88% menganggap dokumen ini bermanfaat (16 suara)
5K tayangan43 halaman

Modul-13 Pencatatan Dan Pelaporan Refreshing (F)

Dokumen tersebut membahas konsep dasar sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga. Sistem ini terdiri atas tiga subsistem yaitu pelayanan kontrasepsi, pengendalian lapangan, dan pendataan keluarga. Tujuannya adalah menyediakan data dan informasi berkualitas untuk manajemen program di semua tingkatan.

Diunggah oleh

gayeng
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
88% menganggap dokumen ini bermanfaat (16 suara)
5K tayangan43 halaman

Modul-13 Pencatatan Dan Pelaporan Refreshing (F)

Dokumen tersebut membahas konsep dasar sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga. Sistem ini terdiri atas tiga subsistem yaitu pelayanan kontrasepsi, pengendalian lapangan, dan pendataan keluarga. Tujuannya adalah menyediakan data dan informasi berkualitas untuk manajemen program di semua tingkatan.

Diunggah oleh

gayeng
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap pengelola program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga yang berada sesuai dengan tingkatan wilayahnya dituntut untuk menguasai
berbagai hal dan informasi program kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga (KKBPK) secara dinamis. Salah satu unsur dalam penguasaan
tersebut adalah dapat mencatat dan melaporkan potensi wilayah dan hasil pelaksanaan
program KKBPK yang sedang dan telah dilakukan di wilayahnya sesuai dengan sistem
pencatatan dan pelaporan program yang telah dibakukan sesuai dengan standar
nasional, antara lain adalah dapat menerapkan sistem pencatatan pelaporan pelayanan
kontrasepsi dan pengendalian lapangan.
Untuk kepentingan tersebut, modul ini dikembangkan. Modul ini akan memandu Anda
dalam mengetahui dan memahami seputar sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan
kontrasepsi dan pengendalian lapangan program kependudukan, keluarga berencana
dan pembangunan keluarga. Pada akhirnya setelah Anda memahami isi modul ini, Anda
akan mempunyai kemampuan dasar dalam pelaksanaan sistem pencatatan dan
pelaporan pelayanan kontrasepsi dan pengendalian lapangan program KKBPK.
B. Deskripsi Singkat
Mata diklat ini membahas sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan,
keluarga berencana dan pembangunan keluarga yang meliputi subsistem pencatatan
dan pelaporan pelayanan kontrasepsi dan subsistem pencatatan dan pelaporan
pengendalian lapangan yang masingmasing mengupas tentang pengertian, jenis
formulir, register, kartu dan teknik pengisiannya, serta mekanisme dan alur pencatatan
dan pelaporannya.
C. Manfaat Modul Pembelajaran
Dengan mempelajari mata diklat ini, peserta diklat akan memperoleh pengetahuan
tentang pencatatan dan pelaporan program kependudukan keluarga berencana dan
pembangunan keluarga, sehingga diharapkan dapat membantu peserta dalam
mengimplementasikannya dalam pelaksanaan tugas di wilayahnya.
D. Standar Kompetensi
1. Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu mempraktikkan
pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga.
1

2. Indikator Keberhasilan
a. Peserta dapat menjelaskan konsep dasar sistem pencatatan dan pelaporan
program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga.
b. Peserta dapat menguraikan subsistem pencatatan dan pelaporan pelayanan
kontrasepsi program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga.
c. Peserta dapat menguraikan subsistem pencatatan dan pelaporan pengendalian
lapangan program kependudukan dan KB nasional.
d. Peserta dapat mendemontrasikan pengisian instrumen pencatatan dan
pelaporan program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga.
E. Materi Pokok dan Submateri Pokok
1. Materi Pokok
a. Konsep dasar pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga
berencana, dan pembangunan keluarga.
b. Subsistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi.
c. Subsistem pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan
d. Cara pengisian formulir pencatatan dan pelaporan program KKBPK di tingkat
desa/kelurahan.
2. Sub materi Pokok
a. Konsep Dasar Pencatatan dan Pelaporan Program
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
1) Pengertian
2) Tujuan
3) Ruang Lingkup

Pembangunan

b. Sub sistem Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi


1) Pengertian
2) Jenis dan kegunaan Instrument pencatatan dan pelaporan Pelayanan
Kontrasepsi
3) Mekanisme pencatatan dan pelaporan Pelayanan Kontrasepsi
4) Arus pencatatan dan pelaporan Pelayanan Kontrasepsi
c. Sub sistem Pencatatan dan Pelaporan Pengendalian Lapangan
1) Pengertian
2) Jenis dan kegunaan Instrument pencatatan dan pelaporan Pengendalian
Lapangan
3) Mekanisme pencatatan dan pelaporan Pengendalian Lapangan
4) Arus pencatatan dan pelaporan Pengendalian Lapangan

F. Petunjuk Belajar
Sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga adalah suatu kegiatan mencatat dan melaporkan berbagai
aspek yang berkaitan dengan potensi, kegiatan dan hasil kegiatan, baik aspek
pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh klinik KB dan dokter/bidan praktik swasta,
maupun operasional pengendalian lapangan oleh petugas/pengelola program di
lapangan, para kader kelompok KB, serta kader kelompok kegiatan.
Untuk dapat memahami materi ini Anda diharapkan membaca dengan cermat bab demi
bab yang terkait dengan ruang lingkup, jenis dan kegunaan kartu, register dan formulir,
mekanisme dan arus pencatatan pelaporannya sehingga didapat satu sistem pencatatan
dan pelaporan dalam program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga secara lengkap.

BAB II
KONSEP DASAR PENCATATAN PELAPORAN
PROGRAM KEPENDUDUKAN, KELUARGA BERENCANA
DAN PEMBANGUNAN KELUARGA
Indikator Keberhasilan :
Setelah membaca bab ini peserta diklat diharapkan dapat menjelaskan konsep dasar
pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga yang meliputi pengertian, tujuan, ruang lingkup dan manfaat pencatatan
dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga

A. Pengertian
Dalam era reformasi dewasa ini program KKBPK nasional masih tetap menjadi perhatian
dan komitmen pemerintah sehingga program ini masih tercantum dan diamanatkan pula
dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Jangka Menengah
Nasional (RPJM) 20102014 dan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang
Kelembagaan BKKBN.
Berbagai perubahan lingkungan strategik baik nasional maupun internasional telah
memengaruhi pelaksanaan program kependdukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga. Untuk menghadapi dan mengantisipasi perubahan dan
tantangan tersebut, maka pada tahun 2010 telah dilakukan perubahan visi dan misi
BKKBN sebagai lembaga Non departemen yang ditugasi pemerintah dalam
pembangunankependudukan, KB, dan pembangunan keluarga nasional. Visi baru
BKKBN adalah seluruh Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) pada tahun 2015 dan
misinya adalah mewujudkan pembangunan berwawasan kependudukan dan
mewujudkan keluarga kecil bahagia sejatera.
Dalam rangka menunjang penyediaanan kualitas data dan informasi program
kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga yang memadai,
akurat, dan tepat waktu, maka dikembangkan sistem pencatatan dan pelaporan program
kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga yang terdiri atas tiga
sub. sistem, yaitu:
1. Subsistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi,
2. Subsistem pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan, dan
3. Subsistem pendataan keluarga.
Adapun tiga dasar pemikiran yang melandasi pentingnya pencatatan dan pelaporan
program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga adalah
sebagai berikut :
1. Proses kegiatan dan hasil kegiatannya sebagai bukti nyata (evidence base) dan
pemenuhan akuntabilitas publik;

2. Data dan informasi yang dikumpulkan merupakan variabel data yang digunakan
sebagai bahan penentuan dan monitoring indikator kinerja program. Oleh karena itu
pengertian dan definisi operasional dari data dan informasi tersebut diberlakukan
dalam sistem yang standar secara nasional.
3. Data dan informasi program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga ini dapat dikumpulkan secara cepat, tepat, dan akurat untuk memenuhi
kebutuhan pengelolaan operasional program, perencanaan, dan evaluasi sasaran
program di berbagai tingkatan wilayah dan tempat pelayanan.
Pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana, dan
pembangunan keluarga mengacu pada prinsip 12 kaidah plus, yaitu sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Bermanfaat bagi pengumpul data, masyarakat dan manajemen


Memperhatikan prinsip desentralisasi
Belum tercakup dalam sistem lain
Kegiatan dan hasil kegiatan yang dicatat dan dilaporkan itu sudah menjadi pola
operasional baku secara nasional.
5. Bersifat kuantitatif
6. Relatif cepat berubah
7. Mengutamakan data proses dan keluaran (output)
8. Data input sangat selektif
9. Dapat dimengerti petugas, pengelola, dan pelaksana program
10. Dapat diidentifikasi (terukur)
11. Mudah dikontrol dan ditelusuri
12. Memanfaatkan teknologi informasi
Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah para petugas pelaksana dan pengelola
subsistem pencatatan dan pelaporan masingmasing harus bersifat proaktif dalam
melakukan tata cara pencatatan dan pelaporan ini secara berjenjang.
Seiring dengan perkembangan teknologi, maka sistem pencatatan dan pelaporan
program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluargapun sudah
menggunakan sistem yang berbasis teknologi informasi sehingga akan memudahkan
para pelaksana dan pengelola dalam melaporkan dan memperbarui data serta laporan
yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Dengan dipakainya berbagai aplikasi dalam pencatatan dan pelaporan program
kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga yang berbasis
teknologi informasi akan memudahkan pengelola dalam memasukkan dan menverifikasi
data sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya dan waktu yang relatif sangat cepat
sesuai dengan yang diharapkan.
Pengertian Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi adalah suatu kegiatan
mencatat dan melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan
kontrasepsi yang dilakukan oleh klinik KB serta dokter/bidan praktik swasta.
Pelaksanaan pencatatan data dan hasil kegiatan dilakukan setiap hari atau setiap
5

pelaksanaan kegiatan dan dilaporkan secara rutin setiap bulan mapun tahunan dengan
mengacu pada pedoman, mekanisme, dan arus subsistem pencatatan dan pelaporan
pelayanan kontrasepsi program KKBPK nasional yang sudah dibakukan.
B. Tujuan
Tujuan umum sistem pencatatan dan pelaporan program KKBPKl adalah menjamin
ketersediaan data dan informasi yang berkualitas untuk manajemen program KKBPK
pada semua tingkatan. Adapaun tujuan khususnya adalah sebagai berikut.
1. Dapat menyediakan data dan informasi untuk pengambilan keputusan oleh
pimpinan.
2. Dapat menyediakan data dan informasi untuk perencanaan program
3. Dapat menyediaan data dan informasi untuk pengendalian operasional
4. Dapat menyediakan data dan informasi untuk evaluasi dan penilaian program
5. Dapat menyediakan data dan informasi untuk peta kerja operasional
C. Ruang Lingkup
1. Sasaran
a. Subsistem Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi
Sasaran dari subsistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah
ketiga aspek berikut, yaitu:
1) Potensi dan kegiatan pelayanan kontrasepsi, di klinik KB (pemerintah/swasta)
dan dokter/bidan praktik swasta;
2) Hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi di klinik KB (pemerintah/swasta) dan
dokter/bidan praktik swasta; dan
3) Keadaan alatalat kontrasepsi di klinik KB.
b. Subsistem Pencatatan dan Pelaporan Pengendalian Lapangan
Sasaran dari subsistem pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan
adalah kedua aspek berikut :
1) Potensi sarana dan tenaga program dalam kegiatan pengendalian lapangan,
yaitu para petugas KB (P-PLKB) dan petugas PIK Remaja di tingkat
kecamatan dan PLKB/PKB atau petugas KB di desa/kelurahan, tokoh agama/
tokoh masyarakat, institusi masyarakat pedesaan/perkotaan, seperti PPKBD,
Sub-PPKBD, Kelompok KB, serta para kader KB di kelompok kegiatan BKB,
BKR, BKL, dan UPPKS.
2) Hasil kegiatan operasional pengendalian lapangan, pembinaan ketahanan
keluarga, pembinaan kesejahteraan keluarga, serta pembinaan PUS dan
kesertaan ber-KB, khususnya bagi Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera I.

c. Subsistem Pendataan Keluarga


Sasaran dari subsistem pendataan keluarga meliputi empat aspek, yaitu
demografi, keluarga berencana, keluarga sejahtera, dan data individu anggota
keluarga.
2. Frekuensi
Frekuensi dari sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga terdiri atas frekuensi tahunan dan bulanan.
3. Jangkauan
Jangkauan sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga meliputi empat aspek, yaitu:
a. Para pengelola/petugas pencatatan dan pelaporan di berbagai tingkatan wilayah;
b. Para kader KB di kelompok kegiatan di berbagai tingkatan;
c. Klinik KB, dokter/bidan praktik swasta dan petugas penghubung DBS; dan
d. RT, RW, desa/kelurahan/kecamatan, Kabupaten dan Kota, provinsi sampai
dengan nasional.
D. Rangkuman
Dalam rangka menunjang penyediaanan kualitas data dan informasi program
pembangunan kependudukan, KB, pembangunan keluarga yang memadai, akurat, dan
tepat waktu, maka dikembangkan sistem pencatatan dan pelaporan program
kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga yang terdiri atas tiga sub. sistem, yaitu
sub. sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi, sub. sistem pencatatan
dan pelaporan pengendalian lapangan, dan subsistem pendataan keluarga.
Tiga dasar pemikiran yang melandasi pentingnya pencatatan dan pelaporan program
kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga adalah proses kegiatan
dan hasil kegiatannya sebagai bukti nyata (evidence base) dan pemenuhan akuntabilitas
publik, data dan informasi yang dikumpulkan merupakan variabel data yang digunakan
sebagai bahan penentuan dan monitoring indikator kinerja program. Oleh karena itu,
pengertian dan definisi operasional dari data dan informasi tersebut diberlakukan dalam
sistem yang standar secara nasional, data dan informasi program kependudukan, KB,
dan pembangunan keluarga ini dapat dikumpulkan secara cepat, tepat, dan akurat untuk
memenuhi kebutuhan pengelolaan operasional program, perencanaan, dan evaluasi
sasaran program di berbagai tingkatan wilayah dan tempat pelayanan.
Tujuan umum sistem pencatatan dan pelaporan program KKBPK adalah menjamin
ketersediaan data dan informasi yang berkualitas untuk manajemen program KKBPK di
semua tingkatan.
Ruang lingkup dari pencatatan dan pelaporan program kependudukan, KB dan
pembangunan keluarga adalah para petugas/pengelola pencatatan dan pelaporan, para

kader, klinik KB, dokter/bidan praktik swasta, dan unsur pemerintahan di berbagai
tingkatan wilayah.
E. Latihan
1. Jelaskan tentang dasar pemikiran yang melandasi pencatatan dan pelaporan
program kependudukan, KB dan pembangunan keluarga.
2. Sebutkan jenisjenis dari sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan,
KB dan pembangunan keluarga.
3. Jelaskan tujuan dari pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga.
4. Jelaskan sasaran dari masingmasing sub.sistem pencatatan dan pelaporan
program kependudukan, KB dan pembangunan keluarga.
5. Sebutkan frekuensi dari pencatatan dan pelaporan program kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga.
6. Uraikan jangkauan dari masingmasing subsistem pencatatan dan pelaporan
program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga.

BAB III
SUBSISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN
PELAYANAN KONTRASEPSI

Indikator Keberhasilan :
Setelah membaca bab ini peserta diklat diharapkan dapat menguraikan subsistem
pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi yang meliputi pengertian, jenis, dan
kegunaan register, kartu, dan formulir, mekanisme pencatan dan pelaporan, dan alur
pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi program kependudukan KB,
dan pembangunan keluarga

A. Pengertian Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi


Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan mencatat dan
melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang
dilakukan oleh faskes KB serta dokter/bidan praktik mandiri.
Pelaksanaan pencatatan data dan hasil kegiatan dilakukan setiap hari atau setiap
pelaksanaan kegiatan dan dilaporkan secara rutin setiap bulan mapun tahunan dengan
mengacu pada pedoman, mekanisme, dan arus subsistem pencatatan dan pelaporan
pelayanan kontrasepsi program KKB nasional yang sudah dibakukan.
B. Jenis dan Kegunaan Register, Kartu, dan Formulir
1. Di Tingkat Kecamatan Oleh Faskes Kb Dan Dokter/Bidan Praktek Mandiri
a. Kartu Pendaftaran Faskes KB (K/O/KB/13)
K/O/KB/13 digunakan untuk pendaftaran baru dan ulang dari semua klinik KB.
Pendaftaran klinik KB baru dilakukan setiap saat setelah peresmian/pembukaan
Faskes KB yang bersangkutan. Adapun pendaftaran ulang klinik KB dilakukan
pada setiap awal tahun anggaran (bulan Januari). Kartu ini berisi informasi
tentang identitas, jumlah tenaga, serta pelatihan yang pernah diikuti, sarana
perlengkapan fasilitas kesehatan (faskes) KB, dan keterangan yang diperlukan
serta penanggung jawab/pimpinan pada setiap klinik.
b. Kartu Tanda Peserta KB (K/I/KB/13)
K/I/KB/13 adalah kartu tanda peserta KB yang diberikan kepada akseptor yang
telah dilayani KB sebagai tanda dan digunakan untuk kunjungan berikutnya.
c. Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/13)
K/IV/KB/13 dibuat untuk setiap pengunjung baru faskes KB, yaitu peserta KB
baru dan peserta KB lama, pindahan dari faskes KB atau tempat pelayanan KB
lain. Adapun untuk pelayanan di dokter/bidan praktik mandiri menggunakan kartu
pasien yang sudah ada di masing-masing DBM. K/IV/KB/13 berfungsi untuk
9

mencatat identitas, catatan medik hasil skrining atau pemeriksaan, dan


kunjungan ulang peserta KB.
d. Register Hasil Pelayanan KB di Klinik KB (R/I/KB/13)
R/I/KB/13 adalah catatan yang dibuat di faskes KB dengan tujuan untuk
mempermudah petugas klinik dalam membuat laporan bulanan faskes KB
(F/II/KB/13). R/I/KB/13 juga adalah catatan yang memuat semua hasil kegiatan
pelayanan faskes KB yang dilakukan setiap hari pelayanan, baik yang dilakukan
di dalam maupun di luar faskes KB.
e. Register Alat dan Obat Kontrasepsi Klinik KB (R/II/KB/13)
R/II/KB/13 dibuat sebagai sumber data bagi tenaga administrasi/petugas R/R
faskes KB dalam mengisi formulir laporan bulanan faskes KB (F/II/KB/13),
khususnya untuk tabel III, persediaan alat kontrasepsi. Setiap hari pelayanan,
semua penerimaan dan pengetuaran alat kontrasepsi dicatat pada kolom yang
disediakan menurut jenis alat kontrasepsi, baik yang digunakan dalam pelayanan
di klinik KB maupun dari dan untuk saluran Desa (PPKBD/Sub PPKBD). Setiap
bulan pencatatan dilakukan pada halaman baru, lembar berikutnya.
Untuk saluran Desa, penerimaan kembali dan pengeluaran kontrasepsi pil dan
kondom dari dan kepada Sub-PPKBD dan PPKBD, pada kolom pil dan kondom
diisi jumlah yang diterima dan dikeluarkan. Adapun nama Sub-PPKBD dan
PPKBD yang menyerahkan dan yang menerima dicatat pada kolom keterangan
sesuai dengan tanggal penerimaan dan pengeluaran.
f.

Laporan Bulanan Fasilitas Kesehatan Keluarga Berencana (F/II/KB/13)


Laporan Bulanan faskes KB (F/II/KB/13) digunakan sebagai sarana untuk
membuat laporan kegiatan dan hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi, serta
keadaan alat kontrasepsi di setiap faskes KB. Laporan Bulanan faskes KB
(F/II/KB/13) dibuat oleh petugas faskes KB setiap akhir bulan dan ditandatangani
oleh pimpinan faskes KB atau petugas yang ditunjuk.

2. Di Tempat Pelayanan Dokter/Bidan Praktik Mandiri


a) Buku Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepsi pada Dokter dan Bidan Mandiri
(B/I/DBM/13)
Buku bantu ini dipergunakan sebagai sarana untuk mencatat hasil pelayanan
peserta KB baru/ulangan menurut metode kontrasepsi, pemberian informed
consent (IUD, MOW, MOP, dan Implant) serta pencabutan/pemasangan ulang
IUD dan Implant oleh dokter dan bidan Mandiri
Pengisian buku bantu ini dilakukan oleh petugas/dokter/bidan praktik swasta
dengan mengisikan angka pada kolom-kolom sesuai dengan metode kontrasepsi
yang dilayani setiap harinya dan dijumlahkan pada setiap akhir bulan. Khusus
untuk peserta KB kondom, suntikan, dan pil dicatat baik untuk peserta KB baru
maupun peserta KB lama/ulangan dengan menulis pada kolom keterangan kode
PB untuk peserta KB baru, dan PA untuk peserta KB lama/ulangan. Hal ini
bermaksud untuk menghindari penghitungan ganda peserta KB baru yang
menggunakan metode kontrasepsi tersebut.
10

b) Laporan Bulanan Petugas Penghubung tentang Hasil Pelayanan


Kontrasepsi oleh Dokter dan Bidan Mandiri (F/I/PH/DBM/13)
Laporan bulanan petugas penghubung yaitu formulir laporan petugas
penghubung dokter/bidan praktik mandiri yang digunakan oleh para petugas
penghubung untuk mencatat dan melaporkan jumlah pelayanan KB yang
dilakukan Secara Mandiri di tempat pelayanan Praktek Dokter dan Bidang
Mandiri. F/I/PH DBM/13 ini adalah penjumlahan dari B/I/DBM/13 masing- masing
DBM yang ada di suatu wilayah yang kemudian oleh petugas penghubung
diserahkan kepada klinik KB induknya untuk masuk dalam laporan bulanan klinik
KB yang bersangkutan.
3. Di Tingkat Kabupaten danKota oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah Pengelola
Program KB (SKPD-KB) Kabupaten danKota
a. Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Klinik KB Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab.K/0/KB/13)
Rek.Kab.K/0/KB/13 dibuat bertujuan untuk memberikan informasi tentang
identitas, potensi, jumlah tenaga, pelatihan teknis pelayanan KB dan RR, serta
sarana dan perlengkapan klinik KB yang bisa dipakai pada setiap klinik KB di
suatu wilayah Kabupaten dan Kota.
b. Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB Tingkat Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab.F/II/KB/13)
Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab
F/II/KB/13) dibuat sebulan sekali pada awal bulan berikutnya dari bulan laporan.
Tujuannya adalah untuk melaporkan seluruh kegiatan pelayanan KB dan hasil
kegiatan, serta keadaan alat kontrasepsi dari semua klinik KB yang berada di
wilayah Kabupaten dan Kota selama satu bulan laporan.
2. Di tingkat Provinsi oleh BKKBN Provinsi
Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Klinik Keluarga Berencana Tingkat Provinsi
(Rek.Prov.K/0/KB/13) dibuat setahun sekali oleh BKKBN Provinsi setiap awal tahun
anggaran (bulan Februari) setelah menerima Rek.Kab.K/0/KB/13 dari semua Satuan
Kerja Perangkat Daerah Pengelola Program KB (SKPD-KB) Kabupaten dan Kota
yang melapor. Formulir ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang identitas
dan jumlah tenaga, pelatihan teknis pelayanan dan RR, serta sarana dan
perlengkapan klinik KB yang bisa dipakai di semua klinik KB di seluruh Kabupaten
dan Kota di Provinsi yang bersangkutan. Rek.Prov.K/0/KB/13 sumber datanya
diambil dari kolom penjumlahan pada formulir Rek.Kab.K/0/KB/13.
C. Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan
1. Tahunan
a. Setiap pembukaan atau peresmian Faskes KB baru, Faskes KB baru tersebut
membuat atau mencatat Kartu Pendaftaran Faskes KB (K/0/KB/13) dalam
11

rangkap 3 (tiga), satu copy dikirim ke SKPD-KB Kabupaten dan Kota, satu copy
untuk tembusan dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota, dan satu copy
lainnya untuk arsip, yang dikirim segera setelah peresmian Faskes KB baru.
Untuk melakukan pemutakhiran data K/0/KB/13 ini, setiap tahun pada bulan
Januari awal tahun anggaran, dilakukan pendaftaran ulang untuk setiap Faskes
KB, dengan mengisi kembali Kartu Pendaftaran Faskes KB (K/0/KB/13) dalam
rangkap 3 (tiga), satu copy dikirim ke SKPD-KB Kabupaten dan Kota, satu copy
untuk tembusan dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota, dan satu copy
lainnya untuk arsip, selambat-lambatnya tanggal 7 Januari setiap awal tahun. Hal
ini dimaksudkan untuk melakukan perbaikan/penyesuaian data dan informasi
mengenai Faskes KB yang bersangkutan.
b. Setiap awal tahun anggaran (bulan Januari) SKPD-KB Kabupaten dan Kota
membuat Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Faskes KB Tingkat Kabupaten dan
Kota, dengan menggunakan formulir Laporan Rek.Kab K/0/KB/13. Data untuk
membuat laporan ini diambil dari semua K/0/KB/13 yang diterima dari Faskes KB
yang berada di wilayah kerja SKPD-KB Kabupaten dan Kota. Rekapitulasi Kartu
Pendaftaran Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab K/0/KB/13)
dikirim oleh SKPD-KB Kabupaten dan Kota setiap tahun ke Perwakilan BKKBN
Provinsi. Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab.K/0/KB/13), dibuat rangkap 4 (empat), 1 lembar untuk arsip, 1 lembar
untuk Perwakilan BKKBN Provinsi, serta 2 lembar masing-masing untuk
tembusan ke Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota dan BKKBN Pusat, dikirim
selambat-lambatnya pada tanggal 21 Januari setiap tahun.
c. Setiap awal tahun anggaran (bulan Februari) Perwakilan BKKBN Provinsi
membuat Rekapitulasi Pendaftaran Faskes KB Tingkat Provinsi, dengan
menggunakan formulir Laporan Rek.Prov.K/0/KB/13. Data untuk membuat
laporan ini diambil dari semua Rek.Kab.K/0/KB/13 yang diterima dari SKPD-KB
Kabupaten dan Kota yang berada di wilayah kerja Perwakilan BKKBN Provinsi.
Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Faskes KB Tingkat Provinsi (Rek.Prov.K/0/KB/13)
dibuat rangkap 2 (dua), dikirim oleh Perwakilan BKKBN Provinsi setiap tahun ke
BKKBN Pusat cq. Direktorat Pelaporan dan Statistik dan satu copy lainnya untuk
arsip, dikirim selambat-lambatnya tanggal 7 Februari setiap tahun.
d. BKKBN Pusat cq. Direktorat Pelaporan dan Statistik setiap tahun menyampaikan
umpan balik hasil pengolahan Rek.Prov.K/0/KB/13 ke semua pimpinan di jajaran
BKKBN Pusat, Perwakilan BKKBN Provinsi, dan Mitra Kerja di Pusat.
2. Bulanan
Setiap awal bulan, petugas Faskes KB membuat Laporan Bulanan Faskes KB
(F/II/KB/13). Laporan Bulanan Faskes KB (F/II/KB/13) bersumber pada hasil
pelayanan yang dicatat dalam catatan harian (R/I/KB/13), penerimaan dan
pengeluaran jenis/alat kontrasepsi oleh Faskes KB yang dicatat pada R/II/KB/13,
serta F/I/PH/DBM/13 dari petugas penghubung yang terdapat di wilayah kerja Klinik
12

KB Pratama . Laporan Bulanan Faskes KB (F/II/KB/13) dibuat oleh Faskes KB


setiap bulan dalam rangkap 4 (empat), masing-masing dikirim ke SKPD-KB
Kabupaten dan Kota, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota, Kantor Camat, dan
arsip, selambat-lambatnya tanggal 7 bulan berikutnya.
Wilayah kerja Faskes KB (khususnya Puskesmas) yang ada pelayanan Dokter dan
Bidan Praktek Mandiri serta Faskes KB Jejaring, setiap bulan Petugas Penghubung
Dokter dan Bidan Praktek Mandiri membuat Laporan Bulanan Petugas Penghubung
Hasil Pelayanan Kontrasepsi oleh Dokter/Bidan Praktek Mandiri (F/I/PH/DBM/13)
sebagai sumber data untuk mengisi F/II/KB/13. F/I/PH/DBM/11 dikirimkan dalam
rangkap 2 (dua) yaitu ke Klinik KB Pratama selambat-lambatnya tanggal 5 bulan
berikutnya dan arsip. Laporan F/I/PH/DBM/13 bersumber pada hasil pelayanan
Dokter dan Bidan Praktek Mandiri yang dicatat dalam Buku Bantu B/I/DBM/13.
Setiap bulan SKPD-KB Kabupaten dan Kota membuat Rekapitulasi Laporan Bulanan
Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab.F/II/KB/13). Data untuk membuat
laporan ini diambil dari Laporan Bulanan Faskes KB (F/II/KB/13) yang diterima dari
Faskes KB yang berada di wilayah Kabupaten dan Kota yang bersangkutan.
Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab
F/II/KB/13) dibuat setiap bulan rangkap 3 (tiga), dikirim selambat-lambatnya tanggal
10 bulan berikutnya ke Perwakilan BKKBN Provinsi, tembusan ke BKKBN Pusat cq.
Direktorat Pelaporan dan Statistik, serta arsip. Pengiriman Rekapitulasi Laporan
Bulanan Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab.F/II/KB/13) ke alamat
tersebut setiap bulan bisa menggunakan cara manual (pos/kurir) atau elektronik
(fax/email/sms/web online http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
SKPD-KB Kabupaten dan Kota setiap bulan menyampaikan Umpan Balik hasil
pengolahan data Laporan Bulanan Faskes KB (F/II/KB/13) ke Camat dan Mitra Kerja
tingkat Kabupaten dan Kota.
a. Setiap bulan Perwakilan BKKBN Provinsi cq. Bidang Advokasi, Penggerakan,
dan Informasi (ADPIN) membuat Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB
Tingkat Provinsi (Rek.Prov.F/II/KB/13). Data untuk membuat laporan ini diambil
dari Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab.F/II/KB/13) yang diterima dari SKPD-KB Kabupaten dan Kota yang
berada di wilayah provinsi yang bersangkutan. Rekapitulasi Laporan Bulanan
Faskes KB Tingkat Provinsi (Rek.Prov. F/II/KB/13) dibuat rangkap 2 (dua) setiap
bulan oleh Perwakilan BKKBN Provinsi, dikirim ke BKKBN Pusat cq. Direktorat
Pelaporan dan Statistik dan arsip, selambat-lambatnya tanggal 15 bulan
berikutnya. Pengiriman Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB Tingkat
Provinsi (Rek.Prov. F/II/KB/13) ke alamat tersebut setiap bulan dengan cara web
online (http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
Sub Bidang Data dan Informasi Perwakilan BKKBN Provinsi setiap bulan
menyampaikan Umpan Balik hasil pengolahan data Rekapitulasi Laporan
Bulanan Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab.F/II/KB/13) ke SKPDKB Kabupaten dan Kota dan Mitra Kerja tingkat provinsi.
13

b. BKKBN Pusat cq. Direktorat Pelaporan dan Statistik setiap bulan menyampaikan
Umpan Balik hasil pengolahan data Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB
Tingkat Provinsi (Rek.Prov.F/II/KB/13) ke semua Pimpinan di jajaran BKKBN
Pusat, Perwakilan BKKBN Provinsi, dan Mitra Kerja di Pusat.
3. Harian
Setiap peserta KB baru dan peserta KB pindahan dari Faskes KB atau tempat
pelayanan lain, dibuatkan Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/13), antara lain memuat
ciri-ciri peserta KB yang bersangkutan, kartu ini disimpan di Faskes KB bersangkutan
dan digunakan kembali sewaktu peserta KB melakukan kunjungan ulang di faskes
tersebut. Selain itu juga dibuatkan Kartu Peserta KB (K/I/KB/13).
Selain itu, setiap hari pelayanan KB untuk peserta KB baru dan ulangan yang datang
ke Faskes KB harus dicatat dalam Register Faskes KB (R/I/KB/13), dan pada setiap
akhir bulan dilakukan penjumlahan hasil pelayanan KB. Register ini merupakan salah
satu sumber data untuk pengisian Laporan Bulanan Faskes KB (F/II/KB/13).
Setiap penerimaan dan pengeluaran jenis/alat kontrasepsi oleh Faskes KB dicatat
dalam Register Alat Kontrasepsi Faskes KB (R/II/KB/13), dan pada setiap akhir bulan
dilakukan penjumlahan. Register Alat Kontrasepsi Faskes KB (R/II/KB/13)
merupakan salah satu sumber data untuk pengisian Laporan Bulanan Faskes KB
(F/II/KB/13).
Wilayah kerja Faskes KB (khususnya Puskesmas) yang ada pelayanan Dokter dan
Bidan Praktek Mandiri setiap hari mencatat hasil pelayanan KB nya di dalam Buku
Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepsi Pada Dokter/Bidan Praktik Mandiri (B/I/DBM/13),
dan pada setiap akhir bulan dilakukan penjumlahan. Buku Bantu B/I/DBM/13 lalu
diserahkan ke Petugas Penghubung Dokter/Bidan Praktek Mandiri atau PKB/PLKB
untuk direkap menjadi F/I/PH/DBM/13. Kemudian Petugas Penghubung
menyampaikan laporan F/I/PH/DBM/13 ke Klinik KB Pratama. Jika tidak ada petugas
penghubung maka Buku Bantu B/I/DBM/13 dapat disampaikan langsung ke Klinik KB
Pratama . Namun, Dokter dan Bidan Praktek Mandiri bisa mengirimkan hasil
rekapitulasi B/I/DBM/13 setiap bulan melalui program aplikasi WAP Gateway paling
lambat tanggal 5 bulan berikutnya. Aplikasi WAP Gateway ini bisa diakses melalui
handphone atau komputer/laptop yang memiliki akses internet dengan alamat
http://dbs.bkkbn.go.id/.
D. Alur pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi
Kartu Pendaftaran Faskes KB (K/0/KB/13) dibuat dan dikirim setiap tahun sekali oleh
Faskes KB ke SKPD-KB Kabupaten dan Kota selambat-lambatnya tanggal 7 Januari
setiap tahun secara manual atau secara web online (http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab.K/0/KB/13) dibuat dan dikirim setiap tahun sekali oleh SKPD-KB Kabupaten
dan Kota ke Perwakilan BKKBN Provinsi dan mitra kerja selambat-lambatnya tanggal 21
Januari setiap tahun secara manual atau secara web online (http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
14

Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Faskes KB Tingkat Provinsi (Rek.Prov. K/0/KB/13)


dikirim oleh Perwakilan BKKBN Provinsi ke BKKBN Pusat cq. Direktorat Pelaporan dan
Statistik selambat-lambatnya tanggal 7 Februari setiap tahun secara manual atau
secara web online (http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
Laporan Bulanan Petugas Penghubung Hasil Pelayanan Kontrasepsi oleh Dokter/Bidan
Praktek Mandiri (F/I/PH/DBM/13) bersumber pada B/I/DBM/13 yang dibuat oleh
Dokter/Bidan Praktek Mandiri (DBM) dikirimkan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan
berikutnya :
1. F/I/PH/DBM/13 dikirimkan oleh DBM ke PKB/PLKB/Petugas Penghubung, lalu
dikumpulkan ke Klinik KB Pratama (RS/Puskesmas);
2. F/I/PH/ DBM/13 dikirimkan langsung oleh DBM ke Klinik KB Pratama
(RS/Puskesmas);
Hasil rekapitulasi B/I/DBM/13 setiap bulan bisa juga dikirimkan oleh Dokter dan Bidan
Praktek Mandiri melalui telepon genggam (ponsel) yang memiliki akses internet dengan
alamat http://dbs.bkkbn.go.id/ paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.
Laporan Bulanan Faskes KB (F/II/KB/13) dibuat dan dikirim setiap bulan oleh Faskes KB
Jejaring ke Klinik KB Pratama (RS/Puskesmas) selambat-lambatnya tanggal 5 bulan
berikutnya.
1. F/II/KB/13 dikirimkan oleh Faskes KB Jejaring ke PKB/PLKB/Petugas Penghubung,
lalu dikumpulkan ke Klinik KB Pratama (RS/Puskesmas);
2. F/II/KB/13 dikirimkan langsung oleh Faskes KB Jejaring ke Klinik KB Pratama
(RS/Puskesmas);
Laporan Bulanan Faskes KB (F/II/KB/13) dibuat dan dikirim setiap bulan oleh Klinik KB
Pratama (RS/Puskesmas) ke SKPD-KB Kabupaten dan Kota, Camat, dan Mitra Kerja
Tingkat Kabupaten dan Kota (Dinas Kesehatan) selambat-lambatnya tanggal 7 bulan
berikutnya secara manual atau secara web online (http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab.
F/II/KB/13) dibuat dan dikirim setiap bulan melalui cara manual (pos/kurir) atau elektronik
(fax/email/sms/Web online) oleh SKPD-KB Kabupaten dan Kota ke Perwakilan BKKBN
Provinsi dan BKKBN Pusat cq. Direktorat Pelaporan dan Statistik selambat-lambatnya
tanggal 10 bulan berikutnya secara manual atau secara web online
(http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB Tingkat Provinsi (Rek.Prov. F/II/KB/13) dibuat
dan dikirim setiap bulan dari Perwakilan BKKBN Provinsi ke BKKBN Pusat cq. Direktorat
Pelaporan dan Statistik selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya secara manual
atau secara web online (http://aplikasi.bkkbn.go.id/sr/).
BKKBN Pusat cq. Direktorat Pelaporan dan Statistik setiap bulan menyampaikan Umpan
Balik hasil pengolahan data Rekapitulasi Laporan Bulanan Faskes KB Tingkat Provinsi
(Rek.Prov.F/II/KB/13) ke semua pimpinan di jajaran BKKBN Pusat, Perwakilan BKKBN
Provinsi, dan Mitra Kerja Tingkat Pusat.
15

Perwakilan BKKBN Provinsi cq. Bidang Advokasi, Penggerakan, dan Informasi (ADPIN)
setiap bulan menyampaikan Umpan Balik hasil pengolahan data Rekapitulasi Laporan
Bulanan Faskes KB Tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab.F/II/KB/13) ke SKPD-KB
Kabupaten dan Kota dan Mitra Kerja Tingkat Provinsi.
Arus pencatatan dan pelaporan yang dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut :

16

E. Rangkuman
Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan mencatat dan
melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang
dilakukan oleh klinik KB serta dokter/bidan praktik Mandiri.
Adapun Jenis register, kartu, dan formulir yang dipakai dalam pencatatan dan
pelaporan pelayanan kontrasepsi program KKB nasional adalah sebagai berikut :
1. Kartu pendaftaran Faskes KB (K/0/KB/13).
2. Rekapitulasi kartu pendaftaran faskeskb tingkat Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab.K/0/KB/13).
3. Rekapitulasi kartu pendaftaran klinik kb tingkat Provinsi (Rek.Prov. K/0/KB/13).
4. Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/13) yang antara lain memuat ciri-ciri peserta KB
yang bersangkutan. Kartu ini disimpan di faskes KB bersangkutan dan digunakan
kembali sewaktu peserta KB melakukan kunjungan ulang di faskes tersebut.
5. Kartu peserta KB (K/I/KB/13).
6. Resister peserta KB yang datang dan dilayani setiap buka hari pelayanan di faskes
KB dicatat dalam register faskes KB (R/I/KB/13), dan pada setiap akhir bulan
dilakukan penjumlahan dari hasil pelayanan KB di faskes KB (R/II/KB/13) yang
merupakan salah satu sumber data untuk pengisian laporan bulanan faskes KB
(F/II/KB/13).
7. Setiap penerimaan dan pengeluaran jenis/alat kontrasepsi oleh klinik KB dicatat
dalam Register Alat Kontrasepsi faskes KB (R/II/KB/13), dan pada setiap akhir bulan
dilakukan penjumlahan. Register Alat Kontrasepsi faskes KB (R/II/KB/13) yang
merupakan salah satu sumber data untuk pengisian laporan bulanan faskes KB
(F/II/KB/13).
8. Buku catatan dokter/ bidan praktik mandiri (B/I/DBM/2013).
9. Laporan bulanan petugas penghubung hasil pelayanan kontrasepsi oleh dokter/bidan
praktik mandiri (F/I/PH/DBM/13).
10. Laporan bulanan faskes KB (F/II/KB/13).
11. Rekapitulasi laporan bulanan faskes KB tingkat Kabupaten dan Kota (Rek.Kab.
F/II/KB/13).
12. Rekapitulasi laporan bulanan faskes KB tingkat Provinsi (Rek.Prov. F/II/KB/13).
F. Latihan
1. Sebutkan pengertian pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi program KKB
nasional!
2. Jelaskan jenisjenis
register, kartu, dan formulir yang dipergunakan dalam
pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi program KKB nasional!
3. Uraikan arus pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi!

17

BAB IV
SUBSISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN
PENGENDALIAN LAPANGAN

Indikator Keberhasilan:
Setelah membaca bab ini peserta diklat diharapkan dapat menguraikan subsistem
pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan yang meliputi pengertian, jenis, dan
kegunaan register, kartu, dan formulir serta mekanisme dan alur pencatatan dan pelaporan
pengendalian lapangan

A. Pengertian
Pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan adalah mencatat dan melaporkan
hasil pelaksanaan program Kependudukan dan Keluarga Berencana di lini lapangan
dengan format formulir tertentu untuk masing-masing kegiatan. Pencatatan dilakukan
oleh kader kelompok Kegiatan (BKB, BKR, BKL, UPPKS) dan dilaporkan secara
berjenjang ke PLKB/PKB melalui PPKBD/Sub PPKBD direkapitulasi dan dilaporkan
hingga sampai ke Pusat.
B. Jenis dan Kegunaan Register, Kartu dan Formulir
1. Kartu Data Potensi PPLKB
Kartu ini (K/0/PPLKB/13) dibuat oleh PPLKB, digunakan sebagai sarana untuk
mencatat data potensi PPLKB dan dilakukan setiap awal tahun anggaran (bulan
Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke alamat yang dituju :
1 lembar untuk SKPD KB Kab/Kota
1 lembar untuk arsip PPLKB/Ka. UPT/Koordinator KB Kecamatan
Kartu data ini dilaporkan kepada PPLKB selambat-lambatnya pada tanggal 3
Januari setiap tahun
2. Kartu Data Potensi PKB dan PLKB (K/0/PKB/13)
Kartu ini (K/0/PKB/13) dibuat oleh PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan,
digunakan sebagai sarana untuk mencatat data potensi PLKB dan dilakukan setiap
awal tahun anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke
alamat yang dituju :
1 lembar untuk PPLKB/Petugas KB Kecamatan
1 lembar untuk arsip PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan
Kartu data ini dilaporkan kepada PPLKB selambat-lambatnya pada tanggal 3
Januari setiap tahun

18

3. Di Kelompok Institusi Masyarakat Pedesaan


a. Kartu Data Potensi Sub PPKBD (K/0/Sub PPKBD/13)
Kartu ini (K/0/Sub PPKBD/13) dibuat oleh Ketua Sub PPKBD, digunakan sebagai
sarana untuk mencatat data potensi Sub PPKBD dan dilakukan setiap awal
tahun anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke
alamat yang dituju :
1 lembar untuk PLKB/Petugas KB Kecamatan/PPKBD
1 lembar untuk arsip Sub PPKBD
Kartu data ini dilaporkan kepada PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan
selambat-lambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun.
b. Kartu Data Potensi PPKBD (K/0/PPKBD/13)
Kartu ini (K/0/PPKBD/13) dibuat oleh Ketua PPKBD, digunakan sebagai sarana
untuk mencatat data potensi PPKBD dan dilakukan setiap awal tahun anggaran
(bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke alamat yang
dituju:
1 lembar untuk PLKB/Petugas KB Kecamatan
1 lembar untuk arsip PPKBD
Kartu data ini dilaporkan kepada PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan
selambat-lambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun.
c. Kartu Data Potensi Kelompok KB (K/0/POK KB/13)
Kartu ini (K/0/POK KB/13) dibuat oleh Ketua Kelompok KB, digunakan sebagai
sarana untuk mencatat data potensi kelompok KB dan dilakukan setiap awal
tahun anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke
alamat yang dituju :
1 lembar untuk PLKB/PKB/Petugas KB Desa/PPKBD/Sub PPKBD
1 lembar untuk arsip Kelompok KB
Kartu data ini dilaporkan kepada PLKB/PKB/ Petugas KB Desa/Kelurahan
selambat-lambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun.
4. Di Kelompok Kegiatan
a. Kartu Data Potensi Kelompok Kegiatan BKB (K/0/BKB/13)
Kartu ini (K/0/BKB/13) dibuat oleh Ketua kelompok BKB, digunakan sebagai
sarana untuk mencatat data potensi kelompok BKB dan dilakukan setiap awal
tahun anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke
alamat yang dituju :
1 lembar untuk PLKB/PKB/Petugas KB Desa/PPKBD/Sub PPKBD
1 lembar untuk arsip Kelompok Kegiatan BKB
Kartu ini dilaporkan kepada PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan selambatlambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun.
b. Kartu Data Potensi Kelompok Kegiatan BKR (K/0/BKR/13)
Kartu ini (K/0/BKR/13) dibuat oleh Ketua kelompok BKR, digunakan sebagai
sarana untuk mencatat data potensi kelompok BKR dan dilakukan setiap awal
19

tahun anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke
alamat yang dituju :
1 lembar untuk PLKB/PKB/Petugas KB Desa/PPKBD/Sub PPKBD
1 lembar untuk arsip Kelompok Kegiatan BKR
Kartu data ini dilaporkan kepada PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan
selambat-lambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun
c. Kartu Data Potensi Kelompok Kegiatan BKL (K/0/BKL/13)
Kartu ini (K/0/BKL/13) dibuat oleh Ketua kelompok BKL, digunakan sebagai
sarana untuk mencatat data potensi kelompok BKL dan dilakukan setiap awal
tahun anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke
alamat yang dituju :
1 lembar untuk PLKB/PKB/Petugas KB Desa/PPKBD/Sub PPKBD
1 lembar untuk arsip Kelompok Kegiatan BKL
Kartu data ini dilaporkan kepada PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan
selambat-lambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun.
d. Kartu Data Potensi Kelompok UPPKS (K/0/UPPKS/13)
Kartu ini (K/0/UPPKS/13) dibuat oleh Ketua UPPKS, digunakan sebagai sarana
untuk mencatat data potensi kelompok UPPKS dan dilakukan setiap awal tahun
anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke alamat
yang dituju :
1 lembar untuk PLKB/PKB/Petugas KB Desa/PPKBD/Sub PPKBD
1 lembar untuk arsip Kelompok UPPKS
Kartu data ini dilaporkan kepada PLKB/PKB/Petugas KB Desa/Kelurahan
selambat-lambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun.
e. Kartu Data Potensi Kelompok PIK Remaja (K/0/PIK Remaja/13)
Kartu ini (K/0/PIK Remaja/13) dibuat oleh Ketua PIK Remaja, digunakan sebagai
sarana untuk mencatat data potensi PIK Remaja dan dilakukan setiap awal tahun
anggaran (bulan Januari). Kartu ini dibuat rangkap 2 (dua) dan dikirim ke alamat
yang dituju :
1 lembar untuk PPLKB/Petugas KB Kecamatan
1 lembar untuk arsip Kelompok PIK Remaja
Kartu data ini dilaporkan kepada PPLKB/Petugas KB Kecamatan selambatlambatnya pada tanggal 3 Januari setiap tahun.
C. Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan
Kependudukan dan KB Nasional.

Pengendalian

Lapangan

Program

1. Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan Tahunan


a. Di Tingkat Kecamatan
Setiap awal tahun dilakukan pendataan/updating potensi wilayah kecamatan
untuk mengetahui data tentang cakupan wilayah, jumlah petugas lapangan,
jumlah IMP, jumlah Kelompok Ketahanan Keluarga, jumlah Kelompok Kegiatan
Ekonomi Keluarga, jumlah KB Tempat Kerja, jumlah Sarana dan Tenaga KIE,
20

jumlah Konseling Remaja dan Mahasiswa dan jumlah Tempat Pelayanan


Kontrasepsi. Instrumen yang digunakan adalah K/0/Kec-Dal/13 yang diisi oleh
PPLKB/Ka. UPT/Koordinator KB Kecamatan. Hasil pendataan potensi wilayah
kecamatan tersebut paling lambat tanggal 7 Januari setiap tahunnya dilaporkan
ke SKPD KB Kabupaten dan Kota dan kepada Camat.
b. Di Tingkat Kabupaten dan Kota
Hasil pendataan potensi wilayah di tingkat Kecamatan dilaporkan ke SKPD KB
Kabupaten dan Kota kemudian direkapitulasi secara manual atau dengan
program aplikasi komputer dalam format Rek.Kab.K/0/Kec-Dal/13 yang
menggambarkan potensi wilayah pada butir (a) di suatu Kabupaten dan Kota.
Hasil rekapitulasi tersebut paling lambat tanggal 21 Januari setiap tahunnya
dilaporkan ke Perwakilan BKKBN Provinsi dan kepada Bupati/Walikota serta
Mitra Kerja di wilayahnya.
c. Di Tingkat Provinsi
Hasil rekapitulasi pendataan potensi wilayah di tingkat Kabupaten dan Kota
kemudian direkapitulasi secara manual atau dengan program aplikasi komputer
dalam format Rek.Prov.K/0/Kec-Dal/13 yang menggambarkan potensi wilayah
pada butir (b) di suatu Provinsi. Hasil rekapitulasi tersebut paling lambat tanggal
7 Februari setiap tahunnya dilaporkan ke BKKBN Pusat dan Gubernur serta Mitra
Kerja di wilayahnya.
d. Di Tingkat Pusat
Hasil rekapitulasi pendataan potensi wilayah di tingkat provinsi kemudian
direkapitulasi secara manual atau dengan program aplikasi komputer untuk
menggambarkan kondisi secara nasional potensi wilayah dalam pelaksanaan
Program KKBN. Setiap akhir Februari hasil olahan tersebut dilaporkan kepada
Pimpinan dan komponen BKKBN Pusat dan Perwakilan BKKBN Provinsi seluruh
Indonesia serta Mitra terkait di Pusat.
2. Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan Bulanan
a. Di Tingkat Desa/Kelurahan
Diawali dengan langkah identifikasi sasaran kelompok kegiatan di suatu wilayah.
Sumber Data adalah hasil Pendataan keluarga yang dicatat dalam R/I/KS/13.
Daftar Keluarga yang mempunyai Balita dicatat dalam format R/I/BKB/13. Daftar
Keluarga yang mempunyai Balita dicatat dalam format R/I/BKB. Daftar Keluarga
yang mempunyai Remaja dicatat dalam format R/I/BKR. Daftar Keluarga yang
mempunyai Lansia dicatat dalam format R/I/BKL. Daftar Keluarga yang mejadi
anggota UPPKS diicatat dalam format R/I/UPPKS. Register-register tersebut
digunakan untuk mencatat hasil kegiatan bulanan anggota kelompok. Kemudian
direkap dalam format Catatan (C/I/BKB/13, C/I/BKR/13, C/I/BKL/13,
C/I/UPPKS/13) dilaporkan kepada PPKBD/Sub PPKBD dan kemudian sebagai
sumber data laporan yang akan dikompilasi oleh PLKB/PKB tanggal 3 setiap
bulannya dalam format C/I/Des-Dal/13 yang merupakan buku visum atau catatan
petugas. Selanjutnya PLKB/PKB melaporkan seluruh hasil kegiatan di lini
21

lapangan ke Pengawas PLKB/Ka.UPT/Koordinator KB Kecamatan dalam format


F/I/Dal/13 pada tanggal 5 setiap bulannya. Untuk mencatat kegiatan KIE oleh
Toma-Toga digunakan format Register R/I/Toma-Toga/13 yang diisi oleh PLKB
dan dilaporkan dalam format C/I/Des-Dal/13.
b. Di Tingkat Kecamatan
Hasil laporan kegiatan dari tingkat desa/kelurahan dikompilasi oleh PPLKB dalam
format Rek.Kec.F/I/Dal/13 dan tanggal 7 setiap bulannya laporan tersebut dikirim
ke SKPD Kabupaten dan Kota untuk diolah lebih lanjut. Selain itu laporan
tersebut dikirim ke Camat.
c. Di Tingkat Kabupaten dan Kota
Laporan Rekapitulasi Rek.Kec.F/I/Dal/13 dari setiap kecamatan dikompilasi oleh
SKPD KB kab/kota dalam format Rek.Kab.F/I/Dal/13 dan tanggal 10 setiap
bulannya laporan tersebut dikirim ke provinsi untuk diolah lebih lanjut. Selain itu
laporan tersebut dikirim ke Bupati/Walikota dan Mitra Kerja terkait serta
diumpanbalikan ke masing-masing kecamatan.
d. Di tingkat Provinsi
Laporan Rekapitulasi Rek.Kab.F/I/Dal/13 dari setiap kab/kota dikompilasi oleh
Perwakilan BKKBN Provinsi dan tanggal 15 setiap bulannya laporan tersebut
dikirim ke BKKBN Pusat (cq. Ditlaptik). Selain itu laporan tersebut dikirim ke
Gubernur dan Mitra Kerja terkait serta diumpanbalikan ke masing-masing
Kabupaten dan Kota.
e. Di Tingkat Pusat
Laporan Rekapitulasi Rek.Prov.F/I/Dal/13 dari setiap provinsi dikompilasi oleh
BKKBN Pusat setiap akhir bulan laporan tersebut dikirim ke komponen BKKBN
Pusat dan Mitra Kerja di tingkat Pusat serta diumpanbalikan ke Perwakilan
BKKBN Provinsi.

22

Berikut adalah alur mekanisme Pencatatan dan Pelaporan Pengendalian Lapangan :

23

D. Rangkuman
Pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan program pembangunan kependudukan
dan keluarga berencana nasional adalah segala kegiatan mencatatan dan melaporkan
potensi dan hasil kegiatan yang dilakukan oleh para pengelola/petugas KB/pencatatan
dan pelaporan serta oleh para kader mengenai operasionalisasi program kependudukan
dan keluarga berencana. Jenis register, kartu dan formulir yang digunakan dalam
pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan adalah sebagai berikut :
1. Di Tingkat Desa
a. Di Kelompok Institusi Masyarakat PeDesaan
1) Kartu Data Potensi Sub PPKBD (K/0/Sub PPKBD/13)
2) Kartu Data Potensi PPKBD (K/0/PPKBD/13)
3) Kartu Data Potensi Kelompok KB (K/0/POK KB/13)
4) Kartu Data Potensi PKB dan PLKB (K/0/PKB/13)
b. Di Kelompok Kegiatan Kegiatan BKB
1) Kartu Data Potensi Kelompok Kegiatan BKB (K/0/BKB/13)
2) Register Keluarga yang Mempunyai Balita (R/I/BKB/13)
3) Catatan Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Balita (C/I/BKB/13)
c. Di Kelompok Kegiatan BKR
1) Kartu Data Potensi Kelompok Kegiatan BKR (K/0/BKR/13)
2) Register Keluarga yang Mempunyai Remaja (R/I/BKR/13)
3) Catatan Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Remaja (C/I/BKR/13)
d. Di Kelompok Kegiatan BKL
1) Kartu Data Potensi Kelompok Kegiatan BKL (K/0/BKL/13)
2) Register Keluarga yang Mempunyai Lansia (R/I/BKL/13)
3) Catatan Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Lansia (C/I/BKL/13)
e. Di Kelompok UPPKS
1) Kartu Data Potensi Kelompok UPPKS (K/0/UPPKS/13)
2) Register Kegiatan Kelompok UPPKS (R/I/UPPKS/13)
3) Catatan Kegiatan Kelompok UPPKS (C/I/UPPKS/13)
f.
g.
h.
i.

Register Pembinaan PUS dan Peserta KB bagi Seluruh Keluarga (R/I/PUS/13)


Register Tokoh Agama, Masyarakat dan Adat (R/I/Toma-Toga-Toda/13)
Catatan Kegiatan Tingkat Desa/kelurahan Pada PLKB (C/I/Des-Dal/13).
Laporan Bulanan Pengendalian Lapangan Tingkat Desa/Kelurahan (F/I/Dal/13)

2. Di Tingkat Kecamatan
a.
b.
c.
d.

Kartu Data Potensi PPLKB (K/0/PPLKB/13)


Kartu Data Potensi Kelompok PIK Remaja (K/0/PIK Remaja/13)
Kartu Data Potensi Wilayah Kecamatan (K/O/Kec-Dal/13)
Laporan Bulanan Pengendalian Lapangan Tingkat Kecamatan (Rek.Kec.F/I/Dal/13)
24

3. Di Tingkat Kabupaten dan Kota


a. Rekapitulasi Data Potensi Wilayah Kecamatan Tingkat Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab. K/O/Kec-Dal/13)
b. Laporan Bulanan Pengendalian Lapangan Tingkat Kabupaten dan Kota
(Rek.Kab.F/I/Dal/13)
4. Di Tingkat Provinsi
a. Rekapitulasi Data Potensi Wilayah Kecamatan Tingkat Provinsi (Rek.Prov.
K/O/Kec-Dal/13)
b. Laporan Bulanan Pengendalian Lapangan Tingkat Provinsi (Rek.Prov.F/I/Dal/13)
E. Latihan
1. Jelaskan definisi pencatatan dan pelaporan pengendalian lapangan program
pembangunan kependudukan dan keluarga berencana nasional!
2. Uraikan jenisjenis register, kartu dan formulir yang dipergunakan dalam pencatatan
dan pelaporan program pembangnan kependudukan dan keluarga berencana
nasional!

25

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Untuk menunjang penyajian data dan informasi program KKB nasional secara cepat,
tepat, dan akurat maka dilakukan suatu cara dalam pengumpulan data melalui suatu
sistem pencatatan dan pelaporan program KKB nasional yang meliputi sub. sistem
pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi, sub. Sistem pencatatan dan
pelaporan pengendalian lapangan dan sub.
Sistem pendataan keluarga. Sistem pencatatan dan pelaporan program KKBPK dibuat
bukan hanya sebagai bahan perencanaan dan alat monitoring program saja, melainkan
juga sebagai bukti nyata (base evidence) serta akuntabilitas publik kepada masyarakat
disekitar wilayah yang bersangkutan.
Untuk memudahkan dan memfasilitasi kegiatan pencatatan dan pelaporan program
kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga, ini disediakan
berbagai instrumen berupa kartu, register, dan formulir berbagai jenis dan kegunaannya
yang memuat berbagai hal yang berkaitan dengan potensi dan kegiatan, hasil kegiatan.
Hal tersebut diatur dalam suatu mekanisme dan arus pencatatan dan pelaporan yang
berjenjang dan berkesinambungan mulai dari tingkatan yang paling dasar sampai
dengan tingkat pusat, sebagai berikut .
Arus pencatatan pelaporan yang ada dan telah dirancang dan dilengkapi dengan
instrumen pencatatan dan pelaporannya disampaikan secara berkala, baik bulanan
maupun tahunan.
B. Evaluasi
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini yang merupakan gabungan dari
pertanyaan-pertanyaan bab-bab sebelumnya:
1. Jelaskan tentang dasar pemikiran yang melandasi pencatatan dan pelaporan
program kependudukan, KB dan pembangunan kependudukan!
2. Sebutkan jenisjenis dari sistem pencatatan dan pelaporan program kependudukan,
KB, dan pembangunan keluarga.!
3. Jelaskan tujuan dari pencatatan dan pelaporan program kependudukan keluarga
berencana dan pembangunan keluarga!
4. Jelaskan sasaran dari masingmasing subsistem pencatatan dan pelaporan program
kependudukan, KB dan pembangunan keluarga!
5. Sebutkan frekuensi dari pencatatan dan pelaporan program kependudukan, KB , dan
pembangunan keluarga!

26

6. Uraikan jangkauan dari masingmasing subsistem pencatatan dan pelaporan


program kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga!
7. Uraikan alur pencatatan dan pelaporan program kependudukan, KB dan
pembangunan keluarga!
8. Uraikan jenisjenis register, kartu dan formulir yang dipergunakan dalam pencatatan
dan pelaporan program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga!

27

DAFTAR ISTILAH

Dalam sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi program KB Nasional ini
banyak dipergunakan istilahistilah khusus, yaitu sebagai berikut :
Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi adalah suatu kegiatan mencatat dan
melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan
oleh Faskes KB Pemerintah maupun Swasta, serta Dokter/Bidan Praktek Mandiri sesuai
dengan sistem yang telah ditetapkan.
Peserta KB Baru adalah pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan
alat/cara kontrasepsi dan atau pasangan usia subur yang kembali menggunakan metode
kontrasepsi setelah melahirkan/keguguran.
Peserta KB Baru Pra Sejahtera (KPS) dan Keluarga Sejahtera I (KS I) adalah pasangan
usia subur dari Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I yang baru pertama kali
menggunakan alat/cara kontrasepsi, dan atau yang kembali menggunakan metode
kontrasepsi setelah melahirkan/keguguran.
Peserta KB Aktif adalah peserta KB yang sedang menggunakan salah satu metode
kontrasepsi secara terus menerus tanpa diselingi kehamilan.
Pelayanan Peserta KB Ulang adalah tindakan kepada peserta KB, meliputi pemberian
kontrasepsi ulang, pencabutan dan pemasangan ulang IUD dan Implan, pelayanan ganti
cara, penanganan kasus komplikasi berat, dan penanganan kasus kegagalan, dengan
penjelasan sebagai berikut:
Pemberian Kontrasepsi Ulang adalah pelayanan kepada peserta KB dengan
memberikan kontrasepsi ulang untuk Pil, Suntikan, dan Kondom;

Pelayanan Pencabutan IUD dan Implan adalah tindakan pelayanan pencabutan IUD
dan Implan yang disebabkan habis masa pemakaian.

Pelayanan Pemasangan Ulang IUD dan Implan adalah pemasangan ulang


kontrasepsi IUD dan Implan dengan alasan komplikasi, habis masa pemakaian, ganti
jenis IUD dan Implan;

Pelayanan Ganti Cara adalah pemberian pelayanan jenis metode kontrasepsi baru
yang berbeda dengan metode kontrasepsi yang dipakai sebelumnya oleh peserta KB,
karena alasan tertentu dan bukan karena alasan setelah melahirkan/keguguran.

Pelayanan Komplikasi Berat adalah pelayanan terhadap gangguan kesehatan akibat


pemakaian alat kontrasepsi, yang harus dilayani secara intensif dan perlu rawat inap di
Rumah Sakit;

Pelayanan Kegagalan adalah pelayanan terhadap terjadinya kehamilan pada peserta


KB yang masih memakai kontrasepsi;
28

Pelayanan Peserta KB Ulang KPS dan KS I adalah tindakan kepada peserta KB dari
Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I, meliputi pemberian kontrasepsi ulang,
pelayanan pemasangan ulang IUD dan Implan, pelayanan ganti cara, penanganan kasus
komplikasi berat, penanganan kasus kegagalan, dan pencabutan Implan dan IUD.
Pelayanan Faskes KB adalah semua kegiatan pelayanan kontrasepsi di Faskes KB baik
berupa pelayanan statis maupun pelayanan tim mobile.
Pelayanan Statis adalah pelayanan KB yang diberikan di tempat pelayanan yang menetap
atau tidak bergerak, yang tergolong bentuk pelayanan statis ialah pelayanan yang dilakukan
di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Polindes, Rumah Sakit, Rumah Bersalin, serta
fasilitas pelayanan kesehatan TNI, POLRI, Swasta (IBI), dan LSOM termasuk organisasi
keagamaan (Muhammadiyah dan NU).
Pelayanan Tim Mobil adalah pelayanan dalam bentuk tim mobil dilaksanakan oleh tim yang
terdiri dari unsur BKKBN, Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi (IBI, PKMI, IDI, POGI),
organisasi keagamaan (Muhammadiyah dan NU) maupun TNI, POLRI, untuk menjangkau
sasaran di tempat terdekat dengan tempat tinggal klien. Pelayanan mobil diprioritaskan pada
daerah yang secara geografis sulit dijangkau dan aksesibilitas ke tempat pelayanan statis
sangat rendah dan minimal. Pelayanan tim mobil dapat dilaksanakan oleh tim mobil yang
ada di Kabupaten dan Kota atau tim mobil dari provinsi, atau pada keadaan tertentu dapat
saja tim mobil dari kabupaten lain digunakan untuk pelayanan antar kabupaten. Koordinasi
tim mobil antar provinsi dapat dikoordinasi oleh BKKBN Pusat sedangkan untuk tim mobil
antar Kabupaten dan Kota dikoordinasikan dan menjadi tanggung jawab provinsi.
Pelayanan Rutin adalah pelayanan KB yang diberikan untuk memenuhi permintaan
masyarakat terhadap pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, yang diselenggarakan pada
jam buka pelayanan seperti biasa (rutin), di semua unit pelayanan KB yang ada.
Pelayanan Bakti Sosial KB adalah pelayanan KB dalam bentuk pelayanan bakti sosial KB
sesuai standar kualitas pelayanan statis, dilaksanakan melalui pemanfaatan agenda
momen strategis berskala nasional dan daerah/lokal yang diselenggarakan bersama mitra
kerja secara sinergis. Pada tingkat nasional pelayanan tersebut adalah pelayanan yang
berkaitan dengan bulan Bakti PKK, IBI, TNI, POLRI, NU, Muhammadiyah, dan kegiatan
peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), Hari Kependudukan Sedunia, Bulan Bhakti
Gotong Royong Masyarakat (BBGRM), Hari Kesehatan, dan hari-hari besar lainnya. Pada
tingkat lokal dapat dikaitkan dengan kejadian penting di daerah, misalnya dalam rangka
peringkatan hari jadi provinsi atau Kabupaten dan Kota tertentu. Oleh karena itu, penetapan
untuk pelayanan bakti sosial pelayanan KB dan kesehatan reproduksi pada momen strategis
untuk tingkat daerah dapat dilakukan oleh penanggung jawab program KB dan kesehatan
reproduksi di Kabupaten dan Kota.
Pelayanan Khusus adalah pelayanan KB dalam bentuk pelayanan khusus dan dilakukan
pada sasaran khusus, misalnya penduduk miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal
tetap, penduduk yang bertempat tinggal di daerah kumuh, penduduk di tempat pengungsian
atau daerah konflik dan lain-lain. Pelayanan khusus dapat bersifat insidental atau rutin,
tergantung kepentingan penduduk tersebut. Untuk itu, bentuk-bentuk pelayanan khusus
29

perlu dilaksanakan dengan memilih model-model yang memberikan hasil yang efektif dan
efisien.
Faskes KB adalah fasilitas yang mampu dan berwenang memberikan pelayanan
kontrasepsi, berlokasi dan terintegrasi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar atau di Rumah
Sakit (RS), dikelola oleh pemerintah termasuk TNI dan Polri maupun swasta dan Lembaga
Swadaya Organisasi Masyarakat (LSOM) serta telah terdaftar di dalam data K/0/KB.

Faskes KB Sederhana adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB yang


meliputi: konseling, pemberian Pil KB, Suntik KB, kondom, penanggulangan efek
samping dan komplikasi sesuai dengan kemampuan serta upaya rujukan. Yang
termasuk dalam fasilitas kesehatan KB sederhana ini adalah fasilitas kesehatan tingkat
pertama.

Faskes KB Lengkap adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB seperti


pada fasilitas kesehatan KB sederhana ditambah dengan pemberian pelayanan KB:
pemasangan/pencabutan Implan, pemasangan/pencabutan IUD dan atau pelayanan
MOP. Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan KB lengkap ini adalah fasilitas
kesehatan tingkat pertama.

Faskes KB Sempurna adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB seperti


pada fasilitas kesehatan KB lengkap ditambah dengan pemberian pelayanan KB MOW.
Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan KB sempurna ini adalah fasilitas kesehatan
tingkat lanjutan.

Faskes KB Paripurna adalah fasilitas yang mampu memberikan pelayanan KB seperti


pada fasilitas kesehatan KB sempurna ditambah dengan pemberian pelayanan
rekanalisasi dan penanggulangan infertilitas. Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan
KB paripurna ini adalah fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.
Lingkup Pelayanan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Konseling
Pemberian Kondom
Pelayanan metode Pil KB
Pelayanan metode Suntik
KB
Pelayanan metode IUD/
Implan
Pelayanan metode
Vasektomi/MOP
Pelayanan metode
Tubektomi/MOW
Rekanalisasi dan
penanggulangan Infertilitas
Penanggulangan Efek
Samping (sesuai
kemampuan) dan upaya
rujukan

Faskes KB
Sederhana

Faskes KB
Lengkap

Faskes KB
Sempurna

Faskes KB
Paripurna

30

Dokter/Bidan Praktek Mandiri adalah dokter atau bidan yang melaksanakan praktik secara
mandiri/perorangan.
Petugas Penghubung Dokter/Bidan Praktek Mandiri adalah PLKB/PKB atau petugas
yang ditunjuk sebagai pengumpul data hasil pelayanan kontrasepsi oleh Dokter/Bidan
Praktek Mandiri yang berada di wilayah kerjanya.
Status Faskes KB adalah status pemilikan atau pengelolaan Faskes KB yang dibedakan
atas 2 (dua) macam pemilikan, yaitu : Pemerintah dan Swasta.

Faskes KB Pemerintah adalah Faskes KB yang dikelola dan dibiayai oleh Pemerintah.
Misalnya :
Faskes KB milik Pemerintah/Pemda (seperti Puskesmas/Rumah Bersalin/
Rumah Sakit), Faskes KB milik TNI, Faskes KB milik POLRI, dan Faskes
KB milik instansi pemerintah lainnya.
Faskes KB Swasta adalah Faskes KB yang dikelola dan dibiayai oleh Swasta dan atau
LSOM.
Misalnya :
Faskes KB milik NU, Faskes KB milik Muhammadiyah, Faskes KB milik
PGI, Faskes KB milik PERDHAKI, Faskes KB milik Walubi, Faskes KB
milik Hindu, Faskes KB milik Perusahaan, dan Faskes KB milik Swasta
lainnya.

Faskes KB Induk adalah Faskes KB Pemerintah (Puskesmas) yang mempunyai wilayah


kerja/binaan Dokter dan Bidan Praktek Mandiri serta Faskes KB Jejaring yang memberikan
pelayanan KB.
Informed Consent adalah lembar persetujuan tertulis yang ditandatangani klien calon
peserta KB/Keluarganya, untuk dilakukan tindakan medik dalam pelayanan kontrasepsi,
terutama peserta KB yang memilih metode MOW, MOP, IUD dan Implan, yang berguna
melindungi secara hukum dan etika profesi bagi Peserta KB dan Provider (Petugas
Pelayanan KB).
Daerah Khusus adalah daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan (terdiri dari
183 kabupaten di Indonesia yang daftarnya terdapat pada lampiran di belakang) meliputi :

Daerah Tertinggal adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, Kabupaten dan Kota)


yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain
dalam skala nasional.

Daerah Terpencil adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, Kabupaten dan Kota)


yang karena letak dan atau kondisi alam memiliki kesulitan, kekurangan atau
keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan, pelayanan kesehatan, persediaan
kebutuhan 9 bahan pokok, serta kebutuhan sekunder lain, yang menimbulkan kesulitan
bagi penduduk yang tinggal di wilayah tersebut.

Daerah Perbatasan adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, Kabupaten dan Kota)


dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatasan langsung dengan
wilayah kedaulatan negara tetangga, baik perbatasan darat dan laut.
31

Daerah Kepulauan adalah suatu gugus pulau, termasuk bagian pulau dan perairan di
antara pulau-pulau tersebut, dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama
lain demikian erat.

Desa/Kelurahan Siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa/kelurahan yang


memiliki kemampuan dalam menemukan permasalahan yang ada, kemudian merencanakan
dan melakukan pemecahannya sesuai potensi yang dimilikinya, serta selalu siap siaga
dalam menghadapi masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan. Kriterianya adalah
desa/kelurahan tersebut memiliki minimal 1 (satu) Pos Kesehatan Desa/Kelurahan
(Poskesdes/ Poskeskel) dengan tenaga minimal 1 (satu) orang bidan dan 2 (dua) orang
kader.
KB Pasca Persalinan adalah upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan
metode/alat/obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/ 6 minggu
setelah melahirkan.
KB Pasca Keguguran adalah upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat
atau obat kontrasepsi setelah mengalami keguguran sampai dengan kurun waktu 14 hari.
WAP (Wireless Application Protocol) adalah suatu protocol aplikasi yang memungkinkan
internet dapat diakses oleh handphone menuju handphone atau client WAP lainnya. Dengan
adanya WAP, berbagai informasi dapat diakses setiap saat hanya dengan menggunakan
handphone.
WAP Gateway adalah sebuah aplikasi yang berbasiskan WAP yang dapat digunakan untuk
melaporkan data hasil pelayanan jumlah peserta KB Baru dan peserta KB baru pasca
persalinan/pasca keguguran.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah Badan Pemerintah yang
menyelenggarakan program jaminan sosial secara universal coverage termasuk pelayanan
KB bagi seluruh pasangan usia subur (PUS).
Masyarakat Pedesaan (IMP) adalah wadah pengelolaan dan pelaksanaan Program
Keluaga Berencana Nasional di tingkat desa/kelurahan, dusun/RW dan RT ke bawah seperti
PPKBD, Sub-PPKBD, kelompok KB dan kelompok-kelompok kegiatan (POKTAN) yang
merupakan bagian dari kegiatan kelompok KB.
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) adalah wadah organisasi di
tingkat desa/kelurahan yang diketuai oleh seorang atau beberapa orang kader yang secara
sukarela berperan aktif melaksanakan/mengelola Program Keluarga Berencana Nasional di
tingkat desa/kelurahan atau yang setara.
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Dasar adalah
apabila PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan
pembagian tugas sudah ada kecuali bila kepengurusannya tunggal dan disesuaikan dengan
kondisi wilayahnya), Pertemuan (belum rutin, belum ada rencana kerja, belum ada notulen),
KIE dan Konseling (melakukan KIE kepada masyarakat), Pencatatan, Pendataan dan
32

Pemetaan Sasaran (masih sederhana), Pelayanan Kegiatan (masih sederhana, meliputi:


pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, minimal ada satu Bina
Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan salah satu dari upaya kemandirian atau tidak
ada sama sekali).
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Berkembang,
adalah apabila PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian
(kepengurusan sudah dilengkapi pembagian tugas yang jelas kecuali bila kepengurusannya
tunggal dan disesuaikan dengan kondisi wilayahnya), Pertemuan (rutin bulanan, ada
rencana kerja, ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K),
Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R), Pelayanan Kegiatan
(lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, UPPKS,
minimal ada dua Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan dua dari kegiatan
upaya kemandirian).
PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Mandiri, adalah
apabila PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan
sudah dilengkapi dengan seksi-seksi), Pertemuan (rutin bulanan, berjenjang, ada rencana
kerja, dan ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K),
Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R dan sudah ada tindak
lanjut), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran
alkon mandiri, rujukan, UPPKS, minimal ada tiga Bina Keluarga), Upaya Kemandirian
(melaksanakan semua kegiatan upaya kemandirian).
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa), adalah wadah
organisasi di tingkat dusun/RW yang diketuai oleh seorang atau beberapa orang kader yang
secara sukarela berperan aktif melaksanakan/mengelola Program Keluarga Berencana
Nasional di tingkat Dusun/RW atau yang setara.
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Dasar,
adalah apabila Sub PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian
(kepengurusan pembagian tugas sudah ada), Pertemuan (belum rutin, belum ada rencana
kerja, belum ada notulen), KIE dan Konseling (melakukan KIE kepada masyarakat),
Pencatatan, Pendataan dan Pemetaan Sasaran (masih sederhana), Pelayanan Kegiatan
(masih sederhana, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan,
minimal ada satu Bina Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan salah satu dari upaya
kemandirian atau tidak ada sama sekali).
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi
Berkembang, adalah apabila Sub PPKBD tersebut telah melaksanakan peran:
Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi pembagian tugas yang jelas),
Pertemuan (rutin bulanan, ada rencana kerja, ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada
(melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola
R/R), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon
kondom, rujukan, UPPKS, minimal ada dua Bina Keluarga), Upaya Kemandirian
(melaksanakan dua dari kegiatan upaya kemandirian).
Sub PPKBD (Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) Klasifikasi Mandiri,
adalah apabila Sub PPKBD tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian
33

(kepengurusan sudah dilengkapi dengan seksi-seksi), Pertemuan (rutin bulanan, berjenjang,


ada rencana kerja, dan ada notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan
KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R dan sudah ada
tindak lanjut), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon,
penyaluran alkon mandiri, rujukan, UPPKS, minimal ada tiga Bina Keluarga), Upaya
Kemandirian (melaksanakan semua kegiatan upaya kemandirian).
Kelompok Keluarga Berencana (KB) adalah kelompok dalam wadah organisasi yang
anggotanya terdiri dari seluruh keluarga dalam suatu Rukun Tetangga yang secara
sukarela berperan aktif mengelola Program Keluarga Berencana Nasional di tingkat Rukun
Tetangga. Adapun kegiatannya meliputi bidang Keluarga Berencana/Kesehatan Reproduksi
(KB/KR) dan Keluarga Sejahtera/Pemberdayaan Keluarga (KS/PK).
Kelompok Keluarga Berencana (KB) Klasifikasi Dasar, adalah apabila Kelompok KB
tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan pembagian tugas
sudah ada), Pertemuan (belum rutin, belum ada rencana kerja, belum ada notulen), KIE
dan Konseling (melakukan KIE kepada masyarakat), Pencatatan, Pendataan dan Pemetaan
Sasaran (masih sederhana), Pelayanan Kegiatan (masih sederhana, meliputi: pelayanan
ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, minimal ada satu Bina Keluarga), Upaya
Kemandirian (melaksanakan salah satu dari upaya kemandirian atau tidak ada sama sekali).
Kelompok Keluarga Berencana (KB) Klasifikasi Berkembang, adalah apabila Kelompok
KB tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi
pembagian tugas yang jelas), Pertemuan (rutin bulanan, ada rencana kerja, ada notulen),
KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan, Pendataan, dan
Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R), Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi:
pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon kondom, rujukan, UPPKS, minimal ada satu Bina
Keluarga), Upaya Kemandirian (melaksanakan dua dari kegiatan upaya kemandirian).
Kelompok Keluarga Berencana (KB) Klasifikasi Mandiri, adalah apabila Kelompok KB
tersebut telah melaksanakan peran: Pengorganisasian (kepengurusan sudah dilengkapi
dengan seksi-seksi), Pertemuan (rutin bulanan, berjenjang, ada rencana kerja, dan ada
notulen), KIE dan Konseling sudah ada (melakukan KIE dan KIP/K), Pencatatan,
Pendataan, dan Pemetaan (sudah mengikuti pola R/R dan sudah ada tindak lanjut),
Pelayanan Kegiatan (lebih lengkap, meliputi: pelayanan ulang alkon, penyaluran alkon
mandiri, rujukan, UPPKS, minimal ada tiga atau empat Bina Keluarga), Upaya Kemandirian
(melaksanakan semua kegiatan upaya kemandirian).
Pengawas PLKB (PPLKB) adalah perangkat daerah yang tugasnya memonitor dan
memfasilitasi PKB/PLKB yang berkedudukan di tingkat kecamatan.
PKB/PLKB adalah penyuluh KB atau Petugas Lapangan KB yang ditempatkan di desa
binaannya untuk mencari peserta KB baru dan membina peserta KB aktif serta membuat
laporan kepada Pengawas PLKB di tingkat kecamatan.
Petugas KB desa/kelurahan adalah petugas yang mengelola program KB di tingkat
desa/kelurahan yang melaksanakan tugas dan fungsi sebagai PLKB, contohnya adalah
PLKB honorer, PLKB kontrak, dan PLKB sukarelawan.
34

Kelompok Kegiatan (Poktan), adalah wadah kegiatan Program KB Nasional yang


berkaitan dengan Penundaan Usia Perkawinan, Pengaturan Kelahiran, Pembinaan
Ketahanan Keluarga dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga.
Keluarga yang menjadi Sasaran Kelompok Kegiatan (Keluarga yang mempunyai anak
Balita, Keluarga yang mempunyai anak Remaja, dan Keluarga yang mempunyai Lanjut
Usia).
Keluarga yang mempunyai balita yang menjadi sasaran, adalah keluarga yang
mempunyai anak usia di bawah lima thun (balita) yang ada di wilayah binaan kelompok BKB
tersebut.
Catatan : Bila keluarga balita mempunyai anak balita lebih dari satu balita, maka yang hadir
dalam pertemuan/penyuluhan dicatat hanya pada sasaran kelompok keluarga balita anak
tertua, hal ini karena materi yang diikuti akan lebih lengkap, dan tidak mungkin akan hadir
dalam waktu yang bersamaan dengan kelompok umur anak lainnya. (masuk dalam tata cara
pengisian formulir).
a. Keluarga yang mempunyai remaja yang menjadi sasaran, adalah keluarga yang
mempunyai anak usia sekolah dan atau remaja (usia anak 10-24 tahun) yang
kegiatannya dilakukan oleh keluarga untuk meningkatkan bimbingan/pembinaan tumbuh
kembang anak dan remaja secara baik dan terarah di wilayah binaan kelompok BKR
tersebut.
b. Keluarga yang mempunyai lansia atau keluarga lansia yang menjadi sasaran,
adalah keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang sudah memasuki usia lanjut
(60 tahun ke atas), atau keluarga yang sudah lanjut (usia 60 tahun ke atas) yang ada di
wilayah binaan kelompok BKL tersebut.
Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan wadah kegiatan
beranggotakan keluarga yang memiliki anak balita untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan orangtua dan atau anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan
pembinaan tumbuh kembang anak balita melalui rangsangan/stimulasi baik secara fisik,
mental, sosial emosional dan intelektualnya.
Kelompok BKB aktif, adalah kelompok BKB yang melakukan kegiatan pertemuan dengan
menggunakan materi dan media dan menyampaikan hasil kegiatannya kepada PPKBD/Sub
PPKBD pada pertemuan kader tingkat desa/kelurahan.
Anggota BKB aktif, adalah orangtua dan atau anggota keluarga lainnya yang hadir dalam
pertemuan kelompok BKB.

Kelompok BKB Klasifikasi Dasar, adalah bila pengurusnya hanya ada 1 orang, jumlah
kader 1 orang per kelompok umur dan yang sudah dilatih minimal 50%, cakupan kesertaan
BKB 50%, pertemuan penyuluhan minimal 1 kali perbulan, Buku Petunjuk Teknis ada tapi
belum lengkap, media penyuluhannya belum ada, media interaksi BKB belum dimanfaatkan,
35

pencatatan dan pelaporan belum dilaksanakan, pemantauan tumbuh kembang belum


dilaksanakan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain belum dilaksanakan,
dan belum ada pendanaan dari masyarakat.
Kelompok BKB Klasifikasi Berkembang, adalah bila pengurusnya ada 1-2 orang, jumlah
kader 1-2 orang per kelompok umur dan yang sudah dilatih 50-75%, cakupan kesertaan
BKB 50-75%, pertemuan penyuluhan 1-2 kali per bulan, buku pedoman ada lengkap, media
penyuluhannya ada, media interaksi BKB sudah dimanfaatkan, pencatatan dan pelaporan
dilaksanakan belum teratur, pemantauan tumbuh kembang dilaksanakan dengan cara
sendiri, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain ada rencana dilaksanakan,
dan pendanaan dari masyarakat kurang dari 50.
Kelompok BKB Klasifikasi Paripurna, adalah bila pengurusnya ada lebih dari 2 orang,
jumlah kader lebih dari 2 orang per kelompok umur dan yang sudah dilatih lebih dari 75%,
cakupan kesertaan BKB lebih dari 75%, pertemuan penyuluhan lebih dari 2 kali per bulan,
buku pedoman ada lengkap dan ada pengembangan, media penyuluhannya ada (baku dan
pengembangan), media interaksi BKB sudah dimanfaatkan dan dikembangkannya,
pencatatan dan pelaporan dilaksanakan dengan teratur, pemantauan tumbuh kembang
dilaksanakan dengan KKA/Kartu Tumbuh Kembang, keterpaduan dan pengembangan
dengan kegiatan lain sudah dilaksanakan, dan pendanaan dari masyarakat lebih dari 50%.
Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR), adalah wadah kegiatan beranggotakan keluarga
yang memiliki anak dan remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
orangtua dan atau anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh
kembang anak dan remaja melalui komunikasi efektif antara orang tua dan anak remaja.
Kelompok BKR Aktif, adalah kelompok BKR yang melakukan kegiatan pertemuan
dengan menggunakan materi dan media dan menyampaikan hasil kegiatannya kepada
PPKBD/Sub PPKBD pada pertemuan kader tingkat desa/kelurahan.
Anggota BKR Aktif, adalah orangtua dan atau anggota keluarga lainnya yang hadir dalam
pertemuan kelompok BKR.
Kelompok BKR Klasifikasi Dasar, adalah bila pengurusnya hanya ada 1 orang, jumlah
kader/fasilitator 2 orang dan yang sudah dilatih minimal 50%, pertemuan penyuluhan
minimal 1 kali perbulan tetapi belum ada konseling, pusat informasi dan pelayanan belum
ada konselor, buku pedoman ada tapi belum lengkap, media penyuluhannya belum ada,
media interaksi BKR belum dimanfaatkan, keterpaduan dan pengembangan dengan
kegiatan lain belum dilaksanakan, dan belum ada pendanaan dari masyarakat.
Kelompok BKR Klasifikasi Berkembang, adalah bila pengurusnya ada 1-2 orang, jumlah
kader/fasilitator 3-4 orang dan yang sudah dilatih 50-75%, pertemuan penyuluhan 1-2 kali
per bulan dan sudah ada konseling, pusat informasi dan pelayanan sudah ada konselor,
buku pedoman ada lengkap, media penyuluhannya ada, media interaksi BKR sudah
dimanfaatkan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain belum dilaksanakan,
dan pendanaan dari masyarakat kurang dari 50%.

36

Kelompok BKR Klasifikasi Paripurna, adalah bila pengurusnya lebih dari 2 orang, jumlah
kader/fasilitator lebih dari 4 orang dan yang sudah dilatih lebih dari 75%, pertemuan
penyuluhan lebih dari 2 kali per bulan dan sudah ada konseling, pusat informasi dan
pelayanan sudah ada konselor, buku pedoman ada lengkap dan ada pengembangan, media
penyuluhannya sudah ada pengembangan, media interaksi BKR sudah dimanfaatkan dan
ada pengembangan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain sudah
dilaksanakan, dan pendanaan dari masyarakat lebih dari 50%.
Kelompok Kegiatan Bina Keluarga Lanjut Usia (BKL), merupakan kelompok kegiatan
untuk membina keluarga lansia dalam upaya meningkatkan kepedulian dan peran keluarga
dalam mewujudkan lanjut usia yang sehat, mandiri, produktif, dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
Kelompok BKL Aktif, adalah kelompok BKL yang melakukan kegiatan pertemuan dengan
menggunakan materi dan media dan menyampaikan hasil kegiatannya kepada PPKBD/Sub
PPKBD pada pertemuan kader tingkat desa/kelurahan.
Anggota BKL Aktif, adalah orangtua dan atau anggota keluarga lainnya yang hadir dalam
pertemuan kelompok BKL.
Kelompok BKL Klasifikasi Dasar, adalah bila pengurusnya hanya ada 1 orang, jumlah
kader/fasilitator 2 orang dan yang sudah dilatih minimal 50%, pertemuan penyuluhan
minimal 1 kali perbulan tetapi belum ada konseling, pusat informasi dan pelayanan belum
ada konselor, buku pedoman ada tapi belum lengkap, media penyuluhannya belum ada,
media interaksi BKL belum dimanfaatkan, keterpaduan dan pengembangan dengan
kegiatan lain belum dilaksanakan, dan belum ada pendanaan dari masyarakat.
Kelompok BKL Klasifikasi Berkembang, adalah bila pengurusnya ada 1-2 orang, jumlah
kader/fasilitator 3-4 orang dan yang sudah dilatih 50-75%, pertemuan penyuluhan 1-2 kali
per bulan dan sudah ada konseling, pusat informasi dan pelayanan sudah ada konselor,
buku pedoman ada lengkap, media penyuluhannya ada, media interaksi BKL sudah
dimanfaatkan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain belum dilaksanakan,
dan pendanaan dari masyarakat kurang dari 50%.
Kelompok BKL Klasifikasi Paripurna, adalah bila pengurusnya lebih dari 2 orang, jumlah
kader/fasilitator lebih dari 4 orang dan yang sudah dilatih lebih dari 75%, pertemuan
penyuluhan lebih dari 2 kali per bulan dan sudah ada konseling, pusat informasi dan
pelayanan sudah ada konselor, buku pedoman ada lengkap dan ada pengembangan, media
penyuluhannya sudah ada pengembangan, media interaksi BKL sudah dimanfaatkan dan
ada pengembangan, keterpaduan dan pengembangan dengan kegiatan lain sudah
dilaksanakan, dan pendanaan dari masyarakat lebih dari 50%.
Pembinaan Ketahanan Keluarga, adalah upaya menyeluruh dan terpadu untuk
meningkatkan kondisi dinamika suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan
serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri
dan mengembangkan diri dan keluarganya agar harmonis dalam meningkatkan
kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
37

Keluarga yang menjadi anggota kelompok kegiatan Bina Keluarga, adalah keluarga
yang ikut dalam kelompok kegiatan Bina Keluarga yang bersangkutan.
Keluarga yang menjadi anggota hadir dalam Pertemuan/Penyuluhan, adalah keluarga
yang menjadi anggota salah satu kelompok kegiatan Bina Keluarga, yang hadir dalam
pertemuan/penyuluhan dari kelompok Bina Keluarga yang bersangkutan selama satu bulan.
Pertemuan/Penyuluhan, adalah proses melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi
tentang Program Pembangunan dan Kependudukan, KB dan KS untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga, masyarakat dan penduduk dalam Program KB
Nasional untuk berpartisipasi.
Advokasi dan KIE Program Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga dilakukan
melalui pendekatan-pendekatan kepada tokoh-tokoh maupun melalui forum-forum
pertemuan yang ada.
Pemberdayaan ekonomi keluarga, adalah sebagai kegiatan yang terpadu dan menyeluruh
didalam program Kependudukan dan KB Nasional untuk meningkatkan kemampuan
keluarga melalui usaha ekonomi dalam rangka mengantarkan keluarga menjadi keluarga
kecil yang sejahtera dan mandiri.
Modal adalah segala sesuatu berupa dana, peralatan, pengetahuan, informasi,
keterampilan dan lain-lain dari berbagai sumber yang digunakan untuk menggerakan usaha
ekonomi produktif.
Bantuan Pinjaman Modal, adalah dana dan atau peralatan yang dipinjamkan secara
bergulir sampai dengan saat ini untuk melakukan usaha kelompok atau masing-masing
anggota kelompok.
Kelompok Kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS),
adalah wadah kegiatan ekonomi yang beranggotakan keluarga, terutama Keluarga Pra
Sejahtera (KPS) dan Keluarga Sejahtera I (KS I), yang saling berinteraksi untuk melakukan
kegiatan usaha ekonomi produktif dalam upaya meningkatkan pendapatan keluarga kecil
bahagia sejahtera.
Keluarga yang menjadi Anggota Kelompok Kegiatan UPPKS yang sedang
menggunakan bantuan modal, adalah anggota UPPKS yang saat ini sedang
menggunakan bantuan modal sebagai usaha ekonomi produktif.
Anggota Kelompok Kegiatan UPPKS Yang Memiliki Usaha Ekonomi Produktif, adalah
anggota kelompok yang melakukan kegiatan usaha untuk menghasilkan barang atau jasa
termasuk kegiatan simpan pinjam dan kegiatan pemasaran dalam rangka peningkatan
pendapatan keluarga.
Keluarga, adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri atau suami istri
dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

38

Keluarga Sejahtera, adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang
sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar
anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.
Seluruh Keluarga, adalah jumlah seluruh tahapan keluarga dari KPS, KS I, KS II, KS III dan
KS III+.
Keluarga Pra Sejahtera yaitu keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya (basic needs) secara minimal, seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan,
kesehatan dan pendidikan.
Keluarga Sejahtera Tahap I yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan
sosial psikologisnya (socio psychological needs), seperti kebutuhan ibadah, makan protein
hewani, pakaian, ruang untuk interaksi keluarga, dalam keadaan sehat, mempunyai
penghasilan, bisa baca tulis latin dan keluarga berencana.
KB-Tempat Kerja adalah tempat kerja (perusahaan, kantor, dan fasilitas umum lainnya)
yang memiliki fasilitas pelayanan kesehatan dalam bentuk klinik, poliklinik, dan rumah sakit,
serta pusat kegiatan lainnya yang dapat diintegrasikan dengan Program Kependudukan dan
KB.
Motivator KB-Tempat Kerja adalah seseorang atau sekelompok orang dalam tempat kerja
(perusahaan, kantor, dan fasilitas umum lainnya) yang secara sukarela dan atas ijin
pimpinan tempat kerja, berperan secara aktif melakukan/mengelola Program Kependudukan
dan KB.
Tokoh Agama/Tokoh Masyarakat, adalah orang-orang yang dihormati dan disegani di
desa/kelurahannya, karena aktivitas dalam kelompoknya, kecakapan-kecakapan dan sifatsifat tertentu yang dimilikinya dan mempunyai pengetahuan, pemahaman dan kepedulian
terhadap program Kependudukan dan KB. Orang-orang yang dikategorikan tokoh
masyarakat antara lain:

Pemimpin lembaga keagamaan di desa/kelurahan


Pemuka agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu)
Tokoh Adat / Pimpinan Adat
Orang yang punya pengetahuan yang luas tentang adat dan sosial budaya
Pemimpin masyarakat (Kepala Desa, Lurah)
Pemimpin Organisasi Kemasyarakatan (Badan Permusyawarahan Desa,
Lembaga Pembangunan Masyarakat, Badan Musyawarah Desa/ Kelurahan)
Penyuluh Agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu)
BP4, KUA, dan Petugas Pembantu Pencatat Nikah (P3N)
Guru agama
Pimpinan pengurus pesantren
Pimpinan Organisasi Agama di desa/kelurahan

39

Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat Yang Melakukan Advokasi dan KIE
adalah: Orang-orang yang dihormati dan disegani di desa/kelurahannya, karena aktivitas
dalam kelompoknya, memiliki kecakapan dan sifat-sifat tertentu, memiliki pengetahuan,
pemahaman dan kepedulian, serta melakukan penggerakan dan penyuluhan tentang
program Kependudukan dan KB Nasional.
Penyuluhan oleh PLKB/PKB/Petugas KB desa adalah suatu langkah kegiatan Komunikasi,
Informasi dan Edukasi (KIE) dalam program Pembangunan Kependudukan dan Keluarga
Berencana sehingga dapat diadopsi oleh masyarakat.
KIE Kit adalah suatu unit alat peraga anatomi alat reproduksi, lembar balik, contoh alat
kontrasepsi, VCD animasi proses pembuahan dan VCD sosialisasi kontrasepsi.
KIE dengan menggunakan KIE Kit adalah kegiatan penyuluhan yang menggunakan
sebagian atau seluruh alat bantu yang terdapat dalam KIE Kit.
PPA (Portable Public Address) adalah sarana penyuluhan/KIE KB berupa alat pengeras
suara elektronik yang mudah dibawa berkeliling ke lokasi sasaran.
MUPEN KB (Mobil Unit Penerangan Keluarga Berencana) adalah kendaraan roda empat
yang didalamnya berisi peralatan elektronik (audio visual) dan berfungsi sebagai kendaraan
penyuluhan dan KIE KB.
MUPEN KB Provinsi, adalah kendaraan roda empat yang didalamnya berisi peralatan
elektronik (audio visual) dan berfungsi sebagai kendaraan penyuluhan dan KIE KB di tingkat
provinsi.
MUPEN KB Kabupaten dan Kota, adalah kendaraan roda empat yang didalamnya berisi
peralatan elektronik (audio visual) dan berfungsi sebagai kendaraan penyuluhan dan KIE KB
di tingkat Kabupaten dan Kota.
Rapat Koordinasi, adalah adalah forum evaluasi, perencanaan, dan pembentukan
kesepakatan pelaksanaan Program Kependudukan dan KB, dipimpin oleh Camat yang
dilaksanakan minimal sebulan sekali, dengan peserta terdiri dari petugas dan pengelola KB
Kecamatan dan Kelompok Kerja Teknis (Pokjanis), tim operasional kecamatan dalam
penggarapan program Kependudukan dan KB secara khusus atau dipadukan dengan
pembahasan program pembangunan lainnya.
Rapat Koordinasi Kecamatan (Rakor Kecamatan) adalah forum evaluasi, perencanaan,
dan pembentukan kesepakatan pelaksanaan Program Kependudukan dan KB Nasional,
dipimpin oleh Camat yang dilaksanakan minimal sebulan sekali, dengan peserta terdiri dari
petugas dan pengelola KB Kecamatan dan Kelompok Kerja Teknis (Pokjanis), tim
operasional kecamatan dalam penggarapan program Kependudukan dan KB secara khusus
atau dipadukan dengan pembahasan program pembangunan lainnya di kecamatan.
Rapat Koordinasi Desa/Kelurahan (Rakor Desa/Kelurahan) adalah forum evaluasi,
perencanaan, dan pembentukan kesepakatan pelaksanaan Program Kependudukan dan KB
Nasional, dipimpin oleh Kepala Desa/Lurah yang dilaksanakan minimal sebulan sekali,
dengan peserta terdiri dari unsur pengelola KB, seperti PLKB/PKB/Petugas KB Desa,
PPKBD, Sub PPKBD, Kelompok KB yang mempunyai kelompok kegiatan (poktan) dan
40

Kelompok Kerja Teknis (pokjanis), tim operasional desa dalam penggarapan program
Kependudukan dan KB secara khusus, atau dipadukan dengan pembahasan program
pembangunan lainnya di desa/kelurahan.
Kegiatan TKBK (Tim KB Keliling) adalah kegiatan Tim KB yang terdiri dari unsur KIE,
pelayanan kontrasepsi dan atau pelayanan integrasi yang dilakukan dalam satu rangkaian
gerak untuk menggarap sasaran yang sama.
Frekuensi TKBK dari Kecamatan ke Desa/Kelurahan, adalah gerak TKBK dari
kecamatan ke desa/kelurahan yang dilakukan oleh Tim KB kecamatan, dengan cara
perhitungan frekuensi sama dengan jumlah desa/kelurahan yang telah dikunjungi oleh TKBK
kecamatan tersebut.
Frekuensi TKBK dari Kabupaten dan Kota ke Kecamatan, adalah gerak TKBK dari
Kabupaten dan Kota ke kecamatan yang dilakukan oleh Tim KB Kabupaten dan Kota,
dengan cara perhitungan frekuensi, sama dengan jumlah kecamatan yang telah dikunjungi
oleh TKBK dari Kabupaten dan Kota tersebut.
Frekuensi TKBK dari Provinsi ke Kabupaten dan Kota, adalah gerak TKBK dari provinsi
ke Kabupaten dan Kota yang dilakukan oleh Tim KB provinsi dengan cara perhitungan
frekuensi sama dengan jumlah Kabupaten dan Kota yang telah dikunjungi oleh TKBK
provinsi tersebut.
Contoh :
Satu tim TKBK Kecamatan mengunjungi satu desa/kelurahan = 1 kali gerak
Satu tim TKBK Kecamatan mengunjungi dua desa/kelurahan = 2 kali gerak
Dua tim TKBK Kecamatan mengunjungi satu desa/kelurahan = 2 kali gerak
Catatan:
Rangkaian Gerak tidaklah berarti bahwa TKBK tersebut harus melakukan kegiatan
KIE, pelayanan kontrasepsi dan atau pelayanan integrasi secara bersama-sama,
tetapi dapat juga dilakukan secara terpisah asal masih dalam satu rangkaian gerak.
Pasangan Usia Subur (PUS), adalah pasangan suami-istri yang terikat dalam perkawinan
yang sah, yang istrinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun.
Peserta KB Aktif adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang saat ini menggunakan salah
satu alat kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan.
PUS Bukan Peserta KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang saat ini tidak sedang
menggunakan salah satu alat kontrasepsi dikarenakan:
1. Hamil
2. Ingin Anak Segera adalah Pasangan Usia Subur (PUS), yang belum punya anak atau
punya anak pertama berumur minimal 3 tahun, menginginkan anak kurang dari 2 tahun.
3. Ingin Anak Ditunda adalah pasangan suami-istri yang istrinya berumur antara 15
sampai dengan 49 tahun dan sedang tidak menggunakan kontrasepsi, masih
menginginkan anak tetapi ditunda (2 tahun ke atas).
41

4. Tidak Ingin Anak Lagi adalah pasangan suami-istri yang istrinya berumur antara 15
sampai dengan 49 tahun tidak menginginkan anak lagi.
Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) adalah suatu wadah kegiatan
program GenRe dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja/mahasiswa
yang dikelola dari, oleh dan untuk remaja/mahasiswa guna memberikan pelayanan
informasi dan konseling tentang perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja/
mahasiswa serta kegiatankegiatan penunjang lainnya
Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK-R/M) Tahap Tumbuh adalah
PIK Remaja/Mahasiswa yang telah memberikan materi dan isi pesan tentang 8 fungsi
keluarga, pendewasaan usia perkawinan (PUP), Triad KRR, keterampilan hiduf (life skill).
Kegiatan dilakukan di tempat PIK R/M, bentuk aktifitas bersifat penyadaran (KIE) di dalam
PIK R/M, menggunakan media cetak (majalah dinding, leaflet, poster dll). Dukungan sarana,
prasarana dan SDM yaitu ada ruang khusus, memiliki papan nama dengan ukuran minimal
60 x 90 cm, mempunyai struktur pengurus dan 2 orang pendidik sebaya yang sudah
dilatih/orientasi (8 fungsi keluarga, pendewasaan usia perkawinan, TRIAD KRR dan
keterampilan hidup). Memiliki kerjasama dengan stakeholder di lingkungannya missal
lurah/kades dan TOMA untuk PIK R/M jalur kemasyarakatan, TOGA untuk PIK R/M jalur
keagamaan, Kepala sekolah, Dekan Direktur Akademi jalur sekolah, umum/agama dan
perguruan tinggi, puskesmas/pustu terdekat dengan PIK R/M sebagai tempat rujukan medis.
Menjalin kemitraan dengan mitra kerja (organisasi kepemudaan, kemasyarakatan,
kemahasiswaan, organisasi profesi dan kesiswaan).
Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-Remaja) Tahap Tegak adalah PIK Remaja/
Mahasiswa yang telah memenuhi kriteria Tahap Tumbuh, disamping itu memberikan materi
khusus yang dikuasai oleh pengelola/pendidik sebaya (PS)/konselor sebaya (KS) yaitu
keterampilan advokasi dan KIE. Kegiatan selain dilakukan di dalam juga di luar PIK R/M
dalam bentuk pemberian informasi misal melalui dialog interaktif di radio dan TV,
penyuluhan dan pembinaan, konseling, penyelenggaraan seminar, road show ke sekolah
lain, pameran, pentas seni dan lain-lain, menggunakan media cetak missal majalah dinding,
leaflet, poster dan elektronik missal radio, TV dan website. Melakukan pencatatan dan
pelaporan rutin. Melakukan kegiatan yang dapat menarik minat remaja untuk datang ke PIK
R/M misal misalnya jambore remaja, lintas alam/outbond, bedah buku, bedah film,
bimbingan belajar siswa, studi banding, kegiatan ekonomi produktif, kegiatan kesenian dan
olahraga, lomba-lomba, buka puasa bersama, bercocok tanam, beternak dsb. Dukungan
sarana, prasarana dan SDM yaitu ada ruang khusus, memiliki papan nama dengan ukuran
minimal 60 x 90 cm, mempunyai struktur pengurus dan 4 orang pendidik sebaya yang sudah
dilatih/orientasi (8 fungsi keluarga, pendewasaan usia perkawinan, TRIAD KRR dan
keterampilan hidup) serta 2 orang konselor sebaya yang sudah dilatih tentang materi
pengetahuan dasar konseling, lokasi di komunitas remaja/mahasiswa (mudah diakses dan
disukai oleh remaja. Memiliki kerjasama dengan stakeholder di lingkungannya missal
lurah/kades dan TOMA untuk PIK R/M jalur kemasyarakatan, TOGA untuk PIK R/M jalur
keagamaan, Kepala sekolah, Dekan Direktur Akademi jalur sekolah, umum/agama dan
perguruan tinggi, puskesmas/pustu terdekat dengan PIK R/M sebagai tempat rujukan medis.
Memperoleh pembinaan dan fasilitasi dari pemprov/pemkab//pemkot, kepal sekolah,
rector/dekan, direktur akademi, TOGA/TOMA, puskesmas/pustu, dll. Menjalin kemitraan
42

dengan mitra kerja (organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, kemahasiswaan, organisasi


profesi dan kesiswaan).
Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-Remaja) Tahap Tegar adalah PIK Remaja/
Mahasiswa yang telah memenuhi kriteria Tahap Tegak disamping itu pengelola/pendidik
sebaya (PS)/konselor sebaya (KS) melakukan pengembangan materi sesuai kebutuhan PIK
R/M (missal gender). Kegiatan dilakukan selain di dalam dan di luar PIK R/M dalam bentuk
pemberian informasi missal melalui dialog interaktif di radio dan TV, penyuluhan dan
pembinaan, konseling, penyelenggaraan seminar, road show ke sekolah lain, pameran,
pentas seni dan lain-lain. Menggunakan media cetak missal majalah dinding, leaflet, poster
dan elektronik missal radio, TV dan website. Melakukan kegiatan yang dapat menarik minat
remaja untuk datang ke PIK R/M misal misalnya jambore remaja, lintas alam/outbond,
bedah buku, bedah film, bimbingan belajar siswa, studi banding, kegiatan ekonomi produktif,
kegiatan kesenian dan olahraga, lomba-lomba, buka puasa bersama, bercocok tanam,
beternak dsb. Melakukan pelayanan lain sesuai kebutuhan remaja (pemeriksaan gigi,
konsultasi kecantikan, konsultasi gizi. Terlibat dalam kegiatan sosial misalnya pelayanan
kesehatan, kebersihan lingkungan dan dan kampanye perilaku hidup berwawasan
kependudukan (PHBK) dan lain lain. Dukungan sarana, prasarana dan SDM yaitu ada ruang
khusus, memiliki papan nama dengan ukuran minimal 60 x 90 cm, mempunyai struktur
pengurus dan 4 orang pendidik sebaya yang sudah dilatih/orientasi (8 fungsi keluarga,
pendewasaan usia perkawinan, TRIAD KRR dan keterampilan hidup) serta 4 orang konselor
sebaya yang sudah dilatih tentang materi pengetahuan dasar konseling. Lokasi di komunitas
remaja/mahasiswa (mudah diakses dan disukai oleh remaja) memiliki hotline/sms konseling,
memiliki perpustakaan, memiliki sarana dan prasarana jaringan internet serta akses
terhadap jejaring social (facebook, twiter, dll). Memiliki kerjasama dengan stakeholder di
lingkungannya missal lurah/kades dan TOMA untuk PIK R/M jalur kemasyarakatan, TOGA
untuk PIK R/M jalur keagamaan, Kepala sekolah, Dekan Direktur Akademi jalur sekolah,
umum/agama dan perguruan tinggi, puskesmas/pustu terdekat dengan PIK R/M sebagai
tempat rujukan medis. Memiliki mitra kerja antara lain dengan organisasi kepemudaan,
kemahasiswaan, dan kesiswaan, komite sekolah.

43

Anda mungkin juga menyukai