BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja Indonesia dekade tahun 2000an ini sangat berbeda dengan
remaja generasi sebelumnya. Era globalisasi menyediakan pilihan
informasi yang sangat kaya bagi siapa saja termasuk bagi para remaja.
Globalisasi informasi disadari atau tidak, telah merubah (meliberalisasi)
cara berfikir, cara bersikap dan cara bertindak generasi muda. Sebagai
contoh para remaja dan generasi muda saat ini mempunyai sifat yang
sangat liberal (permissif) berkaitan dengan seksualitas sebelum nikah.
Data survey yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak tahun 2008,
menunjukkan bahwa sekitar 62% remaja SMP dan SMA sudah tidak
perawan lagi. Termasuk di wilayah Kecamatan Wates ini, jumlah remaja
yang yang riskan terhadap tindakan seksual sebelum menikah pun
semakin meningkat.
Untuk para remaja mampu menghadapi berbagai tantangan dan
resiko (terutama resiko TRIAD KRR), maka para remaja perlu dibantu dan
difasilitasi dengan berbagai pengetahuan keterampilan yang bisa dipakai
untuk
mengatasi
dihadapinya.
tantangan
Remaja
dan
merupakan
resiko-resiko
usia
yang
kehidupan
rawan
dan
yang
mudah
terpengaruh hal-hal yang baru. Mereka perlu diberikan pemahaman
tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) agar tidak terperosok ke
dalam
penyalahgunaan
narkotika
dan
seks
bebas
yang
bisa
mengakibatkan suramnya masa depan.
Di satu sisi, remaja merupakan generasi harapan bangsa. Namun,
disisi lain mereka juga menghadapi banyak permasalahan yang bukan
tidak mungkin akan mengganggu perkembangan fisik maupun psikologis
mereka selanjutnya.
Jika disatu sisi kecenderungan remaja untuk melakukan berbagai
tindakan yang membahayakan kesehatan mereka semakin meningkat,
namun disisi lain ternyata pengetahuan para remaja sendiri dalam
mengenal aspek kesehatan reproduksi yang harus mereka miliki
sangatlah rendah. Masalah kultur, pola komunikasi serta kurangnya
1
pengetahuan menyebabkan para remaja sulit berkomunikasi dengan
orang disekitarnya bahkan dengan orang tuanya sendiri. Selain itu
terdapat pula isu-isu sekitar remaja tentang globalisasi: liberalisasi
norma, sikap dan perilaku, resiko triad (seksualitas, HIV/AIDS dan Napza)
serta ancaman ketahanan remaja.
Diantara persoalan yang banyak dihadapi oleh para remaja adalah
ketidaktahuan remaja tentang apa, mengapa dan bagaimana Kesehatan
Reproduksi Remaja. Kesehatan Reproduksi sendiri dapat diartikan
sebagai suatu kondisi sehat yang bukan saja berarti bebas dari penyakit
atau kecacatan namun lebih dari pada itu sehat termasuk secara mental
dan sosial berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi.
Ketidaktahuan inilah yang menjadi cikal bakal persoalan remaja dalam
berperilaku reproduksi yang sehat.
Berdasarkan fakta yang ada di lapangan ditemui beberapa kasus
yang membuktikan ketidaktahuan tersebut antara lain : .
1. Ditemukannya anak hamil usia SLTP, karena ketidaktahuan anak
perempuan yang dibohongi oleh teman prianya yang lebih dewasa
bahwa berbuat intim tidak akan ketahuan oleh siapapun.
2. Demi ingin membeli HP model terbaru seorang siswi SLTP rela
menjual dirinya untuk mendapatkan uang tersebut.
3. Kecenderungan remaja putri dalam bergaul ingin selalu mengikuti
tren pergaulan bebas ala sinetron di layar televisi. Dan masih banyak
lagi kasus yang muncul disebabkan kurangnya informasi tentang
kesehatan reproduksi.
Melihat fenomena tersebut, IPNU-IPPNU PAC Wates berinisiatif
untuk mencoba ambil bagian dalam rangka penyampaian informasi yang
bekaitan dengan kesehatan reproduksi. Maka, pada tanggal 10 Januari
2011 dibentuklah PIK Remaja PIAWAE (Persatuan IPNU-IPPNU Anak
Cabang Wates).
1.2
Sejarah Pendirian PIK Remaja PIAWAE
PIK Remaja PIAWAE bertempat di Sekretariat PAC IPNU-IPPNU
Kecamatan Wates, yaitu di MI Al-Wathon Seminang Sumberagung Wates
64174 karena PIK Remaja ini merupakan bagian dari IPNU-IPPNU Anak
Cabang Wates.
Visi IPNU-IPPNU
adalah
terbentuknya
pelajar
bangsa
yang
bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan
2
kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya
syariat
Islam
berdasarkan
menurut
Pancasila
faham
dan
ahlussunnah
Undang-Undang
wal
Dasar
jamaah
1945.
yang
Hal
ini
merupakan pondasi awal untuk membentuk sebuah PIK REMAJA yang
akhirnya terbentuk pada Januari 2011 sesuai SK No. 60/PAC/A/ XIX-XVIII/
7354-7455/I/2011 oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan
Wates. Untuk meraih visi tersebut, salah satu caranya adalah dengan
mendirikan PIK Remaja di organisasi ini. Dengan adanya PIK remaja ini
diharapkan dapat membawa pelajar putra dan putri Nahdlatul Ulama
menjadi remaja yang handal, berkarakter, asertif dan berakhlak mulia
Dalam perjalanan dari awal terbentuknya PIK Remaja ini banyak
kendala dan tantangan yang harus kami tanggapi, baik dari remaja itu
sendiri, pengurus dan anggota maupun dari segi materil lainnya. Selain
itu, karena ke-vakuman kepungurusan IPNU-IPPNU Anak Cabang Wates
keberadaan PIK Remaja PIAWAE ini pun seperti mati suri.
Namun dengan adanya berbagai permasalahan yang muncul
menuntut kami untuk menegakkan kembali PIK Remaja, melangkah
meskipun tertatih-tatih untuk menghidupkan PIK Remaja yang sedang
mati suri ini. Hal ini juga menjadi motivasi untuk kami terus bisa
memberikan informasi positif bagi para remaja. Kami optimis bahwa
segala program yang akan mulai kami rintis kembali, PIK Remaja PIAWAE
akan semakin eksis dan dinamis sesuai harapan untuk mewujudkan
generasi yang sehat dan berkualitas.
BAB II
ISI
2.1
Materi dan Isi Pesan
Materi dan isi pesan berisi TRIAD KRR dan Pendewasaan Usia
Perkawinan, Pendalaman Materi
Perkawinan
serta
pemahaman
TRIAD KRR
tentang
dan Pedewasaan Usia
Hak-hak
Reproduksi.
Pusat
Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja ) adalah suatu wadah
kegiatan program PKBR yang dikelola dari oleh dan untuk remaja guna
memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang Perencanaan
Kegiatan Berkeluarga
Bagi Remaja serta kegiatan-kegiatan penunjang
lainnya. PIK Remaja, nama generik
nama-nama yang sesuai
ini dapat dikembangkan dengan
dengan kebutuhan program selera remaja
setempat. Kesehatan Reproduksi Remaja adalah suatu kondisi sehat yang
menyangkut system reproduksi (fungsi, komponen dan proses ) yag
dimiliki oleh remaja baik secara fisik, metal, emosional dan spiritual.
Perencanaan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja adalah suatu
program untuk memfasilitasi terwujudnya Tegar Remaja, yaitu remaja
yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko TRIAD KRR (Seksualitas,
Napza,
HIV
dan
AIDS),
menunda
usia
pernikahan,
mempunyai
perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil
Sejahtera serta menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi dbagi
teman sebayanya. TRIAD KRR adalah tiga risiko yang dihadapi ole remaja,
yaitu risiko-risik yang berkaitan dengan Seksualitas, Napza, HIV dan AIDS.
Risiko Seksualitas adalah sikap dan prilaku seksual remaja yang
berkaitan
dengan Infeksi Menular Seksual (IMS), Kehamilan Tidak
Diinginkan (KTD), aborsi risiko perilaku seks sebelum nikah. HIV adalah
singkatan
dari
Human
immunodeficiency
virus,yaitu
virus
yang
menurunkan system kekebalan tubuh manusia. AIDS adalah singkatan
dari Acquired Immune Deficiency Syndrome,yaitu kumpulan dari berbagai
gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu yang didapat
akibat HIV.
Napza adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat
adiktif lainya, yaitu zat-zat kimiawi yang dimaksud kedalam tubuh
manusia baik secara oral (melalui mulut) , dihirup (dari hidung ), atau
disuntik
yang menimbulkan efek tertentu terhadap fisik, mental dan
ketergantungan. Remaja (Adolescent) adalah penduduk usia10-19 tahun
(WHO); Pemuda (Yuoth) adalah penduduk usia 15-24 tahun (UNFPA);
Orang Muda (Young people) adalah penduduk usia 10-24 tahun (UNFPdan
WHO); Generasi Muda (Young Generation ) adalah penduduk usia 12-24
tahun (world Bank). Remaja sebagai sasaran program PKBR adalah
penduduk usia 10-24 tahun yang belum menikah.
Pendidik Sebaya PKBR adalah remaja yang mempunyai komitmen
dan motivasi yang tinggi sebagai nara sumber bagi kelompok remaja
sebayanya dan telah mengikuti pelatihan Pendidik Sebaya PKBR dengan
mempergunakan Modul dan kurikulum standard yang telah disusun oleh
BKKBN atau yang sejenis.
Konselor Sebaya PKBR
adalah
pendidik
sebaya
yang
punya
komitmen dan motivasi yang tinggi untuk memberikan konseling PKBR
bagi kelompok
remaja sebayanya yang telah mengkuti pelatihan
konseling PKBR dangan mempergunakan Modul dan Kurikulum Standard
yang telah disusun olah BKKBN atau yang sejenis.
Pengelola PIK Remaja adalah pemuda/remaja yang punya komitmen
dan mengelola langsung PIK Remaja serta telah mengikuti pelatihan
dengan mempergunakan Modul dan Kurikulum Standard yang telah
disusun oleh BKKBN atau yang sejenis.Pengelola PIK Remaja terdiri dari
Ketua, Bidang Administrasi, Bidang Program dan Kegiatan, Pendidik
Sebaya dan Konselor Sebaya.
2.2
Kegiatan
Rencana kegiatan PIK-REMAJA PIAWAE adalah:
a. Penyuluhan seputar kesehatan reproduksi remaja dan triad KRR oleh
Puskesmas, BPPK dan atau Kepolisian maupun oleh Pendidik Sebaya
(PS) dan Konselor Sebaya (KS)
b. Bimbingan tentang Character Building oleh Guru BP/BK
c. Bimbingan tentang pergaulan remaja yang sesuai tuntunan agama
oleh Guru Agama.
d. Bimbingan Kelompok oleh Konselor Sebaya (KS) maupun Pendidik
Sebaya (PS)
e. Penyaluran minat dan bakat siswa, misalnya melalui seni sablon,
bordir
f. Pelatihan Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya
g. Pelatihan Softsklill indoor maupun outdoor
h. Penyusunan modul materi PIK REMAJA
2.3
Sarana dan Prasarana serta SDM
Pengelolaan PIK Remaja adalah pemuda/remaja yang punya komitmen dan
mengelola langsung PIK remaja serta telah mengikuti pelatihan dengan
mempergunakan modul kurikulum standard yang telah disusun oleh BKKBN atau
yang sejenis.Pengelola PIK remaja terdiri dari Ketua, Bidang Administrasi, Bidang
Program dan Kegiatan, Pendidik Sabaya dan Konselor Sebaya. Didukung dengan
sekretariatan yang lokasinya mudah diakses.
2.4
Dukungan dan Jaringan
Sasaran yang terkait dengan pembentukan, pengembangan,
pengelolaan, pelayanan dan pembinaan PIK Remaja, sebagai berikut;
Pembinaan PIK Remaja adalah seseorang yang mempunyai
keperdulian yang tinggi terhadap masalah-masalah remaja, member
dukungan dan aktif membina PIK Remaja, baik yang berasal dari
Pemerintah, Lambaga Swadaya Masyarakat(LSM) atau organisasi
kepemudaan/remaja lainnya, seperti:
1. Pemerintah: Kepala desa/lurah, camat, bupati, walikot, pimpinan
SKPDKB.
2. Pimpinan LSM: pimpinan kelompok-kelompok organisasi
masyarakat (seperti: pengurus masjid, pastor, pendeta,
pedand,biksu) dan pimpinan kelompok dan organisasi pemuda.
3. Pimpinan media massa (surat kabar, majalah, radio, dan TV).
4. Orang tua, melalui program Bima Keluarga Remaja (BKR),
majelis talim, program PKK.
2.5 Inovasi
a. Pembinaan.
Kegiatan Pembinaan meliputi pembinaan pengurus dan pembinaan
anggota PIK REMAJA
b. Penyuluhan
6
Kegiatan Penyuluhan dapat dilakukan perkelas maupun gabungan
kelas. Materi-materi yang disampaiakan antara lain :
a. Kesehatan Reproduksi Remaja
b. PMS, HIV/AIDS
c. Miras/Narkoba
d. Penundan Usia Pernikahan
e. Bahaya Pornografi dan Seks Bebas
f. Pergaulan Remaja yang Sehat
c. Pengembangan Diri
Kegiatan pengembangan diri merupakan sarana pengembangan
minat dan bakat antara lain berupa:
a. Pelatihan Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya
b. Pelatihan Softskill
c. Mading
d. Seni Drama/Teater
d. Materi Penyuluhan dan Pembinaan
Materi yang disampaikan dalam PIK REMAJA adalah:
Materi KRR
Kesehatan reproduksi remaja, Resiko penularan penyakit kelamin,
Informasi seputar HIV/AIDS, Bahaya seks bebas dan pornografi,
Penundaan Usia Pernikahan (PUP), Miras dan Narkoba
Materi Character Building
Membangun Konsep Diri Positif, Membangun Sikap Asertif,
Kesehatan Mental, Penyesuaian Diri Remaja, Problem Solving dan
Pengambilan Keputusan, Mengenali Kepribadian Manusia,
Manajemen Waktu, Mengenal Minat, Bakat dan Potensi Diri
Materi Bimbingan Agama
Pergaulan Remaja yang Sehat Menurut Agama, Konsep Diri Seorang
Muslim, Akhlak Pergaulan Seorang Muslim, Ciri-Ciri Kepribadian
Muslim Sejati, Manajemen Syahwat, Larangan Berzina, Kisah-Kisah
Teladan
BAB III
ANALISA SWOT
Untuk kinerja aktif-progresif-agresif diperlukan bahan serapan yang
dapat dijadikan pedoman pembinaan dan perkaderan, maka dengan ini
kami sampaikan kondisi terakhir analisa di lapangan:
1.
Strenght Analisis (kekuatan)
Sumber Daya Alam/Fisik
N
POTENSI
KEADAAN
ASUMSI
O
1. Lapangan (lapangan Baik/Sedang/Rus
umum kecamatan)
ak
2. Sekretariat
Baik/Sedang/Rus
ak
3. Kantor Pemerintahan Baik/Sedang/Rus
(Polsek,
Kecamatan,
ak
Kantor Desa, Koramil,
Puskesmas)
4. Sekolah terdekat (SD, Baik/Sedang/Rus
SMP, SMA)
ak
5. Alat
Kesehatan
&
Ada/Tidak
Pembalutan
6. Alat Peraga KRR
Ada/Tidak
KET
Sumber Daya Manusia
N
O
POTENSI
INTERNAL
ORGANISASI
1. Pelindung
(MUSPIKA)
2. Penasehat
3. Pengurus
TINGKAT
KEPEDULIAN
KEMAMPUAN
SOSIAL
Baik/Sedang/Kuran Baik/Sedang/Kuran
g
g
Baik/Sedang/Kuran Baik/Sedang/Kuran
g
g
Baik/Sedang/Kuran Baik/Sedang/Kuran
g
g
KET
3 lembaga
4 lembaga
EKSTERNAL
SEKOLAH
8
1. PIK-KRR lain
Baik/Sedang/Kuran
g
2. Kwartir Ranting & Baik/Sedang/Kuran
DKR
g
3. Instansi
Baik/Sedang/Kuran
Pemerintah
g
4. Warga sekitar
Baik/Sedang/Kuran
g
Baik/Sedang/Kuran
g
Baik/Sedang/Kuran
g
Baik/Sedang/Kuran
g
Baik/Sedang/Kuran
g
2. Weakness Analisis (kelemahan)
Untuk analisa kelemahan ini akan dipaparkan secara global :
ANALISA
POTRET
RIIL
KEAGAMAAN
Pemahaman Nilai
Baik
Keagamaan
Sedang
Kurang
Pengamalan Nilai
Baik
Keagamaan
Sedang
Kurang
PERMASALAHAN
KET
a.
Fanatik terhadap Mazhab
tertentu
b.
Fanatik thd organisasi
keagamaan tertentu
Ukhuwah Islamiyah lemah
d.
Hubungan antar agama
rendah
e.
......
.
Hanya aspek ajaran
tertentu
(blm
kaffah/menyeluruh)
b.
Terkooptasi oleh Mazhab/
organisasi
keagamaan
tertentu, Politik dan berbagai
kepentingan lain.
a.
d.
e.
PENDIDIKAN
9
Motivasi
Pendidikan
Baik
Sedang
Kurang
a.
Motivasi sepihak/tidak ada
dukungan sinergis antara
(keluarga,
sekolah,
dan
lingkungan)
b.
Rendahnya pendidikan
orang tua.
Kemampuan
Sekolah
rendah.
d.
Belum tersedianya semua
peralatan
penunjang
kegiatan
e.
g.
10
ANALISA
POTRET
PERMASALAHAN
RIIL
SOSIAL KEMASYARAKATAN
Keadaan
Baik
a.
Dibesarkan oleh satu
Keluarga
Sedang
orang tua
Kurang b.
Fasilitas
belajar
kurang
TIngkat
ekonomi
rendah
d.
Pekerjaan orang tua
tidak menentu
e.
KET
g.
Kerukunan Baik
a.
Koordinasi
masih
Bermasyarakat
Sedang
lemah
Kurang b.
Belum
dapat
diarahkan
kepada
kegiatan yang positif.
Krisis
tokoh
masyarakat.
d.
e.
h.
KETERTIBAN DAN KEAMANAN
TIngkat
a.
TIdak
mlibatkan
stabilitas dan
seluruh masyarakat
keamanan
b.
Tidak
didukung
kesadaran
masing2
individu
d.
11
Institusi
Ketertiban dan
Keamanan
Masyarakat
a.
Kurang/tidak
ada
koordinasi
b.
Adanya
saling
ketergantungan
d.
Opportunity Analisis (kesempatan)
3.
Dari beberapa analisa di atas dapat juga kita ambil beberapa
peluang yang bisa dioptimalkan:
Konsolidasi instansi pendukung yang berjalan dengan cukup efektif
dan kondusif.
Lahan garap yang terstruktur sesuai dengan aturan yang ada.
Mudahnya pendanaan jika dilihat dari potensi yang ada.
Rasa persaudaraan yang terjalin antar anggota.
Adanya wahana/sarana/tempat yang membantu kesolidan antar
pengurus.
Adanya fasilitas yang mendukung dari keadministrasian dan
kesekretariatan.
Pengakuan masyarakat terhadap organisasi kepemudaan yang
merespon cukup baik.
Semangat dan keinginan besar remaja, akibat belum tersedianya
lembaga informasi dan konsultasi masalah remaja.
Dukungan masyarakat dan instansi pemerintah yang baik.
Transportasi yang begitu mudah.
SDM yang terpenuhi.
4.
Analisa Treat (tantangan/hambatan)
Peralatan dan sarana yang belum ada.
Pendanaan yang dirasa belum terpenuhi (jauh dengan lahan
sponsor)
Pemahaman yang rendah dari remaja (Kemampuan hanya sebatas
pragmatis).
Organisasi yang masih baru (belum terkader).
Kreatifitas dan inovasi yang masih rendah.
12
13
BAB IV
PENUTUP
Program ini dilaksanakan sebagai forum dan media pusat informasi
dan konseling kesehatan reproduksi remaja khususnya remaja di wilayah
Kecamatan Wates.
Untuk meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku positif remaja
tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, guna meningkatkan derajat
kesehatan reproduksinya dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga
dalam mendukung upaya peningkatan kualitas generasi mendatang. PIK
remaja PIAWAE bertujuan:
a. Memberikan Informasi KRR pada remaja
b. Memberikan Pelayanan Konseling baik medis maupun non medis
c. Terwujudnya remaja yang sehat,bertanggug jawab dan mensyukuri
nikmat Allah berupa kesempurnaan fisik.
d. Terwujudnya remaja yang senantiasa menjaga kesucian lahiriah
dengan menghindari seks bebas.
e. Terwujudnya remaja yang memahami arti pentingnya reproduksi
bagi kelangsungan kehidupan manusia sehingga terhindar dari
bahaya HIV/AIDS, PMS, dan penyalahgunaan NAPZA.
14