0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan14 halaman

Analisis Pemanfaatan Biodiesel di Indonesia

1) The document analyzes the prospects for biodiesel utilization in Indonesia's energy supply system using the MARKAL model. 2) Under the base case scenario, biodiesel is not economically competitive with diesel. However, under scenarios where biodiesel comprises 1-3% of diesel consumption from 2010-2035, biodiesel utilization increases with a higher shadow price. 3) The analysis finds that Sumatra and Kalimantan are expected to not only supply biodiesel for domestic demand but also export biodiesel to Java and other islands due to availability of palm oil supplies.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan14 halaman

Analisis Pemanfaatan Biodiesel di Indonesia

1) The document analyzes the prospects for biodiesel utilization in Indonesia's energy supply system using the MARKAL model. 2) Under the base case scenario, biodiesel is not economically competitive with diesel. However, under scenarios where biodiesel comprises 1-3% of diesel consumption from 2010-2035, biodiesel utilization increases with a higher shadow price. 3) The analysis finds that Sumatra and Kalimantan are expected to not only supply biodiesel for domestic demand but also export biodiesel to Java and other islands due to availability of palm oil supplies.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan

PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

ANALISIS PEMANFAATAN BIODIESEL TERHADAP


SISTEM PENYEDIAAN ENERGI
Endang Suarna

ABSTRACT

Oil has very important role to meet the energy demand in Indonesia. This energy
source is still subsidized by the Government of Indonesia therefore as oil consumption
continues to increase, the burden of government on the subsidy is also increase.
Biodiesel from palm oil or renewable energy utilization is expected to reduce the
consumption and reduce the burden. As the biodiesel is known as a clean renewable
energy source, the biodiesel utilization is also expected to support the energy
sustainable development program in the country. Therefore, the biodiesel utilization
prospect for the future needs to be analyzed.

Based on MARKAL (Market Allocation) Model that used as a tool to estimate the
prospect of biodiesel as the energy source especially for tranportation sector in the
future. Under the base case, indeed biodiesel can not be economically compete with
middle distillate or diesel oil, therefore all of oil demand in the transportation sector will
be met from refinery product until 2035 with the shadow price of 4.55 US $/GJ.
However, under the biodiesel utilization scenario; biodiesel will be utilized 1%, 2%,
and 3% of the total diesel oil consumption for 2010, 2015, and 2020 until 2035
respectively with the shadow price of 34.1 US $/GJ. While, based on supply
availability, Sumatra and Kalimantan are expected not only supplying biodiesel for its
own domestic demand, but also they have to supply biodiesel for Jawa. In addition,
Kalimantan is also expected to supply biodiesel for other islands. Biodiesel even
though is still not economically feasible to utilize in the transportation sector, it has
strategically function for energy diversification and for supporting energy sustainable
development in the country.

1 PENDAHULUAN

Minyak Bumi merupakan sumber energi fosil yang dimanfaatkan sebagai bahan baku kilang di dalam
negeri dan untuk dieksport sebagai sumber devisa. Hasil kilang adalah BBM yang antara lain terdiri
atas premium, minyak tanah, minyak solar (ADO), minyak diesel, dan minyak bakar yang
dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan energi pada sektor pembangkit listrik, transportasi, industri,
dan rumahtangga. Peningkatan konsumsi BBM di Indonesia, bukan saja akan menambah beratnya
beban Pemerintah dalam penyediaan BBM, tetapi juga akan semakin beratnya beban subsidi atas
BBM yang diberikan pemerintah. Mengingat untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri,
Pemerintah Indonesia masih harus mengimpor BBM dari luar negeri yang jumlahnya dari tahun ke
tahun semakin meningkat. Seperti diketahui harga BBM terkait dengan harga minyak bumi, sehingga
dengan semakin meningkatnya harga minyak dunia, akan meningkatkan biaya pengadaan BBM
import. Oleh karena itu, penganeka ragaman (diversifikasi) sumber energi selain berguna untuk
menambah pilihan sumber energi, juga berguna untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak
di Indonesia.

Pemanfaatan bioDiesel sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui dapat merupakan salah satu
pilihan untuk membantu mengatasi besarnya tekanan kebutuhan BBM terutama diesel atau minyak
solar di Indonesia. Biodiesel dapat dibuat dari bahan baku minyak kelapa sawit, jarak pagar, dan
(16)
kedelai , namun berdasarkan kuantitas dan pengembangan produksi, pembuatan biodiesel dengan
bahan baku minyak kelapa sawit kelihatannya lebih potensial, karena sudah tersedianya perkebunan
kelapa sawit dan produksi CPO (Crude Palm Oil). Biodiesel tersebut dapat dimanfaatkan oleh sektor-

87
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

sektor pengguna diesel, seperti sektor pembangkit listrik, transportasi, dan industri. Namun pemakaian
diesel terbesar adalah di sektor transportasi, sehingga program diversifikasi energi melalui
pemanfaatan biodiesel tersebut akan lebih diutamakan untuk sektor transportasi, walaupun
pemakaian biodiesel untuk sektor pembangkit listrik dan industri juga tidak diabaikan.

Sejak tahun 2000 biodiesel dari kelapa sawit sudah dipergunakan sebagai bahan bakar kendaraan
bermotor seperti kendaraan dinas dan traktor di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan dan terbukti
tidak mempunyai masalah baik pada mesin maupun pada kinerjanya (13 dan 17) . Secara teknis pilihan
biodiesel dari kelapa sawit sebagai bahan bakar untuk sektor transportasi tidak mengalami kendala
mengingat biodiesel mempunyai karakteristik yang sama dengan diesel, sehingga pemanfaatan
biodiesel juga dapat sebagai bahan bakar penunjang diesel di sektor pembangkit listrik asalkan
secara ekonomi bisa bersaing dengan diesel. Dari segi dampak lingkungan, biodiesel juga diketahui
(13 dan 17)
relatif bersih dari emisi bahan pencemar . Pemanfaatan biodiesel diharapkan bukan saja
dapat mengurangi besarnya kebutuhan diesel yang dapat berdampak terhadap berkurangnya beban
pemerintah atas subsidi, tetapi juga dapat mendukung program pemanfaatan energi yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Peluang pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi di
masa datang akan dianalisis berdasarkan proyeksi kebutuhan energi yang dibuat dengan
menggunakan model MARKAL (Market Allocation). Model tersebut dapat memproyeksikan kebutuhan
biodiesel termasuk biaya pokok dari biodiesel menurut wilayah Indonesia di masa datang.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dianalisis kebutuhan luas perkebunan kelapa sawit serta produksi
minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel di masa datang.

2 METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian pemanfaatan bioDiesel terhadap sistem penyediaan energi dilakukan dengan


menggunakan perangkat lunak model MARKAL (Market Allocation) dan dalam pelaksanaannya
dilakukan melalui beberapa kegiatan antara lain:
a) Pengumpulan data yang antara lain berhubungan dengan parameter ekonomi produksi dan
pemanfaatan biodiesel seperti biaya investasi, biaya operasi dan maintenance dari perkebunan
kelapa sawit, pabrik minyak sawit, dan pabrik biodiesel; serta energy balance pembuatan
biodiesel;
b) Evaluasi, analisis data, dan prakiraan kebutuhan untuk dimasukan ke dalam model MARKAL;
c) Run model MARKAL; dan
d) Analisis hasil keluaran model.

Hasil keluaran model MARKAL yang berupa prakiraan pemanfaatan diesel dan biodiesel dianalisis
untuk menentukan strategi penyediaan energi yang optimal dengan mempertimbangkan biaya
termurah. Secara umum diagram alir dari proses pemanfaatan biodiesel yang berasal dari hasil
perkebunan kelapa sawit yang berbentuk tandan buah segar (TBS) menjadi minyak sawit (CPO)
sampai menjadi biodiesel yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar truk dan mobil serta pembangkit
listrik dalam model MARKAL ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar. 1 Rantai Konversi dan Elemen Sistem Energi Dalam Model MARKAL
Keterangan: TBS = Tandan Buah Segar.
CPO = Crude Palm Oil atau minyak sawit.
ADO = Automobile Diesel Oil atau minyak solar.
SPBU = Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum.

88
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

Dalam penelitian ini biodiesel yang diproduksi diasumsikan berasal dari CPO parit yang jumlahnya 1%
dari total produksi CPO, sehingga teknologi yang dimasukan ke dalam model dimulai dari teknologi
konversi pembuatan biodiesel dari bahan baku CPO. Mengingat optimasi pemilihan energi dan
teknologi dari model ini mengacu pada biaya termurah, sehingga besarnya biaya investasi, biaya
operasi dan pemeliharaan, khususnya proses pembuatan biodiesel dari CPO dan biaya produksi CPO
sangat memegang peranan. Dalam penelitian ini satuan biaya dinyatakan dalam US dollars per PJ.

Dalam model tersebut ditentukan 2 Kasus yaitu Kasus Dasar (BASE CASE) dan Kasus pemanfaatan
biodiesel. Pada kasus dasar diasumsikan bahwa semua kondisi berjalan sebagaimana adanya,
sedangkan Kasus Biodiesel mengasumsikan bahwa biodiesel akan dipergunakan sebagai bahan
bakar campuran bahan bakar diesel di masa datang.
Asumsi-asumsi yang dipergunakan pada Kasus dasar antara lain:
• Harga minyak mentah US $28/barrel;
• Harga batubara ekspor US $29,78/ton;
• Pertumbuhan listrik 7 persen/tahun;
• Biaya photovoltaic menurun sampai 682 US $/kW
• Pembatasan (bound) untuk minihydro dan geothermal sesuai dengan potensi;
• Batas atas dari kapasitas untuk pembangkit listrik di pulau-pulau lain yang ditentukan oleh
ukuran grid transmisi;
• Penyediaan LNG untuk dalam negeri;
• Interkoneksi antara Sumatra dan Jawa pada tahun 2015;
• Interkoneksi antara Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah pada tahun 2020;
• Interkoneksi antara Jawa dengan Nusa Tenggara pada tahun 2020;
• Interkoneksi semua wilayah di Kalimantan pada tahun 2015

Asumsi-asumsi yang dipergunakan pada Kasus Biodiesel meliputi asumsi yang dipergunakan pada
Kasus Dasar ditambah dengan target pemanfaatan biodiesel sesuai Landmark Kementrian Riset dan
Teknologi. Target yang diambil pada penelitian ini adalah pemakaian biodiesel untuk sektor
transportasi masing-masing 1%, 2%, dan 3% dari total konsumsi minyak solar atau ADO (Automotive
Diesel Oil) masing-masing pada tahun 2010, 2015, dan 2020 dan seterusnya sampai periode tahun
2035, sedangkan untuk pembangkit listrik, pemakaian biodiesel tidak ditargetkan hanya bergantung
pada harga ekonomi.

3 EVALUASI DAN ANALISIS DATA

Berdasarkan hasil keluaran model MARKAL pada kasus dasar ternyata biodiesel harga ekonominya
tidak dapat bersaing dengan bahan bakar diesel, sehingga apabila harga ekonomi yang menjadi
acuan untuk pemanfaatan biodiesel menyebabkan biodiesel tidak akan terpilih untuk dimanfaatkan di
sektor industri, pembangkit listrik, dan transportasi. Berdasarkan target pemanfaatan biodiesel di
sektor transportasi, mulai tahun 2010 terjadi peningkatan biaya ekonomi campuran biodiesel dan
diesel untuk sektor transportasi, sebaliknya peningkatan biaya campuran biodiesel dan diesel
menyebabkan campuran biodiesel dan diesel tidak akan terpilih untuk dimanfaatkan di pembangkit
listrik dan industri.

Analisis pemanfaatan biodiesel terhadap sistem penyediaan energi lebih ditekankan pada
perkembangan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, potensi biodiesel dari kelapa
sawit, serta peluang pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar kendaraan pada sektor transportasi
ditinjau dari aspek ekonomis dan teknis. Analisis peluang pemanfaatan biodiesel tersebut didasarkan
pada hasil run model MARKAL yang dipergunakan untuk menentukan strategi penyediaan energi
yang optimal berdasarkan biaya terendah menurut wilayah di Indonesia.

3.1 Konsumsi BBM Di Indonesia


Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) yang terdiri atas premium atau bensin, minyak solar atau ADO
(Automobile Diesel Oil), IDO (Industrial Diesel Oil), minyak bakar atau FO (Fuel Oil), minyak tanah

89
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

atau kerosene, avtur, dan avgas diasumsikan dari penjualan Pertamina ke sektor-sektor pemakai
yang besarnya dari tahun ke tahun meningkat terus seperti diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Konsumsi BBM Menurut Sektor (1992– 2002)

Transportasi Industri Rumahtangga P. Listrik Total


Tahun
(juta KL) (%) (juta KL) (%) (juta KL) (%) (juta KL) (%) (juta KL)
1992 15,27 40,48 8,12 21,53 8,46 22,43 5,87 15,56 37,72
1998 23,21 48,26 10,45 21,73 10,65 20,91 4,38 9,10 48,09
1999 23,40 46,08 11,57 22,79 11,85 23,34 3,96 7,79 50,78
2000 25,55 46,60 11,86 21,64 12,41 22,63 5,01 9,14 54,82
2001 26,25 46,96 12,38 22,16 12,24 21,90 5,02 8,98 55,89
2002 27,33 47,28 12,34 21,35 11,63 20,11 6,51 11,26 57,80
Sumber: Ditjen Migas, 1992-2002

Sebagian besar dari kebutuhan BBM tersebut dipergunakan oleh sektor transportasi. Bahkan pangsa
penggunaan BBM oleh sektor tersebut dari tahun ke tahun meningkat terus, yaitu dari tahun 1992
sampai dengan 2002 mencapai lebih 40% menjadi lebih 47%. Sementara itu dalam periode waktu
sepuluh tahun tersebut kebutuhan BBM meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 4,36%/tahun
(Ditjen. Migas 1992-2002). Besarnya penggunaan BBM oleh sektor transportasi tersebut
kemungkinan disebabkan oleh terbatasnya pilihan jenis bahan bakar oleh sektor transportasi, yaitu
hanya BBM yang berbentuk cair, meskipun sudah ada bahan bakar gas (BBG) yang dipergunakan
oleh sektor ini di beberapa kota besar dan dalam jumlah yang terbatas. Sementara itu, sektor-sektor
lainnya mempunyai pilihan jenis bahan bakar yang lebih luas, seperti misalnya sektor industri selain
menggunakan BBM juga menggunakan batubara, dan gas. Demikian pula dengan sektor tenaga
listrik selain menggunakan BBM juga menggunakan batubara, gas, tenaga air, dan panas bumi,
sedangkan sektor rumahtangga selain menggunakan BBM juga menggunakan LPG, gas kota, dan
kayubakar. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan BBM pada sektor transportasi, sedangkan
cadangan minyak sebagai penghasil BBM yang ketersediaannya tidak dapat diperbaharui semakin
terbatas, strategi penyediaan energi, khususnya pada sektor transportasi perlu mendapat perhatian.

3.2 Konsumsi BBM Di Sektor Transportasi


Sektor transportasi sebagai sektor pemakai BBM terbesar di Indonesia, hampir seluruh kebutuhan
energinya dipenuhi oleh BBM seperti premium, ADO, IDO, FO, avtur, dan avgas. Sebagian besar dari
konsumsi BBM pada sektor transportasi tersebut dipenuhi dari jenis bahan bakar premium dan ADO
yang masing-masing mencapai pangsa lebih dari 50% dan 46% pada tahun 2002 seperti diperlihatkan
pada Tabel 2.

Tabel 2. Konsumsi BBM Menurut Jenis Pada Sektor Transportasi

1992 1998 1999 2000 2001 2002


Jenis BBM
(000 Kl) (%) (000 Kl) (%) (000 Kl) (%) (000 Kl) (%) (000 Kl) (%) (000 Kl) (%)
1.Premium 7204 47.18 10972 47.28 11515 49.22 12422 48.62 13057 49.74 13732 50.25
2.ADO 6974 45.67 10808 46.57 10957 46.83 12073 47.26 12829 48.88 12651 46.29
3.IDO 162 1.06 107 0.46 102 0.44 119 0.46 81 0.31 106 0.39
4.FO 77 0.50 519 2.23 270 1.16 186 0.73 281 1.07 287 1.05
5.Avgas 9 0.06 6 0.02 6 0.02 5 0.02 0 0.00 553* 2.02
6.Avtur 845 5.53 797 3.43 545 2.33 744 2.91 0 0.00 0.00
Total 15271 100 23208 100 23396 100 25548 100 26248 100 27329 100
Sumber: Ditjen. Migas 1992-2002
* Diperkirakan meliputi avgas dan avtur.

Besarnya konsumsi BBM terutama pada sektor transportasi tersebut diperkirakan akan menambah
beban pemerintah, bukan saja oleh semakin terbatasnya sumber atau cadangan minyak, tetapi juga
oleh karena kedua jenis komoditi tersebut disubsidi oleh pemerintah, sehingga semakin besarnya
konsumsi premium dan ADO atau minyak solar akan menyebabkan semakin besarnya subsidi yang
harus ditanggung pemerintah.

90
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

Beban pemerintah tersebut harus ditambah lagi dengan semakin meningkatnya BBM terutama ADO
impor dari sekitar 4,25 juta kiloliter atau 26,72 barel pada tahun 1992 yang meningkat lebih dari
duakali lipat menjadi 9,64 juta kiloliter atau 60,61 barel pada tahun 2002. Jumlah tersebut merupakan
sekitar 29% dan 40% dari total kebutuhan ADO pada tahun 1992 dan 2002. Selain itu dalam periode
waktu yang sama, Indonesia juga harus mengimport minyak mentah (crude oil) untuk bahan baku
kilang dari sekitar 60,76 juta barel pada tahun 1992 yang meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi
124,15 juta barrel pada tahun 2002(18).

Semakin meningkatnya impor minyak mentah untuk dipergunakan sebagai bahan baku untuk kilang
(14)
dan semakin meningkatnya harga minyak mentah dunia bahkan pernah mencapai harga $55/barel ,
sedangkan produk kilang untuk keperluan domestik masih disubsidi, semakin beratlah beban
Pemerintah Indonesia dalam menanggung beban subsidi tersebut. Adanya impor ADO untuk
memenuhi kebutuhan ADO dalam negeri juga menambah beban subsidi yang harus ditanggung
Pemerintah Indonesia. Import ADO tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat, pada tahun
1992 impor ADO mencapai 29% dari total penggunaan ADO semua sektor, sedangkan pada tahun
2002 impor tersebut meningkat menjadi hampir 40% dari total penggunaan ADO semua sektor tahun
(7)
tersebut .

Dalam rangka mengurangi tekanan kebutuhan BBM dan besarnya beban subsidi minyak yang
ditanggung pemerintah Indonesia, penganeka-ragaman (diversifikasi) sumber energi terutama pada
sektor transportasi merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu baik kajian teknis maupun ekonomis
dari penyediaan bahan bakar pengganti atau alternatif yang akan dipergunakan untuk sektor
transportasi perlu dilakukan.

3.3 Perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit


Biodiesel dari bahan baku kelapa sawit untuk dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif pada
sektor transportasi, berdasarkan teknologi proses dan potensi kesiapan penyediaan bahan baku
merupakan suatu pilihan yang tepat, karena biodiesel tersebut dapat diproduksi dari CPO (Crude
Palm Oil) yang dihasilkan dari hasil pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

Berdasarkan pengelolaan atau kepemilikannya perkebunan kelapa sawit di Indonesia terdiri atas tiga,
yaitu perkebunan negara, perkebunan swasta, dan perkebunan rakyat. Perkembangan luas total
perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam lima tahun terahir, yaitu dari tahun 1997 sampai dengan
tahun 2002 diperkirakan meningkat dengan pertumbuhan sekitar 15% per tahun, sehingga luas
perkebunan kelapa sawit pada periode tersebut meningkat sekitar dua kali lipat dari 2,52 juta hektar
menjadi 5,07 juta hektar.

Total luas perkebunan tersebut, sebagian besar dikelola oleh perkebunan swasta yang pada tahun
2002 mencapai sekitar 52%, disusul oleh perkebunan rakyat sekitar 36%, dan perkebunan negara
sekitar 12%. Sebagian besar hampir 77% dari total luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2002
berada di Pulau Sumatra, sedangkan luas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan sekitar 19%, dan di
pulau-pulau lain seperti Sulawesi dan Irian Jaya atau Papua kurang dari 4%. Sementara itu luas
perkebunan kelapa sawit di Jawa hanya sekitar 0,5% dari total luas perkebunan di Indonesia.

Luas perkebunan kelapa sawit, baik dari perkebunan negara, perkebunan swasta, maupun
perkebunan rakyat beserta produksi minyak sawit CPO yang dihasilkan dari perkebunan tersebut
menurut wilayah dapat dilihat pada Tabel 3.

Dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2002, Papua meskipun mempunyai pangsa luas perkebunan
kelapa sawit yang relatif kecil di antara pangsa di wilayah-wilayah lainnya, namun Papua mempunyai
perkembangan luas perkebunan yang paling pesat, yaitu 22,41% per tahun. Pesatnya pertumbuhan
luas perkebunan kelapa sawit setiap tahun di Papua menunjukkan besarnya potensi pengembangan
luas perkebunan di wilayah tersebut. Sementara itu, Jawa selain mempunyai pangsa luas
perkebunan kelapa sawit yang paling kecil, Jawa juga mempunyai pertumbuhan luas perkebunan
yang terkecil. Hal tersebut disebabkan semakin terbatasnya lahan untuk perkebunan di wilayah
tersebut. Dalam periode waktu yang sama, pertumbuhan luas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan
adalah 18,51% per tahun atau kedua tercepat setelah Papua, sehingga wilayah ini selain mempunyai
potensi penyediaan bahan baku CPO yang cukup besar, juga mempunyai potensi perluasan lahan

91
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

perkebunan kelapa sawit yang cukup besar. Sumatra mempunyai potensi penyediaan CPO yang
paling besar, namun potensi pengembangan luas perkebunan kelapa sawit di Sumatra relatif lebih
terbatas daripada potensi pengembangan luas perkebunan di Papua dan Kalimantan.

Tabel 3. Perkembangan Luas Perkebunan Kelapa Sawit dan Produksi CPO.


x 1000
1997 1998 1999 2000 2001 2002
Wilayah Luas Prod. Luas Prod. Luas Prod. Luas Prod. Luas Prod. Luas Prod.
(Ha) (ton) (Ha) (ton) (Ha) (ton) (Ha) (ton) (Ha) (ton) (Ha) (ton)
1. Sumatra: 1978 4768 2140 4950 2384 5294 2744 6597 2810 6850 3890 8190
a. Perk.Rakyat 611 1004 678 1059 801 1224 891 1569 900 1731 1477 2979
b. Perk.Negara 382 1637 407 1625 430 1700 438 1788 446 1803 516 1418
c. Perk.Swasta 985 2126 1055 2266 1153 2370 1414 3240 1464 3316 1898 3794
2. Jawa 22 33 22 32 21 29 21 34 21 37 23 34
a. Perk.Rakyat 6 14 6 13 6 17 6 18 6 19 6 14
b. Perk.Negara 11 12 11 12 11 11 11 13 11 14 12 16
c. Perk.Swasta 4 7 4 7 4 1 4 4 4 4 5 4
3. Kalimantan 409 437 493 491 637 523 844 741 971 834 957 1065
a. Perk.Rakyat 159 195 166 197 187 225 233 299 236 327 254 320
b. Perk.Negara 38 115 51 163 56 104 58 133 62 138 59 104
c. Perk.Swasta 213 127 276 131 395 194 554 309 674 369 644 640
4. Sulawesi 88 91 112 119 102 107 108 118 114 148 143 261
a. Perk.Rakyat 25 43 30 46 31 47 34 53 36 61 41 65
b. Perk.Negara 10 21 14 42 14 11 15 12 16 16 25 49
c. Perk.Swasta 53 27 68 31 57 49 58 53 62 71 77 148
5. Irian Jaya 19 51 23 48 28 52 52 91 56 100 53 72
a. Perk.Rakyat 11 36 11 33 13 31 25 39 26 43 30 49
b. Perk.Negara 8 15 5 15 5 21 6 25 6 25 19 21
c. Perk.Swasta 0 0 6 0 10 0 21 27 24 32 4 3
INDONESIA 2516 5380 2789 5640 3172 6005 3770 7581 3973 7969 5067 9622
a. Perk.Rakyat 813 1293 891 1348 1038 1544 1190 1978 1205 2181 1808 3427
b. Perk.Negara 449 1800 489 1857 516 1846 529 1971 541 1996 632 1608
c. Perk.Swasta 1254 2287 1409 2435 1617 2615 2051 3632 2227 3791 2627 4588
Sumber: Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan, 1997, 1998, 1999, 2000, 2001, dan-2002.

Sementara itu dalam periode waktu yang sama atau dari tahun 1997 s.d. 2002, produksi kelapa sawit
berbentuk minyak sawit (CPO) yang dihasilkan dari tandan buah segar (TBS) dari perkebunan
tersebut meningkat dengan pertumbuhan lebih rendah, yaitu 12,33% per tahun, sehingga produksi
CPO tersebut meningkat dari 5,38 juta ton menjadi 9,62 juta ton. Lebih rendahnya pertumbuhan
produksi CPO daripada luas perkebunan sawit di Indonesia tersebut kemungkinan disebabkan masih
banyaknya perkebunan kelapa sawit yang tidak atau belum berproduksi pada tahun 2002
dibandingkan pada tahun 1997, sehingga ada penurunan rata-rata produksi per hektar dari rata-rata
2,14 ton CPO per hektar pada tahun 1997 menjadi 1,90 ton CPO per hektar pada tahun 2002.

Produksi CPO per hektar tersebut menunjukkan rata-rata produksi yang berbeda baik menurut
pengelola maupun wilayah perkebunan. Perkebunan Negara mempunyai rata-rata produksi CPO per
hektar yang paling tinggi, disusul oleh Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Swasta di Indonesia.
Rata-rata tertinggi produksi CPO dari Perkebunan Negara tersebut terjadi pula di Sumatra,
Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan di Papua dan Jawa, Perkebunan Rakyat mempunyai rata-rata
produksi CPO yang paling dominan. Berdasarkan wilayah, Sumatra mempunyai rata-rata produksi
CPO per hektar yang paling tinggi, yaitu 2,11 ton CPO per hektar; diikuti oleh Sulawesi 1,82 ton, Jawa
1,44 ton, Papua 1,37 ton, dan Kalimantan 1,11 ton CPO per hektar. Hasil produksi CPO per hektar
tersebut tidak menunjukkan hasil produksi yang sebenarnya karena masih terdapatnya perkebunan
kelapa sawit yang tidak atau belum berproduksi yang menjadi bilangan pembagi dalam perhitungan

92
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

tersebut, sehingga produksi rata-rata CPO per hektar di Indonesia diperkirakan lebih besar daripada
angka-angka tersebut. Namun secara perhitungan konservatif rata-rata produksi CPO per hektar di
Indonesia tersebut diperkirakan dapat mencapai 2 ton CPO dari setiap hektar perkebunan kelapa
sawit. Perkiraan hasil produksi CPO tersebut tidak jauh dari rata-rata produksi CPO dari perkebunan
kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara VIII yang berlokasi di Jawa Barat, yaitu memproduksi CPO
rata-rata 1,9 ton dari setiap hektar perkebunan kelapa sawit. Produksi CPO tersebut dihasilkan dari
pengolahan rata-rata 9,5 ton tandan buah segar (TBS) setiap tahun yang dihasilkan dari setiap hektar
perkebunan kelapa sawit. Sementara umur produksi dari perkebunan kelapa sawit bisa mencapai 30
(15)
tahun .

CPO yang diproduksi di Indonesia tersebut sebagian besar atau sekitar 72% s.d. 73% diperuntukkan
sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng, sedangkan sisanya untuk membuat sabun.
Demikian pula, CPO parit sebagai produk samping dari pembuatan CPO, jumlahnya diperkirakan
hanya 1% dari produksi CPO. CPO parit tersebut biasanya dijual untuk dipergunakan sebagai bahan
baku pembuatan sabun. Oleh karena itu, potensi kelapa sawit untuk dibuat CPO yang kemudian
dapat dipergunakan untuk membuat biodiesel untuk bahan bakar kendaraan perlu dipertimbangkan
penyediaannya. CPO untuk minyak goreng tersebut memerlukan proses lebih lanjut lagi sebelum
dipergunakan sebagai biodiesel yang memenuhi spesifikasi tertentu untuk dipergunakan sebagai
bahan bakar kendaraan bermotor pada sektor transportasi. Sementara itu, proses alir pembuatan
biodiesel dari CPO kelapa sawit yang dilakukan oleh Engineering Center BPPT diperlihatkan pada
Gambar 2.

Gambar 2. Proses Pembuatan Biodiesel Dari Kelapa Sawit.

Berdasarkan Gambar 2, CPO kelapa sawit sebelum dimasukan ke dalam reaktor ditambahkan katalis
dan methanol, sedangkan hasil produk dari reaktor tersebut adalah biodiesel yang masih memerlukan
proses pencucian dan pemurnian sehingga diperoleh biodiesel yang memenuhi syarat sebagai bahan
bakar kendaraan pada sektor transportasi. Berdasarkan proses tersebut, satu ton bahan baku CPO
dapat diperoleh 0,9 ton biodiesel (Engineering Center BPPT, 2004). Namun biodiesel yang dapat
digunakan langsung untuk kendaraan bermesin diesel harus memenuhi spesifikasi teknis tertentu
seperti diperlihatkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Spesifikasi Biodiesel Berdasarkan hasil Penelitian BPPT

No. Test Property Satuan BioDiesel BPPT Acceptable Value Metode Test
o
1. Pour Point C 15 18 max ASTM D.97
o
2. Flash Point PM.cc C 172 65 min ASTM D.93
3. Kadar Sulfur % wt 0,0068 0,05 max ASTM D.2622
4. Kadar Sedimen % vol 0,008 0,05 max ASTM D.473
5. Kadar Air % vol <0,05 0,05 max ASTM D.95
6. Kadar Abu % wt 0,001 0,01 max ASTM D.482
o 2
7. Viskositas (40 C) mm /detik 4,6 1,9 – 6,0 ASTM D.445
o 3
8. Densitas (15 C) gr/cm 0,87 0,86 – 0,90 ASTM D.1298
9. TAN mgKOH/g 0,4-0,6 0,8 max ASTM D.974
10. SAN mgKOH/g Nil Nil max ASTM D.974
Sumber: Wirawan, S.S. (2004).

93
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

Secara umum biodiesel yang diproduksi oleh Engineering Center BPPT telah memenuhi syarat yang
telah ditentukan untuk dipergunakan sebagai bahan bakar kendaraan seperti diperlihatkan pada Tabel
4. Spesifikasi teknis tersebut penting untuk menentukan bisa tidaknya biodiesel secara teknis
dipergunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel, namun kelayakan ekonomi untuk
menentukan apakah biodiesel dapat bersaing atau tidak dengan minyak solar (ADO) merupakan hal
penting juga untuk dianalisis selain untuk menentukan peluang keberhasilan pemanfaatan biodiesel
dipergunakan masyarakat, juga untuk menentukan apakah bisnis biodiesel tersebut menarik atau
tidak bagi fihak investor dalam penyediaan biodiesel. Berdasarkan perkiraan Engineering Center
BPPT (2004), biaya bahan baku biodiesel berbentuk CPO standar adalah US $400/ton atau sekitar
Rp. 3.600,-/ton (Rp. 900/US$), sedangkan harga bahan baku berbentuk CPO parit adalah Rp. 350,-
sampai dengan Rp. 1.000,-/kg.

Perkiraan biaya produksi CPO tersebut lebih tinggi daripada informasi yang diperoleh dari PT.
Perkebunan Nusantara VIII (2004) yang memperkirakan biaya produksi minyak sawit atau CPO dari
perkebunan tersebut adalah Rp. 2.600,-/kg, sedangkan harga pasar dari CPO tersebut mencapai Rp.
3.300,-/kg. Biaya produksi CPO tersebut sudah meliputi biaya investasi dan biaya pemeliharaan
perkebunan kelapa sawit, serta biaya pengangkutan tandan buah segar (TBS) dari perkebunan ke
pabrik pengolahan CPO. Sebagai informasi tambahan, biaya investasi untuk penanaman setiap
hektar kelapa sawit diperkirakan mencapai Rp. 15.000.000,-/hektar, sedangkan biaya pemeliharaan
(15)
kelapa sawit setiap tahun mencapai Rp. 3.000.000,-/hektar/tahun .

4 ANALISIS HASIL

Biodiesel dari kelapa sawit merupakan salah satu pilihan dalam diversifikasi energi pada sektor
transportasi. Perkebunan kelapa sawit sebagai sumber bahan baku biodiesel cukup luas, namun
pengkajian mengenai potensi perkebunan kelapa sawit untuk sumber bahan baku biodiesel sebagai
sumber energi untuk sektor transportasi perlu dilakukan lebih cermat, karena perkebunan kelapa sawit
yang ada sudah diperuntukkan untuk produksi CPO (Crude Palm Oil) untuk memproduksi minyak
goreng. Namun potensi perkebunan kelapa sawit untuk produksi biodiesel, biaya produksi biodiesel,
serta kendala yang dihadapi dalam pengembangan biodiesel perlu dikaji lebih lanjut, sehingga dapat
diperoleh hasil kajian yang lebih akurat.

4.1 Peluang Pemanfaatan Biodiesel pada Kasus Dasar


Berdasarkan hasil keluaran model MARKAL pada kasus dasar menunjukkan bahwa biodiesel tidak
dapat bersaing dengan minyak diesel atau minyak solar (ADO) pada sektor transportasi, industri, dan
pembangkit listrik di masa datang, karena biaya ekonomi dari biodiesel lebih mahal dibanding minyak
diesel. Tabel 5 menunjukkan perkiraan konsumsi minyak diesel atau minyak solar dari Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) per wilayah menurut hasil keluaran model MARKAL pada
kasus dasar.

Tabel 5. Prakiraan Konsumsi Minyak Solar dari SPBU per wilayah pada Kasus Dasar

(PJ/Tahun)
Wilayah Bahan Bakar 2000 2005 2010 2015 2020 2025 2030

Pulau Lain Diesel 35,81 44,70 59,44 81,02 110,31 146,57 190,89
BioDiesel 0 0 0 0 0 0 0
Jawa Diesel 89,66 107,14 131,08 168,46 218,12 272,19 327,09
BioDiesel 0 0 0 0 0 0 0
Kalimantan Diesel 23,34 28,78 37,79 50,97 68,64 90,06 116,10
BioDiesel 0 0 0 0 0 0 0
Sumatra Diesel 80,45 99,82 131,95 179,03 242,58 320,36 415,62
BioDiesel 0 0 0 0 0 0 0
Sumber: Hasil Keluaran Model MARKAL, 2004.

Tabel 5 menunjukkan bahwa konsumsi diesel dari SPBU di masa datang diperkirakan akan meningkat
dengan pertumbuhan rata-rata 5,20% per tahun dalam waktu 30 tahun yang akan datang, yaitu dari

94
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

tahun 2000 hingga 2030. Pesatnya kebutuhan ADO tersebut disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan
jumlah kendaraan bermesin diesel di Indonesia yang diduga didorong oleh adanya perbaikan ekonomi
selama periode waktu tersebut. Sumatra mempunyai pertumbuhan kebutuhan ADO yang paling
pesat, sehingga pangsa kebutuhan ADO di Sumatra menjadi yang terbesar, yaitu hampir 40% pada
tahun 2030, padahal pada tahun 2000, pangsa kebutuhan ADO di Sumatra hanya 35%, atau terbesar
kedua setelah pangsa kebutuhan ADO di Jawa yang mencapai 31%. Dalam periode waktu yang
sama, kebutuhan ADO di Jawa, meskipun meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 4,41% per tahun,
namun pangsa kebutuhan ADO di Jawa menurun dari 39% pada tahun 2000 menjadi 31% pada tahun
2030. Sementara itu pangsa kebutuhan ADO pada tahun 2000 di Kalimantan sebesar 10% dan
pulau-pulau lainnya yang terdiri atas Sulawesi, Papua, dan Maluku hanya 15% yang kemudian terjadi
peningkatan menjadi 11% untuk Kalimantan dan 18% untuk pulau-pulau lainnya pada tahun 2030.
Belum dapat bersaingnya biodiesel dengan ADO di Indonesia pada kasus dasar tersebut lebih banyak
disebabkan oleh faktor ekonomi daripada oleh faktor teknis, meskipun masih ada beberapa faktor
yang menjadi kendala yang diantaranya adanya subsidi terhadap ADO untuk sektor transportasi.
Selain itu, parameter ekonomi seperti biaya investasi untuk pembuatan biodiesel yang dimasukkan
sebagai input data ke dalam model juga diperoleh dari pabrik atau plant biodiesel skala kecil yang
kemungkinan akan mempengaruhi skala ekonomi, karena semakin besar kapasitas pabrik biodiesel
yang dibangun akan semakin murah harga produk per satuannya, dan sebaliknya semakin kecil
kapasitas pabrik biodiesel yang dibangun akan semakin mahal harga produk tersebut per satuannya.

4.2 Peluang Pemanfaatan Biodiesel pada Kasus Biodiesel


Pada penelitian ini target Landmark Kementrian Riset dan Teknologi (Ristek) pada Kasus Biodiesel
dipertimbangkan pada pencampuran minyak solar dan biodiesel di SPBU. Prakiraan pemanfaatan
diesel dan biodiesel di Indonesia per wilayah berdasarkan hasil keluaran model MARKAL ditunjukkan
pada Tabel 6.

Tabel 6. Prakiraan Konsumsi Minyak Solar dan BioDiesel dari SPBU per wilayah pada Kasus
Biodiesel
(PJ/Tahun)
Wilayah Bahan Bakar 2000 2005 2010 2015 2020 2025 2030

Pulau Lain ADO 35,81 44,70 58,85 79,40 107,00 142,17 185,17
BioDiesel 0 0 0,59 1,62 3,31 4,40 5,73
Jawa ADO 89,66 107,14 129,77 165,09 211,57 264,03 317,27
BioDiesel 0 0 1,32 3,36 6,54 8,16 9,82
Kalimantan ADO 23,34 28,78 37,41 49,95 66,58 87,36 112,62
BioDiesel 0 0 0,38 1,02 2,06 2,70 3,48
Sumatra ADO 80,45 99,82 130,63 175,45 235,3 310,75 403,15
BioDiesel 0 0 1,32 3,58 7,28 9,61 12,47
Sumber: Hasil run Model MARKAL, 2004.

Tabel 6 memperlihatkan total konsumsi biodiesel dari SPBU untuk mensuplai beberapa wilayah di
Indonesia yang mencapai 3,61 PJ atau 1% dari total konsumsi minyak solar pada SPBU pada tahun
2010 yang meningkat menjadi 31,5 PJ atau 3% dari total konsumsi minyak solar pada SPBU pada
tahun 2030. Sebagian besar atau sekitar 55% dari kebutuhan biodiesel tersebut diperoleh dari
produksi biodiesel di Sumatra, sedangkan sisanya diperoleh dari produksi biodiesel di Kalimantan.
Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan memproduksi biodiesel di pergunakan bukan hanya di
wilayahnya masing-masing, tetapi juga untuk mensuplai kebutuhan biodiesel di Pulau Jawa, dan
Pulau-pulau lain. Oleh karena itu dari seluruh biodiesel yang dimanfaatkan di Jawa separuhnya
diperoleh dari Sumatra dan separuhnya lagi diperoleh dari Kalimantan, sedangkan biodiesel yang
dimanfaatkan di Pulau-pulau lain yang terdiri atas Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua (Irian
Jaya) seluruhnya diperoleh dari Kalimantan. Prakiraan konsumsi biodiesel dari SPBU yang dihasilkan
Model sesuai dengan ketersediaan perkebunan kelapa sawit sebagai sumber bahan baku biodiesel
yang sebagian besar berada di Sumatra dan Kalimantan (Tabel 3). Model tersebut selain
memperkirakan besarnya konsumsi biodiesel dan ADO yang dimanfaatkan pada sektor transportasi
yang akan datang menurut wilayah, juga memperkirakan biaya pokok (biaya ekonomi) untuk
pengadaan bahan bakar tersebut seperti diperlihatkan pada Tabel 7.

95
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

Tabel 7. Perbandingan Biaya Pokok Minyak Solar dan Biodiesel


(US $/GJ)
Kasus Bahan Bakar 2010 2015 2020 2025 2030 2035

Kasus Dasar ADO 4,55 4,55 4,55 4,55 4,55 4,55


Skenario Biodiesel Biodiesel 34,1 34,1 34,1 34,1 34,1 34,1
Kasus Dasar ADO 4,55 4,55 4,55 4,55 4,55 4,55
Skenario Biodiesel Biodiesel 34,1 34,1 34,1 34,1 34,1 34,1
Sumber: Hasil run Model MARKAL, 2004.

Pada kasus dasar biodiesel tidak dapat bersaing secara ekonomi dengan ADO atau minyak solar,
karena biaya pokok ADO tersebut diperkirakan rata-rata hanya 4,55 US$/GJ atau setara dengan Rp.
1.474,2/liter. Sementara itu bila target pemanfaatan biodiesel yang harus dicapai pada tahun 2010
sampai tahun 2035, biaya pokok dari pengadaan biodiesel yang menguntungkan secara ekonomi
adalah sekitar 34,10 US$/GJ atau setara dengan Rp. 3.079,20/kg atau Rp. 2.678,90/liter.
Perhitungan tersebut mengasumsikan 1 US$ = Rp. 9.000,- dan nilai kalor ADO 1 PJ = 27.777,30
3
kiloliter dan nilai kalor biodiesel 1 PJ = 99.668,58 ton serta densitas biodiesel 0,87 gr/cm . Selain itu,
masih disubsidinya harga minyak termasuk ADO juga diperkirakan dapat merupakan salah satu
kendala pengembangan biodiesel sebagai sumber energi terbarukan untuk bahan bakar kendaraan
bermotor. Faktor lainnya seperti ketersediaan bahan baku untuk pembuatan biodiesel juga perlu
dikaji.

4.2 Peluang Pemanfaatan Biodiesel dikaitkan dengan Ketersediaan Lahan Perkebunan


Kelapa Sawit
Gambaran kebutuhan perkebunan kelapa sawit dan produksi CPO sebagai bahan baku biodiesel
untuk memenuhi kebutuhan biodiesel untuk kendaraan bermotor dari tahun 2010 sampai dengan
tahun 2035 diperlihatkan pada Tabel 8.

Tabel 8. Kebutuhan Perkebunan Kelapa Sawit Dan Produksi CPO Untuk Biodiesel

Wilayah (Unit) 2010 2015 2020 2025 2030

Pulau Lain CPO (ton) 52175 143260 292710 389101 506716


Kb.sawit (Ha) 26087 71630 146355 194551 253358

Jawa CPO (ton) 116730 297132 578346 721606 868403


Kb.sawit (Ha) 58365 148566 289173 360803 434202

Kalimantan CPO (ton) 33604 90201 182170 238767 307744


Kb.sawit (Ha) 16802 45100 91085 119383 153872

Sumatra CPO (ton) 116730 316587 643786 849833 1102749


Kb.sawit (Ha) 58365 158294 321893 424916 551374
Keterangan: Produksi CPO dari perkebunan kelapa sawit diasumsikan rata-rata 2 ton/hektar.

Tabel 8 memperlihatkan kebutuhan perkebunan kelapa sawit dan produksinya yang berupa CPO
untuk memenuhi kebutuhan biodiesel apabila target pemanfaatan biodiesel sebesar 1% pada tahun
2010, 2% pada tahun 2015, dan 3% pada tahun 2020 dan seterusnya dari total perkiraan kebutuhan
ADO pada tahun-tahun tersebut yang harus dipenuhi. Jumlah kebutuhan CPO untuk dipergunakan
sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia sesuai dengan target pada tahun 2010 tidak dapat
terpenuhi bila mengandalkan dari produksi CPO parit yang hanya sekitar 1% dari total produksi CPO
pada tahun 2002.

Pada tahun 2002, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai sekitar 5 juta hektar dengan
produksi CPO sebesar 9,62 juta ton (lihat Tabel 3), sedangkan jumlah CPO yang dapat dimanfaatkan
untuk bahan baku biodiesel hanya 1% (CPO parit), yaitu sekitar 96.200 ton. Sementara itu pada
tahun 2010, kebutuhan CPO untuk bahan baku biodiesel mencapai 319.240 ton CPO yang
diperkirakan dapat diproduksi dari 159.620 hektar perkebunan kelapa sawit di seluruh wilayah
Indonesia, sehingga diperkirakan masih kekurangan bahan baku CPO sebesar 223.000 ton yang
diperkirakan dapat diperoleh 111.500 hektar perkebunan kelapa sawit.

96
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

Demikian pula kebutuhan biodiesel menurut wilayah pada tahun 2010, semua wilayah belum dapat
memenuhi kebutuhan biodiesel bila harus dipenuhi dari perkebunan kelapa sawit yang ada di
wilayahnya dengan tingkat produksi CPO dan luas perkebunan kelapa sawit tahun 2002. Sebagai
contoh pada tahun 2010, Sumatra yang diperkirakan akan memerlukan biodiesel sebesar 1,32 PJ
atau 105.163 ton yang diperkirakan memerlukan bahan baku CPO sebesar 116.730 ton yang dapat
diproduksi dari 58.365 hektar perkebunan kelapa sawit. Sementara itu, luas perkebunan kelapa sawit
di Sumatra pada tahun 2002 adalah 3,89 juta hektar dengan produksi CPO 8,19 juta ton dan CPO
parit hanya 1% yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku biodiesel, Sumatra hanya mempunyai
sekitar 81.900 ton CPO parit, sehingga masih kurang sekitar 34.830 ton CPO parit yang diperkirakan
dapat diproduksi dari 17.415 hektar perkebunan kelapa sawit.

Pemenuhan kebutuhan bahan baku CPO untuk dapat dibuat biodiesel sesuai dengan target tahun
2010 tidak dapat hanya mengandalkan CPO parit sebagai limbah yang jumlahnya hanya 1% dari
produksi CPO, tetapi harus dipertimbangkan cara lain dalam penyediaan bahan baku untuk biodiesel
tersebut yang antara lain:
a) Meningkatkan jumlah persentase CPO untuk dipergunakan sebagai bahan baku biodiesel dari
1%, menjadi sekitar 4% (1% CPO parit dan 3% CPO standar). Cara ini akan berdampak pada
biaya penambahan bahan baku, karena CPO parit yang 1% merupakan limbah yang harganya
murah, sedangkan yang 3% CPO standar harganya lebih mahal. Pemanfaatan produksi CPO
untuk biodiesel tersebut merupakan penciptaan pasar baru bagi pemasaran CPO, sehingga hal
tersebut dapat berguna dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sementara
itu wilayah yang potensial untuk peningkatan persentase produksi CPO yang diperuntukan untuk
biodiesel adalah Sumatra dan Kalimantan, karena kedua wilayah ini sudah mempunyai sumber
produksi CPO yang cukup tinggi.
b) Menambah luas perkebunan kelapa sawit yang hasil produksinya berupa minyak sawit (CPO)
khusus diperuntukkan untuk memasok kebutuhan bahan baku biodiesel. Wilayah yang paling
memungkinkan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit untuk penyediaan bahan baku biodiesel
tersebut adalah Papua dan Kalimantan, karena kedua wilayah ini mempunyai pertumbuhan
perluasan perkebunan kelapa sawit yang paling tinggi dan ketersediaan lahan yang masih luas
sebagai potensi perluasan lahan yang besar. Namun untuk mengetahui lebih rinci mengenai
kebutuhan lokasi yang cocok untuk pembangunan pabrik biodiesel, besarnya kapasitas pabrik
biodiesel, luas lahan perkebunan untuk penyediaan bahan baku pabrik, serta biaya investasi dan
operasi dari perkebunan kelapa sawit untuk biodiesel maupun dari pabrik biodiesel tersebut
diperlukan penelitian lebih lanjut.

4 KESIMPULAN

Berdasarkan ketersediaan bahan bakunya, pengadaan biodiesel yang dibuat dari kelapa sawit
diperkirakan mempunyai potensi yang lebih besar dibandingkan dengan biodiesel yang dibuat dari
bahan baku lainnya seperti jarak pagar maupun kedelai, karena sudah adanya perkebunan kelapa
sawit yang cukup luas yang dapat memproduksi CPO (crude palm oil) atau minyak sawit yang dapat
dipergunakan sebagai bahan baku biodiesel. Produksi CPO dari perkebunan kelapa sawit yang ada
selama ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng dan sabun, namun biodiesel
tersebut dapat dibuat dari limbah CPO yang disebut sebagai CPO parit yang jumlahnya hanya 1%
dari total produksi CPO.

Hasil model MARKAL (Market Allocation) di bawah Kasus Dasar (BASE CASE) menunjukkan bahwa
biodiesel belum mampu bersaing dengan ADO (Automobile Diesel Oil) atau minyak solar, sehingga
kebutuhan minyak solar pada sektor transportasi dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2035
seluruhnya dipenuhi dari minyak hasil kilang. Sementara itu perkiraan model MARKAL pada kasus
Biodiesel menunjukkan bahwa biodiesel mulai dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada sektor
transportasi pada tahun 2010 yaitu sebesar 1% dari total kebutuhan ADO atau masing-masing 1,32
PJ di Jawa, dan Sumatra 0,38 PJ, Kalimantan dan di Pulau-pulau lain seperti Sulawesi dan Papua
sebesar 0,59 PJ. Pada periode tahun 2015 serta tahun 2020 dan seterusnya, kebutuhan biodiesel
tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 2% sampai 3% dari total kebutuhan ADO.
Berdasarkan ketersediaan perkebunan kelapa sawit sebagai penghasil bahan baku, Sumatra dan

97
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

Kalimantan diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan biodieselnya dari perkebunan kelapa sawit yang
ada di wilayahnya, namun Jawa diperkirakan akan memperoleh biodiesel dari Sumatra dan
Kalimantan, sedangkan pulau-pulau lain memperoleh biodiesel dari Kalimantan.

Belum dapat bersaingnya biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan transportasi disebabkan masih
mahalnya biaya pokok pengadaan biodiesel tersebut, yaitu mencapai 34,1 US $/GJ yang setara
dengan Rp. 3.079,20/kg atau Rp. 2.678,90/liter. Dibandingkan dengan biaya pokok pengadaan
minyak solar (ADO) yang hanya 4,55 US $/GJ atau setara Rp. 1.474,2/liter. Biarpun biodiesel sebagai
sumber energi terbarukan belum dapat bersaing secara ekonomi dengan minyak solar yang berasal
dari fosil, namun biodiesel mempunyai fungsi strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap
bahan bakar minyak yang persediaannya semakin terbatas, serta mendukung pemanfaatan sumber
energi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Kelayakan ekonomi pemanfaatan biodiesel
juga diperkirakan akan meningkat bila pabrik biodiesel dibangun dengan kapasitas yang lebih besar
(meningkatkan skala ekonomi), dan dibangun di wilayah-wilayah yang relatif sulit dijangkau seperti
Kalimantan dan Papua. Perlu adanya kebijaksanaan pemerintah yang mendukung pengembangan
industri biodiesel dari bahan baku kelapa sawit untuk bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia.
Masih adanya subsidi atas minyak diperkirakan merupakan salah satu kendala pengembangan
biodiesel sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia.

Bila hanya mengandalkan dari CPO parit yang diproduksi perkebunan kelapa sawit yang ada,
penyediaan bahan baku CPO untuk biodiesel tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
biodiesel sesuai dengan perkiraan Skenario Pemanfaatan Biodiesel. Peningkatan produksi CPO
untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel pada Kasus Biodiesel yang dimulai tahun 2010
dapat dilakukan melalui :
a) Peningkatan perluasan pemasaran CPO, sehingga CPO bukan saja dipasarkan ke pasar non-
energi yang ada, tetapi juga dipasarkan ke pabrik biodiesel untuk energi. Bila hal ini dilakukan,
wilayah produsen CPO yang paling potesial adalah Sumatra dan Kalimantan, karena CPO yang
sudah diproduksi dari kedua wilayah tersebut cukup tinggi.
b) Pengembangan lahan perkebunan melalui penambahan luas perkebunan kelapa sawit yang hasil
produksi CPO-nya khusus untuk bahan baku pembuatan biodiesel untuk kendaraan bermotor.
Wilayah yang paling potensial untuk pengembangan luas perkebunan kelapa sawit adalah Papua
dan Kalimantan, karena kedua wilayah tersebut masih mempunyai potensi perluasan lahan yang
cukup besar.

DAFTAR PUSTAKA

1. BPPT-KFA. Energy Strategies, Energy R+D Strategies, Technology Assessment for Indonesia.
Joint Indonesian-German Research Project. 1988.
2. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. Statistik Perminyakan Indonesia 1992. Jakarta. 1992.
3. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 1998. Statistik Perminyakan Indonesia 1998, Jakarta.
4. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 1999. Statistik Perminyakan Indonesia 1999, Jakarta.
5. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2000. Statistik Perminyakan Indonesia 2000, Jakarta.
6. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2001. Statistik Perminyakan Indonesia 2001, Jakarta.
7. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2002. Statistik Perminyakan Indonesia 2002, Jakarta.
8. Direktorat Jenderal Perkebunan. Buku Statistik Perkebunan Indonesia. Kelapa Sawit 1997,
Jakarta 1997.
9. Direktorat Jenderal Perkebunan. Buku Statistik Perkebunan Indonesia. Kelapa Sawit 1998.,
Jakarta. 1998.
10. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Buku Statistik Perkebunan Indonesia Kelapa
Sawit 1999, Jakarta 1999.
11. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Buku Statistik Perkebunan Indonesia Kelapa
Sawit 2000, Jakarta 2000.
12. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Buku Statistik Perkebunan Indonesia.
Kelapa Sawit 2001, Jakarta 2001.
13. Goenadi, D.H. 2004. Harga Minyak Melonjak, Pakai BioDiesel Kenapa Tidak? Kompas, 2
Desember 2004.
14. Kompas. 23 Oktober 2004. Tren Harga Minyak Sulit Dibaca.

98
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

15. PT. Perkebunan Nusantara VIII. Komunikasi Pribadi. Bandung 28 September 2004
16. Prakoso, T; et al. 2004. Production of Biodiesel by Utilizing Continuous Circulated Tank
Reactor. Dep. Tehnik Kimia Institut Teknologi Bandung. National Energy Congress 2004. 23-24
November 2004.
17. Wirawan, S.S. 2004. Komunikasi Pribadi. Engineering Center BPPT.
18. US Embassy 2004. Petroleum Report 2004.

99
Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan
PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan

100

Anda mungkin juga menyukai