MAKALAH
KERUSAKAN PADA CONNECTING ROD
SURVEI DAN INSPEKSI KAPAL (ME141333)
Disusun Oleh : Kelompok 4
1. Candra Hasan Saputra (4213100051)
2. Istiqomah (4213100054)
3. Arfan Dwi Maulana (4213100060)
4. Aktivano Maulana (4213100072)
5. Edo Legowo (4213100075)
JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas ridha
dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah dengan
tema "Kerusakan Pada Connecting Rod" pada mata kuliah Survei dan
Inspeksi Kapal (ME141333) ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pertama, mata
kuliah Survei dan Inspeksi Kapal, Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas
Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Dalam proses penyusunan makalah ini kami mendapatkan dukungan dan
bantuan dari berbagai pihak sehingga kamipun mengucapkan terimakasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu. Namun, kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami
dalam proses menyelesaikan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.
Surabaya, 02 Januari
2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam dunia industri, transportasi merupakan salah satu komponen
penting guna menunjang supply chain dari daerah satu ke daerah lainnya.
Sampai saat ini, pengiriman produksi industri kebanyakan melalui jalur laut
mengingat dapat mengangkut jumlah barang yang lebih banyak
dibandingkan dengan transportasi jalur darat maupun udara.
Cepat lambatnya pengiriman barang juga ditentukan oleh mesin
penggerak utama kapal. Jika terjadi masalah pada mesin, maka proses
pengiriman juga akan mengalami kendala. Kerusakan mesin bisa terjadi
akibat faktor internal, yaitu disebabkan oleh komponen-komponen didalam
mesin, maupun faktor eksternal seperti sistem pendukung mesin induk.
Untuk sistem pendukung, seperti sistem bahan bakar, sistem pelumasan
ataupun sistem lainnya akan dicek secara rutin dan dapat dilakukan
perbaikan secara langsung. Namun jika terjadi kerusakan pada komponen
internal mesin, perbaikannya akan memakan waktu karena harus melakukan
pembongkaran terlebih dahulu. Jika kerusakannya parah, maka perlu
dilakukan overhaul untuk mengecek, memperbaiki ataupun mengganti
komponen yang rusak.
Didalam silinder mesin, terdapat beberapa komponen yang rawan terjadi
kerusakan, seperti piston, connecting rod, crankshaft dan lain sebagainya.
Kerusakan-kerusakan tersebut bisa terjadi karena kelelahan material,
kurangnya pelumasan, oli pelumas terlalu encer atau penyebab lainnya.
Salah satu komponen moving part yang dikatakan sering mengalami
kerusakan adalah connecting rod, mengingat komponen tersebut lah yang
menerima dan meneruskan daya dari ledakan pembakaran di ruang bakar.
Pada makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai kerusakan yang
sering terjadi pada connecting rod, penyebab-penyebab kerusakan serta cara
perbaikannya.
1.2 Lingkup Pembahasan
1. Macam-macam kerusakan serta pada connecting rod
2. Pengecekan dan perbaikan untuk connecting rod
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mesin Diesel
Mesin diesel merupakan motor pembakaran dalam yang berfungsi
untuk mengubah energi panas dari hasil pembakaran bahan bakar menjadi
energi mekanik berupa rotasi. Mesin tersebut dapat melakukan langkah
kerja dengan cara memasukkan bahan bakar kedalam ruang bakar, dimana
ruang bakar tersebut telah berisi udara yang telah dikompresi. Bahan bakar
yang diinjeksikan, akan terbakar dengan sendirinya karena pengaruh panas
dari udara yang dikompresi tersebut. Mesin diesel juga memiliki rasio
kompresi yang tinggi antara 15:1 sampai dengan 22:1. Rasio kompresi
sendiri merupakan perbandingan volume silinder diatas piston pada saat
piston berada pada TMB dengan volume silinder diatas piston pada saat
TMA.
Komponen utama dari mesin diesel pada umumnya terdiri dari piston,
cylinder liner, katup intake, katup exhaust, rocker arm, push rod,
connecting rod, crankshaft, injector dan lainnya seperti yang ditunjukkan
oleh gambar berikut:
Gambar 1. Komponen utama mesin diesel
Berdasarkan siklus kerjanya, mesin diesel dibagi menjadi dua, yaitu
mesin diesel 2 langkah dan mesin diesel 4 langkah. Berikut ini merupakan
pembahasan singkat mengenai kedua jenis mesin tersebut:
a. Mesin Diesel 2 Langkah
Mesin diesel 2 langkah atau biasa disebut dengan mesin diesel 2
tak, merupakan mesin diesel yang membutuhkan 2 kali langkah piston
serta 1 kali putaran penuh crankshaft dengan sudut 360 untuk
menghasilkan 1 kali langkah kerja. Pada mesin jenis ini, biasanya
memiliki ciri dinding cylinder liner berlubang yang berfungsi sebagai
saluran udara masuk. Ciri lain mesin diesel 2 langkah yaitu katup yang
terpasang pada cylinder head biasanya hanya berupa katup buang
(exhaust valve).
Gambar 2. Konstruksi mesin diesel 2 langkah
b. Mesin Diesel 4 Langkah
Berbeda dengan mesin diesel 2 langkah, mesin diesel 4 langkah
membutuhkan lebih banyak pergerakan piston yaitu sebanyak 4 kali
langkah serta 2 kali perputaran crankshaft dengan sudut 720 untuk
menghasilkan 1 kali langkah kerja. Mesin diesel jenis ini pada umumnya
dilengkapi dengan turbocharger atau supercharger untuk membantu
memasukkan udara lebih banyak kedalam ruang bakar.
Gambar 3. Konstruksi mesin diesel 4 langkah
2.2 Pengertian Overhaul
Overhaul merupakan suatu prosedur pekerjaan yang bertujuan untuk
mengembalikan performa mesin seperti kondisi awal. Overhaul dilakukan
sesuai jam operasi mesin. Secara umum, overhaul dibedakan menjadi top
overhaul dan major / general overhaul.
Top overhaul adalah perawatan dan perbaikan pada mesin hanya
terkhusus untuk bagian atas, yaitu kepala silinder, katup-katup, pushrod,
rocker arm dan komponen lainnya. Sedangkan major overhaul merupakan
perawatan serta perbaikan mesin dengan cara membongkar seluruh bagian
mesin, untuk dilakukan pemeriksaan, reparasi dan juga penggantian
komponen baru jika komponen lama tidak dapat diperbaiki.
Dari kedua perbedaan overhaul, dapat dilihat bahwa pengecekan
connecting rod hanya dapat dilakukan pada saat major overhaul.
2.3 Pengertian Connecting Rod
Connecting rod atau biasa disebut dengan connecting rod merupakan
salah satu komponen dari mesin yang berada didalam silinder dan berfungsi
sebagai penghubung antara piston dengan crankshaft. Secara tidak
langsung, connecting rod bertugas untuk mengubah gerakan reciprocating
yang dihasilkan dari pergerakan piston didalam silinder sehingga menjadi
gerakan rotasi pada crankshaft, barulah output tersebut digunakan sebagai
penggerak propeller, generator atau dikopel dengan alat lain.
Untuk menyambung dengan piston maupun crankshaft, connecting
rod menggunakan lubang pada kedua ujungnya, pertama lubang kecil yang
disebut dengan small end bore, digunakan untuk menyambung dengan
piston dan diikat oleh piston pin. Sedangkan yang kedua merupakan lubang
yang lebih besar, disebut big end bore digunakan untuk menyambung
dengan crank pin pada crankshaft.
Gambar 4. Bagian-bagian connecting rod
2.4 Kerusakan pada Connecting Rod
Sebagai salah satu komponen penghubung, connecting rod sering
menjadi sasaran jika terdapat tekanan dari piston maupun crankshaft.
Kerusakan-kerusakan yang biasa terjadi connecting rod adalah sebagai
berikut:
A. Tertekuk (Bending)
Merupakan keadaan dimana batang connecting rod tertekuk dari
bentuk awal atau lebih menonjol jika dilihat dari samping. Bending ini
biasanya hanya menekuk batang connecting rod ke satu arah.
Gambar 5. Bent connecting rod
B. Terpuntir (Twist)
Hampir sama seperti bending, namun yang memedakan adalah
arah bengkok daripada batang connecting rod. Jika pada bending,
batang tersebut hanya menonjol ke satu arah, lain halnya dengan twist
yang membengkok sesuai rotasi.
Gambar 6. Connecting rod terpuntir
Kedua kerusakan diatas kebanyakan terjadi pada batang connecting
rod karena memang area tersebut lah yang memiliki gaya tekuk terbesar.
Untuk kerusakan bending maupun twist, penyebabnya hampir sama. Dapat
berasal dari pemasangan baut pengikat yang terlalu longgar, atau karena
baut tersebut patah, sehingga antara sisi kanan dan kiri tidak seimbang dan
piston mengarah pada satu sisi tumpuan sedangkan perputaran crankshaft
tetap konstan, maka lama-kelamaan batang connecting rod akan bengkok,
baik itu bending ataupun twist.
Selain itu, penyebab bending dan twist dapat dikarenakan oleh air
yang masuk ke ruang bakar, hal ini disebut dengan hydrolock. Masuknya air
tersebut kedalam ruang bakar menyebabkan volume ruang bakar menjadi
lebih kecil, mengingat air merupakan fluida incompressible. Sehingga hal ini
akan menghalangi piston bergerak secara maksimal sehingga timbul gaya
tekan dari ruang bakar dan gaya tekan dari crankshaft. Maka pasti yang
menanggung kedua tekanan yang berlawan tersebut adalah connecting rod.
Untuk mengetahui nilai momen bending dan twist pada connecting rod,
kami mengambil contoh pengukuran connecting rod milik mesin MTU
12V956 pada saat Kerja Praktek di workshop MTU. Berikut merupakan
tahapan-tahapan yang harus dilakukan:
1. Mempersiapkan alat untuk pengukuran yang bernama connecting rod
parallelism & twist workstation yang berada di ruang Quality Control.
2. Pasang dial gauge yang berjumlah 4 buah dengan rincian 2 dial gauge
pada sisi kanan kiri (berwarna putih, hanya untuk memudahkan
pembacaan) untuk penunjuk nilai momen puntir, sedangkan 2 sisanya
(berwarna kuning) dipasang pada sisi atas untuk menunjukkan nilai
momen bending.
Gambar 7. Dial gauge yang digunakan
3. Setelah dial gauge terpasang, langkah selanjutnya melakukan kalibrasi
pada dial gauge dengan menggunakan kalibrator. Mula-mula kalibrator
diletakkan diatas bagian yang berwarna hitam (seperti pada gambar
berikut) lalu secara perlahan, kalibrator digeser. Pada saat yang
bersamaan, jarum dial gauge putih harus diubah menjadi angka 0.
Dalam kalibrasi dial gauge yang berwarna putih, kita dapat mengabaikan
nilai pada dial gauge kuning. Kalibrasi ini dilakukan pada kedua dial
gauge putih.
Gambar 8. Kalibrasi alat connecting rod parallelism
4. Mempersiapkan connecting rod yang telah dipasangi connecting rod cap
sebelumnya. Lalu memasukkan mandrel pada big end maupun small end
connecting rod tersebut seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 9. Pemasangan mandrel
5. Selanjutnya untuk mengetahui nilai momen puntir, langkah-langkahnya
adalah meletakkan connecting rod diatas alatnya, dengan menggunakan
mandrel big end sebagai tumpuan, lalu menekan ujung small end
connecting rod untuk mendapatkan angka 0 pada salah satu dial gauge
berwarna putih. Setelah muncul angka 0, maka nilai pada dial gauge
lainnya dibaca dan dibagi dengan 2. (Pembacaan nilai momen puntir ini
tidak melihat dial gauge berwarna kuning)
Gambar 10. Proses pengukuran momen puntir (twist)
6. Setelah pembacaan nilai momen puntir (twist), dengan posisi connecting
rod yang tetap, kedua dial gauge berwarna kuning diubah menjadi angka
0.
7. Kemudian connecting rod dibalik, lalu diletakkan kembali diatas alat
connecting rod parallelism. Menekan ujung small end connecting rod
sampai kedua jarum dial gauge berwarna kuning mengalami simpangan
terjauh. Nilai keduanya tersebutlah yang dijumlahkan dan dibagi dengan
angka 4 untuk mendapatkan nilai momen bending.
Setelah mengetahui nilai momen bending dan twist, dilakukan
pengecekan terlebih dahulu apakah nilai-nilai tersebut masih masuk dalam
toleransi yang dibuat oleh pihak manufacturer. Jika tidak memenuhi, maka
perlu melakukan tahap reparasi atau penggantian connecting rod. Pada
kenyataannya, connecting rod yang mengalami bending atau twist, dapat
diluruskan kembali. Namun hal ini banyak dilarang oleh manufacturer.
C. Patah (Broken)
Selain kedua kerusakan diatas, terdapat juga kerusakan yang sifatnya
permanen, yaitu connecting rod yang patah. Biasanya disebabkan oleh
keretakan kecil yang tidak terdeteksi dan lama-kelamaan menjadi retakan
besar. Apabila keretakan tersebut masih terus dipaksakan, ditambah
dengan putaran mesin yang tinggi, akan menyebabkan connecting rod
mengalami kepatahan. Letak patahan tersebut bergantung pada letak
keretakan awal dan juga penyebab patahan itu sendiri, misal pada
connecting rod cap.
Gambar 11. Connecting rod patah
Untuk menghindari kepatahan connecting rod, maka diperlukan
pengecekan keretakan pada saat overhaul. Terdapat beberapa alat atau
metode yang digunakan untuk mengecek keretakan ini, seperti cairan
penetrant atau NDT (Non Destructive Test).
Melakukan tes keretakan (crack test) pada connecting rod adalah
sebagai berikut tahapan-tahapannya:
1. Mempersiapkan 3 buah cairan spray, yaitu cleaner, penetrant dan
developer dimana tiap cairan memiliki fungsinya masing-masing. Fungsi
cleaner untuk membersihkan permukaan benda yang akan dites,
sedangkan penetrant adalah cairan yang difungsikan untuk masuk ke
celah-celah bagian yang retak. Dan yang terakhir adalah developer,
gunanya membaca cairan penetrant yang terbentuk ketika disemprotkan
developer.
Gambar 12. Cairan cleaner
Gambar 13. Cairan penetrant
Gambar 14. Cairan developer
2. Mempersiapkan benda kerja yang akan dites, dalam hal ini connecting
rod.
3. Pertama menyemprotkan cairan cleaner pada seluruh permukaan
connecting rod, lalu membersihkannya dengan kain.
4. Setelah permukaannya bersih, lalu semprotkan cairan penetrant secara
merata. Agar cairan tersebut lebih masuk kedalam bagian yang retak,
biasanya setelah disemprotkan penetrant, benda kerja akan didiamkan
selama 1 2 jam, kemudian barulah dibersihkan dengan tisu atau kain
yang memiliki permukaan lembut. Warna dari penetrant ini sendiri
adalah merah menyala.
5. Langkah terakhir adalah pembacaan hasil tes. Setelah cairan penetrant
dibersihkan, lalu disemprotkan cairan developer secara merata. Dari
sinilah bagian yang retak terlihat berwarna kemerah-merahan dan
biasanya diikuti dengan pola retak, akar atau zig-zag.
DAFTAR PUSTAKA
A. Dempsey, Paul. 2008. Troubleshooting and Repairing Diesel Engines, 4 th
edition, McGraw-Hill Companies, page 226 233
B. Kuiken, Kees. 2008. Diesel Engine I: for Ship Propulsion and Power Plants from
0 to 100,000 kW. Onnen: Target Global Energy Training.