50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan25 halaman

Gravity-Fed Filtering System

1. Gravity-Fed Filtering System menggunakan dua tahap penyaringan, yaitu Saringan Pasir Cepat diikuti Saringan Pasir Lambat, untuk menghasilkan air bersih berkualitas lebih baik. 2. Saringan Pasir Cepat mampu menghasilkan debit air yang lebih besar dibanding Saringan Pasir Lambat, meski kurang efektif menghilangkan bau dan rasa. Penyaringan dilakukan dari bawah ke atas. 3. Saring

Diunggah oleh

Mamat Rohimat
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan25 halaman

Gravity-Fed Filtering System

1. Gravity-Fed Filtering System menggunakan dua tahap penyaringan, yaitu Saringan Pasir Cepat diikuti Saringan Pasir Lambat, untuk menghasilkan air bersih berkualitas lebih baik. 2. Saringan Pasir Cepat mampu menghasilkan debit air yang lebih besar dibanding Saringan Pasir Lambat, meski kurang efektif menghilangkan bau dan rasa. Penyaringan dilakukan dari bawah ke atas. 3. Saring

Diunggah oleh

Mamat Rohimat
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Gravity-Fed Filtering System

Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat(SPC) dan
Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air
disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat(SPC). Air hasil penyaringan tersebut dan
kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali
penyaringan tersebut diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik.
Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat,
dapat digunakan beberapa / multi Saringan Pasir Lambat.

1. Saringan Pasir Cepat (Rapid Sand Filter)

Saringan Pasir Cepat (SPC) atau bahasa kerennya Rapid Sand Filter (RSF)
merupakan saringan air yang dapat menghasilkan debit air hasil penyaringan yang lebih
banyak daripada Saringan Pasir Lambat (SPL). Walaupun demikian saringan ini kurang
efektif untuk mengatasi bau dan rasa yang ada pada air yang disaring. Selain itu karena debit
air yang cepat, lapisan bakteri yang berguna untuk menghilangkan patogen tidak akan
terbentuk sebaik apa yang terjadi di saringan pasir lambat. Sehingga akan membutuhkan
proses disinfeksi kuman yang lebih intensif (Darmasetiawan, 2001).

Secara umum bahan lapisan saringan yang digunakan pada saringan pasir cepat sama
dengan saringan pasir lambat, yakni pasir, kerikil dan batu. Perbedaan yang terlihat jelas
adalah pada arah aliran air ketika penyaringan. Pada saringan pasir lambat arah aliran airnya
dari atas ke bawah, sedangkan pada saringan pasir cepat dari bawah ke atas (up flow). Selain
itu pada saringan pasir cepat umumnya dapat melakukan backwash atau pencucian saringan
tanpa membongkar keseluruhan saringan (Huisman, 1974)
Gambar 2.1 Saringan Pasir Cepat

Kecepatan penyaringan pasir cepat relatif lebih besar pencuciannya menggunakan


back wash, atau air dialirkan dari bawah media ke arah atas, dan memakan waktu 1 sampai 2
hari. Saringan pasir cepat yang digunakan dalam pengolahan air biasanya pada tipe gravitasi
dan umumnya ditempatkan pada kolam dari beton yang terbuka.

Panjang proses penyaringan tergantung kulitas feed water dan jarak proses
penyaringan antara satu hari sampai beberapa hari, pencucian untuk pemisahan flok yang
dikumpulkan diatas dan didalam filter bed. Untuk mencuci filter kran influen ditutup, jika air
yang disaring ke bawah, kran effluent di tutup. Dimulai dengan 0.5 galon/menit-ft2, setelah
kira-kira 1 menit pada surface washing, aliran backwash diawali dengan pembukaan kran
influentwashwater dan pada batas yang diinginkan. Debit backwash 15 – 20 galon/menit-ft2
dan bed expantion 20 – 50 % butiran pasir dibagian bawah, dan ini tergantung pada suhu air
yang digunakan.

II.3 Konsep Saringan Pasir Cepat

Pemurnian air melalui saringan pasir cepat

Prinsip Kerja

Setelah melalui masa pra-penanganan (koagulasi-flokulasi), air tawar mengalir


melalui celah-celah pasir dan kerikil. Dengan ini, kemudian partikel dikeluarkan melalui
proses saringan fisik, dan selanjutnya memasuki tahap pasca penanganan desinfeksi akhir
(klorinasi).

Gambar 2.2 Skema konsep saringan pasir cepat

Saringan pasir cepat merupakan salah satu prosedur pengolahan air yang memiliki
kriteria pencemaran fisik kimia. Adapun output dari saringan cepat ini tidak dapat dijadikan
air minum tanpa langkah-langkah awal penanganan dan langkah-langkah treatment
selanjutnya.

II.4 Kriteria Saringan Pasir Cepat

Berikut kriteria dalam saringan pasir cepat sebagai berikut:

Tabel 2.1 Kriteria Saringan Pasir Cepat

KRITERIA FILTER PASIR CEPAT


Kecepatan Filtrasi 4 -21 m/jam
Ukuran Bed Kecil, 40 – 400 m2
Kedalaman Bed 30 - 45 cm kerikil

60 - 70 cm pasir

Tidak berkurang saat pencucian


Ukuran Pasir Effective size> 0,55 mm

Uniformity coefficent< 1,5


Distribusi Ukuran Media Terstrafikasi
Sistem Underdrain Pipa lateral berlubang yang mengalirkan
air ke pipa utama
Kehilangan Energi 30 cm saat awal, hingga 275 cm saat akhir
Filter Run 12 – 72 Jam

(Jarak Waktu Pencucian)


Metoda Pembersihan Mengangkat kotoran dan pasir ke atas
dengan backwash
Jumlah Air untuk Pembersihan 1 – 6 % dari air tersaring
Pengolahan Pendahuluan Koagulasi – Flokulasi – Sidementasi
Biaya Konstruksi Relatif Tinggi
Biaya Operasi Relatif Tinggi
Biaya Depresiasi Relatif Tinggi

Sumber : Schulz dan Okun (1984)

Filter pasir cepat atau Rapid Sand Filter adalah filter yang mempunyai kecepatan
filtrasi cepat berkisar 4 hingga 21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi –
flokulasidan pengendapan untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada
influen filter pasir cepaat berkisar 5 – 10 NTU maka efesiensi penurunan kekeruhannya dapat
mencapai 90 – 98 %.
Gambar 2.3 Bagian – bagian dari filter pasir cepat

Bagian- bagian dari filter pasir cepat adalah sebagai berikut :


a. Bak Filter
Merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak tergantung
debit pengolahan (minimum dua bak).
b. Media Filter
Merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori – pori di antara butiran
media. Pada pori – pori inilah air mengalir dan terjadi proses penyaringan
c. Sistem Underdrain
Underdrain merupakan sisitem pengaliran air yang telah melewati proses filtrasi
yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri atas :
 Oriffice yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya air dari
media filter ke dalam pipa.
 Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak disepanjanag pipa manifold.
 Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan mengalirkannya
ke bangunan penampung air.

II. 5Jenis Filter Berdasarkan Sistem Operasi Dan Media SPC

1) Jenis Media Filter


a. Single Media : Satu jenis media seperti pasir silica atau dolomite saja.
b. Dual Media : Misalnya digunakan pasir silica dan anthrasit.
c. Multimedia : Misalnya digunakan pasir silica, anthrasit, dan karbon
aktif.
2) Sistem Kontrol Kecepatan
a) Constant Rate : Debit hasil proses filtrasi konstan sampai pada level

tertentu.

b) Declining Rate : Debit hasil proses filtrasi menurun seiring dengan waktu
filtrasi, atau level muka air di atas media filter dirancang pada
nilai yang tetap.
3) Sistem Aliran
a. Aliran Down Flow ( Kebawah )
b. Aliran Up Flow (Ke atas)
c. Aliran Horizontal
4) Kaidah Pengaliran
a. Aliran Secara Gravitasi
b. Aliran Dibawah Tekanan (Pressure Filter)
5) Pretreatment
a. Kogulasi – Flokulasi – Sedimentasi
b. Direct Filtration

II. 6Media Filter dan Distribusi Pasir

Media filter dapat tersusun dari pasir silika alami, anthrasit, atau pasir garnet. Media
ini umumnya memiliki variasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia.

Dibawah ini berbagai macam jenis media penyaring/filter beserta kegunaannya di


dalam sistem pengolahan air.

1. Pasir Silika
Pasir Silika. Media ini berfungsi sebagai penyaring yang efektif untuk menyaring
partikel-partikel kasar seperti endapan pasir, korosi pipa, serta lumpur dalam air
2. Manganese Green Sand
Manganese Green Sand Ex Thailand Terbuat dari glauconite greensand sangat efektif
untuk menghilangkan kandungan besi, mangaan dan hydrogen Sulfida di dalam air
yang melalui proses oksidasi dan proses penyaringan.
3. Karbon Aktif
Karbon Aktif KSH ( lokal ) Dibuat dari tempurung kelapa yang telah diaktifkan untuk
menetralisir rasa, bau dan warna pada air , kandungan klor (kaporit) dan senyawa
kimia lainnya.
4. Karbon Aktif (CALGON) USA
Karbon Aktif CALGON Filtrasorb – 100 Ex. USA. Dibuat dari Batubara yang
diaktifkan yang sangat efektif untuk menetralisir rasa, bau dan warna pada air,
kandungan klor (kaporit) dan senyawa kimia lainnya.
5. Resin Kation
Resin Kation (DOWEX) Dirancang khusus sebagai softener / pelunak air hingga
mampu mengurangi Total Hardeness Water dan dengan system pertukaran ion resin
6. KDF – 55
KDF – 55 Medium Ex – USA Dikenal juga sebagai redox alloy yang sangat efektif
untuk menghilangkan kandungan besi (Fe), Mangaan (Mn) Hydrogen Sulfida, logam
berat dan bakteri di dalam air yang melalui proses oksidasi dan proses penyaringan
7. Anthracite
Anthracite Ex. Thailand .Terbuat dari batubara pilihan yang berfungsi menyaring
endapan lumpur dan sisa – sisa korosi pada air.
8. Ferrolite
Ferrolite TOHKEMY MC – 2 Ex. Japan Media ini sangat efektif untuk
menghilangkan kandungan besi, mangaan dan hydrogen Sulfida, logam berat dan
bakteri di dalam air yang melalui proses oksidasi dan proses penyaringan.
Berikut merupakan gambar contoh material media filter

Gambar 2.4 Gambar contoh material media filter

Dan ini merupakan tabel karakteristik media filter

Tabel 2.2 Karakteristik Media Filter

Pemilihan media filter yang akan digunakan dilakukan dengan menganalisa ayakan
(sieve analysis). Hasil ayakan suatu media filter digambarkan dalam kurva akumulasi
distribusi untuk mencari ukuran efektif (effective size) dan keseragaman media yang
diinginkan (dinyatakan sebagai uniformity coefficient).
Ukuran butiran tanah ditentukan dengan menyaring sejumlah tanah melalui
seperangkat saringan yang disusun dengan lubang yang paling besar berada paling atas dan
makin kebawah makin kecil. Jumlah tanah yang tertahan pada saringan tersebut disebut salah
satu dari ukuran butir contoh tanah itu. Pada kenyataannya pekerjaannya hanya
mengelompokan sebahagian dari tanah terlekat di antara dua ukuran.

Ukuran butir tanah tergantung dari diameter partikel tanah yang membentuk dari
masa tanah itu. Analisis ayakan dari sebuah contoh tanah melibatkan penentuan persentase
berat partikel dalam rentan ukuran yang berbeda. Distribusi ukuran partikel tanah berbutir
kasar dapat ditentukan dengan metode pengayakan (sieving) contoh tersebut dilewatkan
melalui satu set saringan standart yang memiliki lubang makin kecil ukurannya dari atas
kebawah. Berat tanah yang tertahan ditiap saringan ditentukan dan persentase kumulatif dari
berat tanah yang melewati tiap saringan dihitung beratnya. Dan akan memasuki tahap-tahap
berikutnya.

Distribusi ukuran partikel tanah berbutir halus atau fraksi butir halus dari tanah
berbutir kasar dapat ditentukan dengan metode pengendapan (sedimentasi).

Ukuran-ukuran saringan berkisar dari lubang berdiameter 4,750 mm (No.4) sampai


0,075 mm (No.200). semua lubang terbentuk bujur sangkar jadi apa yang disebut sebagai
diameter partikel tanah sebenarnya hanyalah merupakan patokan akademis saja, sebab
kemungkinana lolos nya suatu partikel pada suatu saringan yang berukuran tertentu akan
tergantung pada ukuran dan orentasinya terhadap lubang saringan.

Ukuran saringan berhubungan dengan ukuran lubang dari 4,750 mm – 0,075 mm


maka saringan tersebut dengan nomor-nomor. Berikut merupakan tabel ukuran ayakan
standard.

Tabel 2.3 Ukuran Ayakan Standard

Effective Size (ES) atau ukuran efektif media filter adalah ukuran media filter bagian
atas yang dianggap paling efektif dalam memisahan kotoran yang besarnya 10% dari total
kedalaman lapisan media filter atau 10% dari fraksi berat. Ini sering dinyatakan sebagai d10
(diameter pada persentil 10).

Uniformity Coefficient (UC) atau koefisien keseragaman adalah angka keseragaman


media filter yang dinyatakan dengan perbandingan antara ukuran diameter pada 60% fraksi
berat terhadap ukuran efektif atau dapat ditulis :

UC = d60 /d10
d60 adalah diameter butiran pada persentil 60.

Berdasarkan jenis dan jumlah media yang digunakan dalam penyaringan, media filter
dikategorikan menjadi :

1. Single media
Satu jenis media seperti pasir silika atau dolomite saja. Filter cepat tradisional biasanya
menggunakan pasir kwarsa. Pada sistem ini penyaringan SS terjadi pada lapisan paling
atas sehingga dianggap kurang efektif karena sering dilakukan pencucian.
2. Dual media
Misalnya digunakan pasir silika dan anthrasit. Filter dual media sering digunakan filter
dengan media pasir kwarsa di lapisan bawah dan anthrasit pada lapisan atas.
3. Multi media filter
Terdiri dari anthrasit, pasir dan garnet atau dolomite, fungsi multi media adalah untuk
memfungsikan seluruh lapisan filter agar berperan sebagai penyaring.

Saluran media berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi :

a. Seragam (uniform), ukuran butiran media filter relatif sama dalam satu bak.
b. Gradasi (stratified), ukuran butiran media tidak sama dan tersusun bertingkat.
c. Tercampur (mixed), ukuran butiran media tidak sama dan bercampur.

Kriteria nilai ukuran efektif dan keseragaman media untuk beberapa jenis dan jumlah
media filter dapat dilihat pada tabel 2.2 . bila suatu stok pasir tidak memenuhi kriteria, maka
harus dilakukan pemilihan ukuran hingga memenuhi kriteria tersebut. Perhitungan persentase
pasir yang dapat digunakan, pasir yang terlalu kecil, pasir yang terlalu besar dapat dihitung
sebagai berikut :

 Persentase stok pasir yang dapat digunakan :

P use = 2 (P st60 – P st10)

 Persentase pasir yang terlalu kecil :


Pf = P st10 – 0,1 P use = P st10 – 0,2 (P st60 – P st10)
 Persentase ukuran pasir yang terlalu besar:

Pc = 100 – Pf - P use

KETERANGAN :

 P st10 adalah persentase pasir stok yang memenuhi ES sesuai kriteria yang diminta.
 P st60 adalah persentase pasir stok yang memenuhi ES X UC sesuai kriteria yang
diminta.

Setelah dilakukan pemilihan ukuran butiran pasir stok, maka pasir stok dapat
digunakan sebagai media filter yang memenuhi kriteria.
Tabel 2.4 Kriteria Perencanaan Media Filter untuk Pengolaha Air Minum

II.7 Prinsip Desain

Pada dasarnya, prinsip desain dari rapid sand filter atau saringan pasir cepat ada dua yakni:

a. Saringan pasir cepat terbuka (Gravity filter)

Gambar 2.6 Model saringan pasir cepat terbuka


b. Saringan pasir cepat tertutup (Pressure Filter)

Gambar 2.7 Gambar saringan pasir tertutup

II.8Mekanisme Saringan Pasir Cepat

Media filter yang umum digunakan sebagai filter adalah pasir. Pada filtrasi dengan
media berbutir seperti pasir, terdapat mekanisme filtrasi sebagai berikut :

a. Penyaringan secara mekanis (mechanical straining)


Cara pemisahan dengan cara penyaringan ini dapat dilakukan untuk memisahkan
padatan yang mempunyai ukuran berbeda dan untuk memisahkan padatan dengan
cairan.
Pemilihan ukuran penyaring disesuaikan dengan ukuran zat-zat yang akan
dipisahkan.
b. Sedimentasi

Sistem kerja dari pengolahan air dengan saringan pasir cepat ini adalah dari bak
sedimentasi air dialirkan ke dalam bak aerasi dan filtrasi yang berisi media pasir,
kerikil, arang aktif, zeolit dan ijuk. Kemudian dari bak filtrasi air dialirkan ke dalam
bak penampungan akhir. Penambahan arang aktif pada media filtrasi bertujuan untuk
menurunkan bau kaporit yang ditambahkan pada bak sedimentasi.

Sedangkan pada bak sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan bahan-bahan


padat tersuspensi atau suspended solid dengan menggunakan gaya gravitasi. Endapan
pada sedimentasi secara periodik harus dibuang karena nantinya akan membusuk dan
menimbulkan gas. Flok-flok yang belum mengendap perlu dilakukan penyaringan.
Pada bak sedimentasi ditambahkan kaporit untuk membunuh kuman penyakit, tawas
untuk mempercepat proses pengendapan yaitu lumpur yang kecil-kecil menjadi
kepingan yang lebih besar, serta bubuk batu kapur untuk menetralkan keasaman,
karena air yang telah diberi tawas tadi menimbulkan keasaman sehingga pH tidak
normal.

c. Adsorpsi atau gaya elektrokinetik


Adsorpsi atau penjerapan adalah suatu proses yang terjadi ketika
suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat
penjerap, adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat
terjerap, adsorbat) pada permukaannya..
d. Koagulasi di dalam filter bed
Koagulasi adalah proses perubahan cairan atau larutan menjadi gumpalan-
gumpalan lunak baik secara seluruhan ataupun hanya sebagian. Atau dengan kata lain,
koagulasi adalah proses penggumpalan suatu cairan atau larutan sehingga terbentuk
padatan lunak ataupun keras seperti gel.
e. Aktivitas biologis

Dari mekanisme diatas, digolongkan dalam 3 fenomena proses yakni :

1) Transportasi : meliputi proses gerak brown, sedimentasi, dan gaya tarik partikel
2) Kemampuan menempel : meliputi proses mechanical straining, adsorpsi (fisik –
kimia) dan biologis.
3) Kemampuan menolak : meliputi tumbukan antar partikel dan gaya tolak –
menolak.

Air yang keluar dari penyaringan biasanya sudah jernih dan proses tersebut
merupakan proses akhir dari seluruh proses akhir dari seluruh proses pengolahan dan
penjernihan air.

Agar air yang jernih ini dapat sehat untuk dipakai sebagai air minum, harus
diproses lebih lanjut dengan proses netralisasi dan disenfeksi, agar seluruh kuman-
kuman penyakit yang terkandung di dalamnya dapat dimusnahkan dan tidak dapat
tumbuh kembali.

Gambar 2.8 Unit Filtrasi

Air hasil dari penyaringan harus memenuhi persyaratan fisik dan kimia,
kekeruhan air filtrasi lebih dari 5 NTU.

Proses filter pasir cepat adalah sebagai berikut :


a. Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di media
filter. Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyannga, masuk
lubang/oriface, ke pipa lateral terkumpul didi pipa manifold dan akhirnya air keluar
menuju bak penampung.
Gambar 2.9 Aliran Air Pada Saat Operasi Filter

b. Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori – pori media
sehingga terjadi clogging (penyumbatan) yang akan meningkatkan headloss aliran air di
media
c. Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik kepada media (backwash)
dengan tujuan untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat pori-
pori media filter. Aliran air dari mainfold, ke lateral keluar oriface, naik ke media
hingga media terangkat, dan air di buang melewati gutter yang terletak di atas media.

Gambar 2.10 Aliran Air Pada Saat Pencucian Filter

II. 9Konstruksi, operasi dan perawatan

a. Kegiatan Konstruksi
 Pengawasan dilakukan oleh para engineer kompeten dan ahli serta terampil di
bidangnya masing-masing.
 Banyak kegiatan-kegiatan teknis yang diperlukan didalamnya
 Sebagai bahan perhatian bahwa kegiatan pra dan pasca perawatan dari fasilitas
yang sama membutuhkan langkah-langkah yang kompleks, bahan yang mahal
dan skill pekerja yang terampil.
b. Kegiatan Operasional dan Maintenance
Bersihkan filter bed (backwashing) setiap 24 -72 jam sekali. Hal tersebut
dikarenakan air dan lumpur hasil sisa penyaringan masih mengandung zat-zat yang
merugikan maupun toksik, sehingga membutuhkan penanganan (treatment) khusus.
Gambar 2.11 Skema proses terjadinya backwashing

Gambar 2.12 Kasus lumpur hasil disposal backwashing yang tidak di treatment
terlebih dahulu ketika dibuang ke lingkungan

II.10 Penerapan Saringan Pasir Cepat

Adapun penerapan saringan pasir cepat, sebelumnya diperlukan beberapa prasyarat


agar teknologi tersebut berlangsung dengan baik, diantaranya:

 Ketersediaan fasilitas dan material saat pra dan pasca perawatan (misalnya bahan
kimia untuk koagulasi-flokulasi, klorin, kualitas air uji-kit)
 Pengawasan yang terampil (baik untuk konstruksi dan operasi
 Listrik apabila diperlukan
 Fasilitas pengolahan air backwash dan lumpur yang tersedia

Penerapan saringan pasir cepat pada umumnya sangat ekslusif, yakni diterapkan di
industri-industri karena membutuhkan perlakuan khusus, penggunaan material tertentu
didalam operasionalnya dan lain – lain sehingga cukup mahal. Hal tersebut dikarenakan
karena tanah merupakan komponen yang terbatas dan listrik apabila dibutuhkan. Selain
itu dibutuhkan suku cadang serta tenaga kerja terampil yang tersedia.

II.11 Keuntungan Dan Kerugian

 Keuntungan
a. Sangat efektif didalam menghilangkan kekeruhan / partikel besar (<0,1-1 NTU)
b. Tingkat filter high (4'000 - 12'000 liter per jam per m2)
c. Kebutuhan lahan yang cukup kecil
d. Tidak ada batasan mengenai tingkat kekeruhan awa
e. Waktu membersihkan (backwash) hanya membutuhkan waktu beberapa menit
 Kerugian
a. Tidak efektif dalam menghilangkan bakteri, virus, protozoa, fluoride, arsenik,
garam, bau dan bahan-bahan organik (kecuali sebelum dan sesudah pengolahan.
b. Investasi yang tinggi dan biaya operasional
c. Pembersihan sering diperlukan (setiap 24-72h)
d. Pengawasan terampil yang cukup penting
e. Membutuhkan energi yang besar
f. Pengolahan air backwash dan lumpur yang diperlukan

2. Saringan Pasir Lambat

Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat
konvensional terdiri atas unit proses yakni bangunan penyadap, bak penampung, saringan
pasir lambat dan bak penampung air bersih .

Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu paket. Air baku
yang digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu
tinggi. Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan,
maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi
dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal dengan atau
tanpa koagulasi bahan dengan bahan kimia.

Umumnya disain konstruksi dirancang setelah didapat hasil dari survai lapangan baik
mengenai kuantitas maupun kualitas. Dalam gambar desain telah ditetapkan proses
pengolahan yang dibutuhkan serta tata letak tiap unit yang beroperasi. Kapasitas pengolahan
dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak yang terbuat dari beton,
ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk menampung air dan media penyaring pasir.
Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah, inlet, outlet dan peralatan kontrol.

Untuk sistem saringan pasir lambat konvensional terdapat dua tipe saringan yakni :

 Saringan pasir lambat dengan kontrol pada inlet (Gambar 1).


 Saringan pasir lambat dengan kontrol pada outlet. (Gambar 2).

Kedua sistem saringan pasir lambat tersebut mengunakan sistem penyaringan dari atas ke
bawah (down Flow).

Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan. Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak
yang terbuat dari beton, ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk menampung air dan
media penyaring pasir. Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah, inlet, outlet dan
peralatan kontrol.
Gambar 1 Komponen Dasar Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Inlet

Keterangan :

A. Kran untuk inlet air baku dan pengaturan laju penyaringan


B. Kran untuk penggelontoran air supernatant
C. Indikator laju air
D. Weir inlet
E. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih
F. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor
G. Kran distribusi
H. Kran penguras bak air bersih

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sistem saringan pasir lambat antara lain yakni :

Bagian Inlet

Struktur inlet dibuat sedemikian rupa sehingga air masuk ke dalam saringan tidak
merusak atau mengaduk permukaan media pasir bagian atas. Struktur inlet ini biasanya
berbentuk segi empat dan dapat berfungsi juga untuk mengeringkan air yang berada di atas
media penyaring (pasir).

Lapisan Air di Atas media Penyaring (supernatant)

Tinggi lapisan air yang berada di atas media penyaring (supernatant) dibuat
sedemikian rupa agar dapat menghasilkan tekanan (head) sehingga dapat mendorong air
mengalir melalui unggun pasir. Di samping itu juga berfungsi agar dapat memberikan waktu
tinggal air yang akan diolah di dalam unggun pasir sesuai dengan kriteria disain.
Gambar 2 Komponen Dasa Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Outlet.

Keterangan :

A. Kran untuk inlet air baku


B. Kran untuk penggelontoran air supernatant
C. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih
D. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor
E. Kran pengatur laju penyaringan
F. Indikator laju alir
G. Weir inlet kran distribusi
H. Kran distribusi
I. Kran penguras bak air bersih

Bagian Pengeluaran (Outlet)

Bagian outlet ini selain untuk pengeluran air hasil olahan, berfungsi juga sebagai weir
untuk kontrol tinggi muka air di atas lapisan pasir.

Media Pasir (Unggun Pasir)

Media penyaring dapat dibuat dari segala jenis bahan inert(tidak larut dalam air atau
tidak bereaksi dengan bahan kimia yang ada dalam air). Media penyaring yang umum dipakai
yakni pasir silika karena mudah diperoleh, harganya cukup murah dan tidak mudah pecah.
Diameter pasir yang digunakan harus cukup halus yakni dengan ukuran 0,2-0,4 mm.

Sisten Saluran Bawah (drainage)

Sistem saluran bawah berfungsi untuk mengalirkan air olahan serta sebagai
penyangga media penyaring. Saluran ini tediri dari saluran utama dan saluran cabang, terbuat
dari pipa berlubang yang di atasnya ditutup dengan lapisan kerikil. Lapisan kerikil ini
berfungsi untuk menyangga lapisan pasir agar pasir tidak menutup lubang saluran bawah.

Ruang Pengeluaran

Ruang pengeluran terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan sekat atau
dinding pembatas. Di atas dinding pembatas ini dapat dilengkapi dengan weir agar limpasan
air olahannya sedikit lebih tinggi dari lapisan pasir. Weir ini berfungsi untuk mencegah
timbulnya tekanan di bawah atmosfir dalam lapisan pasir serta untuk menjamin saringan pasir
beroperasi tanpa fluktuasi level pada reservoir. Dengan adanya air bebas yang jatuh melalui
weir, maka konsentrasi oksigen dalam air olahan akan bertambah besar.

Pengolahan air bersih dengan menggunakan sistem saringan pasir lambat konvensional ini
mempunyai keunggulan antara lain :

 Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah.


 Dapat menghilangkan zat besi, mangan, dan warna serta kekeruhan.
 Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik, karena proses penyaringan
berjalan secara fisika dan biokimia.
 Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.

Sedangkan beberapa kelemahan dari sistem saringan pasir lambat konvensiolal tersebut yakni
antara lain :

 Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter menjadi besar,
sehingga sering terjadi kebutuan. Akibatnya waktu pencucian filter menjadi pendek.
 Kecepatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas.
 Pencucian filter dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengeruk lapisan pasir
bagian atas dan dicuci dengan air bersih, dan setelah bersih dimasukkan lagi ke dalam
bak saringan seperti semula.
 Karena tanpa bahan kimia, tidak dapat digunakan untuk menyaring air gambut.

Untuk mengatasi problem sering terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat
kekeruhan air baku yang tinggi, dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan
pasir lambat yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat "UP Flow
(penyaringan dengan aliran dari bawah ke atas).

2.2. Sistem Saringan Pasir Lambat "Up Flow"

Teknologi saringan pasir lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya adalah
saringan pasir lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke bawah (down flow),
sehingga jika kekeruhan air baku naik, terutama pada waktu hujan, maka sering terjadi
penyumbatan pada saringan pasir, sehingga perlu dilakukan pencucian secara manual dengan
cara mengeruk media pasirnya dan dicuci, setelah bersih dipasang lagi seperti semula,
sehingga memerlukan tenaga yang cucup banyak. Ditambah lagi dengan faktor iklim di
Indonesia yakni ada musim hujan air baku yang ada mempunyai kekeruhan yang sangat
tinggi. Hal inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah dibangun
kurang berfungsi dengan baik, terutama pada musim hujan.

Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan,
maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi
dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan
"Up Flow" dengan media berikil atau batu pecah, dan pasir kwarsa / silika. Selanjutnya dari
bak saringan awal, air dialirkan ke bak saringan utama dengan arah aliran dari bawah ke atas
(Up Flow). Air yang keluar dari bak saringan pasir Up Flow tersebut merupakan air olahan
dan di alirkan ke bak penampung air bersih, selanjutnya didistribusikan ke konsumen dengan
cara gravitasi atau dengan memakai pompa.
Diagram proses pengolahan serta contoh rancangan konstruksi saringan pasir lambat Up
Flow ditunjukkan pada Gambar (3).

Gambar (3) : Diagram proses pengolahan air bersih dengan teknologi saringan pasir
lambat "Up Flow" ganda.

Dengan sistem penyaringan dari arah bawah ke atas (Up Flow), jika saringan telah
jenuh atau buntu, dapat dilakukan pencucian balik dengan cara membuka kran penguras.
Dengan adanya pengurasan ini, air bersih yang berada di atas lapisan pasir dapat berfungi
sebagai air pencuci media penyaring (back wash). Dengan demikian pencucian media
penyaring pada saringan pasir lambat Up Flow tersebut dilakukan tanpa pengeluran atau
pengerukan media penyaringnya, dan dapat dilakukan kapan saja.

Saringan pasir lambat "Up Flow" ini mempunyai keunggulan dalam hal pencucian media
saringan (pasir) yang mudah, serta hasilnya sama dengan saringan pasir yang konvesional.

Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.

III. KRITERIA PERENCANAAN SARINGAN PASIR LAMBAT "UP FLOW"

Untuk merancang saringan pasir lambat "Up Flow", beberapa kriteria perencanaan
yang harus dipenuhi antara lain :

 Kekeruhan air baku lebih kecil 10 NTU. Jika lebih besar dari 10 NTU perlu
dilengkapi dengan bak pengendap dengan atau tanpa bahan kimia.
 Kecepatan penyaringan antara 5 - 10 M3/M2/Hari.
 Tinggi Lapisan Pasir 70 - 100 cm.
 Tinggi lapisan kerikil 25 -30 cm.
 Tinggi muka air di atas media pasir 90 - 120 cm.
 Tinggi ruang bebas antara 25- 40 cm.
 Diameter pasir yang digunakan kira-kira 0,2-0,4 mm
 Jumlah bak penyaring minimal dua buah.

Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu paket. Air baku yang
digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu tinggi.

Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan, maka
agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi dengan
peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan "Up Flow"
dengan media berikil atau batu pecah.

Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat Up Flow sama
dengan saringan pasir lambat Up Flow terdiri atas unit proses:

 Bangunan penyadap
 Bak Penampung / bak Penenang
 Saringan Awal dengan sistem "Up Flow"
 Saringan Pasir Lambat Utama "Up Flow"
 Bak Air Bersih
 Perpipaan, kran, sambungan dll.

Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.

IV. PERCONTOHAN

Salah satu rancangan detail konstruksi sistem saringan pasir lampat 繕p Flow" dengan
kapasitas 100 M3 per hari ditunjukkan seperti pada Gambar 4.a s/d gambar 4.c.

4.1. Bahan Yang Digunakan

Bahan yang digunakan untuk pembuatan percontohan unit pengolahan air bersih dengan
proses saringan pasir lambat Up Flow antara lain :

 Bak penenang manupun bak penyaring dibuat dengan konstruksi beton cor.
 Perpipaan menggunakan pipa PVC (poly vinyl chloride) diameter 4".
 Media filter yang digunakan yakni batu pecah (split) ukuran 2-3 cm untuk lapisan
penahan, dan pasir sungai/pasir silika untuk lapisan penyaring.
Gambar 4.a : Rancangan alat pengolah air bersih " Saringan Pasir Lambat Up Flow"
kapasitas 100 M3/hari. Tampak Atas.

Gambar 4.b : Rancangan alat pengolah air bersih " Saringan Pasir Lambat Up Flow"
kapasitas 100 M3/hari. Potongan A -A.

Gambar 4.c : Rancangan " Saringan Pasir Lambat Up Flow" kapasitas 100 M3/hari.
Potongan B-B dan C-C.
4.2. Spesifikasi Teknis Percontohan Unit Saringan Pasir Lambat Up Flow

Salah satu contoh unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat "Up Flow" adalah
unit ala pengolah air yang dibangun di Pesantren La Tansa, Lebak, Jawa barat, dengan
kapasitas 100 M3/hari seperti ditunjukkan pada gambar desain seperti pada Gambar 5.

Gambar 5 : Unit Pengolahan Air Bersih dengan Saringan pasir lambat


dengan arah aliran dari bawah ke atas (Up Flow) yang sedang beroperasi.
Kapasitas 100 M3/hari.
Lokasi : Pesantren La tansa, Lebak, Jawa Barat.

Spesifikasi Alat adalah sebagai berikut :

Kapasitas Pengolahan : 100 m3 / hari


Bangunan Penyadap : Pipa PCV diameter 4" (berlubang)
Bak Penerima / Bak Penenang Awal : 80 cm x 300 cm x 250 cm

Saringan Up Flow Awal : Ukuran 200 cm x 300 cm x 225 cm


Tebal Lapisan Kerikil :
Batu Pecah, ukuran 2-3 cm = 20 cm
Batu Pecah, ukuran 1-2 cm = 10 cm
Pasir = 70 cm
Kecepatan Penyaringan = 16 m3/m2 hari
Bak Penenang kedua : 80 cm x 500 cm x 225 cm (2 buah)

Saringan Pasir Up Flow kedua : 200 cm x 500 cm x 200 cm (2 buah)


Kecepatan Penyaringan : 5 m3/m2 hari
Bak Air Bersih : 200 cm x 580 cm x 200 cm ( + 20 m3)
Tebal Lapisan Kerikil :
Batu Pecah, ukuran 2-3 cm = 20 cm
Batu Pecah, ukuran 1-2 cm = 10 cm
Pasir = 20 cm
Bahan Bangunan : beton semen cor

V. KEUNGGULAN SARINGAN PASIR LAMBAT DENGAN ARAH ALIRAN DARI


BAWAH KE ATAS

Pengolahan air bersih menggunakan sistem saringan pasir lambat dengan arah aliran
dari bawah ke atas mempunyai keuntungan antara lain :

 Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah.


 Dapat menghilangkan zat besi, mangan, dan warna serta kekeruhan.
 Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik, karena proses penyaringan
berjalan secara fisika dan biokimia.
 Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.
 Perawatan mudah karena pencucian media penyaring (pasir) dilakukan dengan cara
membuka kran penguras, sehingga air hasil saringan yang berada di atas lapisan pasir
berfungsi sebagai air pencuci. Dengan demikian pencucian pasir dapat dilakukan
tanpa pengerukan media pasirnya.

VI. HASIL PENGOLAHAN

Berdasarkan hasil uji coba alat pengolah air saringan pasir lambat Up Flow yang telah
dibangun di Pesantren La Tansa, Lebak, Jawa Barat, dengan kapasitas operasi 120 M3/Hari,
didapatkan hasil analisa kualias air sebelum dan sesudah pengolahan seperti pada Tabel (1).

Dari hasil analisa tersebut dapat dilihat bahwa dengan teknologi saringan pasir lambat
tersebut dapat menurunkan zat besi dari 1,16 mg/lt menjadi 0,36 mg/lt. Konsentrasi
ammonium juga turun dari 0,4 mg/lt menjadi tak terdeteksi.

Dari hasil analisa air tersebut secara umum dapat diketahui bahwa hasil air olahan
dengan saringan pasir lambat dengan arah aliran dari bawah ke atas tersebut sudah memenuhi
syarat sebagai air bersih, dan jika direbus sudah dapat digunakan sebagai air minum sesuai
dengan standar kesehatan.

VII. OPERASI DAN PERAWATAN

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal pengoperasian saringan pasir lambat
dengan arah aliran dari atas ke bawah antara lain yakni :

 Kecepatan penyaringan harus diatur sesuai dengan kriteria perencanaan.


 Jika kekeruhan air baku cukup tinggi sebaiknya kecepatan diatur sesuai dengan
kecepatan disain mimimum (5 M3/M2.Hari).
 Pencucian media penyaring (pasir) pada saringan awal (pertama) sebaiknya dilakukan
minimal setelah 1 minggu operasi, sedangkan pencucian pasir pada saringan ke dua
dilakukan minimal setelah 3 - 4 minggu operasi.
 Pencucian media pasir dilakukan dengan cara membuka kran penguras pada tiap-tiap
bak saringan, kemudian lumpur yang ada pada dasar bak dapat dibersihkan dengan
cara mengalirkan air baku sambil dibersihkan dengan sapu sehingga lumpur yang
mengendap dapat dikelurakan. Jika lupur yang ada di dalam lapisan pasir belum
bersih secara sempurna, maka pencucian dapat dilakukan dengan mengalirkan air
baku ke bak saringan pasir tersebut dari bawah ke atas dengan kecepatan yang cukup
besar sampai lapisan pasir terangkat (terfluidisasi), sehingga kotoran yang ada di
dalam lapisan pasir terangkat ke atas. Selanjutnya air yang bercampur lumpur yang
ada di atas lapisan pasir dipompa keluar sampai air yang keluar dari lapisan pasir
cukup bersih.

Gambar 6 : Foto pada waktu pencucian pasir dengan pemompaan.


TUGAS PRAKARYA
GRAVITY-FED FILTERING SYSTEM
D
I
S
U
S
U
N
OLEH

1. CICA AGUSTINA
2. CHINTIA BUNGA L.
3. ALIN DEVIA H.
4. DINDA EMILYA

SMP N 1 SUMBER JAYA

Anda mungkin juga menyukai