0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
89 tayangan8 halaman

Konsep Pemolisian Demokratis di Indonesia

Dokumen tersebut membahas konsep keamanan nasional dan pemolisian demokratis. Keamanan nasional mencakup keamanan individu, masyarakat, dan negara, serta pertahanan negara. Pemolisian demokratis menekankan penegakan hukum dan hak asasi manusia sejalan dengan transformasi ancaman dan tuntutan masyarakat demokratis. Polri perlu meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui pendekatan yang proaktif dan berbasis masyarakat

Diunggah oleh

rudi setiawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
89 tayangan8 halaman

Konsep Pemolisian Demokratis di Indonesia

Dokumen tersebut membahas konsep keamanan nasional dan pemolisian demokratis. Keamanan nasional mencakup keamanan individu, masyarakat, dan negara, serta pertahanan negara. Pemolisian demokratis menekankan penegakan hukum dan hak asasi manusia sejalan dengan transformasi ancaman dan tuntutan masyarakat demokratis. Polri perlu meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui pendekatan yang proaktif dan berbasis masyarakat

Diunggah oleh

rudi setiawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN

LAPORAN PENUGASAN (LAPGAS)

MP : KEGIATAN KHUSUS SEMINAR SEKOLAH

DOSEN : KOMBES POL Drs. R. REFI FRINADI M.

1. PENDAHULUAN

Perkembangan dan perubahan dinamika lingkungan strategis


memengaruhi dinamika strategi dan sistem keamanan nasional suatu negara.
Universalisasi demokratisasi, globalisasi, kemajuan sains dan teknologi,
menjadi faktor-faktor yang secara langsung maupun tidak langsung memaksa
beberapa negara di dunia untuk menata ulang strategi dan sistem keamanan
dalam rangka meraih kepentingan nasionalnya (national interest). Dalam
konteks keamanan, kompleksitas ancaman dalam dinamika perkembangan
dunia di era globalisasi dewasa ini telah memperluas cara pandang
kompleksitas ancaman dalam melihat konsepsi keamanan. Dalam kajian
keamanan, pemahaman tentang konsep keamanan setidaknya dapat dilihat
dari dua pendekatan, yakni pendekatan Tradisional dan Non-tradisional.

Dalam pendekatan tradisional, “keamanan” diartikan sebagai keamanan


sebuah negara yang dapat diancam oleh kekuatan militer negara lain dan harus
dipertahankan melalui kekuatan militer negara itu sendiri. Dalam pendekatan
ini, negara menjadi subyek dan obyek dari upaya mengejar kepentingan
keamanan. Dalam alam pemikiran tradisional ini negara menjadi inti dalam
upaya menjaga keamanan negara. Adapun keamanan non-tradisional
dipahami ancaman tidak hanya berupa ancaman militer tetapi juga ancaman
Non-militer. lebih dari itu, dalam perspektif ancaman non-tradisional penekanan
atas keamanan ditujukan bukan hanya pada kepentingan negara saja
(traditional security) tetapi juga ditekankan pada kepentingan keamanan
pelaku-pelaku bukan negara (Non-traditional security).
Transformasi ancaman tradisional ke non-tradisional sejalan dengan
menurunnya ancaman militer pasca perang dunia II dan Perang dingin karena
masyarakat internasional menyadari akan pentingnya tatanan dunia tanpa
perang. Kondisi ini menjadikan perubahan dalam melihat konsepsi ancaman
yang tidak hanya pada ancaman militer tetapi juga ancaman terhadap
keamanan manusia (human security), seperti penyakit menular, bencana alam,
kerusakan lingkungan dan lainnya. Oleh karena itu, di era demokrasi ini
diperlukan diferensiasi pembagian dan kewenangan antar sektor keamanan di
suatu negara menyangkut fungsi pertahanan dan fungsi keamanan.

Dalam konteks democratic policing, paradigma ini menjadi landasan


filosofis bagi kepolisian tidak saja menjalankan fungsi penegakan hukum tetapi
juga menyangkut dimensi hak ekonomi, sosial dan budaya. Oleh karena itu,
fungsi polisionil dalam democratic policing melekat 24 jam dalam diri individu
masyarakat yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun, termasuk negara.
Dengan demikian, fungsi pemolisian di masyarakat bukan sekedar menurunnya
angka tindakan kejahatan tetapi juga menyangkut tingkat kesejahteraan
masyarakat. Oleh karena itu, dalam democratic policing ada dua aspek yang
menjadi kunci keberhasilan, yakni hubungan kemitraan dengan masyarakat dan
keberhasilan lembaga kepolisian merespon human security menyangkut fungsi
keamanan dalam negeri.

Dalam berbagai kajian, keberhasilan polisi selalu diawali dengan fondasi


yang kuat, yaitu kepercayaan masyarakat yang dilayaninya. Maka dalam
implementasinya pun, kemudian selalu diupayakan agar program-program Polri
diselaraskan dengan masyarakat, dengan harapan dapat memberikan impact
langsung terhadap upaya membangun kepercayaan. Polmas sebagai
community policing ala Indonesia pun dibangun dengan pemahaman filosofi,
bahwa keberhasilan penyelenggaraan pemolisian akan sangat tergantung pada
bagaimana masyarakat memberikan respons melalui pemberdayaan dan
keterlibatan publik, yang sering diidentifikasi sebagai bentuk partisipasi
masyarakat. Merujuk pada hal tersebut maka konsepnya adalah, pemolisian
akan lebih efektif, dengan mengalihkan pendekatan konvensional ke
2
pendekatan modern, dengan menekankan upaya pemecahan masalah yang
terkait dengan kejahatan dan ketidaktertiban secara proaktif bersama-sama
dengan masyarakat.

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai institusi kepolisian


di Indonesia, mempunyai pengalaman sejarah panjang yang sangat dinamis.
Polri pernah menjadi bagian dari militer, ketika Kapolri berada di bawah
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), beserta tiga kepala
staf lainnya. Dengan disahkannya Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia, maka telah menjadi momentum penting
bagi Polri, untuk menentukan jati diri sebenarnya sebagai polisi dengan tupoksi
yang khas polisi. Landasan yuridis ini mestika modal bagi Polri untuk bisa
mendapatkan kepercayaan masyarakat, akan tetapi yang terjadi dalam
perkembangannya, justru kepercayaan publik terhadap Polri seringkali
melemah. Kondisi ini persis seperti dikemukakan oleh Jones dan Newburn,
bahwa ketika pemolisian publik mencari identitasnya, pada saat yang
bersamaan organisasi polisi tersebut mengalami transformasi.

Kondisi inilah yang sekarang dialami oleh Polri. Krisis kepercayaan


masyarakat kini sangat terasa menerpa Polri. Walau jika dikaji secara statistik,
keberhasilan Polri masih layak untuk ditampilkan. Angka komplain jika
dibandingkan dengan jumlah pelayanan akan menunjukkan status yang sangat
tidak signifikan. Artinya, secara umum posisi Polri sebagai pelindung,
pengayom, dan pelayan masyarakat masih dominan. Inilah yang kemudian
memunculkan pendapat agar ada penguataan atas democratic policing atau
pemolisian demokratis. Jika community policing dipergunakan sebagai filosofi
dari kinerja polisi, maka democratic policing lebih pada tataran manajemen atau
pengelolaan kinerja polisi. Paradigm democratic policing sejalan dengan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 menegaskan bahwa salah satu tugas
polisi adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, sehingga logis
apabila dalam menjalankan tugasnya polisi harus berada di tengah-tengah
masyarakat. Democratic policing menyangkut kesiapan Polri dalam
memberikan rasa aman dan jaminan keamanan bagi warga negara.
3
2. PEMBAHASAN

Dalam konteks Indonesia, democratic policing juga harus


diintepretasikan sebagai kemampuan polisi untuk mampu menjaga kearifan
lokal, sebagai nilai penting yang dipunyai oleh masyarakat Indonesia dengan
segala keragamannya. Gaya pemolisian tidak lagi hanya membawa instruksi
dari atasan yang bersifat reaktif atau menunggu laporan atau pengaduan atau
perintah, melainkan proaktif dan senantiasa menumbuhkan kreativitas, serta
mampu menciptakan inovasi–inovasi baru dalam menyelesaikan berbagai
masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Dalam bahasa populer
sekarang ini disebut terobosan kreatif atau creative breakthrough. Jadi, dalam
rangka mendorong pemolisian demokratis, memang dibutuhkan kecerdasan
dalam mengelola kearifan lokal untuk melakukan praktik pemolisian yang bisa
diterima masyarakat, sehingga efek terbangunnya kepercayaan masyarakat
kepada polisi bisa terus bergulir tanpa henti.

Berdasarkan hal di atas, tulisan ini hendak menguraikan konsep teoretik


democratic policing yang merupakan tuntutan perubahan akan dimensi
keamanan pasca perang dingin dan perang dunia II. Dalam konteks negara
demokrasi, polisi sebagai alat negara di bidang penengakan hukum dan
pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat memerlukan keselarasan
dengan struktur sosial sehingga peran Polri sejalan dengan kebutuhan
masyarakat. Sejalan dengan pemikiran ini, reformasi Polri harus mengacu pada
orientasi utama penegakan hukum (rule of law) dan hak asasi manusia sebagai
instrument utama negara demokrasi. Dalam kerangka ini, konsep pemolisian di
era demokrasi mengacu pada orientasi pemolisian berbasis penegakan hukum
dan pemolisian berbasis hak asasi manusia. Oleh sebab itu, masa menuju
negara demokrasi yang memiliki pemolisian demokrasi memerlukan berbagai
upaya guna menggapai “keamanan nasional”.

Keamanan Nasional secara konseptual memiliki makna yang berbeda-


beda berbeda oleh masing-masing individu.4 Tidak ada makna yang sama yang
disepakati bersama. Beberapa pihak mengaitkan Konsep Keamanan Nasional

4
dengan Keamanan Rezim. Sebagian yang lain mengaitkan dengan Keamanan
Pemerintah. Sebagian yang lain, mengaitkan konsep tersebut dengan
Keamanan Penguasa. Secara definisi, keamanan nasional setidaknya dapat
didefinisikan dalam dua perspektif.5 Perspektif yang pertama yakni melihat
cakupan keamanan nasional yang terdiri atas pertahanan luar (external
defense), keamanan dalam negeri (internal security), ketertiban umum (public
order) serta penanganan bencana alam (disaster relief). Sedangkan perspektif
yang kedua yakni melihat dari sudut pandang obyek yaitu keselamatan negara,
keselamatan masyarakat dan keselamatan individu.

Secara garis besar, keamanan nasional mencakup empat ruang lingkup,


yaitu keamanan individu, keamanan masyarakat, keamanan negara dan
pertahanan negara.6 Keamanan individu, keamanan masyarakat dan
keamanan negara sering disebut sebagai lingkungan keamanan dalam negeri
(internal security). Sementara pertahanan negara disebut lingkungan
keamanan luar negeri (external security). Rasa aman dalam kehidupan
masyarakat bukan semata-mata berkaitan dengan rendahnya tingkat kejahatan
tetapi juga berkaitan dengan derajat keteraturan sosial (social order) dan
kepatuhan hukum warga masyarakat (law abiding citizins). Rasa aman bagi
masyarakat dalam wilayah suatu negara mencakup empat unsur, yaitu:
pertama, rasa bebas dari gangguan badani maupun rohani (security). Kedua,
rasa terjaminnya keselamatan terhadap dirinya, miliknya dan hak-hak serta
kehormatannya ( safety). Ketiga, rasa terjaminnya kepastian hukum (surety).
Keempat, rasa damai bebas dari kekhawatiran (peace).

Upaya mewujudkan situasi keamanan yang ditandai dengan adanya


rasa aman bagi masyarakat dalam negara dilakukan oleh lembaga kepolisian.
Secara universal, lembaga kepolisian menjalankan fungsi- fungsi penegakan
hukum (law enforcement), pemeliharan ketertiban (order maintenance) dan
pemberantasan kejahatan (crime combat). Dengan demikian, fungsi lembaga
kepolisian menjadi vital sehingga keberadaan lembaga kepolisian dalam suatu
negara mutlak diperlukan. Bahkan, jika negara dalam kondisi bubar, lembaga
kepolisian merupakan salah satu dari tiga komponen negara yang tidak bisa
5
bubar, di samping lembaga keagamaan dan pendidikan. Ancaman atau
gangguan terhadap rasa aman, saat ini tidak terbatas hanya kepada ancaman
atau gangguan yang bentuknya militer dari negara lain. Saat ini ancaman atau
gangguan sudah berkembang menjadi banyak bentuk atau multidimensional
seperti ancaman terhadap ideologi, politik, ekonomi dan budaya. Bahkan sejak
1990 an, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah merumuskan perluasan spectrum
yang mengharuskan penekanan keamanan nasional digeser dan diperluas
kepada keamanan individu/manusia maupun kelompok (people security).
Ancaman terhadap keamanan individu/manusia mencakup ancaman terhadap
enam kelompok hak yang melekat pada manusia yaitu:

1. Hak-hak dasar individu, meliputi hak hidup, kedudukan yang sama di depan
hukum, perlindungan terhadap diskriminasi berbasis ras, agama, etnik,
ataupun jenis kelamin;
2. Hak-hak legal, mencakup akses mendapatkan perlindungan hukum serta
hak untuk mendapatkan proses hukum secara sah;
3. Kebebasan sipil, meliputi kebebasan berpikir, berpendapat dan
menjalankan ibadah/kepercayaan;
4. Hak-hak kebutuhan dasar, yang meliputi akses ke bahan pangan, jaminan
dasar kesehatan, dan terpenuhinya kebutuhan hidup minimum;
5. Hak-hak ekonomi, meliputi hak untuk bekerja, hak rekreasi dan hak atas
jaminan sosial; dan
6. Hak-hak politik, meliputi hak dipilih dan memilih dalam jabatan publik dan
hak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan negara.

Konsepsi perubahan ancaman di atas ini berkembang setelah


menurunnya ancaman militer yang menggerogoti kedaulatan negara dimana di
sisi lain menunjukkan adanya peningkatan ancaman terhadap keamanan
manusia (human security) pada aspek lain, seperti penyakit menular, bencana
alam, kerusakan lingkungan dan lainnya. Salah satu ciri khas perspektif human
security adalah melihat bahwa ancaman utama bagi human security berbentuk
pada penolakan hak-hak asasi manusia (HAM) dan tidak adanya supremasi
hukum dalam sebuah negara. Pembahasan mengenai pentingnya keamanan
6
manusia ini semakin meningkat setelah adanya laporan UNDP tentang Human
Development Report (1994). Dalam laporan tersebut, UNDP menyinggung
dimensi yang patut dipertimbangkan dalam menciptakan keamanan manusia,
yaitu keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan,
keamanan lingkungan, keamanan individu, keamanan komunitas dan
keamanan politik.

3. PENUTUP

a. Pada hakikatnya, konsep keamanan adalah bersifat menyeluruh


(comprehensive security ). Konsep keamanan komprehensif meyakini
bahwa ancaman dapat tertuju bukan hanya kepada wilayah negara dan
otoritas negara tetapi juga pada segala sesuatu yang langsung maupun
tidak langsung berkaitan dengan kesejahteraan manusia.10
Comprehensive security menempatkan keamanan sebagai konsep
multidimensional sehingga mengharuskan negara menyiapkan beragam
aktor keamanan untuk mengelolanya. Mengingat comprehensive security
memerlukan banyak aktor keamanan yang beragam, maka diperlukan
diferensiasi dan spesialisasi fungsi dan tugas yang berbeda antar aktor
keamanan dengan tetap melakukan kerjasama dan kooordinasi di antara
aktor-aktor keamanan.
b. Di Indonesia persoalan keamanan dan ancaman juga meliputi persoalan-
persoalan keamanan yang bersifat tradisional maupun non-tradisional.
Mekipun demikian, persoalan yang nyata sehari-hari dihadapi pemerintah
Indonesia adalah ancaman-ancaman yang lebih bersifat non-tradisional
ketimbang ancaman tradisional. Ancaman ini terdiri dari persoalan
terorisme, penyelundupan senjata, separatisme bersenjata, penjualan
perempuan dan anak-anak, kebakaran hutan, piracy, money laundering,
drugs trafficking.
c. Di Indonesia, kekuatan untuk menyelenggarakan usaha keamanan terdiri
dari dua kekuatan besar. Kekuatan utama dan pertama adalah aparatur
negara yang bertanggungjawab terhadap keamanan dalam hal ini
Kepolisian Negara Republik Indonesia seperti yang diatur dalam Undang-
7
Undang No. 2 tahun 2002. Pasal 5 ayat (1) dari undang-undang tersebut
menyebutkan bahwa Polri adalah alat negara yang berperan dalam
memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum
serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Selain
kepolisian juga terdapat aparatur negara yang lain seperti penyidik pegawai
negeri sipil (PPNS) dan polisi pamong praja yang memiliki wewenang
kepolisian terbatas yang diatur dalam undang-undang. Kekuatan kedua
sebagai kekuatan pendukung adalah seluruh rakyat dalam lingkungan kerja
dan lingkungan tempat tinggal.

Anda mungkin juga menyukai