Makalah Pengantar Ilmu Administrasi Publik
Makalah Pengantar Ilmu Administrasi Publik
Dosen Pembimbing :
Susi Ratnawati
Disusun oleh :
UNIVERSITAS BHAYANGKARA
Mungkin dalam makalah ini masih banyak kekurangan, maka dari itu
kriktik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah ini sangat
diharapkan agar pembuatan makalah selanjutnya bisa jadi lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan terimakasih atas kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini
berguna bagi kita semua.
penulis
Page | ii
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan
Bab II Pembahasan
Page | iii
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri dalam hal
pemenuhan kebutuhannnya sehingga melibatkan hubungan manusia yang satu
dengan lainnya ataupun hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Interaksi
antar manusia dalam pemenuhan kebutuhannya itulah yang melahirkan Ilmu
administrasi, dimana Administrasi sesuai dengan pengertian bahwa administrasi
adalah setiap kegiatan kerjasama antara dua orang atau lebih, berdasarkan
rasionalitas tertentu, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Prof. Dr.
Sondang P. Siagian). Proses perkembangannya Ilmu administrasi yang semakin
maju dan berkembang sehingga menyebabkan berkembangnya peradaban dari
manusia itu sendiri, dimana pengembangan dan caranya mempunyai seni masing-
masing karena dalam pengelolaan administrasi tidak akan sama antara manusia
yang satu dengan manusia yang lainnya, begitu juga antara Negara yang satu
dengan Negara lainnya. Misalnya, antara Negara Indonesia (kultur local) dan
Amerika serikat, Inggris, Eropa (kultur barat). Hal itu terjadi sesuai dengan situasi
dan kondisi lingkungan yang mempengaruhinya.
Dalam sejarah perkembangan ilmu administrasi yang telah maju,
penerapan dalam pelaksanaan administrasi negara, itu dapat dilihat dari beberapa
negara maju yang lebih dulu menerapkannya dalam pengelolaan administrasi
negara dengan ciri-ciri masing-masing negara yang menerapkannya yaitu
1. Kawasan Eropa daratan (administrasi continental) dengan ciri-ciri Feodalisme,
Sentralistik dan Monarkhi sentralistik, dimana lebih tepatnya ciri-ciri ini
merupakan pelaksanaan Administrasi pada saat Belanda menjajah negeri
Indonesia, dan ciri-ciri ini pun di dukung dengan Budaya Jawanisme (taat dan
setia yang membabi buta pada atasan dan tidak memikirkan pihak lain sama sekali
; Pramoedya Ananta Toer) yang memang sangat Feodal, sehingga Belanda dapat
bertahan lama di Indonesia, karena praktek yang dilakukan sangat sesuai dan
didukung oleh Budaya setempat.
Page | 4
2. Administrasi Publik di Inggris dengan ciri-ciri ; pada tatanan konvensi dan sistem
commonwealth
3. Administrasi Publik di Amerika Serikat (Anglo Saxon) dengan ciri-ciri ; Sistem
Federal, Kekuasan pusat terbatas, Pemisahan Eksekutif dengan legislatif dan
yudikatif.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan penulisan ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimana perspektif historis dari perkembangan paradigma Administrasi
Negara mulai OPA, NPM, NPS, Good Governance dan Sound Governance?
b. Bagaimana perdebatan dari masing-masing paradigma Administrasi Negara itu?
c. Bagaimana perbandingan antara kultur barat dan kultur local dari masing-masing
paradigma Administsrasi Negara tersebut?
Page | 5
1. 3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka tujuan penulisan ini yaitu:
a. Untuk mendeskripsikan tentang perspektif historis dari perkembangan paradigma
Administrasi Negara dari OPA, NPM, NPS, Goodl Governance dan Sound
Governance
b. Untuk mendeskripsikan Perdebatan dari masing-masing paradigma Administrasi
Negara itu.
c. Untuk mendeskripsikan Perbandingan antara kultur barat dan kultur local dalam
paradigma Administrasi Negara tersebut.
1. 4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini antara lain.
Page | 6
BAB II
PEMBAHASAN
Page | 7
ibadah (Plato) dan kemudian ditambah pengawasan daerah pedalaman/ pedesaan
oleh Aristoteles. Abad XIV – XVII (Kegelapan), Pada abad ini ilmu tidak
berkembang kareana adanya doktrin gereja. Abad XVIII – XIX (Pencerahan
Kembali/Renaisance)
Page | 8
melainkan menjadi sebuah ilmu tunggal dari adminstrasi yang melewati batas-
batas antara sektor privat dan sektor publik dimana dalam perkembangan
selanjutnya Ilmu Administrasi lebih memfokuskan pada organisasi pemerintahan.
Alasan- alasan yang menjadi dasar Ilmu Administrasi pada saat itu mayoritas
berasal dari 14 prinsip dasar dari Fayol.
Page | 9
2. KONSEP OLD PUBLIC ADMINISTRATION
Paradigma Old Public administration juga dapat dilihat melalui model
“old chestnuts” dari Peters (1996 dan 2001), dimana Administrasi Publik
berdasarkan pada Pegawai Negeri yang politis dan terinstitusionalisasi; organisasi
yang hierarkhis dan berdasarkan peraturan; penugasan yang permanen dan stabil;
banyaknya pengaturan internal; serta menghasilkan keluaran yang seragam.
Page | 10
kemudian dalam menjalankan tugasnya mereka masih menganut gaya
pemerintahan zaman orde baru??
Red Tape yaitu penyakit birokrasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pelayanan yang berbelit-belit, memakan waktu lama, meski sebenarnya bisa
diselesaikan secara singkat. Salah satu contoh red tape misalnya pengurusan surat
penelitian penghasilan yang harus berurusan dengan walinagari setempat. Padahal
hanya untuk meminta tanda tangan Pak Walinagari dan stempel kenagarian
membutuhkan waktu yang cukup lama dan berbelit-belit dalam pengurusannya
oleh birokrat kita.
Selain itu tentang korupsi. Korupsi juga masih terjadi pada saat sekarang
ini, malah semakin merajalela. Hal ini telah menjadi rahasia umum yaitu para
birokrat sering terlibat di dalamnya dan menjadi pelaku, baik yang sudah
diketahui maupun yang belum terungkap kasusnya. Jika moralitas tak kunjung
membaik, maka tujuan penyelengaraan pemerintahan pun tak kunjung tercapai.
Ketika dahulu semua lapisan masyarakat sangat berusaha untuk merubah
sistem pemerintahan yang sentralistik dan otoriter. Masyarakat sangat
menginginkan demokrasi yang baik, dimana salah satu penerapan yang telah
dilaksanakan adalah otonomi daerah merupakan wujud dari pemerintahan yang
demokrasi. Kewenagan yang dulu dipegang oleh pemerintah pusat, kini
dilimpahkan kepada pemerintahan daerah yang dianggap sebagai pemerintah yang
paling dekat aksesnya dengan rakyat dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun ketika otonomi ini sudah dijalankan, kemudian banyak pula terjadi
penyimpangan oleh pemerintah daerah itu sendiri. Seolah jika dahulu hanya pusat
saja yang bisa korupsi, tapi sekarang pejabat di tingkat daerah juga bisa ambil
bagian (korupsi).
Pokok masalah yang masih mengakar adalah karakter pemerintahan
sentralistik para birokrat yang menjalankan roda pemerintahan, atau disebut Old
Public Administration (OPA). Jika pola pikir yang terbentuk masih dalam
paradigma tersebut, maka sampai kapan pun sistem yang ada tak akan memberi
kemajuan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Page | 11
Begitu juga halnya dengan di struktur Barat, OPA masih kental
pengaruhnya terhadap barat. OPA yang cenderung sentralistik, otokratis dan kaku
cenderung berdampak pada Misalnya KKN, red-tape birokrasi, yaitu birokrasi
yang berbelit-belit, KKN, lamban, tidak sensitif terhadap kebutuhan rakyat, tidak
efisien, prosedur yang panjang dan rumit, sikap enggan melayani, tertutup, dan
lain sebagainya.
Page | 12
memberikan pelayanan kepada public. Setelah perkembangan Ilmu Administrasi
pada tahun 1980-an kemudian berkembang lagi menjadi New Public
Management khususnya di New Zealand,Australia, Inggris dan Amerika sebagai
akibat dari munculnya krisis kesejahteraan negara. Paradigma ini kemudian
menyebar secara luas khususnya ditahun 1990-an disebabkan adanya promosi dari
lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF, Sekretariat Negara
Persemakmuran dan kelompok- kelompok konsultan manajemen.
Paradigma NPM ini muncul disebabkan sejumlah kekuatan baik dinegara
maju maupun dinegara berkembang . Di negara maju memiliki perkembangan
dibidang ekonomi, social, politik dan lingkungan administrative secara bersama –
sama mendorong terjadinya perubhan radikal dalam sistem manajemen dan
Administrasi Publik. Sasaran utama dari perubahan yang diinginkan adalah
peningkatan cara pengelolaan pemerintah dan penyampaian pelayanan pada
masyarakat dengan penekanan pada efisiensi, ekonomi dan efektivitas.
Kemunculan NPM dinegara berkembang hampir sama dengan negara maju yang
dilatar belakangi oleh faktor- faktor krisis ekonomi dan keuangan, penyesuaian
struktur dan kondisional konteks manajemen dan administrasi Publik, serta
konteks politik bagi adanya reformasi.
2. KONSEP NPM
Page | 13
c. Pergeseran perhatian ke unit-unit yang lebih kecil.
d. Pergeseran kompetisi yang lebih tinggi.
e. Penekanan gaya sector swasta pada penerapan manajemen.
f. Penekanan pada disiplin dan penghematan yang lebih tinggi dalam
penggunaan sumber daya.
NPM secara umum dipandang sebagai suatu pendekatan dalam
administrasi publik yang menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang
diperoleh dalam dunia manajemen bisnis dan disiplin lain untuk mendapatkan
efisiensi, efektivitas, kinerja pelayanan publik pada birokrasi modern.
ORIENTASI NPM
NPM ini telah mengalami berbagai perubahan orientasi menurut Ferlie,
Ashbuerner, Flizgerald dan Pettgrew dalam Keban (2008: 36), yaitu:
a. Orientasi The Drive yaitu mengutamakan nilai efisiensi dalam mengutamakan
nilai efisiensi dalam pengukuran kinerja.
b. Orientasi Downsizing and Dezentralization yaitu mengutamakan
penyedehanaan struktur, memperkaya fungsi dan mendelegasikan otoritas kapada
unit-unit yang lebih kecil agar dapat berfungsi secara cepat dan tepat.
c. Orientasi In search of Excellence yaitu mengutamakan kinerja optimal dengan
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
d. Orientasi public Service yaitu lebih menekankan pada kualitas, misi, dan
nilai-nilai yang hendak dicapai organisasi publik, memberikan perhatian yang
lebih besar kepada aspirasi, kebutuhan dan partisipasi “user” dan warga
masyarakat, memberikan otoritas yang lebih tinggi kepada pejabat yang dipilih
masyarakat, termasuk wakil-wakil mereka, menekankan social learning dalam
memberikan pelayanan publik dan penekanan pada evaluasi kinerja secara
berkesinambunga, partisipasi masyarakat dan akuntabilitas.
Page | 14
Di dalam sistem pemerintahan dikenal istilah New Public Management
(NPM), yang konsepnya terkait dengan manajemen kinerja sektor publik, yang
mana pengukuran kinerja merupakan salah satu dari prinsip-prinsipnya. New
Public Management pada awalnya lahir di negara-negara maju di Eropa dan
Amerika. Di Inggris, meningkatnya tekanan atas pemerintah seputar masalah
ekonomi seperti pengangguran dan inflasi memaksa PM Margaret Thatcher
meresponnya dengan mereformasi sektor pemerintahan. NPM menjadi popular di
awal 1990-an tatkala diadopsi oleh administrasi Clinton di Amerika Serikat.
Namun, negara-negara berkembang juga sudah mulai menggunakan
konsep ini, begitu juga dengan Indonesia yang berusaha menerapkan paradigma
NPM tersebut, meski ada sikap pesimis dari berbagai pihak mengenai
kesanggupan penerapannya. Salah satu yang menonjol adalah adanya reformasi
birokrasi di Departemen Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan. Dalam
reformasinya, kedua instansi ini berfokus pada pilar-pilar yang menjadi pokok
perubahan birokrasi, yaitu: kelembagaan/organisasi, proses bisnis, sumber daya
manusia, serta prasarana dan sarana. Tidak salah lagi, bahwa upaya ini dilakukan
untuk memperbaiki standar pelayanan umum yang diberikan kepada publik.
Dalam reformasi birokrasinya, sebagai penerapan dari NPM, baik
Departemen Keuangan maupun Badan Pemeriksa Keuangan menggunakan
konsep Balanced Score Card, yaitu dengan membentuk strategy map dan key
performance indicators (KPI) sebagai standar dan alat pengukuran kinerja. Bisa
dikatakan bahwa dalam konsepnya kedua instansi ini sukses, hanya saja dalam
pelaksanaannya dirasa masih setengah hati, terlihat dari belum sinkronnya antara
program dengan strategi yang dibentuk, juga antara program dengan KPI, terlebih
pada anggarannya pada format DIPA. Hal ini saling berkaitan, karena money
follow functions. Ketika strategi, program beserta KPI nya terbentuk secara rapi,
maka tentunya anggaran akan mengikuti mekanisme tersebut.
NPM yang memang sukses diterapkan di Amerika Serikat, Kanada, Inggris
dan Seladia baru dan beberapa negara maju lainnya. Tetapi bagaimana bagaimana
penerapannya di negara berkembang?? Kenyataannya, banyak negara berkembang
termasuk Indonesia dan negara miskin, seperti di negara-negara Afrika yang gagal
Page | 15
menerapkan konsep NPM karena tidak sesuai dengan landasan ideology, politik,
ekonomi, dan social budaya negara yang bersangkutan. Akhirnya negara tersebut
tetap miskin dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kemajuan.
Terlepas dari apa yang terjadi pada kedua instansi pemerintahan tersebut,
dalam ranah yang lebih luas, NPM ini telah dicoba diterapkan juga pada
Pemerintahan Daerah, yaitu sejalan dengan penerapan otonomi daerah di
Indonesia mulai tahun 2004. Bisa dikatakan, bahwa penerapan NPM ini
memberikan dampak positif pada beberapa hal, misalnya peningkatan efisiensi
dan produktivitas kinerja pemerintahan daerah, yang pada akhirnya mampu
meningkatkan kualitas pelayanan publik. Hal ini dapat dipahami melalui salah
satu karakteristik NPM menurut Christopher Hoods, yaitu menciptakan
persaingan di sektor publik. Sehingga apa yang dilakukan oleh pemerintahan
daerah adalah berusaha bersaing untuk memberikan pelayanan yang berkualitas
kepada masyarakat, dan pada gilirannya, publiklah yang diuntungkan atas upaya
ini.
Page | 16
Menurut Denhardt & Denhardt, karena pemilik kepentingan publik yang
sebenarnya adalah masyarakat maka administrator publik seharusnya memusatkan
perhatiannya pada tanggung jawab melayani dan memberdayakan warga negara
melalui pengelolaan organisasi publik dan implementasi kebijakan publik.
Perubahan orientasi tentang posisi warga negara, nilai yang dikedepankan, dan
peran pemerintah ini memunculkan perspektif baru administrasi publik yang
disebut sebagai new public service.
Warga negara seharusnya ditempatkan di depan, dan penekanan tidak
seharusnya membedakan antara mengarahkan dan mengayuh tetapi lebih pada
bagaiamana membangun institusi publik yang didasarkan pada integritas dan
responsivitas. Pada intinya, perspektif baru ini merupakan “a set of idea about the
role of public administration in the governance system that place public service,
democratic governance, and civic engagement at the center.”
Page | 17
dalam mereformasi administrasi publik baik dengan melakukan privatisasi gaya
Inggris atau dengan gerakan mewirausahakan birokrasi gaya Amerika Serikat.
Pada tahun 2003, atau lebih kurang sepuluh tahun kemudian muncul lagi
paradigma baru dalam administrasi publik yaitu New Public Service oleh J.V
Denhardt & R.B. Denhardt (2003). Keduanya menyarankan untuk
meninggalkan prinsip administrasi klasik atau Old Public Administration dan
Reinventing Government atau New Public Manajement, dan beralih ke Prinsip
New Public Service. Menurut Denhart dalam Pasalong (2007:35), berjudul “The
New Public Service : Seving, not Stering”. Pada halaman pendahuluan
menyatakan NPS lebih diarahkan pada democracy, pride and citizen dari pada
market, competition and customers seperti sector privat. Beliau menyatakan
“public servants do not deliver customers service, they deliver democracy”. Oleh
sebab itu nilai-nilai demokrasi, kewarganegaraan dan pelayanan untuk
kepentingan publik sebagai normamendasar lapangan administasri publik.
Page | 18
dialog dan keterlibatan publik dalam mencari nilai bersama dan kepentingan
bersama. Perspektif new public service menghendaki peran administrator publik
untuk melibatkan masyarakat dalam pemerintahan dan bertugas untuk melayani
masyarakat.
Denhardt (2003), The Public Services memuat ide pokok sebagai berikut;
1) Serve Citizen, Not Customers : Kepentingan publik adalah hasil dari sebuah
dialog tentang pembagian nilai dari pada kumpulan dari kepentingan individu.
Oleh karena itu aparatur dari pelayanan publik tidak hanya merespon keinginan
pelanggan, tetapi lebih focus kepada pembangunan kepercayaan dan koloborasi
dengan ddan antara warga Negara (citizen).
2) Seek the Public Interest: Administrasi Publik harus memberikan kontribusi untuk
membangun kebersamaan, membagi wawasan dari kepentingan publik, tujuannya
adalah tidak hanya untuk menemukan pemecahan yang cepat yang dikendalikan
oleh pilihan-pilihan individu. Tetapi lebih dari itu, tujuannya adalah kreasi dari
pembagian kepentingan dan tangguung jawab.
3) Value Citizenship over entrepeurship : Kepentingan publik adalah dimajukan
oleh komitmen aparatur pelayanan publik dan warga Negara untuk membuat
Page | 19
kontribusi lebih berarti dari pada oleh gerakan pada manajer swasta sebagai
bagian dari keuntungan publik yang menjadi milk Negara.
4) Think Strategically, Act Democracally : Pertemuan antara kebijakan dan program
agar bisa dicapai secara lebih efektif dan berhasil secara bertanggung jawab
mengikuti upaya bersama dan proses-proses kebersamaan.
5) Recognized that Accountability Is Not Simple: Aparatur pelayanan publik
seharusnya penuh perhatian lebih baik dari pada pasar. Mereka juga harus
mengikuti peraturan perundangan dan konstitusi, nilai-nilai masyarakat, norma
politik, standar professional dan kepentingan warga Negara.
6) Serve Rather than Steer : Semakin bertambah penting bagi pelayanan publik
untuk menggunakan andil, nilai kepemimpinan mendasar dan membantu warga
mengartikulasikan dan mempertemukan kepentingan yang menjadi bagian mereka
lebih dari pada berusaha untuk mengontrol aau mengendalikan masyarakat pada
petunjuk baru.
7) Value People, Not Just Productivity ; Organisasi publik dan kerangka kerjanya
dimana mereka berpartispasi dan lebih sukses dalam kegiatannya kalau mereka
mengoperasikan sesuai proses kebersamaan dan mendasarkan diri pada
kepemimpinan yang hormat pada semua orang.
Page | 20
Bentuk penerapan NPS lainnya di Indonesia yaitu Citizen Charter (Kontrak
pelayanan). Citizen Charter ini telah diterapkan di Provinsi Yogyakarta tahun
2003. Citizen Charter ini harus melibatkan masyarakat, LSM, DPRD, Pers,
Tokoh masyarakat, dalam merumuskan pelayanan yang baik untuk masyarakat.
Studi kasusnya seperti yang telah diterapkan di Provinsi Yogyakarta ini yaitu
KTP. Dengan adanya citizen charter ini, masyaakat dapat memperoleh pelayanan
yang baik dalam pembuatan dan pengurusan KTP dalam bentuk biaya
administrasi yang gratis dan proses pembuatannya minimal 3 hari. Apabila pihak
pemberi layanan dalam pengurusan KTP ini melanggar kontrak pelayanan yang
telah ditetapkan bersama, maka sesuai kesepakatan pihak pihak pemberi layanan
akan dikenakan sanksi oleh pihak yang terlibat dalam kesepakatan Citizen
Charter.
Page | 21
berarti mereka menyakini bahwa administrasi Negara telaha melewati paradigma
5. Sebenarnya Denhart dan Denhart tidak salah mencari akar paradigma NPS
dimana Administrasi Negara dipengaruhi oleh ilmu politik tetapi merewindnya
harus diwaspadai. Seharusnya Denhart dan Denhart dapat menkonstantakannya
dengan NPM. Misalnya, Denhart dan Denhart dapat meykinkan orang lain untuk
bertanggung jawab melayani masyarakat sebagai warga negara karena pada
awalnya warga negaralah yang mendirikan negara dan kemudian menjalankannya
serta terikat dengan aturan-aturan negara.
Page | 22
Dalam konsep NPS yang diajukan oleh Denhart dan Denhart bahwa nilai-
nilai neoliberalisme NPM tidak hilang secara otomatis. Ketika pemerintah
melayani masyarakat sebagai warga negara misalnya aspek privatisasi bisa saja
tetap berlangsung asalkan atas nama melayani kepnetingan warga negara bukan
pelanggan. Misalnya, sekotor pendidikan dapat diprivatisasikan asalakn
pendidikan tetap melayani masyarakat sebagai warga negara bukan pelanggan.
Page | 23
sendiri alpa dalam mengkaji landasan fisiologis-ideologis sehingga NPM berbeda
dengan NPM.
Page | 24
kelompok- kelompok masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi,
social dan politik.
Page | 25
Efektif dan efisien, artinya kebijakan dibuat dan dilaksanakan dengan
menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang tersedia dengan cara yang terbaik.
Mengikuti aturan hokum, artinya dalam proses pembuatan dan pelaksanaan
kebijakan membutuhkan kerangka hokum yang adil dan ditegakkan.
Partisipatif, artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus membuka ruang
bagi keterlibatan banyak actor.
Berorientasi pada consensus (kesepakatan, artinya pembuatan dan pelaksanaan
kebijakan harus merupakan hasil kesepakatan bersama diantara para actor yang
terlibat.
Page | 26
diprivatisasikan, PLN malah menaikkan biaya listrik sehingga beberapa
massyarakat kalangan bawah di Indonesia tidak dapat menikmati listrik.
Page | 27
itu adalah kearifan lokal (akibat hegemoni terma ‘Good’ oleh Barat) dan dampak
dari kekuatan kooptatif internasional. Ruang kosong inilah yang coba diisi oleh
sebuah paradigma baru yang di sebut Sound Governance.
Sepuluh tahun lalu di depan Konferensi PBB, Presiden Tanzania Julius K.
Nyerere, dengan lantang telah mengkritik habis-habisan Good Governance yang
dikatakanya sebagai konsep imperialis dan kolonialis. Good Governance hanya
akan mengerdilkan struktur negara berkembang, sementara kekuatan bisnis dunia
makin membesar. Terlepas dari benar salahnya kritik sang Presiden, tapi
gugatannya terhadap pengaruh struktur global terhadap reformasi pemerintahan
inilah yang mengilhami Farazmand untuk tidak hanya terfokus pada tiga aktor
(pemerintah, pasar dan civil society) tetapi juga kekuatan internasional.
Page | 28
membuka ruang dialog yang sangat luas bagi keragaman ide dan praktek tentang
makna demokrasi untuk muncul kepermukaan.
Formula dasar Sound Governance adalah empat aktor lima komponen.
Empat aktor sudah diketahui, yaitu
a. membangun inklusifitas relasi politik antara Negara.
b. civil society
c. bisnis;
d. kekuatan internasional yang mencakup kerjasama global, organisasi dan
perjanjian internasional.
b. Proses
Sound governance menyangkut tentang proses yang mengatur tentang
dengan interaksi dari seluruh elemen atau pihak yang terlibat dan begitu jugal
Page | 29
halnya dengan makna dari Good governane. Namun Sound Governance ini bukan
hanya membahas tentang proses internal maupun eksternal, tetapi juga memiliki
struktur.
c. nilai
d. kebijakan
e. manajemen.
Page | 30
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Semua paradigma di atas menunjukkan bahwa dalam dua dasawarsa
terakhir, telah terjadi perubahan orientasi administrasi publik yang sangat cepat.
Kegagalan yang dihadapi oleh suatu Negara, telah disadari sebagai akibat dari
ketidak beresan administrasi publik. Ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap
pengaruh administrasi publik semakin tinggi. Dapat dikatakan bahwaparadigmana
NPM orientasinya krpada kepuasan pelanggan sedangkan NPS orientasinya
kepada kualitas pelayanan publik. Sedangkan sound Governance (tata
pemerintahan yang layak) adalah ide yang masih baru dan belum bisa dibilang
matang. Tetapi setidaknya ia telah membuat tuduhan kritik tanpa solusi menjadi
tak lagi beralasan. Sehingga masih banyak ruang untuk berkreasi dan
berkontribusi bagi intektual-intektual muda negeri ini. SG adalah konsep tata
pemerintahan yang santun secara epistimologis. Karena ia membuka ruang dialog
yang sangat luas bagi keragaman ide dan praktek tentang makna demokrasi untuk
muncul kepermukaan
Menurut Esman (1991) menyarankan untuk menerapkan pluralistic
strategy” yang memperhitungkan kebhinekaan dalam setiap Negara sedang
berkembang. Strategi ini penting untuk menghindari prismatic contradiction yaitu
tumpang tindih antara sistem budaya tradisional (Negara berkembang) dengan
sistem budaya modern (Barat).
3.1 Saran
Semoga mahasiswa ilmu administrasi negara dapat mengembangkan
hasrat menulisnya melalui karya tulis seperti makalah ilmiah. Di samping untuk
mengeksplor ilmunya, karya tulis tersebut juga dapat membantu mahasiwa lain
dalam mempelajari ilmu administrasi. Oleh karena, diharapkan para mahasiswa
khususnya jurusan Ilmu Administrasi Negara tidak jenuh dalam menulis, dan
Page | 31
tetap semangat membuat karya tulis baik itu untuk memenuhi kewajiban dari
dosen maupun karena keinginan sendiri.
Page | 32
Daftar Pustaka
[Link]
[Link]
[Link]
Page | 33