BAB III
TATANAN GEOLOGI
Tatanan geologi merupakan kondisi geologi dari suatu wilayah yang mencakup
tentang morfologi, stratigrafi dan struktur geologi dari suatu daezx\rah.
3.1. Tatanan Geologi Regional
3.1.1. Fisiografi
Menurut Cameron et al, (1982), menjelaskan secara regional geologi lembar
Medan terbagi dalam 7 (tujuh) satuan fisiografi, yaitu: Dataran Rendah Timur
(eastern lowlands), Kaki Perbukitan Pantai Timur (East Coast Foothills), Dataran
Tinggi Berastagi (Berastagi High Land), Plateau Kabanjahe, Bukit Barisan bagian
Timur(eastern Barisan Range), Depresi Alas Reunum (Alas Reunum Depression),
dan Bukit Barisan bagian Tengah (Central Barisan Range). Daerah penelitian
secara fisiografi termasuk kedalam fisiografi zona Dataran Tinggi Berastagi
(Berastagi High Land), Plateau Kabanjahe, dan Bukit Barisan bagian Timur
(eastern Barisan Range), seperti pada (Gambar 3.1). Tatanan geologi pada daerah
penelitian dibahas berdasarkan tatanan geologi secara regional menurut
Cameroon et al, 1982 dan perpaduan hasil geologi lapangan mahasiswa geologi
ITM. yang terdapat pada daerah penelitian meliputi geomorfologi, stratigrafi, dan
struktur geologi.
Gambar 3.1 Peta pembagian fisiografi Sumatera yang berasal dari lembar medan (Cameron et al,
1982), kotak biru merupakan fisiografi daerah penelitian.
3.1.2. Stratigrafi Regional
Stratigrafi regional daerah penelitian termasuk dalam peta geologi lembar Medan
(gambar 3.3). Menurut Cameron et al, 1982. Stratigrafi Regional daerah
penelitian berdasarkan umur batuan tersusun atas 3 bagian yaitu Batuan
Pra -Tersier, Batuan Tersier dan Batuan Kwarter.
III - 2
Gambar 3.2. Kondisi Geologi Regional daerah penelitian (kotak merah, sumber Peta Geologi
Regional Lembar Medan dan Lembar Sidikalang) (Cameron, 1982 dan Aldiss, 1983).
3.1.2.1. Batuan Pra -Tersier
Batuan Pra - Tersier pada peta geologi lembar Medan dibagi menjadi tiga grup,
yaitu grup Tapanuli, grup Peusangan, dan grup Woyla. Grup Tapanuli terbentuk
selama Karbon Akhir hingga Permian Awal, grup ini dibagi menjadi tiga formasi.
Formasi tersebut adalah Formasi Bahorok, Formasi Kluet, dan Formasi Alas. Pada
kala awal Permian hingga akhir Trias terbentuk grup Peusangan. Grup Peusangan
terbagi menjadi dua Formasi, yaitu Formasi Kaloi dan Formasi Batumilmil. Grup
III - 3
Woyla terbentuk pada Jura akhir sampai kapur awal. Grup ini terepresentatip oleh
Formasi Gunungapi Tapaktuan.
3.1.2.2. Batuan Tersier
Batuan Tersier pada peta geologi lembar Medan dibagi menjadi tiga supergrup
berdasarkan peristiwa geologi utama di Sumatera bagian Utara (Cameroon, dkk.,
1980).
Tersier I, terbentuk selama Eosen hingga awal Oligosen, disusun oleh
batugamping formasi Tampur yang dianggap bagian dari grup Meureudu.
Supergrup ini diakhiri oleh proses tektonik pengangkatan Bukit Barisan sehingga
membentuk ketidakselarasan.
Tersier II, terbentuk selama Eosen akhir hingga Miosen Tengah, disusun oleh
formasi Bampo (Tlb), formasi Peutu (Tmp), formasi Baong (Tmb), formasi
Rampong (Tlr) dan formasi Butar (Tlbu). Disebut juga sebagai grup Jambo Aye.
Supergrup ini merupakan hasil pengendapan transgresi Sumatera bagian Utara
yang membentuk hubungan selaras dengan batuan diatasnya.
Tersier III, terbentuk selama Miosen Akhir, disusun oleh formasi Seurula (Tps),
formasi Keutapang (Tuk) dan formasi Julu Rayeu (Qtjr). Disebut juga sebagai
grup Lhoksukon. Supergrup ini merupakan pengendapan regresi dari sedimen di
cekungan Sumatera Utara.
III - 4
3.1.2.3. Batuan Kwarter
Stratigrafi kuarter lembar Medan, oleh Druif’s (1932, 1934, 1938) dibagi menjadi
sembilan (9) kelas pengendapan dan beberapa material vulkanik maupun non
vulkanik yang dapat teridentifikasi.
Batuan vulkanik di geologi lembar Medan pada zaman Tersier berasal dari
beberapa pusat gunungapi. Pada kala Pliosen - Pleistosen terdapat dua (2) pusat
gunungapi yang mengalami erupsi, yaitu pusat gunungapi Takur - Takur dan pusat
Gunungapi Simbolon. Sedangkan pada kala Pleistosen gunungapi yang
mengalami erupsi adalah pusat Gunungapi Toba, pusat Gunungapi Barus, pusat
Gunungapi Sibayak, pusat Gunungapi Sinabung, pusat Gunungapi Bekulap, pusat
Gunungapi Kembar. Beberapa dari pusat gunungapi, diatas masih ada yang
mengalami erupsi sampai sekarang (Holosen), pusat gunungapi tersebut adalah
pusat Gunungapi Sibayak dan pusat Gunungapi Sinabung.
Batuan intrusif pada peta geologi lembar Medan yang terbentuk di zaman Kwarter
terbentuk pada kala Pliosen - Pleistosen intrusi tersebut adalah intrusi mikro diorit
Mendem yang diduga bersifat lakolit. Salah satu intrusi yang dianggap penting
yang ditemukan oleh Zwierzyeki (1922) di hulu sungai Besitang yang memotong
formasi Bahorok dan formasi Kaloi. Untuk batuan yang berumur Kwarter yang
terdapat pada daerah penelitian yaitu batuan yang berasal dari pusat Gunungapi
Toba dan pusat Gunungapi Sinabung yang terbentuk pada kala Pleistosen, namun
sebagian batuan dari pusat Gunungapi Sinabung juga terbentuk pada kala
Holosen.
III - 5
3.1.3. Struktur Geologi Regional
Geologi Sumatera dipengaruhi kuat oleh konvergensi lempeng Hindia Australia
dengan benua Eurasia yang terus bergerak. Pergerakan lempeng Hindia yang terus
menunjam ke lempeng Eurasia akan menghasilkan desakan pada bagian tertentu
yang mengakibatkan terjadinya deformasi yang membentuk arsitektur tertentu
seperti perlipatan-perlipatan maupun patahan – patahan. Selain itu, konvergensi
lempeng juga menghasilkan deretan pegunungan vulkanik aktif sepanjang pulau
Sumatera.
Struktur yang berkembang secara regional di daerah penelitian dipengaruhi oleh
aktivitas pegunungan vulkanik pada dataran tinggi Berastagi (Berastagi
Highlands) yang membentuk patahan-patahan dengan arah Barat ke Timur.
3.2. Tatanan Geologi Daerah Penelitian
Tatanan geologi pada daerah penelitian yang meliputi morfologi, stratigrafi dan
struktur geologi mengacu pada Cameroon et al, (1982), dan perpaduan hasil
geologi lapangan mahasiswa geologi ITM.
3.2.1. Geomorfologi
Berdasarkan dari pengamatan dan diskriptif dilapangan morfologi daerah
penelitian merupakan daerah pegunungan, perbukitan dan dataran, terlihat dari
relief kontur pada peta topografi dengan bentuk kontur yang rapat dan sebagian
renggang, dan dari profil penampang yang terlihat membentuk relief pegunungan,
perbukitan dan bentuk dataran.
III - 6
Pembagian satuan geomorfologi daerah penelitian mengacu pada klasifikasi
Bentuk Muka Bumi (Brahmantyo dkk 1999), Secara umum klasifikasi ini dibagi
berdasarkan bentuk bentang alam yang di bentuk oleh proses endogen. Bentuk
bentang alam yang di bentuk oleh proses - proses endogen seperti gunung api,
pegunungan sesar, pegunungan lipatan dan pegunungan plateu, kemudian masing
- masing bentuk bentang alam tersebut dibagi kedalam satuan bentuk muka bumi
yang lebih detail. Pada daerah penelitian termasuk kedalam bentuk bentang alam
pegunungan gunungapi dan bentang alam pegunungan sesar, dan bental alam
karst. Berdasarkan hasil deskriptif daerah penelitian yang dilihat menggunakan
bantuan penginderaan jauh (citra satelit) dan mengacu kepada klasifikasi Bentuk
Muka Bumi (Brahmantyo dkk 1999), maka daerah penelitian terdiri dari 6
(enam) satuan geomorfologi, yaitu :
Satuan Geomorfologi Dataran denudasional
Satuan Geomorfologi Gunungapi
Satuan Geomorfologi Perbukitan sisa gunungapi
Satuan Geomorfologi Pegunungan Struktural
Satuan Geomorfologi Punggungan aliran piroklastik
Satuan Geomorfologi Pegunungan Karst
III - 7
A
F
C
B
D E F
A
F
D F B
Foto 3.1. Kenampakan Morfologi daerah Penelitian dilihat dari citra satelit (A: Dataran
Denudasional, B : Tubuh Gunung Api, C : Perbukitan Sisa Gunungapi, D: Pegunungan Struktural,
E: Punggungan Aliran Piroklastik, dan F : Perbukitan Karst)
3.2.1.1. Satuan Geomorfologi Dataran Denudasional
Satuan geomorfologi Dataran ini terdapat di dua lokasi yang berbeda yaitu
dibagian utara dan selatan daerah penilitian yang ditandai dengan daerah berwarna
merah muda (lampiran peta geomorfologi) yang menyebar seluas ± 52% dari luas
keseluruhan daerah penelitian, satuan morfologi memiliki nilai elevasi berkisar
200 mdpl – 500 mdpl di bagian utara dan 700 mdpl – 1500 mdpl di bagian
selatan.
Satuan morfologi ini dicirikan dengan garis kontur yang jarang dan kondisi
permukaan yang relatif datar yang dilihat dengan bantuan citra satelit. Satuan
III - 8
morfologi ini disusun oleh litologi dari Formasi Toba, satuan piroklastik Pusat
Bekulap, satuan Binjai, satuan Bekulap, satuan Mentar, satuan Singkut, formasi
Medan, formasi Baong, Alluvium, formasi Butar, satuan sibutan dan unit
Simbolon.
3.2.1.2. Satuan Geomorfologi Tubuh Gunungapi
Satuan morfologi tubuh gunungapi ini juga terdapat di dua lokasi yang berbeda
yang diberikan untuk gunungapi Sinabung dan gunungapi Sibayak. Kedua
gunungapi ini memiliki luas sekitar 5% dari luas seluruh daerah pemetaan yang
ditandai dengan daerah warna merah (lampiran peta geomorfologi). Gunungapi
sinabung memiliki elevasi sekitar 900 mdpl sampai 2400 mdpl, dan gunungapi
Sibayak memiliki elevasi sekitar 800 mdpl sampai 2100 mdpl. Dengan bantuan
citra satelit satuan morfologi gunungapi ini dapat dilihat dengan ciri berupa
kerucut gunungapi. Satuan morfologi ini disusun oleh Lava Andesit (daerah
Sinabung) dan satuan Sibayak, satuan Singkut dan satuan Binjai (daerah Sibayak).
III - 9
A
Foto 3.2. Morfologi Gunungapi Sinabung (A) dan Morfologi Gunungapi Sibayak (B),
pengambilan foto di Jalan menuju Desa Namanteran.
3.2.1.3. Satuan Geomorfologi Perbukitan Sisa Gunungapi
Satuan morfologi sisa gunungapi terdapat di bagian tengah daerah penelitian yang
ditandai dengan daerah berwarna jingga (lampiran peta geomorfologi) dan
memiliki luas sekitar 7% dari luas seluruh daerah penelitian. Satuan morfologi ini
memiliki elevasi sekitar 500 mdpl – 1800 mdpl dan ditandai dengan kontur yang
rapat (lampiran peta geomorfologi). Pada daerah ini terdapat kaldera gunungapi
purba dan disusun oleh Satuan Takur-takur yang berupa produk hasil gunungapi.
III - 10
3.2.1.4. Satuan Geomorfologi Punggungan Zona Sesar
Satuan morfologi ini berada di bagian Barat dan Barat Daya daerah penelitian
yang ditandai dengan daerah berwarna hijau (lampiran peta geomorfologi) yang
memiliki luas sekitar 11% dari luas seluruh daerah pemetaan. Daerah ini memiliki
elevasi sekitar 400 mdpl sampai 1700 mdpl dibagian Barat dan tinggi sekitar
700mdpl sampai 1900 mdpl pada bagian Barat Daya. Daerah ini memiliki relief
pegunungan. Pada daerah bagian Barat disusun oleh dominan Satuan Mentar yang
disusun oleh litologi berupa piroklastik dan sebagian disusun oleh Satuan Takur-
takur, Formasi Butar dan Formasi Bahorok sedangkan pada daerah Barat Daya
disusun oleh litologi berupa formasi Kluet yang disusun oleh batuan metamorf,
Granit Keteran yang berumur Pra Tersier dan Formasi Toba yang berumur
Kuarter. Dilihat dari peta geologi regional daerah ini banyak terdapat patahan-
patahan yang diperkirakan.
3.2.1.5. Satuan Geomorfologi Punggungan Aliran Piroklastik
Satuan morfologi ini berada di bagian Timur daerah penelitian yang ditandai
dengan daerah berwarna kuning (lampiran peta geomorfologi) yang memiliki luas
sekitar 15% dari luas seluruh daerah pemetaan. Daerah ini memiliki elevasi
sekitar 400 mdpl sampai 1700 mdpl. Daerah ini memiliki relief pegunungan dan
disusun oleh dominan Satuan Mentar yang disusun oleh litologi berupa piroklastik
dan sebagian disusun oleh Formasi Bruksah, Satuan Mikrodiorit Mendem,
Formasi Kualu, Formasi Belumai dan Alluvium.
III - 11
3.2.1.6. Satuan Geomorfologi Perbukitan Karst
Satuan morfologi ini berada di bagian Timur dan Barat daerah penelitian yang
ditandai dengan daerah berwarna biru (lampiran peta geomorfologi) yang
memiliki luas sekitar 10% dari luas seluruh daerah pemetaan. Daerah ini memiliki
elevasi sekitar 400 mdpl sampai 1000 mdpl. Daerah ini memiliki relief
pegunungan dan disusun oleh Formasi Batumil-mil.
3.2.2. Stratigrafi Daerah Penelitian
Stratigrafi daerah penelitian berdasarkan kombinasi daerah hasil
pemetaan/penelitian terdahulu dan geologi regional lembar Medan dan
Sidikalang, sehingga dapat disusun dari yang tua ke yang muda yaitu :
Batuan yang berumur Pra - Tersier yaitu :
Formasi Kluet (Puk) disusun oleh litologi berupa batuan metamorf seperti
hornfel, sekis pelitan dan genes, migmatit, pegmatit, batusabak, filit,
laminasi meta-batulanau, arenit, dan sedikit meta-batugamping yang
berumur Karbon Akhir sampai Permian Awal.
Formasi Bahorok (Pub) disusun oleh litologi berupa wake malihan,
batusabak, arenit kuarsa malihan, batulanau malihan dan konglomerat
malihan yang berumur Karbon Akhir hingga Permian Awal.
Formasi Kualu (Mtk) disusun oleh litologi berupa serpih hitam dengan
sisipan batupasir halus dan batulanau berumur Trias Akhir (Norian).
Formasi Batumilmil (Ppbl)
Formasi ini disusun oleh litologi batugamping dan lapisan tipis rijang yang
berumur Permian Akhir, tetapi pada beberapa refrensi lebih banyak
III - 12
ditemui batugamping pada formasi ini (Yosita, dkk., 2016 dan Poppy,
dkk., 2016), batuan ini memiliki perlapisan dengan arah N 3140/ 60. Luas
penyebaran satuan batuan ini sekitar ± 26 km2 pada bagian Timur dan
Barat daerah pemetaan (Lampiran Peta Geologi).
Foto 3.3 Satuan Batugamping Batu mil-mil di desa Tanjung Bampu dan Delenggerat (Bagian
Timur daerah penelitian )
(Sumber : Sitopu, dkk., 2016)
Foto 3.4. Singkapan Batugamping Lokasi Desa Susuk (bagian Barat daerah penelitian)
(Sumber : Parapat, dkk., 2016)
III - 13
Granit Keteran (Mpikt) disusun oleh batuan granit yang berumur Permian
Tengah sampai Trias Akhir.
Batuan yang berumur Tersier yaitu :
Formasi Butar (Tlbu)
Formasi ini disusun oleh litologi berupa perlapisan batuserpih dan
batupasir, konglomerat, serpih minyak dan batulumpur berumur Oligosen Akhir
sampai Miosen Awal. Berdasarkan pemetaan geologi yang dilakukan sebelumnya
diketahui beberapa satuan di formasi ini, yaitu satuan batulempung dan satuan
batuserpih. Batuan yang tersingkap dipermukaan ditunjukkan dengan adanya
pelapisan pada batuan yang arah kedudukannya N3540/17E dan N323ºE/16º.
Foto 3.5. Singkapan Batulempung Lokasi Desa Perbesi
(Sumber : Parapat, dkk, 2016)
III - 14
Foto 3.6. Singkapan Serpih Lokasi Desa Sarinembah
(Sumber : Parapat, dkk, 2016)
Formasi Bruksah (Tob), litologi formasi ini pada daerah sungai Besitang
berupa batupasir mika, basal konglomerat, sedikit batulumpur sedangkan
pada daerah sub-cekungan langkat litologi berupa batulanau, batupasir
mika, konglomerat dan arenit yang mana formasi ini berumur Oligosen
Akhir.
Foto 3.7 Satuan batupasir Formasi Bruksah pada daerah Tanjung Bampu
(Sumber : Sitopu, dkk, 2016)
III - 15
Formasi Belumai (Tmpb)
Formasi ini disusun oleh litologi berupa batupasir, batulanau, batugamping
terumbu, konglomerat dan batulumpur, berumur sekitar Miosen Awal
sampai Miosen Tengah.
Foto 3.8. Satuan batugamping terumbu Formasi Belumai di desa Sibunga-bunga Hilir
(Sumber : Sitopu, dkk 2016)
Formasi Baong (Tmb)
Berdasarkan regional Formasi ini disusun oleh litologi batulumpur berfosil
dan batupasir sangat halus, berumur sekitar Miosen Tengah sampai
Miosen Akhir. Dari hasil pemetaan geologi dari peneliti terdahulu
diketahui beberapa satuan di formasi ini, diantaranya satuan batupasir
glaukonitan dan satuan batulempung (Ahmad Zein dan Zaka Lesmana,
2012). Satuan batulempung memilki perlapisan dengan N 33°/2°.
III - 16
A
Foto 3.9 Satuan Batupasir Glaukonitan. (A dan B kenampakan pada Pos ZN-SB.10)
(Sumber : Zein, Ahmad, 2012)
A B
C D
Foto 3.10 Satuan Batupasir Glaukonitan. (A dan B kenampakan pada Pos Z4P1, C dan D
kenampakan pada pos Z5P2)
(Sumber : Lesmana, Zaka, 2012)
III - 17
Foto 3.11 Satuan Batulempung kenampakan pada H2-P6
(Sumber : Sitopu,dkk, 2016)
Batuan yang berumur Kwarter yaitu :
Satuan Takur-takur (QTvk) litologi berupa piroklastik bersifat andesitis –
dasitis, dasit dan riolit yang berumur Pliosen sampai Pleistosen. Berdasarkan
hasil pemetaan geologi terdahulu diketahui terdapat satuan dasit pada
Formasi ini yang tersebar di bagian Barat daerah penelitian (Sitopu, dkk,
2016).
Foto 3.12 Satuan Dasit pada pos H1-P6 di desaTanjung Bampu
(Sumber : Sitopu, dkk, 2016)
III - 18
Satuan Mentar (QTvm) disusun oleh litologi berupa piroklastik bersusun
andesit-dasit dan lahar berumur Pliosen sampai Pleistosen.
Satuan Mikrodiorit Mendem (QTim) disusun oleh litologi berupa
mikrodiorit porfiri dan pirit yang berumur Pliosen sampai Pleistosen.
Tufa Toba (Qvt) disusun oleh litologi berupa tufa riodasit yang beberapa
menunjukan struktur kekar kolom berumur Pleistosen. Berdasarkan hasil
pemetaan geologi terdahulu diketahui gambaran tufa di bebrapa pos
pengamatan yang berbeda :
Foto 3.13 Satuan Tufa Toba. Foto atas lokasi pengamatan H1-P1di desa Sarangganjang
(Sumber : Sitopu, dkk, 2016)
III - 19
Foto 3.14 Satuan Tufa Kristalin, Tufa Toba di daerah Sibiru-biru
(Sumber : Zein, Ahmad, 2012)
Foto 3.15 Satuan Tufa Kristalin, Tufa Toba. (Foto atas pos Z1P4, bawah Z2P1)
(Sumber : Lesmana, Zaka, 2012)
Formasi Medan (Qpme) disusun oleh litologi berupa vulkanogenik
berukuran kerikil, pasir, lanau dan lempung berumur Pleistosen.
III - 20
Berdasarkan hasil pemetaan geologi lapangan yang terdahulu diketahui
terdapat satuan Alluvial tua dari Formasi (Zaka Lesmana, 2012).
Foto 3.16 Satuan Aluvial Tua, Formasi Medan (pos Z2P4)
(Sumber : Lesmana, Zaka, 2012)
Satuan Sibutan (Qvtsu) disusun oleh litologi berupa lava riolit dan
piroklastik yang berumur Plistosen.
Vulkanik Barus (Qvbr) disusun oleh litologi berupa lava andesit dan
piroklastik yang berumur Plistosen.
Satuan Singkut (Qvbs) disusun oleh litologi berupa andesit hornblende
sampai feldspar, piroklastik, dasit dan mikrodiorit berumur Plistosen.
Satuan Bekulap (Qvbe) disusun oleh litologi berupa piroklastik bersifat
dasit dan aliran lava breksi yang luas berumur Plistosen.
Satuan Binjai (Qvbj) disusun oleh litologi berupa aliran breksi bersifat
andesit sampai dasit dan tufa yang berumur Plistosen.
Satuan Piroklastik Pusat Bekulap (Qvbu) disusun oleh litologi berupa
piroklastik berumur sekitar Plistosen.
Satuan Sibayak (Qvba) disusun oleh litologi berupa piroklastik bersifat
andesitis, dasitis dan lahar berumur Plistosen hingga Holosen.
III - 21
Lava Andesit Pusat Sinabung (Qvsn) disusun oleh litologi berupa lava
andesit sampai dasit, sedikit aliran lumpur, vulkaniklastik dan lahar
berumur Plistosen hingga Holosen.
Satuan Simbolon (QTvs) disusun oleh litologi berupa lava andesit dan
piroklastik yang berumur Pliosen hingga Pleistosen.
Alluvium (Qh) disusun oleh litologi berupa kumpulan material yang
berukuran kerikil, pasir dan lempung yang berumur Holosen.
Foto 3.17 Satuan Aluvial pada lokasi pengamatan SB.10 dan SB.2
(Sumber : Zein, Ahmad, 2012)
3.2.3. Struktur Geologi Daerah Penelitian
Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai struktur geologi daerah penelitian
penulis mengacu pada peta geologi lembar Medan (Cameron, dkk, 1982) dan
Lembar Sidikalang (Aldiss, dkk, 1983) ditambah dengan hasil analisa pemetaan
geologi terdahulu. Menurut peta geologi lembar Medan dan lembar Sidikalang
terdapat beberapa kelurusan dengan arah yang beragam dan dari analisa pemetaan
geologi terdahulu mengatakan terdapatnya struktur sesar normal diperkirakan di
daerah Tanjung Payung (Sitopu, dkk, 2016), sesar mendatar diperkirakan
III - 22
(Lesmana, Zaka, 2012 dan Cameroon, dkk 1982) dan kekar pada batugamping
Formasi Batumil-mil (Parapat, dkk., 2016).
3.2.3.1. Kelurusan
Kelurusan geologi bisa diasumsikan berupa unsur struktur geologi yang belum
mengalami pergerakan (displacement). Pada daerah penelitian terlihat adanya
beberapa kelurusan yang mana kelurusan-kelurusan tersebut memiliki arah yang
berbeda-beda. Untuk dapat menjelaskan arah kelurusan secara lebih rinci maka
daerah penelitian di bagi kedalam empat bagian yaitu bagian Barat Laut daerah
peneltian, bagian Timur Laut daerah penelitian, bagian Tenggara daerah
Penelitian dan bagian Barat Daya daerah penelitian.
A B
D C
Gambar 3.3. Peta geologi daerah penelitian (A : Bagian Barat Laut, B : bagian Timur Laut, C:
bagian Tenggara, D : bagian Barat Daya)
III - 23
Bagian Barat Laut daerah peneltian
Pada bagian Barat Laut daerah peneltian kelurusan – kelurusan berarah
Barat Laut – Tenggara, Timur Laut – Barat Daya, dan Timur – Barat.
Bagian Timur Laut daerah penelitian
Pada bagian Timur Laut daerah peneltian kelurusan – kelurusan dominan
berarah Barat Laut – Tenggara dan beberapa kelurusan berarah Utara –
Selatan.
Bagian Tenggara daerah Penelitian
Pada bagian Tenggara daerah penelitian kelurusan dominan berarah Utara
– Selatan dan Timur – Barat.
Bagian Barat Daya daerah Penelitian
Pada bagian Barat daya daerah penelitian kelurusan berarah Barat Laut –
Tenggara dan Utara – Selatan.
Berdasarkan hasil pemetaan geologi lapangan terdahulu beberapa dari kelurusan
di daerah penelitian diterjemahkan sebagai sesar normal diperkirakan di daerah
Tanjung Payung (Sitopu, dkk, 2016) dan sesar mendatar diperkirakan (Lesmana,
Zaka, 2012).
3.2.3.1.1. Sesar Normal Diperkirakan di daerah Tanjung Payung
Sesar normal pada daerah Tanjung Payung ini merupakan sesar normal
diperkirakan dengan data – data yang di dapat di lapangan yaitu terbentuknya air
terjun dan adanya zona breksiasi (Sitopu, dkk, 2016).
Selain itu juga dapat dilihat pada penampang geologi yang memperlihatkan
perbedaan ketinggian (Lampiran Peta Geologi). Bila dilihat dari penampang
III - 24
morfologinya sesar normal ini dapat dilihat dengan bentuk sesar yang membagi
dua bagian dengan membentuk hanging wall dan foot wall Sesar ini merupakan
sesar normal yang berumur Pliosen (Lihat Foto 3.18).
footwall
Hangingwall
Foto 3.18. (A). Kenampakan ciri Sesar normal pada pos pengamatan H3-P2 di desa Tanjung
Payung (B). Zona breksiasi pada desa Tanjung Payung
(Sumber : Sitopu, dkk, 2016)
3.2.3.1.2 Sesar Mendatar Diperkirakan di Desa Pondok Tengah
Berdasarkan intepretasi peta topografi dan ditemukannya gejala – gejala geologi
dilapangan, maka dapat disimpulkan terdapatnya gejala geologi berupa Struktur
sesar mendatar. (Lesmana, Zaka, 2012)
Pada daerah pemetaan terdapat jalur sesar mendatar yaitu pada daerah Pondok
Tengah pada bagian Barat Daya atau pada Timur laut daerah penelitian. Sesar ini
III - 25
merupakan sesar mendatar diperkirakan yang diketahui berdasarkan data-data
lapangan dan interpretasi peta Topografi daerah pemetaan.
Sesar mendatar pada daerah Pondok Tengah dapat terlihat dari kelurusan lembah
dengan nilai N 35oE atau dengan arah Barat Daya – Timur Laut. Sesar mendatar
ini memotong satuan batuan satuan batuan andesit dari Formasi Mentar (QTvm)
(lihat peta Geologi). Kelurusan lembah ini juga di ikuti dengan aliran sungai
stadia muda yang mengalir ke sungai Deli sebagai sungai utama. Keberadaan
sesar mendatar ini di dukung oleh adanya offset kontur dan pembelokan sungai
Deli (lihat peta Topografi).
Foto 3.19. Kenampakan sesar mendatar diperkirakan di Timur Laut daerah penelitian
(Sumber : Lesmana, Zaka, 2012)
3.2.3.2. Struktur Kekar Pada Batugamping
Adapun struktur kekar yang dijumpai di daerah pemetaan yakni struktur kekar
yang cenderung tertutup yang memiliki ciri adanya rekahan-rekahan yang tertutup
yang memotong sebagian batuan maupun seluruh batuan, terbentuk oleh gaya
III - 26
tekan yang bekerja pada batuan (Foto 3.20). Kekar pada daerah pemetaan terdapat
pada satuan Batugamping disekitar daerah Desa Susuk dengan arah umum kekar
berarah N240°E/57°.
Foto 3.20. Singkapan batugamping yang terdapat struktur kekar Tertutup Lokasi Desa Susuk
(Sumber : Parapat, dkk, 2016)
III - 27