0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan20 halaman

Filtrasi Air Limbah dengan Pasir Kuarsa

Dokumen tersebut membahas tentang modul filtrasi pada laboratorium pengelolaan limbah industri. Terdapat penjelasan mengenai tujuan percobaan filtrasi, tinjauan pustaka mengenai air baku, proses filtrasi, dan jenis-jenis filter seperti filter pasir cepat dan lambat.

Diunggah oleh

muhammad ainuddin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan20 halaman

Filtrasi Air Limbah dengan Pasir Kuarsa

Dokumen tersebut membahas tentang modul filtrasi pada laboratorium pengelolaan limbah industri. Terdapat penjelasan mengenai tujuan percobaan filtrasi, tinjauan pustaka mengenai air baku, proses filtrasi, dan jenis-jenis filter seperti filter pasir cepat dan lambat.

Diunggah oleh

muhammad ainuddin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2017/2018

MODUL : FILTRASI
PEMBIMBING : Ir. Emma Hermawati, M.T

Praktikum : 13 Nopember 2017


Penyerahan : 16 Nopember 2017
(Laporan)
Oleh :

Kelompok : VI

Nama : 1. Noorma Nurmalasari 151411023


2. Rahmawati Sri M 151411024
3. Renaldo Kastari 151411025
4. Septian Hardi P 151411027

Kelas : 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan mendasar bagi makhluk hidup sehingga air yang digunakan harus
memenuhi syarat dari segi kualitas dan kuantitasnya. Dari segi kualitas air harus tersedia pada kondisi
yang memenui syarat kesehatan yang dapat ditinjau dari aspek fisik, kimia dan biologi. Salah satu
proses pengolahan air secara fisik adalah dengan filtrasi dengan menggunakan media filter yang cukup
efektif adalah pasir kuarsa. Filtrasi mampu menyaring polutan fisik yang terdapat di dalam air tersebut
sehingga air yang dihasilkan lebih jernih. Melalui penyaringan atau filtrasi ini diharapkan mampu
mengurangi kandungan zat tersuspensi pada air ,bau rasa bahkan kandungan bakteri.
Sesuai dengan kondisi air sungai pada umunya, air sungai Cibereum yang berada didaerah
sekitar polban cenderung berwarna kecoklatan dan keruh. Hal tersebut dapat disebabkan karena air
sungai menjadi salah satu tempat pembuangan air limbah domestic dan sebagai tempat irigasi.
Sehingga perlu dilakukan pengolahan pada air sungai Cibereum dengan metode filtrasi tersebut agar
layak digunakan.

1.2 Tujuan Percobaan


1.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air Baku

Air adalah unsur yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia.
Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Salah satu penggunaan
air yaitu untuk memenuhi keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi,
cuci dan pekerjaan lainnya. Selain sebagai kebutuhan utama untuk kelangsungan hidup
manusia, air juga berperan sebagai penentu kesehatan masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 2005, bahwa


yang dimaksud dengan “Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air
baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan atau
air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum”. Berdasarkan
letaknya air baku dapat diperoleh dari beberapa sumber, diantaranya adalah air angkasa
(hujan), air permukaan, air laut, dan air tanah. Di Indonesia sendiri, sumber air yang sering
digunakan oleh sebagian besar masyarakat adalah air tanah, baik air tanah dangkal maupun air
tanah dalam (FS Primawati, 2016).

2.2 Filtrasi

Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada
medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan akan terendapkan. Filtrasi adalah suatu
operasi pemisahan campuran antara padatan dan cairan dengan melewatkan umpan (slurry) melalui
medium penyaring. Untuk semua proses filtrasi, umpan mengalir disebabkan adanya tenaga dorong
berupa beda tekanan, sebagai contoh adalah akibat gravitasi atau tenaga putar. Secara umum filtrasi
dilakukan bila jumlah padatan dalam suspensi relatif lebih kecil dibandingkan zat cairnya (Deep Bed
Filter, 2013). Di samping mereduksi kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan
bakteri, menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan. Perencanaan suatu sistem filter untuk
pengolahan air tergantung pada tujuan pengolahan dan pre-treatment yang telah dilakukan pada air
baku sebagai influen filter (Ade Dian Saputra, t.t.).
Mekanisme yang dilalui pada filtrasi:

1. Air mengalir melalui penyaring glanular.


2. Partikel-partikel tertahan di media penyaring.
3. Terjadi reaksi-reaksi kimia dan biologis. (Deep Bed Filter, 2013).

2.3 Tipe Filter

Berdasarkan pada kapasitas produksi air yang terolah, filter pasir dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu filter pasir cepat dan filter pasir lambat.

2.3.1 Filter Pasir Cepat

Filter pasir cepat atau rapid sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi cepat,
berkisar 4-21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi – flokulasi dan pengendapan
untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada influen filter pasir cepat berkisar 5-10
NTU maka efisiensi penurunan kekeruhannya dapat mencapai 90-98%. Bagian-bagian dari filter pasir
cepat meliputi (Gambar 2.2):

1. Bak filter, merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak tergantung
debit pengolahan (minimum dua bak).
2. Media filter, merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori-pori di antara butiran
media. Pada pori-pori inilah air mengalir dan terjadi proses penyaringan.
3. Sistem underdrain. Underdrain merupakan sistem pengalihan air yang telah melewati proses
filtrasi yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri atas:
1. Orifice, yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya air dari media filter
ke dalam pipa.
2. Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak di sepanjang pipa manifold.
3. Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan mengalirkannya ke bak
penampung air.
Gambar 2.2 Bagian-bagian Filter
(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)

Pengoperasian pasir cepat adalah sebagai berikut:

1. Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di media filter.
Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyangga, masuk lubang/orifice,
ke pipa lateral, terkumpul di pipa manifold, dan akhirnya air keluar menuju bak penampung
(lihat Gambar 2.3).
2. Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori-pori media sehingga
terjadi clogging (penymbatan). Clogging ini akan meningkatkan headloss aliran air media atau
menurunnya debit filtrasi. Untuk menghilangkan clogging, dilakukan pencucian media.
3. Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik pada media (backwash) dengan
tujuan untuk mengurangi media dan mengangkat kotoran yang menyumbat pori-pori media
filter. Aliran air dari manifold, ke lateral, keluar orifice, naik ke media hingga media terangkat
dan air dibuang melewati gutter yang terletak di atas media (lihat Gambar 2.4).
4. Bila media filter telah bersih, filter dapat dioperasikan kembali.
Gambar 2.3 Aliran Air Pada Saat Operasi Filter
(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)

Gambar 2.4 Aliran Air Pada Saat Pencucian Filter


(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)

Filter pasir cepat dapat dibedakan dalam beberapa kategori:


1. Menurut sistem kontrol kecepatan filtrasi
1. Constant rate: debit hasil proses filtrasi konstan sampai pada level tertentu. Hal ini dilakukan
dengan memberikan kebebasan kenaikan level muka air di atas media filter.
2. Declining rate atau constant head: debit hasil proses filtrasi menurun seiring dengan waktu
filtrasi, atau level mula air di atas media filter dirancang pada nilai yang tetap.
3. Menurut arah aliran
1. Filter aliran down flow (ke bawah).
2. Filter aliran upflow (ke atas).
3. Filter aliran horizontal.
4. Menurut sistem pengaliran
1. Filter dengan aliran secara grafitasi (gravity filter).
2. Filter dengan aliran bertekanan (pressure filter).
2. 3. 2 Filter Pasir Lambat
Filter pasir lambat atau slow sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi lambat,
yaitu sekitar 0,1-0,4 m/jam. Kecepatan yang lebih lambat ini disebabkan ukuran media pasir lebih kecil
(effective size = 0,15-0,35 mm). Filter pasir lambat merupakan sistem filtrasi yang pertama kali
digunakan untuk pengolahan air, dimana sistem ini dikembangkan sejak taun 1800 SM. Prasedimentasi
dilakukan pada air baku mendahului proses filtrasi.
Filter pasir lambat cukup efektif digunakan untuk menghilangkan kandungan bahan organik
dan organisme patogen pada air baku yang mempunyai kekeruhan relatif rendah. Filter pasir lambat
banyak digunakan untuk pengolahan air dengan kekeruhan air baku di bawah 50 NTU. Efisiensi filter
pasir lambat tergantung pada distribusi ukuran partikel pasir, ratio luas permukaan filter terhadap
kedalaman kecepatan filtrasi.
Filter pasir lambat bekerja dengan cara pembentukan lapisan biofilm di beberapa milimeter
bagian atas lapisan pasir halus yang disebut lapisan hypogeal atau schmutzdecke. Lapisan ini
mengandung bakteri, fungi, protozoa, rotifera, dan larva serangga air. Schmutzdecke adalah lapisan
yang melakukan pemurnian efektif dalam pengolahan air minum. Selama air melewati schmutzdecke,
partikel akan terperangkap dan organik terlarut akan terabsorpsi, diserap dan dicerna oleh bakteri,
fungi, dan protozoa. Proses yang terjadi dalam schmutzdecke sangat kompleks da bervariasi, tetapi
yang utama adalah mechanical straining terhadap kebanyakan bahan tersuspensi dalam lapisan tipsi
yang berpori-pori sangat kecil, kurang dari satu mikron. Ketebalan lapisan ini meningkat terhadap
waktu hingga mencapai sekitar 25 mm, yang menyebabkan aliran mengecil. Ketika kecepatan filtrasi
turun sampai tingkat tertentu, filter harus dicuci dengan mengambil lapisan pasir bagian atas setebal
sekitar 25 mm.
Keuntungan filter lambat antara lain:
1. Biaya kontruksi rendah
2. Rancangan dan pengoperasian lebih sederhana
3. Tidak diperlukan tambahan bahan kimia
4. Variasi kualitas air baku tidak terlalu mengganggu
5. Tidak diperlukan banyak air untuk pencucian, pencucian yang tidak menggunakan backwash,
hanya dilakukan di bagian atas media
Kerugian filter pasir lambat adalah besarnya kebutuhan lahan, yaitu sebagai akibat dari
lambatnya kecepatan filtrasi.
Secara umum, filter pasir lambat hampir sama dengan filter pasir cepat. Filter pasir lambat
tersusun oleh bak filter, media pasir, dan sisten underdrain (Gambar 2.5) (Ade Dian Saputra, t.t.)

Gambar 2.5 Skema Filter Pasir Lambat


(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)

2.4 Media Filter – Pasir Kuarsa


Bagian filter yang berperan penting dalam melakukan penyaringan adalah media
filter. Media Filter dapat tersusun dari pasir silika alami, anthrasit, atau pasir garnet. Media ini
umumnya memiliki variasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia.
Pasir kuarsa (quartz sands) juga dikenal dengan nama pasir putih atau pasir silika (silica
sand) merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung mineral utama, seperti kuarsa dan
feldspar. Hasil pelapukan kemudian tercuci dan terbawa oleh air atau angin yang terendapkan
di tepi-tepi sungai, danau, atau laut. Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri atas
kristal-kristal silika (SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses
pengendapan. Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2, Fe2O3, Al2O3, TiO2,
CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna lain tergantung pada senyawa
pengotornya, kekerasan 7 (skala Mohs), berat jenis 2,65, titik lebur 17-150 C, bentuk kristal
hexagonal, panas spesifik 0,185 (Kusnaedi, 2010 as cited Mary Selintung dan Suryani Syahrir,
2012).
Proses pengolahan pasir kuarsa tergantung kepada kegunaan serta persyaratan yang
dibutuhkan baik sebagai bahan baku maupun untuk langsung digunakan. Untuk memperoleh
spesifikasi yang dibutuhkan dilakukan upaya pencucian untuk menghilangkan senyawa pengotor.
Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang meluas, baik
langsung sebagai bahan baku utama maupun bahan ikutan. Sebagai bahan baku utama,
misalnya digunakan dalam industri gelas kaca, semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku
fero silikon, silikon carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting). Sedangkan sebagai
bahan ikutan, misal dalam industri cor, industri perminyakan dan pertambangan, bata tahan api
(refraktori), dan lain sebagainya. Pasir kuarsa juga sering digunakan untuk pengolahan air kotor
menjadi air bersih. Fungsi ini baik untuk menghilangkan sifat fisiknya, seperti kekeruhan, atau
lumpur dan bau. Pasir kuarsa umumnya digunakan sebagai saringan pada tahap awal (Mary
Selintung dan Suryani Syahrir, 2012).

2.5 Kekeruhan
Kekeruhan adalah Ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk
mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelo metrix turbidity unit) atau JTU (jackson
turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit), Makin tinggi kekuatan dari sinar yang
terbesar, makin tinggi kekeruhannya (Rohmah, t.t.). Bahan yang menyebabkan air menjadi keruh
termasuk:
a. Tanah liat
b. Endapan (lumpur)
c. Zat organik dan bukan organik yang terbagi dalam butir-butir halus
d. Campuran warna organik yang bisa dilarutkan
e. Plankton
f. Jasad renik (mahluk hidup yang sangat kecil).
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya
cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan
disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya
lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organic yang berupa plankton dan
mikro organism lain. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan turbiditas, yang setara dengan
1mg/liter SiO2.
Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan
tersuspensi, nilai kekeruhan juga semakin tinggi, tetapi tidak berarti memiliki kekeruhan yang
tinggi.
Kekeruhan pada air misalnya danau, lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi
yang berupa koloid dan partikel- partikel halus. Sedangkan kekeruhan pada sungai yang sedang
banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan tersuspensi, yang berupa lapisan permukaan
tanah yang terbawa oleh aliran air pada saat hujan. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan
terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya, pernafasan dan daya lihat organism akuatik, serta
dapat menghambat penetrasi cahaya kedalaman air. Tingginya nilai kekeruhan juga dapat
mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan
air (Rohmah, t.t.).
Standar yang ditetapkan oleh U.S. Public health Service mengenai kekeruhan ini adalah
batas maksimal 10 ppm dengan skala silikat, tetapi dalam angka praktik angka standar ini
umumnya tidak memuaskan. Kebanyakan pengolahan air yang modern menghasilkan air dengan
kekeruhan 1 ppm atau kurang. Sebagian besar air baku untuk penyediaan air bersih diambil
dari air permukaan seperti sungai, danau dan sebagainya. Salah satu langkah penting pengolahan
untuk mendapatkan air bersih adalah menghilangkan kekeruhan dari air baku tersebut.
Kekeruhan ini sendiri diakibatkan oleh adanya partikel-partikel kecil dan koloid yang
berukuran 10 nm sampai 10 µm.
Kekeruhan dihilangkan melalui pembubuhan sejenis bahan kimia dengan sifat-sifat
tertentu yang disebut flokulan. Umumnya flokulan tersebut adalah tawas, namun dapat pula
garam Fe (III), atau salah satu polielektrolit organis. Selain pembubuhan flokulan diperlukan
pengadukan sampai flok-flok terbentuk. Flok-flok ini mengumpulkan partikel- partikel kecil dan
koloid tersebut (bertumbukan) dan akhirnya bersama-sama mengendap. Kekeruhan dipengaruhi
oleh:
a. Benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur dan sebagainya.
b. Adanya jasad-jasad renik (plankton)
c. Warna Air
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana
masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, jernih tidaknya air untuk memenuhi
kehidupannya (Rohmah, t.t.).

2.6 Hubungan Kekeruhan dan Efisiensi


Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan diperlukan kesesuaian atara konsentrasi air
libah dan kondisi media yang ada. Konsentrasi yang terlalu tinggi akan menyebabkan tidak
berfungsinya filter secara efisien. Karena konsentrasi air limbah yang terlalu tinggi akan
menyebabkan tersumbatnya media filter dan menyebabkan clogging.
Dalam suatu proses filtrasi terdapat suatu parameter yang menjadi acuan bahwa proses
filtrasi berjalan dengan baik diantaranya adalah efisiensi. Efisiensi ini menunjukkan seberapa
besar kandungan pengotor yang terolah. Adapun untuk menentukan efisiensi, yaitu
dengan menggunakan rumus:
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
η= x 100%
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙

2.7 Waktu Tinggal


Waktu tinggal air limbah padsa media filtrasi akan mempengaruhi hasil filtrasi. Karena,
semakin lama waktu tinggal maka endapan pengotor lebih banyak tertahan di dalam media filter,
sehingga air keluaran menjadi semakin bersih. Namun, ada waktu tertentu dimana terjadi
penurunan kekeruhan menjadi paling drastis, waktu tersebut dinamakan waktu tinggal optimum.
BAB III

METODELOGI PERCOBAAN

1. Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Alat dan bahan yang digunakan


Alat Bahan
Bak Filtrasi
Turbidity Meter Air sungai
pH Meter Cibereum

Stopwatch

2. Skema Kerja

Gambar 3.1 Skema Kerja Praktikum Filtrasi


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Volume bak filter : 0,04354 m3 = 43,54 Liter
Volume air yang dimasukkan : 20 Liter
Voume media filter : 0,015972 m3 = 15,972 Liter

Tabel 4.1 Data Pengamatan

Laju Alir Waktu Kekeruhan Kekeruhan


No
(L/menit) (menit) Influent (NTU) Effluent (NTU)

1 15 15 4,53

2 31,83 15 13,67 9,25

3 37,69 15 12,34

4 164,79 15 13,67 12,4

5 165 15 44,91 6,36

4.2 Hasil Pengolahan Data

Tabel 4.2. Hasil Pengolahan Data


Effisiensi Penurunan
Laju Alir Kekeruhan Kekeruhan Effluent
Influent (L/s) Effluent (NTU) TDS (mg/L) (%)

0,015 8,76 287 71,09864731

0,03 9,49 283 68,69020125


0,042 11,84 278 60,93698449

0,0625 8 294 73,6060706

0,071 10,48 277 65,42395249

0,09 17,02 288 43,84691521

0,166 8,43 295 72,1873969

0,2 10,84 283 64,23622567

Kurva Hubungan Kekeruhan Effluent (NTU)


terhadap Laju Alir Influent (L/s)
17.02
18
16
14
Kekeruhan (NTU)

11.84
12 10.48 10.84
9.49
10 8.76 8.43
8
8
6
4
2
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Laju Alir Influent (L/s)

Gambar 4.2.1 Kurva Hubungan Kekeruhan effluent (NTU) terhadap Laju Alir Influent
(L/s)
Kurva Hubungan Total Disolved Solid (mg/L)
terhadap Laju Alir (L/s)
295
296 294
294
292
290 288
TDS (mg/L)

287
288
286
283 283
284
282
280 278
277
278
276
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Laju Alir (L/s)

Gambar 4.2.2 Kurva hubungan Total Disolved Solid (mg/L) terhadap Laju Alir (L/s)

Kurva Hubungan Effisiensi (%) terhadap Laju Alir


(L/s)
80
70
60
Effisiensi (%)

50
40
30
20
10
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Laju Alir (L/s)

Gambar 4.2.3 Kurva Hubungan Efisiensi (%) terhadap Laju Alir (L/s)

Laju Alir optimum di bak filtrasi = 0,0625 menit


Dari hasil perhitungan didapatkan Laju alir optimum pada bak filtrasi adalah pada laju alir
0,0625 L/s dengan efisiensi pengendapan sebesar 73,6060706 %.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. “E-Modul Laboratorium Operasi Teknik Kimia (Deep Bed Filter)”.
http://che.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/sites/4/2013/10/Modul-Lab-OTK-I.pdf [11
September 2016].
FS Primawati, 2016. “Kajian Pustaka Air Baku”. http://eprints.uny.ac.id/30252/3/BAB%202.pdf
[11 September 2016].
Rohmah, Ainur, et al. t.t. . “Pengenalan Alat Analisa Tingkat Kekeruhan Air dengan
Turbidimeter”. Tersedia: https://id.scribd.com/doc/194344254/Jurnal-Kimia-Fisik-
Kekeruhan-Air. [Diakses pada tanggal 11 September 2016].

Selintung Mary dan Suryani Syahrir, 2012. “Studi Pengolahan Air Melalui Media Filter Pasir
Kuarsa (Studi Kasus Sungai Malimpung)”.
http://www.undana.ac.id/jsmallfib_top/JURNAL/TEKNIK%20PERTAMBANGAN/TEK
NIK%20PERTAMBANGAN%202012/STUDI%20PENGOLAHAN%20AIR%20MELAL
UI%20MEDIA%20FILTER.pdf [11 September 2016].
LAMPIRAN

a. Menghitung Laju Alir Influent (L/s)

𝟏𝐋
𝐋 𝐕𝐨𝐥𝐮𝐦𝐞 (𝐦𝐋) 𝐱 (𝟏𝟎𝟎𝟎 𝐦𝐋)
𝐋𝐚𝐣𝐮 𝐀𝐥𝐢𝐫 𝑰𝒏𝒇𝒍𝒖𝒆𝒏𝒕 ( ) :
𝐬 𝐖𝐚𝐤𝐭𝐮 (𝐬)

 Volume 300 mL
1L
L 300 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,015 L/s

 Volume 600 mL
1L
L 600 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,030 L/s

 Volume 840 mL
1L
L 840 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,042 L/s

 Volume 1250 mL
1L
L 1250 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,0625 L/s

 Volume 1420 mL
1L
L 1420 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,071 L/s

 Volume 1800 mL
1L
L 1800 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,09 L/s

 Volume 3320 mL
1L
L 3320 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,166 L/s

 Volume 4000 mL
1L
L 4000 mL x (1000 mL)
Laju Alir 𝐼𝑛𝑓𝑙𝑢𝑒𝑛𝑡 ( ) :
s 20 s
Laju Alir Influent : 0,2 L/s

b. Menghitung Efisiensi Penurunan Kekeruhan Effluent (%)

𝐊𝐞𝐤𝐞𝐫𝐮𝐡𝐚𝐧 𝑰𝒏𝒇𝒍𝒖𝒆𝒏𝒕 (𝐍𝐓𝐔) − 𝐊𝐞𝐤𝐞𝐫𝐮𝐡𝐚𝐧 𝑬𝒇𝒇𝒍𝒖𝒆𝒏𝒕 (𝐍𝐓𝐔)


𝐄𝐟𝐢𝐬𝐢𝐞𝐧𝐬𝐢 (%): 𝒙 𝟏𝟎𝟎
𝐊𝐞𝐤𝐞𝐫𝐮𝐡𝐚𝐧 𝑰𝒏𝒇𝒍𝒖𝒆𝒏𝒕 (𝐍𝐓𝐔)

 Laju Alir 0,015 L/s


30,31 NTU − 8,76 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 71,09864731 %

 Laju Alir 0,030 L/s


30,31 NTU − 9,49 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 68,69020125 %

 Laju Alir 0,042 L/s


30,31 NTU − 11,84 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 60,93698449 %

 Laju Alir 0,0625 L/s


30,31 NTU − 8 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 73,6060706 %

 Laju Alir 0,071 L/s


30,31 NTU − 10,84 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 65,42395249 %
 Laju Alir 0,09 L/s
30,31 NTU − 17,02 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 43,84691521 %

 Laju Alir 0,166 L/s


30,31 NTU − 8,43 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 72,1873969 %

 Laju Alir 0,2 L/s


30,31 NTU − 10,84 NTU
Efisiensi (%): 𝑥 100
30,31 NTU
Efisiensi : 64,23622567 %

Anda mungkin juga menyukai