0% encontró este documento útil (0 votos)
29 vistas18 páginas

Hukum Agraria: Pengertian dan Ruang Lingkup

Hukum agraria

Cargado por

editorraaa
Derechos de autor
© © All Rights Reserved
Nos tomamos en serio los derechos de los contenidos. Si sospechas que se trata de tu contenido, reclámalo aquí.
Formatos disponibles
Descarga como PDF, TXT o lee en línea desde Scribd
0% encontró este documento útil (0 votos)
29 vistas18 páginas

Hukum Agraria: Pengertian dan Ruang Lingkup

Hukum agraria

Cargado por

editorraaa
Derechos de autor
© © All Rights Reserved
Nos tomamos en serio los derechos de los contenidos. Si sospechas que se trata de tu contenido, reclámalo aquí.
Formatos disponibles
Descarga como PDF, TXT o lee en línea desde Scribd

MAKALAH

Pengertian Dan Ruang Lingkup Hukum Agraria


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Agraria

Dosen pengampu : Dr. Musa Taklima, S.Hi., M.S.I

Disusun Oleh Kelompok 1 :

Ummi Nadiroh (220202110001)

M. Al Ghiffari Gaffar (220202110008)

Adi Wahyudi (220202110047)

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2024

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, berkat rahmat serta karunia-Nya sehingga
makalah dengan berjudul “Pengertian Dan Ruang Lingkup Hukum Agraria” dapat diselesaikan dengan
baik dan lancar serta tepat pada waktunya. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas
dari Bapak Dr. Musa Taklima, S.Hi., M.S.I pada bidang mata Pelajaran Hukum Agraria. Selain itu,
penyusunan makalah ini bertujuan menambah wawasan kepada pembaca tentang pemahaman mengenai
materi-materi tersebut.

Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Dr. Musa Taklima, S.Hi., M.S.I
selaku dosen pengampu mata kuliah ini. Berkat tugas yang diberikan ini, dapat menambah wawasan
penulis berkaitan dengan topik yang diberikan. Dan kami juga mengucapkan terima kasih yang
sebesarnya kepada semua pihak yang membantu dalam proses penyusunan makalah ini. Kami
menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan masih melakukan banyak kesalahan. Oleh karena
itu, kami memohon maaf atas kesalahan dan ketidak sempurnaan yang pembaca temukan dalam
makalah ini. Serta mohon masukan dan saran dari teman-teman apabila menemukan kesalahan dalam
makalah ini.

Malang, 29 Agustus 2024.

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................................................... iii
BAB I ............................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang....................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................. 1
C. Tujuan Pembahasan ............................................................................................................... 1
BAB II .............................................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN .............................................................................................................................. 2
A. Pengertian Agraria ................................................................................................................. 2
B. Pengertian Hukum Agraria Secara Umum dan Islam .............................................................. 3
C. Ruang Lingkup Hukum Agraria ............................................................................................. 6
D. Perbidangan Dan Pokok Bahasan Hukum Agraria .................................................................. 8
BAB III .......................................................................................................................................... 13
PENUTUP...................................................................................................................................... 13
A. Kesimpulan.......................................................................................................................... 13
B. Saran ................................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 14

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum agraria adalah keseluruhan norma-norma hukum baik tertulis maupun
tidak tertulis yang mengatur hubungan hukum antara subjek hukum
dalam bidang agraria Dalam ruang lingkup agraria, tanah merupakan bagian dari bumi,
yang disebut permukaan bumi. Tanah sebagai sumber utama bagi kehidupan manusia
yang telah dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Agar tanah tersebut digunakan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat maka hukum tentang
tanah diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria.
Hak atas tanah ialah hak yang memberikan wewenang untuk mempergunakan
permukaan bumi atau tanah yang bersangkutan dengan tubuh bumi dan air serta ruang
angkasa yang ada di atasnya, yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah,
dalam batas-batas menurut UU dan peraturan hukum lain yang lebih tinggi. Hak milik
atas tanah adalah hak kebendaan atas tanah yang bersifat turun temurun, terkuat dan
terpenuh dibandingkan dengan hak-hak lainnya, yang dapat dimiliki oleh warga
Indonesia dan badan-badan hukum Indonesia yang ditetapkan secara khusus oleh
pemerintah, dengan mengingat fungsi sosial terhadap hak atas tanah, temasuk terhadap
hak milik atas tanah. 1

B. Rumusan Masalah
a. Pengertian Agraria secara umum dan islam
b. Pengertian hukum agraria secara umum dan islam
c. Ruang lingkup hukum agraria
d. Perbidangan dan pokok bahasan hukum agraria

C. Tujuan Pembahasan
a. Mengetahui Pengertian dari Agraria secara umum dan islam
e. Mengetahui Pengertian dari hukum agraria secara umum dan islam
b. Apa saja ruang lingkup hukum agraria?
f. Apa saja Perbidangan dan pokok bahasan dalam hukum agraria

1
R. A. Hakim, "Implementasi Prinsip Agraria Islam dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam di Indonesia",
Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam 14, no. 3 (2023): 88-104

1
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Agraria
Agraria dapat memiliki arti luas dan sempit, sesuai dengan Undang-Undang
Pokok Agraria (UUPA). Dalam arti luas, agraria berkaitan dengan tanah, bumi, air,
ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Dalam arti sempit,
agraria dapat berarti urusan pertanian, tanah pertanian atau urusan pemilikan tanah.2
Kata Agraria menurut Boedi Harsono, berasal dari kata Agrarius, Ager (latin)
atau Agros (Yunani), Akker (Belanda) yang artinya tanah pertanian. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, agraria berarti urusan pertanian atau tanah pertanian, juga
urusan pemilikan tanah. Black Law Dictionary, menyebutkan Agraria Laws seringkali
digunakan untuk menunjuk kepada perangkat peraturan-peraturan hukum yang
bertujuan mengadakan pembagian-pembagian tanah yang luas dalam rangka lebih
meratakan penguasaan dan pemilikannya. Arti kata agraria menurut lingkungan
administrasi pemerintah adalah tanah pertanian dan tanah non pertanian. 3 Untuk
memberikan pemahaman tentang Hukum Agraria, sebelumnya dikemukakan arti istilah
Agraria dalam berbagai kepustakaan. Istilah Agraria berasal dari:
a. Bahasa latin (Ager) yang berarti tanah atau sebidang tanah; (Agrarius) yang
berarti perladangan, persawahan, pertanian.
b. Bahasa Yunani (Agros) yang berarti tanah pertanian.
c. Bahasa Belanda (Akker) yang berarti tanah pertanian.
Secara umum, agraria merujuk pada segala hal yang berkaitan dengan tanah,
baik itu dalam konteks hukum, ekonomi, sosiologi, sejarah, atau politik. Pengertian
agraria sangat penting dalam memahami hubungan antara manusia dengan tanah dan
dampaknya dalam berbagai aspek kehidupan. Istilah Agraria dalam UUPA mempunyai
dua pengertian, yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Pengertian Agraria dalam
arti luas meliputi Bumi, Air dan Ruang Angkasa (Pasal 1 Ayat (2) UUPA) 4. Sedangkan
pengertian Agraria dalam arti sempit hanya mengatur masalah tanah (Pasal 4 Ayat (1)

2
James Yoseph Palenewen, Hukum Agraria Dan Pendaftaran Tanah Di Indonesia, (media utama : Bandung),
2022, Hal 9.
3
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan UUPA, Isi dan Pelaksanaannya), Djambatan
: Jakarta ,2008, hal. 23.
4
Urip Santoso, Pejabat Pembuat Akta Tanah, Perspektif Regulasi, Wewenang, dan Sifat Akta, (Prenadamedia
Group : Jakarta), 2016, hal. 52.

2
UUPA). A.P. Parlindungan menyatakan bahwa pengertian Agraria mempunyai ruang
lingkup yaitu dalam arti sempit bisa berwujud hak-hak atas tanah, ataupun pertanian
saja5.
Dalam perspektif Islam, istilah "agraria" mengacu pada hubungan antara
manusia dengan tanah dan sumber daya alam yang dimilikinya. Agraria dalam konteks
ini mencakup kepemilikan tanah, pengelolaannya, dan distribusi hasilnya, serta
bagaimana prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan sosial diterapkan sesuai dengan
ajaran Islam, Menurut ajaran Islam, tanah dianggap sebagai amanah dari Allah yang
harus dikelola dengan bijaksana. Kepemilikan tanah diizinkan tetapi harus dilakukan
dengan prinsip keadilan, termasuk tidak menzalimi orang lain dan memperhatikan hak-
hak mereka yang kurang beruntung. Islam juga mengatur tentang hak-hak terhadap
tanah yang belum dimanfaatkan dan mengajarkan prinsip tanggung jawab sosial dalam
mengelola sumber daya alam. 6 Dalam konteks Islam, reforma agrarian ini bertujuan
agar tanah tidak hanya dikuasai atau dimiliki oleh segelintir orang atau pihak
tertentu. Nabi Muhammad SAW sendiri telah memperjuangkan keadilan dalam
kepemilikan, Agraria atau hukum tanah, adalah hukum-hukum Islam yang mengatur
hak kepemilikan, pengelolaan, dan pendistribusian tanah. Agraria sangat penting dan
strategis karena ketentuannya menyangkut sumber pokok ekonomi masyarakat.7

B. Pengertian Hukum Agraria Secara Umum dan Islam


a. Umum
Untuk memperoleh pengertian mengenai apa yang disebut dengan Hukum
Agraria, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat sarjana, antara lain: 8
1. E. Utrecht
Hukum agraria (Hukum Tanah) merupakan bagian dari Hukum Administrasi
Negara yang mengkaji hubungan-hubungan hukum, terutama yang akan
memungkinkan para pejabat yang bertugas mengurus soal-soal agraria.
2. Subekti & Tjitrosubroto

5
UU No.5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria.
6
M. N. Sari, Agrarian Law in Islamic Perspective, Journal of Islamic Studies and Culture 12, no. 3 (2020): 45-
60.
7
S. Maulana, "Pengelolaan Tanah dalam Perspektif Hukum Islam dan Implikasinya terhadap Keadilan Sosial",
Jurnal Hukum dan Pembangunan 52, no. 1 (2022): 35-50.
8
Dr. Muwahid,SH.,M.Hum., Juni 2016, pokok-pokok hukum agraria di Indonesia, Surabaya, UIN Sunan Ampel
Press. Hal. 6-8.

3
Hukum Agraria adalah keseluruhan dari ketentuan hukum yang mengatur
hubungan orang yang satu dengan orang yang lain, termasuk Badan Hukum
dengan Bumi, Air, dan Ruang Angkasa dalam seluruh wilayah Indonesia dan
mengatur pula wewenang yang bersumber pada hubungan tertentu.
3. Boedi Harsono
Hukum Agraria bukan hanya merupakan satu perangkat bidang hukum. Hukum
Agraria merupakan suatu kelompok berbagai bidang hukum, yang masing-
masing mengatur hak-hak penguasaan atas sumber-sumber daya alam tertentu
yang termasuk pengertian Agraria. Kelompok berbagai bidang hukum tersebut
terdiri atas:
1) Hukum Tanah, yang mengatur hak-hak penguasaan atas tanah dalam arti
permukaan bumi.
2) Hukum Air, yang mengatur hak-hak penguasaan air.
3) Hukum Pertambangan, yang mengatur hak-hak penguasaan atas bahan-
bahan galian yang dimaksudkan oleh Undang-Undang Pertambangan.
4) Hukum Perikanan, yang mengatur hak-hak penguasaan atas kekayaan
alam yang terkandung dalam air.
5) Hukum Penguasaan Atas Tenaga dan Unsur-Unsur dalam Ruang
Angkasa, mengatur hak-hak penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur
dalam ruang angkasa yang dimaksudkan oleh pasal 48 UUPA.
4. WLG. Lemeire
Hukum Agraria adalah hukum yang mengandung bagian dari hukum privat
maupun Hukum Tata Negara dan Administrasi yang dibicarakan sebagai suatu
kelompok yang bulat.
5. SJ. Fockema Andrea
Hukum Agraria adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan hukum mengenai
usaha pertanian dan benda pertanian.
6. Soedikno Mertokusumo
Hukum Agraria adalah keseluruhan kaidah-kaidah hukum, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis yang mengtur Agraria.

Dapat dipahami bahwa Hukum Agraria tidak hanya sebagai perangkat hukum,
tetapi merupakan kumpulan dari beberapa bidang yang masing-masing memiliki peran
untuk mengatur hak-hak penguasaan sumber daya alam tertentu. Dengan demikian,

4
definisi hukum agraria dalam arti luas mencakup bumi, air, ruang angkasa, serta
kekayaan yang ada di dalamnya. Sementara itu, definisi hukum agraria dalam arti
sempit hanya mencakup permukaan bumi yang disebut dengan tanah.9 Dalam hal ini
tanah yang dimaksud bukan tanah dalam pengertian fisik, melainkan tanah dalam
pengertian yuridis berupa suatu hak. Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)
merupakan inti dari hukum agraria.
Hukum Agraria adalah pedoman hukum yang mengatur pengelolaan sumber
daya alam, mencakup tanah, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang ada di
dalamnya.
Di antara ketentuan tersebut, Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, yang juga dikenal sebagai Undang-Undang
Pokok Agraria (UUPA), menetapkan bahwa unsur-unsur keagrariaan meliputi
ketentuan sebagai berikut:10
a. Menurut pasal 1 (4) UUPA, ”bumi meliputi: permukaan bumi (tanah);
tubuh bumi yang terdapat di bawah tanah dan di bawah air.”
b. Menurut pasal 1 (5) dan pasal 47 UUPA, ”air meliputi perairan
pedalaman (indland waters) seperti sungai, danau, rawa dan di perairan
wilayah Indonesia.”
c. Menurut pasal 1 (2) UUPA, ”kekayaan alam yang terkandung di dalam
bumi dan air adalah barang atau tambang atau bahan galian, ikan,
mutiara dan hasil laut lainnya.”
d. Menurut pasal 48 UUPA yaitu unsur-unsur dalam ruang angkasa.

b. Islam
Secara filosofis, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi oleh Allah SWT,
dan sebagai khalifah, manusia harus bertindak bijaksana dalam hubungan dengan
sesama serta lingkungan. Allah SWT menitipkan alam untuk dikelola,
dimanfaatkan, dan dilindungi agar bermanfaat bagi generasi sekarang dan
mendatang. Hubungan manusia dengan alam didasarkan pada empat prinsip utama:
memelihara, mengatur dan melindungi, mengeksploitasi dan memanfaatkan, serta
pengawasan.

9
Akbar, Irvan Ali. 2023. Hukum Agraria Dalam Penyelesaian Masalah Fenomena Surat Ijo Di Surabaya. Jurnal
Penelitian Hukum. Volume 3, hal. 17-18.
10
Dr. Tehupeiory, Aarche, SH,. MH. 2023. Asas-Asas Hukum Agraria. Jakarta. UKI Press. Hal. 1-2

5
Dengan demikian, hubungan hukum antara manusia dan tanah tidak bisa
dipisahkan karena manusia berasal dari tanah, hidup di atas tanah, beribadah di atas
tanah, dan sumber kehidupannya berasal dari tanah serta kekayaan alam, dan
akhirnya dikembalikan ke tanah setelah meninggal.
Secara yuridis, dalam pandangan Islam, segala sesuatu di langit dan di bumi,
termasuk tanah, sebenarnya adalah milik Allah SWT. Allah berfirman, "Kepunyaan
Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah semua makhluk kembali"
(QS. Al-Hadid: 2), serta "Kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi; Dia
menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."11
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa bumi, air, dan
kekayaan alam, termasuk tanah, adalah milik-Nya. Allah sebagai pemilik sejati
memberikan wewenang (istikhlaf) kepada manusia untuk mengelola tanah tersebut
sesuai dengan hukum-Nya yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadis. Firman-Nya,
"Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu
menguasainya" (QS. Al-Hadid: 7), menunjukkan bahwa kepemilikan sejati adalah
milik Allah, dan manusia hanya memiliki hak untuk memanfaatkannya dengan cara
yang diridhoi-Nya (Tafsir Al-Qurtubi juz I).
Dengan demikian, Hukum Islam menjelaskan bahwa secara filosofis,
kepemilikan tanah memiliki dua aspek: pertama, tanah sejatinya adalah milik Allah
SWT. Kedua, Allah SWT sebagai pemilik sejati memberikan wewenang kepada
manusia untuk mengelola tanah sesuai dengan hukum-hukum-Nya.

C. Ruang Lingkup Hukum Agraria


Sejak di undangkannya UUPA maka cabang ilmu hukum agraria merupakan
cabang ilmu hukum yang berdiri sendiri. Bahkan dimaksudkan adalah untuk adanya
unifikasi hukum dan kepastian hukum yang mengatur masalah keagrariaan. Menurut
Prof. Suhardi, S.h., bahwa sejak itu hukum agraria dipenuhinya persyaratan ilmiah
untuk berdirinya suatu cabang ilmu, yaitu terpenuhinya persyaratan objek Materill dan
objek formal. Objek materil oleh UUPA telah disebutkan secara tegas yaitu, Bumi, air,
dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, sebagai

11
Arba & Israfil. Juni 2021. Hubungan Hukum Antara Manusia Dengan Tanah, Air dan Lingkungan Alam
Menurut Konsepsi Hukum Islam dan Hukum Agraria Nasional (UUPA). Jurnal Risalah Kenotariatan. Volume 2.
Hal. 61-62.

6
pembeda terhadap cabang cabang ilmu lainnya. Objek formalnya yaitu, UUPA sendiri
yang merupakan dasar atau pedoman dalam penyusunan hukum agraria nasional.
Secara garis besar, hukum agraria setelah berlakunya UUPA dibagi menjadi dua
bidang, yaitu:12
1) Hukum Agraria Perdata (keperdataan) Adalah keseluruhan dari ketentuan
hukum yang bersumber pada hak perseorangan dan badan hukum yang
memperbolehkan, mewajibkan, melarang diperlakukan perbuatan hukum yang
berhubungan dengan tanah (obyeknya). Contoh: jual beli, hak atas tanah sebagai
jaminan utang (hak tanggungan), pewaris.
2) Hukum agraria administrasi (administratif) adalah keseluruhan dari ketentuan
hukum yang memberi wewenang kepada pejabat dalam menjalankan praktek
hukum negara dan mengambil tindakan dari masalah-masalah agraria yang
timbul. Contoh: pendaftaran tanah, pengadaan tanah, pencabutan tanah,
pencabutan hak atas tanah.
Hukum Agraria bukan hanya merupakan satu perangkat bidang hukum saja,
tetapu merupakan suatu kelompok berbagai bidang hukum, yang masing-masing
mengatur hak-hak penguasaan atas sumber daya alam atau sumber daya agraria tertentu
yang tercakup dalam pengertian agraria tersbut.
Kelompok hukum tersebut antara lain meliputi:13
1) Hukum Pertanahan, yang mengatur hak-hak penguasaan atas tanah, dalam arti
permukaan bumi;
2) Hukum Air, yang mengatur hak-hak penguasaan atas air (sekarang diatur dalam
UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air);
3) Hukum Pertambangan yang mengaur hak-hak penguasaan atas bahan-bahan
galian/tambang, seperti yang dimaksudkan oleh Undang-Undang Nomor 4
tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) dan UU Minyak dan
Gas Bumi (UU No. 22 tahun 2001);
4) Hukum Kehutanan yang mengatur hak-hak penguasaan atas sumber daya hutan
(diatur dalam UU No. 41/1999, yang enggantikan UU sebelumnya yaitu UU
No, 5/1967);

12
Yazid, Fadhil, S.H, M.Kn. Desember 2020. Pengantar Hukum Agraria. Medan, Sumatra Utara. Undhar press.
Hal. 7-8.
13
Amarrohman, Fauzi Janu, S.T., M.Eng & Ir. Witjaksono, Onang Onang Fadjar. 2021. Hukum Agraria. Semarang.
UNDIP PRESS. Hal. 11-12.

7
5) Hukum Perikanan yang mengatur hak-hak penguasaan atas kekayaan alam yang
terkandung di dalam air, baik air pedalaman maupun air laut (sekarang diatur
dalam UU No. 9 tahun 1985 tentang perikanan).

D. Perbidangan Dan Pokok Bahasan Hukum Agraria


Setelah berlakunya UUPA, Hukum Agraria Indonesia Terkonsentrasi kepada
dua bidang secara besar yaitu :
1) Hukum Agraria Perdata (Keperdataan) : adalah keseluruhan dari ketentuan hukum yang
bersumber padahak perseorangandan badan hukum yang memperbolehkan,
mewajibkan, melarang diperlakukannya perbuatan hukum yang berhubungan dengan
tanah (objeknya). Contoh jual beli, tukar menukar, hibah, hak atas tanah sebagao
jaminan hutang ( hak tanggungan ) pewarisan.
2) Hukum Agraria Administrasi (Administratif): adalah keseluruhan dari ketentuan
hukum yang memeberi wewenang kepada pejabat dalam menjalankan praktik hukum
negara dan mengambil tindakan dari masalah-masalah agraria yang timbul. Contoh
pendaftaran tanah,pengadaan tanah, pencabutan hak atas tanah. 14

Melihat fenomena hukum yang cenderung muncul dibalik terjadinya sengketa,


konflik dan perkara pertanahandi tengah-tengah masayrakat merupakan sebuah akibat
dari suatu keadaan yang menyangkut hak dan kewajiban serta larangan yang terjadi
tidak sebagaimana mestinya berlaku terhadap sesuatu hak atas tanah yang
dimiliki/dipegang. Oleh suatu subjek hukum. Artinya ada suatu perbuatan atau tindakan
yang dianggap melanggar hukum atau kejahatan terhadap hak atas tanah sebagaiman
diatur dalam UUPA yang mengakibatkan masalah sengketa, konflik, dan perkara
pertanahan. 15

Maka oleh karenanya selain dari kedua pembidangan hukum agraria


sebagiamana digariskan oleh tersebut diatas, aspek hukum pidana juga tidak bisa
dilepaskan dari kajian Pembidangan UUPA. Adapun tujuan dari adanya kajian terhadap
UUPA adalahguna mengurai terjadinya kejahatan terhadap tanah. Kejahatan terhadap
tanah adalah kejahatan yang dilakukan terhadap hak-hak atas tanah sebagaimana

14
Rizky Syahputra, Hukum Agraria Dan Kebijakan Agraria Di Indonesia, Jurnal Penelitian Hukum Vol.3, No. 4,
Mei (2023), Hal 26
15
Rahmat Ramadhani, S.H.,M.H., Hukum Agraria (Suatu Pengantar), Medan:2018, Hal 10

8
tercantum dalam Pasal 16 jo, Pasal 53 UUPA16, yang berdasarkan waktu terjadinya
kejahatan tanah dimaksud terdiri dari 3 kelompok yaitu:

1) Pada saat pra-perolehan : Kejahatan terhadap tanah pada saat sebelum terjadinya
perolehan hak atas tanah (pra-perolehan) yaitu perbuatan yang dilakukan sebelum
diperoleh/didapatkannya suatu hak atas tanah. Pada kelompok tindak pidana ini, maka
unsur utama tindak pidana yang wajib dibuktikan adalah adanya perbuatan melanggar
hukum dalam upaya membuktikan hubungan hukum antara pelaku dengan bidang
tanah yang dikuasainya.
2) Menguasai tanpa hak : Yaitu menguasai tanah yang bukan haknya dengan kata lain
menggambarkan adanya hubungan hukum yang tidak sah antara pelaku dengan tanah
yang dikuasainya
3) Mengakui tanpa hak.: Yaitu bisa jadi secara fisik bidang tanah dimaksud belum dikuasi
oleh pelaku, namun secara pengakuan, pelaku telah mengakui bahwa hanya dialah
yang memiliki hak atas tanah tersebut sehingga memungkinkan pihak yang menguasai
bidang tanah mengalami kerugian atas pengakuan pelaku tersebut.17
Strategi pengaturan pertanahan sangat penting untuk pengaturan negara, sebagai
pengaturan standar strategi pengaturan pertanahan tidak hanya digunakan untuk
mengelola dan mengikuti contoh perilaku yang ada, namun sepenuhnya sesuatu yang
lain dari itu. Peraturan pertanahan juga harus diperlakukan sebagai alat pengarah dalam
mengakui strategi negara di bidang sosial, sosial, moneter, strategi, pertanahan dan
keamanan publik.

Pasca kemerdekaan Indonesia, keadaan darurat yang tercipta akibat suasana


perebutan kekuasaan antara pemerintahan lama dan pemerintahan baru menyebabkan
perubahan tatanan lama dan baru tidak dapat segera dilakukan. Kelemahan ini ditutupi
oleh Pasal 2 Ketentuan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi: "Sampai kekuasaan dan
peraturan diganti dengan yang baru, tetap berlaku." Karena itu, tatanan hukum
pemerintah kolonial tetap dijadikan landasan perilaku manusia, termasuk Hukum
Agraria. Komunitas hukum saat itu tidak menyukai situasi ini. 18

16
UU Pasal 16 jo, Pasal 53 UUPA
17
Aloysius Mudjiono, Mahmud Kusuma, Penyidikan Tindak Pidana Kasus Tanah dan Bangunan, Pustaka
Binaman : 2014
18
Erza Aulia Sahna Nurcahyanti, Determinasi Petani Dalam Hukum Agraria Di Indonesia, Jurnal Penelitian
Hukum Vol. 3, No. 1, Januari (2023), Hal 41-42

9
Sebelum berlakunay UUPA, Hukum agraria di Hindia Belanda (Indonesia)
terdiri dari 5 perangkat hukum :

1) Hukum Agraria Adat : Yaitu keseluruhan kaidah-kaidah hukum agraria yang bersumber
pada hukum adat dan berlaku terhadap tanah tanah yang dipunyai dengan hak-hak atas
tanah yang diatur oleh hukum adat .
2) Hukum Agraria Barat : Yaitu keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum agraria yang
bersumber pada hukum perdata Barat, khususnya yang bersumber pada Boergelijk
Wetboek (BW).
3) Hukum Agraria Administratif : Yaitu keseluruhan dari peraturan-peraturan atau
putusan-putusan yang merupakan pelaksanaan dari politik agraria pemerintah di dalam
kedudukannya sebagai badan penguasa
4) Hukum Agraria Swapraja : Yaitu keseluruhan dari kaidah Hukum Agraria yang
bersumber dari kaidah Hukum Agraria yang bersumber pada peraturan-peraturan
tentang tanah di daerah-daerah swapraja (Yogyakarta dan Aceh), yang memberikan
pengaturan bagi tanah-tanah di wilayah daerah-daerah swapraja yang bersangkutan.
5) Hukum Agraria Antar Golongan : Hukum yang digunakan untuk menyelesaikan
sengketa (kasus) agraria (tanah), maka timbulah agraria antar golongan, yaitu
keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang menentukan hukum manakah yang
berlaku (Hukum Adat ataukah Hukum Barat) apabila 2 orang yang masing masing
tunduk pada hukumnya sendiri-sendiri bersengketa mengenai tanah. 19

Ketentuan-ketentuan Hukum Tanah yang beraspek Publik dan Perdata.


Ketentuan-ketntuan yang beraspek Publik meliputi bidang legislatif, bidang
eksekutif/adminis-tratif dan bidang yudikatif, yang kegiatannya dilakukan oleh Negara
sebagai Badan Penguasa. Bidang legislatif meliputi tugas/ kewenangan pembuatan
peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. Bidang yudikatif
meliputi tugas kewenangan mengadili kasus-kasus pertanahan. Tetapi ketentuan-
ketentuan yang mengaturnya tidak mempunyai ciri-ciri khas yang membedakannya
dengan yang mengatur kegiatan legislatif dan yudikatif di bidang lain. Oleh karenanya

19
Sigit Sapto Nugroho, S.H.,M.Hum., Mohammad Tohari S.H,M.H., Mudji Rahardjo, S.H,.M.Si., Hukum Agraria
Indonesia, Perim Gampang Baru: 2017, Hal 15-16

10
tidak dimasukkan dalam isi sistematika yang diuraikan di atas, melainkan tetap berada
dalam lingkup Hukum Tata Negara dan Hukum Peradilan.20

Pada dasarnya ketiga lembaga negara di atas dalam melaksanakan keweangan


negara sebagai penguasa dalam konteks hukum tanah tidaklah ada bedanya dengan
kewenangan negara sebagai penguasa di bidang lain diluar hukum tanah. Namun dalam
implentasinya lembaga eksekutif dinilai lebih banyak memiliki peran dalam penataan
hukum tanah dibanding legislatif dan yudikatif. Hal tersebut sejalan dengan sifat hukum
tanah administratif yang dipegang oleh lemabaga eksekutif, dimana hukum tanah
administratif adalah merupakan keseluruhan peraturan-peraturan yang merupakan
landasan bagi negara dalam melaksanakan politiknya dibidang pertanahan.21

Pokok Bahaasan Hukum Agraria

Dilihat dari objeknya, maka pokok bahasan hukum agraria nasional dibagi
menjadi dua, yaitu;

1) Hukum agraria dalam arti sempit; yaitu hanya membahas tentang Hak Penguasaan
Atas Tanah, meliputi Hak Bangsa Indonesia atas tanah, hak menguasai negara atas tanah,
hak ulayat, hak perseorangan atas tanah.

2) Hukum agraria dalam arti luas; yaitu pokok bahasannya antara lain; yang berkaitan
dengan Hukum Pertambangan dalam kaitannya dengan Hak Kuasa Pertambangan,
Hukum Kehutanan dalam kaitannya dengan Hak Penguasaan Hutan, Hukum Pengairan
dalam kaitannya dengan Hak Guna Air, Hukum Ruang Angkasa dalam kaitannya dengan
Hak Ruang Angkasa, Hukum Lingkungan Hidup dalam kaitannya dengan tata guna
tanah, landreform.22

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dalam


mempersiapankan pelaksanaan pelayanan pertanahan adalah: (1) melakukan
inventarisasi tanah serta hak-hak yang melekat pada tanah di daerahnya; (2) melakukan
dialog dengan masyarakat adat untuk mencari masukan tentang kedudukan dan peran
masyarakat hukum adat dalam masalah tanah di daerahnya; (3) meredam konflik

20
Mudemar A. Rasyidi, HUKUM TANAH ADALAH HUKUM YANG SANGAT PENTING, DIBUTUHKAN OLEH
MASYARAKAT/BANGSA INDONESIA DI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, Hal 56-57
21
Rahmat Ramadhani, Peran Poltik Terhadap Pembangunan Hukum Agraria Nasional, Jurnal Sosial dan
Ekonomi, Volume 1 Issue 1 Years 2020, Hal 4
22
Urip Santoso, S.H.,M.H., Hukum Agraria Kajian Komprehensif, Jakarta Kencana : 2012, Hal 9

11
pertanahan yang terjadi terutama yang berkaitan dengan industri strategis; (4) melakukan
perencanaan dalam pola pengaturan tata ruang daerah yang meliputi peruntukan dan
penggunaan tanah di daerahnya; (5) melakukan evaluasi atas peraturan hukum tanah
utamanya berkenaan pada bidang-bidang yang netral. 23

23
Ria Fitri, Hukum Agraria Bidang Pertanahan Setelah OtonomiI Daerah Agrarian Law Of Land After Regional
Autonomy, Jurnal Ilmu Hukum Ria Fitri Vol. 20, No. 3, (Desember, 2018), Hal 435-436

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Bahwa agraria memiliki arti yang luas dan sempit sesuai dengan Undang-
undang pokok Agraria (UUPA). Adapun menurut KBBI Agraria adalah urusan pertanian
atau urusan tanah pertanian. Adapun secara umum Agraria merujuk pada segala hal yang
berkaitan dengan tanah baik itu dalam konteks hukum, sosiologi, ekonomi, atau politik.
Jadi Hukum Agraria adalah pedoman hukum yang mengatur pengeolaan sumber daya alam
mencakup tanah, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang ada di dalamnya. Kemudian
peraturan yang mengatur tentang hal hal yang berkaitan dengan agraria terdapat pada
Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentangperaturan dasar pokok-pokok Agraria. Yang
dikenal dengan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA).
Sedangkan menurut agama islam menjelaskan bahwa secara filosofis,
kepemilikan tanah itu memiliki dua aspek. Yang pertama tanah sejatinya adalah milik
Allah SWT. Kedua Allah SWT sebagai pemilik sejati memberikan wewenang kepada
manusia untuk mengeiola tanah sesuai dengan hukum-hukum-Nya. Adapun matriil yang
dijelaskan secara jelas dalm UUPA diantaranya adalah Bumi, Air, Ruang Angkasa, dan
sumber daya alam didalamnya.
Kemudian pembidangan dalam hukum agraria dibagi menjadi 2 yaitu hukum
agraria keperdataan, dan hukum agraria administratif. Lalu pada pokok bahasan dalam
hukum agraria juga terbagi menjadi dua macam, yang pertama hukum agraria dalam arti
sempit yang mana membahasan seputar penguasaan tanah, hak perseorangan atas tanah,
dll. Lalu yang kedua adalah hukum agraria dalam arti luasyang pokok pembahasannya
terdiri dari hak kuasa pertambangan, hal penguasaan hutan, dan lain-lain.

B. Saran
Terhadap pemerintah sebaiknya lebih meminimalisir daripada oknum oknum
yang melakukan persengkataan, dengan lebih tegas dalam memberikan saknsi kepada para
pelanggar hukum yang terbukti bersalah agar ,menimbulakan efek jera. Juga bagi
masyakat untuk senantiasa lebih teliti dalam memerhatikan hak kepemilikan khususnya
tanah agar tidak adanya perselisihan ataupun sengketa nantinya.

13
DAFTAR PUSTAKA
BUKU

Mudjiono, A., & Kusuma, M. (2014). Penyidikan tindak pidana kasus tanah dan bangunan.
Pustaka Binaman.

Amarrohman, Fauzi Janu, S. T., M. Eng., & Witjaksono, Onang Onang Fadjar. (2021).
Hukum Agraria. Semarang

Muwahid, Dr. S. H., M. Hum. (2016). Pokok-pokok hukum agraria di Indonesia. Surabaya:
UIN Sunan Ampel.

Tehupeiory, A. (2023). Asas-Asas hukum agraria.

Harsono, B. (2008). Hukum agraria Indonesia: Sejarah pembentukan UUPA, isi dan
pelaksanaannya. Djambatan.

Palenewen, J. Y. (2022). Hukum agraria dan pendaftaran tanah di Indonesia. Media Utama.

Ramadhani, R. (2018). Hukum agraria (suatu pengantar). Medan: Umsu Press.

Santoso, U. (2016). Pejabat pembuat akta tanah: Perspektif regulasi, wewenang, dan sifat
akta. Prenadamedia Group.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
Pokok Agraria. (1960). Peraturan dasar pokok-pokok agraria.

Santoso, U. (2013). Hukum agraria: Kajian komprehensif. Jakarta: Kencana

Yazid, F. (2020). Pengantar hukum agraria. Medan, Undhar Press.

JURNAL

Akbar, Irvan Ali. (2023). Hukum Agraria Dalam Penyelesaian Masalah Fenomena Surat Ijo
Di Surabaya. Jurnal Penelitian Hukum. Volume 3, hal. 17-18.
Arba & Israfil. (2021). Hubungan Hukum Antara Manusia Dengan Tanah, Air dan Lingkungan
Alam Menurut Konsepsi Hukum Islam dan Hukum Agraria Nasional (UUPA). Jurnal
Risalah Kenotariatan. Volume 2.

Sahna Nurcahyanti, E. A. (2023). Determinasi petani dalam hukum agraria di Indonesia.


Jurnal Penelitian Hukum, 3(1), 41-42.

14
Hakim, R. A. (2023). Implementasi prinsip agraria Islam dalam pengelolaan sumber daya alam
di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, 14(3), 88-104.

Maulana, S. (2022). Pengelolaan tanah dalam perspektif hukum Islam dan implikasinya
terhadap keadilan sosial. Jurnal Hukum dan Pembangunan, 52(1), 35-50.

Mudemar A. Rasyidi, Hukum Tanah Adalah Hukum Yang Sangat Penting, Dibutuhkan Oleh
Masyarakat/Bangsa Indonesia di Da;am Kehidupan Sehari-Hari, Hal 56-57

Ramadhani, R. (2020). Peran politik terhadap pembangunan hukum agraria nasional. Jurnal
Sosial dan Ekonomi, 1(1), 4.

Fitri, R. (2018). Hukum agraria bidang pertanahan setelah otonomi daerah: Agrarian law of
land after regional autonomy. Jurnal Ilmu Hukum Ria Fitri, 20(3)

Syahputra, R. (2023). Hukum agraria dan kebijakan agraria di Indonesia. Jurnal Penelitian
Hukum, 3(4)

Sari, M. N. (2020). Agrarian law in Islamic perspective. Journal of Islamic Studies and Culture,
12(3), 45-60.

15

También podría gustarte