0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
787 tayangan32 halaman

TH Erlijn Gerwani Sebagai Institusi Pendidikan

1. Gerwani didirikan pada tahun 1950 sebagai organisasi pendidikan bagi perempuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan politik mereka. 2. Gerwani melakukan berbagai program pendidikan nonformal untuk perempuan, termasuk kursus alfabetisasi dan taman kanak-kanak. 3. Pada Desember 1965, aktivis Gerwani ditangkap dan organisasinya dibubarkan oleh militer baru yang berkuasa, mengakhiri upaya p
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
787 tayangan32 halaman

TH Erlijn Gerwani Sebagai Institusi Pendidikan

1. Gerwani didirikan pada tahun 1950 sebagai organisasi pendidikan bagi perempuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan politik mereka. 2. Gerwani melakukan berbagai program pendidikan nonformal untuk perempuan, termasuk kursus alfabetisasi dan taman kanak-kanak. 3. Pada Desember 1965, aktivis Gerwani ditangkap dan organisasinya dibubarkan oleh militer baru yang berkuasa, mengakhiri upaya p
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd

Gerwani sebagai Institusi Pendidikan bagi Kaum Perempuan

Theodora J. Erlijna

Awal Desember 1965. Sekelompok massa sipil berteriak-teriak mencari Jermini, anggota
DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Gerwani Bali.

Ibu terus dicari-cari di belakang pintu, didapat itu, terus ditombok sama besi lancip …
“Keluar, tokoh Gerwani 1!” dia bilang gitu. Ya, daripada anak-anak dibunuh, lebih
baik dah, ibu menyerah … (Jermini, Denpasar, 17/8/00).

Jermini keluar sambil menggendong bayinya yang baru berusia beberapa bulan. M assa
memukuli sambil menggelandangnya menuju banjar di mana tawanan-tawanan lain
sudah dikumpulkan dalam keadaan duduk. Jermini menyaksikan seorang anggota BTI
sudah tewas. Tentara itu kemudian bersila di hadapan seorang mahasiswa tawanan dan
menembaknya di bagian mulut hingga tewas. Di tengah proses penembakan, seorang
laki-laki tiba-tiba menghela Jermini, menyuruhnya pergi dari tempat itu. Pagi itu sekitar
10 tawanan ditembak mati. Yang masih hidup diangkut dengan truk power (milit er?)
menuju bekas kantor CDB (Central Daerah Besar)2 PKI di Sanglah yang telah disita
penguasa militer dan diubah menjadi tahanan. Hari itu Jermini selamat. Baru beberapa
hari kemudian ia ditangkap dan ditahan di kantor kodim.

Penangkapan terhadap Jermini dan rekan-rekannya pada Desember 1965 berujung pada
bubarnya Gerwani daerah Bali. Berbagai kegiatan yang telah mereka lakukan selama
lebih dari satu dekade, termasuk mendirikan kursus pemberantasan buta huruf (PBH)
bagi perempuan dewasa dan taman kanak-kanak (TK) Melati, hancur. Peristiwa serupa
yang dialami Jermini telah lebih dahulu dialami para aktivis Gerwani di Jakarta dan
wilayah-wilayah lain di Pulau Jawa serta Medan. Betapapun Soeharto baru secara resmi
melarang dan membubarkan Gerwani pada 12 Maret 1966, namun propaganda hitam 3
yang diciptakan Angkatan Darat di bawah pimpinannya sejak pertengahan Oktober 1965,
berlanjut dengan perburuan terhadap aktivis-aktivisnya dan aksi vandalisme terhadap
kantor dan tempat-tempat kegiatan Gerwani, telah secara efektif meluluhlantakkan
organisasi ini.

1
Gerakan Wanita Indonesia, sebelum 1954 bernam a Gerwis (Gerakan Wanita Sedar). Dalam esai ini saya
akan memakai kedua nama secara bergantian tergantung pada periode mana yang diacu. Nam a Gerwis
mengacu pada peri ode pertengahan 1950 hingga 1954, sedang Gerwani m engacu pada sej arah organisasi
perempuan ini sejak 1954 dan seterusnya.
2
Kepengurusan PKI di tingkat provinsi
3
w Uraian mengenai bagaim ana Angkatan Darat menyebarkan propaganda hitam terhadap Gerwani bisa
dibaca dalam Saskia E. Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Cet. 1 (J akarta: Garba
Budaya, 1999a); Stanley, ”Penggambaran Gerwani sebagai Kumpulan Pembunuh dan Set an, Fitnah dan
Fakta Penghancuran Organisasi Perempuan Terkemuka”, paper untuk Seminar Sehari ”Tragedi Nasional
1965” yang dis elenggarakan oleh M asyarakat Sejarawan Indonesia (Serpong, 8 September 1999), di akses
dari? Pada?
Apa dan siapa sesungguhnya Gerwani? M engapa Angkatan Darat menjadikannya sebagai
sasaran pertama dan sentral untuk dihancurkan? Dan mengapa upaya mendiskredit
Gerwani terus direprodusir selama periode kekuasaan Orde Baru bahkan hingga saat ini?

Seluruh kegiatan Gerwani pertama-tama ditujukan untuk membangun kemampuan


perempuan untuk turut serta dalam menegaskan kedaulatan bangsa yang berbasis
kerakyatan. Dalam perspektif Gerwani, sebagai bagian dari rakyat, kaum perempuan
harus ikut mendefinisikan Indonesia. Untuk bis a melaksanakan tugas itu, perempuan
harus sadar politik, mau bekerja keras, terdidik dan berani memimpin. Kenyataannya
banyak perempuan masih belum memenuhi prasyarat itu. Dan kalangan perempuan yang
belum ‘sedar’ itu membentuk bagian terbesar dari Gerwani. Oleh karena itu, Gerwani
menyatakan dirinya sebagai institusi pendidikan bagi kaum perempuan. Mereka
memobilis ir perempuan-perempuan kelas menengah untuk bekerja di kalangan
perempuan miskin perkotaan dan perempuan-perempuan tani di desa-desa pelosok untuk
menyebarkan kesadaran baru itu. Pada dasarnya Gerwani berusaha menciptakan ruang di
mana kaum perempuan kelas menengah-bawah dapat mempersiapkan diri untuk bergerak
dan bersuara, menentukan kehidupan berpolitik bangsa. Inilah mengapa dari perspektif
Angkatan Darat, Gerwani dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan terus hidup.

Peristiwa 1965 dengan demikian menghentikan upaya Gerwani untuk mempersiapkan


keterlibatan kaum perempuan dalam kehidupan negara-bangsa. Gerwis memang didirikan
untuk menampung perempuan-perempuan ‘sedar’ politik. Namun setelah Gerwis berubah
menjadi Gerwani dalam Kongres I (1951), kata ‘sedar’ ikut berubah menjadi cita-cit a dan
bukan lagi penanda bagi organisasi ini. Gerwis menerima siapapun kaum perempuan
yang ingin menjadi anggotanya. Untuk itu setiap kegiatan yang mereka selenggarakan
berfungsi sebagai ruang belajar bagi anggota-anggotanya. Saraswati, anggota DPD
Gerwani Jawa Timur, menuturkan:

Jadi memang masalah pendidikan adalah mas alah yang sangat vital untuk
kepentingan suatu bangs a ini. …Lha ini, yang bisa dicapai oleh Gerwani bagus ...
karena programnya ya, karena pendidikan. …[Namun] Saya kira yang jelas saja
misalnya, waktu itu soal politik [nasional] itu ya belum mengerti, gitu. …[Karena]
Gerwani itu terdiri dari massa yang, semua itu baru ke arah gimana meningkatkan
taraf budaya, taraf pendidikan git u (Sarasw ati, Jakarta, 5/2/05).

Penelit ian saya hendak menjawab: Bagaimana Gerwani mempersiapkan dan


menggerakkan kaum perempuan yang secara umum masih kesulitan dalam mengakses
pendidikan formal dan belum sadar politik untuk ikut serta dalam mengurus masyarakat
dan menentukan kebijakan negara? Dengan kata lain, bagaimana Gerwani berfungs i
sebagai institusi pendidikan bagi kaum perempuan? Di dalamnya muncul pertanyaan apa
visi Gerwani tentang perempuan dan apa gagasannya tentang pendidikan bagi kaum
perempuan? Sejauhmana capaiannya? Untuk itu saya mewawancarai sejarah hidup enam
anggot a dan 13 pengurus Gerwani. Untuk menyusun esai ini, saya membandingkan
tuturan satu dengan yang lain untuk mencari kesesuaian cerita, mengambil kisah-kisah
yang saling melengkapi dan berusaha memahami kontras-kontras ingatan.
GERWIS DAN GERWANI

Gerwis berdiri pada 4 Juni 1950, beberapa bulan setelah Indonesia berdaulat penuh,
untuk mew adahi perjuangan politik perempuan. M enurut Sulami yang terlibat dalam
Gerwis sejak aw al berdirinya dan kemudian menjadi Sekjen Gerwani:

Sebuah gerakan yang ... membela hak-hak wanita tidak akan dapat menyelesaikan
soalnya, bila tidak dibarengi dengan melaw an sebab-sebabnya yang berakar.
Yaitu sistim feodal yang masih tersisa di seluruh tanah air dan sistim ekonomi
politik kolonialis dan kapitalistis4.

Gerwis merupakan hasil fusi dari enam organis asi perempuan5. Agak sulit menemukan
referensi-referensi yang bisa menjelaskan kegiatan keenam organisas i tersebut sebelum
berfusi menjadi Gerwis. Satu yang paling sering disebut hanyalah Istri Sedar.

Gerwis memandang kemerdekaan sebagai modal awal untuk memperjuangkan perbaikan


kehidupan perempuan. Sedikit sekali bahan, baik dalam bentuk tulisan maupun tuturan,
tentang periode 1950-1953 yang merupakan periode kritis dalam sejarah Gerwis.
Sesungguhnya menarik untuk mengetahui apa yang mendorong keenam organisasi
perempuan di atas berfusi, bagaimana proses perdebatan awal untuk menentukan arah
gerak mereka, bagaimana mereka mendefinisikan perempuan yang ‘sedar’ dan mengapa
mereka memutuskan untuk menanggalkan kata itu dari namanya. Sejak Kongres Gerwis I
di Surabaya, Desember 1951, konsep ‘perempuan sedar’ sudah menjadi bahan
perdebatan sengit. Perdebatan itu pada akhirnya berkait dengan apakah Gerwis tetap akan
mempertahankan bentuk organis asi kader atau beralih menjadi organisasi mass a yang,
menurut Wieringa (1999a), lebih banyak untuk memenuhi target PKI untuk Pemilu 1955.

Lepas dari soal itu, perempuan-perempuan yang terlibat dalam Kongres 1951 memiliki
kesadaran politik yang beragam. Ada jarak antara perempuan-perempuan ‘pinter’ di
jajaran pemimpin yang sudah malang melintang dalam dunia politik sejak masa kolonial
Belanda dengan peserta-peserta muda kongres. Salah satu di antara peserta muda itu
adalah Saraswati, utusan Bojonegoro:

... waktu itu saya nggak merasa [cukup paham] ... agendanya apa gitu ya, lalu
misalnya mas alah apa, lalu dibentuk komisi, semacam itu, saya nggak meras a.
M ungkin waktu itu ditangani oleh orang yang pinter-pinter itu. ... Bu [SK] Trimurti,
Bu Suwarti, Bu Sri Panggian dari Solo itu. ... Termasuk Bu [Siti Su]Ndari. Apa, itu
4
Sulami, “Beberapa Pendapat Berdasarkan Pengalaman akan Gerakan Wanita Revolusioner”, 1992,
diakses dari situs Rumah Kiri pada ...
5
Enam organisasi yang berfus i itu adalah Rupindo (Rukun Putri Indonesia; Sem arang); Persatuan Wanita
Sedar (Surabaya), Istri Sedar (Bandung), Gerwindo (Gerakan Wanita Indonesia; Kediri), Wanita Madura
(Madura), dan PPRI (Perjuangan Putri Republik Indonesia; Pasuruan) . Wieringa, 1999a:139?. Perhatikan,
tak satu pun organisasi-organisasi itu yang beras al dari pusat-pusat pemerintahan saat itu, Jakarta maupun
Yogyakarta. Namun tiga organisasi di antaranya berasal dari kantung-kantung pergerakan nasional paruh
pert ama awal abad 20: Semarang, Bandung dan Surabaya. Yang paling menarik, dua organisasi perempuan
berasal dari dua daerah, M adura dan Pasuruan, yang, sejauh pengetahuan saya, hampir tidak pernah
terbi carakan dalam sejarah pergerakan nasional maupun sejarah pergerakan perempuan.
kan termasuk orang-orang pinter. ... waktu itu saya masih muda ... (Saraswati,
Jakarta, 21/12/04)

Pada saat itu usia Saraswati sekitar 20 tahun. Pengalaman berorganisasi yang dimilikinya
hanyalah menjadi juru tulis bagi istri lurah yang, betapapun buta huruf dan tidak mengerti
seluk-beluk organisasi, mau tidak mau harus memimpin Fujinkai di des anya hanya
karena posisi suaminya. Baru sesudah kongres Saraswati mulai mempelajari gagasan
Gerwis tentang keperempuanan.

Dalam Kongres Gerwis II, 1954, kata ’sedar’ akhirnya dihapus. Nama Gerwis berubah
menjadi Gerwani dan garis massa menggantikan garis kader. Diperlukan penelitian lebih
lanjut, terutama menyangkut periode pendek antara pertengahan 1950 sampai Desember
1951 untuk mengetahui perbedaan antara Gerwis dengan Gerwani. SK Trimurti sendiri
mengatakan tidak ada perubahan yang signifikan. Sejak aw al banyak anggota Gerwis
adalah perempuan desa berpendidikan rendah dan belum sadar politik sehingga program
utama Gerwis adalah menuntut UU Perkawinan yang melindungi hak-hak perempuan,
6
mengkampanyekan hak-hak perempuan dan memperjuangkan hak-hak buruh tani .
7
Namun tentu saja pembukaan pintu keanggotaan yang selebar-lebarnya membawa
konsekuensi bagi Gerwani. Jarak antara kesadaran dan strategi politik pimpinan pusatnya
dengan persoalan-persoalan yang digeluti anggot a sehari-hari sangat lebar. Ini tampak
dari laporan-laporan tentang kegiatan-kegiatan Gerwani di dalam kongres yang selalu
campur aduk tanpa kaitan yang jelas antara kegiat an untuk merespon politik nasional
(Gerakan 17 Oktober, pemberontakan-pemberontakan di daerah, kampanye Irian Barat
dan Ganyang M alaysia dan perdamaian dunia) dengan kegiatan-kegiatan untuk
merespons persoalan perempuan di desa-desa dan perkampungan-perkampungan miskin
perkotaan (poligami, kawin paksa, dan perkawinan anak; tani tanpa tanah, bagi hasil yang
tak adil, upah buruh yang rendah, eksploitasi dan kekerasan terhadap buruh perempuan;
bencana alam; akses kaum miskin terhadap pendidikan; akses perempuan terhadap
jabatan-jabatan di pemerintahan).

Wieringa berusaha memahami keseluruhan yang campur aduk itu dalam konsep ’tiga
8
medan’ perjuangan Gerwani, yaitu medan politik, medan feminisme dan medan daerah.
Namun menurut saya yang terjadi sesungguhnya adalah Gerwani belum selesai
merumuskan politik perempuan berdasarkan pergulatan kerjanya di lapangan. Dalam
perjalanan hidupnya yang singkat, 15 tahun, Gerwani sedang dalam proses uji coba untuk
merumuskan politik perempuan. Sebelum Peristiwa 1965 terjadi, ruang uji-coba itu
tersedia bagi Gerwani. Dalam kerangka mendefinisikan politik perempuan itu Gerwani
tampil sebagai institusi pendidikan, baik untuk pimpinan maupun anggota-anggotanya.
Gerwani menjadi jembatan untuk menuju kondisi perempuan ideal yang dicita-citakan,
yaitu perempuan yang sadar politik dan bergerak.

6
Wieringa 1999a: 142?
7
Gerwani hanya menetapkan batasan umur 16 tahun atau sudah menikah untuk menjadi anggotanya.
8
Wieringa, 1999a: 142-143
ANGGOTA GERWAN I

Siapa anggota-anggota Gerwani? Bagaimana dan mengapa mereka bergabung dengan


Gerwani? Bagaimana dan sejauhmana Gerwani mempengaruhi kehidupan mereka?

Para pimpinan Gerwani yang kisah hidupnya saya pelajari umumnya adalah lulusan
sekolah guru, sedang para anggota rata-rata hanya pernah mengecap bangku SD, baik
lulus maupun tidak. Para perempuan pimpinan umumnya berasal dari kelas menengah
yang tinggal di wilayah perkotaan. Ini menjelas kan kenapa akses mereka terhadap
pendidikan lebih baik. Beberapa di antara mereka juga memiliki ayah atau kerabat laki-
laki yang terlibat dalam pergerakan nasional. Sementara itu, para anggota rata-rata
tinggal di desa. Dua di antara mereka yang lulus pendidikan setingkat SM P, berayahkan
priyayi desa.

Sebagian besar perempuan, baik yang kemudian menjadi pimpinan Gerwani maupun
anggot a, menempatkan pengalamannya berkenalan dan terlibat dengan pergerakan
nasionalis di posisi sentral. Sebagian besar juga sebelumnya sudah sudah punya
pengalaman berorganisasi, baik dalam organisasi kepemudaan/kelas karan, organis asi
perempuan maupun partai politik. Ada di antara mereka bahkan pernah membentuk
organisasi perempuan baru. Semua itu akan menjadi modal awal bagi gerak Gerwani.

Keinginan Bersekolah yang Kuat dan Pandangan Kolot


Ketika para perempuan ini diminta untuk mengenang masa kecil mereka, yang berstatus
pimpinan rata-rata mengingat diri mereka sebagai anak-anak perempuan dengan
keinginan kuat untuk belajar dan bersekolah. Saraswati, staf Dewan Pimpinan Daerah
Gerwani Jawa Timur, bahkan memutuskan untuk melarikan diri dari rumahnya di Ngaw i,
Jawa Timur, dan mencari pekerjaan sebagai pengasuh anak di Bojonegoro setelah ibu
tirinya keberatan jika ia melanjutkan sekolah lagi. Di Bojonegoro ia mendapat
kesempatan untuk belajar berorganisasi.

Seorang pimpinan cabang Gerwani Blitar, Jawa Timur, Andhika, menuturkan ia justru
menolak untuk melanjutkan sekolah setelah sempat terhenti semasa pemenjaraan ayahnya
oleh Jepang. Ia memilih untuk belajar dari Umi Sardjono, rekan ayahnya di Komite
Nasional Indonesia.

... [ketika] bapak bebas. Saya [di]suruh masuk sekolah ndak mau, saya ingin ikut
temannya bapak yang pinter. Lalau saya diikutkan di Bu Umi Sarjono. Karena Bu
Umi Sarjono tahanan di Blitar waktu Jepang. Dia bebas di Blitar, lalu saya
diikutkan di Ibu Sardjono. Jadi, saya hanya mengikuti belajar politik itu apa,
taktik-strategi itu apa dari Bu Umi Sardjono. Jadi bahasa politik itu tau, saya dari
Bu Umi Sardjono (Andhika, Blitar, 8/12/00).

Umi Sardjono adalah tokoh gerakan baw ah tanah pada masa pendudukan Jepang yang
kemudian terpilih menjadi pimpinan pusat Gerwis/Gerwani. Kebanyakan anak
perempuan desa tidak punya kesempatan memilih seperti Andhika. Pandangan kolot,
kemiskinan, dan sedikitnya jumlah sekolah adalah tiga faktor penyebab utama. Karena
itu, anak perempuan desa rata-rata menjalani masa kanak-kanak yang singkat.

Perkenalan dengan Gagasan Nasionalisme dan Keterlibatan dalam Pergerakan


Rata-rata perempuan yang wawancaranya saya pelajari, terutama kalangan pimpinan,
sudah mulai bersentuhan dengan gagasan nasionalisme sejak di bangku sekolah dan turut
dalam pergerakan. M ereka menempatkan pengalaman berkenalan dengan gagasan
nasionalisme dan keterlibatan mereka dalam revolusi kemerdekaan di posisi sentral.
Saraswati mulai mengenal gagasan nasionalisme dari abang sulungnya yang lulusan
Taman Siswa dan turut dalam pergerakan. Ia memperkenalkan Saraswati, kakak
perempuannya dan gadis-gadis di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka pada Kartini.

Sunarti, ketua ranting Gerwani di sebuah kampung di Solo, yang masih berusia SM P
pada saat terjadinya Clash II (1948-49) memutuskan untuk ikut bergerilya dengan
kesatuan Tentara Pelajar yang bergerak di wilayah Yogya-Solo. Pertempuran mendorong
Sunarti dan banyak perempuan-perempuan muda lain yang berasal dari kota bergerak
masuk desa. Wilayah pedesaan menjadi basis kaum gerilyawan dan kantung
pengungsian. Periode revolusi kemerdekaan yang singkat adalah mas a di mana jarak
antara orang kota dan desa, antara kelas menengah dan miskin, antara perempuan terdidik
dari perkotaan dengan perempuan-perempuan desa, diperpendek. M ereka saling
mengurus satu sama lain.

Perkenalan dengan Persoalan Perempuan dan Organisasi


Sejak sebelum terlibat dalam Gerwani, para perempuan pimpinan sudah mulai
memikirkan persoalan perempuan atau menghadapi persoalan karena keperempuanan
mereka. Ketika diajak untuk mengikuti Kongres 1951, Saraswati mengaku tidak bisa
memahami proses diskusi. Topik diskusi merupakan hal baru baginya. Namun sejak
beberapa waktu sebelumnya ia sudah mulai memperhatikan persoalan kemiskinan
perempuan. Di samping itu, Saraswati sendiri juga merasakan akibat praktek poligami
ayahnya. Persoalan pendidikan juga sudah menjadi perhatian rata-rata perempuan
anggot a Gerwani sejak sebelum terlibat dalam Gerwani, seperti telah dipaparkan melalui
pengalaman Saraswati dan Atmi.

Perempuan-perempuan anggota Gerwani banyak yang sebelumnya sudah pernah terlibat


dalam, bahkan mendirikan, organisas i perempuan. Beberapa perempuan yang
wawancaranya saya pelajari pernah bergabung dalam PPI (Pemuda Putri Indonesia),
organisasi perempuan muda yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan bergabung
dalam Kowani pada Kongres 1946. Pada 60an, Atmi yang saat masih tergabung di
Pemuda Rakyat ditugaskan oleh pimpinan Jawa Tengah untuk membuat eksperimen
membentuk beberapa ranting khusus putri. Dengan demikian diharapkan perempuan
anggot a Pemuda Rakyat memiliki ruang untuk membicarakan persoalan yang spesifik
perempuan. M enurut Atmi eksperimen itu berhasil. M ereka bisa mendirikan setidaknya
dua ranting perempuan. Srigati pernah berinisiatif mendirikan organisasi perempuan di
daerah tempatnya bekerja bers ama istri pejabat-pejabat lokal: Senang saya berorganisasi,
bermasyarakat itu saya senang (Srigati, Solo, 20/4/05).

Sebagian besar aktivis Gerwani telah punya pengalaman berorganisasi semasa


pendudukan Jepang maupun semasa perjuangan fisik. Saraswati pertama kali berkenalan
dengan kegiatan berorganis asi saat harus mendampingi istri lurah dalam rapat-rapat
Fujinkai. Pada periode yang sama, Sita, pimpinan cabang Gerwani Cilacap, yang mas ih
bersekolah di Taman Siswa bergabung dalam gerakan anti-fasis: … waktu itu kan ya, apa
mendidik, kesadaran politik … (Jakarta, 23/7/04). Ia sempat ditangkap dan ditahan oleh
tentara Jepang selama beberapa hari, dan baru bebas setelah proklamasi kemerdekaan.
Pada akhir 40an, Sita bergabung dengan PKI dan mengikuti kursus marxisme di
M arxhouse, Padokan. Kemudian ia bergabung dalam SOBSI (Sentral Organisasi Buruh
Seluruh Indonesia) bagian Wanita. Sita juga sempat menjadi anggota Perwari sebelum
akhirnya masuk Gerwis.

Beberapa anggota Gerwani lain sebelumnya pernah bergabung dalam organisasi-


organisasi pemuda yang bermunculan sekitar proklamasi kemerdekaan, yaitu PPI,
Pesindo (Pemuda Sosialis Indones ia, BPRI, IPI (Ikatan Pemuda Indonesia), Pemuda
Rakyat, dan kepanduan.

M engapa dan bagaimana perempuan-perempuan ini bergabung dengan Gerwis /G erw ani?

BERGABUN G DENGAN GERWANI

M enjelang 1950 Saraswati lari dari rumah orang tuanya dan bekerja sebagai pengasuh
anak pada sebuah keluarga di Bojonegoro. Rumah keluarga di mana ia bekerja menjadi
kantor PKI. Di situ ia berkenalan lebih lanjut dengan kehidupan berorganisasi.

… Jadi saya dulu memang dibesarkan, dibesarkan di, di salah satu rumah yang
sekalian juga kantor partai, partai komunis di Bojonegoro itu. Nah di situ saya
lalu bisa lebih banyak, jadi waktu itu saya masih taraf ini ... kalau ada pertemuan
begitu saya hanya ini mengantarkan kopi. Ya hanya melayani gitu saja. Tapi
mengapa saya kok seneng gitu lo. Seneng. Jadi kalau saya nggak anu, saya mesti
ikut nungguin walaupun tidak di ini, tetapi tetep nungguin di luar sambil
mendengarkan [???]. Waktu itu ada salah seorang aktivis guru ... yang namanya
Bu Warni pinter ... pidato. Ya sekarang ini kira-kira dalam pertemuan itu
menyampaikan pendapat [???]. Saya kagum sekali, wow pinter banget gitu toh.
Itu jadi memberikan pengalaman apa-apa begitu ya …(Saraswati, Jakarta,
21/12/04).

Ketika Gerwis hendak menyelenggarakan Kongres 1951, seorang guru mengajak


Saraswati untuk ikut menjadi peserta. Keluarga tempatnya bekerja agaknya memberinya
kebebasan yang cukup luas untuk mengembangkan diri: saya ... ikut salah satu keluarga
yang kebetulan memang, revolusioner, keluarga revolusioner9. Set idaknya hingga 1954,
9
Hingga saat ini Saraswati masih berhubungan dengan anak-anak yang sempat menjadi asuhannya.
ketika aktivitas Saraswati di Gerwis/Gerwani semakin meningkat, ia masih tetap tinggal
dan bekerja pada keluarga itu.

Seumur hidupnya, baru pertama kali Saraswati mengikuti kongres. Sebagai ‘anak baru’,
ia begitu canggung sehingga tidak banyak bergaul dengan peserta-peserta lain. Saraswati
juga tidak terlalu memahami jalan diskusi dalam kongres: ...tapi memang ya ini, kira-
kira karena saya kok ternyata saya tertarik mengikuti itu. Seperti telah disebut di atas,
salah satu yang mendorongnya bergabung dengan Gerwis adalah perlawanannya terhadap
praktek poligami. M enurut Sarasw ati, tema anti-poligami itu juga yang paling menarik
minat dan paling mampu menarik banyak anggota di daerah Bojonegoro. Betapapun
berdas arkan sensus 1930 hanya 2,5 % dari seluruh populasi laki-laki berpoligami, namun
rasa tidak aman kaum perempuan dalam relasi perkawinan rupanya sangat besar sehingga
hampir semua organisasi perempuan pada masa itu menuntut penghapusan poligami 10.
Putu asal Denpasar, Bali, misalnya, bergabung dengan Gerwani karena: Katanya dulu,
kalo masuk Gerwani tidak dimadu gitu. Kan wanita, takut dimadu. Tidak dimadu, gitu.
Akhirnya saya mau masuk Gerwani (Putu, Denpasar, 21/12/00).

Raja, anggota Gerwani dari daerah Tenggarong, Kalimantan Timur, bergabung dengan
Gerwani karena alasan lain.

Itu, saya waktu didatengin ibu-ibu [Gerwani] itu, saya apa disuruh ngajar ibu-ibu
itu. “Saya sanggup ndak?” “Sanggup,” saya bilang. Saya ndak ada kerjaan kan ....
Ibu-ibu di sana itu kebanyakan kalau abis masak, pada kumpul itu, terus main
kartu kecil itu ... kartu apa itu ndak tahu. Jadi kalau saya bilang, hati saya mau
supaya orang-orang itu mau dibelajarin sedikit-sedikit gitu kan itu (Raja,
Kalimantan Timur, 2/7/05).

Riani yang menjadi ketua anak cabang Gerwani di Kecamatan M ojolaban, Sukaharjo,
menuturkan para perempuan sesungguhnya jenuh dengan rutinitas keseharian mereka:

... pada waktu itu orang-orang, ya orang perempuan kan dulu anaknya banyak-
banyak. Mung ngadang-ngliweeet wae karo manak thok (Cuma masak-
menanaaak nasi sama beranak saja). … ibu-ibu sebetulnya itu kalo di rumah
sendiri jenuh. … Tapi kalo berkumpul temannya bisa tertawa, ngguyu … (Solo,
15/4/05).

Oleh karena itu, menurut Atmi yang bekerja di tengah kaum perempuan tani di Weru,
Sukaharjo:

Senenge ra jamak (senangnya tak terkira) pada waktu itu kalo ikut Gerwani
sudah seneng. … Lha, karena ya itu tambah kepandaiannya itu tidak hanya
melulu, buruh, kalo habis ke sawah yo terus momong (mengasuh) anak kan itu ya
terus bisa kumpul-kumpul sama, kawan-kawan itu, terus bisa ya tambah
pengetahuan (Atmi, Solo, 16/4/05).

10
Kecuali organis asi-organisasi perempuan yang berbasis Islam.
Bagi beberapa perempuan, keterlibatannya di Gerwani merupakan pengalaman pertama
berorganis asi. Organisasi memberi mereka ruang lain untuk mengekspresikan diri selain
sebagai istri dan ibu. M urniati, istri seorang petani asal Pati. Saat menjadi anggot a
Gerwani pada pertengahan 1965, usianya sekitar 15 tahun, sudah dua kali menikah dan
dalam keadaan hamil: ... saya ikut anggota Gerwani itu saya kan ingin ada tari-
tariannya, kelihatannya itu bagus, gitu, saya terus ikut itu (Pati, 6/9/00).

Seperti telah dipaparkan di atas, sebelum bergabung dengan Gerwis/Gerwani, sejumlah


perempuan yang wawancaranya saya pelajari punya kaitan langsung atau tidak langsung
dengan gerakan kiri. Ayah Murniati adalah anggota PKI dan suami keduanya anggota
BTI. Sebelum terlibat dalam Gerwani, Sunarti sudah lebih dulu aktif di Pemuda Rakyat.
Ia memilih Gerwani karena menilai partisipasi organisasi tersebut giat dalam
menggerakkan masyarakat: di lingkungan kampung saya, satu-satunya organisasi wanita
yang apa itu, yang kemasyarakatannya itu luas gitu ya. Jadi baik dalam hal bantu-
membantu, saling tolong menolong, gotong royong itu memang Gerwani, gitu dulu
(Sunarti, Solo, 19/7/00). Beberapa perempuan lain terdorong bergabung dengan Gerwani
karena suaminya anggota salah satu organisasi kiri, seperti dikatakan Citra: Ha, bojone
PKI, ya istrinya mau tak mau ya mau masuk ke mana? (Sukaharjo, 9/8/04).

Dengan tingkat pendidikan, latar belakang sosial ekonomi, dan pengalaman berorganis asi
anggot anya yang sedemikian beragam, maka Gerwani menjadi kesadaran politik tidak
lagi sebagai kriteria keanggot aan, akan tetapi sebagai cita-cita.

Mendefinisikan Perempuan Sadar Politik


Gerwani mencita-citakan perempuan yang sadar politik. Dengan demikian perempuan
bisa memperjuangkan hak-haknya, anak-anaknya dan rakyatnya. Gerwani
memperjuangkan hak perempuan untuk mengembangkan diri; untuk bebas dari poligami,
pernikahan paksa dan pernikahan dini; hak untuk bebas dari eksploitasi di dalam
perkawinan maupun di dalam hubungan kerja; dan hak untuk berpartisipasi di ruang
politik. Namun menurut Srigati, yang paling utama yang harus dilakukan Gerwani
adalah: ... bagaimana kita membangkitkan semangat, kesadaran ... [agar] mereka itu
mempunyai kemauan yang besar ... untuk, maju, itu (Solo, 20/4/05). M aju artinya
perempuan sadar bahwa ia punya hak dan bahwa ia perlu organis asi. Dengan
berorganis asi, perempuan dapat meningkatkan kepercayaan diri, pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan dalam perjuangan mereka.

Perempuan yang maju adalah perempuan yang mandiri, berani memimpin dan
memperjuangkan hak-haknya.

Programnya [Gerwani] wanita sadar itu supaya sadar wanita itu tahu
kedudukannya sebagai wanita tidak tergantung laki-laki. Saya meneruskan api
Kartini! …Kartini ya wanita itu harus berdikari, harus berperan serta, emansipasi
wanita, jangan tergantung suami, jangan tergantung orang laki-laki, harus dapat
memimpin, harus jadi pemimpin juga, tidak harus dipimpin thok. ... Emans ipasi
wanita artinya wanita itu ikut berperan serta di dalam berjuang itu harus ada
keseimbangan dengan laki-laki, karena wanita itu kalo yang mengutarakan
perjuangan bukan wanita, laki-laki ndak ngerti kebutuhan wanita (Solo, 15/4/05).

M enurut Andhika, seharusnya: ... wanita itu terkenal atau dikenal, atau dibutuhkan
karena dia punya kemampuan (Blitar, 8/12/00).

Saraswati mengingat seorang teman perempuannya enggan bergabung dengan organisasi


perempuan karena menurutnya perempuan terlalu ‘cerewet’ dan senang bergunjing.
Diakuinya bahwa perempuan memang masih banyak tertinggal, terutama dalam soal
pendidikan, namun: ... perempuan ini merupakan kekuatan juga ... [untuk itu] perlu ada
penggarapan yang baik (Saraswati, Solo, 5/2/05).

Gerwani menilai ada dua akar penyebab persoalan perempuan. Yang pertama adalah
penjajahan. Penjajahan membuat akses perempuan terhadap pendidikan terhalang.

Waktu itu kan memang Gerwani bisa lahir karena di tengah-tengah semangat
revolusi ini masih menggelora ... Jadi bicara revolusi, kita nggak bisa lepas bicara
tentang kekuasaan, yang waktu itu Indonesia dikuasai oleh Belanda yang
membawa akibat, rakyat Indonesia menjadi bodoh khususnya kaum perempuan
(Saraswati, 5/2/05).

Karena bodoh, maka perempuan menjadi miskin. Di mas a kemerdekaan, perempuan


masih menghadapi ancaman neokolonialisme dan imperialisme, terutama dalam bentuk
penanaman modal asing. Yang kedua adalah feodalisme.

... sistem feodal ... [menyebabkan perempuan] tidak bisa mencapai suatu tujuan
yang, mulia gitu. Cuma dianggep kanca wingking (pendamping). ... [bukannya]
kita akan mengalahkan kaum pria, tidak, tapi kita mempunyai hak. Di dalam
pendidikan, di dalam bermasyarakat itu, haknya itu saya ingin sama. Tidak kok,
mesti saya harus mengalahkan pria, tidak, tapi demokrasinya itu ada [tertawa]
(Atmi, 12/4/05).

Betapapun Gerwani mempersoalkan sejumlah praktek ketidaksetaraan relasi perempuan


dan laki-laki dalam konteks rumah tangga, namun mereka masih meyakini pandangan
konservatif bahwa, sesuai kodratnya, laki-laki yang mengepalai keluarga sedang
perempuan yang merawatnya. Namun menurut Saraswati, dalam prakteknya, perempuan
dan laki-laki berbagi tanggung jawab memimpin rumah tangga.

Emansipasi dalam pengertian Gerwani bukan hanya berarti kesetaraan antara perempuan
dan laki-laki, tapi juga kesetaraan dalam relasi antar-kelas di masyarakat. Demikian
dituturkan Atmi:

... saya dulu masuk sekolah SD kalau sekarang, dulu Sekolah Rakyat sekolah saya itu
di Pamardi Putri, jadi kalau di sana itu sekolahan itu hanya untuk kaum, feodal.
Sistemnya kalau ya sistem feodal itu mas ih ada kelas, kelas namanya ya anaknya ratu
itu namanya gusti, gusti nanti punya putra lagi namanya ada denmas, kalau kakung
(pria), kalau putri ya ada den ajeng, jadi kalau di sana itu [sekolah] saya panggil
[teman sekolah] yang ada den ajeng kalau ada den putri , kalau kakung ya ada den
mas ... kalau pergaulan di sekolah ya begitu, kalau itu anak gusti ya ndak boso
(berbahasa halus) sama orang-orang ini, [orang-orang] ini yang boso, kromo ...
[walau] kenal ya boso, itu putra ratu ... ya sudah kebiasaannya begitu, kan kita ya
nanti disangka nggak ngerti unggah-ungguh (sopan-santun) ... sebenarnya kalau
masyarakat itu dikelas -kelaskan itu kan ndak enak, kalau menurut tataran apa itu,
feodal itukan ndak enak, lha orang itu sama saja cuman ya, sama saja, kalau di mata
Tuhan itu kan tidak ada gusti tidak ada, sama saja (Atmi, Solo, 12/4/05).

MENDIDIK PEREMPUAN

Seluruh kegiat an Gerwani bertujuan untuk mendidik anggotanya menjadi perempuan


yang sadar politik. Perempuan-perempuan ini kemudian didorong untuk merawat
dan mendidik rakyat. Pendidikan berlangsung melalui kegiatan yang programat ik
maupun kegiatan-kegiat an informal yang berlangsung dalam pergaulan
keseharian antar-anggot a atau dalam pergaulan anggota Gerwani dengan
masyarakat. Kegiatan-kegiatan Gerwani yang akan saya kaji dalam esai ini adalah
yang berbentuk anjangsana dan turba; ceramah dan pertemuan-pertemuan rutin,
seperti rapat, kursus-kursus keterampilan; kursus pemberantasan buta huruf dan
pendirian TK M elati; dan kursus kader yang lebih banyak ditujukan pada para
pimpinan cabang ke atas. Gerwani menuntut anggot anya untuk memberi contoh
kehidupan keluarga sosialis yang sederhana, solider dan berdisiplin di tengah
masyarakat. Karena itu saya juga akan meninjau secara khusus keseharian rumah
tangga para anggotanya.

Menciptakan Ruang Pemahaman antar-Perempuan: Anjangsana dan Turba


Anjangsana dan turba (turun ke bawah) merupakan media bagi para pengurus Gerwani
untuk mempelajari situasi anggot anya dan masyarakat di mana anggotanya tinggal.
Kedua metode ini agaknya menjadi medium kaderisasi yang lebih efektif dibanding
kursus kader, yang lebih jarang dis elenggarakan. Srigati menilai ia justru bisa lebih dalam
menyelami persoalan perempuan karena sering mendapat tugas berkunjung ke cabang-
cabang:

... di Semarang [DPD Jawa Tengah]. Lebih lagi luas lagi pengetahuan saya,
mengenai organisasi, dan program emansipasi wanita, masalah pendidikan,
masalah sosial, kedudukan wanita di lha, di masyarakat maupun di dalam rumah
tangga itu semakin saya, mengerti, betapa, pincangnya kehidupan, kedudukan
wanita pada saat itu. Karena juga pendidikan yang belum begit u memadai dengan
kebutuhan masyarakat bagi wanita, sehingga, setelah saya di Semarang – saya kan
bukan hanya di, kota aja – justru di Semarang saya lebih luas lagi dalam wawasan
saya terhadap kewanitaan karena saya meliputi [berkeliling] Jawa Tengah ...
(Srigat i, 20/4/05).
Anjangsana juga kerap dimanfaatkan untuk berbincang-bincang secara informal antara
pengurus dengan anggot a. Pertemuan-pertemuan informal seperti ini seringkali lebih
efektif dibanding ceramah karena perempuan-perempuan yang dikunjungi lebih punya
kesempatan untuk bicara.

Gerwani itu ... memang... mau ke baw ah ini lho. Jadi ... [organisasi perempuan
lain] kan ya sudah [mengadakan ceramah] di kelurahan gitu kan itu saja. Mandeg
tu sudah. Kalau Gerwani ... terus langsung tatap muka dengan mereka itu. Bisa
ngomong. Kadang-kadang kalau sudah begitu ya sampai malam, cerita-cerita. ...
Sehingga kadang-kadang kita terus ya kelakar, ya bisa mengambil apanya ya
misalnya uneg-uneg gimana kalau perempuan itu ... (Saraswati, 21/12/04)

Dalam bincang-bincang santai itu, pimpinan-pimpinan Gerwani bisa bertukar pikiran


dengan perempuan-perempuan yang dikunjungi tentang persoalan-persoalan keseharian
mereka, sekaligus memperkenalkan gagas an-gagasan Gerwani. Riani mencontohkan
bagaimana melalui perbincangan informal saat anjangsana ia mendorong anggota untuk
menyekolahkan anak perempuan mereka. Riani menegaskan:

... kalo berorganisasi apapun yang penting itu home-visit (anjangsana). Jadi
orang itu kalo ditinjau didekat, didekati dekat rumah senang. Merasa
diperhatikan (Riani, Solo, 15/4/05).

Istilah turba seringkali dipakai bergantian dengan anjangs ana. Namun turba memiliki
pengertian lain, yaitu sebagai ruang untuk mempertemukan pimpinan yang secara umum
mewakili kelas menengah dengan anggota yang umumnya berasal dari kaum tani miskin.
Para pimpinan yang mengikuti program turba biasanya dari tingkat cabang ke atas.
M ereka harus tinggal selama beberapa hari di desa-desa yang telah ditentukan dan turut
dalam kegiatan setempat. Melalui turba, Gerwani bukan hanya hendak menciptakan
ruang bagi kader untuk memahami kehidupan rakyat, namun juga untuk ‘menyatu’,
demikian istilah Saraswati, dengan rakyat. Demikian Saraswati:

Jadi kalau dulu kan pernah ...[ada] namanya turba, turun ke bawah, nah itu ...
makan bersama, tidur bersama, kerja bersama. Waktu itu entah tahun berapa, itu
semua pimpinan Gerwani turun ke bawah. … jadi misalnya saya yang ditugasken
ya ... untuk turun ke bawah itu ya. Saya diberi desa di mana itu ya. Lha itu. Terus
kita lihat, di desa itu kan sudah ada Gerwani. Lha di situ kan sudah ada plan
(rencana), sampai berapa hari di situ. M isalnya plan sampai sepuluh hari di situ.
Lha itu apa? Sebelum kita terjun itu mesti kita omong-omong, sama Gerwani
seluruh tempat ini. “Di sini ada problem apa?” nah begitu. Ada problem apa yang
dalam arti bisa dibantu untuk memecahken [???]. ... pimpinan ini harus satu
dengan rakyat. Harus tahu kehidupan sehari-hari rakyat itu. …Suatu contoh
mereka yang laki-laki itu, pagi-pagi sudah mesti pergi ke sawah. Terus yang
perempuannya apa? Nah ini, di situ harus bersama-sama kita ikut bekerja di sini.
Kalau siang, nah gimana makanan sehari-hari yang mereka makan itu, dari mana
ini. Jadi meneliti sampai ke situ, lalu keadaan anaknya bisa sekolah (Saraswati,
5/2/05).
Saraswati dan para pimpinan Gerwani lain diharuskan untuk ikut memotong padi dan
meneliti bagaimana bagi hasil dilakukan antara tuan tanah dengan buruhnya.
M enurutnya, hasil dari program turba itu adalah Gerwani terlibat dalam memperjuangkan
bagi hasil pertanian yang lebih adil bekerja sama dengan BTI (Barisan Tani Indonesia).

Nah karena itu lalu timbul perjuangan. Karena perempuannya ini menjadi anggota
Gerwani, taninya sara (sengsara), tani lho, ini ke BTI. Jadi mesti bagaimana
untuk menuntut upah, upah ini, potong padi ini bersama-sama.

M asih dibutuhkan penelitian lebih lanjut bagaimana dan sejauh mana aksi menuntut bagi
hasil dan juga kepemilikan tanah dilakukan dan apa hasilnya. Agaknya program turba
untuk memahami kehidupan kaum tani juga dilakukan secara serentak hingga di Bali.
Turba juga bertujuan untuk memperkenalkan wakil-wakil Gerwani di parlemen kepada
massa anggota sekaligus mensosialisasikan hak politik perempuan.

Jadi mesti tunjukkan ... kita punya wakil sekarang ini. Jadi misalnya dari pusat
sampai kabupaten, kita punya wakil. Lha ini lalu sedikit kita bicara. Bicara
tentang demokrasi. Jadi rakyat berhak berbicara. Rakyat berhak berpendapat. Nah
ini, waktu itu salurannya lewat DPR lewat wakil rakyat. Ini. Jadi ya apa dalam arti
mengungkap apakah yang dimaksudkan dengan demokrasi ... misalnya di sini,
ada Bu ini, Bu [Umi] Sarjono, Bu Kartinah [Kurdi], ada siapa lagi, Bu, M bak [Sit i
11
Su]Ndari kalau nggak salah ya. Lha itu wakil-wakil kita yang dalam DPR. Jadi
untuk meningkatkan kesadaran pengertian politik ya ... misalnya, khususnya
tentang demokrasi itu ya begitu itu caranya (Saraswati, Jakarta, 5/2/05).

Kehadiran para pimpinan untuk melakukan turba juga dimanfaatkan untuk


menyelenggarakan ceramah tentang hak-hak perempuan, persoalan dan tuntutannya.

Lha pada suatu ketika, wakil DPR ini turun ke bawah. Jadi waktu itu saya pernah
12
ngawal Bu Salawati Daud sampai daerah sana, jadi Jember, Banyuwangi. Itu. Di
sini, itu saya kira. Bentuknya memang semacam apa, ya kalau dulu istilahnya itu,
apa ceramah, apa-apa gitu ya. Jadi ya ceramah misalnya bicara tentang undang-
undang perkawinan. Karena dia ini wakil. Konkretnya wakil dari kaum
perempuan. Nah ini sekalian. Untuk itu mengapa kita juga bicara tentang undang-
undang perkawinan. Lha melalui wakil ini. Jadi misalnya, “Cocok nggak, mau
nggak, kalau kaum perempuan ini dimadu?” Terus jawabnya mesti tidak mau.
”Nah kalau tidak mau, cocok nggak kalau di PB [pengurus besar] Gerwani punya
program, menuntut tentang undang-undang perkawinan yang landasannya itu
adalah monogami?” Jadi [kalau] nggak mau, kita nentang poligami, nah misalnya
itu. Jadi caranya memang macem-macem. Jadi tinggal apa, program yang kita
bawa ke, bawah menyesuaiken dengan ini misalnya ini, misalnya kan, misalnya
kita sebelum ceramah itu kan sudah ngomong-ngomong dulu di kota ini apa, yang
11
Artinya anggota-anggota Gerwani yang terpilih sebagai anggota DPR, baik melalui F-PKI, diantaranya
Salawati Daud, Mudigdo, Suharti Suwarto, Suwardiningsih; melalui Golkar, diantaranya Kartinah Kurdi;
melalui Franksi Pembangunan non-Partai, Umi Sardjono.
12
Salah satu pendiri Gerwis, mantan walikota Makassar pada 1950an, anggota parlemen dari F-PKI.
menjadi, ada persoalan apa mis alnya begitu. Itu kita bawa dalam pertemuan-
pertemuan tersebut (Saraswati, Jakarta, 5/2/05).

Gerwani membangun budaya politik di mana wakil-wakil mereka di parlemen harus tetap
mengurus organisasi asal dan massanya. Andhika mengatakan: ... untuk merombak
segala sesuatu itu harus satu dengan rakyat, he-eeng (Blitar, 8/12/00). Andhika juga
tetap melakukan pekerjaannya membela buruh-buruh rokok perempuan terhadap tindak
pelecehan para mandor dan menjadi anggot a delegasi buruh dalam menuntut perbaikan
kesejahteraan hidup di samping melaksanakan tugasnya sebagai anggota parlemen untuk
Kabupaten Blitar. Kustini yang menjadi anggota DPRD-GR Tk. II Purwodadi juga ikut
sebagai anggota delegasi untuk menuntut dicabutnya aturan yang tidak memperbolehkan
perempuan menduduki jabatan lurah. Di samping itu, ia juga tetap menjalankan fungs i
sebagai guru. Menurut Kustini, ia justru berhasil memperjuangkan pembangunan SD di
sebuah desa di Purwodadi melalui keanggot aannya di parlemen. M enurut Sita yang
menjadi ketua DPRD Tk. II Cilacap, betapapun menjadi anggota parlemen, ia masih tetap
punya waktu untuk mengurus organisasi: Ketua DPR kan nggak tiap hari sidang
[tertawa]. ... Ke kantor, DPRD juga nggak tiap hari. Kalo ada keperluan aja (Jakarta,
23/7/04).

Memaknai Kebiasaan Berkumpul Kaum Perempuan


Riani menuturkan bahwa perempuan punya kebiasaan berkumpul di sela pekerjaannya
mengurus rumah tangga dan mencari nafkah. Namun kegiat an berkumpul itu biasanya
hanya diisi dengan pembicaraan tak berujung yang seringkali berakhir dengan
pergunjingan. Yang dilakukan Gerwani adalah mengadopsi kebiasaan yang sudah ada di
kalangan perempuan dan memberinya makna dan tujuan baru.

Dadi wanita ki men, nger ti kebutuhanne. Engko ditingkatne kawruhe, lan lia-
liane ra mung ngumpul-ngumpul, ra mung dang-nak neng omah wae.” (Jadi
wanita itu biar, mengerti kebutuhannya. Nanti ditingkatkan pengetahuannya, dan
lain-lainnya tidak hanya kumpul-kumpul, tidak hanya dang-nak di rumah saja.”

Setahap demi setahap, Gerwani memperkenalkan perempuan pada dunia organisasi,


diawali dengan menyelenggarakan pertemuan rutin untuk mendiskusikan pengalaman
dan kursus-kursus untuk meningkatkan keterampilan.

Ya membentuk anu, ranting. Terus lalu kegiatan-ne opo neng kono. Di situ ada
kegiatan apa. Leh mbuat kerupuk atau mbuat apa, mbuat apa, ibu disuruh
berperan serta jangan, wonten dalem miasto (di rumah saja). ... mesti dipanggil
[rapat anggot a] ... kalo di desa ... Mbiyen kuwi (dulu itu) Seloso Kliwon! Seloso
Kliwon lagi itu. Ingat-ingatnya mudah gitu. … Sok tiga bulan sekali tho kalo
kecamatan. tingkat kecamatan. … kalo, kabupaten ya enam bulan pleno-pleno itu
lalu ada masalah apa laporan-laporan itu. …di samping itu kan diada, itu,
pengertian tadi home industry (industri rumahan) dan sebagainya, tukar
pengalaman ... [tentang] persoalan kehidupan mereka ndak usah muluk-muluk.
Yang muluk-muluk hanya kadernya mestinya. Wong sudah, sampe tingkat annya
sampe tingkat, kecamatan mulai ya harus diisi, harus ini, ini. Isinya ini, ini itu ya
harus meni, ya untuk meningkatkan kesejahteraan anggot a, ndak untuk macem-
macem (Riani, Solo, 15/4/05).

Selain rapat anggota dan kursus-kursus untuk meningkatkan keterampilan ekonomi,


media pengorganisasian lain adalah bentuk kursus pemberantasan buta huruf, arisan,
ceramah dan lain-lain. Selain itu, Gerwani juga kerap menyelenggarakan ceramah tentang
persoalan-persoalan spesifik perempuan maupun persoalan-persoalan yang lebih bersifat
umum. Di Jawa Tengah, pertemuan-pertemuan tersebut, apapun bentuknya, disebut
sebagai ‘kumpulan’.

Kumpulan menjadi ajang untuk memecahkan persoalan-persoalan keseharian perempuan.


Salah satu persoalan yang didiskusikan dalam arisan Gerwani di daerah pedesaan adalah
soal pertanian.

Pengertian-pengertian kan membutuhkan bekal. M embutuhkan bekal diskusi itu


ada. Diskusi mendiskusikan apa permasalahan kan ada permasalahan. M asalah
apa umpamanya pertanian kalo wong (orang) tani. Wayah nandur, “Nandur kok,
ora, woh e ra akeh i sebab e opo?” (M usim tanam, “M enanam kok, nggak,
buahnya nggak banyak itu sebabnya apa?”)
“Lahane kurang apik .” (“Lahannya kurang baik.”)
Nanti kita ngajak, pengurus pertanian itu. Kalo sekarang modelnya ada, dulu
mantri tani kalo sekarang PPL [Penyuluh Pertanian Lapangan] itu.
… “Nandur jagung ngene-ngene____uripe semene___Kudu iki, kudu dioncor i,
kudu iki.” (“Tanam jagung begini-begini ____hidupnya segini _____Harus ini,
harus diberi obor, harus ini.”) Nah, terus itu dicobo (dicoba) (Riani, Solo,
15/4/05).

M enurut Sita, pengurus Gerwani Cabang Cilacap, yang lebih penting untuk dibahas di
adalah tentang aturan-aturan hukum yang berkait dengan kepentingan kaum tani, yaitu
Undang-undang Bagi Hasil 13 . Untuk itu, di Cilacap Gerwani membentuk kelompok-
kelompok tanam padi sebagai media pendidikan bagi perempuan tani.

... karena di sana di desa-des a itu kebanyakan orang tani, kemudian kita bentuk
kelompok ini ya, kalo kerja di sawah itu, tandur itu, nanam padi itu kan kita
bentuk kelompok-kelompok ... [untuk membahas] Soal anu ya, undang-
undangnya, kalo menanamnya kan mereka pinter. Kita kan nggak bisa. Ya,
undang-undangnya, bagaimana, dia mereka punya kepala kelompok, terus tentang
bagi [hasil], ongkosnya berapa, kalo, menuai tu bagi berapa …Ya, kan waktu itu
ada yang dibagi 12, yang dapetnya hanya seperdua, ada juga yang anu, seperdua
belas. Kita mulai itu. … (Sita, Jakarta, 23/7/04).

Di samping UU Bagi Hasil sebenarnya juga ada UU Pokok A graria 14 yang mengatur
tentang kepemilikan tanah. Topik ini menarik untuk diteliti lebih dalam: bagaimana dan
13
1959
14
1960
sejauhmana Gerwani terlibat dalam aksi-aksi menuntut tanah bagi kaum tani dan bagi
hasil yang lebih adil? Apa dampaknya?

Kumpulan juga menjadi media untuk mensosialisasikan hak-hak perempuan dan anak.
Tema ceramah yang menurut Saraswati paling menarik perhatian kaum perempuan di
Bojonegoro adalah tentang tuntutan pada pemerintah untuk membuat undang-undang
perkawinan yang melindungi hak-hak perempuan.

... kalau kita misalnya kita mengadaken, kalau dulu itu istilahnya bukan seminar
ya, ceramah begitulah ya ceramah. ... tentang undang-undang perkawinan ... tidak
semata-semata hanya undang-undang perkawinan tapi di sini kami mengupas
tentang sistem feodalisme itu. Jadi ini ... yang artinya bisa menggugah [kaum
perempuan] (Saraswati, Jakarta, 21/12/04).

Gerwani bersama-sama Perwari, Bhayangkari, Wanita Katolik Republik Indonesia dan


sejumlah organisasi perempuan lain gigih menuntut penghapusan poligami dan undang-
undang perkawinan yang melindungi hak-hak perempuan. Namun sikap Gerwani mendua
ketika Soekarno sendiri berpoligami pada 1954. Karena sejumlah pertimbangan politik,
15
di antaranya yang terpenting adalah menjaga kepentingan politik PKI yang saat itu
16
sudah sangat bergantung pada Soekarno , mereka memilih untuk diam dan tidak terlibat
dalam aksi-aksi protes yang dimotori Perwari. Hal ini sempat menimbulkan ketegangan,
terutama antara Gerwani dengan Perwari. Namun ketegangan hanya dirasakan di
kalangan pimpinan pusat. Di daerah, seperti di Bojonegoro, Saraswati mengatakan bahwa
anggot a-anggot a Gerwani dan Perwari dapat bekerjasama dengan baik.

Atmi mengatakan bahwa dibanding kasus poligami dan perceraian, praktek mengawinkan
anak perempuan di bawah umur secara paksa lebih mudah ditemui di daerah kerjanya,
Weru, Sukaharjo. Namun Gerwani kesulitan menangani kasus-kasus seperti ini karena
dipandang sebagai urusan internal keluarga. Yang mereka lakukan adalah terus-menerus
mengkampanyekan dampak negatif praktek tersebut melalui ceramah atau rapat anggota.
Soal UU hak waris yang tidak memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara adil
juga menjadi masalah penting di wilayah pedesaan karena berakibat rendahnya
kepemilikan tanah di kalangan perempuan tani. Topik ini juga mewarnai rapat anggot a
atau ceramah di daerah Atmi. Namun di luar berkampanye, Gerwani masih kesulitan
mengatasi kasus-kasus bagi waris yang tidak adil ini.

Di luar ceramah tentang hak-hak perempuan, kumpulan juga diisi dengan ceramah
tentang urusan kerumahtanggaan, seperti cara meraw at anak, atau kursus-kursus
keterampilan. Kursus keterampilan diselenggarakan atas instruksi DPP, namun
pelaksanaannya bergantung pada keputusan rapat anggota dan pengurus tingkat ranting
maupun pada potensi di kalangan pengurus sendiri. Di Weru, Sukaharjo, misalnya,
karena Atmi sebagai ketua anak cabang punya kemampuan merias pengantin dan gemar
berkes enian, maka dua kegiatan itu yang diselenggarakan. Kursus keterampilan pada
intinya bertujuan mendorong kemandirian ekonomi perempuan.
15
Gerwani berhasil memaksa PKI untuk menerima prinsip monogami untuk kader-kadernya.
16
Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini lihat Wieringa (1999a: 115-118); Martyn (2005: 134-137)
Gerwani mengadopsi gagasan Istri Sedar bahwa perempuan harus bekerja. Di sisi lain,
Gerwani tidak mempersoalkan pandangan yang menganggap perempuan-lah penanggung
jawab utama rumah tangga betapapun mereka mengecam beban ganda yang membuat
perempuan tak punya waktu untuk berorganisasi. Solusi yang ditawarkan Gerwani dalam
konteks hubungan suami-istri adalah suami harus membantu istri mengurus rumah
tangga. Dalam konteks perburuhan, Gerwani menuntut pendirian tempat-tempat penitipan
anak yang layak dan peningkatan upah. Sejalan dengan penerimaan terhadap kodrat
perempuan dalam rumah tangga, Gerwani selalu mengupayakan agar perempuan bis a
tetap aktif berorganisasi tanpa meninggalkan kewajiban rumah tangga,

Menciptakan Ruang Parti sipasi Publik bagi Perempuan


Pada 1950, Indonesia baru keluar dari situasi perang. Pemerintah menetapkan
17
peningkat an dan perluasan pendidikan sebagai prioritas pembangunan bangsa .
Pendidikan dianggap sebagai prasyarat mendasar untuk mencapai kemakmuran dan
18
keadilan sosial di Indonesia . Gerakan perempuan yang sudah berpengalaman
melakukan gerakan pemberantasan buta huruf sejak paruh pertama abad 20 segera
melibatkan diri dalam proyek nasional ini dengan membangun ratusan, mungkin ribuan,
19
taman kanak-kanak (TK) dan kursus-kursus pemberantasan buta huruf (PBH) . Gerakan
perempuan menambahkan kepentingan mereka, yaitu memajukan kesejahteraan
perempuan dan anak-anak, di dalam tujuan gerakan pendidikan nasional.

Gerwani, sebagai bagian dari gerakan perempuan, terlibat dalam gerakan pendidikan
nasional itu. Seperti telah dikat akan oleh Andhika di atas: Pemberantasan buta huruf itu
memang pekerjaannya [G erwani]. Sampai di gunung-gunung itu ada (Blitar, 8/12/00).
Gerwani mengklaim telah mendirikan 1.478 TK M elati20 di berbagai wilayah di
Indonesia. Namun lebih dari sekedar memajukan kesejahteraan perempuan dan anak-
anak, Gerwani memaknai keterlibatan mereka sebagai perwujudan dari hak yang sama
bagi perempuan dan laki-laki untuk berpartisipasi dalam mengurus bermasyarakat dan
menentukan arah kehidupan berbangs a. Arah yang ingin dituju Gerwani adalah
menuntaskan akar dari kebodohan dan kemiskinan kaum perempuan sendiri, yaitu
feodalisme dan sisa-sisa kolonialisme. Oleh karena itu, mereka tidak hanya berhenti pada
menyelenggarakan TK dan kursus PBH, tapi juga melakukan aksi-aksi pembelaan
terhadap kaum tani dan buruh, dan bersama-sama dengan organisasi-organisas i
17
Pemerintah mengalokasikan 16% anggarannya untuk pendidikan (Woodsmall 1960: 198 dalam Martyn,
2005: 230, catatan kaki no. 1). Angka ini dua kali lipat dari anggaran pendidikan pemerintah 1998/99. Pada
1999/2000, anggaran pemerintah bidang pendidikan turun menjadi 6,7% (Darmaningtyas, Pendidikan pada
dan setelah Krisis, Evaluasi Pendidikan di Masa Krisis, Cet. 1, J akarta: LPIST bekerjasam a dengan
Pustaka Pelajar, September 1999).
18
M. Hutasoit, Compulsory Education in Indonesia, Netherlands: Unesco, 1954: 107.
19
Pada 1940, 90% rakyat Indonesia buta huruf. Proporsi perempuan dalam populasi melek huruf hanya
sebesar 25% (Harahap, 1959, dalam Martyn, 2005: 82). Pada 1961, proporsi peremppuan dalam populasi
melek huruf meningkat menjadi 34,1%. Sekitar 30% perempuan yang melek huruf tidak pernah bersekolah
formal. Kemungkinan besar mereka mengikuti kursus pemberant asan buta huruf yang diselenggarakan ol eh
organisasi-organis asi perempuan (Nitisastro 1970, dalam Martyn, 2005: 86.
20
Harian Rakyat, 11/6/64, dalam Wieringa, 1999a: 415.
perempuan lainnya menuntut undang-undang perkawinan yang lebih demokratis serta
pencabutan Inlandsche Gemeente Ordonnantie No. 212 yang melarang perempuan
menjadi kepala desa.

TK M elati dan Kursus PBH


Betapapun pendirian TK Melati dan kursus PBH merupakan instruksi dari DPP Gerwani,
namun pelaksanaannya diserahkan pada pengurus ranting setempat. Pengurus ranting
melibatkan seringkali melibatkan pihak kelurahan dan anggota-anggota masyarakat lain
untuk menyediakan tempat dan peralatan TK. Demikian cerita Riani tentang pendirian
TK M elati di kampungnya:

Ceritanya gini. Saya, guru SD negeri Purwodiningratan. ... karena melihat situasi
kampung ini anak-anak banyak terlantar tidak ada yang mengasuh, pada waktu itu
kebanyakan anak bakul-bakul ikan, bakul daging, prembé, orang buruh, ha anak-
anak itu keliaran. Terus ada kes empatan, dan, bersama, sama lalu mendirikan
taman kanak-kanak. ... Ya taman kanak-kanak ini sederhana sekali. M emang
kumpulan dari, orang-orang itu. Alatnya juga sederhana sekali. M ungkin dulu
mejanya ya meja sederhana, dan gurunya aja, saya sore, pagi mengajar di SD
negeri. Itu guru perjuangan hanya, kita peduli lingkungan jadi ndak ada yang
membayar ndak apa. ... terus anak-anak itu ditampung di itu dekat kelurahan itu di
Pokoso itu, ada rumah kosong, terus untuk taman kanak-kanak. ... Satu klaas
(kelas). Tapi kan karena anak-anak banyak sekali ya, itu anak-anak ya, pokoknya,
sepertinya ya kalo, seperti sekarang itu sudah semua teratur itu belum teratur
seperti playgroup seperti bermain bersama daripada ndak dipiara. ... [Bangunan
TK di rumah kosong] Pemilik kelurahan… Ya bangunannya, engkrek-engkrek itu.
… Mej, mejanya meja sak adanya, kursinya, dingklik. …Itu ya orang, orang yang
partisipasi. Dadi, dari orang tua murid itu ada, dari kelurahan ada, ya siapa yang
tergerak hatinya yang memberi (Riani, Solo, 19/4/05).

Gerwani di desa tempat tinggal M imi, anggota Gerwani Solo, mengadakan penggalangan
dana dengan menyewa rombongan wayang dan menjualnya tiket pertunjukannya untuk
mendirikan TK Melati. Uang hasil penggalangan dana kemudian dipergunakan untuk
membeli berbagai peralatan TK. Sementara untuk tempat mereka menggunakan rumah
salah satu warga di kampung itu.

Untuk pendirian kursus PBH, prosesnya tidak serumit pendirian TK. Demikian Jermini:

... jadi [awalnya] hanya bikin aris-aris an gitu, biar ya, artinya kita kumpul ...
[anggot a aris an] yang buta huruf, ibu bikin kartu sekolah itu ya, ibu langs ung
yang ngajar, ah gitu ya biar mulai, maklum, ya, walaupun dia bukan Gerwani, ibu,
semua silakan untuk belajar ya. Ibu ... Pinjam tempat di ... salah satu rumah, tapi
dia luas tempatnya, di sana ibu. M injem, pertama ibu minjam bangku, bangku
sekolah dengan Pak Nasin namanya, anggota Front Nasional, kebetulan dia juga
punya sekolah, terus pinjam sepuluh untuk orang-orang belajar, buta huruf itu
(Jermini, Denpasar, 17/8/00).
Selain rumah-rumah orang yang berhalaman luas dan bangunan milik kelurahan,
Gerwani juga seringkali menyelenggarakan TK M elati atau kursus PBH di bangunan
sekolah. M enurut Sita: waktu itu juga, banyak ya, guru-guru yang jadi anggota Gerwani
jadi apa, memberikan bantuan gitu. Minjamkan ruangan [k elas], juga (Jakarta, 23/7/04).

Murid-murid TK, seperti telah disebutkan oleh Riani dan Mimi, adalah anak-anak desa
setempat, terutama yang berasal dari keluarga miskin. Aturan tentang biaya sekolah
berbeda-beda antara satu TK M elati dengan TK M elati yang lain, mulai dari hanya gratis
hingga membayar dalam jumlah kecil. Seperti juga peraturan tentang biaya sekolah,
aturan tentang honor guru juga berbeda-beda. Sebagian TK M elati tidak memberikan
honor sama sekali pada guru. Sebagian lain memberi honor seadanya. Namun secara
umum ada keyakinan di kalangan guru TK M elati bahwa mereka sedang berjuang
sehingga honor dipandang bukan faktor penting. Atmi yang mengajar di salah satu TK
M elati di mengatakan:

Wong (orang) berjuang ya ndak pake anu (honor). Terserah yang memberi ya
[tertawa]. M enurut pemasukan itu nanti terus di, ambil untuk kebutuhan
pendidikan itu ya, wis (sudah), terserah pengurus Gerwani yang memberi (Atmi,
Solo, 12/4/05).

Gerwani merekrut tenaga-tenaga guru untuk kursus PBH dan TK Melati terutama dari
kalangan anggotanya sendiri. M ereka juga mengambil tenaga lulusan-lulusan baru
sekolah guru yang sebagian di antaranya adalah anggota Pemuda Rakyat. Syarat untuk
menjadi tenaga pengajar dalam kursus PBH dan TK M elati yang diselenggarakan
Gerwani tidak berat. Perempuan yang sudah pernah duduk di bangku SM P, betapapun
tidak lulus, bisa menjadi guru kursus PBH dan TK Melati. Raja, anggota Gerwani
Tenggarong yang menjadi guru PBH mis alnya, berhenti di tahun kedua SM P. Menurut
Sit a, Gerwani tidak mampu membayar tenaga guru profesional. Oleh karena itu mereka
mengandalkan anggota-anggotanya yang pernah sekolah guru atau yang punya waktu
luang. Untuk itu, Gerwani menyelenggarakan kursus guru TK bagi calon-calon yang
bukan lulusan sekolah guru. Karena para guru secara umum berstatus relawan, maka TK
M elati rata-rata hanya bisa mempertahankan guru yang sama selama satu tahun. Namun
sampai saat ini saya belum menemukan TK M elati yang terpaksa ditutup karena tidak ada
tenaga pengajar. Umumnya sebelum berhenti mengajar, mereka sudah lebih dulu mencari
pengganti.

Bagi sebagian perempuan, aktivitas mengajar memberi mereka ruang untuk


mengekspresikan diri di luar kehidupan rumah tangga dan membuat mereka meras a
dirinya berarti, terlebih lagi guru pada masa itu dianggap sebagai jabatan terhormat.
Sumirna, anggota Gerwani asal Klaten, tidak bisa melanjutkan SM P setelah lulus karena
harus membantu pekerjaan ibunya yang sakit-sakitan. Pada awal 50an ia menikah dengan
pria yang dipilih oleh orang tuanya dan aktif di Gerwani. Ia dan sejumlah rekannya
menjadi guru kursus PBH di beberapa desa dan juga guru TK:
... kan saya dulu di tempat saya itu ngajar TK, lajeng (kemudian) buta huruf. Lalu
di sini sementara ya TK, lalu buta huruf-buta huruf itu. Lalu di sana sudah banyak
yang [bisa] membaca-nulis. ... kalau saya ke tempat bapak [orang tua] itu ya
semua muji-muji. Wong dulu secara istilahnya ditinggali kepinteran, dipuji-puji
saya (Sumirna, Klaten, 22/7/00).

Tidak semua guru TK M elati adalah anggota Gerwani. Pada 1959 Supariah baru lulus
dari sebuah SGB di Lampung. Gerwani Lampung merekrutnya untuk menjadi guru di TK
M elati yang mereka dirikan. Keterlibatannya sebagai guru TK Melati itu mendorongnya
untuk memasuki lebih jauh kehidupan berorganisasi.

... saya selesai SGB itu tahun 59. Tahun ajaran 59 ke 60 saya diperbantukan,
sudah diterima mengajar di SD [maksudnya TK] M elati, usaha punya ibu-ibu
Gerwani. Karena saya sangat butuh pekerjaan dan saya kepengen bekerja, ya di
mana saja saya terima. Di situlah saya mulai mengenal orang-orang yang
progresif-progresif, orang yang mengenal organisasi-organisasi. Di situlah mulai
terbuka. Jadi, bagaimana kesengsaraan yang saya sudah lalui itu diakibatkan oleh
siapa. Dan saya itu rasanya bangkit semangat untuk mengikuti kemajuan-
kemajuan atau ingin mengikuti progresif seperti ibu-ibu. M aka itulah kami
mengenal, masuklah kami ke organis asi, pertama saya masuk ke Pemuda Rakyat
(Supariah, Lampung, 26/2/01).

Selain aktif dalam kegiatan Pemuda Rakyat, ia kemudian juga terlibat dalam kegiatan-
21
kegiatan pendidikan yang diorganisir oleh LPN (Lembaga Pendidikan Nasional) .
Supariah tergolong paling lama menjadi guru TK M elati, yaitu sejak 1959/60 hingga
1965.

Rupiarti punya cerita lain lagi. Ia berhenti sekolah di tahun pertama SM P. Karena punya
pengalaman mengajar dalam kursus pemberantasan buta huruf yang diselenggarakan
pemerintah Lampung, Gerwani merekrutnya untuk menjadi guru TK M elati. Sebelum itu,
Rupiarti harus mengikuti kursus guru TK selama setengah bulan di Jakarta.

... saya sekolah SD selesai tahun 60 … terus saya ikut aktif – istilahnya pada
tahun-tahun itu pemberantasan buta hurup yang diadakan oleh pemerintah saya
ikut aktif, istilahnya mempelajari atau memberikan pelajaran kepada orang-orang
tua yang ingin bebas buta huruf. … Terus sampai tahun – istilahnya saya memang
saya masuk sekolah, istilahnya lanjutan pertama hanya enggak sampai selesai –
saya hanya sampai satu tahun di situ, terus akhirnya saya keluar, karena jauhnya
sekolah dari kampung yang tempat saya tinggal. Dari situ tahun 62 saya pernah
diikutsertakan ...[dalam] training center. ... ke Jakarta, hanya setengah bulan. ...
untuk [menjadi] guru TK. ... Dari situ saya ikut-ikut mengajar di TK Melati
(Rupiarti, Lampung, 26/2/01).
21
organ di bawah PKI yang menyelenggarakan kegi atan pendidikan masyarakat, seperti Panti Pengetahuan
Rakyat (setingkat SD), Balai Pengetahuan Rakyat (setingkat SMP) dan Mimbar Pengetahuan Rakyat
(setingkat SMA) yang setara dengan sistem Kejar Paket A, B dan C saat ini. LPN juga mendirikan
sejumlah akademi, diantaranya Aliarcham, Bahtaruddin (s osi al-politik), Egom (bidang pertanian), Harjono
(bidang perburuhan).
Set elah setahun mengajar di TK M elati, Rupiarti dianggap sudah punya cukup
pengalaman dan diminta menjadi guru bantu di sebuah SD negeri.

TK M elati, dalam istilah Saraswati, berlangsung ‘ala kadarnya’. Gerwani lebih memilih
untuk menyelenggarakan institusi pendidikan yang murah, dan dengan demikian bisa
meluas, namun bisa diakses oleh masyarakat miskin, dibanding sekolah dengan peralatan
lengkap namun hanya bis a dijangkau oleh kelompok masyarakat yang mampu membayar
mahal. Riani menekankan bahwa yang penting adalah bagaimana mendorong untuk
memahami bahwa belajar adalah proses yang menggembirakan, dan membangkitkan rasa
kebangsaan dan solidaritas di antara sesama rakyat dalam diri anak melalui pelajaran budi
pekerti.

M emastikan Perlindungan Hak Perempuan dalam Perkawinan


Sejak berdirinya, Gerwani memperjuangkan dikeluarkannya undang-undang perkawinan
yang berbasis monogami. Ruang untuk melakukan perjuangan menuntut undang-undang
perkawinan ini adalah di dalam parlemen melalui wakil-wakil Gerwani di dalam Fraksi
PKI dan Golongan Karya dan melalui aks i-aksi ekstra-parlementer bersama dengan
organisasi-organisasi perempuan lain. Di luar perjuangan menuntut perlindungan hukum
dalam perkawinan, Gerwani juga melakukan pembelaan kasus, baik sendiri maupun
bersama-sama organisasi-organisasi perempuan sekaw an. Pada pertengahan 1950an,
Gerwani bersama-sama organisasi-organis asi perempuan lain berhasil menempatkan
wakil-wakil mereka dalam biro konsultasi perkawinan semi-pemerintah di bawah
Departemen Agama. Tugas mereka adalah memastikan bahwa hak-hak perempuan tetap
terlindungi, baik dalam perkawinan maupun perceraian. Saraswati menuturkan langkah-
langkah yang biasa dilakukan Gerwani di Bojonegoro untuk menangani kasus-kasus
perceraian.

Jadi kita menemui sang suami dulu kita garap, sebenarnya apa.... [yang menjadi
alasan] perceraian. ... Yang sering justru soal perceraian, kalau soal perceraian,
sebelum mau sampai ke KUA itu kita konsultasi dulu, kita tarik ulur, ya kadang-
kadang sudah terjadi cerai karena suaminya ada main mata mis alnya gitu, jadi
kalau memang fakta itu betul kita juga garap ini sang suami, kadang-kadang kita
juga minta tolong kawan pria. ... kadang-kadang malah anu yang [wakil Gerwani]
duduk di situ itu M bak M ason -- Mbak M ason itu juga hilang suami-istri ini
hilang -- itu setelah saya ditarik ke Surabaya M bak Son ini sebagai ketuanya yang
duduk di situ misalnya, si A ada persoalan ini, nah M bak Son ini tidak saja puas
dalam kantor itu tidak, tapi kadang-kadang sampai ke rumahnya, jadi menjelaskan
ke keluarga, jadi apa untungnya kalau cerai, jadi dalam arti pendidikan
(Saraswati, Jakarta, 4/2/05).

Namun Saraswati mengakui bahwa Gerwani kesulitan dalam menangani kasus poligami
dan perkawinan anak.
Kalau tentang poligami anu, itu pun tidak semulus apa yang kita harapkan, sebab
kadang-kadang itu anu, karena budaya yang waktu itu boleh dikata, belum semua
anak perempuan boleh sekolah, lalu kebutuhan orang tua membutuhkan untuk
kehidupan dan itu juga rela anaknya dikawin jadi istri kedua apa-apa gitu, kalau
sudah terjadi seperti itu kita tidak ikut campur, karena itu menyangkut intern
rumah tangga kita tidak mencampur kecuali kalau ada problem baru kita mau
masuk (Saraswati, Jakarta, 4/2/05).

Di luar biro konsultasi perkawinan, Gerwani juga harus menangani persoalan-persoalan


dalam rumah tangga anggotanya. Jika suami dari anggota Gerwani yang bermasalah
aktivis dalam salah satu organisas i kiri, mereka biasanya meminta bantuan pada rekan
laki-laki sang suami atau perempuan yang dianggap punya wibawa di daerah itu. Namun
jika yang bermasalah bukan anggota organisasi kiri, Gerwani harus menemui atasan sang
suami.

Gerwani menilai bahwa kesewenang-wenangan yang seringkali dialami perempuan


dalam relasi perkawinan bersumber dari paham feodal yang selalu menempatkan
perempuan pada posisi dirugikan. Oleh karena itu, yang terutama mereka sasar adalah
memerangi pandangan feodal. M ereka meyakini jawabannya terletak pada pendidikan
bagi kaum perempuan dan juga bagi seluruh masyarakat, pengorganisasian kaum
perempuan dan perlindungan hukum dalam bentuk undang-undang perkawinan yang
demokratis.

M embela Tani dan Buruh


Bentuk lain keterlibat an Gerwani dalam menyelesaikan persoalan rakyat adalah melalui
aksi-aksi untuk membela kaum tani dan buruh. Aksi-aksi membela hak-hak buruh tani
menurut Saraswati muncul setelah diselenggarakannya turba. Aksi yang dilakukan
beragam, mulai dari menuntut bagi has il yang lebih adil, perlawanan terhadap
penggusuran tanah sampai pada aksi perebutan tanah milik tuan tanah besar. Aksi-aksi itu
selalu dilakukan bersama-sama dengan BTI.

Di Bojonegoro, Gerwani terlibat dalam upaya menyelesaikan soal bagi hasil yang tidak
adil. Demikian menurut Saraswati:

Jadi mesti bagaimana untuk menuntut upah, upah ini, potong padi ini bersama-
sama. Untuk ini, misalnya bicara dengan tuan tanah, gitu sehingga ya mesti taruh
delapan, ya sini empat, situ empat. Itu pun juga sulit, nggak semua bisa. Jadi
paling tidak misalnya delapan ya ... ya, nah delapan itu apakah kita dapat tiga? Itu
sudah untung. Satu itu. Karena itu nanti, terus, artinya terus ditingkatken,
ditingkatken gitu lho ... Jadi mis alnya kita pertama harus mutlak, harus ini nggak.
Jadi kita lihat dulu. O hasilnya untuk kali ini, baru misalnya lima kita dapat satu
(Saraswati, Jakarta, 5/2/05)

Atmi yang tinggal di Weru, Sukaharjo, bercerita bahwa buruh tani yang memotong padi
di daerahnya mendapat pembagian yang tidak adil: ... kalau saya dulu derep. Derep itu
kalau 20 ayar, 20 unting (ikat) [padi], itu yang itu dapatnya satu, satu unting (Solo,
16/4/05). Setelah berdiskusi dengan kakak iparnya yang menjadi ketua BTI setempat,
Atmi kemudian menerapkan aturan bagi hasil yang berbeda di sawah miliknya sendiri.

Terus saya kan punya sawah tho, terus saya beri perubahannya terlalu, kasian
terlalu cuma sa-unting, sa-ayar itu. Terus moro 12 [12 banding 1]. Jadi, kalo
dapat 12 unting, itu yang derep satu unting. Jadi saya anu, apa itu, memberikan,
anu, contoh begit u jadi jangan terlalu, anu, 20 ok terus cuma satu unting kan
kasian saya gitu (Atmi, Solo, 16/4/05).

Aksinya bukannya ditiru oleh sanak saudaranya yang juga pemilik tanah, tapi justru
dikritik.

Sulami dalam tulisannya menyebutkan perlawanan rakyat terhadap upaya penggusuran


tanah garapan dan tempat tinggal mereka oleh milit er di Tanjong M orawa, Sumatera
Utara, di mana aktivis Gerwani terlibat di dalamnya. Peristiwa ini terjadi saat kabinet
dipimpin oleh Wilopo. Antara PNI dan M asyumi terjadi perdebatan tentang sumber-
sumber minyak dan sejumlah tanah di Sumatera Utara yang sebelumnya pernah dikuasai
modal asing. M asyumi berpendapat bahwa aset-aset tersebut harus dikembalikan pada
modal asing, sedang PNI bersikeras harus dinasionalisasi. M enteri dalam negeri saat itu
yang dijabat oleh anggota Masyumi menentukan agar sejumlah tanah yang telah digarap
rakyat di Tanjong Morawa dikembalikan pada pemilik asing. Dalam upaya penggusuran
tersebut, pemerintah melibatkan militer. M asyarakat, termasuk aktivis Gerwani,
melakukan aksi untuk menghalangi upaya pentraktoran tanah garapan mereka. Demikian
Sulami menuliskan:

Wanita tani dipimpin Ny. M aesi, ketua cabang Gerwani ikut berbaris di depan
untuk menghalangi traktor yang akan meratakan tanaman kaum tani. Aksi ini
22
dipimpin oleh Barisan Tani Indonesia (BTI) tahun 1955 . Baik dari tentara, yang
main tembak, maupun dari kaum tani sama-sama jatuh korban. Pentraktoran
berhenti menunggu panen dan semua mas alah dirundingkan dengan pihak
23
Pemerintah dan Pihak Perkebunan .

Sulami juga menyebutkan beberapa peristiwa di mana buruh tani berhadapan dengan tuan
tanah lokal, seperti di Jengkol (Kediri, Jawa Timur) dan Indramayu. Namun menurut
Andhika, persoalan pembelaan hak kepemilikan tanah yang menghadapkan kaum buruh
tani dengan tuan tanah besar adalah persoalan yang rumit. Seringkali tuan tanah yang
dihadapi oleh buruh tani adalah keluarganya sendiri.

... Aksi-aksi itu perebutan tanah itu belum pernah terjadi. Hanya rencana konsep
itu ada aksi sepihak. Tapi, karena orang taninya sendiri belum berani, ya kita
nggak memaksakan, tapi kita memberi pengertian, he-eng memberi pengertian. ...
sulit sekali kok soal tani itu. M enghadapi kaum tani itu juga sulit, he-eeng. Tapi,
kalau program Gerwani atau kaum tani itu bisa nyambung, tapi kalau soal tani
22
Sebenarnya 1953
23
Sulami, 1992
sendiri saya kurang. ... Pemecahannya sulit, he-eeng. M usuhnya itu kan musuh
tuan tanah, he-eeng yang dari gimana ya? Kadang-kadang itu saudaranya sendiri
yang tuan tanah itu (Andhika, 8/12/00).

Peran Gerwani dalam membela hak-hak buruh juga mas ih memerlukan penelitian lebih
lanjut. Andhika menuturkan bahwa sebagai anggota Gerwani sekaligus sebagai anggot a
SBR (Serikat Buruh Rokok) dan anggota DPRD Tk. II Blitar dari F-PKI24, ia selalu
terlibat dalam delegas i-delegasi untuk menuntut pemenuhan hak-hak buruh pabrik rokok,
khususnya hak-hak buruh perempuan. Salah satu yang ia lakukan adalah mengunjungi
tempat-tempat penitipan anak di pabrik-pabrik rokok dan perkebunan untuk mengawasi
kualitas pelayanan yang diberikan. Perusahaan seringkali menghindar dari kewajiban
mereka menyediakan tempat-tempat penitipan anak yang memenuhi standar kelayakan
karena itu berarti biaya tambahan bagi mereka. Andhika juga menuturkan bahwa ia
seringkali harus membela kasus buruh perempuan yang mengalami pelecehan saat
meminta cuti haid.

Salah satu persoalan buruh rokok adalah rendahnya upah. M enurut Andhika, pemerintah
belum cukup mensosialisasikan pada buruh tentang hak-hak mereka. Oleh karena itu,
mereka harus mengambil alih tugas tersebut.

Jadi kita memang kalau dia nggak diberi tau ya ndak tau. Kita jelaskan, kita
bekerja dari jam sekian atau sekian, kan nggak layak, nggak nucuk gitu ya. Kita
sebagaimana manusia supaya manusiaw i kita ini dimanusiawikan seharusnya kita
dapat upah sekian, beritau kita, ceramah-ceramah .

Selain soal kenaikan upah, yang juga dituntut oleh buruh rokok adalah pembagian
keuntungan pada buruh secara periodik dan tunjangan hari raya.

Ha dulu juga buruh itu dituntut kan klarifikasi, jadi keuntungan pabrik itu tiap
tahun berapa, itu berapa prosen harus diserahkan bagikan kepada buruh itu. Jadi
selain, umpama THR [Tunjangan Hari Raya] ya, THR itu tuntutan tiap tahun kan
mesti nuntut THR, karena kalo nggak ini nggak. Kadang-kadang nggak diberi.
Jadi mesti ada tuntutan, kita mengadakan rapat-rapat, kalau mau lebaran ini sudah
terus tiap hari ada rapat buruh. Cuma kita nggak pernah berlibur, jadwal itu ada
terus (Andhika, Blitar, 8/12/00).

Sebagai anggota delegasi, ia harus berhadapan dengan Gapero, serikat pemilik pabrik
rokok, untuk mengajukan tuntutan-tuntutan buruh.

Keterlibatan Gerwani dalam aksi-aksi kaum tani dan buruh meyakinkan mereka bahwa
kesejahteraan perempuan dan kedaulat an bangsa masih harus berhadapan dengan
ancaman dari pihak asing dalam bentuk penanaman modal. Oleh karena itu, mereka
berprinsip anti-modal asing.

24
Ia menjadi anggota DPRD Tk. II Blitar sejak 1956-1965
PENDIDIKAN KADER

Pada 1956 Gerwani menugaskan Kartinah, Suw arti, dan Darmini untuk menyusun
kurikulum kursus kader25. Prakteknya kursus kader hanya diberikan kepada para
pengurus Gerwani tingkat anak cabang ke atas. M ateri kursus dirasa terlalu sulit untuk
dicerna anggota, bahkan oleh tingkatan pengurus ranting sekalipun.

Srigat i, terakhir ketua cabang Rembang, pernah mengikuti dua kali kursus kader dan
kemudian menjadi pengajar. Menurutnya, inti dari kursus kader adalah: ... untuk bisa
mengerti arti berorganisasi itu apa (Solo, 20/4/05). M ateri kursus melingkupi:

Organisasi, terus, apa itu, program kewanitaan. Program kewanitaan. Yang jelas
sih itu. Bagaimana berorganisasi, apakah arti organisas i, itu diberikan. Lalu
anggaran dasar-rumah tangga organisasi itu dijelaskan. Itu begitu. M engapa kita
harus berorganis asi. …Saya kira memang dalam bidang, sosial dan pendidikan
seperti halnya organisasi lain yang sama. Tapi kita mempunyai ciri sendiri, ya
mengenai, apa itu, pendidikan politik. Itu yang, lain. M eskipun dia juga ada
pendidikan politik kan politiknya mereka. Itu lain dengan kita. … La, artinya
dalam pendidikan politik Gerwani ya bagaimana kita bisa meningkatkan taraf, apa
itu, wanita, terutama, dalam pendidikan, di dalam rumah tangga, tidak hanya kalo
dulu mengatakan: swargo nunut, neroko katut. …Tidak. Tapi wanita harus punya,
pendirian atau punya anu, apa itu, pikiran. Tidak hanya ikut-ikutan aja. Jadi, di,
ikut menentukan…sejarah-sejarah daripada pejuang-pejuang wanita itu, termasuk
menjadi mata pelajaran untuk diberikan. Untuk memberikan contoh, pemimpin-
pemimpin perjuangan wanita (Srigat i, Solo, 20/4/05).

Kursus kader Gerwani yang diikuti Srigati dilaksanakan selama beberapa hari dalam
periode satu bulan.

Atmi yang menjabat ketua anak cabang Gerwani sejak 1962 mengatakan bahwa ia tidak
pernah mengikut i kursus kader. Ia lebih banyak mengandalkan pengalaman berorganisasi
di Pemuda Rakyat, pendidikan formalnya yang mencapai tingkat SGB, dan
kegemarannya membaca buku, seperti Sarinah karya Soekarno dan Layar Terkembang
karya St. Takdir Alisjahbana. Saraswati juga mengatakan bahwa pengetahuan
berorganis asi ia dapatkan justru dari pendampingan hari per hari oleh seorang guru yang
sudah lebih berpengalaman dalam berorganisasi. Saraswati juga merasa banyak belajar
dari Berita Gerwani, sebuah terbitan Gerwani yang berisi perkembangan organis asi di
berbagai daerah.
Satu faktor yang juga penting dalam pembentukan kader-kader Gerwani adalah hubungan
aktivis-aktivis organisas i ini dengan aktivis-aktivis dari organis asi-organisasi kiri lainnya,
terutama dalam bentuk hubungan antar-pribadi atau keanggotaan dalam organisasi kiri
lain. Atmi mis alnya, mengenal persoalan buruh tani dari hasil diskusi dengan kakak
iparnya. Saraswati juga secara pribadi berdiskusi dengan suaminya yang menjadi anggota

25
Kurikulum itu terdiri atas: soal-soal organisasi, gerakan perempuan, hak-hak perempuan dan pendidikan,
sejarah nasional, hak-hak anak, pengetahuan umum, dan tentang ormas-ormas lainnya (Saskia E. Wieringa,
Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, cet.1 (Jakarta: Garba Budaya, 1999), hal 306).
CDB PKI Jawa Timur untuk meningkatkan kemampuan menelaah situasi masyarakat.
Sit a, selain sebagai anggota Gerwani juga menjadi anggota PKI. Pada akhir 1940an ia
mengikuti pendidikan di M arx House, sekolah, atau lebih tepatnya kursus, kader PKI, di
mana ia mendapatkan dasar-dasar marxisme.

KELUARGA SOS IALIS , KAMPUNG S OS IALIS

Gerwani menuntut anggot anya untuk menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat. Tuntutan makin ditingkatkan saat seorang perempuan menjadi pimpinan.

Kita ini adalah ya pimpinan. Jadi segala sesuatunya kalau bisa menjadi teladan.
Nah itu. Nah apakah termasuk rumah tangganya. Apakah termasuk penampilan
dan lain sebagainya. ... Jadi memang penanaman hidup sederhana, karena ini,
orang-orang yang dipercaya. ... Ini, ini apa ya, pengalaman hidup saya, yang
berusaha semampu mungkin, jangan sampai ada ... hal-hal yang dipandang kurang
pas lah kalau sebagai pimpinan (Saraswati, Jakarta, 5/2/05).

Perempuan-perempuan aktivis Gerwani yang tuturannya saya pelajari umumnya menikah


dengan sesama aktivis dari organisasi-organisasi kiri. Mengawini aktivis ‘satu aliran’
dianggap lebih menjamin terbangunnya rasa saling pengert ian dan saling mengis i.
Kadangkala yang terjadi adalah seorang suami dari organisasi kiri yang mendorong
istrinya untuk aktif dalam Gerwani. Dengan demikian ia berharap istrinya mau
mendukung, atau setidaknya tidak menghalangi, kegiatannya. Srigati menuturkan bahwa
di dalam ceramah-ceramah Gerwani sering disampaikan agar: ... anggota sebagai ibu
rumah tangga, itu bagaimana bisa mendorong, suaminya dalam kegiatan atau aktivitas di
organisasi atau partai itu (Jakarta, 20/4/05). Di sisi lain, Gerwani juga meminta para
suami untuk mendukung aktivitas berorganisas i istri-istri mereka agar dapat
mengembangkan diri sehingga bisa mengimbangi suami.

Saraswati menuturkan keadaan rumahtangganya dengan seorang staf CDB PKI Jawa
Timur. Cerita tentang rumah tangganya seperti gambaran ideal keluarga sosialis,
sederhana, saling pengertian dan bahagia seperti yang bisa ditemukan dalam artikel-
artikel di kolom Ruangan Wanita Harian Rakyat tentang kehidupan keluarga di Uni
Sovyet:

… [kehidupan] kita jalani bersama-sama. Ya sebagai aktivis gitu lho ... Lha di sini
memang bagi saya, betul-betul mendapatkan suatu kebahagian dalam arti,
merasaken kehidupan itu tentram gitu lho. Tentram karena bisa menjalankan
tugas organisasi, saling mendukung. Itu yang saya rasakan hal yang mungkin
orang lain sulit gitu. [???] [batuk] misalnya saya merasa memang aktivis. Jadi
nggak ada ... misalnya tuntutan minta ini, minta itu. ... Jadi memang, semuanya
memang yang kita lihat itu rakyat masih menderita. ... kita itu harus ada malu.
Kehidupan aktivis bisa ini, bisa itu, sedang yang kita perjuangken mas ih. Nah ini
yang selalu menjadi apa, apa namanya, patokan gitu. Jadi kehidupan sederhana
itulah yang kita pegang dan sampai tua begini. ... Jadi itu keadaan yang saya
alami, pada saat, ya bersama-sama ini ya ... mengarungi bahtera sebagai aktivis
tapi juga berjuang untuk kehidupan rumah tangga (Sarasw ati, 5/2/05).

M enurut Saraswati, dengan mengandalkan pendapatan dari pekerjaannya di Gerwani dan


pekerjaan suaminya di PKI, keluarga mereka harus hidup sederhana. Pelaksanaan dari
prinsip hidup sederhana menurut Saraswati juga berarti harus menahan keinginan-
keinginan agar tidak terdorong untuk berhutang.

Sit a yang juga menikah dengan staf tetap PKI kabupaten punya pengalaman yang
berbeda dengan Saraswati. Dalam hal pembagian tanggungjawab dalam rumah tangga,
terutama merawat 11 anak mereka, suaminya tidak ikut ambil bagian. Sita mengandalkan
ibunya dan pembantu agar ia sendiri tetap bisa berkegiat an.

Andhika juga menikah dengan aktivis PKI. Sebagai ketua anak cabang Gerwani, ia sering
memberikan ceramah tentang pentingnya kesetaraan relasi perempuan-laki dalam rumah
tangga. Namun dalam rumah tangganya sendiri ia harus menenggang aktivitas suami
yang pada akhirnya menempatkannya pada posisi menanggung beban ganda. Cerita
Andhika di bawah ini mengungkap bahwa distribusi tanggung jaw ab dalam rumah tangga
adalah persoalan yang belum selesai dibahas dalam Gerwani, dan agaknya tidak pernah
terbahas dalam PKI.

Anggota partai itu berat. Karena menomorsatukan kepentingan rakyat,


menomorduakan kepentingan pribadi. Padahal saya masih mengutamakan
kepentingan pribadi. Karena saya takut anak saya lapar, jadi ke mestinya saya
harus mengunjungi rapat-rapat, saya tidak bisa saya harus mengurus anak, itu kan
saya mengutamakan anak saya. Tapi, kalau bapaknya anak-anak kan bisa saja,
nggak ngurusi anak, nggak membersihkan rumah, bisa saja. Tapi saya nggak bisa.
Jadi kalau belum bisa mengutamakan kepentingan partai, itu belum bisa
menerima jadi anggota PKI26. ... memang [suami] pokoknya harus jadi contoh
dalam keluarga. Jadi paling tidak itu menjadi pemimpin di rumah tangga, he-eeng.
Tapi dibidang ekonomi memang tidak ngurusi, karena memang pikiran tenaga
untuk partai. Jadi isteri harus bisa menerima keadaan itu, hanya kita solidaritas,
ada pengertian. Dia berjuang untuk rakyat. Jadi sering kita marah ya, karena anak
sakit nggak punya uang, selamanya hidup kita ini kurang, karena ndak dapat
nafkah sepenuh dari suami27 (Andhika, Blitar, 8/12/05).

Salah satu hal yang umum dilakukan oleh anggota-anggota Gerwani adalah membuka
rumahnya untuk kegiatan-kegiatan masyarakat. Demikian menurut Jermini:

Tiap-tiap ada ke, apa, upacara, atau kegiatan apa itu di rumah ibu ... sebab, yah,
rumah ibu luas, git u kan, tempat anak-anak mengetik, apa itu, ada tempatnya gitu.
... Yah, lapar, makan ya semua ke belakang, ndak pa-pa biar ibu mas ak banyak
ndak apa, yang penting tu mereka makan, gitu. M akanya ya temen-temen itu
semua ada, “Oh, ini baik nih,”
26
Beberapa perempuan menegaskan perbedaan antara simpatisan dengan anggota PKI.
27
Suaminya adalah ketua DPRD Kotamadya Blitar dan anggota Front Nasional Blitar.
“Ah, saya lapar, pulang aja ke rumah, penjahit ____ itu makan deh.”
Ibu ndak tau, biar Ibu sedang rapat ke DPR kek, ke Front Nasional, mereka
makan, makan di rumah. Bapak ndak ada, kebetulan pergi ya, ke Surabaya gitu,
ibu ndak pernah tutup, kunci gitu, ndak pernah, siapa mau curi orang kita baik ya?
Siapa mau mencuri? Orang sudah banyak deh teman-teman makan, apa, dia
senang tidur ya tidur, bikin kopi ya dia bikin kopi ... (Jermini, Denpasar, 17/8/00).

Umumnya yang memanfaatkan tawasan Jermini adalah anggota-anggota sesama


organisasi kiri.

Hampir semua perempuan yang wawancaranya saya pelajari menceritakan tentang


solidaritas dan kerjasama yang baik antar-anggot a-anggot a organisasi kiri dalam
mengurus kampung. Citra menuturkan:

Barisan tani [Indonesia] ya kalau nggarap sawah itu, pemudanya itu loh, dibantu
pemuda sehari jadi. Sana ada gerakan menanam, apa, diserang (dikerjakan
bersama-sama) jadi. Rukun ... (Ibu Citra, Sukaharjo, 9/8/04).

Peran Gerwani dalam hal itu biasanya mengurus logistik bagi orang-orang yang bekerja.

Biasa kalau ada orang-orang pemuda rakyat itu, biasa kalau ada saya berani ya,
kalau ada nasi, “Silakan makan!” kalau ada apa, “Silakan makan!” (Ibu Citra,
Sukaharjo, 9/8/04).

Cerita Saraswati tentang kehidupan keluarganya juga banyak mengungkap solidaritas di


antara sesama aktivis organisasi kiri. Wakil Front Nasional Jawa Timur yang juga
menjadi ketua DPD Gerwani Jawa Timur misalnya, kadangkala memberi bantuan uang
dari sisa uang saku untuk perjalanan dinas. Rekan aktivis serikat buruh memberinya
bantuan gula. Dan untuk pakaian anak-anaknya, ia mendapat sisa-sisa kain dari rekan
yang bekerja sebagai penjahit. Ia juga sering berkonsultasi dengan sesama rekan aktivis
yang berprofesi guru tentang pendidikan anak-anaknya.

Merefleksikan Perubahan dan Penghancuran

Peristiwa 1965 menghancurkan proyek pendidikan politik yang sedang dibangun


Gerwani di kalangan perempuan. Anggota-anggota Gerwani diburu, sementara kantor-
kantornya dirusak atau dibakar. Rumah Jermini di Denpasar yang sekaligus berfungsi
sebagai tempat kegiatan organisasi-organisasi kiri dibakar. Rumah Andhika di Blitar
yang sekaligus berfungsi sebagai kantor cabang Gerwani dirusak pada pertengahan
Oktober 1965.

Saya dicegat Pemuda Rakyat, “Bu, jangan pulang rumah ibu sudah dijaga dan
dirusak sama tentara.” ... karena ada nama board-nya ... kantor Gerwani. ... Ya.
Gerwani Kota. Kantornya di rumah saya. ... Rumah saya itu dihancurkan, papan
nama itu okrek-okrek, ramai. ... meja-meja itu dirusak, dihancurkan. ... M eja tulis
yang tebal itu juga pokoknya dihancurkan, perkakas-perkakas dihancurkan
(Andhika, 8/12/00).

Andhika, dengan membawa anak-anaknya, hidup berpindah-pindah di rumah ke rumah,


dari kota ke kota, dan bahkan bersembunyi di wilayah-wilayah pegunungan untuk
menyelamatkan diri. Untuk bertahan hidup, ia berjualan apa saja. Ia ditahan dua kali.
Yang pertama selama tiga bulan. Sedang yang terakhir selama 10 tahun, mulai 11 Juli
1968 hingga 1978. Peristiwa 1965 menghentikan aktivitasnya, baik sebagai anggota
Gerwani dan SBR, anggota DPRD Tk. II Blitar maupun sebagai sekretaris Gabung
Organisasi Wanita tingkat kabupaten.

Penghancuran TK M elati berjalan bersamaan dengan penghancuran Gerwani. Demikian


pula, militer dan kelompok-kelompok massa sipil yang diorganisirnya memburu guru-
guru TK Melati yang sebenarnya tidak seluruhnya anggota Gerwani. Pada 15 Oktober
1965, Kodam II Bukit Barisan melaporkan perusakan TK M elati di Medan Baru oleh
28
massa . Riani menutup TK M elati di kampungnya di Solo dan menyerahkan seluruh
peralatan dan perlengkapan TK kepada pihak kelurahan: Ya, harus diserahkan lha kalo
tidak, [dianggap] tidak menyerah nanti (Solo, 19/4/05). Rumah Sugianti di Kebumen
yang menjadi tempat KGTK (Kursus Guru TK) Melati dan pondokan bagi calon-calon
guru dibakar oleh militer bersama-sama massa. Anggota-anggota milit er melakukan
pelecehan seksual terhadap para calon guru TK M elati yang ditampung di rumah itu.
M enurut Suprapti, di wilayahnya di Lampung, banyak guru perempuan anggot a Gerwani
dan organisas i-organisasi lain maupun pengajar di TK Melati menjadi korban perkosaan
komandan Buterpra yang menangkapi mereka, termasuk dirinya sendiri: ... pokoknya
asal anak gadis maupun ibu-ibu yang guru SD Titipasan, SD-SD biasa, SD Negeri yang
PGRI Non Vaksentral kayak gitu, kena perkosa dan guru-guru TK Melati mengalami
perkosaan (Lampung, 26/2/01).

Peristiwa 1965 memaksa sebagian mantan aktivis Gerwani untuk mengingkari sejarahnya
sendiri Set elah Gerwani hancur, sebagian dari anggotanya merasa trauma dan berusaha
menyelamatkan diri dan keluarganya dengan menutup jejak keterlibatan mereka dalam
organisasi itu. Wiroatmo yang terakhir menjadi ketua ranting saat diwawancarai
mengatakan ia tidak paham sama sekali kegiat annya di Gerwani:

...saya orang bodoh ya nggak jadi apa-apa, gitu. Cuma menyetujui lah gitu. ...
saya itu karena tidak bisa menulis, membaca, ya dulu itu belum lancar lah. Jadi
ada yang bicara sendiri, ada yang merencanakan itu, saya cuma setuju aja
(Yogyakarta, 13/7/00).

Padahal di awal wawancara ia sempat mengatakan: Nah, terus saya mengikuti sekolah
buta huruf [yang diselenggarakan Fujinkai] itu. Terus, lama-lama bisa baca bisa nulis,
gitu. Sampai sekarang ya bisa baca bisa nulis. Tapi, dulu-dulunya tidak pernah sekolah
sama sekali. Bahkan Wiroatmo berusaha untuk menjauhkan diri dari ingat an tentang
kursus masak yang diselenggarakan Gerwani ia mengatakan: ... pernah diajarkan masak
28
Puspen AD, Fakta-fakta Persoalan Sekitar Gerakan 30 September, ?: 181-182
tapi bukan di sini, di situ di cabang. Cuma ikut-ikut saja, kalau masak ini, ini…, ini…,
gitu (Yogyakarta, 13/7/00). Beberapa perempuan lain berusaha memutus hubungan
dengan rekan-rekannya sesama anggot a Gerwani dan menarik diri dalam kesibukan
mengurus keluarga.

Akan tetapi, apa yang berhas il dicapai oleh Gerwani selama 15 tahun masa hidupnya?
Apa yang hilang setelah Peristiwa 1965?

Saraswati yang posisinya terakhir di Gerwani adalah sebagai anggota DPD Gerwani Jawa
Timur, saat merefleksikan pengalamannya mengatakan bahwa Gerwani saat itu sedang
berupaya mendidik kaum perempuan untuk memahami akar persoalan yang dirasakan
rakyat. Betapapun mencita-citakan perempuan yang sadar politik, tapi Gerwani belum
sampai pada tahap merumuskan apa itu politik perempuan.

... saya kira kalau sudah ditelusuri betul-betul itu, memang yang ada itu memang
semangat dan kesetiaan. Saya kira yang jelas saja misalnya, waktu itu soal politik
itu ya belum mengerti, gitu. ... tentang kolonialisme, tentang imperialisme ... bisa
kita bawa .. .dalam pertemuan-pertemuan misalnya ada konferensi anak
cabang .... yang dateng kan ranting-ranting, nah itu kita sampaikan ke situ. Kita
meningkatkan kesadaran baru tahap begitu saja. Jadi apa ya ... belum sampai
detail, politik lalu bisa dibahas ... ini mesti harus punya politik yang bagaimana,
untuk membawa bangsa dan negara ini bagaimana, gitu. Jadi waktu itu ya masih,
ya kenyataannya masih begitu ... Kalau saya renungkan, sekarang ini memang ...
apa ya sebenarnya bukan pekerjaan yang ringan untuk mengangkat atau
mengungkap hal-hal yang dirasakan oleh rakyat khususnya kaum perempuan. Nah
ini untuk mengungkap kan nggak bisa ... kalau hanya, apa itu, suatu kelompok
gitu. ... kalau ada kendaraannya yang konkret gitu, kayak dengan kendaraan ini,
kita akan bisa menjelaskan sesuatu secara luas (Saraswati, Jakarta, 5/2/05).

Saraswati ditahan pada 1968 dan dibebaskan pada 1979 tanpa pernah diadili. Suaminya
divonis hukuman mat i dan meninggal karena sakit jantung di LP Pamekasan. Setelah
peristiwa empat anaknya hidup terpisah. Seorang anak perempuannya hilang.

M elihat kenyataan sekarang Saraswati menilai persoalan rakyat belum selesai.

... saya menganggap bahwa perjuangan untuk melenyapkan penindasan, artinya


mengangkat rakyat supaya memiliki derajat yang layak sebagai warga negara
Indonesia, ini masih belum tercapai. Karena itu, ya, apapun yang terjadi ... saya
memang tetep setia kepada ini, organis asi yang sekarang saya bernaung ...
(Saraswati, 21/12/04).

Citra menjadi anggota Gerwani salah satu ranting di Sukaharjo. Ia selalu bercerita dalam
konteks seluruh organisasi kiri. Yang saat itu sedang diperjuangkan oleh organisasi-
organisasi kiri menurutnya adalah membela hak orang miskin untuk hidup layak. Artinya
cukup makan, bisa mengakses layanan kesehatan dan sekolah, bisa bertempat tinggal
dengan tenang dan hidup bermasyarakat.
Jenenge membela nasib wong cilik, mongko wong iku hake__(namanya membela
hak orang kecil, apalagi orang itu haknya)___ hidup layak, haknya hidup layak
kan. Hidup layak itu ya bisa menyekolahkan anaknya, bisa, kalau sakit ya bisa
berobat, bisa gotong-royong dengan tonggo teparo. Ya, pokoknya kebutuhan
hiduplah. Bekerja ada pekerjaan untuk hidup bisa. Tuntutan rakyat kan hanya
itu, apa mau beli kereta api? Ndak ada [tertawa]. Ya kalau itu sudah merata, ah
rakyat tidak akan memberontak. Tidak. Tapi kalau rakyat hidupnya sudah, alah
sudah tidak anu, layak, hidup layak saja, tidak usah hidup yang… yang layak saja
ndak bisa. Apalagi penderitaan gusur-gusuran wah kalau saya mendengar, habis
ini belum selesai masalahnya nanti ganti kok terus menerus. ... Opo meneh (apa
lagi), saya mendengar sekolahan digusur. Waduh, rasa-ras anya ya, Tuhan, saya
minta [tertawa] panjang hidup biar tahu sejarah … (Ibu Citra, Sukaharjo,
9/8/04).

Baginya, Peristiwa 1965 berarti hilangnya pembela kaum tani:

... [kaum tani] sekarang sengsara. Anune, hargane njukuk (mengambil) luar
negeri, kene ciloko (sini celaka), apa itu yang menyebabkan, rabuke (pupuknya)
ya dipalsu, kan sudah waduh … sengsara pokoknya. Dulu dituntut sungguh.
Sekarang ndak ada yang membela. Siapa yang membela? ... [Dulu] Ada tukang
mbela itu. Ya sukarelaw an gini, tapi setiap detik itu bawaannya itu buku hukum
itu. Jadi ndak takut. Bukan lulusan hukum tapi orang-orang yang itu, yang hukum
ya terus hukum terus, berani menghadapi___ Ini kalau ada masalah soal tani apa
gitu, ada di hukum sana___ tapi orangnya itu banyak___ di sana mis alnya ada
Gestok, ada yang melenceng git u, rakyatnya sudah, “Hemmmmm…,” gitu itu
sudah suaranya sudah… (Ibu Citra, Sukaharjo, 9/8/04).

Citra sudah memiliki sembilan anak ketika Peristiwa 1965 terjadi. Akhir
Desember 1965 suaminya yang bekerja sebagai pembuat badge dan anggot a
DPRD Tk. II dari F-PKI ditahan dan baru dibebaskan dua tahun kemudian. Ia
beruntung karena hanya sempat diinterogasi tanpa ditahan. Namun selama dua
tahun itu ia harus mengambil alih pekerjaan suaminya agar bisa bertahan hidup.

Ia meyakini bahwa dengan banyaknya persoalan yang dihadapi, masyarakat tidak akan
tinggal diam:

Tapi ora isa (tidak bisa) hilang. Idiologi ora iso ilang, ya ijek maneh (tidak bisa
hilang, ya masih lagi), masih lama maneh. Selama kamu tidak adil, dunia sini,
mesti, iya tho? Itu bukan benihnya tukul (tumbuh) sendiri. Orang itu kalau
menderita tukul sendiri, iya tho? Apa diajani (diajari) orang nggak? M isalnya
Buruh, “Ini kok ora mudun, piye-piye (kok tidak turun, gimana-gimana), iya saya
maju.” Itu kan tukul sendiri kan itu haknya. Bukan PKI-nya, bukan. PKI itu sudah
mati, sudah ndak ada. Tapi memang tukul sendiri. Wong tani kuwi nek digawe
rugi (Orang tani itu kalau dibuat merugi), itu bingung mesti (Ibu Citra, Sukoharjo,
9/8/04).
Bagi perempuan-perempuan yang sudah terbiasa berorganisasi, larangan untuk
beraktivitas diras a sebagai bentuk penyiksaan. Srigati mengatakan bahwa selama ini
otaknya beku karena aktivitasnya dibatasi, baik oleh pemerintah maupun oleh keluarga.
Atmi memutuskan untuk ikut PKK (Program Kesejahteraan Keluarga), organisasi
bentukan Rezim Orde Baru untuk mewadahi perempuan-perempuan desa:

“Jadi [tertawa] saya itu ya wanita seperti kamu-kamu [ibu-ibu PKK] itu,” saya
gituin. Jadi saya itu ya harus andil di masyarakat itu apa kegiatan masyarakat saya
ikut. Saya tidak mau nek (kalo) dijadi, dijadikan wanita minoritas, ndak mau. Jadi
saya juga harus ikut ambil bagian di kampung, di masyarakat, itu saya gitu. ...
Kalo saya tidak masuk ke PKK kan saya tidak tahu perkembangan, wanita-wanita
sekarang itu di luar, ibu-ibu korban itu kan saya ndak tahu. ... Ya saya korban tapi
saya juga masih punya ide kok, saya masih punya gagasan, saya masih ikut
membantu. Kaum saya perempuan itu supaya bisa maju (Atmi, Solo, 12/4/05).

Kesimpulan

Selama 15 tahun Gerwani memilih untuk bekerja di kalangan perempuan kelas menengah
dan miskin. M elalui berbagai media mereka berupaya mendidik perempuan untuk sadar
politik dan mampu membela hak-haknya. Dalam perspektif Gerwani, hanya dengan
kesadaran politik perjuangan mereka akan sampai pada akar penyebab persoalan
perempuan dan rakyat umum, yaitu sisa-sisa kolonialisme dan feodalisme, serta
kapitalisme yang terus mengancam. Kesadaran politik Gerwani membedakannya dari
organisasi-organisasi perempuan lain. Akan tetapi sampai saat mereka dihancurkan,
Gerwani belum selesai merumuskan hasil pergulatan mereka di lapangan menjadi politik
perempuan.

Angkatan Darat menurut saya justru dapat melihat ancaman atas kepentingan mereka jika
upaya Gerwani tidak segera dihentikan. Gerwani dikhawatirkan cepat atau lambat akan
mempengaruhi kes adaran gerakan perempuan secara umum, apalagi dengan semangat
nasionalisme kerakyatan dan otonomi yang dimiliki gerakan perempuan saat itu.
Penghancuran terhadap Gerwani sendiri pada akhirnya tidak hanya berakibat lenyapnya
gagasan membangun gerakan perempuan yang sadar politik, tapi juga gagasan tentang
gerakan perempuan yang otonom, yang punya hak untuk mendefinisikan Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai