0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
737 tayangan17 halaman

Ornamen

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian utilitas bangunan dan ornamen interior. Secara singkat, utilitas bangunan adalah fungsi dari suatu bangunan, sedangkan ornamen interior adalah hiasan yang digunakan untuk menambah nilai estetika ruangan. Dokumen ini juga menjelaskan pengertian ornamen, motif, dan pola yang merupakan unsur penting dalam dekorasi interior.

Diunggah oleh

Rici Maimora
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Pendidikan Seni,
  • Karya Hiasan,
  • Evaluasi Pembelajaran,
  • Karya Modern,
  • Garis Berkesinambungan,
  • Karya Simbolis,
  • Teknik Gambar,
  • Seni Rupa,
  • Karya Estetika,
  • Seni Kontemporer
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
737 tayangan17 halaman

Ornamen

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian utilitas bangunan dan ornamen interior. Secara singkat, utilitas bangunan adalah fungsi dari suatu bangunan, sedangkan ornamen interior adalah hiasan yang digunakan untuk menambah nilai estetika ruangan. Dokumen ini juga menjelaskan pengertian ornamen, motif, dan pola yang merupakan unsur penting dalam dekorasi interior.

Diunggah oleh

Rici Maimora
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Pendidikan Seni,
  • Karya Hiasan,
  • Evaluasi Pembelajaran,
  • Karya Modern,
  • Garis Berkesinambungan,
  • Karya Simbolis,
  • Teknik Gambar,
  • Seni Rupa,
  • Karya Estetika,
  • Seni Kontemporer

BAHAN AJAR (3.

4)
A. Identitas
Satuan Pendidikan : SMK Negeri 1 Lintau Buo
Kompetensi Keahlian : Teknik Gambar Bangunan
Kelas : XI (sebelas)

B. Kompetensi Dasar :

C. Indikator :
1. Mendefenisikan pengertian utilitas bangunan

D. Tujuan Pembelajaran :
Setelah pembelajaran diharapkan siswa dapat :
1. Mendefenisikan pengertian utilitas bangunan

E. Topik Materi : Dekorasi dan Ornamen Interior

F. Uraian Materi Ajar :

1. Latar Belakang
Bangsa Indonesia terdiri banyak suku bangsa yang tersebar dari sabang sampai
merauke, terdiri dari berbagai daerah dan suku-suku yang hamper pada setiap daerah
tersebut mewariskan hasil-hasil karyanya berupa kesenian yang besar dan meyakinkan.
Hasil kesenian tersebut ternyata hingga saat sekarang masih hidup dan terpelihara.
Kenyataan memberi harapan tentang kelangsungan hidup seni-seni tradisi yang memiliki
nilai-nilai tinggi dan adhiluhung dengan berbagai variasinya, serta semakin besarnya
perhatian masyarakat dan pemerintah dalam mengelola masalah tersebut. Atas dasar tersebut
amat disayangkan apabila kesenian yang demikian itu sampai mengalami kepunahan karena
adanya arus globalisasi dengan masuknya budaya barat ke Indonesia, untuk itu sudah
sewajarnya kita bangsa Indonesia dan para generasi mudanya ikut andil dalam melestarikan
sekaligus mengembangkan seni budaya yang kita miliki.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa cabang kesenian tradisi yang ada di Indonesia
meliputi Seni Tari, Seni Musik, Seni Rupa, Seni Suara, Seni Sastra, dsb. Dalam bidang Seni
Rupa pun masih terbagi-bagi lagi menjadi bermacam-macam jenisnya, dan salah satunya
adalah seni ornamen, ornamen merupakan salah satu unsur dari cabang seni rupa yang tidak
kalah pentingnya dalam memenuhi tuntutan jiwani.
Seperti misalnya ornamen banyak diterapkan pada pada bangunan-bangunan rumah,
candi-candi, kain tenun, kain batik, alat-alat upacara, alat berburu, angkutan, rumah-rumah
adat, alat pertanian, souvenir, dsb.
2. Pengertian Ornamen
Banyak para ahli berpendapat bahwa, perkataan ornamen berasal dari kata Ornare
(bahasa Latin) yang berarti menghiasi, dalam Ensiklopedia Indonesia p. 1017, ornamen
adalah setiap hiasan bergaya geometrik atau yang lainnya; ornamen dibuat pada suatu
bentuk dasar dari hasil kerajinan tangan (perabot, pakaian, dsb) dan arsitektur. Dalam
Bahasa Inggris disebut ornament dan dalam Bahasa Belanda disebut Siermotieven.
Dari pengertian tersebut jelas menempatkan ornamen sebagai karya seni yang dibuat
untuk diabdikan atau mendukung maksud tertentu dari suatu produk, tepatnya untuk
menambah nilai estetis dari suatu benda/produk yang akhirnya pula akan menambah nilai
finansial dari benda atau produk tersebut. Dalam hal ini ada ornamen yang bersifat pasif dan
aktif. Pasif maksudnya ornamen tersebut hanya berfungsi menghias, tidak ada kaitanya
dengan hal lain seperti ikut mendukung konstruksi atau kekuatan suatu benda. Sedangkan
ornamen berfungsi aktif maksudnya selain untuk menghias suatu benda juga mendukung hal
lain pada benda tersebut misalnya ikut menentukan kekuatanya (kaki kursi motif belalai
gajah/motif kaki elang).
Pada tataran berikutnya yang dimaksud dengan ornamen adalah komponen dari suatu
produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan. Pemahaman
lain tentang ornamen adalah bentuk karya seni yang sengaja ditambahkan atau dibuat pada
suatu produk benda agar produk atau benda tersebut menjadi lebih indah.

Ornamen juga berarti dekorasi atau hiasan, sehingga ornamen sering disebut sebagai
disain dekoratif atau disain ragam hias. Pengertian ornamen dengan dekorasi dalam banyak
hal terdapat kesamaan, karena dekorasi juga memiliki arti menghiasi. Namun tetap saja ada
perbedaan-perbedaan yang signifikan, karena dekorasi dalam banyak hal lebih menekankan
pada penerapan-penerapan yang bersifat khusus, misalnya dekorasi interior, dekorasi
panggung. Dalam menanggapi masalah itu, barangkali akan menjadi lebih terbuka pemikiran
kita apabila menyadari bahwa ornamen dapat menjadi elemen atau unsur dekorasi, tetapi
tidak untuk sebaliknya; dekorasi bukan sebagai unsur ornamen. Oleh sebab itu pengertian
ornamen akan bergantung dari sudut mana kita melihatnya, dan setiap orang bebas menarik
kesimpulan menurut sudut pandangnya.
Pendapat lain menyebutkan bahwa : Ornamen adalah pola hias yang dibuat dengan
digambar, dipahat, dan dicetak, untuk mendukung meningkatnya kualitas dan nilai pada
suatu benda atau karya seni. Ornamen juga merupakan perihal yang akan menyertai bidang
gambar (lukisan atau jenis karya lainnya) sebagai bagian dari struktur yang ada di dalam.
(Susanto, 2003). Pendapat ini agak luas, ornamen tidak hanya dimanfaatkan untuk menghias
suatu benda/produk fungsional tapi juga sebagai elemen penting dalam karya seni (lukisan,
patung, grafis), sedangkan teknik visualisasinya tidak hanya digambar seperti yang kita
kenal selama ini, tapi juga dipahat, dan dicetak.
Dalam perkembangan selanjutnya, penciptaan karya seni ornamen tidak hanya
dimaksudkan untuk mendukung keindahan suatu benda, tapi dengan semangat kreativitas
seniman mulai membuat karya ornamen sebagai karya seni yang berdiri sendiri, tanpa harus
menumpang atau mengabdi pada kepentingan lain. Karya semacam ini dikenal dengan seni
dekoratif (lukisan atau karya lain yang mengandalkan hiasan sebagai unsur utama).
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa: ornamen adalah salah satu
karya seni dekoratif yang biasanya dimanfaatkan untuk menambah keindahan suatu benda
atau produk, atau merupakan suatu karya seni dekoratif (seni murni) yang berdiri sendiri,
tanpa terkait dengan benda/produk fungsional sebagai tempatnya.

3. Motif dan Pola pada Ornamen


Kalau membahas tentang ornamen kita tidak terlepas dari pola dan motif karena pola
dan motif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ornamen. Pola dalam bahasa
Inggris di sebut “pattern”, H.W. Fowler dan F.G Fowler pola disebut
“decorative”design as executed on carpet, wall paper, clots etc”, sedangkan Herbert
Read menjelaskan pola sebagai penyebaran garis dan warna dalam suatu bentuk ulangan
tertentu. Mungkin masih sulit gambaran kita tentang pola apabila belum mengerti motif.
Dalam ensiklopedia Indonesia, dijelaskan bahwa motiflah yang menjadi pangkal tema dari
suatu buah kesenian.
Sejalan dari pendapat di atas kalau digambarkan, apabila ada garis lengkung (hanya
sebagai contoh) maka garis tersebut disebut sebagai motif, yaitu motif garis lengkung, kalau
garis lengkung tadi diulang.
Secara simetris, maka akan diperoleh gambar lain yaitu gambar ke dua, merupakan
sebuah pola yang didapat dengan menggunakan motif garis lengkung tadi, selanjutnya
apabila gambar ke dua tadi motif dan di ulang-ulang menjadi gambar ke tiga, maka gambar
tersebut dapat disebut sebagai pola atas motif yang ke dua tadi, demikian seterusnya. Jadi
dari satu jenis motif betapapun sederhananya, sebagaimana garis lengkung yang dijadikan
contoh tadi, setelah mengalami pengulangan dapatlah diperoleh sebuah pola, bahkan tidak
hanya sebuah saja, tetapi akan bergantung pada kemungkinan kreativitas seseorang dalam
merangkainya. Penyusunan pola dilakukan dengan jalan menebarkan motif secara berulang-
ulang, jalin-menjalin, selang-seling, berderet, atau variasi satu motif dengan motif lainnya.
Selanjutnya apabila pola yang telah diperolehnya tadi diterapkan atau dijadikan hiasan
pada suatu benda, misalnya dengan jalan di ukir (contoh: pada sebuah kursi), maka
kedudukan pola tadi ialah sebagai ornamen dari kursi tersebut. Sampai di sini jelaslah
bahwa motiflah yang menjadi pangkal atau pokok dari suatu pola, dimana setelah motif itu
mengalami proses penyusunan dan dibuat secara berulang-ulang akan diperoleh sebuah pola.
Kemudian setelah pola tadi diterapkan pada benda lain maka jadilah suatu ornamen.
Dari penjelasan di atas, maka antara motif, pola dan ornamen dapat dibedakan sebagai
berikut :
 Motif merupakan pangkal untuk membentuk suatu pola, baik dibentuk dari unsur garis
maupun suatu bentuk figure.
 Pola adalah motif yang dibuat secara berulang-ulang, jalin-menjalin, selang- seling,
berderet, atau variasi satu motif dengan motif lainnya.
 Ornamen adalah pola yang diterapkan/dijadikan hiasan pasa suatu benda.
Secara garis besar struktur ornamen dapat dibedakan menjadi tiga hal utama yaitu:
1. Garis-garis berkesinambungan dengan segala variasinya, yaitu berupa garis-garis
lurus, garis patah, garis lengkung, garis bergelombang, dan juga garis-garis yang
berfungsi sebagai garis batas.

2. Berupa bentuk-bentuk figure yang berkelompok


 Garis Bawah dan Atas Horizontal

Gambar garis horizontal di atas meja atau sofa. Garis ini akan menjadi batas bawah atau
batas atas pigura. Lakukan simulasi dengan menempelkan potongan kertas kecil di sketsa
Anda. Kertas-kertas kecil diletakkan menempel pada garis.

 Garis tengah horizontal


Gambar garis horizontal. Lakukan simulasi dalam sketsa. Kali ini garis horizontal
memotong kertas simulasi tepat di bagian tengahnya. Pigura bisa terdiri atas 2 atau 3 ukuran
dengan susunan besar-kecil-besar-kecil-besar, atau kecil-besar-kecil-besar-kecil.

 Garis samping kanan dan kiri vertikal

Sama dengan melakukan simulasi pada sketsa garis bawah dan atas. Hanya saja, garis
kanan dan kiri harus ada semua. Garis-garis vertikal ini akan menjadi batas kanan dan kiri,
sementara bagian atas dan bawah tidak perlu rata.

 Garis tengah vertical
Sama dengan garis tengah horizontal, tetapi dengan arah vertikal.

 Huruf T, H, dan 1 anak tangga

Para desainer interior kadang terlihat begitu saja menata pigura di dinding, tanpa
memperhatikan petunjuk apapun, tetapi sebenarnya tetap ada garis lurus antara pigura yang
satu dengan yang lainnya. Untuk bentuk sederhana, coba gambar garis T, H, atau gambar 1
anak tangga. Letakkan kertas simulasi di sekitar garis tersebut.
3. Bentuk Hiasan yang Menyeluruh dan Utuh, 
Menutup seluruh wujud dari bentuk yang dikenai, dengan jalinan yang saling mengikat

terpadu, berhubungan antara satu dengan bentuk lainnya, saling berdekatan secara berulang­

ulang.   Sebenarnya   garis   yang   berkesinambungan,   garis   lurus,  monochrome  yang   biasa

digunakan untuk membuat garis pembatas, seperti garis­garis tegak lurus, adalah termasuk

dalam unsur­unsur desain. Pada awalnya garis­garis semacam ini telah ada dengan berbagai
variasinya. Misalnya : garis putus­putus, garis patah, garis zig­zag, garis berlika­liku, dan

sebagainya.

Secara sederhana dapat dipahami bahwa dari motif akan membentuk pola, dari pola
akan membentuk ornament.  
Hal­hal yang terkait dengan pembuatan pola adalah : 
a) Simetris  yaitu   pola   yang   dibuat,   antara   bagian   kanan   dan   kiri   atau   atas   dan   bawah

adalah sama. 

 
b) Asimetris yaitu pola yang dibuat antara bagian-bagiannya (kanan-kiri, atas-bawah) tidak
sama.

c) Pengulangan yaitu pola yang dibuat dengan pengulangan motif-motif.


d) Bebas atau kreasi yaitu pola yang dibuat secara bebas dan bervariasi.
Pola memiliki fungsi sebagai arahan dalam membuat suatu perwujudan bentuk artinya
sebagai pegangan dalam pembuatan agar tidak menyimpang dari bentuk/motif yang
dikehendaki, sehingga hasil karya sesuai dengan ide yang diungkapkan.

Adapun   macam­macam   motif   yang   membentuk   pola   sehingga   menjadi   ornamen


interior antara lain sebagai berikut :
a. Motif Geometris 
Motif tertua dari ornamen adalah bentuk geometris, motif ini lebih banyak
memanfaatkan unsur-unsur dalam ilmu ukur seperti garis-garis lengkung dan lurus,
lingkaran, segitiga, segiempat, bentuk meander, swastika, dan bentuk pilin, patra mesir
“L/T” dan lain-lain. Ragam hias ini pada mulanya dibuat dengan guratan- guratan mengikuti
bentuk benda yang dihias, dalam perkembangannya motif ini bisa diterapkan pada berbagai
tempat dan berbagai teknik, (digambar, dipahat, dicetak). Disebut motif geometris karena
motif ini mengacu pada bentuk ilmu ukur seperti: garis lurus, garis lengkung, lingkaran, segi
tiga, segi empat dsb.
b. Motif Tumbuh­tumbuhan
Penggambaran motif tumbuh-tumbuhan dalam seni ornamen dilakukan dengan berbagai
cara baik natural maupun stilirisasi sesuai dengan keinginan senimannya, demikian juga
dengan jenis tumbuhan yang dijadikan obyek/inspirasi juga berbeda tergantung dari
lingkungan (alam, sosial, dan kepercayaan pada waktu tertentu) tempat motif tersebut
diciptakan. Motif tumbuhan yang merupakan hasil gubahan sedemikian rupa jarang

dapat dikenali dari jenis dan bentuk tumbuhan apa sebenarnya yang digubah/distilisasi,
karena telah diubah dan jauh dari bentuk aslinya.
c. Motif binatang. 
Penggambaran binatang dalam ornamen sebagian besar merupakan hasil
gubahan/stilirisasi, jarang berupa binatang secara natural, tapi hasil gubahan tersebut masih
mudah dikenali bentuk dan jenis binatang yang digubah, dalam visualisasinya bentuk
binatang terkadang hanya diambil pada bagian tertentu (tidak sepenuhnya) dan
dikombinasikan dengan motif lain. Jenis binatang yang dijadikan obyek gubahan antara lain,
burung, singa, ular, kera, gajah dll.
d. Motif manusia. 
Manusia sebagai salah satu obyek dalam penciptaan motif ornamen mempunyai
beberapa unsur, baik secara terpisah seperti kedok atau topeng, dan secara utuh seperti
bentuk-bentuk dalam pewayangan. Dikatakan motif manusia karena dalam pembuatan
ragam hiasnya mengacu pada figure manusia.

e. Motif   kosmos atau berbentuk alam, seperti gunung, air, awan, batu­batuan dan

lain­lain.
Motif kosmos atau berbentuk alam dalam penciptaannya biasanya digubah sedemikian
rupa sehingga menjadi suatu motif dengan karakter tertentu sesuai dengan sifat benda yang
diekspresikan dengan pertimbangan unsur dan asas estetika. Misalnya motif bebatuan
biasanya ditempatkan pada bagian bawah suatu benda atau bidang yang akan dihias dengan
motif tersebut. Dikatakan motif kosmos atau alam memang dalam pembuatannya mengacu
pada bentuk-bentuk alam, seperti : awan, cadas, air, batu, gunung, dsb.

f. Motif   Kreasi/   khayalan   yaitu   bentuk­bentuk   ciptaan   yang   tidak   terdapat   pada

alam nyata seperti motif makhluk ajaib, raksasa, dewa , pahlawan super dan lain-


lain.
Bentuk ragam hias khayali adalah merupakan hasil daya dan imajinasi manusia atas
persepsinya, motif mengambil sumber ide diluar dunia nyata. Contoh motif ini adalah :
motif ikan duyung, pahlawan super, raksasa, dan motif makhluk- makhluk gaib lainnya.
Sedangkan yang dimaksud pola adalah suatu hasil susunan atau pengorganisasian dari
motif tertentu dalam bentuk dan komposisi tertentu pula.   Contohnya pola hias batik, pola
hias majapahit, jepara, bali, mataram dan lain-lain. Pola biasanya terdiri dari :
a) Motif pokok.
b) Motif pendukung/piguran
c) Isian /pelengkap

4. Teknik Perwujudan/Penggambaran Ornamen


Beberapa cara atau gaya yang dijadikan konsep dalam pembuatan karya ornamen adalah
sebagai berikut:
a. Realis atau naturalis
pembuatan motif ornamen yang berusaha mendekati atau mengikuti bentuk-bentuk
secara alami tanpa melalui suatu gubahan, bentuk-bentuk alami yang dimaksud berupa
bentuk binatang, tumbuhan, manusia dan benda-benda alam lainnya.
b. Stilirisasi atau gubahan
Pembuatan motif ornamen dengan cara melakukan gubahan atau merubah bentuk
tertentu, dengan tidak meninggalkan identitas atau ciri khas dari bentuk yang
digubah/distilirisasi, atau dengan menggayakan bentuk tertentu menjadi karya seni
ornamen. Bentuk-bentuk yang dijadikan inspirasi adalah binatang, tumbuhan, manusia,
dan benda alam lainnya.
c. Kombinasi atau kreasi
Motif yang dibuat dengan mengkombinasikan beberapa bentuk atau motif, yang
merupakan hasil kreasi dari senimannya. Motif yang tercipta dengan cara ini biasanya
mewakili karakter atau identitas individu penciptanya (idealisme).

5. Corak Seni Ornamen 
Berdasarkan periode dan ciri-ciri yang ditampilkan, karya seni ornamen memiliki
beberapa corak yaitu:
a. Ornamen Primitif,
Yaitu karya seni ornamen yang diciptakan pada zaman purba atau zaman primitif. Ciri-
ciri umum dari seni ornamen primitif adalah sederhana, tegas, kaku, cendrung bermotif
geometris, goresan spontan, biasanya mengandung makna simbolik tertentu. Sedangkan
komposisi yang diterapkan biasanya berderet, sepotong-sepotong, berulang, berselang-
seling, dan sering juga dijumpai penyusunan secara terpadu. Karya seni primitif
memberi gambaran kesederhanaan dan gambaran perilaku masyarakat pada zaman itu.
Seni primitif bersifat universal karena ciri-ciri umumnya adalah sama diseluruh dunia.
Contoh: ukir Asmat yang ada di Irian Jaya.
b. Ornamen klasik
Adalah hasil karya seni ornamen yang telah mencapai puncak-puncak perkembangannya
atau telah mencapai tataran estetis tertinggi, sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. Ia
telah mempunyai bentuk dan pakem yang standard, struktur motif dan pola yang tetap,
memiliki susunan, irama yang telah baku dan sulit untuk dirobah dalam bentuk yang
lain, dan yang terpenting telah diterima eksistensinya tanpa mengalami perubahan lagi.
Contohnya ornamen Majapahit, Pajajaran, Jepara, Bali, Surakarta, Madura, mataram dan
lain-lain. Seni klasik bersifat kedaerahan karenanya masing-masing daerah memiliki
ragam hias klasik dengan corak dan ciri-ciri tersendiri. Contoh: ornament Pajajaran,
ornament Majapahit, ornament Yogyakarta, ornament Pekalongan, ornamen Madura,
ornamen Surakarta, ornamen Cirebon, ornamen Bali, ornament Jepara.
c. Ornamen Tradisional
Yaitu ragam hias yang berkembang ditengah-tengah masyarakat secara turun-temurun,
dan tetap digemari dan dilestarikan sebagai sesuatu yang dapat memberi manfaat
(keindahan) bagi kehidupan, dari masa ke-masa. Ornamen tradisonal mungkin berasal
dari seni klasik atau seni primitif, namun setelah mendapat pengolahan-pengolahan
tertentu, dilestarikan kemanfaatannya demi memenuhi kebutuhan, khususnya dalam hal
kebutuhan estetis. Oleh sebab itu corak seni ornamen tradisional merupakan pembauran
dari seni klasik dan primitif. Hasil atau wujud dari pembauran tersebut tergantung dari
sumber mana yang lebih kuat yang akan memberi kesan/corak yang lebih dominan.
Misalnya motif tradisonal Majapahit, Bali, Jogyakarta, Pekalongan beberapa daerah
lainnya lebih dominan bersumber pada corak motif klasik, sedangkan motif tradisional
Irian jaya, toraja, motif suku dayak dan motif Kalimantan corak primitifnya lebih
menonjol. Ornamen tradisonal bersifat kolektif.
d. Ornamen modern atau Kontemporer
Yaitu karya seni ornamen yang merupakan hasil kreasi atau ciptaan seniman yang baru
dan lepas dari kaidah-kaidah tradisi, klasik atau primitif. Ornamen ini bersifat individu.
Poses dan terciptanya seni ornamen modern terkadang bertolak atau mengambil inspirasi
dari seni primitif atau tradisional atau merupakan hasil inovasi/kreativitas seniman
secara pribadi, sehingga karya yang tercipta merupakan cerminan pribadi senimannya.
Adanya berbagai corak dalam seni ornamen bukan berarti antara corak yang satu dengan
yang lainnya mempunyai nilai estetis atau nilai kegunaan lebih tinggi atau lebih rendah,
karena masing-masing corak memiliki keunggulan karakter, ciri, dan nilai estetika
tersendiri, perbedaan corak tersebut hanya berdasarkan pada periode perkembangan,
tampilan fisik, dan sifat penciptaannya. Sedangkan menyangkut kegunaan dan nilai
estetis pada dasarnya adalah sama. Adanya anggapan bahwa suatu corak lebih baik dari
corak lainnya semata-mata karena selera individu.

6. FUNGSI ORNAMEN
Penciptaan suatu karya biasanya selalu terkait dengan fungsi tertentu, demikian pula
halnya dengan karya seni ornamen yang penciptaannya selalu terkait dengan fungsi atau
kegunaan tertentu pula. Beberapa fungsi ornamen diuraikan sebagai berikut :
a. Sebagai ragam hias murni, maksudnya bentuk-bentuk ragam hias yang dibuat hanya
untuk menghias saja demi keindahan suatu bentuk (benda ) atau bangunan, dimana
ornamen tersebut ditempatkan. Penerapannya biasanya pada alat-alat rumah tangga,
arsitektur, pada pakaian (batik, bordir, kerawang) pada alat transportasi dan sebagainya.
b. Sebagai ragam hias simbolis, maksudnya karya ornamen yang dibuat selain
mempunyai fungsi sebagai penghias suatu benda juga memiliki nilai simbolis tertentu di
dalamnya, menurut norma-norma tertentu (adat, agama, sistem sosial lainnya). Bentuk,
motif dan penempatannya sangat ditentukan oleh norma-norma tersebut terutama norma
agama yang harus ditaati, untuk menghindari timbulnya salah pengertian akan makna
atau nilai simbolis yang terkandung didalamnya, oleh sebab itu pengerjaan suatu
ornamen simbolis hendaknya menepati aturan-aturan yang ditentukan. Contoh ragam
hias ini misalnya motif kaligrafi, motif pohon hayat sebagai lambang kehidupan, motif
burung phonik sebagai lambang keabadian, motif padma, swastika,lamak dan
sebagainya.

7. TEKNIK PENYELESAIAN (FINISHING)


Penyelesaian gambar ornamen bertujuan untuk membuat karya tersebut menjadi lebih
indah, dan gambar yang difinishing akan nempak lebih jelas dan menarik. Beberapa teknik
yang bisa digunakan untuk melakukan finishing adalah sebagai berikut:
a. Teknik hitam-putih yaitu penyelesaian suatu karya ornamen yang hanya memanfaatkan
tinta atau pensil hitam, penyelesaian dengan cara ini dimaksudkan untuk menimbulkan
kesan gelap-terang, penyinaran, kesan jarak, dan kesan volume. Teknik penyelesaian
(finishing) dilakukan dengan sistem :
1) Arsiran (searah, bebas, dusel)
2) Pointilis yaitu penyelesaian dengan menggunakan titik-titik.
3) Sungging atau gradasi yaitu dengan menggunakan tinta china atau tinta bak,
finishing ini dilakukan melalui tahapan-tahapan dari tipis ke tebal atau dari gelap ke
terang sesuai dengan keinginan.
b. Teknik warna yaitu jenis finishing yang mengunakan warna sebagai unsur pokok.
Finishing ini dilakukan dengan sistem :
1) Plakat yaitu menerapkan warna secara plakat (poster) sesuai dengan warna motif
yang diinginkan.
2) Gradasi (warna tersusun) yaitu dengan menerapkan warna secara tersusun baik
dari warna gelap ke warna terang atau sebaliknya.
3) Gelap-terang yaitu menerapkan warna dari warna gelap ke warna terang dengan
menebarkan warna (bukan tersusun).
Untuk mendapat hasil yang maksimal dalam melakukan finishing dengan warna adalah
pengetahuan seseorang tentang teori warna yang menyangkut: jenis warna, teknik
pencampuran warna dan efek yang ditimbulkan, nilai warna, sifat warna, makna warna dan
lain-lain.

EVALUASI
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tepat !
1. Jelaskan pengertian dari ornamen!
2. Jelaskan perbedanaan mendasar antara motif, pola dan ornamen!
3. Jelaskan dan berikan contoh dengan gambar, tiga garis besar struktur ornament dibawah
ini !
a. Garis-garis berkesinambungan dengan segala variasinya
b. Bentuk-bentuk figure yang berkelompok
c. Bentuk hiasan yang menyeluruh dan utuh
4. Sebutkan dan jelaskan 6 motif ornament dalam interior!
5. Jelaskan dan berikan contoh dua fungsi dari ornamen!

KUNCI JAWABAN
1. Jelaskan pengertian dari ornamen!
Ornamen adalah salah satu karya seni dekoratif yang biasanya dimanfaatkan untuk
menambah keindahan suatu benda atau produk, atau merupakan suatu karya seni
dekoratif (seni murni) yang berdiri sendiri, tanpa terkait dengan benda/produk fungsional
sebagai tempatnya.
2. Perbedanaan mendasar antara motif, pola dan ornamen!
a. Motif merupakan pangkal untuk membentuk suatu pola, baik dibentuk dari unsur
garis maupun suatu bentuk figure.
b. Pola adalah motif yang dibuat secara berulang-ulang, jalin-menjalin, selang-seling,
berderet, atau variasi satu motif dengan motif lainnya.
c. Ornamen adalah pola yang diterapkan/dijadikan hiasan pasa suatu benda.
3. Tiga garis besar struktur ornamen dibawah ini!
a. Garis-garis berkesinambungan dengan segala variasinya, yaitu berupa garis-garis
lurus, garis patah, garis lengkung, garis bergelombang, dan juga garis-garis yang
berfungsi sebagai garis batas.

b. Berupa bentuk-bentuk figure yang berkelompok.


Dengan menata figura dengan macam-macam teknik pola . seperti gambar garis T, H,
atau gambar 1 anak tangga.

c. Bentuk hiasan yang menyeluruh dan utuh,


Menutup seluruh wujud dari bentuk yang dikenai, dengan jalinan yang saling
mengikat terpadu, berhubungan antara satu dengan bentuk lainnya, saling berdekatan
secara berulang-ulang. Misalnya : garis putus-putus, garis patah, garis zig-zag, garis
berlika-liku, dan sebagainya.
4. 6 motif ornament dalam interior!
a. Motif Geometris
Disebut motif geometris karena motif ini mengacu pada bentuk ilmu ukur seperti:
garis lurus, garis lengkung, lingkaran, segi tiga, segi empat dsb.
b. Motif tumbuh-tumbuhan.
Penggambaran motif tumbuh-tumbuhan dalam seni ornamen dilakukan dengan
berbagai cara baik natural maupun stilirisasi sesuai dengan keinginan senimannya,
demikian juga dengan jenis tumbuhan yang dijadikan obyek/inspirasi juga berbeda
tergantung dari lingkungan (alam, sosial, dan kepercayaan pada waktu tertentu)
tempat motif tersebut diciptakan.
c. Motif binatang.
Penggambaran binatang dalam ornamen sebagian besar merupakan hasil
gubahan/stilirisasi, jarang berupa binatang secara natural, tapi hasil gubahan tersebut
masih mudah dikenali bentuk dan jenis binatang yang digubah, dalam visualisasinya
bentuk binatang terkadang hanya diambil pada bagian tertentu (tidak sepenuhnya) dan
dikombinasikan dengan motif lain. Jenis binatang yang dijadikan obyek gubahan
antara lain, kucing, burung, singa, ular, kera, gajah dll.
d. Motif manusia.
Manusia sebagai salah satu obyek dalam penciptaan motif ornamen mempunyai
beberapa unsur, baik secara terpisah seperti kedok atau topeng, dan secara utuh
seperti bentuk-bentuk dalam pewayangan.
e. Motif kosmos atau berbentuk alam, seperti gunung, air, awan, batu- batuan dan
lain-lain.
Motif kosmos atau berbentuk alam dalam penciptaannya biasanya digubah
sedemikian rupa sehingga menjadi suatu motif dengan karakter tertentu sesuai dengan
sifat benda yang diekspresikan dengan pertimbangan unsur dan asas estetika.
Misalnya motif bebatuan biasanya ditempatkan pada bagian bawah suatu benda atau
bidang yang akan dihias dengan motif tersebut.
f. Motif Kreasi/ khayalan yaitu bentuk-bentuk ciptaan yang tidak terdapat pada
alam nyata seperti motif makhluk ajaib, raksasa, dewa , pahlawan super dan
lain-lain.
Bentuk ragam hias khayali adalah merupakan hasil daya dan imajinasi manusia atas
persepsinya, motif mengambil sumber ide diluar dunia nyata. Contoh motif ini adalah
: motif ikan duyung, pahlawan super, raksasa, dan motif makhluk-makhluk gaib
lainnya.
5. Dua fungsi dari ornamen!
a. Sebagai ragam hias murni, maksudnya bentuk-bentuk ragam hias yang dibuat
hanya untuk menghias saja demi keindahan suatu bentuk (benda ) atau bangunan,
dimana ornamen tersebut ditempatkan. Penerapannya biasanya pada alat-alat rumah
tangga, arsitektur, pada pakaian (batik, bordir, kerawang) pada alat transportasi dan
sebagainya.
b. Sebagai ragam hias simbolis, maksudnya karya ornamen yang dibuat selain
mempunyai fungsi sebagai penghias suatu benda juga memiliki nilai simbolis tertentu
di dalamnya, menurut norma-norma tertentu (adat, agama, sistem sosial lainnya).
Contoh ragam hias ini misalnya motif kaligrafi, motif pohon hayat sebagai lambang
kehidupan, motif burung phonik sebagai lambang keabadian, motif padma, swastika,
lamak dan sebagainya.

PENUTUP
Dekorasi dan ornament interior, khususnya pada kompenensi Teknik Gambar
Bangunan akan dikuasai dengan lebih baik apabila peserta didik dapat memilih secara tepat
dekorasi dan ornament yang akan diaplikasikan untuk desain interior sesuai dengan fungsi
bangunan itu sendiri baik untuk rumah tinggal, perkantoran atau ruang publik.
Setelah menyelesaikan modul ini anda berhak untuk mengikuti tes praktik uji
kompetensi. Dan jika anda memenuhi syarat lulus yaitu dengan mencapai hasil minimal
rata-rata 75 (tujuhpuluh lima), anda berhak untuk melanjutkan ke modul berikutnya.
Mintalah kepada instruktur anda untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem
penilaian yang dilakukan langsung oleh pihak DuDi (Dunia Usaha dan Dunia Industri) yang
kompeten jika anda telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu.
Apabila anda telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang
berupa nilai dari instruktur dapat dijadikan verifikasi bagi DuDi sebagai standart pemenuhan
kompetensi tertentu. Jika anda telah memenuhi syarat, anda berhak mendapatkan sertifikat
kompetensi yang dikeluarkan oleh DuDi (Dunia Uasah dan Dunia Industri).

G. Rujukan
1) Nanang, Abdullah. 2015. Modul Gambar Interior dan Eksterior Bangunan Gedung.
Kendal: SMKN 2 Kendal

Mengetahui Lintau Buo, Januari 2016


Kepala SMKN 1 Lintau Buo Guru Mata Diklat

Asvetinius, M.Pd Hayatul Anas, S.Pd, Gr


NIP. 19750417 200003 1 002

Anda mungkin juga menyukai