PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
DESKRIPSI KEBUTUHAN HOTS ASSESSMENT PADA
PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN METODE INKUIRI
TERBIMBING
Nama : Lia Novita Sari
NIM :
Mata Kuliah : Penelitian Tindakan Kelas
Dosen Pengampuh : Taufiq [Link]
Program Studi Pendidikan Fisika
Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sriwijaya
2016
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan keterampilan berfikir tingkat tinggi telah menjadi salah
satu prioritas dalam pembelajaran fisika. Seperti yang diharapkan pada
Kompetensi Inti Pengetahuan Kurikulum 2013 menjelaskan bahwa peserta
didik diharapkan mampu memahami, menerapkan, dan menganalisis
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan
rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan. Begitu juga pada Kompetensi
Inti Keterampilan peserta didik diharapkan mampu mengolah, menalar, dan
menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan
dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan
kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Evaluasi atau penilaian merupakan kegiatan pembelajaran yang
bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Dari
data yang diperoleh dibuat klasifikasi, diolah, dan ditemukan hubungan-
hubungan yang spesifik. Kegiatan dapat dirancang oleh guru, melalui situasi
yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga peserta didik melakukan
aktifitas antara lain: menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori,
menyimpulkan, dan memprediksi atau mengestimasi dari diskusi atau praktik.
Hasil kegiatan mencoba dan mengasosiasi memungkinkan peserta didik
berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) ) hingga berpikir
metakognitif.
Pembelajaran fisika diharapkan peserta didik dapat mengembangkan
diri dalam berpikir. Peserta didik dituntut tidak hanya memiliki keterampilan
berpikir tingkat rendah atau lower order thinking skills, tetapi sampai pada
keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills ( HOTS).
Sehingga peserta didik harus terbiasa mengahadapi permasalahan yang
memerlukan higher order thinking skills. Karena HOTS adalah kemampuan
berfikir untuk memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek
situasi dan masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir,
mengingat, dan menganalisa informasi. Berpikir tingkat tinggi termasuk
kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang
dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang
benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidakkonsistenan
dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan
berpikir tingkat tinggi.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi, merupakan proses berpikir yang
tidak sekedar, menghafal dan menyampaikan kembali informasi yang
diketahui yang diperlukan dalam pembelajaran fisika. Seperti yang dijelaskan
(Emi Rofiah dkk; 2013), bahwa: Kemampuan berpikir tingkat tinggi
merupakan kemampuan menghubungkan, memanipulasi, dan mentransformasi
pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki untuk berpikir secara kritis
dan kreatif dalam upaya menentukan keputusan dan memecahkan masalah
pada situasi baru.
Proses pembelajaran saintifik dapat menggunakan metode Inkuiri
Terbimbing. Karena dengan metode Inkuiri Terbimbing, peserta didik terlibat
dalam kegiatan pembelajaran yang dirancang pada pengembangan
pemahaman tentang bagaimana pengetahuan ilmiah diperoleh dan kebiasaan
berpikir kritis. Seperti yang diungkapkan oleh, (Brickman dkk: 2009) bahwa
guided inquiry approach, we showed that students in our inquiry labs
demonstrated a significant improvement in science literacy skills and process
skills, consistent with the manner in which an average citizen would use
them. Dengan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan literasi sain dan
ketrampilan proses sain, dengan demikian inkuiri terbimbing dapat
meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis akan melakukan sebuah
penelitian tindakan kelas dengan judul penelitian Deskripsi Kebutuhan
Hots Assessment Pada Pembelajaran Fisika Dengan Metode Inkuiri
Terbimbing
1.2 Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan penjelasan masalah diatas, maka dapatlah diidentifikasi
beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut:
1) Apakah Guru Fisika dan siswa SMA Negeri 1 Kotagajah
memerlukan Instrumen Asesmen pada level HOTS
2) Bagaimana Guru Fisika dan siswa SMA Negeri 1 Kotagajah sudah
memahami metode Inkuiri,
2. Pembatasan Masalah
Mengingat waktu dan sarana yang digunakan terbatas maka masalah
penelitian ini dibatasi hanya untuk meneliti:
1) Mendeskripsi kebutuhan hots assessment guru dan siswa pada
pembelajaran fisika
2) Mendeskripsikan pengajaran guru yang menggunakan metode
inkuiri terbimbing
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka dapat
dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut: apakah 4 guru dan 30
siswa membutuhkan hots assesment pada pembelajaran fisika dan
menggunakan metode inkuiri terbimbing di SMA Negeri 1 Kotagajah.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penelitian adalah:
1) Mengetahui kebutuhan guru akan instrumen asesmen level ketrampilan
berpikir tingkat tinggi (HOTS).
2) Mengetahui kebutuhan siswa akan asesmen, yang dapat melatih siswa
dalam menjawab soal sampai pada level ketrampilan berpikir tingkat
tinggi (HOTS).
3) Menganalisis pelaksanaan pembelajaran dan kesulitan belajar fisika
siswa.
1.5 Manfaat Hasil Penelitian
Hasil studi lapangan yang dilakukan dapat bermanfaat, yaitu:
1) Memberikan kondisi nyata tentang instrumen asesmen fisika di SMA
Negeri 1 Kotagajah Lampung Tengah
2) Sebagai masukan kepada pihak sekolah untuk perbaikan instrumen
asesmen fisika di SMA Negeri 1 Kotagajah Lampung Tengah
3) Sebagai dasar untuk mengembangkan asesmen higher order thinking
skills (HOTS).
BAB 2
KAJIAN TEORI
2.1 HOTS
Keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dapat ditingkatkan, hasil
penelitian yang dilakukan Jefta Hendryarto dan Amaria (2013)
menunjukkan bahwa Penerapan model pembelajaran inkuiri dapat melatih
kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Ini dibuktikan dari tes hasil
belajar berpikir tingkat tinggi siswa.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dapat ditingkatkan, dari
hasil penelitian yang dilakukan Madhuri, dkk. (2012) menjelaskan bahwa
pembelajaran berbasis pendekatan inkuiri lebih baik dibandingkan dengan
pendekatan konvensional untuk meningkatkan keterampilan berpikir
tingkat tinggi pada peserta didik.
Selanjutnya Jensen, dkk. (2014), berpendapat bahwa banyak
pendidik yang gagal karena hanya memberikan pertanyaan tentang isi
untuk mengetahui keterampilan berpikir siswa, untuk itu harus dibuat
pertanyaan yang benar-benar mengukur keterampilan berpikir tingkat
tinggi. penilaian tingkat tinggi mungkin faktor kunci dalam mendorong
siswa untuk secara efektif memperoleh pemahaman yang mendalam
mengenai materi, pemahaman yang mendukung, tidak hanya aplikasi,
analisis dan evaluasi, tetapi juga tentang [Link] ini karena penyajian
materi melalui tahap-tahap inkuiri terbimbing, sehingga siswa secara
langsung terlibat dalam pembelajaran. Siswa berusaha sendiri dengan
bimbingan seorang guru untuk menemukan konsep. Pembelajaran berbasis
Inkuiri, dimana siswa terlibat aktif melakukan percobaan sendiri,
mengamati, mencatat, mengolah data, menyimpulkan hasil eksperimen
dan membuat laporan.
2.2 ASSESMENT
2.3 INKUIRI TERBIMBING
Inkuiri merupakan cara terbaik untuk mencapai literasi sains karena
mereka memberikan siswa dengan kesempatan untuk mendiskusikan dan
perdebatan gagasan ilmiah, siswa ditantang untuk memecahkan suatu
masalah tertentu dengan observasi adalah kesempatan untuk membuat dan
menguji prediksi mereka melalui eksperimen yang direncanakan seperti
yang jelaskan oleh (Crawford:2007); Teaching science as inquiry must be
both feasible and viable in the mind of the teacher. Teachers need to see
that things can work, that it is possible to carry out inquiry-based
instruction in actual classrooms; and be able to evaluate their current
beliefs for effectiveness (e.g., to see that children may not develop
understandings of scientific inquiry and of scientific concepts by a simple
transmission approach). This study raises questions about providing ways
to assess students in varying settings, which can inform teachers about the
effectiveness and appropriateness of using inquiry based approaches.
Tujuan utama pembelajaran berbasis inkuiri adalah
mengembangkan keinginan dan motivasi peserta didik untuk mempelajari
prinsip dan konsep sains, mengembangkan keterampilan ilmiah peserta
didik, sehingga mampu bekerja seperti layaknya seorang ilmuwan dan
membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan.
Pembelajaran metode inquiry membangkitkan motivasi bagi peserta didik,
untuk mendorong higher order thinking seperti hasil penelitian, Caitriona
Rooney (2012); 1) Motivation is key to encouraging higher order thinking.
2) Inquiry based learning helps to encourage higher order thinking. 3) The
students enjoyed inquiry based learning more than traditional didactic
approaches.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subyek penelitian adalah 30 orang siswa kelas X dan 4 orang guru
fisika.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Neggeri 1 Kotagajah Lampung
Tengah.
3. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tahun ajar 2014/2015 semester genap.
B. Sasaran Penelitian
Fokus penelitian ini menyangkut kebutuhan guru dan peserta didik akan
HOTS assessment pada pembelajaran fisika dengan metode inkuiri
terbimbing.
C. Desain Tindakan (langkah-langkah/skenario PTK)
1. Perencanaan
2. Tindakan
3. Pengamatan
4. Analisis
5. Refleksi
D. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data ini dilakukan oleh peneliti dengan
menggunakan angket analisis kebutuhan guru dan siswa.
E. Jenis Instrumen
F. Pelaksanaan Tindakan Dan Cara Pengamatan
G. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan dianalisis secara kualitatif
yaitu menganalisa data dengan cara menguraikan serta menghubungkan data
dan informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian.
H. Indikator Keberhasilan
DAFTAR PUSTAKA
Ellinawati.2010. Problem Solving Laboratory Penerapan Model praktikum
Sebagai Upaya untuk Memperbaiki Kualitas Pelaksanaan Praktikum
Fisika dasar. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010) 90-97.
Hanafiah Nanang dan Cucu Suhana. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung: refika ADITAMA.
Lestari, Ni Nyoman Sri Pengaruh. Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan
Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Fisika Bagi Siswa Kelas VII
SMP 1 Denpasar. Jurnal Pendidikan Fisika (2012) 90-97.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme
[Link]:Rajawali Pers.
Sardiman A.M.2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
LAMPIRAN
CURICULUM VITAE
Nama : Anugrah Ria Sari
NIM : 06111281419043
Tempat, tanggal lahir : Palembang, 27 Januari 1997
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jalan Sukorejo RT. 17 RW. 04 Nomor 2107
Riwayat Pendidikan
SDN 156 Palembang
SMP N 11 Palembang
SMA N 13 Palembang
Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sriwijaya