Studi Kitab Mazmur: Latar & Pengarang
Studi Kitab Mazmur: Latar & Pengarang
Kitab Mazmur merupakan gambaran iman umat Israel akan keagungan karya Allah yang
dan pemahaman iman umat Israel yang sangat mendalam serta mengungkapkan hubungan yang
mesra antara umat perjanjian dengan Allahnya. Gambaran iman umat Israel ini dinyatakan lewat
doa yang bernada puitis, dalam lagu-lagu dan ungkapan puji-pujian. Karena itulah maka ada
yang melihat kitab Mazmur sebagai sebuah buku kumpulan lagu-lagu keagamaan umat Israel
berjumlah 150. Kumpulan lagu ini sedikit serupa dengan kumpulan lagu-lagu Gereja yang kita
Bangsa Israel sama seperti bangsa-bangsa yang lain karena dalam menciptakan sajak-
sajak dan lirik dengan bermacam-macam bentuknya hampir sama dengan yang dibuat oleh
bangsa-bangsa lain. Beberapa sajak yang masuk dalam dalam Kitab Suci, seperti nyanyian Musa
(Kel. 15) dan lagu-lagu pujian Yudas dan Simeon (1 Mak. 3:3-9; 14:4-15). Sejak dahulu sudah
ada kumpulan sajak, yang dikenal sekarang ini hanya beberapa kumpulan saja. Seperti Kitab
Peperangan Tuhan (Bil. 21:14), Kitab Orang Jujur (Yos. 10:13; 2 Sam. 1:18). Akan tetapi
Kitab Mazmur merupakan kumpulan lagu-lagu keagamaan yang dipakai umat Israel
sehabis masa pembuangan. Lagu-lagu itu dinyanyikan dalam upacara-upacara ibadat. Ibadat
1
C. Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 14
2
LBI, Kitab Suci Perjanjian Lama (Catatan Pendahuluan Kitab Mazmur), (Ende: Nusa Indah, 1988),
hlm. 905
diselenggarakan dalam bait Allah di Yerusalem berupa korban atau upacara-upacara lain,
maupun dalam rumah-rumah ibadat Yunani (sinagoga) di Palestina dan di luar negeri
(perantauan).3 Dan ibadat yang pada umumnya dilakukan di sinagoga tidak mengenal korban.
Isi kitab Mazmur amat bervariasi. Tetapi intinya adalah tanggapan orang-orang beriman
(umat Israel) kepada Tuhannya, baik dalam bentuk nyanyian ataupun doa. Nyanyian-nyanyian
dan doa-doa ini dikumpulkan oleh orang Israel dan dipakai dalam ibadat mereka, lalu akhirnya
dimasukkan ke dalam Alkitab. Sajak-sajak keagamaan ini terbagi dalam berbagai ragam; ada
nyanyian pujian dan ada nyanyian untuk menyembah Tuhan, ada doa mohon pertolongan, doa
mohon perlindungan, doa mohon penyelamatan, doa mohon ampun dan sebagainya. Doa-doa ini
ada yang bersifat pribadi dan ada yang bersifat nasional. Beberapa di antaranya menggambarkan
perasaan seseorang yang paling dalam, sedangkan lainnya menggambarkan kebutuhan dan
2.2 Nama
Kitab Mazmur dalam Septuaginta (LXX) 5 disebut Psalmoi, dari kata kerja Yunani psallo,
artinya “memetik” atau “mendentingkan”. Awalnya kata ini digunakan untuk permainan alat
musik petik atau alat music itu sendiri. Kata tersebut kemudian menunjuk pada “nyanyian”
(psalmos) atau “kumpulan nyanyian” (psalterion).6 Kata psalmos sebenarnya dipakai untuk
menerjemahkan kata Ibrani Mizmor yang artinya sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan
3
C. Groenen , Op. Cit., hlm. 220
4
Kornelis Usboko, Isi Ringkas Alkitab: Dari Kitab Kejadian Sampai Kitab Wahyu, (Kupang: Lima
Bintang, 2014), hlm. 39-40
5
Etiene Charpentier, Bagaimana Membaca Perjanjian Lama, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), hlm. 130
6
W.S Lasor, D.A Hubbard, F. W Bush, Pengantar Perjanjian Lama II, Sastra dan Nubuat, (Jakarta:
Gunung Mulia, 1996), hlm. 41
iringan music. Tetapi judul Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani adalah Tehillim yang berarti
“puji-pujian” atau “nyanyi-pujian”.7 Sehingga Kitab Mazmur atau psalter merupakan satu
koleksi syair-syair keagamaan yang biasanya digunakan dalam upacara di bait Allah. 8
2.3 Pengarang
Sulit memastikan tentang siapa penulis Kitab Mazmur secara umum. Biasanya pada
bagian-bagian judul dari mazmur sering mencantumkan kata depan Ibrani lamedh (pada
umumnya berarti “dari,” “untuk,” “bagi”) di depan nama orang-orang penting. Dalam hal
tertentu, kata ini berarti kepengarangan (“dari” sebagai penanda hubungan milik subyek), dan
dalam hal-hal lain berarti “untuk digunakan...,” atau “dipersembahkan untuk” dan dalam hal lain
Diakui bahwa penulisan Kitab Mazmur bukan hanya oleh satu orang saja tetapi lebih dari
satu orang. Satu hal yang dapat membantu kita untuk mengetahui tentang siapa penulis-penulis
itu adalah menganalisa atau menyelidiki nama-nama yang terdapat pada bagian kepala mazmur.
Ada 73 Mazmur yang dalam judulnya dipertalikan dengan Daud, 12 mazmur Asaf, 11 mazmur
dengan bani Korah, 2 mazmur dengan Salomo, kemudian Heman, Etan dan Yedutun (Masing-
masing satu)10 dan kadang-kadang ditambahkan berita mengenai keadaan Raja waktu
membawakan Mazmur itu. Hanya dapat dikatakan bahwa Daud memang seorang pesajak yang
7
Tremper Logman III, Bagaimana Menganalisa Kitab Mazmur?, (Malang: Seminari Alkitab Asia
Tenggara, 1992), hlm. 43
8
Adult Education Centers, A Guide To Reading The Old Testament Part II; The Stage Is Set, (Chicago:
ACTA Publications, 1963), hlm. 7
9
C. Hassel Bullock, Kitab-Kitab Puisi Dalam Perjanjian Lama, (Malang: Gudang Mas, 2013), hlm. 160
10
J. S. Baxter, dalam S. Soedirjo (Penerj.), Menggali Isi Alkitab 2: Ayub s/d Maleakhi, (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 1969), hlm 76-77
Begitu lazimnya Perjanjian Lama membuktikan tentang kebenaran aktivitas Daud di
bidang musik sehingga sulit untuk membantah perannya sebagai penulis mazmur. Daud disebut
pemazmur yang disenangi di Israel (2 Sam. 23:1), pencipta alat-alat musik (Am. 6:5), pengatur
pelayanan musik di Bait Allah (1 Taw. 15:13-24; 16:7; 31; Ezr 3:10; Neh 12:24), dan penulus
berbagai mazmur (2 Sam. 1:19-27; 22:1-51; 23:2-7; 1 Taw 16:8-36). Gambaran yang demikian
tidak dapat diabaikan untuk mengakui bahwa Daud sebagai penulis mazmur. 11 Hanya sebagian
saja yang ditulis oleh Daud. Tetapi tidak mungkin menentukan mana mazmur-mazmur ciptaan
Daud. Selain Daud ada pengarang lain misalnya, Bani Korah (kelompok penyanyi), asaf
(penyanyi) dan lain-lain.12 Walau demikian, sangatlah tepat untuk dikatakan bahwa Daud adalah
pemrakarsa mazmur sebagai bentuk kesusastraan dan pengatur liturgi bangsa Israel. Dalam arti
Untuk menjadi Kitab Mazmur sebagaimana yang dimiliki sekarang ini, awalnya
merupakan doa-doa dalam teks-teks yang terlepas dan bersifat partikel. Pada abad X sudah ada
”Masoretik Teks” (Textus Masoreticus)14 yang menjadi standar yang kita miliki sekarang ini.
Keunggulan yang dimiliki oleh Masoretik Teks ini yaitu setia pada teks-teks yang
mendahuluinya, selain itu memiliki integritas dasar yang sama dan kuat, meski ada sedikit
kekurangan. Kekurangannya yaitu bila digunakan dari Kitab Samuel, misalnya ada kata atau
11
C. Hassel Bullock, Op. Cit., hlm. 160.
12
C. Groenen, Op. Cit., hlm. 221-222
13
Herman Hendriks, Keadilan Sosial Dalam Kitab Suci, Terjemahan oleh Rafael Maran dan Martin
Harun, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 80
14
Textus Masoreticus (= TM), artinya naskah tradisional atau naskah dari para penerus. Sebelum adanya
percetakan, semua naskah ditulis dan diteruskan dengan tangan. Ini merupakan pekerjaan yang sangat berat karena
kekhilafan dan kesalahpahaman dalam mengerti naskah-naskah yang sudah rusak pasti terjadi.
frase yang mengalami kerusakan (Mzm. 40:14-18 dalam 2 Sam. 70:2-5; Mzm. 18 dalam 2 Sam.
Kata Yunani kanon aslinya berarti gelagah. Kata ini dipakai dengan dua makna lagi,
yaitu sebagaimana lambat laun diterapkan sebagai ukuran yaitu mengukur kitab-kitab mana yang
akan menjadi Kitab Sucinya. Kitab Suci itu sendiri ditemukan dalam daftar tersebut menjadi
“Kanon” dan “ukuran” juga. Kata “Kanon” menurunkan kata “Kanonik” yang sama arti dengan
kitab yang tercantum dalam katalog, kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Kata
“Kanon” satu arti dengan daftar atau katalog buku-buku yang diinspirasi oleh Roh Kudus.16
Tidak diketahui secara pasti tentang kapan atau waktu penulisan Kitab Mazmur tetapi
dipercaya ada mazmur-mazmur yang sangat tua seperti (Mzm 24:7-10; 68; 29; 76; 89) dan ada
yang termudah yang diciptakan pada masa sesudah pembuangan seperti Mazmur 126.17 Menurut
tradisi judul, ada mazmur yang sejaman dengan Musa yakni Mamzur 90. Di samping itu ada juga
mazmur yang merefleksikan situasi setelah masa pembuangan yakni Mazmur 126:1-2: “Ketika
Tuhan memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu
itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai”. Antara zaman Musa dan
masa sesudah pembuangan terbentang waktu pemisah kurang lebih seribu tahun. Zaman Musa
dan Masa setelah pembuangan itulah yang kita mengerti bahwa ada mazmur yang lebih tua dan
ada mazmur yang lebih muda. Dalam tradisi Yahudi, Kitab Mazmur digolongkan ke dalam
15
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Kitab Mazmur 1-72 “Pembimbing dan Tafsirannya”,
(Jakarta: Gunung Mulia, 2010), hlm. 77
16
Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 150
17
C. Groenen, Op. Cit., hlm. 168
kelompok tulisan-tulisan dan dalam kodeks-kodeks yang terkenal, mazmur selalu menempati
urutan pertama. 18
Dalam kanon Yahudi, pada bagian pertama berisikan kelima Kitab Taurat Musa, bagian
kedua berisikan kitab-kitab para nabi dan bagian ketiga berisikan Kitab Mazmur yang
digolongkan dalam tulisan-tulisan. Tentang waktu pengumpulan Kitab Mazmur ini, ada ahli
yang memperkirakan bahwa hal ini terjadi pada zaman Yudas Makabe atau pada zaman
kemudian. Ada pula ahli yang berpendapat bahwa setelah tulisan-tulisan dikanonisasikan pada
tahun 90 M, saat kanon Yahudi ditutup.19 Dengan demikian Kitab Mazmur dikanonisasi sekitar
Nama-nama Kitab Suci Perjanjian Lama tidak disebutkan dalam Kitab Suci Perjanjian
Baru. Namun tidak dapat disangkal bahwa dalam Kitab Suci Perjanjian Baru terdapat banyak
kutipan dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Secara khusus, dari Perjanjian Lama, Kitab Mazmur
termasuk yang paling banyak dikutip oleh pengarang-pengarang Perjanjian Baru, baik secara
langsung maupun tidak. Paling tidak ada sekitar 360 kutipan Perjanjian Lama. Sejumlah 112
kutipan diambil dari Kitab Mazmur. Kutipan-kutipan yang paling banyak terdapat dalam surat-
surat St. Paulus, surat kepada orang Ibrani, keempat Injil, Kisah Para Rasul dan Wahyu. Dalam
surat-surat St. Paulus, kutipan-kutipan itu diambil untuk menjelaskan berbagai aspek dari
kehidupan Kristen, sedangkan dalam surat kepada orang Ibrani, keempat Injil, Kisah Para Rasul
18
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 20
19
C. Groenen, Op. Cit., hlm 199
20
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 21
Kepada jemaat-jemaat di Efesus dan Kolose, St. Paulus mengajar mereka bukan hanya
mengucap syukur kepada Allah dengan menyanyikan Mazmur (Ef. 5:19; Kol. 3:16), tapi juga
supaya “berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian
rohani” (Ef. 5:19). Kata-kata mazmur dapat meneguhkan iman dan memberi pengajaran.
Puisi adalah sastra karangan terikat (terbentuk sajak, pantun, dan syair). 21 Puisi
merupakan fenomena bahasa di mana bahasa bukan hanya sarana pengungkapan tetapi juga isi
pengungkapan. Seorang pengarang puisi berusaha untuk mengungkapkan isi hati, pengalaman,
dan pengetahuannya dengan irama bahasa dan pola yang indah. Di sini penyair menunjukkan apa
yang ia katakan sedemikian rupa sehingga pada waktu yang sama ia menyampaikan apa yang
tidak dikatakannya.22
tidaklah heran kalau mutu puisi-puisinya berbeda-beda: ada yang tinggi, ada yang sedang, dan
ada pula yang rendah. Irama puisi-puisi Ibrani itu terdiri dari baris-baris. Setiap ayat puisi pada
umumnya terdiri dari dua baris (bikolase), tetapi kadang-kadang juga tiga baris (trikolase). Bila
dalam satu ayat ditemukan empat baris, maka sebenarnya ayat itu terdiri dari dua baris (bikolase)
atau bisa tiga baris (trikolase) serta baris terakhir membentuk bikolase dengan baris pertama dari
Dalam puisi Ibrani juga dikenal dua macam irama, yakni irama tekanan suku kata dan
irama arti. Dalam menentukan bentuk irama tekanan suku kata terdapat banyak persoalan
21
Dendy Sugono dkk, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,
2008), hlm. 1223
22
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 41
23
Ibid., hlm. 42
terutama dalam Kitab Mazmur karena tidak diketahui lagi ucapan asli kata-kata Ibraninya dan
juga teks Ibrani yang dimiliki sekarang banyak yang rusak. Yang penting dalam usaha mengerti
mazmur ialah mengenal irama artinya. Yang dimaksud dengan irama arti ialah kesejajaran atau
perimbangan gagasan atau pikiran antar-baris atau yang biasanya lebih dikenal dengan
1. Paralelisme yang sinonim (= searti), artinya gagasan dalam barisan pertama (disebut
pula kolom a) diperdalam dalam baris kedua (disebut pula kolom b) dengan kata-kata
2. Paralelisme yang antithesis, artinya baris kedua menegaskan gagasan dari baris
pertama dari sudut yang berlawanan seperti yang ada pada Mazmur 20:9 dan 37:22.
3. Paralelisme yang sintesis, artinya baris kedua melanjutkan atau melengkapi gagasan
barisan yang lain melalui suatu perbandingan seperti dalam Mazmur 42:2. 24
Ada hal yang perlu diketahui bahwa Kitab Mazmur sebagai puisi Israel di sini tidak bisa
disejajarkan dengan puisi Israel yang profan, karena mazmur-mazmur itu telah dikomposisikan
secara mengganggukan dalam suatu tataran nilai seni yang sangat tinggi untuk tujuan
Kesadaran tentang mazmur sebagai puisi sangat penting bagi pengertian dan penghayatan
mazmur. Hal ini penting karena Mazmur kita gunakan sebagai bahan doa. Mengenai puisi Ibrani
24
Ibid., hlm. 43-44
25
Ibid.
(dan semit26 pada umumnya) unsur yang paling menonjol karena kekhasannya ialah irama arti.
Pengetahuan dan pengertian mengenai hal ini penting, bahkan bagi banyak orang yang tidak
membaca mazmur dalam bahasa aslinya. Kadang-kadang arti naskah Ibrani, suatu ayat atau larik
tidak jelas atau sulit sekali diterjemahkan. Hanya suatu kepekaan akan fenomena paralelisme
dapat memudahkan seseorang untuk memecahkan kesulitan tersebut. Di samping itu kita perlu
menilai paralisme itu sebagai ungkapan pikiran dan perasaan manusia. Paralelisme itu
menunjukkan bahwa Ibrani tidak puas mengatakannya hanya satu kali. Mereka mengulang dan
memperdalam hal itu dengan kata-kata lain atau dari sudut pandang yang berlainan. Dengan
irama. Karena itu paralelisme dapat dibandingkan dengan pernafasan manusia yang terdiri dari
menarik dan menghembuskan nafas. Keduanya merupakan satu kesatuan dan mempunyai
irama.27
Kitab Mazmur tidak dikarang oleh satu orang saja, dan proses terjadinya pun panjang dan
rumit. Hampir tidak mungkin mengikuti seluruh proses terjadinya itu dengan pasti, namun suatu
Hal yang pertama tampak ialah bahwa kitab ini terbagi atas lima jilid atau buku, yaitu:
Mazmur 1-41 (Jilid I), Mazmur 42-72 (jilid II), Mazmur 73-89 (jilid III), Mazmur 90-106 (Jilid
IV), Mazmur 107-150 (jilid V). Apa dasar pembagian dalam lima jilid ini? Apa tujuannya?
Apakah ada prinsip kesatuan dalam masing-masing jilid? Pertanyaan-pertanyaan ini kita ajukan
26
Semit adalah kata-kata atau ungkapan Ibrani atau Aram yang telah mempengaruhi bahasa Yunani PB dan
yang mencerminkan bahasa Aram dari Yesus dan orang-orang Kristen pertama, seperti Abba (Bapa, Mrk. 14:36);
dan Maranata, Datanglah Engkau Tuhan (1 Kor. 16:22)
27
Ibid., hlm. 48-50
untuk mengerti kitab ini dengan lebih baik. Ada kenyataan literer yang dapat membantu kita
Setiap jilid diakhiri dengan suatu doksologi yang terdapat pada 41:14; 72:18-19; 89:53;
106:48 dan dalam seluruh Mazmur 150. Doksologi dalam jilid V berbeda sifatnya dengan
doksologi-doksologi yang lain. Ia disebut sebagai doksologi agung. Dikatakan doksologi agung
karena pertama, secara kuantitatif meliputi lima bab besar (146-150) untuk berdoksologi dan
menutup keseluruhan Mazmur. Kedua, secara kuantitatif lebih banyak pujiannya dan secara
kualitatif pujiannya lebih mendalam. Ketiga, pergerakannya dari pujian biasa (terdapat dalam 4
bagian terdahulu) menuju pujian luar biasa, pujian agung (dalam lima bab terakhir). Suatu
pergerakan dari ratapan menuju pujian.29 Himne, Doksologi, Amen, Pujian, yang terdapat pada
setiap akhir dari setiap kelompok mazmur ini sebenarnya hanyalah rekayasa untuk dijadikan
Namun doksologi mau menegaskan hakekat dari mazmur itu sendiri. Mazmur adalah
sebuah nyanyian pujian kepada Allah pencipta. Walaupun ia termasuk kelompok mazmur
keluhan atau ratapan tetapi akhirnya selalu ada ucapan syukur dan pujian karena Allah
mendengarkan keluhan atau ratapan umat-Nya, misalnya Mazmur 41. Mazmur 41 ialah sebuah
mazmur keluhan tetapi pada ayat terakhir ada pujian kepada Allah: “Terpujialah Tuhan, Allah
merupakan bunga rampai dari kumpulan-kumpulan kecil yang akhirnya dibagi dalam lima buku
28
Tremper Logman III, Op. Cit., hlm. 33
29
C. Hassel Bullock, Op. Cit., hlm. 158
30
Ibid.
atau lima jilid, mungkin meniru kelima buku Pentateukh sebagaimana terdapat dalam tradisi
Yahudi.31
Hal ini dipengaruhi oleh spiritualitas Pentateukh yang menjiwai keseluruhan tatanan
Perjanjian Lama termasuk Kitab Mazmur yang menunjukkan spiritualitas dan keberadaan
Pentateukh sebagai dasar keberadaan bangsa Israel dalam hubungan dengan Allah.
Ke 150 mazmur ini sebenarnya pada paruh pertama (1-75) bernada ratapan. Artinya
sedih, menangis, meratapi hidup ini, sedangkan pada paruh kedua sifatnya lebih hymne atau
pujian. Ada satu hal istimewa yang dapat dilihat di sini yaitu bahwa ada peralihan dari ratapan ke
pujian. Hakekat dari mazmur yaitu mengajak manusia untuk memuji Tuhan selalu baik dalam
mengungkapkan imannya dalam suatu reaksi kejiwaan ketika berhadapan dengan Allah, yaitu
memuji, mengeluh dan bersyukur. Reaksi-reaksi kejiwaan ini turut membentuk genre atau
bentuk sastra dari mazmur-mazmur. Dan dari genre-genre inilah kita bisa mengetahui
31
Raymond E. Brown (ed.), The New Jerome Bible Handbook, (London: Geofrey Chapman, 1992),
hlm.172
32
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Tafsiran Alkitab: Pembimbing ke Mazmur Jilid I, (Jakarta:
Gunung Mulia, 1984), hlm. 28
33
Raymond E. Brown (ed.), Op. Cit.,, hlm.525-526
2.8.1 Mazmur Pujian
Mazmur ini berhubungan dengan puji-pujian kepada Tuhan karena karya-karya-Nya yang
menakjubkan dalam penciptaan dan sejarah. Biasanya Mazmur ini dibuka dengan suatu ajakan
untuk memuji Tuhan. Ajakan ini biasanya sesuai dengan isi Doa yang menyusul, Misalnya:
”Pujilah nama Tuhan, Pujilah hai hamba Tuhan” (Mzm. 135:1). Mazmur ini berstruktur
pembukaan yang memuat seruan untuk memuji Tuhan serta alasan kita memuji Tuhan, Batang
tubuh berbicara tentang sebab-sebab dasar atau sebab-sebab terinci kita memuji Tuhan, lalu
diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengulang kembali bahasa dan pikiran yang ada dalam
pembukaan.34
Kalau dilihat dari tema permenungannya, jenis ini dapat dibagi menjadi dua macam:
nyanyian-nyanyian Sion dan mazmur-mazmur Raja. Nyanyian-nyanyian Sion (mis. Mzm. 46; 48;
76; 87) dengan nada eskatologis meluhurkan Kota Suci, karena di situlah Allah Yang Maha
Tinggi hadir dan ke situlah para peziarah mengarahkan diri (Mazmur 84; 121; 122; 125; 126).
Mazmur-mazmur raja mengagumkan Yahweh (Tuhan) sebagai raja semesta alam (Mzm. 47; 93;
96-98). 35
Mazmur ini memiliki struktur antara lain; pertama, Pembuka yang memuat ajakan
Pemazmur untuk memuji Tuhan. Ajakan ini ditunjukkan kepada semua bangsa (Mzm. 66: 1;
100:1; 117: 1), kepada diri sendiri (Mzm. 146:1), kepada penghuni surga (Mzm. 29:10), dan
kepada semesta alam dan makhluk yang bernafas (Mzm. 148; 150:6). 36 Kedua, Motif Pujian
yang merupakan unsur pokok dalam pujian. Motif ini menjelaskan tentang sebab-sebab dasar
kita memuji Tuhan. Allah patut dipuji karena karya-karya-Nya dalam alam, khususnya karya
34
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 52
35
Ibid. hlm. 54
36
Mikhael Valens Boy, Eksegese Mazmur, (diktat), (Kupang: FF-UNIKA Widya Mandira, 2007), hlm. 4
penciptaan-Nya dan karya yang dilakukan-Nya dalam sejarah keselamatan. Ketiga, Kesimpulan
yang mengulang kembali bahasa dan pikiran yang ada dalam pembukaan. Bagian ini berupa
undangan kembali untuk memuji Tuhan (Mazmur 104:35; 135:19-21; 136:26), pengharapan
Umat Israel sangat kagum akan kebesaran Allah sehingga mereka senantiasa terbuka dan
mengungkapkan rasa kagum itu dalam bentuk pujian hingga pada akhirnya mereka semakin
Latar belakang terbentuknya Mazmur ini adalah keadaan penderitaan yang disebabkan
oleh bencana alam, hama belalang, perang, kelaparan, dan bahaya maut yang dihadapi oleh
bangsa Israel. Reaksi bangsa Israel terhadap kejadian ini adalah mengeluh secara spontan di
hadapan Allah. Ada semacam gugatan terhadap Allah. Permintaan yang mengarah kepada
jawaban [Link] Mazmur ini merupakan kelompok yang banyak. Kurang lebih 40 Mazmur
yang terdiri dari ratapan pribadi dan selusin ratapan Nasional. Struktur Mazmur ini terdiri dari
beberapa bagian: 1) Seruan akan nama Allah, 2) Seruan yang menggambarkan kebutuhan
seseorang, 3) Doa minta pertolongan dari Tuhan, “dengarkan kami”, 4) Mengemukakan dasar,
mengapa Allah perlu menolong, 5) Janji pemazmur (pendoa) untuk memuji dan
Tuhan.39
37
Ibid. hlm. 5
38
Wim Van Der Weiden, Mazmur Dalam Ibadat Harian, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 54
39
Rm. Mikhael Valens Boy, Pr, Op. Cit.,. hlm 21
2.8.3 Mazmur Kerajaan
Mazmur ini dapat dibedakan dari mazmur pujian oleh tema dan konteksnya. Mirip
dengan pentakhtaan Tuhan sebagai raja. Mazmur ini sifatnya mesianis. Raja selalu ditempatkan
sebagai pusat perhatian (Mzm. 2, 21, 45, 110). Raja sebagai pembicara (Mzm. 18 dan 101).
Tuhan yang bertahta dalam kebesaran-Nya sebagai raja. “Tuhan itu raja, raja itu Tuhan” (Yes.
24:23; 52:7). Mazmur ini juga berbicara tentang janji yang bersifat dinastik kepada Daud
(Mazmur 2, 18, 20, 21, 45, 72, 89, 110, 123, 141:1-11).40
Mazmur ini merupakan salah satu mazmur pujian dengan tema yang khas yaitu Kota
Suci, Gunung Allah, Bukit Kenisah (Mazmur, 46, 48, 76, 87, 122). Mazmur ini mengembangkan
tema kehadiran Tuhan. Ada rumusan yang khas yaitu Tuhan melindungi Sion dari serangan
musuh. Dengan demikian Sion bebas dan terlindung dari musuh-musuhnya oleh karena Allah
Mazmur ini jiwanya spesialis. Berkaitan erat dengan literatur kebijaksanaan dan bernada
meditatif, dan didaktif. Merenungkan manusia dalam aspek etis dan religius (Mazmur 1, 34, 37,
49, 73, 91, 112, 127, 128, 133, 119). Sifat lain dari mazmur ini adalah memeditasikan sejarah,
(Mzm. 72, 78, 105, 107). Mazmur ini memiliki tanda pengenal formal dengan kata,
“Berbahagialah dia yang kesukaannya hanya ingin berada dekat Bait Allah” (Mzm. 1, 37, 127,
128). Disebut juga mazmur kepercayaan bila lebih menekankan unsur kepercayaan (Mazmur
40
Ibid. hlm. 26
41
Marie-Claire Barth-Frommel B. A. Pareira, Op. Cit., hlm. 57
3:5-7; 5:12; 28:7; 44:7-8), dan juga dapat disebut sebagai mazmur ucapan syukur yang lebih
Mazmur ini menyanyikan Tuhan yahng bertakhta di dalam segala kebesaran-Nya sebagai
raja. Dirayakan di dalam kegiatan liturgis. Biasanya mazmur ini diseruhkan kepada Tuhan,
Yahwe Raja, Yahwe Adonai, Yahwe El Sedar, Yahwe Melkisedek (Mazmur 8, 15, 24, 29, 33,
46, 48, 50, 66, 75, 76, 81, 84, 95, 100, 114, 118, 132, 149).43
Jenis mazmur ini hampir sama dengan mazmur ratapan/lamentasi. Keduanya mempunyai
latar belakang yang sama. Dalam ratapan ada elemen permohonan (Mzm. 22,52,57) tetapi ada
mazmur yang nampaknya ratapan tetapi didominasi oleh doa permohonan, bahkan ada yang
berisi permohonan semata. Inilah yang disebut mazmur permohonan. Mazmur ini dibagi atas dua
yaitu permohonan kolektif karena bencana alam kemalangan nasional (bdk. Mazmur
44,74,79,80,83) dan permohonan individual karena penyakit, penidasan dan dikejar musuh
pendahuluan Allah disapa dengan gelar-gelar-Nya. Biasanya ”Engkaulah Allah...” dan di dalam
tubuh, sering berbicara tentang motivasi retoris yang bernada konsultatif kepada Tuhan,
42
Ibid. hlm. 68-69
43
Ibid. hlm. 54
44
Ibid. hlm. 59
kemudian dapat mengawinkan kemalangan sesungguhnya dengan tanggung jawab Tuhan. Dan
Mazmur ini bersifat seremonial dan ritual yang terjadi di pintu kenisah (Mzm. 15, 24,
118). Mazmur ini lebih merupakan dialog, yaitu ada pertanyaan dan jawaban. Mazmur ini
mengidentifikasikan adanya dialog antara peziarah yang bertanya tentang syarat masuk dalam
bait Allah, dan para ahli Taurat. Dialog ini terjadi di pintu gerbang bait Allah ketika para
bagi Pemazmur adalah terbaik, benteng perlindungan dan kubu pertahanan. Pemazmur
mengungkapkan imannya tentang Allah yang selalu melindungi dan menyelamatkan Pemazmur
dari serangan musuh dan lawan. Allah senantiasa menuntun dan membimbing Pemazmur pada
jalan yang benar dan selamat. Para penyair senantiasa mengungkapkan pengalaman pribadi akan
kasih Allah dan kesetiaan Tuhan. Pengalaman tersebut mempengaruhi kehidupan mereka sampai
akhir hidupnya senantiasa diwarnai oleh kepercayaan kepada Tuhan dan penyerahan kepada-
Nya.47
Mazmur ini didominasi oleh terang dalam Tuhan. Pelabuhannya adalah Tuhan. Rumusan
ideologinya adalah: Hanya di dalam Tuhan jiwaku tenang. Tuhan menjadi tempat perlindungan
45
Ibid. hlm. 60
46
Mikhael Valens Boy, Op. Cit., hlm. 27
47
Ibid. hlm. 28
2.8.10 Mazmur Ekaristi 48
Mazmur ini mengkombinasikan pujian dan ucapan syukur. Ciri khas dari mazmur ini
adalah nadanya selalu menyambung dan isinya menaikkan orang/meninggikan orang. Semua
48
Mazmur Ekaristi dalam Kitab Mazmur sering disebut juga dengan Ucapan Syukur oleh karena itu
mazmur ini pula punya kaitan dengan mazmur pujian.
49
Ibid.