Di era orde baru, Advokasi sering menjadi alat yang cukup ampuh buat para pegiat/aktivis
LSM untuk menekan pemerintah. Bahkan Advokasi sering diartikan juga untuk mencapai
tujuan-tujuan dengan cara yang lebih radikal, atau lebih dikenal dengan istilah revolusioner.
Namun dalam perkembangannya, istilah Advokasi tidaklah seseram seperti yang
dibayangkan. Advokasi lebih diartikan dengan upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan
pemerintah agar selaras dengan tujuan-tujuan dari kelompok masyarakat yang ingin
diperjuangkan.
Dalam hubungannya dengan Kesehatan Reproduksi, strategi Advokasi digunakan untuk
mempengaruhi kebija-kan-kebijakan yang berpengaruh langsung kepada masyarakat,
khususnya para remaja.
Istilah advokasi di bidang kesehatan mulai digunakan dalam program kesehatan masyarakat
pertama kali oleh WHO pada tahun 1984 sebagai salah satu strategi global pendidikan atau
promosi kesehatan.
WHO merumuskan bahwa dalam mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan secara
efektif menggunakan 3 strategi pokok, yaitu Advokasi, Social support, Empowerment.
Advokasi diartikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang lain yang dianggap mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan.
Oleh karena itu yang menjadi sasaran advokasi adalah para pemimpin atau pengambil kebija-
kan (policy makers) atau pem-buat keputusan (decision makers) baik di institusi pemerintah
maupun swasta.
Dalam advokasi, peran komunikasi sangat penting, sehingga komunikasi dalam rangka
advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus agar komunikasi efektif. Prinsip dasar Advokasi
tidak hanya sekedar melakukan lobby politik, tetapi mencakup kegiatan persuasif,
memberikan semangat dan bahkan sampai memberikan pressure atau tekanan kepada para
pemimpin institusi.
Komitmen para pembuat keputusan atau penentu kebijakan sangat penting untuk mendukung
atau mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat,
misalnya untuk pembahasan kenaikan anggaran kesehatan, contoh konkrit pencanangan
Indonesia Sehat 2010 oleh presiden. Untuk meningkatkan komitmen ini sangat dibutuhkan
advokasi yang baik.
Sementara itu, Advokasi di bidang kependudukan yang dilakoni oleh Badan Kependudukan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang merupakan hal penting dari program KB.
Keduanya merupakan bagian dari cara untuk memasyarakatkan gagasan-gagasan tentang KB,
di satu sisi serta upaya untuk menjaring partisipasi dan peran serta masyarakat dalam
program KB.
Adapun Advokasi dan KIE ini, agar program KB dapat terwujud, diterima dan didukung oleh
semua pihak. Maka advokasi dan KIE KB harus diperkuat dengan menggunakan berbagai
cara, baik Advokasi KIE langsung melalui pertemuan individu atau kelompok maupun
advokasi KIE tidak langsung melalui penggunaan berbagai media seperti media cetak dan
elektronik.
Seperti dalam amanah Ren-cana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 bahwa
untuk membangun kualitas SDM yang berkualitas, berkarakter dan mempunyai daya saing
tinggi, salah satu focus prioritas pembangunan bidangnya adalah melalui pengendalian
penduduk yang difokuskan pada revitalisasi program KB, penyerasian data dan informasi
kependudukan dari berbagai sumber seperti sen-sus ataupun data registrasi vital.
tujuan utama dari kegiatan Advokasi dan KIE ini adalah untuk mendorong terjadinya proses
peru-bahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku masyarakat terhadap program KB.
Dari awalnya tidak tahu menjadi tahu, dari sikap menjauhi menjadi dekat, dari tidak
mendukung menjadi mendukung, hingga akhirnya masyarakat secara sadar dan penuh
tanggung jawab ikut berpartisipasi secara aktif mendu-kung KB.
Saat ini program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional yang telah
diundangkan dalam Undang-Undang No. 52 tahun 2009 ten-tang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Ke-luarga, meghadapi tantangan yang semakin berat dan
peru-bahan strategi yang semakin berkembang, dimana pembangunan Kependudukan di
Indonesia telah diletakkan dalam konteks pembangunan SDM yang mencakup pem-bangunan
manusia sebagai Subjek (human capital) dan mencakup siklus dari manusia itu sendiri (life
cycle approach).
Hasil Sensus Penduduk 2010, Indonesia menduduki peringkat ke empat setelah Cina, Indian
dan Amerika dengan kuantitas 237,6 juta jiwa, yang berarti lebih tinggi dari angka proyeksi
para ahli kependudukan yang memberi target 235 juta jiwa. Bila yang menjadi target
Advokasi KIE tersebut dapat dicapai, maka keberhasilan pelaksanaan program KB di
masyarakat telah berada di depan mata.
Apalagi bila masyarakat telah berani berkorban secara mandiri demi terwujudnya keluarga-
keluarga yang berada dalam lingkungannya menjadi keluarga kecil yang bahagia dan sejah-
tera
Memperhatikan perjalanan panjang pelaksanaan program KB yang dimulai dari tahun 1970
sampai saat ini, mengalami pasang surut dimana program KB pernah mencapai puncak
kejayaannya di tahun 1990an, kemudian semenjak diberlakukannya otonomi daerah tahun
2000 hingga 2006 program KB melemah dan semua infrastruktur KB berantakan, baru
setelah tahun 2007 dengan diberlakukannya PP 38 dan 41 tentang kewenangan dan
perumpunan organisasi pemerintah.
Dimana program KB sudah menjadi kewenangan dan tang-gung jawab daerah dan kelem-
bagaan KB telah diatur dalam PP 41 menjadi lembaga utuh atau merger dengan Pemberda-
yaan Perempuan maka program KB mulai menggeliat kembali dan pada tahun 2008 Presiden
RI Susilo Bambang Yudhoyono mengintruksikan untuk Revitalisasi Program KB, secara ber-
tahap program KB mendapat perhatian dari pemerintah ditandai dengan kembali adanya
rekruitmen Penyu-luh KB.
Namun dalam perjalanannya, program KB tidak mung-kin berjalan baik bila hanya ditangani
oleh pemerintah saja tanpa dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, ula-ma, organisasi
profesi, lembaga swadaya masyarakat, bahkan pemuda dan remaja pada umumnya. Tidak
dapat dikesampingkan pula peran kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) dan pelaku seni
yang selama ini tidak bosan-bosannya menyuarakan KB di masyarakat. Mereka adalah ujung
tombak KB yang sebenarnya di masyarakat, manakala intensitas Advokasi KIE para
Penyuluh KB di lapangan mengalami penurunan.
Seiring dengan diberlakukannya visi dan misi baru program KB yakni Seluruh Keluarga Ikut
KB dan mewu-judkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, tuntutan advokasi dan KIE KB
yang makin intensif merupakan tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar. Sasarannya tidak
hanya masyara-kat, tetapi juga lintas sektor dan para pengambil kebijakan di tingkat
kabupaten/kota, kecamatan hingga desa.
Mereka harus dipahamkan betul tentang apa itu KB, man-faat dan hasil-hasil yang ingin
dicapai sekaligus program dan kegiatan riil yang dilakukan untuk mewujudkan keinginan
tersebut. Dengan Advokasi dan KIE yang intensif, kita dapat berharap semua stakeholder KB
akan memberikan kontribusi peran yang signifikan yang secara langsung maupun tidak
langsung akan mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan KB dimasyarakat.
Kondisi saat ini yang diha-rapkan yaitu, program KKB menjadi bagian penting pembangunan
nasional. dukungan politis dan operasional stake-holder, berjalannya mekanisme KIE
program KKB di lini lapangan, serta dapat dimanfaatkannya media masa dengan baik dan
efektif dalam penyam-paian informasi program KKB
Sebagai Individu yang ber-tugas melakukan advokasi pada dirinya harus punya pemahaman
bahwa bangsa yang besar ini mempunyai cita-cita yang sangat luhur yaitu memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita
luhur tersebut dimulai dari pembentukan karakter keluarga, karena keluarga merupakan
wahana utama dan pertama dalam pembentukan karakter bangsa.
Oleh karena itu salah satu focus program KB adalah untuk memberdayakan seluruh keluarga
Indonesia agar menjadi keluarga yang memiliki keta-hanan menyeluruh, kuat dan mampu
bersaing untuk melan-jutkan kelangsungan hidup bangsa. Hal ini seiring dengan cita-cita
program KB mewujud-kan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Sebagai langkah awal, para pengelola Advokasi dan KIE perlu membekali dengan
penguasaan pengetahuan dan pemahaman bahwa manusia hidup mengimplementasikan diri
sebagai wakil Tuhan di bumi.
Hal ini mengandung mak-na bahwa manusia sebagai mahluk social harus saling mengasihi
kepada sesamanya, sehingga dalam melakukan kegiatan advokasi dan KIE harus melalui
pendekatan cinta kasih. Setiap pekerjaan mempunyai dinamika sendiri, ada yang menarik
dan menantang, dan ada kalanya terlihat berat dan mungkin membebani. Begitu pula dengan
pengelola Advokasi dan KIE, pekerjaannya menuntut untuk berhubungan dengan banyak
orang dengan latar belakang pendidikan, ekonomi dan social budaya.
Demikian juga dengan sikap, pandangan dan perilaku khalayak yang berbeda-beda terhadap
program KKB menjadi tantangan bagi pengelola Advokasi dan KIE. Beban kerja yang berat
akan terasa ringan apabila pekerjaan itu dimaknai sebagai amanah sehingga dilakukan dengan
tulus iklas yang pada akhirnya dapat mencintai pekerjaan itu sendiri, tukas Toni yang juga
merang-kap Ketua Koni Belawan.
Manajemen advokasi dan KIE menghendaki kinerja yang efektif dan efisien dalam mencapai
khalayak sasaran advokasi dan KIE, sehingga setiap individu yang berkontribusi dalam
advokasi dan KIE harus memiliki kemampuan/karakter yaitu, Sumber Daya Manusia
Berkualitas, berkomunikasi secara informative dan persua-sive, mempunyai integritas,
energik atau semangat, inisiatif yang positif, arif dan bijaksana