0% ont trouvé ce document utile (0 vote)
96 vues8 pages

Effet du temps de fraisage sur la forsterite

Ce document décrit la recherche sur l'effet du temps de broyage sur la taille des particules de forstérite dans le minéral de serpentine. Le broyage à haute énergie du minéral de serpentine pendant 40 heures a produit des particules de forstérite d'une taille moyenne de 385 nm. Le minéral de serpentine peut être une alternative rentable pour la production de nanoparticules de forstérite.

Transféré par

evi sitepu
Copyright
© © All Rights Reserved
Nous prenons très au sérieux les droits relatifs au contenu. Si vous pensez qu’il s’agit de votre contenu, signalez une atteinte au droit d’auteur ici.
Formats disponibles
Téléchargez aux formats PDF, TXT ou lisez en ligne sur Scribd
0% ont trouvé ce document utile (0 vote)
96 vues8 pages

Effet du temps de fraisage sur la forsterite

Ce document décrit la recherche sur l'effet du temps de broyage sur la taille des particules de forstérite dans le minéral de serpentine. Le broyage à haute énergie du minéral de serpentine pendant 40 heures a produit des particules de forstérite d'une taille moyenne de 385 nm. Le minéral de serpentine peut être une alternative rentable pour la production de nanoparticules de forstérite.

Transféré par

evi sitepu
Copyright
© © All Rights Reserved
Nous prenons très au sérieux les droits relatifs au contenu. Si vous pensez qu’il s’agit de votre contenu, signalez une atteinte au droit d’auteur ici.
Formats disponibles
Téléchargez aux formats PDF, TXT ou lisez en ligne sur Scribd

PILLAR OF PHYSICS, Vol. 8.

Oktober 2016, 65-72

PENGARUH WAKTU MILLING TERHADAP DAN UKURAN BUTIR FORSTERITE


(Mg2SiO4) MINERAL SERPENTIN DARI KABUPATEN SOLOK SELATAN
Sarimai 1) Ratnawulan 2) Ramli 2)Ahmad Fauzi2)
1)
Mahasiswa Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang
2)
Staf Pengajar Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang
[email protected]

ABSTRACT
West Sumatera has great amount of natural mineral resources of serpentine, one of them are found in
Jorong Sungai Padi Lubuak Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan. The mineral of sepentine
contains of forsterite which has higher economical value if it is in form of nano particle. The production of
forsterite nano particle has been made by using synthesis substance which is expensive and needs longer
process. The variation treatment of temperature calcination toward the mineral of sepentine shows the result
that the dominate forsterite is at 800℃. The mineral of serpentine can be the alternative substance in the
production of forsterite particle which is easily found in the nature and is not expensive. The purpose of the
research is to investigate the effect of milling time toward size of nano particle of forsterite serpentine mineral in
form of crystal and the size of the particle. The result of the research shows that the effect of milling time toward
the micro-structure of forsterite which is viewed by based on the SEM result, it shows that the milling time
impacts to the particle size which is the longer milling time, the smaller forsterite particle is produced. The grain
size forsterite the lead in milling time 40 hours namely reached 385 nm .

Keywords : Forsterite, serpentine, milling, nanopartikel, HEM-E3D, SEM

PENDAHULUAN paling kaya magnesium. Secara geologi, forsterite


terdapat di dalam batuan beku ultramafik dan
Serpentin memiliki peranan penting pada
forsterite juga terdapat pada marmer dolomitic yang
Industri besi baja yaitu sebagai bahan penyokong
merupakan hasil dari metamorfosis batu gamping
berdirinya industri besi baja. Sumatera Barat
dengan kandungan magnesium yang tinggi.
memiliki sumber daya mineral serpentin yang cukup
Nanopartikel dapat terjadi secara alamiah
besar, salah satunya Jorong Sungai Padi Nagari
ataupun melalui proses pembuatan oleh manusia.
Lubuak Gadang Kecamatan Sangir Kabupaten Solok
Pembuatan nanopartikel bermakna pembuatan
Selatan. Eksploitasi bahan galian serpentin masih
partikel dengan ukuran yang kurang dari 100 nm dan
diolah dalam keadaan mentah (raw material) atau
serta mengubah sifat atau fungsinya[1]. Orang
bahan setengah jadi sehingga memiliki nilai jual
umumnya ingin memahami lebih mendalam
yang rendah.
mengapa nanopartikel dapat memiliki sifat atau
Serpentin merupakan batuan metamorf
fungsi yang berbeda dari material sejenis dalam
yang terbentuk dari mineral serpentin akibat
ukuran besar (bulk).
perubahan basalt dasar laut yang bertekanan tinggi
Sifat-sifat yang berubah pada nanopartikel
pada temperatur rendah. Mineral serpentin tergolong
biasanya berkaitan dengan fenomena-fenomena
dalam kelas mineral Silikat yaitu Phyllosilicates.
berikut ini. Pertama, fenomena kuantum sebagai
Serpentin memiliki kenampakan sifat fisik yang
akibat keterbatasan ruang gerak elektron dan
beranekaragam. Kenampakan sifat fisik mineral
pembawa muatan lainnya dalam partikel. Fenomena
serpentin berwarna hijau sampai hijau tua,
ini berimbas pada beberapa sifat material seperti
memperlihatkan struktur retak (fractures) dan
perubahan warna yang dipancarkan, transparansi,
umumnya dijumpai bersama mineral silika, kalsit
kekuatan mekanik, konduktivitas listrik, dan
yang mengisi rongga batuan[14].
magnetisasi. Kedua, perubahan rasio jumlah atom
Serpentin mengandung senyawa oksida
yang menempati permukaan terhadap jumlah total
yang bernilai ekonomis dengan kadar yang
atom. Fenomena ini berimbas pada perubahan titik
bervariasi disetiap wilayah. Serpentin merupakan
didih, titik beku, dan reaktivitas kimia. Perubahan-
senyawa oksida, didalamnya terdapat jenis-jenis
perubahan tersebut diharapkan dapat menjadi
mineral forsterite (Mg2SiO4), hematite (Fe2O3),
keunggulan nanopartikel dibandingkan dengan
clinoenstatite (MgSiO3), dan Quartz (SiO4)[3].
partikel sejenis dalam keadaan bulk. Para peneliti
Serpentin dapat digunakan sebagai bahan baku
juga percaya bahwa kita dapat mengontrol
pembuatan Forsterite yang bernilai ekonomis tinggi
perubahan-perubahan tersebut ke arah yang
jika dijadikan nanopartikel.
diinginkan.
Forsterite adalah salah satu anggota dari
Pembuatan nanopartikel dapat dilakukan
kelompok mineral olivine dan merupakan mineral
dalam fasa padat, cair, maupun gas. Proses

65
pembuatan dapat berlangsung secara fisika atau sehingga diperoleh nanopartikel forsterite dengan
kimia. Proses pembuatan secara fisika tidak ukuran butir <500 nm[14]. Nanopartikel forsterite
melibatkan reaksi kimia. Yang terjadi hanya dimanfaatkan dalam industri besi baja, digunakan
pemecahan material besar menjadi material sebagai pelapis rem dan bahan tahan api. Material
berukuran nanometer, atau pengabungan material berukuran nanometer memiliki sifat kimia dan fisika
berukuran sangat kecil, seperti kluster, menjadi yang lebih unggul dari material berukuran besar
partikel berukuran nanometer tanpa mengubah sifat (bulk). Ukuran partikel yang semakin kecil dapat
bahan. Proses pembuatan secara kimia melibatkan meningkatkan daya tahan bahan besi baja yang
reaksi kimia dari sejumlah material awal (precursor) dilapisinya.
sehingga dihasilkan material lain yang berukuran
nanometer. Contohnya adalah pembentukan Pembuatan nanopartikel forsterite telah
nanopartikel garam dengan mereaksikan asam dan dilakukan beberapa peneliti, namun bahan yang
basa yang bersesuaian[1]. digunakan adalah bahan sintetis. Bahan sintetis
Secara umum, pembuatan nanopartikel membutuhkan biaya yang mahal dan memerlukan
akan masuk dalam dua kelompok besar. Cara proses yang lama untuk membuatnya. Perlakuan
pertama adalah memecah partikel berukuran besar variasi temperatur kalsinasi terhadap mineral
menjadi partikel berukuran nanometer. Pendekatan serpentin, hasil yang diperoleh ditemukan fasa
ini disebut pendekatan top-down. Pendekatan kedua forsterite yang mendominasi pada temperatur
adalah memulai dari atom-atom atau molekul- 800℃ [3]. Mineral serpentin bisa dijadikan bahan
molekul atau kluster-kluster yang diassembli alternatif pembuat nanopartikel forsterite yang
membentuk partikel berukuran nanometer yang mudah didapatkan di alam, dan tidak membutuhkan
dikehendaki. biaya yang mahal untuk membuatnya. Penelitian ini
Top down merupakan pembuatan struktur dilakukan variasi waktu milling pada mineral
nano dengan memperkecil material yang besar, serpentin menggunakan metode High Energy
sedangkan bottom up merupakan cara merangkai Milling (HEM).
atom atau molekul dan menggabungkannya melalui High energy milling merupakan teknik unik
reaksi kimia untuk membentuk nanostruktur. Contoh dengan menggunakan energi tumbukan antara bola-
metode top down adalah penggerusan dengan alat bola penghancur dan dinding chamber yang diputar
milling, sedangkan teknologi bottom up yaitu dan digerakkan dengan cara tertentu. Keunggulan
menggunakan teknik sol gel, dan presipitasi kimia high energy milling adalah dapat membuat
[5]
. nanopartikel dalam jumlah yang relatif banyak
dalam waktu yang relatif singkat [4]. Selain itu,
Pembuatan nanopartikel forsterite dengan
teknik milling merupakan salah satu teknik untuk
variasi waktu milling terhadap pencampuran talc dan
menumbuhkan kristal padat tanpa melalui fasa
MgO mempengaruhi terbentuknya nanopartikel
evaporasi atau perlakuan reaksi kimia seperti yang
forsterite terbentuk dengan menggunakan metoda
biasa diperlukan dalam proses sintesis pada
aktivasi mekanik selama 20 jam, 40 jam, dan 60 jam
umumnya [].
dengan menggunakan ball milling dengan suhu
Penelitian ini menggunakan metode high
anneling 1200 ℃ didapatkan ukuran kristal
energy milling untuk membuat nanopartikel,
nanokristalin forsterite 40 nm. Sedangkan 5 jam
selanjutnya akan diselidiki pengaruh waktu milling
penggilingan menggunakan ball milling dengan suhu
terhadap struktur mikro dan ukuran butir
anneling 1200 ℃ didapatkan ukuran kristal
nanopartikel forsterite mineral serpentin yang
forsterite 60 nm[14].
terdapat di Jorong Sungai Padi Nagari Lubuak
Salah satu alat milling yaitu High Energy
Gadang Kecamatan Sangir Kabupaten Solok
Milling (HEM) yang merupakan alat penggiling bola
Selatan. Metode high energy milling yang digunakan
yang digunakan untuk melakukan proses pemaduan
ini dipilih karena memiliki keunggulan diantaranya
mekanik skala kecil dalam laboratorium. Milling
sebagai berikut:
secara mekanik merupakan metoda yang sederhana
a. Dapat membuat nanopartikel dari bahan keramik,
dan efektif untuk menumbuhkan kristal padat
logam, mineral, dan obat-obatan.
(ukuran butiran kristal menjadi lebih kecil) tanpa
b. Laju penghancuran yang tinggi, pengkondisian
melalui fasa vaporasi atau reaksi kimia, seperti yang
sistem milling yang mudah sehingga mekanisme
biasanya diperlukan dalam proses pembuatan
proses amorfisasi dan pembentukan nanopartikel
nanopartikel lainnya [10]. Mesin penghalus ini
lebih cepat dan efektif.
mampu mengubah sampel yang keras dan mudah
c. Pengoperasian yang mudah dan aman digunakan.
pecah menjadi sampel analitis yang berbentuk
d. Dapat dioperasikan pada waktu yang ditentukan.
serbuk.
Pembuatan nanopartikel forsterite telah
menggunakan bahan talc dan magnesium Oxide
dengan metode ball mill. Variasi waktu milling
yang digunakan yaitu, 5, 10, 20, 40, dan 60 jam,

66
Proses penggilingan HEM-E3D bekerja akhir. Berikut beberapa struktur yang berpengaruh
dengan cara menghancurkan campuran serbuk terhadap variasi waktu milling.
melalui mekanisme pembenturan bola-bola giling Fasa adalah material yang memiliki struktur
yang bergerak mengikuti pola gerakan wadahnya dan komposisi yang berbeda dari yang lainnya.
yang berbentuk elips tiga dimensi inilah yang Perbedaan fasa yang terjadi tidak lepas dari
memungkinkan pembentukan partikel-pertikel pengaruh energi yang dimiliki atom-atom untuk
serbuk berskala nanometer akibat tingginya proses difusi. Gambar 3 dapat dilihat mekanisme
frekuensi tumbukan. Tingginya frekuensi pembentukan fasa.
tumbukan yang terjadi antara campuran serbuk
dengan bola-bola giling disebabkan karena wadah
yang berputar dengan kecepatan tinggi, yaitu
mencapai 500 rpm, dan bentuk bola gerakan yang
berbentuk elips tiga dimensi tersebut. Prinsip kerja
HEM-E3D tampak pada Gambar 1.

Gambar 3. Mekanisme pembentukan fasa [6].


Gambar 1. Prinsip kerja HEM-E3D [5]
Lebar peak XRD adalah merupakan fungsi
Saat dua bola bertumbukan ada serbuk dari ukuran partikel, maka ukuran kristal (D)
dalam jumlah kecil yang terjebak di antara kedua dinyatakan dalam Persamaan Scherrer berikut [1]:
bola tersebut, dan hal tersebut terjadi berulang-
𝜆
ulang, ilustrasinya dapat dilihat pada Gambar 2. D=K (1)
𝐵 cos (θ B )

D adalah ukuran (diameter) kristalin, λ (lamda)


adalah panjang gelombang pada 1.54 Å,𝜃𝐵 adalah
sudut Bragg, B adalah FWHM satu puncak yang
dipilih, dan K adalah konstanta material yang
nilainya kurang dari satu. Nilai yang umumnya
dipakai untuk K ≈0,9.
Scanning Electron Microscope (SEM)
dilakukan untuk mengetahui morfologi sampel
dalam berbagai bidang. Prinsipnya adalah sifat
gelombang dari elektron yakni difraksi pada sudut
yang sangat kecil. Elektron dapat didifraksikan oleh
Gambar 2. Mekanisme Terjadinya Tumbukan [16] sampel yang bermuatan, untuk sampel
nonkonduktor dilakukan pelapisan dengan karbon,
Selama proses Mechanical Milling, partikel emas atau paduan emas, yang berfungsi untuk
campuran serbuk akan mengalami proses pengelasan mengalirkan muatan elekton berlebih pada sampel
dingin dan penghancuran berulang-ulang, ketika ke ground. Pola yang terbentuk menggambarkan
bola saling bertumbukan sejumlah serbuk akan struktur dari sampel [7].
terjebak diantara kedua bola tersebut. Beban impak
METODE PENELITIAN
yang diberikan oleh bola tersebut akan membuat
serbuk terdeformasi dan akhirnya hancur. Penelitian ini merupakan jenis penelitian
Permukaan partikel serbuk campuran yang baru eksperimen dengan menggunakan metode high
terbentuk memungkinkan terjadinya proses energy milling untuk membuat nanopartikel,
pengelasan dingin kembali antara sesama partikel selanjutnya akan diselidiki pengaruh waktu milling
sehingga membentuk pertikel baru yang ukurannya terhadap ukuran butir nanopartikel forsterite dari
lebih besar dari ukuran semula. Partikel tersebut mineral serpentin yang terdapat di Jorong Sungai
kemudian akan kembali mengalami tumbukan dan Padi Nagari Lubuak Gadang Kecamatan Sangir
akhirnya kembali hancur, begitu seterusnya hingga Kabupaten Solok Selatan. Unsur yang terkandung
mencapai ukuran yang nano. Proses Mechanical forsterite dianalisa menggunakan x-ray diffraction,
Milling sifat bahan juga berpengaruh terhadap hasil sedangkan ukuran butir menggunakan scanning

67
electron microscope. Penelitian ini akan melakukan menggunakan karet pemutar yang
beberapa tahapan yaitu: pembuatan nanopartikel, terhubung dengan dinamo.
karakterisasi, dan analisis data. c) HEM-E3D di hidupkan dengan menekan
Proses milling menggunakan HEM-E3D tombol yang hijau atau on dan set waktu
memiliki keunggulan dibandingkan dengan alat milling selama 20 jam dengan waktu mati
standar yang ada yaitu gerak 3 dimensi pada putaran atau off 1 menit dan waktu hidup atau on
jar sehingga mekanisme proses amorfikasi dan selama 30 detik, kemudian tekan tombol
pembentukan nanopartikel lebih cepat dan efektif. star sampai HEM-E3D mati sendiri.
1) Proses milling pertama selama 5 jam d) Setelah selesai ambil jar yang terpasang di
a) Memasukkan sampel serpentin yang telah HEM-E3D dengan menggunakan kunci L,
ditimbang sebanyak 2 gram, dan bola-bola lalu buka jar dan ambil sampel yang telah
karbon stell kedalam jar. selesai dimilling.
b) Sampel beserta bola-bola karbon stell 4) Proses milling keempat selama 40 jam
dimasukkan kedalam jar lalu di pasang ke a) Memasukkan sampel serpentin yang telah
HEM-E3D dengan menggunakan kunci L ditimbang sebanyak 2 gram, dan bola-bola
hingga kuat, kemudian coba digerakan karbon stell kedalam jar.
secara perlahan-lahan dengan menggunakan b) Setelah sampel beserta bola-bola karbon
karet pemutar yang terhubung dengan stell dimasukkan kedalam jar lalu di pasang
dinamo. ke HEM-E3D dengan menggunakan kunci
c) HEM-E3D di hidupkan dengan menekan L hingga kuat, kemudian coba digerakan
tombol yang hijau atau on dan set waktu secara perlahan-lahan dengan
milling selama 5 jam dengan waktu mati menggunakan Sampel serpentin hasil
atau off 1 menit dan waktu hidup atau on milling selanjutnya dikarakterisasi
selama 30 detik, kemudian tekan tombol mengunakan XRD untuk mengetahui
star sampai HEM-E3D mati sendiri. struktur kristal, dan ukuran kristalin
d) Setelah selesai ambil jar yang terpasang di forsterite. Selanjutnya sampel
HEM-E3D dengan menggunakan kunci L, dikarakterisasi menggunakan SEM untuk
lalu buka jar dan ambil sampel yang telah mengetahui ukuran butir, dan morfologi
selesai dimilling. forsterite dari hasil milling mineral
2) Proses milling kedua selama 10 jam serpentin masing-masing sampel.
a) Memasukkan sampel serpentin yang telah
ditimbang sebanyak 2 gram, dan bola-bola Berdasarkan data karakterisasi menggunakan
karbon stell kedalam jar. XRD dapat dianalisis struktur kristal dan ukuran
b) Sampel beserta bola-bola karbon stell kristalin dari forsterite hasil milling mineral
dimasukkan kedalam jar lalu di pasang ke serpentin tersebut. Berdasarkan data karakterisasi
HEM-E3D dengan menggunakan kunci L menggunakan SEM dapat diperoleh secara langsung
hingga kuat, kemudian coba digerakan ukuran butir serta morfologi permukaan dari
secara perlahan-lahan dengan menggunakan nanopartikel forserite hasil milling serpentin pada
karet pemutar yang terhubung dengan masing-masing variasi waktu milling. Langkah-
dinamo. langkah yang ditempuh dalam analisis data adalah
c) HEM-E3D di hidupkan dengan menekan sebagai berikut:
tombol yang hijau atau on dan set waktu 1) Berdasarkan harga sudut 2θ dan I yang
milling selama 10 jam dengan waktu mati diperoleh dalam karakterisasi menggunakan
atau off 1 menit dan waktu hidup atau on XRD. Sehingga diperoleh struktur dari sampel
selama 30 detik, kemudian tekan tombol waktu milling 5 jam, 10 jam, 20 jam, dan 40
star sampai HEM-E3D mati sendiri. jam.
d) Setelah selesai ambil jar yang terpasang di 2) Berdasarkan harga sudut 2θ, I dan FWHM
HEM-E3D dengan menggunakan kunci L, yang diperoleh dalam karakterisasi
lalu buka jar dan ambil sampel yang telah menggunakan XRD, dapat diperoleh ukuran
selesai dimilling. butir kristal untuk masing-masing waktu
3) Proses milling ketiga selama 20 jam milling dengan menggunakan Persamaan
a) Memasukkan sampel yang telah ditimbang Scherrer.
sebanyak 2 gram, dan bola-bola karbon 3) Berdasarkan gambar morfologi yang dari SEM,
stell kedalam jar. dapat diperoleh ukuran butir dari forsterite
b) Setelah sampel beserta bola-bola karbon hasil milling serpentin.
stell dimasukkan kedalam jar lalu di pasang
ke HEM-E3D dengan menggunakan kunci Gambar 4 adalah diagram alir penelitian
L hingga kuat, kemudian coba digerakan dari pengaruh waktu milling terhadap stuktur mikro
secara perlahan-lahan dengan dan morfologi nanopartikel forsterite hasil milling

68
mineral serpentin dari Jorong Sungai Padi Nagari pembuatan forsterite dengan berbagai variasi waktu
Lubuak Gadang Kecamatan Sangir Kabupaten Solok milling.
Selatan.

Gambar 5. Grafik hasil uji XRD pada pembuatan


forsterite dengan berbagai variasi waktu 5, 10, 20,
dan 40 jam.

Gambar 5 grafik hasil uji XRD pada


pembuatan forsterite dengan berbagai variasi waktu
5 jam, 10 jam, 20 jam, dan 40 jam. Hasil uji diatas
dapat diketahui membuktikan forsterite terdapat
disetiap variasi waktu milling.
Ukuran butir dapat diketahui melalui morfologi
permukaan yang diperoleh dari alat SEM terhadap
forsterite dengan variasi waktu milling 5, 10, 20, dan
40 jam. SEM digunakan untuk melihat ukuran butir
serta morfologi permukaan setelah proses milling.
Gambar 4. Diagram alir penelitian Hasil karakterisasi menggunakan SEM untuk waktu
milling jam dapat dilihat pada Gambar 6.

a
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian

Alat XRD oleh para ahli ilmu fisika


memungkinkan untuk mengkonfirmasikan secara
eksperimen teori dari kristalografi. Metode
pengujian difraksi sinar-x (XRD) dapat diketahui
unsur, struktur kristal dan parameter kisi dari
masing-masing pembuatan forsterite dengan variasi
waktu milling 5 jam, 10 jam, 20 jam, dan 40 jam.
Pada Gambar 5 hasil pengujian XRD pada

69
b 33.000x diketahui diameter ukuran butir rata-ratanya
sebesar 551 nm. Hasil karakterisasi menggunakan
SEM untuk waktu milling 20 jam dapat dilihat pada
Gambar 8.

Gambar 6. Hasil SEM morfologi forsterite hasil


milling 5 jam, a) perbesaran 10.000x, b)perbesaran
33.000x
Gambar 6 merupakan morfologi SEM dari
sampel forsterite dengan waktu milling 5 jam b
dengan a) perbesaran 10000x, dan b) perbesaran
33000x diketahui ukuran diameter rata-rata butirnya
sebesar 579 nm. Hasil karakterisasi menggunakan
SEM untuk waktu milling 10 jam dapat dilihat pada
Gambar 7.
a

Gambar 8.Hasil SEM morfologi forsterite hasil


milling 20 jam, a) perbesaran 10.000x, b) perbesaran
35.000x
Gambar 38 merupakan morfologi SEM dari
sampel dengan waktu milling 20 jam dengan a)
perbesaran 10.000x, dan b) perbesaran 35.000x
diketahui diameter ukuran butir rata-ratanya sebesar
b 478 nm.Untuk hasil karakterisasi menggunakan
SEM untuk waktu milling 40 jam dapat dilihat pada
Gambar 9.

Gambar 7.Hasil SEM morfologi forsterite hasil


milling 10 jam, a) perbesaran 10.000X, b)
perbesaran 33.0000X.

Gambar 7 merupakan morfologi SEM dari


sampel forsterite dari dengan waktu milling 10 jam
dengan a) perbesaran 10.000x, dan b) perbesaran

70
b
)

Gambar 9.Hasil SEM morfologi forsterite hasil


milling 40 jam, a) perbesaran 10.000X, b)
perbesaran 33.0000X

Gambar 9 merupakan morfologi SEM dari Gambar 11. Grafik hubungan waktu milling terhadap
sampel dengan waktu milling 40 jam dengan a) ukuran butir partikel forsterite
perbesaran 10.000x, dan b) perbesaran 33.000x
diketahui diameter ukuran butir rata-ratanya sebesar Gambar 11 hasil SEM menunjukkan ukuran
385 nm. butir waktu milling 5, 10, 20, dan 40 jam berturut-
turut adalah 579 nm, 478 nm, 451 nm dan 385 nm.
Pengaruh waktu milling terhadap ukuran butir Ukuran butir mengecil pada saat bertambahnya
dapat dilihat pada Gambar 10. waktu milling.

2. Pembahasan

Waktu milling mempengaruhi ukuran butir


kristal pada forsterite, hal ini dikarenakan selama
proses milling, partikel serbuk akan mengalami
proses pengelasan dan penghancuran berulang-ulang
ketika bola saling bertumbukan sejumlah serbuk
akan terjebak diantara kedua bola tersebut dan akan
mengakibatkan serbuk terdeformasi kemudian
menjadi hancur. Permukaan partikel serbuk yang
baru terbentuk memungkinkan terjadinya proses
pengelasan dingin kembali antara sesama partikel
sehingga membentuk partikel baru yang ukurannya
lebih besar dari ukuran semula. Kemudian partikel
tersebut akan kembali mengalami tumbukan dan
akhirnya kembali hancur, begitu seterusnya hingga
mencapai ukuran nano.
Hasil SEM juga menunjukkan bentuk
morfologi yang sama untuk ketiga sampel. Bentuk
forsterite untuk semua sampel umumnya sama yaitu
berbentuk bulat tidak rata. Hasil dari penelitian yang
dilakukan didapatkan sampel forsterite yang ukuran
butirnya lebih kecil dari penelitian sebelumnya yang
mendapatkan ukuran butir nanokatalis sebesar
Gambar 10. Perbandingan hasil SEM forsterite 500nm [5]. Hasil SEM juga menunjukkan bahwa
berbagai variasi waktu dengan perbesaran 10000x ukuran butir semakin halus seiring bertambahnya
a) 5 jam, b) 10 jam, c) 20 jam, dan d) 40 jam waktu milling. Proses aglomerasi yang terjadi juga
dapat diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu
Gambar 10 hasil SEM menunjukkan morfologi kontaminasi serbuk sampel dengan material bola
permukaan waktu milling 5, 10, 20, dan 40 jam. penghancur dan jar. Meskipun memiliki kekerasan
Pada Gambar 11 dapat dilihat grafik hubungan yang sangat tinggi, stainless steel pada bola
waktu milling terhadap ukuran butir forsterite. penghancur dan jar tetap akan memberikan
kontaminasi pada serbuk sampel yang digiling.
Kecepatan penggilingan tinggi dan waktu

71
penggilingan lama menyebabkan kontaminasi Padi Nagari Lubuak Gadang Kecamatan Sangir
material pembentuk bola penghancur dan jar bisa Kabupaten Solok Selatan”.UNP: Padang.
dikatakan nyaris tidak dapat dihindari, selanjutnya [4] Krisnawan A.2009. Karakterisasi Sampel
yang mempengaruhi ukuran butir yaitu pengaruh Paduan Magnesium Jenis AZ91D Dengan
bentuk jar. Desain pinggir bawah jar HEM-E3D Berbagai Variasi Waktu Milling Oleh X-Ray
yang berbentuk kurva dapat menyebabkan Fluoresence (XRF) dan XRD. Skripsi. UINSH.
terbentuknya dead zone yang merupakan daerah Jakarta.
dimana serbuk tidak tergiling karena media [5] Kumar, dkk. 2005. Nanofabrication Towards
penggiling (bola) tidak dapat mencapainya saat Biomedical Applications. Wilet-vchverlaggmbh
milling berlangsung. & co.kgaa, weinheim. Germany
[6] Merupo, dkk. 2015. Struktural and Optical
Gambaran morfologi permukaan forsterite Characterization of ball milled Copper-Doped
ditunjukkan melalui SEM menunjukkan ukuran butir Bismut Vanadium Oxide. CrystEngComm. 8
forterite, semakin halus seiring bertambahnya waktu Poland.
milling. Bentuk forsterite untuk semua sampel [7] Mulyaningsih NN. 2007. “Karakterisasi
umumnya sama berbentuk bulat tidak rata, hal ini hidroksiapatit sintetik dan alami pada suhu
dikarenakan forsterite berasal dari proses-proses
antropogenik. Secara alamiah proses antropogenik 1400oC”. Bogor: Institut Pertanian Bogor,
terjadi pada temperatur tinggi dalam proses dan IPB.
produksi material yang berhubungan dengan Mg, [8] Mustofa, S. dan Yunasfi. 2009. Pembuatan
pada proses-proses dengan temperatur tinggi ini Karbon Berstruktur Nano dengan Metode High
biasanya akan menghasilkan mineral-mineral Energy Milling. Jurnal Sains Materi Indonesia.
berbentuk bulat. Vol. 10 No. 3 Tahun 2009. 288-291.
[9] Nanotech Indonesia. 2014. High Energy
KESIMPULAN Milling E3D (HEM E3D). Banten:
PUSPIPTEK Serpong.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
[10] Nurul T.R. dkk. 2007. “HEM type E3D”.Alat
dapat ditarik kesimpulan Waktu milling berpengaruh
penghancur pembuat fungsional nanometer dan
terhadap ukuran butir forsterite mineral serpentin
gerakan elips 3 dimensi paten no
dari Kabupaten Solok Selatan, semakin lama waktu
p00200700207.
milling maka ukuran butir forsterite semakin kecil
[11] Pratapa, Suminar. 2004. Prinsip-Prinsip
Difraksi Sinar-X, makalah seminar XRD
UCAPAN TERIMA KASIH
disampaikan di Padang.
Terima kasih kepada menristek dikti yang telah [12] Suryanarayana. 2001. “Mechanical Alloying
mendanai penelitian ini melalui hibah perguruan and Milling. Departement of Metallurgical and
tinggi MP3EI atas nama Dr. H. Ahmad Fauzi, M. Si Engineering Colorado School of Mines
dan Dr. Hj. Ratnawulan, M. Si., dengan judul golden”. Colorado.USA.
Eksplorasi dan Pengembangan Nilai Tambah [13] Tavangarian. F., & R. Emadi. 2009. “Sintesis
Mineral Ekonomis Sumatera Barat Menjadi Produk of nanocrystalline forsterite (Mg2SiO4) powder
Nanomaterial untuk Mendukung Industri Besi Baja by combined mechanical action and thermal
Nasional. treatment”. University of technology. Iran.
[14] Tavangarian, F dan R. Emadi. 2010. Synthesis
DAFTAR PUSTAKA Of Pure Nanocrystalline Magnesium Silicate
Powder. Ceramics-Silikaty. Isfahan University
[1] Abdullah, M. 2008. Sintesis Nanomaterial. Of Technologi (IUT). Vol: 52. No:2. Hal 122-
Bandung. ITB Bandung. 127.
[2] Dwandaru, W. 2012. Aplikasi Nanosains [15] Tonggiroh, Adi dan Purwanto. 2011. Kajian
Dalam Berbagai Bidang Kehidupan: Mineral Serpentin : Korelasi Karbondioksida
Nanoteknologi. UNY Karangmalang, dan Platinum Group Element (PGE) pada
Yogyakarta Sequen Batuan Ultramafik. Makassar. Jurusan
[3] Febrini, Vivi.2014. “Pengaruh Temperatur Geologi Fakultas Teknik Universitas
Sintering Terhadap Sifat Fisis Mineral Hasanuddin. Proseding.
Serpentin Yang Terdapat Di Jorong Sungai [16] Van Vlack, Lawrence H. 1995. Ilmu dan
Teknologi Bahan. Jakarta: Erlangga.

72

Vous aimerez peut-être aussi