagai salah satu yang terbaik
di dunia sebagai wahana selancar (surfing). Beberapa obyek wisata yang ada di TNAP antara
lain disajikan pada Tabel 1 dan letaknya dapat dilihat pada Gambar 1.
274
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Gambar 1. Peta obyek wisata alam di Taman Nasional Alas Purwo
B. Dinamika Kunjungan
Dinamika kunjungan wisatawan ke TNAP dalam enam tahun terakhir dapat dilihat
pada Gambar 2. Dari Gambar 2 tampak bahwa jumlah kunjungan meningkat pada tahun
2000 dan mencapai puncaknya pada tahun 2001, namun kemudian menurun terus hingga
tahun 2004. Fluktuasi jumlah kunjungan tampaknya lebih banyak disebabkan oleh jumlah
wisatawan nusantara (wisnu) yang mengalami pasang surut. Pasang surut pengunjung
ke TNAP antara lain diduga dipengaruhi oleh keadaan perekonomian masyarakat, dimana
pada tahun 2001 sampai 2004 keadaan perekonomian yang memburuk akibat krisis moneter
belum pulih kembali. Semua perhatian dan pendapatan yang diperoleh masih difokuskan
pada kebutuhan pokok. Sementara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman)
relatif stabil selama periode tersebut.
Adanya obyek wisata alternatif yang lebih dekat dengan akses lebih mudah dan biaya
perjalanan yang lebih murah seperti Taman Suruh, Makam Datuk dan Kampung Osing
di Banyuwangi dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Malang. Taman nasional
paling banyak dikunjungi di Jawa Timur adalah TN. Bromo Tengger Semeru, yang kedua TN.
Alas Purwo dan paling sedikit dikunjungi adalah TN. Meru Betiri (Anonim, 2004).
275
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Dinamika Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Taman Nasional
Alas Purwo Periode 1999 - 2004
35000
30000
Jumlah Kunjungan
25000
20000
27644
15000 23608
17963 17523
10000 13466 14361
5000
2898 3680 3332 2680 2641 3121
0
1999 2000 2001 2002 2003 2004
WISMAN WISNU
2. Dinamika Tahunan
276
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Fluktuasi Jumlah Kunjungan ke Taman Nasional Alas
Purwo Menurut Tujuannya Selama Tahun 2004
2500
Jumlah Pengunjung
2000
1500
1000
500
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nov Des
Bulan
Gambar 3. Fluktuasi jumlah kunjungan ke Taman Nasional Alas Purwo menurut tujuannya
selama tahun 2004
Sebaran pengunjung spiritual tidak spesifik sepanjang tahun, kecuali untuk umat
Hindu yang berdatangan untuk melakukan upacara Pagerwesi ke Pura Agung di TNAP setiap
210 hari, dimana pada tahun 2004 yang lalu jatuh pada bulan Juni. Pagerwesi merupakan
upacara untuk menyucikan benda-benda keramat yang terbuat dari besi, seperti keris, tombak
dan lain-lain. Dalam upacara tersebut, terdapat tiga prosesi, yaitu palemahan, pawongan dan
kayangan. Palemahan adalah membuang sesaji ke tanah agar dimakan Batara Kala.
Pawongan merupakan upacara untuk menerima ilmu dan Kayangan merupakan upacara
tanda syukur kepada Sang Dewa (Susanto, 2004). Sementara para praktisi kebatinan
(Paranormal) banyak yang memilih berdatangan ke TNAP untuk melakukan semedi atau
meditasi pada bulan Sura.
Berbeda dengan kunjungan ke TNAP, kunjungan ke obyek-obyek wisata di Kabupaten
banyuwangi secara keseluruhan memiliki karakteristik yang berbeda. Pada Gambar 4
menunjukkan bahwa jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke obyek-obyek wisata
di Kabupaten Banyuwangi mencapai puncaknya pada Bulan November dan Desember
pada tahun 2004. Hal ini terutama disumbang oleh banyaknya jumlah pengunjung di taman
wisata yang ramai dikunjungi pada masa liburan puasa dan lebaran yaitu antara Taman
Suruh dan Makam Datuk. Masyarakat setempat memiliki budaya untuk menyucikan diri
dengan mandi di pemandian alam Taman Suruh pada awal bulan puasa (pada tahun 2004
jatuh pada bulan November). Budaya setempat lainnya adalah berziarah ke makam alim
ulama seperti Makam Datuk pada awal bulan puasa dan Idul Fitri.
277
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Fluktuasi Jumlah Pengunjung Wisatawan Nusantara ke Obyek-obyek Wisata
di Kabupaten Banyuwangi Selama Tahun 2004
60000
50000
Jumlah Pengunjung
40000
30000
20000
10000
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Bulan
278
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Fluktuasi Jumlah Pengunjung Wisatawan Mancanegara ke Obyek-obyek
Wisata di Kabupaten Banyuwangi Selama Tahun 2004
900
JUMLAH WISATAWAN
800
700
600
500
400
300
200
100
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
BULAN
Taman Suruh
17,25%
Kawah Ijen
5,39%
Watudodol
Sukamade
2,09% Kaliklatak Grajagan 7,02%
2,49% 0,13%
279
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Kegiatan wisata lainnya di TNAP adalah berselancar (18,77 %), karya wisata (23,26 %)
dan rekreasi (24,70 %). Berselancar hampir 100% dilakukan oleh wisatawan mancanegara.
Karya wisata merupakan kegiatan wisata yang dilakukan oleh para pelajar. Sedangkan rekreasi
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pengunjung umum baik individual maupun
rombongan. Pengunjung yang bertujuan melakukan kegiatan penelitian hanya 0,23 % dari
jumlah pengunjung. Topik penelitian umumnya mengenai konservasi flora, fauna, wisata
alam dan ekosistem hutan. Peneliti umumnya merupakan mahasiswa yang sedang
menyelesaikan tugas akhir Skripsi (S-1) maupun Tesis (S-2), antara lain dari Universitas
Jember, Universitas Udayana, Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor dan
perguruan tinggi lokal sekitar Banyuwangi.
Watudodol Malangsari
1,88% 0,005%
280
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
Komposisi Pengunjung Taman Nasional Alas Purwo
Berdasarkan Tujuannya pada Tahun 2004
Berselancar
Karya Wisata
Penelitian 18,77%
23,26%
0,23%
Rekreasi Budaya
24,70% 33,03%
D. Asal Wisatawan
Wisatawan nusantara yang mengunjungi TNAP mayoritas berasal dari Provinsi Jawa
Timur dan Bali (Gambar 9). Hal ini diduga karena faktor kedekatan lokasi yang selanjutnya
mempengaruhi daya beli yang dipengaruhi oleh biaya yang harus dikeluarkan. Pada
umumnya, wisatawan membelanjakan sebagian besar uangnya untuk transportasi, diikuti oleh
penginapan, makan dan minum, cindera mata dan yang terendah adalah sightseeing (Nuryati,
1999). Oleh karena itu, ada korelasi positif antara jarak (kedekatan lokasi) dengan biaya
transportasi yang berbanding terbalik dengan jumlah pengunjung, atau dengan perkataan
lain, semakin jauh lokasi menyebabkan semakin tinggi biaya transportasi dan berimplikasi
pada semakin sedikitnya pengunjung. Faktor kedua adalah tujuan pengunjung dimana
pengunjung asal Jawa Timur dan Bali umumnya adalah umat hindu yang melakukan
persembahyangan di Pura Agung Giri Salaka di dalam TNAP.
281
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Komposisi Wisatawan Nusantara ke Taman
Nasional Alas Purwo Berdasarkan Asalnya
Tahun 2004
Jatim
72%
Asia Afrika
Eropa
4% 2%
12%
Amerika Australia
36% 46%
282
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
E. Dampak Kegiatan Wisata
Kegiatan wisata alam di dalam TNAP sampai saat ini belum menampakkan indikasi
dampak negatif yang penting. Sementara dampak positif penting sudah mulai tampak,
meskipun belum semaksimal yang diharapkan. Dampak positif yang sudah tampak antara
lain 1) Tersedianya lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal sebagai karyawan agen wisata
mulai dari house-keeper, bartender, koki sampai manajer. 2) Terbukanya kesempatan berusaha
bagi masyarakat mulai dari sebagai pedagang makanan dan cendera mata, tukang ojek,
pengusaha angkutan dan pekerja harian pemeliharaan sarana dan prasarana wisata yang
dikelola oleh koperasi. 3) Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap taman nasional secara
umum dan pelestarian alam khususnya. 4) Dampak ekonomi finansial yaitu peningkatan
Pendapatan Asli Daerah bagi Propinsi Jatim pada umumnya, dan Kabupaten Banyuwangi
pada khususnya yang diperoleh dari retribusi, iuran dan pajak yang berasal dari usaha
pariwisata.
283
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
interaksi langsung antara wisatawan dengan masyarakat setempat. Kecenderungan terjadinya
perubahan sosial budaya tersebut sebagai akibat dari tiga asumsi umum, yaitu (1) perubahan
akibat intrusi budaya dari luar, (2) bersifat destruktif terhadap budaya asli (indigenous), (3)
homogenisasi budaya (Martin, 1998 dalam Pitana, 2005). 7) Banyaknya pengunjung yang
tidak membayar dapat menurunkan apresiasi mereka terhadap taman nasional yang
berdampak pada berkurangnya kepedulian terhadap kelestarian alam.
F. Implikasi Pengelolaan
Dari uraian di atas dapat ditarik benang merah bahwa pengunjung wisata alam di TNAP
semakin meningkat dan terdapat indikasi bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan
alam semakin tinggi. Antusiasme dan kepedulian masyarakat terhadap alam ini harus
disambut dengan langkah-langkah positif dan konstruktif oleh para pihak yang bergerak di
bidang usaha kepariwisataan dan pengelola kawasan-kawasan konservasi yang merupakan
basis utama pengembangan wisata alam. Langkah-langkah positif tersebut antara lain dengan
cara mengakomodasi demand wisatawan dengan menyediakan supply obyek wisata yang
mampu memuaskan wisatawan. Langkah konstruktif yang dimaksud di sini adalah
membangun apresiasi masyarakat terhadap kelestarian alam dan memberikan pendidikan
lingkungan melalui kegiatan interpretasi.
Permintaan jasa wisata alam di Banyuwangi pada umumnya dan di TNAP khususnya
cukup tinggi. Sayangnya permintaan yang tinggi ini tidak dikelola secara profesional,
misalnya dengan melakukan kajian pasar (supply-demand) untuk menetapkan besarnya tarif
masuk sehingga dapat diperoleh pendapatan yang optimal. Tarif masuk ditetapkan secara
nasional oleh Menteri Kehutanan yang besarnya sama rata untuk seluruh taman nasional
(wisatawan mancanegara Rp. 20.000,- dan wisatawan nusantara Rp. 2.500,-), tanpa
memperhatikan potensi (supply) yang dapat dinikmati pengunjung dan tingginya animo
pengunjung (demand). Akibatnya, taman nasional seperti Alas Purwo yang memiliki sembilan
obyek wisata dengan aksesibilitas tinggi (Tabel 1) dihargai sama - misalnya - dengan Taman
Nasional Rawa Aopa yang hanya memiliki tiga obyek wisata utama (Pulau Harapan II, Pantai
Lonowulu dan Gunung Watumohai) dengan aksesibilitas yang relatif lebih rendah
(Departemen Kehutanan, 2007).
Pentarifan yang tidak didasarkan pada kajian pasar sangat tidak menguntungkan dan
tidak memberikan insentif bagi pengembangan ekowisata berkelanjutan yang berbasiskan
sumberdaya hutan. Hal ini juga berarti tidak memberikan insentif bagi pengelolaan
sumberdaya hutan secara lestari, melalui pemanfaatan jasa wisata. Tiket masuk taman nasional
yang murah juga tidak memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat konsumen
ekowisata. Hal ini karena menimbulkan persepsi bahwa keberadaan dan kelestarian hutan
yang mereka nikmati dapat diperoleh dengan harga murah. Harga yang murah juga
menurunkan rasa kepedulian, penghargaan dan kebanggaan terhadap kekayaan alam yang
sangat penting tersebut. Bagi stakeholder lain, seperti Pemerintah Daerah, tiket masuk taman
nasional yang rendah memberikan kesan bahwa pelestarian alam tidak memberikan
keuntungan ekonomi langsung oleh karena itu pelestarian alam bisa menjadi bukan prioritas
dalam pembangunan daerah.
Dilihat dari potensi wisata yang ada dan jumlah pengunjung mancanegara yang cukup
banyak ke TNAP, khususnya untuk tujuan surfing di Pantai Plengkung, memungkinkan
untuk menaikkan tiket masuk ke TNAP atau mengenakan tiket terusan untuk Pantai
Plengkung. Menurut para peselancar, Pantai Plengkung merupakan arena surfing terbaik
284
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
ke tiga di dunia (Setelah Hawai dan Afrika), sehingga sangatlah tidak sepadan jika tiket masuk
ke TNAP dimana Pantai Plengkung merupakan salah satu obyek wisatanya, hanya
Rp.20.000,- per orang per sekali masuk (walaupun mereka tinggal di dalam TNAP lebih dari
sehari). Beberapa wisatawan yang ditemui masih mau membayar Rp. 100.000,- untuk dapat
berselancar di Pantai Plengkung.
Pemasangan tarif masuk TNAP yang sesuai, merupakan langkah strategis dalam
kerangka mendorong kemandirian pengelolaan taman nasional sesuai dengan era otonomi
yang sudah digulirkan sejak tahun 2000. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah (c.q.
Departemen Kehutanan) yang menetapkan Taman Nasional Alas Purwo bersama 20 taman
nasional lainnya sebagai taman nasional model yang bertujuan untuk percepatan
pengelolaan taman nasional yang efisien, efektif dan optimal menuju terwujudnya taman
nasional mandiri (Departemen Kehutanan, 2006).
Di sisi lain, sebagian besar pengunjung dengan tujuan ritual keagamaan maupun
lelono tidak dipungut biaya atau dipungut biaya tetapi tidak bersedia membayar dengan alasan
mereka tidak berwisata. Padahal, mereka merupakan pengunjung terbanyak dan merupakan
penerima manfaat terbanyak dari keberadaan taman nasional. Oleh karena itu, ke depan
perlu dipikirkan cara dan besarnya kontribusi yang harus mereka berikan kepada taman
nasional. Dengan mengenakan tarif tertentu maka akan menumbuhkan apresiasi mereka
terhadap keberadaan taman nasional, dimana mereka dapat menerima manfaat yang mereka
butuhkan.
Dalam pengembangan wisata alam pada khususnya dan pengelolaan TNAP pada
umumnya, koordinasi lintas sektoral belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sektor-
sektor yang terkait dengan pengembangan wisata dan pengelolaan TNAP antara lain adalah
Dinas Pendapatan Daerah (berkaitan dengan tiket masuk), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
(berkaitan dengan promosi, pembinaan usaha jasa wisata dan ikutannya serta pembinaan
budaya setempat sebagai aset wisata), Dinas Pekerjaan Umum atau Pemukiman dan Prasarana
Wilayah (berkaitan dengan pembangunan sarana-prasarana seperti jalan akses), Badan
Perencana Pembangunan Daerah (berkaitan dengan penetapan perwilayahan prioritas
pembangunan dan penataan ruang), Dinas Kehutanan (berkaitan dengan pengelolaan hutan-
hutan di sekitar TNAP), Perum Perhutani (berkaitan dengan pengelolaan hutan produksi
yang berbatasan dengan TNAP dan penggunaan jalan Perum Perhutani sebagai akses ke
TNAP), Dinas Kepurbakalaan (berkaitan dengan pemeliharaan situs peninggalan
sejarah/purbakala di dalam TNAP), Departemen Agama (berkaitan dengan pembinaan umat
dan pemeliharaan sarana ibadah di dalam TNAP), Dinas Perhubungan (berkaitan dengan
penyediaan fasilitas angkutan ke dan dari TNAP), Kepolisian (berkaitan dengan pengamanan
kawasan serta keamanan dan ketertiban pengunjung), Dinas perindustrian (berkaitan dengan
pengembangan dan pembinaan industri kecil pendukung pariwisata seperti makanan dan
cindera mata serta pemanfaatan air dari TNAP sebagai bahan baku air mineral) serta
peusahaan swasta di bidang jasa transportasi, agen perjalanan, perhotelan, rumah makan dan
usaha cindera mata.
Beberapa kelemahan yang ditemui saat penelitian dan perlu segera dibenahi antara lain
adalah 1) Pengusaha wisata belum secara optimal memberikan sumbangan yang signifikan
bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. 2) Pengusaha wisata belum memberikan
kontribusi secara optimal bagi pengelolaan taman nasional secara umum. 3) Penetapan
tarif masuk perlu ditinjau kembali disesuaikan dengan “nilai jual” obyek wisata yang ada.
Pengenaan tarif secara flat untuk seluruh taman nasional kurang efektif untuk meng
285
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
“apresiasi“ potensi alam. 4) Perlu mekanisme penetapan sistem bagi hasil yang lebih baik
dari kegiatan usaha wisata alam di dalam taman nasional antara pengusaha dengan pengelola
(pemilik kawasan) untuk kepentingan pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat lokal.
Ke depan perlu dibentuk suatu lembaga atau forum sebagai mediator koordinasi lintas
sektor dalam pengelolaan taman nasional secara umum dan wisata alam khususnya. Lembaga
atau forum ini terdiri dari instansi sektoral terkait, pengusaha terkait, lembaga swadaya
masyarakat dan wakil masyarakat lokal. Implementasi pembangunan di dalam taman
nasional seperti pembangunan sarana dan prasarana harus dikoordinasikan dalam forum ini.
Forum ini juga harus mengadvokasi pengelolaan taman nasional dan wisata alam partisipatif
yang berbasis masyarakat lokal.
Untuk menutupi berbagai kelemahan dan mengantisipasi dampak buruk ekowisata,
maka pemerintah perlu menetapkan berbagai kebijakan. Ruang-ruang kebijakan yang
perlu disentuh dalam pengembangan ekowisata antara lain adalah (Suwantoro, 1997)
1) Mekanisme perolehan pendapatan dari ekowisata dan pengembaliannya bagi pengelolaan
dan pelestarian alam. 2) Kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi masyarakat
3) Pengusahaan ekowisata 4) Penerimaan negara 5) Peran serta masyarakat 6) Pengendalian
ekowisata agar tetap berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
A. Kesimpulan
1. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memliki sembilan obyek wisata alam andalan yaitu :
Triangulasi, Sadengan, Ngagelan, Rowobendo, Pancur, Goa istana, Pasir putih, Segoro
anak dan Pantai Plengkung.
2. Jumlah kunjungan wisatawan ke TNAP dalam enam tahun terakhir mengalami pasang
surut, yaitu meningkat sejak ahun 2000 dan mencapai puncak pada tahun 2001 tetapi
kemudian menurun hingga tahun 2004.
3. Dalam setahun (2004), kunjungan wisatawan meningkat antara bulan Mei hingga Juli dan
puncaknya pada bulan Juni. Wisatawan mancanegara meningkat pada bulan Mei hingga
Oktober, sementara wisatawan nusantara tekonsentrasi pada bulan November dan
Desember.
4. Pantai Plengkung merupakan salah satu obyek wisata di Banyuwangi yang paling banyak
dikunjungi wisatawan mancanegara dengan tujuan surfing, sementara wisatawan
nusantara lebih banyak mengunjungi pemandian alam Taman Suruh dan Makam Datuk.
5. Wisatawan nusantara terbanyak berturut-turut berasal dari Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah
dan yang terendah dari Jawa Barat. Wisatawan mancangara terbanyak berturut-turut
berasal dari Australia, Amerika, eropa, Asia dan Afrika.
6. Dampak positif dari kegiatan ekowisata di TNAP adalah (1) tersedianya lapangan kerja
bagi tenaga kerja lokal, (2) tersedianya kesempatan berusaha, (3) meningkatnya apresiasi
masyarakat terhadap taman nasional, dan (4) meningkatnya Pendapatan Asli Daerah dari
sektor pariwisata.
7. Dampak negatif dari kegiatan ekowisata yang potensial di TNAP adalah (1) vandalisme,
(2) pembangunan sarana yang tidak ramah lingkungan, (3) terganggunya satwaliar, dan (4)
menurunnya kualitas lingkungan.
286
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288
B. Saran
1. Perlu dilakukan penyesuaian tarif masuk taman nasional secara progresif berdasarkan
kajian pasar (supply-demand).
2. Perlu dilakukan peninjauan kembali sistem dan ketentuan konsesi wisata di dalam taman
nasional sehingga lebih banyak memberikan kontribusi bagi upaya pengelolaan kawasan
pelestarian alam tersebut.
3. Ketentuan yang harus ditambahkan dalam konsesi antara lain : kuota tenaga kerja lokal
yang harus dipekerjakan, audit. keuangan perusahan wisata pemegang konsesi oleh
akuntan publik, proporsi bagi hasil antara Departemen Kehutanan, Pemerintah Daerah,
masyarakat dan pengusaha, dan kewajiban pemegang konsesi untuk meningkatkan
ketrampilan tenaga kerja lokal.
4. Perlu adanya penghitungan ulang sistem bagi manfaat (benefit sharing) sesuai dengan bagi
tanggungjawab (responsibility sharing) sehingga berkeadilan.
5. Untuk mengefektifkan koordinasi dalam pengembangan ekowisata di taman nasional
perlu dibentuk forum sebagai mediator atau sarana kordinasi semua pihak yang terkait
dengan pengelolaan taman nasional secara umum dan pengembangan ekowisata pada
khususnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Jumlah Pengunjung Obyek Wisata di Jawa Timur Tahun 1999-2003.
Statistik Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Tahun 1999-2003. Surabaya.
______. 2005. G-Land Jungle Surf Camp : The Ultimate Surfing Adventure.
Http://www.g-land.com. Diakses 15 Maret 2006.
Balai Taman Nasional Alas Purwo. 1999. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Alas Purwo
1999-2004. Balai Taman Nasional Alas Purwo. Banyuwangi. Tidak Diterbitkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyuwangi. 2004. Kabupaten Banyuwangi Dalam
Angka Tahun 2004. BPS Kabupaten Banyuwangi.
Departemen Kehutanan. 2003. Buku Panduan 41 Taman Nasional di Indonesia.
Depatemen Kehutanan bekerjasama dengan UNESCO dan CIFOR. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 2006. Mengenal 21 Taman Nasional Model di Indonesia. Ditjen
PHKA, Departemen Kehutanan. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 2007. 50 Taman Nasional di Indonesia. Ditjen PHKA kerjasama
dengan LHI dan JICA. Jakarta.
Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Banyuwangi. 2004. Brighten your Day Visit
Banyuwangi the Real Tropical Country. Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten
Banyuwangi.
Drumm, A. 1991. An Integrated Impact Assessment of Nature Tourism in Ecuador's
Amazon Region. School of Environmental Sciences, University of Greenwich.
London.
287
Dinamika Pengunjung Wisata alam di Taman Nasional .......... (Hendra Gunawan, etc.)
Nuryanti, W. dan H. Al Bajari. 1999. Pemanfaatan Agrocultura untuk Pariwisata. Seminar
Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dalam Rangka Otonomi Daerah. Dies
Natalis UGM ke-50. Yogyakarta.
Pitana, I. Gede dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Suwantoro, G. 1997. Dasar-Dasar Pariwisata. Penerbit Andi. Yogyakarta.
288
JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 4 No. 3 September 2007, Hal. 271 - 288