sejarah perkembangan
sosiologi di eropa
Abad ke-15
Ketika terjadi revolusi sosial di Perancis, sistem pemerintahan teokrasi
berkuasa dengan jabatan kaisar sebagai wakil tuhan sehingga diyakini
sebagai manusia yang tidak jahat dan tidak bersalah Di masa
pemerintahan Louis IX, absolutisme tumbuh subur pada saat itu. Penjara
Bastille menjelaskan betapa kejam dan sewenang-wenangnya tindakan
kaisar terhadap harkat dan martabat manusia. Kediktatoran seorang
kaisar mencerahkan pemikiran masyarakat menjadi lebih rasional dan
menuntun mereka pada perkembangan yang lebih sejahtera.
Permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat menjadikan
sosiologi tumbuh dan berkembang di Eropa.
Menurut Karl Marx 1818 - 1883
Karl Marx dalam karyanya yang berjudul The
Communist Manifesto menyatakan bahwa sosiologi dapat
dijadikan senjata untuk membebaskan masyarakat dari
kurungan sistem kapitalisme sehingga dapat tercapai
masyarakat tanpa kelas.
Karl Marx (1818-1883) memandang bahwa sejatinya
aktor utama yang berperan penting dalam kelangsungan
hidup suatu masyarakat adalah kelas-kelas sosial.
Karl Marx Keterasingan yang dialami manusia pun sesungguhnya
adalah hasil penindasan satu kelas oleh kelas lainnya
Menurut Karl Marx, sosiologi adalah ilmu yang
mengungkapkan hukum-hukum perkembangan masyarakat
manusia dan mengidentifikasi konflik-konflik sosial yang
mendasari perubahan sosial.
Menurut emelie durkheim 1893 - 1987
Menurut Durkheim, sosiologi sudah tak bisa lagi dipahami dalam keadaan
mental murni, seperti yang diperagakan oleh Comte dan Spencer yang
menempatkan dunia ide sebagai pokok persoalan. Sebab itu, Durkheim kemudian
membangun sebuah konsep dalam sosiologi yang disebutnya fakta sosial
(social facts). Fakta sosial harus menjadi pokok persoalan bagi sosiologi, dia
harus diteliti dengan riset empiris. Inilah yang kemudian membedakan sosiologi
sebagai kegiatan empiris, yang berbeda dengan filsafat sebagai kegiatan
mental.
Pemikiran Emile Durkheim tentang Sosiologi tak terlepas dari teori fakta
Emelie
sosial yang diungkapkannya. Menurut Emile Durkheim, fakta sosial masyarakat durkeim
terdiri dari luar diri individu, seperti kepercayaan, norma, status, peran,
serta institusi. Di samping itu, Durkheim juga mengungkapkan bahwa teori
fakta sosial adalah cara pandang seorang individu dalam melakukan suatu
tindakan sosial melalui pemikirannya yang didasarkan oleh sikap koersif
dalam kehidupan bermasyarakat.
Durkheim memilih belajar mengenai teori bunuh diri karena persoalan ini
nyata merupakan fenomena konkret, Dengan tujuan utama untuk
menunjukkan kekuatan ilmu sosiologi. Bunuh diri yang adalah tindakan pribadi
dan dapat dianalisa. Durkheim lebih berfokus pada angka bunuh diri dalam
suatu masyarakat bisa lebih tinggi dari masyarakat lain.Kesimpulan Durkheim
akan fakta tersebut adalah bahwa faktor penting dalam perbedaan sebuah
angka bunuh diri akan ditemukan dalam perbedaan tingkat fakta sosial.
Kelompok yang berbeda memiliki sentimen kolektif yang berbeda sehingga
menciptakan arus sosial yang berbeda dan itulah yang mempengaruhi
keputusan seseorang untuk bunuh diri