BATUBARA ( COAL ) adalah batuan atau mineral yang secara kimia dan fisika adalah
heterogen yang mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen sebagai unsur utama dan
belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat lain yaitu senyawa anorganik pembentuk
ash tersebar sebagai partikel zat mineral di seluruh senyawa batubara.
PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA :
1. Pembusukan,
Proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan akibat adanya aktivitas dari
bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen mengahancurkan
bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, pati.
2. Pengendapan,
Proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap
membentuk lapisan gambut. Biasanya terjadi pada daerah rawa-rawa.
3. Dekomposisi
Lapisan gambut mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat
keluarnya H2O dan sebagian menghilangdalam bentuk CO2, CO dan Metan ( CH4 ).
4. Geotektonik,
Lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik kemudian mengalami
pelipatan dan patahan. Selain gaya tektonik aktif dapat menimbulkan intrusi dari
magma yang akan mengubah batubara low grade menjadi high grade, maka zona
batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
5. Erosi,
Lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik yang berupa pengangkatan
kemudian dierosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada
permukaannya. Pelapisan batubara inilah yang dieksploitasi saat ini.
Konsep Pembentukan Batuan,
1. Prinsip Sedimentasi
Pada dasarnya batubara termasuk kedalam jenis batuan sedimen. Batuan sedimen
terbentuk dari material yang terendapkan di dalam suatu cekungan dlam kondisi tertentu
dan mengalami kompaksi serta transformasi baik secara fisik, kimia dan biokimia. Pada
saat pengendapan material ini selalu membentuk perlapisan yang horizontal.
2. Skala Waktu Geologi
Proses sedimentasi, kompaksi, transforamasi oleh material dasar pembentuk menjadi
batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun. Untuk dapat memahami lamanya kisaran
waktu dari pembentukan batuan sedimen tersebut maka dikenal suatu skala waktu yang
disebut skala waktu geologi.
Kedua konsep pembentukan batuan di atas merupakan bagian dari proses pembentukan
batubara.
PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA
1. Gambut / Peat
Tahap ini merupakan tahap awal pembentukan batubara (coalification). Gambut berasal
dari tumbuhan yang telah mati dan menumpuk diatas tanah yang makin lama makin
menebal menyebabkan dasar rawa turun secara perlahan. Material tumbuhan tersebut
diuraikan oleh bakteri dan jamur pada kondisi anaerob menjadi CO2, air dan amoniak
dan sebagai hasilnya adalah gambut / humus.
C : 61,7 % ; H : 0,3 % ; O : 38 %
2. Lignit
Dengan berubahnya topografi daerah sekelilingnya, gambut menjadi terkubur di
bawah lapisan slit dan pasir yang menyebabkan tekanan dan suhu pada lapisan gambut
meningkat.
Penutupan rawa gambut memberikan kesempatan pada bakteri untuk aktif
menguraikan dalam kondisi basa menyebabkan dibebaskannya CO2, deoksigenasi dari
ulmin, sehingga kandungan hidrogen dan karbon bertambah.
C : 80,4 % ; H : 0,5 % ; O : 19,1 %
3. Sub Bituminous
Tahap selanjutnya dari pembentukan batubara adalah pengubahan batubara bitumen
dengan sejarah geologi yang rendah menjadai batubara dengan sejarah geologi
menengah dan tinggi. Selama tahap ini kandungan hidrogen akan tetap konstan dan
oksigen turun.
4. Bituminous
Dalam tahap keempat atau tahap pembentukan batubara bituminous, kandungan
hidrogen turun dengan menurunya oksigen secara perlahan-lahan. Produk sampingan
dari tahap ketiga dan keempat ialah CH4, CO2, H2O.
5. Anthracite
Tahap kelima adalah antrasitisasi,. Dalam tahap ini oksigen hampir konstan
sedangkan hidrogen turun lebih cepat dibandingkan tahap-tahap sebelumnya.
PENGGOLONGAN BATUBARA :
ASTM (USA)
1. ANTHRACITE
2. BITUMINEOUS COAL
3. SUB-BITUMINEOUS COAL
4. LIGNITE
5. PEAT
ISO (UK)
1. HARD COAL
2. SOFT COAL
Kelas
Antrasit
Golongan
Meta Antrasit
Antrasit
Semi Antrasit
Bituminous - Low Volatile
Bituminous - Medium
Volatile
Bituminous - High Volatile
Bituminous
Spesifik
Karbon
Volatile
Energy
Tetap
> 98
92 - 98
86 - 92
78 - 86
Matter
<2
2-8
8 - 14
14 - 22
Btu
-
69 - 78
22 - 31
> 31
Sub Bituminous A
Sub Bituminous B
B
Bituminous - High Volatile
C
SubBituminous
Non Aglomerat
Biasa ditemui
< 69
A
Bituminous - High Volatile
Sifat Fisik
Sub Bituminous C
Lignit A
Lignit
Lignit B
ASTM D388 - 99, Standard Calssification of Coal by Rank
* ) dapat dikonversi ke kcal / kg dengan cara dibagi dengan faktor
> 14.000 *)
Ber-aglomerat
13.000 14.000
11.500 13.000
10.500 -
Ber-aglomerat
11.500
9.500 10.500
8.300 - 9.500
6.300 - 8.300
< 6.300
Non Aglomerat
PEMANFAATAN BATUBARA INDONESIA
1. Batubara untuk bahan bakar ( Steaming Coal, Fuel Coal atau energy coal ) disebut
batubara bahan bakar.
- Untuk mengubah air menjadi uap di dalam suatu boiler PLTU.
- Untuk membakar bahan pembuat klinker di pabrik semen.
- Bahan bakar di industri-industri ( Pabrik Kertas ).
2. Batubara Bituminous untuk dibuat kokas, disebut batubara kokas.
Batubara dipanaskan tanpa udara sampai sebagian Volatile Matter-nya menguap.
Kokas digunakan dalam pembuatan besi dan baja karena memberikan energi dan
panas dan sekaligus bertindak sebagai zat pereduksi terhadap bijih besi yang dikerjakan
di dalm suatu tanur suhu tinggi.
3. Batubara untuk dibuat sebagai bahan dasar untuk energi lainnya, disebut batubara
konversi.
Batubara yang dimanfaatkan tidak sebagai bahan bakar padat tetapi energi yang dikandung
batubara disimpan dalam bentuk gas ( gasifikasi ) dan cairan ( likuifaksi ).
Dalam proses gasifikasi semua zat organik dalam batubara diubah ke dalam bentuk gas,
terutama CO, CO2 dan Hidrogen. Gas-gas ini dapat pula diubah menjadi bahan-bahan kimi
seperti pupuk dan metanol.
Dalam proses likuifaksi bertujuan mengubah batubara menjadi minyak ( gasoline, diesel, jet
fuel ).
DAMPAK DARI PEMANFAATAN BATUBARA
Adanya pencemaran yang disebabkan oleh diemisikannya gas-gas campuran Nitrogen Oksida,
campuran gas-gas belerang oksida dan Ash hasil sampingan dan pembakaran batubara dalam
kolam pengendap abu.
PROSES KEGIATAN DARI EKSPLORASI SAMPAI PENGAPALAN
Steps
Cont.
QUALITY
CHECKED
Literature Study
Surveying
Drilling &
Evaluation
PROSES
Separation ROM ( A,
B dst)
PIT SAMPLE
Channel
Sample
Washing (Yes/No)
Drill Core
Sample
EXPLORAT
ION
EXPLOITATI
ON
Surveying
Drilling & Evaluation
Analytical Outcrop
Analytical Core sample
Channel Sample
Reserve Evaluation
Tentatif Geology
Stripping ratio Evaluation
Mapping
&
-
MINING
HAULIN
G
by
Truck
ROM
STOCKPILE
QUALITY
CHECKED
ROM Stockpile
Sample
QUALITY
CHECKED
QUALITY
CHECKED
SAMPLE TAKEN
On / discharging the
QUALITY
truck, rail
CHECKED
Quality specification
on the
certificate/report
meet
SAMPLE TAKEN
on / discharging the
truck, rail
Stockpile Production on conveyor belt
L/C or SKBDN
Requirement
Sample
HAULIN
G
by
Truck
by
Railway
PROCE
SS
Separation
Preparing
HAULING
STOCKPIL
E
by Truck
PRODUCTI
ON
by Conveyor
Belt
TRANSHIPM
ENT /
SHIPMENT
base on Sales
Contract
REPORT
Buyer & /Seller
CERTIFIC
ATE
SORTIR
Stockpile
Production
(A, B dst)
based on
Market
Requirement
QUALITY
CHECKED
Transhipment /
Shipment
Sample
Washing
EXPLORATION
Literature Study
Studi literature dan makalah dari peneliti terdahulu, mengenai wilayah daerah penelitian
Peta Geologi mengenai sumber cadangan dari peneliti terdahulu
Geologi Citra Penginderaan Jauh yang terpotret oleh peneliti terdahulu
dan data-data yang relevan mengenai potensi wilayah yang di teliti oleh peneliti terdahulu
Sumber data :
Direktorat Geologi dan Pertambangan
dan Literatur-literature serta makalah mengenai daerah penelitian
Surveying
adalah suatu kegiatan survey, pengecekan dan pemetaan mengenai suatu wilayah daerah
telitian.
Peralatan :
Peta Topografi
Kompas
Palu Geologi
Data :
Plotting data ke peta Topografi
Catatan lapangan mengenai potensi suatu wilayah, baik jenis batuan, sumber cadangan,
dampak lingkungan dan lingkungan sosial.
Outcrop dan channel sample untuk uji kualitas
Hasil :
Peta Geologi tentatif
Evaluasi potensi wilayah
Drilling & Evaluation
adalah suatu kegiatan tahap lanjut dari Surveying, untuk pencarian data lebih detail dengan
cara pemboran, dari beberapa pemboran di lakukan korelasi untuk evaluasi potensi cadangan.
Peralatan :
Alat Bor
Seismik
Data :
Drill Core Sample
Log Grafik jenis dan kondisi batuan (gamma ray, Resistivity, Neutron Log)
Grafik seismik mengenai kondisi batuan dan struktur.
Hasil :
Korelasi stratigrafi batuan dan struktur.
Evaluasi potensi cadangan detail dan Stripping Ratio.
Kualitas rata-rata Seam Batubara
Quality Checking
Outcrop sample : sample yang diambil di permukaan pada singkapan-singkapan Batubara
Channel sample : sample yang diambil dengan membuat channel-channel pada suatu
Seam Batubara
Drill Core sample : sample yang diambil dengan suatu alat bor, dengan diameter
bervariasi antara 3 ", 6" sampai 8.
TAHAPAN : EKSPLORASI EKSPLOITASI CLEAN COAL
1.
FIELD CHECK
Studi literatur, Peta Geologi Regional, Citra Penginderaan
Peneliti Pendahulu, makalah & laporan daerah telitian
Identifikasi informasi Geologi dan singkapan batubara
Pembuatan Peta Singkapan dan lokasi Pengamatan
Pembuatan draft laporan hasil Tinjauan Awal dan evaluasi awal kelayakan potensi
cadangan.
Rekomendasi untuk tahap Penyelidikan Umum atau langsung Eksplorasi
2. EKSPLORASI PENDAHULUAN
Pemetaan Geologi, test pit, trenches, coal sampling
Pemboran Eksplorasi jarak antar line 500 3000 m dengan kedalaman 40 80 m (OH &
Touch Core), apabila diperlukan bor stratigrafi (150 250 m)
Pengukuran profil line & koordinat titik bor
Analisa batubara : Proximate, Ultimate, Ash & AFT
Korelasi antar titik bor dan perhitungan cadangan batubara
Pembuatan laporan Hasil Eksplorasi Pendahuluan dan evaluasi kelayakan potensi
cadangan.
3. DETIL EXPLORATION ( EKSPLORASI DETAIL )
Pemetaan GeologiDetail, Coal Sampling
Pemboran Eksplorasi jarak antar line 250 500 m dengan kedalaman 40 80 m (OH &
Touch Core), bila diperlukan bor Geohidrologi & Geoteknik full coring
Pengukuran Topografi dengan skala 1 : 1,000
Analisa Geotek untuk kestabilan lereng penambangan & rekomendasi pompa tambang
untuk dewatering
Pembuatan Peta Data Base : Isopach struktur, kalori, moisture, ratio coal-non coal,
ketebalan, abu & sulphur
Perhitungan cadangan yang mineable dengan software
Pembuatan laporan Final Eksplorasi guna evaluasi kelayakan potensi penambangan
batubara
4. MINE PLAN DESIGN ( RENCANA DESAIN TAMBANG )
5. EXPLOITATION / PRODUCTION
6. PROCCESSING
Data-data awal yang diperlukan
Peta topografi, minimal skala 1 : 2000,
Data penyebaran singkapan batubara (dalam sistim koordinat),
Data dan sebaran titik bor,
Peta geologi lokal,
Peta/data-data yang memuat batasan-batasan alamiah.
Data-data olahan yang diperlukan/dibuat
Korelasi lubang bor,
Peta struktur elevasi top (atap) dan roof (lantai) batubara,
Peta iso ketebalan batubara,
Peta iso ketebalan tanah penutup,
Peta sebaran cropline/subcropline batubara,
Peta iso kualitas batubara,
Hasil kajian geoteknik dan hidrogeologi sebagai faktor pembatas,
Rencana umum strategi penambangan.
Target Drilling
Instruksi Kerja Wellsite:
Memastikan interval run setiap kemajuan coring
Mengukur panjang core pada tabung inner split. Cara mengeluarkan tabung split
dilarang dengan cara memukul core barrel
Letakkan core batubara pada tabung paralon, pastikan core tidak terkontaminasi dan
Lakukan pemotretan
Bungkus core batubara dengan plastik wrap dan letakkan pada tempat yang terhindar
dari cahaya matahari
Hitung core dan coal recovery
Lakukan deskripsi terhadap core batubara dan non batubara
Lakukan pengambilan sampel batubara
Cara Menghitung Recovery
Coal Recovery
Panjang core batubara yang diperoleh
---------------------------------------------------------=
X 100 %
Panjang coring yang dilakukan
Panjang core sampel yang diperoleh
Recovery core sampel ----------------------------------------------------=
X 100 %
Panjang coring yang dilakukan
Ketentuan Kontrak:
Coal Recovery minimal 90% dihitung berdasarkan ketebalan batubara dari E-logging
LITHOLOGICAL DESCRIPTION OF CORE
1. Deskripsi Cutting, core non coal
Deskripsi Cutting/Chips : Rock type, colour, grainsize, mineral penyusun, kandungan
mineral lain (pyrite, resin, ferogineous nodule, coal)
Deskripsi Core : Rock type, colour, grainsize, strength (firm, friable, slightly), sedimen
structure, dip, fracture(vertical, horizontal), fosssils, worm burrows, core state (solid,
broken, very broken), fragmen/mineral penyusun, fosil, kandungan mineral lain (pyrite,
resin, ferogineous nodule, coal)
2. Deskripsi Batubara
colour, brightness, streak, belahan, core state (solid, broken core), sifat fisik lainnya: clay
band, bone coal, weathered, kandungan mineral lain (pyrite, resin)
Standart of Coal Brightness
BRIGHTNESS
COAL DESCRIPTION
90 to 100%
Bright Coal (Vitrinite)
70 to 90%
Bright with minor dull bands
50 to 70%
Bright and dull
30 to 50%
Dull with numerous bright bands
10 to 30%
Dull with minot bright bands
0 to 10%
Dull Coal (Inertinite)
PHOTOGRAPH OF CORE
Hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Core batubara tidak terbungkus plastik wrap
2. Pastikan coring dalam keadaan tersusun rapih
3. Pastikan Billboard telah ditulis: Lokasi, nomor titik bor, nama seam, interval seam,
tanggal pemotretan
4. Letakkan pembanding pada bagian yang ditonjolkan (batas roof, floor, posisi parting)
5. Bila menggunakan kamera digital, pastikan hasil pemotretan sesuai yang diharapkan.
COAL SAMPLING
Instruksi Kerja:
1. Tentukan roof dan floor, parting dengan cara membandingkan dengan E-logging dan
menggores permukaan cor batubara
2. Ukur ketebalan batubara, parting, dan lakukan pembagian ply by ply berdasarkan
ketentuan/sistematika yang ada
3. Tuliskan pada kartu sample: Nomor sampel, lokasi pemboran, interval sample, nomor
bag, remark (missal sample lapuk, adanya parting ikut disampel, adanya clay band).
Bungkus kartu sample dengan plastik
4. Siapkan kantong sampel dan tuliskan: Nomor sample, interval sample, tebal sample dan
urutan bag dari total bag
5. Masukkan sampel batubara dan kartu sampel ke dalam kantong sampel, dan ikat masing2
kantong dengan kuat
6. Satukan dan diikat semua ply dari satu seam tersebut menjadi satu kesatuan.
COAL SAMPLING
Sistem Pembagian Ply untuk Other
Sistem Pembagian Ply untuk
seam (A,B,C,D,E,F,G,H,M,N,O,P)
Seam P, Q dan R
0.25 m _ ply 1 _ 1 bag
0.50 m _ ply 2 _ 1 bag
Sisa _ ply 3
Maybe more than 1 bag
0.50 m _ ply 1 _ 1 bag
0.50 m _ ply 2 _ 1 bag
Sisa _ ply 3
Maybe more than 1 bag
0.50 m _ ply 4 _ 1 bag
0.50 m _ ply 4 _ 1 bag
0.25 m _ ply 5 _ 1 bag
0.50 m _ ply 5 _ 1 bag
Seam dengan ketebalan kurang dari 1
meter maka hanya dijadikan 1 (satu)
ply saja
Seam dengan ketebalan 1 3 meter,
maka dijadikan 3 (tiga) ply
Seam dengan ketebalan 3- 5 meter,
maka dijadikan 5 (lima) ply
0.25 m _ ply 1 _ 1 bag
0.50 m _ ply 2 _ 1 bag
0.25 m _ ply 1 _ 1 bag
Sisa _ ply 3
Maybe more than 1 bag
Sisa _ ply 2
Maybe more than 1 bag
0.50 m _ ply 4 _ 1 bag
0.25 m _ ply 3 _ 1 bag
Seam dengan ketebalan > 5 meter,
maka dijadikan 7 (tujuh) ply
0.25 m _ ply 5 _ 1 bag
Sistematika penyamplingan untuk
Daerah Binungan
0.25 m _ ply 1 _ 1 bag
0.50 m _ ply 2 _ 1 bag
0.50 m _ ply 2 _ 1 bag
Sisa _ ply 3
Maybe more than 1 bag
0.50 m _ ply 2 _ 1 bag
0.50 m _ ply 4 _ 1 bag
0.25 m _ ply 5 _ 1 bag
DATA CATEGORY
Category C:
0.25 m _ ply 1 _ 1 bag
Sisa _ ply 2
Maybe more than 1 bag
0.25 m _ ply 3 _ 1 bag
1. Tersedia data Log Bore
2. Tersedia data E-logging
3. Recovery 90 110% (perbandingkan antara thickness log bore dan E-logging)
Category B:
1. Tersedia data Log Bore
2. Tersedia data E-logging
3. Recovery <90 110%> (perbandingkan antara thickness log bore dan E-logging)
Category A:
1. Tersedia data Log Bore
2. Tidak tersedia data E-logging, data E-logging tidak valid (tidak bisa mewakili roof dan
floor), bore hole collaps