LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARI
DISUSUN OLEH:
DELLA INDAH PERMATA, S.Kep
PROGRAM STUDI PROFESI NERS STASE KEPERAWATAN
JIWA STIKES AL INSYIRAH PEKANBARU
2022/2023
LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI
1. Konsep Halusinasi
A. Pengertian
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang
dialami oleh pasien gangguan jiwa, klien merasakan sensasi berupa suara,
penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus nyata.
(Keliat, 2014). Halusinasi pendengaran paling sering terjadi ketika klien
mendengar suara-suara, halusinasi ini sudah melebur dan pasien merasa
sangat ketakutan, panik dan tidak bisa membedakan antara khayalan dan
kenyataan yang dialaminya (Titania,& Maula 2020).
B. Klasifikasi Halusinasi
Menurut (Yusuf, 2015) klasifikasi halusinasi dibagi menjadi 5 yaitu :
No Jenis Data Objektif Data Subjektif
halusinasi
1 Halusinasi 1. Bicara atau tertawa 1. Mendengar suara
Pendengaran sendiri tanpa lawan atau kegaduhan
bicara 2. Mendengar suara
2. Marah-marah tanpa yang mengajak
sebab mencondongkan bercakap-cakap
telinga ke arah tertentu 3. Mendengar suara
3. Menutup telinga yang menyuruh
melakukan sesuatu
yang berbahaya
2 Halusinasi 1. Menunjuk- 1. Melihat bayangan,
penglihatan nunjuk ke arah tertentu sinar, bentuk
geometris, bentuk
2. Ketakutan pada
kartun, melihat
objek yang tidak jelas
hantu atau monster
3 Halusinasi 1. Menghindu seperti 1. Membaui bau-bauan
penghindu sedang membaui seperti bau darah,
bau- bauan tertentu urine, feses,
2. Menutup hidung 2. kadang-kadang bau
itu menyenangkan
4 Halusinasi 1. Sering meludah 1. Merasakan rasa
pengecepan seperti darah, urine,
2. Muntah
feses
5 Halusinasi Menggaruk-garuk 1. Mengatakan ada
perabaan permukaan kulit serangga di
permukaan kulit
2. Merasa seperti
tersengat listrik
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala halusinasi dinilai dari hasil observasi terhadap
pasien serta ungkapan pasien menurut (Oktiviani, 2020) :
1. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai
2. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara
3. Gerakan mata cepat
4. Menutup telinga
5. Respon verbal lambat atau diam
6. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan
7. Terlihat bicara sendiri
8. Menggerakkan bola mata dengan cepat
9. Bergerak seperti membuang atau mengambil sesuatu
10. Duduk terpaku, memandang sesuatu, tiba-tiba berlari ke ruangan lain
11. Disorientasi (waktu, tempat, orang)
12. Perubahan kemampuan dan memecahkan masalah
13. Perubahan perilaku dan pola komunikasi
14. Gelisah, ketakutan, ansietas
15. Peka rangsang
16. Melaporkan adanya halusinasi
D. Etiologi
Faktor predisposisi klien halusinasi menurut (Oktiviani, 2020) :
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya kontrol
dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri
sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri.
b. Faktor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima dilingkungan sejak bayi akan
merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungan.
c. Biologis
Faktor biologis Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang
maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat
halusinogen neurokimia. Akibat stress berkepanjangan
menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak.
d. Psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah
terjerumus pada penyalahgunaan zat adikitif. Hal ini berpengaruh
pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang
tepat demi masa depannya, klien lebih memilih kesenangan sesaat
dan lari dari alam nyata menuju alam khayal.
e. Sosial Budaya
Meliputi klien mengalami interaksi sosial dalam fase awal dan
comforting, klien meganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam
nyata sangat membahayakan. Klien asyik dengan Halusinasinya,
seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan
interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan
dalam dunia nyata.
2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi merupakan stimulus yang dipersepsikan oleh individu
sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan energi
ekstra untuk menghadapinya. Seperti adanya rangsangan dari
lingkungan, misalnya partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama
tidak diajak komunikasi, objek yang ada di lingkungan dan juga suasana
sepi atau terisolasi, sering menjadi pencetus terjadinya halusinasi. Hal
tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang
tubuh mengeluarkan zat halusinogenik. Penyebab Halusinasi dapat
dilihat dari lima dimensi (Oktiviani, 2020) yaitu :
a. Dimensi fisik: Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi
fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaaan obat- obatan,
demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk
tidur dalam waktu yang lama.
b. Dimensi Emosional: Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar
problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu
terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut
hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap
ketakutan tersebut.
c. Dimensi Intelektual: Dalam dimensi intelektual ini menerangkan
bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya
penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha
dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat
mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol
semua perilaku klien.
d. Dimensi Sosial: Klien mengalami interaksi sosial dalam fase awal
dan comforting, klien meganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam
nyata sangat membahayakan. Klien asyik dengan Halusinasinya,
seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan
interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan
dakam dunia nyata.
e. Dimensi Spiritual: Secara sepiritual klien Halusinasi mulai dengan
kehampaan hidup, rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktifitas
ibadah dan jarang berupaya secara sepiritual untuk menyucikan diri.
Saat bangun tidur klien merasa hampa dan tidak jelas tujuan
hidupnya. Individu sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya
menjemput rezeki, menyalahkan lingkungan dan orang lain yang
menyebabkan takdirnya memburuk.
Adaptif Mal Adaptif
Pikiran logis Persepsi Distorsi pikiran Gangguan
akurat emosi kosisten (pikiran kotor) Ilusi pikir/delusi
dengan pengalaman Reaksi emosi Halusinasi Perilaku
perilaku sesuai berlebih atau disorganisasi
hubungan social kurang perilaku Isolasi sosial
aneh dan tidak bisa
menarik diri
1. Respon Adaptif
Respon adaptif respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial
budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas
normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan
masalah tersebut, respon adaftif :
a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
b. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul
dari pengalaman
c. Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam
batas kewajaran.
d. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang
lain dan lingkungan.
2. Respon Maladaptif
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan
masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan
lingkungan, adapun respon maladaptif meliputi:
a. Kelainan pikiran adalah keyakianan yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertetangan dengan kenyataan sosial.
b. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi
eksternal yang tidak realita atau tidak ada.
c. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari
hati.
d. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur.
e. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu
dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu
kecelakaan yang negatif mengancam.
E. Fase Halusinasi
Halusinasi terbagi atas beberapa fase (Oktiviani, 2020):
a. Fase Pertama / Sleep disorder
Pada fase ini Klien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari
lingkungan, takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah.
Masalah makin terasa sulit karna berbagai stressor terakumulasi,
misalnya kekasih hamil, terlibat narkoba, dikhianati kekasih, masalah
dikampus, drop out, dst. Masalah terasa menekan karena terakumulasi
sedangkan support sistem kurang dan persepsi terhadap masalah sangat
buruk. Sulit tidur berlangsung trus-menerus sehingga terbiasa menghayal.
Klien menganggap lamunan-lamunan awal tersebut sebagai pemecah
masalah
b. Fase Kedua / Comforting
Klien mengalami emosi yang berlanjut seperti adanya perasaan cemas,
kesepian, perasaan berdosa, ketakutan, dan mencoba memusatkan
pemikiran pada timbulnya kecemasan. Ia beranggapan bahwa
pengalaman pikiran dan sensorinya dapat dia kontrol bila kecemasannya
diatur, dalam tahap ini ada kecenderungan klien merasa nyaman dengan
halusinasinya
c. Fase Ketiga / Condemning
Pengalaman sensori klien menjadi sering datang dan mengalami bias.
Klien mulai merasa tidak mampu lagi mengontrolnya dan mulai berupaya
menjaga jarak antara dirinya dengan objek yang dipersepsikan klien
mulai menarik diri dari orang lain, dengan intensitas waktu yang lama.
d. Fase Keempat / Controlling Severe Level of Anxiety
Klien mencoba melawan suara-suara atau sensori abnormal yang datang.
Klien dapat merasakan kesepian bila halusinasinya berakhir. Dari sinilah
dimulai fase gangguan psikotik.
e. Fase ke lima / Conquering Panic Level of Anxiety
Pengalaman sensorinya terganggu. Klien mulai terasa terancam dengan
datangnya suara-suara terutama bila klien tidak dapat menuruti ancaman
atau perintah yang ia dengar dari halusinasinya. Halusinasi dapat
berlangsung selama minimal empat jam atau seharian bila klien tidak
mendapatkan komunikasi terapeutik. Terjadi gangguan psikotik berat.
F. Penatalaksanaan Medis
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang paling sering terjadi
pada gangguan Skizofrenia. Dimana Skizofrenia merupakan jenis psikosis,
adapun tindakan penatalaksanaan dilakukan dengan berbagai terapi
(Pardede, Keliat, & Wardani, 2013) yaitu :
1. Psikofarmakologis
Obat sangat penting dalam pengobatan skizofrenia, karena obat dapat
membantu pasien skizofrenia untuk meminimalkan gejala perilaku
kekerasan, halusinasi, dan harga diri rendah. Sehingga pasien
skizofrenia harus patuh minum obat secara teratur dan mau mengikuti
perawatan.
a. Haloperidol (HLD)
Obat yang dianggap sangat efektif dalam pengelolaan
hiperaktivitas, gelisah, agresif, waham, dan halusinasi.
b. Chlorpromazine (CPZ)
Obat yang digunakan untuk gangguan psikosis yang terkait
skizofrenia dan gangguan perilaku yang tidak terkontrol
c. Trihexilpenidyl (THP)
Obat yang digunakan untuk mengobati semua jenis parkinson dan
pengendalian gejala ekstrapiramidal akibat terapi obat.
1) Dosis
a) Haloperidol 3x5 mg (tiap 8 jam) intra muscular.
b) Clorpromazin 25-50 mg diberikan intra muscular setiap 6-8
jam sampai keadaan akut teratasi.
2) Dalam keadaan agitasi dan hiperaktif diberikan tablet:
a) Haloperidol 2x1,5 – 2,5 mg per hari.
b) Klorpromazin 2x100 mg per hari
c) Triheksifenidil 2x2 mg per hari
3) Dalam keadaan fase kronis diberikan tablet:
a) Haloperidol 2x0,5 – 1 mg perhari
b) Klorpromazin 1x50 mg sehari (malam)
c) Triheksifenidil 1-2x2 mg sehari
d) Psikosomatik
2. Terapi kejang listrik (Electro Compulsive Therapy)
Yaitu suatu terapi fisik atau suatu pengobatan untuk menimbulkan
kejang grand mal secara artifisial dengan melewatkan aliran listrik
melalui elektroda yang dipasang pada satu atau dua temples pada
pelipis. Jumlah tindakan yang dilakukan merupakan rangkaian yang
bervariasi pada setiap pasien tergantung pada masalah pasien dan
respon terapeutik sesuai hasil pengkajian selama tindakan. Pada pasien
Skizofrenia biasanya diberikan 30 kali. ECT biasanya diberikan 3 kali
seminggu walaupun biasanya diberikan jarang atau lebih sering.
Indikasi penggunaan obat: penyakit depresi berat yang tidak berespon
terhadap obat, gangguan bipolar di mana pasien sudah tidak berespon
lagi terhadap obat dan pasien dengan bunuh diri akut yang sudah lama
tidak mendapatkan pertolongan.
3. Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relatif lama, juga merupakan bagian penting
dalam proses terapeutik. Upaya dalam psikoterapi ini meliputi:
memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan terapeutik,
memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaan secara verbal,
bersikap ramah, sopan, dan jujur terhadap klien.
G. Komplikasi
Halusinasi dapat menjadi suatu alasan mengapa klien melakukan tindakan
perilaku kekerasan karena suara-suara yang memberinya perintah sehingga
rentan melakukan perilaku yang tidak adaptif. Perilaku kekerasan yang
timbul pada klien skizofrenia diawali dengan adanya perasaan tidak
berharga, takut dan ditolak oleh lingkungan sehingga individu akan
menyingkir dari hubungan interpersonal dengan orang lain,komplikasi yang
dapat terjadi pada klien dengan masalah utama gangguan sensori persepsi:
halusinasi, antara lain: resiko prilaku kekerasan, harga diri rendah dan
isolasi sosial (Keliat, 2014).
2.2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian Keperawatan
Menurut (Keliat, 2014). Bahwa faktor-faktor terjadinya halusinasi
meliputi:
1. Faktor predisposisi
a. Faktor biologis
Pada keluarga yang melibatkan anak kembar dan anak yang
diadopsi menunjukkan peran genetik pada schizophrenia. Kembar
identik yang dibesarkan secara terpisah mempunyai angka kejadian
Schizophrenia lebih tinggi dari pada saudara sekandung yang
dibesarkan secara terpisah.
b. Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis akan mengakibatkan
stress dan kecemasan yang berakhir dengan gangguan orientasi
realita.
c. Faktor sosial budaya
Stress yang menumpuk awitan schizophrenia dan gangguan
psikotik lain, tetapi tidak diyakini sebagai penyebab utama
gangguan.
2. Faktor presipitasi
a. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologis
maladaptif adalah gangguan dalam komunikasi dan putaran umpan
balik otak dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam
otak, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi stimulus.
b. Lingkungan
Ambang toleransi terhadap stres yang ditentukan secara biologis
berinteraksi dengan stresor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan prilaku.
c. Stres sosial / budaya
Stres dan kecemasan akan meningkat apabila terjadi penurunan
stabilitas keluarga, terpisahnya dengan orang terpenting atau
disingkirkan dari kelompok.
d. Faktor psikologik
Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai
terbatasnya kemampuan mengatasi masalah dapat menimbulkan
perkembangan gangguan sensori persepsi halusinasi.
e. Mekanisme koping
Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi pasien dari
pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respons
neurobiologis maladaptif meliputi : regresi, berhunbungan dengan
masalah proses informasi dan upaya untuk mengatasi ansietas,
yang menyisakan sedikit energi untuk aktivitas sehari-hari.
Proyeksi, sebagai upaya untuk menejlaskan kerancuan persepsi dan
menarik diri.
f. Sumber koping
Sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman tentang
pengaruh gangguan otak pada perilaku. Orang tua harus secara
aktif mendidik anak–anak dan dewasa muda tentang keterampilan
koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari
pengamatan. Disumber keluarga dapat pengetahuan tentang
penyakit, finensial yang cukup, faktor ketersediaan waktu dan
tenaga serta kemampuan untuk memberikan dukungan secara
berkesinambungan.
g. Perilaku halusinasi
Batasan karakteristik halusinasi yaitu bicara teratawa sendiri,
bersikap seperti memdengar sesuatu, berhenti bicara ditengah –
tengah kalimat untuk mendengar sesuatu, disorientasi, pembicaraan
kacau dan merusak diri sendiri, orang lain serta lingkungan.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Menurut NANDA 2015-2017 yakni gangguan persepsi. Dengan faktor
berhubungan dan batasan karakteristik disesuaikan dengan keadaan yang
ditemukan pada tiap-tiap partisipan. Topik yang diteliti yakni kemampuan
mengontrol halusinasi dengar (Aji, 2019).
2.2.3 Perencanaan Keperawatan
Rencana tindakan pada keluarga (Husein,& Arifin,2011) adalah ;
1. Diskusikan masalah yang dihadap keluarga dalam merawat pasien
2. Berikan penjelasan meliputi : pengertian halusinasi, proses terjadinya
halusinasi, jenis halusinasi yang dialami, tanda dan gejala halusinasi,
proses terjadinya halusinasi.
3. Jelaskan dan latih cara merawat anggota keluarga yang mengalami
halusinasi : menghardik, minum obat, bercakap- cakap, melakukan
aktivitas.
4. Diskusikan cara menciptakan lingkungan yang dapat mencegah
terjadinya halusinasi.
5. Diskusikan tanda dan gejala kekambuhan
6. Diskusikan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk
follow up anggota keluarga dengan halusinasi.
Rencana tindakan keperawatan pada klien dengan diagnosa
gangguan persepsi sensori halusinasi meliputi pemberian tindakan
keperawatan berupa terapi (Sulah, Pratiwi, & Teguh. 2016) yaitu :
1. Bantu klien mengenal halusinasinya meliputio isi, waktu terjadi
halusinasi, isi, frekuensi, perasaan saat terjadi halusinasi respon klien
terhadap halusinasi
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik,
2. meminum obat secara teratur.
3. Melatih bercakap-cakap dengan orang lain,
4. Menyusun kegiatan terjadwal dan dengan aktifitas
2.2.4 Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan.
Pada situasi nyata sering pelaksanaan jauh berbeda dengan rencana, hal ini
terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan rencana tertulis dalam
melaksanakan tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan
keperawatan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan
singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai
dengan kondisinya (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri,
apakah kemampuan interpersonal, intelektual, tekhnikal sesuai dengan
tindakan yang akan dilaksanakan, dinilai kembali apakah aman bagi klien.
Setelah semuanya tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh
dilaksanakan.
Adapun pelaksanaan tindakan keperawatan jiwa dilakukan
berdasarkan Strategi Pelaksanaan (SP) yang sesuai dengan masing- masing
masalah utama. Pada masalah gangguan sensori persepsi: halusinasi
pendengaran, terdapat 2 jenis SP, yaitu SP Klien dan SP Keluarga.SP klien
terbagi menjadi SP 1 (membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi
halusinasi “jenis, isi, waktu, frekuensi, situasi, perasaan dan respon
halusinasi”, mengajarkan cara menghardik, memasukan cara menghardik
ke dalam jadwal; SP 2 (mengevaluasi SP 1, mengajarkan cara minum obat
secara teratur, memasukan ke dalam jadwal); SP 3 (mengevaluasi SP 1 dan
SP 2, menganjurkan klien untuk mencari teman bicara); SP 4
(mengevaluasi SP 1, SP 2, dan SP 3, melakukan kegiatan terjadwal).
SP keluarga terbagi menjadi SP 1 (membina hubungan saling
percaya, mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat
pasien, menjelaskan pengertian, tanda dan gejala helusinasi, jenis
halusinasi yang dialami klien beserta proses terjadinya, menjelaskan cara
merawat pasien halusinasi); SP 2 (melatih keluarga mempraktekan cara
merawat pasien dengan halusinasi, melatih keluarga melakukan cara
merawat langsung kepada pasien halusinasi); SP 3 (membantu keluarga
membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge
planing), menjelaskan follow up pasien setelah pulang).
Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak
dengan klien dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan
dan peran serta klien yang diharapkan, dokumentasikan semua tindakan
yang telah dilaksanakan serta respon klien.
2.2.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses hasil atau sumatif dilakukan dengan
membandingkan respon klien pada tujuan umum dan tujuan khusus yang
telah ditentukan.halusinasi pendengaran tidak terjadi perilaku kekerasan,
klien dapat membina hubungan saling percaya, klien dapat mengenal
halusinasinya, klien dapat mengontrol halusinasi dengar dari jangka waktu
4x24 jam didapatkan data subjektif keluarga menyatakan senang karena
sudah diajarkan teknik mengontrol halusinasi, keluarga menyatakan pasien
mampu melakukan beberapa teknik mengontrol halusinasi. Data objektif
pasien tampak berbicara sendiri saat halusinasi itu datang, pasien dapat
berbincang-bincang dengan orang lain, pasien mampu melakukan aktivitas
terjadwal, dan minum obat secara teratur ( Aji, 2019 )
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, T & Maula, (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada An S Dengan
Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Pendengaran. Karya Tulis
Ilmiah,Universitas Kusuma Husada Surakarta.
http://eprints.ukh.ac.id/id/eprint/1510/1/naskah%20publikasi%20titani
a%20anggraini.pdf
Aji, W. M. H. (2019). Asuhan Keperawatan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Halusinasi Dengar Dalam Mengontrol Halusinasi.
https://doi.org/10.31219/osf.io/n9dgs
Damaiyanti & Iskandar. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika
Aditama.
Husein, A. N., & Arifin, S. (2011) . Gambaran Distribusi Penderita Gangguan
Jiwa Di Wilayah Banjarmasin Dan Banjarbaru. Berkala
Kedokteran, 9(2), 199-209. http://dx.doi.org/10.20527/jbk.v9i2.950
Keliat B. A. (2014). Proses Keperawatan Jiwa Edisi II. Jakarta : EGC.
Keliat, B. A. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. EGC, Jakarta.
Keliat, B. A dan Akemat. (2012). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.
Jakarta:EGC.
Kemengkes RI. (2019). Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS.Jakarta: Kemengkes
RI.https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/10/08/persebaran-
prevalensi-skizofreniapsikosis-di-indonesia
Manao, B. M., & Pardede, J. A. (2019). Beban Keluarga Berhubungan Dengan
Pencegahan Kekambuhan Pasien Skizofrenia. Jurnal Keperawatan
Jiwa, 12(3).
https://www.researchgate.net/profile/JekAmidos/publication/3479926
06
Nyumirah, S. (2013). Peningkatan kemampuan interaksi sosial (kognitif, afektif
dan perilaku) melalui penerapan terapi perilaku kognitif di rsj dr
amino gondohutomo semarang. Jurnal keperawatan jiwa, 1(2)..
https://doi.org/10.26714/jkj.1.2.2013.%25p
Oktiviani, D. P. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. K dengan masalah
Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran di Ruang Rokan
Rumah Sakit Jiwa Tampan (Doctoral dissertation, Poltekkes
Kemenkes Riau).http://repository.pkr.ac.id/id/eprint/498
Pardede, J. A., & Hasibuan, E. K. (2019). Dukungan Caregiver Dengan Frekuensi
Kekambuhan Pasien Skizofrenia. Idea Nursing Journal, 10(2).
http://e-repository.unsyiah.ac.id/INJ/article/view/17161
Pardede, J. A., Keliat, B. A., & Yulia, I. (2015). Kepatuhan dan Komitmen Klien
Skizofrenia Meningkat Setelah Diberikan Acceptance And
Commitment Therapy dan Pendidikan Kesehatan Kepatuhan Minum
Obat. Jurnal Keperawatan Indonesia,
18(3),157-166. http://dx.doi.org/10.7454/jki.v18i3.419
Pardede, J. A., & Siregar, R. A. (2016). Pendidikan Kesehatan Kepatuhan Minum
Obat Terhadap Perubahan Gejala Halusinasi Pada Klienskizofrenia.
Mental Health, 3(1).https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/63689754
Pardede, J. A., Keliat, B. A., & Wardani, I. Y. (2013). Pengaruh Acceptance And
Commitment Therapy Dan Pendidikan Kesehatan Kepatuhan Minum
Obat Terhadap Gejala, Kemampuan Berkomitmen Pada Pengobatan
Dan Kepatuhan Pasien Skizofrenia. https://www.researchgate.net/
profile/JekAmidos/publication/347011273_
Sulahyuningsih, E., Pratiwi, A., & Teguh, S. (2016). Pengalaman Perawat Dalam
Mengimplementasikan Strategi Pelaksanaan (Sp) Tindakan
Keperawatan Pada Pasien Halusinasi Di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surakarta).http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/40858
Stuart, G. W. (2013). Buku Saku Keperawatan Jiwa . Edisi 5. Jakarta. EGC
Townsend, M. C, 2014 ,Psychiatric Mental Healt Nursing : Concepts
of Care in Evidence-BasedPractice (6th ed.), Philadelphia: F.A.
Davis. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=3a0-
UU Kesehatan Jiwa, 2014. https://ipkindonesia.or.id/media/2017/12/uu-no-18-th-
2014-ttg-kesehatan-jiwa.pdf
Yosep I. (2011). Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung: Refika Aditama
http://repository.um-surabaya.ac.id/id/eprint/3356
Yusuf, A Dkk. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta Salemba
Medika. http://eprints.umpo.ac.id/id/eprint/6107