50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
2K tayangan33 halaman

Makalah Pengantar Ilmu Administrasi Publik

Makalah ini membahas perkembangan paradigma administrasi publik mulai dari Old Public Administration (OPA), New Public Management (NPM), New Public Services (NPS), Good Governance, hingga Sound Governance. Makalah ini juga membandingkan budaya Barat dan lokal dalam penerapan paradigma-paradigma tersebut dalam pengelolaan administrasi negara.

Diunggah oleh

ROSANTI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
2K tayangan33 halaman

Makalah Pengantar Ilmu Administrasi Publik

Makalah ini membahas perkembangan paradigma administrasi publik mulai dari Old Public Administration (OPA), New Public Management (NPM), New Public Services (NPS), Good Governance, hingga Sound Governance. Makalah ini juga membandingkan budaya Barat dan lokal dalam penerapan paradigma-paradigma tersebut dalam pengelolaan administrasi negara.

Diunggah oleh

ROSANTI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PENGANTAR ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

Dosen Pembimbing :

Susi Ratnawati

Disusun oleh :

Deddy Bayu Setiyawan Adm Negara sore/14031082

UNIVERSITAS BHAYANGKARA

Jl. A. Yani Wonocolo Surabaya 80231 Jawa Timur Indonesia


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah


memberikan nikmat kesehatan jasmani dan rohani, sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi Publik. Saya
juga tak lupa mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah
Pengantar Ilmu Administrasi Publik, yang telah memberi arahan sehingga
makalah ini bisa diselesaikan.

Mungkin dalam makalah ini masih banyak kekurangan, maka dari itu
kriktik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah ini sangat
diharapkan agar pembuatan makalah selanjutnya bisa jadi lebih baik lagi.

Akhir kata saya mengucapkan terimakasih atas kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini
berguna bagi kita semua.

Surabaya, 18 Januari 2015

penulis

Page | ii
DAFTAR ISI

Kata pengantar ............................................................................................ ii

Daftar isi ..................................................................................................... iii

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar belakang ........................................................................... 4


1.2 Rumusan masalah ..................................................................... 5
1.3 Tujuan ....................................................................................... 6

Bab II Pembahasan

2.1 OLD PUBLIC ADMINISTRATION (1885-1980) .................. 7


2.2 NEW PUBLIC MANAGEMENT (1980-1990) ....................... 12
2.3 NEW PUBLIC SERVICES (1990- sekarang) .......................... 17
2.4 GOOD GOVERNANCE .......................................................... 24
2.5 SOUND GOVERNANCE ........................................................ 27

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan ............................................................................... 31


3.2 Saran ......................................................................................... 31

Daftar pustaka ............................................................................................ 33

Page | iii
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri dalam hal
pemenuhan kebutuhannnya sehingga melibatkan hubungan manusia yang satu
dengan lainnya ataupun hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Interaksi
antar manusia dalam pemenuhan kebutuhannya itulah yang melahirkan Ilmu
administrasi, dimana Administrasi sesuai dengan pengertian bahwa administrasi
adalah setiap kegiatan kerjasama antara dua orang atau lebih, berdasarkan
rasionalitas tertentu, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Prof. Dr.
Sondang P. Siagian). Proses perkembangannya Ilmu administrasi yang semakin
maju dan berkembang sehingga menyebabkan berkembangnya peradaban dari
manusia itu sendiri, dimana pengembangan dan caranya mempunyai seni masing-
masing karena dalam pengelolaan administrasi tidak akan sama antara manusia
yang satu dengan manusia yang lainnya, begitu juga antara Negara yang satu
dengan Negara lainnya. Misalnya, antara Negara Indonesia (kultur local) dan
Amerika serikat, Inggris, Eropa (kultur barat). Hal itu terjadi sesuai dengan situasi
dan kondisi lingkungan yang mempengaruhinya.
Dalam sejarah perkembangan ilmu administrasi yang telah maju,
penerapan dalam pelaksanaan administrasi negara, itu dapat dilihat dari beberapa
negara maju yang lebih dulu menerapkannya dalam pengelolaan administrasi
negara dengan ciri-ciri masing-masing negara yang menerapkannya yaitu
1. Kawasan Eropa daratan (administrasi continental) dengan ciri-ciri Feodalisme,
Sentralistik dan Monarkhi sentralistik, dimana lebih tepatnya ciri-ciri ini
merupakan pelaksanaan Administrasi pada saat Belanda menjajah negeri
Indonesia, dan ciri-ciri ini pun di dukung dengan Budaya Jawanisme (taat dan
setia yang membabi buta pada atasan dan tidak memikirkan pihak lain sama sekali
; Pramoedya Ananta Toer) yang memang sangat Feodal, sehingga Belanda dapat
bertahan lama di Indonesia, karena praktek yang dilakukan sangat sesuai dan
didukung oleh Budaya setempat.

Page | 4
2. Administrasi Publik di Inggris dengan ciri-ciri ; pada tatanan konvensi dan sistem
commonwealth
3. Administrasi Publik di Amerika Serikat (Anglo Saxon) dengan ciri-ciri ; Sistem
Federal, Kekuasan pusat terbatas, Pemisahan Eksekutif dengan legislatif dan
yudikatif.

Sistem administrasi dari beberapa negara tersebut lah yang mempengaruhi


penerapan sistem administrasi di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Sehingga dalam perkembangan paradigma Prinsip Administrasi Publik. Kajian
dan praktek administrasi publik di berbagai negara terus berkembang. Berbagai
perubahan terjadi seiring dengan berkembangnya berbagai persoalan yang
dihadapi oleh administrator public sehingga ditanggapilah oleh para teoritisi
dengan terus mengembangkan ilmu administrasi publik. Denhardt & Denhardt
mengungkapkan bahwa terdapat tiga perspektif atau paradigma dalam
administrasi publik. Perspektif tersebut adalah old public administration, new
public management, dan new public service yang dapat dikelompokkan menjadi
tiga orde/masa yaitu; 1. Old Publik Administration (Birokrasi ; Pra 1970), 2. New
Publik Manajemen (pasca 1970), 3. New Public Service (Post 2003). Kemudian
berkembang pula paradigma lainnya yaitu Good Governance dan sekarang juga
hadir paradigm baru yang melengkapi kegagalan dari Good Governance yaitu
Sound Governance.

1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan penulisan ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimana perspektif historis dari perkembangan paradigma Administrasi
Negara mulai OPA, NPM, NPS, Good Governance dan Sound Governance?
b. Bagaimana perdebatan dari masing-masing paradigma Administrasi Negara itu?
c. Bagaimana perbandingan antara kultur barat dan kultur local dari masing-masing
paradigma Administsrasi Negara tersebut?

Page | 5
1. 3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka tujuan penulisan ini yaitu:
a. Untuk mendeskripsikan tentang perspektif historis dari perkembangan paradigma
Administrasi Negara dari OPA, NPM, NPS, Goodl Governance dan Sound
Governance
b. Untuk mendeskripsikan Perdebatan dari masing-masing paradigma Administrasi
Negara itu.
c. Untuk mendeskripsikan Perbandingan antara kultur barat dan kultur local dalam
paradigma Administrasi Negara tersebut.

1. 4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini antara lain.

a. Bagi Penulis : untuk meningkatkan pengetahuan bagi penulis.


b. Bagi Pembaca : untuk dijadikan bahan acuan atau referensi bagi pembaca.
c. Untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Pengantar Ilmu administrasi Publik.

Page | 6
BAB II
PEMBAHASAN

Perkembangan suatu ilmu dapat ditelusuri melalui perubahan


paradigmanya. Menurut Thomas Kuhn dalam Pasalong (2007: 27)
mengungkapkan bahwa Paradigma merupakan cara pandang, nilai-nilai,. Metode-
metode, prinsip dasar atau cara memecahkan masalah yang dianut suatu
masyarakat ilmiah pada masa tertentu.

Dalam perkembangan ilmu administrasi public, dikenal juga berbagai


paradigma yang menggambarkan adanya perubahan-perubahan dan perbedaan-
perbedaan dalam tujuan, teori dan metodologi serta nilai-nilai yang mendasari.

Beberapa perkembangan ilmu administrasi public, yaitu sebagai berikut:

2.1 OLD PUBLIC ADMINISTRATION (1885-1980)


1. PERSPEKTIF HISTORIS
Perkembangan Administrasi pulik model klasik dibedakan menjadi
4(empat) generasi yaitu: Pre Generation ( sampai sebelum 1885), First
Generation (1885 – 1936), Second Generation ( 1937 – 1945), Third Generation (
setelah 1945).

a. Pre Generation (Sampai sebelum 1885)


Dalam Administrasi Publik Pra Generasi termasuk para pemikir seperti
plato, aristoteles dan Machiavelli. Masa ini merujuk pada kondisi yang ada di
daratan Eropa. Pada masa ini sampai dengan kelahiran konsep Negara Bangsa,
penekanan Administrasi Publik didasarkan pada prinsip permasalahan moral dan
kehidupan politik serta pada organisasi dari Administrasi Publik.
Abad I (Pencerahan), terdapat tiga tokoh yaitu plato, Aristoteles dan
Machiavelli mnciptakan sebuah dasar pemikiran bahwa memiliki etika pelayanan
publik dalam prinsip pelayanan pada Pengawasan kota, wilayah/agora, tempat

Page | 7
ibadah (Plato) dan kemudian ditambah pengawasan daerah pedalaman/ pedesaan
oleh Aristoteles. Abad XIV – XVII (Kegelapan), Pada abad ini ilmu tidak
berkembang kareana adanya doktrin gereja. Abad XVIII – XIX (Pencerahan
Kembali/Renaisance)

b. First Generation (1885 – 1936)


Di daratan Eropa, Wina oleh Lorenz Van Stein (1855) yang dikenal
sebagai Bapak pendiri Ilmu Administrasi. Perkembangan ilmu Administrasi di
Eropa berorientasi pada legal approach. DiAmerika, Oleh Thomas Woodrow
Wilson ( 1856 – 1924) yang dikenal sebagai Bapak pengembang ilmu adminitrasi.
Perkembangan Ilmu Administrasi diAmerika berorientasi pada management
Approach. Wilson dalam Bukunya yang berjudul “ The Study Of Administration”
mengemukakan 4 (empat) konsep yaitu:

1. Dikotomi Politik –Administrasi.


2. Prinsip-prinsip Administrasi
3. Analisis pebandingan antara organisasi politik dan privat melalui skema
politik
4. Pencapaian manajemen yang efektif malaui pemberian pelatihan –
pelatihan pada pegawai negeri dan dengan menilai kualitas mereka.

Tulisan Wilson yang berjudul “ The Study Of Administration” dikenal dengan


tonggak perkembangan Keilmuan Administrasi.

c. Second Generation ( 1937 – 1945)


Pada generasi kedua diwarnai oleh dua tokoh yaitu Gulick dan Urwick
yang merupakan pendiri Ilmu Administrasi dengan mengintegrasikan ide dari
Henri Fayol kedalam teori komprehensif Administrasi. Mereka percaya bahwa
pemikiran Fayol menawarkan perlakuan yang sistematis dalam manajemendan
bisa diaplikasikan dengan baik pada manejemen perusahaan maupun untuk ilmu
administrasi. Dua disiplin ilmu Gulick dan Quwick tidak perlu dipisahkan

Page | 8
melainkan menjadi sebuah ilmu tunggal dari adminstrasi yang melewati batas-
batas antara sektor privat dan sektor publik dimana dalam perkembangan
selanjutnya Ilmu Administrasi lebih memfokuskan pada organisasi pemerintahan.
Alasan- alasan yang menjadi dasar Ilmu Administrasi pada saat itu mayoritas
berasal dari 14 prinsip dasar dari Fayol.

d. Third Generation ( setelah 1945)


Generasi ketiga dari Administrasi Publik model klasik muncul dengan
mempertanyakan ide dari Wilson dan generasi kedua. Pada awalnya pembedaan
politik dan administrasi sangat dipertimbangkan oleh generasi ketiga, namun
demikian diskusi terus berlanjut.
Gerakan untuk melakukan perubahan lebih baik yang telah diprakarsai
oleh Woodrow Wilson. Ia menyarankan agar administrasi publik harus dipisahkan
dari dunia politik (dikotomi administrasi publik dengan politik). Berdasarkan
pangalaman Wilson, Negara terllau memberikan peluang bagi para administrator
untuk mempraktekkan sistem nepotisme dan spoil. Karena ia mengeluarkan
dokrin untuk melakukan pemisahan antara dunia legislative (politik) dengan dunia
eksekutif, dimana para legislator hanya merumuskan kebijakan dan para
administrator hanya mengeksekusi atau mengimplementasikan kebijakan. Sosok
birokrasi yang ditawarkan Wilson ini sejalan dengan jiwa atau semangat bisnis.
Wilson menuntut agar para administrator publik selalu mengutamakan nilai
efisiensi.
Perkembangan selanjutnya, sebagai akibat dari gagalnya intervensi
Amerika di Vietnam dan juga skandal Watergate membuat politik mulai
diragukan, dan baru ditahun 1980-an terdapat pertimbangan yang baik kembali
terhadap birokrasi dimana Administrasi Publik harus memisahkan diri dari politik.

Pre Generation, First Generation, Second Generation dan Third Generation


disebut sebagai Old Public Administration.

Page | 9
2. KONSEP OLD PUBLIC ADMINISTRATION
Paradigma Old Public administration juga dapat dilihat melalui model
“old chestnuts” dari Peters (1996 dan 2001), dimana Administrasi Publik
berdasarkan pada Pegawai Negeri yang politis dan terinstitusionalisasi; organisasi
yang hierarkhis dan berdasarkan peraturan; penugasan yang permanen dan stabil;
banyaknya pengaturan internal; serta menghasilkan keluaran yang seragam.

3. PERBANDINGAN KULTUR LOKAL DAN KULTUR BARAT DALAM


PARADIGMA OPA
Indonesia merupakan Negara adalah demokrasi. Dalam prakteknya,
selama 32 tahun dari pemerintahan orde baru hingga sekarang, demokrasi
Indonesia itu sangat berlawanan dengan birokrasi yang dijalankan di Indonesia.
Tiga puluh dua tahun adalah masa yang tidak sedikit untuk dapat
membentuk karakter masyarakat sebuah bangsa. Dampak pemerintahan yang telah
berjalan pada masa itu masih meninggalkan jejak-jejaknya dan terikat kuat oleh
para birokrat kita hingga pada era demokrasi ini. Contoh nyata yang masih dapat
kita rasakan adalah red-tape birokrasi, yaitu birokrasi yang berbelit-belit, KKN,
lamban, tidak sensitif terhadap kebutuhan rakyat, tidak efisien, prosedur yang
panjang dan rumit, sikap enggan melayani, tertutup, dan lain sebagainya. Hal itu
terjadi ketika birokrasi di Negara ini memiliki keberpihakan pada salah satu partai
politik (Golkar). Pada masa ini, Indonesia menerapkan Old Public Administration.
Terlihat dari pelaksanaan pemerintahan yang sentralistik dan kaku, fokus
pemerintahan pada pengiriman langsung dari pelayanan melalui lembaga resmi
resmi pemerintahokuskan pada tujuan tunggal, pelayanan publik terbaik diberikan
melalui organisasi hierarkis, dengan para manajer terutama berolahraga dari
puncak organisasi, nilai-nilai utama dari organisasi publik adalah efisiensi dan
rasionalitas, organisasi publik beroperasi sistem sebagai tertutup, keterlibatan
warga negara terbatas.
Red tape birokrasi ini jelas sangat bertentangan dengan sistem
pemerintahan Indonesia yang konon katanya adalah demokrasi. Apakah
demokrasi disini hanya digunakan pada sistem pemilihan umum?? Namun

Page | 10
kemudian dalam menjalankan tugasnya mereka masih menganut gaya
pemerintahan zaman orde baru??
Red Tape yaitu penyakit birokrasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pelayanan yang berbelit-belit, memakan waktu lama, meski sebenarnya bisa
diselesaikan secara singkat. Salah satu contoh red tape misalnya pengurusan surat
penelitian penghasilan yang harus berurusan dengan walinagari setempat. Padahal
hanya untuk meminta tanda tangan Pak Walinagari dan stempel kenagarian
membutuhkan waktu yang cukup lama dan berbelit-belit dalam pengurusannya
oleh birokrat kita.
Selain itu tentang korupsi. Korupsi juga masih terjadi pada saat sekarang
ini, malah semakin merajalela. Hal ini telah menjadi rahasia umum yaitu para
birokrat sering terlibat di dalamnya dan menjadi pelaku, baik yang sudah
diketahui maupun yang belum terungkap kasusnya. Jika moralitas tak kunjung
membaik, maka tujuan penyelengaraan pemerintahan pun tak kunjung tercapai.
Ketika dahulu semua lapisan masyarakat sangat berusaha untuk merubah
sistem pemerintahan yang sentralistik dan otoriter. Masyarakat sangat
menginginkan demokrasi yang baik, dimana salah satu penerapan yang telah
dilaksanakan adalah otonomi daerah merupakan wujud dari pemerintahan yang
demokrasi. Kewenagan yang dulu dipegang oleh pemerintah pusat, kini
dilimpahkan kepada pemerintahan daerah yang dianggap sebagai pemerintah yang
paling dekat aksesnya dengan rakyat dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun ketika otonomi ini sudah dijalankan, kemudian banyak pula terjadi
penyimpangan oleh pemerintah daerah itu sendiri. Seolah jika dahulu hanya pusat
saja yang bisa korupsi, tapi sekarang pejabat di tingkat daerah juga bisa ambil
bagian (korupsi).
Pokok masalah yang masih mengakar adalah karakter pemerintahan
sentralistik para birokrat yang menjalankan roda pemerintahan, atau disebut Old
Public Administration (OPA). Jika pola pikir yang terbentuk masih dalam
paradigma tersebut, maka sampai kapan pun sistem yang ada tak akan memberi
kemajuan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Page | 11
Begitu juga halnya dengan di struktur Barat, OPA masih kental
pengaruhnya terhadap barat. OPA yang cenderung sentralistik, otokratis dan kaku
cenderung berdampak pada Misalnya KKN, red-tape birokrasi, yaitu birokrasi
yang berbelit-belit, KKN, lamban, tidak sensitif terhadap kebutuhan rakyat, tidak
efisien, prosedur yang panjang dan rumit, sikap enggan melayani, tertutup, dan
lain sebagainya.

4. KRITIK (PERDEBATAN) TENTANG OPA


Paradigma OPA dikritik oleh paradigma NPM. Secara konseptual OPA
berbeda dengan NPM. NPM mengacu kepada sekelompok ide dan praktik
kontemporer untuk menggunakan pendekatan-pendekatan dalam sektor privat
(bisnis) pada organisasi sektor publik. NPM adalah suatu gerakan yang mencoba
menginjeksikan prinsip-prinsip organisasi sektor privat ke dalam organisasi
pemerintah. Pemerintahan yang kaku dan sentralistik sebagaimana yang dianut
oleh OPA harus diganti dengan pemerintahan yang berjiwa wirausaha dan
profitable.
Kritik terhadap The Old Public Administration
  Administrasi Publik bersifat tertutup dan keterlibatan masyarakat yang
sangat rendah.
   Efisiensi sebagai ukuran kerja dan bukannya responsiveness
   Model Administrasi bersifat top down dan hierarkis
  Bureaucratic Rational Choice sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan
   Bureaucratic Action yang menimbulkan red tape

2.2 NEW PUBLIC MANAGEMENT (1980-1990)


1. PERSPEKTIF HISTORIS NPM
Paradigma Paradigma Reinventing Government juga dikenal sebagai New
Public Management (NPM). Paradigma NPM melihat bahwa paradigma
manajemen terdahulu kurang efektif dalam memecahkan masah dalam

Page | 12
memberikan pelayanan kepada public. Setelah perkembangan Ilmu Administrasi
pada tahun 1980-an kemudian berkembang lagi menjadi New Public
Management khususnya di New Zealand,Australia, Inggris dan Amerika sebagai
akibat dari munculnya krisis kesejahteraan negara. Paradigma ini kemudian
menyebar secara luas khususnya ditahun 1990-an disebabkan adanya promosi dari
lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF, Sekretariat Negara
Persemakmuran dan kelompok- kelompok konsultan manajemen.
Paradigma NPM ini muncul disebabkan sejumlah kekuatan baik dinegara
maju maupun dinegara berkembang . Di negara maju memiliki perkembangan
dibidang ekonomi, social, politik dan lingkungan administrative secara bersama –
sama mendorong terjadinya perubhan radikal dalam sistem manajemen dan
Administrasi Publik. Sasaran utama dari perubahan yang diinginkan adalah
peningkatan cara pengelolaan pemerintah dan penyampaian pelayanan pada
masyarakat dengan penekanan pada efisiensi, ekonomi dan efektivitas.
Kemunculan NPM dinegara berkembang hampir sama dengan negara maju yang
dilatar belakangi oleh faktor- faktor krisis ekonomi dan keuangan, penyesuaian
struktur dan kondisional konteks manajemen dan administrasi Publik, serta
konteks politik bagi adanya reformasi.

2. KONSEP NPM

Dalam NPM menyediakan banyak pilihan untuk mencapai biaya yang


efektif dalm penyampaian barang public seperti adanya organisasi yang terpisah
untuk kebijakan dan implementasi, kontrak kerja , pasar internal, sub-kontrak dan
metode lainnya. NPM memiliki focus yang kuat terhadap organisasi internalnya
diman berusaha memperbaiki kinerja organisasi sektor public dengan metode
yang digunakan oleh sektor privat.
Karena itu Vigoda dalam Keban (2008: 36), menyatakan bahwa ada tujuh
prinsip-prinsip NPM, yaitu sebagai berikut :
a. Pemanfaatan manajemen professional dalam sector publik.
b. Penggunaan indicator kinerja.

Page | 13
c. Pergeseran perhatian ke unit-unit yang lebih kecil.
d. Pergeseran kompetisi yang lebih tinggi.
e. Penekanan gaya sector swasta pada penerapan manajemen.
f. Penekanan pada disiplin dan penghematan yang lebih tinggi dalam
penggunaan sumber daya.
NPM secara umum dipandang sebagai suatu pendekatan dalam
administrasi publik yang menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang
diperoleh dalam dunia manajemen bisnis dan disiplin lain untuk mendapatkan
efisiensi, efektivitas, kinerja pelayanan publik pada birokrasi modern.

ORIENTASI NPM
NPM ini telah mengalami berbagai perubahan orientasi menurut Ferlie,
Ashbuerner, Flizgerald dan Pettgrew dalam Keban (2008: 36), yaitu:
a. Orientasi The Drive yaitu mengutamakan nilai efisiensi dalam mengutamakan
nilai efisiensi dalam pengukuran kinerja.
b. Orientasi Downsizing and Dezentralization yaitu mengutamakan
penyedehanaan struktur, memperkaya fungsi dan mendelegasikan otoritas kapada
unit-unit yang lebih kecil agar dapat berfungsi secara cepat dan tepat.
c. Orientasi In search of Excellence yaitu mengutamakan kinerja optimal dengan
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
d. Orientasi public Service yaitu lebih menekankan pada kualitas, misi, dan
nilai-nilai yang hendak dicapai organisasi publik, memberikan perhatian yang
lebih besar kepada aspirasi, kebutuhan dan partisipasi “user” dan warga
masyarakat, memberikan otoritas yang lebih tinggi kepada pejabat yang dipilih
masyarakat, termasuk wakil-wakil mereka, menekankan social learning dalam
memberikan pelayanan publik dan penekanan pada evaluasi kinerja secara
berkesinambunga, partisipasi masyarakat dan akuntabilitas.

3. PERBANDINGAN KULTUR LOKAL DAN KULTUR BARAT DALAM


PARADIGMA NPM

Page | 14
Di dalam sistem pemerintahan dikenal istilah New Public Management
(NPM), yang konsepnya terkait dengan manajemen kinerja sektor publik, yang
mana pengukuran kinerja merupakan salah satu dari prinsip-prinsipnya. New
Public Management pada awalnya lahir di negara-negara maju di Eropa dan
Amerika. Di Inggris, meningkatnya tekanan atas pemerintah seputar masalah
ekonomi seperti pengangguran dan inflasi memaksa PM Margaret Thatcher
meresponnya dengan mereformasi sektor pemerintahan. NPM menjadi popular di
awal 1990-an tatkala diadopsi oleh administrasi Clinton di Amerika Serikat.
Namun, negara-negara berkembang juga sudah mulai menggunakan
konsep ini, begitu juga dengan Indonesia yang berusaha menerapkan paradigma
NPM tersebut, meski ada sikap pesimis dari berbagai pihak mengenai
kesanggupan penerapannya. Salah satu yang menonjol adalah adanya reformasi
birokrasi di Departemen Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan. Dalam
reformasinya, kedua instansi ini berfokus pada pilar-pilar yang menjadi pokok
perubahan birokrasi, yaitu: kelembagaan/organisasi, proses bisnis, sumber daya
manusia, serta prasarana dan sarana. Tidak salah lagi, bahwa upaya ini dilakukan
untuk memperbaiki standar pelayanan umum yang diberikan kepada publik.
Dalam reformasi birokrasinya, sebagai penerapan dari NPM, baik
Departemen Keuangan maupun Badan Pemeriksa Keuangan menggunakan
konsep Balanced Score Card, yaitu dengan membentuk strategy map dan key
performance indicators (KPI) sebagai standar dan alat pengukuran kinerja. Bisa
dikatakan bahwa dalam konsepnya kedua instansi ini sukses, hanya saja dalam
pelaksanaannya dirasa masih setengah hati, terlihat dari belum sinkronnya antara
program dengan strategi yang dibentuk, juga antara program dengan KPI, terlebih
pada anggarannya pada format DIPA. Hal ini saling berkaitan, karena money
follow functions. Ketika strategi, program beserta KPI nya terbentuk secara rapi,
maka tentunya anggaran akan mengikuti mekanisme tersebut.
NPM yang memang sukses diterapkan di Amerika Serikat, Kanada, Inggris
dan Seladia baru dan beberapa negara maju lainnya. Tetapi bagaimana bagaimana
penerapannya di negara berkembang?? Kenyataannya, banyak negara berkembang
termasuk Indonesia dan negara miskin, seperti di negara-negara Afrika yang gagal

Page | 15
menerapkan konsep NPM karena tidak sesuai dengan landasan ideology, politik,
ekonomi, dan social budaya negara yang bersangkutan. Akhirnya negara tersebut
tetap miskin dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kemajuan.
Terlepas dari apa yang terjadi pada kedua instansi pemerintahan tersebut,
dalam ranah yang lebih luas, NPM ini telah dicoba diterapkan juga pada
Pemerintahan Daerah, yaitu sejalan dengan penerapan otonomi daerah di
Indonesia mulai tahun 2004. Bisa dikatakan, bahwa penerapan NPM ini
memberikan dampak positif pada beberapa hal, misalnya peningkatan efisiensi
dan produktivitas kinerja pemerintahan daerah, yang pada akhirnya mampu
meningkatkan kualitas pelayanan publik. Hal ini dapat dipahami melalui salah
satu karakteristik NPM menurut Christopher Hoods, yaitu menciptakan
persaingan di sektor publik. Sehingga apa yang dilakukan oleh pemerintahan
daerah adalah berusaha bersaing untuk memberikan pelayanan yang berkualitas
kepada masyarakat, dan pada gilirannya, publiklah yang diuntungkan atas upaya
ini.

4. KRITIK/ PERDEBATAN TERHADAP NPM


Perspektif new public management memperoleh kritik keras dari banyak
pakar seperti Wamsley & Wolf (1996), Box (1998), King & Stivers (1998),
Bovaird & Loffler (2003), dan Denhardt & Denhardt (2003). Mereka
memandang bahwa perspektif ini, seperti halnya perspektif old public
administration, tidak hanya membawa teknik administrasi baru namun juga
seperangkat nilai tertentu. Masalahnya terletak pada nilai-nilai yang dikedepankan
tersebut seperti efisiensi, rasionalitas, produktivitas dan bisnis karena dapat
bertentangan dengan nilai-nilai kepentingan publik dan demokrasi.
Jika pemerintahan dijalankan seperti halnya bisnis dan pemerintah berperan
mengarahkan tujuan pelayanan publik maka pertanyaannya adalah siapakah
sebenarnya pemilik dari kepentingan publik dan pelayanan publik? Atas dasar
pemikiran tersebut Denhardt & Denhardt memberikan kritik terhadap perspektif
new public management sebagaimana yang tertuang dalam kalimat “in our rush
to steer, perhaps we are forgetting who owns the boat.”.

Page | 16
Menurut Denhardt & Denhardt, karena pemilik kepentingan publik yang
sebenarnya adalah masyarakat maka administrator publik seharusnya memusatkan
perhatiannya pada tanggung jawab melayani dan memberdayakan warga negara
melalui pengelolaan organisasi publik dan implementasi kebijakan publik.
Perubahan orientasi tentang posisi warga negara, nilai yang dikedepankan, dan
peran pemerintah ini memunculkan perspektif baru administrasi publik yang
disebut sebagai new public service.
Warga negara seharusnya ditempatkan di depan, dan penekanan tidak
seharusnya membedakan antara mengarahkan dan mengayuh tetapi lebih pada
bagaiamana membangun institusi publik yang didasarkan pada integritas dan
responsivitas. Pada intinya, perspektif baru ini merupakan “a set of idea about the
role of public administration in the governance system that place public service,
democratic governance, and civic engagement at the center.”

2.3 NEW PUBLIC SERVICES (1990- sekarang)


1. PERSPEKTIF HISTORIS
New Public Service merupakan perkembangan lebih lanjut dari New Public
Manajemen pada 1990-an yaitu setelah Administrasi publik yang menggunakan
konsep pemerintahan yang efisien dengan banyak pilihan untuk mencapainya
kemudian Administrasi berkembang menjadi lebih inovatif .
Secara praktek, gerakan manajerialis memperoleh pengaruh besar dalam
reformasi administrasi publik di berbagai negara maju, seperti Selandia Baru,
Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Di Inggris, reformasi administrasi publik
dijalankan sejak masa PM Margaret Thatcher. Dukungan intelektual dalam
gerakan ini di Inggris tampak dari karya Emmanual Savas dengan
“Privatization”nya, Normann Flynn dengan “Public Sector Management”nya. Di
Amerika Serikat, gerakan ini memperoleh popularitas besar berkat karya terkenal
David Osborne dan Ted Gaebler, Reinventing Government. Gerakan ini
menyebar ke seluruh dunia sehingga menjadi inspirasi utama di banyak negara

Page | 17
dalam mereformasi administrasi publik baik dengan melakukan privatisasi gaya
Inggris atau dengan gerakan mewirausahakan birokrasi gaya Amerika Serikat.
Pada tahun 2003, atau lebih kurang sepuluh tahun kemudian muncul lagi
paradigma baru dalam administrasi publik yaitu New Public Service oleh J.V
Denhardt & R.B. Denhardt (2003). Keduanya menyarankan untuk
meninggalkan prinsip administrasi klasik atau Old Public Administration dan
Reinventing Government atau New Public Manajement, dan beralih ke Prinsip
New Public Service. Menurut Denhart dalam Pasalong (2007:35), berjudul “The
New Public Service : Seving, not Stering”. Pada halaman pendahuluan
menyatakan NPS lebih diarahkan pada democracy, pride and citizen dari pada
market, competition and customers seperti sector privat. Beliau menyatakan
“public servants do not deliver customers service, they deliver democracy”. Oleh
sebab itu nilai-nilai demokrasi, kewarganegaraan dan pelayanan untuk
kepentingan publik sebagai normamendasar lapangan administasri publik.

2. KONSEP NEW PUBLIC SERVICES


Menurut Denhardt dan Denhardt, karena pemilik kepentingan publik
yang sebenarnya adalah masyarakat maka administrator publik seharusnya
memusatkan perhatiannya pada tanggung jawab melayani dan memberdayakan
warga negara melalui pengelolaan organisasi publik dan implementasi kebijakan
publik. Perubahan orientasi tentang posisi warga negara, nilai yang dikedepankan,
dan peran pemerintah ini memunculkan perspektif baru administrasi publik yang
disebut sebagai New Public Service.
Perspektif new public service mengawali pandangannya dari pengakuan
atas warga negara dan posisinya yang sangat penting bagi kepemerintahan
demokratis. Jati diri warga negara tidak hanya dipandang sebagai semata
persoalan kepentingan pribadi (self interest) namun juga melibatkan nilai,
kepercayaan, dan kepedulian terhadap orang lain. Warga negara diposisikan
sebagai pemilik pemerintahan (owners of government) dan mampu bertindak
secara bersama-sama mencapai sesuatu yang lebih baik. Kepentingan public tidak
lagi dipandang sebagai agregasi kepentingan pribadi melainkan sebagai hasil

Page | 18
dialog dan keterlibatan publik dalam mencari nilai bersama dan kepentingan
bersama. Perspektif new public service menghendaki peran administrator publik
untuk melibatkan masyarakat dalam pemerintahan dan bertugas untuk melayani
masyarakat.

Perspektif new public service memberikan dalam administrasi publik.


Perubahan ini pada dasarnya menyangkut perubahan dalam cara memandang
masyarakat dalam proses pemerintahan, perubahan dalam memandang apa yang
dimaksud dengan kepentingan masyarakat, perubahan dalam cara bagaimana
kepentingan tersebut diselenggarakan, dan perubahan dalam bagaimana
administrator publik menjalankan tugas memenuhi kepentingan publik. Perspektif
ini mengedepankan posisi masyarakat sebagai warga negara dalam konteks
penyelenggaraan pemerintahan. Perspektif ini membawa upaya demokratisasi
administrasi publik. Pelayanan kepada masyarakat merupakan tugas utama bagi
administrator publik sekaligus sebagai fasilitator bagi perumusan kepentingan
publik dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan.

Denhardt (2003), The Public Services memuat ide pokok sebagai berikut;
1) Serve Citizen, Not Customers : Kepentingan publik adalah hasil dari sebuah
dialog tentang pembagian nilai dari pada kumpulan dari kepentingan individu.
Oleh karena itu aparatur dari pelayanan publik tidak hanya merespon keinginan
pelanggan, tetapi lebih focus kepada pembangunan kepercayaan dan koloborasi
dengan ddan antara warga Negara (citizen).
2) Seek the Public Interest: Administrasi Publik harus memberikan kontribusi untuk
membangun kebersamaan, membagi wawasan dari kepentingan publik, tujuannya
adalah tidak hanya untuk menemukan pemecahan yang cepat yang dikendalikan
oleh pilihan-pilihan individu. Tetapi lebih dari itu, tujuannya adalah kreasi dari
pembagian kepentingan dan tangguung jawab.
3) Value Citizenship over entrepeurship : Kepentingan publik adalah dimajukan
oleh komitmen aparatur pelayanan publik dan warga Negara untuk membuat

Page | 19
kontribusi lebih berarti dari pada oleh gerakan pada manajer swasta sebagai
bagian dari keuntungan publik yang menjadi milk Negara.
4) Think Strategically, Act Democracally : Pertemuan antara kebijakan dan program
agar bisa dicapai secara lebih efektif dan berhasil secara bertanggung jawab
mengikuti upaya bersama dan proses-proses kebersamaan.
5) Recognized that Accountability Is Not Simple: Aparatur pelayanan publik
seharusnya penuh perhatian lebih baik dari pada pasar. Mereka juga harus
mengikuti peraturan perundangan dan konstitusi, nilai-nilai masyarakat, norma
politik, standar professional dan kepentingan warga Negara.
6) Serve Rather than Steer : Semakin bertambah penting bagi pelayanan publik
untuk menggunakan andil, nilai kepemimpinan mendasar dan membantu warga
mengartikulasikan dan mempertemukan kepentingan yang menjadi bagian mereka
lebih dari pada berusaha untuk mengontrol aau mengendalikan masyarakat pada
petunjuk baru.
7) Value People, Not Just Productivity ; Organisasi publik dan kerangka kerjanya
dimana mereka berpartispasi dan lebih sukses dalam kegiatannya kalau mereka
mengoperasikan sesuai proses kebersamaan dan mendasarkan diri pada
kepemimpinan yang hormat pada semua orang.

3. PERBANDINGAN KULTUR LOKAL DAN KULTUR BARAT DALAM


PARADIGMA NPS
Dalam NPS ini memfokuskan pada peran pemerintah pada aspek
pelayanan public. Padahal urusan pemerintah tidak hanya berkaitan dengan
pelayanan public tetapi juga bersangkutan dalam pembangunan dan meningkatkan
kesejahteraan msyarakat. Di negara –negara maju atau berkembang seperti
amerika, inggris dan Selandia baru yang tidak lagi berkutat pada upaya percepatan
pembangunan dan peningkatan pertumbuhan karena negara-negar tersebut sudah
relative stabil maka pelanan public menjadi program prioritas yang strategis.
Namun negara-negara berkembang seperti diIndonesia pelayanan public
mengejar pertumbuhan dan meningkatkan pembangunan.

Page | 20
Bentuk penerapan NPS lainnya di Indonesia yaitu Citizen Charter (Kontrak
pelayanan). Citizen Charter ini telah diterapkan di Provinsi Yogyakarta tahun
2003. Citizen Charter ini harus melibatkan masyarakat, LSM, DPRD, Pers,
Tokoh masyarakat, dalam merumuskan pelayanan yang baik untuk masyarakat.
Studi kasusnya seperti yang telah diterapkan di Provinsi Yogyakarta ini yaitu
KTP. Dengan adanya citizen charter ini, masyaakat dapat memperoleh pelayanan
yang baik dalam pembuatan dan pengurusan KTP dalam bentuk biaya
administrasi yang gratis dan proses pembuatannya minimal 3 hari. Apabila pihak
pemberi layanan dalam pengurusan KTP ini melanggar kontrak pelayanan yang
telah ditetapkan bersama, maka sesuai kesepakatan pihak pihak pemberi layanan
akan dikenakan sanksi oleh pihak yang terlibat dalam kesepakatan Citizen
Charter.

4. PERDEBATAN / KRITIK DALAM NEW PUBLIC SERVICES


NPS adalah cara pandang baru dalam administrasi Negara yang mencoba
menutupi kelemahan dari paradigma OPA dan NPM. Ada beberapa kelemahan
dari NPS itu yaitu:
a. Pendekatan politik dalam administrasi Negara
Secara epistemologis bahwa NPS itu berakar dari filsafat politik tentang
demokrasi. Denhart dan Denhart menspsesifikasikan menjadi demokrasi
kewargaaan yang berorientasi pada kepentingan warga Negara secara
keseluruhan. Warga Negara memilki hak penuh memperoleh perhatian dari
pemerintah dan warga Negara berhak melibatkan dalam setiap proses
pemerintahan (politik dan pengambilan kebijakan).
Denhart dan Denhart berhasil mencari akar mengapa pemerintah harus
melayani bukan mengarahkan, mengapa pemerintah memberikan pelayanan
kepada masyarakat sebagai warga Negara bukan sebagai pelanggan, tetapi mereka
lupa bahwa pemikiran politik telah masuk dalam upaya pencarian administrasi
Negara - pelayanan public. Lebih jauh, Denhart dan Denhart telah mundur
beberapa langkah dalam paradigma tiga Administrasi Negara yaitu Administrasi
Negara sebagai ilmu politik. Padahal dengan NPS sebagai antitesa dari NPM

Page | 21
berarti mereka menyakini bahwa administrasi Negara telaha melewati paradigma
5. Sebenarnya Denhart dan Denhart tidak salah mencari akar paradigma NPS
dimana Administrasi Negara dipengaruhi oleh ilmu politik tetapi merewindnya
harus diwaspadai. Seharusnya Denhart dan Denhart dapat menkonstantakannya
dengan NPM. Misalnya, Denhart dan Denhart dapat meykinkan orang lain untuk
bertanggung jawab melayani masyarakat sebagai warga negara karena pada
awalnya warga negaralah yang mendirikan negara dan kemudian menjalankannya
serta terikat dengan aturan-aturan negara.

b. Standar ganda dalam mengkritik NPM


NPS berusaha untuk mengkritik NPM, tetapi tidak tegas karena kritikan
terhadap NPS hanyalah kritikan filosofis- Ideologis bukan kritik terhadap
pelaksaan NPM yang gagal di banyak negara. NPM memang sukses diterapkan di
Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Seladia baru dan beberapa negara maju
lainnya. Ttapi bagaimana bagaimana penerapannya di negara berkembang??
Kenyataannya, banyak negara berkembang termasuk Indonesia dan negara
miskin, seperti di negara-negara Afrika yang gagal menerapkan konsep NPM
karena tidak sesuai dengan landasan ideology, politik, ekonomi, dan social budaya
negara yang bersangkutan. Akhirnya negara tersebut tetap miskin dan tidak
menunjukkan adanya tanda-tanda kemajuan.
Denhart dan Denhart mengkritik NPS sebagai konsep yang salah dalam
memandang masyrakat yang dilayani. NPM memandang nasyarakat yang dilayani
sebagai customer sedangkan NPS menganggap masyarakat yang dilayani sebagai
warga negara. Namun Denhart dan Denhart lupa mencari akar ideologis, mengapa
NPM memiliki perspektif demikian dalam memandang subjek pelayanan?
Mengapa NPM menawarkan jurus privatisasi, liberalisasi, deregulasi, untuk
mendongkrak kinerja pemerintah?? Tidak bisa dipungkiri NPM adalah anak
ideologis neoliberalisme yang mencoba menerapkan mekanisme pasar dan
berupaya secara sistematis mereduksi peran pemerintah sehingga pemerintah
menurut konsep berada dibelakang kemudi kapal sedangkan kaplanya dijalankan
oleh oragan-organ di dalam pemerintah.

Page | 22
Dalam konsep NPS yang diajukan oleh Denhart dan Denhart bahwa nilai-
nilai neoliberalisme NPM tidak hilang secara otomatis. Ketika pemerintah
melayani masyarakat sebagai warga negara misalnya aspek privatisasi bisa saja
tetap berlangsung asalkan atas nama melayani kepnetingan warga negara bukan
pelanggan. Misalnya, sekotor pendidikan dapat diprivatisasikan asalakn
pendidikan tetap melayani masyarakat sebagai warga negara bukan pelanggan.

c. Aplikasi NPS masih diragukan


Prinsip NPS belum tentu bisa di aplikasikan pada semua tempat, situasi
dan kondisi. Administrasi negara sangat dipengaruhi oleh factor lingkunga
(Ideologi, politik, hukum, ekonomi, militer dan social bidaya) sehingga suatu
paradigma yang sukses di suatu tempat belum tentu berhasil diterapkan pada
temapt lain. Prinsip-prinsip NPS terlalu abstrak dan perlu dikonkritkan lagi.
Prinsip dasar NPS barangkali bisa diterima semua pihak namun bagaimana prinsip
itu bisa diimplementasikan sangat bergantung pada aspek lingkungan.
Lagi pula NPS terlalu memfokuskan pada peran pemerintah pada aspek
pelayanan public. Padahal urusan pemerintah tidak hanya berkaitan dengan
pelayanan public tetapi juga bersangkutan dalam pembangunan dan meningkatkan
kesejahetraan msyarakat Di negara –negara maju atau berkembang seperti
amerika, inggris dan Selandia baru yang tidak lagi berkutat pada upaya percepatan
pembangunan dan peningkatan pertumbuhan karena negara-negar tersebut sudah
relative stabil maka pelanan public menjadi program prioritas yang strategis.
Namun negara-negara berkembang pelayanan public mengejar pertumbuhan dan
meningkatkan pembangunan.
NPS merupakan paradigma yang berakar dari teori kewargaan, model
komunitas, dan masyarakat sipil. NPS memiliki perbedaan karakteristik OPA dan
NPM. NPS berusaha menutupi kekurangan-kekurangan pada paradigma OPA dan
NPM dengan menawarkan sejumlah opsi. Inti dari paradigma NPS adalah
meredeposisi peran negara dan pemerintah dalam memberikan pelayanan public
yang baik. Nalar politik sangat kental dalam mencari akar NPS. Namun NPS

Page | 23
sendiri alpa dalam mengkaji landasan fisiologis-ideologis sehingga NPM berbeda
dengan NPM.

2.4 GOOD GOVERNANCE


1. PERSPEKTIF HISTORIS GOOD GOVERNANCE
Pada tahun 1990-an , dampak penekanan yang tidak pada tempatnya terhadap
efisiensi dan ekonomis dalam pengelolaan dalam masalah –masalah public mulai
menyebabkan menurunnya penyampaian pelayanan public kepada masyarakat
khususnya menyangkut barang-barang yang bersifat public (public goods).
Konsep good governance bermula dari konsep governance oleh Stoker.
Menurut Stoker (1998), konsep governance merujuk kepada pengembangan dari
gaya memerintah dimana batas-batas antara dan diantara sector public dan sector
privat menjadi kabur (Ewalt,2001). Pengaburan batas-batas ini sejalan dengan
kebutuhan dari Negara modern untuk lebih melibatkan mekanisme politik dan
pengakuan akan pentingnya isu-isu menyangkut empati dan perasaan dari public
untuk terlibat sehingga memberikan kesempatan bagi adanya mobilisasi baik
secara social maupun politik (Stoker, 2004). Hal ini yang kemudian membuat
partisipasi melalui pembangunan jejaring antara pemerintah dan masyarakat
menjadi aspek yang sangat penting bagi keberlanjutan sebuah legitimasi kebijakan
(Stoker,2004).
Konsep governance ini kemudian berkembang menjadi good governance-
seperti yang kita kenal sekarang- dalam rangka membedakan implementasinya
anatara yang “baik” (good) dengan yang “buruk” (bad). Good governance
menurut Plumptre and Graham (1999) merupakan model daeri governance yang
mengarahkan kepada hasil ekonomi dan social sebagaimana dicari oleh
masyarakat
Dalam konsep Governance, peran pemerintah, sektor privat dan
masyarakat sama penting diman pemerintah berperan untuk menciptakan situasi
politi dan hukum yang kondusif, sektor privat berperan dalam menciptakan
lapangan pekerjaan dan pendapatan, kemudian masyarakat berperan dalam
memfasilitasi interaksi secara social dan politik bagi mobilitas individu atau

Page | 24
kelompok- kelompok masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi,
social dan politik.

2. KONSEP GOOD GOVERNANCE


Pengertian dari good governance dapat dilihat dari pemahaman yang dimiliki
baik oleh IMF maupun World Bank yang melihat Good Governance sebagai
sebuah cara untuk memperkuat “kerangka kerja institusional dari pemerintah”
(Bappenas,2002). Hal ini menurut mereka berarti bagaimana memperkuat aturan
hukum dan prediktibilitas serta imparsialitas dari penegakannya (Bappenas,2002).
Ini juga berarti mencabut akar dari korupsi dan aktivitas-aktivitas rent seeking,
yang dapat dilakukan melalui transparansi dan aliran informasi serta menjamin
bahwa informasi mengenai kebijakan dan kinerja dari institusi pemerintah
dikumpulkan dan diberikan kepada masyarakat secara memadai sehingga
masyarakat dapat memonitor dan mengawasi manajemen dari dana yang berasal
dari masyarakat (Bappenas, 2002). Pengertian ini sejalan dengan pendapat
Bovaird and Loffler (2003) yang mengatakan bahwa good governance mengusung
sejumlah isu seperti : keterlibatan stakeholder; transparansi; agenda kesetaraan
(gender; etnik; usia; agama; dan lainnya); etika dan perilaku jujur; akuntabilitas;
serta keberlanjutan.

Berdasarkan pengertian di atas, good governance memiliki sejumlah cirri sebagai


berikut (Bappenas, 2002) :
 Akuntabel, artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus disertai
pertanggung jawabannya.
 Transparan, artinya harus tersedia informasi yang memadai kepada masyarakat
terhadap proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan.
 Responsif, artinya dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus
mampu melayani semua stakeholder.
 Setara dan inklusif, artinya seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali harus
memperoleh kesempatan dalam proses pembuatan dan pelaksanaan sebuah
kebijakan.

Page | 25
 Efektif dan efisien, artinya kebijakan dibuat dan dilaksanakan dengan
menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang tersedia dengan cara yang terbaik.
 Mengikuti aturan hokum, artinya dalam proses pembuatan dan pelaksanaan
kebijakan membutuhkan kerangka hokum yang adil dan ditegakkan.
 Partisipatif, artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus membuka ruang
bagi keterlibatan banyak actor.
 Berorientasi pada consensus (kesepakatan, artinya pembuatan dan pelaksanaan
kebijakan harus merupakan hasil kesepakatan bersama diantara para actor yang
terlibat.

3. PERBANDINGAN DAN KRITIKAN KULTUR LOKAL DAN KULTUR


BARAT DALAM PARADIGMA GOOD GOVERNANCE
Dalam penerapannya Good Governance tidak cocok diterapkan di Indonesia,
karena beberapa hal, yaitu:
a. Ide yang menonjol dari Good Governane adalah justru demokrasi liberal dan
kapitalisme sebagaimana yang diterapkan dalam kultur barat sedangkan di
Indonesia itu sendiri menganut Demokrasi pancasila. Hal itu terdapat
perbandingan yang signifikan dari Ideologi yang dianut antara kultur barat dan
kultur local di Indonesia.
b. Adanya perilaku predator (pencurian sumber daya lewat kontrak)
Pemerintah harus bekerja sama dengan privat (swasta). Kontrak dengan
privat ini terlihat dalam kegiatan menghibahkan saham dari pihak swasta untuk
memperbaiki Negara Indonesia. Sewaktu privat menanamkan sahamnya, secara
tidak langsung pihak privat mencuri sumber daya.
c. Distribusi otonomi kekuasaan state, privat dan society tidak memecahkan
permasalahan Negara karena kesejahteraan rakyat tidak bisa dijamin lewat
pendistribusian kekuasaan Negara pada mekanisme pasar. Institusi akan lemah
karena penyurutan atutan dan kekuatan. Misalnya, PLN yang telah di
privatisasikan. Dalam hal ini, privatisasi PLN ini bertujuan agar listrik dapat
dinikmati oleh masyarakat Indonesia, namun pada kenyataannya setelah

Page | 26
diprivatisasikan, PLN malah menaikkan biaya listrik sehingga beberapa
massyarakat kalangan bawah di Indonesia tidak dapat menikmati listrik.

2.5 SOUND GOVERNANCE


1. PERSPEKTIF HISTORIS
Setelah Good Governance berhasil mengurangi kesenjangan di tingkat
domestik, Ada beberapa pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu
diperhatikan yaitu:

1. Lantas bagaimana dengan kesenjangan internasional?


2. Bila Good Governance telah berhasil mengadilkan distribusi kekuasaan
dan dana di tingkat lokal, apakah hal yang sama juga telah terjadi di
tingkatan global?
3. Bila orang miskin di negara berkembang telah memiliki media untuk
bernegosiasi dengan orang kaya, apakah negara-negara miskin telah
memiliki media yang sama?
4. Berbagai prinsip ideal Good Governance, apakah juga sudah
diimplementasikan dalam tataran internasional?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebutlah yang mengilhami Ali


Farazmand (2004) dalam menggagas konsep Sound Governance yang sekaligus
membuka arah baru bagi pembangunan global ke depan. Setelah Good
Governance berhasil menginklusifkan hubungan si kaya dan si miskin di tingkat
nasional, maka fase berikutnya adalah menginklusifkan hubungan negara kaya
dengan negara miskin melalui agenda Sound Governance.
Sound Governance hadir untuk melengkapi kegagalan konsep Good
Governance yang sudah berlaku selama ini. Sound Governance melihat bahwa
upaya merestrukturisasi pola relasi pemerintah, swasta dan masyarakat secara
domestik dengan mengabaikan peran aktor internasional adalah pengingkaran atas
realitas global. Dampak dari pengingkaran ini adalah banyaknya variabel, yang
sebenarnya sangat penting, tidak masuk ke dalam hitungan. Variabel yang absen

Page | 27
itu adalah kearifan lokal (akibat hegemoni terma ‘Good’ oleh Barat) dan dampak
dari kekuatan kooptatif internasional. Ruang kosong inilah yang coba diisi oleh
sebuah paradigma baru yang di sebut Sound Governance.
Sepuluh tahun lalu di depan Konferensi PBB, Presiden Tanzania Julius K.
Nyerere, dengan lantang telah mengkritik habis-habisan Good Governance yang
dikatakanya sebagai konsep imperialis dan kolonialis. Good Governance hanya
akan mengerdilkan struktur negara berkembang, sementara kekuatan bisnis dunia
makin membesar. Terlepas dari benar salahnya kritik sang Presiden, tapi
gugatannya terhadap pengaruh struktur global terhadap reformasi pemerintahan
inilah yang mengilhami Farazmand untuk tidak hanya terfokus pada tiga aktor
(pemerintah, pasar dan civil society) tetapi juga kekuatan internasional.

2. KONSEP TENTANG SOUND GOVERNANCE


Kata “Sound” menggantikan “Good” adalah juga dalam rangka
penghormatan terhadap kenyataan keragaman (diversity). Saat istilah “Good”
yang dipakai maka didalamnya terjadi pemaksaan standar nilai. Berbagai proyek
dari World Bank, ADB dan UNDP tentang GG juga telah memiliki alat ukur
matematis tentang indikator “Good”.
Konsep “Sound” itu bisa diartikan layak, pantas atau ideal dalam
konteksnya. Dalam pepatah Jawa disebut empan papan. SG pada prinsipnya juga
memberikan ruang bagi tradisi atau invoasi lokal tentang bagaimana negara dan
pemerintahan harus ditata, sesuai dengan kebiasaan, budaya dan konteks lokal.
Tentu ukuran universal tentang kesejahteraan rakyat dan penghormatan hak dasar
harus tetap ditegakkan.
Sound Governance (tata pemerintahan yang layak) adalah ide yang masih
baru dan belum bisa dibilang matang. Tetapi setidaknya ia telah membuat tuduhan
kritik tanpa solusi menjadi tak lagi beralasan. Sehingga masih banyak ruang untuk
berkreasi dan berkontribusi bagi intektual-intektual muda negeri ini. Ia memang
tidak dimunculkan murni dari bangsa ini, tetapi ia juga bukan merupakan wajah
baru dari dominasi dunia barat yang selama ini menghegemoni seperti halnya GG.
SG adalah konsep tata pemerintahan yang santun secara epistimologis. Karena ia

Page | 28
membuka ruang dialog yang sangat luas bagi keragaman ide dan praktek tentang
makna demokrasi untuk muncul kepermukaan.
Formula dasar Sound Governance adalah empat aktor lima komponen.
Empat aktor sudah diketahui, yaitu
a. membangun inklusifitas relasi politik antara Negara.
b. civil society
c. bisnis;
d. kekuatan internasional yang mencakup kerjasama global, organisasi dan
perjanjian internasional.

Sedangkan lima komponen Sound Governance adalah


a. Reformasi struktur
Struktur adalah sebuah badan dari unsur-unsur pokok, aktor, ketentuan,
peraturan, prosedur, keputusan-pembuatan kerangka kerja dan sumber-sumber
berwenang bahwa sanksi atau mengesahkan proses pemerintahan. Ini perwujudan
struktur yang dibentuk dan menjalankan baik secara vertikal dan horizontal dan
dipengaruhi oleh banyak faktor internal dan eksternal, lokal dan internasional dan
memaksa.
Proses menjelaskan bagaimana tata kelola pemerintahan bekerja,
sedangkan struktur mendefinisikan dan memberi petunjuk untuk proses. Tata
kelola yang baik memiliki struktur yang solid, informasi, legitimative, kompeten
dan dinamis dalam bentuk dan isi. Dalam pemerintahan umum, misalnya, para
pejabat penting, dipilih dan diangkat, para pemangku kepentingan, organisasi
nonpemerintah, badan masyarakat, media, masyarakat madani, sektor swasta, dan
lembaga dalam negeri dan internasional / global atau kekuasaan adalah bagian-
langsung atau tidak langsung-dari struktur pemerintahan dan begitu juga aturan
dan cara aturan yang ditetapkan.

b. Proses
Sound governance menyangkut tentang proses yang mengatur tentang
dengan interaksi dari seluruh elemen atau pihak yang terlibat dan begitu jugal

Page | 29
halnya dengan makna dari Good governane. Namun Sound Governance ini bukan
hanya membahas tentang proses internal maupun eksternal, tetapi juga memiliki
struktur.
c. nilai
d. kebijakan
e. manajemen.

Page | 30
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Semua paradigma di atas menunjukkan bahwa dalam dua dasawarsa
terakhir, telah terjadi perubahan orientasi administrasi publik yang sangat cepat.
Kegagalan yang dihadapi oleh suatu Negara, telah disadari sebagai akibat dari
ketidak beresan administrasi publik. Ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap
pengaruh administrasi publik semakin tinggi. Dapat dikatakan bahwaparadigmana
NPM orientasinya krpada kepuasan pelanggan sedangkan NPS orientasinya
kepada kualitas pelayanan publik. Sedangkan sound Governance (tata
pemerintahan yang layak) adalah ide yang masih baru dan belum bisa dibilang
matang. Tetapi setidaknya ia telah membuat tuduhan kritik tanpa solusi menjadi
tak lagi beralasan. Sehingga masih banyak ruang untuk berkreasi dan
berkontribusi bagi intektual-intektual muda negeri ini. SG adalah konsep tata
pemerintahan yang santun secara epistimologis. Karena ia membuka ruang dialog
yang sangat luas bagi keragaman ide dan praktek tentang makna demokrasi untuk
muncul kepermukaan
Menurut Esman (1991) menyarankan untuk menerapkan pluralistic
strategy” yang memperhitungkan kebhinekaan dalam setiap Negara sedang
berkembang. Strategi ini penting untuk menghindari prismatic contradiction yaitu
tumpang tindih antara sistem budaya tradisional (Negara berkembang) dengan
sistem budaya modern (Barat).

3.1 Saran
Semoga mahasiswa ilmu administrasi negara dapat mengembangkan
hasrat menulisnya melalui karya tulis seperti makalah ilmiah. Di samping untuk
mengeksplor ilmunya, karya tulis tersebut juga dapat membantu mahasiwa lain
dalam mempelajari ilmu administrasi. Oleh karena, diharapkan para mahasiswa
khususnya jurusan Ilmu Administrasi Negara tidak jenuh dalam menulis, dan

Page | 31
tetap semangat membuat karya tulis baik itu untuk memenuhi kewajiban dari
dosen maupun karena keinginan sendiri.

Page | 32
Daftar Pustaka

 [Link]
[Link]
 [Link]

Page | 33

Anda mungkin juga menyukai