0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan9 halaman

Kesiapsiagaan Bencana Puskesmas Suboh

1) The document discusses a study that assessed the level of disaster preparedness at the Suboh Public Health Center in Situbondo Regency, Indonesia. 2) The study found that the overall level of preparedness was 34% (less than adequate category), health services preparedness was 63% (adequate category), surveillance preparedness was 100% (good category), environmental health preparedness was 35% (less than adequate category), and logistics preparedness was 72% (adequate category). 3) Suboh sub-district has experienced landslides and floods in the past and is prone to natural disasters. Having adequate disaster preparedness at local health centers is important for minimizing impacts like infrastructure damage, injuries

Diunggah oleh

riezky
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan9 halaman

Kesiapsiagaan Bencana Puskesmas Suboh

1) The document discusses a study that assessed the level of disaster preparedness at the Suboh Public Health Center in Situbondo Regency, Indonesia. 2) The study found that the overall level of preparedness was 34% (less than adequate category), health services preparedness was 63% (adequate category), surveillance preparedness was 100% (good category), environmental health preparedness was 35% (less than adequate category), and logistics preparedness was 72% (adequate category). 3) Suboh sub-district has experienced landslides and floods in the past and is prone to natural disasters. Having adequate disaster preparedness at local health centers is important for minimizing impacts like infrastructure damage, injuries

Diunggah oleh

riezky
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh Kabupaten Situbondo (The Disaster
Preparedness at Suboh Public Health Center in Situbondo Regency)
Zahrotul Istiqomah, Pudjo Wahjudi, Irma Prasetyowati
Bagian Epidemiologi dan Biostatistika Kependudukan
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember
Jalan Kalimantan 37, Jember 68121
e-mail korespondensi: [email protected]

Abstract
Suboh sub-district is one area in Situbondo regency especially prone to landslides and floods. The
impacts if the disaster occured, among others, the destruction of infrastructure, injuries, certain
infectious diseases and deaths. For disaster relief effort required , among others, through the efforts
of many parties, especially the preparedness of health centers in the hope of disaster losses can be
minimized. Public Health Center is the first level of health care facilities and is spearheading
responsible public health services in the area of work and needed in disaster risk management in
the health sector. By assessing how the state of emergency preparedness public health center then
action can be taken to maintain or improve the preparedness, as long as this has not been done
public health center assessment of disaster preparedness, especially in disaster prone areas. This
study aims to asses the disaster preparedness at Suboh Public Health Center conducted in March-
April 2015 descriptive research with quantitative approach. Based on the survey results revealed
the preparedness in general was 34 % (less category), preparedness in health services was 63 %
(enough category), preparedness of surveillance was 100% (both categories), preparedness of
health environmental sanitation was 35 % (less category) and preparedness logistics was 72%
( enough category).

Keywords: Disaster preparedness, public health center

Abstrak
Kecamatan Suboh merupakan salah satu daerah di Kabupaten Situbondo yang rawan bencana
terutama longsor dan banjir. Dampak yang ditimbulkan jika bencana tersebut terjadi antara lain
rusaknya sarana dan prasarana, korban luka, penyakit menular tertentu, dan bahkan korban jiwa.
Diperlukan upaya penanggulangan bencana untuk meminimalisir dampak tersebut antara lain
melalui upaya kesiapsiagaan dari banyak pihak terutama puskesmas. Puskesmas merupakan sarana
pelayanan kesehatan tingkat pertama dan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat
yang bertanggungjawab di wilayah kerjanya, dan dibutuhkan dalam pengendalian resiko bencana
dibidang kesehatan. Dengan menilai bagaimana keadaan kesiapsiagaan bencana puskesmas maka
dapat diambil tindakan dengan mempertahankan atau meningkatkan kesiapsiagaan tersebut,
sementara selama ini belum dilakukan penilaian kesiapsiagaan bencana puskesmas terutama di
daerah rawan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapsiagaan bencana di Puskesmas
Suboh, yang dilakukan pada bulan Maret - April 2015 jenis penelitian adalah deskriptif dengan
pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kesiapsiagaan secara umum
kurang sebesar 34% (kategori kurang), kesiapsiagaan bidang pelayanan kesehatan sebesar 63%
(kategori cukup), kesiapsiagaan bidang surveilans sebesar 100% (kategori baik), kesiapsiagaan
bidang penyehatan lingkungan sebesar 35% (kategori kurang) dan kesiapsiagaan bidang logistik
sebesar 72% (kategori cukup).

Kata Kunci: Kesiapsiagaan bencana, puskesmas

Pendahuluan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan,


angin puting beliung, gempa bumi, kebakaran hutan,
Selama 5 tahun terakhir telah terjadi bencana kebakan pemukiman, dan bencana alam lainnya,
alam sebanyak 158.238 kasus meliputi bencana diantara bencana alam yang terjadi di Indonesia

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


2

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


paling banyak adalah banjir dan tanah longsor [1]. serta dunia usaha [4]. Puskesmas adalah bagian dari
Kabupaten Situbondo merupakan daerah di Jawa pemerintah daerah wajib melaksanakan fungsinya
Timur yang sering mengalami bencana. Terletak di dalam kesiapsiagaan bencana. Puskesma sebagai lini
pantai utara bagian timur dengan luas 1.638,50 Km 2 terdepan yang berperan pada pertolongan pertama
hampir keseluruhan terletak di pesisir dengan pada korban, mempersiapkan masyarakat dalam
panjang pantai sekitar 140 Km. Secara umum upaya pencegahan terjadinya kasus gawat darurat
keadaan alam Kabupaten Situbondo terbagi atas dua maupun memberikan ketrampilan dalam memberikan
bagian besar. Pertama, daerah di bagian utara yang pertolongan sesuai dengan kemampuan) [3].
berupa dataran rendah dan pantai. Bagian terendah Kesiapsiagaan bencana puskesmas meliputi be-
dari kawasan ini adalah dataran Panarukan. Kedua, berapa aspek yaitu kesiapsiagaan umum yang terdiri
daerah di bagian selatan yang berupa lereng dari organisasi dan tata laksana, adanya peta daerah
pegunungan. Daerah tertinggi di kawasan ini terletak rawan bencana dan rencana kontijensi, kesiapsiagan
di Kecamatan Arjasa yang merupakan lereng utara bidang pelayanan kesehatan, kesiapsiagaan bidang
gunung Raung. Daerah Situbondo secara geografis surveilans, kesiapsiagaan bidang penyehatan lingkun-
berupa dataran rendah dan pantai dengan temperatur gan dan kesiapsiagaan bidang logistik. Penelitian ini
udara yang cukup panas antara 24,7° - 27,9° C [2]. bertujuan untuk mengidentifikasi kesiapsiagaan ben-
Berdasarkan tinjauan geografis, geologis, cana pada Puskesmas Suboh, Kabupaten Situbondo.
hidrologis, dan demografis, wilayah Kabupaten
Situbondo memiliki karakteristik sebagai kawasan Metode Penelitian
rawan terhadap terjadinya bencana alam. Salah satu
daerah yang rawan terjadi bencana bencana adalah Penelitian ini merupakan jenis penelitian
Desa Mojodungkol yang berada di Kecamatan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Objek
Suboh. Kejadian bencana tanah longsor pernah penelitian ini adalah Puskesmas Suboh Kabupaten
terjadi pada tanggal 16 Desember 2014 dan Situbondo. Teknik pengumpulan data melalui
menyebabkan 298 rumah warga rusak dan harus wawancara dan obeservasi menggunakan instrument
direlokasi ke tempat yang lebih aman. Hingga saat ini kesiapsiagaan yang diperoleh dari Dinas Kesehatan
status di desa Mojodungkol masih ditetapkan siaga Provinsi Jawa Timur. Teknik analisis data dilakukan
oleh BPBD [2]. dengan mengklasifikasikan data sesuai dengan aspek
Banyak dampak yang akan ditimbulkan apabila kesiapsiagaan bencana kemudian menghitung dan
bencana tersebut terjadi antara lain rusaknya sarana mempresentasekan indikator yang terpenuhi, hasil
dan prasarana fisik (perumahan penduduk, bangunan persentase tersebut dikategorikan menurut standar
perkantoran, sekolah, tempat ibadah, sarana jalan, yang telah dibuat yaitu: baik dengan persentase 76%-
jembatan dan lain-lain) hanyalah sebagian kecil dari 100%, cukup dengan persentase 56%-75%, dan
dampak terjadinya bencana disamping masalah kese- kurang dengan persentase 40%-55% [5].
hatan seperti korban luka, penyakit menular tertentu,
menurunnya status gizi masyarakat, stress pasca Hasil Penelitian
trauma dan masalah psikososial, bahkan korban jiwa.
Upaya penanggulangan bencana diperlukan untuk Berikut ini adalah tabel yang mendeskripsikan
meminimalkan risiko atau bahkan terhindar dari dam- hasil penilaian kesiapsiagaan umum Puskesmas
pak bencana antara lain melalui upaya kesiapsiagaan Suboh tahun 2014.
dari banyak pihak terutama puskesmas yang Tabel 1 Hasil Penilaian Kesiapsiagaan Umum
merupakan sarana pelayanan kesehatan tingkat per- Puskesmas Suboh Tahun 2014.
tama dan merupakan ujung tombak pelayanan kese-
hatan masyarakat yang bertanggungjawab di wilayah Indikator Kesiapsiagaan Ada/Tid Nilai
kerjanya. Puskesmas dibutuhkan dalam pengendalian Umum ak
resiko bencana dibidang kesehatan [3].
a. Organisasi dan Tata Ada 1
Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan
Laksana
yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana
b. Peta Daerah Rawan Tidak 0
melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang
Bencana Ada
tepat guna dan berdaya guna. Kegiatan ini merupakan
c. Rencana Kontingensi Tidak 0
hal yang penting agar masyarakat yang berada pada
Ada
kawasan berpotensi bencana terdampak dapat
Jumlah 1
meminimalkan risiko atau bahkan terhindar dari dam-
Persentase % 1/3x100%=33%
pak bencana. Kesiapsiagaan merupakan merupakan
tanggungjawab bersama para stakeholder, mulai dari Kategori Kurang
pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


3

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


Indikator Kesiapsiagaan Bidang Ya/ Nil
Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa Puskesmas Pelayanan Kesehatan Tida ai
Suboh telah memiliki organisasi dan tata laksana, k
sementara indikator yang belum terpenuhi yaitu peta daerah rawan bencana Tidak 0
daerah rawan bencana, dan rencana kontingensi. 5. Puskesmas mempunyai dana
Secara keseluruhan Puskesmas Suboh telah penanggulangan bencana
memenuhi 1 dari 3 indikator pada aspek
kesiapsiagaan bidang umum. Penilaian dari indikator
tersebut menjadi 1/3x100%=33% (termasuk kategori
kurang).
Berikut ini adalah tabel yang mendeskripsikan
hasil penilaian kesiapsiagaan bencana di bidang a. Aspek Luar
pelayanan kesehatan tahun 2014. 1. Puskesmas sosialisasi Ya 1
Tabel 2 Hasil Penilaian Kesiapsiagaan Bidang kepada masyarakat
Pelayanan Kesehatan Puskesmas Suboh tentang kemungk-
Tahun 2014. inan terjadi bencana Ya 1
Indikator Kesiapsiagaan Bidang Ya/ Nil 2. Puskesmas melaksana-
Pelayanan Kesehatan Tida ai kan manajemen ben-
k cana (pra, saat dan
a. Sarana dan Prasarana setalah bencana)
1. Puskesmas mempunyai UGD Ya 1 Jumlah 17
2. UGD siap 24 jam dengan tenaga Ya 1 Persentase (%) 17/27x100%=63
stand by %
3. UGD siap 24 jam dengan tenaga Ya 1 Kategori Cuku
on call p
4. UGD siap tidak hanya saat jam Ya 1
kerja Ya 1
5. Ambulan dilengkapi peralatan Ya 1 Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa Puskesmas
6. Ambulan dilengkapi obat Ya 1 Suboh telah memenuhi aspek sarana dan prasarana
7. Tersedia alat komunikasi cepat Tidak 0 yaitu memiliki UGD yang siap 24 jam dengan tenaga
8. Tersedia tenda Tidak 0 standby, on call dan perlengkapan sesuai standar,
9. Tersedia seragam Tidak 0 memiliki ambulans yang lengkap dengan peralatan
10. Tersedia spanduk Tidak 0 dan obat dan alat komunikasi cepat, tetapi dalam
11. Tersedia bendera Ya 1 aspek sarana dan prasarana ini yang belum terpenuhi
12. Perlengkapan UGD sesuai yaitu identitas tim kesiapsiagaan seperti seragam,
standar spanduk dan bendera. Berdasarkan aspek SDM telah
a. SDM memiliki 1 dokter tetapi belum dilatih PPGD, 3 orang
1. Adanya dokter di Puskesmas Ya 1 perawat yang telah dilatih PPGD dan terdapat TGC.
2. Dokter telah dilatih PPGD Tidak 0 Berdasarkan aspek manajemen telah memiliki
3. Adanya perawat Ya 1 panduan penanggulangan kegawatdaruratan, sistem
4. Perawat telah dilatih PPGD Ya 1 jejaring dengan lintas sektor, tetapi dalam aspek
5. Sopir telah dilatih PPGD Tidak 0 manajemen ini belum memiliki early warning system
6. Tenaga lain telah dilatih PPGD Tidak 0 sesuai dengan spesifikasi kerawanan setempat dan
7. Adanya tenaga yang dilatih Tidak 0 dana khusus penanggulangan bencana. Berdasarkan
radiomedik aspek luar telah melakukan sosialisasi kepada
8. Adanya TGC Ya 1 masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya
a. Manajemen bencana dan melaksanakan manajemen
1. Puskesmas mempunyai penang- Ya 1 penanggulangan bencana (pra bencana, saat bencana
gulangan kegawat daruratan dan setelah bencana). Secara keseluruhan Puskesmas
2. Puskesmas mempunyai sistem Ya 1 Suboh telah memenuhi 17 dari 27 indikator pada
jejaring lintas sektor terkait aspek kesiapsiagaan bidang pelayanan kesehatan.
3. Puskesmas mempunyai early Tidak 0 Penilaian dari indikator tersebut menjadi
warning system sesuai spesi- 17/27x100%=63% (termasuk kategori cukup).
fikasi kerawanan Tidak 0 Berikut ini adalah tabel yang mendeskripsikan
4. Puskesmas mempunyai peta hasil penilaian kesiapsiagaan bencana di bidang
surveilans tahun 2014.

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


4

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


7. Tersedia AICON Tidak 0
Tabel 3 Hasil Penilaian Kesiapsiagaan Bidang 8. Tersedia kantong plastik Tidak 0
Surveilans Puskesmas Suboh Tahun 2014. 9. Tersedia drum/jerigen Tidak 0
Indikator Kesiapsiagaan Bidang Ya/ Nil 10. Tersedia MCK darurat Ya 1
Surveilans Tida ai 11. Tersedia desinfektan Tidak 0
k 12. Tersedia genset
a. Melakukan pengamatan dan Ya 1 13. Tersedia tenda untuk pengung-
pencatatan bencana yang sian
pernah terjadi Ya 1 Jumlah 6
b. Identifikasi desa rawan ben- Persentase (%) 6/17x100% =
cana Ya 1 35%
c. Memiliki buku Juknis Sur- Kategori Kurang
veilans Epidemiologi
Penyakit Menular,
Keracunan Makanan & Bencana. Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa dari aspek
Jumlah 3 lokasi pengungsian Puskesmas suboh telah memiliki
Persentase (%) 3/3x100% = tempat pengungsian bila suatu saat terjadi bencana
100% yaitu salah satunya di SDN Mojodungkol yang
Kategori Baik dilengkapi dengan sumber air bersih dan sarana
pembuangan kotoran dan limbah cair. Berdasarkan
aspek sumber daya telah mempunyai 1 tenaga
Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa Puskesmas kesehatan lingkungan dan telah mendapatkan
Suboh sudah memenuhi semua indikator yaitu pelatihan mengenai penanggulangan bencana dan
melakukan pengamatan dan pencatatan bencana, memiliki 1 genset, tetapi pada aspek sumber daya
mengidentifikasi desa rawan bencana dan memiliki yang belum terpenuhi yaitu PAC, kaporit, aquatab,
buku Juknis Surveilans Epidemiologi Penyakit mist blower, AICON, kantong plastik, drum, MCK
Menular, Keracunan Makanan & Bencana. Penilaian darurat, desinfektan dan tenda untuk pengungsian.
dari indikator tersebut menjadi 3/3x100%=100% Secara keseluruhan dari aspek penyehatan
(termasuk kategori cukup). lingkungan Puskesmas Suboh sudah memenuhi 6 dari
Berikut ini adalah tabel yang mendeskripsikan 17 indikator kesiapsiagaan. Penilaian dari indikator
hasil penilaian kesiapsiagaan bencana di bidang tersebut menjadi 6/17x100%=35% (termasuk
penyehatan lingkungan tahun 2014. kategori kurang).
Berikut ini adalah tabel yang mendeskripsikan
Tabel 4 Hasil Penilaian Kesiapsiagaan Bidang hasil penilaian kesiapsiagaan bencana di bidang
Penyehatan Lingkungan Puskesmas Suboh logistik tahun 2014.
Tahun 2014.
Indikator Kesiapsiagaan Ya/ Nil Tabel 5 Hasil Penilaian Kesiapsiagaan Bidang
Bidang Penyehatan Lingkungan Tidak ai Logistik Puskesmas Suboh Tahun 2014.
a. Lokasi Pengungsian Indikator Bidang Logistik Ada/Tida Nil
1. Tersedia lokasi pengungsian di Ya 1 k ai
wilayah puskesmas a. Vaksin 1. DPT Ada 1
2. Tersedia sumber air bersih Ya 1 2. BCG Ada 1
3. Tersedia sarana pembuangan Ya 1 3. Polio Ada 1
kotoran dan limbah cair 4. Hb Uniject Ada 1
4. Tersedia tempat pembuangan Tidak 0 5. Campak Ada 1
sampah b. Lemari es Ada 1
a. Sumber Daya c. Freezer Ada 1
1. Ada tenaga kesling di puskes- Ya 1 d. Thermos Ada 1
mas Ya 1 e. Cool pack Ada 1
2. Tenaga kesling yang terlatih Tidak 0 f. Vaksin carrier Ada 1
PPGD Tidak 0 g. Spuit 1 cc Ada 1
3. Tersedia PAC Tidak 0 Penyakit Diare
4. Tersedia kaporit Tidak 0 a. Oralit Tidak 0
5. Tersedia aquatab Tidak 0 b. Cairan RL Ada 1
6. Tersedia mist blower Tidak 0 c. Tetrasiklin Ada 1

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


5

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


Indikator Bidang Logistik Ada/Tida Nil Indikator Bidang Logistik Ada/Tida Nil
k ai k ai
d. Ko- Ada 1 b. Alko- Ada 1
trimox Ada 1 hol Ada 1
azole Ada 1 c. Klora
e. Met- Ada 1 mp
roneda Ada 1 hen
zol Ada 1 ico
f. Infus set l
g. Aqua Ca
h. Plester ps
i. Betadin d. Klora
Penyakit DBD mp
a. Abate Ada 1 hen
b. Mala- Tidak 0 ico
thi Ada 1 l
on/ Ada 1 Sir
Ico Tidak 0 up
n Tidak 0 Penyakit Kulit
c. Swing- Tidak 0 a. 24 Ada 1
fog Tidak 0 Ada 1
d. Ciri- Tidak 0 Ada 1
gen Tidak 0 Ada 1
10 Tidak 0 Ada 1
lite Tidak 0 b. Be- Ada 1
r
e. Ciri-
gen
5
lite
r
f. Solar
g. Premiu
m
h. Maske
r
i. Sarung c. Be-
tan
gan
j. Cattle
pak
k. Senter
+
bat
era
i
l. Sepatu d. Hid
Penyakit ISPA
a. Amoxilin Ada 1
b. OBH Ada 1
c. OBP Tidak 0
d. Masker Ada 1
Penyakit Typhoid
a. Infus Tidak 0
Set Ada 1

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


6

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


Indikator Bidang Logistik Ada/Tida Nil Indikator Bidang Logistik Ada/Tida Nil
k ai k ai

b. Te

e. CT

f. De c. A

Penyakit Mata
a.Klora Ada 1
mp Ada 1 Jumlah 41
hen Persentase (%) 41/57x100% =
ico 72%
l Kategori Cukup
Tet
es
Ma Berdasarkan tabel 5 diketahui secara
ta keseluruhan dari aspek logistik Puskesmas Suboh
b. Terra- sudah memenuhi 41 dari 57 indikator kesiapsiagaan.
my Penilaian dari indikator tersebut menjadi
cin 41/57x100% = 72% (termasuk kategori cukup).
Zal
f Pembahasan
Ma
ta Kesiapsiagaan umum termasuk kategori kurang
Makanan Tambahan Bayi karena hanya memenuhi 1 dari 3 indikator. Indikator
a. Susu Ada 1 yang telah terpenuhi yaitu organisasi dan tata laksana
b. Kacang Ada 1 sementara indikator yang belum terpenuhi yaitu peta
Hijau Ada 1 daerah rawan bencana dan rencana kontingensi.
c. Biskuit Tidak 0 Seharusnya dalam kesiapsiagaan umum Puskesmas
d. Blender Ada 1 Suboh juga memiliki peta daerah rawan bencana dan
makana rencana kontingensi sesuai dengan spesifikasi
n kerawanan bencana setempat. Menurut Undang-
e. Vit A Undang RI No. 24 Tahun 2007 Tentang
Umum penanggulangan bencana, kesiapsiagaan dilakukan
a. Ka Tidak 0 melalui pengorganisasian dan tata laksana yang telah
Tidak 0 ditetapkan [4]. Organisasi dan tata laksana yang ada
Tidak 0 di Puskesmas Suboh berupa Tim Gerak Cepat yang
diterjunkan untuk melaksanakan penilaian awal
situasi bencana dengan tujuan mengidentifikasi lokasi
kejadian secara tepat, waktu terjadinya bencana, tipe
bencana yang terjadi, perkiraan jumlah korban, risiko
potensial tambahan dan populasi yang terpapar oleh
bencana. Hal tersebut sudah terpenuhi dan sesuai
dengan tugas yang telah ditetapkan. Dalam situasi
keadaan darurat bencana sering terjadi kegagapan

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


7

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


pananganan dan kesimpangsiuran informasi dan data spesifikasi kerawanan bencana setempat yaitu
korban maupun kondisi kerusakan sehingga bencana tanah longsor.
mempersulit dalam pengambilan kebijakan untuk Kesiapsiagaan bidang pelayanan kesehatan
penanganan darurat bencana, dengan adanya TGC ini termasuk kategori cukup karena telah memenuhi 17
hal tersebut dapat dihindari, sistem koordinasi akan dari 27 indikator. Puskesmas sebagai pelayanan
terbangun dengan baik, penyaluran bantuan, kesehatan pertama yang ada diwilayah bencana
distribusi logistik terpantau sehingga kegiatan menjadi sangat penting peranannya terutama dalam
penanganan tanggap darurat dapat terukur dan pengorganisasian layanan kesehatan selama situasi
terarah. bencana. Pelayanan puskesmas terfokus dalam
Pada indikator yang kedua yaitu peta daerah pencarian dan penyelamatan korban yang
rawan bencana, Puskesmas Suboh tidak memiliki memerlukan baik personel medis (SDM) atau
peta daerah rawan bencana hal ini disebabkan peralatannya [7]. Puskesmas Suboh sudah memiliki
Puskesmas Suboh kurang mengerti pentingnya fungsi sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan
dari peta daerah rawan bencana tersebut hanya tersebut diantaranya terdapat UGD yang stand by 24
terdapat peta imunisasi dan daerah UCI. Melakukan jam lengkap dengan peralatan sesuai standar, terdapat
pembuatan peta wilayah kerja yang menjadi 1 orang dokter, 3 orang perawat dan 1 sopir, tetapi
tanggungjawab puskesmas meliputi daerah rawan dari 3 profesi ini hanya perawat saja yang
bencana, peta sumber daya kesehatan diwilayah mendapatkan pelatihan PPGD. Sebaiknya baik itu
kerja, peta risiko bencana, peta elemen-elemen dokter, perawat maupun sopir juga mendapatkan
masyarakat yang kemungkinan menjadi korban pelatihan agar lebih cepat tepat dan tidak keliru dan
bencana dan peta potensi masyarakat dan lingkungan penanganan korban gawat darurat akibat bencana.
merupakan salah satu fungsi dari puskesmas [3]. Hal Kesiapsiagaan bidang surveilans termasuk
tersebut menunjukkan bahwa Puskesmas Suboh kategori baik karena telah memenuhi semua indikator
belum melakukan fungsinya sebagai pusat penggerak kesiapsiagaan. Menurut WHO dalam Kemenkes RI
pembangunan berawawasan kesehatan. Peta daerah Nomor 1116/Menkes/SK/VIII/2003, surveilans
rawan bencana ini sebenarnya sangat berguna bagi adalah proses pengumpulan, pengolahan dan analisis
pengambil keputusan terutama dalam antisipasi dan interpretasi data secara sistematik dan terus
kejadian bencana alam. Masyarakat dan pemerintah menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang
dapat mengetahui dan memahami kondisi yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan
kebencanaan di lingkungannya sehingga mereka [8]. Puskesmas mempunyai tugas untuk
dapat membuat rencana kesiapsiagaan. Puskesmas mengumpulkan data mengenai data bencana, sumber
Suboh yang tidak memiliki peta daerah rawan daya sarana, tenaga dan dana, sanitasi dasar, upaya
bencana akan sulit mengetahui dan memahami kesehatan, penanggulangan bencana, status kesehatan
kondisi di wilayah kerja puskesmas terlebih lagi dan gizi serta data mengenai masalah pelayanan
untuk membuat rencana kesiapsiagaan maupun kesehatan, melakukan pengolahan data mengenai
rencana kontingensi. masalah kesehatan untuk melihat besaran dan
Pada indikator yang ketiga yaitu rencana kecenderungan permasalahan kesehatan untuk
kontingensi. Rencana kontingensi akan mampu peningkatan pelayanan dan menyiapkan data masalah
meminimalisir dampak bencana, mencakup kesehatan dalam bentuk tabel, grafik, pemetaan, dll
pengembangan skenario dan perkiraan kebutuhan, untuk dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
dana, sumberdaya manusia dan lainnya, dan Kabupaten/Kota [9]. Kegiatan yang dilakukan
menentukan mekanisme pengambilan keputusan [6]. Puskesmas Suboh dalam surveilans ini yaitu
Puskesmas Suboh tidak mempunyai rencana pengamatan dan pencatatan bencana yang pernah
kontingensi karena belum mengerti arti dan terjadi, dan identifikasi desa rawan bencana. Hal ini
pentingnya rencana kontingensi, padahal rencana menunjukkan bahwa Puskesmas Suboh telah
kontingensi ini penting sebagai upaya pencegahan melaksanakan tugas surveilans pada masa bencana.
dan pengurangan risiko akibat bencana yang Diharapakan kegiatan yang telah dilakukan tersebut
diantaranya mencakup proses pengaturan awal dapat memberikan informasi kepada unit yang
sehingga bisa membuat perencanaan atau menyusun membutuhkan terutama badan atau instansi yang
strategi dan prosedur dalam menanggapi potensi terkait bencana untuk menentukan kebijakan
krisis atau kedaruratan yang akan terjadi. Mengingat penanggulangan bencana dan secara terus menerus
pentingnya rencana kontingensi ini merupakan dapat dilakukan tidak hanya saat bencana tersebut
bagian penting dari keseluruhan program terjadi.
kesiapsiagaan maka sebaiknya Puskesmas Suboh Kesiapsiagaan bidang penyehatan lingkungan
dapat membuat rencana kontingensi sesuai dengan termasuk kategori kurang karena hanya memenuhi 6
dari 17 indikator. Seharusnya Puskesmas Suboh

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


8

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


harus memenuhi semua indikator kesiapsiagaan Puskesmas Suboh tidak memiliki persediaan
penyehatan lingkungan hal ini terkait dengan logistik khusus untuk bencana hal ini terkait dengan
bagaimana penanganan masyarakat di pengungsian. masa kadaluwarsa dan anggaran dana yang tidak
Kamp pengungsian sementara sering menciptakan tersedia untuk bencana namun ketika ada bencana,
daerah-daerah dengan kepadatan penduduk tinggi maka logistik yang digunakan untuk keadaan darurat
sementara layanan yang sesuai kemungkinan tidak adalah logistik yang tersedia di program dan
ada. Kekurangan```````````` fasilitas air dan sanitasi selanjutnya Dinas Kesehatan akan memberikan
dasar menurunkan derajat higiene yang ada dan bantuan untuk mensuplai ketika persediaan habis. Hal
meningkatkan risiko terjadinya penyakit menular. ini sesuai dengan Pedoman Teknis Penanggulangan
Pemilihan lokasi pengungsian sangat penting untuk Kesehatan Akibat Bencana dari Departemen
memastikan bahwa kamp tersebut memiliki akses ke Kesehatan Republik Indonesia bahwa penyediaan dan
layanan penyediaan air dan kesehatan lingkungan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan dalam
lain yang dapat diandalkan [7]. Beberapa aspek yang penanggulangan bencana pada dasarnya tidak akan
belum tersedia seperti yang disebutkan diatas dapat membentuk sarana dan prasarana baru, tetapi
memicu terjadinya letupan penyakit misalnya menggunakan sarana dan prasarana yang telah
ketidaktersediaan tempat pembuangan sampah akan tersedia, hanya intensitas pekerjaannya ditingkatkan
menyebabkan sampah di penampungan berserakan dengan memberdayakan sumber daya. Obat dan
dan menjadi sarang vektor (lalat, tikus, nyamuk) yang Perbekalan Kesehatan yang tersedia di pustu dan
dapat menularkan penyakit pada manusia seperti puskesmas dapat langsung dimanfaatkan untuk
diare, kolera dan thypus. Hal ini bisa saja terjadi melayani korban bencana, bila terjadi kekurangan
apabila vektor yang berasal dari sampah tersebut dapat meminta tambahan tambahan ke Dinkes
menghinggapi makanan (foodborne disease) dan Kabupaten/Kota [9].
ketidaktersediaan MCK darurat juga menjadi masalah
karena banyak penyakit menular menyebar melalui Simpulan dan Saran
makanan dan minuman yang terkontamniasi feses,
dengan demikian harus dilakukan upaya dengan Hasil penilaian kesiapsiagaan bencana
memastikan pembuangan ekskreta yang saniter dan Puskesmas Suboh menunjukkan kesiapsiagaan secara
menyediakan beberapa bahan penyehatan lingkungan umum termasuk kategori kurang, kesiapsiagaan
yang digunakan untuk menjamin tersedianya air yang bidang pelayanan termasuk kategori cukup,
bersih dan layak dipakai oleh masyarakat. kesiapsiagaan bidang surveilans termasuk kategori
Kesiapsiagaan bidang penyehatan logistik baik, kesiapsiagaan bidang penyehatan lingkungan
termasuk kategori cukup karena memenuhi 41 dari 57 termasuk kategori kurang dan kesiapsiagaan bidang
indikator. Puskesmas Suboh telah siap sedia semua logistik termasuk kategori cukup.
logistik pada berbagai penyakit. Namun untuk Saran bagi Puskesmas Suboh Pada
kantung mayat, tenda dan ambulans kit pihak kesiapsiagaan di bidang umum perlu membuat peta
puskesmas tidak menyediakan, kantung mayat dan daerah rawan bencana dan rencana kontingensi, pada
tenda biasanya meminjam pada BPBD. Secara umum kesiapsiagaan di bidang pelayanan kesehatan perlu
puskesmas sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan kelengkapan sarana dan prasarana
meningkatkan kesehatan masyarakat terutama pada yang kurang yaitu tenda untuk pengungsian, identitas
saat terjadi bencana, puskesmas harus memiliki tim kesiapsiagaan seperti seragam, spanduk dan
persediaan logistik terutama penyediaan obat yang bendera untuk identifikasi korban. Sumber daya
memadai. Penyediaan obat dalam situasi bencana manusia antara lain dokter, perawat dan sopir perlu
merupakan salah satu unsur penunjang yang sangat mendapatkan pelatihan PPGD, Pada kesiapsiagaan di
penting dalam pelayanan kesehatan pada saat bidang penyehatan lingkungan perlu menyediakan
bencana. Hal ini guna mencegah terjadinya penyakit tempat pembuangan sampah di penampungan,
dan penularan penyakit. Agar penyediaan obat dan melengkapi beberapa sumber daya yang masih
perbekalan kesehatan tersebut dapat membantu kurang yaitu PAC, kaporit, aquatab, mist blower,
pelaksanaan pelayanan kesehatan pada saat kejadian aicon dan MCK darurat, pada kesiapsiagaan di
bencana, maka jenis obat dan perbekalan kesehatan bidang logistik perlu melengkapi persediaan logistik
harus sesuai dengan jenis penyakit [7]. Beberapa yang belum ada seperti oralit, malation, OBP, infus
logistik yang disediakan Puskesmas Suboh telah set, blender, kantung mayat, dan ambulans kit.
disesuaikan dengan beberapa jenis penyakit yang Dinas Kesehatan dapat memberikan bekal
biasanya muncul pasca bencana diantaranya penyakit materi dan sosialisasi tentang penanggulangan
diare, DBD, ISPA, Thypoid, penyakit kulit, dan bencana. Salah satunya dengan pemberian pelatihan
penyakit mata hal ini bertujuan untuk agar logistik Pertolongan Pertama Gawat Darurat bagi tenaga
yang disediakan tidak terbuang percuma.

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015


9

Istiqomah et al. Kesiapsiagaan Bencana di Puskesmas Suboh…


puskesmas antara lain sopir ambulans, perawat, dan [5] Arikunto S. Prosedur Penelitian: Suatu
dokter. Supervisi dan bimbingan teknis dalam rangka Pendekatan Praktek Edisi Revisi IV. Jakarta:
kesiapsiagaan bencana. Rineka Cipta; 2006.
[6] Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Daftar Pustaka Indeks Rawan Bencana Indonesia. Jakarta:
BNPB. Jakarta; 2011.
[1] Badan Nasional Penanggulangan Bencana. [7] Pan American Health Organization. Bencana
Rencana Nasional Penanganan Bencana 2010- Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat.
2014. Jakarta; 2009. Jakarta: EGC; 2006.
[2] Badan Penanggulangan Bencana Daerah [8] Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan
Kabupaten Situbondo. Profil dan Wilayah Republik Indonesia No. 1116. Pedoman
Potensi Bencana di Kabupaten Situbondo. Penyelenggaraan Sistem Surveilans
Situbondo; 2014. Epidemiologi. Jakarta; 2003.
[3] Indonesia. Ditjen Binkesmas Depkes. Pedoman [9] Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik
Puskesmas dalam Penanggulangan Bencana. Indonesia: Pedoman Teknis Penanggulanga
Jakarta; 2005. Krisis Kesehatan Akibat Bencana. Jakarta;
[4] Indonesia. Undang-Undang RI No.24 Tahun 2011.
2007. Penanggulangan Bencana:Jakarta; 2007

Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2015

Anda mungkin juga menyukai