0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
311 tayangan8 halaman

Anatomi Batang

Dokumen ini membandingkan struktur anatomi batang dua varietas kayu ulin yaitu varietas tando dan tembaga di Kalimantan Barat. Terdapat persamaan dan perbedaan struktur anatomi antara kedua varietas, diantaranya pola distribusi pembuluh, penyebaran parenkim, dan dimensi serat.

Diunggah oleh

mufida chairunisa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
311 tayangan8 halaman

Anatomi Batang

Dokumen ini membandingkan struktur anatomi batang dua varietas kayu ulin yaitu varietas tando dan tembaga di Kalimantan Barat. Terdapat persamaan dan perbedaan struktur anatomi antara kedua varietas, diantaranya pola distribusi pembuluh, penyebaran parenkim, dan dimensi serat.

Diunggah oleh

mufida chairunisa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

STRUKTUR ANATOMI BATANG ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm.

&
Binnend) VARIETAS TANDO DAN TEMBAGA DI KALIMANTAN
BARAT
Dwi Gusmalawati1*, Mukarlina1, Wahdina2, Siti Khotimah1
1
Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak Kalbar, Indonesia
2
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalbar, Indonesia

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur anatomi batang ulin varietas
tando dan tembaga yang terdapat di Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
persamaan anatomi batang ulin varietas tando dan tembaga adalah mempunyai sel minyak pada
batang, susunan pembuluh bertipe kolateral, penyebaran pori adalah pancar dengan tipe soliter,
berganda radial dan penyebaran parenkim apotrakea (sebar) dan paratrakea (aliform dan
konfluen). Perbedaan secara anatomi antara batang varietas tando dan tembaga adalah varietas
tando memiliki pori berganda radial 2-5 sel dan tipe berkelompok, penyebaran parenkim
apotrakea bertipe pita; varietas tembaga memiliki pori berganda radial 2-3 sel; jari-jari empulur
varietas tando bertipe heteroseluler, varietas tembaga bertipe homoseluler. Rerata panjang serat,
diameter lumen dan ketebalan dinding serat varietas tando berturut-turut adalah 1647,40 µm,
11,90 µm dan 11,70 µm, sedangkan rerata panjang serat, diameter lumen dan ketebalan dinding
serat varietas tembaga berturut-turut adalah 1598,20 µm, 15,20 µm dan 11,20 µm.

Keywords: Eusideroxylon zwageri T et B, varietas tando, varietas tembaga, anatomi batang

PENDAHULUAN
Ulin (Eusideroxylon zwageri T et B) merupakan salah satu tumbuhan asli Indonesia
yang dapat ditemukan di sebagian pulau Sumatera dan Kalimantan, Malaysia dan beberapa
pulau di Philipina (Soerianegara dan Lemmens, 1994). Tumbuhan ini menghasilkan kayu
yang sudah lama dikenal memiliki mutu yang tinggi terutama kekuatan dan ketahanan
kayunya terhadap berbagai kondisi alam,pelapukan dan serangan organisme perusak kayu.
Ulin menghasilkan kayu yang sangat keras sehingga digolongkan ke dalam jenis kayu
Kelas Awet tingkat I dan Kelas Kuat tingkat I di Indonesia. Keawetan kayu merupakan daya
tahan terhadap serangan perusak kayu dari golongan biologi misalnya rayap sedangkan
kekuatan kayu merupakan kemampuan kayu untuk menahan beban dan gaya yang
mengenainya (Haygreen dan Bawyer, 1986). Pemanfaatan kayu ulin untuk pembangunan
sangat baik mengingat kekuatan dan ketahanan yang dimilikinya. Kayu ulin dapat
dimanfaatkan untuk pondasi bangunan, lantai, konstruksi jembatan, galangan kapal, bantalan
rel kereta api dan atap sirap (Martawidjaya, 1989).
Menurut Heyne (1987) di Kalimantan Barat ditemukan 4 (empat) varietas ulin yang
dibedakan berdasarkan kegunaan dan warna batang. Keempat varietas tersebut adalah ulin
tando dengan warna batang coklat kemerahan, ulin lilin dengan batang coklat gelap, ulin
tembaga dengan warna batang kekuningan dan ulin kapur dengan warna batang coklat muda.

e-mail : [email protected]

P-ISSN: 1411-5433
E-ISSN: 2502-2768
© 2014 Saintifika; Jurusan PMIPA, FKIP, Universitas Jember
http://jurnal.unej.ac.id/index.php/STF
50 © Saintifika, Volume16, Nomor 2, Desember 2014, hlm.49 – 56

Ulin tando, lilin dan tembaga pada umumnya digunakan untuk pondasi bangunan dan lantai.
Ulin kapur merupakan satu-satunya ulin yang mudah dibelah sehingga cocok untuk bahan
baku atap sirap.
Kayu ulin merupakan jenis tumbuhan yang sulit ditemukan. Saat ini yang masih
banyak ditemukan adalah varietas tembaga dan tando. Morfologi batang dari dua varietas ulin
ini sudah dapat dibedakan, namun berdasarkan cirri anatomi batang belum pernah diteliti.
Mandang dan Wiyono (2002) menyatakan bahwa untuk membedakan 5 jenis kayu gaharu
dapat dilakukan berdasarkan pendekatan anatomi. Perbedaan ciri anatomi kayu yang
digunakan meliputi pola distribusi pembuluh, penyebaran parenkim, struktur jari-jari empulur
dan dimensi serat.
Berdasarkan penjelasan di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang anatomi
batang ulin varietas tando dan tembaga. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan
struktur anatomi batang dua varietas ulin yaitu varietas tando dan tembaga di Kalimantan
Barat.

METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura
Pontianak. Bahan yang digunakan adalah batang dari anakan ulin umur 3 tahun yang
diperoleh dari Areal Persemaian Benih Dinas Kehutanan Kabupaten Sanggau. Cabang tingkat
I dari pohon ulin umur 10 tahun diperoleh dari Arboretum Sylva, Fakultas Kehutanan
Universitas Tanjungpura. Bahan kimia yang digunakan adalah alkohol,asam asetat, hidrogen
peroksida, safranin 1%, kanada balsam, albumin, gliserin dan xilol..
Pembuatan contoh uji untuk pengamatan susunan jaringan batang dalam sayatan
melintang, penyebaran pembuluh, penyebaran parenkim aksial dan struktur jari-jari empulur
berdasarkan metode tanpa embedding (Mandang dan Wiyono, 2002). Batang ulin umur 3
tahun dipotong sepanjang 5 cm pada bagian tengah kurang lebih 15 cm dari pangkal batang.
Potongan batang dilunakkan dengan cara direndam dalam campuran gliserol dan alkohol
dengan perbandingan 1:1 selama 2 minggu (Mandang dan Aristien, 2003; Pandit, 2004).
Setelah cukup lunak, contoh uji disayat dengan mikrotom geser setebal 15-25 µm. Sayatan
yang dibuat meliputi sayatan transversal, radial dan tangensial. Sayatan yang baik diwarnai
dengan safranin 1% selama 24 jam. Tahap selanjutnya adalah dehidrasi berturut-turut dengan
alkohol bertingkat 70%, 80%, 90% dan alkohol absolut masing-masing selama 10 menit.
Gusmalawati, Struktur Anatomi Batang Ulin... 51

Selanjutnya sayatan dibeningkan dengan merendamnya selama 10 menit dalam alkohol dan
xilol. Sayatan direkat dengan kanada balsam di atas gelas obyek.
Pembuatan contoh uji untuk pengamatan dimensi serat menggunakan metode
maserasi yang mengacu pada metode Schmids (Ruzin, 1999; Husein dan Sulistyo, 2006).
Bahan yang digunakan adalah percabangan tingkat I dari pohon ulin umur 10 tahun. Contoh
uji diambil dengan memotong cabang bagian pangkal (1 cm dari pangkal), bagian tengah dan
bagian ujung (1 cm dari ujung), masing-masing sepanjang 5 cm. Contoh uji dipotong sebesar
batang korek api kemudian dipanaskan dalam tabung reaksi yang berisi larutan asam asetat
dan hidrogen peroksida dengan perbandingan 1:20. Serat yang sudah terpisah dicuci hingga
bebas asam, selanjutnya diberi pewarnaan safranin 1% selama 6-8 jam. Serat didehidrasi
menggunakan alkohol 20%, 30%, 50%, 70%, 90% dan alkohol absolut masing-masing selama
30 menit. Serat dipindahkan ke gelas obyek yang sudah ditetesi xilol, serat disebarkan merata
lalu ditutup dengan gelas penutup.
Pengamatan dan pengukuran contoh uji batang anakan ulin umur 3 tahun meliputi
susunan jaringan batang dalam sayatan melintang, distribusi pori, parenkim aksial, diameter
tangensial pori dengan 25 ulangan dan struktur jari-jari empulur. Pengukuran contoh uji pada
sediaan maserasi cabang pohon ulin umur 10 tahun meliputi panjang serat dengan 25 ulangan,
diameter lumen dan tebal dinding serat masing-masing dengan 15 ulangan per contoh uji.
Data-data yang diperoleh dari hasil pengamatan anatomi batang ulin varietas tando
dan tembaga disajikan dalam bentuk visual (foto) mikroskopos dan dianalisis secara
deskriptif. Analisis diameter tangensial pori, tinggi jari-jari empulur dan dimensi serat yaitu
menghitung nilai rerata hasil pengukuran.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Susunan Jaringan Batang Ulin Dalam Sayatan Melintang
Batang anakan ulin umur 3 tahun varietas tando dan tembaga pada sayatan melintang
memperlihatkan susunan jaringan dari luar ke dalam yaitu jaringan epidermis, jaringan
korteks dan empulur, sistem jaringan pembuluh (xilem dan floem) dan kambium pembuluh.
Sistem jaringan pembuluh batang ulin membentuk berkas bertipe kolateral dengan susunan
floem di sebelah luar xilem. Hidayat, (1995) dan Suradinata, (1998) menyatakan bahwa
jaringan pada batang dikotil yang telah mengalami petumbuhan sekunder terdiri dari
52 © Saintifika, Volume16, Nomor 2, Desember 2014, hlm.49 – 56

epidermis, korteks dan empulur, sistem jaringan pembuluh (xilem dan floem) dan kambium
yang berada di antara xilem dan floem.
Epidermis batang ulin varietas tando dan tembaga berkembang menjadi trikoma bersel
satu. Bagian empulur batang ulin kedua varietas tersebut memperlihatkan adanya sel minyak
berbentuk bulat dan berwarna merah mengkilat. Esau (1953) menyatakan bahwa epidermis
batang dapat membentuk derivat berupa stomata dan trikoma. Menurut Richter dan Dallwitz
(2000) bahwa pada empulur batang ulin ditemukan sel minyak berbentuk bulat berwarna
kemerahan dan mengkilat.
Sayatan melintang batang anakan ulin umur 3 tahun varietas tando dan tembaga
memperlihatkan adanya lingkaran tumbuh, namun lingkaran tumbuh pada ulin tidak
menunjukkan batas yang jelas seperti halnya batang berkayu yang hidup di daerah beriklim
sedang yang memperlihatkan perbedaan musim yang jelas. Esau (1953) dan Suradinata,
(1998) menyatakan bahwa pohon yang tumbuh di daerah tropis dengan masa curah hujan
lebih besar bergantian dengan masa yang lebih kering dan terulang beberapa kali dalam
setahun, kegiatan kambium pembuluh akan terangsang pada musim hujan untuk membentuk
sejumlah unsur xilem baru yang akan tampak sebagai beberapa garis yang disebut lingkaran
tumbuh.
Penyebaran Pembuluh, Parenkim Aksial dan Jari-jari
Sayatan melintang batang ulin pada bidang tangensial memperlihatkan sel pembuluh
yang berbentuk lubang kecil atau pori (Gambar 1 dan 2). Ulin varietas tando dan tembaga
memiliki sebaran pori tata baur yaitu pori dari bermacam ukuran bercampur pada seluruh
permukaan sayatan melintang kayu. Sebaran pori tergantung dari umur tumbuhan. Ulin
varietas tando dan tembaga yang digunakan pada penelitian ini masih relatif muda (3 tahun.)
Haygreen dan Bawyer (1989) menyatakan bahwa kayu yang berumur muda memiliki
penyebaran pori tata baur. Kayu muda dan dewasa menunjukkan perubahan berangsur-angsur
dari pusat pohon (empulur) mendekati kambium.
Berdasarkan susunan porinya ulin varietas tando memiliki susunan pori soliter,
berganda radial 2-5 pori, berganda tangensial 2-3 pori dan berkelompok (Gambar 1), susunan
pori varietas Tembaga adalah soliter, berganda radial 2-3 pori, dan berganda tangensial 2-3
pori (Gambar 2). Ukuran diameter tangensial pori ulin tando dan tembaga berumur 3 tahun
tergolong kecil dan menengah masing-masing berkisar 27-144 µm dan 48-168 µm. Kayu ulin
berumur di bawah 10 tahun memiliki ukuran diameter tangensial pori tergolong kecil dan
Gusmalawati, Struktur Anatomi Batang Ulin... 53

menengah sedangkan di atas 10 tahun tergolong menengah dan besar yaitu 150-280 µm.
Berdasarkan penelitian Tavita (2001) pada kayu jati ditemukan bahwa semakin tua umur
kayu maka semakin besar ukuran diameter tangensial pori. Ukuran diameter tangensial pori
juga dipengaruhi oleh aktivitas kambium yang membelah secara berangsur-angsur pada
musim tumbuh (Brimble, 1952).

Gambar 1. Penampang Melintang Batang Ulin Varietas Tando. Tipe penyebaran pori tata baur. Susunan pori a.
soliter; b. berganda radial 2; c. berganda radial 3; d. berganda radial 4; e. berganda radial 5; f.
berganda tangensial; g. bergerombol

b
a

Gambar 2. Penampang melintang batang ulin varietas tembaga. Tipe penyebaran pori tata baur. Susunan pori: a.
soliter, b. berganda radial 3 dan c. berganda tangensial. (Perbesaran 400 x)

Penyebaran parenkim aksial pada ulin varietas tando dan tembaga adalah paratrakea
tipe konfluen (Gambar 3). Menurut pandit (2004) parenkim paratrakea merupakan parenkim
54 © Saintifika, Volume16, Nomor 2, Desember 2014, hlm.49 – 56

yang berasosiasi dengan pori sedangkan apotrakea tidak berasosiasi dengan pori. Parenkim
paratrakea konfluen tersusun berupa deretan-deretan atau diagonal. Sel-sel paratrakea
melepaskan gula ke dalam trakea untuk diangkut secara cepat ke tunas-tunas dan mengisi
kembali trakea yang telah mengakumulasi gas pada keadaan dorman (Suradinata, 1998).

Gambar 3. Penampang melintang batang ulin varietas tembaga. Penyebaran parenkim paratrakea konfluen
(Perbesaran 400 x)

Berdasarkan sayatan radial dan tangensial ulin varietas Tando menunjukkan adanya
jari-jari bertipe heteroseluler multiseriat sedangkan ulin Tembaga jari-jari empulur berasifat
homoseluler multiseriat. Jari-jari yang memiliki sel tegak dan sel datar disebut heteroseluler,
sedangkan yang hanya memiliki satu tipe disebut homoseluler (Suradinata, 1998). Ulin
memiliki jari-jari multiseriat dengan 2-3 sel, dapat bertipe homoseluler atau heteroseluler
(Richter dan Dallwitch, 2000).
Tinggi jari-jari ulin tando berkisar antara 360-2466 µm, sedangkan ulin tembaga
memiliki tinggi jari-jari empulur berkisar antara 374,40–2203,20 µm. Tinggi jari-jari kedua
varietas tersebut tergolong agak pendek sampai sangat tinggi. Menurut Jane (1955), tinggi
jari-jari 200-500 µm tergolong agak pendek dan antara 200–5000 µm tergolong sangat tinggi.
Ulin memiliki tinggi jari-jari lebih dari 1000 µm (Richter dan Dallwitz, 2000).

Dimensi Serat
Nilai rata-rata panjang serat kedua varietas ulin menunjukkan bagian pangkal lebih
panjang dari bagian tengah, dan semakin ke ujung semakin pendek (Tabel 1). Hal ini
Gusmalawati, Struktur Anatomi Batang Ulin... 55

sesuai dengan Tavita (2001) yang menyatakan bahwa pola variasi panjang serat cenderung
menurun dari pangkal ke ujung suatu cabang.
Tabel 1. Nilai rerata dimensi serat (µm) cabang ulin varietas tando dan varietas tembaga umur 10 tahun
Varietas ulin Bagian cabang Panjang serat Diameter lumen Tebal dinding
(m) (m) (m)
Pangkal 1647,40 6,70 11,70
Tengah 1511,00 8,00 9,70
Tando Ujung 1412,20 11,90 6,70
Pangkal 1598,20 13,14 11,20
Tengah 1336,80 14,40 10,55
Tembaga Ujung 1205,00 15,20 5,82

Nilai rata-rata diameter lumen ulin varietas tando dan ulin varietas tembaga semakin
mendekati batang utama semakin besar, sedangkan rata-rata tebal dinding sel serat semakin
mengecil di bagian ujung (Tabel 1). Lumen sel serat mengalami penghimpitan akibat
pertambahan tebal dinding sel serat. Suradinata (1998) dan Sutrian (2004) menyatakan bahwa
besarnya diameter lumen serat pada bagian ujung diduga dipengaruhi juga oleh kegiatan
kambium yang berubah-ubah.
Dinding serat tersusun atas selulosa dan lignin yang tebal dan keras sehingga dikatakan
bahwa tebal dinding serat berpengaruh terhadap kekerasan kayu. Semakin tebal dinding serat
maka semakin keras kayu tersebut (Sutrian, 2004). Ulin memiliki dinding sel serat yang
sangat tebal sehingga digolongkan ke dalam jenis kayu yang sangat keras (Mandang dan
Pandit, 2002; Richter dan Dallwitz, 2000).

SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan anatomi batang ulin varietas Tando
dan Tembaga adalah mempunyai sel idioblast (sel minyak) pada batang, susunan pembuluh
bertipe kolateral, penyebaran pori adalah pancar dengan tipe soliter, berganda radial dan
penyebaran parenkim paratrakea konfluen.
Perbedaan secara anatomi antara batang varietas tando dan tembaga adalah varietas
Tando memiliki pori berganda radial 2-5 sel dan tipe berkelompok, varietas Tembaga
memiliki pori berganda radial 2-3 sel; jari-jari varietas tando bertipe heteroseluler, varietas
tembaga bertipe homoseluler. Rerata panjang serat, diameter lumen dan ketebalan dinding
serat varietas tando berturut-turut adalah 1647,40 µm, 11,90 µm dan 11,70 µm, sedangkan
rerata panjang serat, diameter lumen dan ketebalan dinding serat varietas tembaga berturut-
turut adalah 1598,20 µm, 15,20 µm dan 11,20 µm.
56 © Saintifika, Volume16, Nomor 2, Desember 2014, hlm.49 – 56

DAFTAR PUSTAKA

Brimble, L.F. 1952. Intermediate Botany. The MacMillan Press. Tokyo.

Esau,K. 1953. Plant Anatomy. Toppan Company. Tokyo. Jepang.


.
Haygreen, J.G. dan J.L. Bowyer 1989. Hasil Hutan dan Kimia Kayu. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid II. Koperasi Karyawan Departemen
Kehutanan. Jakarta.

Hidayat, E.B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Penerbit ITB. Bandung.

Husein, N. dan A.S. Budi, 2006. Serat Eksentrik Pada Kulit kayu Marobamban. J. Ilmu dan
Teknologi Kayu Tropis. 4: 39-43.

Jane, F.W. 1955. The Structure of Wood. Adam &Charles Black.London.

Mandang, Y.I. dan S. Aristien. 2003. Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Utaputap
(Aromadendron elegans BI.) dan Tujuh Jenis Kayu Kurang Dikenal Lainnya. J.
Penelitian Hasil Hutan. 21 111-127.

Mandang, Y.I.dan B. Wiyono. 2002. Anatomi Kayu Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk)
dan Beberapa Jenis Sekerabat. J. Penelitian Hasil Hutan. 20 : 107-126.

Martawidjaya, A.I. 1989. Atlas Kayu Indonesia. Pusat Peneltian Pengembangan Hutan. Bogor
.

Pandit, I.K.N. 2004.. Struktur Anatomi Kayu Kuku ( Pericopis mooniana T.). IPB Bogor.

Richter, H.G dan M.J. Dallwitz.2000. Commercial Gtimber Descriptions, Illustration,


Identification and Information Retrieval. http:biodiversity.uno.edu/delta. (11
Nopember 2002)

Ruzin, S.E. 1999. Plant Microtechnique and Microscopy. Oxford University Press.New York.

Soerianegara, I. dan R.H.M.J. Lemmens. 1993. Plant Resources of South-East Asia . Pudoc
Scientific Publishers. Wageningen.

Suradinata, S. T. 1998. Struktur Tumbuhan. Penerbit Angkasa. Bandung.

Sutrian, Y. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (Tentang Sel dan Jaringan). P.T.
rineka Cipta. Jakarta.

Tavita, G.E. 2001. Kajian Anatomi Kayu Jati (Tectona grandis L.F.) Dari Mikropropagasi
Kultur Jaringan. Program Pasca Sarjana. IPB Bogor. (Tesis).

Anda mungkin juga menyukai