0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
259 tayangan4 halaman

MAHABRATA

Cerita Mahabrata dimulai dari Prabu Santanu yang menikah dengan Dewi Gangga dan Dewabrata yang kemudian dikenal sebagai Bisma. Bisma bersumpah untuk tidak menikah. Keturunan Prabu Santanu adalah Pandu dan Dretarastra. Pandu memiliki lima putera Pandawa sedangkan Dretarastra memiliki seratus putera Kurawa. Persaingan antara Pandawa dan Kurawa berujung pada perang besar di Kurukshetra yang berlangsung 18 hari.

Diunggah oleh

ganna satria
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
259 tayangan4 halaman

MAHABRATA

Cerita Mahabrata dimulai dari Prabu Santanu yang menikah dengan Dewi Gangga dan Dewabrata yang kemudian dikenal sebagai Bisma. Bisma bersumpah untuk tidak menikah. Keturunan Prabu Santanu adalah Pandu dan Dretarastra. Pandu memiliki lima putera Pandawa sedangkan Dretarastra memiliki seratus putera Kurawa. Persaingan antara Pandawa dan Kurawa berujung pada perang besar di Kurukshetra yang berlangsung 18 hari.

Diunggah oleh

ganna satria
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAHABRATA

Kisah Mahabrata dimulai dari seorang raja mahsyur bernama Prabu Santanu dari garis
keturunan Sang Kuru, yang berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga,
hubungan Prabu Santanu dengan Dewi Gangga menghasilkan 7 orang anak, akan tetapi semua
ditenggelamkan oleh Dewi Gangga. Kemudia lahirlah anak ke 8 yang berhasil diselamatkan
Prabu Santanu dan diberi nama Dewabrata. Lalu Dewi Gangga meninggalkan Prabu Santanu
karena sudah melanggar janjinya. Dewabrata yang sudah dewas mengganti namanya menjadi
Bisma karena ia melakukan Bhishan Pratigya yaitu sumpah untuk membujang selamanya, hal itu
dikarenakan Bisma tidak mau berselisih dengan Satyawati.

Prabu Santanu kemudia menikah dengan Satyawati yang merupakan seorang putrid
nelayan, dari hubungannya mereka memiliki dua putra yaitu Citranggada dan Wicitrawirya.
Kemudian Bisma mengikuti sayembara dan berhasil memenangkan tiga orang puteri bernama
Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adik tirinya. Dikarenakan
Citranggada yang wafat dalam pertempuran, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan
Wicitrawirya. Namun Amba ingin menikah dengan Bisma tetapi ditolak mentah-mentah karena
Bisma terikat sumpah, kemudian Amba mati dan berkata bahwa dirinya akan bereinkarnasi dan
menjadi penyebab kematian Bisma. Reinkarnasi dari Amba ini bernama Srikandi yang
merupakan anak Raja Drupada.

Wicitrawirya yang menjadi raja menggantikan kakaknya yang wafat kemudian juga
wafat tanpa memiliki keturunan. Satyawati kemudian mengirim keuda istri Wicitrawirya yaitu
Ambika dan Ambalika untuk menemui Rsi Byasa. Rsi Byasa diminta untuk mengadakan upacara
bagi mereka untuk memperoleh keturunan. Setelah melalui upacara tersebut mereka masing-
masing dikaruniai satu orang putera, Ambika memiliki putera bernama Drestarastra yang terlahir
buta karena selama upacara Ambika menutup matanya, sedangkan, Ambalika meiliki putera
bernama Pandu yang terlahir pucat karena Ambalika menjadi pucat setelah melihat wajah Rsi
Byasa selama upacara. Drestarastra dan Pandu memiliki saudara tiri yang bernama Widura,
Widura merupakan anak seorang dayang bernama Datri yang tidak sengaja melihat upacara dan
terjatuh sehingga Widura terlahir pincang.

Dikarenakan Drestarastra terlahir buta maka tahta Hastinapura diberikan kepada Pandu,
Pandu kemudia memiliki dua istri yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madri. Namun akibat kesalahan
Pandu pada saat memanah seekor kijang yang merupakan jelmaan seorang pendeta yang sedang
kasmaran, maka Pandu terkena kutukan tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila
dilanggar Pandu akan bertemu ajalnya.

Dewi Kunti yang pernah diberikan Mantra oleh Rsi Druwasa yang bisa memanggil para
dewa untuk mendapatkan putra, pertama kali mencoba mantra tersebut dan datanglah Batara
Surya dan mengaruniai Dewi Kunti putra yang diberi nama Karna. Tetapi Karna kemudia
dilarung ke laut dan dirawat oleh seorang kusir. Kemudian atas permintaan suaminya, Kunti
mencoba mantra itu lagi. Kunti dikaruniai tiga orang putra yaitu Yudistira yang berasal dari
karunia Batara Dharma, Bima yang berasal dari karunia Batara Bayu, dan Arjuna yang berasal
dari karunia Batara Indra. Dewi Madri yang merupakan istri kedua Pandu juga mecoba mantra
tersebut dan dikaruniai dua anak kembar bernama Nakula dan Sadewa yang merupakan karunia
Batara Aswan dan Aswin. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Sedangkan
Drestarastra menikahi Dewi Gendari, dan memiliki sembilan puluh Sembilan putera dan seorang
puteri yang dikenal sebagai Kurawa.

Pandu meninggal karena melanggar kutukannya dan melakukan hubungan suami istri
dengan Dewi Madri dan keduanya wafat setelahnya. Kemudian Drestarstra menggantikan Pandu
sebagai raja Hastinapura. Ayah para Kurawa ini sangat menyayangi putera-puteranya, hal itu
membuat ia sering dihasut putera kesayangannya yaitu Duryudana beserta iparnya yaitu
Sengkuni untuk mengizinkan puteranya melakukan rencana jahat demi menyingkirkan para
Pandawa.

Pada suatu ketika, Duryudana mengundang Kunti dan Pandawa untuk liburan. Disana
mereka menginap di sebuah Istana yang sudah disediakan Duryudana. Kemudian istana tersebut
dibakar, namun Pandawa dan Kunti bisa selamat karena telah diberitahu Widura tentang rencana
Kurawa. Pandawa dan Kunti lalu kabur ke hutan, di hutan tersebut Bima bertemu raksasa
bernama Arimba dan berhasil mengalahkannya kemudia menikahi adiknya yaitu Arimbi. Dari
pernikahan tersebut lahirlah Gatotkaca. Setelah melewati hutan Pandawa sampai di kerajaan
Pancala, dan mereka mendengar bahwa Raja Drupada menyelenggaraka sayembara untuk
menikahi Dewi Drupadi. Dalam sayembara itu juga diikuti oleh Karna namun Karna ditolak oleh
Drupadi, Pandawa mengikut sayembara tersebut dengan menyamar sebagai kaum Brahmana.
Pandawa memenangkan sayembara tersebut dan membawa Drupadi untuk menemui Kunti.
Sesampainya di rumah mereka mengatakan pada Kunti bahwa mereka pulang membawa hasil
sedekah, Kunti pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudara. Betapa
terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil sedekah, namun
juga seorang wanita. Drupadi pun kemudian menikahi lima bersaudara tersebut.

Para Pandawa kemudia kembali ke Hastinapura untuk menuntu haknya. Agar tidak
terjadi pertempuran sengit kerajaan Kuru dibagi dua untuk para Pandawa dan Kurawa. Kurawa
memerintah kerajaan Kuru induk dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah
kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Karena Duryudana merasa iri dengan
kemegahan Indraprastha ia berniat untuk merebutnya.

Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Pandawa, dengan ide dari Sengkuni Duryudana
mengundang Yudistira untuk main dadu. Duryudana diwakili oleh Sengkuni sebagai Bandar
dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Yudistira kalah terus menerus dalam
permainan tersebut, dan dia kehilangan mulai dari harta, kerajaan, hingga saudaranya. Dan yang
terakhir istrinya Drupadi juga dijadikan taruhan, Yudistira pun kembali kalah di permainan itu.
Duryudana kemudian memerintahkan Dursasana untuk menjemput Drupadi, Dursasana yang
tidak memiliki rasa kemanusiaan menyeret rambut Drupadi sampai ke arena judi. Dursasana
kemudian menarik kain yang dipakai Drupadi, namun kain tersebut tidak ada habisnya karena
mendapat kekuatan gaib dari Sri Krisna yang melihat Drupadi dalam bahaya.

Drupadi yang merasa marah oleh sikap Dursasana bersumpah tidak akan menggelung
rambutnya sebelum dibasuh dengan darah Dursasana. Bima pun kemudian bersumpah akan
membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mendengan sumpah tersebut,
Drestarastra merasa bahwa keturunannya akan ditimpa malapetaka, maka ia mengembalikan
segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan. Duryudana yang kecewa karena ayahnya
mengembalikan semua harta tersebut kemudian menyelenggarakan permainan dadu untuk yang
kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus mengasingkan diri selama 12 tahun dan
menyamar selama setahun. Yudistira kembali kalah dalam permainan dadu tersebut, dan
Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa
penyamaran selama setahun.

Setelah masa pengasingan Pandawa selesai mereka ingin mengambil alih kembali
kerajaan mereka, namun Duryudana tidak mau menyerahkan kerajaan Pandawa sejengkal pun.
Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis, Sri Krisna yang melakukan perjanjian damai antara
kedua pihak pun gagal dan pertempuran ridak bisa dielakkan lagi.

Pandawa berusaha mencari sekutu dan mereka mendapat bantuan pasukan dari kerajaan
Kekaya, Chola, Kerala, Magadha, Wangsa Yadawa, kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi.
Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti Drupada, Setyaki, Drestadjumna, dan
Srikandi ikut memihak Pandawa. Sementara itu para Kurawa yang dipimpin Duryudana meminta
Bisma untuk menjadi panglima tertinggi pasukan Kurawa. Selain itu Kurawa juga dibantu oleh
Rsi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar mereka yaitu Jayadrata, serta Guru Krepa,
Kertawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Sengkuni, dan Adipati Karna ikut membantu mereka.
Dalam hal ini pasukan Pandawa kalah jumlah dengan pasukan Kurawa.

Pertempuran dilangsungkan di padang Kurusetra yang merupakan tempat suci bagi umat
Hindu, dan pertempuran berlangsung selama 18 hari yang dimulai dari matahari terbit dan
berhenti saat matahari terbenam. Dalam pertempuran itu banyak ksatria yang gugur, seperti
misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Sengkuni, para Kurawa, dan masih
banyak lagi. Selama 18 hari tersebut padang Kurusetra dipenuhi oleh pertumpahan darah dan
pembantaian yang mengenaskan. Dan pada hari terakhir yaitu hari kedelapan belas, hanya
sepuluh ksatria yang berhasil bertahan hidup dari pertempuran. Mereka adalah lima Pandawa,
Yuyutsu, Setyaki, Aswatama, Krepa dan Kartamarma. Perang tersebut diberi nama Bharatayudha
atau perang bangsa Bharata.

Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai raja Hastinapura yang bergelar
Prabu Kalimataya. Setelah memerintah selama beerapa tahun Yudistira menyerahkan tahta
kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian para Pandawa beserta Drupadi mendaki gunung
Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka dan meninggal disana. Parikesit memerintah
kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana, kemudia dilanjutkan oleh keturunan selanjutnya.

Anda mungkin juga menyukai