0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
368 tayangan12 halaman

Tokoh dan Dampak Reformasi Gereja

Reformasi gereja adalah gerakan perbaikan yang dipimpin tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan Yohanes Calvin untuk mengkritik penyimpangan Gereja Katolik Roma seperti penjualan indulgensi dan mengembalikan ajaran kepada Alkitab semata. Reformasi ini memunculkan berbagai mazhab Protestan dan memengaruhi perkembangan politik, sosial, dan keagamaan di Eropa.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
368 tayangan12 halaman

Tokoh dan Dampak Reformasi Gereja

Reformasi gereja adalah gerakan perbaikan yang dipimpin tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan Yohanes Calvin untuk mengkritik penyimpangan Gereja Katolik Roma seperti penjualan indulgensi dan mengembalikan ajaran kepada Alkitab semata. Reformasi ini memunculkan berbagai mazhab Protestan dan memengaruhi perkembangan politik, sosial, dan keagamaan di Eropa.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Pengertian Reformasi Gereja


Sehingga reformasi gereja merupakan sebuah upaya perbaikan tatanan kehidupanyang
didominasi oleh otokrasi gereja yang menyimpang. Reformasi gereja adalah sebuahupaya
perbaikan dan kembali pada ajaran gereja yang lurus, gerakan reformasi berupasikap kritis
terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pihak GerejaKatoliik pada waktu
itu terutama adanya penjualan surat pengampunan dosa
B. Tokoh Dalam Reformasi Geraja
1. Martin Luther (1483-1546)
Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, Jerman. Seorang tokoh yang
paling berpengaruh dalam gereja bahkan di kalangan Protestan setelah era Reformasi di mana
Luther merupakan salah satu tokoh utamanya. Luther membawa pembaharuan besar di Jerman.
Dalam persembunyian dia menerjemahkan Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa
Jerman.
Luther membawa pembaharuan besar di Jerman pada masa itu. Dalam persembunyian dia
menerjemahkan Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman. Ini sangat penting sebagai
sebuah pintu bagi perubahan dan kemerdekaan berpikir. Selama 1500-an tahun, yang berhak
membaca Kitab Suci hanya segelintir orang dan yang berhak menafsirkannya hanya para
petinggi gereja seperti Paus di Roma. Penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman juga
membawa pembaharuan tidak hanya dalam kehidupan beragama tetapi juga dalam bidang non-
agamis seperti seni dan budaya.
2. Erasmus Desiderius Roterodamus
Adalah seorang humanis yang terkemuka dan merupakan perintis Reformasi. Karyanya
edisi perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1516 dalam Bahasa Yunani mendorong reformasi
Luther. Erasmus dilahirkan 27 oktober 1466. Ia tinggal dalam biara Augustinus selama 5 tahun
(1486-1491). Pada waktu selama itu ia menulis sejumlah puisi dan karangan prosa dan lain.
Dalam tulisannya sudah tampak kritiknya pada kekuasaan gereja.
Erasmus adalah seorang tokoh yang berjasa bagi gerakan reformasi gereja yang dipimpin
oleh Luther. Luther menggunakan edisi baru bahasa Yunani yang dikeluarkan oleh Erasamus.
Erasamus juga mengeritik keburukan-keburukan yang ada di gereja dan menasahati paus
supaya mengambil tindakan-tindakan pembaharuan gereja. Hingga tahun 1524 Erasamus
bersimpati pada reformasi Luther.
3. Zwingli
Huldrych (atau Ulrich) Zwingli lahir di Swiss, 1 Januari 1484 adalah pemimpin Reformasi
Swiss, dan pendiri Gereja Reformasi Swiss. Reformasi Zwingli didukung oleh pemerintah dan
penduduk Zrich, dan menyebabkan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan
masyarakat, dan urusan-urusan negara di Zrich. Gerakan ini, khususnya, dikenal karena tanpa
mengenal kasihan menganiaya kaum Anabaptis dan para pengikut Kristus lainnya yang
mengambil sikap tidak melawan. Reformasi menyebar dari Zrich ke lima kanton Swiss
lainnya, sementara yang lima lainnya berpegang kuat pada pandangan iman Gereja Katolik.
Zwingli terbunuh di Kappel am Albis, dalam sebuah pertempuran melawan kanton-kanton
Katolik.
4. John Calvin (1509-1564)
Yohanes Calvin atau John Calvin lahir di Noyon, Kerajaan Perancis, 10 Juli 1509 Swiss.
Ia adalah teolog Kristen terkemuka pada masa Reformasi Protestan yang berasal dari Perancis.
Seorang pemimpin Reformasi Gerakan Gereja di Swiss. Merupakan generasi kedua dalam
jajaran pelopor dan pemimpin reformasi gereja abad ke-16 peranannya sangat besar dalam
gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran tata gereja yang digariskan
Calvin tersebar. Dikenal dengan gereja Calvinisme. Sebagai pelopor Reformasi Gereja, ia
menyebarkan gagasan-gagasannya tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar itu ke
banyak bagian Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja Kristen di
Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian tertentu dari Jerman dan berpengaruh di Perancis,
Hongaria khususnya di Transilvania dan Polandia.
5. John Knox
Lahir sekitar tahun 1513 di Haddington. Ia belajar di Universitas St. Andrews lalu
ditahbiskan menjadi imam Katolik tahun 1536 dan menjadi seorang notaris kepausan tahun
1540. Ia adalah salah seorang tokoh yang memengaruhi gerakan reformasi di Skotlandia. Ia
merupakan salah satu murid Calvin di Jenewa, sehingga pengaruh teologi Calvinis sangat
kental dalam dirinya. Menurut Knox, kekristenan dan kemerdekaan nasional harus dapat
ditemukan bersama, karena keduanya merupakan suatu pergumulan yang dapat diselesaikan
bersama.
6. John Wycliff
John Wycliffe lahir 1324 adalah seorang pengajar di Universitas Oxford, Inggris, yang
dikenal sebagai filsuf, teolog, pengkhotbah, penterjemah dan tokoh reformasi Kristen di
Inggris. Ia dikenal melalui karyanya menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke dalam bahasa
Inggris pada tahun 1382, yang dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe". Karya inilah yang
mempengaruhi terjemahan-terjemahan Alkitab kemudian. Pada tahun 1371 doktrin-doktrin
Wycliffe mengenai kekayaan gereja dianggap cocok bagi pemerintah sekuler saat itu, sebab
gereja sangat kaya dan memiliki kurang lebih sepertiga dari seluruh tanah di Inggris. Namun
demikian, gereja masih menuntut kebebasan pajak dari pemerintah. Doktrin-doktrin Wycliffe
dipakai untuk memaksa para rohaniawan yang segan membayar, sehingga dengan begitu
pemerintah dapat membiayai perang yang mahal melawan Prancis.
C. Proses Terjadinya Reformasi Gereja
Awal terjadinya reformasi gereja ini muncul atau terjadi di Jerman. Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya reformasi gereja di Jerman yaitu, sekitar abad 15-16 Jerman masih
merupakan negara agraris yang terbelakang dibandingkan negara-negara Eropa lainnya,
kuatnya pengaruh katolisme yang bersifat konservatif di Jerman, banyaknya penjualan surat-
surat pengampunan dosa di Jerman melebihi negara-negara Eropa lainnya, sebagian besar
rakyat Jerman yang berprofersi sebagai petani yang merupakan kelompok sosial yang paling
menderita akibat kekuasaan katolisme salh satunya dengan adanya pajak-pajak yang sangat
memberatkan rakyat.
Selain itu juga faktor yang paling mendasari terjadinya reformasi di Jerman adanya fase
transisi ekonomi di Jerman dimana pada waktu itu terjadi proses perubahan dari masyarakat
feodal menuju masyarakat ekonomi profit atau menuju masyarakat kapitalis. Dari sinilah
muncul satu tokoh yaitu Marthin Luther yang dari pemikiran-pemikirannya itu kemudian
terlahir sebuah reformasi gereja yang nantnya tidak hanya berkembang di Jerman melainkan
meluas ke wilayah-wilayah Eropa lainnya.
Adapun pemikiran-pemikiran dari Marthin Luther dalam melakukan protes terhadap
kekuasaan Gereja Khatolik Roma yaitu:
o Penolakan Luther terhadap surat-surat pengampunan doa yang dikeluarkan oleh Paus karena
menurutnya gereja atau pemuka agama tidak memiliki hak untuk memberikan pengampunan
dosa. Tuhan-lah yang memberikan pengampunan itu didasarkan kepada kepercayaan dan amal
sholeh individu selama hidup.
o Menurut Luther sakramen hanya digunakan untuk membantu keimanan tetapi bukan sama sekali
alat untuk mencapai rahmat Tuhan dan jalan keselamatan.
D. Dampak Reformasi Gereja
Dampak dari adanya Gerakan Reformasi Protestan dibawah Luther dan Calvin adalah:
Pertama, dampak sosial dan politikterhadap Eropa dan negara-negara Barat pada
umumnya. Reformasi ini menimbulkan Western Christendom sehingga munculnya negara-
negara nasional kecil tanpa memiliki pusat kekuasaan atau gembala politik seperti lembaga
Kepausan Roma. Menumbuhkan benih-benih demokratisasi politik, kesadaran individual akan
pentingnya hak-hak politik, kebebasan individu. Sehingga menjadi dasar timbulnya gerakan-
gerakan demokratisasi yang dan anti kekuasaan totaliter dan keberanian rakyat untuk selalu
melakukan kontrol terhadap kekuasaan.
Tetapi dengan adanya gerakan reformasi Protestan ini juga lahirnya kekuasaan absolut di
Eropa. Banyaknya pertikaian antara Calvinisme dengan katolik, peperangan saudara dan
penghancuran karya-karya seni, patung, lukisan yang berbau katolisisme. Reformasi juga haris
bertanggung jawab atas terjadinya pembantaian massal dalam peristiwa berdarah pada malam
St. Bartholomeus. Di Belanda pun terjadi pemberontakan petani yang menolak membayar
pajak dan akhirnya oleh pangeran Philip mereka semua dibantai. Dan pengikut Protestan
dianggap pengkhianat dan selama enam tahun terjadi teror dan pembunuhan terhadap kaum
protestan.
Kedua, Reformasi juga mengakibatkan terbelahnya agama Kristen menjadi sekte-sekte
kecil; Lutherisme, Calvinisme, Anglicanisme, Quakerisme, Katholikisme. Meskipun ditunjau
dari segi doktrin-doktrin fundamentalnya sekte-sekte itu tidak memiliki prinsip yang berbeda,
tetapi timbulnya hal tersebut menyebabkan keretakan serius dalam agama kristen. Akibat
adanya sekte-sekte ini, Eropa terbelah secara keagamaan; Jerman Utara dan negara-negara
Skandinavia (Swedia dan Norwegia), menganut Lutheranisme; Skotlandia, Belanda,
Switzerland dan Prancis menganut Calvinisme dan negara-negara Eropa lainnya seperti
Spanyol dan Italia menganut katolisisme (Ortodoks).

Renaissance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman di mana orang merasa dirinya
telah dilahirkan kembali dalam keadaban yg diartikan sebagai suatu periode sejarah di mana
perkembangan kebudayaan Barat memasuki periode baru dalam semua aspek kehidupan
manusia, seperti ilmu-ilmu pengetahuan, teknologi, seni dalam semua cabang,
perkembangan sistem kepercayaan, perkembangan sistem politik, institusional, bentuk-
bentuk sistem kepercayaan yang baru dan lain-lain.
Tokoh-tokoh Zaman Renaissance
Francesco Petrarch (1304-1374)

Minat beliau terhadap ilmu membawa kepada


penubuhan sebuah perpustakaan.
Perpustakaan mengandungi koleksi karya
agung zaman Yunani dan Rom yang telah
diterjemahkan oleh cendekiawan Islam dan
sesetengah pula oleh paderi-paderi Katolik
Setelah membaca karya-karya tersebut, beliau
mendapati wujud pelbagai pandangan dan
pendapat yang bercanggah.
Dengan ini, Petrarch memutuskan bahawa
apabila terdapat percanggahan idea,
penyelesaian terbaik adalah dengan
memerhati sendiri perkara yang telah dan
akan tulis.
Dengan ini wujud kaedah baru, iaitu sistem
pemerhatian dalam penilaian atau penulisan.

Niccolo Machiavelli(1469-1527)

Dalam bukunya The Prince (Penguasa),


Machiavelli menyarankan seseorang raja atau
pemerintah harus mempunyai kuasa mutlak.
Raja atau pemerintah harus ditakuti dan bukan
disayangi oleh rakyatnya.
Rakyat harus memberikan kesetiaan sepenuhnya
kapadaa raja atau pemerintah kemudian barulah
kepada Gereja Katholik.
Galileo Galilei (1564-1642)

Galileo telah memanjangkan


idea yang dibawa oleh
Nicholas Copernicus
(1473-1543) bahawa
matahari merupakan
pusat alam sedangkan
gereja menyatakan bumi
ialah pusat alam.
Penentangan ini telah
menyebabkan beliau dijatuh
hukuman tahanan dalam
rumah pada tahun 1633.

Leonardo da Vinci (1452-1519)

Leonardo menjadi contoh terbaik manusia


Renaissance yang ideal dalam pembangunan
dan membina bakat seseorang.
Beliau adalah versatil, menguasai kesemua
bidang ilmu termasuk seni bina, seni lukis, seni
ukir, kejuruteraan, botani, falsafah, geografi
serta perang dan strategi ketenteraan.
Beliau telah mendahului zamannya serta
mempunyai semangat inkuiri dan ingin
mencari jawapan bagi segala kejadian alam.
Beliau memenuhi buku catatannya dengan
pelbagai lakaran teknikal.
Antaranya termasuklah busur panah gergasi
yang digerakkan dengan menggunakan
roda.

Aufklarung adalah suatu gerakan besar di Eropa pada abad ke-18 M yang memberi
kedudukan dan kepercayaan luar biasa kepada akal budi manusia. Gerakan ini tumbuh
sejalan dengan penemuan-penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan alam di Italia,
Jerman, Polandia, dan Inggris. Beberapa ilmuwan yang hadir dan meramaikan ilmu
pengetahuan pada masa ini, antara lain Galileo, Kepler, Copernicus, dan Newton.
C. Tokoh Tokoh Filsafat Pada Masa Aufklarung dan Pemikirannya
1. Immanuel Kant ( 1724-1804)
Seorang Filsuf yang pengaruhnya terhadap filsafat pada dua ratus tahun terakhir ini,baik
di Barat maupun di Timur,hampir secara universal diakui sebagai filsuf terbesar sejak masa
Aristoteles. Kant lahir di Konigserg, Prusia Timur, Jerman. Pikiran-pikiran dan tulisan-
tulisannya membawa revolusi yang jauh jangkauannya dalam filsafat modern.ia hidup
di zaman Scepticism, Kehidupannya dalam dunia filsuf dibagi dalam dua periode, zamanpra-
kritis dan zaman kritis. Pada zaman pra-kritis ia menganut pendirian rasionalis yang
dilancarkan oleh Wolff dkk. Tetapi karena terpengaruh oleh David Hume (1711-1776),
berangsur-angsur Kant meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatakan bahwa Hume itulah
yang membangunkannya dari tidur dogmatisnya. Pada zaman kritisnya, Kant merubah wajah
filsafatnya secara radikal. Kant yang juga dikenal sebagai raksasa pemikir Barat
yang mengatakan bahwa Filsafat merupakan ilmu pokok dari segala pengetahuan yang
meliputi empat persolan yaitu :
apa yang dapat kita ketahui?
apa yang boleh kita lakukan?
sampai dimanakah pengharapan kita?
Apakah manusia itu?
Ketika meninggal, epitaf di batu nisan nyahanya bertuliskan Sang Filsuf sebuah
sebutan yang dianggap tepat, dengan mempertimbangkan bahwa periode filsafat yang bermula
dengan tampilnya Sokrate smenjadi lengkap dalam banyak hal dengan hadirnya Kant.[5]
2. Voltaire
Diantara tokoh yang menjadi sentral pembicaraan saat membicarakan Aufklarung adalah
Voltaire (1694-1778). Pada tahun 1726 ia mengungsi ke Inggris. Di situ ia berkenalan dengan
teori-teori Locke dan Newton. Apa yang telah diterimanya dari kedua tokoh ini ialah:

Sampai di mana jangkauan akal manusia


Di mana letak batas-batas akal manusia.

Berdasarkan kedua hal itu ia membicarakan soal-soal agama alamiah dan etika. Maksud
tujuannya tidak lain ialah mengusahakan agar hidup kemasyarakatan zamannya itu sesuai
dengan tuntutan akal. Mengenai jiwa dikatakan, bahwa kita tidak mempunyai gagasan tentang
jiwa (pengaruh Locke). Yang kita amati hanyalah gejala-gejala psikis. Pengetahuan kita tidak
sampai kepada adanya suatu substansi jiwa yang berdiri sendiri. Oleh karena agama dipandang
sebagai terbatas kepada beberapa perintah kesusilaan, maka ia menentang segala dogma dan
menentang agama.[6]
3. J. J. Rousseau
Di Perancis pada era pencerahan ini juga ada Jean Jacques Rousseau (1712-1778), yang
telah memberikan penutupan yang sistematis bagi cita-cita pencerahan di Perancis. Sebenarnya
ia menentang Pencerahan, yang menurut dia menyebarkan kesenian dan ilmu pengetahuan
yang umum, tanpa disertai penilaian yang baik, dengan terlalu percaya kepada pembaharuan
umat manusia melalui pengetahuan dan keadaban. Sebenarnya Rousseau adalah seorang filsuf
yang bukan menekankan kepada akal, melainkan kepada perasaan dan subjektivitas. Akan
tetapi di dalam menghambakan diri kepada perasaan itu akalnya yang tajam dipergunakan.
Terkait kebudayaan menurut Rousseau, kebudayaan bertentangan dengan alam, sebab
kebudayaan merusak manusia. Yang dimaksud ialah kebudayaan yang berlebih-lebihan tanpa
terkendalikan dan yang serba semu, seperti yang tampak di Perancis pada abad ke-18 itu[7].
Mengenai agama Rousseau berpendapat bahwa agama adalah urusan pribadi. Agama tidak
boleh mengasingkan orang dari hidup bermasyarakat. Kesalahan agama Kristen ialah bahwa
agama ini mematahkan kesatuan masyarakat. Akan tetapi agama memang diperlukan oleh
masyarakat. Akibat keadaan ini ialah bahwa masyarakat membebankan kebenaran-kebenaran
keagamaan, yang pengakuannva secara lahir perlu bagi hidup kemasyarakatan kepada para
anggotanya sebagai suatu undang-undang, yaitu tentang adanya Allah serta
penyelenggaraannya terhadap dunia, tentang penghukuman di akhirat dan sebagainya.
Pengakuan secara lahiriah terhadap agama memang perlu bagi masyarakat, tetapi pengakuan
batiniah tidak boleh dituntut oleh negara. Pandangan Rousseau mengenai pendidikan
berhubungan erat dengan ajarannya tentang negara dan masyarakat. Menurut dia, pendidikan
bertugas untuk membebaskan anak dari pengaruh kebudayaan dan untuk member kesempatan
kepada anak mengembangkan kebaikannya sendiri yang alamiah. Segala sesuatu yang dapat
merugikan perkembangan anak yang alamiah harus dijauhkan dari anak. Di dalam pendidikan
tidak boleh ada pengertian kekuasaan yang memberi perintah dan yang harus ditaati. Anak
harus diserahkan kepada dirinya sendiri. Hanya dengan cara demikian ada jaminan bagi
pembentukan yang diinginkan. Juga pendidikan agama yang secara positif tidak boleh
diadakan. Anak harus memilih Sendiri keyakinan apa yang akan diikutinya. Bagi seorang
muslim, paham seperti ini tentu sangat menyesatkan.[8]

D. Aliran Empirisme
Istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani empiria yang berarti coba-coba atau
pengalaman. Doktrin empirisme adalah lawan dari rasonalisme yang menganggap bahwa
sumber seluruh pengetahuan harus di cari dalam pengalaman. Tokoh empirisme pada
umumnya memberikan tekanan lebih besar pada pengalaman di bandingkan dengan filsuf-
filsuf lain. Pengalaman indrawi menurut mereka adalah satu-satunya sumber pengetahuan,
bukan akal(rasio). Akal budi sendiri tidak dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang
realitas tanpa acuan pengalaman indrawi dan panca indra kita. Informasi yang di peroleh indera
merupakan fundamen semua ilmu pengetahuan, sedang akal budi (rasio) mendapat tugas untuk
mengolah bahan-bahan yang di peroleh dari pengalaman, metode yang di terapakan adalah
metode induksi.Aliran empirisme mengakui langkah yang telah ditanamkan Francis Bacon
(1561-1626), yang memberi tekanan kepada pengalaman sebagai sumber pengenalan. Warisan
ini diterima dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh terkemuka empirisme. seperti Thomas
Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704) dan D.Hume (1711-1776).Epistimologi-
empiris Hobbes mengajarkan bahwa pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena
pengalaman dan pengalaman merupakan awal segala pengetahuan. Segala jenis pengetahuan
diturunkan dari pengalaman.

E. Tokoh-tokoh Aliran Empirisme


1. David Hume (1711-1776)
David Home termasuk dalam aliran empirisme radikal menyatakan, bahwa ide-ide dapat
dikembalikan pada sensasi-sensasi (ransangan indra).

2. Jhon Locke (1632-1704 M)


Ia dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Dismaping itu sebagai ahli hukum, ia
menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran dan penelitian kimia. Dalam
mencapai kebenaran manusia harus tahu sampai seberapa jauh ia memakai kemampuannya. Ia
menentang teori rasionalisme, menurutnya segala pengetahuan datang dari penglaman dan
tidak lebih dari itu. Akal bersifat pasif saat pengetahuan didapatkan. Akal tidak mandapatkan
pengetahuan dari dirinya sendiri diibaratkan ia adalah selembar kertas putih yang diberi warna
oleh berbagai pengalaman. Dalam penelitiannya John Locke menggunakan
istilah Sensation dan Reflection. Sensation (pengalaman lahiriah) adalah suatu yang dapat
berhubungan dengan dunia luar, Sedangkan reflection (pengalaman batiniah) pengenalan
intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia tentang kondisi psikis diri kita
sendiri. Tiap-tiap pengetahuan yang dimiliki manusia terdiri dari Sensation dan reflection.
Tidak ada sesuatu dalam jiwa yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang
membentuk jiwa seseorang.
Buku Locke, Essay Concerming Human Understanding (1689) ditulis berdasarkan satu
premix yaitu semua pengetahuan datang dari pengetahuan. Ini berarti tidak ada yang dapat
dijadikan ide untuk konsep tentang sesuatu yang ada dibelakang pengalaman tidak ada ide yang
diturunkan seperti yang diajarkan Plato. Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate
ide adequate idea dari Spinoza, truth of reasondari Leibeninz, semuanya ditolaknya.
Yang innate (bawaan) itu tidak ada.[9]

Namun, di Indonesia istilah Aufklarung juga merupakan masa pencerahan di dalam bidang
pendidikan. Pengaruh Aufklarung di Eropa menyebabkan terjadinya Politik Etis, sebuah
kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia. Politik etis ini
berakan pada masalah kemanusiaan dan keuntungan ekonomi. Saat itu kondisi masyarakat
Belanda banyak yang mendukung untuk mengurangi penderitaan rakyat pulau Jawa. Kritik
terhadap pemerintah Belanda telah lama dilakukan oleh Dowes Dekker dengan novelnya yang
berjudul Marx Havelaar. Selain itu juga dipengaruhi oleh golongan orang-orang liberal di
dalam pemerintahan belanda. Selama zaman Liberal ( 1870-1900), pengaruh kapitalisme
memainkan peran, dimana Indonesia dijadikan sebagai pasar yang potensial. Untuk
memperoleh keuntungan dan mengembangkan usaha yang diinginkan maka diterap
kannya Politik Etis. Politik Etis ini akan melahirkan generasi yang siap mengisi pos-pos
industry Belanda di Indonesia. Hal ini dilakukan semata-mata keuntungan, dimana Belanda
dapat mempekerjakan tenaga terdidik dan murah dalam pembayaran. Tahun 1890-1984, Ratu
Wilhemina mengesahkan kebijakan ini, dan tahun 1902, Alexander W.F Idenburg yang saat
itu sebagai Menteri Urusan Daerah Jajahan menerapkan politik etis. Politik Etis ini terdiri dari
Edukasi,Irigari, dan Emigrasi.1[3]
Kebijakan inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya perubahan dan perkembangan
pendidikan di Indonesia. Pemerintah Belanda tidak menyadari bahwa sebenarnya politik etis
ini dapat menjadi ancaman karena saat kebijakan ini diterapkan para pejuang pendidikan di
Indonesia dengan cepat meresepon hingga akhirnya muncul generasi terdidik dan melahirkan
pergerakan nasional melawan penjajahan. Pada masa itu, Pemerintah Belanda banyak
membuka sekolah-sekolah Belanda, seperti:
Pendidikan Dasar diantaranya : ELS (Europese Lagerschool) untuk bangsa Eropa, HBS
(Holandsch Chineeschool) untuk orang Tionghoa , HIS (Holandsch Inlandshool) untuk bangsa
Indonesia kaum bangsawan, sedangkan golongan bawah disediakan Sekolah Kelas Dua
Pendidikan Tingkat Menengah diantaranya , HBS (Hogere Burger School), MULO ( Meer
Uitegbreit Ondewijs), AMS (Algemene Middelbarea Aschool) dan sekolah kejuruan /keguruan
( Kweek School), Normaal School.
Pendidikan Tinggi , diantaranya , Sekolah Tehnik Tinggi (Koninklijk Institut voor Hoger
Technisch Ondewijs in Nederlandsch Indie), Sekolah Tinggi hukum (Rechschool), Sekolah
Tinggi Kedokteran antara lain Sekolah Dokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (
Genneskundige Hogeschool ).2[4]
Namun, sangat disayangkan dalam pengembangan pendidikan terjadi sebuah diskriminasi.
Diskriminasi terjadi diantara sekolah Belanda, antara golongan Pribumi, dan golongan eropa,
china, dan warga asing yang ada di Indonesia . Kelas social juga menentukan, golongan
pribumi yang Priyayi lebih mendapat perhatian dibandingkan golongan dibawahnya. Tidak
heran jika akhrinya banyak sekolah rakyat yang didirikan oleh para pejuang pendidikan seperti:
Ki Hajar Dewantara, Kartini, Dewi Sartika, Rahma El Junusiah, Moh. Syafei dll. Sistem
pendidikan Liberal menjadi landasan dalam kurikulum Belanda saat itu.

Dampak positif dari renaissance , antara lain :

1) Kebebasan berpikir
2) Renaissance telah membentuk masyarakat perdagangan yang berdaya maju.
3) Renaissance telah melahirkan tokoh-tokoh perubahan di Eropa. Antara lain tokoh perubahan
terkenal itu adalah William Harvey yang telah memberi sumbangan dalam kajian peredaran darah.
Renaissance telah melahirkan masyarakat yang lebih progresif dan wujud semangat mandiri
sehingga membawa kepada aktivitis penjelajahan dan kemajuan
4) Adanya reformasi gereja.
5) Kesenian berkembang secara bebas
6) Tumbuhnya kebebasan, kemerdekaan, dan kemandirian individu
7) Mendorong pencarian daerah baru sehingga terjadi penjelajahan samudera.

Dampak negatif dari renaissance , antara lain :

1) Pada masa ini selain terjadi kebobrokan moral. Hal ini dikarenakan tidak adanya suatu norma yang
bisa mengatur kehidupan masyarakat. Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia renaissance
merupakan manusia yang tidak mempunyai pegangan (liar). Keliaran ini mengakibatkan terjadinya
pelanggaran terhadap norma sehingga manusia mengalami krisis aklak seperti mabuk-mabukan dll.
Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan borjuis tetapi juga dikalangan pendeta.
2) Munculnya suatu isu yang di sebut Kontroversi Ikonoklastik yang berisi bahwa apakah imaji-imaji
tentang Tuhan,Kristus, dan sang perawan Maria serta orang-orang suci baik dalam bentuk gambar
maupun patung boleh dipergunakan di dalam misa atau tidak.kontroversi ini mengundang persoalan
lama yaitu tentang kebebasan agama yang terpisah dan bebas dari organisasi politik.
3) Berkembangnya nudism yaitu paham yang mengabaikan rasa malu seperti cara berpakaian dan
cara pergaulan

dampak positif: reformasi ini menimbulkan western christendon sehingga menyebabkan


munculnya negara-negara nasional kecil tanpa memiliki pusat kekuasaan atau gembala
politik seperti embaga kepausan Roma.

dampak negatif: reformasi ini menyebabkan terbelahnya agama kristen menjadi sekte-
sekte kecil. dan timbulnya hal tersebut menyebabkan keretakan terhadap agama kristen.

Anda mungkin juga menyukai