Dari Keterisolasian Menuju Gerbang Ekonomi Sumatera: Agenda Strategis Senator DPD RI Bengkulu
Bengkulu, "Bumi Rafflesia", memiliki posisi yang unik dalam sejarah dan geografi Indonesia. Di sinilah Ibu Negara Fatmawati menjahit Sang Saka Merah Putih, dan di sini pula Bung Karno merumuskan pemikiran kebangsaan selama masa pengasingannya. Namun, secara ekonomi, Bengkulu seringkali dianggap sebagai "anak tiri" di Pulau Sumatera karena posisinya yang berada di pesisir barat, terpisah oleh Bukit Barisan dari jalur lintas utama.
Kini, harapan baru muncul. Dengan terpilihnya salah satu putra terbaik Bengkulu, Sultan B. Najamudin, sebagai Ketua DPD RI Periode 2024-2029, posisi tawar Bengkulu di tingkat nasional melonjak drastis. Artikel ini akan mengupas secara mendalam bagaimana para senator DPD RI perwakilan Bengkulu memanfaatkan momentum ini untuk mengurai benang kusut pembangunan, mulai dari infrastruktur konektivitas hingga hilirisasi komoditas unggulan.
1. Membuka Keterisolasian: Tol Trans Sumatera dan Pelabuhan Pulau Baai
Tantangan terbesar Bengkulu adalah konektivitas. Selama puluhan tahun, ekonomi Bengkulu tumbuh melambat karena sulitnya akses logistik. Oleh karena itu, agenda utama senator DPD RI Bengkulu adalah mengawal penyelesaian Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bengkulu-Lubuk Linggau. Ruas Bengkulu-Taba Penanjung yang sudah beroperasi hanyalah awal. DPD RI terus mendesak pemerintah pusat untuk melanjutkan seksi berikutnya hingga tersambung ke lintas tengah Sumatera, yang akan memangkas waktu tempuh dan biaya logistik secara signifikan.
Selain tol darat, "tol laut" melalui Pelabuhan Pulau Baai adalah kunci. DPD RI mendorong pengembangan Pulau Baai menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) maritim. Senator Bengkulu aktif melobi Kementerian Perhubungan dan investor untuk mengeruk alur pelabuhan agar kapal-kapal besar dapat bersandar, sehingga komoditas ekspor Bengkulu seperti CPO dan batubara bisa langsung dikirim ke luar negeri tanpa harus melalui pelabuhan di provinsi tetangga.
2. Revolusi Kopi dan Komoditas Unggulan
Bengkulu adalah penghasil kopi Robusta terbesar ketiga di Indonesia. Namun, ironisnya, nama "Kopi Bengkulu" seringkali tenggelam karena biji kopinya dijual mentah ke daerah lain dan dilabeli merek luar. Senator DPD RI di Komite II memiliki misi khusus untuk mendorong hilirisasi kopi.
Melalui fungsi legislasi dan pengawasan, DPD memperjuangkan bantuan alat pengolahan pasca-panen bagi kelompok tani dan mendesak Kementerian Perdagangan untuk memfasilitasi sertifikasi Indikasi Geografis (IG). Tujuannya jelas: agar petani Bengkulu tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemain utama dalam industri kopi nasional yang bernilai tambah tinggi.
3. Sejarah sebagai Aset: Wisata Napak Tilas Bung Karno
Potensi wisata sejarah Bengkulu sangat besar namun belum tergarap optimal. Rumah Pengasingan Bung Karno dan Benteng Marlborough (benteng Inggris terbesar di Asia Tenggara) adalah aset kelas dunia. Senator DPD RI di Komite III mendorong sinergi antara Kemendikbudristek dan Kemenparekraf untuk merevitalisasi situs-situs ini.
Visi senator adalah menjadikan Bengkulu sebagai pusat wisata edukasi kebangsaan. Selain itu, Festival Tabut yang rutin digelar setiap tahun diperjuangkan agar masuk dalam kalender event internasional yang lebih prestisius, didukung dengan infrastruktur pariwisata yang memadai.
4. Konflik Agraria dan Perhutanan Sosial
Seperti provinsi lain di Sumatera, Bengkulu juga menghadapi masalah sengketa lahan antara masyarakat dan perusahaan perkebunan/pertambangan. Banyak desa yang terkurung dalam kawasan hutan lindung atau HGU perusahaan. DPD RI memposisikan diri sebagai pembela hak rakyat.
Senator Bengkulu aktif mengawal program Perhutanan Sosial dan TORA (Tanah Objek Reforma Agraria). Mereka memastikan bahwa masyarakat adat dan petani kecil mendapatkan akses legal untuk mengelola hutan desa, sehingga mereka dapat hidup sejahtera tanpa harus menjadi kriminal di tanah leluhur sendiri.
5. Peningkatan Kualitas SDM dan Kesehatan
Isu stunting masih menjadi pekerjaan rumah di beberapa kabupaten seperti Seluma dan Kaur. Senator DPD RI terus menyuarakan pentingnya alokasi anggaran khusus untuk intervensi gizi dan sanitasi. Melalui kemitraan dengan Kementerian Kesehatan, DPD mengawal distribusi alat kesehatan ke Puskesmas di daerah pelosok.
Di bidang pendidikan, perjuangan difokuskan pada kuota beasiswa KIP-Kuliah dan peningkatan status guru honorer. Senator Bengkulu menyadari bahwa investasi infrastruktur fisik akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan pembangunan manusia yang unggul.
6. Sinergi Politik: Momentum Putra Daerah
Terpilihnya Sultan B. Najamudin sebagai Ketua DPD RI adalah momentum emas. Posisi strategis ini memungkinkan aspirasi Bengkulu didengar langsung di meja-meja pengambilan keputusan tertinggi negara. Namun, keberhasilan ini harus didukung oleh kekompakan seluruh elemen daerah.
Para senator DPD RI secara rutin menggelar pertemuan dengan Gubernur Bengkulu dan DPRD Provinsi untuk menyelaraskan "Daftar Inventarisasi Masalah" (DIM) daerah. Sinergi ini memastikan bahwa usulan pembangunan yang dibawa ke Musrenbangnas adalah usulan yang benar-benar prioritas dan mendesak.
7. Transparansi di Era Digital
Situs dpdbengkulu.com ini hadir sebagai wujud akuntabilitas publik. Di era keterbukaan informasi, masyarakat berhak tahu apa yang dikerjakan wakilnya di Jakarta. Portal ini menyediakan akses terhadap dokumen kinerja, jadwal reses, hingga fitur pengaduan online.
Kami mengajak masyarakat Bengkulu untuk aktif menggunakan fitur "Rumah Aspirasi". Laporkan jalan rusak, kelangkaan pupuk, atau masalah pelayanan publik. Setiap laporan adalah amunisi bagi senator untuk "menggedor" pintu kementerian terkait.
Kesimpulan
Bengkulu sedang bergerak menuju era baru. Tantangan geografis perlahan diatasi, potensi ekonomi mulai dibuka, dan posisi politik semakin kuat. Keempat senator DPD RI perwakilan Bengkulu berkomitmen untuk mewakafkan diri demi kemajuan Bumi Rafflesia.
Mari kita rapatkan barisan. Dengan semangat Sekundang Setungguan (Gotong Royong), kita bangun Bengkulu yang maju, sejahtera, dan bermartabat. Suara Anda adalah kekuatan kami.