Teknik Sepeda Motor
lanjut
Disusun Oleh :
Muji Setiyo, ST, MT
Analisis Goemetri Mesin
Analisis Cam Shaft
Analisis Sistem Pengapian Electronic
Analisis CVT
TEKNIK OTOMOTIF
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
aghna
Alamat : Jl Mayjend Bambang Sugeng Km. 05 Mertoyudan Magelang
Telp (0293) 366945
[Type the company name]
[Pick the date]
Catatan perubahan :
Edisi 1 September 2010
Edisi 2 September 2011
Edisi 3 September 2012
2
PENGANTAR
Modul praktek ini dibuat sebagai panduan mata kuliah Praktek
Teknik Sepeda Motor. Panduan ini digunakan bersama sama dengan
Buku Panduan Reparasi ( BPR ), SOP Laboratorium, dan beberapa
modul yang berkaitan dengan kompetensi ( misalnya prosedur
pembongkaran, perakitan, dan penyetelan ). Panduan ini berisi empat
bab yang merupakan kompetensi tingkat lanjut pada Praktek Teknik
Sepeda motor.
1. Analisis Geometri Mesin
2. Analisi Cam Shaft
3. Sistem Pengapian Elektronik
4. Analisis Transmisi Otomatis (CVT)
Diharapkan modul ini dapat membantu mahasiswa dalam
mencapai target kompetensi. Semoga memberikan manfaat.
Magelang, September 2012
Acuan Dibuat oleh Diperiksa dan divalidasi
1. Kurikulum DIII Pengampu, Ketua Program Studi
Teknik Otomotif
2. Silabi Mata Kuliah
Praktek Teknik
Sepeda Motor ( Muji Setiyo, ST, MT ) ( Saifudin, ST, M.Eng )
NIK. 108306043 NIK. 017408179
3
DAFTAR ISI
GEOMETRI MESIN .................................................................................................................. 5
ANALISIS CAM SHAFT ......................................................................................................... 12
SISTEM PENGAPIAN ELEKRONIK ................................................................................... 18
ANALISIS CONSTANT VARIABLE TRANSMISSION (CVT) ......................................... 31
4
PROJECT 1
GEOMETRI MESIN
A. PENDAHULUAN
Geometri mesin atau lebih spesifik Geometri engkol adalah
bangun yang dibentuk oleh mekanisme engkol dan piston melalui
batang penghubung conecting rod saat mesin berputar dengan sudut
tertentu. Gambar berikut adalah kerangka geometri mesin yang terdiri
dari engkol /crank, lengan/connecting rod, dan piston. Engkol
membentuk sudut terhadap garis sumbu vertical mesin.
r
A
5
Keterangan :
O : titik pusat poros engkol/ crank shaft
r : panjang engkol, adalah jarak dari titik pusat engkol o ke titik B (
titik B merupakan titik pusat crank pin )
L : panjang lengan, adalah panjang connecting rod, yaitu jarak
antara titik B dengan titik C ( titik C merupakan pusat pin piston.
x : jarak antara titik o dengan titik C,
A : sudut yang dibentuk crank
Hubungan segitiga engkol
Hubungan geometri segitiga engkol antara panjang engkol,
panjang conecting rod dan panjang lintasan piston dikenal dengan
istilah triangle relation. Triangle relation ini menghubungkan titik titik
O, B, C, dan X. selain itu ada sudut yang dibentuk oleh engkol yaitu
sudut A. Panjang engkol r yang merupakan setengah dari langkah
piston selalu tetap, begitu juga panjang conecting rod l juga selalu
tetap. Dengan demikian pada dinamika gerak mesin ada dua komponen
yang panjang dan besarnya selalu berubah ubah, komponen yang
dimaksud adalah panjang lintasan x dan sudut engkol A .
Posisi piston
Kecepatan piston
6
B. TUJUAN PRAKTEK
Tujuan dari proses praktek ini adalah Mahasiswa mampu
1. Menganalisis posisi piston pada tiap tiap perpindahan sudut
engkol dengan metode pengukuran langsung kemudian
membandingkan dengan hasil perhitungan.
2. Mengukur offset piston, kemudian menganalisis fungsi offset
piston dan resiko keterbalikan posisi piston.
3. Mengidentifikasi posisi kecepan piston minimal dan maksimal
C. METODE PRAKTEK
1. ALAT DAN BAHAN
ALAT : BAHAN :
Unit toolset untuk melakukan Unit sepeda motor
pembongkaran dan perakitan Bensin
mesin sepeda motor. Minyak pelumas
Busur derajat
Vernier caliper
2. LANGKAH KERJA
a. Pelajari buku panduan dan selalu berkonsentrasi pada goal
kompetensi.
b. Lakukan pembongkaran piston dan penutup fly wheel.
c. Bersihkan piston, ukur offset piston.
d. Rakit piston silinder.
e. Pasang busur derajat pada fly wheel/ magnet. ( 0 derajat pada
posisi TMA )
f. Putar fly wheel searah putaran mesin tiap 10 derajat, ukur
posisi piston dari TMA dengan vernier kaliper. ( lakukan
sampai 360 derajat ).
g. Catat hasil pengukuran.
7
D. HASIL PRAKTEK
1. Tabel hasil pengukuran posisi piston
Hasil Pengukuran Hasil Pengukuran
d.e d.e
(mm) (mm)
0 190
10 200
20 210
30 220
40 230
50 240
60 250
70 260
80 270
90 280
100 290
110 300
120 310
130 320
140 330
150 340
160 350
170 360/0
180
8
2. Grafik posisi piston
Pindahkan hasil pengukuran pada tabel diatas kedalam plot
grafik berikut. ( Buat dalam Microsoft excel )
Posisi
piston
( mm )
Derajat engkol
3. Offset piston.
Jarak dari pen piston ke sisi depan =.mm
Jarak dari pen piston ke sisi blkg =.mm
Pergeseran pen piston/ offset = mm
9
E. PEMBAHASAN
Buat pembahasan secara terperinci proses praktek yang saudara
lakukan. Pembahasan meliputi :
1. Hitung panjang conecting rod dari mesin yang saudara analisis.
2. Dari grafik posisi piston, periksa jarak tempuh piston dari TMA
sampai engkol 90 derajat, dan dari engkol 90 derajat sampai
TMB. ( Jika terjadi perbedaan, mengapa? ).
3. Pada sudut berapa piston bergerak pada kecepatan minimal dan
maksimal.?.
4. Analisis offset piston dan resiko keterbalikan posisi.
F. KESIMPULAN
Berikan kesimpulan tentang hasil praktek.
10
Catatan
11
PROJECT 2
ANALISIS CAM SHAFT
A. PENDAHULUAN
Cam shaft merupakan komponen utama mesin empat tak.
Cam shaft mengatur pemasukan dan pengeluaran gas dari intake
manifold sampai exhaust manifold. Setiap mesin memiliki
spesifikasi cam shaft yang berbeda, kemudian disebut dengan
karakter cam shaft. Berikut merupakan spesifikasi cam shaft :
Cam Lift :Lift cam shaft adalah perbandingan jarak antara
tinggi cam terhadap base circle
Durasi : sudut lamanya katup membuka.
Overlap : sudut yang diapit saat kedua katup sama sama
membuka.
LSA : sudut yang dibentuk antara kedua puncak cam
Rocker arm ratio : perbandingan panjang lengan rocker arm.
Valve lift : tinggi angkat katup
Rumus
h = valve lift
l = cam lift
a/b = rocker arm ratio
c =valve clearance
12
B. TUJUAN PRAKTEK
Tujuan dari proses praktek ini adalah Mahasiswa mampu
1. Menggambar karakter camshaft.
2. Menghitung cam lift, durasi, LSA, overlap, rocker arm ratio,
dan valve lift.
C. METODE PRAKTEK
1. ALAT DAN BAHAN
ALAT : BAHAN :
Unit toolset untuk melakukan Unit sepeda motor
pembongkaran dan perakitan Bensin
kepala silinder sepeda motor. Minyak pelumas
Mesin bubut
DTI
Busur derajat
Vernier caliper
2. LANGKAH KERJA
a. Pelajari buku panduan dan selalu berkonsentrasi pada goal
kompetensi.
b. Lakukan pembongkaran kepala silinder dan mekkatup.
c. Bersihkan cam shaft dan rocker arm.
d. Pasang camshaft pada spindel mesin bubut.
e. Pasang busur derajat pada ujung cam shaft. ( 0 derajat
ekivalen pada posisi TMA kompresi ).
f. Letakkan DTI pada cam, set pada nol.
g. Putar cam shaft dengan tangan searah putaran mesin tiap 10
derajat, ukur tinggi lift cam shaft dengan DTI. (lakukan
sampai 360 derajat ).
h. Catat hasil pengukuran untuk cam katup masuk dan buang.
13
D. HASIL PRAKTEK
1. Tabel hasil pengukuran posisi cam shaft.
Cam lifter Cam lifter Cam lifter Cam lifter
d.c d.c
In (mm) Ex (mm) In (mm) Ex (mm)
0 190
10 200
20 210
30 220
40 230
50 240
60 250
70 260
80 270
90 280
100 290
110 300
120 310
130 320
140 330
150 340
160 350
170 360/0
180
d.c : derajat camshaft
14
4. Grafik posisi cam
Pindahkan hasil pengukuran pada tabel diatas kedalam plot
grafik berikut. ( Buat dalam Microsoft excel )
Posisi
cam
( mm )
Derajat cam
5. Cam lift ( l )
Tinggi cam lift =..
6. Rocker arm ratio
Tulis ukuran rocker arm
a=..mm
b=..mm
7. Durasi katup
Katup masuk membuka pada =..
Katup masuk menutup pada =..
Katup buang membuka pada =..
Katup buang menutup pada =..
8. LSA :0
15
G. PEMBAHASAN
Buat pembahasan secara terperinci proses praktek yang saudara
lakukan. Pembahasan meliputi :
1. Hitung durasi cam shaft, LSA, overlap, dan valve lifter.
2. Faktor faktor yang mempengaruhi valve lift (tinggi angkat
katup).
E. KESIMPULAN
Berikan kesimpulan tentang hasil praktek.
16
Catatan tambahan
17
PROJECT 3
SISTEM PENGAPIAN ELEKRONIK
A. TUJUAN
1. Melakukan pemeriksaan komponen sistem pengapian elektronik
dan menganalisisnya.
2. Merangkai sistem pengapian elektronik ( sintesa) pada trainer
sistem pengapian.
B. MEMERIKSA RESISTANSI SPOOL PENGAPIAN
CARA PENGUKURAN :
1. Pilih selector AVO METER ( OHM METER ) pada posisi X1 atau
X10
2. Kalibrasi dulu alat ukur sebelum digunakan.
3. Hubungkan jumper jumper AVO METER pada ujung ujung
kumparan. Sebagian jenis kumparan salah satu ujungnya
sisambung ke inti besi kumparan, maka untuk mengukur
tahanannya dengan cara menghubungkan jumper ke ujung
kumparan positif dan ke inti besi
TYPE HITAM/MERAH BIRU/K
GL SERIES 150 - 600 500
WIN 150 - 700 120
TIGER 100- 300 290
NEOTECH - 290
X1 / XIO NSR 50 - 200 150
STAR 100 - 400 50 -
GRAND 100 - 400 180
SUPRA 100 - 400 180
KHARISMA - 50 -
18
Hasil Pembacaan :..
Kesimpulan :..
( Bandingkan hasil pengukuran dengan spesifikasi )
C. MEMERIKSA OUTPUT TEGANGAN SPOOL PENGAPIAN
CARA PENGUKURAN :
1. Pilih selector AVO METER ( VOLT METER ) pada posisi ACV
X250
2. Kalibrasi dulu alat ukur sebelum digunakan.
3. Lepaskan konektor kumparan pembangkit
4. Hubungkan jumper merah AVO METER pada ujung positif
kumparan ( warna merah / hitam ), dan jumper hitam pada
ujung negative kumparan. ( Ujung negative kumparan selalu
dihubungkan dengan bodi mesin ).
5. Putar mesin dengan kick starter atau elektrik starter; baca
pergerakan jarum pada alat ukur.
19
STD : MINIMAL 70 VOLT
Hasil Pembacaan :..
Kesimpulan :..
( Bandingkan hasil pengukuran dengan spesifikasi )
Pengukuran output tegangan kumparan harus dilakukan saat
pemeriksaan spool.
Spool terbakar / hubung massa tetap terbaca hasil pengukuran
tahanannya tetapi tidak mengeluarkan out tegangan ( kecil )
D. MEMERIKSA RESISTANSI PULSER
CARA PENGUKURAN :
1. Pilih selector AVO METER pada posisi X1 atau X10
2. Kalibrasi dulu alat ukur sebelum digunakan.
3. Hubungkan jumper jumper AVO METER pada ujung ujung
pulser. Sebagian jenis pulser salah satu ujungnya disambung ke
inti besi kumparan, maka untuk mengukur tahanannya dengan
cara menghubungkan jumper ke ujung kumparan positif dan ke
inti besi / besi penguat pada pulser
X1 / XIO
20
TYPE HITAM/MERAH
TYPE HITAM/MERAH
BIRU/KUNING PUTIH
BIRU/KUNING PUTIH
GL SERIES 150
GL -SERIES
600 150
500 - 600 - 2,0Hasil
0,2 500 - 600 Pembacaan
0,2 - 2,0 :..
WIN 150
WIN- 700 150
120 - 700
160 0,3 120
- 0,6- 160 0,3 - 0,6
TIGER 100-
TIGER 300 290
100-- 300
360 - 1,0Kesimpulan
0,1 290 - 360 0,1 - 1,0 :..
NEOTECH NEOTECH
- 290 -- 360 290 - 360
NSR 50
NSR- 200 150
50 --200
300 0,1 150
- 1,0- 300 0,1 - 1,0
STAR 100
STAR- 400 100
50 -- 170
400 0,1 -50 ( Bandingkan
1,0- 170 0,1 - 1,0hasil pengukuran
GRAND 100
GRAND
- 400 100
180 - 400
280 - 1,0dengan
0,1 180 - 280 spesifikasi
0,1 - 1,0 )
SUPRA 100
SUPRA
- 400 100
180 - 400
280 0,1 180
- 1,0- 280 0,1 - 1,0
KHARISMA KHARISMA
- 50 -- 170 0,3 -50
1,1- 170 0,3 - 1,1
E. MEMERIKSA OUTPUT TEGANGAN PULSER
CARA PENGUKURAN :
1. Pilih selector AVO METER pada posisi ACV X10
2. Kalibrasi dulu alat ukur sebelum digunakan.
3. lepaskan konektor pulser pembangkit
4. Hubungkan jumper merah AVO METER pada ujung positif
kumparan ( warna biru / kuning ), dan jumper hitam pada
ujung negative kumparan. ( Ujung negative kumparan selalu
dihubungkan dengan bodi mesin ).
5. Putar mesin dengan kick starter atau elektrik starter; baca
pergerakan jarum pada alat ukur.
21
STD : MINIMAL 0,5 VOLT
Hasil Pembacaan :..
Kesimpulan :..
( Bandingkan hasil pengukuran dengan spesifikasi )
Pengukuran output tegangan pulser harus dilakukan saat
pemeriksaan pulser.
Pulser terbakar / hubung massa tetap terbaca hasil
pengukuran tahanannya tetapi tidak mengeluarkan out
tegangan ( kecil )
F. MEMERIKSA TAHANAN KOIL
1. Ukur tahanan antara
terminal kabel primer
dan massa.
STANDAR: 0,5 - 0,6
(20oC)
2. Ukur tahanan
kumparan sekunder
antara terminal kabel
primer dan tutup busi.
STD: 11,5 - 14,5 K
(20oC)
22
3. Lepaskan tutup busi
dari kabel busi. Ukur
tahanan kumparan
sekunder antara
terminal kabel primer
dan kabel busi.
STANDAR: 7,8 - 8,2
K (20oC)
G. MEMERIKSA SAAT PENGAPIAN
Baca Instruksi Cara Kerja Timing Light
Panaskan mesin. Matikan mesin dan lepaskan tutup lubang
pemeriksaan tanda pengapian. Hubungkan timing light ke kabel
busi. Hidupkan mesin pada putaran stasioner. PUT STASIONER:
1400 + 100 RPM
Waktu pengapian sudah benar apabila tanda F bertepatan
dengan tanda penyesuai pada tutup bak mesin kiri. Naikkan
putaran masin sampai kurang lebih 2500 RPM. Saat pengapian
harus bergeser maju atau tanda pengajuan maksimal bertepatan
dengan tanda penyesuai pada bak mesin.
23
H. PIN CONECTOR CDI
Setiap merk dari pabrikan sepeda motor memiliki penempatan
pin pada soket CDI yang berbeda. Meskipun untuk satu jenis CDI
memiliki spesifikasi dan bentuk yang sama antar sepeda motor
satu dengan yang lainnya. Misal pada sepeda motor honda :
Hampir seluruh model bebek/ cup dengan pengapian CDI AC
memiliki bentuk dan pin yang sama meskipun spesifikasi dan
dimensinya berbeda. Berlaku juga pada model GL series, mulai
GL 100 CDI sampai dengan GL pro CDI. Yamaha Crypton dengan
yamaha FIZ memiliki dimensi dan wiring yang mirip meskipun
CDI ini memiliki karakter yang berbeda, satu untuk 4 tak dan
satunya lagi untuk 2 tak. Honda supra series memiliki model dan
penempatan pin yang sama dengan kawasaki kaze. Suzuki RC
series memiliki bentuk CDI yang juga sama persis. Berikut
beberapa model pin CDI beserta keterangan konectornya.
1. Honda GL series, supra series, dan Kaze ( CDI AC )
1 2
3 4 5
Placing pin
1. Pulser
2. Coil
3. Massa
4. Kunci kontak
5. Source coil
24
2. Honda kharisma
1
Placing pin
2 3 4
1. Massa
2. Coil
3. + kunci kontak
4. pulser
3. Honda kirana dan sonic
1 3
Placing pin
2 4
1. Pulser
2. +kunci kontak
3. Massa
4. coil
4. Suzuki shogun ( 110 & 125 ); Honda Mega Pro & Neotech
Placing pin
1. pulser
2. massa
3. Coil
4. kosong
5. kosong
6. + kunci kontak
5. Honda tiger
Placing pin
1. Pulser
2. Massa
3. Coil
4. Massa
5. Kunci kontak
6. Source coil
25
6. Yamaha jupiter
Placing pin
1. Coil ( orange )
2. Massa ( hitam )
3. + kunci kontak ( coklat )
4. Massa ( merah )
5. Pulser ( putih )
6. kosong
7. Suzuki satria F 150
Placing pin
1. Coil ( putih/biru )
2. Massa ( hitam/putih )
3. Pulser ( biru/kuning)
4. Massa ( orange )
5. Tacho meter
6. + kunci kontak ( hijau/putih )
8. Suzuki smash
Placing pin
1. Coil
2. Massa
3. Pulser
4. Massa
5. NC
6. + kunci kontak
9. Yamaha F1ZR
1. Orange = Coil
2. Hitam = Massa
3. Hitam/Merah = Source coil
4. Hitam/Putih = Kunci Kontak
5. Hijau/putih = Massa
6. Putih/Biru = Pulser
7. Putih/Merah = Massa
26
10. Yamaha RX KING
1. Orange = Coil
2. Hitam = Massa
3. Hitam/Merah = Kunci Kontak
4. Hitam/Putih = Source coil
5. Putih/Hijau = Pulser
27
I. WIRING DIAGRAM
28
Ignition coil
Kunci
kontak
CDI
Regulator
Unit Pulser
alternator
Figur 65. Diagram Rangkaian
Rangkaian pengkabelan dengan
CDI Honda GL Pro Neo tech/ Suzuki
Shogun 110, mengunakan regulator
Honda GL Pro/Supra.
29
Catatan tambahan
30
PROJECT 4
ANALISIS CONSTANT VARIABLE TRANSMISSION (CVT)
A. TUJUAN
1. Menganalisis komponen CVT dan cara kerjanya
2. Melakukan servis CVT
3. Setelah selesai praktek diharapkan mampu melakukan rekayassa
(engineering) komponen CVT untuk meningkatkan performance
sepeda motor matic.
B. Prosedur
Ikuti petunjuk Buku Pedoman Reparasi (BPR)
C. Pembahasan
Lakukan pembahasan pada tiap tiap komponen yang diteliti,
meliputi :
1. Nama komponen
2. Fungsi komponen
3. Cara kerja komponen
4. Proses perpindahan daya dan analisis kerugiannya
5. Upaya upaya untuk mengurangi kerugian daya pada CVT
31
Catatan
32