BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kurma merupakan makanan utama di daerah Timur Tengah. Pohon Kurma
pertama kali ditemukan di Teluk Persia dan telah lama dibudidayakan sejak zaman
kuno dari Mesopotamia ke prasejarah Mesir, kemungkinan pada awal 4000 SM.
Di Mesir, buah kurma di jadikan minuman penghangat/whine kurma dan juga
bauhnya dimakan langsung saat panen. Ada bukti peninggalan prasejarah
budidaya kurma di bagian Arab timur pada tahun 6000 SM. Pada zaman
selanjutnya, bangsa Arab menyebarluaskan pohon kurma di sekitar Selatan dan
Barat Daya Asia, bagian utara Afrika, Spanyol dan Italia yang dibawa oleh
pedagang-pedagang. Kurma mulai diperkenalkan di Mexico dan California,
disekitar Mission San Ignacio, oleh bangsa Spanyol pada tahun 1765.
Kurma dalam bahasa (Arab: تمر, Tamr; nama latin Phoenix dactylifera) adalah
tanaman palma (Arecaceae) dalam genus Phoenix, buahnya dapat dimakan.
Pohonnya berukuran sedang dengan tinggi sekitar 15-25 m, tumbuh secara
tunggal atau membentuk rumpun pada sejumlah batang dari sebuah sistem akar
tunggal. Daunnya memiliki panjang 3-5 m, dengan duri pada tangkai daun,
menyirip dan mempunyai sekitar 150 pucuk daun muda; daun mudanya berukuran
dengan panjang 30 cm dan lebar 2 cm. Rentangan penuh mahkotanya berkisar dari
6-10 m. Pohon kurma merupakan tanaman jenis dioecious, yaitu memiliki
tanaman jantan dan betina yang hidup secara terpisah.
Kurma matang dibagi menjadi empat golongan, yang mana dikenal di seluruh
dunia dengan menggunakan penamaan Arab yaitu, kimri (muda), khalal
(berukuran penuh), rutab (matang, lembut), tamr (matang, dikeringkan dengan
bantuan matahari). Pohon kurma dapat berbuah setelah ditanam selama 4 sampai
7 tahun dan bisa dipanen ketika telah berusia 7 sampai 10 tahun. Pohon kurma
yang telah dewasa bisa menghasilkan 80-120 kg (176-264 lb) buah kurma pada
setiap musim panennya.
Universitas Sriwijaya
2
Agar mendapatkan buah yang berkualitas untuk bisa dipasarkan, tandan
kurma harus ditipiskan dan dibungkus atau ditutup sebelum matang supaya
buahnya bisa tumbuh menjadi lebih besar dan terlindungi dari cuaca dan hama,
seperti burung.
1.2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui bagaimana pembudidayaan tanaman Kurma.
2. Untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan tanaman Kurma.
3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pupuk kandang ayam terhadap
pertumbuhan Kurma.
4. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pupuk NPK terhadap pertumbuhan
Kurma.
5. Untuk mengetahui bagaimana Kadar Air Tanah tanaman Kurma.
1.3. Rumusan Masalah
Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana pembudidayaan tanaman Kurma?
2. Bagaimana pertumbuhan tanaman Kurma?
3. Bagaimana pengaruh pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan Kurma?
4. Bagaimana pengaruh pupuk NPK terhadap pertumbuhan Kurma?
5. Bagaimana Kadar Air Tanah tanaman Kurma?
Universitas Sriwijaya
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Kurma (Phoenix dactylifera L)
2.1.1. Sistematika Dan Morfologi Kurma
Buah kurma merupakan makanan pokok di daerah Timur Tengah.
Diperkirakan pohon kurma pertama kali ditemukan di daerah Teluk Persia dan
sudah menjadi tanaman budidaya sejak zaman kuno dari Mesopotamia ke
prasejarah Mesir, kemungkinan pada awal 4000 SM. Masyarakat Mesir sering
mengkonsumsi buah kurma dengan cara di jadikan minuman penghangat/whine
kurma dan juga bauhnya dimakan langsung atau difermentasi saat panen. Ada
bukti peninggalan prasejarah budidaya kurma di bagian Arab timur pada tahun
6000 SM. (Alvarez-Mon 2006).
Di zaman berikutnya, bangsa Arab menyebarluaskan pohon kurma di sekitar
Selatan dan Barat Daya Asia, bagian utara Afrika, Spanyol dan Italia yang sengaja
dibawa oleh pedagang-pedagang zaman dulu. Kurma mulai diperkenalkan di
Mexico dan California, disekitar Mission San Ignacio, oleh bangsa Spanyol pada
tahun 1765.
a. Klasifikasi Tanaman Kurma
Klasifikasi ( Vyawahare, et. al, 2009)
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisi : magnoliophyta
Kelas : liliopsida
Ordo : arecales
Famili : arecaceae
Genus : phoenix
Spesies : phoenix dactylifera L
b. Morfologi Tanaman Kurma
1. Bunga Kurma
Phoenix dactylifera memiliki bunga berumah dua yang dengan tinggi sekitar
16-20 m dan tidak memiliki cabang pada batangnya (Zahran dan Willis, 2009).
4
Dalam perkembangannya secara morfologis, bunga jantan dan betina sulit untuk
dibedakan.
2. Batang Kurma
Batang pohon kurma mengandung serat selulosa yang kuat dan dapat
digunakan sebagai bahan pembuatan triplek (Al-Shahib dan Marshall, 2003).
Pohonnya memiliki mahkota terminal dengan 30-150 daun.
3. Daun Kurma
Daunnya menyirip dengan panjang 6 m dan mampu bertahan selama 3 hingga
7 tahun, menyangga 120-240 lembar pucuk daun muda. Daun kurma tumbuh dari
tunas terminal pada tandan yang berkesinambungan dimana setiap tandan
memiliki 3 atau 5 daun dan tersusun secara spiral.
4. Buah Kurma
Buah kurma berbentuk bundar kecil memiliki jumlah biji satu dengan epikarp
yang bertekstur halus, mesokarp berdaging dan membran endocarp yang berwarna
perak.
5. Biji Kurma
Bijinya berbentuk memanjang yang sebagian besar terdiri dari hemiselulosa
dengan lekukan memanjang yang mencolok disatu sisi dan tonjolan bulat kecil
disisi lain. Embrio tertutup di dalam sarungnya. Warna buah yang timbul
tergantung dari tipe varietas yang dibudidayakan dan penanganan pasca panen.
Tanaman kurma diatur penyerbukannya untuk mengatur produksi buah. Berat,
diameter, kadar kelembaban, warna, dan rasa membrikan perbedaan pada beragam
buah betina didalam satu kultur yang dikawinkan dengan berbagai variasi jantan
yang digunakan untuk penyerbukan atau pertumbuhan (Zahran dan Willis, 2009).
2.1.2. Syarat Tumbuh Tanaman Kurma
Kurma tumbuh pada rentang suhu yang ekstrim -15 °C s/d +51 °C. Tetapi
kurma paling suka pada keadaan sekitar 25°C seperti di umumnya di negeri kita.
Tumbuh pada ketinggian minus 400 m (di bawah permukaan laut, di lembah
Jordan) hingga >+2000 m di Kashmir pada pegunungan Himalaya. Kurma paling
tahan pada kondisi tanah yang marginal, sebagaimana selama ini ditunjukkan
dengan tumbuh tegar di padang pasir, namun makin subur tumbuh di Thailand,
India, California dan Bogor.
Universitas Sriwijaya
5
Pohon kurma merupakan tanaman jenis dioecious, yaitu memiliki tanaman
jantan dan betina yang hidup secara terpisah. Perbedaan pohon kurma jantan dan
betina yaitu :
1. Kurma jantan tidak mengasilkan buah, sedangkan kurma betina bias
menghasilkan buah tanpa persilangan namun kualitas buah buruh dengan
ukuran yang kecil dan rasa yang tidak enak.
2. Pohon kurma betina menghasilkan anakan setelah 4 tahun tanam
3. daun pisau muda pada kurma jantan memiliki daun dan duri yang lebih
panjang, serta tampak banyak di tiap tangkainya.
Mereka dapat tumbuh dengan mudah dari bakal biji, tetapi hanya 50%
tanaman betina yang ditanam secara pembibitan akan berbuah, dan menghasilkan
buah yang kecil serta berkualitas rendah. Tanaman yang tumbuh dari
cara stek akan berbuah 2-3 tahun lebih awal dari pada tanaman yang
menggunakan bibit.
Perbanyakan kurma dengan benih dari biji kurma meliputi beberapa tahap
sebagai berikut :
a. Persiapan Jenis Biji
Jenis kurma yang dapat dipilih adalah: Ajwa (kurma nabi) , Medjool , Zahidi,
Deglet nour , Khalas , Khenaizi , Khadrawi dan masih ribuan jenis kurma lainnya.
Namun diantara banyaknya jenis buah kurma hanya beberapa yang memiliki nilai
jual tinggi seperti kurma Ajwa , Medjool , Zahidi , Deglet nour , Khalas , Khenaizi
dan lulu.
b. Membersihkan sisa-sisa daging buah yang menempel
Membersihkan biji kurma dari sisa-sisa daging buah sangatlah penting, cara
ini dilakukan untuk memperoleh persentasi daya kecambah yang tinggi. Sisa-sisa
daging buah yang menempel pada biji dapat menimbulkan tumbuhnya jamur, atau
dapat mengundang semut dan kutu putih untuk memakan serta merusak biji
sebelum berkecambah. Cara terbaik untuk membersihkan biji kurma dari sisa-sisa
daging buah adalah dengan mencucinya menggunakan air dan pasir halus, hingga
kondisi biji benar-benar bersih dari sisa-sisa daging buah.
c. Perendaman / Merendam
Universitas Sriwijaya
6
Setelah biji kurma dicuci bersih, langkah berikutnya adalah melakukan
perendaman atau merendam biji menggunakan air bersi hingga 5 x 24 jam. Air
untuk merendam biji kurma setiap 24 jam sekali harus diganti dengan air yang
baru, untuk mempercepat proses perkecambahan biji kurma pada hari ke 4
sebaiknya menggunakan campuran air dan ZPT
d. Proses Perkecambahan
Pada tahap atau proses perkecambahan dapat dilakukan dengan dua metode,
yaitu menyemai biji yang telah melewati langkah perendaman 5 hari sebelumnya,
bisa langsung disemai pada pot menggunakan campuran cocopeat dan pasir yang
di tutup tipis menggunakan cocopeat. Atau biji ditumbuhkan / dikecambahkan
terlebih dahulu akarnya menggunakan wadah / tupperware yang dilapisi tissue
basah pada bagian dasarnya kemudian tutup rapat dan simpan pada tempat gelap.
Proses perkecambahan menggunakan tissue basah ini biasanya membutuhkan
waktu 2-4 minggu, setelah tumbuh dengan kepanjangan akar 5-10 cm baru di
pindah ke media tanaman, baik itu menggunakan pot atau polybag.
e. Pemindahan bibit
Campuran media tanam untuk bibit kurma sebaiknya menggunakan bahan-
bahan yang memiliki porositas bagus, artinya media untuk menanam bibit kurma
ketika disiram maka air langsung turun keseluruhan. Campuran media tanam
menggunakan Pasir, Kompos (bokashi), cocopeat dan arang sekam padi, namun
campuran tersebut tidak baku dapat menggunakan bahan-bahan lain yang memiliki
porositas terbaik.
f. Jarak Tanam
Jarak tanam pohon kurma yang ideal untuk skala perkebunan adalah 9 m x 9
m. Sedangkan untuk sakala kecil seperti dihalaman rumah atau pekarangan jarak
tanam yang ideal adalah 8m x 8m (minimal 7 m x 7m). Hal ini bertujuan agar
dahan antar pohon kurma tidak berturukan satu sama lain. Selain itu buah yang
dihasilkan tetap mendapatkan sinar matahari, tidak terhalang dahan pohon kurma
lainnya.
g. Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan lebar 1m, panjang 1m dan kedalaman 60cm.
Memang ukuran lubang cukup besar, namun fungsi dari lubang tersebut adalah
Universitas Sriwijaya
7
agar area sekitar tanaman memilki ph tanah normal dan unsur hara tinggi. Karena
nantinya lubang tanam tersebut diisi dengan campuran media tanam yang tepat
dan memiliki unsur hara tinggi.
2.2. Teras Individu
Sesuai namanya, Teras individu adalah teras yang digunakan untuk setiap satu
tanaman saja. Sasarannya adalah pada jenis tanaman tahunan (tanaman berumur
panjang). Teras ini ditujukan untuk mengurangi erosi dan meningkatkan
ketersediaan air tanah bagi tanaman tahunan tersebut.
Pembuatan teras ini cocok untuk tanah dengan kelerengan antara 15 – 60 %
atau lebih, dengan solum tanahnya cukup dalam, untuk menggali lubang tanaman
(> 25 cm). Pembuatannya tidak perlu sejajar garis kontur, tetapi menurut arah
yang paling cocok untuk penanaman tanaman (misalnya arah timur–barat untuk
mendapatkan cahaya matahari maksimal).
Jarak masing-masing teras individu sesuai dengan jarak tanam optimum yang
digunakan. Areal kosong diantara teras perlu ditanami jenis legum penutup tanah
atau tanaman rumput yang berguna melindungi tanah dari terpaan langsung butir-
butir hujan, mengurangi kecepatan aliran air permukaan dan memperbaiki struktur
tanah.
Keuntungan penggunaan teras ini adalah :
1. Membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja jika dibandingkan dengan
pembuatan teras kebun.
2. Bila aliran permukaan tidak terkonsentrasi maka Saluran Pembuangan Air
(SPA) tidak diperlukan.
2.3. Kadar Air Tanah
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume
air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat
memberikan gambaran tentang ketersediaan air bagi tanaman pada volume tanah
tertentu. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah
dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C – 1100 C untuk waktu tertentu. Air
yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam
tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan udara
Universitas Sriwijaya
8
yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang
bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air
tambahan berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air
jenuh. Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal.
Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim, dkk,
1986).
Menurut Hanafiah (2007) bahwa koefisien air tanah yang merupakan
koefisien yang menunjukkan potensi ketersediaan air tanah untuk mensuplai
kebutuhan tanaman, terdiri dari :
a. Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi di mana seluruh ruang pori
tanah terisi oleh air.
b. Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori
tanah mulai menipis, sehingga tegangan antarair-udara meningkat hingga
lebih besar dari gaya gravitasi.
c. Koefisien layu (titik layu permanen) adalah kondisi air tanah yang
ketersediaannya sudah lebih rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk
aktivitas, dan mempertahankan turgornya.
d. Koefisien Higroskopis adalah kondisi di mana air tanah terikat sangat kuat
oleh gaya matrik tanah.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah.
Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada
tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir
umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau
liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya
curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah (Madjid,
2010).
Universitas Sriwijaya
9
2.4. Pupuk Kandang Ayam
Pemanfaatan pukan ayam termasuk luas. Umumnya dipergunakan oleh petani
sayuran dengan cara mengadakan dari luar wilayah tersebut misalnya petani
kentang di Dieng mendapatkan pukan ayam yang disebut dengan chiken manure
(CM) atau krisatal dari Malang, Jawa Timur. Pupuk kandang ayam broiler
mempunyai kadar hara P yang relative lebih tinggi dari pukan lainnya. Kadar hara
ini sangat dipengaruhi oleh jenis konsentrat yang diberikan. Selain itu pula dalam
kotoran ayam tersebut tercampur sisa-sisa makanan ayam serta sekam sebagai alas
kandang yang dapat menyumbangkan tambahan hara ke dalam pukan terhadap
sayuran.
Beberapa hasil penelitian aplikasi pukan ayam selalu memberikan respon
tanaman yang terbaik pada musim pertama. Hal ini terjadi karena pukan ayam
relative lebih cepat terdekomposisi serta mempunyai kadar hara yang cukup pula
jika di bandingkan dengan jumlah unit yang sama dengan pukan lainnya
(Widowati et al., 2005). Pemenfaatan pukan ayam ini bagi pertanian organic
menemui kendala karena pukan ayam mengandung beberapa hormon yang dapat
mempercepat pertumbuhan ayam (Hartatik dan Widowati, 2005).
2.5 Pupuk NPK
Unsur hara makro meskipun berbeda dalam jumlah kebutuhannya, namun
dalam fungsi pada tanaman, masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa
digantikan satu sama lain. Dalam hal ini Ruhnayat (2007) menyatakan unsur hara
mempunyai fungsi dan peran khusus sendiri-sendiri terhadap proses pertumbuhan
dan perkembangan tanaman. Adapun fungsi dari unsur hara makro adalah sebagai
berikut:
a. Nitrogen
Unsur hara Nitrogen diperoleh dari batuan dan mineral yang berasal dari
hasil pelapukan bahan organis, dari udara melalui fiksasi Nitrogen oleh
mikroorganisme baik yang bersimbiosa dengan akar tanaman leguminosa seperti
bakteri rhizobium, azotobacter dan clostridium. Sumber lain dari Nitrogen di
dalam tanah melalui air hujan dan melalui penambahan pupuk buatan. Nitrogen
diserap tanaman dalam bentuk NO3- (Nitrat) dan NH4+ (ammonium)
Universitas Sriwijaya
10
Nitrogen berperan penting dalam merangsang pertumbuhan vegetatif dari
tanaman. Pertumbuhan tanaman akan tumbuh dengan pesat, sel-sel membesar
dan tahan terhadap penyakit. Unsur Nitrogen juga berpengaruh pada
pembentukan daun dan klorofil daun serta meningkatkan kandungan klorofil
tanaman. Dalam proses metabolisme, unsur hara Nitrogen berperan dalam
regulasi ekspresi gen penghasil beberapa protein pada tanaman tingkat tinggi
dan algae melalui mekanisme transkripsi dan translasi, serta menjaga stabilitas
mRNA.
b. Fosfor (P)
Fosfor diserap tanaman dalam bentuk ion H2PO4- dan sebagian kecil diserap
tanaman dalam bentuk ion HPO42- pada pH netral ataupun pH basa. Unsur hara
Fosfor merupakan unsur pelengkap dalam pembentukan protein, enzim dan inti
sel. Fosfor berperan dalam proses fotosintesis dan asimilasi, meningkatkan
kualitas biji/buah dan bobot biji. Selain itu, unsur Fosfor juga berfungsi untuk
merangsang pertumbuhan akar dan sebagai perangsang perkembangan akar.
Akar yang tidak berkembang secara baik tidak dapat mengabsorpsi unsur hara
lebih banyak.
c. Kalium
Unsur Kalium berada bebas dalam plasma sel dan titik tumbuh tanaman,
dapat memacu pertumbuhan pada tingkat permulaan, menambah daya tahan
tanaman terhadap serangan hama, penyakit dan kekeringan. Unsur hara Kalium
berperan dalam meningkatkan toleransi terhadap kondisi kering karena mampu
mengontrol stomata daun sehingga transpirasi dapat dikendalikan. Selain itu,
Kalium berperan dalam membantu pembentukan protein dan karbohidrat.
Kalium diserap tanaman dalam bentuk ion K +. Sumber utama Kalium di
dalam tanah berasal dari pelapukan mineral-mineral seperti feldspar, mika, biotit
dan lain-lain. Selain itu juga pelapukan bahan organic seperti jerami padi, batang
tembakau, kulit kakao.
Kalium memiliki peranan dalam memperkokoh batang, akar dan daun
sehingga tidak mudah roboh atau terserah penyakit. Kandungan Kalium yang
meningkat di dalam tanaman akan menambah daya tahan tanaman terhadap
penyakit karena dinding sel tanaman semakin tebal dan liat. Kalium dalam
Universitas Sriwijaya
11
sitoplasma dan kloroplas diperlukan untuk menetralkan larutan sehingga
mempunyai pH 7-8. Pada lingkungan pH tersebut terjadi proses reaksi yang
optimumuntuk hampir semua enzim dalam tanaman.
Universitas Sriwijaya
BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan setiap Hari Kamis dimulai pada tanggal 15
Februari 2018 pukul 13.00 – Selesai. Adapun pelaksanaan praktikum ini dilahan
Percobaan dan Laboratorium Fisika Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Sriwijaya, Indralaya.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 1). Cangkul, 2).
Waring, 3). Ember , 4). Oven 5). Cawan, 6). Neraca Analitik 7). Name tag.
8). Penggaris, 9). Plastik 10). Kayu.
Adapun Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah 1). Tanah,
2).Tanaman Kurma, 3). Air, 4). Pupuk Kandang Ayam, 5). Pupuk NPK, 6). Kapur
Dolomit.
3.3. Cara Kerja
3.3.1. Pembuatan Teras Individu
Adapun prosedur kerja pembuatan teras individu adalah sebagai berikut.
1) Tentukan lokasi
2) Bersikan lokasi dari gulma dan lain sebagainya
3) Gali lubang tanaman (> 25 cm) dan membentuk melingkar
4) Disisi lubang dibuad guludan
3.3.2. Penanaman Kurma
Adapun prosedur kerja penanaman kurma adalah sebagai berikut.
1) Bibit kurma yang berada di polibag dipindahkan kedalam lubang tanam dengan
merobek polibag.
2) Masukan bibit kurma bersama tanah nya kedalam lubang tanam
3) Tutupi bibit kurma dengan tanah
4) Kemudian siram tanaman kurma setiap hari pagi ataupun sore.
13
3.3.3. Pemupukan
3.3.3.1. Kapur Dolomit
Adapun prosedur kerja pemberian kapur dolomit adalah sebagai berikut.
1) Kapur diambil sesuai ukuran yang dibutuhkan.
2) Kemudian kapur di taburkan disekitar lubang tanam.
3) Setelah itu kapur yang telah ditabur sedikit ditutupi dengan tanah.
4) Biarkan lubang tanam selama 1 minggu sebelum kegiatan penanaman dimulai.
3.3.3.2. Pupuk Kandang Ayam
Adapun prosedur kerja pemberian pupuk kandang ayam adalah sebagai berikut.
1) Pupuk kandang ayam ditimbang sebanyak 2 kg.
2) Tanah di timbang sebanyak 2 kg.
3) Kemudian pupuk kandang ayam dan tanah di campurkan dengan perbandingan
1:1.
4) Setelah itu taburkan pupuk kandang ayam ke sekitar tanaman kurma.
3.3.3.3. Pupuk NPK
Adapun prosedur kerja pemberian Pupuk NPK adalah sebagai berikut.
1) Pupuk NPK ditimbang sebanyak 1 gr.
2) Buar lubang secara melingkar disekitasr tanaman kurma.
3) Kemudian taburkan Pupuk NPK secara melingkar di sekitar tanaman, jangan
sampai menyentuh perakaran tanaman.
4) Tutup Pupuk NPK dengan tanah.
3.3.4. Pengamatan dan Pemeliharaan
Adapun prosedur kerja pengamatan adalah dengan mengamati pertumbuhan
kurma setiap minggu dengan parameter pengamatan tinggi tanaman dan jumlah
daun serta pengukuran kadar air tanah dengan melakukan penetapan KA
dilaboratorium.
Adapun prosedur kerja pemeliharaan adalah dengan menyiram tanaman
kurma setiap hari baik pagi maupun sore hari, melakukan pemberian pupuk yaitu
dengan pupuk kandang ayam dan pupuk NPK secara berkala, melakukan
pembersihan lahan tanaman dari gulma pengganggu secara berkala, dan membuat
pelindung tanaman berupa kandang seenisnya yang dibuat diluar lubang tanam
Universitas Sriwijaya
14
dengan ditambahkan waring sebagai pelindung tanaman ini bertujuan untuk
mencegah adanya hama pengganggu tanaman.
3.3.5.Parameter yang diamati
Adapun parameter yang diamati adalah Tinggi Tanaman, Jumlah Daun, dan
Kadar Air Tanah. Pelaksanaan pengukuran dilakuakan setiap satu minggu sekali
selama 7 minggu.
Universitas Sriwijaya
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Tinggi Tanaman
Tabel 1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Kurma
Minggu ke - Tinggi Tanaman
1 22
2 22
3 22
4 22
5 22
6 23
7 23
4.1.2. Jumlah Daun
Tabel 2. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Kurma
Minggu ke - Jumlah Daun
1 5
2 5
3 4
4 4
5 5
6 5
7 5
4.1.3. Kadar Air Tanah
Tabel 3. Hasil Pengukuran Kadar Air Tanah pada Tanaman Kurma
Minggu ke - %KA
1 56,49 %
2 14,20 %
3 24,84 %
4 34,04 %
5 -
6 -
7 -
16
4.2. Pembahasan
4.2.1. Tinggi Tanaman
Berdasarkan Tabel 1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Kurma yang
dibudidayakan didapatkan hasil yang beragam dimana minggu pertama
menunjukan tinggi sebesar 22 cm sampai dengan minggu kelima. Hal ini
menunjukan tidak adanya perubahan yang nyata di tinggi tanaman selama 5
minggu berturut turut. Namun pada minggu keenam didapatkan pertumbuhan
tanaman secara signifikan tinggi tanaman sebesar 23 cm sampai dengan minggu
ketujuh. Diduga pada minggu minggu keenam dan ketujuh ini lah tanaman kurma
telah berhasil beradaptasi dengan lingkungan dan telah terpengaruh oleh
penambahan nutrisi berupa pupuk kandang ayam dan pupuk NPK. Hasil
pengamatan yang didapatkan tidak lepas dari human error yang kerap terjadi
dilapangan termasuk juga dalam mekanisme pengukuran tinggi tanaman.
4.2.2. Jumlah Daun
Berdasarkan Tabel 2. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Kurma yang
dibudidayakan didapatkan hasil yang beragam dimana pada saat penanaman
didapatkan 5 helai daun dan pada minggu pertama dan kedua jumlah daun
tenaman kurma tetep. Pada minggu ketiga dan keempat didapatkan daun tanaman
kurma menjadi 4 helai dan 1 daun mati, diduga daun mati tersebut karena
mengalami kematian jaringan atau nekrosis atau bisa jadi daun tersebut terkena
hama pengganggu tanaman. Pada minggu kelima daun kembali tumbuh dan
menjadi 5 helai kembali sampai minggu ketujuh.
4.2.3. Kadar Air Tanah
Berdasarkan tabel 3. Hasil pengukuran kadar air tanah tanaman kurma
didapatkan hasil yaitu persentase kadar air yang sebagaimana tertera pada
tabel.hasil didapatkan dengan menetapkan KA dilaboratorium dimana tanah
sekitar tanaman kurma diambil dan di timbang seberat 10 g untuk berat basah
kemudian dioven dengan suhu 105ºC selama 24 jam kemudian ditimbang
kembali, data yang telah di dapatkan segera di hitung dengan perhitungan kadar
air yang telah di tetapkan.
Pada minggu pertama kadar air yang diperoleh sebesar 56,49%, diketahui
bahwa persentase kadar aiar minggu pertama ini adalh yang terbesar. Kemudian
Universitas Sriwijaya
17
pada minggu kedua di dapatkan haisl sebesai 14,20%, diketahui persentase kadar
air mengalami penurunan pada minggu faktor penyebabnya adalah human error
yang dilakukan pada saat pengukuran KA di laboratorium dimana penetapan berat
basah tanah tidak sebesar 10 g. Pada minggu ketiga dan keempat didapatkan hasil
berturut-turut yaitu 24,84% dan 34,04%. Diketahui bahwa pada 2 minggu ini
mengalami peningkatan kadar air dari sebelumnya walaupun dengan peningkatan
yang relative lambat.
Berdasarkan keseluruhan persentase kadar air tanaman kurma mengalami
penurunan diduga faktor penyebabnya terletak pada pemeliharaan tanaman
tersebut yang kurang tepat dan efisien seperti pemberian air yang kurang teratur
atau pun yang lain sebagainya.
Universitas Sriwijaya
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dari praktikum kali ini adalah sebagai
berikut.
1. Kurma merupakan tanaman yang pohonnya berukuran sedang dengan tinggi
sekitar 15-25 m, tumbuh secara tunggal atau membentuk rumpun pada
sejumlah batang dari sebuah sistem akar tunggal. Daunnya memiliki panjang
3-5 m, dengan duri pada tangkai daun, menyirip dan mempunyai sekitar 150
pucuk daun muda; daun mudanya berukuran dengan panjang 30 cm dan lebar
2 cm. Rentangan penuh mahkotanya berkisar dari 6-10 m. Pohon kurma
merupakan tanaman jenis dioecious, yaitu memiliki tanaman jantan dan
betina yang hidup secara terpisah.
2. Pembudidayaan kurma diindonesia dengan pembuatan teras individu dan
diberi penambangan nutrisi pada tanah berupa kapur dolomit dengan tujuan
untuk menetralkan tanah masam kemudian diberi pupuk kandang ayam dan
pupuk NPK.
3. Tanaman kurma mengalami kenaikan tinggi pada minggu keenam dari 22 cm
menjadi 23 cm.
4. Jumlah daun pada tanaman kurma mengalami pengurangan pada minggu ke
empat diduga daun mengalami kematian jaringankarena kekuranagn unsur
hara atau daun terserang hama penyakit tumbuhan
5. Secara keseluruhan kadar air tanah pada tanaman kurma mengalami
penurunan diduga penyebabnya dari segi perawatan tanaman dalam hal
nutrisi dan air tanah.
5.2. Saran
Laporan ini belum sempurna, untuk mendapatkan data dan pemahaman yang
tepat dan akurat mengenai praktikum yang dilakuakan disarankan untuk
melakukan pengamatan lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Shahib, W. and Marshall, R.J. (2003) The Fruit of the Date Palm Its Possible
Use as the Best Food for the Future International Journal of Food Science
and Nutrition, 54, 247-259
Buckman, H. O., and Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara : Jakarta.
Hakim. N., dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung :
Lampung.
Hanafiah, K., A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawali Pers : Jakarta.
Hardjowigeno. S., 1993. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta.
Hartatik, W., L.R. Widowati.2005.Pengaruh Kompos Pupuk Organik yang
Diperkaya dengan Bahan Mineral dan Pupuk Hayati terhadap Sifat-sifat
Tanah, Serapan Hara, dan Produksi Sayuran Organik.Laporan Proyek
Program Pengembangan Agribisnis.Balai Penelitian Tanah, TA 2005.
Madjid. 2010. Kadar Air Tanah. http://repository.usu.ac.id.pdf//Kadar-Air-
Tanah .Diakses tanggal 8 April 2018.
Ruhnayat, Agus. 2007. Penentuan Kebutuhan Pokok Unsur Hara N, P, K Untuk
Pertumbuhan Tanaman Panili (Vanilla planifolia Andrews). Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Vol XVIII (1) : 49-59
Vyawahare N, Pujari R, Khsirsagar A, Ingawale D, Patil M, Kagathara V (2009).
Phoenix dactylifera: An update of its indegenous uses, phytochemistry and
pharmacology. Internet J. Pharma., 7:
Widowati, L.R., Sri Widawati, dan W. Hartatik . 2005.Pengaruh Pupuk Organik,
Serapan hara dan Produksi Sayuran Organik. Tanaman.Balai Penelitian
Sayur.Lembang. 166 hal.