Pengaruh Teori Sosial pada IPS di Indonesia
Pengaruh Teori Sosial pada IPS di Indonesia
Penyusun:
MOHAMAD NURSODIK
NPM: 10870076
0
JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER
Oleh:
1
disiplin/struktur ilmu tertentu melainkan bertautan dengan kegiatan-kegiatan
pendidikan yang berencana dan sistematis untuk kepentingan program pengajaran
sekolah dengan tujuan memperbaiki, mengembangkan dan memajukan
hubungan-hubungan kemanusiaan kemasyarakatan.
Dari kajian tujuan dan manfaat teori ilmu sosial dan definisi IPS di atas dapat
disimpulkan bahwa perkembangan teoti sosial akan mempengaruhi IPS karena
teori sosial dapat menjelaskan fenomena-fenomena atau gejala yang terjadi dalam
masyarakat, yang juga merupakan bagian dari kajian IPS.
2
model, dan jurisprudential model. Dalam tradisi pembelajaran IPS di Indonesia,
dikenal beberapa model pendekatan pengorganisasian materi, seperti: (1)
pendekatan integrated, yang biasanya dikembangkan pada pembelajaran IPS pada
jenjang sekolah dasar, (2) pendekatan corelated, yang biasanya dikembangkan
dalam pembelajaran IPS pada jenjang SMP, dan (3) pendekatan sparated, yang
biasanya dikembangkan dalam pembelajaran IPS pada jenjang SMA. Dilihat dari
kaitannya dengan tradisi pembelajaran IPS, maka tampak yang lebih populer dan
banyak berpengaruh dalam pengembangan kurikulum IPS adalah model yang
menekankan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang disajikan secara terpisah
namun tetap ada keterkaitan antara disiplin ilmu sosial yang satu dengan disiplin
ilmu sosial yang lainnya.
Pembelajaran IPS dewasa ini, harus lebih diarahkan pada pembekalan dan
pelatihan kemampuan, pengetahuan, sikap, dan nilai-nilai sosial dan budaya yang
diperlukan oleh peserta didik untuk mengendalikan atau memprediksi dampak-
dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kemajuan kemajuan ilmu dan teknologi
bagi kehidupan masyarakatnya. Bertalian dengan konsepsi ini, masyarakat yang
literasi sosial-budaya sangat dibutuhkan, agar mampu mengendalikan kemajuan
ilmu dan teknologi, serta abrasi nilai-nilai sosial-budaya di dalam masyarakatnya.
Berdasarkan rasional di atas, maka penelitian ini lebih difokuskan pada upaya
pengembangan model belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan dan
peningkatan literasi sosial-teknologi, pemahaman materi, dan keterampilan sosial
peserta didik dalam pembelajaran IPS.
3
pemberontakan G30S/PKI dan berbagai masalah nasional lainnya di pandang
perlu memasukan program pendidikan sebagai propaganda dan penanaman nilai-
nilai sosial budaya masyarakat, berbangsa dan bernegara ke dalam kurikulum
sekolah.
Oleh karenanya, dalam beberapa pertemuan ilmiah dibahas Istilah IPS (Ilmu
Pengetahuan Sosial) sebagai program pendidikan tingkat sekolah di Indonesia, dan
pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972
di Tawangmangu Solo Jawa Tengah. Dalam laporan seminar tersebut, muncul 3
istilah dan digunakan secara bertukar pakai, yaitu :
a. Pengetahuan Sosial
b. Studi Sosial
c. Ilmu Pengetahuan Sosial
Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dunia persekolahan di Indonesia
pada tahun 1972-1973 yang diujicobakan dalam Kurikulum Proyek Perintis
Sekolah Pembangunan (PSSP) IKIP Bandung. Kemudian secara resmi dalam
kurikulum 1975 program pendidikan tentang masalah sosial dipandang tidak
cukup diajarkan melalui pelajaran sejarah dan geografi saja, maka dilakukan
reduksi mata pelajaran di tingkat SD-SMA untuk beberapa mata pelajaran ilmu
sosial yang serumpun digabung ke dalam mata pelajaran IPS. Oleh karena itu,
pemberlakuan istilah IPS (social studies) dalam kurikulum 1975 tersebut, dapat
dikatakan sebagai kelahiran IPS secara resmi di Indonesia.
Sejak pemerintahan Orde Baru keadaan tenang, pemerintah melancarkan Rencana
Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Pada masa Repelita I (1969-1974) Tim
Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan lima masalah nasional dalam
bidang pendidikan. Kelima masalah tersebut antara lain:
a. Kuantitas, berkenaan dengan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
b. Kualitas, menyangkut peningkatan mutu lulusan
c. Relevansi, berkaitan dengan kesesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan
pembangunan.
d. Efektifitas sistem pendidikan dan efisiensi penggunaan sumber daya dan
dana.
4
e. Pembinaan generasi muda dalam rangka menyiapkan tenaga produktif bagi
kepentingan pembangunan nasional.
Oleh karena itu, upaya pembangunan sektor pendidikan oleh pemerintah menjadi
prioritas. Program pembangunan pendidikan bidang sosial semakin ditingkatkan
untuk mengatasi dan menanamkan kewarganegaraan serta cinta tanah air
Indonesia. Upaya memasukan materi ilmu-ilmu sosial dan humaniora ke dalam
kurikulum sekolah di Indonesia disajikan dalam mata pelajaran dan bidang
studi/ jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara resmi pada kurikulum
1975. Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada
pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, bertujuan bahwa pendidikan
ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat
jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti,
dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kurikulum pendidikan 1975 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya
sebagai berikut :
a. Berorientasi pada tujuan
b. Menganut pendekatan integratif
c. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
d. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
e. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus
respon dan latihan.
Konsep pendidikan IPS tersebut lalu memberi inspirasi terhadap kurikulum 1975
yang menampilkan empat profil, yaitu :
a. Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Kewargaan Negara sebagai
bentuk pendidikan IPS khusus.
b. Pendidikan IPS terpadu untuk SD
c. Pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai
konsep peyung untuk sejarah, geografi dan ekonomi koperasi.
5
d. Pendidikan IPS terisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah,
ekonomi dan geografi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG,
dan IPS (ekonomi dan sejarah) untuk SMK /SMK..
Konsep pendidikan IPS seperti itu tetap dipertahankan dalam Kurikulum 1984
yang secara konseptual merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975
khususnya dalam aktualisasi materi, seperti masuknya Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (P4) sebagai materi pokok PMP. DalamKurikulum 1984,
PPKn merupakan mata pelajaran sosial khusus yang wajib diikuti semua siswa di
SD, SMP dan SMA. Sedangkan mata pelajaran IPS diwujudkan dalam :
a. Pendidikan IPS terpadu di SD kelas I-VI.
b. Pendidikan IPS terkonfederasi di SMP yang mencakup geografi, sejarah
dan ekonomi koperasi.
c. Pendidikan IPS terpisah di SMA yang meliputi Sejarah Nasional dan
Sejarah Umum di kelas I-II; Ekonomi dan Geografi di kelas I-II; Sejarah
Budaya di kelas III program IPS.
Dimensi konseptual mengenai pendidikan IPS telah berulang kali dibahas dalam
rangkaian pertemuan ilmiah, yakni pertemuan HISPISI pertama di Bandung tahun
1989, Forum Komunikasi Pimpinan HIPS di Yogyakarta tahun 1991, di Padang
tahun 1992, di Ujung Pandang tahun 1993, Konvensi Pendidikan kedua di Medan
tahun 1992. Salah satu materi yang selalu menjadi agenda pembahasan ialah
mengenai konsep PIPS. Dalam pertemuan Ujung Pandang, M. Numan Soemantri,
pakar dan ketua HISPISI menegaskan adanya dua versi PIPS sebagaimana
dirumuskan dalam pertemuan di Yogyakarta, yaitu :
a. Versi PIPS untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. PIPS adalah
penyederhanaan, adaptasi dari disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora,
serta kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah
dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.
b. Versi PIPS untuk Jurusan Pendidikan IPS-IKIP. PIPS adalah seleksi dari
disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang
diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan
pendidikan.
6
PIPS untuk tingkat perguruan tinggi pendidikan Guru IPS (eks IKIP, FKIP,
STKIP),direkonseptualisasikan sebagai pendidikan disiplin ilmu, sehingga
menjadi Pendidikan Disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial, seperti pendidikan
Geografi, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan
sosiologi, Pendidikan Sejarah dan sebagainya).
Bentuk keseriusan ahli pendidikan dan ahli ilmu-ilmu sosial khususnya mereka
yang memiliki komitmen terhadap social studies atau pendidikan IPS sebagai
program pendidikan di tingkat sekolah, maka mereka berusaha untuk memasukkan
ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum sekolah lebih jelas lagi. Namun karena tidak
mungkin semua disiplin ilmu sosial diajarkan di tingkat sekolah, maka kurikulum
ilmu sosial itu disajikan secara terintegrasi atau interdisipliner ke dalam kurikulum
IPS (social studies). Jadi untuk program pendidikan ilmu-ilmu sosial di tingkat
pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai di ajarkan. Program
pendidikan dasar di SD dan SMP penyajiannya secara terpadu penuh, sementara
itu untuk pembelajaran IPS di tingkat SMA/MA dan SMK penyajiannya bisa
dilakukan secara terpisah antar cabang ilmu-ilmu sosial, tetapi tetap
memperhatikan keterhubungannya antara ilmu sosial yang satu dengan ilmu sosial
lainnya, terutama dalam rumpun jurusan IPS di SMA dan juga di SMK. Sementara
itu, pada tingkat perguruan tinggi pendidikan ilmu-ilmu sosial disajikan secara
terpisah atau fakultatif, seperti FE, FH, FISIP dsb. Namun untuk pendidikan IPS
di FKIP/IKIP/STKIP yang mempersiapkan calon guru atau mendidik calon guru
di tingkat sekolah, maka pendidikan IPS di berikan secara interdisipliner dan juga
secara disipliner. Secara interdisipliner karena ilmu yang diperoleh nantinya untuk
program pembelajaran untuk usia anak sekolah, dan secara disipliner karena
sebagai guru juga harus menguasai ilmu yang diajarkan.
Bertitik tolak dari pemikiran mengenai kedudukan konseptual Pendidikan IPS,
dapat diidentifikasi sekolah objek telaah dari sistem pendidikan IPS, yaitu :
a. Karakteristik potensi dan perilaku belajar siswa SD, SMP dan SMA.
b. Karakteristik potensi dan perilaku belajar mahasiswa FPIPS-IKIP atau
JPIPS-STKIP/FKIP.
c. Kurikulum dan bahan belajar IPS SD, SMP dan SMA.
d. Disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora dan disiplin lain yang relevan.
7
e. Teori, prinsip, strategi, media serta evaluasi pembelajaran IPS.
f. Masalah-masalah sosial, ilmu pengetahuan dan teknilogi yang berdampak
sosial.
g. Norma agama yang melandasi dan memperkuat profesionalisme.
8
tetap diajarkan sebagai mata pelajaran di sekolah secara terpisah dengan IPS. Jadi
wajarlah kalau mata pelajaran PKn hanya ada di Indonesia, sementara di negara
lain disebut Civic education . IPS (social studies) dalam kurikulum tingkat satuan
pendidikan di Indonesia terus melakukan beberapa tinjauan dan kritik terutama
untuk perbaikan IPS sebagai program pendidikan ilmu sosial di tingkat sekolah
melalui seminar dan lokakarya serta pertemuan ilmiah bidang IPS lainnya,
terutama oleh kelompok pakar HISPISI (Himpunan sarjana pendidikan ilmu
sosial Indonesia) dalam kongresnya di beberapa tempat di Indonesia.
Kekuatan dan Kelemahan Penerapan IPS
A. Kekuatan
Pemberlakuan pembelajaran IPS di berbagai jenjang pendidikan di
Indonesia merupakan jawaban dari kondisi sosial masyarakat dan
sekaligus memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan tata nilai
untuk menciptakan warga Negara yang baik.
Pembelajaran IPS di Indonesia yang disusun dengan memperhatikan
karakteristik bangsa Indonesia sendiri menunjukkan bahwa IPS di
Indonesia telah diadaptasi dengan karakter bangsa Indonesia.
B. Kelemahan
Penyampaian pembelajaran IPS masih bersifat tekstual sehingga
pembelajaran IPS terkesan sebagai meta pelajaran hafalan, yang hanya
mengembangkan pengetahuan saja.
Implikasi dari anggapan bahwa mata pelajaran IPS adalah hanya hafalan
saja, maka IPS sering dianggap sebagai mata pelajaran pilar kedua setelah
IPA.
Pembenahan pada tingkat perguruan tinggi (terutama LPTK) yaitu masih
sedikit perguruan tinggi yang membuka program pendidikan IPS,
sehingga fenomena yang terjadi IPS banyak diajar oleh guru yang bukan
berasal dari latar belakang pendidikan IPS.
9
4. Bagaimana merancang pembelajaran IPS (materi, motode, media, evaluasi)
yang memosisikan IPS sebagai mata pelajaran berpikir dan Bukan
pelajaran hapalan.
Jawab:
Merancang Pembelajaran IPS.
Pembelajaran IPS harus disusun secara sistematis dengan memperhatikan
karakteristik pembelajaran IPS sehingga IPS diposisikan tidak sebagai mata
pelajaran hafalan. Adapun karakteristik pembelajaran IPS menurut Kosasih
Djahiri adalah sebagai berikut:
a. IPS berusaha mempertautkan teori ilmu dan fakta atau sebaliknya (menelaah
fakta dari segi ilmu).
b. Penelaahan dan pembahasan IPS tidak hanya dari satu bidang disiplin ilmu saja,
melainkan bersifat kooperhensif (meluas/ dari berbagai ilmu sosial lainnya,
sehingga berbagai konsep ilmu secara terintregrasi terpadu) digunakan untuk
menelaah satu masalah /tema/topik. Pendekatan seperti ini disebut juga sebagai
pendekatan integated, juga menggunakan pendekan broadfield, dan multiple
resources (banyak sumber).
c. Mengutamakan peran aktif siswa melalui proses belajar inquiri agar siswa
mampu mengembangkan berpikir kritis, rasional dan analitis.
d. Program pembelajaran disusun dengan meningkatkan atau menghubungkan
bahan-bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial dan lainnya dengan kehidupan
nyata di masayarakat, pengalaman, permasalahan, kebutuhan dan
memproyeksikan kepada kehidupan dimasa depan baik dari lingkungan fisik
atau alam maupun budayanya.
e. IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat labil, sehingga
titik berat pembelajaran adalah terjadi proses internalisasi secara mantap dan
aktif pada diri siswa memiliki kebiasaan dan kemahiran untuk menelaah
permasalahan kehidupan nyata pada masayarakat.
f. IPS mengutamakan hal-hal, arti dan penghayatan hubungan antar manusia yang
bersifat manusiawi.
g. Pembebelajaran tidak hanya mengutamakan pengetahuan semata, juga nilai dan
keterampilannya.
10
h. Berusaha untuk memuasakan setiap siswa yang berbeda melalui program
maupun pembelajarannya dalam arti memperhatikan minat siswa dan masalah-
masalah kemasyarakatan yang dekat dengan kehidupannya.
i. Dalam pengembagnan program pembelajaran senantiasa melaksanakan prinsip-
prinsip, karakteristik (sifat dasar) dan pendekatan-pendekatan IPS itu sendiri.
Berdasarkan karakteristik di atas maka pembelajaran IPS harus dirancang dengan
sistematis:
A. Materi:
Pengorganisasian materi ajar harus esensial dalam arti materi ajar harus berisi
materi yang disesuakan dengan kondisi psikologis dan kebutuhan siswa,
sehingga disamping siswa mampu menangkap (memahami) esensi mata
pelajaran juga akan berguna bagi kehidupan siswa (kontekstual).
B. Metode:
Metode yang digunakan harus bervariatif, yaitu metode yang mampu
mengembangkan seluruh potensi siswa dan juga harus menyenangkan sehingga
pembelajaran IPS menjadi penuh makna (meaningfull).
C. Media:
Media dalam pembelajaran IPS harus mampu membantu siswa untuk memahami
materi yang disampaikan secara utuh, sehingga membentuk pemahaman yang
tidak bias. Media pembelajaran IPS juga harus mampu membantu siswa untuk
memahami kondisi dan permasalahan sosial serta mampu memecahkannya.
D. Evaluasi:
Evaluasi dalam pendidikan IPS harus dilakukan secara menyeluruh (holistic)
baik dalam hal kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif. Evaluasi ini juga
harus disertai dengan upaya tindak lanjut (follow up) dan umpan balik (feed
back) yang sering dan segera.
11
5. Bagaimana memperbaiki persepsi publik yang sering mengangggap
pelajaran IPS sebagai pelajaran nomor dua (second class) dibandingkan
pelajaran IPA?
Jawab:
Untuk memperbaiki persepsi publik bahwa IPS adalah mata pelajaran second
class, maka dapat dilakukan adalah hal-hal sebagai berikut:
a. Pembangunan jati diri yang lebih tegas, integratif, dan tidak fragmentaris
untuk mendapatkan kewibawaan. Eksistensi Program S2 dan S3 PIPS di
berbagai Perguruan Tinggi harus mampu menjalin hubungan sinergis sebagai
agen pembaharuan pendidikan IPS. Artinya perguruan tinggi tersebut
hendaknya secara intensif melakukan komunikasi dengan berbagai elemen
dalam rangka memperbaiki kualitas pendidikan IPS di Indonesia.
b. Pembaharuan kurikulum PIPS hendaknya bukan sekedar tambal sulam, tetapi
lebih bersifat interdisipliner, dan berorientasi pada ‘functional knowledge”
serta aspirasi kebudayaan Indonesia dan nilai-nilai agama.
c. Pengajar harus mampu menyajikan pengajaran/pembelajaran yang bersifat
interdisipllin, berperan sebagai fasilitator pembelajar, dan menjadi problem
solver baik di kampus/sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat. Pengajar
harus mampu memahami kebutuhan dasar lingkungannya, sehingga
Pengajaran PIPS tidak bersifat kering. Pengajar bisa mengembangkan
beberapa guidelines NCCS 1994 tentang pengajaran IPS yang powerful, yakni
melakukan pengajaran IPS yang bermakna, integratif, berbasis nilai,
menantang dan aktif.
d. Membangun hubungan secara sinergis antara LPTK, praktisi pendidikan,
sekolah, pembuat kebijakan pendidikan, serta berbagai elemen environment
guna melakukan sharing untuk menyusun kurikulum yang integratif dan
responsif terhadap permasalahan-permasalahan riil, baik lokal, regional,
nasional maupun internasional. Kurikulum IPS harus bersifat fleksibel,
artinya senantiasa bisa diubah, perubahan berjalan secara kontinu supaya
tidak ketinggalan jaman.
e. Kurikulum PIPS mampu membuat estimasi kehidupan yang akan berlangsung
30-50 tahun yang akan datang. Paradigma kurikulum PIPS berorientasi ke
12
depan. Anak didik pada masa sekarang, mereka akan menempuh usia
dewasanya pada 10–50 tahun yang akan datang. Konsekuensinya, kurikulum
harus mampu mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan yang akan
datang.
6. Secara epistimologi, bagaimana perbedaan tingkat kesulitan pelajaran IPS
dibandingkan IPA?
Jawab:
Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang
bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum
(objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti
asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan
menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan
pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan
menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang
patut ditolak.
Berkaitan dengan hal tersebut pelajaran IPS jika dibandingkan dengan IPA
tingkat kesulitannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Konten pelajaran IPS adalah berkaitan dengan masalah-masalah sosial,
hubungan antar manusai, kebudayaan dan sebagainya yang selalu dinamis,
sehingga jika disbanding dengan IPA yang merupakan ilmu pasti, maka IPS
lebih rumit dan sangat kompleks.
Skup IPS lebih luas dibanding dengan IPA, karena IPS mempelajari seluruh
aktifitas manusia dan lingkungannya.
IPS mempelajari dinamika kehidupan manusia, sedangkan IPA hanya terbatas
pada unsur-unsur yang bersifat alamiah saja.
7. Jelaskan masalah sosial apa sajakah yang dapat menjadi sumber belajar IPS
itu?
Jawab:
Masalah-masalah sosial yang dapat menjadi sumber belajar IPS antara lain:
Masalah tersebut berkaitan dengan teori sosial, sehingga masalah sosial
tersebut dapat dikaji melalui teori agar siswa mempunyai pemahaman yang
13
mendalam tidak hanya teoritis tetapi juga memahami masalah yang riil dalah
kehidupan sehari-hari.
Masalah tersebut berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang dikaji.
Masalah sosial tersebut bermuatan nilai-nilai yang dapat memotivasi siswa
atau dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah
Masalah sosial tersebut dapat dicerna oleh siswa, dalam arti harus disesuaikan
dengan tingkat kematangan berpikir siswa.
14
8
Kelemahan Pendekatan eksplanatory
Tidak semua siswa aktif
Perhatian terhadap siswa yang tidak aktif kurang, sehingga menimbulkan
perasaan introfer
10. Saran dan rekomendasi apa yang sdr berikan untuk memperbaiki IPS di
persekolahan ?
Jawab:
Saran dan rekomendasi untuk memperbaiki pembelajaran IPS
Pembelajaran IPS harus kontekstual, memberikan kesempatan secara luas
kepada siswa untuk berpikir aktif mengembangkan potensi yang mereka
miliki dengan bimbingan guru.
Kurikulum IPS harus dibenahi, dan harus futuristik (berorientasi pada masa
depan)
15
Pembenahan juga harus dilakukan oleh LPTK sebagai lembaga penghasil
pendidik.
16