0% fanden dieses Dokument nützlich (0 Abstimmungen)
39 Ansichten63 Seiten

Tugas Untuk Uts

TUGAS UNTUK UTS

Hochgeladen von

Laila Vika Safitri
Copyright
© © All Rights Reserved
Wir nehmen die Rechte an Inhalten ernst. Wenn Sie vermuten, dass dies Ihr Inhalt ist, beanspruchen Sie ihn hier.
Verfügbare Formate
Als DOCX, PDF, TXT herunterladen oder online auf Scribd lesen
0% fanden dieses Dokument nützlich (0 Abstimmungen)
39 Ansichten63 Seiten

Tugas Untuk Uts

TUGAS UNTUK UTS

Hochgeladen von

Laila Vika Safitri
Copyright
© © All Rights Reserved
Wir nehmen die Rechte an Inhalten ernst. Wenn Sie vermuten, dass dies Ihr Inhalt ist, beanspruchen Sie ihn hier.
Verfügbare Formate
Als DOCX, PDF, TXT herunterladen oder online auf Scribd lesen

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

“PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MURID PADAMATA PELAJARAN
PENDIDIKAN PANCASILA POKOK BAHASAN BHINNEKA TUNGGAL IKA
PADA KELAS X TITL 3

“SMK NEGERI 2 SURABAYA TAHUN PELAJARAN 2023-2024”

Disusun oleh Kelompok 2

Nama Anggota Kelompok :


1.Eka Mia
NIM.
2.Laila Vika Safitri
NIM. 24041965003
3.Rima Ristiarni
NIM.24041965002
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR MURID PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN
PANCASILA
POKOK BAHASAN BHINNEKA TUNGGAL IKA PADA KELAS X TITL 3
SMK NEGERI 2 SURABAYA TAHUN PELAJARAN 2023-2024

SMK Negeri 2 Surabaya, Jl. Jl. Tentara Genie Pelajar No.26, Kec. Sawahan,
Surabaya, E-mail: [email protected]
ABSTRAK

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Clasroom Action research) yang bertujuan
meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila murid kelas X TITL 3 SMK NEGERI 2
SURABAYA melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Subjek penelitian ini adalah
murid kelas kelas X TITL 3 pada semester genap tahun pelajaran 2022/2023 yang terdiri
dari
36 murid. Penelitian dilaksanakan dua siklus yang terdiri dari empat kegiatan, yaitu:
perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pada post test I dilaksanakan
selama satu kali pertemuan dan pada siklus dua dilaksanakan selama satu kali pertemuan.
Pengumpulan data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan lembar kerja peserta didik
(LKPD) berbasis project based learning, lembar observasi dan tes akhir belajar pada akhir
post test I dan post test II. Hasil belajar post test I menunjukkan bahwa ketuntasan hasil
belajar murid sudah ada kenaikan. bahwa presentase ketuntasan hasil belajar murid sudah
88% (32 murid) dan murid yang belum tuntas mencapai 11% (4 murid). Pada post test 1
menunjukkan terjadinya peningkatan terhadap hasil belajar murid dalam pembelajaran.
Ketuntasan hasil belajar meningkat dari yang semula hanya 32 murid tuntas dengan
prosentase 88%. Pada post test II meningkat menjadi 100% (semua murid berhasil mencapai
nilai diatas kriteria yang telah ditentukan). Pada pembelajaran post test II dengan penerapan
pembelajaran berdiferensiasi, murid nampak tertarik dan lebih aktif dalam pembelajaran. Hal
ini terlihat dari presentase keaktifan murid mengalami kenaikan menjadi 100% pada post test
II. Dengan demikian dari hasil observasi pada post test II penerapan pembelajaran
berdiferensiasi sudah mencapai kriteria keberhasilan peningkatan dalam hal hasil belajar
melalui
Kata kunci : Hasil Belajar, Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi, Project Based Learning
BAB I

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan perwujudan upaya untuk merealisasikan salah satu tujuan nasional
bangsa Indonesia yang tercantum pada Pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) Tahun 1945
yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa, “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didiksecara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara”.

Untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan tentunya banyak permasalahan baik moril
maupun materiil yang perlu dipecahkan bersama baik oleh guru yang secara langsung
berhubungan dengan peserta didik maupun pemerintah yang bertanggung jawab atas
terselenggaranya pendidikan sebagai upaya untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional.
Sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya peserta didik, guru sebagai
orang tua multi fungsi atau orang tua disekolah berkewajiban memberikan pemecahan terhadap
permasalahan peserta didik khususnya dalam prestasi atau hasil belajar yang selama ini menjadi
momok yang menakutkan bagi peserta didik dengan standart yang ditentukan oleh pemerintah
setiap tahunya.

Peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari pembelajaran karena pembelajaran berkualitas
dan mengoptimalkan hasil belajar murid yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas
pendidikan. Pendidikan berkualitas yang diharapkan adalah pendidikan yang mampu
menghasilkan manusia yang berkemampuan tinggi dalam mencari solusi dari berbagai
permasalahan yang dihadapi. Kualitas pendidikan perlu mendapat perhatian khusus dari para
guru. Perlu ada perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar murid dan interaksi antara
murid dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan peserta didik yang sesuai dengan
tujuan
pembelajaran dan lebih menekankan pada peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki
potensi untuk belajar dan berkembang.

Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diselenggarakan di
setiap jenjang pendidikan. Pendidikan Pancasila juga merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosial kultur, bahasa, usia,
dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter
sebagaimana yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Secara lebih jelas, amanah
undang-undang tersebut tercantum dalam visi dan misi Pendidikan Pancasila yang dijadikan
pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajarannya. Visi dan misi tersebut secara lebih jelas
dijabarkan dalam tujuan sebagai berikut :

1. Agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam
menanggapi isu Pancasila dan Kewarganegaraan.
2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam
kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-
karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainya.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau
tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (BSNP,
2006:155- 156)

Pendidikan memiliki peranan penting bagi perkembangan setiap individu. Pendidikan yang
berkualitas akan mencetak masyarakat yang maju, damai dan mengarah kepada sifat-sifat yang
konstruktif. Hal ini tentunya menjadi fokus pemerintah sehingga memunculkan berbagai konsep
perubahan kurikulum yang dilakukan untuk menyesuaikan kondisi yang ada saat ini (Faiz et al.,
2022). Salah satunya dengan munculnya kurikulum paradigma baru. Pembelajaran paradigma
baru memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk merumuskan rancangan pembelajaran dan
asesmen sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran paradigma baru
memastikan praktik pembelajaran supaya berpusat pada peserta didik. Pembelajaran merupakan
satu siklus yang berawal dari pemetaan standar kompetensi, perencanaan proses pembelajaran,
dan pelaksanaan asesmen untuk memperbaiki pembelajaran sehingga peserta didik dapat
mencapai kompetensi yang diharapkan (Kemdikbud, 2021).
Salah satu cara pembelajaran paradigma baru yang berpusat pada murid yaitu dengan
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Dalam upaya meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah murid, guru harus mampu membedakan intruksi pembelajaran di kelas. Pada dasarnya
setiap murid memiliki perbedaan dalam hal kemampuan, minat, latar belakang kebudayaan dan
gaya belajar. Salah satu strategi pembelajaran yang bisa memenuhi kebutuhan belajar murid yang
mempunyai kemampuan beragam yaitu pembelajaran diferensiasi (Differentiated Teaching) atau
mendiferensiasikan pengajaran. Istilah lain dari Differentiated Teaching adalah Differentiated
Instruction atau Differentiated Learning yang dicetuskan oleh Carol Ann Tomlinson.

Oleh sebab itu, guru harus mampu menjadi master Differentiated instruction (pembelajaran
berdiferensisi) untuk memenuhi kebutuhan murid, memulihkan atau mempercepat instruksi, dan
untuk menyediakan kesempatan belajar dan tumbuh bagi semua murid. Menurut Corley (dalam
Evi Lailiyah 2016 : 55) pembelajaran diferensiasi (Differentiated Instruction) merupakan
pendekatan yang mengizinkan guru untuk merencanakan strategi untuk memenuhi kebutuhan
dari setiap murid. Champan dan King (dalam Sion Stepani Simanjuntak dan Tanti Listiani 2020 :
135) mengemukakan bahwa pembelajaran diferensiasi (Differentiated Instruction) adalah
pembelajaran yang terdiferensiasi yang berdasarkan pada keberagaman kesiapan (readiness),
profil belajar murid (learning profile), dan ketertarikan (interest). Menurut Adriany (dalam
Lailiyah 2016 : 55) mengemukakan pembelajaran diferensiasi (Differentiated Instruction) adalah
teori pembelajaran yang berdasarkan premis bahwa pendekatan instruksional harus berdasarkan
perbedaan karakteristik individu dalam kelas yang merespon kebutuhan pesesta didik.
Pembelajaran diferensiasi (Differentiated instruction) bukanlah suatu program, metode,
atau strategi. Ini adalah cara berpikir, sebuah filosofi bagaimana menanggapi perbedaan murid.
Menurut Heacox (dalam Candra Ditasona 2017 : 45) pembelajaran diferensiasi secara khusus
merespon kemajuan belajar murid secara berkelanjutan, apa yang telah mereka ketahui dan apa
yang mereka pelajari. Jika diumpamakan dengan menu makanan, di dalam pembelajaran
diferensiasi setiap individu akan mendapatkan menu pembelajaran yang sesuai dengan selera
mereka. Pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga murid dapat menikmati menu
pembelajaran yang merekai sukai, dan tetap tidak kekurangan nutrisi atau tujuan pembelajaran
yang harus dicapai. Berdasarkan pada karakteristik murid, Tomlinson (dalam Candra Ditasona
2017 : 45) mengemukakan bahwa pembelajaran diferensiasi dapat dilakukan dengan tiga hal
yaitu : (1) kesiapan belajar → apabila tugas yang diberikan guru sesuai dengan kemampuan
murid, (2) profil
belajar → apabila tugas yang diberikan guru mampu mendorong murid untuk belajar dengan
cara yang disukainya, (3) minat → apabila tugas yang diberikan guru mampu meransang rasa
ingin tahu dan gairah belajar murid.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu bentuk usaha dalam serangkaian
pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan peserta didik dari segi kesiapan belajar, profil
belajar peserta didik, minat dan bakatnya (Tomlinson, 2001). Ada tiga pendekatan dalam
pembelajaran berdiferensiasi yaitu dari konten, proses dan produk. 1) Diferensiasi konten
merupakan apa yang dipelajari oleh peserta didik , berkaitan kurikulum dan materi pembelajaran.
2) Diferensiasi proses merupakan cara peserta didik mengolah ide dan informasi, yaitu
mencakup bagaimana peserta didik memilih gaya belajarnya 3) Diferensiasi produk yaitu peserta
didik menunjukkan apa saja yang telah dipelajari (Wasih dkk., 2020).

Pembelajaran berdiferensiasi sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, bahwa


pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki peserta
didik supaya mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik
sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, pendidik hanya
dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik, agar dapat
memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) serta menumbuhkan kekuatan kodrat peserta didik.
Dalam proses “menuntun”, peserta didik diberi kebebasan. Pendidik sebagai “pamong” dalam
memberi tuntunan dan arahan agar peserta didik tidak kehilangan arah dan membahayakan
dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar peserta didik dapat menemukan
kemerdekaannya dalam belajar. Meskipun pembelajaran berdiferensiasi ini bukan hal yang baru,
namun dalam penerapan aktivitas belajar mengajar masih jarang dilakukan.

Berdasarkan uraian diatas penulis merasa perlu untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi
pada pelajaran Pendidikan Pancasila pada materi Bhinneka Tunggal Ika. Makna dari Bhinneka
Tunggal Ika dalam konteks Persatuan Indonesia adalah bahwa meskipun Indonesia terdiri dari
berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang berbeda-beda,
namun keseluruhannya tetap merupakan satu persatuan. Materi Bhinneka Tunggal Ika
merupakan topik yang tergolong abstrak, sehingga membutuhkan beragam sumber dan media
agar peserta didik mendapatkan beragam informasi. Maka dalam penelitian ini penulis
mengangkat masalah tersebut dalam sebuah Penelitian Tindakan Kelas dengan judul
“Penerapan Pembelajaran
Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Pancasila Pokok Bahasan Bhinneka Tunggal Ika Pada Kelas X TITL 3 SMK Negeri 2 Surabaya
Tahun Pelajaran 2023-2024”

1.2 Identifikasi Masalah

Dari uraian di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut :

a. Kurangnya perhatian murid terhadap pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

b. Rendahnya tingkat penguasaan murid terhadap materi pembelajaran.

c. Kurang bersemangatnya murid dalam mengikuti pelajaran.

d. Murid masih banyak yang pasif

e. Metode yang dilakukan guru dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan


Kewarganegaraan selama ini kurang variatif.
f. Keberagaman murid yang terjadi dalam suatu kelas.

1.3 Analisis Masalah

a. Kemampuan penalaran murid yang mengikuti pembelajaran diferensiasi lebih


meningkat daripada murid yang mengikuti pembelajaran konvensional.
b. Peningkatan kemampuan penalaran murid yang mengikuti pembelajaran diferensiasi
lebih baik ditinjau dari kemampuan awal murid (preetes).
1.4 Rumusan Masalah

Dari permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini dapat disusun satu rumusan masalah
sebagai berikut: “Bagaimana Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Murid Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Pokok Bahasan Bhinneka
Tunggal Ika Pada Kelas X TITL 3 SMK Negeri 2 Surabaya Tahun Pelajaran 2023-2024?”

1.5 Tujuan Penelitian


Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui Penerapan Pembelajaran
Berdiferensiasi Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Murid Pada Mata Pelajaran
Pendidikan Pancasila Pokok Bahasan Bhinneka Tunggal Ika Pada Kelas X TITL 3 SMK
Negeri 2 Surabaya Tahun Pelajaran 2023-2024.
1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang telah
kami laksanakan, semoga dapat memberi beberapa manfaat antara lain:
a. Bagi murid

Untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami materi Bhinneka


Tunggal Ika
b. Bagi guru

Untuk memberi pengalaman, menambah wawasan, keterampilan, dan pengetahuan dalam


merancang pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan belajar
murid.
c. Bagi sekolah

Untuk memberikan sumbangan yang positif bagi kemajuan sekolah khususnya dalam
pembelajaran Pendidikan Pancasila
BAB II

II. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teoritis Penelitian Tindakan Kelas

1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Kemmis (1983) PTK adalah sebuah bentuk reflektif yang dilakukan
secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan)
(Ekawarna, 2013:5). Sedangkan, Ebbutt (1985), PTK adalah kajian sistematik dari
upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan
melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mereka
mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut. PTK merupakan penelitian yang
dilakukan melalui refleksi diri. PTK bertujuan untuk memperbaiki atau
meningkatkan mutu praktik pembelajaran. PTK merupakan ragam penelitian
pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk
memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru,
memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru
pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

2. Karakteristik dan Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

Karakteristik utama penelitian tindakan kelas adalah adanya partisipasi dan


kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan
kelas harus menunjukkan adanya perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan
secara positif. Apabila dengan tindakan justru membawa kelemahan, penurunan
atau perubahan negatif, berarti hal tersebut menyalahi karakter penelitian tindakan
kelas. Adapun karakteristik yang menunjukkan ciri dari penelitian tindakan kelas
adalah sebagai berikut:
a. Inkuiri reflektif. Penelitian tindakan kelas berangkat dari permasalahan
pembelajaran riil yang sehari-hari dihadapi oleh guru dan murid. Jadi, kegiatan
penelitian 5 berdasarkan pada pelaksanaan tugas (practise driven) dan
pengambilan tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi (action
driven).
b. Kolaboratif. Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat
dilakukan sendiri oleh peneliti di luar kelas, tetapi ia harus berkolaborasi dengan
murid. Penelitian tindak kelas merupakan upaya bersama dari berbagai pihak
untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan.
c. Reflektif. Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khas khusus, yaitu sikap
reflektif yang berkelanjutan. Berbeda dengan pendekatan penelitian formal,
yang sering mengutamakan pendekatan empiris eksperimental, penelitian
tindakan kelas lebih menekankan pada proses refleksi terhadap proses dan hasil
penelitian. Penelitian tindakan kelas dapat berjalan dengan baik apabila dalam
perencanaan dan pelaksanaannya menerapkan enam prinsip, yaitu sebagai
berikut (Hopkins, 1993): Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah
mengajar murid sehingga apapun metode penelitian tindakan kelas yang akan
diterapkan tidak akan mengganggu komitmen sebagai pengajar. Metode
pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari
guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran. Metodologi yang
digunakan harus cukup reliable sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi
serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan, mengembangkan strategi
yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya dan memperoleh data yang dapat
digunakan untuk menjawab hipotesis yang di kemukakannya. Masalah
penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang
merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri
memiliki komitmen yang diperlukan sebagai motivator intrinsik bagi guru untuk
bertahan dalam pelaksanaan kegiatan yang jelas-jelas menuntut lebih dari yang
sebelumnya diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pengajarnya. 6
Dalam menyelenggarakan penelitian tindakan kelas, guru harus selalu bersikap
konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan
dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan anak-
anak, penelitian tindakan kelas juga hadir dalam suatu konteks organisasional
sehingga penyelenggaraannya harus mengindahkan tata krama kehidupan
berorganisasi. Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun
dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas sejauh mungkin digunakan
classroom
excedding perspektive, artinya permasalahan tidak dilihat terbatas dalam
konteks dalam kelas atau mata pelajaran tertentu,melainkan dalam perspektif
yang lebih luas ini akan berlebih-lebih lagi terasa urgensinya apabila dalam
suatu penelitian tindakan kelas terlibat dari seorang pelaku.

3. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Hopkins (1993), penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan


tindakan (Planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi
proses dan hasil tindakan (Observation and evaluation). Sedangkan prosedur kerja
dalam penelitian tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan
(planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting),
dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai
(kriteria keberhasilan). Langkah-langkah penelitian tindakan kelas adalah sebagai
berikut:

Gambar 1. Tahapan Penelitian Tindakan Kelas


a. Tahapan Penelitian Tindakan Kelas

1. Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan


Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran dan pembuatan media pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang akan
dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta
prosedur tindakan yang akan diterapkan. Observasi (Observe), Observasi ini
dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua rencana yang telah dibuat
dengan baik, tidak ada penyimpangan-penyimpangan yang dapat
memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar
murid. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar
observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.
3. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang
terjadi atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk
dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan
diketahui perubahan yang terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan
yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah
secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan
dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

2.2 Pengertian Hasil Belajar

Menurut Mulyasa (2008), hasil belajar ialah prestasi belajar murid secara keseluruhan
yang menjadi indikator kompetensi dan derajat perubahan prilaku yang bersangkutan.
Kompetensi yang harus dikuasai murid perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat
dinilai sebagai wujud hasil belajar murid yang mengacu pada pengalaman langsung.
Fungsi Hasil Belajar Menurut Suryabrata “2001” mengemukakan beberapa fungsi
penilaian dalam proses pendidikan yaitu:
1. Dasar Psikologis.
Secara psikologis seseorang butuh mengetahui sudah sampai sejauh mana ia
berhasil mencapai tujuannya, masalah kebutuhan psikologis akan pengetahuannya
mengenai hasil usaha yang telah dilakukannya 8 dapat ditinjau dari dua sisi yaitu
dari segi anak didik dan dari segi pendidik. Dari Segi Anak Didik Seorang anak
dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya seringkali berpedoman pada orang
dewasa, dengan adanya pendapat guru mengenai hasil belajar telah diperoleh maka
anak merasa mempunyai pegangan, pedoman dan hidup dalam kepastian. Selain
itu seoranga anak juga butuh mengetahui statusnya di hadapan teman-temannya,
tergolong apakah dia “apakah anak yang pintar sedang dan sebagainya” juga
terkadang dia membutuhkan membandingkan dengan teman-temannya dan alat
paling baik untuk melihat ini ialah pendapat pendidik “khususnya guru” terhadap
kemajuan mereka. - Dari Segi Pendidik Seorang pendidik yang profesional butuh
mengetahui hasil-hasil usahanya sebagai pedoman dalam menjalankan usaha-usaha
lebih lanjut.
2. Dasar Didaktis Adapun dasar didaktis diantaranya yaitu:

Dari Segi Anak Didik Pengetahuan akan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai
pada umumnya berpengaruh baik terhadap prestasi selanjutnya, selain itu dengan
adanya tes hasil belajar, murid dapat juga mengetahui kelebihan kelemahan yang
dimilinya sehingga murid dapat mempergunakan pengetahuannya untuk
memajukan prestasinya. Dari Segi Pendidik Dengan adanya tes hasil belajar, maka
seorang guru juga dapat mengetahuai sejauh mana kelemahan dan kelebihan dalam
pengajarannya. Mengetahui kelebihan dan kekurang dalam pengajarannya akan
menjadi modal bagi guru untuk menentukan usaha-usaha selanjutnya. Selain itu tes
hasil belajar juga berfungsi membantu guru dalam menilai kesiapan anak didik,
mengetahui 9 status anak dalam kelasnya, membantu guru menentukan murid
dalam pembentukan kelompok, membantu guru dalam memperbaiki metode
mengajarnya dan membantu guru dalam memberikan materi pelajaran tambahan.
3. Dasar Administratif Memberikan data untuk dapat menentukan status murid di
kelasnya. Memberikan iktisar mengenai segala hasil usaha yang dilakukan oleh
sebuah lembaga pendidikan. Merupakan inti laporan kemajuan belajar murid
terhadap orang tuas atau walinya.
2.3 Pembelajaran Berdiferensiasi

1. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Konsep pembelajaran berdiferensiasi adalah salah satu usaha bagaimana


pendidik memberdayakan peserta didik untuk menggali semua potensi yang
dimilikinya. Tomlinson dan Edison (dalam Bayumi dkk, 2021: 15) menyatakan
bahwa pembelajaran berdiferensiasi pada jenjang sekolah sebagai pembelajaran
yang secara proaktif melibatkan peserta didik selama prosesnya, serta memandang
kelas yang menyatukan berbagai kesiapan, minat dan bakat belajar peserta didik.
Menurut Marlina (2019: 2) bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang mengakomodir, melayani, dan mengakui keberagaman peserta
didik dalam belajar sesuai dengan kesiapan, minat dan preferensi belajar peserta
didik. Kepedulian pada peserta didik dalam memperhatikan kekuatan dan
kebutuhan peserta didik menjadi fokus perhatian dalam pembelajaran
berdiferensiasi. Menurut Marlina (2021: 15) pembelajaran berdiferensiasi
merupakan penyesuaian terhadap minat, preferensi belajar, kesiapan belajar agar
tercapai peningkatan hasil belajar. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah
pembelajaran yang di individualkan. Namun, lebih cenderung kepada
pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar peserta didik
dengan strategi pembelajaran yang independen. Saat guru merespon kebutuhan
belajar peserta didik, berarti guru mendiferensiasikan pembelajaran dengan
menambah, memperluas, menyesuaikan waktu untuk memperoleh hasil belajar
yang maksimal.
20 Dalam merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memahami
secara mendalam peserta didiknya, baik dalam hal kesiapan belajar, minat,
maupun gaya atau profil belajarnya. Beberapa hal yang yang harus
dipertimbangkan guru dalam mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi
sebgai berikut:
a. Berpusat pada peserta didik
Artinya, pembelajaran direncanakan dengan cermat dan strategis dengan
berdasar pada upaya memahami peserta didik secara utuh, serta menempatkan
gaya, intelegensi, kemampuan awal dan berbagai cara belajar peserta didik
sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran.
b. Berpusat pada kurikulum

Pembelajaran berdiferensiasi tidak mengubah konsep dan tujuan kurikulum.


Pembelajaran ini lebih menekankan kreativitas dalam menyelaraskan perangkat
pembelajaran.
c. Diferensiasi materi pembelajaran

Diferensiasi materi pembelajaran berarti materi pembelajaran yang diberikan


tidak bersifat sama rata untuk semua peserta didik. Oleh sebab itu, guru harus
mampu menyiapkan materi pembelajaran sesuai dengan minat, pengetahuan
awal dan gaya belajar peserta didik.
2. Pemetaan Kebutuhan Peserta Didik

Dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi hal utama yang dilakukan guru


adalah melakukan pemetaan kebutuhan belajar peserta didik. 21 Menurut
Tomlinson (dalam Bayumi, 2021: 33) menyampaikan bahwa pemetaan kebutuhan
belajar peserta didik dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Kesiapan belajar Kesiapan belajar (readiness)

adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang


mempertimbangkan tingkat kesiapan peserta didik akan membawa peserta didik
keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat
dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru
tersebut.
b. Minat peserta didik

Minat adalah salah satu motivator penting bagi peserta didik untuk terlibat aktif
dalam proses pembelajaran. Menurut Tomlinson (dalam Suwartiningsih, 2021:
83) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat peserta didik dalam
merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya:
a. Membantu peserta didik menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah
dan keinginan mereka sendiri untuk belajar
b. Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran,

c. Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi peserta didik


sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang
familiar atau baru bagi mereka, dan
d. Meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar.

c. Profil belajar Tujuan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan profil belajar
adalah untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara
natural 22 dan efisien. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar
peserta didik ini merupakan pendekatan yang disukai peserta didik untuk
belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar
belakang, jenis kelamin, dan lain-lain. Menurut Tomlinson dalam jurnal
(Suwartiningsih, 2021), terdapat faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran
seseorang yaitu
1. Visual : belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik
organisator)
2. Auditori : belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras,
mendengarkan musik)
3. Kinestetik : belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh
dan lain-lain)

Berdasarkan kesiapan, minat, atau profil belajar dalam pembelajaran


berdiferensiasi terdapat bagian-bagian kelas diantaranya:

Gambar 2. Komponen Pembelajaran Berdiferensiasi

1. Diferensiasi Konten, yaitu apa yang perlu dipelajari peserta didik atau
bagaimana peserta didik akan mendapatkan akses ke informasi,
2. Diferensiasi Proses, yaitu kegiatan dimana peserta didik terlibat untuk
memahami atau menguasai konten,
3. Diferensiasi Produk, yaitu proyek tepat yang meminta peserta didik untuk
berlatih, menerapkan dan memperluas apa yang telah dipelajari dalam sebua
unit. Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam
mengkaterogikan kebutuhan belajar peserta didik, maka dapat disimpulkan
bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari
pembelajaran peserta didik 23 diperlukan pembelajaran yang dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

3. Tujuan Pembelajaran Berdiferensiasi

Secara umum, pembelajaran berdiferensiasi bertujuan untuk menyediakan


pembelajaran peserta didik dengan memperhatikan minat belajar, kesiapan belajar
dan gaya belajarnya. Secara khusus, tujuan pembelajaran berdiferensiasi adalah:
a. Untuk membantu peserta didik dalam belajar.

Agar guru bisa meningkatkan kesadaran terhadap kemampuan murid sehingga


tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh seluruh peserta didik.
b. Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Agar peserta
didik memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tingkat kesulitan materi
yang diberikan guru. Jika peserta didik dibelajarkan sesuai dengan
kemampuannya maka motivasi belajar peserta didik meningkat.
c. Untuk menjalin hubungan yang harmonis guru dan peserta didik. Pembelajaran
berdiferensiasi meningkatkan relasi yang kuat antara guru dan peserta didik
sehingga peserta didik semangat untuk belajar.
d. Untuk membantu peserta didik menjadi pelajar yang mandiri. Jika peserta didik
dibelajarkan secara mandiri, maka peserta didik terbiasa dan menghargai
keberagaman.
e. Untuk meningkatkan kepuasan guru. Jika guru menerapkan pembelajaran
berdiferensiasi, maka guru merasa tertantang untuk mengembangkan
kemampuan mengajarnya sehingga guru menjadi kreatif.
BAB III

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian Eksperimen, yaitu model penelitian yang digunakan
untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan
(Sugiyono, 2015: 117).
2. Desain penelitian
Desain penelitian ini merupakan penelitian pre-experimen One-Group Prestest-Postest
Design. Desain ini digunakan karena penelitian ini hanya melibatkan satu kelas yaitu kelas
eksperimen yang dilakukan dengan membandingkan hasil pre-test dengan hasil pos-test. Adapun
model desain penelitian adalah sebagai berikut:
Sebelum Perlakuan Sesuda
h
X1 X X2

Sumber : (Sugiyono, 2014:110)

Keterangan:
X1 = Nilai pretests (Sebelum dilakukan perlakuan)
X = Perlakuan (Metode diferensiasi)
X2 = Nilai posttest (Setelah diberikan perlakuan)
Model eksperimen ini melalui tiga langkah yaitu:

a. Memberikan prestest untuk mengukur variabel terikat (hasil belajar Pendidikan


Pancasila) sebelum perlakuan dilakukan.
b. Memberi perlakuan kepada kelas subjek penelitian dengan menggunakan
metode pembelajaran berdiferensiasi
c. Melakukan postetst untuk mengukur variabel terikat setelah perlakuan dilakukan.
2. Variabel Penelitian
Istilah variabel di artikan sebagai sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian.
Dalam penelitian ini terdapat dua variable yang diamati yaitu metode pembelajaran berdiferensiasi
sebagai variable bebas (X) dan hasil belajar Bahasa Indonesia sebagai variabel terikat (Y).
3. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2006:55). “Populasi adalah wilaya generalisasi yang terdiri atas obyek atau
subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa di
kelas X TITL 3 SMK Negeri 2 Surabaya pada tahun ajaran 20230-2024
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi trsebut.
Dalam penelitian ini sampel adalah populasi yang berjumlah 36 siswa kelas X TITL 3 yang terdiri
atas 36 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sampling jenuh. Sampel jenuh atau sampel total artinya teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel.
4. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variable dimaksudkan untuk membatasi ruang lingkup yang diteliti
agar agar tidak terjadi kesalahan penfsiran dalam penelitian dan untukpengukuran atau
pengamatan terhadap variable yang bersangkutan serta pengembangan instrument.
Variable dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua kategori yaitu variable
bebas/independen (X) dan variable terikat/dependen (Y) variable bebas.

(X) adalah variable yang mempengaruhi. Sedangkan variable terikat (Y) adalah
variable yang timbul akibat variable bebas atau respon dari variable bebas dan
lebih dikenal variable yang dipengaruhi.
a. Variable bebas/independen variable (X) : Penerapan metode berdiferensiasi

b. Variable terikat/dependen variable (Y) : Hasil Belajar Pendidikan Pancasila


5. Tahap Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan Siklus I (Pre-Test)

A. Tahapan Perencanaan (Planning)

3. Mengajukan permohonan izin kepada kepala sekolah, komite, dan wali murid.

4. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.


5. Merancang strategi dan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan
menggunakan media benda konkret
6. Menentukan indikator-indikator ketercapaian keberhasilan dalam pembelajaran.

7. Menyusun instrumen penelitian untuk proses pengumpulan data yang terdiri dari
lembar penilaian dan observasi.
8. Menentukan fokus observasi dan aspek–aspek yang akan diamati sebagai
pedoman lembar observasi.
9. Mengidentifikasi dan merumuskan permasalahan, sekaligus mempersiapkan
media dan sumber belajar untuk pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.
B. Tahapan Pelaksanaan Tindakan (Acting)

1. Guru memberikan penjelasan mengenai tujuan pembelajaran yang akan diberikan


kepada peserta didik.
2. Guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media benda
konkret. Dalam hal ini, guru melaksanakan proses benda – benda di sekitar
lingkungan secara langsung. Selain itu pula, guru menggunakan IT seperti laptop,
Microsoft Power Point, google form dan video pembelajaran.
3. Guru melakukan kegiatan implementasi perencanaan pembelajaran berdiferensiasi
pada materi bhinneka tunggal ika yang melibatkan kolaborator yaitu rekan sejawat
yang berperan sebagai pengamat. Pada saat pelaksanaan pembelajaran
berdiferensiasi, peserta didik di kelompokan berdasarkan kesiapan belajar,
kemudian pelaksanaaan pada proses pembelajaran dengan menggunakan beragam
media dan sumber belajar, untuk mengakomodir profil belajar peserta didik secara
Auditori, Visual dan Kinestetik.
Tabel 1. Langkah-Langkah Pembelajaran di Siklus I

Kegiatan Pendahuluan a. Peserta didik dan guru melakukan


pembiasaan mulai dari salam,
berdoa, dan kegiatan apersepsi.
b. Guru mengecek kehadiran peserta
didik.
c. Guru melakukan keterampilan
sosial emosional dengan meminta
peserta didik mengamati video
tentang perwujudan bhinneka
tunggal ika dalam kehidupan
sehari-hari
d. Guru memberikan apersepsi dan
motivasi kepada peserta didik
dengan memberikan pertanyaan
pematik:
1. Disajikan gambar, video dan
power point tentang contoh
perwujudan bhinneka tunggal
ika dalam kehidupan sehari-
hari
2. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang hendak
dicapai pada pertemuan ini.
Kegiatan Inti a. Guru melakukan pemetaan siswa
sesuai dengan gaya belajar melalui
media google form untuk dijawab
siswa sehingga dapat menentukan
kelompok belajar yang sesuai
dengan minat dan kebutuhan
belajar peserta didik
b. Peserta didik mengerjakan soal tes
formatif untuk mengetahui
kemampuan siswa terhadap materi
pelajaran bhinneka tunggal ika.
c. Guru melakukan kegiatan
pembelajaran dengan
menggunakan media microsoft
power point, video pembelajaran
dan gambar tentang
keanekaragaman identitas di
Indonesia.
Kegiatan Penutup a. Peserta didik dan Guru
mengkomfirmasi dan
menyimpulkan pembelajaran
b. Peserta didik dan guru melakukan
refleksi pembelajaran.
c. Guru menyampaikan rencana
tindak lanjut kegiatan
pembelajaran yang akan datang
d. Salam penutup

C. Tahapan Pengamatan/Observasi (Observing)


Pada tahap ini, peneliti dibantu teman sejawat mengamati dan mencatat semua data
dan informasi dalam proses pembelajaran selama penelitian tindakan
berlangsung,sehingga dapat mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan
rancangan yang telah dibuat atau belum. Pada tahap ini dilaksanakan observasi
dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diharapkan pada
pembelajaran tersebut.
D. Tahapan Refleksi (Reflecting)

Dalam tahap refleksi, kegiatan yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyuluruh
tindakan yang telah dilakukan. Pada tahap ini penulis melakukan penilaian evaluasi,
analisis hasil belajar, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila hasil
belajar siswa masih rendah maka dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya

Pelaksanaan Siklus 2 (Post-Test)


a. Tahapan Perencanaan (Planning)

Perencanaan siklus kedua merupakan penerapan kegiatan pembelajaran


berdiferensiasi setelah diketahui hasil pemetaan minat belajar murid pada link google
form yang sudah diisi murid pada pertemuan sebelumnya
b. Tahapan Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Pelaksanaan pada siklus kedua merupakan implementasi aktivitas pembelajaran


penerapan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi
Tabel 2. Langkah-Langkah Pembelajaran Post test

Kegiatan Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi

Pendahuluan KEGIATAN AWAL RUTIN


Guru membuka pelajaran dengan melakukan
1. Kegiatan rutin ditujukan untuk membangun suasana
pembelajaran yang positif dan mempersiapkan murid untuk
melakukan kegiatan pembelajaran selanjutnya (kesadaran diri,
pengelolaan diri)
2. Sebelum guru melakukan kegiatan ini, penting sekali bagi guru
untuk mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun
mentalnya. Ini dapat dilakukan misalnya dengan memastikan
dirinya sudah
tenang dan fokus sebelum melakukan kegiatan pembelajaran
(Guru dapat berdoa dalam hati, menerapkan teknik bernapas dalam
(latihan STOP),atau kegiatan lainnya yang disukai. Pembelajaran akan
diawali dengan permainan atau kuis singkat. Murid diminta untuk
menjawab sebanyak-banyaknya pertanyaan yang disampaikan oleh
guru. Pertanyaan yang diberikan adalah pertanyaan singkat yang
terkait dengan keberagaman identitas di Indonesia. Murid yang paling
cepat menjawab dengan benar akan mendapatkan poin. Setelah waktu
permainan habis (10 menit), ajaklah murid melakukan refleksi singkat.
Misalnya dengan menanyakan: apakah mereka suka dengan kuis yang
diberikan? Bagian mana yang disukai? Apa saran mereka jika ada kuis
lagi? (Dengan memberikan kesempatan pada murid untuk
memberikan pendapat dan saran, guru dapat membangun koneksi dan
rasa percaya) - Guru akan mencatat dan menggunakan informasi yang
didapat dari permainan tersebut untuk memetakan sejauh mana
pengetahuan awal murid tentang karya seni rupa dua dimensi.

PERMAINAN
1. Permainan dapat menjadi medium pembelajaran sosial
emosional yang baik. Permainan memunculkan berbagai
emosi dalam diri murid. Setelah permainan usai, guru dapat
melakukan refleksi dengan mendiskusikan emosi mereka yang
muncul. Dalam skenario pembelajaran ini, guru dapat
mengajak murid mengingat kembali pengetahuan sebelumnya
dengan kuis (kesadaran diri). Kegiatan kuis yang dibawakan
dengan menarik (memperhatikan bentuk soal, penyajian
pertanyaan, pengaturan waktu, sistem menjawab, dll) dapat
membantu mengembangkan fokus dalam mengikuti
pembelajaran)
2. Guru juga dapat melibatkan murid dengan meminta feedback
tentang apa yang dapat dilakukan untuk membuat kuis yang
lebih baik lagi. Usaha guru menanyakan umpan balik pada
murid dapat melibatkan murid dalam kegiatan pembelajaran
di dalam kelas. (Kesadaran diri dan Pengambilan
Keputusan
yang Bertanggung Jawab)
Kegiatan Inti Tahap–1: Stimulation (stimullasi/pemberian
rangsangan KEGIATAN LITERASI)

Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan


perhatian pada topik materi Keberagaman Identitas di Indonesia
dengan cara Melihat, Mengamati, Membaca, Menyimak berdasarkan
instruksi yang diberikan guru

KSE yang dikembangkan adalah pengambilan Keputusan


yang Bertanggung Jawab yaitu menumbuhkan kemampuan
dalam mengambil keputusan

Tahap–2 : Problem statemen (pertanyaan/identifikasi masalah)

CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)

Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk


mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan
dengan gambar, bacaan, video, yang disajikan dan akan dijawab
melalui kegiatan belajar (diferensiasi konten). Link video
https://youtu.be/xqeN3CqufNA. Untuk murid dengan gaya belajar
kinestetik yang belum memahami materi yang diberikan oleh guru
melalui video pembelajaran, murid dapat bergerak di tiap ruangan
untuk melihat gambar yang sudah ditempelkan guru pada dinding
(diferensi proses)

KSE yang dikembangkan adalah Pengelolaan emosi fokus dan


empati di saat murid sudah mulai bosan, tidak fokus dalam belajar
Bentuk pembelajaran Sosial Emosional dengan mengadakan Ice
breaking.

Tahap–3 : Data collection (pengumpulan data)

KEGIATAN LITERASI

4. Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk


menjawab pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
Mengamati obyek/kejadian, Membaca sumber lain selain buku
teks, Aktivitas, Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam 7 kelompok sesuai dengan kesiapan,
minat dan profil murid yang masing – masing kelompok ada 6
anak. Tugas ini dikerjakan secara berkelompok berdasarkan hasil
analisis terhadap gaya belajar murid yang sudah diperoleh guru
pada pelajaran sebelumnya melalui google form. Tugasnya adalah
mengidentifikasi keberagaman identitas di Indonesia (Project
Based Learning).

Kelompok gaya belajar visual


Kelompok 1 membuat proyek diorama
Kelompok 2 membuat proyek pop-up book
Kelompok 3 membuat proyek mind-
mapping Kelompok 4 membuat video
pembelajaran Kelompok gaya belajar
auditori
Kelompok 5 melakukan wawancara kepada RT/RW setempat
tentang keberagaman identitas yang ada di lingkungan sekitar
tempat tinggal dan membuat laporan.
Kelompok gaya belajar kinestetik

Kelompok 6 dan 7 memperagakan (role playing) tentang cara


menghargai keberagaman identitas yang ada di Indonesia.

KSE yang dikembangkan adalah keterampilan relasi bentuk


penerapan pembelajaran sosial emosional kerja sama dan Resolusi
Konflik. Dan hasil kegiatan pada tiap kelompok adalah berbeda
adalah diferensiasi produk.

Tahap-4 : Data processing (pengolahan Data)

COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL


THINKING (BERPIKIR KRITIK)

Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil


pengamatan, dengan cara : Berdikusi, Mengolah Informasi dan Peserta
didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi keberagaman
identitas di Indonesia

KSE yang dikembangkan adalah keterampilan relasi. Bentuk


penerapan pembelajaran sosial emosional kerja sama dan resolusi
konflik

Tahap–5 : Verification CRITICAL THINKING


(BERPIKIR KRITIK)

Setelah proyek selesai dibuat, maka peserta didik membuat


laporan hasil kegiatan yang didalamnya berisi tentang alat dan
bahan yang dibutuhkan dalam membuat proyek, langkah-langkah
yang dilakukan sampai menjadi proyek jadi. Laporan kegiatan
juga bisa dalam bentuk laporan PDF, Video dan Rekaman suara
(diferensiasi produk).
KSE yang dikembangkan adalah pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab. Bentuk penerapan pembelajaran sosial emosional
menumbuhkan kemampuan dalam mengambil keputusan.

Tahap–6 : COMMUNICATION

Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan, menyampaikan


hasil diskusi, mempresentasikan hasil diskusi dengan
menggunakan proyek yang sudah dibuat, bermain peran/video/
sesuai dengan profil dan gaya belajar murid,
Kegiatan Penutup Guru melakukan kegiatan penutup dengan Protokol (Budaya Atau
Tata Tertib). Sebagai penutup pembelajaran, minta murid melakukan
refleksi. Pertanyaan untuk memandu proses refleksi murid:

a. Apakah bagian yang paling menarik dari pembelajaran hari


ini? Mengapa? (Kesadaran diri)
b. Strategi apa yang kalian gunakan untuk dapat menghargai
keragaman identitas? (Pengelolaan diri)
c. Menurut pendapat anda, apakah penting mempelajari
materi keberagaman identitas di Indonesia? Berikan
penjelasan nya! (Pengambilan Keputusan Bertanggung
Jawab)
d. Tantangan apa yang masih kalian temui dalam mempelajari
materi ini? Bagaimana kalian akan berlatih untuk
mengatasi tantangan tersebut? (Pengelolaan diri)
e. Apa yang akan kamu lakukan agar hasil belajar lebih
memuaskan di masa mendatang? (Pengelolaan diri)

c. Tahapan Pengamatan/Observasi (Observing)

Pada tahap ini, peneliti mengamati dan mencatat semua data dan informasi dalam
proses pembelajaran selama penelitian tindakan berlangsung, sehingga dapat
mengetahui proses pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan yang telah dibuat
atau
belum. Pada tahap ini dilaksanakan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
ketercapaian hasil belajar muridyang diharapkan pada pembelajaran tersebut.
d. Tahapan Refleksi (Reflecting)

Dalam tahap refleksi, kegiatan yang dilakukan yaitu mengkaji secara menyuluruh
tindakan yang telah dilakukan. Pada tahap ini penulis melakukan penilaian evaluasi,
analisis hasil belajar, dan mendiskusikan data yang telah diperoleh. Apabila hasil
belajar murid masih rendah maka dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya.

6. Teknik Pengumpulan Data


a. Observasi atau Pengamatan

Observasi dilakukan terhadap aktivitasi peserta didik ketika proses pembelajaran


berdiferensiasi dilaksanakan. Observasi berfungsi untuk melengkapi pengambilan data
kuantitatif, yang dilaksanakan dengan lembar observasi.
b. Asesmen Formatif

Pada implementasi kurikulum merdeka tidak mengenal istilah Kriteria Ketuntasan


Minimum, (Kemdikbudristek, 2022). Oleh karena itu, penilaian formatif (assessment
for learning), mendapat proporsi lebih banyak dari pada penilaian sumatif. Penilaian
formatif merupakan penilaian saat pembelajaran berlangsung untuk memperbaiki
pembelajaran dan mendapatkan umpan balik peserta didik (Basuki & Hariyanto, 2016).
Penilaian formatif, dilaksanakan dalam bentuk beragam, diantaranya: pertanyaan
langsung dan tertulis berupa, pertanyaan mencocokan, jawaban singkat dan uraian,
lembar diskusi dan catatan guru.
c. Google Form

Guru melakukan pemetaan murid sesuai dengan gaya belajar melalui media google
form untuk dijawab murid sehingga dapat menentukan kelompok belajar yang sesuai
dengan minat dan kebutuhan belajar peserta didik
d. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan dan data yang sudah ada atau telah di dokumentasikan
oleh guru.
7. Analisis Data

Teknik analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif. Data Kuantitatif berdasar


hasil belajar formatif, data kualitatif berdasarkan lembar obsevasi. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini,
meliputi:
 Uji Paired Sample t
Test Uji paired sample t test atau disebut juga dengan uji dua sampel yang
berpasangan untuk mengetahui perbedaan rata-rata (mean) dari dua sampel yang
berpasangan dengan syarat bahwa data berdistribusi normal, di mana dengan
mengetahui perbedaan rata-rata (mean) dari dua sampel yang berpasangan
(pretest dan posttest) pada kelas eksperimen akan diketahui pengaruh signifikan
penggunaan metode pembelajaran berdiferensiasi terhadap Hasil belajar
Pendidikan Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika siswa kelas X TITL 3 di
SMKN 2 Surabaya Tahun Akademik 2023-2024 yang dihitung dan dianalisis
dengan menggunakan SPSS 26.0 for windows.
BAB IV

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


1. Deskripsi Hasil Belajar Pretest Pendidikan Pancasila
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang digunakan untuk mencari
pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan,
kondisi yang terkendalikan di maksud adalah adanya hasil dari penelitian
dikonversikan ke dalam angka-angka, untuk analisis yang digunakan adalah
dengan menggunakan analisis statistik (Sugiyono, 2011: 72). Eksperimental
design (experimental) merupakan salah satu dari bentuk penelitian eksperimental
karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang
mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas
pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Eksperimen pada
penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu perlakuan.
Desain penelitian yang digunakan dengan bentuk Matching Pretest – Post-test
One Group Design dengan satu macam perlakuan.
Dalam matching pretest dan post-test one group design terdapat satu kelas
yang dipilih secara langsung kemudian diberi pre test 1 untuk mengetahui
keadaan awal sebelum mendapatkan perlakuan. Kegiatan observasi yang
dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan penelitian bertujuan untuk
mengetahui kondisi pembelajaran sebelum melaksanakan tindakan. Observasi
dilakukan di SMK Negeri 2 Surabaya. Peneliti bertindak sebagai observer, yang
mengamati jalannya pembelajaran tematik dari awal hingga akhir.
Pembelajaran yang dilakukan di SMK Negeri 2 Surabaya sebelum tindakan
atau pra siklus masih menggunakan metode konvensional (metode ceramah).
Dalam pembelajaran, guru belum menggunakan metode yang dapat menarik
perhatian peserta didik. Guru kurang memberikan motivasi pada siswa dan siswa
kurang berani dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan kepada guru.
Sehingga saat proses pembelajaran, siswakurang tertarik dan merasa jenuh untuk
menerima materi. Siswa tidak dapat memahami materi secara maksimal.
Selama pembelajaran berlangsung siswa terlihat pasif dan jarang terjadi
komunikasi antara guru dan peserta didik. Terbukti dengan hanya sebagian kecil
siswa yang mau menjawab pertanyaan dari guru. Sehingga tingkat hasil belajar
siswa masih rendah, hal ini karena penggunaan metode pembelajaran yang masih
kurang inovatif. Hasil observasi pada kegiatan ini yaitu, sebagian besar siswa
masih belum terlihat aktif dalam pembelajaran yang menyebabkan hasil belajar
kurang memuaskan. Untuk menentukan ketuntasan belajar ditetapkan oleh
standar kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yaitu nilai 70.
Adapun data hasil penelitian pada pre tes siklus adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1. Tabel Hasil Belajar Prasiklus

No Nama Nilai Ketuntasan


Tuntas Tidak

Tuntas
1 ACHMAD 60 √

BUDIONO
2 ACHMAD 60 √

NASHRULLOH
3 ADIKA 60 √
MARZUKI
ILHAM NITYA
4 AHMAD BAGUS 70 √
PUTRA
PRATAMA
5 AHMAD 60 √

RAHMATULLOH
6 AHMAD YANI 60 √

AFRIZA
7 ALIEF YUNAS 60 √

AL - FIKHORONI
8 ARRASYA 80 √
DAFFA
NOVARIYAN
9 AVILLA 60 √
DAVINE
HAFIEZA
10 BAGAS DWI 60 √
LAKSONO
11 CHOIRU 60 √

ROZIKIN
12 DAVA RIZQI 60 √
ZARVIANTO
13 EXCELDI 60 √

RASYA PUTRA
14 FIQIH 85 √

RAMADHAN
15 HIKMAH 60 √
REHAN
ARIANTO
16 IKHSAN 60 √

RAMADHAN
17 JERRICO 60 √
REYMADA
HUSEIN
NURODIN
18 MAULANA 60 √
SYUHADA
IBRAHIM
19 MICHAEL 80 √
PUTRA OKTO
PRIYONO
20 MOCHAMMAD 60 √
ARDIANSYAH
TRI
WICAKSONO
21 MUHAMAD 60 √
RISAL DWI
PUTRA
22 NOVAL DIMAS 60 √

ARIANTO
23 RADITYA 60 √
PUTRA
REFIANSYAH
PRATAMA
24 RAFLY 60 √

ARFIANZA
25 RAIHAN YOGA 60 √
NARENDRA
26 RAYHAN RIZKY 60 √

RAMADHAN
27 RENNO BAGUS 60 √
SETIAWAN
28 REVALDY 60 √
PRAMANA
PUTRA
29 REVANCHA 60 √
SEPTA
KURNIAWAN
30 REZA ANDI 60 √

SAPUTRA
31 RIZKY ZIDANE 60 √

PUTRAWAN
32 SALFA DWI 60 √
ACHMAD
SEPTIAN
33 SATRIO INDRA 60 √
SYAHPUTRA
34 SEPTIAN DWI 80 √

PUTRA
35 SHEVA 70 √
ZAIDANE
WAHYUDI
36 YUSRIL WAHID 60 √
Jumlah Nilai = 2265
Rata-rata nilai = 62,91
Nilai KKM = 70

Tabel 4.1 memberikan informasi yang diperoleh dari observasi dalam


tahap pre-test, murid yang hasil belajarnya di atas KKM terdapat 6 orang (17%).
Sedangkan 30 murid lainnya (83%) masih belum memenuhi kriteria ketuntasan
minimal nilai. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan hasil belajar
murid masih rendah. Hasil observasi pada tahap pre-test menunjukkan bahwa
rendahnya tingkat ketuntasan hasil belajar murid disebabkan guru tidak
menggunakan metode pembelajaran pembelajaran yang inovatif sehingga murid
cenderung merasa bosan. Selain itu guru terlalu mendominasi dalam kegiatan
pembelajaran sehingga murid tidak memiliki kesempatan untuk berperan aktif
dalam pembelajaran. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut,
peneliti membuat rencana tindakan dengan pembelajaran berdiferensiasi
sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar murid.

2. Deskripsi Hasil Belajar Post Test Pendidikan Pancasila


Pada tahap ini, peneliti mengamati dan mencatat semua data dan informasi dalam
proses pembelajaran selama penelitian tindakan berlangsung sehingga dapat mengetahui
proses pembelajaran sudah sesuai dengan rancangan yang telah dibuat atau belum. Pada
tahap ini dilaksanakan pengamatan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keaktifan
murid.
Tabel 4.2. Hasil Nilai Post-test

No Nama Nilai Ketuntasan


Tuntas Tidak

Tuntas
1 ACHMAD √
85
BUDIONO
2 ACHMAD √
85
NASHRULLOH
3 ADIKA √
MARZUKI
85
ILHAM NITYA
4 AHMAD BAGUS √
PUTRA
85
PRATAMA
5 AHMAD √
88
RAHMATULLOH
6 AHMAD YANI √
88
AFRIZA
7 ALIEF YUNAS √
90
AL - FIKHORONI
8 ARRASYA √
DAFFA
95
NOVARIYAN
9 AVILLA √
DAVINE
85
HAFIEZA
10 BAGAS DWI √
75
LAKSONO
11 CHOIRU √
75
ROZIKIN
12 DAVA RIZQI √
85
ZARVIANTO
13 EXCELDI √
75
RASYA PUTRA
14 FIQIH √
80
RAMADHAN
15 HIKMAH √
REHAN
85
ARIANTO
16 IKHSAN √
85
RAMADHAN
17 JERRICO √
REYMADA
HUSEIN 85
NURODIN
18 MAULANA √
SYUHADA
85
IBRAHIM
19 MICHAEL √
PUTRA OKTO
95
PRIYONO
20 MOCHAMMAD √
ARDIANSYAH
TRI 85
WICAKSONO
21 MUHAMAD √
RISAL DWI
88
PUTRA
22 NOVAL DIMAS √
85
ARIANTO
23 RADITYA √
PUTRA
REFIANSYAH 85
PRATAMA
24 RAFLY √
85
ARFIANZA
25 RAIHAN YOGA √
85
NARENDRA
26 RAYHAN RIZKY √
85
RAMADHAN
27 RENNO BAGUS √
85
SETIAWAN
28 REVALDY √
PRAMANA
85
PUTRA
29 REVANCHA √
SEPTA
85
KURNIAWAN
30 REZA ANDI √
95
SAPUTRA
31 RIZKY ZIDANE √
85
PUTRAWAN
32 SALFA DWI √
ACHMAD
88
SEPTIAN
33 SATRIO INDRA √
85
SYAHPUTRA
34 SEPTIAN DWI √
95
PUTRA
35 SHEVA √
ZAIDANE
85
WAHYUDI
36 YUSRIL WAHID 75 √
Jumlah Nilai = 3092
Rata-rata nilai = 85,05
Nilai KKM = 70

Hasil refleksi setelah dilakukan post-test 2 adalah sebagai berikut:


1. Ketuntasan hasil belajar murid telah mengalami peningkatan bila
dibandingkan dengan pre-test dan post-tes 1.
2. Ketuntasan hasil belajar meningkat dari yang semula rata-rata nilai pada
post-test 1 adalah 70,88. Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan
berdiferensiasi terjadi peningkatan rata-rata nilai menjadi 85,88.
Berdasarkan data hasil observasi pada tabel 4.3 Hasil belajar setelah mengikuti
post-test 2 menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar murid sudah ada
kenaikan. bahwa presentase ketuntasan hasil belajar murid sudah 100% ( 36
murid ) yang sudah tuntas sehingga menunjukkan terjadinya peningkatan
terhadap hasil belajar murid dalam pembelajaran.
3. Analisis Data Uji Paired Sample T Test
Berikut disajikan data perbandingan pada nilai pre-test dan post test
sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Nilai Pre-test dan Post-test


No. Nama Siswa Nilai Pre-test Nilai Post-test

1 ACHMAD BUDIONO 60 85
2 ACHMAD NASHRULLOH 60 85
3 ADIKA MARZUKI ILHAM NITYA 60 85
4 AHMAD BAGUS 70 85
5 AHMAD RAHMATULLOH 60 88
6 AHMAD YANI 60 88
7 ALIEF YUNAS 60 90
8 ARRASYA DAFFA 80 95
9 AVILLA DAVINE 60 85
10 BAGAS DWI LAKSONO 60 75
11 CHOIRU ROZIKIN 60 75
12 DAVA RIZQI ZARVIANTO 60 85
13 EXCELDI RASYA PUTRA 60 75
14 FIQIH RAMADHAN 85 80
15 HIKMAH REHAN 60
85
ARIANTO
16 IKHSAN RAMADHAN 60 85
17 JERRICO REYMADA 60
85
HUSEIN
18 MAULANA SYUHADA 60 85
19 MICHAEL PUTRA 80 85
20 MOCHAMMAD ARDIANSYAH 60
85
TRI
21 MUHAMAD RISAL 60 85
22 NOVAL DIMAS ARIANTO 60 85
23 RADITYA PUTRA 60
95
REFIANSYAH
24 RAFLY ARFIANZA 60 85
25 RAIHAN YOGA NARENDRA 60 88
26 RAYHAN RIZKY 60 85
27 RENNO BAGUS SETIAWAN 60 85
28 REVALDY PRAMANA 60
85
PUTRA
29 REVANCHA SEPTA 60 85
30 REZA ANDI 60 85
31 RIZKY ZIDANE 60 85
Uji paired sample t test atau disebut juga dengan uji dua sampel uji
paired dua sampel yang berpasangan untuk mengetahui perbedaan rata-rata
(mean) dari dua sampel yaitu pretest dan posttest yang berpasangan dengan
syarat bahwa data berdistribusi normal, di mana dengan mengetahui
perbedaan rata-rata (mean) dari dua sampel yang berpasangan (pretest dan
posttest) pada kelas eksperimen akan diketahui pengaruh signifikan
penggunaan metode pembelajaran berdiferensiasi terhadap hasil belajar
Pendidikan Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika siswa kelas X TITL 3
SMK Negeri 2 Surabaya Tahun Akademik 2023/2024 yang dihitung dan
dianalisis dengan menggunakan SPSS 26.0 for windows yang berpasangan
untuk mengetahui:
a) Apakah terdapat perbedaan rata-rata (mean) dari dua sampel yang
berpasangan dengan syarat bahwa data berdistribusi normal
b) Berguna untuk menjawab rumusan masalah apakah terdapat pengaruh
yang signifikan terdapat pengaruh signifikan penggunaan metode
pembelajaran berdiferensiasi terhadap hasil belajar Pendidikan
Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika siswa kelas X TITL 3 SMK
Negeri 2 Surabaya
Uji paired sample t test dilakukan untuk melihat ada tidaknya
perbedaan pada hasil pretest dan posttest siswa dari kelas eksperimen.
Hasil perhitungan uji hipotesis pretest dan posttest dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 4.4 Hasil Uji Paired Sample t Test


T-TEST PAIRS=Pretest WITH Postest (PAIRED)
/CRITERIA=CI(.9500)
/MISSING=ANALYSIS.

T-Test
Notes
Output Created 28-SEP-2024 21:47:19
Comments

Input Active Dataset DataSet0


Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data 36
File
Missing Value Handling Definition of Missing User defined missing values
are treated as missing.
Cases Used Statistics for each analysis
are based on the cases with
no missing or out-of-range
data for any variable in the
analysis.
Syntax T-TEST PAIRS=Pretest
WITH Postest (PAIRED)
/CRITERIA=CI(.9500)
/MISSING=ANALYSIS.
Resources Processor Time 00:00:00.02
Elapsed Time 00:00:00.01

[DataSet0]
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 Sebelum diberikan 62.9167 36 7.00765 1.16794
diferensiasi
Setelah diberikan diferensiasi 85.0556 36 4.73856 .78976

Paired Samples Correlations


N Correlation Sig.
Pair 1 Sebelum diberikan 36 .085 .621
diferensiasi & Setelah
diberikan diferensiasi

Paired Samples Test


Paired Differences
95%
Confidenc
e Interval
of the
Std. Std. Error Difference
Mean Deviation Mean Lower
Pair Sebelum - 8.11754 1.35292 -24.88547
1 diberikan 22.138
diferensiasi - 89
Setelah diberikan
diferensiasi

Berdasarkan output Pair 1 diperoleh nilai sig.(2 tailed) sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar Pendidikan Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika pada siswa
kelas X TITL 3 Tahun Akademik 2023/2024 untuk pretest dan posttest pada kelas eksperimen. Hasil analisis
statistik inferensial dengan menggunakan rumus uji t, dapat diketahui bahwa nilai t tabel sebesar -16.364.
H0: Tidak terdapat perbedaan Hasil pembelajaran antara sebelum dan sesudah menggunakan metode
pembelajaran berdiferensiasi
H1: Terdapat perbedaan Hasil pembelajaran antara sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran
berdiferensiasi
Jika sig>0,05 maka H0 diterima
Jika sig<0,05, maka H0 ditolak
0,00<0,05 artinya H0 ditolak. Terdapat perbadeaan hasil pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan
media canva
BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada materi bhinneka


tunggal ika pada kelas X TITL 3 SMK Negeri 2 Surabaya memberikan manfaat dalam
peningkatan hasil belajar peserta didik di setiap siklusnya dalam pencapaian tujuan pembelajaran
yang dilaksanakan dengan asessmen formatif. Pendekatan pembelajaran diferensiasi secara
konten, proses dan produk juga meningkatkan aktivitas peserta didik untuk aktif dalam
pembelajaran. Peningkatan kemampuan murid yang mengikuti pembelajaran diferensiasi
(Differentiated Instruction) lebih baik daripada murid yang mengikuti pembelajaran
konvensional. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan
pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila.
Peningkatan hasil belajar ini ditunjukan dari peningkatan hasil belajar pada pre-test, post test 1
dan post tes II dengan jumlah murid kelas X TITL 3 semester genap sejumlah 36 murid dengan
KKM penetapan sekolah yaitu 70. Tabel 4.1 memberikan informasi yang diperoleh dari
observasi dalam tahap pre-test, murid yang hasil belajarnya di atas KKM terdapat 6 orang (17%).
Sedangkan 30 murid lainnya (83%) masih belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal nilai.
Setelah dilaksanakan pembelajaran pada pertemuan 1 dengan menggunakan metode
pembelajaran berdiferensiasi diperoleh hasil belajar post test 1 menunjukkan bahwa ketuntasan
hasil belajar murid sudah ada kenaikan yaitu 89% ( 32 murid ) dan murid yang belum tuntas
mencapai 11% (4 murid) sehingga menunjukkan terjadinya peningkatan terhadap hasil belajar
murid dalam pembelajaran. Dan setelah dilakukan pembelajaran pada pertemuan 2 dengan
menggunakan metode pembelajaran berdiferensiasi diperoleh hasil belajar post test 2 yaitu
bahwa ketuntasan hasil belajar murid sudah ada kenaikan. bahwa presentase ketuntasan hasil
belajar murid sudah 100% (36 murid) yang sudah tuntas sehingga menunjukkan terjadinya
peningkatan terhadap hasil belajar murid dalam pembelajaran. Berdasarkan output Pair 1
diperoleh nilai sig.(2 tailed) sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan rata-rata hasil belajar Pendidikan Pancasila Elemen Bhinneka Tunggal Ika pada siswa
kelas X TITL 3 Tahun Akademik 2023/2024 untuk pretest dan posttest pada kelas eksperimen.
Hasil analisis statistik inferensial dengan menggunakan rumus uji t, dapat diketahui bahwa nilai t
tabel sebesar -16.364.
H0: Tidak terdapat perbedaan Hasil pembelajaran antara sebelum dan sesudah menggunakan metode
pembelajaran berdiferensiasi
H1: Terdapat perbedaan Hasil pembelajaran antara sebelum dan sesudah menggunakan metode
pembelajaran berdiferensiasi
Jika sig>0,05 maka H0 diterima
Jika sig<0,05, maka H0 ditolak 0,00<0,05 artinya H0 ditolak sehingga terdapat perbadaan hasil
pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran berdiferensiasi karena
terjadi peningkatan hasil belajar.
5.2 SARAN

Saran yang dapat diambil dari hasil penelitian ini, bagi murid yang hasil belajarnya sudah
mencapai ketuntasan dan aktif dalam pembelajaran untuk dapat mempertahankan atau
meningkatkan hasil belajarnya. Kemudian bagi guru, penerapan pembelajaran berdiferensiasi
sebaiknya digunakan pada pembelajaran PPKN karena terbukti mampu meningkatkan hasil
belajar, memberikan motivasi serta membangkitkan semangat belajar murid yang akhirnya dapat
meningkatkan hasil belajar murid. Pemberian penguatan kesimpulan disetiap akhir pelajaran
lebih ditekankan kembali supaya membuat murid lebih memahami materi yang disampaikan oleh
guru dan menciptakan suasana kelas yang menarik disetiap pembelajaran, Misalnya membuat
media pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga akan tercipta suasana kelas yang
menyenangkan. Selanjutnya, bagi sekolah agar dapat menyediakan sarana dan prasarana sebagai
pendukung dalam proses kegiatan belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA

1. Andini, D. W. (2016). “Differentiated Instruction”: Solusi Pembelajaran dalam


Keberagaman Murid di Kelas Inklusif. Trihayu, 2(3), 259034.
2. Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT.
Rineka Cipta Amelia,
3. Suryosubroto. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rhineka Cipta.

4. Usman. User. (2008). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

5. Suharsimi. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta: Bumi Aksara)

6. Tomlinson, C. A. (2001). How To Differentiate Instruction In Mixed-Ability


Classrooms. ASCD. Tomlinson. (Modul 2.1 PGP, 2020)
7. Trianto. (2011). Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi dan
Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta :
Bumi Aksara

Das könnte Ihnen auch gefallen