Filtrasi Air Limbah dengan Pasir Kuarsa
Filtrasi Air Limbah dengan Pasir Kuarsa
MODUL : FILTRASI
PEMBIMBING : Ir. Emma Hermawati, M.T
Kelompok : VI
Kelas : 3A
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan mendasar bagi makhluk hidup sehingga air yang digunakan harus
memenuhi syarat dari segi kualitas dan kuantitasnya. Dari segi kualitas air harus tersedia pada kondisi
yang memenui syarat kesehatan yang dapat ditinjau dari aspek fisik, kimia dan biologi. Salah satu
proses pengolahan air secara fisik adalah dengan filtrasi dengan menggunakan media filter yang cukup
efektif adalah pasir kuarsa. Filtrasi mampu menyaring polutan fisik yang terdapat di dalam air tersebut
sehingga air yang dihasilkan lebih jernih. Melalui penyaringan atau filtrasi ini diharapkan mampu
mengurangi kandungan zat tersuspensi pada air ,bau rasa bahkan kandungan bakteri.
Sesuai dengan kondisi air sungai pada umunya, air sungai Cibereum yang berada didaerah
sekitar polban cenderung berwarna kecoklatan dan keruh. Hal tersebut dapat disebabkan karena air
sungai menjadi salah satu tempat pembuangan air limbah domestic dan sebagai tempat irigasi.
Sehingga perlu dilakukan pengolahan pada air sungai Cibereum dengan metode filtrasi tersebut agar
layak digunakan.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air Baku
Air adalah unsur yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia.
Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Salah satu penggunaan
air yaitu untuk memenuhi keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi,
cuci dan pekerjaan lainnya. Selain sebagai kebutuhan utama untuk kelangsungan hidup
manusia, air juga berperan sebagai penentu kesehatan masyarakat.
2.2 Filtrasi
Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada
medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan akan terendapkan. Filtrasi adalah suatu
operasi pemisahan campuran antara padatan dan cairan dengan melewatkan umpan (slurry) melalui
medium penyaring. Untuk semua proses filtrasi, umpan mengalir disebabkan adanya tenaga dorong
berupa beda tekanan, sebagai contoh adalah akibat gravitasi atau tenaga putar. Secara umum filtrasi
dilakukan bila jumlah padatan dalam suspensi relatif lebih kecil dibandingkan zat cairnya (Deep Bed
Filter, 2013). Di samping mereduksi kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan
bakteri, menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan. Perencanaan suatu sistem filter untuk
pengolahan air tergantung pada tujuan pengolahan dan pre-treatment yang telah dilakukan pada air
baku sebagai influen filter (Ade Dian Saputra, t.t.).
Mekanisme yang dilalui pada filtrasi:
Berdasarkan pada kapasitas produksi air yang terolah, filter pasir dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu filter pasir cepat dan filter pasir lambat.
Filter pasir cepat atau rapid sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi cepat,
berkisar 4-21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi – flokulasi dan pengendapan
untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada influen filter pasir cepat berkisar 5-10
NTU maka efisiensi penurunan kekeruhannya dapat mencapai 90-98%. Bagian-bagian dari filter pasir
cepat meliputi (Gambar 2.2):
1. Bak filter, merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak tergantung
debit pengolahan (minimum dua bak).
2. Media filter, merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori-pori di antara butiran
media. Pada pori-pori inilah air mengalir dan terjadi proses penyaringan.
3. Sistem underdrain. Underdrain merupakan sistem pengalihan air yang telah melewati proses
filtrasi yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri atas:
1. Orifice, yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya air dari media filter
ke dalam pipa.
2. Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak di sepanjang pipa manifold.
3. Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan mengalirkannya ke bak
penampung air.
Gambar 2.2 Bagian-bagian Filter
(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)
1. Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di media filter.
Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyangga, masuk lubang/orifice,
ke pipa lateral, terkumpul di pipa manifold, dan akhirnya air keluar menuju bak penampung
(lihat Gambar 2.3).
2. Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori-pori media sehingga
terjadi clogging (penymbatan). Clogging ini akan meningkatkan headloss aliran air media atau
menurunnya debit filtrasi. Untuk menghilangkan clogging, dilakukan pencucian media.
3. Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik pada media (backwash) dengan
tujuan untuk mengurangi media dan mengangkat kotoran yang menyumbat pori-pori media
filter. Aliran air dari manifold, ke lateral, keluar orifice, naik ke media hingga media terangkat
dan air dibuang melewati gutter yang terletak di atas media (lihat Gambar 2.4).
4. Bila media filter telah bersih, filter dapat dioperasikan kembali.
Gambar 2.3 Aliran Air Pada Saat Operasi Filter
(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)
2.5 Kekeruhan
Kekeruhan adalah Ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk
mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelo metrix turbidity unit) atau JTU (jackson
turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit), Makin tinggi kekuatan dari sinar yang
terbesar, makin tinggi kekeruhannya (Rohmah, t.t.). Bahan yang menyebabkan air menjadi keruh
termasuk:
a. Tanah liat
b. Endapan (lumpur)
c. Zat organik dan bukan organik yang terbagi dalam butir-butir halus
d. Campuran warna organik yang bisa dilarutkan
e. Plankton
f. Jasad renik (mahluk hidup yang sangat kecil).
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya
cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan
disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya
lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organic yang berupa plankton dan
mikro organism lain. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan turbiditas, yang setara dengan
1mg/liter SiO2.
Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan
tersuspensi, nilai kekeruhan juga semakin tinggi, tetapi tidak berarti memiliki kekeruhan yang
tinggi.
Kekeruhan pada air misalnya danau, lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi
yang berupa koloid dan partikel- partikel halus. Sedangkan kekeruhan pada sungai yang sedang
banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan tersuspensi, yang berupa lapisan permukaan
tanah yang terbawa oleh aliran air pada saat hujan. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan
terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya, pernafasan dan daya lihat organism akuatik, serta
dapat menghambat penetrasi cahaya kedalaman air. Tingginya nilai kekeruhan juga dapat
mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan
air (Rohmah, t.t.).
Standar yang ditetapkan oleh U.S. Public health Service mengenai kekeruhan ini adalah
batas maksimal 10 ppm dengan skala silikat, tetapi dalam angka praktik angka standar ini
umumnya tidak memuaskan. Kebanyakan pengolahan air yang modern menghasilkan air dengan
kekeruhan 1 ppm atau kurang. Sebagian besar air baku untuk penyediaan air bersih diambil
dari air permukaan seperti sungai, danau dan sebagainya. Salah satu langkah penting pengolahan
untuk mendapatkan air bersih adalah menghilangkan kekeruhan dari air baku tersebut.
Kekeruhan ini sendiri diakibatkan oleh adanya partikel-partikel kecil dan koloid yang
berukuran 10 nm sampai 10 µm.
Kekeruhan dihilangkan melalui pembubuhan sejenis bahan kimia dengan sifat-sifat
tertentu yang disebut flokulan. Umumnya flokulan tersebut adalah tawas, namun dapat pula
garam Fe (III), atau salah satu polielektrolit organis. Selain pembubuhan flokulan diperlukan
pengadukan sampai flok-flok terbentuk. Flok-flok ini mengumpulkan partikel- partikel kecil dan
koloid tersebut (bertumbukan) dan akhirnya bersama-sama mengendap. Kekeruhan dipengaruhi
oleh:
a. Benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur dan sebagainya.
b. Adanya jasad-jasad renik (plankton)
c. Warna Air
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana
masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, jernih tidaknya air untuk memenuhi
kehidupannya (Rohmah, t.t.).
METODELOGI PERCOBAAN
Stopwatch
2. Skema Kerja
1 15 15 4,53
3 37,69 15 12,34
11.84
12 10.48 10.84
9.49
10 8.76 8.43
8
8
6
4
2
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Laju Alir Influent (L/s)
Gambar 4.2.1 Kurva Hubungan Kekeruhan effluent (NTU) terhadap Laju Alir Influent
(L/s)
Kurva Hubungan Total Disolved Solid (mg/L)
terhadap Laju Alir (L/s)
295
296 294
294
292
290 288
TDS (mg/L)
287
288
286
283 283
284
282
280 278
277
278
276
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Laju Alir (L/s)
Gambar 4.2.2 Kurva hubungan Total Disolved Solid (mg/L) terhadap Laju Alir (L/s)
50
40
30
20
10
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Laju Alir (L/s)
Gambar 4.2.3 Kurva Hubungan Efisiensi (%) terhadap Laju Alir (L/s)
Anonim, 2013. “E-Modul Laboratorium Operasi Teknik Kimia (Deep Bed Filter)”.
http://che.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/sites/4/2013/10/Modul-Lab-OTK-I.pdf [11
September 2016].
FS Primawati, 2016. “Kajian Pustaka Air Baku”. http://eprints.uny.ac.id/30252/3/BAB%202.pdf
[11 September 2016].
Rohmah, Ainur, et al. t.t. . “Pengenalan Alat Analisa Tingkat Kekeruhan Air dengan
Turbidimeter”. Tersedia: https://id.scribd.com/doc/194344254/Jurnal-Kimia-Fisik-
Kekeruhan-Air. [Diakses pada tanggal 11 September 2016].
Selintung Mary dan Suryani Syahrir, 2012. “Studi Pengolahan Air Melalui Media Filter Pasir
Kuarsa (Studi Kasus Sungai Malimpung)”.
http://www.undana.ac.id/jsmallfib_top/JURNAL/TEKNIK%20PERTAMBANGAN/TEK
NIK%20PERTAMBANGAN%202012/STUDI%20PENGOLAHAN%20AIR%20MELAL
UI%20MEDIA%20FILTER.pdf [11 September 2016].
LAMPIRAN
𝟏𝐋
𝐋 𝐕𝐨𝐥𝐮𝐦𝐞 (𝐦𝐋) 𝐱 (𝟏𝟎𝟎𝟎 𝐦𝐋)
𝐋𝐚𝐣𝐮 𝐀𝐥𝐢𝐫 𝑰𝒏𝒇𝒍𝒖𝒆𝒏𝒕 ( ) :
𝐬 𝐖𝐚𝐤𝐭𝐮 (𝐬)
Volume 300 mL
1L
L 300 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,015 L/s
Volume 600 mL
1L
L 600 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,030 L/s
Volume 840 mL
1L
L 840 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,042 L/s
Volume 1250 mL
1L
L 1250 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,0625 L/s
Volume 1420 mL
1L
L 1420 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,071 L/s
Volume 1800 mL
1L
L 1800 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,09 L/s
Volume 3320 mL
1L
L 3320 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,166 L/s
Volume 4000 mL
1L
L 4000 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,2 L/s