0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
303 tayangan17 halaman

Pengaruh Teori Sosial pada IPS di Indonesia

ok

Diunggah oleh

MohamadNursodik
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
303 tayangan17 halaman

Pengaruh Teori Sosial pada IPS di Indonesia

ok

Diunggah oleh

MohamadNursodik
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS TAKE HOME)

MATA KULIAH : SEMINAR PENDIDIKAN IPS


DOSEN : Dr. CECEP DARMAWAN, [Link]

Penyusun:

MOHAMAD NURSODIK
NPM: 10870076

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


PROGRAM PASCASARJANA
STKIP PASUNDAN CIMAHI
2011

0
JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER

Mata Kuliah : Seminar Pendidikan IPS


Dosen : Dr. Cecep Darmawan, [Link],. [Link]., [Link]

Oleh:

Nama : MOHAMAD NURSOSDIK


NPM : 10870076

Jawab pertanyaan berikut ini dengan argumentasi teoritik !


1. Jelaskan mengapa perkembangan teori ilmu sosial akan mempengaruhi
IPS?
Jawab:
Perkembangan teori ilmu sosial akan mempengaruhi IPS, hal itu perlu dikaji
tujuan dan manfaat teori sosial. Adapun tujuan teori sosial adalah:
• Untuk memberikan pengertian dan pemahaman (understanding) terhadap
realita atau fenomena sosial
• Untuk memberikan penjelasan (explanation) terhadap realita atau fenomena
sosial
• Untuk kepentingan prediksi atau peramalan (forcasting) terhadap fenomena-
fenomena sosial
• Sebagai kritik dan pengawasan (control) terhadap perkembangan konsep dan
teori-teori sosial
• Melatih kepekaan dan tanggungjawab sosial (sensitivity and responsebelity)
Sedang manfaat teori sosial antara lain adalah:
• Sebagai alat (instrument) dalam menjelaskan realita atau fenomena sosial
• Sebagai alat analisis (tools of analysis) terhadap fenomena sosial yang diamati
• Sebagai sarana atau upaya peneliti untuk melakukan konstruksi,
rekonstruksi atau dekonstruksi teori terhadap realita atau fenomena sosial
yang diamati dengan persyaratan: relevan (cocok, layak),
aplikabel/manajebel (dapat dilaksanakan), replikan (dapat di daur ulang),
dan konsisten (runtut dan sistematik)
Sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu paduan dari pada sejumlah
ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya yang tidak terikat oleh ketentuan/

1
disiplin/struktur ilmu tertentu melainkan bertautan dengan kegiatan-kegiatan
pendidikan yang berencana dan sistematis untuk kepentingan program pengajaran
sekolah dengan tujuan memperbaiki, mengembangkan dan memajukan
hubungan-hubungan kemanusiaan kemasyarakatan.
Dari kajian tujuan dan manfaat teori ilmu sosial dan definisi IPS di atas dapat
disimpulkan bahwa perkembangan teoti sosial akan mempengaruhi IPS karena
teori sosial dapat menjelaskan fenomena-fenomena atau gejala yang terjadi dalam
masyarakat, yang juga merupakan bagian dari kajian IPS.

2. Kemukakan tradisi IPS menurut para ahli dan bagaimana implementasi


tradisi tersebut dalam pembelajaran IPS di Indonesia.
Jawab:
Tradisi IPS dan Implementasinya dalam pembelajaran.
Tradisi IPS:
a. social studies as social sciences;
b. social studies as citizenship education; dan
c. social studies as reflective inquiry.
Penjelasan:
IPS sebagai bagian dari ilmu sosial yang mengkasi tentang masyarakat dan
lingkungannya serta interaksi yang dilakukan oleh masyarakat. IPS juga
merupakan wahana pendidikan kewarganegaraan untuk menciptakan warga
Negara yang baik yang mampu berperan dalam masyarakatnya. IPS juga sebagai
wahana untuk berpikir inquiri, menemukan hal-hal yang baru untuk
pengembangan ilmu pengetahuan, serta dapat memecahkan masalah yang
dihadapi.
Implementasi dalam pembelajaran IPS:
Setiap model memiliki karakteristik masing-masing, sehingga penggunaannya
disesuaikan dengan karakteristik materi yang hendak dibelajarkan. Dikaitkan
dengan pengembangan berpikir rasional, dalam kegiatan instruksional, dikenal
pula beberapa model pembelajaran IPS yang lebih menekankan pada
pengembangan dan peningkatan kemampuan berpikir ilmiah dan kreatif
sebagaimana layaknya ilmuwan sosial, seperti: inquiry model, problem solving

2
model, dan jurisprudential model. Dalam tradisi pembelajaran IPS di Indonesia,
dikenal beberapa model pendekatan pengorganisasian materi, seperti: (1)
pendekatan integrated, yang biasanya dikembangkan pada pembelajaran IPS pada
jenjang sekolah dasar, (2) pendekatan corelated, yang biasanya dikembangkan
dalam pembelajaran IPS pada jenjang SMP, dan (3) pendekatan sparated, yang
biasanya dikembangkan dalam pembelajaran IPS pada jenjang SMA. Dilihat dari
kaitannya dengan tradisi pembelajaran IPS, maka tampak yang lebih populer dan
banyak berpengaruh dalam pengembangan kurikulum IPS adalah model yang
menekankan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang disajikan secara terpisah
namun tetap ada keterkaitan antara disiplin ilmu sosial yang satu dengan disiplin
ilmu sosial yang lainnya.
Pembelajaran IPS dewasa ini, harus lebih diarahkan pada pembekalan dan
pelatihan kemampuan, pengetahuan, sikap, dan nilai-nilai sosial dan budaya yang
diperlukan oleh peserta didik untuk mengendalikan atau memprediksi dampak-
dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kemajuan kemajuan ilmu dan teknologi
bagi kehidupan masyarakatnya. Bertalian dengan konsepsi ini, masyarakat yang
literasi sosial-budaya sangat dibutuhkan, agar mampu mengendalikan kemajuan
ilmu dan teknologi, serta abrasi nilai-nilai sosial-budaya di dalam masyarakatnya.
Berdasarkan rasional di atas, maka penelitian ini lebih difokuskan pada upaya
pengembangan model belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan dan
peningkatan literasi sosial-teknologi, pemahaman materi, dan keterampilan sosial
peserta didik dalam pembelajaran IPS.

3. Jelaskan perkembangan sejarah IPS di sekolah di Indonesia, dan


kemukakan kekuatan dan kelemahan penerapan IPS tersebut !
Jawab:
Perkembangan IPS di Indonesia
Latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS ke dalam kurikulum sekolah di
Indonesia juga hampir sama dengan di beberapa negara lain, di antaranya situasi
kacau dan pertentangan politik bangsa, kondisi keragaman budaya bangsa
(multikultur) yang sangat rentan terjadinya konflik. Sehingga, sebagai akibat
konflik dan situasi nasional bangsa yang tidak stabil, terlebih adanya

3
pemberontakan G30S/PKI dan berbagai masalah nasional lainnya di pandang
perlu memasukan program pendidikan sebagai propaganda dan penanaman nilai-
nilai sosial budaya masyarakat, berbangsa dan bernegara ke dalam kurikulum
sekolah.
Oleh karenanya, dalam beberapa pertemuan ilmiah dibahas Istilah IPS (Ilmu
Pengetahuan Sosial) sebagai program pendidikan tingkat sekolah di Indonesia, dan
pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972
di Tawangmangu Solo Jawa Tengah. Dalam laporan seminar tersebut, muncul 3
istilah dan digunakan secara bertukar pakai, yaitu :
a. Pengetahuan Sosial
b. Studi Sosial
c. Ilmu Pengetahuan Sosial
Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dunia persekolahan di Indonesia
pada tahun 1972-1973 yang diujicobakan dalam Kurikulum Proyek Perintis
Sekolah Pembangunan (PSSP) IKIP Bandung. Kemudian secara resmi dalam
kurikulum 1975 program pendidikan tentang masalah sosial dipandang tidak
cukup diajarkan melalui pelajaran sejarah dan geografi saja, maka dilakukan
reduksi mata pelajaran di tingkat SD-SMA untuk beberapa mata pelajaran ilmu
sosial yang serumpun digabung ke dalam mata pelajaran IPS. Oleh karena itu,
pemberlakuan istilah IPS (social studies) dalam kurikulum 1975 tersebut, dapat
dikatakan sebagai kelahiran IPS secara resmi di Indonesia.
Sejak pemerintahan Orde Baru keadaan tenang, pemerintah melancarkan Rencana
Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Pada masa Repelita I (1969-1974) Tim
Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan lima masalah nasional dalam
bidang pendidikan. Kelima masalah tersebut antara lain:
a. Kuantitas, berkenaan dengan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
b. Kualitas, menyangkut peningkatan mutu lulusan
c. Relevansi, berkaitan dengan kesesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan
pembangunan.
d. Efektifitas sistem pendidikan dan efisiensi penggunaan sumber daya dan
dana.

4
e. Pembinaan generasi muda dalam rangka menyiapkan tenaga produktif bagi
kepentingan pembangunan nasional.
Oleh karena itu, upaya pembangunan sektor pendidikan oleh pemerintah menjadi
prioritas. Program pembangunan pendidikan bidang sosial semakin ditingkatkan
untuk mengatasi dan menanamkan kewarganegaraan serta cinta tanah air
Indonesia. Upaya memasukan materi ilmu-ilmu sosial dan humaniora ke dalam
kurikulum sekolah di Indonesia disajikan dalam mata pelajaran dan bidang
studi/ jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara resmi pada kurikulum
1975. Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada
pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, bertujuan bahwa pendidikan
ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat
jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti,
dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kurikulum pendidikan 1975 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya
sebagai berikut :
a. Berorientasi pada tujuan
b. Menganut pendekatan integratif
c. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
d. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
e. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus
respon dan latihan.
Konsep pendidikan IPS tersebut lalu memberi inspirasi terhadap kurikulum 1975
yang menampilkan empat profil, yaitu :
a. Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Kewargaan Negara sebagai
bentuk pendidikan IPS khusus.
b. Pendidikan IPS terpadu untuk SD
c. Pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai
konsep peyung untuk sejarah, geografi dan ekonomi koperasi.

5
d. Pendidikan IPS terisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah,
ekonomi dan geografi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG,
dan IPS (ekonomi dan sejarah) untuk SMK /SMK..

Konsep pendidikan IPS seperti itu tetap dipertahankan dalam Kurikulum 1984
yang secara konseptual merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975
khususnya dalam aktualisasi materi, seperti masuknya Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (P4) sebagai materi pokok PMP. DalamKurikulum 1984,
PPKn merupakan mata pelajaran sosial khusus yang wajib diikuti semua siswa di
SD, SMP dan SMA. Sedangkan mata pelajaran IPS diwujudkan dalam :
a. Pendidikan IPS terpadu di SD kelas I-VI.
b. Pendidikan IPS terkonfederasi di SMP yang mencakup geografi, sejarah
dan ekonomi koperasi.
c. Pendidikan IPS terpisah di SMA yang meliputi Sejarah Nasional dan
Sejarah Umum di kelas I-II; Ekonomi dan Geografi di kelas I-II; Sejarah
Budaya di kelas III program IPS.
Dimensi konseptual mengenai pendidikan IPS telah berulang kali dibahas dalam
rangkaian pertemuan ilmiah, yakni pertemuan HISPISI pertama di Bandung tahun
1989, Forum Komunikasi Pimpinan HIPS di Yogyakarta tahun 1991, di Padang
tahun 1992, di Ujung Pandang tahun 1993, Konvensi Pendidikan kedua di Medan
tahun 1992. Salah satu materi yang selalu menjadi agenda pembahasan ialah
mengenai konsep PIPS. Dalam pertemuan Ujung Pandang, M. Numan Soemantri,
pakar dan ketua HISPISI menegaskan adanya dua versi PIPS sebagaimana
dirumuskan dalam pertemuan di Yogyakarta, yaitu :
a. Versi PIPS untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. PIPS adalah
penyederhanaan, adaptasi dari disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora,
serta kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah
dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.
b. Versi PIPS untuk Jurusan Pendidikan IPS-IKIP. PIPS adalah seleksi dari
disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang
diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan
pendidikan.

6
PIPS untuk tingkat perguruan tinggi pendidikan Guru IPS (eks IKIP, FKIP,
STKIP),direkonseptualisasikan sebagai pendidikan disiplin ilmu, sehingga
menjadi Pendidikan Disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial, seperti pendidikan
Geografi, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan
sosiologi, Pendidikan Sejarah dan sebagainya).
Bentuk keseriusan ahli pendidikan dan ahli ilmu-ilmu sosial khususnya mereka
yang memiliki komitmen terhadap social studies atau pendidikan IPS sebagai
program pendidikan di tingkat sekolah, maka mereka berusaha untuk memasukkan
ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum sekolah lebih jelas lagi. Namun karena tidak
mungkin semua disiplin ilmu sosial diajarkan di tingkat sekolah, maka kurikulum
ilmu sosial itu disajikan secara terintegrasi atau interdisipliner ke dalam kurikulum
IPS (social studies). Jadi untuk program pendidikan ilmu-ilmu sosial di tingkat
pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai di ajarkan. Program
pendidikan dasar di SD dan SMP penyajiannya secara terpadu penuh, sementara
itu untuk pembelajaran IPS di tingkat SMA/MA dan SMK penyajiannya bisa
dilakukan secara terpisah antar cabang ilmu-ilmu sosial, tetapi tetap
memperhatikan keterhubungannya antara ilmu sosial yang satu dengan ilmu sosial
lainnya, terutama dalam rumpun jurusan IPS di SMA dan juga di SMK. Sementara
itu, pada tingkat perguruan tinggi pendidikan ilmu-ilmu sosial disajikan secara
terpisah atau fakultatif, seperti FE, FH, FISIP dsb. Namun untuk pendidikan IPS
di FKIP/IKIP/STKIP yang mempersiapkan calon guru atau mendidik calon guru
di tingkat sekolah, maka pendidikan IPS di berikan secara interdisipliner dan juga
secara disipliner. Secara interdisipliner karena ilmu yang diperoleh nantinya untuk
program pembelajaran untuk usia anak sekolah, dan secara disipliner karena
sebagai guru juga harus menguasai ilmu yang diajarkan.
Bertitik tolak dari pemikiran mengenai kedudukan konseptual Pendidikan IPS,
dapat diidentifikasi sekolah objek telaah dari sistem pendidikan IPS, yaitu :
a. Karakteristik potensi dan perilaku belajar siswa SD, SMP dan SMA.
b. Karakteristik potensi dan perilaku belajar mahasiswa FPIPS-IKIP atau
JPIPS-STKIP/FKIP.
c. Kurikulum dan bahan belajar IPS SD, SMP dan SMA.
d. Disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora dan disiplin lain yang relevan.

7
e. Teori, prinsip, strategi, media serta evaluasi pembelajaran IPS.
f. Masalah-masalah sosial, ilmu pengetahuan dan teknilogi yang berdampak
sosial.
g. Norma agama yang melandasi dan memperkuat profesionalisme.

Kurikulum 1994 dilaksanakan secara bertahap mulai ajaran 1994-1995 merupakan


pembenahan atas pelaksanaan kurikulum 1984 setelah memperhatikan tuntutan
perkembangan dan keadaan masyarakat saat itu, khususnya yang menyangkut
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, kebutuhan
pembangunan dan gencarnya arus globalisasi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum
1984 itu sendiri. Upaya pembaharuan kurikulum pendidikan nampak saat
diadakannya serangkaian Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan dari tahun 1986 sampai 1989.
Pembenahan kurikulum ini juga didorong oleh amanat GBHN 1988 yang intinya;
1) perlunya diteruskan upaya peningkatan mutu pendidikan di berbagai jenis dan
jenjang pendidikan, 2) perlunya persiapan perluasan wajib belajar pendidikan
dasar dari enam tahun menjadi sembilan tahun, dan 3) perlunya segera dilahirkan
undang-undang yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pada tahun 2004, pemerintah melakukan perubahan kurikulum kembali yang
dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Namun pengembangan
kurikulum IPS diusulkan menjadi Pengetahuan Sosial untuk merespon secara
positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal
ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran Pengetahuan
Sosial dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Di samping itu, khusus dalam
kurikulum SD, IPS pernah diusulkan digabung dengan Pendidikan
kewarganegaraan yaitu menjadi pendidikan kewrganegaraan dan pengetahuan
sosial (PKnPS), namun akhirnya kurikulum disempurnakan ke dalam kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006, antara IPS dan PKn dipisahkan
kembali. Hal ini memperhatikan berbagai masukan dan kritik ahli pendidikan
serta kepentingan pendidikan nasional dan politik bangsa yaitu perlunya
pendidikan kewarganegaraan bangsa, maka antara IPS dan PKn meskipun tujuan
dan kajiannya adalah sama yaitu membentuk warganegara yang baik, maka PKn

8
tetap diajarkan sebagai mata pelajaran di sekolah secara terpisah dengan IPS. Jadi
wajarlah kalau mata pelajaran PKn hanya ada di Indonesia, sementara di negara
lain disebut Civic education . IPS (social studies) dalam kurikulum tingkat satuan
pendidikan di Indonesia terus melakukan beberapa tinjauan dan kritik terutama
untuk perbaikan IPS sebagai program pendidikan ilmu sosial di tingkat sekolah
melalui seminar dan lokakarya serta pertemuan ilmiah bidang IPS lainnya,
terutama oleh kelompok pakar HISPISI (Himpunan sarjana pendidikan ilmu
sosial Indonesia) dalam kongresnya di beberapa tempat di Indonesia.
Kekuatan dan Kelemahan Penerapan IPS
A. Kekuatan
 Pemberlakuan pembelajaran IPS di berbagai jenjang pendidikan di
Indonesia merupakan jawaban dari kondisi sosial masyarakat dan
sekaligus memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan tata nilai
untuk menciptakan warga Negara yang baik.
 Pembelajaran IPS di Indonesia yang disusun dengan memperhatikan
karakteristik bangsa Indonesia sendiri menunjukkan bahwa IPS di
Indonesia telah diadaptasi dengan karakter bangsa Indonesia.
B. Kelemahan
 Penyampaian pembelajaran IPS masih bersifat tekstual sehingga
pembelajaran IPS terkesan sebagai meta pelajaran hafalan, yang hanya
mengembangkan pengetahuan saja.
 Implikasi dari anggapan bahwa mata pelajaran IPS adalah hanya hafalan
saja, maka IPS sering dianggap sebagai mata pelajaran pilar kedua setelah
IPA.
 Pembenahan pada tingkat perguruan tinggi (terutama LPTK) yaitu masih
sedikit perguruan tinggi yang membuka program pendidikan IPS,
sehingga fenomena yang terjadi IPS banyak diajar oleh guru yang bukan
berasal dari latar belakang pendidikan IPS.

9
4. Bagaimana merancang pembelajaran IPS (materi, motode, media, evaluasi)
yang memosisikan IPS sebagai mata pelajaran berpikir dan Bukan
pelajaran hapalan.
Jawab:
Merancang Pembelajaran IPS.
Pembelajaran IPS harus disusun secara sistematis dengan memperhatikan
karakteristik pembelajaran IPS sehingga IPS diposisikan tidak sebagai mata
pelajaran hafalan. Adapun karakteristik pembelajaran IPS menurut Kosasih
Djahiri adalah sebagai berikut:
a. IPS berusaha mempertautkan teori ilmu dan fakta atau sebaliknya (menelaah
fakta dari segi ilmu).
b. Penelaahan dan pembahasan IPS tidak hanya dari satu bidang disiplin ilmu saja,
melainkan bersifat kooperhensif (meluas/ dari berbagai ilmu sosial lainnya,
sehingga berbagai konsep ilmu secara terintregrasi terpadu) digunakan untuk
menelaah satu masalah /tema/topik. Pendekatan seperti ini disebut juga sebagai
pendekatan integated, juga menggunakan pendekan broadfield, dan multiple
resources (banyak sumber).
c. Mengutamakan peran aktif siswa melalui proses belajar inquiri agar siswa
mampu mengembangkan berpikir kritis, rasional dan analitis.
d. Program pembelajaran disusun dengan meningkatkan atau menghubungkan
bahan-bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial dan lainnya dengan kehidupan
nyata di masayarakat, pengalaman, permasalahan, kebutuhan dan
memproyeksikan kepada kehidupan dimasa depan baik dari lingkungan fisik
atau alam maupun budayanya.
e. IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat labil, sehingga
titik berat pembelajaran adalah terjadi proses internalisasi secara mantap dan
aktif pada diri siswa memiliki kebiasaan dan kemahiran untuk menelaah
permasalahan kehidupan nyata pada masayarakat.
f. IPS mengutamakan hal-hal, arti dan penghayatan hubungan antar manusia yang
bersifat manusiawi.
g. Pembebelajaran tidak hanya mengutamakan pengetahuan semata, juga nilai dan
keterampilannya.

10
h. Berusaha untuk memuasakan setiap siswa yang berbeda melalui program
maupun pembelajarannya dalam arti memperhatikan minat siswa dan masalah-
masalah kemasyarakatan yang dekat dengan kehidupannya.
i. Dalam pengembagnan program pembelajaran senantiasa melaksanakan prinsip-
prinsip, karakteristik (sifat dasar) dan pendekatan-pendekatan IPS itu sendiri.
Berdasarkan karakteristik di atas maka pembelajaran IPS harus dirancang dengan
sistematis:
A. Materi:
Pengorganisasian materi ajar harus esensial dalam arti materi ajar harus berisi
materi yang disesuakan dengan kondisi psikologis dan kebutuhan siswa,
sehingga disamping siswa mampu menangkap (memahami) esensi mata
pelajaran juga akan berguna bagi kehidupan siswa (kontekstual).

B. Metode:
Metode yang digunakan harus bervariatif, yaitu metode yang mampu
mengembangkan seluruh potensi siswa dan juga harus menyenangkan sehingga
pembelajaran IPS menjadi penuh makna (meaningfull).

C. Media:
Media dalam pembelajaran IPS harus mampu membantu siswa untuk memahami
materi yang disampaikan secara utuh, sehingga membentuk pemahaman yang
tidak bias. Media pembelajaran IPS juga harus mampu membantu siswa untuk
memahami kondisi dan permasalahan sosial serta mampu memecahkannya.

D. Evaluasi:
Evaluasi dalam pendidikan IPS harus dilakukan secara menyeluruh (holistic)
baik dalam hal kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif. Evaluasi ini juga
harus disertai dengan upaya tindak lanjut (follow up) dan umpan balik (feed
back) yang sering dan segera.

11
5. Bagaimana memperbaiki persepsi publik yang sering mengangggap
pelajaran IPS sebagai pelajaran nomor dua (second class) dibandingkan
pelajaran IPA?
Jawab:
Untuk memperbaiki persepsi publik bahwa IPS adalah mata pelajaran second
class, maka dapat dilakukan adalah hal-hal sebagai berikut:
a. Pembangunan jati diri yang lebih tegas, integratif, dan tidak fragmentaris
untuk mendapatkan kewibawaan. Eksistensi Program S2 dan S3 PIPS di
berbagai Perguruan Tinggi harus mampu menjalin hubungan sinergis sebagai
agen pembaharuan pendidikan IPS. Artinya perguruan tinggi tersebut
hendaknya secara intensif melakukan komunikasi dengan berbagai elemen
dalam rangka memperbaiki kualitas pendidikan IPS di Indonesia.
b. Pembaharuan kurikulum PIPS hendaknya bukan sekedar tambal sulam, tetapi
lebih bersifat interdisipliner, dan berorientasi pada ‘functional knowledge”
serta aspirasi kebudayaan Indonesia dan nilai-nilai agama.
c. Pengajar harus mampu menyajikan pengajaran/pembelajaran yang bersifat
interdisipllin, berperan sebagai fasilitator pembelajar, dan menjadi problem
solver baik di kampus/sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat. Pengajar
harus mampu memahami kebutuhan dasar lingkungannya, sehingga
Pengajaran PIPS tidak bersifat kering. Pengajar bisa mengembangkan
beberapa guidelines NCCS 1994 tentang pengajaran IPS yang powerful, yakni
melakukan pengajaran IPS yang bermakna, integratif, berbasis nilai,
menantang dan aktif.
d. Membangun hubungan secara sinergis antara LPTK, praktisi pendidikan,
sekolah, pembuat kebijakan pendidikan, serta berbagai elemen environment
guna melakukan sharing untuk menyusun kurikulum yang integratif dan
responsif terhadap permasalahan-permasalahan riil, baik lokal, regional,
nasional maupun internasional. Kurikulum IPS harus bersifat fleksibel,
artinya senantiasa bisa diubah, perubahan berjalan secara kontinu supaya
tidak ketinggalan jaman.
e. Kurikulum PIPS mampu membuat estimasi kehidupan yang akan berlangsung
30-50 tahun yang akan datang. Paradigma kurikulum PIPS berorientasi ke

12
depan. Anak didik pada masa sekarang, mereka akan menempuh usia
dewasanya pada 10–50 tahun yang akan datang. Konsekuensinya, kurikulum
harus mampu mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan yang akan
datang.
6. Secara epistimologi, bagaimana perbedaan tingkat kesulitan pelajaran IPS
dibandingkan IPA?
Jawab:
Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang
bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum
(objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti
asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan
menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan
pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan
menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang
patut ditolak.
Berkaitan dengan hal tersebut pelajaran IPS jika dibandingkan dengan IPA
tingkat kesulitannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Konten pelajaran IPS adalah berkaitan dengan masalah-masalah sosial,
hubungan antar manusai, kebudayaan dan sebagainya yang selalu dinamis,
sehingga jika disbanding dengan IPA yang merupakan ilmu pasti, maka IPS
lebih rumit dan sangat kompleks.
 Skup IPS lebih luas dibanding dengan IPA, karena IPS mempelajari seluruh
aktifitas manusia dan lingkungannya.
 IPS mempelajari dinamika kehidupan manusia, sedangkan IPA hanya terbatas
pada unsur-unsur yang bersifat alamiah saja.

7. Jelaskan masalah sosial apa sajakah yang dapat menjadi sumber belajar IPS
itu?
Jawab:
Masalah-masalah sosial yang dapat menjadi sumber belajar IPS antara lain:
 Masalah tersebut berkaitan dengan teori sosial, sehingga masalah sosial
tersebut dapat dikaji melalui teori agar siswa mempunyai pemahaman yang

13
mendalam tidak hanya teoritis tetapi juga memahami masalah yang riil dalah
kehidupan sehari-hari.
 Masalah tersebut berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang dikaji.
 Masalah sosial tersebut bermuatan nilai-nilai yang dapat memotivasi siswa
atau dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah
Masalah sosial tersebut dapat dicerna oleh siswa, dalam arti harus disesuaikan
dengan tingkat kematangan berpikir siswa.

8. Pendekatan eksplanatory dan inquiri sering diaduhadapakan. Coba


kemukakan kelemahan dan keunggulan keduanya! Dan bagaimana
kecenderungan guru-gum di sekolah terhadap kedua pendekatan tersebut?
Jawab:
Keunggulan pendekatan inquiri
 Inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat pada siswa, yang
mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi.
 Inkuiri merupakan suatu cara mengajar siswa bagaimana belajar dengan
menggunakan keterampilan, proses, sikap, dan pengetahuan berpikir rasional.
 esensi dari pengajaran inkuiri adalah menata lingkungan/suasana belajar yang
berfokus pada siswa dengan memberikan bimbingan secukupnya dalam
menemukan konsepkonsep dan prinsip-prinsip ilmiah.

Kelemahan pendekatan inquiri


 Tanpa ada arahan yang jelas pendekatan ini akan susah mencapai tujuan
 Bagi siswa yang pasif, kadang pendekatan ini akan menimbulkan tekanan
karena mereka dituntut untuk aktif.

Keunggulan pendekatan eksplanatory


 Pendekatan ini berusaha memberikan penjelasan terhadap berbagai gejala dan
fenomena yang terjadi, sehingga membutuhkan keaktifan siswa.
 Siswa dibimbing dan dibiasakan untuk menganalisis berbagai fenomena
sehingga mereka mampu berpikir kritis

14
8
Kelemahan Pendekatan eksplanatory
 Tidak semua siswa aktif
 Perhatian terhadap siswa yang tidak aktif kurang, sehingga menimbulkan
perasaan introfer

Kecenderungan guru-guru di sekolah lebih banyak yang menggunakan


pendekatan inquiri dengan alas an pendekatan ini memberikan kesempatan yang
luas kepada siswa untuk mengembangkan potensinya. Melatih siswa berpikir
layaknya seperti ilmuwan yaitu teliti, tekun, ulet, objektif, jujur, kreatif, dan
menghormati pendapat orang lain.

9. Edgar Wesley (1978) mengemukakan bahwa terjadi konotasi/pemahaman


yang membingungkan sehubungan dengan penggunaan istilah "Social
Science", "Social Studies dan Social Education" dalam kurikulum sekolah di
Amerika. Mengapa hal itu dapat terjadi?
Jawab:
"Social Science", "Social Studies dan Social Education" dalam kurikulum sekolah
di Amerika membingungkan hal itu terjadi karena tidak ada batasan yang jelas
mengenai perbedaan ketiganya. Semua mempunyai persamaan yaitu sama-sama
mengkasi tentan masalah-masalah sosial berdasarkan teori-teori sosial yang multi
dimensional.

10. Saran dan rekomendasi apa yang sdr berikan untuk memperbaiki IPS di
persekolahan ?
Jawab:
Saran dan rekomendasi untuk memperbaiki pembelajaran IPS
 Pembelajaran IPS harus kontekstual, memberikan kesempatan secara luas
kepada siswa untuk berpikir aktif mengembangkan potensi yang mereka
miliki dengan bimbingan guru.
 Kurikulum IPS harus dibenahi, dan harus futuristik (berorientasi pada masa
depan)

15
 Pembenahan juga harus dilakukan oleh LPTK sebagai lembaga penghasil
pendidik.

16

Anda mungkin juga menyukai