0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
408 tayangan34 halaman

Contoh Karya Ilmiah

Dokumen tersebut membahas pengaruh pola pergaulan terhadap prestasi siswa. Pola pergaulan dapat berpengaruh positif atau negatif terhadap prestasi tergantung apakah pergaulan tersebut sesuai atau tidak dengan norma yang berlaku. Pergaulan yang sesuai norma cenderung memberikan pengaruh positif pada prestasi, sementara pergaulan yang tidak sesuai norma berpotensi menurunkan prestasi.

Diunggah oleh

Vicky Pbg
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
408 tayangan34 halaman

Contoh Karya Ilmiah

Dokumen tersebut membahas pengaruh pola pergaulan terhadap prestasi siswa. Pola pergaulan dapat berpengaruh positif atau negatif terhadap prestasi tergantung apakah pergaulan tersebut sesuai atau tidak dengan norma yang berlaku. Pergaulan yang sesuai norma cenderung memberikan pengaruh positif pada prestasi, sementara pergaulan yang tidak sesuai norma berpotensi menurunkan prestasi.

Diunggah oleh

Vicky Pbg
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Contoh Karya ilmiah " PENGARUH PERGAULAN TERHADAP

PRESTASI SISWA"

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman dari masa ke masa telah melahirkan banyak sekali teknologi

super canggih yang sudah tersebar kesegala arah melalui berbagai media-media sebagai

penghubung informasi perkembangan kemajuan tersebut. Namun kecanggihan atau

kemajuan itu memunculkan hal-hal baru dari pola tingkah dan ragam pemikiran manusia.

Kebanyakan dari manusia yang hidup dalam masa kecanggihan ini memanfaatkan hal tersebut

untuk meraup materi sebanyak-banyaknya dengan tidak mengindahkan nilai-nilai ajaran

agama.

Karena itu, kebanyakan orang salah berpendapat bahwa faktor pokok yang

mempengaruhi keberhasilan anak adalah sekolah, padahal kalau mau berfikir yang jernih dan

obyektif, lingkungan, teman bergaul, orang tua dan keluarga sangat mempengaruhi di dalam

keberhasilan anak mereka belajar. Siswa dengan lingkungan keluarga yang tidak harmonis,

masalah pergaulan anak kurang mendapat perhatian dari orang tua, dapat menyebabkan

kemungkinan dari mereka ada yang terjerumus dalam lingkungan pergaulan yang kurang tepat.

Siswa yang hidup dalam keluarga kacau tidak harmonis tersebut, biasanya akan kurang

mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

Namun berbeda dengan keadaan keluarga yang harmonis, pergaulan anak akan lebih

banyak diperhatikan, sehingga kemungkinan besar pola pergaulan sehat yang dijalani oleh

anak. Situasi tersebut akan langsung berdampak positif pada kelangsungan prestasi belajar

siswa dalam sekolahan yang secara tidak langsung mendapatkan motivasi dari keluarga dan

lingkungan yang sehat.

B. Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Bagaimana ragam pola pergaulan siswa.

2. Bagaimana pola pergaulan siswa berpengaruh terhadap prestasi siswa.

C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini memiliki tujuan untuk:

1. Mengetahui ragam pola pergaulan siswa.

2. Mengetahui pola pergaulan siswa berpengaruh terhadap prestasi siswa.

D. Sistematika Penulisan

Ruang lingkup pembahasan karya ilmiah ini, berkisar pada masalah pola pergaulan

siswa terhadap prestasi siswa, sistematika yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah ini adalah

dimulai dari bab muka karya ilmiah yang meliputi: halaman judul, kata pengantar dan daftar

isi. Selanjutnya bab isi atau batang tubuh karya ilmiah meliputi :

BAB I : Dalam bab pendahuluan ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penulisan, Sistematika penulisan karya ilmiah.

BAB II : Landasan Teori

Pada bab landasan teori ini, ada tiga sub pokok bahasan, yaitu:

A. Pola Pergaulan yang meliputi :

1. Pengertian Pola Pergaulan.

2. Ragam Pola Pergaulan.

3. Dampak pergaulan.

B. Prestasi Siswa, yang meliputi :

1. Pengertian Prestasi Siswa.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi

3. Fungsi Prestasi

C. Pengaruh Pola Pergaulan Siswa Terhadap Prestasi Siswa.


BAB III : Penutup

1. Kesimpulan

2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

PENGARUH PERGAULAN TERHADAP PRESTASI SISWA

A. Pola Pergaulan

1. Pengertian Pola Pergaulan

Adalah suatu hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan

kelompok dengan kelompok.

2. Ragam Pola Pergaulan

a. Pola Pergaulan ter arah

Yaitu Pola Pergaulan yang menuju kearah lingkungan positif dan tidak melanggar norma-

norma yang berlaku.

b. Pola Pergaulan Tidak ter arah ( Pergaulan Bebas)

Yaitu Pola Pergaulan yang menuju kea rah lingkungan bebas ( tanpa aturan ) dan kebanyakan

Pergaulan ini melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.

3. Dampak Pergaulan

Dengan mengetahui penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dampak pergaulan tergantung

dengan pola pergaulan tersebut. Pola Pergaulan ter arah bisa merujuk siswa pada prestasi yang

cukup baik karena dalam pola pergaulan ini siswa tidak melanggar norma-norma yang berlaku

di dalam masyarakat. Sedangkan dalam Pola Pergaulan Bebas ( tanpa aturan ) bisa merujuk

siswa pada prestasi yang jelek karena dalam pergaulan ini siswa cenderung mempunyai fikiran

dan tingkah laku yang negatif. Contoh seorang siswa yang bergaul dengan orang yang tak

berpendidikan akan mengakibatkan siswa tersebut cenderung ikut pada teman sepergaulannya

itu.
B. Prestasi Siswa

1. Pengertian Prestasi

Prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu rnenunjukkan kecakapan

suatu bangsa. Sedangkan menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto, “ prestasi adalah hasil yang

dicapai “. Berdasarkan pendapat diatas, penulis berkesirnpulan hahwa prestasi adalah segala

usaha yang dicapai manusia secara maksimal dengan hasil yang memuaskan.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi

Setiap aktifitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor - faktor yang

mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat. Demikian

juga dialami belajar, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa itu adalah sebagai

berikut :

a. Faktor internal.

Faktor internal ada1ah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibagi dalam

beberapa bagian, yaitu :

1) Faktor lntelegensi

2) Faktor Minat

3) Faktor Keadaan Fisik dan Psikis.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor dan luar diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor

eksternal dapat dibagi rnenjadi beberapa bagian, yaitu :

1) Faktor Guru

Guru sebagai tenaga berpendidikan rnemiliki tugas menyelenggarakan kegiatan belajar

rnengajar, rnembimbing, melatih, mengolah, meneliti dan mengembangkan serta memberikan

pelalaran teknik karena itu setiap guru harus memiliki wewenang dan kemampuan profesiona1,

kepribadian dan kemasyarakatan.


Guru juga rnenunjukkan flexibilitas yang tinggi yaitu pendekatan didaktif dan gaya memirnpin

kelas yang selalu disesuaikan dengan keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga

dapat rnenunjang tingkat prestasi siswa semaksimal mungkin.

3. Fungsi Prestasi

Prestasi belajar semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa

fungsi utama antara lain:

a. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah

dikuasai anak didik

b. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan

atas asumsi para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi

keingintahuan (couriosity) dan merupakan kebutuhan umum pada manusia

(abraham H. Moslow, 1984), termasuk kegiatan anak didik dalam suatu program

pendidikan.

c. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.

Asumsinya adalah bahwa prestasi balajar dapat dijadikan pendorong bagi anak

didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berperan sebagai

umpan balik (feed back) dalam meningkatkan mutu pendidikan.

d. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.

Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat

produktifitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang

digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern

dalam arti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat

kesuksesan anak didik dimasyarakat. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang

digunakan relevan pula dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.

e. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik.
C. Pengaruh Pola Pergaulan Siswa Terhadap Prestasi Siswa.

Siswa dengan lingkungan keluarga yang tidak harmonis, masalah pergaulan anak

kurang mendapat perhatian dari orang tua, dapat menyebabkan kemungkinan dari mereka ada

yang terjerumus dalam lingkungan pergaulan yang kurang tepat. Siswa yang hidup dalam

keluarga kacau tidak harmonis tersebut, biasanya akan kurang mendapat perhatian dan kasih

sayang dari orang tua. Selanjutnya mudah hanyut dalam pergaulan lingkungannya. Jika

lingkungan yang merupakan tempat bergabung dan teman sepergaulan tersebut itu jelek maka

pengaruh jelek akan mempengaruhinya, seperti kurangnya adab dan sopan santun, malas

belajar, suka minum-minuman keras dan menjadi pengguna narkoba yang berdampak jelek

pada kelangsungan prestasi bahkan masa depan siswa.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa pergaulan itu sangat berperan penting

terhadap prestasi seorang siswa karena dari pergaulan itu siswa dapat membuat karakter atau

sikap nya masing-masing. Jika pergaulan siswa itu baik ( yang berarti bergaul sesuai dengan

norma yang berlaku) maka prestasi seorang siswa akan cenderung akan baik. Maka sebaliknya

jika pergaulan siswa itu jelek ( yang berarti bergaul yang tanpa aturan ) maka prestasi seorang

siswa tersebut akan cenderung akan menurun.

B. Saran

Kita sebagai seorang pelajar yang baik, seharusnya mendalami tentang batas-batas

pergaulan dan bisa mendefinisikan mana yang patut dan mana yang tidak patut untuk di ikuti.

Karena kita juga sudah dewasa, Prestasi dan Pergaulan itu adalah hal yang sangat berkaitan

karena dari pergaulan akan membentuk suatu sikap dan perilaku seorang siswa.
Karya Ilmiah "Pengaruh rokok terhadap kesehatan dikalangan masyarakat"

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Seperti yang kita ketahui rokok tidak asing lagi kita dengar dan kita lihat, kini setiap toko
atau warung sudah memperjual belikan rokok, hal ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan
masyarakat karena rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, hipertensi, gangguan
kehamilan dan janin.
Selain itu hal ini juga dapat merusak kadar – kadar jati diri bangsa. Sekarang banyak siswa
yang mengkomsumsi rokok. Ini semua membuktikan bahwa rokok sudah merajalela
dikalangan masyarakat. Mengkomsumsi rokok juga dapat mengakibatkan rusaknya mental
masyarakat.

B. Rumusan masalah
1. Apakah yang melatarbelakangi masyarakat menggunakan rokok ?
2. Bagaimana pengaruh rokok dikalangan masyarakat ?
3. Bagaimana upaya penanggulangan penggunaan rokok dikalangan masyarakat?

C. Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui latar belakang masyarakat menggunakan rokok.
2. Untuk mengetahui pengaruh rokok dikalangan masyarakat.
3. Untuk mengetahui upaya penanggulangan rokok dikalangan masyarakat.

D. Manfaat penelitian
Untuk mengetahui dampak positif dan negatif terhadap rokok dan mengetahui seluk – beluk
rokok.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut.
Bab I merupakan bab pendahuluan yang mengungkapkan latar belakang, rumusan masalah,
tujuan, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II merupakan bab tinjauan pustaka dan kerangka pikir yang menguraikan tentang
tinjauan pustaka dan kerangka pikir.
Bab III merupakan bab metodologi penulisan yang menjelaskan sumber data, metode
pengumpulan data.
Bab IV merupakan bab pembahasan yang berisi tentang narkotika di kalangan remaja.
Bab V merupakan bab penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Rokok / Tembakau
Menurut, Drs. Yayan Suherian di buku sosiologinya halaman 69 mengatakan bahwa
tembakau mengandung racun nikotin keras, untungnya nikotin lenyap pada waktu tembakau
terbakar urap saraf dapat menimbulkan ketagihan. TIRmerupakan zat yang mengandung
dalam tembakau yang dapat menimbulkan penyakit kanker paru-paru mengapa para remaja
harus diselamatkan dari bahaya Narkotika! Orang tua tidak selamanya kuat dan hidup.
Orang tua itu bila sudah umur 55 Tahun ke atas, tenaganya tidak kuat lagi untuk bekerja.
Umur 55 tahun untuk pegawai negeri sudah mulai pensium dan harus di ganti dengan
angkatan mudah . peran remaja haruslah mempersiapkan diri menjadi orang besar berjiwa
besar dan tangguh menghadapi kesulitan – kesulitan dan mampu mengatasinya.
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi
tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang
telah dicacah.Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya
dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.
Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat
dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-
bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok
akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau
serangan jantung(walapun pada kenyataanya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di
Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh.Pada abad 16, Ketika bangsa
Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-
coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa.Kemudian kebiasaan
merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa.Tapi berbeda dengan bangsa Indian
yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan
semata-mata.Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan
merokok mulai masuk negara-negara Islam.
Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan ketergantungan,
disamping menyebabkan banyak tipe kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan,
penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, dan emfisema.
Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan ini didasarkan atas bahan pembungkus
rokok, bahan baku atau isi rokok, proses pembuatan rokok, dan penggunaan filter pada rokok.
Rokok berdasarkan bahan pembungkus.
• Klobot: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung.
• Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.
• Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.
• Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau.
Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.
• Rokok Putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi saus
untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
• Rokok Kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang
diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
• Rokok Klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan
kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
Rokok berdasarkan proses pembuatannya.
• Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya dengan caradigiling atau
dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana.
• Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin.
Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang
dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok telah
mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai delapan ribu batang rokok per
menit. Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok
sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun telah dalam
bentuk pak. Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran berupa
rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pak. Sayangnya, belum ditemukan mesin yang mampu
menghasilkan SKT karena terdapat perbedaan diameter pangkal dengan diameter ujung SKT.
Pada SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar ujung rokoksama besar.
Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2 bagian :
1. Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKM FF): rokok yang dalam proses pembuatannya
ditambahkan aroma rasa yang khas. Contoh: Gudang Garam Filter Internasional, Djarum
Super, dll.
2. Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang menggunakan kandungan
tar dan nikotin yang rendah. Rokok jenis ini jarang menggunakan aroma yang khas. Contoh:
A Mild, Clas Mild, Star Mild, U Mild, LA Light, Surya Slim, dll.
Rokok berdasarkan penggunaan filter.
• Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.
• Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.
Hidup Bebas Tanpa Rokok
Kebanyakan perokok, yang jarang merokok, ataupun yang bisa menghabiskan 2 pack rokok
setiap hari, ingin berhenti merokok.Kita tahu bahwa disamping rasa rokok yang enak, energi
yang timbul setelah merokok, dan perasaan nyaman setelah menghirup udara, ada keinginan
untuk berhenti karena takut akan bahaya merokok atau hal lain.
Takut terkena kanker di kemudian hari, kolesterol meningkat, detak jantung tidak beraturan,
penyakit maag, hingga masalah penampilan seperti gigi menguning dan nafas bau tembakau
serta baju bau asbak.Alasan orang untuk merokok bermacam-macam. Ada yang merokok
karena ingin mendapat efek segar, atau karena kebiasaan, misalnya senang, marah, gelisah
yang memicu keinginan merokok, atau karena tubuh meminta dosis nikotin yang minimal
sama dengan hari sebelumnya.
Kalau ditanya, hampir semua perokok ingin berhenti.Tetapi ini bukan perkara
gampang.Pemicu keinginan merokok bisa bermacam-macam, dan tiba-tiba datangnya. Pada
saat itu, orang yang sudah berhenti merokok selama 3 bulan sekalipun bisa kembali merokok

2. Kesehatan
Menurut Drs. Bambang Marhijanto mengatakan di kamus BHS. Indonesianya kesehatan
merupakan dari kata yang artinya keadaan badan segera tak terasa apapun.Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat, yang menjadi kebutuhan dasar derajat kesehatan masyarakat, salah satu
aspeknya adalah “tidak ada anggota keluarga yang merokok“.Sedangkan PHBS harus
menjadi kewajiban saya dan para kader kesehatan untuk mensosialisasikannya.
Setiap kali menghirup asap rokok, entah sengaja atau tidak, berarti juga mengisap lebih dari
4.000 macam racun! Karena itulah, merokok sama dengan memasukkan racun-racun tadi ke
dalam rongga mulut dan tentunya paru-paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini
tidak dapat kita mungkiri.Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik
secara langsung maupun tidak langsung.Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si
perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya.
Saat ini jumlah perokok, terutama perokok remaja terus bertambah, khususnya di negara-
negara berkembang.Keadaan ini merupakan tantangan berat bagi upaya peningkatan derajat
kesehatan masyarakat. Bahkan organisasi kesehatan sedunia (WHO) telah memberikan
peringatan bahwa dalam dekade 2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta orang per
tahun, 70% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang.
Melalui resolusi tahun 1983, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan tanggal
31 Mei sebagai Hari Bebas Tembakau Sedunia setiap tahun.Bahaya merokok terhadap
kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan oleh banyak orang.Efek-efek yang merugikan
akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas.Banyak penelitian membuktikan bahwa
kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit.Seperti penyakit
jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker
laring, kanker osefagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi, serta gangguan
kehamilan dan cacat pada janin.
Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya bahaya dari secondhand-smoke, yaitu asap
rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada di sekitar perokok, atau
biasa disebut juga dengan perokok pasif.
ZAT KIMIA
Rokok tentu tidak dapat dipisahkan dari bahan baku pembuatannya, yakni tembakau. Di
Indonesia, tembakau ditambah cengkih dan bahan-bahan lain dicampur untuk dibuat rokok
kretek. Selain kretek, tembakau juga dapat digunakan sebagai rokok linting, rokok putih,
cerutu, rokok pipa, dan tembakau tanpa asap (chewing tobacco atau tembakau kunyah).
Komponen gas asap rokok adalah karbon monoksida, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen
oksida, dan formaldehid. Partikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbarzol, dan kresol.Zat-zat
ini beracun, mengiritasi, dan menimbulkan kanker (karsinogen).
NIKOTIN
Zat yang paling sering dibicarakan dan diteliti orang, meracuni saraf tubuh, meningkatkan
tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi, dan menyebabkan ketagihan
dan ketergantungan pada pemakainya.Kadar nikotin 4-6 mg yang diisap oleh orang dewasa
setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan. Di Amerika Serikat, rokok putih yang
beredar di pasaran memiliki kadar 8-10 mg nikotin per batang, sementara di Indonesia
berkadar nikotin 17 mg per batang.
TIMAH HITAM (Pb)
Timah hitam yang dihasilkan oleh sebatang rokok sebanyak 0,5 ug. Sebungkus rokok (isi 20
batang) yang habis diisap dalam satu hari akanmenghasilkan 10 ug. Sementara ambang batas
bahaya timah hitam yang masuk ke dalam tubuh adalah 20 ug per hari. Bisa dibayangkan,
bila seorang perokok berat menghisap rata-rata 2 bungkus rokok per hari, berapa banyak zat
berbahaya ini masuk ke dalam tubuh!
GAS KARBONMONOKSIDA (CO)
Karbon Monoksida memiliki kecenderungan yang kuat untuk berikatan dengan hemoglobin
dalam sel-sel darah merah. Seharusnya, hemoglobin ini berikatan dengan oksigen yang
sangat penting untuk pernapasan sel-sel tubuh, tapi karena gas CO lebih kuat daripada
oksigen, maka gas CO ini merebut tempatnya “di sisi” hemoglobin. Jadilah, hemoglobin
bergandengan dengan gas CO. Kadar gas CO dalam darah bukan perokok kurang dari 1
persen, sementara dalam darah perokok mencapai 4 – 15 persen. Berlipat-lipat!
TAR
Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok, dan
bersifat karsinogen. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap
padat. Setelah dingin, akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna cokelat pada
permukaan gigi, saluran pernapasan, dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40
mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24 – 45 mg.
DAMPAK PARU-PARU
Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-
paru.Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mucus
bertambah banyak (hiperplasia).Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga
penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir.Pada jaringan paru-paru,
terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli.
Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi
paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya
penyakit obstruksi paru menahun (PPOM).Dikatakan merokok merupakan penyebab utama
timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma.
Hubungan antara merokok dan kanker paru-paru telah diteliti dalam 4-5 dekade terakhir
ini.Didapatkan hubungan erat antara kebiasaan merokok, terutama sigaret, dengan timbulnya
kanker paru-paru.Bahkan ada yang secara tegas menyatakan bahwa rokok sebagai penyebab
utama terjadinya kanker paru-paru.
Partikel asap rokok, seperti benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan
karsinogen. Juga tar berhubungan dengan risiko terjadinya kanker. Dibandingkan dengan
bukan perokok, kemungkinan timbul kanker paru-paru pada perokok mencapai 10-30 kali
lebih sering.
DAMPAK TERHADAP JANTUNG
Banyak penelitian telah membuktikan adanya hubungan merokok dengan penyakit jantung
koroner (PJK). Dari 11 juta kematian per tahun di negara industri maju, WHO melaporkan
lebih dari setengah (6 juta) disebabkan gangguan sirkulasi darah, di mana 2,5 juta adalah
penyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah stroke. Survei Depkes RI tahun 1986 dan 1992,
mendapatkan peningkatan kematian akibat penyakit jantung dari 9,7 persen (peringkat ketiga)
menjadi 16 persen (peringkat pertama).
Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung tersebut.Bukan
hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh
darah otak dan perifer.
Asap yang diembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama (main stream smoke) dan
asap samping (side stream smoke). Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup
langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang disebarkan
ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif.
Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis di antaranya bersifat
karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana bahan racun ini lebih banyak didapatkan
pada asap samping, misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan
pada asap samping daripada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak 50 kali. Bahan-
bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah rokok berhenti.
Umumnya fokus penelitian ditujukan pada peranan nikotin dan CO. Kedua bahan ini, selain
meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard)
sehingga merugikan kerja miokard.
Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen
miokard.Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan
adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen
jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung.Nikotin juga mengganggu kerja saraf,
otak, dan banyak bagian tubuh lainnya.Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat
timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah.
Karbon monoksida menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung persediaan
oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di
hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis
(pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan
kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah
penggumpalan darah.
Nikotin, CO, dan bahan-bahan lain dalam asap rokok terbukti merusak endotel (dinding
dalam pembuluh darah), dan mempermudah timbulnya penggumpalan darah. Di samping itu,
asap rokok mempengaruhi profil lemak. Dibandingkan dengan bukan perokok, kadar
kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida darah perokok lebih tinggi, sedangkan
kolesterol HDL lebih rendah.

B. Kerangka Pikir
1. Kerangka Pikir Penulis
Rokok adalah tembakau mengandung racun nikotin keras, untungnya nikotin hanya lenyap
pada tembakau terbakar urap saraf dapat menimbulkan ketagihan. TIR merupakan zat yang
mengandung dalam tembakau yang dapat menimbulkan penyakit kanker paru – paru.
Kesehatan dalam keadaan badan segar tak terasa apapun. Oleh sebab itu di duga ada
pengaruh yang ditimbulkan rokok terhadap tingkat kesehatan siswa.
Kesehatan merupakan faktor utama penunjang kebugaran tubuh seorang namun karena
adanya rokok mengakibatkan kondisi tubuh melemah.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Dalam penulisan penelitian ini, penulis melakukan penelitian pada masyarakat pengguna
rokok yang ada di Makassar.Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2011 sampai
1 Februari 2011.

B. Populasi dan Sampel


Populasi adalah sekelompok elemen yang lengkap.Populasi dalam penelitian ini adalah
remaja.
Sedangkan sampel yaitu himpunan bagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili
populasi penelitian.Adapun sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari masyarakat
yang ada di Kota Makassar.
Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Sampling Sistematis dimana
pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.

C. Jenis dan Sumber Data


1. Jenis Data
a. Data kuantatif yaitu data yang berbentuk pengolahan angka atau bilangan atau data
numerik untuk dapat menghasilkan penafsiran yang kokoh.
b. Data kualitatif yaitu data yang diperoleh berupa pernyataan atau tulisan yang dijadikan
pertimbangan dalam memperoleh suatu kesimpulan untuk memperjelas pemecahan masalah
berupa tanggapan responden.
2. Sumber Data
a. Data Primer adalah data yang diperoleh melalui hasil penelitian langsung terhadap obyek
yang diteliti. Data tersebut diperoleh melalui metode wawancara, observasi, dan hasil angket
dari responden. Jawaban responden kemudian diberi skor dan ditabulasikan.
b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber, antara lain dari
dokumentasi/tulisan (buku-buku, laporan-laporan, karya ilmiah dan hasil penelitian) dan dari
informasi pihak-pihak yang berkaitan dengan kajian yang diteliti.

D. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Riset kepustakaan, adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara melakukan
peninjauan pustaka dari berbagai literatur karya ilmiah, majalah, dan buku-buku yang
menyangkut teori-teori yang relevan dengan masalah yang dibahas.
2. Riset lapangan, adalah metode pengumpulan data yang dilakukan di lokasi (objek
penelitian) secara langsung yang terdiri dari :
a. Observasi, yaitu mengadakan pengamatan secara langsung pada masyarakat, khususnya
remaja pengguna rokok.
b. Angket, untuk mengetahui lebih jelas pemahaman masyarakat terhadap penggunaan rokok.

E. Variabel Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan dan hipotesis yang telah dikemukakan, maka variabel yang
akan diteliti dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel independen (variabel bebas) yang dilambangkan dengan (x) adalah faktor yang
mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas dalam hal ini adalah rokok.
b. Variabel dependen (variabel terikat) yang dilambangkan dengan (Y) adalah variabel yang
dipengaruhi oleh variabel independen. Dalam hal ini variabel dependen adalah masyarakat.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrument penelitian yang telah dikembangkan
oleh Dessy Sutianto (2007) yang terdiri dari 10 pertanyaan angket sesuai dengan variabel
penelitian yang digunakan.Angket untuk disebarkan kepada responden yang merupakan
bagian dari anggota organisasi.Angket ini berisi pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan
judul karya tulis penulis.Alat ukur yang digunakan untuk angket ini adalah metode skala
likert.Metode ini merupakan metode penskalaan, pernyataan sikap yang menggunakan
distribusi respons sebagai dasar penentuan skalanya.Untuk melakukan penskalaan dengan
metode ini responden diminta untuk menyatakan kesesuaian atau tidak kesesuaian terhadap
isi pertanyaan dalam 4 kategori jawaban yakni dengan skala sebagai berikut.
a. Skala 1 = sangat rendah
b. Skala 2 = rendah
c. Skala 3 = baik
d. Skala 4 = sangat baik
Untuk mengantisipasi agar jawaban yang diperoleh adalah jawaban yang sesungguhnya pasti
atau bukan ragu-ragu, maka penulis meniadakan pilihan jawaban ragu-ragu (Undecided).Hal
ini sesuai dengan pernyataan Hadi Sutrisno dalam Sutianto (2007). Alas an untuk
meniadakan jawaban ragu-ragu adalah: 1) Kategori Undecided mempunyai arti ganda. Bisa
diartikan belum bias member jawaban, netral atau ragu-ragu.Kategori yang memiliki arti
ganda (multi intertable) ini diharapkan dalam instrument. 2) Tersedianya jawaban di tengah
menimbulkan kecenderungan menjawab ketengah (centraltendesi effect) terutama bagi
mereka yang ragu-ragu atas kecenderungan jawabannya. 3) Disediakan jawaban di tengah
akan menghilangkan banyaknya data penelitian, sehingga mengurangi banyaknya info yang
sepatutnya dapat diperoleh dari responden.

G. Metode Analisis
Analisis data dilakukan dengan cara menganalisa jawaban-jawaban yang telah diberikan
responden yang tercantum pada angket. Teknik analisis data yang di pergunakan dalam
penelitian ini adalah teknik analisis stalitis infrensional korelasional. Teknik penulis, uji
statistik yang dipergunakan adalah produknya momen pearson dengan rumus sebagai berikut
:
n  x y – (x) (y)
Rxy=
{nx2 – (x)2 }{y2- (y)2}
Keterangan :
R = Keofisien Korelasi
∑x = Skor butir item dari variabel x
∑y = Skor butir item dari variabel y
∑ x y = Hasil kali dengan skor butir item
N = Jumlah sampel

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
1. Hasil Angket
Dalam penelitian ini, pengambilan data dilakukan dengan membagikan angket yang berisi
pertanyaan-pertanyaan mengenai variabel x dan y, kuesioner yang telah diberikan kepada
responden selanjutnya ditanggapi dengan memberikan tanda cheklist (√) guna memperoleh
data untuk kemudian dikelola oleh kami selaku peneliti.
Angketberisi masing-masing 10 pertanyaan dengan 4 jenis pilihan tanggapan yang masing-
masing memiliki point berikut pilihan tanggapan :
Sangat Setuju (SS) : 4 poin
Setuju (S) : 3poin
Tidak Setuju (TS) : 2 poin
Sangat Tidak setuju (STS) : 1 poin

Tabel 4.1
Distribusi statistik deskriftif variabel x dengan variabel y dengan presentase faktor disrtibusi
hubungan penggunaan rokok di kalangan masyarakat
No Variabel Jumlah responden Skor
1.
2. X
Y 30 orang
30 orang 897
888
Jumlah 60 orang 1785
Dilihat dari jumlah responden 30 orang dengan 2 variabel sehingga berjumlah 30 x 2 = 60.
hasil pengolahan data variabel x dengan skor897 dengan variabel y dengan skor 888 maka
jumlah 1785.

Hasil analisis data penggunaan rumus korelasi produk moment yaitu sebagai berikut :

n  x y – (x) (y)
Rxy=
{nx2 – (x)2 }{ny2- (y)2}

30 (28313) – (897) (888)


Rxy=
{30(29239) - 804609} {30(28128) - 288544¬¬¬¬}

52854
=
69561 × 55296

52854
=
3846445056

= 0,85

Dilihat dari hasil perhitungan tersebut tampak bahwa koefisien korelasi dari pengolahan data
kuesioner dengan rumus produk momen person adalah 0,81 menunjukkan hubungan yang
kuat antara variabel x (rokok) dan variabel y (penggunaan rokok dikalangan masyarakat),
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh penggunaan rokok dikalangan
masyarakat.
2. Hasil wawancara
Berdasarkan hasil wawancara yang telah kami lakukan terhadap narasumber dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat telah mengkonsumsi rokok.Kebanyakan dari
mereka sulit untuk berhenti merokok karena mereka telah mengalami ketergantungan
terhadap rokok.Mereka tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh rokok sangat
besar.Salah satu latar belakang mereka menggunakan rokok adalah untuk menghilangkan
stress, atas dasar solidaritas, dan lain-lain.Adapun kerugian yang mereka alami yaitu kerugian
dibidang materi dan kesehatan.Sebagian dari mereka ingin berhenti merokok dan upaya-
upaya yang mereka lakukan untuk berhenti merokok adalah tidak bergaul dengan orang-
orang yang merokok, berniat dan bertekad untuk berhenti merokok.
B. Pembahasan
Berdasarkan jawaban-jawaban para responden baik yang tertuang di dalam angket maupun
wawancara, maka terjawablah permasalahan pada bab sebelumnya.Masyarakat menggunakan
rokok untuk menghilangkan stress, atas dasar solidaritas dan lain-lain.
Adapun pengaruh yang ditimbulkan oleh rokok dikalangan masyarakat adalah masalah
kesehatan dan keuangan. Masalah kesehatan tersebut yaitu, kanker, serangan jantung,
hipertensi, gangguan kehamilan dan janin.
Upaya-upaya untuk menanggulangi agar masyarakat tidak merokok lagi yaitu, mengajarkan
kepada masyarakat cara hidup sehat, mengadakan penyuluhan tentang bahaya rokok, dan
sebagainya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A .Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Masyarakat menggunakan rokok untuk menghilangkan stress, atas dasar solidaritas dan
lain-lain.
2. pengaruh yang ditimbulkan oleh rokok dikalangan masyarakat adalah masalah kesehatan
dan keuangan. Masalah kesehatan tersebut yaitu, kanker, serangan jantung, hipertensi,
gangguan kehamilan dan janin.
3. Upaya-upaya untuk menanggulangi agar masyarakat tidak merokok lagi yaitu,
mengajarkan kepada masyarakat cara hidup sehat, mengadakan penyuluhan tentang bahaya
rokok, dan sebagainya.
B. Saran
1. Sebaiknya prilaku mengkonsumsi rokok dihindari
2. Jangan membawa pemantik atau korek, hal ini dapat mengurangi penggunaan rokok di
tempat umum.
3. Harga rokok sebaiknya dinaikkan, agar para perokok berpikir panjang untuk membeli
rokok yang sangat mahal.
4. Diutamakan bergaul dengan orang-orang yang tidak merokok.
5. Jika sudah terlanjur menjadi perokok, berusahalah untuk berhenti secara perlahan.
Contoh Karya Ilmiah Pendidikan Berjudul
“Menumbuhkan Minat Siswa
Dalam Belajar”
http://evis1.blogspot.com/2014/02/contoh-karya-ilmiah-pendidikan.html

A. Pendahuluan

Suatu kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan minat akan menghasilkan prestasi yang
kurang menyenangkan. Dapat dikatakan bahwa dengan terpenuhinya minat seseorang akan
mendapatkan kesenangan dan kepuasan batin yang dapat menimbulkan motivasi. S.C. Utami
Munandar (1985:11) menyatakan bahwa minat dapat juga menjadi kekuatan motivasi.
Prestasi seseorang selalu dipengaruhi macam dan intensitas minatnya. Minat menimbulkan
kepuasan. Seorang anak cenderung untuk mengulang-ulang tindakan-tindakan yang didasari
oleh minat dan minat ini dapat bertahan selama hidupnya.

Dengan demikian, minat belajar merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan
belajar siswa. Disamping itu minat belajar juga dapat mendukung dan mempengaruhi proses
belajar mengajar di sekolah. Namun dalam prakteknya tidak sedikit guru Seni Budaya
(Kesenian) menemukan kendala di dalam kelas, karena kurangnya minat siswa dalam
pembelajaran Seni Budaya khususnya seni rupa. Jika hal ini terjadi, maka proses belajar
mengajar pun akan mengalami hambatan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan pengalaman penulis, pada saat pembelajaran berlangsung siswa kurang


bergairah dalam mengikuti pelajaran. Hanya sebagian kecil saja siswa yang bisa memahami
dan mengerjakan tugas dengan semangat. Sebagian besar siswa mengerjakan tugas yang
diberikan dengan perasaan terpaksa atau takut. Hal ini menyebabkan tugas yang diberikan
hasilnya kurang memuaskan sehingga terkesan asal jadi. Jika mereka ditanya, alasannya
mereka tidak mempunyai bakat di bidang seni atau tidak punya bakat menggambar. Dengan
kondisi seperti ini, guru perlu mencari upaya bagaimana menumbuhkan minat belajar siswa
terutama dalam pembelajaran Seni Rupa.

B. Konsep Minat Belajar

Pengertian minat
Minat sering dihubungkan dengan keinginan atau ketertarikan terhadap sesuatu yang datang
dari dalam diri seseorang tanpa ada paksaan dari luar. The Liang Gie (1994:28)
mengungkapkan bahwa minat berarti sibuk, tertarik, atau terlibat sepenuhnya dengan suatu
kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Menurut Slameto (dalam Djaali
2006:121) minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh. Sedangkan menurut Crow and Crow (dalam Djaali 2006:121)
mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk
menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh
kegiatan itu sendiri.

Pengertian Belajar
Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang belajar, pada umumnya
mereka memberikan penekanan pada unsur perubahan dan pengalaman. Menurut
Witherington (dalam Sukmadinata 2007:155) menyatakan bahwa belajar merupakan
perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola respon yang baru yang
berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan. Crow and Crow
(dalam Sukmadinata 2007:155) mengemukakan bahwa belajar adalah diperolehnya
kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Sedangkan menurut Hilgar (1962:252)
menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah
karena adanya respon terhadap sesuatu situasi.

Berdasarkan penekanan unsur pengalaman tentang definisi belajar dikemukakan para ahli,
antara lain menurut Di Vesta and Thompson (1970:112) menyatakan bahwa belajar adalah
perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Gage and
Berliner (1970:256) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah
laku yang muncul karena pengalaman. Sedangkan menurut Hilgard (1983:630),
mengemukakan bahwa belajar dapat dirumuskan sebagai perubahan perilaku yang brelatif
permanen yang terjadi karena pengalaman.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar

Minat belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut bersumber pada dirinya dan
luar dirinya atau lingkungannya antara lain sebagai berikut :

Faktor dalam diri siswa, yang terdiri dari :

Aspek jasmaniah, mencakup kondisi fisik atau kesehatan jasmani dari individu siswa.
Kondisi fisik yang prima sangat mendukung keberhasilan belajar dan dapat mempengaruhi
minat belajar. Namun jika terjadi gangguan kesehatan pada fisik terutama indera penglihatan
dan pendengaran, otomatis dapat menyebabkan berkurangnya minat belajar pada dirinya.
(Kumpulan Tugas Sekolahku)
Aspek Psikologis (kejiwaan), menurut Sardiman (1994:44) faktor psikologis meliputi
perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat,dan motif. Pada
pembahasan berikut tidak semua faktor psikologis yang dibahas, tetapi hanya sebagian saja
yang sangat berhubungan dengan minat belajar.
Faktor dari luar siswa, meliputi:
Keluarga, meliputi hubungan antar keluarga, suasana lingkungan rumah, dan keadaan
ekonomi keluarga.
Sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, sarana dan prasarana belajar, sumber-sumber
belajar, media pembelajaran, hubungan siswa dengan temannya, guru-gurunya dan staf
sekolahserta berbagai kegiatan kokurikuler.
Lingkungan masyarakat, meliputi hubungan dengan teman bergaul, kegiatan dalam
masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa faktor-faktor dari diri siswa dan dar luar siswa
saling berkaitan dalam menumbuhkan minat belajar. Jika faktor-faktor tersebut tidak
mendukung mengakibatkan kurang atau hilangnya minat belajar siswa. Kurang atau
hilangnya minat belajar siswa disebabkan oleh banyak hal yang secara tidak langsung dapat
mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Menurut JT. Loekmono (1985:97), faktor-faktor
yang menyebabkan kurang atau hilangnya minat belajar sisbwa adalah sebagai berikut :
D. Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan minat belajar

Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan
minat pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang
telah ada. Menurut Tanner and Tanner (1975) menyarankan agar para pengajar berusaha
membentuk minat-minat baru pada siswa. Hal ini bisa dicapai melalui jalan memberi
informasi pada siswa tentang bahan yang akan dismpaikan dengan menghubungkan bahan
pelajaran yang lalu, kemudian diuraikan kegunaannya di masa yang akan datang. Roijakters
(1980) berpendapat bahwa hal ini biasa dicapai dengan cara menghubungkan bahan pelajaran
dengan berita-berita yang sensasional, yang sudah diketahui siswa.

Harry Kitson (dalam The Liang gie 1995:130) mengemukakan bahwa ada dua kaidah tentang
minat (the laws of interest), yang berbunyi :
Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, usahakan memperoleh keterangan
tentang hal itu
Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, lakukan kegiatan yang
menyangkut hal itu.

Minat belajar akan tumbuh apabila kita berusaha mencari berbagai keterangan selengkap
mungkin mengenai mata pelajaran itu, umpamanya arti penting atau pesonanya dan segi-segi
lainnya yang mungkin menarik. Keterangan itu dapat diperoleh dari buku pegangan.
ensiklopedi, guru dan siswa senior yang tertarik atau berminat pada mata pelajaran itu.
Disamping itu perlu dilakukan kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran itu,
misalanya pada mata pelajaran seni rupa usahakan mengikuti apa yang harus dilakukan
apakah dengan menggambar atau melukis. Dengan langkah-langkah itu minat siswa terhadap
mata pelajaran itu akan tumbuh.

JT. Loekmono (1985:98), mengemukakan bahwa cara-cara untuk menumbuhkan minat


belajar pada diri siswa adalah sebagai berikut :
Periksalah kondisi jasmani anak, untuk mengetahui apakah segi ini yang menjadi sebab.
Gunakan metode yang bervariasi dan media pembelajaran yang menarik sehingga dapat
merangsang anak untuk belajar
Menolong anak memperoleh kondisi kesehatan mental yang lebih baik.
Cek pada orang atau guru-guru lain , apakah sikap dan tingkah laku tersebut hanya terdapat
pada pelajaran saudara atau juga ditunjukkan di kelas lain ketika diajar oleh guru-guru lain.
Mungkin lingkungan rumah anak kurang mementingkan sekolah dan belajar. Dalam hal ini
orang-orang di rumah perlu diyakinkan akan pentingnya belajar bagi anak. (Kumpulan Tugas
Sekolahku)
Cobalah menemukan sesuatu hal yang dapat menarik perhatian anak, atau tergerak minatnya.
Apabila minatnya tergerak, maka minat tersebut dapat dialihkan kepada kegiatan-kegiatan
lain di sekolah.
Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan dapat dipahami bahwa banyak sekali faktor
yang dapat menumbuhkan atau membangkitkan minat belajar bagi siswa. Tinggal bagaimana
upaya yang harus kita lakukan sebagai seorang guru dalam memecahkan masalah ini,
sehingga siswa terbantu untuk menemukan minatnya dalam mengikuti pembelajaran. Siswa
yang memiliki karakter yang berbeda-beda memerlukan penanganan yang berbeda pula,
termasuk dalam hal menumbuhkan minat belajarnya. Dengan adanya upaya dari guru dan
pihak lain dalam menumbuhkan minat belajar bagi siswa, diharapkan dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang akhirnya tertuju pada keberhasilan belajar siswa.
Penutup

Minat belajar merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan
belajar. Untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa, terlebih dahulu kita harus
memperhatikan apa yang menjadi latar belakang yang menyebabkan berkurang atau bahkan
hilangnya minat belajar. Setelah itu baru kita mengambil langkah-langkah apa yang harus
kita lakukan untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa. Dengan demikian upaya
untuk menumbuhkan minat belajar sesuai dengan sasarannya.

Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat kita tarik beberapa kesimpulan yang
berkaitan dengan upaya menumbuhkan minat belajar pada peserta didik. Pertama, pahami
dan kenali terlebih dahulu kondisi fisik dan psikologis siswa. Kedua, gunakan teknik dan
metode yang bervariasi dalam penyajian materi pembelajaran. Ketiga, penggunaan media
pembelajaran hendaknya dapat merangsang siswa untuk tertarik ikuti serta dalam
pembelajaran. Keempat, pahami kondisi lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah
sehingga kita dapat mencari jalan keluar dalam menumbuhkan minat belajar siswa.

Rujukan

[1] Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[2] Munandar, S.C. Utami. 1985. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah:
Petunjuk bagi Para Guru dan Orang Tua. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
[3] Sardiman, AM.1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar: Pedoman bagi Guru dan
Calon Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
[3] Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
[4] Djaali, H. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
[5] Gie, The Liang. 1995. Cara Belajar yang Efisien. Yogyakarta: Liberty.
[6] Loekmono,JT. 1985. Bimbingan bagi Anak Remaja yang bermasalah. Jakarta: CV.
Rajawali.

Dampak Globalisasi Terhadap Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal
batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang
dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai
pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di
seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi,
yaitu dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti
bidang ideologi, politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Teknologi informasi
dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, teknologi
informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat
tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat dihindari kehadirannya,
terutama dalam bidang pendidikan.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus
globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Banyak sekolah di
indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem
pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan
billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa
Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari
sekolah menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka
program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan
pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan
diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan
diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau
tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar
tidak menjadi “budak” di negeri sendiri.

Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga
dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi
antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi.
Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya
bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras
dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak
masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat
menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang
cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum
dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk dapat menikmati program
kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di tanah air diperlukan dana lebih dari 50
juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat dinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan
kata lain yang maju semakin maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin
terpinggirkan dan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapat
menyeret mereka dalam jurang kemiskinan. Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya
di sekolah – sekolah mewah di saat masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah
payah bahkan untuk sekedar menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan ini
dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Peningkatan kualitas
pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalam masyarakat akibat
ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidak diredam dari sekarang.

1.2 Rumusan Masalah


Secara umum, rumusan masalah pada makalah “Dampak Globalisasi Terhadap
Pendidikan” ini dapat dirumuskan seperti pada pertanyaan berikut.
a. Apa dampak dari globalisasi untuk dunia pendidikan?
b. Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi?
c. Cara penyesuan pendidikan di Indonesia pada era globalisasi?

1.3 Tujuan
1. Bagi Penulis
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen dalam mata kuliah
pengantar pendidikan. Selain itu, bagi diri kami pribadi makalah ini juga diharapkan bisa
digunakan untuk menambah pengetahuan yang lebih bagi mahasiswa, baik dalam lingkup
universitas negeri malang maupun di civitas akademika yang lain.
2. Bagi Pembaca
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan
dan menambah ilmu pengetahuan mengenai globalisasi. Para pembaca yang dominan dari
kaula mahasiswa bisa digunakan untuk langkah menuju ke pengetahuan yang lebih luas,
sehingga kedepannya tercipta sdm-sdm yang unggul.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat bisa lebih memahami tentang arti penting globalisasi sehingga
dampak negatif yang berimbas bisa leih diperkecil. Dan juga diharapkan agar realisasi
kegiatan positif terhadap adanya pendidikan semakin lebih baik.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengaruh Globalisasi terhadap dunia Pendidikan


Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh
perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era
pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka
peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia.
Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat
meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki
manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-
luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral yang
dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi, menimbulkan dampak
positif dan negatif dari dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan dijelaskan dalam poin-
poin berikut:

1. Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia

Pengajaran Interaktif Multimedia


Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran
pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang
berbasis teknologi baru seperti internet dan computer. Apabila dulu, guru menulis dengan
sebatang kapur, sesekali membuat gambar sederhana atau menggunakan suara-suara dan
sarana sederhana lainnya untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi. Sekarang
sudah ada computer. Sehingga tulisan, film, suara, music, gambar hidup, dapat digabungkan
menjadi suatu proses komunikasi.

Dalam fenomena balon atau pegas, dapat terlihat bahwa daya itu dapat mengubah
bentuk sebuah objek. Dulu, ketika seorang guru berbicara tentang bagaimana daya dapat
mengubah bentuk sebuah objek tanpa bantuan multimedia, para siswa mungkin tidak
langsung menangkapnya. Sang guru tentu akan menjelaskan dengan contoh-contoh, tetapi
mendengar tak seefektif melihat. Levie dan Levie (1975) dalam Arsyad (2005) yang
membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus kata, visual dan
verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk
tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan
fakta dengan konsep.
Perubahan Corak Pendidikan
Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk
berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak,
membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan
perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas, dan PP 19 tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan
paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis. Sekolah-sekolah atau
satuan pendidikan berhak mengatur kurikulumnya sendiri yang dianggap sesuai dengan
karakteristik sekolahnya. Kemudahan Dalam Mengakses Informasi Dalam dunia pendidikan,
teknologi hasil dari melambungnya globalisasi seperti internet dapat membantu siswa untuk
mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan serta sharing riset antarsiswa terutama
dengan mereka yang berjuauhan tempat tinggalnya.

Pembelajaran Berorientasikan Kepada Siswa Dulu, kurikulum terutama didasarkan


pada tingkat kemajuan sang guru. Tetapi sekarang, kurikulum didasarkan pada tingkat
kemajuan siswa. KBK yang dicanangkan pemerintah tahun 2004 merupakan langkah awal
pemerintah dalam mengikut sertakan secara aktif siswa terhadap pelajaran di kelas yang
kemudian disusul dengan KTSP yang didasarkan pada tingkat satuan pendidikan. Di dalam
kelas, siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar-mengajar. Dulu, hanya guru yang
memegang otoritas kelas. Berpidato di depan kelas. Sedangkan siswa hanya mendengarkan
dan mencatat. Tetapi sekarang siswa berhak mengungkapkan ide-idenya melalui presentasi.
Disamping itu, siswa tidak hanya bisa menghafal tetapi juga mampu menemukan konsep-
konsep, dan fakta sendiri.

2. Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia

Komersialisasi Pendidikan
Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-
sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan
sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam
bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai
pendekatan kembali ke masa depan. Salah satu ciri utamanya ialah semangat menguji murid
ala Victoria yang bisa menyenangkan Mr. Gradgrind dalam karya Dickens. Perusahaan-
perusahaan ini harus membuktikan bahwa mereka memberikan hasil, bukan hanya bagi
murid, tapi juga pemegang saham.(John Micklethwait, 2007:166). .

Bahaya Dunia Maya


Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga
dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang
berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme,
kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan
pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti
viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet. Contohnya, 6 Oktober 2009 lalu
diberitakan salah seorang siswi SMA di Jawa Timur pergi meninggalkan sekolah demi
menemui seorang lelaki yang dia kenal melalui situs pertemanan “facebook”. Hal ini sangat
berbahaya pada proses belajar mengajar.

Ketergantungan
Mesin-mesin penggerak globalisasi seperti computer dan internet dapat
menyebabkan kecanduan pada diri siswa ataupun guru. Sehingga guru ataupun siswa terkesan
tak bersemangat dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan alat-alat tersebut.
2.2 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia
2.2.1 Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah
sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU
Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian
kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum,
kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan, dan khusus dari pasal ini tampak jelas
adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem
pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang
berkepribadian sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan
sains dan teknologi. Secara kelembagaan,

sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institusi agama,
dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui
sekolah dasar, sekolah menengah, kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh
Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan
ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak
berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting
dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar
salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh aspek.

Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang


menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi,
pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan
ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya.
Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai ilmu
agama dan kepribadiannya pun bagus, tetapi buta dari segi sains dan teknologi. Sehingga,
sektor-sektor modern diisi orang-orang awam. Sedang yang mengerti agama membuat
dunianya sendiri, karena tidak mampu terjun ke sektor modern.

2.2.2 Mahalnya Biaya Pendidikan


Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalangan
masyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan yang
bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan
Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Makin
mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang
menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), dimana di Indonesia dimaknai sebagai
upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, komite sekolah yang merupakan organ
MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas
modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan
disodorkan kepada wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namun dalam penggunaan
dana, tidak transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah.

Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan
(RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas
memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu
pemerintah secara mudah dapat melempar tanggung jawabnya atas pendidikan warganya
kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas.
Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak
lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar
negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor
pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sector yang menyerap pendanaan besar seperti
pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas,
10/5/2005).

Koordinator LSM Education network foa Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika,
10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah
melegitimasi komersalialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab
penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi
untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan
mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu.
Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan
terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara kaya dan
miskin.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang
seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin setiap warganya
memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan
pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung
jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci
tangan’.

Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut.


Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi
bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-
bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi
perdagangan bebas (free trade).
Tesis akhirnya, bila sekolah selalu mengadakan drama tahun ajaran masuk sekolah dengan
bentuk pendidikan diskriminatif sedemikian itu, pendidikan justru tidak bisa mencerdaskan
bangsa. Ia diperalat untuk mengeruk habis uang rakyat demi kepentingan pribadi maupun
golongan.

2.2.3 Kualitas SDM yang Rendah


Akibat paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitas
kepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlian pun sangat
jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan dengan India, sebuah Negara
dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi, pendidikan yang rendah), ternyata
kualitas SDM Indonesia sangat jauh tertinggal. India dapat menghasilkan kualitas SDM yang
mencengangkan. Jika Indonesia masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga
kerja tak terdidik yang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi
di pasar Internasional.
Di samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah di Indonesia
masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1. berikut menjelaskan
tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP dan SMU maupun SMK untuk tahun
2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkan sekitar 218.000 guru tambahan, dan ini
menjadi tugas utama dari lembaga pendidikan keguruan.
Dalam menghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia
dengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga diperlukan sumber daya
manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non formal.
2.3 Penyesuaian Pendidikan Indonesia di Era Globalisasi
Dari beberapa takaran dan ukuran dunia pendidikan kita belum siap menghadapi globalisasi.
Belum siap tidak berarti bangsa kita akan hanyut begitu saja dalam arus global tersebut. Kita
harus menyadari bahwa Indonesia masih dalam masa transisi dan memiliki potensi yang
sangat besar untuk memainkan peran dalam globalisasi khususnya pada konteks regional.
Inilah salah satu tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif
dan tangguh. Kedua, dunia pendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan.
Namun dari uraian di atas, kita optimis bahwa masih ada peluang.
Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan
anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian dari pendidikan formal
anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat
penting dalam pendidikan anak akan membuat kita lebih hati-hati untuk tidak mudah
melemparkan kesalahan dunia pendidikan nasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain
dalam masyarakat, karena mendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral.
Semakin besar kuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini,
kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi, maka
semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsa kita sehingga
mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy
(strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak
dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga
jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun
2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih
bermartabat dan jaya sebagai pemenang dalam globalisasi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak
mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang
dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai
pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di
seluruh dunia

Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia


Pengajaran Interaktif Multimedia
Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia
pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis
teknologi baru seperti internet dan computer.

Perubahan Corak Pendidikan, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara.
Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau
atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk
melakukan perubahan.

Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia


Komersialisasi Pendidikan
Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan
sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait
menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia
pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan
menandai pendekatan kembali ke masa depan.

Bahaya Dunia Maya


Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga
dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang
berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme,
kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan
pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti
viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet.

Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi di indonesia adalah Mahalnya Biaya


Pendidikan, Kualitas SDM yang Rendah dan fasilitas pendidikan ang kurang, itu yang
mengakibatkan pendidikan tidak berjalan dengan lancar

Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning


strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah
beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang
juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu

3.2 Saran
Penulis memberikan saran yang ditujukan untuk
a. Masyarakat
agar para orang tua memperhatikan kepentingan anaknya dalam hal pendidikan sehingga
pendidikan berjalan dengan lancar
b. Pemerintah
Pemerintah harus menggarkan danan yang cukup untuk keperluan pendidikan dan
menambah beasiswa bagi guru untuk training

DAFTAR PUSTAKA

[1] Asri B. 2008. Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta.


[2] Faizah, F. 2009. Dampak Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan,
(Online)(http://www.blogger.com/profile/14458280955885383127), diakses 18 Oktober
2011.
[3] Munir. 2010. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Maqdani, Anggota
IKPI.
[4] Surya, M. 2002. Dasar-dasar Kependidikan di SD. Pusat penerbitan Universitas Terbuka.
Suryabrata, [5] S. 2010. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers.
[6] Januar, I. 2006. Globalisasi pendidikan dI indonesia,
(Online), (www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=mygroup&gid=3401
51), diakses 18 Oktober 2011.
[7] Wardoyo, C. 2007. Urgensi Pendidikan Moral (Online), (http://www.nu.or.i) diakses 18
oktober 2011.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan karya ilmiah sederhana yang berjudul “Pengembangan Pendidikan Budaya
dan Karakter Bangsa”.

Dan kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dra. Supriyati selaku guru pembimbing


2. Dan semua pihak yang telah membantu terselesainya tugas makalah ini. Mudah-
mudahan karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi
kelompok kami pada khususnya.

Harapan kami apabila ada kurang lebihnya kami mohon saran dan kritiknya karena masih
dalam taraf belajar.

Sidoarjo, Januari 2013

Penyusun,

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Persolan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat, baik itu melalui
media cetak, wawancara, dialog dan lain sebagainya. Persoalan yang muncul di masyarakat
seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan yang terjadi dimana-mana, sirkulasi
ekonomi yang terhambat serta dunia politik yang menuai pro dan kontra menjadi salah satu
topik yang hangat di masyarakat. Berbagai alternatif penyelesaian masalah ini telah dilakukan
seperti peraturan, undang-undang, penerapan hukum yang lebih kuat.

Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan budaya dan karakter bangsa juga telah menjadi
perhatian pemerintah. Pemerintah telah mengembangkan pendidikan budaya dan karakter
bangsa ini melalui Departemen Pendidikan Nasional. Karena itulah kami tertarik menjadikan
topik ini sebagai bahasan karya ilmiah sederhana yang akan kami tulis.

1.2 Identifikasi masalah


1.2.1 Peristiwa apa sajakah yang kini marak terjadi sebagai bentuk penyimpangan dari
karakter bangsa ?

1.2.2 Apa sebab-sebab terjadinya penyimpangan karakter tersebut ?

1.2.3 Dampak apa saja yang ditimbulkan akibat penyimpangan karakter ini ?

1.2.4 Bagaiman upaya mengurangi atau bahkan menghilangkan penyimpangan karakter


tersebut ?

1.3 Rumusan masalah

1.3.1 Bagaimana pengaruh penyimpangan karakter ini pada prestasi siswa ?

1.4 Tujuan dan manfaat

1.4.1 Mengembangkan kebiasaan dan perilaku anak bangsa yang terpuji dan sejalan dengan
karakter bangsa Indonesia.

1.4.2 Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab kepada anak bangsa sebagai
generasi penerus bangsa.

1.4.3 Mengembangkan sikap mandiri, disiplin, jujur, kreatif dan berwawasan kebangsaan

1.5 Metode penelitian

1.5.1 Mengamati kondisi di lapangan

1.5.2 Membaca buku pendukung


Bab II

Pembahasan

2.1 Contoh-contoh perilaku penurunan moral

Ada beberapa peristiwa yang tergolong penyimpangan karakter di negeri ini. Contoh kecil
saja, di zaman yang sudah modern ini banyak orang yang lupa beretika, lupa menjaga sopan
santun, tak mau saling tolong menolong, tak bertanggung jawab, tidak tahu batas-batas
pergaulan dan masih banyak lagi. Hal sekecil itu saja sudah tak terkendali, apalagi hal yang
besar.

Realitanya, banyak makelar kasus, penggelapan pajak, korupsi, kejahatan yang dilakukan
oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab dan yang amat sangat memprihatinkan adalah
perilaku remaja Indonesia yang masih berada di usia sekolah. Menurut survey, pada tahun
2008 yang dilakukan di 33 provinsi di Indonesia sekitar 18.000 penduduk Indonesia
terjangkit penyakit HIV dan AIDS, 63% remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah,
21% diantaranya melakukan aborsi dan sekitar 3,2 juta penduduk Indonesia adalah pemakai
narkoba dan 1,1 juta diantaranya adalah pelajar tingkat SMP hingga mahasiswa. Keadaan
inilah yang membuat keadaan negeri ini semakin buruk.

2.2 Sebab-sebab penurunan moral

Orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak sekaligus orang pertama yang
memberikan kasih sayang, bahkan ketika anak itu masih ada dalam kandungan. Contohnya
saja seorang ayah mengumandangkan adzan dengan lirih di telinga sang anak ketika ia baru
saja dilahirkan, itulah bekal awal untuk mengawali hidup dengan kebaikan. Sedangkan,
ketika sang anak hendak tidur, ibulah yang menenangkan atau membacakan dongeng
untuknya. Tidak hanya itu, ayah dan ibu juga mengajari putra putrinya berjalan, berbicara dan
mulai berkomunikasi dengan orang lain. Dengan begitulah, orang tua memberi bekal utama
dalam megendalikan anaknya untuk menjadi anak yang baik.

Namun, kenyataannya ada orang tua yang belum mengerti bagaimana cara mengasuh anak
dengan penuh cinta dan kasih sayang. Buktinya, ada saja orang tua yang menitipkan anaknya
kepada babby sitter atau pembantu rumah tangga. Sehingga, anak tersebut mendapatkan
pendampingan tumbuh dan berkembang bukan dari orang tua yang sudah berkeahlian
mengurus anak dan tidak pula orang tua itu menjadi pendamping terindah ketika anaknya
tumbuh. Ada saja alasan yang dijadikan para orang tua untuk memutuskan menitipkan anak
kepada babby sitter. Salah satu alasan andalannya adalah karena harus mencari nafkah untuk
membiayai anak itu, padatnya jam kerja dan lain sebagainya. Seharusnya tidak begitu. Boleh
saja bekerja, tanpa melupakan tugas utama sebagai orang tua.

Ada pepatah bilang, bahwa “segala sesuatu yang ditangani oleh orang yang bukan ahlinya,
tunggulah saat kehancurannya.” Berarti harusnya para orang tua harus memiliki kemampuan
dalam hal mengurus anak.

Tidak hanya itu, bentuk perlakuan yang diterima anak dari orang tua dan lingkungan,
menentukan kualitas kepribadian seorang individu. Seseorang yang memiliki kepribadian
lemah karena ia kurang mendapat perhatian penuh dari orang tua, kurang rasa aman, sering
dimanjakan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat karena ia telah
mendapat perhatian penuh dari orang tua, kehangatan jiwa dan pemberian pengalaman hidup
dari orang tuanya.

Peran kedua sebagai seseorang yang mengembangkan karakter anak adalah guru. Sebagai
seorang guru, hendaknya memiliki kemampuan dalam mendidik siswanya terutama sering-
sering mengecek siswanya. Tidak hanya sekedar menghabiskan bab-bab pada buku pelajaran,
sekedar menyampaikan informasi atau mengejar target kurikulum.

Menurut pengakuan salah satu siswa, ada saja penyakit guru yang dapat mempengaruhi
proses belajar mengajar di kelas, diantaranya :

1. Tidak punya selera mengajar


2. Kurang memperkaya materi (lemah sumber)
3. Kurang disiplin
4. Asal masuk kelas
5. Tidak bisa komputer
6. Kurang terampil
7. Asal sampaikan materi, urutan tidak akurat
8. Di kelas diremehkan anak

Hal yang seperti inilah yang bisa menjadi salah satu penghambatnya.

Peran ketiga adalah masyarakat atau tempat anak itu tinggal atau bermain atau bergaul. Anak
bisa terkontaminasi kebiasaan yang buruk akibat pengaruh luar. Sehingga, sedini mungkin
orang tua harus bisa menjaga anak-anaknya dari pengaruh luar yang negatif.

2.3 Dampak penurunan moral

2.3.1 Banyak anak berperilaku anarkis


2.3.2 Banyak anak tidak memiliki sikap yang santun terhadap orang lain

2.3.3 Tidak mau tolong menolong dengan sesama

2.3.4 Tidak menghargai sesuatu

2.3.5 Banyak terjadi pemberontakan yang dilakukan anak terhadap orang tuanya

2.3.6 Perubahan gaya hidup, mulai dari nilai-nilai agama, social dan budaya

2.3.7 Jati diri bangsa Indonesia luntur

2.4 Upaya meminimalisir penurunan moral

2.4.1 Bagi pra orang tua, sebaiknya mulai sekarang belajar bagaimana mengasuh anak yang
baik dan benar dengan cara mengikuti parenting education

2.4.1 Lebih memperhatikan anak dan mendampingi anak dalam situasi apapun

2.4.1 Mengutamakan waktu bersama dengan keluarga walaupun jam kerja padat

2.4.1 Bagi para guru, sebaiknya mulai menerapkan proses pembelajaran yang aktif dan
menyenangkan serta membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam suatu mata pelajaran.

2.4.1 Guru yang menjadi contoh dan panutan di sekolah juga harus dapat memberi contoh
yang baik kepada murid-muridnya, seperti berpakaian rapi, berkata sopan, disiplin, perhatian
kepada murid dan menjaga kebersihan.

2.4.1 Melakukan kegiatan-kegiatan rutin di sekolah, seperti setiap hari senin melakukan
upacar bendera, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru
atau teman

2.4.1 Mengkoreksi perbuatan yang kurang baik secara spontan, misalnya menegur ketika
siswa berteriak-teriak ketika proses pembelajaran berlangsung

2.4.1 Memuji perbuatan tepuji, misalnya memperoleh nilai tinggi, membantu teman atu
bahkan memperoleh prestasi dibidang seni atau olahraga

2.4.1 Sekolah sebaiknya mendukung program pendidikan budaya ddan karakter bangsa
dalam perwujudan misalnya toilet sekolah yang bersih, bak sampah terletak di berbagai
tempat dan kondisi sekolah yang bersih

2.4.1 Kita sendiri sebagai pelajar, hendaknya dapat menyaring hal-hal yang baik menurut
kita dan hal-hal yang buruk bagi kita

2.5 Pengaruh penurunan moral terhadap prestasi belajar


Sebuah penelitian yang sangat mengejutkan yang menyangkut kecerdasan seseorang dalam
meraih kesuksesan pernah dikemukakan oleh pakar kelas dunia, Daniel Goleman yang
menyatakan bahwa “80% kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosinya
(emotional quotient=eq), sedangkan 20% ditentukan oleh IQnya.” Disinilah pembentukan
karakter itu sangat berperan untuk meraih kesuksesan. Jadi dapat disimpulkan bahwa
pendidikan karakter dapat dijadikan obat agar terjadi peningkatan prestasi akademik pada
siswa.

Bab III

Penutup

3.1 Kesimpulan

Dari berbagai uraian yang panjang lebar diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

3.1.1 Di negeri ini sudah jelas terjadi penurunan moral yang cukup memprihatinkan,
sehingga seluruh lapisan masyarakat harus bertindak lebih lanjut atas hal ini

3.1.2 Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini sangat berpengaruh pada prestasi siswa dan
akhlak setiap individu

3.1.3 Orang tua dan guru merupakan orang pertama yang member bekal kepada anak-anak
bangsa tentang pendidikan karakter sebelum anak tersebut terjun di masyarakat

3.1.4 Perilaku anak tergantung dari pemberian contoh oleh orang tua terutama dan gurunya

3.1.5 Keadaan lingkungan juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak bangsa

3.1.6 Pengaruh yang mendasar akibat penurunan moral adalah pesatnya globalisasi

3.2 Saran

Ada beberapa saran yang perlu kami sampaikan untuk kelanjutan penulisan karya ilmiah ini,
diantaranya :

3.2.1 Semoga dengan adanya karya ilmiah sederhana yang kami tulis ini dapat memperkaya
pendapat pembaca untuk mengembangkan pendidikan karakter pada anak

3.2.2 Dapat dijadikan referensi tentang pendidikan karakter pada anak

Daftar pustaka
ü Beberapa pendapat siswa

ü Fadjaray, Suhadi. 2012. Character Building Strategies Bercocok Tanam Karakter di Kebun
Sanubari Anak. Jakarta: Rahmat Media Press (RAHMA PRESS)

Anda mungkin juga menyukai