Wasisto Raharjo Jati, S.
IP
at
Hakik rasi
k
Demo esia
Indon ini
Terk
INDONESIA
KONTEMPORER
KOMPLEKSITAS PERMASALAHAN
Demokrasi yang kita pilih sebagai model dalam menata
bangsa dan negara paska rezim otoritarian runtuh pada
Mei 1998 ternyata belum membuahkan hasil yang
signifikan bagi kemajuan rakyat keseluruhan.
Penulis.
INDONESIA
KONTEMPORER
KOMPLEKSITAS PERMASALAHAN
Wasisto Raharjo Jati, S.IP
Kutipan Pasal 72:
Sanksi Pelanggaran Undang-undang Hak Cipta
(UU No. 19 Tahun 2002)
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1)
dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling
singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00
(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah)
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau Hak
Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PENGANTAR
SEKAPUR SIRIH
Demokrasi yang kita pilih sebagai model dalam menata
bangsa dan negara paska rezim otoritarian runtuh pada Mei 1998
ternyata belum membuahkan hasil yang signifikan bagi kemajuan
rakyat keseluruhan. Negara Indonesia baru yang terlahir paska 1998
ternyata mengalami problematika baru dalam era demokrasi ini
seperti halnya korupsi yang merajalela dan terdesentralisasi hingga
tingkat bawah, kesejahteraan masyarakat yang belum merata dan
signifikan, aksi kekerasan yang sering muncul karena rasa ketidak
adilan, lunturnya semangat ke-Indonesia-an dan toleransi terhadap
sesama, serta semakin renggangnya jarak antara rakyat dan
pemimpin.
Segenap kompleksitas permasalahan tersebut berusaha
dideskripsikan melalu untaian bait tulisan oleh penulis yang notabene
merupakan aktivis mahasiswa selama berkuliah di Jurusan Politik
dan Pemerintahan, FISIPOL UGM dalam rentang 2008 hingga 2012
ini. Penulis merasa terpanggil untuk ikut serta dalam memberikan
solusi , krtikan, dan masukan terhadap permasalahan yang dihadapi
Indonesia kontemporer. Tentunya menyandang status sebagai
mahasiswa dan terlebih lagi memegang julukan agen pelopor
perubahan (agent of changes) bagi negara dan masyarakat, terdapat
beban moril dan etika yang berada di pundak penulis untuk
memberikan kontribusi intelektualitasnya dalam bentuk berbagai
produksi tulisan opini yang mampu mencerahkan masyarakat.
Dengan menulis opini di media massa, penulis berharap terjadi
diseminasi ide pencerahan bagi masyarakat tentang permasalahan
negara sekarang ini. Melalui publikasi opini di media massa, gagasan
intelektualitas maupun reflektif para mahasiswa pun juga bisa dibaca
oleh penguasa bahwa mahasiswa akan selalu berada di depan sebagai
v
pengawal demokrasi karena sejatinya mahasiswa di Indonesia
berperan besar dalam alur sejarah perjalanan bangsa.
Buku ini merupakan antologi kumpulan artikel opini media
massa yang ditulis oleh penulis selama kurun waktu dua tahun
terakhir yakni selama kurun waktu 2010-2012. Di setiap tulisan
dalam buku merupakan cerminan reflektif penulis terhadap isu-isu
yang tengah menghangat dibicarakan. Tulisan dalam buku ini sendiri
dihimpun dari berbagai tulisan opini penulis dari berbagai media
massa nasional maupun lokal seperti KOMPAS, Media Indonesia,
Koran TEMPO, Sinar Harapan, Koran Jakarta, Banjarmasin Post,
Bali Post, Tribun Timur, dan lain sebagainya. Tulisan dalam buku ini
mengalir mengikuti tren isu-isu nasional maupun lokal yang tengah
menghangat di masyarakat setiap bulannya. Sehingga mengikuti
pembacaan tulisan dalam buku ini sama saja dengan mengajak
pembaca mengikuti kliping isu-isu sosial politik yang sangat dinamis
dari waktu perwaktu. Sajian tulisan dalam buku ini tidaklah berat
seperti hanya textbooks maupun sejenisnya yang mengerenyitkan
dahi bagi pembaca awam. Dalam buku ini, penulis mengajak
pembaca berdiskusi dengan tulisan yang mudah dipahami dan mudah
diresapi yang harapannya dapat menambah wawasan pembaca dari
pembacaan kumpulan tulisan ini.
Tentunya sebagai buku kumpulan artikel opini, penulis sadar
betul bahwa terdapat berbagai keterbatasan dalam buku ini misalnya
saja tidak menampilkan linearitas tulisan narasi yang runtut dan utuh
dari awal hingga akhir, karena sejatinya buku ini merupakan bentuk
catatan kritikan spontanitas yang mencuat manakala terdapat isu
publik yang hangat dibicarakan. Namun demikian, penulis berusaha
menggunakan bahasa jurnalistik dalam mengkerangkainya sehingga
penulis mengajak kepada pembaca menyusun mozaik jurnalistik
dalam kumpulan tulisan ini menjadi satu pembahasan yang utuh.
Akhir kata, semoga buku kumpulan artikel opini ini dapat
vi
memberikan jiwa dan spirit inetelektualitas bagi masyarakat dalam
mengawal demokrasi sekaligus pula sebagai kumpulan ide kritikan,
sanggahan, dan masukan kepada pemimpin agar memimpin negeri
ini dengan sebaik mungkin bagi kebaikan bersama.
Yogyakarta, Desember 2012
Penulis.
vii
viii
DAFTAR ISI
SEKAPUR SIRIH PENGANTARv
DAFTAR ISIix
BAB I : SENGKARUT PERPOLITIKAN INDONESIA1
1. Deideologisasi Pancasila dan Politik Aliran 1
2. Demokrasi Biaya Tinggi5
3. Desakralisasi Gedung DPR8
4. Opini Media Dinasti Politik12
5. Gejolak Desentralisasi Papua16
6. Ilusi Pemberantasan Korupsi20
7. Keterbatasan Emansipasi Politik Perempuan24
8. Posisi Wakil Menteri Rawan Dipolitisasi28
9. Korupsi dan Semiotika Tikus31
10. Media Tersandera Partai Politik35
11. Menakar Arti Negara Gagal39
12. Partai Politik Islam dan Populisme Islam42
13. Partai Politik dan Ekonomi Perkoncoan45
14. Patronase Kaum Tua pada Pemilu 201449
15. Politik Calo Anggaran52
16. Reshuffle dan Penyanderaan Politik56
17. Haruskan Presiden dari Jawa?60
18. Quo Vadis Reformasi Birokrasi63
19. Biarkan Klub Sepakbola Mandiri66
20. Wajah Kelembagaan Negara69
21. Prospek Politik Perempuan 201473
22. Pesona Caleg Artis 201476
ix
BAB II : EKONOMI KITA DIJAJAH LIBERALISASI
KAPITALISME79
1. Dilema Industri Strategis79
2. Globalisasi Gerus Pertanian Indonesia83
3. Kutukan Sumber Daya Minyak87
4. Membongkar Mitos Globalisasi90
5. Pembangunan Gerus Kearifan Lokal94
6. Pembatasan BBM dan Diversifikasi Energi97
7. Pertahanan atau Ketahanan Pangan101
8. Polemik Tata Niaga Beras104
9. Perkeretapiaan dan Toll Trans Jawa108
10. Hilangnya Kedaulatan Energi di Indonesia112
11. Tragedi Hubungan Industrial Tripartit115
12. Hentikan Monopoli Air119
BAB III : DINAMIKA SOSIAL INDONESIA YANG JALAN DI
TEMPAT123
1. Wajah Gizi Indonesia123
2. Belajar dari Jepang127
3. Karut Marut Sistem Transportasi131
4. Islam, Terorisme, dan Orientalisme Barat134
5. Jakarta Butuh Pemimpin Visioner137
6. Kapitalisasi Pendidikan Indonesia140
7. Kearifan Mbah Maridjan144
8. Kosmologi Ibukota RI148
9. Lunturnya Semangat Keindonesiaan di Perbatasan152
10. Menyama Braya dan Multikulturalisme Indonesia156
11. Orang Pintar Indonesia tidak Dihargai160
12. Polemik Jurnal Ilmiah bagi Calon Sarjana164
13. Pornografi dan Degradasi Moral Bangsa168
14. RUU Pendidikan Tinggi Bermasalah171
x
15. Mudik sebagai Ritus Budaya Universal175
16. Kekerasan dan Minoritisasi Masyarakat178
17. Rezim Fatalis Bencana181
18. Menyoal Sistem Jaminan Sosial185
19. Teror Ujian Nasional189
20. Quo Vadis Ulama sebagai Nabi Sosial192
SUMBER NASKAH196
BIODATA PENULIS199
xi
xii
BAB 1
SENGKARUT PERPOLITIKAN INDONESIA
Deideologisasi Pancasila dan Politik Aliran
Tulisan Guru Besar Psikologi UI Prof. Sarlito Marwan
tentang BP7 yang dimuat di Kolom Opini Kompas 7/11/2012
merupakan refleksi dari deideologisasi Pancasila yang melanda
generasi muda Indonesia paska reformasi. Dalam tulisan tersebut
dikatakan, bahwa ketiadaan lembaga kontrol ideologi negara seperti
halnya BP7 telah mengakibatkan adanya radikalisasi dan militansi
sipil dengan mengatasnamakan ideologi tertentu. Hal tersebut
merupakan ekses dari dicabutnya Tap MPR No.25/1998 tentang BP7
dan progam P4 sehingga masyarakat Indonesia sendiri kemudian
berlomba-lomba mencari ideologi substitusi dari Pancasila.
Memang Pancasila sebagai ideologi negara dalam perjalanan sejarah
tidaklah selalu dilakukan secara konsekuen oleh pemimpin maupun
rakyatnya sendiri. Dalam era kepemimpinan Orde Lama yang
notabene menciptakan ideologi Pancasila tersebut, Pancasila sendiri
dianaktirikan oleh ideologi impor seiring dengan konstelasi ideologi
yang berkembang di dunia seperti halnya liberalisme pada era 1950-
1960 ditandai dengan euphoria tumbuhnya berbagai macam partai
politik yang silih berganti menduduki kursi parlemen maupun
perdana menteri sehingga menciptakan instabilitas sosial-politik di
tingkat pusat dan daerah. Bahkan ketika muncul ide Pancasila sendiri
diganti dengan sistem Westminster ala Barat dalam mengendalikan
pemerintahan. Adanya Nasakom, Resopim, maupun Manipol Usdek
sebenarnya juga bentuk pengebirian terhadap Pancasila yang
dilakukan oleh penciptanya sendiri. Pada akhirnya, Pancasila sendiri
tidak lebih hanya hitam di atas putih yang dipigurakan di berbagai
Wasisto Raharjo Jati, S.IP1
instansi publik, namun tanpa pernah mengetahui makna filosofis
yang dikandungnya.
Ide Presiden Soeharto tentang pendirian BP7 sebagai
pengendali progam P4 sebenarnya bagus dari segi konsep. Orde Baru
mengajak kembali masyarakat Indonesia memeluk Pancasila sebagai
ideologi negara melalui P4 yang digalakkan secara secara meluas di
berbagai instansi publik. Dengan adanya prinsip satu ideologi
Pancasila sebenarnya rezim menginginkan masyarakat tidak
terombang-ambingkan dalam konstelasi ideologi. Namun demikian
dalam praktik riil-nya di lapangan, Pancasila justru hanya menjadi
bahan hafalan bagi setiap masyarakat Indonesia yang ketika itu harus
siap memegang buku saku Pancasila ketika ujian penataran P4
dimulai. Oleh karena itulah, timbul rasa keterpaksaan dari
masyarakat untuk menghafal Pancasila karena adanya stigmatisasi
komunis, ekstrimis, maupun soekarnois dari rezim begitu tidak lulus
dalam ujian penataran P4 tersebut. Tentu saja stigmatisasi tersebut
berimplikasi meluas kepada kehidupan mulai dari cibiran
masyarakat, diskriminasi pelayanan publik, penundaan gaji dan
pangkat, maupun hal negatif lainnya Bagi yang tidak lulus ujian P4,
akan dibawa ke kursus ideologi dimana setiap warga digembleng dan
digojlok habis-habisan oleh apparatus pemerintah untuk menghafal
setiap bait dan norma Pancasila. Adanya mekanisme represif dan
koersif yang dilakukan rezim terhadap masyarakatnya membuat
Pancasila justru dibenci dan dihujat oleh orang Indonesia sendiri.
Intinya terdapat aroma dendam terhadap Pancasila yang dianggap
sebagai alat Orde Baru dalam mendisplinkan warganya agar setia
terhadap rezim yang otoriter dan represif. Prinsip asas tunggal
terhadap Pancasila melalui sistem korporatisme merupakan cara
meningkatkan loyalitas terhadap pemimpin, meskipun loyalitas
tersebut dibangun secara tekstual (textbook) dan seremonial belaka.
2 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Politik Aliran paska Reformasi
Terdapat euphoria yang besar dari masyarakat luas manakala
rezim reformasi mencabut progam P4 dan peniadaan BP7 yang tidak
sesuai dengan demokrasi karena membatasi orang berekspresi dalam
berpolitik. Ada kelegaan hati yang membuncah dalam benak
masyarakat ketika itu untuk tidak lagi menghafal Pancasila karena
teringat pada rezim Orde Baru. Kekosongan status quo yang
ditinggalkan Pancasila memunculkan berbagai macam ideologi yang
tumbuh dan saling berkonstestasi satu sama lain untuk menjadi
ideologi resmi negara. Dalam analisa Asad Said Ali (2011)
menyebutkan terdapat 6 politik aliran baru berbasis ideologi, yang
uniknya marxime maupun ideologi kiri yang selama dikooptasi oleh
Orde Baru mulai tumbuh lagi seperti yang pernah terekspos dengan
munculnya Blog Partai Komunis Indonesia 2000 beberapa waktu
lalu. Adapun enam aliran itu seperti kiri radikal, kiri moderat, kanan-
konservatif, kanan liberal, dan Islamisme. Marcus Meitzner (2009)
juga menilai terdapat tiga ideologi yang berkembang pesat di akar
rumput masyarakat Indonesia seperti nasionalis-soekarnois,
islamisme, dan modernisme. Nasionalis sendiri berkembang pesat di
kalangan kelompok marjinal, Islamisme berkembang melalui
jaringan tarbiyah kampus, pesantren, maupun kelompok diskusi
halaqah yang berkembang di dunia aktivis, dan modernisme sendiri
merupakan ideologi kaum urban dan kelas menengah baru yang
tengah mengalami peningkatan kesejahteraan. Modernisme juga
berarti ideologi apatis yang menginginkan tidak ada perubahan
radikal dalam pemerintahan.
Pancasila lagi-lagi menjadi senjata bagi kaum nasionalis
untuk meningkatkan citra dan elektabilitas di kalangan masyarakat.
Pancasila kemudian direproduksi ulang hanya demi kepentingan
kuasa dan bukan sebagai payung bagi semua masyarakat Indonesia.
Barangkali memang benar kalau Pancasila adalah gagasan ideologi
Wasisto Raharjo Jati, S.IP3
yang kuat dari segi konsep namun lemah dari segi implementasi
karena hanya menjadi hiasan dinding, bahan diklat, dan protokoler
upacara bendera yang sifatnya hanya seremonial dan komplementer
saja. Sulit bagi kita untuk menemukan penghayatan Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari karena semua orang telah terdeideologisasi
oleh keadaan yang serba kompromistis.
~~
4 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Demokrasi Biaya Tinggi
Indonesia semakin kabur dari nilai substantifnya untuk
menyuarakan aspirasi masyarakat demi kesejahteraan bersama,
namun justru yang terjadi kini adalah demokrasi berbiaya tinggi.
Euforia reformasi yang meluap paska 1998 untuk mengembalikan
tataran politik kembali kepada masyarakat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi negara selaku UUD 1945, sekarang ini justru
dibajak oleh golongan elite-elite partai politik baik yang berpusat di
Jakarta maupun daerah. Hal inilah yang kemudian dikenal dengan
fenomena demokrasi terbajak (hijacking democracy) di Indonesia
yang kemudian menimbulkan praktik politik berbiaya tinggi (high
cost politic). Adanya politik berbiaya tinggi ini berkorelasi dengan
tumbuhnya perilaku korupsi yang dilakukan oleh elite partai politik
maupun elite pemerintahan yang terdesentralisasi secara meluas dari
pusat hingga daerah. Politik yang esensinya diartikan sebagai bentuk
perjuangan ideologis untuk kemaslahatan bersama, dalam konteks
Indonesia justru dimaknai mencari kekuasaan kelompok tertentu
untuk memerintah dan memperoleh kursi jabatan. Maka tidaklah
aneh kemudian, banyak orang kemudian berlomba-lomba mencari
kursi jabatan dengan cara menghamburkan banyak uang untuk
menjadi aktor kuasa. Akibatnya kini, wajah perpolitikan di Indonesia
kini lebih banyak didominasi pragmatisme daripada idealisme. Sikap
politik idealis boleh dibilang tidak mempunyai tempat di negeri ini
dimana politisi sendiri semakin rasional untuk memperjuangkan
harkat pribadi daripada harkat masyarakat. Oleh karena itulah, partai
politik di Indonesia sendiri tidak ada yang berideologi murni karena
semua bersikap pragmatis. Adapun wajah partai yang konon katanya
berpolitik santun, islam, maupun pembela rakyat kecil sebenarnya
merupakan bungkus untuk menutupi pragmatisme kuasa tersebut.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP5
Biaya Politik Tinggi
Menjadi seorang pejabat pemerintahan mulai dari presiden
hingga bupati/ walikota maupun pejabat politik mulai dari anggota
DPR/MPR hingga level DPRD Kota/ Kabupaten sendiri
membutuhkan biaya mahal. Sebagai contoh menurut jajak pendapat
yang dilakukan Harian Kompas pada tahun 2009 silam terungkap
bahwa dana politik di Indonesia sangatlah besar untuk ukuran
Indonesia yang baru mengenal demokrasi pada tahun 1999.
Sebagai contoh baru mau menjadi calon anggota DPRD di daerah
saja dana kampanyenya saja sudah mencapai 200-500 juta rupiah,
menjadi calon bupati / walikota menembus angka 15-20 milyar,
menjadi calon anggota DPR kini dananya sudah 30-50 milyar, dan
menjadi capres saja, dana yang dibutuhkan mencapai 100-150
milyar. Adapun angka yang disebutkan tersebut masih dalam
ambang batas perkiraan normal, namun secara pasti dan riil-nya di
lapangan pastilah angka itu bisa tersulap dengan digit angka yang
semakin bertambah. Contohnya bisa terlihat dalam kasus pemilukada
Jawa Timur pada 2008 silam yang disebut-sebut sebagai pemilukada
termahal dalam sejarah demokrasi lokal di Indonesia dimana
sirkulasi uang kampanye yang berputar dalam event tersebut sudah
mencapai angka trilyunan rupiah yakni Rp7-10 Trilyun yang
melebihi APBD Jatim yang hanya mencapai Rp 5 Trilyun pertahun.
Angka gila-gilaan tersebut mencerminkan bahwa demokrasi di
Indonesia merupakan pemborosan uang saja karena yang
bertentangan dengan spirit demokrasi itu sebenarnya yang
mengajarkan efisiensi dan efektivitas dimana input yang sedikit
menghasilkan ouput yang besar.
Makanya kemudian praktik korupsi lebih banyak dikait-
kaitkan dengan politisi maupun partai politik ketimbang aktor
lainnya. Meskipun birokasi maupun swasta sudah terjangkiti virus
korupsi, namun visualisasi praktik korupsi mulai dari itikad, tipu
6 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
muslihat, konspirasi, hingga eksekusi anggaran untuk dikorupsi
semuanya terlihat jelas dari partai politik yang bersangkutan. Oleh
karena itulah, politisi yang sudah memegang sumber daya kuasa
langsung berupaya mengembalikan dana kampanyenya yang hilang
dengan mengkorupsi berbagai proyek maupun sumber pembiayaan
baik di level pusat maupun daerah. Sektor konstruksi disebut sebagai
lahannya korupsi yang dilakukan oleh politisi karena terdapat
mekanisme tender yang memungkinkan untuk dimanipulasi (Majalah
TEMPO,2012). Maka tidaklah mengherankan kalau kita menemui
bangunan maupun infrastuktur di seluruh Indonesia tidaklah awet
dan mudah rusak karena bahan bakunya sudah dikorupsi. Praktik
membuat tidak awet dan mudah rusak itu merupakan hal yang
disengaja agar rekanan politikus tersebut bisa memperoleh dana
pemeliharaan untuk perawatan gedung tersebut yang kemudian
dikorupsi kembali. Makanya kemudian orang-orang konstruksi
sudah mafhum dengan kondisi tersebut dimana selalu saja ada uang
semir dalam eksekusi pembuatan bangunan maupun infrastruktur.
Jikalau sudah demikian parahnya, mau dikemanakan
demokrasi di Indonesia dimana asa reformasi yang menginginkan
demokrasi untuk diterapkan secara adil justru kian terkorupsi oleh
perilaku elite. Maka, dalam hal ini, apakah perlu gelombang
reformasi kedua untuk menumbangkan tirani korupsi dalam
berdemokrasi saat ini. Jawabannya kembali pada kita sendiri sebagai
masyarakat apakah ingin berubah menjadi lebih baik atau tetap pada
status quo seperti saat ini dimana yang kaya makin kaya arena
korupsi dan yang miskin makin korupsi karena dikorupsi.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP7
Desakralisasi Gedung DPR
Perbincangan mengenai ketidakpekaaan nurani sosial DPR
tidak pernah habisnya. Setelah pada Mei 2011 silam, Badan Urusan
Rumah Tangga DPR telah menganggarkan Rp 1,8 triliun untuk
pembangunan konstruksi gedung dewan yang baru dengan alasan
konstruksi gedung yang lama mengalami kemiringan tujuh derajat
dan berpeotensi dan mengakomodasi penambahan jumlah staff ahli
anggota DPR dari tiga staff menjadi lima staff. Kini awal 2012 ini,
publik kembali tersentak dengan anggaran Rp. 20 milyar untuk
perbaikan sarana dan prasarana fasilitas sanitasi toilet lengkap
dengan perluasan lahan parkirnya serta tampilan mewah ruang rapat
Badan Anggaran DPR yang biayanya mencapai nilai Rp. 20 Milyar
lengkap dengan multimedia serba canggih.
Adanya fasilitas yang serba mewah dan seba modern
tersebut akan menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi yang
lebih lebar antara wakil rakyat dan rakyatnya sendiri. Gedung DPR
bukan lagi disebut sebagai rumah rakyat akan tetapi lebih tepat
sebagai rumah sakral. Adanya pagar yang cukup tinggi mengelilingi
kompleks gedung DPR adalah satu indikasi kesakralan tersebut
bahwa rakyat Indonesia tidak bisa sembarangan masuk dan
beraktivitas di sana. Indikasi sakral lainnya penjagaan esktra ketat
yang diberlakukan untuk mengahalau para demonstran yang
notabene adalah rakyat. Kesan itulah yang kemudian mementuk
opini bahwa gedung DPR sendiri menjaga jarak dirinya dengan
masyarakat luas sebagai konstituennya. DPR menjadi semakin
angkuh dengan gemerlapnya fasilitas tersebut. Perilaku bermewah
diri dan menjaga jarak yang dilakukan oleh anggota DPR tentu
amatlah kontras bilamana mengamati dan mengkomparasikan
dengan perilaku anggota DPR Australia dimana menjaga jarak dan
bermewah diri adalah hal yang tabu untuk mereka lakukan. Dalam
8 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
hal ini, penulis ingin berbagi pengalaman mengenai suasana
berparlemen anggota DPR Australia yang diharapkan bisa menjadi
perenungan untuk menyikapi perilaku anggota DPR di negeri kita.
Refleksi Diri
Secara sekilas, Gedung DPR Australia atau lebih dikenal
Parliament House of Australia ini tidaklah berbeda dan mencolok
dibandingkan dengan gedung perkantoran dan hotel lainnya yang
berada di kawasan Capital Hill, ACT (Australian Capital Territory)
Canberra. Gedung ini luasnya hanya kurang dari 24 hektar,
setengahnya dari luas kompleks gedung DPR Indonesia yang luasnya
48 hektar. Apabila gedung DPR di Indonesia sendiri belomba-lomba
untuk menampilkan kemewahan dan modernitas, gedung DPR
Australia sendiri justru menampilkan kesederhanaan dan
kesejarahan. Dalam bangunan gedung DPR Australia sendiri terpatri
sejarah perjalanan bangsa tersebut sejak masa Aborigin hingga era
persemakmuran Inggris sekarang ini. Hal ini dimaksudkan agar
anggota DPR tidak lupa mengenai rakyatnya yang diwakilinya.
Seperti ingin memahami sebagai rumah rakyat, gedung DPR
Australia sendiri tidak ada rintangan pagar yang tinggi yang
mengelilingi kompleks maupun penjagaan ekstra ketat sebagaimana
yang terjadi di DPR Indonesia. Para anggota DPR Australia ini
mempersilakan bagi rakyatnya untuk mengunjungi gedung parlemen
setiap hari dan waktu. Bahkan gedung parlemen sendiri menjadi
tempat wisata menarik dengan disediakan free guided tours oleh
parlemen yang dimulai pada pukul 09.00 pagi dan berlangsung setiap
30 menit secara berkelanjutan hingga batas akhir waktu pada pukul
04.00 sore hari (Faiz, 2011)..
DPR Australia mewajibkan para anggota DPR nya seintens
mungkin bertemu dan bertatap muka untuk mengetahui apa yang
sedang terjadi pada konstituen mereka guna menjaga pandangan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP9
buruk dari orang-orang yang mereka wakilkan. Oleh karena itulah,
jarang mendapati anggota DPR Australia sendiri bermewah-
mewahan seperti menggunakan mobil mahal maupun menggunakan
pakaian gemerlap. Mereka justru menghindari hal tersebut untuk
menghindari stigma negatif dari masyarakat, terlebih lagi pada masa
krisis sekarang ini. Untuk menuju gedung parlemen, cukup
menggunakan transportasi umum membaur dengan rakyatnya.
Menjaga hubungan mereka dengan masyarakat dapat menjadi
pembelajaran atas kebijakan pemerintah yang sudah digulirkan. Pada
poin inilah letak mendasar perbedaan sikap berperilaku anggota DPR
kita dengan anggota DPR Australia. Anggota DPR kita hanya
bertemu dengan masyarakatnya pun hanya pada masa reses sidang
kabinet, Itu pun sering kali hanya terbatas dan waktu singkat karena
terpotong dengan kunjungan kerja / studi banding ke luar negeri
maupun agenda rapat mendesak partai politiknya.
Yang menarik dan patut dicontoh ialah ruang sidang DPR
Australia sendiri yang agak menjorok ke bawah tanah sehingga
terkesan mereka bersidang di bawah telapak para pejalan kaki yang
lalu lalang berjalan di kompleks parlemen tersebut. makna
filosofinya ialah anggota DPR adalah pelayan dan abdi rakyat
sehingga dengan adanya pejalan kaki yang melintas di atas kepala
mereka dimaksudkan bahwa kepentingan masyarakat di atas segala-
galanya dibandingkan dengan dirinya maupun partainya. Adanya
fasilitas mewah dalam gedung DPR sebagaimana yang terdapat
dalam kasus Indonesia. justru akan membebani pola pikir dan kinerja
para anggota DPR Australia ini. Fasilitas mewah sendiri diartikan
sebagai setumpuk beban moral dan etika dari masyarakat kepada
anggota DPR Australia ini. Bandingkan dengan fasilitas mewah DPR
Indonesia yang lebih diartikan sebagai beban pemenuhan citra dan
egoisme pemimpin kepada rakyatnya.
Pelajaran dari kasus gedung DPR Australia setidaknya dapat
10 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dijadikan refleksi diri untuk mendeskralisasi dan menghilangkan
stigma angkuh yang sering kali dipertontonkan anggota DPR kita
kepada rakyatnya. Sudah saatnya anggota DPR kita bersikap
sederhana dan membumi seperti halnya masyarakat Indonesia pada
umumnya. Oleh karena itulah diperlukan sikap terobosan yang
dilakukan oleh pimpinan DPR untuk bersikap sederhana supaya
dijadikan contoh bagi para anggotanya sehingga citra DPR yang
tidak peka dan tidak berempati sosial akan tereduksi secara bertahap.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP11
Opini Media Dinasti Politik
Munculnya dinasti politik dalam implementasi otonomi
daerah di Indonesia merupakan buntut dari kebuntuan regenerasi
kekuasaan yang tidak merata. Hal tersebut dapat diindikasikan
dengan munculnya nepotisme terselubung yang dilakukan oleh para
kepala daerah dengan menempatkan kerabat maupun orang dekatnya
untuk menduduki posisi jabatan strategis di pemerintahan.
Tujuannya jelas untuk memperkuat solidaritas dan soliditas
kekuasaan sehingga dapat dilanggengkan dalam lintas generasi.
Setidaknya fenomena inilah yang sedang terjadi di berbagai
kabupaten/kota Indonesia dimana suksesi pucuk kepemimpinan
daerah berlangsung secara tertutup dan elitis. Harian Kompas dalam
laporan investigasinya pada edisi 6 November 2012 sudah
menggambarkan secara faktual bahwa suksesi itu terjadi di kalangan
dekat misalnya saja istri, anak, mertua, saudara kandung, saudara tiri,
maupun kerabat dekat lainnya.
Asumsi yang acap kali muncul ketika kerabat kepala daerah
maju sebagai kandidat kepala daerah hanya untuk meneruskan
progam pembangunan yang sudah dirintis terlalu naf dan klise untuk
dipahami publik. Realitanya yang terjadi justru adalah hanya untuk
mengamankan kepentingan kuasa agar tidak direbut oleh orang
lainnya. Memang untuk mencapai alasan realistis tersebut masih
sebatas asumsi publik karena pada dasarnya orang Indonesia
utamanya Jawa selalu lihai dalam menyembunyikan maksud
sebenarnya dan selalu menampilkan komunikasi halus. Setidaknya
hal inilah yang bisa kita tangkap penjabaran Hans Antlov (2001)
dalam Kepemimpinan Jawa : Kekuasaan Halus dan Kepemimpinan
Otoriter menyebutkan bahwa munculnya dinasti politik yang
berkembang paska reformasi secara tidak langsung merupakan
pembawaan karakteristik dari rezim orde baru yang berkuasa selama
12 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
32 tahun dengan mengandalkan jejaring kroni maupun penempatan
kerabat ditempatkan pada posisi penting baik dalam ekonomi dan
politik. Keluarga Cendana merupakan idiom sempurna dari dinasti
politik yang pernah berkuasa di Indonesia dengan mengandalkan
Presiden Soeharto sebagai pucuk pimpinan tertinggi. Oleh karena
itulah, konsep dinasti politik ini memiliki karakteristik prismatik dan
patrimonialnya yang begitu kuat.
Kepemimpinan Elitis
Munculnya fenomena dinasti politik di Indonesia sebenarnya
dapat dilacak dari gagasan Van Klinken (2006) tentang kemunculan
raja-raja kecil di daerah provinsi. Raja kecil ini berarti munculnya
rezim penguasa oligarkis yang termanifestasikan dalam penerapan
demokrasi lokal paska diundangkannya UU 22/1999. Dinasti politik
ini dapat dianalisis dalam berbagai kajian. Pertama, dinasti politik
ini hadir karena adanya pertalian antara orang kuat (local bossism)
dengan pemimpin informal (informal leader) yang kemudian
membentuk aliansi formal kepartaian dalam pemilukada. Contohnya
bisa kita simak dalam klan politik Banten kontemporer dimana kelas
pendekar jawara sebagai orang kuat dan Tuan Besar sebagai
pemimpin informal membentuk aliansi strategis di kalangan informal
politik dan politik formal dengan menempatkan anak, saudara,
maupun kerabat dekat lainnya menjadi pemimpin politik
pemerintahan dan ekonomi. Hal yang sama juga berlaku di Madura,
dinasti politik terbangun atas jejaring blater (orang kuat Madura),
ulama, maupun pedagang dalam pemerintahan kabupaten di sana.
Ketiga aktor tersebut silih berganti menduduki kursi bupati dan
saling mendukung satu sama lainnya dengan melakukan pembagian
kuasa seperti blater (urusan keamanan dan sosial politik), ulama
(etika keagamaan), dan pedagang (ekonomi). Dinasti politik ini
langgeng karena pengaruh karismatik dan kuasa informal yang
Wasisto Raharjo Jati, S.IP13
dimiliki aliansi tersebut di masyarakat.
Kedua, dinasti politik tercipta karena kekuasaan suku dan
etnis (tribal power). Pola dinasti politik semacam ini lebih
mengandalkan pada pola konsolidasi dan solidaritas etnis yang
mendukung pemerintahan. Contohnya bisa kita simak dari kasus
Sulawesi Selatan dimana dinasti politik disana dibangun atas dasar
kesukuan dan etnisitas seperti Bugis-Makassar, Mandar, Wajo, dan
lain sebagainya. Bagi pemangku jabatan di Sulawesi Selatan,
etnisitas merupakan modal penting untuk menjaga kuasa karena pada
dasarnya preferensi politik lokal lebih terasa dalam hubungan
kekerabatan yang mengalir dalam satu darah. Oleh karena itulah, bila
kita menelisik lebih lanjut mengenai eksistensi dinasti politik yang
terjadi di sana adalah dinasti etnis. Hal sama sebenarnya juga berlaku
di Papua dan Sumatera Utara, di Papua khususnya pemerintahan
provinsi dalam setiap suksesi pemerintahan gubernur diikuti pula
dengan suksesi kepala dinas di bawahnya. Misalnya saja, ketika
Barnabas Suebu menjabat gubernur Papua, terdapat kebijakan
Ayamarunisasi yakni penempatan etnis ayamaru dalam setiap posisi
penting pemerintahan Papua. Dengan menempatkan sanak saudara
sesuku dalam birokrasi, secara otomatis dapat meredam suara
kritikan dari akar masyarakat. Yang ketiga, dinasti politik yang
berkembang kini adalah hubungan famili seperti istri menggantikan
suami menjadi bupati, anak bupati menjadi bupati, mertua menjadi
anggota DPR, dan lain sebagainya. Hal ini belaku secara serentak
dan merata baik itu dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung.
Keberadaan dinasti poltik yang berkembang di daerah secara
tidak langsung merupakan gambaran dari kingship ruling (kuasa
raja) yang terwariskan dalam praktik otonomi daerah masa kini.
Setidaknya isu dinasti politik ini sudah menjadi isu penting dalam
revisi UU Pemerintahan Daerah, kita tunggu saja apakah dinasti
14 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
politik ini bisa direduksi dengan aturan ataukah semakin langgeng
memanfaatkan kelengahan UU. Hanya waktu yang bisa menjawab.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP15
Gejolak Desentralisasi Papua
Kongres Papua III yang berakhir ricuh bukanlah bertjuan
untuk melakukan kegiatan makar melawan negara, melainkan
menuntut bagaimana negara untuk lebih adil dalam melakukan
desentralisasi di Tanah Papua yang nyatanya tidaklah afirmatif
dengan identitas maupun kearifan lokal setempat. Pemberian
desentralisasi asimetris sejatinya merupakan manifestasi pengakuan
pemerintah pusat kepada entitas lokal dalam menjalankan roda
pemerintahan. Namun entitas lokal sendiri masih dipandang dalam
perspektif institusionalisme dengan membentuk berbagai
kelembagaan yang afirmatif seperti halnya Majelis Rakyat Papua.
Desain institusionalisme yang sedemikian tersebut belumlah selesai
untuk menjawab pengakuan entitas lokal dalam bentuk identitas
kedaerahan sebagaimana tertera dalam bunyi UU No 21/2001
tentang Otonomi Khusus Papua yang tertulis juga pengakuan akan
identitas lokal seperti halnya bendera, lagu daerah, maupun lambang
identitas lokal lainnya.
Sampai sekarang, pemerintah sendiri enggan untuk
mengakui berbagai identitas lokal tersebut karena dikhawatirkan
akan menjadi pemicu pelepasan daerah dari NKRI. Pemerintah
beralasan bahwa identitas lokal tersebut telah lekat dengan gerakan
separatisme lokal seperti halnya Bendera Bintang Kejora yang
digunakan OPM maupun Bendera Aceh yang pernah digunakan
GAM. Stigmatisasi pemerintah pusat tersebut telah menimbulkan
perdebatan sengit pada kalangan rakyat Papua tentang prospek suram
identitas lokal mereka dalam kerangka Otonomi Khusus Papua. Bagi
masyarakat Papua, menyanyikan lagu Hai Tanahku Papua maupun
mengibarkan Bendera Bintang Kejora sendiri bukanlah streotipe
gerakan separatisme, namun merupakan bentuk rasa syukur mereka
kepada Tuhan telah dizinkan bertempat tinggal di Pulau Papua
16 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dengan keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah
(Marianus, 2006).
Komodifikasi identitas lokal sebagai simbol munculnya
gerakan separatisme sendiri dikarenakan pemerintah hirau dengan
masalah tersebut disamping juga permasalahan redistribusi sumber
daya ekonomi yang tidak adil antara pusat dan daerah. Kehirauan
pemerintah mengenai identitas lokal tersebut mengindikasikan
bahwa pemerintah sendiri terlalu memaksakan konsep negara
kesatuan untuk diterapkan secara baku dan serempak di setiap level
pemerintahan daerah. Implikasi yang timbul adalah, terjadi
marginalisasi identitas lokal sehingga menimbulkan berbagai konflik
di berbagai daerah asimetris. Kasus Papua misalnya, menyanyikan
lagu Hai Tanahku Papua dan menggunakan lambang Burung
Mabruk sendiri bisa jadi terkena pasal subversif sehingga tak jarang
kemudian banyak kasus kekerasan yang melibatkan aparat keamanan
dengan suku suku pedalaman timbul karena persoalan tersebut.
Adapun karakter negara intervensionis dalam rezim otonomi
daerah sendiri mengindikasikan bahwa cara berpikir sentralistis
rezim Orde Baru belumlah tereduksi sepenuhnya dikarenakan watak
Jawa-isasi yang mengandaikan kekuasaan berada di satu titik sendiri
masih kentara hingga sekarang. Artinya bahwa, pemberian
desentralisasi terlebih asimetri sendiri hanya narasi semu dan retoris
dikarenakan daerah belumlah secara penuh mengaktualisasikan
kelokalannya karena di satu sisi masih kuat definisi tunggal negara
untuk mengatur masalah lokal terlebih lagi dalam pengakuan
identitas lokal. Hal yang sedemikian merupakan ironi bagi praktik
desentralisasi asimetris di Indonesia terutama dalam menjaga
semangat integrasi bangsa maupun multikulturalisme. Adapun
keseimbangan antara desentralisasi asimetris, integrasi, maupun
multikulturalisme sendiri sendiri sangatlah urgen dan signifikan
dalam merumuskan pemberian model otonomi daerah yang tepat
Wasisto Raharjo Jati, S.IP17
untuk diterapkan di Indonesia. Oleh karena itulah, pemerintah perlu
melihat kebijakan otonomi daerah yang memuat tiga aspek tersebut
yang berlaku dalam pemberian desentralisasi asimetris Pemerintah
Kanada kepada salah satu provinsinya yang bernama Nova Scotia.
Kasus Nova Scotia
Adapun kebijakan desentralisasi asimetris Pemerintah
Kanada yang berlaku di Provinsi Nova Scotia ini adalah
menempatkan berbagai identitas lokal dalam menjalankan
pemerintahan provinsi tersebut. Sebagaimana Indonesia, Kanada
sendiri juga merupakan negara kesatuan melainkan dalam bentuk
fleksibel. Kanada sendiri sadar bahwa negaranya merupakan negara
multikultur mulai dari bahasa, ras, maupun simbol lainnya sehingga
tidak memaksakan konsep unitarismenya kepada setiap provinsinya.
Adapun dalam kasus desentralisasi asimetris di Nova Scotia, Kanada
sangatlah sadar provinsi ini memiliki komposisi demografis yang
berbeda dengan keseluruhan provinsi lainnya yakni mayoritas
penduduknya adalah orang keturunan Skotlandia sehingga mereka
berbahasa Skotlandia. Oleh karena itulah, pemerintah sendiri
kemudian mengakui identitas Skotlandia dalam tata pemerintahan di
Nova Scotia ini mulai dari bendera, simbol, lagu, sampai pada sidang
parlemen yang memakai baju adat sehingga penduduk pun merasa
tentram dan nyaman untuk menggunakan identitasnya sehingga
potensi penguatan identitas lokal sebagai gerakan aksi separatisme
sendiri tereduksi.
Pemerintah Indonesia perlu sekiranya untuk mencontoh pada
kasus yang terjadi di Kanada tersebut dengan menempatkan identitas
lokal sebagai bentuk pemberian hak bagi daerah otonomi asimetris
untuk berekspresi dan beraktualisasi dengan identitas lokalnya.
Selain itu pula, pengakuan identitas lokal sendiri bisa jadi menjadi
kata kunci dalam manajemen konflik yang ada di daerah sehingga
18 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
potensi akan menguatnya gerakan separatisme yang ada akan
mengecil seiring dengan kebebasan masyarakat lokal untuk
mengenakan identitasnya di dalam kerangka NKRI.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP19
Ilusi Pemberantasan Korupsi
Selamat datang di negeri mafia korupsi. Perilaku korupsi di
Indonesia telah menjamur dan menggrurita secara hierarkis dari level
pusat ke level daerah. Korupsi telah menjadi budaya dan perilaku
keseharian bagi masyarakat Indonesia yang diwariskan sejak era
kerajaan hingga masa republik. Perilaku korupsi telah bergenerasi
semenjak waktu mengenyam pendidikan hingga waktu mencari
nafkah. Perilaku suap menyuap (bribery), meminta komisi,
memotong dana anggaran, maupun bermain proyek sudah jamak
dalam kasus pemerintahan, swasta, bahkan masyarakat sekalipun.
Masyarakat Indonesia sudah mengerti bahwa uang semir sebagai
pelicin segala permasalahan yang berhubungan dengan birokrasi.
Pembuatan KTP, perpanjangan SIM, pembuatan paspor, bahkan
pembuatan akte pun merupakan korupsi yang biasa sudah dihadapi.
Meskipun sudah ada upaya reformasi birokrasi, karakter Pak Ogah
tetaplah tidak bisa hilang dari kultur birokrasi Indonesia yang secara
regulasi sudah diarahkan kepada perilaku korupsi. Banyak fungsi
dan miskin kinerja barangkali menjadi gambaran perilaku korup
birokrasi di negeri ini.
Melihat sedemikian parahnya budaya perilaku korupsi di
negeri kita, tidak salah mengatakan perbincangan mengenai
pemberantasan korupsi hanyalah ilusi. Dikatakan Ilusi karena
pertama, dorongan untuk berperilaku korupsi bukan karena
dorongan pribadi untuk memperkaya diri sendiri, melainkan
sistemlah yang mendorong orang berperilaku untuk berkorupsi.
Sistem di negeri kita baik politik, ekonomi, maupun hukum selalu
terdapat ruang abu abu untuk melanggengkan sistem korupsi
tersebut. Kedua, karena sudah menjadi sistem yang berakar kuat,
perilaku korupsi telah mempunyai jaringan yang kuat antar
kelembagaan baik pusat maupun daerah. Jaringan yang berisikan
20 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
para pejabat eksekutif, aparat penegak hukum, maupun politisi
memiliki sikap proteksi satu sama lainnya sehingga sulit untuk
diberantas sampai ke akarnya. Ketiga, korupsi telah dilegalkan
melalui serangkaian regulasi pemborosan uang negara melalui
tunjangan pejabat maupun proyek pembangunan bermilyar rupiah
sementara uang untuk rakyat yang diterima secara langsung sangat
sedikit diterima.
Penulis setuju dengan Bambang Soesatyo (2011) bahwa
negeri kita hanya melakukan perang perangan melawan perilaku
korupsi. Yang dimaksudkan dengan perang perangan ialah
pemberantasan korupsi di negeri kita tidak pernah tuntas sampai akar
permasalahannya sehingga otak dibalik perilaku korupsi tidak pernah
ditangkap karena alasan berkas penyidikan kurang lengkap. KPK
sendiri juga belum serius menjalankan fungsinya dan masih tebang
pilih dalam melakukan pemberantasan korupsi. Adapun keberadaan
Satgas pemberantasan korupsi dan mafia hukum kini juga tidak
berjalan efektif karena satgas yang dibentuk presiden pada 2010 lalu
tidak diberi kewenangan yang tugas dan hanya menjadi lembaga
temporatif. Yang terakhir adalah para koruptor menang di tingkat
pengadilan setelah gugatan mereka mengenai pembatasan remisi
pengurangan hukuman bagi terpidana koruptor kini telah dicabut
oleh Pengadilan Tata Usaha Negara. Koruptor mulai menapaki diri
menuju kemenangan bahwa korupsi adalah hukum sejati di negeri ini
dan pemberantasan korupsi hanyalah ilusi dan ocehan yang tidak
jelas.
Pelemahan KPK
Ilusi pemberantasan korupsi yang paling nyata hari ini
adalah rencana DPR untuk melakukan revisi UU No.30 Tahun 2002
tentang KPK dengan mencabut tiga fungsi utama dijalankan KPK
sebagai lembaga peradilan yakni kewenangan penyidikan,
Wasisto Raharjo Jati, S.IP21
kewenangan penuntutan, dan kewenangan pencegahan. DPR
memang selama ini kerap berseteru dengan KPK utamanya kalau
kasus korupsi yang diusut KPK sudah menyentuh pada ranah korupsi
politik. DPR geram dengan tindakan KPK yang menangkap anggota
anggotanya dalam berbagai kasus mulai dari cek pelawat pemilihan
deputi gubernur BI, kasus wisma atlet SEA Games, kasus Bank
Century, kasus suap Kemenakertrans, maupun kasus pembangunan
proyek di daerah. Dalam revisi UU KPK tersebut, selain halnya
menghilangkan ketiga fungsi yang dimiliki oleh KPK. DPR akan
membentuk dewan pengawas KPK yang anggotanya diisi oleh
anggota DPR. Pembentukan dewan pengawas KPK sendiri disinyalir
berbau politis lantaran DPR akan secara mudah melakukan
intervensi politik terhadap berbagai kasus yang sedang dan akan
ditangani oleh KPK sehingga KPK pada nantinya akan menjadi
macan ompong yang tidak netral. DPR juga mewacanakan dalam
revisi kewenangan penyidikan KPK hanya boleh menangani kasus
dibawah 1 Milyar, sementara kasus yang di atas 1 Milyar tidak akan
diusut. Tentunya DPR jelas memperlihatkan dirinya sebagai lembaga
korupsi karena melegalkan praktik korupsi di atas 1 Milyar tidak
terindikasi hukum.
Barangkali dengan revisi UU No.30 Tahun 2002 tentang
KPK inilah, DPR membalas dendam dendam secara politik,
konstitusi maupun institusi kepada KPK sebagai lembaga yang sulit
diatur kewenangannnya. Pada dasarnya keberadaan KPK di negeri
ini juga menjadi ambigu di tengah perilaku korupsi yang telah
membudaya di kalangan masyarakat. Ambigu karena masyarakat
kini mulai pesimis dengan pemberantasan korupsi dan realistis
melihat praktik korupsi sebagai perilaku keseharian dan Ambigu
karena secara kelembagaan KPK sebagai superpower dinilai sering
melebihi kewenangannya, sementara KPK sendiri menilai dirinya
secara kelemabagaan direduksi keberadaannya oleh kepolisian dan
22 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
kejaksaan. Jika KPK sebagai lembaga satusatunya yang menangani
korupsi dikebiri, maka cukuplah pantas bila pemberantasan korupsi
di negeri kita adalah ilusi.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP23
Keterbatasan Emansipasi Politik Perempuan
Walaupun perempuan mendominasi 53 % dari 250 juta
penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus 2010 dan telah banyak
berkontribusi banyak kepada pembangunan di segala bidang, namun
representasi politik perempuan sendiri masih berada dalam posisi
tidak setara dengan politiknya kaum pria. Hal itu dapat terindikasi
dari masih dominannya jumlah politisi laki laki yang duduk di
parlemen nasional sebanyak 81 % sementara perempuan hanya
tersisa 18 % saja (UNDP, 2011). Adapun representasi politik
perempuan di parlemen lokal pun hasilnya juga tak jauh berbeda,
hanya berkisar di angka 16, 47 % saja. Meskipun pemerintah dan
DPR sudah berupaya untuk meningkatkan angka representasi politik
perempuan dalam paket UU Politik sebesar 30 %, namun hal
tersebut hanya politik pencitraan semata dan minim
implementasinya. Adapun jumlah politisi perempuan yang duduk di
DPR sendiri sangatlah bervariasi tergantung partainya.
Tercatat, bahwa dari sembilan fraksi partai tidak satu pun yang
menaati aturan 30 % representasi politik perempuan tersebut.
Perwakilan perempuan terendah di DPR RI adalah Partai Keadilan
Sejahtera yang jumlahnya 5,3 persen, sementara Partai Demokrat
memiliki keterwakilan tertinggi sebesar 24,3 persen. Adapun ketidak
patuhan para partai politik atas aturan 30 % menjadikan kuota itu
tidak sungguh-sungguh menciptakan ruang politik bagi perempuan
di DPR, karena pada akhirnya kuota itu hanya dipakai untuk
mentarget jumlah tertinggi. Kuota representasi 30 persen sendiri
merupakan angka semu yang hanya digunakan untuk menggenapi
jumlah kesetaraan gender anggota DPR, namun kuota 30 persen itu
sendiri tidak menyentuh meningkatkan partisipasi politisi perempuan
dalam pembuatan UU maupun kebijakan lainnya dan meningkatkan
posisi tawar politik perempuan atas kebijakan publik tertentu yang
24 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
sebenarnya itulah inti sebenarnya dari penerapaan kuota 30 persen
representasi politik perempuan.
Diskriminasi Politik Perempuan
Adapun hingga kini masih banyak perempuan yang enggan
untuk menyuarakan aspirasinya ke DPR maupun DPRD karena
menganggap bahwa politik merupakan arenanya kaum laki laki.
Walaupun kini sudah terdapat kenaikan jumlah perempuan yang
duduk di parlemen, akan tetapi politisi perempuan sendiri secara
tidak langsung masih merasakan kultur tradisional yang masih
membalut eksistensi politik mereka di hadapan politisi laki laki.
Adapun kultur tradisional tersebut bersumber pada tiga hal yakni
budaya Indonesia bersifat feodalistik dan patrialkal; kedua,
masyarakat Indonesia memiliki pemahaman dan penafsiran yang
konservatif tentang ajaran-ajaran agama; ketiga, hegemoni Negara
masih sangat dominan (Nurland, 2004), hal ini tercermin pada
lembaga-lembaga negara yang melestarikan budaya partriarkis di
segala tingkatan kultur patriarki dan sistem politik yang ada
berdampak sangat negatif terhadap kaum perempuan yang berusaha
melaksanakan hak mereka untuk berpartisipasi secara politis. Dalam
masyarakat tradisional Indonesia, perempuan tidak didorong untuk
berperan aktif dalam kehidupan publik; keterampilan dan bakat
mereka lebih diakui di dalam lingkungan rumah tangga yang sangat
pribadi sifatnya. Dikotomi ini masih dipelihara, bahkan dalam Era
Reformasi sekarang ini (Seda, 2004).
Adapun produk UU yang dibuat oleh DPR selama ini belum
menghasilkan UU yang benarbenar pro gender karena posisi
politisi perempuan sendiri justru mengalami maskulinisasi politik
untuk memperjuangkan hakhak perempuan dalam UU. Para politisi
perempuan sendiri cenderung untuk menuruti kemauan politik para
politisi laki-laki yang selama ini cenderung menampikan isu-isu
Wasisto Raharjo Jati, S.IP25
gender untuk dibahas dalam sidang DPR. Adapun langkah dilematis
para politisi perempuan antara memperjuangkan hak perempuan dan
menjaga eksistensi mereka agar diakui oleh politisi laki laki
mengakibatkan terhentinya pembahasan UU yang pro-gender seperti
halnya UU KDRT, UU Kesehatan Ibu & Anak, UU TKW, UU
Pemberdayaan Perempuan, dan lain sebagainya.
Sehingga yang terjadi adalah pragmatisme politik dalam
memperjuangkan emansipasi perempuan karena mayoritas politisi
perempuan kini lebih banyak bermain aman dan tidak bersikap
kritis demi menjaga posisi kursi mereka dan mendukung setiap
langkah politik politisi laki-laki. Maka dalam hal ini dapat
disimpulkan bahwa, masalah utama yang dihadapi perempuan
dalam dunia politik dalam memperjuangkan emansipasinya
mencakup ketegangan antara status askriptif dengan achieved status
yang merupakan akibat dari proses sosialisasi politik perempuan.
Status askriptif sendiri dimaknai sebagai personifikasi politik
perempuan sendiri yang masih minder dengan dunia politik yang
identik dengan kekerasan karena sidang-sidang DPR maupun DPRD
yang masih sarat konflik dan sesekali diwarnai kekerasan fisik, serta
pergulatan tanpa henti untuk memperebutkan kedudukan dan
kekuasaan merupakan beberapa hal yang menciutkan nyali
perempuan untuk terjun dalam bidang politik. Mereka lebih suka
menjauhkan diri dari politik kotor seperti yang dipertontonkan para
politisi laki laki tersebut. Adapun achieved status sendiri berkaitan
dengan posisi ganda yang dialami perempuan untuk terjun sebagai
wanita karir dalam bidang politik karena prestasinya mereka hanya
bisa diakui kalau mereka sendiri mampu mengurusi urusan domestik
rumah tangga terlebih dahulu, baru kemudian bicara representasi
politik perempuan.
26 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Sosialisasi Efektif
Rendahnya representasi sekaligus partisipasi politik
perempuan itu sendiri bisa ditanggulangi dengan sosialisasi efektif
yang dilakukan oleh media, LSM, dan pemangku kepentingan yang
menaruh konsens pada perempuan. Sosialisasi tersebut bermula
dengan mereduksi kultur tradisional yang terlebih dahulu
menjangkiti politik perempuan sehingga kemudian basis dasar untuk
mewujudkan secara riil emansipasi politik perempuan di era modern
kini.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP27
Posisi Wakil Menteri Rawan Dipolitisasi
Posisi Wakil Menteri (Wamen) dalam jajaran kabinet
Indonesia Bersatu Jilid II sekarang ini sangat tidak jelas. Hal tersebut
bisa ditinjau dari dua hal yakni sistem rekrutmennya dan sistem
tugas pokok fungsinya. Pertama dari sisi rekrutmen, Dalam Perpres
No 77 Tahun 2011 disebutkan bahwa Wakil Menteri ialah pejabat
karier kementerian bersangkutan yang mempunyai eselon IA. Maka
dengan demikian, seharusnya menteri terkait yang lebih berwenang
mengangkat posisi wakilnya di kementerian sebagai pejabat karir
bukannya dilakukan oleh Presiden secara preogratif. Hal ini yang
kemudian menimbulkan tidak jelasitas dalam memahami posisi
Wamen apakah sebagai anggota kabinet setara menteri dalam arti
menjadi pejabat politik ataukah menjadi pejabat birokrat. Kalau
diartikan sebagai pejabat politik, secara jelas posisi Wamen rawan
dipolitisasi oleh berbagai partai politik yang menginginkan kadernya
duduk di kabinet dan dikhawatirkan kinerja kementerian yang
bersangkutan akan dikooptasi oleh partai politik tertentu. Kalaupun
Wamen sendiri dianggap selevel dengan menteri kenapa harus ada
kata wakil dan menerima gaji dan fasilitas setara menteri ? Wamen
seharusnya tidak diperkenankan menikmati fasilitas menteri yang
dianggarkan dalam Anggaran Sekretariat Kabinet mencapai 1,8
triliun karena sifatnya yang hanya membantu. Terlebih jumlah
Wamen sekarang ini sangatlah banyak berjumlah 17 orang tersebar
di berbagai kementerian yang tentu akan membuat menteri malas
bekerja karena sudah ada Wamen yang menggantikannya. Maka bisa
dibayangkan menteri sendiri hanya akan berfokus menambah pundi
uang bagi partainya saja dibandingkan mengurusi kepentingan rakyat
banyak.
Dalam hal ini, Wakil Menteri yang sekarang ini justru
diambil dari berbagai instansi dan kalangan universitas yang sifatnya
28 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
lintas sektoral sehingga dari segi konstitusi pengangkatan wakil
menteri sendiri sudah salah. Ditinjau dari sistem eselonisasi pangkat
birokrat, umumnya pejabat karier birokrat tertinggi hanya sampai
level Direktorat Jenderal (Dirjen) atau Sekretaris Jenderal (Sekjend)
yang menjadi pejabat yang mempunyai kekuasaan tertinggi kedua
setelah menteri. Adanya posisi Wamen yang tiba-tiba menjadi orang
kedua setelah menteri yang datang dari luar struktur kementerian
mempengaruhi harmonisasi relasi kinerja antara menteri dan pejabat
bawahannya yang menilai Wamen telah merusak tatanan rantai
struktur birokrasi. Hal ini bisa dianalisa dalam kasus Wamenkunham
Denny Indrayana yang ditinjau dari segi eselonisasi, Wamen Denny
sendiri masih IIIA karena masih berstatus Dosen Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada, sementara pejabat Dirjen dan Sekjend di
Kemenkuham sendiri rata-rata sudah IIA bahkan IB. Adanya
ketimpangan antara eselon dan jabatan yang dijabat Wamen Denny
dengan pejabat kementerian tentu memberikan dampak kecemburuan
sektoral dan jenjang jabatan. Tentunya bagi pejabat karir yang sudah
memiliki golongan tinggi secara senioritas tentu tidak mau diperintah
oleh pejabat yang masih kalah tinggi golongannya meskipun sudah
menjabat orang kedua di kementerian tersebut. Secara psikologis,
seorang pejabat lintas sektoral atau lintas fungsional dalam suatu
kementerian cenderung untuk melaporkan kinerjanya secara
langsung kepada menteri yang bersangkutan dan bukan kepada wakil
menteri.
Kedua, ditinjau tugas pokok fungsinya, apakah deskripsi
kerja yang diemban oleh Wakil Menteri terkait ?. Dalam UU No. 39
Tahun 2008 pasal 10 disebutkan Dalam rangka mengemban tugas
menteri sebagai pembantu presiden yang dirasa beban kerjanya berat,
maka ditunjuklah wakil menteri untuk membantu tugas menteri di
kementerian tertentu. Definisi membantu kerja menteri sendiri
dirasa masih rancu karena hal ini sama saja Presiden kurang
Wasisto Raharjo Jati, S.IP29
menghargai kinerja Sekjend maupun Dirjend yang selama ini telah
membantu tugas- tugas kementerian. Definisi membantu sendiri
mempunyai pengertian meluas karena bisa menabrak tugas pokok
fungsi para dirjend dan sekjend sehingga akan menghambat kinerja
kementerian tersebut dan akan menambah panjang mata rantai
birokrasi dalam pengambilan keputusan karena Wamen secara
stuktural perlu dilibatkan. Hal ini sama saja Presiden juga tidak
konsisten melakukan reformasi birokrasi dengan mengefisiensi
struktur birokrasi yang ada. Adanya 17 Wamen, 8 Wantimpres, Staf
khusus, Satgas, maupun Unit kerja Presiden lainnya membuat
struktur kabinet presidensialisme sekarang ini sangat gemuk dan
hanya menambah beban anggaran semata.
Oleh karena itulah, sebaiknya jabatan Wamen sendiri
dihilangkan karena sangat tidak jelas secara struktural maupun
kinerja. Akan lebih bagi presiden maupun menteri terkait untuk
memperkuat kinerja kepada dirjen dan sekjend dengan menambah
kewenangannya karena disamping dapat mengefisiensi anggaran,
juga menghilangkan stigma kecemburuan dan ego struktural dalam
internal kinerja kementerian.
~~
30 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Korupsi dan Semiotika Tikus
Di negeri ini, tokoh koruptor kerap kali gambarkan dengan
tikus yang berpakain perlente yang menenteng sebuah koper besar
yang di dalamnya berisi setumpuk uang. Tentu pesan yang ingin
disampaikan dalam simbol tersebut adalah koruptor sendiri tidak
ubahnya seperti tikus yang gemar menyelinap dalam remang
remang kegelapan untuk mencuri makanan di saat kita tertidur.
Koruptor memang kerap sekali mencuri uang negara dalam gelapnya
hukum sebagai cahaya keadilan karena lengahnya para aparat
yudikatif. Namun apakah hanya cukup itu saja tikus dimaknai
sebagai simbol koruptor ? Tentunya kalau ditinjau secara lebih
mendalam akan banyak sekali sifat kelakukan tikus yang bisa
merefleksikan kelakuan korup yang dilakukan para pejabat kita.
Semiotika Tikus
Sifat pertama tikus adalah defensif, pada dasarnya tikus
merupakan hewan pengecut yang tidak secara frontal mencuri
makanan. Mereka sering kali mengorbankan temannya terlebih
dahulu untuk terperangkap dalam penjerat maupun racun tikus
lainnya dan baru kemudian mencuri makanan setelah dirasa dirinya
aman dari manusia. Koruptor pun juga demikian halnya, mereka
sendiri akan membiarkan dan mengorbankan temannya entah itu
rekan kerja sejawat maupun bawahannya untuk menjadi tersangka
sehingga dirinya aman dari jeratan hukum. Adapun kasus kasus
korupsi besar seperti halnya Wisma Atlet, Bank Century, maupun
Kemenakertrans, pelakunya yang tertangkap baru level mikro belum
menyentuh level makro sebagaimana yang diharapkan oleh banyak
pihak.
Sifat kedua tikus adalah cerdik, tikus sendiri merupakan
binatang dengan tingkat kecerdasan yang tinggi seperti halnya
Wasisto Raharjo Jati, S.IP31
bangsa kera dengan memiliki tingkat memori otak yang tinggi.
Setelah melihat temannya terjerat dengan jebakan tikus dan melihat
secara berulang kali manusia memasang penjerat yang sama untuk
menangkap tikus lainnya. Tikus tidak akan mudah tertipu untuk
kedua kalinya dan mereka akan mudah berkelit untuk menghindari
jebakan tikus. Koruptor di Indonesia juga dalam melakukan tindak
pidana korupsi selalu awas dan lihai untuk melihat celah celah
peraturan yang bisa ditembus. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan
adanya dana PPID (Perimbangan Percepatan Infrastruktur Daerah)
yang ramai dibicarakan dalam kasus suap Kemenakertrans, dana
rekonstruksi dan renovasi gedung, dana percepatan proyek, dana
lintas sektoral, maupun dana lainnya sejenis sejatinya merupakan
celah korupsi yang dilegalkan oleh negara untuk dimasuki oleh para
koruptor. Koruptor secara sah bisa mengelola berbagai sumber dana
tersebut dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa dan negara.
Sikap awas juga diperlihatkan oleh para koruptor untuk menghindari
jeratan KPK dengan mewacanakan memasang alat anti penyadapan
yang dilakukan di berbagai instansi negara, memotong kewenangan
KPK hanya menindak kasus korupsi di atas Rp 1 Milyar,
memasukkan oknum jaksa dan polisi sebagai tim intai pengawas
KPK, maupun mendesentralisasikan pengadilan Tipikor ke berbagai
daerah supaya pengawasan KPK tidak tersentralkan.
Sifat tikus yang ketiga adalah nomaden, mereka biasanya
berpikir pragmatis dengan mencari tempat tempat yang
memungkinkan di situ terdapat makanan melimpah. Politisi DPR
biasanya mencari komisi komisi DPR yang biasanya basah uang
dan banjir proyek seperti halnya komisi 7 yang membidangi bidang
energi dan sumber daya mineral, komisi 1 yang membidangi
pertahanan dan luar negeri, komisi 2 yang membidangi perimbangan
keuangan dan otonomi daerah, serta komisi 10 yang membidangi
pemuda, kesenian, dan olahraga. Hampir dipastikan bahwa komisi
32 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
komisi tersebut banyak proyek maupun rekanan tender yang mesti
diurus. Politisi kita sebenarnya bukanlah bermental negarawan sejati,
kebanyakan dari mereka adalah politisi bermental aji mumpung
yakni selagi menjabat dan berkuasa, mengeruk anggaran negara
sebanyak banyaknya untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan
kelompok. Bisa dikatakan dalam periode lima tahun menjabat kecil
sekali kemungkinan untuk mengabdi kepada rakyat. Dalam 2 tahun
periode awal menjabat, para politisi kita baru memenuhi misi politik
impas yakni mengeruk dana negara sebesar mungkin untuk
mengganti modal yang dikeluarkan selama berkampanye agar bisa
impas (break event point), periode 2 tahun berikutnya adalah mereka
berupaya untuk memperkaya diri dengan mengejar berbagai proyek
yang terdapat di DPR supaya kekayaan mereka berlipat ganda.
Taruhlah gaji DPR 3 Milyar itu pun 75 % nya habis untuk biaya
konstituen maupun biaya setoran ke partai sehingga take home pay
hanya mencapai 25 % sehingga potensi beperilaku korupsi sangat
memungkinkan. Adapun satu tahun terakhir, mereka lebih sibuk
mempersiapkan kampanye untuk pencalonan berikutnya dan tidak
sempat memikirkan nasib rakyat.
Sifat terakhir tikus adalah imun dan produktif, tikus sendiri
mempunyai tingkat kekebalan tubuh yang tinggi terhadap segala
jenis penyakit dan tingkat natalitas mereka yang tinggi sehingga
tingkat kematian mereka begitu rendah dan sanggup bertahan hidup
dalam suhu ekstrim sekalipun. Barangkali sifat terakhir tikus inilah
yang setidaknya bisa merefleksikan upaya pemberantasan korupsi di
negeri kita. Koruptor di negeri ini memang sangatlah sulit diberantas
karena begitu tertangkap, mereka akan tumbuh lagi semakin banyak.
Seperti halnya sifat imun tikus, koruptor di negeri ini sudah imun
dengan berbagai gunjingan, kritikan, maupun cercaan atas tindak
perilaku korupsi yang mereka lakukan. Jika koruptor sudah seperti
tikus, maka sudah menjadi kewajiban negara untuk menjadi kucing
Wasisto Raharjo Jati, S.IP33
predator untuk memangsa tikus tersebut. Masalahnya kini negara
sebagai kucing kalah jumlah dan dikeroyok oleh gerombolan tikus
sehingga tikus menjadi aktor berkuasa di negeri ini baik tikus rumah
maupun tikus koruptor.
~~
34 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Media Tersandera Partai Politik
Masuknya Harry Tanoesoedibjo selaku pimpinan Media
Nusantara Citra (MNC) Group yang memiliki RCTI, MNC TV,
Global TV, Okezone.com, Harian Seputar Indonesia ke dalam
kepengurusan Partai Nasional Demokrat mengikuti rekan sejawatnya
yakni Surya Paloh pemilik Media Group yang membawahi Metro
TV, Media Indonesia, Lampung Post, maupun Tribun Borneo
maupun Aburizal Bakrie pemilik Bakrie Group yang membawahi
TV One, ANTV, Harian Suara Karya, vivanews.com dalam Partai
Golkar secara tidak langsung akan menurunkan derajat independensi
pemberitaan media massa. Mengutip data AC Nielsen pada 2010,
menyebutkan bahwa ketiga group tersebut memiliki pangsa
pemberitaan media yang terbesar di tanah dengan prosentase sharing
media di atas 80 % angka nasional sehingga pemberitaan berita
nasional maupun lokal yang disiarkan oleh ketiga group media besar
tersebut secara psikologis mempengaruhi opini publik masyarakat
Indonesia mengenai situasi politik, ekonomi, sosial budaya dan juga
jalannya pemerintahan kontemporer.
Tentu saja MNC Group yang masuk dalam koalisi politik
dan media akan memperhebat nuansa kontestasi sengit perpolitikan
Indonesia dengan menjadikan media sebagai corong artikulasi partai
politik. Kontestasi tersebut berupa perang opini berita, komentar,
maupun konten berita antar berbagai partai politik sehingga pada
akhirnya informasi yang disajikan oleh media akan tidak valid dan
kredibel, malahan akan menyesatkan opini masyarakat. kondisi yang
sedemikan tentunya akan sangat menyedihkan bagi insan pers yang
menjunjung tinggi kenetralan media dalam upaya mencerahkan dan
sumber pengetahuan masyarakat. maka dapat dikatakan bahwa inilah
masa media capture of capitalism. Kapitalisme yang menyandera
pemberitaan media massa.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP35
Media Capture of Capitalism
Terminologi tersebut diperkenalkan oleh Noam Chomsky
(2004) dalam bukunya yang berjudul Media Control : The
Spectacular Achievement of Propaganda. Chomsky mencontohkan
kasus yang terjadi dalam pemberitaan media yang tidak independen
dalam media massa Amerika Serikat. Dia mencontohkan Fox News
maupun CNN yang cenderung membela kepentingan partai Republik
di Kongres sehingga membuat masyarakat Amerika sendiri menjadi
terpengaruh untuk menjadi republikan. Tentu saja, Rupert Murdoch
adalah dalang di balik semua pemberitaan Fox maupun CNN
tersebut dimana Murdoch yang merupakan seorang konservatif
adalah republikan sejati. Hal tersebut terbukti dalam pemilu AS pada
tahun 2003 dimana Fox News secara gencar mempengaruhi publik
Amerika Serikat untuk memilih George Walker Bush menjadi
presiden AS untuk periode kedua kalinya. Pemberitaan Fox News
sendiri menelikung berbagai pemberitaan mengenai kejahatan
kemanusiaan akibat perang invasi Amerika Serikat ke Iraq maupun
Afghanistan sebagai bentuk apresiasi melawan terorisme. Oleh
karena itulah Fox maupun CNN sendiri secara tidak langsung
menjadi sandera Murdoch untuk senantiasa mendukung Republikan.
Kapitalisme justru membuat dan mengebiri kode etik jurnalisme
media massa Amerika Serikat yang cenderung humanitarian dan
egalitarian dalam pemberitaanya. Kapitalisme media justru membuat
pemeritaan menjadi saluran propaganda yang pada akhirnya
menurunkan derajat pemberitaan media itu sendiri sehingga hanya
menjadi sampah informasi bagi masyarakat. Hal tersebut
dikarenakan konten berita hanya berisi sanjungan maupun pujian
kepada politisi partai politik dan bukannya berita kritis aspiratif.
Media kehilangan fungsi kontrol dan kritis kepada pemerintahan dan
kelak akan kehilangan tempat di mata masyarakat karena bukannya
mencerahkan masyarakat malahan membodohi masyarakat dengan
36 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
berita yang sumir dan tidak kredibel.
Barangkali kondisi Fox sendiri bisa diterjemahkan dalam
pemberitaan dua media besar yakni Metro TV maupun TV One yang
acap kali disebut sebagai gerbang informasi masyarakat Indonesia
justru juga kehilangan independensinya dalam pemberitaan. Dalam
pemberitaan kasus lumpur Lapindo misalnya, TV One sendiri
enggan untuk memberitakan kasus tersebut secara lugas, tajam, dan
kritis seperti pada pemberitaan pada umumnya. TV One justru
menampilkan sisi baik lumpur Lapindo sebagai sarana pariwisata
alternatif di Jawa Timur dan hirau akan nasib pengungsi di desa
Siring, Mindi, maupun Reno Kenongo yang terlunta lunta. Kondisi
yang sedemikan justru dimanfaatkan Metro TV untuk menyerang
pemberitaan TV One yang mengangkat secara besar-besaran kasus
kejahatan kemanusiaan Lumpur Lapindo. Kondisi serupa juga terjadi
dalam pemberitaan mengenai pembentukan Partai Nasional
Demokrat. Pemberitaan TV One mengeksploitasi secara berlebihan
pembentukan partai tersebut, sementara Metro TV memberitakan
secara halus bahwa Nasdem adalah partai aspiratif. Oleh karena
irulah dapat dikatakan bahwa kontestasi pemberitaan TV One
maupun Metro TV melambangkan persaingan politik antara Aburizal
Bakrie maupun Surya Paloh yang selama ini kurang akur sejak
Munas Golkar di Riau pada 2009 silam.
Penulis sendiri mengkhawatirkan hal serupa terjadi dalam
pemberitaan MNC Group seiring dengan masuknya Harry
Tanoesoedibjo menjadi pengurus Partai Nasdem. Dikhawatirkan
kualitas pemberitaan MNC yang selama ini terkenal dengan isu
sosial budayanya akan terseret ke dalam arena politik yang sebearnya
bukan domain pemberitaan MNC Group. Maka bisa dibayangkan
apa jadinya pemberitaan Media Indonesia, Harian Suara Karya,
maupun Koran Seputar Indonesia yang akan saling sikut menyikut
dalam pemberitaannya. Untuk itu peran dewan pers sesegara
Wasisto Raharjo Jati, S.IP37
mungkin untuk mencegah hal tersebut terjadi dengan membentuk
regulasi yang tegas untuk tidak membela kepentingan pemiliknya
dan lebih memperhatikan kepentingan untuk mencerahkan
pengetahuan masyarakat. Dewan Pers sekiranya perlu memperkuat
kode etik jurnalisme untuk mencegah kongkalingkong media dan
partai politik.
~~
38 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Menakar Arti Negara Gagal
Pada Juni 2012 lalu, The Fund for Peace (FFP) merilis
survei tentang indeks state failure (negara gagal) yang menempatkan
Indonesia sebagai negara gagal kategori warning dengan menempati
peringkat 63 dari 178 negara yang disurvei. Kategori tersebut
menempatkan Indonesia bersama Kongo, Pakistan, Afganistan,
maupun Gabon sebagai negara yang rentan akan terjadinya konflik
sosial politik baik dalam skala horizontal maupun vertikal sehingga
berpotensi turunnya fungsi governabilitas yang diemban negara.
Rilis FFP tersebut mengundang berbagai perdebatan publik di tanah
air yang kemudian berkembang menjadi pro dan kontra. Kalangan
pro menilai sudah sepantasnya apabila Indonesia sendiri masuk
negara gagal. Indikatornya bisa dilihat dari maraknya aksi
kekerasaan yang dilakukan oleh sekelompok organisasi massa
(ormas), korupsi yang kian merajalela di pemerintahan pusat maupun
daerah, hingga ketimpangan ekonomi masyarakat yang kian melebar.
Adapun bagi kalangan kontra menilai Indonesia bukanlah
negara gagal mengingat Indonesia merupakan kekuatan ekonomi
terbesar ke-18 dunia sebagai anggota G-20 dan berpotensial menjadi
10 besar dunia pada 2025 mendatang. Terlepas dari segala
perdebatan tersebut, yang perlu dikritisi dari rilis pelaporan FFP
tersebut adalah seputar definisi negara gagal (failed states). William
Easterly (2011) menyebut bahwa konsep negara gagal sendiri tidak
memiliki relevansi sama sekali untuk menyebutkan kondisi sebuah
negara. Bahkan, negara gagal sendiri bisa dikatakan sebagai upaya
negara Barat untuk melakukan intervensi militer kepada negara yang
dikatakan negara gagal. Easterly menilai ada lima alasan konsep
negara gagal tersebut sangat kontraproduktif untuk dibicarakan.
Pertama, indikator FFP sendiri yang mencakup tiga hal yakni
indikator sosial, politik, dan ekonomi merupakan indikator minor
Wasisto Raharjo Jati, S.IP39
dalam menyebutkan kondisi negara keseluruhan. Kedua, negara itu
tidak ada yang gagal karena negara itu dibangun atas kolektivitas
antar elemen bangsa untuk bersatu membentuk negara dengan
disertai tanggung jawab melindungi dan dilindungi. Negara dibentuk
untuk mewujudkan kepentingan bersama sehingga negara sudah
selayaknya melayani masyarakatnya. Ketiga, alasan komparatif
klasik dengan menempatkan negara Barat sebagai parameter gagal
atau tidaknya sebuah negara itu sudah mengandung bias dari segi
metodologis karena riset negara gagal sama saja menghakimi negara
berkembang secara etika pengetahuan sebagai negara gagal.
Keempat, publikasi negara gagal tersebut merupakan upaya negara
Barat untuk melakukan kolonialisasi baru terhadap negara
berkembang melalui berbagai macam asistensi ekonomi, politik,
maupun sosial. Lalu, terakhir adalah, semua negara di dunia ini tidak
ada yang gagal. Negara gagal bisa dikatakan sebagai pendapat relatif
berdasar diskursus Barat yang bertujuan mengukuhkan supremasi
Barat atas negara berkembang.
Chomsky (2006) dalam buku Failed States: The Abuse of
Power and the Assault on Democracy menyebutkan, konsep negara
gagal sendiri sebatas pemaknaan berbagai deskripsi subjektif yang
dilakukan Barat untuk menggambarkan kondisi negara berkembang
yang kondisinya dikomparasikan dengan kondisi di Barat. Artinya
negara gagal hanya sebatas komentar-komentar yang dilakukan oleh
analis Barat terhadap kondisi negara berkembang hanya dari kulit
luarnya saja yang kemudian dikristalkan menjadi konsepsi negara
gagal. Oleh karena itu, perbincangan negara gagal sendiri minus
definisi yang pasti tentang negara gagal yang hanya menyebutkan
kategorisasi retorik dan semua dari segi ilmiah. Setidaknya deskripsi
kategorisasi negara gagal itu juga bermacam-macam. Jared Diamond
(2005) dalam kategorisasinya menyebut lima hal yakni kerusakan
lingkungan, pemanasan global, tetangga bermusuhan, mengendurnya
40 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dukungan kelompok masyarakat yang sudah menjalin hubungan baik
melalui perdagangan, dan lembaga politik, ekonomi, sosial dan
budaya lumpuh sebagai pemecah persoalan. Chomsky (2006)
membatasi kategorisasi negara gagal dalam dua hal yakni, negara
tidak mempunyai kemauan dan kemampuan untuk melindungi warga
negaranya dari kekerasan dan bahkan kehancuran, dan tidak mampu
mempertahankan hak hak warga negaranya baik di tanah air maupun
diluar negeri di samping juga tidak mampu menegakkan dan
mempertahankan fungsi institusi institusi demokrasi. Dari pengertian
tersebut, yang bisa dipahami mengenai perdebatan tentang konsepsi
negara gagal selain halnya definisinya yang masih mengandung
subjektivitas adalah kategorisasinya masih berdimensi situasional
dan kondisional. Jadi, sifatnya parsial sesuai pada latar belakangan
keilmuan analis yang memberikan parameternya tersebut.
Sehingga, memungkinkan kategorisasi banyak parameter
yang tidak pasti dalam menilai gagal tidaknya suatu negara.
Sementra, analisis Jusuf Wanandi (2002) dalam, Indonesia: A Failed
States? Dalam jurnal, Washington Quarterly menyebutkan Indonesia
sebagai negara gagal pasca 1998 juga sebenarnya hanya melihat kulit
luarnya saja. Wanandi menilai Indonesia pasca 1998 merupakan
negara gagal yang diwarnai konflik etnis Maluku dan Papua, harga
sembako melambung maupun kerusuhan di daerah yang menuntut
otonomi. Wanandi tidak melihat kondisi Indonesia pada tahun-tahun
berikutnya berangsur pulih dan iklim demokrasi membaik. Maka,
konsepsi negara gagal tersebut sebaiknya menjadi refleksi saja bagi
pemerintah dalam menata fungsi dalam mensejahterakan masyarakat.
Refleksi tersebut setidaknya bisa menjadi acuan kebijakan publik
dalam memperbaiki kondisi negara yang masih minus dan perlu
pembenahan segera. Gagal tidaknya suatu negara tidak tergantung
survey negara gagal, tetapi bagaimana negara mendayagunakan
fungsinya dalam melayani masyarakat secara maksimal.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP41
Partai Politik Islam dan Populisme Islam
Menjelang Pemilu 2014, tingkat elektablititas suara pemilih
terhadap partai politik Islam cenderung menurun. Indikasinya dapat
kita simak dari survey yang dilakukan oleh LSI dan SMRC pada
pertengahan Oktober 2012 ini menunjukkan jika pemilu digelar hari
ini, maka perolehan suara parpol Islam tidak lebih dari 5 %.
Kecenderungan menurunnya popularitas partai politik Islam sendiri
sebenarnya dapat dibaca sejak pemilu 1999 silam dengan prosentase
pemilu 1999 mencapai 38 % suara, pemilu 2004 mencapai 24 %
suara, dan 2009 lalu sebesar 12 % suara saja. Tentunya ada berbagai
faktor internal dan eksternal yang bisa dijadikan sebagai penyebab
utama berkurangnya tersebut. Namun, saya sendiri lebih melihat
menurunnya angka elektabilitas partai politik Islam tersebut karena
inkonsistensi kejuangan yang mereka terapkan sebagai bentuk
gerakan populisme paska Orde Baru.
Membicarakan parpol Islam dari perspektif populisme Islam
berarti membicarakan tentang marjinalisasi dan ketimpangan kelas
yang dilakukan oleh rezim otoritarian terhadap umat Islam (Hadiz,
2011). Pengkerdilan politik Islam tersebut dilakukan rezim untuk
melakukan depolitisasi politik Islam agar jangan sampai ideologi
yang mereka canangkan yakni membentuk negara islam jangan
sampai terwujud. Paska runtuhnya Orde Baru pada 1998, sendiri
terjadi gelombang besar-besaran kebangkitan umat Islam untuk
kembali ke jalur politik baik melalui jalur formal maupun informal.
Mereka membentuk gerakan populis untuk mengakhiri negara
otoritarian untuk berganti menjadi negara Islam. Memang paska
1998 sendiri berbagai idealisme sendiri muncul untuk
merekonstruksi ulang konsep Indonesia sebagai negara oleh berbagai
kelompok reformis. Seperti halnya demokrasi oleh kelompok
nasionalis, negara islam oleh kelompok Islam, maupun negara
42 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
kesejahteraan oleh kelompok sosial-demokrat. Pertarungan wacana
antar berbagai kelompok tersebut yang kemudian dimanifestasikan
dalam wujud partai politik tersebut akhirnya memenangkan
kelompok nasionalis dengan konsep negara demokrasi. Meskipun
kalah di tingkat politik islam, populisme Islam masih bergerak di
akar rumput dengan membentuk berbagai gerakan masyarakat seperti
FPI, MMI, dan lain sebagainya yang masih kukuh dengan konsep
negara islam dan semangat amar maruf nahi munkar sebagai
ideologi politik mereka
Adanya politik stigmatisasi terorisme sendiri paska 2002
terhadap segala aktivitas politik Islam memberikan pengaruh luar
biasa terhadap karakteristik parpol Islam di Indonesia. Parpol Islam
sendiri kemudian mulai beralih fungsi dari semula cadre party
menjadi catch all-party. Perubahan mendasar tersebut dapat kita
simak perkembangan parpol Islam mutakhir yang kini beralih
menjadi partai terbuka seperti PKS, PAN, PKB, maupun PPP. PKS
kini layaknya sebuah partai nasionalis dimana mereka mulai
membuka pendaftaran kader non Islam, PKB mulai
bereksperimentasi dengan konsep partai hijau (green party), dan
PAN tampil sebagai partai modern kaum urban, sementara PPP
masih kukuh dengan identitas keislamannnya.
Sayangnya transformasi populisme yang dilakukan oleh
parpol Islam di tingkat politik formal tidak dibarengi dengan
populisme yang dilakukan kelompok ormas Islam yang tetap dengan
pendirian konservatifnya. Adanya mekanisme represif dan koersif
yang dilakukan ormas Islam berkorelasi kuat dengan tingkat
elektabilitas suatu parpol Islam. Apalagi ditambah dengan
stigmatisasi radikal dan terorisme turut memukul wajah parpol
Islam. Kini kita tidak lagi melihat gerakan populisme yang dilakukan
parpol Islam untuk berkomitmen menegakkan amar maruf nahi
munkar dalam berpolitik salah satunya memerangi korupsi di
Wasisto Raharjo Jati, S.IP43
pemerintahan. Kini kader parpol Islam tidak ubahnya dengan parpol
lainnya yang sama-sama ikut menikmati hasil korupsi. Mereka
melupakan semangat populisme yang mereka canangkan dan lebih
bersikap pragmatis. Hal itulah yang kemudian membuat populisme
Islam di akar rumput juga kian menjadi-jadi dengan intens
melakukan aksi represif dan opresif terhadap objek yang dianggap
haram. Pada akhirnya populisme Islam justru menjadi senjata makan
tuan bagi aktivitas politik Islam dimana muncul ketakutan dan
skeptisme masyarakat terhadap parpol Islam dengan menangnya
parpol Islam di pemerintahan maka Indonesia akan menjadi negara
Islam.
Hal itulah yang kemudian membuat perolehan suara parpol
Islam cenderung menurun setiap event pemilu. Stigmatisasi
terorisme, radikalisme, maupun negara islam yang menyertai
perjalanan aktivitas politik Islam justru menjadi beban moril
tersendiri. Hadirnya parpol Islam sebagai gerakan populisme atas
respons marjinalisasi politik yang dilakukan oleh Orde Baru paska
1998 ini justru kian menjauh dari esensi amar maruf nahi munkar
yang mereka canangkan. Jika sudah demikian, Islam yang tersemat
pada parpol Islam pada akhirnya juga menjadi formalitas dan
seremonial belaka karena sikap politik santun beragama yang ingin
mereka gapai justru terjebak pada nafus politik untuk berkuasa dan
berburu jabatan.
~~
44 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Partai Politik dan Ekonomi Perkoncoan
Dewasa kini, banyak terungkapnya kasus korupsi proyek
pembangunan yang menyangkutpautkan para elite partai politik.
Sebut saja kasus pembangkit listrik di Sumatera Utara yang
menyeret politisi Partai Demokrat Jhonny Allen Marbun, kasus
pembangunan pelabuhan di Sumatera Selatan yang menyeret politisi
politisi PPP Al Amin Nur Nasution, hingga yang mutakhir adalah
kasus pembangunan wisma atlet di Palembang dan kasus proyek
transmigrasi di lingkungan Kemenakertrans yang menyeret PKB dan
Demokrat. Beragam kasus korupsi proyek pembangunan yang
melibatkan unsur partai politik mengindikasikan adanya patronase
bisnis dan politik yang begitu kuat warisan Orde Baru.
Keistimewaan hubungan kolutif tersebut mengakibatkan
praktik berbisnis di Indonesia menjadi tidak transparan, tidak
akuntabel, dan tidak sehat sehingga mengakibatkan ekonomi biaya
tinggi. Hal tersebut bisa terbaca dengan adanya istilah success fee
maupun kue manis kepada para politisi sebagai stimulus
keberhasilan suatu proyek pembangunan. Adapun besaran success
fee tersebut tergantung dari besar kecilnya proyek yang sedang
dikerjakan oleh swasta. Peran Partai politik di sini sangatlah besar,
institusi ini layaknya broker proyek pembangunan maupun sebagai
pemegang kuasa tender yang menentukan pemenang. Oleh karena itu
sering kali, proyek pembangunan pemerintah acapkali digunakan
sebagai bancakan bagi partai politik utamanya bagi partai penguasa
untuk mengisi pundi pundi kas keuangannya. Realita yang
sedemikian sudahlah wajar dan menjadi praktik umum bagi partai
politik di level nasional maupun daerah. sehingga dari situ kemudian
boleh dibilang partai politik sendiri mengembangkan ekonomi
perkoncoan / rent seeking economic dalam dunia bisnis dan investasi
di Indonesia.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP45
Ekonomi Perkoncoan
Andrew Mc Intyre dalam bukunya yang berjudul Bussiness
and Politic in Indonesia mengisahkan dinamika ekonomi
perkoncoan sebagai bentuk penyelenggaraan kegiatan ekonomi yang
berbasiskan pada hubungan kleptokratif dan kolutif sehingga
mengakibatkan praktik berbisnis biaya ekonomi tinggi di Indonesia.
Kausalitas tersebut dapat terbaca dalam berbagai kasus lelang proyek
maupun tender pembangunan yang sebagian besar ditentukan oleh
para politisi partai politik. Dengan demikian menjadikan proyek
pembangunan pemerintah sendiri menjadi tidak netral dan justru
menjadi kontestasi bagi para elite politik. Umumnya para pebisnis
yang hadir dalam dinamika perkoncoan ini adalah kerabat maupun
rekanan dekat para politisi partai politik sehingga dengan mudah
memegang informasi ekonomi yang begitu komprehensif mengenai
berbagai proyek pembangunan pemerintah. Adanya monopoli
informasi sepihak yang hanya dikhususkan pada rekan maupun
kerabat dekat mengindikasikan bahwa partai politik sendiri enggan
untuk melepas sumber pendanaan partainya jatuh kepada pebisnis
professional. Terdapat kekhawatiran bagi sebagian besar partai
politik bilamana proyek pembangunan pemerintah sendiri dijalankan
secara transparan dan akuntabel karena hal itu akan membuka gurita
korupsi proyek pembangunan yang telah lama dijalankan suatu
partai. Oleh karena itulah, dalam praktik berbisnis maupun
berinvestasi di Indonesia, nilai nilai etika sehat dalam berbisnis
seperti halnya kepercayaan, keterbukaan informasi, maupun
transparansi anggaran telah tekomodifikasi secara politis dengan
menjadi koruptif, monopoli, koluptif, dan manipulatif oleh partai
politik.
Dengan menduduki singgasana kekuasaan, suatu partai
politik bisa secara bebas mengendalikan proyek pembangunan
kepada kroni kroninya sehingga partai tersebut bisa terus hidup
46 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dari bagi bagi proyek. Hal ini kemudian menjadi persoalan serius
untuk membentuk iklim berbisnis yang sehat di Indonesia. Dalam
Laporan lembaga Political Economy Risk Consultancy (PERC)
tahun 2011 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara terkorup
dalam hal mengembangkan perekonomian nasionalnuya dengan
salah satu proponen pembentuk korupnya iklim pembangunan
ekonomi di Indonesia adalah partai politik sendiri.
Adanya intervensi politik dalam arena proyek pembangunan
mengakibatkan output yang dihasilkan pun minimalis, bahkan kalau
boleh dibilang tidak menuruti standar kode etik pembangunan.
Intervensi tersebut dapat berupa keputusan untuk menekan seminal
mungkin objek bahan material yang digunakan atau bahkan
menaikkan nilai objek material di luar harga resmi proyek
pembangunan. Maka dari situ kemudian, partai politik berburu rente
ekonomi pembangunan dari modus operandi seperti itu sehingga
mengorbankan kemanfaatan publik. Oleh karena itulah, dapat
dikatakan bahwa mayoritas proyek pembangunan yang dilakukan di
negeri ini berjalan seadanya, cepat rusak, daya tahan bangunannya
rapuh, dan berumur pendek. Hal tersebut memang disengaja oleh
partai politik dengan harapan mereka masih bisa memegang kendali
proyek perbaikan proyek pembangunan tersebut. Maka dari situlah
terjadi lingkaran setan dalam siklus pembangunan di Indonesia
dimana kejahatan proyek sendiri terus berlangsung secara
terselubung maupun terang terangan dengan melibatkan partai
politik sebagai sumbu utamanya.
Maka, sudah sepantasnya dan sepatutnya agar praktik
ekonomi perkoncoan ini direduksi dan dihilangkan dalam proyek
pembangunan di Indonesia karena telah menyebabkan iklim
perekonomian yang tidak kondusif bagi para investor untuk
menanamkan modalnya di Indonesia. Untuk itu perlu usaha bersama
baik pemerintah, masyarakat, dan utamanya partai politik sendiri
Wasisto Raharjo Jati, S.IP47
untuk menghapus adanya mafia proyek dalam pembangunan di
Indonesia sehingga menciptakan budaya ekonomi yang transaparan
dan akuntabel.
~~
48 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Patronase Kaum Tua pada Pemilu 2014
Menjelang memasuki tahun 2013 yang dikatakan sebagai
tahun politik, beberapa lembaga survey telah merilis temuanya
mengenai tingkat elektabilitas dan popularitas para figur publik yang
layak diusung menjadi kandidat presiden pada pilpres 2014.
Mayoritas hasil survey yang dipublikasikan sendiri masih
menempatkan tokoh lama yang telah dikenal publik. Menariknya
dari berbagai latar belakang figur yang dirilis tersebut mengerucut
pada trikotomi senioritas, tokoh militer, dan berideologi nasionalis.
Kalau trikotomi ini yang kemudian menjadi parameter dalam
memilih presiden, maka yang akan menjadi presiden Indonesia pada
2014-2019 nanti adalah tokoh yang berusia lanjut maupun
pensiunan. Fenomena ini lazim disebut sebagai gerontokrasi
demokrasi yakni sebuah fenomena patronase politik yang
menempatkan tokoh tua sebagai figur yang layak memimpin sebuah
negeri (Dwipayana, 2011). Merebaknya gerontokrasi lebih
dikarenakan para elite senior ini memiliki kapabilitas dalam
menguasai sumber daya politik dan ekonomi yang menjadi modal
kuat untuk layak dipilih sebagai pemimpin. Sebagai contoh, para
figur publik yang selama ini menjadi dominan dalam rilis survey
kandidasi presiden pada 2014 nanti sudah di atas 60 tahun. Sebut
saja, Megawati Soekarnoputri (67 tahun), Prabowo Subianto (63
tahun), Aburizal Bakrie (68 tahun), Wiranto (66 tahun), Sultan
Hamengkubuwono (68 tahun), Endriartono Sutarto (67 tahun), dan
Pramono Edhie Wibowo (60 tahun). Dengan melihat usia uzur dari
para figur publik tersebut, kita melihat bahwa sebenarnya regenerasi
kepemimpinan nasional di Indonesia sebenarnya berjalan lambat.
Hal tersebut sangatlah kontras apabila kita melihat suara akar rumput
masyarakat yang kini sebagian menghendaki kepemimpinan yang
dinamis dengan indikator berintegritas, mempunyai kemamapuan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP49
manajerial dan kepemimpinan yang teruji, komunikasi publik yang
populis, maupun keberanian menyampaikan ide visioner.
Tipologi Kepemimpinan Indonesia
Herber Feith (1962) dalam The Decline of Constitutional
Democracy menjelaskan terdapat dua model kepemimpinan
Indonesia yakni solidarity maker dan administrator. Adapun
Solidarity maker lebih mengedepankan strategi retorik guna
mengumbar gelora dan penyatuan solidaritas dengan memainkan
simbol identitas. Sedangkan administrator lebih mengedepankan
kecakapan administratif guna kelancaran implementasi visi dalam
jejaring aparatus negara. Dua tipologi ini sebenarnya ingin berbicara
bahwa model ideal yang pas dalam menjelaskan pemimpin Indonesia
sebaiknya berasal dari kalangan populis dan kalangan teknokratis.
Hal ini merujuk pada dwi-tunggal Soekarno Hatta yang dianggap
role model dimana Soekarno yang piawai berorasi dan memainkan
politik budaya sebagai penyambung lidah rakyat mampu menjadikan
dirinya sebagai figur populis yang merakyat sedangkan Hatta lebih
cenderung menjalankan perannya di belakang layar sebagai penentu
dan penyusun kebijakan Indonesia melalui pengetahuan
teknokrasinya.
Hingga saat ini, model dikotomi Herber Feith masih relevan
untuk menjelaskan setiap episode suksesi kepemimpinan Indonesia.
Jika kita terjemahkan dikotomi Feith dalam fenomena sosial-politik
Indonesia kontemporer, pola solidarity maker dan administrator
sendiri bisa merujuk model kepemimpinan Jokowi-Rudy di Solo
selama dua periode yakni Jokowi yang populis dan kerap turun lebih
banyak mendengar daripada memerintah di lapangan sebenarnya
membangun citranya sebagai pengikat solidaritas masyarakat Solo
sendiri melalui progam pro rakyatnya semisal penataan kawasan
kumuh dan penataan PKL sementara Rudy lebih ditugaskan sebagai
50 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
penjawa gawang mengurusi reformasi birokrasi di pemerintahan
kota.
Sayangnya, dua tipe solidarity maker dan administrator ini
belum banyak dimplementasikan oleh banyak figur publik di
Indonesia. Mayoritas rezim pemerintahan baik di pusat dan daerah
mengarah satu pilihan tersebut yakni apakah solidarity atau
administrator. Namun, bila kita cermati model kepemimpinan
Indonesia baik pusat dan daerah kontemporer justru mengarah pada
pola king maker yakni sebuah pola kepemimpinan yang mengarah
kepada sentralisasi kekuasaan terkontrol pada satu tangan. Hal inilah
yang kemudian mengakibatkan terjadinya neo-patrimonialisme
kepemimpinan Indonesia yakni menguatnya tokoh lama dalam era
demokrasi baru paska 1998. Pola king maker sendiri cenderung
menonjolkan stabilitas politik dan stabilitas ekonomi didukung
dengan angka statistik yang bertujuan menaikkan dukungan
masyarakat terhadap pemimpinnya secara artifisial.
Pola king-maker inilah yang kemudian menjadi alasan kuat
mengapa fenomena gerontokrasi demokrasi di Indonesia sendiri
masih kuat dan terjaga. Hampir semua figur publik yang selama ini
menjadi kandidat presiden 2014 selalu menunjuk pada posisi top
excecutive entah itu menjadi ketua partai maupun jenderal berbintang
yang memiliki jejaring kuat hingga akar rumput. Maka tidak
mengherankan jika strategi berantai dengan cara komando khas
militer maupun strategi loyalitas kader terhadap ketua partai menjadi
strategi kuat dalam menjaring massa pemilih pada pilpres
mendatang. Hal inilah yang kemudian membuat demokrasi menjadi
usang karena kepemimpinan Indonesia masih didominasi kaum tua
sementara kaum muda yang berpotensi menjadi pemimpin terjegal
oleh budaya permisif khas kultur ne-patrimonialisme Indonesia. Jika
demikian, sulit kiranya bagi kita melihat kepemimpinan Indonesia
yang dinamis dan energik dalam mengatasi permasalahan bangsa.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP51
Politik Calo Anggaran
Seperti yang telah diamanatkan oleh Presiden SBY bahwa
pada tahun anggaran 2010 ini akan dilaksanakan progam
penghematan perimbangan keuangan pusat dan daerah sebesar 2
triliun setiap provinsi. Tak pelak pemerintah daerah kemudian
berusaha mengencangkan ikat pinggang mengenai berbagai pos
anggaran di daerahnya masing masing sehingga mengakibatkan
pola pembangunan daerahnya tersendat. Padahal dalam pola otonomi
daerah seperti ini berlaku prinsip no mandate without funding yaitu
pemerintah daerah akan melaksanakan progam otonomi daerahnya
dengan transfer dana pusat ke daerah sehingga RPJPN Nasional &
RPJPD Daerah akan berjalan sinergis. Adapun kebijakan yang tidak
populis dan afirmatif ini kemudian menimbulkan tumbuhnya
fenomena calo anggaran di berbagai daerah sebut saja Provinsi
Sumatera Selatan maupun Kabupaten Tasikmalaya dimana dua
petinggi daerah tersebut mengaku didatangi oleh calo anggaran
untuk memudahkan lobi pemerintah daerah ke pusat agar dana
perimbangan bagi daerahnya bertambah.
Tentunya hal demikian akan mereduksi semangat
akuntabilitas anggaran yang disuarakan Mendagri Gamawan Fauzi
pada saat raker gubernur se Indonesia di Makassar 19-22 Oktober
2010 ini. Oleh karena itu lalu siapa dan apa motif calo anggaran ini
yang kemudian dapat memetik keuntungan dari uang negara dan
implikasinya bagi daerah tersebut.
Calo Anggaran
Menjelang akhir tutup buku tahun anggaran 2010 seperti ini,
dalam level pemerintahan pusat terutama Departemen Keuangan
sendiri sedang merancang naskah akademik APBN 2011 untuk
diserahkan pada DPR pada pertengahan Desember 2010 untuk
52 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dibahas dan disahkan menjadi undang undang. Terlebih lagi
bilamana terjadi perubahan dalam APBN yang lazim disebut APBN-
P dimana akan memunculkan proses tawar menawar dalam nota
keuangan anggaran antara segitiga besar aktor yakni politisi,
teknokrat, dan pelobi politik / calo anggaran yakni selama proses
penganggaran tersebut akan mucul praktik mencari rente ekonomi
(rent seeking) melalui antar segitiga aktor tersebut dengan berbagai
macam seperti halnya mark up (penggelembungan anggaran), budget
maximizing (penambahan dana non budgeter), dan dana fiktif
lainnya. Tentunya dalam hal ini selalu saja akan timbul politik
transaksional antara 3 aktor besar itu tadi mengenai perincian
transfer pos anggaran ke daerah. Arena transaksional tersebut
kemudian tercerminkan dalam DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan
Anggaran) meliputi dana desentralisasi, dana dekonsentrasi, DAU, &
DAK yang berbeda di setiap daerah sehingga menimbulkan
disparitas pembangunan yang tinggi antara provinsi yang kaya
sumber alamnya dan miskin sumber daya alam.
Oleh karena itulah dalam mensiasati disparitas transfer
keuangan ke rekening pemerintah daerahnya bersamaan dengan
progam penghematan anggaran ini, tak jarang kemudian para calo
anggaran bergerak aktif maupun pasif. Aktif dalam artian calo
anggaran ini datang ke sekretariat pemerintah daerah menawarkan
diri membawa proposal nota keuangan daerah untuk melobi politisi
DPR maupun teknokrat Departemen Keuangan. Pasif yakni
pemerintah daerah dengan sendirinya mendatangi calo anggaran
yang kemudian menawarkan pola bagi hasil bilamana nota keuangan
daerah yang disodorkan ke pusat berhasil diloloskan. Maka praktik
di atas dalam proses transfer perimbangan keuangan pusat-daerah
ini bisa jadi merupakan ajang perilaku koruptif gaya baru yang
dilakukan dengan memanfaatkan si calo anggaran sendiri sebagai
agensi tunggal antara pusat dan daerah. Maka dalam rangka
Wasisto Raharjo Jati, S.IP53
meningkatkan akuntabilitas terutama dalam expenditure tracing
(larinya anggaran) menjadi tidak jelas karena bisa jadi mengalir ke
birokrat, politisi, dan calo anggaran itu sendiri.
Terlebih lagi dalam penyusunan anggaran, mayoritas di
setiap pemerintahan daerah masih menganut pola inkrementalis yaitu
pemerintah daerah masing memegang teguh pos anggaran
sebelumnya untuk digunakan sebagai dasar dalam penyusunan
anggaran pada tahun anggaran pada tahun anggaran selanjutnya.
Artinya terlihat pola konservatif dan status quo yang diperlihatkan
dalam proses penyusunan anggaran dimana tidak ada inovasi sama
sekali dan mempertahankan pos anggaran yang harusnya dihapus
tetap dipertahankan walaupun pos anggaran tersebut tidak sesuai
dengan penyerahan urusan yang diberikan oleh pemerintah pusat
kepada daerah dalam rangka tugas desentralisasi dan dekonsentrasi.
Maka calo anggaran kemudian hadir untuk melakukan poses
manipulatif membantu pemerintah daerah agar pos anggarannya
ini tidak dihapus dan tidak diberi dana oleh pemerintah. Walaupun
ada sebagian pemerintah daerah yang berani jujur menolak calo
anggaran sebagai aktor baru dalam penyusunan nota keuangan
daerahnya, akan tetapi banyak juga yang tidak menampik calo
anggaran ini sebagai dewa penolong. Maka dapat dikatakan calo
anggaran hadir dikarenakan aktor dan sistem anggaran yang
diterapkan selama ini yang selalu menyisakan celah kosong untuk
dimanfaatkan sebagai ajang manipulatif dan koruptif sehingga dana
dari pusat yang seharusnya digunakan untuk mensejahterakan rakyat
dan memperlancar dan mensukseskan proses pembangunan di
daerahnya justru aliran dana tersebut mengalir tidak jelas arahnya.
Strategi
Berbicara mengenai strategi menghilangkan calo anggaran
ini bukan perkara mudah dikarenakan pola yang dilakukan calo
54 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
anggaran sudah sedemikian sistemik dan berjejaring ke semua level
pemerintahan baik pusat maupun daerah, akan tetapi di sini peran
responsibiltas aktif masyarakat sangat dituntut semisal melihat
secara partisipatif proses akuntabilitas anggaran dari formulasi
anggaran, review anggaran, maupun evaluasi anggaran di parlemen
lokal serta dapat menyewa akuntan independen untuk mengaudit
anggaran daerahnya sehingga proses transparansi menjadi jelas dan
gamblang. Adapun dalam level tataran pemerintahan pusat, peran
BPK maupun PPATK harus bersinergi satu sama lainnya karena
selama ini dua lembaga tersebut saling berjalan sendiri sendiri
terutama dalam proses pengawasan anggran daerah.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP55
Reshuffle dan Penyanderaan Politik
Tindakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk
melakukan reshuffle kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 merupakan
langkah positif untuk memperbaiki wibawa pemerintahan di mata
publik. Hal tersebut tentu saja tidak lepas dari serangkaian serangan
badai politik negatif yang menerpa penyelenggaraan koalisi
pemerintahan mulai dari kasus wisma atlet yang menyeret berbagai
elite Partai Demokrat, kasus Kemenarkertrans, kasus TKI, kasus
mafia pemilu, dan juga kasus Banggar DPR vs KPK. Berbagai
peristiwa tersebut pada akhirnya semakin memperkeruh skeptisme
dan apatisme publik akan pemerintahan sekarang ini seperti yang
ditunjukkan oleh hasil survey Lingkaran Survey Indonesia (2011)
yang menyatakan bahwa indeks kepuasan masyarakat terhadap
pemerintahan SBY turun drastis dari 53 persen pada tahun 2010
menjadi 43 persen pada September 2011 serta semakin buruknya
citra politisi yang menukik di angka 56 % dari semula hanya 51 %.
Realita tersebut sebenarnya secara langsung ingin mendiskripsikan
bahwa pemerintahan sudah tidak legitimate dan sah di mata publik
sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sehingga perlu segera
diadakan reformasi pemerintahan.
Kebijakan reshuffle tersebut ditanggapi secara reaktif oleh
para partai politik koalisi pemerintahan yang kadernya yang duduk
sebagai menterinya disangkaut pautkan akan diganti. Ada semacam
kekhawatiran bagi partai pendukung koalisi pemerintahan terhadap
kebijakan reshuffle kabinet yakni hilangnya sumber dana ekonomi
maupun politik yang akan dihadapi berbagai partai politik tersebut.
Sumber dana tersebut meliputi berbagai akses partai politik untuk
mendapatkan pembiayaan operasionalisasi partai dari APBN dalam
bentuk dana non bidgeter yang nominalnya saja bisa mencapai
miliaran rupiah maupun subsidi politik lainnya dalam bentuk SILPA
56 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
(Sisa Lebih Pengeluaran Anggaran) yang biasanya menjadi ajang
kontestasi politis antar partai politik dalam setiap bahasan rancangan
APBN. Sumber ekonomi lain bisa juga muncul dari berbagai macam
proyek pembangunan yang terdapat di berbagai kementerian yang
biasanya melibatkan internal kader partai politik untuk
mengurusinya. Sumber daya politik ini dapat berupa penguatan
konsolidasi internal di kalangan partai politik pemerintahan untuk
memenangkan pemilu pada tahun 2014.
Alih alih mendukung untuk pemerintahan yang baik, para
partai pendukung koalisi pemerintahan ini hendak menyandera
secara politis Presiden SBY supaya kadernya jangan sampai dicopot
sebagai menteri. Mereka sadar bahwa pemerintahan SBY ini
disokong oleh para partai politik lainnya sehingga para partai
pendukung koalisi ini bisa melakukan intimidasi politik kepada
Presiden terkait dengan reshuffle. Intimidasi tersebut berasal dari
para partai pendukung koalisi ini yang sadar akan akses informasi
yang begitu luas dan komprehensif mengenai berbagai kejelekan
yang terdapat dalam pemerintahan SBY ini yang selama ini belum
diumbar kepada publik dan media massa. Kartu turf inilah yang akan
digunakan para partai pendukung koalisi seandainya terjadi
pengurangan jatah menteri maupun pencopotan menterinya. Partai
politik tersebut kemudian akan membalas dendam dengan membuka
berbagai kejelekan pemerintahan sehingga pada nantinya turut
menjatuhkan citra presiden. Watak presiden SBY yang cenderung
pasifis akan menghindari hal tersebut dengan mengakomodasi
kepentingan partai politik koalisi.
Selain itu pula, kehadiran partai oposisi masuk ke dalam
skema reshuffle dinilai sebagai ancaman serius bagi para kader partai
pendukung koalisi karena secara tidak langsung akan melemahkan
dan menganggu koordinasi maupun konsolidasi internal kader partai
koalisi dalam pemerintahan sekarang ini untuk membangun kekuatan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP57
politik di tahun 2014. Tentunya akan timbul berbagai keretakan dan
friksi politik yang begitu kental mewarnai jalannya pemerintahan
apabila koalisi dan oposisi menjadi satu meja karena hampir
dipastikan terjadi kontestasi yang luar biasa di antara menteri koalisi
dan oposisi. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa selama ini partai
pendukung koalisi seperi halnya PAN, PKS, PKB, dan Demokrat
sendiri tidak akur dengan PDI-P, Partai Hanura, maupun Partai
Gerindra dalam berbagai bidang. Sehingga apabila kedua belah pihak
ini didudukkan menjadi satu meja yang terjadi adalah terhambatnya
proses pembangunan dalam masyarakat Indonesia. kedua belah
pihak ini membawa ideologisasi yang berbeda antara pro
pertumbuhan dengan pro pemerataan dalam bersikap politik.
Yang mungkin terjadi apabila menteri oposisi masuk ialah
terbukanya berbagai kasus yang berusaha ditutupi oleh para partai
pendukung koalisi mulai dari kasus Bank Century, kasus mafia
anggaran, kasus mafia pemilu 2009 yang kesemuanya ini sangat
sensitif untuk segera dituntaskan dan berpotensi menjatuhkan
pemerntahan koalisi. Maka pada akhirnya yang terjadi adalah politik
dagang sapi yang dilakukan oleh para partai pendukung koalisi
dengan mengupayakan agar reshuffle sendiri tidak berjalan radikal
dengan masuknya menteri partai oposisi melalui serangkaian lobi
lobi politik kepada presiden SBY. Sehingga walaupun dikatakan
berulang kali bahwa reshuffle adalah hak prerogatif presiden,
realitanya yang terjadi adalah hak eksklusionarisme partai politik
untuk menentukan menteri menteri baru yang akan duduk dalam
revisi kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2.
Oleh karena itu, penulis menyarankan Presiden perlu tegas
untuk meniadakan kepentingan partai politik koalisinya yang
cenderung korup dengan membentuk zaken kabinet yang berisikan
para profesional saja untuk duduk menjadi pembantunya menjalani
pemerintahan. Karena di samping bebas kepentingan politik, para
58 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
profesional tentu lebih cakap bekerja menjalankan tugas daripada
menteri menteri sekarang ini yang tidak cakap dalam menjalankan
tugasnya dan lebih sibuk mengurusi partai politiknya.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP59
Haruskah Presiden dari Jawa
Meskipun penyelenggaraan pemilihan presiden Republik
Indonesia masih dua tahun lagi, namun beberapa partai politik sudah
mulai melempar wacana politis mengenai calon kandidat yang akan
diusung. Adanya wacana politis tersebut adalah mengukur seberapa
besar responsi yang diberikan masyarakat terhadap calon tersebut
supaya menjadi bahan pertimbangan partai politik tersebut untuk
menetapkan calon permanen. Diantara beberapa partai politik
tersebut, Gerindra maupun Golkar sudah mulai berani menetapkan
calon tetap kandidat presiden yang akan diusung yakni Prabowo
Subianto dan Aburizal Bakrie. Sementara partai politik lainnya baru
melempar wacana yakni Partai Demokrat yang mengusung Jusuf
Kalla, PDIP rencananya akan kembali mengusung Megawati
Soekarnoputri, maupun calon potensial yang layak dijadikan
kandidat seperti halnya Sultan Hamengkubuwono X, Wiranto,
hingga Sutiyoso. Beberapa nama tersebut setidaknya menghiasi
berbagai hasil polling politik yang dilakukan oleh berbagai lembaga
survey politik nasional. Survey menunjukkan adanya fluktuasi suara
dalam polling tersebut dimana pilihan masyarakat belum mengkristal
pada pilihan calon tertentu sehingga masih memberi peluang kepada
calon lain selain generasi tua tersebut.
Dari wacana yang berkembang pemilihan presiden 2014
tersebut setidaknya ditemukan dua hal penting yakni masih
dominannya orang Jawa sebagai presiden atau lebih dikenal sebagai
prinsip Jawa-luar Jawa dan masih kuatnya generasi tua dibandingkan
munculnya generasi muda sebagai calon presiden. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa konstelasi politik Indonesia sendiri
belumlah modern dan masih bercorak tradisional karena masih
didominasi oleh patronase politik dan Jawa-sentris. Dua hal tersebut
sudah menjadi pola pakem dalam menentukan pemimpin Indonesia
60 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
yang sudah diwariskan sejak era berdirinya berbagai kerajaan di
Indonesia.
Pola Lama
Pada dasarnya pembentukan karakter pemimpin di Indonesia
adalah sejarah penaklukan yang dilakukan oleh mayoritas kerajaan
besar dari Jawa dalam mempersatukan wilayah nusantara seperti
halnya Singasari maupun Majapahit. Oleh karena itulah, pada
dasarnya corak pemimpin Indonesia adalah seorang raja penakluk
yang mengagungkan kejayaaan dan keunggulan pribadi. Kuatnya
sejarah penaklukan tersebutlah kemudian menciptakan Jawa sebagai
pusat imajiner dari bersatunya Nusantara. Letak Jawa yang berada di
tengah turut membangun paradigma budaya politis bahwa kekuasaan
itu berada di tengah-tengah sebagai penyeimbang dan pengendali.
Artinya kekuasaan presidensialisme di Indonesia haruslah
menyertakan orang Jawa entah itu jadi presiden maupun wakil
presiden sebagai bentuk keseimbangan dan keterkendalian akan
sesuatu.
Oleh karena itulah konsep kekuasaan Indonesia sebenarnya
adalah konsep kekuasaan Jawa yang menempatkan adanya senioritas
dan patronase dalam memilih pemimpin. Artinya bahwa semakin tua
seseorang tersebut, maka semakin bijaksana pula orang tersebut
dalam memimpin. Generasi muda masihlah belum cakap dianggap
memimpin karena usianya yang masih daun muda dan belum
mengerti apapun. Generasi muda belum diperbolehkan menjadi
pemimpin karena akan menunjukkan sikap lancang dan tidak hormat
kepada generasi tua tersebut karena melangkahi untuk menjadi
pemimpin. Pandangan tersebut memang berlaku dalam soal suksesi
kepemimpinan di Indonesia dimana senioritas dan patronase
merupakan dua hal mendasar yang harus diperhatikan dalam
memilih pemimpin.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP61
Pemiluhan Presiden pada tahun 2014 mendatang memang
akan didominasi oleh generasi senior yang rata-rata sudah berumur
60 tahun ke atas yakni Aburizal Bakrie (64 tahun), Megawati
Soekarnoputri (68 tahun), Jusuf Kalla (69 tahun), Prabowo Subianto
(62 tahun), Sultan Hamengkubuwono (66 tahun), maupun Wiranto
(68 tahun) yang menunjukkan kematangan dalam memimpin. Selain
itu pula, para calon kandidat ini juga memiliki saluran patronase
yang kuat baik itu melalui saluran politik, saluran ekonomi, maupun
saluran budaya yang memiliki akar kuat dalam masyarakat. Hal
tersebut tentunya mematikan regenerasi kepemimpinan generasi
muda karena generasi tua tidak memberikan ruang afirmasi bagi
juniornya untuk ikut dalam pemerintahn sembari melatih diri
menjadi pemimpin di masa depan. Selain itu pula, dengan kuatnya
generasi tua dalam kandidasi calon presiden dikhawatirkan akan
menghambat pola pemerintahan di negeri ini karena semakin tinggi
usia bertambah akan berpengaruh pada pola pengambilan keputusan
penting negara.
Tradisi suksesi kepemimpinan presiden tersebut sebaiknya
mulai direduksi secara bertahap karena hal itu sama saja merusak
esensi demokrasi yang sudah dibangun sejak paska reformasi 1998.
Adanya senioritas maupun patronase tersebut setidaknya
mencitrakan bahwa kekuasaan presidensialisme sendiri masih
bersifat aristokrasi. Selain itu, perlu dirombak mengenai prinsip
Jawa-luar Jawa dikarenakan hal tersebut memberikan diskriminasi
dari pulau lainnya karena suksesi kepemimpinan terlalu
mengistimewakan orang Jawa. Tentunya masyarakat Indonesia tidak
usah mempermasalahkan latar belakang etnis, suku, maupun
geografi untuk memilih calon pemimpin pada pemilu 2014.
Masyarakat kini sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan
dan tidaklah terlalu terpengaruh terhadap wacana politis tersebut
yang sekiranya menunjukkan kemunduran dalam berdemokrasi.
62 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Quo Vadis Reformasi Birokrasi
Reformasi birokrasi di Indonesia belum menemui
perkembangan signifikan dalam tataran implementasinya. Hal
tersebut terjadi lantaran masih sempitnya pemahaman para birokrat
mengenai esensi reformasi birokrasi tersebut. Para birokrat yang
bekerja di instansi pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah
masih menilai reformasi birokrasi dalam bentuk tunjangan kinerja
maupun remunerasi gaji. Aspek pemberian tunjangan kinerja
maupun remunerasi gaji tersebut hanyalah bagian kecil dari progam
reformasi birokrasi yang dimaknai sebagai bentuk stimulus bagi
birokrat agar bekerja lebih giat dan terhindar dari praktik korupsi.
Malahan yang terjadi ialah dengan adanya remunerasi dan tunjangan
kinerja justru juga tidak berhasil karena masih suburnya praktik
korupsi birokrat yang belum bisa direduksi. Kasus korupsi birokrat
yang melibatkan Gayus Halomoan Tambunan, Bahasyim Assafie,
rekening gemuk perwira polisi, Dhana Widyatmika, hingga
penemuan PPATK mengenai 38 rekening yang mencurigakan
mengindikasikan bahwa birokrasi kita masih enggan untuk
direformasi.
Selama ini, reformasi birokrasi yang meliputi empat aspek
yakni efektif dalam pengambilan keputusan, efisien dalam
implementasi kebijakan, berkurangnya praktik KKN, maupun
pemutusan mata rantai birokrasi yang hierarkis masih berada dalam
wilayah abu-abu. Birokrat masih terikat pada regulasi yang ketat
sehingga tidak mampu menampilkan improvisasi diri dalam
berkinerja. Selain itu pula, pengawasan birokrat juga masih
dilakukan setengah hati karena masih adanya hubungan emosional
maupun kekerabatan yang terjalin sesame birokrat sehingga terjadi
proses pembiaran dalam progam reformasi birokrasi tersebut.
Artinya, selama ini tidak ada aktor independen yang berasal dari luar
Wasisto Raharjo Jati, S.IP63
birokrat yang menjadi pengawas progam reformasi birokrasi tersebut
menimbulkan progam reformasi birokrasi masih berjalan di tempat.
Kewenangan administrasi dan kewenangan eksekusi kebijakan masih
tumpang tindih dalam progam reformasi birokrasi yang seharusnya
dua kewenangan tersebut dipisah. Akibatnya yang timbul kemudian
adalah timbulnya politisasi birokrasi yang dilakukan top excecutive
bureaucrat kepada street level bureaucrat.
Adanya politisasi birokrasi yang dilakukan secara hierarkis
tersebut dalam implementasi reformasi birokrasi sebenarnya juga
menunjukkan bahwa progam ini juga terjebak dalam ruang hampa
politik. Dikatakan demikian, karena birokrasi kita sendiri masih
mewarisi kekuasaan patrimonial yang kuat hingga saat ini sehingga
menjadikan birokrat ini tidak netral secara politik. Dalam berbagai
kasus pemilukada yang ada, tidaklah sulit menemukan adanya
pengerahan birokrasi sebagai mesin kampanye informal yang
dilakukan oleh kepala daerah petahana. Tentunya hal tersebut tidak
bisa terelakkan mengingat loyalitas birokrasi kepada kepala daerah
juga besar selaku pimpinan tertinggi birokrasi di daerah. Keberadaan
birokrat yang berada di tengah masyarakat bisa menjadi alat
pencitraan politik bagi kampanye pemilukada.
Meskipun telah diberlakukan adanya progam moratorium
penerimaan pegawai negeri sipil yang efektif dilakukan sejak
pertengahan 2011 hingga akhir Desember 2012 ini. mayoritas
pemerintah daerah tetap bersikukuh untuk menyelenggarakan
penerimaaan CPNS baik pengangkatan honorer maupun ujian tulis.
Pemerintah daerah berdalih bahwa penerimaan CPNS tersebut untuk
mereduksi tingginya angka pengangguran di daerahnya masing-
masing. Namun alasan sebenarnya adalah sebagai mesin pendulang
suara dalam even pemilukada. Tingginya minat masyarakat daerah
untuk menjadi PNS itulah yang kemudian dimanfaatkan secara
politis untuk penyelenggaraan penerimaan CPNS di berbagai dinas
64 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
terkait. Oleh karena itulah, banyak kasus birokasi gemuk terjadi di
pemerintahan daerah yang proporsi perbandingannya melebihi
masyarakat. Oleh karena itulah, stigmatisasi banyak fungsi, miskin
kinerja merupakan realita umum yang terjadi di pemerintahan
daerah. proses penerimaan CPNS sendiri hanya berpaku pada
kuantitas bukan pada kualitas. Implikasinya kemudian adalah
seringkali terjadi problema dalam penyelenggaraan pemerintahan
karena penempatan yang tidak cakap dan tidak ahli di dibidangnya.
Akibatnya, banyak birokrat yang hanya makan gaji buta semata
karena tupoksinya tidak jelas dan tumpang tindih dengan lainnya.
Munculnya kasus pensiun dini yang ramai dilakukan oleh birokrat
sebelum masa purna tugas sekarang ini sebenarnya menunjukkan
bahwa paradigma birokrasi kita masih didominasi kultur melayani
diri sendiri ketimbang melayani masyarakat. Oleh karena itulah,
diperlukan adanya revisi mengenai progam reformasi birokrasi di
Indonesia saat ini dengan mengubah mindset bahwa menjadi birokat
merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat bukan pengabdian
kepada diri sendiri maupun unsur politik lainnya.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP65
Biarkan Klub Sepakbola Mandiri
Menjelang digulirkannya musim kompetisi 2011/ 2012,
Agustus 2011, banyak klub sepak bola di daerah mulai sibuk
menggaet sponsor demi kelangsungan operasional klub. esibukan
pengurus klub tersebut muncul dikarenakan diberlakukannya
Permendagri 2011 tentang Pelarangan Dana APBD sebagai Basis
Pendanaan Klub Sepak bola yang efektif 1 Januari 2012.
Argumentasi utama permendagri tersebut karena selama ini terjadi
pemborosan anggaran yang dilakukan pemerintah kota/ kabupaten di
seluruh Indonesia untuk menyokong operasionalisasi klub
daerahnya, menyebabkan belanja sosial maupun belanja modal
berkurang. Pemborosan tersebut terwujud pada penggunaan pemain
asing maupun pemain bintang yang gajinya mencapai 50-60 persen
dari pos anggaran klub serta pembayaran sewa lapangan latihan yang
notabene merupakan fasilitas pemerintah daerah. Namun yang paling
penting untuk digarisbawahi adalah klub sepakbola menjadi sapi
perah bagi kalangan politikus di daerah. Hal itu terjadi lantaran
selama ini dana APBD yang tersedot ke klub sangat besar sehingga
memancing praktik koruptif maupun kolutif yang dilakukan politisi
daerah.
Dengan dalih janji akan menaikkan porsi APBD dalam klub,
para politikus secara bebas mengambil anggaran klub sesukanya.
Adapun bila sampai pihak klub menolak permintaan tersebut, jangan
harap pada musim berikutnya akan memperoleh dana dari pos APBD
dengan lancar. Itulah, terjadi hubungan patronase politik dalam
sebuah klub sepakbola di daerah yang ditandai dengan logika
pertukaran sumber daya. Sumber daya dimaksud adalah klub
sepakbola menggunakan politisi tersebut sebagai pelobi agar
mendapatkan porsi dana dalam APBD, sebaliknya politisi
memanfaatkan fanatisme supporter yang dimiliki klub sepak bola
66 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
sebagai basis pendulang suara saat event pemilu legislative maupun
pemilukada di daerah. Maka tak usah heran, struktur organisasi klub
sepakbola di daerah seperti struktur partai politik dengan
menempatkan politikus sebagai ketua harian maupun ketua dewan
pembina klub. Klub sepakbola sekaligus menjadi partai politik
bayangan merupakan realita terbaru dalam fenomena politik lokal
di Indonesia. Memenangi pemilukada dengan memenangkan kursi
kepala daerah maupun legislator tanpa menduduki sebuah klub sepak
bola daerahnya adalah suatu keharusan bagi partai politik masa kini.
Klub sepak bola tidak menjadi profesional, bahkan menjadi
tempat penyelewengan anggaran maupun aksi cuci uang bagi
koruptor lokal. Aksi cuci uang tersebut bersumber pada aksi sulap
mengalihkan dana progam kebijakan menjadi dana pembinaan
olahraga dengan menjadikan klub sepakbola menjadi tempat transit
uang haram tersebut. Oleh karena itulah, dalam banyak kasus
korupsi yang terungkap di daerah terkait dengan klub sepakbola.
Misalnya di Kaltim, manajernya tersangkut dana korupsi
penyelewengan anggaran Persisam Putra Samarinda. Klub sepakbola
di daerah menjadi ajang berburu rente ekonomi bagi politisi lokal.
Semakin tinggi level kompetisi yang diikuti oleh kluh sepakbola,
akan semakin tinggi pula potensi perilaku korupsi maupun kolutif
yang ditimbulkan. Ini karena besarnya subsidi klub peserta oleh
sponsor utama kompetisi maupun sponsor pengusaha yang mulai
merapat. Ada kecenderungan operasionalisasi klub sepak bola yang
dijalankan politisi maupun birokrat sangat tidak akuntabel dan tidak
transparan dalam pengelolaannya. Dalam sejarah persepakbolaaan
Indonesia, tidak ada klub yang benar memberikan informasi
mengenai neraca keuangan klubnya kepada publik. Adanya Laporan
Pertanggungjawaban Anggaran yang dilaporkan pihak klub kepada
DPRD maupun pemerintah daerah hanya berisi informasi normatif
dan tidak memuat hal-hal detail. DPRD selalu menyetujui LPJ
Wasisto Raharjo Jati, S.IP67
tersebut karena logika patronase klub dan partai politik.
Pada akhirnya klub sepak bola menjadi sangat manja, kurang
kreatif, maupun kurang inovatif karena selalu saja bergantung pada
porsi APBD. Klub sepak bola menjadi malas untuk memberikan
pembinaan di daerahnya dan lebih mengutamakan pemain bintang
sebagai pengisi skuadnya. Logika instan inilah yang sebenarnya
mendera dalam klub sepak bola di daerah. Oleh karena itulah
berbicara mengenai diskursus industrialisasi sepak bola adalah
mimpi di padang pasir. Maka penerapan permendagri tersebut
merupakan solusi jitu untuk memecahkan permasalahan yang terjadi
di klub sepak bola. Biarkan saja, klub sepak bola yang mengancam
akan berhenti di tengah kompetisi maupun aksi pemogokan,
karenahal tersebut mengindikasikan bahwa klub tersebut masih
amatir dalam berbicara sepak bola.
~~
68 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Wajah Kelembagaan Negara
Dalam setiap diskursus mengenai sistem kelembagaaan
negara selalu terdapat ada dua elemen primer yang saling berkaitan
yaitu organ dan fungsi. Organ adalah bentuk atau wadahnya,
sedangkan fungsi adalah isinya. Organ adalah status bentuknya,
sedangkan fungsi adalah gerakan atau bagaimana bekerjanya wadah
sesuai dengan maksud pembentukannya (Asshidiqie, 2010). Dalam
konstitusi, organ dimaksud ada yang disebut secara eksplisit
namanya dan ada pula yang disebut secara eksplisit hanya fungsinya.
Ada pula organ baik namanya maupun fungsinya akan diatur dengan
peraturan yang lebih rendah sehingga akan menciptakan adanya pola
penyebaran kekuasaan (dispersion of power) antar kelembagaan
dengan dibentuknya lembaga sampiran negara.
Adapun pembentukan lembaga sampiran negara (state
auxillary agencies) baik itu sifatnya struktural maupun non struktural
sendiri merupakan pola reduksional dari hegemoni trisula
kelembagaan negara yakni eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
Oleh karenanya doktrin Montesqiue sendiri tidak pernah ada dalam
realita pembentukan sistem lembaga negara karena akan selalu saja
terjadi sifat eksklusivisme dan superioritas yang ditimbulkan oleh
ketiga lembaga tersebut sehingga akan menganggu kestabilan
demokrasi. Desakan adanya untuk membebaskan intervensi politik
yang rawan terjadi di tiga trinitas lembaga negara itulah yang
menjadi reason detre lahirnya lembaga sampiran negara sebagai
lembaga intermediari bagi masyarakat untuk memasuki ranah politik
negara.
Dalam konteks Indonesia, pembentukan lembaga sampiran
dalam bentuk komisi, lembaga struktural, maupun non struktural
justru menjadi polemik tersendiri. Hal tersebut dapat terindikasi dari
Banyaknya lembaga dan komisi itu menyebabkan satu fungsi
Wasisto Raharjo Jati, S.IP69
ditangani banyak pihak. Sebaliknya, banyak bidang yang justru
belum ditangani secara baik. Hal itu tentu menimbulkan
permasalahan, antara lain bagaimana status dan kedudukan lembaga
negara dan komisi tersebut, akuntabilitasnya, dan koordinasi di
antara mereka serta koordinasi dengan departemen terkait. Belum
lagi soal anggaran, mengingat masing-masing lembaga dan komisi
itu memerlukan anggaran untuk pelaksanaan tugas dan fungsinya
masing-masing. Hampir 75 % pagu anggaran dalam APBN sendiri
habis untuk mendanai operasionalisasi banyaknya lembaga tersebut
sehingga muncul banyak laporan keuangan lembaga pemerintah dan
negara yang dinyatakan disclaimer. Sebab, mulai dari sistem
perencanaan, pencatatan, pelaksanaan hingga pengawasannya tidak
mencerminkan sistem akuntansi lembaga publik yang seharusnya.
Oleh karena itu, banyak permasalahan negara yang tidak
sampai selesai dibahas karena adanya kurang koordinasi dari
lembaga, komisi, maupun kementerian. Sebagai contoh dalam kasus
pemberantasan korupsi, selalu muncul kontestasi antar lembaga baik
Kepolisian, KPK, MA, maupun Tim khusus Mafia Hukum. Maka
pada akhirnya bila ada permasalahan dalam pemberantasan korupsi,
masing-masing lembaga saling lempar tanggung jawab dan
melakukan aksi cuci bersih. Hal tersebut terjadi karena tugas pokok
fungsi (tupoksi) ketiga lembaga tersebut hampir sama yakni bergerak
dalam yuridiksional. Adapun peran komisi negara yang dibentuk
juga masih minim kontribusi untuk melakukan fungsi surveillance
kepada lembaga/departemen. Peran ad hoc yang diemban Komisi
Kejaksaan, Komisi Kepolisian Nasional, maupun komisi lainnya
belum pernah melakukan gebrakan yang didengar publik, malahan
berbagai komisi tersebut justru malah menjadi subordinasi lembaga
yang diawasinya.
Peran Presiden sebagai lembaga eksekutif merupakan
sumber dari ambiguitas fungsi dan peran organik yang diemban
70 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dalam sistem kelembagaan negara. Bukannya memperkuat fungsi
organic lembaga, malahan Presiden membuat berbagai lembaga baru
baik yang bersumber Penpres, Inpres, UU, Peraturan Pemerintah,
maupun UU. Perilaku yang sedemikian tersebut merupakan bentuk
ketidakpercayaan Presiden selama ini terhadap berbagai lembaga
yang dipimpinnya. Selama ini Presiden terlalu reaktif dan bukan
bersifat kuratif dalam menyelesaikan permasalahan negara melalui
kelembagaan sehingga menimbulkan krisis moralitas dan loyalitas
antara Presiden dengan lembaga negara yang dipimpinya. Oleh
karena itulah, banyak arahan-arahan presiden ataupun instruksinya
yang belum tuntas dikerjakan para menterinya. Jumlahnya, diakui
dia, seperti yang diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
yakni masih kurang dari 50 persen. Seharusnya, perintah Presiden
bak sebuah titah. Mereka yang diberi perintah seharusnya
mengerjakan dengan sepenuh hati. Kalau pun perintahnya tidak bisa
dilaksanakan, harus kembali ke pemberi perintah untuk
menyampaikan kendala yang dihadapi sehingga perintah itu tidak
bisa dijalankan. Sebagai seorang pemimpin, Presiden pun seharusnya
menegur suatu lembaga kalau perintah yang dikeluarkan tidak bisa
terlaksana. Kalau tidak jalannya perintah itu karena kapasitas dari
yang diberi perintah, maka Presiden harus mengganti dengan orang-
orang yang memiliki kapasitas. Ketika Presiden diam saja terhadap
perintah yang tidak jalan dan bahkan lembaga yang diperintah itu
tidak diberi sanksi apa pun, tidak usah heran apabila semua lembaga
menganggap enteng saja perintah Presiden. Sebab, kalau pun tidak
bisa dilaksanakan tidak ditegur, sebaliknya ketika dilaksanakan pun
sudah tidak menjadi perhatian Presiden. Kalau keadaannya seperti
itu, maka Presiden seakan menjadi tidak ada. Presiden hanya
dianggap sebagai sebuah sosok yang ada, namun keberadaannya
tidak memberi arti apa-apa.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP71
Tata Ulang Kelembagaan
Agar tercipta good public governance maka sebaiknya
lembaga-lembaga negara dan komisi-komisi yang ada saat ini ditata
ulang. Lembaga atau komisi yang fungsinya tumpang tindih dengan
yang lain, segera dibenahi. Bisa disatukan saja atau ada yang
dibubarkan. Bisa juga dengan cara lebih memperkuatnya, agar
lembaga dan komisi itu bisa menjalankan fungsinya dengan lebih
cepat dan lebih baik. Tentu saja, penataan ulang tersebut benar-benar
dilakukan berdasarkan kepentingan bangsa dan Negara serta melalui
pertimbangan yang matang. Bukan didasarkan pada politik
kepentingan jangka pendek
~~
72 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Prospek Politik Perempuan 2014
Perjuangan perempuan Indonesia untuk mencapai kesetaraan
politik dengan perempuan selalu saja mendapat tentangan politik
patriarki. Hal tersebut terindikasi keengganan mayoritas partai
politik pemilu 2014 untuk memenuhi Peraturan KPU nomor 7 tahun
2013 pasal 24 ayat 1 tentang persyaratan keterwakilan 30 persen
perempuan untuk setiap daerah pemilihan dalam daftar caleg
sementara pada 9-22 April 2013 ini. Keengganan para partai politik
untuk memenuhi peraturan tersebut lantaran banyak didominasi
paradigma domestifikasi perempuan yang selalu bekerja di rumah
maupun tingkat kepopuleran caleg perempuan yang dinilai masih
kurang sehingga dikahwatirkan akan mengurangi angka elektabilitas
partai tersebut maupun berkurangnya proporsi bilangan pembagi
pemilih (BPP). Padahal, Peraturan KPU nomor 7 tahun 2013 tersebut
sudah mengacu kepada Undang-Undang Pemilu nomor 8 tahun 2012
khususnya , dalam Pasal 55 dinyatakan pengajuan caleg harus
memuat paling sedikit 30 persen keterwakilan perempuan.
Selanjutnya dalam Pasal 56 aayat 2 disebutkan dalam daftar caleg
yang diajukan, setiap tiga calon harus memuat satu calon perempuan.
Bilamana partai politik tidak mau memenuhi persyaratan tersebut
maka dalam Pasal 27 ayat 1 diatur jika ketentuan itu tidak terpenuhi
maka parpol tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat pengajuan
daftar bakal caleg di dapil bersangkutan. Maka parpol bersangkutan
tidak bisa ditetapkan sebagai salah satu peserta untuk dapil tersebut.
Namun demikian, sepertinya akan banyak partai politik yang
tidak akan mengindahkan peraturan KPU tersebut, kendati bila
melanggar akan dikenai sanksi pembatalan keikutsertaan partai
politik dalam dapil tersebut. Mayoritas parpol masih menilai bahwa
kuota 30 persen hanya berlaku secara nasional dan tidak dalam
bentuk kepengurusan maupun caleg per dapil dalam daftar calog
Wasisto Raharjo Jati, S.IP73
sementara ini. Kalaupun parpol akhirnya memenuhi ketentuan
tersebut, yang terjadi justru adalah unsur keterpaksaan maupun
hanya memenuhi syarat administratif saja kepada KPU, namun pada
saat finalisasi daftar calon tetap (DCT) nanti proporsi caleg
perempuan akan disesuaikan sesuai kepentingan strategis.
Tercatat, bahwa baru terdapat tiga orang perempuan yang berhasil
menembus bilangan pembagi pemilih yakni Puan Maharani dari
PDI-P yang memperoleh suara Di daerah pemilihan Jawa Tengah V
dengan memperoleh 242.054 suara atau 25,60 persen BPP, Karolin
Margret Natasa dengan 222.021 suara atau sekitar 20, 91 persen BPP
maupun Rusminiati dari Demokrat yang memperoleh 182.083 atau
sekitar 19, 71 persen BPP. Dari ketiga caleg perempuan yang
diposisikan sebagai caleg perempuan dengan perolehan suara
tertinggi pada pemilu 2009 saja, tidak ada yang memenuhi angka 30
persen keterwakilan perempuan secara utuh. Selain itu pula, Data
Puskapol UI tahun 2010 menunjukkan bahwa dari total suara pemilih
untuk caleg DPR, sebanyak 16 juta suara atau 22,45 persen diberikan
kepada caleg perempuan. Dilihat dari data 463 kabupaten/kota,
terdapat 206 kabupaten/kota atau 44 persen yang memberikan suara
pada caleg perempuan mencapai 11 sampai 20 persen. Sebanyak 29
persen kabupaten/kota memberikan suara pada caleg perempuan
hingga 30 persen.
Artinya dengan melihat bilangan pemilih tersebut, angka
elektabilitas caleg perempuan sendiri secara general masih kurang
dari angka 30 persen sebagai bentuk affirmative action kepada
perempuan. Hal ini tentu saja menjadi ironi, semenjak MK
menetapkan bahwa sistem proporsional terbuka menjadi dasar
pemenangan pemilu dengan perolehan suara terbanyak pada pemilu
2009. Maka yang terjadi justru kuota 30 persen menjadi tidak berarti
lagi karena terjadi penyamarataan antara politisi perempuan maupun
laki-laki dalam berebut kursi caleg baik di parlemen lokal maupun
74 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
nasional. Namun demikian, apapun sistemnya yang digunakan
pemilu 2014 yakni apakah proporsional terbuka maupun
proporsional tertutup. Keduanya memiliki tendensi untuk
memarjinalkan peta persaingan politik perempuan. Jika proporsional
tertutup sendiri bedasarkan sistem nomor urut daftar, kecenderungan
yang muncul adalah caleg perempuan berada di urutan bawah dan
tidak berada dalam daftar nomor urut teratas dimana pemilih
cenderung secara psikologis dan strategis memilih tiga nomor
teratas. Sementara dalam proporsional terbuka, suara caleg laki-laki
umumnya lebih besar daripada caleg perempuan karena preferensi
kultur maskulinitas yang superior dalam dinamika masyarakat kita
ketimbang lebih mengutamakan feminitas. Jika demikian adanya,
aturan kuota 30 persen keterwakilan perempuan tiap dapil
sebagaimana yang tercantum dalam PKPU No. 7 Tahun 2013 hanya
diimplementasikan setengah hati baik dari regulator maupun
eksekutor.
Maka, KPU, MK, maupun regulator pemilu 2014 sekiranya
bisa memberikan ruang-ruang konstitusional bagi politik perempuan
untuk dapat menampilkan citra dirinya sebagai penyambung aspirasi
perempuan Indonesia. Ruang konstitusi yang dimaksud adalah
sinergisitas antar regulator dalam membuat aturan yang berpihak
pada sikap afirmatif pada perempuan.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP75
Pesona Caleg Artis 2014
Perang bintang tampaknya tidak hanya terjadi pada figur
militer maupun figure politisi yang hendak maju dalam pemilu 2014.
Para bintang layar kaya sepertinya tidak mau ketinggalan momentum
pemilu dengan menjagokan diri sebagai calon legislator dari 14
partai politik peserta pemilu. Dalam daftar caleg sementara (DCS)
yang disampaikan para parpol tersebut ke KPU pada 22 April 2014,
ada sekian nama tenar yang tercantum namanya baik yang masih
aktif sebagai artis maupun pensiun. Nama-nama seperti Thantowi
Yahya, Rieke Dyah Pitaloka, Nurul Qomar, maupun Nurul Arifin
masih menjadi figur selebriti politik yang mapan. Selebihnya adalah
figur-figur hijau seperti Anang Hermansyah dan Ayu Azhari
(PAN), Mandala Shoji dan Ridho Rhoma (PKB), Angel Lelga (PPP),
Irwansyah (Gerindra), dan Krisdayanti (Hanura). Terhadap para
caleg tersebut, tentu kita tidak asing lagi mendengar dan melihat para
artis tersebut terutama dalam kemampuan berakting, menyanyi,
bahkan bersilat lidah di layar kaya. Namun yang menjadi pertanyaan
berikutnya adalah seberapa besar kapabilitas para caleg artis tersebut
dalam memahami politik sebagai arena pemenuhan aspirasi rakyat ?.
Hal inilah yang sekiranya menjadi persoalan kritis sekaligus skeptis
dalam menanggapi artis masuk dalam dunia politik.
Adapun persoalan kapabilitas artis dalam dunia politik
sendiri dapat dikategorisasikan dalam lima tipologi yakni selebriti
advokat, selebriti aktivis (endorser), selebriti politikus, politikus
selebriti, dan selebritis endorser (John Street, 2012 : 347). Lebih
lanjut Street menjelaskan selebriti aktivis maupun selebriti advokat
merupakan artis yang masuk dunia politik karena dorongan
melakukan gerakan sosial dan perubahan. Dalam tipologi pertama
ini, kita bisa melihat dari figur Rieke Diah Pitaloka yang concern
terhadap buruh dan kekerasan perempuan sekaligus juga aktivis
76 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
teater, Reni Djayusman yang artis skaligus aktivis Granat (Gerakan
Anti Narkotika). Selebriti politikus adalah artis yang mengalami
transformasi diri dalam mencari nafkah dari dunia hiburan menuju
dunia politik. Politikus selebriti adalah artis yang masuk dunia
politik hanya bertujuan mempopulerkan kembali namanya di
masyarakat supaya kembali terkenal, dan selebritis endorser adalah
selebriti yang dimanfaatkan ketenarannya oleh partai politik untuk
menjadi vote getter dalam pemilu legislatif dan eksekutif. Selain itu,
makna endorser juga dimaknai sebagai penarik simpati publik guna
mempengaruhi preferensi politik pemilih pada pemilu mendatang
(Moore, 2008).
Tipologi Selebriti Politik
Jika melihat tipologi lima selebriti politik di atas, kita bisa
menganalisis masuknya artis dalam daftar caleg 2014 disebabkan
berbagai hal seperti pertama, artis tersebut sudah tidak laku lagi di
dunia hiburan sehingga mencari sumber nafkah yang sepadan dengan
dunia hiburan di dunia politik. Kedua, artis tersebut ingin kembali
namanya berkibar dan terkenal seperti aktif dulu dengan masuk
sebagai legislator DPR sehingga publik bisa tahu sepak terjangnya
melalui pemberitaan media. Ketiga, artis tersebut masuk dunia
politik karena mengikuti idealisme semu partai politik tersebut
agar menjadi bagian dari perubahan bangsa, padahal masih hijau
dalam politik dan keempat, artis tersebut masuk dunia politik
karena desakan pihak partai politik agar bisa meraih suara sebanyak-
banyak dengan memanfaatkan ketenaran artis tersebut. Kelima, artis
yang benar-benar ingin memperjuankan aspirasi rakyat berbekal
pengalaman kaderisasi politik di partai pollitik yang cukup lama.
Dalam kasus Indonesia, sepak terjang artis yang masuk
dunia politik yang namanya bergema di telinga masyarakat sangatlh
sedikit dibandingkan dengan kiprahnya di dunia hiburan. Sebut saja,
Wasisto Raharjo Jati, S.IP77
Dedi Miing Gumelar yang vocal terhadap masalah olahraga dan
pendidikan, Nurul Arifin yang vokal terhadap masalah otonomi
daerah, Rieke Diah Pitaloka yang peduli masalah buruh, kekerasan
perempuan, dan ketimpangan ekonomi, dan Tanthowi Yahya yang
peduli terhadap kebijakan politik luar negeri, militer, dan pertahanan
Indonesia. Selebihnya di luar keempat artis tersebut, para artis
lainnya yang duduk di kursi dewan yang terhormat tidak bergema
suaranya dan hanya menjadi anggota dewan yang baik dan duduk
manis ketika sidang, dan menerima uang ketika rapat selesai. Mereka
hanya menjadi anggota pasif yang tidak memanfaatkan keartisan dan
keterkenalannya sebagai media penyambung aspirasi rakyat. Yang
memalukan justru dari figur artis politik adalah Angelina Sondakh
yang terkenal menjadi puteri Indonesia 2004, namun akhirnya
berkubang dalam sarang korupsi kepartaian.
Masuknya artis ke dalam dunia politik sah-sah saja karena
itu merupakan hak politik aktif warga negara untuk ikut serta dalam
pemerintahan negara. Namun karena sudah terlabelisasi artis dan
sudah terkenal. Akan lebih baik lagi, kalau para artis tersebut juga
vokal terhadap masalah masyarakat seperti halnya ketika aktif jadi
artis juga sangat vokal dalam dunia hiburan. Jangan hanya menjadi
penonton pasif dan menjadi endorser partai dalam meraih suara
sebanyak-banyaknya.
~~
78 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
BAB 2
EKONOMI KITA DIJAJAH LIBERALISASI- KAPITALISME
Dilema Industri Strategis
Sejatinya keberadaan suatu industri terlebih lagi yang
bersifat strategis adalah manifestasi kebanggaan nasional ketika
negara itu berhasil meletakkan pola dasar stabilitas terwujudnya
industrialisasi nasional sehingga mampu mewujudkan keunggulan
kompetitifnya di kancah global sekarang ini. Namun sepertya hal itu
tidak terjadi dalam konteks Indonesia yang dengan teganya menjual
salah satu aset terbaiknya yakni mengadakan privatisasi PT Krakatau
Steel sebagai industri strategis dalam besi dan baja dengan harga
saham sebesar Rp 850 per lembar yang tentunya sangat jauh dari
harga pasaran sebesar Rp 1500 per lembar. Terlebih lagi harga
saham Krakatau Steel ini termasuk dalam kategori blue print artinya
menjadi saham unggulan di bursa efek yang seharusnya harga saham
per lembarnya pun harus dihargai lebih tinggi oleh kalangan pialang
saham. Artinya pengurangan harga saham di sini terjadi kompromi
teknokratis agar secara instan terjadi booming dana global yang
masuk ke sektor bisnis dan industri Indonesia.
Adapun alibi yang dikemukakan pemerintah untuk menarik
dana global agar menanamkan investasinya di sektor makro
perekonomian Indonesia sehingga angka pertumbuhan ekonomi ikut
terangkat merupakan sesuatu yang blunder dan fatal mengingat yang
dikorbankan adalah Krakatau Steel sebagai industri strategis. Selain
itu pula asumsi kuno trickle down effect yang coba dibangun
pemerintah dimana datangnya uang global akan merembes ke sektor
riil ekonomi mikro masyarakat seperti halnya penciptaan sejuta
lapangan pekerjaan, penyaluran kredit usaha rakyat, pengentasan
pengangguran dan kemiskinan adalah hal semu. Mengingat selama
Wasisto Raharjo Jati, S.IP79
ini privatisasi industri negara yang dilakukan pemerintah selama ini
sama sekali lebih berorientasi pada pembangunan kapitalisme
industri makro dan belum maksimal menyentuh hak hak dasar
rakyat.
Hot Money
Dalam hal ini perlu juga dicermati jenis dana investasi global
yang coba ditarik pemerintah melalui IPO (Initial Public Offering)
PT Krakatau Steel. Jangan jangan dana yang coba ditarik
pemerintah adalah hot money yakni aliran dana dari Amerika Utara
maupun Eropa Barat yang dikucurkan ke dunia berkembang
mengingat pangsa pasarnya yang masih stabil dan positif seperti
halnya Indonesia yang mengalami trend ekonomi positif saat resesi
ekonomi global pada tahun 2008 silam. Namun dana itu cenderung
bersifat spekulatif dan kleptokratif yakni dana itu merupakan hasil
konspirasi spekulan global yang ingin mengeruk dana dari negara
berkembang dengan cara membeli saham saham unggulan / blue
print perusahaan di berbagai negara tersebut agar mereka mengalami
break even point (BEP) yaitu berusaha mengembalikan dana
investasi para investor tersebut seperti sedia kala sebelum terjadi
resesi ekonomi massif pada 2008 silam. Oleh karena itu ketika dirasa
dana yang mereka tanamkan di saham blue print sudah berkembang
dan menguntungkan bagi mereka pribadi, maka dengan seenaknya
para spekulan global tersebut akan menjual saham mereka dengan
harga mahal sehingga akan merugikan suatu negara berkembang
mengingat mereka menguasai separuh saham kepemilikan industri
negara tersebut. Jika sampai hal itu terjadi hutang luar negeri
Indonesia akan bertambah dan rakyat harus menanggung pikulan
hutang tersebut selama beberapa puluh tahun.
Tentunya jangan sampai hal itu terjadi ketika Indonesia yang
kaya raya sumber dayanya justru menjadi sapi perahan dana global.
80 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Ironisnya yang dijadikan tumbalnya adalah PT Krakatau Steel yang
mempunyai pangsa pasar yang lumayan baik dimana perusahaan ini
mampu menyuplai kebutuhan besi dan baja nasional dan juga
mengadakan kegiatan impor entah itu pembuatan pipa minyak,
bahan baku kapal maupun pesawat, maupun penyokong industri
manufaktur ke berbagai negara lain di penjuru dunia. Maka tak
mengherankan apabila banyak perusahaan dunia mau bekerja sama
dengan PT Krakatau Steel ini seperti halnya Mittal Steel Company
yaitu perusahaan multinasional bergerak di bidang industri besi dan
baja yang dimiliki konglomerat India Lakshmi Mittal maupun
POSCO (Pohang Steelers Company) suatu BUMN sejenis Krakatau
Steel milik Pemerintah Korea Selatan sehingga mampu menguasai
pangsa pasar dunia lebih dari 50 % di bidang besi dan baja.
Seharusnya aset yang sedemikian berharga ini dilindungi Indonesia
mengingat PT Krakatau Steel ini dapat dikategorikan sumber
pemasukan APBN non migas yang produktif selain halnya PT
Telkom Indonesia di bidang telekomunikasi.
Oleh karena itulah jika sampai saham IPO itu dibeli dengan
hot money oleh para investor global memang akan menimbulkan
dampak yang menguntungkan bagi negara yakni dapat secara instan
meningkatkan pos pemasukan negara pada APBN tahun 2011
mendatang sehingga dapat menyeimbangkan neraca keuangan
negara tidak menjadi defisit lagi seperti sebelumnya. Namun hal itu
kemudian akan menimbulkan dampak yang negatif berjangka
panjang dalam perekonomian Indonesia. Indikasi yang secara jelas
dan pasti adalah hasil industri Krakatau Steel sendiri yang sejatinya
adalah uang rakyat malahan lari ke luar negeri yaitu masuk ke
kantong investor global tersebut. Selain itu pula, kepemilikan privat
dalam industri strategis negara mengurangi peran pemerintah di
dalamnya membuat pemerintah menjadi agensi para investor global
untuk melayani kepentingan mereka. Maka industri strategis yang
Wasisto Raharjo Jati, S.IP81
merupakan hasil keringat dan jerih payah rakyat Indonesia untuk
kemudian mensejahterakan rakyat secara komunal justru malahan
menjadi alat penciptaan kekayaan pribadi para investor global.
Revitalisasi
Oleh karena itulah sebaiknya, pemerintah jangan gegabah
dalam usahanya menjadikan PT Krakatau Steel ini go public.
Alangkah baiknya jika pemerintah merevitalisasi kembali BUMN
strategis ini agar maju ke depannya dengan cara menjadi supplier
dasar kebutuhan industri vital lainnya seperti PT Pindad, PT INKA,
PT PAL, maupun IPTN yang bahan bakunya justru didatangkan dari
luar negeri sehingga terjadi pengabaian pada produk besi dan baja
Krakatau Steel sebagai wujud kebanggaan produk nasional.
~~
82 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Globalisasi Gerus Pertanian Indonesia
Globalisasi yang diiringi dengan liberalisasi keuangan dan
perdagangan bebas seharusnya menjadikan negara berkembang ikut
menikmati keuntungan yang berlipat. Sebagaimana konsep trickle
down effect yang mengandaikan bahwa kesejahteraan global akan
merembes ke arena lokal, maka masingmasing negara dituntut
untuk melakukan spesialisasi komoditas ekspor dengan tujuan untuk
meningkatkan keunggulan komparatifnya. Dengan keunggulan
komparatif tersebut, negaranegara berkembang pun dapat memiliki
daya saing terhadap produk negara maju dalam kancah globalisasi.
Namun, realita yang terjadi sangatlah paradoks dengan premis di
atas.
Faktanya yang terjadi adalah komoditas negara berkembang
sendiri justru sulit untuk memasuki pasaran negara maju dikarenakan
pengenaan tarif dan bea ekspor yang cukup tinggi. Adanya tarif dan
bea eskpor tersebut sunggulah aneh bilamana dikaitkan dengan hasil
pertemuan para petinggi dunia di Davos maupun Doha mengenai
adanya reduksisasi akan bea ekpor dan pengenaan tariff negara maju
bagi komoditas dari negara berkembang secara gradual dari 35 %
menuju 7,5 %. Tentunya sangatlah janggal, apabila dikaitkan dengan
sikap negara maju yang sangat getol untuk memaksa negara
berkembang untuk mengurangi proteksionisme, pengenaan tariff dan
bea ekspor supaya produk mereka masuk ke pasaran negara
berkembang.
Adapun komoditas ekspor negara berkembang terutama
sektor agraris bilamana ingin memasuki pasaran konsumsi
kebutuhan pokok negara maju harus dijual secara lebih mahal
daripada produk sejenis yang dihasilkan petani negara maju.
Sehingga dari situ kemudian, produk agraris negara berkembang pun
menjadi basi dan tidak laku dikarenakan penduduk negara maju akan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP83
lebih condong memilih produk pertanian negerinya sendiri
dikarenakan preferensi yang lebih murah dan berkualitas terbaik
daripada produk negara berkembang yang diasosiasikan sebagai
produk yang tidak higienis, kurang memenuhi standar kesehatan,
maupun banyak penyakit. Tindakan sedemikian dilakukan negara
maju untuk melindungi petaninya dari serangan produk negara
berkembang yang merajalela di pasaran. Maka negara maju sendiri
dapat dikatakan hipokrit dalam arena globalisasi karena ingin selalu
menang sendiri tanpa memperhatikan penderitaan petani di negara
berkembang yang senantiasa merugi karena sikap arogan negara
maju tersebut.
Ambiguitas
Sektor pertanian merupakan arena proteksionisme bagi
negara maju yang seharusnya dilarang dalam kancah perdagangan
global. Tahun 2003, subsidi yang diberikan pemerintah AS kepada
petaninya sebesar US$ 1,7 Milyar atau rata-rata US$ 232/ hektar.
Pada 30 negara terkaya, subsidi pertanian menyumbang 30 %
pendapatan petani dengan total nilai subsidi mencapai US$ 280
Milyar (Yauri Tetanel, 2010). Kebijakan bantuan pangan untuk
melayani kepentingan raksasa agrobisnis & perusahaan perkapalan
(bantuan pangan diproduksi, diproses, dan dikapalkan oleh
perusahaan AS) sehingga bila dikaitkan dengan teorama komoditas
komparatif pertanian, sangatlah jelas apabila produk pertanian
negara maju lebih unggul daripada produk sejenis diproduksi di
negara berkembang. Sementara bagi negara berkembang terutama
yang terkena progam restrukturisasi pembangunan dari IMF dan
Bank Dunia dipaksa untuk mengurangi subsidi pertanian yang
sangatlah vital bagi perkembangan pertanian. Sebagai contoh Selama
20 tahun terakhir, pemerintah RI telah mengadopsi kebijakan pangan
ala neo-liberal yang sangat pro pasar bebas (free-market). Kebijakan
84 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
tersebut berada di bawah arahan dan dikte dua lembaga keuangan
internasional yaitu IMF dan Bank Dunia. Beberapa bentuk kebijakan
yang telah diambil antara lain: penghapusan dan atau pengurangan
subsidi, penurunan tarif impor komoditi pangan yang merupakan
bahan pokok (beras, terigu, gula, dll.), dan pengurangan peran
pemerintah dalam perdagangan bahan pangan dengan merubah
BULOG dari lembaga pemerintah non-departemen menjadi
perusahaan umum yang dimiliki pemerintah. Implikasi yang timbul
adalah jatuhnya harga pembelian gabah petani (HPP) dari mulanya
Rp. 700 menjadi Rp. 500 dan kemudian diikuti dengan jatuhnya
harga produk agraris lainnya. Kedaulatan pangan agraris Indonesia
kemudian menjadi terancam dengan adanya globalisasi ini karena
semakin meraja lelanya produk sejenis dari China, Thailand, maupun
Vietnam di pasaran. Hal inilah yang menyebabkan swasembada
pangan sulit dilakukan mengingat dari adanya globalisasi saja, telah
terjadi pengurangan 506.000 ton beras karena terjadi konversi alih
fungsi lahan yang dilakukan petani per 100-220 ribu hektar tiap
tahunnya karena secara berkesinambungan merugi karena produknya
tidak lagi. Pemerintah sepertinya tidak bisa berbuat banyak untuk
melindungi petaninya yang menderita karena terjerat dengan aturan
progam utang IMF dan Bank Dunia. Kondisi yang sama juga
dirasakan oleh negara berkembang lainnya yang harus merelakan
sektor agrarisnya sebagai komoditas unggulan dalam kancah
globalisas ini harus menerima nasib terancama gulung tikar karena
serbuan pangan global yang nyaris tiada henti mengkoloni
kedaulatan pangan nasional negaranya. Oleh karena itulah, negara
berkembang harus berani tegas untuk tidak bergabung dengan pakta
perdagangan bebas maupun perjanjian global sejenis yang
berimplikasi mengahncurkan sendir perekonomian bangsa. Jangan
percayai resep-resep IMF dan Bank Dunia karena globalisasi sendiri
tidak dirancang untuk menjadikan negara-negara di dunia menjadi
Wasisto Raharjo Jati, S.IP85
pemenanga semuanya, justru yang terjadi adalah globalisasi
merupakan turunan dari rezim neoliberalisme yang selalu
menguntungkan negara maju daripada negara berkembang.
~~
86 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Kutukan Sumber Daya Minyak
Dalam pertemuan tahunan OPEC yang diselenggarakan di
Vienna, Austria pada tahun 2001. Menteri Perminyakan Venezuela
Jose Luis Rodriguez pernah berujar bahwa minyak sejatinya tidak
akan membawa suatu negeri menjadi makmur, namun justru minyak
tersebut menjadi sumber kutukan dan penyebab konflik. Adapun
argumentasi yang disampaikan Jose Luis Rodriguez cukup
konfirmatif untuk melihat proses demonstrasi yang terjadi secara
meluas terjadi di negara kaya minyak. Revolusi Musim Semi yang
terjadi di jazirah Arab terjadi juga karena konflik minyak. Para emir
yang berkuasa di tanah Arab hanya membagikan rezeki minyak
kepada kaum sunni yang menjadi mayoritas. Tentunya hal tersebut
menimbulkan kecemburuan bagi minoritas kalangan syiah untuk
melakukan percobaan penggulingan monarki. Dalam kasus yang
terjadi Bahrain dan Arab Saudi, ketimpangan sosial ekonomi antar
masyarakat yang diakibatkan oleh rezeki minyak pun terjadi.
Minoritas syiah yang umumnya hidup miskin berada di kawasan
selatan Arab Saudi maupun pinggiran Kota Manama terlihat
mencolok dibandingkan dengan kaum sunni yang bergelimpangan
rezeki minyak. Dalam kasus Nigeria, minyak juga menjadi sumber
konflik antara Nigeria Utara dan Selatan. kawasan utara yang pada
umumnya kaya dengan minyak berusaha untuk melepaskan diri dari
Nigeria dengan membentuk negara tersendiri. Pemberontakan demi
pemberontakan kerap terjadi di sana yang mengatasnamakan
minyak. Hal sama juga berlaku dalam kasus Sudan dengan Sudan
Selatan dalam memperebutkan sumber minyak di perbatasan kedua
negara. Adapun peristiwa mutakhir sekarang ini dengan munculnya
krisis selat Hormuz dan sengketa kepulauan Spratly dan Paracel
yang kaya minyak berpotensi untuk merusak perdamaian dunia dan
menggiring pada perang dunia ketiga. Stabilitas harga minyak
Wasisto Raharjo Jati, S.IP87
dijadikan sebagai sumber alasan untuk memerangi negara lain untuk
menguasai sumber sumber minyak di luar negeri. Minyak pula
yang menjadi doktrin politik Amerika Serikat untuk senantiasa
mengawasi gejolak yang terjadi di Timur Tengah karena dengan
menguasai minyak di Timur Tengah sama saja menguasai dunia.
Paradox of plenty
Paradox of plenty merupakan istilah yang dikemukakan oleh
Terry Lynch (2006) untuk menjelaskan fenomena negara kaya
sumber daya yang harusnya kaya malah menjadi miskin. Fenomena
tersebut jamak terjadi di negara kaya sumber daya misalnya
Indonesia, Nigeria, Iran, Sudan, maupun Angola. Penyebab yang
relevan untuk menjelaskan hal tersebut adalah perang. Pertama
asimetri ekonomi, negara maju umumnya memiliki teknologi untuk
melakukan pengolahan sumber daya maupun informasi yang
memadai mengenai harga minyak, konsumsi minyak, maupun
pemetaan minyak di seluruh dunia dibandingkan dengan negara
berkembang. oleh karena itulah, dengan asimetri ekonomi tersebut,
negara maju bisa melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya
yang lebih baik dibandingkan dengan negara berkembang. Akibatnya
hasil esktrasi sumber daya tersebut tidak lari ke negara berkembang
melainkan ke luar negeri. Kedua melemahnya kekuatan tawar
ekonomi, negara kaya SDA pada umumnya tidak memiliki kekuatan
tawar yang lebih tinggi bila berhadapan dengan negara maju. Hal ini
dikarenakan ketidakseimbangan nilai antara barang mentah dengan
barang jadi sehingga selisih nilai dari barang mentah menjadi milik
negara maju. Ketiga munculnya agen asing, Agen merupakan agen
bukanlah perantara kepentingan ekonomi negara ketiga dan negara
maju. Namun agen di sini yakni sebagai intelejen ekonomi yang
tugasnya menjatuhkan ekonomi negara dunia ketiga secara perlahan.
Agen akan membujuk untuk menjual SDA kepada negara maju
88 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dengan harga murah sehingga negara berkembang dirugikan.
Adapun inti utama terjadinya paradox of plenty di negara
kaya sumber daya alam seperti halnya di Indonesia adalah
kepemimpinan nasional. Faktor tersebut sangatlah krusial dalam
menentukan kebijakan energi utamanya dalam kasus pengelolaan
dan pendayagunaan sektor energi vital utamanya minyak. Dalam
kasus di Indonesia, kepemimpinan untuk mengatur sektor energi
minyak diatur oleh asing. Proporsi produksi minyak mentah
Indonesia yang mencapai 950 ribu kiloliter setiap harinya,70 % milik
asing dan 30 % sisanya milik Pertamina. Adanya dominasi asing
tersebut dikarenakan kerakusan pemerintah untuk menjual besar-
besaran sektor energi terutama minyak ke swasta asing untuk terus
menambah pendapatan nasional dalam APBN. Pertamina tidak
mempunyai kapabilitas untuk melakukan ekspansi eksplorasi minyak
ke luar negeri karena sektor pendapatan Pertamina menjadi sapi
perah bagi elite politik nasional. Oleh karena itulah ketergantungan
produksi minyak Indonesia terhadap asing sangatlah besar sehingga
mengakibatkan pola salah urus energi.
Venezuela semasa pemerintahan Hugo Chavez berhasil
mendayagunakan minyak sebagai sumber kemakmuran rakyatnya
dengan dibangunnya sektor infrastruktur pelayanan publik yang baik.
Hal utama yang dilakukan oleh Chavez adalah melakukan
nasionalisasi terhadap swasta asing yang mengeksploitasi minyak
domestik. Chavez memandang bahwa minyak merupakan sektor
vital yang tidak boleh dikuasai asing dan menjual BBM murah
dengan harga Rp 1000-2000 kepada rakyatnya. Oleh karena itulah,
sebaiknya Indonesia meniru langkah Venezuela dengan melakukan
nasionalisasi minyak nasional yang dikuasai asing karena hal
tersebut menyangkut martabat ekonomi nasional. Kepemimpinan
menjadi faktor penting dalam nasionalisasi tersebut, apakah pro
rakyat atau swasta asing.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP89
Membongkar Mitos Globalisasi
Tesis trickle down effect yang mengatakan bahwa globalisasi
akan membawa kesejahteraan yang merata dan merembes ke
berbagai negara adalah retorika. Yang terjadi adalah triadisasi yakni
akumulasi kapital dan kesejahteraan global sendiri terkonsentrasi
pada tiga kawasan utama yaitu Amerika Utara, Eropa Barat, dan
Asia Timur yang mengontrol 67 persen perputaran keuangan dunia.
Berbagai negara tersebut menggabungkan diri dalam bentuk
organisasi misal OECD (Organization for Economic Cooperation
and Development), NAFTA (North America Free Trade
Organization). maupun East Asian Summit (EAS) yang disebut-
sebut sebagai pemain utama globalisasi. Namun ketika krisis global
menyeruak pada 2008, perekonomian negara-negara tersebut kolaps.
Hal ini dikarenakan kepercayaan eksesif para negara triad terhadap
pasar terutama sektor property dan perbankan adalah penyebab
utama krisis globalisasi ini. Ekonom Josep Stiglitz (2010) dalam
bukunya Freefall menjelaskan bahwa krisis globalisasi yang terjadi
adalah kelesuan pasar yang senantiasa digempur oleh berbagai
produk yang sejenis sehingga mengakibatkan daya beli menurun.
Selain itu pula, investasi sektor property sendiri dijalankan melalui
skema kredit macet dan skema arisan berantai sehingga
mengakibatkan dampak sistemik terhadap terciptanya krisis
globalisasi sekarang ini. Krisis global juga tercipta karena
ketidakseimbangan kesejahteraan dalam globalisasi ini. Umumnya
negara berkembang seperti kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara,
Amerika Selatan, maupun Afrika adalah pemain pasif dalam
globalisasi. Investasi maupun industrialisasi yang dijalankan oleh
perusahaan multinasional dunia hanya menjadikan negara
berkembang sebagai basis produksi saja. Secara ekonomis,
ketertarikan negara maju kepada negara berkembang hanyalah upah
90 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
buruh yang murah dan ketersediaan bahan produksi yang melimpah.
Adapun pendapatan yang diraih oleh perusahaan multinasional
tersendiri dari hasil eksplorasi dan eksploitasi faktor produksi di
negara berkembang disalurkan ke negara asalnya dan tidak
dikembalikan ke negara usahanya. Sehingga hal tersebut
menimbulkan kerugian tersendiri bagi negara berkembang terutama
dari segi ekologis. Maka yang terjadi adalah kemiskinan struktural
yang terjadi di berbagai negara kawasan tersebut. hal tersebut bisa
ditilik dari koefisien gini masing-masing negara yang kini berada di
interval 0-0,5 persen, sementara negara maju menikmati kenikmatan
kue ekonomi hasil penjarahan sumber daya di negara berkembang.
Namun, sejatinya uang yang disalurkan oleh perusahaannya di luar
negeri juga hanya untuk menambal hutang karena anggaran habis
untuk menyehatkan sektor property dan perbankan sebagai pemicu
krisis dunia.
Faktanya yang terjadi adalah komoditas negara berkembang
sendiri justru sulit untuk memasuki pasaran negara maju dikarenakan
pengenaan tarif dan bea ekspor yang cukup tinggi. Adanya tarif dan
bea eskpor tersebut sunggulah aneh bilamana dikaitkan dengan hasil
pertemuan para petinggi dunia di Davos maupun Doha mengenai
adanya reduksisasi akan bea ekpor dan pengenaan tariff negara maju
bagi komoditas dari negara berkembang secara gradual dari 35 %
menuju 7,5 %. Tentunya sangatlah janggal, apabila dikaitkan dengan
sikap negara maju yang sangat getol untuk memaksa negara
berkembang untuk mengurangi proteksionisme, pengenaan tariff dan
bea ekspor supaya produk mereka masuk ke pasaran negara
berkembang.
Adapun komoditas ekspor negara berkembang terutama
sektor agraris bilamana ingin memasuki pasaran konsumsi
kebutuhan pokok negara maju harus dijual secara lebih mahal
daripada produk sejenis yang dihasilkan petani negara maju.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP91
Sehingga dari situ kemudian, produk agraris negara berkembang pun
menjadi basi dan tidak laku dikarenakan penduduk negara maju akan
lebih condong memilih produk pertanian negerinya sendiri
dikarenakan preferensi yang lebih murah dan berkualitas terbaik
daripada produk negara berkembang yang diasosiasikan sebagai
produk yang tidak higienis, kurang memenuhi standar kesehatan,
maupun banyak penyakit. Tindakan sedemikian dilakukan negara
maju untuk melindungi petaninya dari serangan produk negara
berkembang yang merajalela di pasaran. Maka negara maju sendiri
dapat dikatakan hipokrit dalam arena globalisasi karena ingin selalu
menang sendiri tanpa memperhatikan penderitaan petani di negara
berkembang yang senantiasa merugi karena sikap arogan negara
maju tersebut
Posisi Indonesia
Pertumbuhan Indonesia yang mencapai 6,3 persen pada
akhir 2011 ini adalah angka semu ekonomi. Hal ini dikarenakan
pertumbuhan ekonomi yang dicapai hanya berbasis konsumerisme
produk. Oleh karena itulah, Indonesia dianggap sebagai madu dalam
krisis globalisasi ini di mata para petinggi negara maju dalam forum
G-20 yang dihelat di Cannes, Prancis. Adapun kejenuhan dan
kelesuan pasar yang dialami negara maju di Eropa Barat dan
Amerika Utara dikarenakan komoditasnya tidak laku dapat
ditanggulangi dengan mengekspornya ke Indonesia. Itulah kenapa
kini, banyak perusahaan multinasional seperti halnya Research in
Motion (RIM) selaku produsen Blackberry, Nokia, maupun lainnya
lebih dulu memperkenalkan produknya terlebih dulu di Indonesia
karena mereka menginginkan adanya payback yang tinggi untuk
menutupi kerugian produksi mereka yang tengah merugi di negara
asalnya. Adapun fanatisme dan konsumerisme yang tinggi terhadap
benda tekonologi dari negara maju merupakan cerminan Indonesia
92 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
hanyalah konsumen aktif dalam globalisasi ini. Bisa jadi setelah para
perusahaan multinasional tersebut menenggak untung besar di
Indonesia sementara masyarakat Indonesia terjerat hutang maka akan
tercipta lagi krisis paruh kedua di Indoensia. Maka pada akhirnya,
penulis ingin mengatakan bahwa globalisasi adalah kontradiktif dan
diskriminatif.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP93
Pembangunan Gerus Kearifan Lokal
Pola pembangunan yang selama ini dilakukan oleh
pemerintah cenderung untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi
sehingga mengabaikan hak - hak masyarakat. Adapun hak
masyarakat yang dimaksud adalah hak ulayat adat maupun kearifan
lokal yang selama ini semakin tereduksi akibat laju mesin
pembangunanisasi yang tidak afirmatif dengan hal tersebut.
Berbagai kasus proyek pembangunan di Indonesia pun dapat
dijadikan sebagai contoh bagaimana pembangunan menggerus
kearifan lokal masyarakat yang ada. Dalam kasus pembangunan
jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan berbagai kota besar di
Kalimantan sendiri secara tidak langsung telah menimbulkan
resistensi dari masyarakat Dayak pedalaman. Masyarakat Dayak
menilai bahwa pembangunan jalan Trans Kalimantan tersebut
nantinya akan mengubah perilaku warganya dari budaya bersampan
di sungai menjadi berkendaraan di jalan sehingga dikhawatirkan
identitas suku Dayak sendiri yang selama ini terbangun atas basis
sungai akan tereduksi dengan hadirnya jalan tersebut. Contoh
lainnya yang dapat dijadikan rujukan adalah proyek pembangunan
kawasan pertanian terpadu di Merauke. Di satu sisi, output kebijakan
tersebut akan terasa manfaatnya bagi segelintir kalangan, akan tetapi
efek sosial politik yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut sangatlah
besar resiko. Resiko yang dihadapi antara lain adalah alih fungsi
lahan tersebut akan memperuncing perang suku karena merasa hak
ulayat atas tanah yang dijadikan kawasan tersebut diambil sepihak
oleh pemerintah demi kesuksesan progam kebijakan tersebut.
Adapun selama ini pemerintah masih berpandangan bahwa
kearifan lokal sendiri bukanlah hal yang penting untuk dibahas
dalam penyelenggaran pembangunan baik itu di level pusat maupun
daerah. Bagi pemerintah sendiri, tindakan afirmatif pemenuhan hak
94 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
masyarakat berkaitan dengan proyek pembangunan sendiri adalah
dengan memberikan uang ganti rugi maupun ongkos lainnya sebagai
bentuk kompensasi. Padahal bilamana melihat mekanisme tersebut,
secara implisit pemerintah memasukkan budaya materialisme ke
dalam bentuk kearifan lokal masyarakatnya sehingga yang terjadi
kemudian adalah masyarakat mengalami gegar budaya. Hal inilah
yang terjadi pada kasus suku Amungmue di Papua yang wilayah
adatnya dikuasai oleh PT Freeport dimana mereka kemudian mulai
meninggalkan hidup tradisional mereka dengan hidup modern yang
justru itu tidak diatur dalam peraturan adat.
Oleh karena itulah pemujaan pemerintah terhadap target
angka pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi sebagai gambaran
keberhasilan pembangunan, lalu menapikkan manusia dan hak adat.
Sumber daya alam kemudian menjelma menjadi sektor penting
mendatangkan investor dalam proses pembangunan. Adapun logika
investor datang membawa pundi-pundi uang, menginvestasikannya,
memberi berkah, kebaikan, dan pendapatan diyakini pemerintah
sebagai solusi tepat dalam redistribusi ekonomi kepada masyarakat.
Soal bagaimana lingkungan porak-poranda, hutan yang beralih
fungsi, rusaknya tatanan sosial dan budaya, dan kearifan lokal yang
semakin tereduksi menjadi hal yang tak pernah dihitung dalam
proses pembangunan. Benda dan uang menjelma menjadi Tuhan
baru yang diyakini bisa menentukan dan membeli apapun. Maka
dapat dikatakan bahwa selama ini orientasi pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah merupakan bentuk arogansi tersendiri
karena pembangunan yang dijalankan justru lebih banyak sisi
negatifnya daripada positifnya.
Adapun karena ketidakharmonisan antara pembangunan dan
kearifan lokal setempat, maka tak jarang kemudian kedua hal
tersebut memicu konflik komunal. Konflik tersebut hampir terjadi di
semua daerah yang proses pembangunannya berkaitan dengan alih
Wasisto Raharjo Jati, S.IP95
fungsi lahan. Sampai tahun 2006, terdapat 140 kasus yang
melibatkan 353 komunitas di wilayah pembangunan yang
melibatkan sesama masyarakat lokal atau dengan pendatang
dikarenakan pendatang kurang mengerti rambu adat yang ada dalam
masyarakat lokal. Sekitar 70% dari 500 kasus perselisihan
pembangunan sektor swasta dan warga lokal selalu bersumber dari
sengketa tanah. Di Kalimantan Tengah, ada sekitar 20 kasus
sengketa yang dilaporkan (Budi Kurniawan, 2009). Konflik ini
terjadi karena kesalahan sejak awal proses perizinan pembangunan
yang tak melibatkan warga lokal sehingga terjadi tumpang tindih
lahan. Ketika persoalan terjadi, para penegak hukum menafikkan
hukum adat. Mereka lebih memilih menegakkan hukum positif.
Padahal hukum adat ada jauh sebelum republik ini berdiri.
Oleh karena itulah, pemerintah sering kali dapat dikatakan
melakukan proyek pembangunan tanpa ada karakter yang jelas.
Karakter yang dimaksud adalah bahwa selama ini pembangunan
yang dilakukan di Indonesia cenderung menstigmatisasi simbol
simbol kearifan lokal yang telah tumbuh turun temurun dalam
masyarakat. Maka, jangan salah jika pembangunan di Indonesia
sendiri berjalan secara parsial antara Jawa dan luar Jawa dikarenakan
tidak adanya konsensus bersama akan model pembangunan
Indonesia yang diambil dari nilai dan norma budaya masyarakat.
Pembangunan di Jawa lebih bernuansa metropolis dibandingkan luar
Jawa yang masih agraris sehingga menimbulkan kecemburuan
pembangunan tanpa ada kejelasan kearifan lokal yang berlaku di
dalamnya. Maka, Pemerintah perlu mengakomodir kearifan lokal
suara masyarakat untu merumuskan model pembangunan yang tepat
bagi Indonesia dikarenakan selama ini pembangunan yang dilakukan
pemerintah selalu sepihak. Harapannya kemudian adalah Indonesia
memiliki karakter pembangunan yang diambil dari nilai lokal
kemasyarakatannya.
96 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Pembatasan BBM dan Diversifikasi Energi
Kebijakan pemerintah pusat untuk melakukan penghematan
konsumsi energi yang efektif diberlakukan pada tanggal 1 Januari
2011 perlu disikapi mendalam. Dalam pandangan Badan Pengatur
Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memperkirakan konsumsi
BBM bersubsidi pada 2010 akan membengkak mencapai 40,1- 40,5
juta kiloliter dan bahkan kini telah mencapai 42,5 juta kiloliter pada
akhir November 2010. Angka perkiraan konsumsi itu tentunya lebih
tinggi dari pada patokan kuota APBN Perubahan 2010 yang
menetapkan bahwa angka konsumsi subsidi BBM skala nasional
sebanyak 36,5 juta kiloliter sehingga dikhawatirkan akan
mempengaruhi neraca fiskal APBN 2011 yang memberlakukan batas
toleransi konsumsi BBM dalam kisaran angka 38 juta kiloliter.
Dalam hal ini, Pemerintah seperti cenderung kurang antisipatif
dalam mengatasi hal tersebut dan tidak awas mengantisipasi
fluktuatifnya harga lifting minyak global yang kini sedang naik di
kisaran USD 82 per barrel sementara pemerintah masih bersikap
konservatif untuk tetap berada dalam asumsi minyak global pada
kisaran USD 60-70 per barrel pada APBN pada tahun 2011
mendatang sehingga blunder pemerintah tersebut mengakibatkan
defisit anggaran dalam kebijakan subsidi BBM di akhir tahun.
Adapun dari opsi yang dilakukan pemerintah menerangkan
bahwa langkah pertama yang akan dilakukan yakni menghemat
BBM sebesar 14 juta kiloliter dari target 38,5 juta kiloliter. Dengan
perhitungan tersebut pemerintah akan mampu menghemat anggaran
untuk subsidi BBM pada APBN 2011 sebesar Rp 28 triliun dari Rp
96,5 triliun yang dialokasikan pemerintah. Walaupun demikian
kebijakan tersebut tidaklah merata untuk diterapkan di seluruh
Indonesia dikarenakan angka konsumsi BBM maupun infrastrukur
yang berbeda di setiap pulau sehingga dikhawatirkan kebijakan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP97
tersebut malahan mengundang disparitas yang tinggi antara Jawa dan
luar Jawa.
Disparitas
Dalam hal ini data yang dihimpun oleh Himpunan
Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas)
menyatakan kesiapannya terkait pelaksanaan pembatasan BBM
bersubsidi awal 2011 baru sebesar 25 % di seluruh Indonesia.
Angka itu pun baru berkutat di wilayah Jawa-Bali yang akan dimulai
di wilayah Jabodetabek dengan membatasi jumlah konsumsi BBM di
600 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jabodetabek,
400 di antaranya sudah terdapat BBM nonsubsidi yang diestimasi
potensi penghematan tahap pertama mencapai 500.000 kiloliter per
tahun. Selanjutnya, pembatasan BBM bersubsidi akan dilakukan di
wilayah Jawa dan Bali mulai Juli 2011 dengan potensi penghematan
4 juta kiloliter dengan target utama kendaraan pribadi disusul
kemudian transportasi, industri, listrik, dan objek vital lainnya yang
menyangkut hajat hidup orang banyak.
Tentunya hal tersebut sangatlah meresahkan bagi mereka
yang tinggal di luar JawaBali dikarenakan angka depedensi
konsumsi energi BBM bersubsidi tersebut sangatlah besar. Meskipun
saat ini kebijakan tersebut masih tahap pematangan, namun efek
psikologis dari kebijakan pembatasan tersebut telah mempengaruhi
pada hargaharga kebutuhan pokok di pasaran maupun biaya
kebutuhan hidup lainnya yang kemudian ikut melambung seiring
dengan maraknya pemberitaan pembatasan BBM tersebut sehingga
dikhawatirkan memicu angka inflasi di daerah. Pemerintah mencoba
memaksakan model pembatasan seperti JawaBali dengan
mensugesti membeli BBM nonsubsidi seperti halnya pertamax
melalui kebijakan subsidi silang sebagai jalan tengah mengatasi
angka ketergantungan BBM subsidi. Namun, di satu sisi perlu
98 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
diingat bahwa secara psikis, penduduk cenderung membeli premium
karena harganya yang murah dan stok jumlahnya memadai
dibandingkan dengan pertamax yang belum tentu ada di setiap SPBU
di luar Jawa. Oleh karena itulah kebijakan pembatasan BBM ini
cenderung kurang mendapat respon baik dari masyarakat
dikarenakan sosialisasi kebijakan pembatasan BBM yang dilakukan
pemerintah tidak diikuti dengan langkah nyata antisipatif seperti
halnya menaikkan angka produksi minyak nasional Pertamina yang
kini masih berada dalam kisaran 965 ribu per barrel setiap harinya
maupun melakukan diversifikasi sumber energi terbarukan seperti
halnya bioetanol dari minyak nabati seperti halnya dari CPO (Crude
Palm Oil) yang kini menjadi sumber energi alternatif di beberapa
negara untuk menekan konsumsi minyak nasional.
Diversifikasi
Dari sekian langkah antisipatif yang telah disebutkan,
progam diversifikasi energi terutama penggunaan CPO sebagai BBM
alternatif belum mendapat respon yang positif dari pemerintah
maupun masyarakat. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar
kedua di dunia sendiri seharusnya mampu memanfaatkan momentum
tersebut untuk menghasilkan sumber negeri terbarukan pengganti
BBM dengan memproduksi energi nabati yang ramah lingkungan.
Mengingat kini CPO sendiri tengah booming di pasaran global
dimana permintaan ekspor impor CPO mengalami kenaikan
signifikan di berbagai negara dunia dimana minyak CPO sendiri
mejadi basis utama energi substitusi BBM bilamana sumber minyak
dunia diprediksi akan habis dalam 50 tahun mendatang sehingga
beberapa negara kini mulai mencoba menggunakan energi CPO
tersebut. Namun, langkah positif dunia ini belum diikuti oleh
Indonesia yang malahan mengekspor secara massif CPO nya keluar
energi dimana hasil ekspor tersebut digunakan untuk menambl sulam
Wasisto Raharjo Jati, S.IP99
subsidi BBM yang cenderung membengkak dari tahun ke tahun.
Pemerintah masih enggan menggunakan emas hijau sebagai energi
subsitusi dan mengandalkan emas hitam sebagai energi utama.
Dalam hal ini, pemerintah perlu memutus mata rantai
ketergantungan terhadap BBM Migas yang diprediksi akan habis
dalam beberapa tahun mendatang sehingga perlu mencari sumber
energi alternatif. Adapun dalam kebijakan pembatasan BBM yang
akan dilaksanakan efektif pada Januari 2011 serentak di seluruh
Indonesia, pemerintah perlu mensosialisasikan energi lain seperti
halnya CPO kepada masyarakat sebagai energi alternatif sehingga
membentuk kesadaran bersama bagi masyarakat dan pemerintah
akan penting dan urgennya penggunaan energi baru berasal dari alam
di saat kesulitan menghadapi pembatasan konsumsi BBM seperti
sekarang ini.
~~
100 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Pertahanan atau Keamanan Pangan
Henry Kissinger, Mantan Menlu AS pada tahun 1974 pernah
mengeluarkan gagasan food as weapon (pangan sebagai senjata)
sebagai cara untuk menekan populasi manusia kian melonjak namun
tidak diimbangi dengan pertambahan jumlah lahan pertanian yang
kian terbatas karena tanah terkonversi menjadi lahan permukiman.
Gagasan tersebut timbul atas ancaman krisis pangan yang akan
terjadi di masa depan. Kissinger menilai dengan membatasi
konsumsi pangan maka berkorelasi dengan penurunan jumlah
populasi manusia karena manusia akan berupaya dengan cara apapun
untuk mendapatkan pangan. Timbulnya peperangan yang terjadi di
dunia disebabkan oleh gairah kuasa menambah lahan pertanian untuk
mencukupi stabilitas pangan domestik. Hal ini yang kemudian coba
dipakai Kissinger dengan mereduksi redistribusi pangan dunia
dengan tujuan manusia mereduksi pula jumlah konsumsinya. Idenya
Kissinger yang acap kali disebut juga sebagai genosida pangan (food
genocide) tersebut memang mendasarkan pada pemikiran Thomas
Robert Malthus tentang pertambahan deret hitung (produksi pangan)
dan deret ukur (pertumbuhan penduduk) pada tahun 1798, umat
manusia sudah diperingati untuk mengantisipasi ketidakseimbangan
antara suplai dan permintaan akan konsumsi pangan. Malthus
menilai bahwa kelangkaan suplai pangan adalah manusia, sehingga
manusia memerlukan kearifan untuk mengelolanya.
Dari situlah masalah krisis pangan berkembang dalam dua
wacana besar yakni ketahanan pangan (food security) dan pertahanan
pangan (food defense). Adapun dari dua wacana tersebut, wacana
ketahanan pangan (food security) kemudian berkembang menjadi
wacana dominan paska 1980 sampai sekarang ini. Paradigma
ketahanan pangan sendiri menitikberatkan pada keadaan ketika
semua orang pada setiap saat mempunyai akses fisik, sosial, dan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP101
ekonomi terhadap terhadap kecukupan pangan, aman dan bergizi
untuk kebutuhan gizi sesuai dengan seleranya untuk hidup produktif
dan sehat (Mercy Corps, 2007). Premis tersebut cukup berbeda
dengan swasembada pangan yang kerap dilontarkan oleh para
pejabat kementerian yang lebih pada peningkatan dan kemandirian
pangan. Berbicara mengenai ketahanan pangan berarti berbicara
mengenai ketersediaan pangan (Food Availability), akses terhadap
sumber pangan (Food Accesbility), dan penyerapan pangan (Food
Utilization) maka output yang dihasilkan stabilitas dan peningkatan
gizi penduduk. Dalam konteks politik pangan Indonesia, antara
swasembada dan ketahananan pangan kerap dicampur adukan dalam
setiap perumusan kebijakan pangan dimana nalar berpikir yang
mucul adalah asalkan bahan pangan konsumsi itu ada di pasar dan
mampu dibeli oleh penduduk itulah yang dimaksudkan dengan
ketahanan-swasembada pangan versi pemerintah Indonesia.
Hal itulah yang kemudian terjadinya liberalisasi pangan di
Indonesia dimana komoditas impor pertanian dari luar negeri
membanjiri pasar. Indonesia yang konon katanya negeri agraris
justru menjadi negara yang memiliki ketergantungan pangan tinggi
di kawasan ASEAN dimana impor pangan penting seperti halnya
susu (90%) mengalami peningkatan dari 1 juta liter (2011) menjadi
2,5 juta liter (2012), gula (30%) meningkat dari 27,344 ton (2011)
menjadi 45,301 ton (2012), garam (50%) dari 1,5 juta ton (2011)
menjadi 2,5 juta ton (2012), gandum (100%) mengalami peningkatan
dari sebanyak 6,6 juta ton (2010) menjadi 7,4 juta ton (2012), kedelai
(80%) mengalami peningkatan 1,90 juta ton (2010) menjadi 1,95 juta
ton, daging sapi (30%). Adanya arus peningkatan komoditas pangan
impor tersebut dikarenakan rendahnya bea masuk impor yang
ditetapkan oleh pemerintah pusat sehingga komoditas pangan
domestik sendiri kemudian tergusur oleh hadirnya pangan impor
tersebut. Sebagai contoh, pemerintah mematok bea masuk impor
102 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
untuk beras, gula dan susu hanya 5%, sedangkan jagung gandum,
dan kedelai nol persen (0%). Rendahnya bea impor tersebut
berimplikasi kerugian negara yang harus ditanggung mencapai 400
milyar setiap tahunnya. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa
kondisi pangan di negara kita memang telah rapuh dihantam oleh
globalisasi pangan yang merajalela di pasaran domestik.
Menuju Pertahanan Pangan
Pertahanan pangan yang dimaksudkan disini adalah upaya
keberlanjutan produksi pangan untuk mencukupi stabilitas konsumsi
pangan penduduk. Berbeda halnya dengan ketahanan pangan yang
mengasumsikan tanaman pangan sebagai objek pasif yang digunakan
mencukupi manusia, pertahanan pangan sendiri melihat tanaman
pangan sebagai objek aktif yang harus diberdayakan. Dimensi
keberlanjutan (food sustainiblity) dapat ditempuh dengan membuka
lahan pertanian seluas-luasnya, subsidi kepada petani, harga
pembelian pangan pemerintah yang dinaikkan, maupun ada proteksi
pangan domestik yang dilakukan oleh pemerintah terhadap pangan
impor. Secara eskplisit, paradigma pertahanan pangan mulai
mencoba dijalankan pemerintah melalui progam MP3I Kementan
2012 ini yang mencakup 5 poin yakni1) pencapaian swasembada
berkelanjutan padi dan jagung, 3) pencapaian swasembada kedelai
tahun 2014, 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan
Timur (Direktif Presiden), 4) penguatan pangan nasional berbasis
Koridor MP3I, serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan
khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan.
Kita tunggu saja hasil yang akan dicapai MP31 Kemetan pada 2014
nanti mengenai keberlanjutan tanaman pangan untuk ketersediaan
pangan demi mencapai stabilitas dan angka penyerapan gizi yang
maksimal. Apakah pangan Indonesia benar-benar mandiri ataukah
masih tergantung dengan pangan impor.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP103
Polemik Tata Niaga Beras
Fluktuatifnya gejolak harga beras yang terjadi di pasaran
seluruh Indonesia yang kini mencapai angka Rp. 7500 Rp 8000
telah mengakibatkan pada ancaman krisis konsumsi beras nasional
yang diperkirakan akan terjadi pada kuartal pertama pada tahun 2011
ini. Padahal, tahun ini produksi beras diprediksi surplus 3 jutan ton
dengan asumsi dasar mencapai 36 juta ton sedangkan konsumsi
hanya 33 juta ton sehingga dari situ kemudian terindikasi terdapat
permasalahan pelik mengenai pola tata niaga beras yang selama ini
dimonopoli oleh Bulog.
Adapun permasalahan pelik tersebut dimulai ketidak
mampuan pembelian beras oleh Bulog ketika masa panen raya Maret
2010 silam yang merupakan patokan dasar konsumsi beras nasional
pada perode tahun selanjutnya. Ketika itu, beras petani banyak yang
tidak kering karena masih memasuki musim hujan sehingga kualitas
gabah menjadi buruk dan tidak sesuai standar yang ditetapkan
pemerintah dimana dalam regulasi pemerintah, gabah kering panen
(GKP) di petani Rp 2.640 per kg dan GKP di penggilingan Rp 2.685
per kg. Untuk gabah kering giling (GKG) di penggilingan Rp 3.300
per kg, GKG di gudang Bulog Rp 3.345 per kg, dan HPP beras di
gudang Bulog Rp5.060 per kg (BPS, 2010). Kondisi ini berbalik
ketika sekarang memasuki musim paceklik pada medio November
Desember 2010 sehingga harga jual di tingkat petani jauh di atas
HPP (harga pembelian beras) yang hanya Rp 5.060 yang seharusnya
berada di kisaran Rp. 6000. Oleh karena itulah yang terjadi sekarang
ini adalah tingginya harga beras di pasar sementara Perum Bulog
kesulitan membeli beras dari dalam negeri untuk stok nasional.
Implikasi yang timbul kemudian kenaikan harga beras di atas harga
pembelian pemerintah (HPP) menyebabkan lembaga pangan ini
hanya mampu menyerap gabah petani sebesar 1,9 juta ton dari target
104 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
3,2 juta ton setara beras. Maka saat ini stok beras di semua gudang
Bulog sebanyak 128.000 ton dan diperkirakan hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan tiga bulan ke depan hingga Maret 2011.
Jumlah ini dihitung dari rata- rata kebutuhan penyaluran beras untuk
rakyat miskin (raskin) sebanyak 40.000 ton per bulan.
Dilema Impor Beras
Adapun kebijakan pemerintah untuk mengadakan impor
beras demi mereduksi kian meroketnya harga beras nasional telah
membawa harga beras di Indonesia tergolong paling tinggi di
regional dimana harga beras Indonesia untuk jenis medium sudah
lebih tinggi sekitar 50% - 60% dari harga beras Vietnam maupun
Thailand. Harga beras Vietnam US$ 380 per metrik ton, dan kalau
sudah sampai di Indonesia hanya sekitar Rp 4.000 per kilogram (kg).
Sementara harga beras medium di Indonesia sudah mencapai Rp
6.000-7.000 per kg. Dalam analisa pemerintah, melakukan kebijakan
impor beras yang harganya lebih murah diharapkan bisa menekan
harga beras domestik setelah Bulog selaku importir beras menggelar
operasi pasar sekaligus mengantisipasi penurunan produksi beras
pada tahun depan yang konon katanya disebabkan oleh anomali
cuaca, potensi serangan hama, bencana, dan gagal panen
kemungkinan mengakibatkan produksi beras di bawah perkiraan.
Impor beras adalah salah satu masalah laten dari masalah makro
perberasan nasional yang sepertinya selalu berulang. Setiap terjadi
kenaikan harga beras di pasar, pemerintah cenderung mencari jalan
pintas dengan mengimpor tidak peduli apakah impor itu merugikan
petani atau tidak. Adapun jalan pintas tersebut dipilih dikarenakan
impor beras ini hanya dimaksudkan untuk memperkuat stok beras
pemerintah yang idealnya mencapai 1,5 juta ton. Namun dalam
realitanya kebijakan tersebut dilakukan lantaran bahan pokok
terutama sektor konsumsi beras nasional akan menjadi pemicu
Wasisto Raharjo Jati, S.IP105
kenaikan inflasi di 2011 karena tidak adanya perbaikan dari sisi
suplai yang menyebabkan harga terus naik dimana inflasi menurut
BPS sulit dikendalikan di bawah 6,5% pada tahun 2011.
Perlindungan Petani
Seharusnya dalam kondisi kenaikan harga beras sekarang
ini, aktor yang paling diuntungkan adalah petani. Namun dalam
konteks Indonesia petani tetap menerima pada harga rendah, bahkan
banyak yang menerima di bawah harga pembelian pemerintah
(HPP). Ini membuktikan bahwa sistem tata niaga beras tidak beres
karena dikuasai oleh sekelompok pemburu rente dimana para
pengusaha beras tersebut cenderung memaksakan pembelian beras
dalam harga rendah kepada petani dan kemudian menjualnya di atas
HPP ke pasaran sehingga hal tersebut turut berkontribusi pada
meroketnya harga beras awal tahun 2011 ini sementara Bulog seolah
tidak berdaya melawan kekuatan mereka dalam mengatur harga
beras di pasar sehingga mekanisme liberalisasi pasar beras berlaku
yang tentunya kondisi ini sangat merugikan masyarakat konsumen.
Masyarakat harus menanggung biaya yang lebih besar lagi untuk
mendapatkan bahan kebutuhan pokok berupa beras. Selama ini
belum ada kebijakan yang afirmatif kepada petani terhadap hasil
produksi beras yang mereka hasilkan. Tidak adanya proteksionisme
dari pemerintah untuk melindungi beras nasional dari serbuan impor
telah menyebabkan petani bertarung sendirian berhadapan dengan
liberalisasi pertanian yang kini terjadi. Selain itu pula, kenaikan
harga pupuk, bibit padi, maupun faktor pembelian hasil panen yang
tidak sebanding oleh pemerintah telah menyebabkan alih fungsi
lahan pertanian yang bergitu massif belakangan ini dimana petani
lebih tergiur untuk menjual tanah produksinya daripada terus merugi.
Oleh karena itulah yang terjadi sekarang ini, jumlah petani
penggarap padi rata rata hanya memiliki lahan pertanian seluas 0,5
106 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
hektar yang tentunya hasil produksinya tidak sebanding dengan
jumlah konsumsi beras nasional yang secara gradual terus meningkat
dari tahun ke tahun.
Oleh karena itulah, pemerintah perlu mengadakan restrukturisasi
tata niaga beras oleh Bulog yang selama ini ternyata berdampak
sistemik kepada petani sebagai aktor utama produsen beras dengan
mengeluarkan berbagai produk kebijakan yang pro poor dan pro job
kepada petani seperti halnya bantuan kredit, kenaikan harga
pembelian beras panen, maupun modernisasi alat pertanian yang
selama ini masih bergantung pada hal yang tradisional sehingga
Indonesia kembali berswasembada pangan kembali seperti tahun
1984.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP107
Perkeretaapian dan Toll-Trans Jawa
Pemandangan berjubelnya penumpang untuk naik KA
ekonomi Tawang Jaya di Stasiun Semarang Poncol maupun aksi
nekat penumpang untuk tetap naik KA Tegal Arum yang sudah
penuh di Stasiun Brebes pada H+5 kemarin terasa mengusik hati.
KA terlebih lagi kelas ekonomi sendiri sudah mendapat hati di para
penumpang yang rata rata perekonomiannya menengah ke bawah
yakni dengan berbekal uang Rp 50.000 per orang sudah mampu
melaksanakan hajat mudik maupun balik melalui KA. Akan tetapi
antusiasime dan ekspetasi yang tinggi rakyat kecil terhadap KA
ekonomi ini berbanding terbalik dengan sikap pemerintah pusat yang
lebih memprioritaskan penataan manajemen transportasi pada
pembangunan Jalan Tol Trans Jawa yang mana di Jawa Tengah kini
dari beberapa seksi tol yang akan dibangun, baru satu yang sudah
kelar yakni Kanci Pejagan (Brebes) sementara Semarang Solo
masih tersendat sampai di Ungaran.
Tentu saja sikap dingin pemerintah yang menganaktirikan
kereta api dan menganakemaskan jalan toll trans jawa sendiri
mengundang keprihatinan tersendiri. Hal tersebut sama saja dengan
meminggirkan hak rakyat kecil untuk mendapatkan jaminan
transportasi dan kelancaran barang dan jasa melalui KA ekonomi
yang lebih cepat dan efisien dibanding angkutan jalan raya. Adapun
pembangunan jalan raya tol trans Jawa sendiri di Jawa Tengah akan
menjadi privatisasi transportasi dimana hanya mereka yang mampu
bayar retribusi yang berhak menikmati jalan toll sebagai barang
publik yang seharusnya digunakan semua pihak termasuk rakyat
kecil. Terlebih lagi pembangunan toll trans Jawa di Jateng
bersinggungan dengan jaringan rel kereta api yang seketika teringat
kembali berhenti operasinya KA Parahyangan yang sepi
okupansinya gara gara treknya bersinggungan dan bersaing dengan
108 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
jalan Toll Cipularang. Sehingga bayang bayang berhentinya
operasional kereta api di Jawa tengah merupakan menghantui rakyat
kecil dimana KA merupakan andalan utama mereka untuk mobilisasi
barang maupun penumpang.
Dilema PSO
Dari tahun ke tahun, PSO yang diterima dari pemerintah ke
PT Kereta Api Indonesia selaku penyelenggara layanan transportasi
kereta api di Indonesia dapat dikatakan stagnan menurun sebesar 22
miliar rupiah. Bagi PT KAI, sendiri jumlah tersebut separuhnya
habis untuk mensubsidi operasional KA Ekonomi yang menjadi
primadona rakyat kecil dan sisanya hanya untuk perawatan KA
terutama untuk pembelian traksi motor dan boogie pada sasis KA
yang biayanya miliaran rupiah setiap satu set gerbong sehingga bisa
dibayangkan bilamana satu KA Ekonomi itu 8 11, maka bila
tinggal dikalikan bisa mencapai 16 miliar untuk setiap satu KA dan
itu pun belum KA lainnya. Sehingga dengan PSO yang sedemikian
relatif tentunya tidak berimbang dengan tugas yang diemban PT
KAI untuk memuaskan pelanggannya. Lihat saja penumpukan
penumpamg KA Ekonomi di berbagai stasiun seantero Jawa Tengah
yang berdesak desakan masuk gerbong K3 bahkan tidak terangkut
sama sekali pada saat arus balik ke Jakarta dan kota besar lainnya
setiap tahunnya, pelayanan publik yang didapati penumpang dari
pemerintah justru mengecewakan dan mengenaskan. Adapun
berbagai usaha yang dilakukan PT KAI terutama PT KAI Daops 5
Semarang dan Daops 6 Purwokerto untuk mensejahterakan
penumpangnya seakan tidak berarti, walaupun sudah ada
penambahan gerbong maupun pemberangkatan KA komunitas untuk
penumpang kelas ekonomi yang sejatinya gerbong KA komunitas
tersebut merupakan gerbong barang bukan penumpang.
Oleh karena itu sejatinya terdapat PSO khusus pada saat
Wasisto Raharjo Jati, S.IP109
musim mudik tiba setiap tahunnya dimana fenomena rebutan kursi
duduk antar penumpang, penumpukan penumpang, maupun fasilitas
KA Ekonomi yang memperihatinkan akan tereduksi. Namun usul
tersebut mentah dengan sikap pemerintah yang keukeh untuk
melanjutkan pembangunan Toll Trans Jawa daripada sekedar
mensubsidi kereta api. Sikap yang sedemikian, bagi pemerintah
untuk memperlancar arus barang jasa antar beberapa kota tidak
sebanding dengan efek yang ditimbulkan. Sebagai contoh Toll Trans
Jawa seksi Semarang Solo sendiri memakan korban hutan kayu jati
yang dimiliki Perhutani beratus hektar dan belum lagi Toll Trans
Jawa di kawasan pantura (Tegal, Pekalongan, Pemalang, dan
Kendal) yang memakan korban pembangunan berhektar hektar
sawah produktif. Dibandingkan KA yang tidak merusak bahkan
lebih konstruktif karena mendukung perekonomian rakyat. Maka
pembangunan Toll Trans Jawa sendiri merupakan bentuk arogansi
pemerintah pusat untuk mengejar target pertumbuhan maupun
perekonomian makro dibanding mendukung KA sebagai moda
transportasi murah yang menyokong perekonomian mikro.
Revitalisasi KA
Alangkah baiknya bilamana dana triliunan rupiah tersebut
lebih baik untuk mensubsidi kereta api baik itu penambahan
gerbong, revitalisasi jalur KA yang mati, maupun perbaikan
infrastruktur lainnya. Dalam estimasi sederhana dapat dilihat bahwa
transportasi berbasis jalan raya sendiri lebih memakan biaya bagi
pemerintah meliputi pengaspalan, perbaikan, maupun perawatan
karena umur aspal jalan yang relatif pendek untuk menopang beban
berat jalan yang dilalui kendaraan besar yang terkadang tonasenya
melebihi batas kewajaran. Maka bila hal itu jadi dilaksanakan
pemerintah, pelayanan transportasi dengan KA akan lebih nyaman,
aman, dan efektif selain juga untuk mendorong pertumbuhan KA
110 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
sebagai pilar MRT (Mass Transportation Transit) dan juga
mengurangi pencemaran udara berlebihan dari konsumsi BBM
angkutan jalan raya.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP111
Hilangnya Kedaulatan Energi di Indonesia
Hilangnya kedaulatan energi di Indonesia sudah terjadi. Hal
tersebut terlihat dari himbauan pemerintah untuk membeli BBM non
subsidi seperti halnya Pertamax dan mengeluarkan opsi larangan
premium yang efektif dilakukan 1 April 2012. Secara jelas,
penjualan pertamax sendiri akan menguntungkan sektor asing karena
otomatis akan menguasai sektor hilir redistribusi BBM non subsidi
dan mematikan Pertamina secara sistemik. Sumber permasalahannya
terletak di UU Migas 2007 yang merupakan produk neoliberalistik
karena secara tegas menyuruh pemerintah melepaskan fungsi subsidi
BBM dan menyerahkannya pada mekanisme kompetisi pasar. Harga
Pertamax yang merangkak naik mengikuti kenaikan harga pasar
minyak mentah dunia seperti sekarang ini akan mematikan
masyarakat Indonesia. Selain itu, larangan konsumsi premium juga
akan menambah beban pengguna kendaran pribadi. Bila pemerintah
menaikkan harga premium Rp 500 menjadi Rp5000 per liter, artinya
harga itu lebih murah daripada harga Pertamax yang hampir
mencapai Rp8.000. Kalau pemerintah tetap kukuh memilih melarang
premium bagi kendaraan pribadi, yang terjadi kemudian adalah
stagnasi perekonomian di daerah baik dalam skala mikro maupun
makro karena secara garis besar BBM jenis premium sendiri
merupakan acuan utama dalam pergerakan inflasi di daerah seluruh
Indonesia.
Implikasi yang ditimbulkan dari disparitas harga antara
premium yang bersubsidi dengan harga jual perliternya Rp 4500
dengan Pertamax yang non subsidi yang dijual Rp 8050 per liternya
telah membuat banyak pengguna kendaraan bermotor enggan beralih
ke Pertamax. Sebagi contoh ketika menggunakan BBM bersubsudi,
masyarakat dapat mampu untuk mengisi tangki penuh kendaraan
pribadinya hanya sekitar Rp 15.000 hingga Rp 16.000. Namun ketika
112 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
menggunakan pertamax, rata-rata masyarakat harus mengeluarkan
kocek Rp 20.000 sampai Rp 24.000 per tangki sehingga kian
mencekik leher masyarakat dalam menghadapi gejolak liberalisasi
harga BBM ini.
Adapun dari realisasi konsumsi BBM bersubsidi sejak 1
Januari hingga kini terjadi kenaikan konsumsi premium di kisaran
13,9% atau 143.283 kiloliter (kl) dari total konsumsi premium
1.030.814 kl. Dalam pekan terakhir Januari saja, BPH Migas
menghitung adanya peningkatan konsumsi BBM bersubsidi jenis
premium sebesar 20% yang justru berbanding terbalik dengan
konsumsi pertamax yang turun sekitar 20-30%. Maka dapat
dikatakan bahwa selama ini secara psikologis, masyarakat akan
cenderung membeli premium dikarenakan harganya yang disubsidi
dan jumlahnya yang selalu ada dibandingkan dengan pertamax yang
masih jarang ditemui di SPBU luar JawaBali.
Hingga saat ini mekanisme pembatasan penggunaan BBM
bersubsidi masih belum jelas. Ketidakjelasan tersebut bersumber
pada ketersediaan infrastruktur SPBU BBK (Bahan Bakar Khusus)
yang dikhususkan untuk menjual BBM non subsidi di seluruh
Indonesia saja baru tersedia 35 %. Artinya bahwa sekitar 4.600
SPBU tersebar di seluruh pelosok Indonesia. baru 35 %. diantaranya
setara dengan 1.610 SPBU yang menyediakan BBK jenis Pertamax.
Dari 35 %. itu berada di Jawa, Bali, serta kota besar di Sumatera.
Maka sudah seharusnya Pertamina selaku regulator untuk
menambah ketersediaan infrastruktur SPBU BBK di luar Jawa Bali
yang konon katanya akan terealisir pada akhir tahun ini. Akan tetapi
perlu dicermati pula bahwa, Seperti yang diketahui, saat ini selain
Pertamina, beberapa jaringan SPBU asing lainnya juga menyediakan
BBM non subdisi alias BBK pada masyarakat umum. Sehingga
apabila Pertamina tidak segera menyediakan infratruktur penjualan
BBK yang memadai. Ada kekhawatiran bahwa SPBU asing yang
Wasisto Raharjo Jati, S.IP113
akan menuai untung dari penerapan pembatasan konsumsi BBM
bersubsidi. Kekhawatiran itu semakin jelas dengan kondisi dewasa
kini dimana beberapa SPBU asing yang dikelola Shell dan Petronas
berencana akan menambah investasi di bidang hilir energi yakni
pembangunan SPBU di pelosok Indonesia lainnya. Selain itu perlu
sekarang ini saja, terlihat kecenderungan masyarakat Indonesia baik
di kota besar maupun perbatasan untuk membeli BBM non subsidi
seperti halnya Bensin Super Shell beroktan 92-95 yang harganya
lebih murah yakni sekitar Rp 7950 dibandingkan Pertamax-nya
Pertamina yang dijual di kisaran Rp 8050 dan pada khususnya di
Kalimantan sebesar Rp. 8950. Maka jangan sampai kemudian
masyarakat Indonesia digiring menuju iklim liberalisasi energi dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya dikarenakan liberalisasi energi
tersebut kian menambah penderitaan masyarakat lainnya karena
energi memainkan peran besar dalam distribusi barangbarang
pokok masyarakat.
Maka dalam menghadapi gejolak harga energi dunia dan
semakin bertambahnya konsumsi BBM. Pemerintah sebaiknya
menambah pasokan minyak nasional yang kini masih 950.000
barel/hari menjadi 1.500.000 barel/hari sehingga potensi kelangkaan
BBM dan penimbunan akan tereduksi atau kalau tidak Pertamina
mulai menambah porsi investasi dalam bidang energi bioetanol dari
sumber daya nabati seperti halnya jarak untuk mengurangi
ketergantungan masyarakat terhadap BBM bersubsidi dan juga
mengurangi emisi global dunia dimana salah satunya disumbangkan
oleh perilaku konsumtif dalam menggunakan BBM.
~~
114 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Tragedi Hubungan Industrial Tripartit
Kisah sedih mengenai buruh migran di luar negeri kembali
membuka sejarah kelam perburuhan di Indonesia. Hal itu
ditunjukkan dengan modus yang sama yakni penganiayaan melewati
batasan nurani kemanusiaan yang dilakukan terhadap Sumiyati, TKI
yang berasal dari NTT di Arab Saudi dan beberapa orang lainnya
yang diancam hukuman penjara di Malaysia dikarenakan tidak
menuruti permintaan sang majikan. Tentunya gambaran mengenai
Sumiyati tersebut setidaknya juga melanda pola kerja buruh dalam
negeri yang selama ini belum di- blow up media massa. Dalam hal
ini, persoalan klasik juga mengemuka ke permukaan yakni lemahnya
posisi tawar buruh Indonesia kepada negara dan pengusaha dalam
kerangka hubungan tripartit. Ditengarai posisi buruh yang memiliki
hubungan ketergantungan yang tinggi kepada dua aktor tersebut
mengakibatkan buruh mengalami pengabaian mengenai hak hak
yang seharusnya mereka dapatkan seperti halnya standar gaji yang
layak, tunjangan makan & kesehatan, jatah liburan, dan lain
sebagainya. Sejatinya pola subordinasi yang sedemikian menjadikan
buruh sebagai objek eksplorasi & eksploitasi yang berlebihan dari
kedua aktor tersebut (Hadiz, 2000).
Walaupun adanya serikat buruh dapat menjadi alat
perjuangan para buruh untuk meraih apa yang menjadi haknya,
namun hal itu tak lebih dari sekedar upaya kedua aktor untuk
menjinakkan buruh supaya tidak berkembang menjadi gerakan yang
radikal dengan menjadikan elite buruh tersebut yang diperhatikan
aspirasinya oleh kedua aktor tersebut sehingga hal itu kemudian
tidak mempresentasikan kepentingan buruh secara keseluruhan. Oleh
karena itu pola kompromi tripartit sendiri menjadi menjadi batu
ganjalan bagi buruh Indonesia sendiri karena posisi buruh yang
dilematis antara intimidasi pemecatan oleh pengusaha dan tindakan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP115
subversi oleh negara dikarenakan melakukan pembangkangan
terhadap regulasi sehingga menjadikan mulut buruh sendiri selalu
dibungkam.
Dilema Tripartit
Dalam hal ini kerangka tripartit tersebut merupakan usaha
penjinakan militansi buruh untuk mendapat haknya dan semakin
menguatkan pola ketergantungan kelas pengusaha dan negara
dikarenakan pengusaha lebih menyukai kondisi buruh yang
sendirian (atomized) sehingga mudah dipengaruhi daripada buruh
yang mengelompok (organized) yang lebih mempunyai kekuatan
pemaksa pengusaha untuk berdamai dengan buruh (Wright, 2006).
Dalam hal ini pola atomized tersebut lebih melekat pada
buruh yang tidak berkemampuan (unskilled labours) seperti halnya
buruh Indonesia yang kemudian menjadikan buruh tersebut hanya
menerima pekerjaan kasar seperti halnya pembantu, tukang kebun,
dan lain sebagainya sehingga tidak mampu naik derajat menjadi
skilled labour. Kondisi yang sedemikian inilah yang membentuk
persepsi umum bagi orang luar negeri yang hendak menggunakan
jasa buruh migran Indonesia tidak lebih mempekerjakan (maaf)
orang bodoh untuk bekerja pada mereka. Oleh karena itulah mereka
tidak dihargai dan dihormati oleh orang luar negeri seperti Arab
Saudi, Malaysia, Singapura, maupun Hongkong menjadi negara
utama penempatan buruh migran Indonesia sehingga pola
penyiksaan kepada buruh Indonesia merupakan jamak terjadi di
dalam maupun luar negeri.
Kondisi yang atomized itulah menjadikan buruh tersebut
tidak mempunyai daya pemaksa kepada kepada pengusaha maupun
negara sehingga buruh tersebut cenderung menerima perlakuan
keduanya asalkan buruh tersebut masih bisa bekerja dan tidak
dipecat. Pola subordinasi yang pragmatis inilah yang selalu mendera
116 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
kondisi hubungan industrial buruh Indonesia yang selalu mendapat
perlakuan kejam selama bekerja baik di dalam maupun di luar
negeri. Setidaknya hal itu terlihat dalam regulasi yang dibuat oleh
negara maupun perusahaan / agen penyalur tenaga kerja yang sangat
diskriminatif kepada buruh. Sebagai contoh, peraturan outsourcing
yang diberlakukan pemerintah sendiri lebih melayani pada
kepentingan pengusaha untuk tidak mengangkat buruh sebagai
tenaga kerja tetap demi keseimbangan neraca perusahaan supaya
perusahaan dapar rajin menyetor pajak progresif kepada negara. Pola
itu kemudian menjadikan buruh sebagai tenaga kontrak sebagai sapi
perahan demi tercapainya profit bagi pengusaha dan devisa bagi
negara. Di lain pihak regulasi buruh migran Indonesia di luar negeri
juga menunjukkan pola yang sama yakni buruh tidak boleh
memegang passport, buruh yang kerja lembur hanya diberi insentif
yang sedikit, serta pola advokasi hukum yang diberikan kepada
otoritas ketenagakerjaan Indonesia kepada buruh migran Indonesia
yang tersangkut masalah hukum di negara tempatnya bekerja
cenderung parsial sehingga buruh sendiri terkadang menyewa lawyer
dari gaji mereka sendiri tanpa adanya perlindungan hukum dari
negara yang bersangkutan.
Dalam hal ini pola atomisasi buruh Indonesia yang berujung
pada penderitaan tersebut sejatinya adalah rangkaian kesalahan
fatalistik yang dilakukan oleh negara dan pengusaha, selama ini
sudah menjadi rahasia umum jikalau buruh Indonesia terutama buruh
migran tidak memiliki ketrampilan untuk bekerja sesuai standar
Internasional seperti halnya pelatihan bahasa asing terutama Inggris,
ketrampilan teknis, dan laian sebagainya sehingga acap kali terjadi
kesalahpamahan antara buruh dengan majikan yang berujung pada
penyiksaan. Negara dan perusahaan penyalur jasa sangat abai
mengenai hal tersebut karena bagi mereka, buruh migran hanya
cukup memiliki kemampuan bekerja kasar semata. Hal yang
Wasisto Raharjo Jati, S.IP117
demikian tentulah sangat berbeda dengan kondisi buruh migran
negara lainnya seperti halnya Filipina, China, maupun India yang
sedini mungkin telah menyiapkan buruh migrannya memiliki
ketrampilan yang memadai (skilled labour) sehingga mereka dapat
perlakuan yang layak di luar negeri berkat kemampuan yang mereka
punyai. Selain itu pula mereka membentuk serikat kerja buruh
(organized labour) yang solid dan itu didukung oleh pemerintah
negaranya masing masing sehingga jikalau terdapat permasalahan
mengenai buruh, organisasi ini yang akan maju sebagai representasi
negara untuk membela warganya di negeri orang.
Tindakan Nyata
Hal yang sedemikian sangat kontras dengan buruh migran
Indonesia yang notabene tidak mendapatkan pembelaan langsung
dari negara mapun perusahaan penyalur tenaga kerja, tindakan nyata
paling cuma diplomasi semu untuk meredam amarah buruh.Dalam
hal ini diperlukan tindakan nyata untuk memperhatikan nasib buruh
Indonesia yang secara tidak langsung telah menyumbang devisa
maupun melancarkan pembangunan sehingga menjadi seperti
sekarang ini. Oleh karena itu alangkah baiknya bila hubungan
industrial buruh jangan selalu triparit karena hal itu sama saja
membelenggu hak buruh. Selain itu pula lebih tepat bilamana
hubungan kerja itu lebih bersifat bipartit dikarenakan buruh akan
memiliki posisi setara dengan pengusaha tanpa adanya negara
sebagai pihak ketiga.
~~
118 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Hentikan Monopoli Air
Epitet sumber daya air sebagai 'emas biru' merupakan salah
satu sumber konflik negara dan masyarakat setelah demam minyak
berakhir pada dekade 1980-1990an. Negara kemudian menjelma
aktor predator tunggal yang merampas air dari masyarakat demi
mendapatkan kapital besar. Dengan dalih memperlancar
pembangunan ekonomi, aksi monopoli sepihak dilakukan hingga
merugikan masyarakat agraris di pedesaan. Monopoli negara akan
kepemilikan sumber daya air melalui PAM (Perusahaan Air Minum)
sepatutnya diakhiri karena tidak sesuai dengan prinsip demokrasi
ekonomi sebagaimana tertera dalam Pasal 33 UUD 1945. Pergeseran
air dari barang publik menjadi privat merupakan tekanan kekuatan
trans nasional sebagai prasyarat mendapatkan utang luar negeri dari
lembaga donor dunia macam IMF dan Bank Dunia.
Oleh karena itu, terjadilah komodifikasi air dalam
masyarakat di aras lokal di mana untuk mendapatkan air dari sumber
mata air sendiri semakin susah. Indikasinya terlihat dari semakin
surutnya debit air mata air gunung sehingga mengancam irigasi dan
sumber air minum masyarakat. Dalam kasus di Umbul Si Gedhang
maupun Umbul Wadon di Jateng, masyarakat merasakan penurunan
debit air yang dulunya bisa mencapai 80-100 liter/detik kini menjadi
30-50 liter/detik sehingga mengancam panen dan ternak. Ditengarai,
PAM setempat membuat saluran air ilegal yang merusak lapisan
sedimen mata air sehingga menutup mineral bawah tanah untuk
menghasilkan air tanah. PAM maupun pemerintah kemudian
berkongsi memanipulasi laporan AMDAL (Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan) yang menyatakan bahwa tidak ada kerusakan
ekologis yang ditimbulkan dari adanya praktik eksploitasi air.
Manipulasi AMDAL tersebut digunakan sebagai alibi agar
masyarakat percaya bahwa menurunnya debit air karena faktor alam
Wasisto Raharjo Jati, S.IP119
seperti halnya pergeseran kerak bumi maupun hal sejenis.
AMDAL kemudian dipercantik dengan berbagai angka
statistik agar tampak menyakinkan masyarakat supaya jangan lagi
menggubris aksi eksploitasi air yang mereka lakukan. Lahirnya UU
No 7 Tahun 2004 merupakan hasil kompromisasi antara pemerintah
dan Bank Dunia melalui program Watsal (Water Resources
Adjusment Loan) dalam rangka restrukturisasi utang luar negeri
maupun proyek infrastruktur Indonesia dengan membuka privatisasi
air di aras lokal. Instruksi dari UU No 7/2004 itu kemudian
terdispersi meluas ke lapisan pemerintah daerah (pemda) untuk
membuka klausul praktik dagang air maupun privatisasi PDAM
setempat kepada korporasi asing, seperti halnya Aqua Danone,
Thames Water, maupun Lyonnaise. Pasal 1 ayat 13 dan pasal 7 ayat
1 secara langsung mengisyaratkan adanya komodiifikasi hak guna air
untuk diusahakan kepada swasta tanpa ada perlindungan kepada
masyarakat. Otonomi daerah kemudian semakin memperparah
praktik monopoli air yang dijalankan pemda. Mereka berani
memberi konsensi pengusahaan sumber daya air di daerahnya
kepada korporasi air trans nasional selama 25-50 tahun, dan itu
masih bisa diperpanjang. Adapun alasan pemda untuk meningkatkan
jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar senantiasa bertambah
tidak sebanding dengan kondisi petani maupun peternak di pelosok
pedesaan yang menjadi sengasara akibat kelakukan arogan dan
oligarkis pejabat lokal.
Pejabat lokal serta pemerintahan level kecamatan dan desa
pun disiagakan untuk menghindari amukan masyarakat dengan
iming-iming kenaikan pangkat dan tanah sehingga respon
masyarakat tidak pernah digubris. Kelakukan arogan tersebut
mengakibatkan penderitaan akibat semakin bertambahnya biaya
produksi dengan membeli air kepada para tengkulak, yang ironisnya
diambil dari sumber air gunung dekat permukiman penduduk.
120 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Praktik privatisasi PDAM yang dijalankan oleh pemda-pemda di
seluruh Indonesia adalah buah kebobrokan pemda dalam mengelola
sumber daya air. Kebrobokan tersebut berasal dari semakin besarnya
utang yang dilakukan PDAM setempat untuk melakukan eksploitasi
air tanpa ada usaha untuk melakukan konservasi air sehingga
menurunkan kualitas air. Di samping itu, kepemimpinan PDAM
biasanya berasal dari kalangan politikus dan birokrat yang acap kali
berburu rente dari proyek infrastruktur airsehingga menimbulkan
praktik koruptif dalam PDAM. Tercatat PDAM merugi 82% dan
hanya 22% yang neraca keuangannya seimbang. Selebihnya, 119
PDAM di seluruh Indonesia terjerat utang dan 146 PDAM memiliki
utang domestik. (Erwin Endaryanta, 2005)
Dampak privatisasi tersebut, pola pelayanan publik air bersih
menjadi tidak memuaskan karena investor asing tidak wajib
melakukan redistribusi air kepada pelanggan secara baik. Investor
macam Thames Jaya maupun Lyonnaise Jaya sendiri hanya berfokus
mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan meminimalkan
standar minimum air minum. Akibatnya, 63% pelayanan PAM Jaya
mengecewakan pelanggan. Namun, kekecewaan tersebut belum
sebanding apa yang dirasakan oleh masyarakat Cidahu di lereng
Gunung Salak. Saban hari mereka senantiasa berkompetisi berebut
air dengan perusahaan air minum mineral nasional yang setiap hari
menyerap air 500.000 - 1.000.000 kilo liter/detik untuk kepentingan
industrialisasi. Maka, dengan sekejap tata guna lahan menjadi
berubah. Dataran hijau yang dulunya subur kini berubah menjadi
tandus karena unsur mineral dalam tanah telah dieksploitasi secara
represif. Oleh karena itulah, substansi dalam UU No 7/2004 sesegera
mungkin perlu direvisi mengingat banyak kejadian masyarakat kian
menderita karena praktik penyerobotan air secara sepihak oleh
swasta asing melalui substansi UU tersebut. Revisi tersebut meliputi
bunyi pasal yang mengganjal dan tidak sesuai dengan prinsip
Wasisto Raharjo Jati, S.IP121
demokrasi ekonomi Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan bahwa air
merupakan barang publik yang semuanya boleh mengakses sehingga
tidak ada lagi kejadian marginalisasi masyarakat akibat swastanisasi
air secara sepihak.
~~
122 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
BAB 3
DINAMIKA SOSIAL INDONESIA
YANG JALAN DI TEMPAT
Wajah Gizi Indonesia
UNDP menempatkan Indonesia dalam 10 negara yang
mengalami kenaikan kualitas hidup secara mengagumkan dalam 40
tahun terakhir berdasarkan rasio angka Indeks Pembangunan
Manusia/ Human Development Index (HDI) berdasarkan indikasi
tingkat kekayaan, kemiskinan, kesehatan, kesetaraan gender,
kebebasan ekonomi dan pendidikan. Nilai indeks pembangunan
manusia Indonesia sekarang 0,600 yang menaikkan Indonesia berada
di peringkat ke 108 dari 169 negara yang disurvei oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa dibandingkan tahun 2009 dengan skor hanya 0,593.
Namun posisi Indonesia tersebut masih belum mentereng
dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti halnya
Singapura peringkat 27 dan Malaysia di posisi 57, Indonesia hanya
lebih di atas daripada Vietnam (113), Laos (122) dan Myanmar
(132).
Adapun penilaian beberapa indikator capaian MDGS seperti
halnya gizi, gender, pendidikan, sanitasi, angka kelahiran bayi,
maupun angka kematian ibu melahirkan juga mencitrakan Indonesia
mengalami perkembangan signifikan mulai dari penilaian tingkat
kemiskinan ekstrim, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan
pendapatan per kapita di bawah US$1 per hari,telah menurun dari
20,6 persen pada 1990 menjadi 5,9 persen pada 2008, tingkat melek
huruf penduduk di Indonesia mencapai 99,47 persen. Angka melek
huruf penduduk di Indonesia mencapai 99,47 persen. Kesetaraan
jender terlihat peningkatan rasio melek huruf perempuan terhadap
Wasisto Raharjo Jati, S.IP123
laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 99,85, dan
angka kematian bayi menurun cukup signifikan dari 68 anak pada
1991 menjadi 34 anak per 1.000 kelahiran pada 2007.
Tentunya di satu sisi, kita patut berapresiasi dengan capaian
yang fenomenal yang dilakukan oleh pemerintah di tengah karut
marutnya permasalahan negara yang multi dimensi. Namun kita juga
perlu menyadari bahwa berbagai angkaangka tersebut hanya dilihat
dari tolok ukur pertumbuhan ekonomi Indonesia dan pendapatan
nasional bruto Indonesia yang mengasumsikan bahwa akan ada pola
trickle down effect dan linieralitas bahwa semakin baik pertumbuhan
ekonomi Indonesia maka akan mampu menyukseskan capaian
MDGS. Padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di
level 5-6 % dewasa kini dengan GDP USD 3000 masih belum bisa
berbuat banyak dalam mengentaskan kemiskinan seluruh Indonesia.
Dalam hal ini perlu juga diselidiki, apakah angkaangka tersebut
mencerminkan Indonesia secara keseluruhan atau hanya Jawa saja
sebagai tolok ukur pencitraan pembangunan nasional Indonesia.
Ambiguitas
Adapun survey UNDP tersebut mengalami ambiguitas bila
disandingkan dengan laporan yang dipublikasikan oleh indeks
kelaparan global / Global Hunger Index (GHI) 2010 dari FAO yang
menempatkan Indonesia sebagai negara dalam kategori serius dalam
permasalahan gizi buruk nasional. Dalam data GHI 2010 yang
menunjukkan gizi buruk anak adalah penyebab terbesar wabah
kelaparan seluruh dunia kini sudah melalui fase membahayakan
yang dikhawatirkan menyebabkan krisis bahan pangan sedunia.
Ranking serius yang disematkan FAO pada masalah gizi buruk
Indonesia hanya satu strip di bawah level mengkhawatirkan di
dalamnya termasuk berbagai negara Sub Sahara Afrika yang selama
ini selalu diposisikan sebagai negara gagal / failed state. Dalam data
124 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
tersebut menyebutkan Indonesia hanya selevel dengan Papua
Nuigini, Burundi, Chad, dan negara lainnya yang masuk dalam
pengawasan intensif oleh FAO. Tentunya persoalan gizi buruk
tersebut terlepas dari tidak maksimalnya penanganan gizi buruk di
berbagai provinsi Indonesia seperti halnya NTB, NTT, dan Papua
yang menyebabkan penyakit busung lapar yang cukup massif terjadi
di sana. Ditengarai upaya setengahsetengah yang dilakukan oleh
Pemerintah untuk mensejahterakan masyarakatnya lebih disebabkan
oleh alasan klasik pendanaan yang kurang dalam APBN maupun
APBD. Padahal Indonesia sendiri menerima donasi global untuk
mencapai bebas busung lapar pada capaian maksimal MDGS tahun
2015, lalu kemana aliran nominal dana tersebut.
Setali tiga uang dengan permasalahan gizi buruk yang
menjadi ganjalan dalam progam MDGS di Indonesia, permasalahan
angka kematian ibu melahirkan juga menjadi polemik tersendiri.
Kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia masih tergolong cukup
tinggi. Pada 2015 mendatang angka kematian ibu melahirkan
ditargetkan menurun menjadi 103 per 100.000 kelahiran. Angka
kematian ibu melahirkan di Indonesia saat ini tergolong masih cukup
tinggi yaitu mencapai 228 per 100.000 kelahiran. Walaupun
sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari
angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Padahal
berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium atau Millenium
Development Goal (MDG), kematian ibu melahirkan ditetapkan
pada angka 103 per 100.000 kelahiran yang menobatkan angka
kematian ibu melahirkan di Indonesia sebagai angka tertinggi untuk
kawasan Asia.
Ditengarai permasalahan semakin tingginya angka kematian
ibu ini lebih didasarkan pada belum terbentuknya budaya kesadaran
bersama akan rentanya (vulnerable) dampak sekunder yang dialami
oleh ibu melahirkan seperti halnya pendarahan, keracunan kehamilan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP125
yang disertai kejang - kejang, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata
masih ada faktor lain yang juga cukup penting. Misalnya,
pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar belakang
pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan
politik, kebijakan juga berpengaruh. Kaum lelaki pun dituntut harus
berupaya ikut aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi
secara lebih bertanggung jawab. Selain masalah medis, tingginya
kematian ibu juga karena masalah ketidaksetaraan gender, nilai
budaya, perekonomian serta rendahnya perhatian laki-laki terhadap
ibu hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, pandangan yang
menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara
sosiokultural agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat.
Tindakan Nyata
Dalam usaha untuk menuju target pembangunan emas
millennium pada tahun 2015, Pemerintah Indonesia jangan terlalu
silau dengan berbagai survey kuantitatif yang dilakukan oleh
lembaga donor asing dimana hasilnya memposisikan Indonesia
sebagai negara berhasil dalam progam MDGS. Indonesia jangan
terjebak pada politik pencitraan angka yang ditampilkan oleh satu
lembaga saja yang substansinya menyenangkan para pejabat publik.
Pemerintah harus mengkomparasikan dengan survey lain bahwa
masih terdapat banyak lubang yang harus diperbaiki dalam progam
MDGS di Indonesia khususnya 2010. Perlu diingat bahwa nominal
angka tidak selalu mempresentasikan pencapaian seluruhnya MDGS
dikarenakan MDGS hanya melihat dari satu titik perspektif saja.
Akan lebih baik jika Indonesia terus meningkatkan progam nyata
dalam pembangunan millennium ini tanpa harus silau dengan
pencitraan angka.
~~
126 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Belajar dari Jepang
Musibah gempa bumi 8,9 SR diiringi tsunami yang meanda
Jepang tak lantas kemudian membuat warganya dilanda kepanikan
dan pergulatan emosional yang berkepanjangan seperti halnya di
Indonesia. Jepang sangatlah sadar akan rentannya negeri mereka
yang notabene merupakan pusat dari 20 % gempa dunia dengan
intensitas 6 SR setiap tahunnya sehingga pendidikan akan beneana
menjadi hal yang wajib untuk diajarkan oleh institusi publik agar
warganya terbiasa dengan bencana. Oleh karena itulah Jepang sangat
sadar akan pengelolaan resiko bencana dengan cara menimalisir
dampak sekunder dari kejadian bencana dalam bentuk manajemen
bencana dari fase mitigasi hingga rehabilitasi dilakukan secara
cermat supaya kemudian jumlah korban baik material maupun
imaterial dapat ditekan dengan signifikan. Selain itu pula dengan
pengelolaan manajemen bencana berbasis resiko diharapkan bahwa
hasil modernisasi industri Jepang tidaklah runtuh manakala Jepang
luluh lantah akibat bom atom Hiroshima dan Nagasaki sehingga
kegiatan pengelolaan bencana yang terpadu merupakan kunci bagi
negara ini untuk terus berpikir maju untuk pengembangan teknologi
khususnya dalam hal masalah kebencanaan.
Dalam melihat realita tersebut, tentunya manajemen bencana
yang terstruktur sangatlah urgen dan signifikan dalam suatu negara
mengingat dampak bencana yang begitu massif tersebut janganlah
sampai mengembalikan suatu negara tersebut dengan segala capaian
pembangunannya menuju titik dasar kembali sehingga harus
berjuang lagi seperti sedia kala. Oleh karena itulah, bencana acap
kali diasumsikan sebagai penghambat modernisasi kemajuan suatu
negara sehingga resiko akan hadirnya bencana perlu ditanggulangi
secara nyata. Adapun dalam kasus Indonesia, baik pemerintah
maupun masyarakat belum sadar akan konsep risiko bencana. Dalam
Wasisto Raharjo Jati, S.IP127
benak mereka bisa jadi bencana merupakan peristiwa tak terduga
sehingga tidak memiliki pola siap siaga dalam menghadapi bencana.
Oleh karena itulah ketika kita melihat pola penanggulangan bencana
yang dilakukan oleh negara sering kali negara masih sering kaget,
tidak siap, dan hanya fokus pada aspek rehabilitasi maupun
rekonstruksi semata. Padahal bila melihat konsep teoritis manajemen
bencana, aspek rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut masuk ke
dalam fase pasca bencana yang intinya merupakan fase lanjutan dari
sekian rentetan manajemen bencana. Maka sejatinya esensi mendasar
dari manajemen bencana sendiri adalah bagaimana negara dan
masyarakat siap dalam menghadapi bencana sebagai bahaya laten
dan bagaimana cara meminimalisir dampak bencana tersebut.
Barangkali paradigma manajemen bencana yang dibangun negara
selama ini masih mengasumsikan bencana sebagai bahaya yakni
akibat yang tidak bisa dikontrol dan bukan melihat bencana sebagai
resiko yakni akibat yang bisa dikontrol. Oleh karena itulah sering
kali, pemerintah dan masyarakat selama ini bersikap pasrah dan baru
reaktif jikalau bencana sudah menapaki penurunan intensitas
sehingga mereka tidak sadar bahwa bencana memiliki dampak
sistemik terhadap kehidupan seperti halnya infrastruktur maupun
manufaktur rusak parah yang mengakibatkan roda perekonomian
sebagai mesin kebangkitan nasional menjadi lesu dan modernisasi
pembangunan menjadi terhambat sehingga terancam kembali ke
peradaban awal. Maka paradigma manajemen berbasis masyarakat
risiko (risk society) seperti halnya negara maju dapat menjadi acuan
dalam memodernisasi manajemen bencana negara kita.
Masyarakat Resiko
Dewasa kini manusia modern memasuki babak baru dalam
modernitas lanjut di mana formasi sosial yang terbentuk mengalami
transformasi menuju formasi sosial masyarakat resiko (Hasrul Hanif,
128 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
2007). Masyarakat resiko adalah masyarakat yang seluruh sendi
kehidupannya dibangun di atas kesadaran akan resiko. Tentu saja hal
ini bukan berarti kehidupan mereka semuanya berisiko dan tidak
hanya berpikir pendek bencana saja. Akan tetapi kesadaran akan
resiko dan bagaimana merespon resiko bencana mewarnai telah
mempengaruhi seluruh proses sosial dalam masyarakat risiko.
Modernitas kemudian muncul dengan paradigma rasionalitas yang
tinggi, penggugatan terhadap mitologi tradisional, dan hasrat
penundukan bencana sebagai segala sesuatu hal yang ada di luar diri
manusia sebagai sesuatu yang mesti ditundukkan. Oleh karena itulah
kemudian dengan modernisasi teknologi infrastruktur yang ada
adalah untuk memastikan bahwa bencana tidak memberikan
kerentanan terhadap kejadian di masa depan. Maka esensi
modernitas dalam manajemen bencana adalah mengajak semua
orang untuk berpikir futuristik terhadap bencana yang terjadi
sekarang ini apakah memiliki dampak lebih dahsyat di masa depan
dan bukan melihat bencana sebagai bentuk hukuman Tuhan sebagai
causa prima alam semesta. Untuk itulah peningkatan kapasitas
masyarakat dan negara sebagai kesatuan aktor dalam manajemen
bencana melalui pendidikan kebencanaan sedini mungkin, pelatihan
simulasi dan tanggap darurat bencana, maupun investasi besar dalam
sistem peringatan dini maupun infrastruktur pendukung merupakan
sesuatu yang tak dapat terelakkan agar bencana ini tidak memberi
efek lanjutan kepada kehidupan baik yang terjadi sekarang maupun
di masa depan.
Dalam kasus Indonesia, baik negara maupun masyarakat
belum terlihat aplikasi modernitas dalam manajemen bencana yang
ada. Sebagai contoh, dalam kurun waktu empat tahun terakhir
semenjak diundangkannya UU No. 24 Tahun 2007, investasi
teknologi dalam infrastruktur bencana dapat dikatakan sangatlah
minim walaupun dapat dikatakan tanpa dukungan anggaran memadai
Wasisto Raharjo Jati, S.IP129
sebesar 0,5 % dari porsi APBN / APBD. Dalam hemat saya, kecilnya
anggaran tersebut tidak mencerminkan negara waspada akan bencana
di masa mendatang dan hanya berpikir pragmatis terhadap kejadian
bencana yang terjadi selama ini. Selain itu pula masyarakat juga
masih mempunyai sikap siap siaga jikalau bencana itu benar benar
datang dalam kehidupan mereka. Masyarakat masih terbalut dalam
balutan tradisionalisme yang mengasumsikan bahwa manusia
sebagai subordinat bencana. sebenarnya nilai tradisionalisme
tersebut tidak salah bila diterapkan dalam manajemen bencana.
namun kita juga perlu berpikir rasional bahwa tidak selamanya
bencana itu merupakan ketidakpatuhan manusia atas hukum alam,
akan tetapi alam mengajarkan kepada manusia bahwa alam semesta
senantiasa bergerak dinamis menuju titik keseimbangan sebagaimana
yang diajarkan dalam ilmu pasti sehingga bencana dilihat sebagai
peringatan dini bagi manusia untuk bersama dengan alam menuju
titik keseimbangan tersebut. Kedepannya, negara sekali lagi perlu
melihat bahwa bencana merupakan sesuatu yang terelakkan dalam
kehidupan kita sehingga cara berpikir modern perlu diterapkan
dalam manajemen bencana dan aktor di dalamnya sehingga tak perlu
risau dalam melihat bencana sebagai sesuatu yang negatif akan tetapi
lihatlah bencana sebagai sesuatu yang harus dihadapi dalam
modernisasi zaman dewasa kini.
~~
130 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Karut-Marut Sistem Transportasi
Awal tahun 2012 mencatat sejarah kelam sistem transportasi
angkutan darat di negeri ini. Hal tersebut bisa dijelaskan melalui
serangkaian peristiwa kecelakaan maut yang terjadi di jalan raya.
Jika dirunut dari peristiwa pertama kecelakaan bus di tahun 2012
pada 1 Februari hingga terbaru yakni kecelakaan yang dialami Bus
Mira di Ngawi, Jawa Timur pada 13 Februari 2012 lalu, setidaknya
telah terjadi 7 kasus kecelakaan transportasi angkatan darat yang
telah memakan korban mencapai 33 jiwa. Tentunya hal ini sangatlah
memperihatinkan bagi masyarakat Indonesia di tengah semakin
melangkanya BBM terkait kebijakan pembatasan yang efektif
dilakukan 1 April 2012. Sektor transportasi publik yang seharusnya
menjadi acuan utama mobilitas masyarakat pada saat transisi
peralihan moda transportasi privat ke publik terkait kebijakan
pembatasan BBM justru mengalami permasalahan pelik. Adapun
pembenahan manajemen penyelesaian kasus kecelakaan transportasi
angkutan darat di negeri ini masih bersifat ego sektoral dan sporadis.
Dikatakan demikian, karena acap kali yang dipersalahkan dan
dikenakan unsur pidana sebagai sumber utama kecelakaan
transportasi adalah human error. Tentunya hal tersebut amatlah
disayangkan, apabila sopir senantiasa menjadi korban mikro dari
sistem transportasi yang korup karena hal itu sama sekali tidak
menyentuh akar makro permasalahan dalam manajemen transportasi
angkutan darat. Akar permasaahan transportasi angkutan darat
adalah kesatuan organik yang melibatkan pemerintahan, pengusaha
transportasi, dan penumpang itu sendiri. Pertama, regulasi
pemerintah yang diatur dalam UU 22/2009 tentang angkutan jalan
raya sendiri dinilai membebani sopir selaku tenaga teknis operator
transportasi angkutan darat. Sopir sendiri diwajibkan untuk bekerja
selama 6 jam perjalanan dengan waktu istirahat hanya 30 menit.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP131
Sopir sendiri akan merasa jenuh dan mudah letih apabila dipaksa
untuk mengemudikan bus enam jam setiap harinya dan mudah
kehilangan konsentrasi utamanya jika terjadi kemacetan panjang
sehingga menguras emosi dan adrenalin si sopir. Di negara negara
Eropa saja, seorang sopir lintas daerah saja hanya dikenakan 4 jam
mengemudi dengan tenggat istirahat 1 2 jam dan selalu disediakan
sopir cadangan apabila sopir utama dirasa sudah kecapekan. Di
Indonesia sendiri, regulasi pemerintah tidak mengatur perusahaan
otobus menyediakan 2 sopir dalam I bus dalam satu trip perjalanan
pulang pergi. Belum lagi, kendala yang dihadapi sopir adalah oknum
petugas terminal yang meminta pungutan liar kepada sopir bus pada
saat uji kir maupun uji emisi kendaraan bus. Bus yang seharusnya
tidak lolos uji emisi maupun uji kir karena usia produktif bus sudah
menua dan turun mesin kerap kali dipaksakan laik jalan dengan
menyuap oknum untuk meloloskan bus untuk melaju, walaupun hal
itu sebenarnya sangat membahayakan penumpang. 50 % bus yang
beroperasi di jalan raya sendiri pada umumnya bermur 15 - 20 tahun
telah melewati batas usia maksimum kendaraan yakni 7 tahun. 40 %
sisanya adalah bus yang berumur 5 10 tahun pemakaian. Selain itu
pula tonase kendaraan bus juga kerap berlebihan idealnya bus AKAP
sendiri bertonase 75 100 kg sering kali dalam operasionalisasinya
mencapai 200 lg lebih yang berpotensi membuat bus menjadi oleng
dan hilang kendali. Sementara bus AKDP yang idealnya bertonase
50 75 kg dilebihkan menjadi 100 kg.
Kedua, sistem setoran merupakan akar permasalahan
kecelakaan transportasi bus. Adapun pengusaha sebuah perusahaan
otobus maupun kendaraan sejenis membebankan setoran uang yang
tinggi kepada sopirnya. Dalam sebuah kasus mikrolet di DKI
Jakarta, penghasilan kotor sopir sendiri dibagi 70 % pemilik
kendaraan dan 30 % menjadi milik sopir. Pemilik sendiri tidak
menanggung uang bensin, uang makan, maupun onderdil mesin yang
132 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
kesemuanya ditanggung oleh sopir. Pemilik tahunya hanya
setorannya lancar setiap hari setiap kali satu tarikan kendaraan yang
dilakukan sopirnya. Oleh karena itulah, sering kali sopir sendiri
bertindak ugal ugalan demi kejar setoran kendaraan dan sering kali
sikut-sikutan dengan sopir lainnya tanpa mengindahkan keselematan
penumpangnya. Ketiga, penumpang angkutan transportasi Indonesia
juga menjadi akar permasalahan kecelakaan transportasi angkutan
darat. Penumpang sering kali tidak taat aturan untuk naik dan turun
di halte, shelter, maupun terminal karena sering kali minta dinaikkan
dan diturunkan di tempat seenaknya yang mereka minta pada sopir.
Hal tersebut bisa memicu kecelakaan karambol dengan kendaraan
lain karena bus maupun kendaraan sejenis kerap berhenti mendadak
untuk naik/ turun dan hirau dengan pengguna jalan lainnya.
Oleh karena itu pemerintah perlu membuat manajemen
transportasi yang baik dengan menyinergiskan pendidikan
berkendara maupun bertransportasi bagi sopir dan penumpang
utamanya dengan menyiapkan segala infrastruktur pendukung untuk
kelancaran transportasi. Selain itu pula, pemerintah juga perlu
menindak tegas oknum korup dalam sistem transportasi dengan
petugas yang kredibel supaya kualitas moda transportasi juga terjaga
dengan baik.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP133
Islam, Terorisme, dan Orientalisme Barat
Seketika terjadi peristiwa pengeboman yang terjadi di Gereja
Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo yang dilakukan oleh
para teroris. Media internasional langsung menyebarkan ke seluruh
penjuru dunia bahwa telah terjadi serangan teroris menakutkan yang
terjadi di Indonesia. Adapun reaksi yang dikeluarkan oleh
pemerintah dunia Barat langsung saja menerapkan adanya travel
advisory bagi warganya untuk mengunjungi Indonesia pada saat ini.
Pemberian travel advisory maupun travel warning bagi Indonesia
sendiri merupakan gejala xenophobia dunia Barat akan Islam
sehingga mereka reaktif dan tanggap apabila terjadi pengeboman
selalu dikaitkan dengan Islam. Perasaan xenophobia sendiri pada
akhirnya kemudian berujung pada konstruksi Barat bahwa dunia
Islam adalah hal yang radikal, barbar, teroris, maupun ungkapan satir
lainnya yang intinya mendiskreditkan Islam. Perasaan xenophobia
atau perasaan ketakutan mendalam akan Islam muncul semenjak
penyerangan gedung World Trade Center pada September 2001
silam sehingga membentuk opini publik Dunia Barat bahwa Islam
adalah teroris radikal yang mengancam orang.
Orientalisme Islam
Terlepas dari labelisasi teroris atau tidak, dunia Barat sendiri
melakukan diskursus wacana yang begitu massif untuk
mengkonstruksi Islam secara sepihak. Di dalam kajian pengetahuan
orientalisme Barat, Islam adalah agama yang sadis, tidak berperi
kemanusiaan, dan juga intoleran terhadap sesama. Hal tersebut
kemudian dibuktikan reproduksi dan romantisasi keradikalan Islam
melalui berbagai macam teks literasi, buku, maupun jurnal sebagai
bentuk citra Islam yang sesungguhnya. Adapun imajinasi mengenai
Usama Bin Laden, Ayman Al Zawahiri, Taliban, Jaringan Islamiyah,
134 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Tahreeq el Taliban, maupun Jaringan Haqqani sebagai wujud Islam
yang sesungguhnya. Terdapat berbagai macam komodifikasi ajaran
Islam yang dilakukan oleh Barat seperti halnya Jihad yang maknanya
diubah dari memerangi kaum kafir menjadi memerangi kaum Barat
dengan terorisme dalam pengetahuan Barat. Kajian orientalisme
Barat tentang Islam juga melakukan intepretasi yang keliru melalui
pembacaan Al-Quran, Hadist, maupun Ijtihad Ulama. Sebagai
contoh, Islam sendiri tidak emansipatif kepada perempuan karena
harus selalu berada di rumah maupun memperbolehkan poligami.
Islam merupakan agama kejam dengan adanya hukuman potong
tangan maupun pancung yang tidak sesuai dengan HAM. Maka dari
situ kemudian, Barat memperoduksi pengetahuan tentang dunia
Islam yang kemudian disebarkan kepada warga masyarakatnya
sehingga memunculkan sikap dengki dan dendam kepada Islam.
Adapun kehidupan masyarakat Islam di Dunia barat
merupakan contoh konkrit bagaimana kaum muslimin sendiri
dimarjinalkan dan disubordinasikan dengan melarang menggunakan
atibut Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Islam adalah teroris,
ungkapan itulah yang hingga kini menghinggapi sebagian besar
masyarakat Amerika Serikat sehingga tak jarang kini masyarakatnya
kemudian tidak menghargai Islam. Adapun contoh perilaku anti
Islam yang dipertontokan oleh Pendeta Terry Jones yang menentang
pembangunan masjid di Manhattan dan ingin membakar Al-Quran,
maupun aksi Geertz Wilder dengan film Fitna yang seolah
menggambarkan bahwa Islam itu penuh kejelekan, aksi pembunuhan
imigran Afrika Utara oleh sekelompok Kristen radikal di Swedia,
kisah kesulitan mendapatkan visa atau integorasi yang begitu lama
menimpa orang Islam di Bandara karena namanya yang ke arab-
araban, maupun aksi media di Denmark yang menggambarkan
karikatur Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan bentuk konkrit
pola piker orientalistik orang Barat dalam memahami Islam.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP135
Tentunya kajian orientalisme Barat tentu saja menyudutkan Islam
secara psikologis. Kemana mana orang Islam sendiri akan dicap
sebagai teroris oleh masyarakat dunia Barat ketika memasuki
negerinya. Orang Islam sendiri kemudian menjadi tidak bebas dalam
melakukan aktivitasnya. Tentunya sikap Barat yang selalu saja
melakukan dramatisasi begitu ada kejadian bom meledak yang
dikaitkan dengan Islam patut disayangkan. Secara tidak langsung
terjadi homogenisasi konstruksi dan episteme berpikir dalam
memandang dunia Islam. Islam kemudian secara harfiah didudukan
sebagai biadab dan Barat harus memberantasnya melalui berbagai
macam invasi militer di berbagai negara Timur Tengah sebagai
pembenaran bahwa tindakan mereka merupakan tugas mulia.
Maka implikasi yang timbul kemudian adalah kehancuran
dunia Islam sendiri yang diakibatkan oleh sikap arogan. Maka dari
situlah kemudian memunculkan sikap radikalisme yang berujung
pada terorisme kepada dunia Barat. Oleh karena itulah, terjadi
lingkaran setan antara diskursus orientalis Barat, Islam, dan Teroris
yang tidak akan pernah berakhir jikalau masing masing pihak
kemudian belum berhenti memusuhi sesamanya. Agaknya dunia
Barat sekali lagi perlu kajian lebih mendalam mengenai dunia Islam
yang selalu saja disangkutpautkan dengan teroris bahwa Islam
sendiri mengajarkan toleransi antar sesama. Untuk itu perlu
sinergitas dialogis yang lebih intensif antara Barat dan Islam bahwa
Islam bukanlah agama radikal.
~~
136 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Jakarta Butuh Pemimpin Visioner
Mengikuti perkembangan pemilukada DKI Jakarta 2012
disertai dengan munculnya berbagai kandidat calon gubernur
menarik untuk diikuti. Menimbang posisi DKI Jakarta sebagai pusat
pemerintahan negara maupun pusat ekonomi terbesar di Indonesia
dengan keanekaragaman penduduknya, tak salah bila menyebut
pemilukada DKI Jakarta sebagai pemilu nasional terbesar ketiga
setelah pemilu presiden dan pemilu legislatif. Tentunya memandang
arti penting Jakarta tersebut, pencarian figur untuk menduduki posisi
gubernur Jakarta jelas bukan sembarangan. Terlebih lagi, Jakarta
juga mempunyai permasalahan pelik yang tak kunjung selesai yakni
permasalahan banjir, kemacetan, dan urbanisasi yang menjadi
pangkal utama permasalahan di ibukota negara ini. Jakarta
membutuhkan figur pemimpin yang tepat untuk membenahi ketiga
masalah tersebut. Ketiga masalah itu pulalah yang akan menjadi
pintu masuk bagi calon gubernur DKI Jakarta untuk merumuskan
strategi kampanye menjaring konstituen.
Konstituen pemilih di DKI Jakarta merupakan kelompok
masyarakat terpelajar dan melek teknologi informasi yang lebih
mengutamakan berpikir realisitis dan pemecahan masalah. Para
konstituen tentunya tidak akan mudah tertipu dengan slogan janji
politik, visi misi, baliho, sembako murah, maupun pembagian kaos
gratis yang menjadi lagu lama dalam event pemilukada. Mereka juga
tak terpengaruh dengan politik putra daerah yang menjadi tema
utama dalam pemilukada lainnya. Intinya yang ingin mereka
harapkan pada pemilukada Jakarta 2012 ini, akan melahirkan
pemimpin visioner yang mampu berpikir realistis dan futuristik
dalam menangani sengkarut permasalahan di Jakarta.
Jakarta butuh pemimpin visioner itulah yang akan menjadi
dasar pemikiran para masyarakat pemegang hak pilih untuk
Wasisto Raharjo Jati, S.IP137
menentukan calon gubernurnya selama 4 tahun ke depannya. Jakarta
rindu dengan pemimpin visioner dan pekerja keras seperti halnya Ali
Sadikin maupun Sutiyoso yang mampu memperbaharui Jakarta
dengan progam kebijakannya. Ali Sadikin yang terkenal dengan
Rencana Thamrin yang mengubah kawasan Ciliwung dari kawasan
kumuh menjadi kawasan humanis maupun Sutiyoso yang terkenal
dengan Busway yang hingga kini menjadi warisan politik yang
membekas dalam memori masyarakat Jakarta.
Visioner dan pekerja keras merupakan syarat mutlak yang
harus dipenuhi kandidat calon gubernur Jakarta untuk memenangkan
kompetisi pemilukada. Visioner diartikan sebagai gunernur memiliki
model pembangunan yang jelas bagi Jakarta yang seolah kini salah
urus selama ini. Pekerja keras dimaknai sebagai gubernur tidak akan
menyerah untuk mewuudkan model Jakarta yang diinginkannya.
Secara garis besar, masyarakat Jakarta sendiri tidak mempersalahkan
latar belakangan kandidat yang akan diusung. Apakah berasal dari
kalangan militer, sipil, teknokrat, maupun professional. Yang hanya
dibutuhkan oleh masyarakat adalah ketegasan pemimpin. Selama ini
Gubernur Jakarta tidak tegas dalam menghadapi ketiga masalah.
Pertama masalah transportasi, pola transportasi massal berbasis MRT
yang sedianya akan selesai pada 2016 tidak terealisir, malahan akan
diganti dengan sistem lainnya. kedua sistem kependudukan, operasi
yustisi sekarang ini jarang digalakkan dan ada pembiaran dengan
masuknya secara bebas. Ketiga, masalah banjir kian tak teratasi,
gubernur Fauzi Bowo yang berlatar belakang insiyur teknik seolah
tidak bisa berbuat banyak menghadapi banjir.
Kedua syarat figur pemimpin tersebut belum terlihat.Adapun
yang sudah dideklarasikan baik secara terbuka maupun tersamar
belum menunjukkan ke arah kedua syarat tadi. Logika politik
transaksional dan politik pencitraan masih menjadi tema dominan
yang diusung oleh para calon gubernur. Politik transaksional sendiri
138 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
masih bisa dilihat dari tarik ulur kepentingan penentuan calon
kandidat yang akan diusung nanti maupun pemenuhan hasrat politik
partai politik untuk mendominasi pemerintahan. Sedangkan politik
pencitraan sendiri masih berupa gambar kandidat yang seolah
mempersonifikasikan diri sebagai figur yang tepat untuk memimpin
Jakarta.
Munculnya calon gubernur lainnya yang berasal dari luar
daerah juga menyita perhatian publik seputar pemilukada Jakarta
2012. Figur seperti halnya Alex Noerdin (Gubernur Sumatera
Selatan), Bambang D.H. (Wakil Walikota Surabaya), maupun Joko
Widodo (Walikota Surakarta) tentunya akan menambah semarak
suhu politik jelang pemilukada pada pertengahan tahun ini. Bagi
calon gubernur luar daerah tersebut, menduduki posisi Gubernur
DKI Jakarta sendiri merupakan batu loncatan untuk memasuki
kancah perpolitikan nasional. Hal ini dikarenakan Gubernur Jakarta
sendiri memiliki berbagai macam saluran politik ke pemerintahan
pusat. Tentunya kesempatan pemilukada DKI tidak bisa terlewatkan
begitu saja.
Namun terlepas dari gubernur Jakarta baik dari dalam
maupun luar daerah. Tak sungkan bagi masyarakat untuk
memberikan kesempatan bagi para kandidat untuk bertarung
memperebutkan kursi DKI-1. Semuanya pada nantinya akan
berpaling pada masyarakat untuk memilih secara jernih dan hati
nurani pemimpin mereka untuk 4 tahun mendatang. Gubernurnya
sukses, rakyatnya senang, Gubernur gagal, rakyatnya menderita.
Itulah implikasi yang akan masyarakat peroleh selepas pemilukada
nanti.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP139
Kapitalisasi Pendidikan di Indonesia
Dalam pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa
pendidikan merupakan pilar tujuan nasional bangsa untuk
mencerdaskan manusia Indonesia sehingga mampu membentuk
karakter pembangunan bangsa yang kuat. Oleh karena itulah negara
berkewajiban melaksanakan pendidikan yang adil dan berkualitas
seperti amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 Ayat 1 UUD
1945 yang berbunyi, Setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan tanpa memandang kekurangan dan kelebihannya.
Namun premis di atas dalam realita dewasa kini hanyalah retorika
yang lipstik semata. Betapa tidak, pendidikan yang sejatinya barang
publik kini bertransformasi menjadi komoditas kapital pasar yang
justru memperlebar jurang kesejangan pendidikan antara si kaya dan
si miskin. Hal itu kemudian dapat diindikasikan dengan menurunnya
presentase pendidikan tinggi bagi warga miskin di PTN yang kini
tinggal 4,19 persen sementara bagi warga kaya justru merangkak
naik sekitar 32,4 persen pada akhir tahun 2010 (Darmaningtyas,
2010). Ironisnya lagi presentase pendidikan tersebut menurun drastis
jika dibandingkan pada dekade 1980 1990 yang justru jumlah
warga miskin berkuliah di PTN lebih dari 10 persen.
Menyikapi hal tersebut, sangatlah terlihat bahwa gurita
kapitalisasi telah mencengkram sektor pendidikan baik segi sistem,
paradigma, maupun institusi dari level mendasar hingga tingkat
universitas. Mahalnya harga seragam di beberapa sekolah merupakan
sebuah ironi di sistem pendidikan Indonesia. Sekolah tidak lagi
dimaknai sebagai tempat mencari ilmu tetapi berubah menjadi
korporasi komoditi pendidikan baik itu tempat jualan pakaian
maupun buku pelajaran. Momentum tahun ajaran baru ternyata
dijadikan pihak sekolah untuk mencari keuntungan baik itu negeri
maupun swasta. Pihak sekolah menjual seragam dengan harga lebih
140 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
tinggi jika dibandingkan dengan harga pakaian sekolah di pasar
tradisional. Maraknya praktek jual-beli seragam sekolah maupun
buku pelajaran dengan harga yang mahal merupakan salah bentuk
komersialisasi pendidikan (Akbar Rewako, 2010). Selain halnya
seragam dan buku pelajaran, banyaknya berbagai pungutan sekolah
yang berkedok dana sumbangan maupun dana sukarela merupakan
bentuk pemaksaan bagi peserta didik untuk membayarnya dimana
kedua dana tersebut belum tentu berdampak langsung pada proses
belajar mengajar di kelas.
Proses pendidikan di sekolah kini lebih berorientasi pada
target bukan pada proses pembelajaran yang sebenarnya menjadi
esensi dasar pendidikan. Kita bisa melihat kini para guru sekolah
kini terkooptasi dengan suatu sistem kapital pragmatis yang
mengharuskan bahwa nilai adalah segalanya sehingga membuat
siswa merasa tertekan untuk belajar mendapat nilai bagus dalam
setiap pelajaran dan kelulusan 100 % menjadi misi utama pencitraan
sekolah untuk menggaet konsumen siswa baru. Maka yang terjadi
kemudian adalah penciptaan budaya instan bagi siswa seperti
mencontek saat ujian maupun membuat kisi kisi jawaban yang
kesemuanya itu bukanlah pembentukan karakter moral maupun etika
berperilaku yang baik sesuai dengan tujuan luhur pendidikan.
Selain itu pula dalam seleksi masuk sekolah maupun
perguruan tinggi kini tidak lagi tergantung pada daya intelektual
setiap peserta didik, akan tetapi kini lebih didasarkan pada berapa
jumlah rupiah yang sanggup digelontorkan orang tua siswa kepada
insitusi pendidikan yang bersangkutan. Hal itu terjadi dalam
pembedaan jalur masuk pendaftaran baik itu jalur regular maupun
khusus dimana bagi mereka yang berasal dari keluarga mampu akan
dilayani dengan maksimal dan dijamin lolos seleksi sementara bagi
mereka yang melalui jalur regular belum tentu dapat lolos seleksi.
Maka yang terjadi adalah kastanisasi pendidikan seperti zaman
Wasisto Raharjo Jati, S.IP141
kolonial dimana bagi mereka yang berasal dari keluarga ningrat akan
mendapat pendidikan yang memadai sementara bagi yang miskin
akan dikriminasikan bahkan tidak mendapat akses pendidikan sama
sekali.
Pengaruh pragmatisme pendidikan juga mendera orang tua
siswa yang selalu menekankan agar anaknya menjadi dokter maupun
insinyur dan mensekolahkan anaknya di sekolah favorit bermutu
sehingga cita cita orangtuanya pun tercapai demi pencitraan semu
belaka. Perilaku yang sedemikian tentunya sangatlah keliru dalam
pola mendidik anak dikarenakan bakat dan minat yang berbeda pula.
Pragmatisme itulah yang kemudian memunculkan bisnis bisnis
lembaga bimbingan belajar yang melacurkan pendidikan sebagai
komoditi dagangan.
Dalam tataran yang lebih luas, pembentukan institusi
pendidikan baik tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan
menggunakan label internasional baik dalam wajah RSBI, SBI,
maupun World Class University yang kesemuanya adalah
perwujudan kapitalisme global dalam dunia pendidikan Indonesia
untuk mendapatkan pangsa pasar baru di negara berkembang. Di satu
sisi, label internasional patut diapresiasi terhadap kenaikan tingkat
pendidikan Indonesia, namun di sisi lain lain perlu dicermati pula
bahwa label internasional tersebut mengusung misi tersembunyi
kapitalisme global untuk memasarkan produknya baik itu berupa
hardware, software, maupun tenaga kerja mereka dalam sistem
pendidikan Indonesia. Maka dapat dikatakan ruh pendidikan
Indonesia kini kehilangan independesinya dan mengalah pada
privatisasi pendidikan yang digencarkan negara maju.
Sejatinya revitalisasi nilai luhur taman siswa dalam dunia
pendidikan Indonesia perlu digalakkan kembali dimana pendidikan
bukan dipandang sebagai alat an sich, akan tetapi sebagai tujuan
dimana dalam penyelenggaraan pendidikan sendiri terdapat
142 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
pembangunan karakter etika dan moral bangsa sebagai sendi utama
modernisasi suatu negara bukan kepada nilai yang dengan sendirinya
merupakan pencitraan semu pendidikan.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP143
Kearifan Mbah Maridjan
Wafatnya Mbah Maridjan dalam menjalankan tugas sebagai
abdi dalem kuncen Gunung Merapi memang sangat memilukan
ketika beliau masih berpegang teguh mengemban amanat yang
dibawa hingga akhir hayat bersama dengan puluhan warga dusun
Kinahrejo yang turut menjadi korban keganasan awan panas Gunung
Merapi. Tentunya, bagi orang awam akan berpikiran bahwa tindakan
yang dilakukan oleh Mbah Maridjan bersama puluhan penduduk
yang tetap bertahan dan tidak mau dievakuasi ke barak pengungsian
merupakan sesuatu yang fatal dan tidak rasional mengingat bahaya
akan kehilangan nyawa sudah di depan mata. Namun bila ditelisik
lebih mendalam lagi, apa yang dilakukan oleh Mbah Maridjan
sendiri bukanlah sesuatu yang salah karena beliau sendiri menyakini
prinsip kejawen yang dia percayai selaku orang Jawa. Prinsip
kejawen ini barangkali sudah terlupakan banyak orang terlebih lagi
orang Jawa sendiri yang kini mulai tergerus identitas kejawaannya
seiring dengan majunya modernitas zaman. Oleh karena itu wafatnya
Mbah Maridjan beserta puluhan penduduk Kinahrejo dapat diartikan
sebagai benteng terakhir pertahanan kebudayaan adiluhung
(mahsyur) Jawa yang masih tersisa di era sekarang.
Siti Songsong Buwana
Dalam hal ini prinsip yang dipegang teguh oleh Mbah
Maridjan adalah konsep Siti Songsong Buwana yang mengandung
maksud bahwa tanah yang dikelilingi oleh gunung membuat
penghuninya akan memiliki pandangan luas/ selalu ingat dan
waspada (eling lan waspada) terhadap lingkungan sekitarnya yang
mana para penghuinya akan dicintai banyak orang. Selain itu,
jenazah Mbah Maridjan yang bersujud di rumahnya beserta puluhan
warga Kinahrejo yang meninggal di lingkungan tempat tinggalnya
144 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
saat awan panas menerjang juga merupakan indikasi praksis
penerapan Siti Songsong Buwana dimana alam lingkungan tempat
tinggal juga mempengaruhi watak penghuninya. Secara makro, alam
merupakan pelindung jiwa manusia sehingga menimbulkan serabut
keterikatan yang kuat antara manusia dengan alam serta secara mikro
yakni mengandaikan bahwa alam adalah rumah tempat berlindung
dan bernaung manusia dari lahir, balita, anak-anak, remaja, dewasa,
tua, hingga kemudian mati dan rumah itu sendiri dibangun secara
bersama-sama dari unsur alam sehingga membuat manusia merasa
betah dan nyaman tinggal di tempat tinggalnya dari sinilah
keterikatan manusia dengan rumah tidak dapat dipisahkan sekalipun
terjadi bencana (Sastroatmodjo, 1983 : 31). Maka lingkungan sekitar
terutama rumah sendiri dalam kebudayaan Jawa sejatinya merupakan
puser / pusat aktivitas dan manifestasi pengakuan manusia sebagai
salah satu makhluk hidup terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
sebagai causa prima alam itu terbentuk dan diciptakan.
Memang selama ini kehidupan Mbah Maridjan beserta
penduduk Kinahrejo lainnya sangat tergantung dengan alam
lingkungan sekitarnya. Hal itu dapat dibuktikan dengan corak agraris
yang ditampilkan warganya dalam kesehariannya seperti halnya
beternak sapi perahan, merumput, bertani, mencari kayu di hutan dan
berladang sehingga membuat kehidupan mereka sangat tergantung
dengan lingkungan sekitarnya dan kemudian bersahabat dengan alam
walaupun alam tempat tinggal mereka adalah kawasan yang paling
berbahaya karena hanya berjarak 3 - 4 kilometer dari puncak gunung
merapi. Meskipun menyadari bahwa alam lingkungan tempat tinggal
mereka adalah kawasan berbahaya, namun mereka tetaplah nrimo
karena alam itulah yang dipercayakan Tuhan untuk mereka tempat
tinggali dan beranak pinak mengembangkan kehidupan sehingga
penduduk Kinahrejo pun merasa betah dan nyaman tinggal di kaki
lereng gunung Merapi sebagai bentuk loyalitas dan puji syukur
Wasisto Raharjo Jati, S.IP145
kepada Tuhan karena masih diberi kelimpahan rahmat oleh-Nya
sehingga hidup dan lahir penduduk di sana sudah diserahkan dan
dipasrahkan kepada Sang Pencipta. Sehingga sangatlah wajar apabila
warga padusunan Kinahrejo, Glagaharjo, Umbulharjo, dan lain
sebagainya menolak direlokasi tempat tinggal mereka oleh
Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Klaten & Boyolali pasca
erupsi Merapi yang menewaskan puluhan korban termasuk sang
kuncen serta pola perilaku nekat penduduk yang meninggalkan barak
pengungsian dan memilih kembali ke permukiman mereka meskipun
masih dalam masa tanggap darurat dan status waspada bahaya erupsi
susulan Gunung Merapi lebih dikarenakan hal itu akan
mengakibatkan tercerabutnya akar kultural mengubah hubungan
tatatan sosial yang telah diwariskan dalam kehidupan mereka dengan
alam sekitarnya dimana akan memotong tali keterikatan yang sudah
dibangun sejak zaman nenek moyang.
Adapun posisi Mbah Maridjan yang dijadikan panutan dan
idola masyarakat lebih dikarenakan beliau sendiri memiliki
pandangan luas melihat tanda tanda alam dan menyampaikan
seruan warga untuk mengungsi ke barak pengungsian berdasarkan
penglihatannya meskipun dirinya yang paling terakhir berada di
desa. Maka tidaklah mengherankan apabila kini wafatnya Mbah
Maridjan sendiri ditangisi banyak orang karena dialah sebagai
penghubung antara dunia alam dan dunia gaib yang konon itu
bertautan dengan unsur kosmologi alam yang membangun kearifan
lokal dusun terlebih lagi Kasultanan Yogyakarta.
Nilai Keteladanan
Sesungguhnya wafatnya Mbah Maridjan beserta puluhan
penduduk yang menjadi korban keganasan tersebut telah
mengajarkan keteladanan bahwa seorang pemimpin harus berani
pada prinsip yang menurutnya benar dan memberi kemaslahatan bagi
146 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
sekitarnya sekalipun akan membahayakan dirinya sendiri. Selain itu
pula, sikap Mbah Maridjan yang menolak diungsikan adalah sebagai
wujud keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta dalam
perspektif kebatinan Jawa yakni seseorang itu lahir dan mati telah
digariskan melalui tanda tanda alam yang diberikan Tuhan Yang
Maha Esa agar manusia itu selalu bertawakal dan berserah diri di
saat senang, sedih, maupun susah. Akhir kata Mbah Maridjan
memberi arti untuk selalu bersyukur dalam menjalani kehidupan.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP147
Kosmologi Ibukota RI
Jakarta sebagai ibukota RI sekarang ini diprediksikan akan
mengalami kelumpuhan total pada tahun 2030. Adapun hal itu
sangatlah merugikan baik dari segi politik, sosial, maupun ekonomi
dimana Jakarta sendiri sebagai kota yang berfungsi dualisme baik
sebagai pusat politik dan pemerintahan sekaligus pula sebagai pusat
ekonomi RI yang mengendalikan hampir 80 persen lebih sirkulasi
perbankan nasional di negara ini. Jakarta yang sebenarnya hanya
dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada abad 16 untuk
menampung 9-10 juta orang kini setelah kemerdekaan telah
mengalami overload kapasitas demografi dengan estimasi sekitar 60
70 persen penduduk maupun pendatang yang menggantungkan
hidupnya di Jakarta.
Sebenarnya sebelum ancaman itu datang pada tahun 2030,
para pemimpin negeri sendiri sudah memiliki pandangan futuristik
mengenai konsepsi ibukota RI jauh jauh hari sebelumnya.
Soekarno sebagai Presiden RI pertama sekaligus arsitek alumni ITB
sudah memulai langkah riil dengan mendirikan kota Palangkaraya
pada 15 Juli 1957 dimana pembangunan kota Palangkaraya bagi
Soekarno sendiri sebagai wujud protes akan kota kota besar di
Indonesia yang merupakan warisan kolonial Pemerintah Belanda.
Oleh karena itulah Jakarta sebagai kota manifestasi kolonial Belanda
kurang berkenan di hati Soekarno dengan menjadikan Palangkaraya
sebagai Ibukota RI yang bina kota bangunannya berarstitektur
Indonesia dan mencerminkan multikulturalisme suku bangsa yang
ada di Indonesia.
Cosmic City
Adapun pemilihan Soekarno dengan menjadikan
Palangkaraya sebagai ibukota RI kala itu bukan tanpa alasan
148 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
geografis yang memandang bahwa Palangkaraya hanya dipilih
berdasarkan letaknya yang berada di tengah - tengah Indonesia.
Asumsi yang dibangun Soekarno untuk menjadikan Palangkaraya
sebagai ibukota RI adalah alasan kosmologi perkotaan/ cosmic city
(Wijanarko, 2006). Adapun cosmic city sendiri menurut Kostof
(2005) adalah sebuah kota yang terletak dalam sumbu imajiner yang
mana merupakan manifestasi perwujudan kosmologi kearifan lokal
serta aliran religi yang hidup selama turun temurun di dalam
masyarakat. Selain itu pula ditambahkan pula oleh Kostof, bahwa
dengan pendirian kota di tepat garis sumbu imajiner, maka kota
tersebut akan memberikan nuansa positif bagi kehidupan
penduduknya dan menjaga suasana ketentraman dan perdamaian
antar penduduk. Barangkali argumen di atas itulah yang coba dipakai
Soekarno dengan mencoba menghubungkan secara imajiner antara
Jakarta Palangkaraya sungai Kahayan. Dari Jakarta, Soekarno
mencoba menarik sumbu imajiner dari silang tugu monas ditarik ke
arah timur laut yang kemudian akan berakhir di Kampung Pahandut
sebagai cikal bakal Kota Palangkaraya yang terletak di tepi Sungai
Kahayan. Adapun pembangunan Kota Palangkarya sendiri bagi
Soekarno juga didasarkan pada kearifan lokal yang ada di kehidupan
lokal suku Dayak setempat dimana permukiman akan semakin
berkembang bilamana terletak di pinggiran sungai.
Tentu saja pembangunan ibukota negara berdasarkan
paradigma cosmic city sendiri banyak diilhami oleh beberapa kasus
yang berada di ibukota negara lainnya. salah satu contohnya adalah
Tokyo sebagai Ibukota Jepang dimana pembangunan kota Tokyo
sendiri selaras dengan sumbu imajiner Gunung Fujiyama yang bagi
masyarakat Jepang sendiri, gunung tersebut merupakan gunung
keramat. Selain itu pembangunan kota Bangkok atau Krung Thep
(kota bidadari) sendiri dibangun oleh Dinasti Chakri dengan menarik
sumbu imajiner dari ibukota lama Ayyut Thaya dengan Bangkok
Wasisto Raharjo Jati, S.IP149
yang berakhir di Sunhai Chao Praya. Sungai yang bagi mayoritas
masyarakat Thailand wujud keberkahan dan kemakmuran. Oleh
karena itu dari situ kemudian kehidupan perkotaan di dua kota
tersebut memberikan energi positif dimana hal itu terbukti maju
pesatnya perkembangan dua kota tersebut di kawasan Asia.
Sementara dalam kasus cosmic city di Indonesia sendiri, hal
tersebut dapat ditemukan di Kota Yogyakarta yang bagi sebagian
orang disimbolkan sesuai dengan kota penuh ketentraman dan
kedamaian. Seperti yang telah diketahui bahwasannya Kota
Yogyakarta sendiri dibangun untuk mensinergiskan unsur kosmos
dari Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Malioboro, Kraton, Panggung
Krapyak, hingga ke arah selatan yakni Cepuri Parangkusumo yang
dipercaya sebagai gerbang Kraton Laut Selatan. Selain itu pula
keberadaan Kota Yogyakarta sendiri pernah dijadikan sebagai
ibukota RI sehingga turut memuat fakta bahwa pendekatan
kosmologi alam lebih dikedepankan dalam membangun suatu kota.
Dalam kasus kota Palangkaraya sendiri yang digadang sebagai
Ibukota RI sendiri sudah cukup ideal dengan master plan
pembangunan kota mengambil pola 20 km x 60 km (1200 km
persegi) yang sedikit lebih besar dari kota Jakarta yang berada di
rentang interval 800 1000 km persegi dengan tingkat densitas
penduduknya yang cukup padat yakni 1000 orang per 1 km. Perlu
kita ketahui bersama bahwa bangunan bangunan yang ada di Kota
Palangkaraya sendiri sedikit merunut pada pola kota kota Jawa
dimana terdapat bundaran besar yang berada di pusat kota yang
kemudian mengaglomerasikan beberapa kawasan di sekitarnya
sehingga mirip dengan jaring jaring laba laba. Soekarno berdalih
bahwa dengan pola berjaring tersebut maka akan semakin
merekatkan antar penduduk di dalamnya sehingga arus mobilisasi
barang dan jasa menjadi lancar.
150 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Tinggal Kenangan
Palangkaraya sendiri sebagai calon ibu kota ideal RI sirna
sendiri oleh penggagasnya dimana kebutuhan akan penyelenggaraan
event internasional dan menjaga status quo kelancaran arus barang
menjadi alasan dikesampingkannya Palangkaraya setelah terbitnya
UU No 10 tahun 1964 dan Penpres No 6 tahun 1959 yang
menetapkan Jakarta sebagai ibukota RI.
Oleh karena alasan pragmatis lebih dikedepankan daripada
idealis dimana Jakarta kian tumbuh tak terkendali dengan ledakan
penduduk yang maha dahsyat setiap tahunnya dengan segala
peliknya permasalahan urbannya yang menjadikan Jakarta sebagai
kota gagal. Barangkali inilah Jakarta dengan degradasi lahan, polusi
udara akut, banjir tak terkendali, sanitasi buruk, dan dosa lainnya
yang dibangun dan tanpa restu kosmologi alam.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP151
Lunturnya Semangat Keindonesiaan di Perbatasan
Polemik perbatasan Indonesia dan Malaysia kembali muncul
ke ranah publik yang ditandai dengan pencaplokan wilayah oleh
Malaysia di perbatasan Dusun Camar Bulan dan Tanjung Datu,
Sambas, Kalimantan Barat. Di daerah itu dilaporkan patok batas
wilayah Indonesia bergeser sekitar 3,3 kilometer. Akibatnya,
Indonesia berpotensi kehilangan wilayah seluas sekitar 1.500
hektare. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan sovereignity
Pemerintah Indonesia dalam menjaga kedaulatan perbatasannya
begitu lemah. Soverignity yang dimaksud di sini adalah daya
kememapuan negara untuk mensejahterakan penduduknya di
wilayah perbatasan. Terbukti bahwa kasus pergeseran patok batas
wilayah yang dilakukan oleh Malaysoa tersebut juga didukung oleh
masyarakat di Tanjung Datu. Masyarakat Tanjung Datu pun sudah
mulai jengah dengan identitas keindonesiaannua dan ingin berganti
kewarganegaraan Malaysia. Tentunya hal tersebut sangatlah ironis
bagi pemerintah sendiri mengingat semangat keindonesiaan di
wilayah perbatasan pun mulai meluntur.
Seperti yang dicontohkan dalam komunitas masyarakat di
Sintang maupun Nunukan ini lebih suka memasang bendera Jalur
Gemilang dibandingkan Merah Putih dengan memasang foto para
petinggi Malaysia dibandingkan Indonesia. Adapun masyarakat
Miangas kini lebih suka dipanggil sebagai orang Filipina
dibandingkan Indonesia karena akses menuju General Santos lebih
dekat daripada ke Manado. Sekelumit kisah diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa rendahnya minimnya perhatian pemerintah
kepada daerah perbatasan. Perbatasan negara merupakan manifestasi
utama kedaulatan wilayah suatu negara. Perbatasan suatu negara
mempunyai peranan penting dalam penentuan batas wilayah
kedaulatan, pemanfaatan sumber kekayaan alam, menjaga menjaga
152 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
keamanan dan keutuhan wilayah. Penentuan perbatasan negara
dalam banyak hal ditentukan oleh proses historis, politik, hukum
nasional dan internasional. Dalam konstitusi suatu negara sering
dicantumkan pula penentuan batas wilayah merupakan bentuk upaya
teritorialisasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk
menentukan kekuatan kedaulatannya. Namun yang terjadi kini
adalah, daerah perbatasan kini tidak merasakan kontrol negara
sehingga menjadikan wilayah perbatasan ini menjadi kurang
bermakna.
Pandangan Konservatif
Paradigma dimasa lalu bahwa kawasan perbatasan
merupakan kawasan yang perlu diawasi secara ketat karena menjadi
tempat persembunyian para pemberontak, mengakibatkan kawasan
perbatasan di beberapa dearah menjadi kurang tersentuh dinamika
pembangunan. Oleh karena itulah, pendekatan militer yang
cenderung represif maupun koersif acap kali dilakukan negara untuk
mendisiplinkan wilayah perbatasannya. Tentu saja apa yang
dilakukan negara adalah suatu blunder, mengingat hal itu sama saja
menjadikan masyarakat yang notabene masih menjadi warga negara
menjadi terpenjara oleh negara sendiri. Terpenjara dalam artian
masyarakat perbatasan merasa gerak-geriknya selalu diawasi negara
sehingga menjadikan masyarakat menjadi anti negara karena
perilaku antagonis negara. Sebagai konsekuensi logis, masyarakat
setempat menjadi berorientasi kepada negara tetangga. Sebaliknya,
negara tetangga begitu agresif dan progresif mengembangkan
kawasan perbatasan, sehingga menjadi sentra pertumbuhan bisnis
yang menggiurkan, yang secara langsung meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut tentu saja menimbulkan
semacam kecemburuan sosial bagi masyarakat yang bermukim di
wilayah perbatasan yang masuk Indonesia (Alfia, 2011).
Wasisto Raharjo Jati, S.IP153
Urusan pembangunan yang kini mernjadi paradigma baru
yang digunakan BNPP pun masih terbatas wacana dan retoris.
Realitanya mengatakan bahwa pembangunisasi tidak sesuai dengan
harapan penduduk. Kebutuhan pokok seperti halnya listrik, jalan,
transportasi, makanan, maupun kesehatan pun nyatanya dipasok dari
negeri tetangga, sementara negara sendiri tidak mampu berbuat
banyak. Maka yang terjadi adalah wilayah perbatasan sendiri identik
dengan sebutan daerah tertinggal, anak tiri, belum menjadi
Indonesia, wilayah purba maupun ungkapan satir lainnya
dikarenakan tata kelola manajemen kewilayahan negara sendiri yang
belum terkonsep dengan sangat baik.
Minimnya Dana
Dalam alokasi rencana aksi pengelolaan wilayah perbatasan
untuk tahun 2012 dianggarkan untuk melakukan pembangunisasi
mencapai Rp 4,3 triliun, namun ternyata baru 12 persen (Rp 699,5
miliar) yang terakomodir dalam rencana kerja kementerian dan
lembaga. K/L hanya mengalokasikan sekitar 0,5 persen dari total
usulan daerah atau sebesar Rp 293 miliar. Dana itu akan
didistribusikan kepaa daerah dalam bentuk dana dekonsentrasi dan
tugas pembantuan. Sementara itu, proporsi dana alokasi khusus
(DAK) bidang sarana dan prasarana kawasan perbatasan tahun 2012
berjumlah Rp 100 miliar atau hanya sekitar 0,5 persen dari total
DAK 2012 sebesar Rp 22 triliun. Minimnya anggaran tersebut
menjadikan wilayah perbatasan bak menjadi etalase buruk di mata
negara tetangga sehingga negara tetangga memandang sebelah mata
akan kedaulatan Indonesia. Maka kata pembangunan yang
berkelanjutan menjadi kunci bagaimana negara memperlakukan
secara manusiawi daerah perbatasannya.
Secara garis besar terdapat dua hal penting yang harus
dilakukan yaitu pembangunan daerah perbatasan dengan pendekatan
154 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
kesejahteraan (prosperity approach) untuk mengangkat taraf
kehidupan masyarakat setempat dan pendekatan keamanan (security
approach) yang diperlukan guna terciptanya stabilitas politik,
ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan sehingga
memungkinkan terwujudnya keserasian hidup berdampingan secara
damai dengan negara-negara tetangga di sepanjang daerah
perbatasan. Pendekatan kesejahteraan dapat berbentuk dengan
menjadikan daerah perbatasan sendiri menjadi pusat pertumbuhan
ekonomi baru dengan mendayagunakan potensi yang terdapat di
dalam wilayah perbatasan tersebut sehingga warga perbatasan tidak
perlu ke daerah negeri seberang untuk mencari sesuap nasi. Adapun
pendekatan keamanan dimaknai sebagai keamanan yang manusiawi
dalam artian kehadiran apparatus negara dimaknai sebagai hadirnya
agen pembangunan yang dikirm negara denga melakukan kerja fisik
membangun infrastruktur wilayah perbatasan di samping pula tetap
menjaga pertahanan dan keamanan negara. Maka jikalau kedua hal
itu dilaksanakan maka gejolak wilayah perbatasan akan redam
dengan sendirinya.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP155
Menyama Braya dan Multikulturalisme Indonesia
Sebuah pemandangan tak biasa hadir dalam kehidupan
keagamaan masyarakat Bali ketika hari besar agama Natal bagi umat
Nasrani dan Galungan/ Kuningan bagi umat Hindu di Bali hadir
secara bersamaan di penghujung tahun 2010 ini yakni kesibukan
para pecalang dari berbagai banjar dalam membantu pengamanan
persiapan misa natal di depan Gereja Bethel Indonesia di Denpasar.
Tak hanya pengamanan, akan tetapi juga dalam pengaturan parkir
sehingga memberikan kenyamanan bagi umat Nasrani untuk
merayakan hari besarnya. Tentunya potret tersebut hanyala
sedemikian kecil dari kultur menyama braya/ satu keluarga bagi
orang Bali baik Hindu maupun non Hindu yang merupakan
penjabaran nilai segalak, segilik, dan seguluk tentang menghargai
adanya multikulturalisme dalam masyarakat Bali dimana perbedaan
agama tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama.
Tentunya konsepsi tersebut seolah menjadi oase di saat
penjabaran Pancasila dan multikulturalisme di Indonesia telah
tereduksi dengan munculnya berbagai peristiwa kekerasan yang
mengatasnamakan agama yang mengakibatkan sikap chauvinisme
dalam memandang berbagai hal tidak sesuai dengan norma agama
mereka yang terjadi sepanjang 2010 ini. Perasaan saling curiga
mencurigai dan tindak anarkisme menjadi fenomena terbarukan
dalam masyarakat Indonesia sehingga berujung pada proses
disintegrasi bangsa. Realita di atas sebenarnya menjelaskan ada yang
salah dalam melihat penerapan semangat multikulturalisme
Indonesia.
Diskursus Multikulturalisme
Esensi dasar sebenarnya multikulturalisme sendiri adalah
proses saling mengerti dan memahami orang lain. Namun yang
156 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
terjadi dalam kasus Indonesia, multikulturalisme dipandang dari
perspektif lain. Dalam hal ini multikulturalisme dipandang sebagai
melting pot dimana seluruh keanakeragaman baik itu ras, agama,
budaya, maupun kearifan lokal dimasukkan dalam satu wadah besar
yang bernama Indonesia. Dari situ kemudian memnculkan
pemaknaan baru akan hadirnya satu budaya universal yang secara
artifisial dan abstrak mengikat semua anak bangsa menjadi Indonesia
dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Filsafat tersebut hanya
menjadi slogan tapi tidak pernah mewujud dalam teori ketata
negaraan, hubungan sosial maupun pranata sosial lainnya. Bahkan
pada zaman Soeharto pernah ada istilah seseorang belum menjadi
Indonesia, jika belum menjadi orang Jawa. Barangkali dikarenakan
terjadi ambiguitas dalam memaknai manusia Indonesia, pada
akhirnya orang Jawa sebagai budaya mayoritas dianggap representasi
budaya tunggal atas apa itu manusia Indonesia. Pada akhirnya
kemudian multikulturalisme sendiri kemudian dimaknai secara
sempit menjadi monokulturalisme yang disebut Indonesia.
Dalam tataran yang lebih luas seiring dengan massifnya
ideologi transnasional yang hadir di tengah masyarakat,
multikulturalisme yang sedemikian menjadi bom waktu ketika
semua orang berlomba ingin menjadi budaya mayoritas dalam
bingkai multikulturalisme Indonesia. Oleh karena itulah pada
akhirnya terjadi disparitas antara orang Indonesia sehingga konsepsi
the others (liyan) menjadi muncul dikarenakan tidak adanya
konsepsi universal yang mengikat semua orang akan tetapi masih
mengizinkan budaya askriptif mereka hidup dalam bingkai
keanekeragaman seperti halnya menyama braya di Bali. Pada
akhirnya kemudian, multikulturalisme merupakan konsep yang
masih asing bagi Indonesia, selain itu tidak bisa disamakan dengan
konsep keanekaragaman suku bangsa maupun kebudayaan suku
bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multi
Wasisto Raharjo Jati, S.IP157
kulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam
kesederajatan (Susvie, 2008). Keasingan tersebut menyebabkan
perbincangan mengenai multikulturalisme menjadi hal tabu untuk
dibicarakan masyarakat Indonesia dikarenakan selama ini belum ada
akomodisasi nilai dan norma bersama sehingga paradigma
individualistik menjadi dominan dalam masyarakat kini. Multi
kulturalisme sendiri kemudian hanya menjadi perbincangan
semiotika budaya semata dengan simbolisasi yang mencerminkan
realitas yang abstrak tanpa ada regulasi yang mengikat bersama
dalam level praksisnya di masyarakat luas.
Sementara Koentjaraningrat (1983) dalam pemikirannya
mengenai integrasi nasional, dikatakan menggunakan pendekatan
pluralisme budaya, dimana aneka ragam kebudayaan dianggap
sebagai kotak-kotak dengan isinya yang unik dan unsur-unsur yang
berbeda dan sama dari kebudayaan dilihat berdasarkan asas
komparatif dan lintas budaya agar bisa dibangun semacam
generalisasi. Maka generalisasi komparatif yang sedemikan namun
masih ada terdapat sekat sekat yang membatasi inilah yang terjadi
dalam konteks multikulturalisme Indonesia kini. Oleh karena itulah
seringkali, terjadi pergolakan dalam sekat tersebut dimana masing
masing pihak berusaha untuk memaksakan kehendaknya kepada
orang lain. Hal inilah yang seringkali menyertai Indonesia menjadi
sebuah bangsa ketika berbagai daerah bergejolak agar warisan
keistimewaan kebudayaannya diakui dalam kehidupan berbangsa
dan berbudaya Indonesia dalam kurun waktu terakhir.
Multikulturalisme sendiri dapat dipahami dalam pemahaman cultural
pluralism dipopulerkan oleh Horace Kallen. Berbeda dengan melting
pot yang melelehkan budaya asal dalam membangun budaya baru
yang dibangun dalam keragaman, cultural pluralism tidak
menghilangkan budaya askriptif namun diakomodir dan
diasimilasikan dalam budaya baru. Secara lebih luas sikap
158 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
akomodatif tersebut ditunjukkan dengan menciptakan dua ruang
dalam budaya baru yakni ruang untuk mengekspresikan budaya
mereka tanpa diganggu oleh siapapun dan menyalurkan segala ide
ide mereka dalam budaya baru yang diciptakan secara bersama
sama tersebut. Pola negosiasi multikulturalisme menjadi hal yang
urgen dan signifikan dalam menjembatani adanya perbedaan dalam
pola cara pandang memahami suatu permasalahan tertentu.
Maka menyama braya yang hadir dalam perayaan Natal
2010 ini bisa jadi menjadi contoh konkrit dimana multikulturalisme
ini dibangun ketika semua orang Bali diikat dalam nilai bersama.
Bisa jadi diskursus mengenai multikulturalisme Indonesia bisa
dimulai dari melihat nilai menyama braya ini ketika semua orang
duduk bersama dan bekerja sama satu sama lain dalam budaya baru
yang akomodatif.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP159
Orang Pintar di Indonesia tidak Dihargai
Orang pintar tidak dihargai di negeri ini. Begitulah ungkapan
spontanitas yang saya ucapkan begitu membaca headlines Harian
Kompas pada 27 Oktober 2011 mengenai nasib ilmuwan Indonesia
yang minim perhatian dari pemerintah. Padahal dalam era globalisasi
yang kian kompetitif ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan dukungan sumber daya manusia ilmuwan yang
handal merupakan asset yang berharga bagi setiap negara utamanya
negara berkembang dalam menghadapi hegemoni pengetahuan
ilmuwan negara maju.
Dalam satu dekade terakhir ini, kita menyaksikan kemunculan
negara berkembang yang dimotori China, Brazil, maupun India yang
mampu menjadi pionir ilmu pengetahuan di kalangan negara
berkembang. Sebut saja, dalam bidang bioteknologi kini kemajuan
telah dicapai oleh China, Brazil, India, maupun Kuba. Dalam bidang
pengembangan ilmu angkasa luar dan rekayasa nuklir, dunia telah
melihat China pada tahun 2005 telah mampu meluncurkan pesawat
ruang angkasa Shenzen 1 dengan membawa Li Huaifeng sebagai
taikonot pertama China dan menempatkan China sebagai negara
ketiga yang menguasai teknologi angkasa luar. Belakangan Iran pun
tidak mau kalah dengan mandiri meluncurkan roket satelit angkasa
luarnya Sharjah pada 2010 silam. Pakistan, India, maupun Mesir kini
mengalami kemajuan berarti dalam pengembangan nanoteknologi
dengan mengembangkan kawasan Silicon Valley di negerinya
masing-masing. Adapun di kawasan Asia Tenggara sendiri,
Indonesia kalah dengan Malaysia, Thailand, maupun Vietnam dalam
pengembangan ilmu kedokteran dan biomedis tropikal.
Tentunya melihat sesama negara berkembang, pemerintah
Indonesia seharusnya malu dan introspeksi diri untuk terus
meningkatkan perkembangan kemajuan pengetahuan dan teknologi.
160 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Sangatlah ironis kini yang terjadi di Indonesia adalah fenomena
brain drains (ilmuwan yang lari ke luar negeri) karena pemerintah
terlalu sibuk dengan urusan pencitraan politik ketimbang mengurusi
ilmuwan yang seharusnya lebih diperhatikan daripada politikus.
Brain Gains Policy
Salah satu kesuksesan para negara berkembang tersebut
dalam kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
adalah menelurkan kebijakan yang disebut sebagai Brain Grains
Policy. Kebijakan ini adalah membuat jaringan global ilmuwan
dalam negeri yang terdiaspora di luar negeri untuk dimanfaatkan
hasil karyanya di luar negeri untuk dikembangkan di dalam negeri
(Umar Anggara, 2007). Adapun pionir kebijakan ini dimotori oleh
India pada tahun 2002 yang melihat potensi ilmuwan sebagai
penggerak ekonomi nasional. India percaya bahwa dalam era
globalisasi ini berlaku hukum brains circulation yang artinya
ilmuwan yang menonjol akan selalu mencari tempat yang kondusif
agar dia bisa melakukan penelitiannya dengan baik. Banyaknya
insinyur India yang bekerja di Intel Corps maupun IBM menjadi
sasaran utama dalam kebijakan tersebut dimana mereka akan diberi
reward sebesar 15-30 juta rupee jika mau ikut berpartisipasi dalam
pengembangan Bangalore sebagai kawasan Silicon Valley nya. Maka
dunia sendiri pun kini menyaksikan kawasan Bangalore sendiri tidak
seperti Palo Alto di Amerika Serikat yang kini memproduksi chip
komputer yang dihasilkan anak muda India.
Tetangga India, Pakistan pun lebih gila lagi dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekalipun negara
tersebut tersandera perang faksi Taliban dengan militer dalam satu
dekade terakhir. Revolusi Pakistan dimulai dari inisiasi Atthaur
Rahman selaku Menteri Pendidikan pada tahun 2000 untuk
merombak kebijakan pendidikan domestic. Kebijakan yang dikenal
Wasisto Raharjo Jati, S.IP161
sebagai The Pakistani Miracle tersebut memuat berbagai kebijakan
yang menguntungkan perkembangan pengetahuan dan teknologi.
Sebut saja anggaran pendidikan nasional yang naik 100 % dan
diikuti kenaikan 50 % tiap tahunnya, kenaikan biaya riset ilmuwan
Pakistan yang mencapai angka 6000 %, serta gaji seorang ilmuwan
yang harus 4 x gaji seorang menteri dan presiden (Rahman, 2000).
Lebih lanjut, dukungan pemerintah terhadap perkembangan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi amatlah penting terutama
dari segi pembiayaan anggaran negara. Dalam laporan Research
Development towards GDP Allocation pada tahun 2005-2010
menyebutkan bahwa share anggaran Indonesia terhadap
perkembangan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi amatlah minim sekali hanya berkisar di angka 0,1 hingga
0,25 tiap tahunnya dari neraca APBN. Dalam laporan tersebut pula
menyatakan bahwa Indonesia berada di posisi buncit dalam
pelaporan tersebut. Rata- rata anggaran riset pengetahuan di negara
kawasan Asia sudah menyentuh angka 1 % bahkan 3 %. Sebut saja
India sebesar 1 %, Taiwan 2,2 %, Singapura 2,2 %, China 1,4 %,
Thailand dan Malaysia kini mencapai 1,5 % tiap tahunnya. Dengan
dukungan pemerintah sedemikian kuat ditambah dengan fasilitas
penunjang yang memadai untuk ilmuwan melakukan riset ilmiah.
Wajar saja, apabila di Indonesia kini banyak ilmuwannya yang kini
lebh suka melanjutkan riset dan mengabdi bagi negera lainnya.
Artinya bahwa fenomena brain drains di Indonesia sudah
sedemikian akut karena tiap tahunnya hampir 100-150 orang peneliti
Indonesia berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan risetnya
daripada di dalam negeri hanya dimarjinalkan oleh pemerintahnya.
Maka, pemerintah Indonesia perlu menyadari bahwa
ilmuwan serta kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi merupakan satu paket untuk membawa Indonesia menuju
ke dalam lingkup negara maju. Sikap pemerintah yang reaktif
162 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
keesokan harinya begitu Harian Kompas memberitakannya pada 27
Oktober 2011 adalah cerminan bahwa pemerintah sendiri tidak
mempunyai minat yang cukup kuat untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pemerintah Indonesia sekiranya perlu
mencontoh dengan apa yang dilakukan oleh China, India, Pakistan
maupun Malaysia dalam menelurkan kebijakan yang afirmatif
terhadap kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
sehingga Indonesia tidak selalu dicemooh sebagai bangsa TKI.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP163
Polemik Jurnal Ilmiah Bagi Calon Sarjana
Tantangan mahasiswa Indonesia untuk lulus dari universitas
kini semakin besar. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan Dirjen
Dikti yang tertera dalam surat keputusan Kemendikbud
No.152/E/T/2012 tertanggal 27 Januari 2012 mengenai publikasi
karya ilmiah. Dalam surat yang ditujukan kepada seluruh Rektor
PTN/PTS seluruh Indonesia tersebut, Dikti mensyaratkan adanya
ketentuan tambahan untuk lulus wisuda bagi mahasiswa baik di level
sarjana maupun pasca sarjana yakni menghasilkan makalah yang
diterbitkan menjadi jurnal ilmiah. Selengkapnya surat keputusan
tersebut memuat berbagai macam persyaratan antara lain untuk lulus
progam S1 harus menghasilkan makalah yang terbit dalam jurnal
ilmiah, lulus progam S2 harus menerbitkan makalah yang terbit pada
jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi Dikti, dan lulus progam S3
diwajibkan membuat makalah yang diterima pada penerbitan jurnal
ilmiah internasional. Adapun alasan yang dikemukakan oleh Dikti
adalah mengejar produktivitas jurnal ilmiah berbagai universitas di
Indonesia yang hanya sepertujuh dari produktivitas jurnal ilmiah
universitas di Malaysia.
Tentu sah sah saja apabila Dikti serius untuk meningkatkan
produktivitas jurnal ilmiah demi meningkatkan parameter kualitas
keilmuan untuk menaikkan peringkat universitas di Indonesia untuk
mencapai 10 besar di level Asia maupun 50 besar di level dunia.
Namun, pembebanan mahasiswa khususnya di level sarjana untuk
menghasilkan produk jurnal ilmiah patut menjadi perhatian
tersendiri. Hal tersebut dikarenakan akan mempunyai implikasi yang
meluas bagi kalangan mahasiswa S1 utamanya bagi mereka yang
tidak terbiasa untuk menulis makalah dengan standar ilmiah ketat
sebagaimana yang disyaratkan oleh suatu redaksi jurnal ilmiah
tertentu. Dikarenakan tidak semua mahasiswa S1 setelah lulus nanti
164 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
akan bekerja menjadi akademisi sehingga kemampuan menulis
mahasiswa S1 sendiri beragam. Ibarat seperti anak tangga keilmuan,
kajian akademik mahasiswa S1 masih dalam lingkup dasar untuk
mempelajari teori dan mengkaitkannya dengan praktik di lapangan.
Oleh karena itulah, dalam setiap penugasan penulisan paper
mahasiswa S1 sendiri acap kali ditemui pemaksaan teori untuk
melihat suatu realita di lapangan. Hal ini tentunya masih dianggap
wajar, karena mahasiswa S1 sebenarnya merupakan transisi tradisi
akademik dari level SMA menuju universitas sehingga mereka
sebenarnya baru dalam tataran belajar menulis karya ilmiah. Oleh
karena itulah standar ilmiah mahasiswa S1 sendiri masih berada
dalam semangat dasar anti plagiarisme dengan menekankan basis
dasar menulis dengan menyertakan footnote, bodynote, dan daftar
pustaka. Hal ini jelas sangatlah berbeda apabila disandingkan dengan
mahasiswa pasca sarjana yang umumnya telah digembleng melalui
berbagai macam serangkaian pelatihan penulisan ilmiah karena
lingkup pasca sarjana sendiri sudah berada dalam level membangun /
mengkritisi teori dengan pendekatan praktik lapangan dan membuat
teori sebagai wujud pengembangan ilmu yang mereka pelajari. Oleh
karena itulah paper mahasiswa pasca sarjana sendiri lebih berbobot
dibandingkan mahasiswa sarjana kalau dikaitkan dengan produksi
makalah sebagai jurnal ilmiah.
Hegemoni Penulis
Tantangan lain yang dihadapi oleh mahasiswa S1 dalam
menembuskan makalahnya ke penerbitan jurnal ilmiah adalah
menghadapi hegemoni penulis. Adapun hegemoni penulis yang
dimaksudkan dosen, peneliti, maupun akademisi ternama yang
terbiasa mencatutkan namanya dalam publikasi jurnal ilmiah
populer. Tentunya nama mereka sendiri lebih kredibel dibandingkan
mahasiswa S1 apabila mengirimkan makalah ke redaksi jurnal ilmiah
Wasisto Raharjo Jati, S.IP165
populer sehingga kian mempersulit posisi tawar mahasiswa S1 dalam
menembuskan tulisannya untuk menjadi jurnal ilmiah. Tentunya
sangatlah absurd, apabila mahasiswa S1 yang notabene masih
penulis pemula disandingkan untuk berkompetisi dengan penulis
kawakan seperti halnya Vedi R Hadiz yang terbiasa menulis di jurnal
Prisma, Ikrar Nusa Bhakti yang terbiasa menulis di Jurnal Penelitian
Politik, maupun Terry Mart yang handal di jurnal fisika. Belum lagi,
TOR (term of reference) yang disyaratkan oleh suatu redaksi jurnal
ilmiah sendiri belum tentu sama dengan minat penulisan mahasiswa
S1 jika dipaksakan akan mengurangi derajat akademik jurnal ilmiah
itu sendiri. Berbagai hal itulah yang biasanya diantisipasi oleh
redaksi jurnal ilmiah tertentu dengan menyingkirkan tulisan makalah
mahasiswa S1.
Hal lain yang bertambah pelik adalah ketidakseimbangan
antara jumlah mahasiswa dengan jumlah penerbit jurnal ilmiah yang
ada. Data LIPI pada tahun 2011 mengatakan terdapat sekitar 75.000
mahasiswa S1 yang lulus tiap tahunnya sedangkan jumlah penerbitan
jurnal ilmiah sendiri baru 2100 jurnal ilmiah. Jumlah yang tidak
imbang pada nantinya akan membuat banyak karya mahasiswa S1
sendiri tidak termuat oleh jurnal ilmiah. Bahkan bisa jadi kebijakan
Dikti tersebut menjadi ladang korupsi bagi oknum oknum tertentu
dengan membuat jurnal fiktif dengan memanfaatkan dana hibah dari
Dikti. Maka bisa dikatakan, kebijakan penerbitan karya ilmiah ini
dilematis antara meningkatkan kualitas pendidikan sementara SDM
mahasiswa belum terbentuk iklim penulisan ilmiah yang baik. Oleh
karena itulah Dikti janganlah latah dengan secara otoriter
mengeluarkan kebijakan tanpa melihat riil lapangan.
Saya menyarankan kepada Dikti agar memberikan ruang
jurnal tersendiri yang khusus menampung tulisan mahasiswa yang
diakreditasi oleh Dikti. Daripada jurnal, alangkah baiknya bila
menulis untuk working paper terlebih dahulu karena working paper
166 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
sendiri lebih mudah dikerjakan. Usul lainnya yang saya kemukakan
adalah dengan mengkonversi skripsi sarjana menjadi jurnal ilmiah
yang tentunya lebih relevan untuk menanggulangi kegelisahan dan
gejolak mahasiswa paska tahun kelulusan Agustus 2012. Semoga
usulan saya ini bisa diterima dan dipertimbangkan oleh Dikti agar
kebijakan menulis jurnal ilmiah ini tidak menjadi polemik
berkepanjangan di kalangan internal mahasiswa.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP167
Pornografi dan Degradasi Moralitas
Definisi pornografi sangatlah luas cakupannya meliputi
gambar, tulisan, video, maupun media lainnya. Perdebatan mengenai
pornografi juga belum usai karena substansinya yang bisa
menyinggung pada kebebasan berekpresi seni budaya, sosial
kemasyarakatan, maupun ajaran agama. Dalam menyikapi hal
tersebut, tulisan ini tidak akan membawa pada pembentukan sikap
pro kontra mengenai pornografi maupun bentuk pembelaan kepada
pemerintah perihal pembentukan satgas pornografi. Akan tetapi,
marilah kita melihat secara faktual mengenai bahaya pornografi
utamanya persebaran melalui internet yang telah menjadi ancaman
laten terpuruknya moralitas bangsa terutama
Pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia setiap tahunnya
mengalami kenaikan 56,2 juta orang setiap tahunnya yang
menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar pengakses internet
ketiga di Asia setelah China dan India. Umumnya pengguna Internet
Indonesia adalah usia produktif yakni terbanyak dari usia 14-30
tahun (55,4%) diikuti 35-40 tahun (15,5%) dan 31-34 tahun
(14,72%) yang sebagian besar mengakses situs hiburan dan
informasi. Rinciannya ialah situs hiburan yang dimaksud situs
pornografi (80%), situs gaya hidup (10%), situs musik (10%).
Pornografi memang banyak diakses oleh usia produktif sehingga
menempatkan Indonesia dalam 10 besar negara pengakses situs
pornografi terbesar di dunia dari tahun 2005 berada di peringkat 7,
2007 peringkat 5, dan 2011 peringkat 3 di dunia. Besarnya minat
kaum muda utamanya anak usia sekolah umur 12-18 tahun untuk
mengakses situs porno karena rasa penasaran dan keingintahuan
yang tinggi. Adapun terbentuknya rasa keingintahuan di kalangan
anak sekolah merupakan bentuk pelarian diri karena mereka tidak
memperoleh informasi pendidikan seksual yang mencukupi dari
168 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
lingkungan sekolah dan keluarga. Bagi orang Indonesia, mengenai
pendidikan seksual masih dianggap tabu untuk dibicarakan dalam
pergaulan dan memvonis sebagai sesuatu yang berdosa. Oleh karena
itulah, internet merupakan media alternatif untuk menyalurkan hasrat
keingintahunnya tersebut tanpa ada filter sosial sehingga
mengakibatkan menjadi kecanduan. Terbentuk sikap kecanduan
tersebut berkorelasi peningkatan jumlah situs porno dari tahun 2000
hingga 2007. Data tahun 2000 menyebutkan terdapat sekitar 28.000
situs porno, dan pada tahun 2006 terjadi kenaikan sebanyak 100.000
situs porno. Pada tahun 2007 terjadi lagi peningkatan sekitar 1,3
milliar situs porno di seluruh dunia yang terdapat di internet.
Sedangkan di Indonesia sendiri jumlah situs porno nasional
meningkat dari 22.100 situs pada tahun 1997 menjadi 280.000 situs
pada tahun 2000 atau melonjak 10 kali banyak dalam kurun waktu
tiga tahun. Diketahui setiap detiknya 28.258 orang Indonesia melihat
tayangan pornografi di internet berupa gambar dan film. Sampai saat
ini jumlah situs porno baik nasional maupun global di internet telah
mencapai 4,2 juta situs. Data KPAI (2011) menyebutkan 89%
chatting remaja bermaterikan seksual. Rata-rata pengaksesnya
berusia 11 tahun. Sedangkan 80%nya berusia 15-25 tahun telah biasa
mengakses situs pornografi hardcore atau adegan hubungan intim
yang memperlihatkan alat kelamin. Lebih parah lagi data tersebut
juga menyebutkan 90% pengaksesan situs pornografi dilakukan saat
belajar.
Persebaran pornografi lewat internet meyuburkan perilaku
seks pranikah di kalangan remaja Indonesia setiap tahunnya
mengalami peningkatan 15 %. Dorongan untuk melakukan seks
pranikah biasanya sekedar coba coba dan dorongan negatif dari
temannya supaya dianggap telah dewasa. Adanya perilaku seks
pranikah remaja usia sekolah bisa dikatakan merata di seluruh
Indonesia. Survey yang dilakukan Pusat Kajian Perlindungan Anak
Wasisto Raharjo Jati, S.IP169
(PKPA) tahun 2011 kepada 450 remaja dari Jakarta, Bandung,
Surabaya dan Medan mengungkapkan 64% remaja di kota - kota
mengakui secara sadar bahwa melakukan hubungan seks sebelum
menikah. Hal tersebut juga diperkuat oleh temuan Damayanti (2011)
bahwa sebanyak 97 persen siswa SMP/SMA 12 kota besar di
Indonesia mengaku pernah melakukan hubungan seksual baik oral
maupun intim. Merebaknya perilaku seks pranikah berdampak pada
kasus pemerkosaan perempuan yang mengalami peningkatan dari 60
kasus selama 2010 menjadi 68 kasus sepanjang 2011 atau naik 13,3
persen. Oleh karena itulah melalui terbentuknya satgas pornografi,
penulis berhadap pada tindakan dan dukungan pemerintah dan
masyarakat untuk mereduksi persebaran pornografi dunia maya
dengan pemberian filter yang lebih kuat lagi karena filter yang
sekarang ini bisa ditembus dengan proxy. Selain itu pula, pemberian
pendidikan seks secara komprehensif juga penting bagi kalangan
usia sekolah supaya mereka menerima informasi tersebut dengan
bijak.
~~
170 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
RUU Pendidikan Tinggi Bermasalah
Secara historis, kehidupan pembelajaran pendidikan tinggi di
berbagai kampus Indonesia baik negeri maupun swasta tidak pernah
terlepas dari intervensi pola pengaturan oleh negara. Pada tahun
1970-an, pemerintah Orde Baru melalui Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Daoed Joesoef mengeluarkan kebijakan NKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus) yang bertujuan untuk
menghentikan sikap skeptis dan kritis mahasiswa terhadap jalannya
pemerintahan Orde Baru dengan membubarkan semua organisasi
kemahasiswaan baik internal maupun eksternal yang kemudian
disatukan dalam satu wadah bernama Senat Akademik Universitas
yang langsung dibawah kendali Mendikbud. Kebijakan NKK
maupun pembentukan Senat Akademik Universitas secara langsung
melakukan depolitisasi kampus dengan mengajak mahasiswa
menghentikan sikap idealisme dan berpikir pragmatis hanya belajar,
lulus cepat, wisuda, dan mendapatkan pekerjaan. Belum lagi, hal
tersebut ditambah dengan pemaksaan ideologi bagi mahasiswa
dengan adanya penataran P4 dalam ujian saringan perguruan tinggi
dimana mahasiswa diwajibkan menghafal setiap bait teks P4
tersebut. Adapun pada era reformasi sekarang ini, perilaku
intervensionisme negara terhadap kampus boleh dibilang lebih parah
karena sudah melibatkan aktor asing dan logika kapitalisme sudah
merajut dalam sendi pembelajaran kurikulum pendidikan. Tentunya,
Kita masih ingat bagaimana pemerintah memaksakan kampus negeri
maupun swasta harus membiayai operasionalisasi KBM di kampus
dengan melepaskan fungsi subsidi alokasi anggaran melalui UU
BHMN yang kemudian digugat itu. Status badan hukum yang
disematkan kepada kampus sendiri mensimbolikkan bahwa kampus
sudah layaknya korporasi terselubung dimana PT (Perguruan Tinggi)
berganti makna menjadi Perseroan Tinggi. Maka jika sudah
Wasisto Raharjo Jati, S.IP171
demikian, kita sudahi dan rekonstruksi ulang saja makna Tri Dharma
Pendidikan Tinggi yang selama ini menjadi dogma pendidikan tinggi
Indonesia yakni Penelitian, Pendidikan, dan Pengabdian Kepada
Masyarakat menjadi Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada
yang Mbayar. Hal itu konkrit dan menegaskan PTN dan PTS
sebagaimana yang diatur RUU PT menjadi jelas bahwa Universitas
bukan lagi lembaga nirlaba akan tetapi lembaga profit oriented.
Intervensionisme Pendidikan
Adanya rancangan UU Pendidikan Tinggi yang akan
disahkan DPR ini boleh dibilang merupakan NKK Jilid 2 dimana
indepedensi kampus dalam melakukan fungsinya dalam penelitian
dan pendidikan sudah diawasi oleh Mendikbud. RUU PT sudah
cukup tegas terdapat pasal-pasal subversif yang dinilai mengacaukan
sistem pendidikan kampus. Pasal 9 ayat 2 dan ayat 4 maupun pasal
16 ayat 3 dalam rancangan UU PT yang mengatakan bahwa Menteri
berhak tahu dan awas terhadap kebebasan berpendapat dan perpikir
dalam mimbar akademik yang dilakukan secara terbuka dan
bertanggung jawab. Keberadaan menteri selaku wakil pemerintah
dalam mengurusi hal-hal teknis dan teknokratik itu saja sudah
kontradiktif karena itu sudah menjadi urusan kampus yang
bersangkutan. Hal ini sama saja, menteri bertindak subjektif terhadap
pemilahan ilmu pengetahuan yang dinilai tidak membahayakan
pemerintah. Sama saja, pihak universitas dipasung gerak-gerik
kakinya dan tidak bisa bertindak inovatif dan kreatif dalam
menghasilkan produk pengetahuan yang bermutu dan berguna bagi
masyarakat.
Adapun pasal 20 terdiri 6 ayat maupun pasal 32 yang berisi 3
ayat bahwa menteri berhak mengevaluasi dang mengawasi
pendidikan tinggi kampus dalam menjalankan Tri Dharma
Pendidikan maupun dalam upaya menjalin kerjasama penelitian
172 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
dengan pihak ketiga yakni dunia usaha dan dunia industri. Pasal ini
bisa dikatakan hipokrit dan slapstik mengingat pemerintah
melepaskan fungsi pembiayaan pendidikan melalui otonomi kampus
dalam mencari sumber mandiri. Sama saja pemerintah menjilat
ludahnya sendiri karena kampus sudah terlunta-lunta mencari
sumber mandiri karena pemerintah pelit, dana yang sudah didapat
pun masih harus dievaluasi pemerintah agar ditentukan kadar
penerimaan dan pengeluarannya disesuaikan oleh pihak pemerintah.
Sekarang ini saja, mau kuliah di PTN dan PTS saja sudah
mengerenyitkan dahi orang tua melihat besaran SPMA yang tidak
logis untuk sekedar mendapat titel sarjana maupun diploma.
Menaikkan digit angka sumbangan SPMA merupakan modus
kontemporer bagi PTN/ PTS untuk mencari dana mandiri sejak
subsidi dicabut. Imbasnya kemudian hanya sosialista kelas
menengah atas saja yang berhak kuliah, sementara yang miskin
dimarjinalkan dari arena tersebut. Hal yang perlu untuk disoroti
secara tegas adalah longgarnya dan lemahnya regulasi terhadap
keberadaan lembaga pendidikan tinggi asing yang terus melakukan
ekspansi ke Indonesia. Dimensi yang kentara dari ekspansi tersebut
adalah makna pendidikan tinggi di kampus kini sudah layaknya
industri waralaba yang saban tahunnya mencetak sarjana siap jadi
tanpa ada kejelasan masa depannya. logika business oriented
semakin semerbak dimana PTN/ PTS dihadapkan pada persaingan
tinggi dengan PT Asing yang konon katanya akan meningkatkan
mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Jika susbtansi utama RUU PT itu meningkatkan kualitas
pendidikan tinggi di Indonesia, maka tak usahlah ada intervensi
pemerintah maupun kompetisi dengan PT Asing. Pemerintah perlu
untuk menggenjot dana hibah yang besar kepada kampus untuk
melaksanakan tugasnya seperti yang termaktub dalam Tri Dharma
Pendidikan Tinggi. Biarkan kampus mengelola tata laksana KBM-
Wasisto Raharjo Jati, S.IP173
nya sendiri tanpa direcoki pemerintah. Kampus lebih tahu dan paham
bagaimana caranya meningkatkan kualitas pendidikan daripada
pemerintah.
~~
174 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Mudik Sebagai Ritus Budaya Universal
Menjelang hari raya Idul Fitri yang tinggal menghitung hari,
kegiatan mudik menjadi tradisi tak terelakkan bagi masyarakat
Indonesia. Tak peduli akan kesusahan antri panjang dalam mencari
tiket alat transportasi, berdesakkan menghadapi berjubelnya
kemacetan kendaraan di jalan raya, maupun menghadapi terik panas
matahari ketika puasa ramadhan seolah tidak menghalangi niat
masyarakat Indonesia untuk kembali ke kampung halamannya di
desa. Realita yang sedemikian mengindikasikan bahwa kebutuhan
mudik seolah menjadi ritus budaya yang khas dalam konteks sosio
kultural masyarakat Indonesia. Mudik merupakan drama sirkulasi
budaya kehidupan manusia Indonesia untuk kembali lagi ke titik
awal setelah bergulat melawan kerasnya kehidupan urban. Di
kampung halaman, selalu saja ada romantisasi bagi masyarakat
Indonesia untuk mengenang masa lalunya di kampung halaman
Ketika seseorang pergi jauh merantau, berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun tahun lamanya. Terkhusus bagi masyarakat urban,
mudik merupakan faktor simultan gejolak batiniah bagi seseorang
kerinduan akan kampung halaman. Teringat kasih-sayang yang tak
terhingga dari orang tua dan juga saudara-saudaranya. Imajinasi akan
masa-masa indah ketika bermain di desa dengan kawan-kawan
seperjuangan, dan berbagai pengalaman jenaka lainnya. Maka mudik
inilah dijadikan sebagai momentum tepat untuk melepas semua
kerinduan itu, sekaligus melanjutkan silaturahim yang sekian lama
telah terputus. Ketika lebaran tiba, Masyarakat Indonesia pun akan
mengisi ceruk penentram kebatiniannya dengan beranjangsana ke
tempat tempat yang dulu pernah mengisi memori kehidupannya
ketika masa kecil
Wasisto Raharjo Jati, S.IP175
Dialektika Kehidupan
Dilihat dari kacamata historisitas, tradisi mudik bukanlah
hanya milik masyarakat muslim Indonesia semata akan tetapi telah
menjadi tradisi universalitas. Mudik merupakan potret dialektika
budaya yang sudah berlangsung berabad-abad. Dalam konteks tradisi
masyarakat Indonesia Hindu Buddha, mudik dimaknai sebagai upaya
bakti ucapan syukur seseorang yang ditujukan kepada sesepuh
maupun dewa setelah selama setahun berkarya di perantauan. Oleh
karena itulah, ziarah ke pekuburan maupun memberi uang kepada
saudaranya merupakan bentuk syukur kepada dewa (Umar Kayam,
2002). Setelah Islam masuk, mudik kemudian bergeser sebagai
tradisi menjelang hari raya Idul Fitri untuk memperkuat kembali tali
silaturahmi yang telah lama dijalin. Namun terlepas dari konteks
keagamaan, mudik adalah episode tersendiri dalam kehidupan
manusia untuk berbagi kesenangan dan duka cita kepada sesama
serta melepas identitas individualisme, materialisme, maupun
egoisme yang acap kali menjadi menu keseharian dalam masyarakat
urban.
Adapun proses dialektis tersebut, mudik juga mengajarkan
kembali manusia untuk menjadi makhluk sosial, gotong royong,
maupun rukun kepada sesama. Pemudik merindukan nilai-nilai
kebersamaan alamiah yang jarang lagi mereka temui di kota, karena
ketatnya persaingan memburu status maupun prestise. Di sinilah ada
benang merah yang dapat ditarik, mengapa keinginan pemudik untuk
mengenang sejarah masa lalunya ketika hari lebaran itu tiba. Ada
proses penyadaran maupun nostalgia kebudayaan yang tersimpan
dalam mudik lebaran yakni sebagai ajang introspeksi dan
perenungan diri manusia akan apa yang telah dilakukannya selama
hidup ini. Kata maaf yang terucap apabila bertemu sanak saudara
maupun teman-temannya di masa kecil merupakan bentuk ungkapan
tulus seseorang akan pengakuan salahnya di masa lalu dan untuk
176 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
kembali menjadi insan yang lebih baik di masa depan. Momentum
apologis itulah yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh masyarakat
ketika musim mudik tiba. Seperti halnya mengumpulkan tulang yang
berserakan, momentum mudik maupun lebaran mengkreasi memori
emosional manusia sehingga suasana haru, kangen, maupun senang
bercampur aduk dalam relung hati manusia manakala melihat
saudaranya kembali lagi ke rumah
Di berbagai negara, mudik pun juga sedemikian halnya yang
terjadi di Indonesia untuk kembali ke kampung halaman. Masyarakat
China sendiri akan menjalankan mudik menjelang Imlek,
Masyarakat Jepang menjalankan mudik ketika Peringatan Hari Obon
tiba di pertengahan Agustus, maupun Masyarakat Malaysia yang
menjalani tradisi balik raya ketika lebaran itu tiba. Mudik
kemudian menjadi arena universalitas yang tidak mengenal sekat
negara, agama, ras, maupun demografis. Intinya adalah mudik
dijalankan sebagai bentuk syukur kepada sang Pencipta maupun
berbagai kesenangan kepada sesamanya dengan membagi-bagikan
rezeki. Mudik kemudian menjadi parameter diri bagi manusia untuk
mengaktulisasikan menjadi makhluk sosial yang berempati kepada
sesamanya.
Mudik menyimpan pesan konkret dan dalam yang mengajak
manusia untuk membumi lagi menjadi figur yang bersahaja dan
sosial. Untuk itu, marilah jadikan mudik ini sebagai ajang
perenungan bersama bagi masyarakat Indonesia untuk meraih
kehidupan yang lebih baik lagi di masa mendatang. Selamat Mudik
Raya 2011.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP177
Kekerasan dan Minoritisasi Masyarakat
Marginalisasi dan diskriminasi masih mewarnai dalam
konstelasi relasi negara dan masyarakat pada era sekarang ini. Hal itu
terjadi dikarenakan negara bukanlah entitas yang netral, melainkan
merupakan dari perwujudan dari representasi kelas yang mengatur
segala bentuk perilaku masyarakatnya. Perilaku negara yang
sedemikian hegemonik tersebut tentunya bisa jadi akan menciderai
semangat multikulturalisme sebagai bentuk pengakuan negara atas
eksistensi masyarakatnya. Maka implikasi yang timbul adalah
perilaku resistensi yang berujung pada aksi kekerasan dan
radikalisme dari masyarakat yang marak terjadi belakangan ini.
Tercatat bahwa, dalam rentang 2004-2011 telah terjadi
peningkatan kasus kekerasan dari sekitar 2310 kasus meningkat
menjadi 5670 kasus atau meningkat 38,7 % pada setiap tahunnya.
Hasil investigasi yang dilakukan oleh tim LBH mengatakan bahwa
mayoritas terjadi dikarenakan sulitnya aksesbilitas untuk
memperoleh pelayanan publik dan redistribusi sumber daya baik
politik maupun ekonomi yang tidak setara antara negara dengan
masyarakat. Negara yang seharusnya menjadi tempat bernaung bagi
masyarakat bawah, justru berbalik melakukan kolonialisasi terhadap
masyarakat entah itu dengan produk regulasi maupun perundangan
tertentu. Adapun regulasi dan perundangan tersebut banyak sekali
memuat unsurunsur diskriminasi dan marginalisasi bagi masyarakat
seperti halnya SKB Tiga Menteri tentang ajaran sesat, UU
Pornografi, UU Rahasia Negara, UU Tenaga Kerja, dan lain
sebagainya. Negara selama ini selalu memaksakan rasionalitas
tunggalnya kepada masyarakat dengan cara mendefinsikan berbagai
item yang harus dipatuhi dan dilarang kepada masyarakat. Padahal,
belum tentu berbagai definisi yang dipaksakan negara selaras dengan
norma perilaku masyarakat.
178 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Banyak Definisi
Disadari atau tidak, muncul berbagai definisi istiliah yang
sejatinya mendiskreditkan masyarakatnya mulai dari sesat/ tidak
sesat, terbelakang/ modern, beradab/ tidak beradab, waria/ pria
wanita, dibina/ tidak dibina, normal/ tidak normal, warga negara/ non
warga negara yang kesemuanya mengindikasikan bahwa negara
melakukan segregasi sosial kepada masyarakatnya. Sebagai contoh,
hingga saat ini banyak komunitas masyarakat pedalaman yang ada di
Kalimantan, Sumatera, Papua, dan Jawa belum mempunyai KTP
sebagai bukti sahih mereka diakui oleh negara, dikarenakan mereka
tidak mematuhi negara untuk memilih salah satu dari enam agama
yang diwajibkan dipeluk oleh masyarakat. Bagi komunitas
masyarakat pedalaman tersebut, mereka telah memiliki agama
sendiri yang berasal dari warisan budaya sendiri sehingga tidak perlu
memeluk agama yang disodorkan pemerintah. Adapun dimensi
agama yang didefinisikan negara adalah mempunyai tempat ibadah,
kitab suci, nabi, dan simbol lainnya sehingga bisa tervisualisasikan,
sehingga kalau ada agama lain yang melenceng dari definisi negara
tersebut maka akan disebut sebagai bukan agama. Oleh karena itulah,
bagi komunitas pedalaman yang tetap memeluk agama versi
mereka, mereka akan dilabel sesat dan terbelakang sehingga
mengakibatkan mereka sangat kesulitan untuk mengakses pelayanan
publik dari negara karena dianggap bukan warga negara. Selain itu
pula, negara juga merecoki berbagai bentuk pemikiran pemikiran
agama yang sekiranya tidak sesuai dengan yang distandarkan oleh
pemerintah. Adanya standarisasi tersebut sangatlah janggal dalam
beragama karena beragama sendiri memiliki konskuensi pemahaman
berbeda mengenai konten substansi agama yang dipeluknya. Hal ini
tentu saja sangatlah unik dan parodi bagi Indonesia yang mengklaim
dirinya sebagai negara demokrasi dan majemuk karena secara tidak
langsung negara membelenggu salah satu kebebasan hakiki manusia
Wasisto Raharjo Jati, S.IP179
untuk berhubungan dengan Tuhan. Negara selama ini selalu bekerja
dalam nalar modernisasi untuk melakukan civilisasi kepada
masyarakatnya sehingga berusaha mereduksi elemen tradisional
yang justru menjadi halangan bagi negara untuk melakukan
pemberadaban kepada masyarakat. oleh karena itu, pembentukan
identitas diri yang seharusnya merupakan domain pribadi
masyarakat, justru dihadapkan pada rambu rambu standar yang
diberlakukan oleh negara.
Maka akibat banyaknya definisi yang dilakukan negara
mengakibatkan adanya minoritisasi dalam masyarakat itu sendiri.
Minoritisasi tersebut berpangkal dari ketidakadilan yang dialami
masyarakat sehingga mengakibatkan kemiskinan struktural yang
menyebabkan masyarakat ini mudah disulut untuk melakukan
kekerasan dan disusupi oleh ideologisasi radikal dan ekstrem untuk
melakukan usaha perlawanan kepada negara. Minoritisasi pula yang
mengakibatkan radikalisasi masyarakat untuk mendapatkan
kesetaraan redistribusi sumber daya politik dan ekonomi yang
seimbang dari negara.
Solusi
Oleh karena itulah, negara harus mulai berpikir ulang untuk
memeriksa berbagai standarisasi dan pendefinisian tunggal yang
selama ini diterapkan kepada masyarakatnya karena munculnya
berbagai aksi radikalisasi dan kekerasan yang terjadi dalam
masyarakat secara tidak langsung berasal dari rasionalitas tunggal
yang coba dipaksakan oleh negara. Negara juga harus berpikir ulang
untuk tidak lagi menempatkan masyarakat sebagai subordinasi
melainkan sebagai koordinasi dimana negara dan masyarakat
merupakan entitas dalam relasi yang setara dan seimbang.
~~
180 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Rezim Fatalis Bencana
Serangkaian bencana yang melanda negeri ini, mulai gempa
bumi, tanah longsor, kebakaran, sampai banjir di Wasior,Teluk
Wondama, Papua, tak segera membuat pemerintah paham akan
rentannya negeri ini terhadap bencana alam. Setidaknya, dalam sudut
pandang pemerintah, bencana alam merupakan fenomena yang
terjadi karena kehendak alam, sehingga manusia seakan lemah
terhadap takdir Tuhan tersebut. Adapun pemetaan bencana yang
dilakukan Badan Mitigasi Bencana menyebutkan bahwa hampir 83
persen wilayah Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam,
yang seharusnya membentuk kesadaran bersama masyarakat, terlebih
lagi negara, dalam pola menghadapi bencana alam, yang akan datang
sewaktu-waktu. Namun yang terjadi di Indonesia kebalikannya.
Di sini bencana alam belumlah menjadi isu publik (daily
politic) dalam masyarakat, dan negara mempersepsikan bahwa
bencana adalah kejadian yang tidak terduga sehingga tidak ada pola
preventif dalam penanggulangan bencana alam di Indonesia dan
sering kali kalang kabut bilamana bencana itu benar-benar terjadi.
Masyarakat akan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan dari
negara, sementara negara sendiri juga mempunyai limitasi dalam
menangani bencana, sehingga muncullah pandangan bahwa cara
negara (state way) merupakan satu-satunya solusi dalam penanganan
bencana. Hal ini bisa terlihat dari regimitas dan uniformisasi pola
penanggulangan bencana yang terjadi di setiap daerah, yang mana
pola pemberian bantuan bencana dipastikan seragam dalam setiap
bencana yang terjadi bersifat ad hoc, yakni mi instan, selimut, tenda,
susu, dan air bersih.
Padahal bencana di satu daerah dengan yang lain tentunya
sangat berbeda, sehingga diperlukan pola penanggulangan yang
berbeda pula, sehingga dampak bencana dapat diminimalkan. Maka
Wasisto Raharjo Jati, S.IP181
dalam hal ini perlu diselidiki watak rezim negara dalam penanganan
bencana yang memiliki paradigma tersendiri dalam melihat bencana
sebagai apakah bencana itu dimaknai sebagai bencana alam (natural
disaster) ataukah bencana hasil kreasi manusia (manufactured
(disaster) akibat dikotomi ini, akan terlihat pola kebijakan yang akan
diambil negara dalam penanganan bencana.
Fatalist regime
Dalam setiap kejadian bencana alam yang terjadi di
Indonesia, akan sangat terlihat bahwa bantuan bencana dari negara
ke daerah bencana akan melewati tenggat, yakni empat hari,
seminggu, bahkan sebulan, bergantung pada medan yang ditempuh,
sementara masyarakat akan sangat memiliki ketergantungan yang
tinggi terhadap bantuan negara. Pola fatalistik itulah yang kemudian,
bila dibingkai dari kacamata cultural theory, lazim disebut sebagai
fatalist regime (Alice Underwood, 2009). Ditambahkan pula oleh
David Ingram (2009) bahwa fatalist regime melihat bencana sebagai
fenomena alam yang tidak terprediksi dan tak terkendali, sehingga
masyarakat memiliki sikap pasrah dan nrimo seandainya bencana itu
terjadi. Dalam konteks ini, masyarakat tidak memiliki instrumen
pengetahuan (knowledge) dalam bencana sebagai sesuatu yang laten
yang suatu saat bisa terjadi.
Pola pembiaran akan pengetahuan tentang bencana sebagai
hal tidak terduga bisa dilihat dalam berbagai hal. Sebagai contoh,
dalam tata ruang daerah, daerah sabuk hijau yang dikhususkan untuk
kawasan konservoir air dan hutan maupun untuk filterisasi udara,
juga bantaran sungai yang dikhususkan untuk menjaga ekosistem
alam, malah digunakan sebagai kawasan permukiman penduduk dan
kawasan bisnis. Selain itu, dalam konstruksi bangunan Indonesia,
hampir sebagian bangunan tidak didesain tahan gempa dan bencana,
serta tidak disiapkannya infrastruktur yang memadai sebagai tempat
182 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
penampungan sementara di setiap daerah seandainya terjadi bencana.
Mayoritas masyarakat masih mengasumsikan lingkungannya
merupakan lingkungan yang normal, sehingga melakukan
pembiaranterhadap bencana. Maka, ketika bencana itu datang
sebagai sesuatu yang abnormal, masyarakat akan sangat kalang kabut
menghadapinya. Padahal, bila dianalisis lebih dalam, bencana
tersebut terjadi karena ulah manusia itu sendiri (manufactured risk),
bukan fenomena alam, sehingga sangatlah tidak tepat seandainya
selama ini bencana diidentikkan sebagai bencana alam (natural
disaster). Sementara itu, dari segi pemerintah, karakter fatalis
tersebut bisa ditinjau dari ketidaksiapannegara dalam menghadapi
bencana.
Sebagai contoh, dalam Undang- Undang Nomor 14 Tahun
2007 diamanatkan bahwa setidaknya negara harus membangun
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di setiap
provinsi, namun yang selesai baru 17 provinsi. Artinya, selama ini
negara memposisikan bencana hanya terjadi di beberapa provinsi
tersebut sesuai dengan pemetaan bencana nasional. Karena itu, bila
bencana besar terjadi di luar beberapa provinsi tersebut, akan sangat
terlihat negara memiliki tingkat responsibilitas yang rendah dan baru
sampai pada level reaktif pasif. Negara tidak berani mendeklarasikan
diri sebagai negara bencana, sehingga pendidikan bencana menjadi
sangat penting kepada masyarakatnya, seperti halnya jalur evakuasi
bencana dan pelatihan/simulasi bencana. Bencana masih dianggap
sebagai sesuatu yang masih abu-abu, sehingga pos anggaran
mengenai bencana masih menempati porsi yang sangat kecil. Hal ini
sangatlah berbeda dengan Jepangmaupun negara Skandinavia
lainnya, di mana mereka mendeklarasikan diri sebagai negeri
bencana. Jepang sangat sadar posisinya sebagai negara yang
memiliki kejadian gempa berpuluh, bahkan ratusan kali dalam
sehari, sehingga Jepang memberikan pendidikan bencana yang
Wasisto Raharjo Jati, S.IP183
sangat massif dan membentuk departemen tersendiri dalam
penanganan bencana yang langsung bertanggung jawab kepada
perdana menteri.
Selain itu, Jepang menjadikan bencana sebagai isu publik
dan mengajarkan bencana sebagai bagian dari kehidupan mereka
yang tak dapat terelakkan. Karena itu, investasi Jepang di bidang
bencana, seperti early warning system, sangatlah maju, khususnya
menyangkut teknologinya. Maka, seandainya bencana besar (hazard)
itu terjadi, baik pemerintah maupun masyarakat akan siap
menghadapinya. Dalam kasus Indonesia, polanya masih sangat
parsial, di mana setiap daerah memiliki manajemen yang berbeda,
sehingga pola penanggulangan bencananya tidak terkoordinasi
dengan baik oleh antar-pihak. Karena itulah, baik pemerintah
maupun negara mulai saat ini harus berani mendeklarasikan diri
sebagai negeri bencana, yang mulai mengajarkan bahwa bencana
merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat terelakkan,
sehingga pola fatalistikdalam penanganan bencana Indonesia akan
tereduksi.
~~
184 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Menyoal Sistem Jaminan Sosial
Belum selesainya pembahasan DPR dan pemerintah
mengenai pengesahan UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS)
sebagai amanat dari UU Jaminan Sosial dalam berbagai rapat
paripurna mengindikasikan bahwa negara dihadapkan pada persoalan
serius dalam menemukan model formulasi sistem jaminan sosial hak
dasar warga negara yang tepat untuk diterapkan pada sistem jaminan
sosialnya. Adapun hal itu terjadi lantaran negara secara internal
mengalami perdebatan ideologis yang belumlah selesai antara kubu
yang menghendaki negara bertanggung jawab penuh atas pemenuhan
hak dasar dengan kubu yang menginginkan negara menarik diri dari
arena tersebut dengan memercayakan mekanisme swasta untuk
melakukan fungsi pelayanan negara dalam pemenuhan hak
dasarwarga negara.
Akibatnya yang timbul adalah pelayanan hak dasar warga
negara seperti halnya pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial
lainnya menjadi rancu dan dilematis karena negara masih terbelit
persoalan denganpendefi nisian kesejahteraan itu sendiri. Oleh
karena itu, hingga kini negara masih meniru-tiru model sistem
jaminan sosial negara lainnya sehingga mengakibatkan negara
sendiri tidak jelas dalam menentukan arah sistem jaminan sosialnya,
sehingga mengakibatkan dekadensi kualitas pemenuhan jaminan
sosial warga negara. Hal itu dapat diindikasikan dari semakin
menurunnya buruh sebagai peserta Jamsostek, dari sebelumnya 78,9
persen menurun menjadi 47 persen sejak 2004 dikarenakan sistem
Jamsostek tidaklah komprehensif dalam memenuhi tunjangan sosial
buruh. Selain itu, angkanya yang masih begitu kecil dan tidak
sepadan risiko kerja yang ditanggung buruh (Smeru, 2008).
Kasus lainnya dalam dekadensi pemenuhan jaminan sosial
dapat dilihat dari semakin tingginya angka gizi buruk dan ibu hamil
Wasisto Raharjo Jati, S.IP185
yang naik 10 persen sejak 2007, dan tingginya angka putus sekolah
di luar Jawa yang angkanya kini telah mencapai 56,7 persen.
Berbagai indikator sebenarnya ingin menjelaskan bahwa negara
sendiri masih setengah hati dalam memberikan jaminan sosial bagi
warga negaranya. Sikap setengah hati tersebut bersumber pada posisi
negara yang masih bingung dalam memosisikan dirinya dalam
pemenuhan jaminan sosial warga negaranya. Terdapat tiga model
posisi negara dalam pemenuhan jaminan sosialnya, yakni
universalis, korporatis, dan residual (Esping-Andersen, 1990). Model
universalis mengasumsikan bahwa negara harus memberikan
pemenuhan jaminan sosial seperti halnya pendidikan, kesehatan,
maupun asuransi sosial secara gratis. Namun, negara akan
dihadapkan pada persoalan resistensi para pembayar pajak
dikarenakan model universalis mengharuskan pajak progresif dan
persoalan pendapatan per kapita negara yang belum siap. Model
sistem jaminan sosial korporatis menyediakan asuransi sebagai
skema pembiayaan jaminan sosial, namun mayoritas warga negara
Indonesia sendiri masih enggan membayar premi asuransi yang
begitu tinggi. Model residual dengan mensyaratkan standar
minimum dalam pemenuhan jaminan sosial yang selama ini menjadi
kiblat sistem jaminan sosialindonesia, selama ini juga mengalami
permasalahan serius karena warga negara Indonesia sendiri masih
mengalami kastanisasi jaminan sosial yang berujung pada
diskriminasi dalam hal pelayanan publik.
Kastanisasi jaminan sosial sendiri mengakibatkan warga
negara Indonesia tidak memiliki akses yang sama dalam pemenuhan
jaminan sosialnya. Adapun persoalan aksesbilitas jaminan sosial
menjadi persoalan serius dikarenakan negara masih melakukan
sentralisasi pusat jaminan sosial yang hanya terdapat di pusat
perekonomian maupun pusat administratif saja, sehingga
menyusahkan bagi warga negara yang tinggal jauh dari pusat
186 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
keramaian untuk menikmati jaminan sosial. Hal itulah yang kini
lazim terjadi luar Jawa di mana masyarakat yang tinggal di
pedalaman hutan maupun pulau terpencil, harus bersusah payah
dengan menaiki alat transportasi menuju ibu kota kecamatan maupun
kabupaten/ kota dalam waktu berhari-hari. Bagi warga di Kabupaten
Biak Numfor maupun Kabupaten Halmahera di Indonesia Timur
sekiranya dapat dijadikan contoh, begitu susahnya mereka untuk
memeriksa kesehatan dan bersekolah harus menempuh lautan dalam
jangka waktu 3-5 jam hanya untuk mencapai puskesmas maupun
sekolah yang hanya terdapat di ibu kota kecamatan terdekat. Itu pun
pelayanan jaminan sosial yang mereka dapatkan hanya minimal dan
kurang komprehensif karena jika mereka ingin mendapatkan
pelayanan lengkap harus menaiki pesawat yang ongkosnya jauh
lebih mahal menuju ibu kota provinsi, baik itu di Jayapura maupun
Sorong. Disparitas infrastruktur begitu jelas mewarnai sistem
jaminan sosial di negara ini dikarenakan watak sentralistis yang
masih terwarisi sejak zaman Orde Baru. Otonomi daerah yang
sekiranya digadang-gadang mampu menghadirkan sistem jaminan
sosial yang baik kepada warga di aras lokal, justru menjadi
kebalikannnya karena porsi APBD untuk belanja sosial hanya 20
persen, selebihnya untuk membayar belanja pegawai meliputi
pembayaran gaji maupun tunjangan lainnya.
Pengesahan UU
Negara perlu segera merumuskan pemenuhan jaminan sosial
yang sesuai dengan karakter bangsa sehingga orientasi sistem
jaminan sosial nantinya akan sesuai dengan karakter dan kapasitas
negara. Adapun untuk saat ini, pengesahan UU BPJS merupakan hal
yang urgen dan signifi kan sebagai payung hukum yang kuat dalam
pemenuhan jaminan sosial bagi warga negaranya. BPJS yang
nantinya akan mengawasi secara keseluruhan proses penjaminan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP187
sosial bagi warga negaranya sehingga persoalan kastanisasi di antara
warga negara dapat tereduksi. Namun, sekiranya pemerintah juga
mulai melakukan desentralisasi pusat jaminan sosial hingga ke
daerah pelosok disertai dengan peningkatan kualitas pelayanan dan
infrastruktur lainnya yang setara dengan apa yang didapatkan
penduduk di pusat keramaian maupun pusat administrative sehingga
tidak akan lagi diskriminasi jaminan sosial bagi seluruh warga
negara Indonesia.
~~
188 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Teror Ujian Nasional
Mulai pekan ini, sebanyak 10,4 juta siswa menengah di
seluruh Indonesia menghadapi momentum penting ujian nasional
(UN), 18-21 April 2011. Tentunya menghadapi ujian nasional
tersebut, para siswa sempat mengalami tekanan psikis yang sangat
kuat antara tuntutan lulus dengan nilai yang baik atau siap-siap
menerima gunjingan sosial dari lingkungan kemasyarakatan apabila
tidak lulus UN. Melihat dilema tersebut, UN dengan segala indikator
kelulusannya sendiri justru menjadi teror bagi para siswa yang
menghadapinya. Adapun teror sendiri tidak hanya dialami oleh para
siswa, tetapi para guru sekolah pun juga mengalami kecemasan yang
luar biasa karena angka kelulusan siswa mereka dalam UN, kini
menjadi indikator sosial yang begitu kuat bagi para orangtua maupun
dinas pendidikan terkait untuk menilai kualitas pembelajaran di
sekolah bersangkutan.
Jika mampu meluluskan siswanya hingga 100% akan
menimbulkan stigma positif bagi dinas maupun masyarakat.
Sebaliknya jika terdapat satu atau beberapa siswa yang gagal lulus
UN maka nama baik sekolah yang menjadi taruhannya. Kuatnya
stigmatisasi UN tersebut sendiri secara tidak langsung telah
mengubah tujuan pendidikan luhur Indonesia yang sebelumnya
untuk membangun pendidikan yang berkarakter menjadi
membangun pendidikan yang pragmatis. Pragmatisme yang
dimaksud adalah cara menghalalkan segala cara yang dilakukan oleh
siswa maupun guru untuk lulus UN, entah itu dengan membocorkan
soal ujian UN maupun melalui aksi kecurangan lainnya. Walaupun
pemerintah mengklaim bahwa angka kecurangan kelulusan UN 2011
sendiri dapat diminimalisir dari 57 kasus pada UN 2010 menjadi 0
pada tahun ini.
Yang jelas, aksi kecurangan tersebut tetap akan muncul,
Wasisto Raharjo Jati, S.IP189
entah pemberitaan itu terekspos maupun tidak terekspos oleh media.
Oleh karena itulah, sejatinya, penyelenggaraan UN sendiri sejatinya
kurang memenuhi rasa keadilan maupun kemanusiaan yang dialami
oleh guru maupun siswa. Adapun rasa keadilan yang dimaksud
adalah bagaimana mungkin hasil belajar siswa selama 3 tahun ini
hanya ditentukan dalam hitungan waktu 120 menit dengan 5 kode
soal yang berbeda. Selain itu pula, bagaimana bisa kualitas belajar
siswa luar Jawa disetarakan dengan siswa Jawa yang umumnya telah
lengkap dengan berbagai fasilitas UN melalui standarisasi UN yang
umumnya sangatJawa-sentris? Pemerintah sendiri secara langsung
telah melanggar ketetapan Mahkamah Agung tahun 2009 tentang
pelarangan UN karena efek psikologis yang ditimbulkannya.
Pemerintah justru tidak bertobat untuk memperbaiki sistem UN yang
selama ini dinggap menyimpang dari tujuan luhur pendidikan
Indonesia. Malah justru pemerintah melanggengkan sistem UN tanpa
ada perbaikan sama sekali. Dalam hal ini, seharusnya pemerintah
jangan latah untuk melakukan standarisasi UN secara nasional
apabila belum bisa
Diskriminasi Pendidikan
UN merupakan wujud diskriminasi pendidikan karena UN
sendiri secara tidak langsung mengabaikan proses belajar yang
ditempuh siswa selama 3 tahun. Pengabaian tersebut dapat
terindikasi dari proporsi angka kelulusan yang ditentukan dari 60%
nilai UAN dan 40% nilai UAS (ujian akhir sekolah). Walaupun
sebenarnya para siswa sendiri dapat berharap pada nilai UAS 40%
dari hasil rekayasa sekolah untuk menyulap nilai sekolah keseharian
mereka dalam buku besar pendidikan sehingga menjadi nilai baik di
ijazah mereka. Akan tetapi, tetap saja UN menjadi indikator
kelulusan utama bagi para siswa. Maka, implikasi yang timbul ke
depannya adalah diskriminasi ijazah yang akan diterima oleh para
190 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
siswa pada akhir tahun ajaran 2010-2011 pada Juni mendatang. Akan
sangatlah terlihat ekspresi berbeda di antara para siswa yang lulus
dari UN.
Mereka akan menerima dua ijazah, yakni Surat Keterangan
Lulus Hasil Ujian Nasional (SKHUN) dan Surat Tanda Tamat
Belajar (STTB). Sementara bagi yang tidak lulus hanya akan
menerima Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) saja. Efek psikologis
dan traumatik yang sangat besar tentu saja akan berada di pundak
siswa yang tidak lulus UN karena mereka nanti tidak akan bisa
meneruskan pendidikan di PTN karena prasyarat SKHUN menjadi
indikator utama ketimbang STTB dan mereka juga tidak bisa bekerja
di sektor formal. Maka, pilihannya bagi mereka yang tidak lulus
adalah mengulang lagi di kelas XII sembari menutup malu kepada
adik kelasnya. Mereka juga bisa mengikuti ujian kesetaraan Paket C,
namun ijazah Paket C sendiri masih diperdebatkan apakah setara
ijazah UN atau tidak. Malah bahkan memilih menikah dini dan
melakukan aksi bunuh diri akibat tak kuat menutupi aib akibat
gunjingan sosial psikologis dalam lingkungan.
Oleh karena itulah, UN yang dalam versi pemerintah untuk
meningkatkan kualitas pendidikan manusia Indonesia malah
berpotensi bisa menjadi aksi teror yang menakutkan. Ini mengingat
efek ganda yang ditimbulkannya, tanpa ada solusi perbaikan sistem
UN tersebut. Maka, solusi dalam perbaikan sistem UN tersebut dapat
dimulai dengan standarisasi pendidikan secara menyeluruh dengan
menyediakan infrastruktur pendidikan yang setara dan sederajat
antara siswa Jawa dan luar Jawa. Karena, selama ini penyelenggaran
UN tidak diiringi perbaikan menyediakan infrastruktur pendidikan
yang sama. Akibatnya, angka kelulusan UN siswa luar Jawa selalu
lebih rendah daripada luar Jawa. Ke depan perlu dipikirkan untuk
memilih instrumen evaluasi akhir pendidikan yang lebih baik
daripada UN yang selama ini sarat dengan aura diskriminasi.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP191
Quo Vadis Ulama Sebagai Nabi Sosial
Peran ulama mulai dipertanyakan seiring dengan
merebaknya kasus konflik keagamaan yang baru-baru ini terjadi di
berbagai tempat. Mulai dari kerusuhan Sampang pada 26 Agustus
2012, konflik tempat peribadatan di Jawa Barat, hingga yang
terbarukan adalah bangkitnya bahaya laten terorisme berbasis
fundamentalisme garis keras yang kini mulai menunjukkan tajinya di
Solo, 1 September 2012. Berbagai kasus kekerasan agama tersebut
dipicu oleh perdebatan teologis keagamaan yang kemudian
berkembang dalam skala masif melibatkan masyarakat luas. Perilaku
klaim-mengklaim mencari pembenaran absurd menjadi pemicu
konflik keagamaan tersebut yang anehnya ulama justru berada di
balik itu semua.
Mengenai kasus Sampang yang kini terjadi, para ulama
bukannya berperan sebagai pengikat bagi umat yang tercerai berai,
malah kini kian terkotak-kotakan secara politis oleh mahzab
keagamaan. Fatwa aliran sesat yang dikeluarkan ulama kini
menjadi legitimasi teologis untuk melakukan pemberangusan
penganut Islam lain yang beda mahzab. Sesat atau tidak sesat, itu
merupakan persoalan hakiki antara hubungan manusia dan Tuhan
secara langsung sehingga tidak perlu diperdebatkan dalam ruang
publik. Apalagi Islam secara jelas mengajarkan pluralitas dalam
keagamaan baik dari Alquran, yakni QS Al-Kafiirun ayat 7 yang
berbunyi bagimu agamamu, bagiku agamaku maupun QS Al-
Hujurat ayat 13 yang berbunyi Manusia oleh Allah SWT diciptakan
secara berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal dan
menghargai satu sama lain. Hadis Nabi juga menerangkan Islam
akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya yang berpegang
Alquran dan Hadis yang selamat di dunia dan akhirat. Lalu mengapa
semua itu dilanggar oleh umat Islam sendiri dengan mengatas-
192 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
namakan Alquran dan Hadis? Di manakah peran ulama selama ini?
Reposisi Ulama
Ulama seharusnya menjadi aktor yang bertanggung jawab
atas segala kerusuhan keagamaan yang baru-baru ini terjadi karena
ulama memegang kekuasaan teologis yang seharusnya menyadarkan
dan mengembalikan umat kepada jalan yang lurus. Ulama yang
merupakan waratsatul al anbiya (pewaris para nabi) memiliki
keistimewaan (karamah) dari Tuhan berfungsi sebagai nabi sosial
yang bertugas sebagai filter dan penerjemah masalah sosial bagi
masyarakat dalam menyelesaikan persoalannya.
Konteks ulama sebagai nabi sosial berarti mengharuskan
ulama menjaga situasi kondusif atas kehidupan kemasyarakatan
maupun keagamaan, serta sebagai penjaga moral sosial untuk
mengendalikan pengaruh negatif dari luar supaya tidak merusak
tatanan harmonisasi umat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Persoalan fikih dan syariah maupun beda mahzab tidak perlu
dipersoalkan bagi ulama sejati yang memerankan perannya sebagai
nabi sosial secara mutlak, karena itu merupakan persoalan profan
yang tidak perlu dibuka dalam relasi sosio kultural. Ulama sebagai
nabi sosial hanya cukup menerjemahkan fikih dan syariah tersebut
dalam perilaku keseharian sehingga menjadi teladan bagi umat.
Namun ulama sebagai nabi sosial itu masa lalu karena
pascareformasi kini konteks sosial menjadi nabi politik. Terjunnya
ulama ke arena politik yang tujuan awalnya menghapus perilaku
berpolitik negatif kini malah kian terseret pada arus politik tersebut.
Alhasil, ulama kini tidak menjadi nabi sosial bagi semua golongan
melainkan menjadi nabi bagi golongan politik tertentu saja.
Terseretnya ulama dalam arus politik kini kian merenggangkan
hubungannya dengan umat sehingga menjadikan umat tercerai berai
mengikuti afiliasi politik yang dijalankan ulama. Mahzab keagamaan
Wasisto Raharjo Jati, S.IP193
pun diangkat dalam relasi sosio kultural dan menjadi kian
terpolitisasi dengan menjelma sebagai bagian dari politik identitas
entitas tertentu sehingga memunculkan perilaku fundamentalisme
keagamaan. Berbagai mahzab keagamaan kini saling berlomba
dalam arena kekuasaan teologis masyarakat untuk menjadi yang
nomor satu.
Akibatnya, jika ada komunitas teologis masyarakat yang
berbeda mahzab akan diperangi dan mengislamkan masyarakat
tersebut sesuai dengan mahzabnya. Adapun dakwah-dakwah yang
disampaikan oleh ulama saat ini juga banyak tersimpan muatan-
muatan politisnya daripada mengajak umat lebih beriman dan
bertakwa kepada Tuhan. Kini ulama pun kian beragam jenisnya
mulai dari ulama Sunni, ulama Syiah, ulama Muhammadiyah, ulama
NU, ulama Ahmadiyah, maupun ulama lainnya yang cenderung
mengedepankan entitasnya sebagai ulama organisasi daripada ulama
bagi keseluruhan umat Islam. Akibatnya riak-riak kecil tersebut
berkembang dalam skala masif sehingga merembet ke persoalan
fikih dan syariah sehingga memunculkan perilaku justifikasi
pembenaran bagi ajaran keagamaan yang dianutnya. Jika sudah
sedemikian adanya, ke mana lagi masyarakat mendapat pencerahan
agama yang hakiki kalau ulama yang bertitel pewaris para nabi saja
sudah terkontaminasi politik. Berarti hal tersebut membuktikan
ulama gagal dalam menjalankan perannya sebagai nabi sosial karena
melakukan pembiaran atas berbagai pengaruh negatif luar kian
menggerogoti benteng moral teologis masyarakat. Munculnya Islam
garis keras karena hubungan ulama dan umara kian merenggang dari
waktu ke waktu karena ulama sibuk berpolitik sehingga umat kini
mencari alternatif lainnya yang bisa menjelaskan masalah sosial
yang dihadapinya. Maka dalam hal ini, saya mengajak kepada para
ulama untuk kembali kepada khittah-nya sebagai nabi sosial
sebagaimana gelar yang disandangnya, yakni pewaris para nabi.
194 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
Konsekuensi pewaris para nabi ialah ulama harus menjadi penerang
bagi umat dan menjaga pluralitas dalam beragama. Ulama sebagai
makelar budaya seharusnya lebih berada dalam ruang sosio teologis
maupun sosio kultural, dan bukan di arena sosio politik yang malah
justru mensekulerkan jubah ulama menjadi jubah politikus.
~~
Wasisto Raharjo Jati, S.IP195
SUMBER NASKAH
1. Deideologisasi Pancasila & Neo-Politik Aliran (Sinar
Harapan, 3 Desember 2012)
2. Demokrasi Biaya Tinggi (Waspada, 23 Juni 2012)
3. Desakralisasi Gedung DPR (Sinar Haparan, 18 Januari 2012)
4. Opini Media Dinasti Politik (Banjarmasin Post, 29
November 2012)
5. Gejolak Desentralisasi Papua (Waspada, 16 November 2011)
6. Ilusi Pemberantasan Korupsi (Bali Post, 20 Maret 2012)
7. Keterbatasan Emansipasi Politik Perempuan (Koran
TEMPO, 21 April 2011)
8. Posisi Wakil Menteri Rawan Dipolitisasi (Suara Karya,13
Juni 2012)
9. Prospek Politik Perempuan pada Pemilu 2014 (Media
Indonesia 17 April 2013)
10. Pesona Caleg Artis 2014 (Sinar Harapan 27 April 2013)
11. Korupsi dan Semiotika Tikus (Radar Jogja, 23 Februari
2012)
12. Media Tersandera Partai Politik (Banjarmasin Post, 20
Oktober 2011)
13. Menakar Arti Negara Gagal (Suara Karya, 5 Juli 2012)
14. Partai Politik Islam dan Populisme Islam (Sinar Harapan, 22
Oktober 2012)
15. Partai Politik dan Ekonomi Perkoncoan (Republik, 17
September 2011)
16. Patronase Kaum Tua pada Pemilu 2014 (Bali Post, 27
November 2012)
17. Politik Calo Anggaran (Luwuk Post, 15November 2010)
18. Reshuffle dan Penyanderaan Politik (Republika, 10 Oktober
2011)
196 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
19. Haruskan Presiden dari Jawa ? (Banjarmasin Post, 23 Mei
2012)
20. Quo Vadis Reformasi Birokrasi (Radar Jogja, 5 Mei 2012
21. Biarkan Klub Sepakbola Mandiri (Banjarmasin Post, 1 Juni
2011
22. Wajah Kelembagaan Negara (Koran Jakarta, 14 Juli 2011)
23. Dilema Industri Strategis (Waspada, 11 November 2010)
24. Globalisasi Gerus Pertanian Indonesia (Tribun Timur)
25. Kutukan Sumber Daya Minyak (Radar Jogja, 31 Maret
2012)
26. Melawan Mitos Globalisasi (15 Desember 2011)
27. Pembangunan Gerus Kearifan Lokal (KOMPAS, 20 April
2011)
28. Pembatasan BBM & Diversifikasi Energi (Banjarmasin Post,
8 Desember 2010)
29. Pertahanan atau Ketahanan Pangan (Media Indonesia, 20
Oktober 2012)
30. Polemik Tata Niaga Beras (Banjarmasin Post, 15 Januari
2011)
31. Perkeretapiaan dan Toll Trans Jawa (KOMPAS, 7 Oktober
2011)
32. Hilangnya Kedaulatan Energi di Indonesia (Banjarmasin
Post, 28 Februari 2012)
33. Tragedi Hubungan Industrial Tripartit (Suluh Indonesia, 24
November 2010)
34. Hentikan Monopoli Air (Republika, 7 September 2011)
35. Wajah Gizi Indonesia (Koran Jakarta, 13 Januari 2011)
36. Belajar dari Jepang (Koran Jakarta, 15 Maret 2011)
37. Karut Marut Sistem Transportasi (Sinar Harapan, 16
Februari 2012)
Wasisto Raharjo Jati, S.IP197
38. Islam, Terorisme, dan Orientalisme Barat (Waspada, 6
Oktober 2011)
39. Jakarta Butuh Pemimpin Visioner (Suara Pembaruan, 20
Maret 2012)
40. Kapitalisasi Pendidikan Indonesia (Koran Jakarta, 31 Januari
2011)
41. Kearifan Mbah Maridjan (Koran Jakarta, 3 November 2010)
42. Kosmologi Ibukota RI (Surya, 10 Agustus 2011)
43. Lunturnya Semangat Keindonesiaan di Perbatasan (Waspda,
19 Oktober 2011)
44. Menyama Braya & Multikulturalisme Indonesia (Suluh
Indonesia 29 Desember 2010)
45. Orang Pintar Indonesia tidak Dihargai (Banjarmasin Post, 2
November 2011)
46. Polemik Jurnal Ilmiah bagi Calon Sarjana (Banjarmasin
Post, 13 Februari 2012)
47. Pornografi dan Degradasi Moral Bangsa (Swara Kita, 1 Mei
2012)
48. RUU Pendidikan Tinggi Bermasalah (Media Indonesia, 14
Juli 2012)
49. Mudik sebagai Ritus Budaya Universal (Koran Jakarta, 1
September 2012)
50. Kekerasan dan Minoritisasi Masyarakat (Harian Pelita, 11
Mei 2011)
51. Rezim Fatalis Bencana (Koran TEMPO, 26 Oktober 2010)
52. Menyoal Sistem Jaminan Sosial (Koran Jakarta, 9 Mei 2011)
53. Teror Ujian Nasional (Suara Karya, 19 April 2011)
54. Quo Vadis Ulama sebagai Nabi Sosial (Sinar Harapan, 3
September 2012)
198 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
BIODATA PENULIS
Wasisto Raharjo Jati, lahir di Kota Yogyakarta pada 15
Maret 1990. Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di kota
tersebut. Pada tahun 2008, meneruskan studi kuliah (S-1) di Jurusan
Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIPOL) Universitas Gadjah Mada. Selama mahasiswa aktif dalam
berbagai macam organisasi kemahasiswaan seperti KOMAP (Korps
Mahasiswa Politik dan Pemerintahan) UGM maupun Gama
Cendekia. Aktif menulis di berbagai jurnal ilmiah nasional
terakreditasi yang dipublikasikan seperti Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Jurnal Borneo Administrator, Jurnal Ulul Albab, Jurnal el-
Harakah, Jurnal Konstitusi dan jurnal ilmiah lainnya. Aktif menulis
kolom opini juga di berbagai macam media massa baik lokal maupun
nasional serta menulis dalam salah satu bab buku berjudul Penelitian
Kualitatif : Pengalaman dari UGM (2011) terbitan Center of Politic
and Governance Studies, Jurusan Politik dan Pemerintahan,
FISIPOL UGM.
Wasisto Raharjo Jati, S.IP199
Bidang kajian yang kini tengah digeluti adalah globalisasi, politik
lokal, ekonomi-politik internasional serta politik budaya. Nomor
telepon penulis di HP (Flexi) 0274 7139389 Korespondensi dengan
penulis melalui email:
[email protected].
200 Indonesia Kontemporer ~ Kompleksitas Permasalahan
INDONESIA
KONTEMPORER
KOMPLEKSITAS PERMASALAHAN
uku ini merupakan antologi kumpulan artikel opini
B media massa yang ditulis oleh penulis selama kurun
waktu dua tahun terakhir yakni selama kurun waktu
2010-2012. Di setiap tulisan dalam buku merupakan
cerminan reflektif penulis terhadap isu-isu yang tengah menghangat
dibicarakan. Adapun tulisan dalam buku ini sendiri dihimpun dari
berbagai tulisan opini penulis dari berbagai media massa nasional
maupun lokal seperti KOMPAS, Media Indonesia, Koran TEMPO,
Sinar Harapan, Koran Jakarta, Banjarmasin Post, Bali Post, Tribun
Timur, dan lain sebagainya. Tulisan dalam buku ini mengalir
mengikuti trend isu-isu nasional maupun lokal yang tengah
menghangat di masyarakat setiap bulannya. Sehingga mengikuti
pembacaan tulisan dalam buku ini sama saja dengan mengajak
pembaca mengikuti kliping isu-isu sosial politik yang sangat dinamis
dari waktu perwaktu. Sajian tulisan dalam buku ini tidaklah berat
seperti hanya textbooks maupun sejenisnya yang mengerenyitkan
dahi bagi pembaca awam. Dalam buku ini, penulis mengajak
pembaca berdiskusi dengan tulisan yang mudah dipahami dan
mudah diresapi yang harapannya dapat menambah wawasan
pembaca dari pembacaan kumpulan tulisan ini.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat!!