1
ANALISIS HIDROLOGI DAN HIDROLIKA UNTUK
MENGIDENTIFIKASI POTENSI TERJADINYA BENCANA
BANJIR PADA DAS
HYDROLOGICAL AND HYDRAULIC ANALYSIS TO IDENTIFY
THE POTENTIALS OF FLOOD DISASTERS IN THE WATERSHED
MUHAMMAD NUZUL
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
2
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 4
E. Batasan Penelitian................................................................................... 4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sungai Baubau sangat strategis membelah pusat kota, daerah hilirnya
mengalir melintasi tengah-tengah kota dan bermuara pada Selat Baubau. Di
sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Baubau telah lama tumbuh permukiman
masyarakat. Adanya peristiwa bencana banjir besar pada tahun 1980-an yang
disebabkan oleh meluapnya air Sungai Baubau sehingga menggenangi kawasan
sekitarnya, membuat Pemerintah Kabupaten Buton pada waktu itu bekerja sama
dengan masyarakat melakukan upaya pencegahan dengan cara meninggikan
bantaran sungai agar kejadian banjir besar tidak terulang lagi. Upaya tersebut
membuat pembangunan perumahan pada kawasan tersebut tumbuh kembali. Commented [muh1]: Kapasitas Masyarakat terhadap
penangulangan banjir DAS
Pertumbuhan perumahan pada kawasan bantaran sungai berkembang dengan pesat.
Perkembangan perumahan di kawasan bantaran Sungai Baubau tidak
dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Akibatnya pola
hunian masyarakat pada kawasan bantaran Sungai Baubau tumbuh secara tidak
teratur. Pola arah hadap bangunan terhadap sungai belum jelas. Sebagian ada yang
menghadap sungai namun sebagian lagi ada yang membelakangi sungai. Jarak antar
rumah sangat dekat, bahkan atap rumah warga ada yang saling berhimpit.
Hasil pendataan dan pemetaan kawasan kumuh di Kota Baubau pada tahun
2006 yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Baubau melalui Bappeda dan Dinas
Nakertrans Kota Baubau memasukkan kawasan bantaran sungai yang ada di
Kelurahan Tomba dan Bataraguru masuk dalam kategori kumuh. Hal ini tentu
menjadi persoalan bagi Pemerintah kota terhadap pencapaian Visi Kota Baubau
Tahun 2013-2018 yakni "Baubau Yang Maju, Sejahtera, dan Berbudaya".
Diantara ketiga pokok visi tersebut adalah, Baubau yang Sejahtera Adalah suatu
kondisi yang menjamin adanya suatu sistem pelayan umum yang optimal di
didukung oleh sistem penyelenggaran pemerintahan yang tertib dan menjamin rasa
2
aman masyarakat dalam stabilitas politik yang kondusif serta kewaspadaan dan
kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang optimal ”.
Pada Hasil Telaahan Struktur Ruang Kota Baubau dalam rencana jaringan
prasarana sumberdaya air kota ke arah pemanfaatan ruang / indikasi program
dengan “Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sebagai
Upaya Terintegrasi Pengendalian Banjir Dengan Kurung Waktu Rencana
Pelaksanaan 2016-2020”. (Revisi RTRW Kota Baubau 2010-2030). Commented [muh2]: Sensitivitas / Mitigasi yang di
lakukan pemerintah Daerah
Berdasarkan Data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2013, 80%
kabupaten/kota di seluruh Indonesia merupakan daerah dengan tingkat risiko tinggi
terhadap bencana. Sebanyak 322 kabupaten/kota dari 497 kabupaten/kota masuk
kedalam kelas risiko tinggi, Diantara beberapa daerah tersebut Kota Baubau berada
pada urutan ke 70 dengan skor 194.8 berada pada status tingkat Resiko Tinggi.
Banjir yang berlangsung pada DAS disebabkan oleh beberapa hal seperti
curah hujan yang cukup ekstrim dibeberapa Kecamatan (Murhum, Bungi,
Sorawolio dan Wolio), pendangkalan Sungai Baubau sebagai akibat erosi di bagian
hulu, pasang surut air laut, menurunnya resistensi DAS Baubau terhadap banjir
akibat perubahan tata guna lahan di sekitar bantaran sungai, selain itu juga perilaku
masyarakat terhadap penebangan pohon di kawasan hutan lindung.
Pada tahun 2012 bencana banjir di Kota Baubau terjadi sebanyak 20 kasus
yang tersebar di beberapa kelurahan dengan curah hujan yang tinggi dan pengaruh
pasang surut air laut mengakibatkan ketinggian air antara 0,5-1 meter di
permukiman masyarakat, walaupun tidak ada korban jiwa akan tetapi merendam
puluhan rumah milik masyarakat setempat. Sedimentasi pada daerah aliran Sungai
Baubau yang setiap tahunnya pada saat musim penghujan dan pasang air laut terjadi
endapan sejumlah material dari hulu sungai ke muara, sehingga berpotensi
terjadinya erosi dan banjir. Sedimentasi ini terjadi dititik DAS Baubau seperti
dimuara sungai Kelurahan Wale, Tomba dan Bataraguru. Luasan wilayah yang
mengalami sedimentasi (akresi) sekitar ±8 ha. (Laporan Kajian Kerentanan Dan
Risiko Iklim Provinsi Sulawesi Tenggara 2018).
Berdasarkan uraian diatas banjir disebabkan oleh alam atau ulah manusia
sendiri. Banjir juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu curah hujan dan
3
faktor hancurnya retensi bantaran sungai. Banjir pada DAS Kota Baubau menjadi
ancaman musiman dikarenakan curah hujan yang tinggi yang meyebabkan jumlah
debit air melebihi tinggi tanggul sehinga mengakibatkan luapan air sungai, inilah
yang menggangu kehidupan masyarakat yang bermukim dipingiran sungai bahkan
bisa mengancam keselamatan mereka. Commented [muh3]: Ancaman serta Bahaya terhadap
masyarakat pada DAS
Upaya untuk mengatasi permasalahan banjir sungai adalah memahami
karakteristik daerah dataran (flood plain) disepanjang DAS yang berpotensi
tergenang banjir, melakukan mengamatan secara langsung pada penampang
memanjang dan melintang sungai untuk mengetahui kondisi fisik struktur tanggul
dan perhitungan curah hujan berdasarkan periode ulang untuk mengetahui debit
puncak dengan beberapa model analisis hidrologi dan hidrolika, hal ini dilakukan
guna mendapatkan data sesungguhnya dilapangan agar mengetahui potensi
terjadinya bencana banjir. Commented [muh4]: Topik :
1.mengetahui kondisi fisik struktur tanggul dan curah hujan
yang terjadi untuk mengetahui debit puncak pada DAS.
2.Proses digitasi peta daerah dataran (flood plain)
B. Rumusan Masalah sepanjang DAS yang berpotensi tergenang banjir.
3.faktor-faktor yang menggakibatkan terjadinya banjir
Dari latar belakang masalah yang ada dapat dibuat rumusan masalah yaitu :
1. Wilayah manakah yang berpotensi mengalami dampak akibat luapan banjir
Daerah Aliran Sungai ?
2. Bagaimana tindakan mitigasi bencana banjir Daerah Aliran Sungai ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini sehubungan dengan
rumusan masalah penelitian adalah :
1. Menganalisis faktor hidrologi terhadap debit aliran sungai yang berpotensi
terhadap wilayah DAS yang berdampak risiko banjir akibat luapan volume
debit tertinggi sungai.
2. Menganalisis perilaku sungai serta DAS dengan model hidrologi dan
hidrolika sebagai tindakan mitigasi untuk mengurangi resiko banjir yang
lebih parah.
4
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain untuk :
1. Memberi gambaran informasi akademis mengenai potensi banjir terjadi.
2. Menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah maupun swasta dalam
mengambil suatu keputusan untuk merencanakan langkah mitigasi banjir di
Kota Baubau.
3. Menjadi bahan masukan bagi pemerintah maupun masyarakat dalam upaya
perlindungan Daerah Aliran Sungai.
4. Menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan untuk
pengendalian banjir di Kota Baubau.
E. Batasan Penelitian
Ruang lingkup wilayah dibatasi pada kawasan perumahan yang ada di
bantaran Sungai Baubau di Kelurahan Tomba dan Bataraguru Kota Baubau
Propinsi Sulawesi Tenggara. Oleh karena itu dalam penelitian ini hanya membahas
masalah luapan banjir di sungai, Proses digitasi peta dasar dan peta-peta tematik
pendukung yang relevan, Analisa potensi banjir dengan software HEC-RAS,
komponen-komponen lingkungan hidup sekitar sungai berupa faktor alamiah
maupun non alamiah. Faktor alamiah mencakup analisis hidrologi, debit sungai,
komponen abiotik dengan objek pengamatan berupa kondisi fisik tanggul sungai.
Faktor non alamiah yang dimaksud adalah komponen biotik yang diamati ditinjau
dari segi sosial budaya manusia (culture) dengan mengetahui seberapa besar
persepsi dan partisipasi masyarakat sekitar sungai terhadap tingkat partisipasi
masyarakat dalam bencana banjir. Penelitian ini tidak membahas lama genangan
yang terjadi akibat banjir. Commented [A5]: Batasan Penelitian
5
Gambar 1. Peta Administrasi Kota Baubau.
Kerangka Berpikir
Ruang lingkup penelitian dijabarkan pada Gambar 2. Dari gambar tersebut
dapat dilihat bahwa input data utama untuk proses perhitungan dengan HEC-RAS
adalah data profil sungai, data perkiraan curah hujan dan data karakteristik DAS.
Output yang dikeluarkan HEC-RAS berupa peta dataran banjir pada wilayah DAS
Baubau secara temporal dibuat dengan tiga model skenario waktu banjir, yaitu 10,
25 dan 100 tahunan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa perubahan
tutupan lahan akan terus berlanjut hingga 100 tahun ke depan, dengan demikian
penyusunan peta banjir disesuaikan dengan prediksi perubahan tutupan lahan.
Secara lengkap model kerangka berpikir teoritis dari penelitian ini disajikan pada
Gambar 2 :
6
1. Data Curah Hujan
2. Data Profil Sungai Analisa potensi banjir dengan software HEC-RAS
3. Data Karakteristik
DAS
Proses digitasi peta dasar dan peta-peta tematik
pendukung yang relevan
Prediksi daerah genangan banjir dengan SIG
dan melakukan analisa spasial
Solusi dan Langkah Tindakan Perencanaan pembangunan
(Upaya Mitigasi) wilayah yang lebih tepat dan
terarah
KESIMPULAN
Gambar 2. Kerangka Alir Penelitian