0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan17 halaman

Studi Kitab Mazmur: Latar & Pengarang

Paragraf ini membahas latar belakang penyusunan Kitab Mazmur, pengarangnya, dan proses pembentukannya menjadi bagian dari kanon Alkitab Ibrani. Kitab Mazmur terdiri dari kumpulan nyanyian dan doa umat Israel yang kemudian menjadi bagian dari ibadah mereka. Pengarangnya dipercaya berasal dari berbagai tokoh seperti Daud, Bani Korah, dan Asaf, meskipun sulit menentukan siapa saja secara pasti.

Diunggah oleh

Meita Piri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan17 halaman

Studi Kitab Mazmur: Latar & Pengarang

Paragraf ini membahas latar belakang penyusunan Kitab Mazmur, pengarangnya, dan proses pembentukannya menjadi bagian dari kanon Alkitab Ibrani. Kitab Mazmur terdiri dari kumpulan nyanyian dan doa umat Israel yang kemudian menjadi bagian dari ibadah mereka. Pengarangnya dipercaya berasal dari berbagai tokoh seperti Daud, Bani Korah, dan Asaf, meskipun sulit menentukan siapa saja secara pasti.

Diunggah oleh

Meita Piri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PENYELIDIKAN UMUM MAZMUR

2.1 Latar Belakang Kitab Mazmur

Kitab Mazmur merupakan gambaran iman umat Israel akan keagungan karya Allah yang

sungguh nyata dalam pengalaman iman mereka. Mazmur-mazmur mengungkapkan pengalaman

dan pemahaman iman umat Israel yang sangat mendalam serta mengungkapkan hubungan yang

mesra antara umat perjanjian dengan Allahnya. Gambaran iman umat Israel ini dinyatakan lewat

doa yang bernada puitis, dalam lagu-lagu dan ungkapan puji-pujian. Karena itulah maka ada

yang melihat kitab Mazmur sebagai sebuah buku kumpulan lagu-lagu keagamaan umat Israel

berjumlah 150. Kumpulan lagu ini sedikit serupa dengan kumpulan lagu-lagu Gereja yang kita

pakai juga, misalnya ”Yubilate”.1

Bangsa Israel sama seperti bangsa-bangsa yang lain karena dalam menciptakan sajak-

sajak dan lirik dengan bermacam-macam bentuknya hampir sama dengan yang dibuat oleh

bangsa-bangsa lain. Beberapa sajak yang masuk dalam dalam Kitab Suci, seperti nyanyian Musa

(Kel. 15) dan lagu-lagu pujian Yudas dan Simeon (1 Mak. 3:3-9; 14:4-15). Sejak dahulu sudah

ada kumpulan sajak, yang dikenal sekarang ini hanya beberapa kumpulan saja. Seperti Kitab

Peperangan Tuhan (Bil. 21:14), Kitab Orang Jujur (Yos. 10:13; 2 Sam. 1:18). Akan tetapi

kekhasan lirik keagamaan Bangsa Israel adalah Kitab Mazmur.2

Kitab Mazmur merupakan kumpulan lagu-lagu keagamaan yang dipakai umat Israel

sehabis masa pembuangan. Lagu-lagu itu dinyanyikan dalam upacara-upacara ibadat. Ibadat

1
C. Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 14
2
LBI, Kitab Suci Perjanjian Lama (Catatan Pendahuluan Kitab Mazmur), (Ende: Nusa Indah, 1988),
hlm. 905
diselenggarakan dalam bait Allah di Yerusalem berupa korban atau upacara-upacara lain,

maupun dalam rumah-rumah ibadat Yunani (sinagoga) di Palestina dan di luar negeri

(perantauan).3 Dan ibadat yang pada umumnya dilakukan di sinagoga tidak mengenal korban.

Sehingga pola pewartaan yang digunakan adalah “ibadat sabda”.

Isi kitab Mazmur amat bervariasi. Tetapi intinya adalah tanggapan orang-orang beriman

(umat Israel) kepada Tuhannya, baik dalam bentuk nyanyian ataupun doa. Nyanyian-nyanyian

dan doa-doa ini dikumpulkan oleh orang Israel dan dipakai dalam ibadat mereka, lalu akhirnya

dimasukkan ke dalam Alkitab. Sajak-sajak keagamaan ini terbagi dalam berbagai ragam; ada

nyanyian pujian dan ada nyanyian untuk menyembah Tuhan, ada doa mohon pertolongan, doa

mohon perlindungan, doa mohon penyelamatan, doa mohon ampun dan sebagainya. Doa-doa ini

ada yang bersifat pribadi dan ada yang bersifat nasional. Beberapa di antaranya menggambarkan

perasaan seseorang yang paling dalam, sedangkan lainnya menggambarkan kebutuhan dan

perasaan seluruh umat Allah.4

2.2 Nama

Kitab Mazmur dalam Septuaginta (LXX) 5 disebut Psalmoi, dari kata kerja Yunani psallo,

artinya “memetik” atau “mendentingkan”. Awalnya kata ini digunakan untuk permainan alat

musik petik atau alat music itu sendiri. Kata tersebut kemudian menunjuk pada “nyanyian”

(psalmos) atau “kumpulan nyanyian” (psalterion).6 Kata psalmos sebenarnya dipakai untuk

menerjemahkan kata Ibrani Mizmor yang artinya sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan

3
C. Groenen , Op. Cit., hlm. 220
4
Kornelis Usboko, Isi Ringkas Alkitab: Dari Kitab Kejadian Sampai Kitab Wahyu, (Kupang: Lima
Bintang, 2014), hlm. 39-40
5
Etiene Charpentier, Bagaimana Membaca Perjanjian Lama, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), hlm. 130
6
W.S Lasor, D.A Hubbard, F. W Bush, Pengantar Perjanjian Lama II, Sastra dan Nubuat, (Jakarta:
Gunung Mulia, 1996), hlm. 41
iringan music. Tetapi judul Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani adalah Tehillim yang berarti

“puji-pujian” atau “nyanyi-pujian”.7 Sehingga Kitab Mazmur atau psalter merupakan satu

koleksi syair-syair keagamaan yang biasanya digunakan dalam upacara di bait Allah. 8

2.3 Pengarang

Sulit memastikan tentang siapa penulis Kitab Mazmur secara umum. Biasanya pada

bagian-bagian judul dari mazmur sering mencantumkan kata depan Ibrani lamedh (pada

umumnya berarti “dari,” “untuk,” “bagi”) di depan nama orang-orang penting. Dalam hal

tertentu, kata ini berarti kepengarangan (“dari” sebagai penanda hubungan milik subyek), dan

dalam hal-hal lain berarti “untuk digunakan...,” atau “dipersembahkan untuk” dan dalam hal lain

lagi mungkin berarti “milik dari” (bentuk jamak).9

Diakui bahwa penulisan Kitab Mazmur bukan hanya oleh satu orang saja tetapi lebih dari

satu orang. Satu hal yang dapat membantu kita untuk mengetahui tentang siapa penulis-penulis

itu adalah menganalisa atau menyelidiki nama-nama yang terdapat pada bagian kepala mazmur.

Ada 73 Mazmur yang dalam judulnya dipertalikan dengan Daud, 12 mazmur Asaf, 11 mazmur

dengan bani Korah, 2 mazmur dengan Salomo, kemudian Heman, Etan dan Yedutun (Masing-

masing satu)10 dan kadang-kadang ditambahkan berita mengenai keadaan Raja waktu

membawakan Mazmur itu. Hanya dapat dikatakan bahwa Daud memang seorang pesajak yang

suka menciptakan mazmur.

7
Tremper Logman III, Bagaimana Menganalisa Kitab Mazmur?, (Malang: Seminari Alkitab Asia
Tenggara, 1992), hlm. 43
8
Adult Education Centers, A Guide To Reading The Old Testament Part II; The Stage Is Set, (Chicago:
ACTA Publications, 1963), hlm. 7
9
C. Hassel Bullock, Kitab-Kitab Puisi Dalam Perjanjian Lama, (Malang: Gudang Mas, 2013), hlm. 160
10
J. S. Baxter, dalam S. Soedirjo (Penerj.), Menggali Isi Alkitab 2: Ayub s/d Maleakhi, (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 1969), hlm 76-77
Begitu lazimnya Perjanjian Lama membuktikan tentang kebenaran aktivitas Daud di

bidang musik sehingga sulit untuk membantah perannya sebagai penulis mazmur. Daud disebut

pemazmur yang disenangi di Israel (2 Sam. 23:1), pencipta alat-alat musik (Am. 6:5), pengatur

pelayanan musik di Bait Allah (1 Taw. 15:13-24; 16:7; 31; Ezr 3:10; Neh 12:24), dan penulus

berbagai mazmur (2 Sam. 1:19-27; 22:1-51; 23:2-7; 1 Taw 16:8-36). Gambaran yang demikian

tidak dapat diabaikan untuk mengakui bahwa Daud sebagai penulis mazmur. 11 Hanya sebagian

saja yang ditulis oleh Daud. Tetapi tidak mungkin menentukan mana mazmur-mazmur ciptaan

Daud. Selain Daud ada pengarang lain misalnya, Bani Korah (kelompok penyanyi), asaf

(penyanyi) dan lain-lain.12 Walau demikian, sangatlah tepat untuk dikatakan bahwa Daud adalah

pemrakarsa mazmur sebagai bentuk kesusastraan dan pengatur liturgi bangsa Israel. Dalam arti

inilah Daud disebut sebagai pengarang. 13

2.4 Sumber Naskah

Untuk menjadi Kitab Mazmur sebagaimana yang dimiliki sekarang ini, awalnya

merupakan doa-doa dalam teks-teks yang terlepas dan bersifat partikel. Pada abad X sudah ada

”Masoretik Teks” (Textus Masoreticus)14 yang menjadi standar yang kita miliki sekarang ini.

Keunggulan yang dimiliki oleh Masoretik Teks ini yaitu setia pada teks-teks yang

mendahuluinya, selain itu memiliki integritas dasar yang sama dan kuat, meski ada sedikit

kekurangan. Kekurangannya yaitu bila digunakan dari Kitab Samuel, misalnya ada kata atau

11
C. Hassel Bullock, Op. Cit., hlm. 160.
12
C. Groenen, Op. Cit., hlm. 221-222
13
Herman Hendriks, Keadilan Sosial Dalam Kitab Suci, Terjemahan oleh Rafael Maran dan Martin
Harun, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 80
14
Textus Masoreticus (= TM), artinya naskah tradisional atau naskah dari para penerus. Sebelum adanya
percetakan, semua naskah ditulis dan diteruskan dengan tangan. Ini merupakan pekerjaan yang sangat berat karena
kekhilafan dan kesalahpahaman dalam mengerti naskah-naskah yang sudah rusak pasti terjadi.
frase yang mengalami kerusakan (Mzm. 40:14-18 dalam 2 Sam. 70:2-5; Mzm. 18 dalam 2 Sam.

22). Ada kata yang telah mengalami kerusakan dalam transmisinya.15

2.5 Kitab Mazmur dan Kanon

Kata Yunani kanon aslinya berarti gelagah. Kata ini dipakai dengan dua makna lagi,

yaitu sebagaimana lambat laun diterapkan sebagai ukuran yaitu mengukur kitab-kitab mana yang

akan menjadi Kitab Sucinya. Kitab Suci itu sendiri ditemukan dalam daftar tersebut menjadi

“Kanon” dan “ukuran” juga. Kata “Kanon” menurunkan kata “Kanonik” yang sama arti dengan

kitab yang tercantum dalam katalog, kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Kata

“Kanon” satu arti dengan daftar atau katalog buku-buku yang diinspirasi oleh Roh Kudus.16

2.5.1 Dalam Sejarah Kanon Yahudi

Tidak diketahui secara pasti tentang kapan atau waktu penulisan Kitab Mazmur tetapi

dipercaya ada mazmur-mazmur yang sangat tua seperti (Mzm 24:7-10; 68; 29; 76; 89) dan ada

yang termudah yang diciptakan pada masa sesudah pembuangan seperti Mazmur 126.17 Menurut

tradisi judul, ada mazmur yang sejaman dengan Musa yakni Mamzur 90. Di samping itu ada juga

mazmur yang merefleksikan situasi setelah masa pembuangan yakni Mazmur 126:1-2: “Ketika

Tuhan memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu

itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai”. Antara zaman Musa dan

masa sesudah pembuangan terbentang waktu pemisah kurang lebih seribu tahun. Zaman Musa

dan Masa setelah pembuangan itulah yang kita mengerti bahwa ada mazmur yang lebih tua dan

ada mazmur yang lebih muda. Dalam tradisi Yahudi, Kitab Mazmur digolongkan ke dalam

15
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Kitab Mazmur 1-72 “Pembimbing dan Tafsirannya”,
(Jakarta: Gunung Mulia, 2010), hlm. 77
16
Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 150
17
C. Groenen, Op. Cit., hlm. 168
kelompok tulisan-tulisan dan dalam kodeks-kodeks yang terkenal, mazmur selalu menempati

urutan pertama. 18

Dalam kanon Yahudi, pada bagian pertama berisikan kelima Kitab Taurat Musa, bagian

kedua berisikan kitab-kitab para nabi dan bagian ketiga berisikan Kitab Mazmur yang

digolongkan dalam tulisan-tulisan. Tentang waktu pengumpulan Kitab Mazmur ini, ada ahli

yang memperkirakan bahwa hal ini terjadi pada zaman Yudas Makabe atau pada zaman

kemudian. Ada pula ahli yang berpendapat bahwa setelah tulisan-tulisan dikanonisasikan pada

tahun 90 M, saat kanon Yahudi ditutup.19 Dengan demikian Kitab Mazmur dikanonisasi sekitar

tahun 80-90 M atau sebelumnya.

2.5.2 Dalam Sejarah Kanon Kristen

Nama-nama Kitab Suci Perjanjian Lama tidak disebutkan dalam Kitab Suci Perjanjian

Baru. Namun tidak dapat disangkal bahwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru terdapat banyak

kutipan dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Secara khusus, dari Perjanjian Lama, Kitab Mazmur

termasuk yang paling banyak dikutip oleh pengarang-pengarang Perjanjian Baru, baik secara

langsung maupun tidak. Paling tidak ada sekitar 360 kutipan Perjanjian Lama. Sejumlah 112

kutipan diambil dari Kitab Mazmur. Kutipan-kutipan yang paling banyak terdapat dalam surat-

surat St. Paulus, surat kepada orang Ibrani, keempat Injil, Kisah Para Rasul dan Wahyu. Dalam

surat-surat St. Paulus, kutipan-kutipan itu diambil untuk menjelaskan berbagai aspek dari

kehidupan Kristen, sedangkan dalam surat kepada orang Ibrani, keempat Injil, Kisah Para Rasul

dan Wahyu kutipan-kutipan tersebut dipakai untuk menerangkan misteri Kristus. 20

18
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 20
19
C. Groenen, Op. Cit., hlm 199
20
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 21
Kepada jemaat-jemaat di Efesus dan Kolose, St. Paulus mengajar mereka bukan hanya

mengucap syukur kepada Allah dengan menyanyikan Mazmur (Ef. 5:19; Kol. 3:16), tapi juga

supaya “berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian

rohani” (Ef. 5:19). Kata-kata mazmur dapat meneguhkan iman dan memberi pengajaran.

2.6 Mazmur Sebagai Puisi Ibrani

Puisi adalah sastra karangan terikat (terbentuk sajak, pantun, dan syair). 21 Puisi

merupakan fenomena bahasa di mana bahasa bukan hanya sarana pengungkapan tetapi juga isi

pengungkapan. Seorang pengarang puisi berusaha untuk mengungkapkan isi hati, pengalaman,

dan pengetahuannya dengan irama bahasa dan pola yang indah. Di sini penyair menunjukkan apa

yang ia katakan sedemikian rupa sehingga pada waktu yang sama ia menyampaikan apa yang

tidak dikatakannya.22

Kitab Mazmur merupakan kumpulan puisi-puisi. Pengarangnya banyak karena itu

tidaklah heran kalau mutu puisi-puisinya berbeda-beda: ada yang tinggi, ada yang sedang, dan

ada pula yang rendah. Irama puisi-puisi Ibrani itu terdiri dari baris-baris. Setiap ayat puisi pada

umumnya terdiri dari dua baris (bikolase), tetapi kadang-kadang juga tiga baris (trikolase). Bila

dalam satu ayat ditemukan empat baris, maka sebenarnya ayat itu terdiri dari dua baris (bikolase)

atau bisa tiga baris (trikolase) serta baris terakhir membentuk bikolase dengan baris pertama dari

ayat yang berikut.23

Dalam puisi Ibrani juga dikenal dua macam irama, yakni irama tekanan suku kata dan

irama arti. Dalam menentukan bentuk irama tekanan suku kata terdapat banyak persoalan

21
Dendy Sugono dkk, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,
2008), hlm. 1223
22
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 41
23
Ibid., hlm. 42
terutama dalam Kitab Mazmur karena tidak diketahui lagi ucapan asli kata-kata Ibraninya dan

juga teks Ibrani yang dimiliki sekarang banyak yang rusak. Yang penting dalam usaha mengerti

mazmur ialah mengenal irama artinya. Yang dimaksud dengan irama arti ialah kesejajaran atau

perimbangan gagasan atau pikiran antar-baris atau yang biasanya lebih dikenal dengan

paralelisme. Paralelisme itu tampak dalam empat macam bentuk.

1. Paralelisme yang sinonim (= searti), artinya gagasan dalam barisan pertama (disebut

pula kolom a) diperdalam dalam baris kedua (disebut pula kolom b) dengan kata-kata

lain. Misalnya dalam Mazmur 2:3 dan 114:4.

2. Paralelisme yang antithesis, artinya baris kedua menegaskan gagasan dari baris

pertama dari sudut yang berlawanan seperti yang ada pada Mazmur 20:9 dan 37:22.

3. Paralelisme yang sintesis, artinya baris kedua melanjutkan atau melengkapi gagasan

dalam baris pertama seperti dalam Mazmur 2:6 dan 126:1.

4. Paralelisme perbandingan, artinya baris yang satu memperjelas gagasan dalam

barisan yang lain melalui suatu perbandingan seperti dalam Mazmur 42:2. 24

Ada hal yang perlu diketahui bahwa Kitab Mazmur sebagai puisi Israel di sini tidak bisa

disejajarkan dengan puisi Israel yang profan, karena mazmur-mazmur itu telah dikomposisikan

secara mengganggukan dalam suatu tataran nilai seni yang sangat tinggi untuk tujuan

keagamaan. Puisi ini digunakan untuk memuji Tuhan.25

2.7 Kesimpulan Mengenai Puisi Dalam Mazmur

Kesadaran tentang mazmur sebagai puisi sangat penting bagi pengertian dan penghayatan

mazmur. Hal ini penting karena Mazmur kita gunakan sebagai bahan doa. Mengenai puisi Ibrani

24
Ibid., hlm. 43-44
25
Ibid.
(dan semit26 pada umumnya) unsur yang paling menonjol karena kekhasannya ialah irama arti.

Pengetahuan dan pengertian mengenai hal ini penting, bahkan bagi banyak orang yang tidak

membaca mazmur dalam bahasa aslinya. Kadang-kadang arti naskah Ibrani, suatu ayat atau larik

tidak jelas atau sulit sekali diterjemahkan. Hanya suatu kepekaan akan fenomena paralelisme

dapat memudahkan seseorang untuk memecahkan kesulitan tersebut. Di samping itu kita perlu

menilai paralisme itu sebagai ungkapan pikiran dan perasaan manusia. Paralelisme itu

menunjukkan bahwa Ibrani tidak puas mengatakannya hanya satu kali. Mereka mengulang dan

memperdalam hal itu dengan kata-kata lain atau dari sudut pandang yang berlainan. Dengan

mengulang orang memperdalam penglihatannya. Tetapi perulangan itu sekaligus memberikan

irama. Karena itu paralelisme dapat dibandingkan dengan pernafasan manusia yang terdiri dari

menarik dan menghembuskan nafas. Keduanya merupakan satu kesatuan dan mempunyai

irama.27

2.7 Pengelompokan dan Susunan Kitab Mazmur

Kitab Mazmur tidak dikarang oleh satu orang saja, dan proses terjadinya pun panjang dan

rumit. Hampir tidak mungkin mengikuti seluruh proses terjadinya itu dengan pasti, namun suatu

garis besar dapat diberikan di sini.

Hal yang pertama tampak ialah bahwa kitab ini terbagi atas lima jilid atau buku, yaitu:

Mazmur 1-41 (Jilid I), Mazmur 42-72 (jilid II), Mazmur 73-89 (jilid III), Mazmur 90-106 (Jilid

IV), Mazmur 107-150 (jilid V). Apa dasar pembagian dalam lima jilid ini? Apa tujuannya?

Apakah ada prinsip kesatuan dalam masing-masing jilid? Pertanyaan-pertanyaan ini kita ajukan

26
Semit adalah kata-kata atau ungkapan Ibrani atau Aram yang telah mempengaruhi bahasa Yunani PB dan
yang mencerminkan bahasa Aram dari Yesus dan orang-orang Kristen pertama, seperti Abba (Bapa, Mrk. 14:36);
dan Maranata, Datanglah Engkau Tuhan (1 Kor. 16:22)
27
Ibid., hlm. 48-50
untuk mengerti kitab ini dengan lebih baik. Ada kenyataan literer yang dapat membantu kita

dalam memahami prinsip pembagian ini.28

Setiap jilid diakhiri dengan suatu doksologi yang terdapat pada 41:14; 72:18-19; 89:53;

106:48 dan dalam seluruh Mazmur 150. Doksologi dalam jilid V berbeda sifatnya dengan

doksologi-doksologi yang lain. Ia disebut sebagai doksologi agung. Dikatakan doksologi agung

karena pertama, secara kuantitatif meliputi lima bab besar (146-150) untuk berdoksologi dan

menutup keseluruhan Mazmur. Kedua, secara kuantitatif lebih banyak pujiannya dan secara

kualitatif pujiannya lebih mendalam. Ketiga, pergerakannya dari pujian biasa (terdapat dalam 4

bagian terdahulu) menuju pujian luar biasa, pujian agung (dalam lima bab terakhir). Suatu

pergerakan dari ratapan menuju pujian.29 Himne, Doksologi, Amen, Pujian, yang terdapat pada

setiap akhir dari setiap kelompok mazmur ini sebenarnya hanyalah rekayasa untuk dijadikan

sebagai pembatas. Aslinya tidak ada.30

Namun doksologi mau menegaskan hakekat dari mazmur itu sendiri. Mazmur adalah

sebuah nyanyian pujian kepada Allah pencipta. Walaupun ia termasuk kelompok mazmur

keluhan atau ratapan tetapi akhirnya selalu ada ucapan syukur dan pujian karena Allah

mendengarkan keluhan atau ratapan umat-Nya, misalnya Mazmur 41. Mazmur 41 ialah sebuah

mazmur keluhan tetapi pada ayat terakhir ada pujian kepada Allah: “Terpujialah Tuhan, Allah

Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Amin, ya amin”. Kitab Mazmur

merupakan bunga rampai dari kumpulan-kumpulan kecil yang akhirnya dibagi dalam lima buku

28
Tremper Logman III, Op. Cit., hlm. 33
29
C. Hassel Bullock, Op. Cit., hlm. 158
30
Ibid.
atau lima jilid, mungkin meniru kelima buku Pentateukh sebagaimana terdapat dalam tradisi

Yahudi.31

Hal ini dipengaruhi oleh spiritualitas Pentateukh yang menjiwai keseluruhan tatanan

Perjanjian Lama termasuk Kitab Mazmur yang menunjukkan spiritualitas dan keberadaan

Pentateukh sebagai dasar keberadaan bangsa Israel dalam hubungan dengan Allah.

Ke 150 mazmur ini sebenarnya pada paruh pertama (1-75) bernada ratapan. Artinya

sedih, menangis, meratapi hidup ini, sedangkan pada paruh kedua sifatnya lebih hymne atau

pujian. Ada satu hal istimewa yang dapat dilihat di sini yaitu bahwa ada peralihan dari ratapan ke

pujian. Hakekat dari mazmur yaitu mengajak manusia untuk memuji Tuhan selalu baik dalam

duka mau pun suka.32 Mazmur membuat orang bergembira.

2.8 Jenis-Jenis Mazmur

Di dalam mazmur-mazmur terkadang berbagai ungkapan perasaan atau emosi dan

pemikiran pemazmur dalam hubungannya dengan Allah. Para pemazmur senantiasa

mengungkapkan imannya dalam suatu reaksi kejiwaan ketika berhadapan dengan Allah, yaitu

memuji, mengeluh dan bersyukur. Reaksi-reaksi kejiwaan ini turut membentuk genre atau

bentuk sastra dari mazmur-mazmur. Dan dari genre-genre inilah kita bisa mengetahui

pengelompokan mazmur-mazmur ke dalam beberapa jenis yang mengungkapkan seluruh jiwa,

perasaan dan semangat orang-orang Israel dalam hubungannya dengan Yahweh. 33

31
Raymond E. Brown (ed.), The New Jerome Bible Handbook, (London: Geofrey Chapman, 1992),
hlm.172
32
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Tafsiran Alkitab: Pembimbing ke Mazmur Jilid I, (Jakarta:
Gunung Mulia, 1984), hlm. 28
33
Raymond E. Brown (ed.), Op. Cit.,, hlm.525-526
2.8.1 Mazmur Pujian

Mazmur ini berhubungan dengan puji-pujian kepada Tuhan karena karya-karya-Nya yang

menakjubkan dalam penciptaan dan sejarah. Biasanya Mazmur ini dibuka dengan suatu ajakan

untuk memuji Tuhan. Ajakan ini biasanya sesuai dengan isi Doa yang menyusul, Misalnya:

”Pujilah nama Tuhan, Pujilah hai hamba Tuhan” (Mzm. 135:1). Mazmur ini berstruktur

pembukaan yang memuat seruan untuk memuji Tuhan serta alasan kita memuji Tuhan, Batang

tubuh berbicara tentang sebab-sebab dasar atau sebab-sebab terinci kita memuji Tuhan, lalu

diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengulang kembali bahasa dan pikiran yang ada dalam

pembukaan.34

Kalau dilihat dari tema permenungannya, jenis ini dapat dibagi menjadi dua macam:

nyanyian-nyanyian Sion dan mazmur-mazmur Raja. Nyanyian-nyanyian Sion (mis. Mzm. 46; 48;

76; 87) dengan nada eskatologis meluhurkan Kota Suci, karena di situlah Allah Yang Maha

Tinggi hadir dan ke situlah para peziarah mengarahkan diri (Mazmur 84; 121; 122; 125; 126).

Mazmur-mazmur raja mengagumkan Yahweh (Tuhan) sebagai raja semesta alam (Mzm. 47; 93;

96-98). 35

Mazmur ini memiliki struktur antara lain; pertama, Pembuka yang memuat ajakan

Pemazmur untuk memuji Tuhan. Ajakan ini ditunjukkan kepada semua bangsa (Mzm. 66: 1;

100:1; 117: 1), kepada diri sendiri (Mzm. 146:1), kepada penghuni surga (Mzm. 29:10), dan

kepada semesta alam dan makhluk yang bernafas (Mzm. 148; 150:6). 36 Kedua, Motif Pujian

yang merupakan unsur pokok dalam pujian. Motif ini menjelaskan tentang sebab-sebab dasar

kita memuji Tuhan. Allah patut dipuji karena karya-karya-Nya dalam alam, khususnya karya
34
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 52
35
Ibid. hlm. 54
36
Mikhael Valens Boy, Eksegese Mazmur, (diktat), (Kupang: FF-UNIKA Widya Mandira, 2007), hlm. 4
penciptaan-Nya dan karya yang dilakukan-Nya dalam sejarah keselamatan. Ketiga, Kesimpulan

yang mengulang kembali bahasa dan pikiran yang ada dalam pembukaan. Bagian ini berupa

undangan kembali untuk memuji Tuhan (Mazmur 104:35; 135:19-21; 136:26), pengharapan

supaya Tuhan tetap dipuji (Mazmur 104:31-32; 145:21).37

Umat Israel sangat kagum akan kebesaran Allah sehingga mereka senantiasa terbuka dan

mengungkapkan rasa kagum itu dalam bentuk pujian hingga pada akhirnya mereka semakin

dekat dan mengagumi Allah sebagai Pencipta dan Penyelamat.38

2.8.2 Mazmur Ratapan

Latar belakang terbentuknya Mazmur ini adalah keadaan penderitaan yang disebabkan

oleh bencana alam, hama belalang, perang, kelaparan, dan bahaya maut yang dihadapi oleh

bangsa Israel. Reaksi bangsa Israel terhadap kejadian ini adalah mengeluh secara spontan di

hadapan Allah. Ada semacam gugatan terhadap Allah. Permintaan yang mengarah kepada

jawaban [Link] Mazmur ini merupakan kelompok yang banyak. Kurang lebih 40 Mazmur

yang terdiri dari ratapan pribadi dan selusin ratapan Nasional. Struktur Mazmur ini terdiri dari

beberapa bagian: 1) Seruan akan nama Allah, 2) Seruan yang menggambarkan kebutuhan

seseorang, 3) Doa minta pertolongan dari Tuhan, “dengarkan kami”, 4) Mengemukakan dasar,

mengapa Allah perlu menolong, 5) Janji pemazmur (pendoa) untuk memuji dan

mempersembahkan korban ketika permohonan didengarkan, 6) Ucapan syukur kepada

Tuhan.39

37
Ibid. hlm. 5
38
Wim Van Der Weiden, Mazmur Dalam Ibadat Harian, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 54
39
Rm. Mikhael Valens Boy, Pr, Op. Cit.,. hlm 21
2.8.3 Mazmur Kerajaan

Mazmur ini dapat dibedakan dari mazmur pujian oleh tema dan konteksnya. Mirip

dengan pentakhtaan Tuhan sebagai raja. Mazmur ini sifatnya mesianis. Raja selalu ditempatkan

sebagai pusat perhatian (Mzm. 2, 21, 45, 110). Raja sebagai pembicara (Mzm. 18 dan 101).

Tuhan yang bertahta dalam kebesaran-Nya sebagai raja. “Tuhan itu raja, raja itu Tuhan” (Yes.

24:23; 52:7). Mazmur ini juga berbicara tentang janji yang bersifat dinastik kepada Daud

(Mazmur 2, 18, 20, 21, 45, 72, 89, 110, 123, 141:1-11).40

2.8.4 Mazmur Sion

Mazmur ini merupakan salah satu mazmur pujian dengan tema yang khas yaitu Kota

Suci, Gunung Allah, Bukit Kenisah (Mazmur, 46, 48, 76, 87, 122). Mazmur ini mengembangkan

tema kehadiran Tuhan. Ada rumusan yang khas yaitu Tuhan melindungi Sion dari serangan

musuh. Dengan demikian Sion bebas dan terlindung dari musuh-musuhnya oleh karena Allah

sendirilah yang menjadi bentengnya. 41

2.8.5 Mazmur Kebijaksanaan

Mazmur ini jiwanya spesialis. Berkaitan erat dengan literatur kebijaksanaan dan bernada

meditatif, dan didaktif. Merenungkan manusia dalam aspek etis dan religius (Mazmur 1, 34, 37,

49, 73, 91, 112, 127, 128, 133, 119). Sifat lain dari mazmur ini adalah memeditasikan sejarah,

(Mzm. 72, 78, 105, 107). Mazmur ini memiliki tanda pengenal formal dengan kata,

“Berbahagialah dia yang kesukaannya hanya ingin berada dekat Bait Allah” (Mzm. 1, 37, 127,

128). Disebut juga mazmur kepercayaan bila lebih menekankan unsur kepercayaan (Mazmur

40
Ibid. hlm. 26
41
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 57
3:5-7; 5:12; 28:7; 44:7-8), dan juga dapat disebut sebagai mazmur ucapan syukur yang lebih

menekankan ucapan syukur (Mazmur 16,23, 115, 125, 129).42

2.8.6 Mazmur Pentakhtaan Tuhan

Mazmur ini menyanyikan Tuhan yahng bertakhta di dalam segala kebesaran-Nya sebagai

raja. Dirayakan di dalam kegiatan liturgis. Biasanya mazmur ini diseruhkan kepada Tuhan,

Yahwe Raja, Yahwe Adonai, Yahwe El Sedar, Yahwe Melkisedek (Mazmur 8, 15, 24, 29, 33,

46, 48, 50, 66, 75, 76, 81, 84, 95, 100, 114, 118, 132, 149).43

2.8.7 Mazmur Doa Permohonan

Jenis mazmur ini hampir sama dengan mazmur ratapan/lamentasi. Keduanya mempunyai

latar belakang yang sama. Dalam ratapan ada elemen permohonan (Mzm. 22,52,57) tetapi ada

mazmur yang nampaknya ratapan tetapi didominasi oleh doa permohonan, bahkan ada yang

berisi permohonan semata. Inilah yang disebut mazmur permohonan. Mazmur ini dibagi atas dua

yaitu permohonan kolektif karena bencana alam kemalangan nasional (bdk. Mazmur

44,74,79,80,83) dan permohonan individual karena penyakit, penidasan dan dikejar musuh

(Mazmur 3, 4, 7, 17, 27).44

Mazmur permohonan ini memiliki struktur pendahuluan dan tubuh/badaan. Di dalam

pendahuluan Allah disapa dengan gelar-gelar-Nya. Biasanya ”Engkaulah Allah...” dan di dalam

tubuh, sering berbicara tentang motivasi retoris yang bernada konsultatif kepada Tuhan,

42
Ibid. hlm. 68-69
43
Ibid. hlm. 54
44
Ibid. hlm. 59
kemudian dapat mengawinkan kemalangan sesungguhnya dengan tanggung jawab Tuhan. Dan

akhirnya diikuti dengan motivasi permohonan yang antusias. 45

2.8.8 Mazmur Liturgis

Mazmur ini bersifat seremonial dan ritual yang terjadi di pintu kenisah (Mzm. 15, 24,

118). Mazmur ini lebih merupakan dialog, yaitu ada pertanyaan dan jawaban. Mazmur ini

mengidentifikasikan adanya dialog antara peziarah yang bertanya tentang syarat masuk dalam

bait Allah, dan para ahli Taurat. Dialog ini terjadi di pintu gerbang bait Allah ketika para

peziarah datang beribadah kepada Allah di bait Allah.46

2.8.9 Mazmur Kepercayaan

Mazmur kepercayaan mengungkapkan iman kepercayaan Pemazmur kepada Allah. Allah

bagi Pemazmur adalah terbaik, benteng perlindungan dan kubu pertahanan. Pemazmur

mengungkapkan imannya tentang Allah yang selalu melindungi dan menyelamatkan Pemazmur

dari serangan musuh dan lawan. Allah senantiasa menuntun dan membimbing Pemazmur pada

jalan yang benar dan selamat. Para penyair senantiasa mengungkapkan pengalaman pribadi akan

kasih Allah dan kesetiaan Tuhan. Pengalaman tersebut mempengaruhi kehidupan mereka sampai

akhir hidupnya senantiasa diwarnai oleh kepercayaan kepada Tuhan dan penyerahan kepada-

Nya.47

Mazmur ini didominasi oleh terang dalam Tuhan. Pelabuhannya adalah Tuhan. Rumusan

ideologinya adalah: Hanya di dalam Tuhan jiwaku tenang. Tuhan menjadi tempat perlindungan

yang aman (Mazmur 4, 11, 16, 23, 27, 62, 131).

45
Ibid. hlm. 60
46
Mikhael Valens Boy, Op. Cit., hlm. 27
47
Ibid. hlm. 28
2.8.10 Mazmur Ekaristi 48

Mazmur ini mengkombinasikan pujian dan ucapan syukur. Ciri khas dari mazmur ini

adalah nadanya selalu menyambung dan isinya menaikkan orang/meninggikan orang. Semua

orang diundang untuk bergerak ke atas (Mazmur 22, 103).49

48
Mazmur Ekaristi dalam Kitab Mazmur sering disebut juga dengan Ucapan Syukur oleh karena itu
mazmur ini pula punya kaitan dengan mazmur pujian.
49
Ibid.

Anda mungkin juga menyukai