UAS
Pembelajaran Sosial Emosional
Dosen Pengampu:
Dr. Noorhapizah,S.T., [Link]
Disusun Oleh :
Nama : Noor Amaliah Puteri
NIM : 2230111720832
Kelas : PGSD 1 (A)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN PROFESI GURU PRA JABATAN
BANJARMASIN
2023
BAB I
ASESMEN AWAL
A. Asesmen Awal
Secara umum fungsi pendidikan ini adalah untuk membentuk karakter
seorang peserta didik sehingga menjadi pribadi yang bermoral, berakhlak mulia,
bertoleran, tangguh, dan berperilaku baik.
Dunia pendidikan yang secara filosofis dipandang sebagai alat atau wadah
untuk mencerdaskan dan membentuk watak manusia agar lebih baik (humanisasi),
sekarang sudah mulai bergeser atau disorientasi. Demikian terjadi salah satunya
dikarenakan kurang siapnya pendidikan untuk mengikuti perkembangan zaman
yang begitu cepat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia
Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 57
Tahun 2021 mengenai Standar Nasional Pendidikan pada pasal 5 ayat (2) yang
menyatakan Standar tingkat pencapaian perkembangan anak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) difokuskan pada aspek perkembangan anak yang
mencakup:
a. nilai agama dan moral;
b. nilai Pancasila;
c. fisik motorik;
d. kognitif;
e. bahasa; dan
f. sosial emosional.
Hal tersebut sudah menjadi keharusan acuan bagi para pemangku kebijakan
dan seluruh pendidik dalam rangka membentuk karakter peserta didik.
Pendidikan karakter dinilai sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak
usia SD karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk
mengembangkan nilai, sikap dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau
budi pekerti luhur (Hadi, 2011).
Peserta didik di sekolah memiliki karakteristik yang berbeda antara satu
dengan lainnya. Karakteristik ini berpengaruh terhadap sosial emosional masing-
masing peserta didik. Jadi untuk melaksanakan pembelajaran sosial emosional di
kelas, seorang guru harus didasarkan pada karakteristik peserta didiknya.
Proses pembelajaran anak tidak tergantung pada aspek inteligensi atau
kemampuan kognitif saja, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain seperti aspek
perkembangan emosi dan sosial. Aspek emosi dan sosial ini sangat berpengaruh
terhadap prilaku anak kepada dirinya, orang lain dan lingkungannya.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari Pengenalan Emosi dan Manajemen Diri pada Peserta Didik
dengan Menggunakan Roda Emosi sebagai berikut :
1. Roda emosi ini dapat membantu Guru dalam mengenali emosi peserta
didik yang muncul;
2. Pengenalan emosi seperti ini dapat membantu baik guru maupun peserta
didik untuk dapat merespon terhadap kondisinya sendiri secara lebih tepat.
C. Manfaat
Manfaat dari Pengenalan Emosi dan Manajemen Diri pada Peserta Didik
dengan Menggunakan Roda Emosi sebagai berikut :
1. Kesadaran Emosi yang Meningkat
Media roda emosi memungkinkan peserta didik untuk mengenali dan
mengidentifikasi berbagai macam emosi yang mereka rasakan. Dengan
menggunakan roda emosi, mereka dapat memahami perbedaan antara emosi
seperti kegembiraan, kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan lain-lain. Ini
membantu meningkatkan kesadaran emosi mereka secara keseluruhan.
2. Pengelolaan Emosi yang Lebih Baik
Dengan memahami emosi mereka, peserta didik dapat belajar bagaimana
mengelola emosi mereka dengan lebih efektif. Media roda emosi
menyediakan panduan visual yang membantu individu dalam
mengidentifikasi emosi yang mereka alami dan menghubungkannya dengan
situasi atau peristiwa tertentu. Dengan pemahaman ini, mereka dapat
mengembangkan strategi yang sesuai untuk mengatasi emosi negatif atau
mengembangkan emosi positif.
3. Komunikasi yang Lebih Efektif
Media roda emosi juga dapat membantu individu peserta didik dalam
berkomunikasi secara lebih efektif. Dengan menggunakan roda emosi,
seseorang dapat mengungkapkan perasaan mereka dengan lebih jelas kepada
orang lain. Ini membantu mengurangi kebingungan dan meningkatkan
pemahaman antara individu dalam hubungan interpersonal.
4. Mengembangkan Empati
Penggunaan media roda emosi juga dapat membantu dalam mengembangkan
empati. Ketika peserta didik belajar mengenali dan memahami emosinya
sendiri, mereka juga akan menjadi lebih peka terhadap emosi orang lain. Ini
dapat membantu dalam membangun hubungan yang lebih baik dengan orang
lain, karena mereka dapat menunjukkan pengertian dan dukungan yang lebih
besar terhadap perasaan orang lain.
BAB II
PERENCANAAN
Berdasarkan hasil pengamatan/asesmen awal mengenai Roda Emosi di sekolah
tempat PPL dilaksanakan, disusunlah rencana intervensi seperti tertera pada tabel berikut
ini.
Tabel Rencana Intervensi
Rencana “Pengenalan Emosi dan Manajemen Diri pada
Peserta Didik dengan Menggunakan Roda Emosi”
Bagaimana Aplikasinya 1. Kenalkan konsep emosi: Mulailah dengan
memperkenalkan konsep emosi kepada peserta
didik. Ajarkan mereka tentang berbagai emosi
dasar seperti senang, sedih, marah, takut, dan
kecewa. Diskusikan bersama mereka situasi-
situasi yang dapat memicu emosi tersebut.
2. Kenali ekspresi emosi: Ajarkan peserta didik
mengenali ekspresi wajah dan tubuh yang
terkait dengan setiap emosi. Beri contoh-contoh
ekspresi emosi yang mungkin mereka lihat pada
diri sendiri atau orang lain.
3. Buat roda emosi: Bersama-sama dengan peserta
didik, buat roda emosi yang mencakup berbagai
emosi dasar. Bagilah roda emosi menjadi
beberapa bagian yang menunjukkan tingkat
intensitas emosi, misalnya emosi ringan,
sedang, dan kuat.
4. Latihan pengenalan emosi: Selama kegiatan
kelas atau bimbingan, tunjukkan gambar atau
berikan contoh situasi yang memicu emosi
tertentu. Mintalah peserta didik untuk
mengidentifikasi emosi yang terkait dan
menunjukkannya pada roda emosi yang telah
dibuat.
5. Diskusikan strategi pengelolaan emosi: Setelah
peserta didik dapat mengidentifikasi emosi,
diskusikan strategi pengelolaan emosi yang
sehat. Bantu mereka memahami bahwa setiap
emosi dapat dihadapi dengan cara yang positif,
seperti bernapas dalam-dalam, berbicara
dengan orang dewasa yang dipercaya, atau
melakukan kegiatan yang menenangkan.
6. Praktek pengelolaan emosi: Berikan
kesempatan pada peserta didik untuk berlatih
mengelola emosi mereka dalam situasi sehari-
hari. Berikan dukungan dan arahan saat mereka
menghadapi tantangan emosional.
7. Evaluasi dan umpan balik: Lakukan evaluasi
secara berkala untuk melihat kemajuan peserta
didik dalam mengenali dan mengelola emosi
mereka. Berikan umpan balik positif dan
dorong mereka untuk terus mengembangkan
keterampilan ini.
Waktu Pelaksanaan Program ini dapat dilaksanakan saat awal
pembelajaran atau sebelum memulai pembelajaran
dan dilakukan secara rutin.
Hambatan / Tantangan yang 1. Kesulitan mengenali dan mengungkapkan
Akan Dihadapi emosi: Beberapa peserta didik mungkin
mengalami kesulitan mengenali dan
mengungkapkan emosi mereka dengan jelas.
Mereka mungkin belum terbiasa
mengidentifikasi perasaan yang mereka
rasakan atau merasa malu untuk
mengekspresikannya.
2. Konteks dan waktu yang terbatas: Tantangan
lainnya adalah keterbatasan waktu dan konteks
dalam pengaplikasian roda emosi di lingkungan
kelas. Kurikulum yang padat dan tekanan
waktu dapat membuat sulit untuk
mengalokasikan waktu yang cukup untuk
mendiskusikan dan melatih pengenalan serta
pengelolaan emosi.
3. Kesulitan melibatkan seluruh peserta didik:
Mungkin ada peserta didik yang cenderung
pasif atau tidak tertarik dalam pengaplikasian
roda emosi. Membangun keterlibatan aktif dari
semua peserta didik dapat menjadi tantangan
yang perlu diatasi.
Siapa yang Akan Terlibat Program ini akan melibatkan seluruh peserta didik
dari kelas I sampai kelas VI dan seluruh dewan
guru. Peserta didik akan berpartisipasi dalam
penerapan program ini karena menjadi sasaran
utama dalam tujuan kegiatan program ini. Peran
guru dalam pelaksanaan program ini yaitu
memfasilitasi, menyediakan kebutuhan untuk
menerapkan program tersebut dan dukungan untuk
peserta didik, sebagai motivator untuk
meningkatkan kegairahan dan pengembangan
kegiatan program, sebagai inspirator guru
membangkitkan semangat peserta didik untuk maju
mengembangkan potensinya dan memberikan
contoh tauladan yang baik bagi peserta didik, serta
memonitor kemajuan peserta didik.
BAB III
PELAKSANAAN
A. Waktu dan Tempat
Program ini dilakukan secara berkelanjutan selama satu tahun ajaran. Sehingga
terjadi pembiasaan dan internalisasi keterampilan sosial dan emosional pada peserta didik.
Kegiatan dilakukan setiap pagi sebelum peserta didik masuk ke ruang kelas.
B. Pelaksanaan
Berikut merupakan langkah-langkah pembiasaan mengenal emosi dan perasaan
bagi peserta didik dengan menggunakan “Roda Emosi”:
1. Setiap kelas menempel poster “Roda Emosi” di depan kelas
2. Pendidik menjelaskan tentang “Roda Emosi” sebelumnya kepada peserta didik
sampai mereka memahaminya. Kemudian memberikan kertas yang berisi nama
mereka dan perekat yang dapat ditempelkan berkali kali.
3. Pada hari berikutnya dan seterusnya, sebelum memasuki kelas peserta didik diminta
berbaris. Kemudian ketika sudah rapi, peserta didik secara bergantian menempelkan
nama mereka pada emosi yang mereka rasakan pada hari tersebut.
4. Setelah seluruh peserta didik masuk ke dalam kelas dan duduk rapi, guru
melakukan tanya jawab terhadap perasaan peserta didik. Guru membimbing peserta
didik untuk mengekspresikan perasaan mereka secara verbal dan membantu mereka
bagaimana mengatasi perasaan negatif.
5. Guru secara berkala memberikan pengetahuan tentang bagaimana melakukan
manajemen emosi pada peserta didik.
Pendidik dapat membuat jurnal emosi peserta didik secara khusus dan dapat
mendiskusikannya dengan orang tua jika dirasa perlu pada waktu tertentu atau pada
akhir tahun pembelajaran. Hal ini dilakukan agar orang tua murid dapat memahami
perkembangan emosi anak-anak mereka.
BAB IV
EVALUASI
Evaluasi keberhasilan terhadap kegiatan “Pengenalan Emosi dan Manajemen Diri
pada Peserta Didik dengan Menggunakan Roda Emosi” dapat dilakukan dengan empat
cara, yaitu sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi terhadap kegiatan dapat dilaksanakan wali kelas selama penggunaan
“Roda Emosi”. Guru dapat mengamati dan mencatat perilaku, partisipasi, dan
keaktifan peserta didik selama kegiatan berlangsung. Guru dapat
mendokumentasikan hasil observasi secara khusus pada jurnal harian guru dan
dianalisis pada setiap akhir tahun pelajaran.
2. Kuisioner
Kuisioner tentang kegiatan “Roda Emosi” dapat diberikan pada peserta didik dan
guru yang melaksanakan kegiatan ini disekolah. Sehingga pengalaman mereka
dapat digunakan sebagai evaluasi dan dapat diketahui apakah kegiatan berlangsung
dengan baik atau perlu perubahan atau pengembangan lagi.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mendapatkan umpan balik secara langsung terhadap
kegiatan “Roda Emosi”. Sehingga dapat diketahui pendapat, kritik, maupun saran
terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.
4. Portofolio
Guru dapat meminta peserta didik membuat satu tulisan tentang perasaan mereka
dan bagaimana mereka menyikapi atau mengatasi perasaan yang mereka rasakan.
Portofolio ini dapat menggambarkan apakah terjadi perubahan perilaku terhadap
peserta didik selama mengikuti kegiatan “Roda Emosi”. Portofolio dapat
dikumpulkan setiap akhir semester, sehingga hasilnya dapat dibandingkan.
Penggunaan metode evaluasi berupa observasi, kuisioner, wawancara, dan
portofolio tersebut diharapkan dapat memuat perkembangan emosi peserta didik selama
satu tahun ajaran, sehingga dapat dilakukan evaluasi untuk pengembangan program
lanjutan terkait pengenalan emosi bagi peserta didik.
Rubrik Penilaian:
Prosentase Nilai Angka
Indikator Penilaian Keterangan
(%) (1-100)
Asesmen awal/analisis kebutuhan 20
program, tujuan dan manfaat
Metode yang akan diterapkan dan 30
visibilitas (apakah program bisa
diterapkan)
Pelaksanaan di sekolah bisa 30
daring/luring
Metode evaluasi keberhasilan 20
program dan hasil evaluasi.
Total Nilai
DAFTAR PUSTAKA
Hadi, S. (2011). Pembelajaran Sosial Emosional Sebagai Dasar Pendidikan Karakter Anak Usia Dini.
Jurnal Teknodik Vol. XV, 227-240.
Pemerintah Republik Indonesia. (2022, Januari 12). Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Republik Indonesia.