Tugas Untuk Uts
Tugas Untuk Uts
SMK Negeri 2 Surabaya, Jl. Jl. Tentara Genie Pelajar No.26, Kec. Sawahan,
Surabaya, E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Clasroom Action research) yang bertujuan
meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila murid kelas X TITL 3 SMK NEGERI 2
SURABAYA melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Subjek penelitian ini adalah
murid kelas kelas X TITL 3 pada semester genap tahun pelajaran 2022/2023 yang terdiri
dari
36 murid. Penelitian dilaksanakan dua siklus yang terdiri dari empat kegiatan, yaitu:
perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pada post test I dilaksanakan
selama satu kali pertemuan dan pada siklus dua dilaksanakan selama satu kali pertemuan.
Pengumpulan data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan lembar kerja peserta didik
(LKPD) berbasis project based learning, lembar observasi dan tes akhir belajar pada akhir
post test I dan post test II. Hasil belajar post test I menunjukkan bahwa ketuntasan hasil
belajar murid sudah ada kenaikan. bahwa presentase ketuntasan hasil belajar murid sudah
88% (32 murid) dan murid yang belum tuntas mencapai 11% (4 murid). Pada post test 1
menunjukkan terjadinya peningkatan terhadap hasil belajar murid dalam pembelajaran.
Ketuntasan hasil belajar meningkat dari yang semula hanya 32 murid tuntas dengan
prosentase 88%. Pada post test II meningkat menjadi 100% (semua murid berhasil mencapai
nilai diatas kriteria yang telah ditentukan). Pada pembelajaran post test II dengan penerapan
pembelajaran berdiferensiasi, murid nampak tertarik dan lebih aktif dalam pembelajaran. Hal
ini terlihat dari presentase keaktifan murid mengalami kenaikan menjadi 100% pada post test
II. Dengan demikian dari hasil observasi pada post test II penerapan pembelajaran
berdiferensiasi sudah mencapai kriteria keberhasilan peningkatan dalam hal hasil belajar
melalui
Kata kunci : Hasil Belajar, Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi, Project Based Learning
BAB I
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan perwujudan upaya untuk merealisasikan salah satu tujuan nasional
bangsa Indonesia yang tercantum pada Pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) Tahun 1945
yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa, “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didiksecara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara”.
Untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan tentunya banyak permasalahan baik moril
maupun materiil yang perlu dipecahkan bersama baik oleh guru yang secara langsung
berhubungan dengan peserta didik maupun pemerintah yang bertanggung jawab atas
terselenggaranya pendidikan sebagai upaya untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional.
Sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya peserta didik, guru sebagai
orang tua multi fungsi atau orang tua disekolah berkewajiban memberikan pemecahan terhadap
permasalahan peserta didik khususnya dalam prestasi atau hasil belajar yang selama ini menjadi
momok yang menakutkan bagi peserta didik dengan standart yang ditentukan oleh pemerintah
setiap tahunya.
Peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari pembelajaran karena pembelajaran berkualitas
dan mengoptimalkan hasil belajar murid yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas
pendidikan. Pendidikan berkualitas yang diharapkan adalah pendidikan yang mampu
menghasilkan manusia yang berkemampuan tinggi dalam mencari solusi dari berbagai
permasalahan yang dihadapi. Kualitas pendidikan perlu mendapat perhatian khusus dari para
guru. Perlu ada perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar murid dan interaksi antara
murid dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan peserta didik yang sesuai dengan
tujuan
pembelajaran dan lebih menekankan pada peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki
potensi untuk belajar dan berkembang.
Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diselenggarakan di
setiap jenjang pendidikan. Pendidikan Pancasila juga merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosial kultur, bahasa, usia,
dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter
sebagaimana yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Secara lebih jelas, amanah
undang-undang tersebut tercantum dalam visi dan misi Pendidikan Pancasila yang dijadikan
pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajarannya. Visi dan misi tersebut secara lebih jelas
dijabarkan dalam tujuan sebagai berikut :
1. Agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam
menanggapi isu Pancasila dan Kewarganegaraan.
2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam
kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-
karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainya.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau
tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (BSNP,
2006:155- 156)
Pendidikan memiliki peranan penting bagi perkembangan setiap individu. Pendidikan yang
berkualitas akan mencetak masyarakat yang maju, damai dan mengarah kepada sifat-sifat yang
konstruktif. Hal ini tentunya menjadi fokus pemerintah sehingga memunculkan berbagai konsep
perubahan kurikulum yang dilakukan untuk menyesuaikan kondisi yang ada saat ini (Faiz et al.,
2022). Salah satunya dengan munculnya kurikulum paradigma baru. Pembelajaran paradigma
baru memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk merumuskan rancangan pembelajaran dan
asesmen sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran paradigma baru
memastikan praktik pembelajaran supaya berpusat pada peserta didik. Pembelajaran merupakan
satu siklus yang berawal dari pemetaan standar kompetensi, perencanaan proses pembelajaran,
dan pelaksanaan asesmen untuk memperbaiki pembelajaran sehingga peserta didik dapat
mencapai kompetensi yang diharapkan (Kemdikbud, 2021).
Salah satu cara pembelajaran paradigma baru yang berpusat pada murid yaitu dengan
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Dalam upaya meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah murid, guru harus mampu membedakan intruksi pembelajaran di kelas. Pada dasarnya
setiap murid memiliki perbedaan dalam hal kemampuan, minat, latar belakang kebudayaan dan
gaya belajar. Salah satu strategi pembelajaran yang bisa memenuhi kebutuhan belajar murid yang
mempunyai kemampuan beragam yaitu pembelajaran diferensiasi (Differentiated Teaching) atau
mendiferensiasikan pengajaran. Istilah lain dari Differentiated Teaching adalah Differentiated
Instruction atau Differentiated Learning yang dicetuskan oleh Carol Ann Tomlinson.
Oleh sebab itu, guru harus mampu menjadi master Differentiated instruction (pembelajaran
berdiferensisi) untuk memenuhi kebutuhan murid, memulihkan atau mempercepat instruksi, dan
untuk menyediakan kesempatan belajar dan tumbuh bagi semua murid. Menurut Corley (dalam
Evi Lailiyah 2016 : 55) pembelajaran diferensiasi (Differentiated Instruction) merupakan
pendekatan yang mengizinkan guru untuk merencanakan strategi untuk memenuhi kebutuhan
dari setiap murid. Champan dan King (dalam Sion Stepani Simanjuntak dan Tanti Listiani 2020 :
135) mengemukakan bahwa pembelajaran diferensiasi (Differentiated Instruction) adalah
pembelajaran yang terdiferensiasi yang berdasarkan pada keberagaman kesiapan (readiness),
profil belajar murid (learning profile), dan ketertarikan (interest). Menurut Adriany (dalam
Lailiyah 2016 : 55) mengemukakan pembelajaran diferensiasi (Differentiated Instruction) adalah
teori pembelajaran yang berdasarkan premis bahwa pendekatan instruksional harus berdasarkan
perbedaan karakteristik individu dalam kelas yang merespon kebutuhan pesesta didik.
Pembelajaran diferensiasi (Differentiated instruction) bukanlah suatu program, metode,
atau strategi. Ini adalah cara berpikir, sebuah filosofi bagaimana menanggapi perbedaan murid.
Menurut Heacox (dalam Candra Ditasona 2017 : 45) pembelajaran diferensiasi secara khusus
merespon kemajuan belajar murid secara berkelanjutan, apa yang telah mereka ketahui dan apa
yang mereka pelajari. Jika diumpamakan dengan menu makanan, di dalam pembelajaran
diferensiasi setiap individu akan mendapatkan menu pembelajaran yang sesuai dengan selera
mereka. Pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga murid dapat menikmati menu
pembelajaran yang merekai sukai, dan tetap tidak kekurangan nutrisi atau tujuan pembelajaran
yang harus dicapai. Berdasarkan pada karakteristik murid, Tomlinson (dalam Candra Ditasona
2017 : 45) mengemukakan bahwa pembelajaran diferensiasi dapat dilakukan dengan tiga hal
yaitu : (1) kesiapan belajar → apabila tugas yang diberikan guru sesuai dengan kemampuan
murid, (2) profil
belajar → apabila tugas yang diberikan guru mampu mendorong murid untuk belajar dengan
cara yang disukainya, (3) minat → apabila tugas yang diberikan guru mampu meransang rasa
ingin tahu dan gairah belajar murid.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu bentuk usaha dalam serangkaian
pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan peserta didik dari segi kesiapan belajar, profil
belajar peserta didik, minat dan bakatnya (Tomlinson, 2001). Ada tiga pendekatan dalam
pembelajaran berdiferensiasi yaitu dari konten, proses dan produk. 1) Diferensiasi konten
merupakan apa yang dipelajari oleh peserta didik , berkaitan kurikulum dan materi pembelajaran.
2) Diferensiasi proses merupakan cara peserta didik mengolah ide dan informasi, yaitu
mencakup bagaimana peserta didik memilih gaya belajarnya 3) Diferensiasi produk yaitu peserta
didik menunjukkan apa saja yang telah dipelajari (Wasih dkk., 2020).
Berdasarkan uraian diatas penulis merasa perlu untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi
pada pelajaran Pendidikan Pancasila pada materi Bhinneka Tunggal Ika. Makna dari Bhinneka
Tunggal Ika dalam konteks Persatuan Indonesia adalah bahwa meskipun Indonesia terdiri dari
berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang berbeda-beda,
namun keseluruhannya tetap merupakan satu persatuan. Materi Bhinneka Tunggal Ika
merupakan topik yang tergolong abstrak, sehingga membutuhkan beragam sumber dan media
agar peserta didik mendapatkan beragam informasi. Maka dalam penelitian ini penulis
mengangkat masalah tersebut dalam sebuah Penelitian Tindakan Kelas dengan judul
“Penerapan Pembelajaran
Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Pancasila Pokok Bahasan Bhinneka Tunggal Ika Pada Kelas X TITL 3 SMK Negeri 2 Surabaya
Tahun Pelajaran 2023-2024”
Dari permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini dapat disusun satu rumusan masalah
sebagai berikut: “Bagaimana Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Murid Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Pokok Bahasan Bhinneka
Tunggal Ika Pada Kelas X TITL 3 SMK Negeri 2 Surabaya Tahun Pelajaran 2023-2024?”
Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang telah
kami laksanakan, semoga dapat memberi beberapa manfaat antara lain:
a. Bagi murid
Untuk memberikan sumbangan yang positif bagi kemajuan sekolah khususnya dalam
pembelajaran Pendidikan Pancasila
BAB II
Menurut Kemmis (1983) PTK adalah sebuah bentuk reflektif yang dilakukan
secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan)
(Ekawarna, 2013:5). Sedangkan, Ebbutt (1985), PTK adalah kajian sistematik dari
upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan
melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mereka
mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut. PTK merupakan penelitian yang
dilakukan melalui refleksi diri. PTK bertujuan untuk memperbaiki atau
meningkatkan mutu praktik pembelajaran. PTK merupakan ragam penelitian
pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk
memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru,
memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru
pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.
Menurut Mulyasa (2008), hasil belajar ialah prestasi belajar murid secara keseluruhan
yang menjadi indikator kompetensi dan derajat perubahan prilaku yang bersangkutan.
Kompetensi yang harus dikuasai murid perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat
dinilai sebagai wujud hasil belajar murid yang mengacu pada pengalaman langsung.
Fungsi Hasil Belajar Menurut Suryabrata “2001” mengemukakan beberapa fungsi
penilaian dalam proses pendidikan yaitu:
1. Dasar Psikologis.
Secara psikologis seseorang butuh mengetahui sudah sampai sejauh mana ia
berhasil mencapai tujuannya, masalah kebutuhan psikologis akan pengetahuannya
mengenai hasil usaha yang telah dilakukannya 8 dapat ditinjau dari dua sisi yaitu
dari segi anak didik dan dari segi pendidik. Dari Segi Anak Didik Seorang anak
dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya seringkali berpedoman pada orang
dewasa, dengan adanya pendapat guru mengenai hasil belajar telah diperoleh maka
anak merasa mempunyai pegangan, pedoman dan hidup dalam kepastian. Selain
itu seoranga anak juga butuh mengetahui statusnya di hadapan teman-temannya,
tergolong apakah dia “apakah anak yang pintar sedang dan sebagainya” juga
terkadang dia membutuhkan membandingkan dengan teman-temannya dan alat
paling baik untuk melihat ini ialah pendapat pendidik “khususnya guru” terhadap
kemajuan mereka. - Dari Segi Pendidik Seorang pendidik yang profesional butuh
mengetahui hasil-hasil usahanya sebagai pedoman dalam menjalankan usaha-usaha
lebih lanjut.
2. Dasar Didaktis Adapun dasar didaktis diantaranya yaitu:
Dari Segi Anak Didik Pengetahuan akan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai
pada umumnya berpengaruh baik terhadap prestasi selanjutnya, selain itu dengan
adanya tes hasil belajar, murid dapat juga mengetahui kelebihan kelemahan yang
dimilinya sehingga murid dapat mempergunakan pengetahuannya untuk
memajukan prestasinya. Dari Segi Pendidik Dengan adanya tes hasil belajar, maka
seorang guru juga dapat mengetahuai sejauh mana kelemahan dan kelebihan dalam
pengajarannya. Mengetahui kelebihan dan kekurang dalam pengajarannya akan
menjadi modal bagi guru untuk menentukan usaha-usaha selanjutnya. Selain itu tes
hasil belajar juga berfungsi membantu guru dalam menilai kesiapan anak didik,
mengetahui 9 status anak dalam kelasnya, membantu guru menentukan murid
dalam pembentukan kelompok, membantu guru dalam memperbaiki metode
mengajarnya dan membantu guru dalam memberikan materi pelajaran tambahan.
3. Dasar Administratif Memberikan data untuk dapat menentukan status murid di
kelasnya. Memberikan iktisar mengenai segala hasil usaha yang dilakukan oleh
sebuah lembaga pendidikan. Merupakan inti laporan kemajuan belajar murid
terhadap orang tuas atau walinya.
2.3 Pembelajaran Berdiferensiasi
Minat adalah salah satu motivator penting bagi peserta didik untuk terlibat aktif
dalam proses pembelajaran. Menurut Tomlinson (dalam Suwartiningsih, 2021:
83) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat peserta didik dalam
merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya:
a. Membantu peserta didik menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah
dan keinginan mereka sendiri untuk belajar
b. Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran,
c. Profil belajar Tujuan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan profil belajar
adalah untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara
natural 22 dan efisien. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar
peserta didik ini merupakan pendekatan yang disukai peserta didik untuk
belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar
belakang, jenis kelamin, dan lain-lain. Menurut Tomlinson dalam jurnal
(Suwartiningsih, 2021), terdapat faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran
seseorang yaitu
1. Visual : belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik
organisator)
2. Auditori : belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras,
mendengarkan musik)
3. Kinestetik : belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh
dan lain-lain)
1. Diferensiasi Konten, yaitu apa yang perlu dipelajari peserta didik atau
bagaimana peserta didik akan mendapatkan akses ke informasi,
2. Diferensiasi Proses, yaitu kegiatan dimana peserta didik terlibat untuk
memahami atau menguasai konten,
3. Diferensiasi Produk, yaitu proyek tepat yang meminta peserta didik untuk
berlatih, menerapkan dan memperluas apa yang telah dipelajari dalam sebua
unit. Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam
mengkaterogikan kebutuhan belajar peserta didik, maka dapat disimpulkan
bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari
pembelajaran peserta didik 23 diperlukan pembelajaran yang dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.
Keterangan:
X1 = Nilai pretests (Sebelum dilakukan perlakuan)
X = Perlakuan (Metode diferensiasi)
X2 = Nilai posttest (Setelah diberikan perlakuan)
Model eksperimen ini melalui tiga langkah yaitu:
(X) adalah variable yang mempengaruhi. Sedangkan variable terikat (Y) adalah
variable yang timbul akibat variable bebas atau respon dari variable bebas dan
lebih dikenal variable yang dipengaruhi.
a. Variable bebas/independen variable (X) : Penerapan metode berdiferensiasi
3. Mengajukan permohonan izin kepada kepala sekolah, komite, dan wali murid.
7. Menyusun instrumen penelitian untuk proses pengumpulan data yang terdiri dari
lembar penilaian dan observasi.
8. Menentukan fokus observasi dan aspek–aspek yang akan diamati sebagai
pedoman lembar observasi.
9. Mengidentifikasi dan merumuskan permasalahan, sekaligus mempersiapkan
media dan sumber belajar untuk pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.
B. Tahapan Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Dalam tahap refleksi, kegiatan yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyuluruh
tindakan yang telah dilakukan. Pada tahap ini penulis melakukan penilaian evaluasi,
analisis hasil belajar, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila hasil
belajar siswa masih rendah maka dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya
PERMAINAN
1. Permainan dapat menjadi medium pembelajaran sosial
emosional yang baik. Permainan memunculkan berbagai
emosi dalam diri murid. Setelah permainan usai, guru dapat
melakukan refleksi dengan mendiskusikan emosi mereka yang
muncul. Dalam skenario pembelajaran ini, guru dapat
mengajak murid mengingat kembali pengetahuan sebelumnya
dengan kuis (kesadaran diri). Kegiatan kuis yang dibawakan
dengan menarik (memperhatikan bentuk soal, penyajian
pertanyaan, pengaturan waktu, sistem menjawab, dll) dapat
membantu mengembangkan fokus dalam mengikuti
pembelajaran)
2. Guru juga dapat melibatkan murid dengan meminta feedback
tentang apa yang dapat dilakukan untuk membuat kuis yang
lebih baik lagi. Usaha guru menanyakan umpan balik pada
murid dapat melibatkan murid dalam kegiatan pembelajaran
di dalam kelas. (Kesadaran diri dan Pengambilan
Keputusan
yang Bertanggung Jawab)
Kegiatan Inti Tahap–1: Stimulation (stimullasi/pemberian
rangsangan KEGIATAN LITERASI)
KEGIATAN LITERASI
Tahap–6 : COMMUNICATION
Pada tahap ini, peneliti mengamati dan mencatat semua data dan informasi dalam
proses pembelajaran selama penelitian tindakan berlangsung, sehingga dapat
mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan yang telah dibuat
atau
belum. Pada tahap ini dilaksanakan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
ketercapaian hasil belajar muridyang diharapkan pada pembelajaran tersebut.
d. Tahapan Refleksi (Reflecting)
Dalam tahap refleksi, kegiatan yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyuluruh
tindakan yang telah dilakukan. Pada tahap ini penulis melakukan penilaian evaluasi,
analisis hasil belajar, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila hasil
belajar murid masih rendah maka dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya.
Guru melakukan pemetaan murid sesuai dengan gaya belajar melalui media google
form untuk dijawab murid sehingga dapat menentukan kelompok belajar yang sesuai
dengan minat dan kebutuhan belajar peserta didik
d. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan dan data yang sudah ada atau telah di dokumentasikan
oleh guru.
7. Analisis Data
Tuntas
1 ACHMAD 60 √
BUDIONO
2 ACHMAD 60 √
NASHRULLOH
3 ADIKA 60 √
MARZUKI
ILHAM NITYA
4 AHMAD BAGUS 70 √
PUTRA
PRATAMA
5 AHMAD 60 √
RAHMATULLOH
6 AHMAD YANI 60 √
AFRIZA
7 ALIEF YUNAS 60 √
AL - FIKHORONI
8 ARRASYA 80 √
DAFFA
NOVARIYAN
9 AVILLA 60 √
DAVINE
HAFIEZA
10 BAGAS DWI 60 √
LAKSONO
11 CHOIRU 60 √
ROZIKIN
12 DAVA RIZQI 60 √
ZARVIANTO
13 EXCELDI 60 √
RASYA PUTRA
14 FIQIH 85 √
RAMADHAN
15 HIKMAH 60 √
REHAN
ARIANTO
16 IKHSAN 60 √
RAMADHAN
17 JERRICO 60 √
REYMADA
HUSEIN
NURODIN
18 MAULANA 60 √
SYUHADA
IBRAHIM
19 MICHAEL 80 √
PUTRA OKTO
PRIYONO
20 MOCHAMMAD 60 √
ARDIANSYAH
TRI
WICAKSONO
21 MUHAMAD 60 √
RISAL DWI
PUTRA
22 NOVAL DIMAS 60 √
ARIANTO
23 RADITYA 60 √
PUTRA
REFIANSYAH
PRATAMA
24 RAFLY 60 √
ARFIANZA
25 RAIHAN YOGA 60 √
NARENDRA
26 RAYHAN RIZKY 60 √
RAMADHAN
27 RENNO BAGUS 60 √
SETIAWAN
28 REVALDY 60 √
PRAMANA
PUTRA
29 REVANCHA 60 √
SEPTA
KURNIAWAN
30 REZA ANDI 60 √
SAPUTRA
31 RIZKY ZIDANE 60 √
PUTRAWAN
32 SALFA DWI 60 √
ACHMAD
SEPTIAN
33 SATRIO INDRA 60 √
SYAHPUTRA
34 SEPTIAN DWI 80 √
PUTRA
35 SHEVA 70 √
ZAIDANE
WAHYUDI
36 YUSRIL WAHID 60 √
Jumlah Nilai = 2265
Rata-rata nilai = 62,91
Nilai KKM = 70
Tuntas
1 ACHMAD √
85
BUDIONO
2 ACHMAD √
85
NASHRULLOH
3 ADIKA √
MARZUKI
85
ILHAM NITYA
4 AHMAD BAGUS √
PUTRA
85
PRATAMA
5 AHMAD √
88
RAHMATULLOH
6 AHMAD YANI √
88
AFRIZA
7 ALIEF YUNAS √
90
AL - FIKHORONI
8 ARRASYA √
DAFFA
95
NOVARIYAN
9 AVILLA √
DAVINE
85
HAFIEZA
10 BAGAS DWI √
75
LAKSONO
11 CHOIRU √
75
ROZIKIN
12 DAVA RIZQI √
85
ZARVIANTO
13 EXCELDI √
75
RASYA PUTRA
14 FIQIH √
80
RAMADHAN
15 HIKMAH √
REHAN
85
ARIANTO
16 IKHSAN √
85
RAMADHAN
17 JERRICO √
REYMADA
HUSEIN 85
NURODIN
18 MAULANA √
SYUHADA
85
IBRAHIM
19 MICHAEL √
PUTRA OKTO
95
PRIYONO
20 MOCHAMMAD √
ARDIANSYAH
TRI 85
WICAKSONO
21 MUHAMAD √
RISAL DWI
88
PUTRA
22 NOVAL DIMAS √
85
ARIANTO
23 RADITYA √
PUTRA
REFIANSYAH 85
PRATAMA
24 RAFLY √
85
ARFIANZA
25 RAIHAN YOGA √
85
NARENDRA
26 RAYHAN RIZKY √
85
RAMADHAN
27 RENNO BAGUS √
85
SETIAWAN
28 REVALDY √
PRAMANA
85
PUTRA
29 REVANCHA √
SEPTA
85
KURNIAWAN
30 REZA ANDI √
95
SAPUTRA
31 RIZKY ZIDANE √
85
PUTRAWAN
32 SALFA DWI √
ACHMAD
88
SEPTIAN
33 SATRIO INDRA √
85
SYAHPUTRA
34 SEPTIAN DWI √
95
PUTRA
35 SHEVA √
ZAIDANE
85
WAHYUDI
36 YUSRIL WAHID 75 √
Jumlah Nilai = 3092
Rata-rata nilai = 85,05
Nilai KKM = 70
1 ACHMAD BUDIONO 60 85
2 ACHMAD NASHRULLOH 60 85
3 ADIKA MARZUKI ILHAM NITYA 60 85
4 AHMAD BAGUS 70 85
5 AHMAD RAHMATULLOH 60 88
6 AHMAD YANI 60 88
7 ALIEF YUNAS 60 90
8 ARRASYA DAFFA 80 95
9 AVILLA DAVINE 60 85
10 BAGAS DWI LAKSONO 60 75
11 CHOIRU ROZIKIN 60 75
12 DAVA RIZQI ZARVIANTO 60 85
13 EXCELDI RASYA PUTRA 60 75
14 FIQIH RAMADHAN 85 80
15 HIKMAH REHAN 60
85
ARIANTO
16 IKHSAN RAMADHAN 60 85
17 JERRICO REYMADA 60
85
HUSEIN
18 MAULANA SYUHADA 60 85
19 MICHAEL PUTRA 80 85
20 MOCHAMMAD ARDIANSYAH 60
85
TRI
21 MUHAMAD RISAL 60 85
22 NOVAL DIMAS ARIANTO 60 85
23 RADITYA PUTRA 60
95
REFIANSYAH
24 RAFLY ARFIANZA 60 85
25 RAIHAN YOGA NARENDRA 60 88
26 RAYHAN RIZKY 60 85
27 RENNO BAGUS SETIAWAN 60 85
28 REVALDY PRAMANA 60
85
PUTRA
29 REVANCHA SEPTA 60 85
30 REZA ANDI 60 85
31 RIZKY ZIDANE 60 85
Uji paired sample t test atau disebut juga dengan uji dua sampel uji
paired dua sampel yang berpasangan untuk mengetahui perbedaan rata-rata
(mean) dari dua sampel yaitu pretest dan posttest yang berpasangan dengan
syarat bahwa data berdistribusi normal, di mana dengan mengetahui
perbedaan rata-rata (mean) dari dua sampel yang berpasangan (pretest dan
posttest) pada kelas eksperimen akan diketahui pengaruh signifikan
penggunaan metode pembelajaran berdiferensiasi terhadap hasil belajar
Pendidikan Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika siswa kelas X TITL 3
SMK Negeri 2 Surabaya Tahun Akademik 2023/2024 yang dihitung dan
dianalisis dengan menggunakan SPSS 26.0 for windows yang berpasangan
untuk mengetahui:
a) Apakah terdapat perbedaan rata-rata (mean) dari dua sampel yang
berpasangan dengan syarat bahwa data berdistribusi normal
b) Berguna untuk menjawab rumusan masalah apakah terdapat pengaruh
yang signifikan terdapat pengaruh signifikan penggunaan metode
pembelajaran berdiferensiasi terhadap hasil belajar Pendidikan
Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika siswa kelas X TITL 3 SMK
Negeri 2 Surabaya
Uji paired sample t test dilakukan untuk melihat ada tidaknya
perbedaan pada hasil pretest dan posttest siswa dari kelas eksperimen.
Hasil perhitungan uji hipotesis pretest dan posttest dapat dilihat pada tabel
berikut:
T-Test
Notes
Output Created 28-SEP-2024 21:47:19
Comments
[DataSet0]
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 Sebelum diberikan 62.9167 36 7.00765 1.16794
diferensiasi
Setelah diberikan diferensiasi 85.0556 36 4.73856 .78976
Berdasarkan output Pair 1 diperoleh nilai sig.(2 tailed) sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar Pendidikan Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika pada siswa
kelas X TITL 3 Tahun Akademik 2023/2024 untuk pretest dan posttest pada kelas eksperimen. Hasil analisis
statistik inferensial dengan menggunakan rumus uji t, dapat diketahui bahwa nilai t tabel sebesar -16.364.
H0: Tidak terdapat perbedaan Hasil pembelajaran antara sebelum dan sesudah menggunakan metode
pembelajaran berdiferensiasi
H1: Terdapat perbedaan Hasil pembelajaran antara sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran
berdiferensiasi
Jika sig>0,05 maka H0 diterima
Jika sig<0,05, maka H0 ditolak
0,00<0,05 artinya H0 ditolak. Terdapat perbadeaan hasil pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan
media canva
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Saran yang dapat diambil dari hasil penelitian ini, bagi murid yang hasil belajarnya sudah
mencapai ketuntasan dan aktif dalam pembelajaran untuk dapat mempertahankan atau
meningkatkan hasil belajarnya. Kemudian bagi guru, penerapan pembelajaran berdiferensiasi
sebaiknya digunakan pada pembelajaran PPKN karena terbukti mampu meningkatkan hasil
belajar, memberikan motivasi serta membangkitkan semangat belajar murid yang akhirnya dapat
meningkatkan hasil belajar murid. Pemberian penguatan kesimpulan disetiap akhir pelajaran
lebih ditekankan kembali supaya membuat murid lebih memahami materi yang disampaikan oleh
guru dan menciptakan suasana kelas yang menarik disetiap pembelajaran, Misalnya membuat
media pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga akan tercipta suasana kelas yang
menyenangkan. Selanjutnya, bagi sekolah agar dapat menyediakan sarana dan prasarana sebagai
pendukung dalam proses kegiatan belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA