Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
PADA MATERI POKOK HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
(Kelas X MIPA SMAN 2 Teluk Kuantan)
Emelda*, Nofri Yuhelman1, Jumriana Rahayu Ningsih2
Universitas Islam Kuantan Singingi
Email :
[email protected] Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui model
pembelajaraan Problem Based Learning (PBL) pada materi hukum-hukum dasar kimia
dikelas X MIPA SMAN 2 Teluk Kuantan. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas, yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Tahapan penelitian dalam tiap siklus
meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang di adobsi dari Kemmis dan
Mc Taggart. Instrument penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, dan tes.
Subjek dalam penelitian ini siswa kelas X MIPA SMAN 2 Teluk Kuantan, yang berjumlah
29 siswa. Adapun kriteria ketuntasan minimum yang ditetapkan yaitu > 78. Untuk
ketuntasan belajar klasikal dinyatakan berhasil jika persentase siswa yang tuntas belajar
mencapai 85% dari jumlah seluruhnya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata
ketuntasan individu pada siklus 1 adalah 57,2%, dengan persentase ketuntasan klasikal
hasil belajar siswa 3,44%, dan pada siklus 2 rata-rata ketuntasan individu 72,4% dengan
persentase ketuntasan klasikal adalah 48,27% serta pada siklus 3 rata-rata ketuntasan
individu 87,2% dengan persentase ketuntasan klasikal adalah 86,2%. Dari hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) pada materi hukum-hukum dasar kimia dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
Abstract:
This research aims to improve student learning outcomes through learning models in the
basic laws of chemistry in the class MIPA X SMAN 2 Teluk Kuantan. This type of
reaserch is classroom action research conducted in three cycles. The stages of research in
each cycle include the planning of observation and reflection actions which are adopted
from Kemmis dan Mc.Taggart. The research instrument used was an observation sheet
and a test. Subjects in this study were students of class X MIPA SMAN 2 Teluk Kuantan
who numbered 29 students. As for the minimum completeness criteria that are set >78.
For classical learning mastery expressed successful if the percentage of students
completing learning reaches 85% from the number of students. From the research it was
found that the average completeness of individuals in cycle 1 was 57,2%, with the
percentage of classical completeness student learning outcomes 3,44%%, and in cycle 2
the average individual completeness 72,4% the classical completeness percentage is
48,27% and in cycle 2 the average individual completeness 87,2% the classical
completeness percentage is 86,2%. From these result it can be concluded that learning by
using the problem based learning model of learning on the basic laws of chemistry can
improve student learning outcomes.
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 73
Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
Kata Kunci: model Problem Based Learning (PBL); hasil belajar
Pendahuluan Kesulitan tersebut dapat
membawa dampak yang kurang baik
Pendidikan merupakan usaha untuk
bagi pemahaman siswa mengenai
mengembangkan dan membina potensi
sumber daya manusia melalui berbagai berbagai konsep kimia, karena pada
kegiatan belajar mengajar yang dasarnya fakta-fakta yang bersifat
diselenggarakan pada semua jenjang abstrak merupakan penjelasan bagi
pendidikan dari tingkat dasar, menengah, fakta-fakta dan konsep konkret. Salah
dan perguruan tinggi. Pendidikan di satu indikator dari kelemahan kegiatan
sekolah mempunyai tujuan untuk pembelajaran berkaitan dengan
mengubah siswa agar dapat memiliki implementasi belajar, yaitu lemahnya
pengetahuan, keterampilan dan sikap proses pembelajaran yang berlangsung.
belajar sebagai bentuk perubahan perilaku Kondisi tersebut dapat menyebabkan
belajar, sehingga tujuan pendidikan
para siswa menjadi pasif karena mereka
tercapai.1 Belajar adalah suatu proses
cenderung hanya menghapal, akibatnya
perubahan perilaku atau pribadi seseorang
berdasarkan praktek atau pengalaman siswa hanya pandai secara teoritis
tertentu. Hal-hal pokok dalam pengertian tetapi lemah dalam aplikasi.
belajar adalah membawa perubahan
Model Problem Based Learning
tingkah laku karena pengalaman dan
latihan, perubahan itu pokok (PBL) dipilih karena mempunyai
didapatkannya kecakapan baru, dan beberapa kelebihan, antara lain adalah:
perubahan terjadi karena usaha yang 1) Pemecahan masalah yang diberikan
disengaja.2 Aliran psikologi kognitif dapat menantang dan membangkitkan
menganggap bahwa belajar pada dasarnya kemampuan berpikir kritis siswa serta
merupakan peristiwa mental, bukan memberikan kepuasan untuk
peristiwa behavorial yang bersifat menemukan suatu pengetahuan baru,
jasmaniah. 2) Pembelajaran dengan model Problem
Based Learning (PBL) dianggap lebih
1 Lisdawani, Pengaruh Model Pembelajaran menyenangkan dan lebih disukai siswa,
Problem Based Learning (PBL) Pada Materi Minyak 3) Model Problem Based Learning (PBL)
Bumi Dan Petrokimia Terhadap Hasil Belajar Siswa dapat meningkatkan aktivitas siswa
Kelas XI IPA Di Mas Babun Najah Banda Aceh. dalam proses pembelajaran, dan 4)
(Aceh, Skripsi, Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Model Problem Based Learning (PBL)
(Ftk) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
dapat memberikan kesempatan siswa
Darussalam. Banda Aceh. 2017). hal.1
untuk menerapkan pengetahuan yang
2 Asri Budiningsih, Belajar dan pembelajaran, mereka miliki ke dalam dunia nyata.
(Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2012). hal.20. Berdasarkan data hasil wawancara
pada hari selasa, 15 Januari 2019
dengan guru kimia SMAN 2 Teluk
Kuantan, diketahui permasalahan yang
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 74
Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
terjadi dan dihadapi dalam kegiatan belajar bukan sekedar kegiatan
belajar pada materi hukum-hukum memindahkan pengetahuan dari guru
dasar kimia. Beberapa permasalahan ke siswa, tetapi merupakan kegiatan
tersebut antara lain adalah: Pertama, yang membangkitkan keaktifan dan
hasil belajar masih rendah. Hal ini bisa memungkinkan siswa membangun
dilihat dari nilai-nilai hasil ulangan sendiri pengetahuannya .3
harian mata pelajaran kimia yang pada
dasarnya rendah. Seperti pada materi Dengan demikian peneliti mengangkat
hukum-hukum dasar kimia yang masih judul Penerapan Model Problem Based
kurang dari Kriteria Ketuntasan Learning (PBL) Pada Materi Pokok
Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu Hukum - Hukum Dasar Kimia Untuk
78. Dengan jumlah siswa 23 orang Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Kelas X MIPA SMAN 2 Teluk
siswa terdapat 15 orang (65,21 %) yang
Kuantan.
nilainya diatas KKM, sedangkan masih
ada 8 orang (34,78 %) nilainya masih Metodologi Penelitian
dibawah KKM. Sehingga dapat
dikatakan bahwa hasil belajar siswa Penelitian ini menggunakan
masih tergolong rendah. Kedua, guru rancangan penelitian tindakan kelas
masih menggunakan metode ceramah, (Classroom Action Research) yang
sehingga dibutuhkan kreatif dan usaha merupakan suatu pencermatan
guru untuk menggunakan variasi terhadap kegiatan belajar berupa
metode atau model pembelajaran yang sebuah tindakan, yang sengaja
sesuai dengan materi yang akan dimunculkan dan terjadi dalam sebuah
disampaikan. Ketiga, Keterlibatan siswa kelas secara bersama.4 Menurut
yang masih rendah dalam kegiatan Sukardi, metode penelitian tindakan
belajar, dimana siswa terbiasa hanya kelas (Classroom Action Research) terdiri
mencatat dan mendengarkan guru. dari empat komponen yaitu
pengembangan planning
Berdasarkan permasalahan (perencanaan), action (tindakan),
tersebut, maka diperlukan tindakan observation (pengamatan), dan reflection
pada tahap eksplorasi untuk (tindakan ulangan). Penelitian ini
memperbaiki kualitas dari proses dan dilaksanakan di SMAN 2 Teluk
produk belajar siswa agar menjadi lebih Kuantan, pada semester genap tahun
baik. Salah satu cara untuk ajaran 2018/2019. Penelitian dilakukan
memperbaiki kualitas proses dan hasil pada bulan Mei 2019.
belajar tersebut yaitu dengan Teknik pengumpulan data yang
penerapan suatu model pembelajaran digunakan dalam penelitian ini berupa
yang sesuai dengan karakteristik materi lembar observasi, dokumentasi, dan tes
dan kondisi siswa. Oleh karena itu hasil belajar.
diterapakan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) itu sendiri. 3Ibid.hal.68
Dengan model prmbelajaran Problem
4 Suharsimi Arikunto, suhardjono, dan Supardi.
Based Learning siswa mencari dan
Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta:PT.Bumi
membangun sendiri informasi dari
Aksara.2016).hal.144.
sesuatu yang dipelajari sehingga proses
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 75
Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
1. Analisis Data Lembar Observasi ditetapkan sekolah yaitu mendapat
Data hasil lembar nilai sekurang-kurangnya 78
observasi/pengamatan terhadap dinyatakan tuntas dan dibawah 78
siswa dan guru pada saat dinyatakan belum tuntas. Rumus
pembelajaran sedang berlangsung untuk menghitung ketuntasan
dipresentasikan peningkatan setiap individual yaitu:
pertemuan. Untuk menghitung hasil
persentasi observasi siswa dan guru Ketuntasan individu =
digunakan rumus:
x 100%
P= x 100%
Sedangkan ketuntasan belajar secara
klaksikal yaitu mengukur tingkat
keberhasilan ketuntasan belajar siswa
menyeluruh. Rumus yang digunakan
untuk melihat ketuntasan belajar siswa
Keterangan: p : tingkat keberhasilan.5 secara klasikal adalah:
Tabel 3. Kriteria Penilaian KS = x 100%
Observasi Guru Dan Siswa.6 Keterangan:
Nilai (%) Kategori Penilaian
KS : Ketuntasan Klasikal
80-100 Baik sekali
66-79 Baik ST : Jumlah siswa yang tuntas
56-65 Cukup
40-55 Kurang N : Jumlah siswa dalam kelas
30-39 Gagal
2. Analisis Data hasil belajar
Sedangkan ketuntasan belajar secara
Dalam penelitian ini terdapat klaksikal yaitu mengukur tingkat
dua kategori ketuntasan belajar keberhasilan ketuntasan belajar siswa
yaitu secara individual dan klasikal. menyeluruh. Rumus yang digunakan
Ketuntasan belajar secara individu untuk melihat ketuntasan belajar siswa
didapat dari kriteria ketuntasan secara klasikal adalah:
minimal (KKM) untuk
KS = x 100%
pembelajaran kimia materi hukum-
hukum dasar kimia yang
Keterangan:
5 Agustiadi, Penerapan Model Pembelajaran KS : Ketuntasan Klasikal
NHT Dengan Media Video Untuk Mengkatkan
Hasil Belajar Siswa Pada Materi Sistem Koloid ST : Jumlah siswa yang tuntas
Di Mas Babun Najah Banda Aceh, (Banda
N : Jumlah siswa dalam kelas
Aceh: Skripsi, Universitas Islam Negeri Ar-
Rainy Darussalam 2017), hal.54 Ketuntasan belajar klaksikal dinyatakan
berhasil jika persentase siswa yang tuntas
6 Ibid.hal.54 adalah 85% dari jumlah siswa seluruhnya.
Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 76
Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
refleksi untuk melakukan perencanaan digunakan rumus ketuntasan
lanjutan pada siklus selanjutnya. Hasil klasikal. Adapun nilai hasil
analisis juga dijadikan sebagai bahan ketuntasan klasikal belajar siswa
refleksi dalam memperbaiki rancangan pada siklus I adalah 3,44 %.
pembelajaran.
1. Tahap refleksi
1. Siklus I
Berdasarkan refleksi siklus I bahwa
a. Tahap perencanaan hasil belajar masih rendah dan belum
mencapai 85% ketuntasan klasikal.
Pada tahap perencanaan tindakan ini Indikator-indikator yang ada pada
dilakukan persiapan dan perencanaan
lembar observasi baik kegiatan guru
kegiatan pembelajaran dengan model
maupun kegiatan siswa belum
pembelajaran Problem Based Leraning
(PBL).
terpenuhi secara keseluruhan,
sehingga hasil belajar siswa belum
b. Tahap pelaksanaan atau tindakan maksimal, selain itu guru belum
sepenuhnya menguasai kelas
Pelaksanaan pembelajaran siklus I
sehingga kelas belum terkendali
dilaksanakan pada hari jumat tanggal 03
Mei 2019 dengan I kali pertemuan (3 x
dengan baik, karena masih ada siswa
45 menit) dari pukul 08:15 – 10.30 wib. yang belum memperhatikan guru
saat guru menjelaskan pelajaran.
c. Tahap observasi atau pengamatan Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar siklus I belum
1. Aktivitas guru
tercapai, sehingga perlu dilanjutkan
Hasil persentase dari aktivitas guru ke siklus II.
1. Siklus II
adalah 83,3%.
Pada siklus II dilakukan perbaikan
1. Aktivitas siswa terhadap kelemahan pada siklus I.
Hasil persentase dari aktivitas siswa adapun perencanaan pada siklus II ini
adalah 66,7%. berdasarkan hasil refleksi pada siklus
I, yaitu:
2. Hasil belajar 1. Tahap perencanaan
Pada tahap perencanaan tindakan
Hasil belajar siswa diolah dengan ini dilakukan persiapan dan
menggunakan rumus persentase. perencanaan kegiatan pembelajaran
Data diperoleh dari hasil tes yang dengan model pembelajaran
diberikan pada siklus I. Hasil tes Problem Based Leraning (PBL).
yang telah dicapai pada siklus I 1. Pelaksanaan pembelajaran siklus II
selanjutnya dilakukan analisis dilaksanakan pada hari jumat
ketuntasan belajar baik secara tanggal 10 Mei 2 019 dengan 1 kali
individual maupun klasikal. Nilai pertemuan (3 x 45 menit) dari pukul
rata-rata siswa adalah 57,2 % pada 08:15 – 10.30 wib.
siklus I, terdapat 1 siswa yang tuntas
dari 29 jumlah semua siswa. Untuk 2. Tahap observasi atau pengamatan
mencari nilai ketuntasan klasikal
terhadap skor yang diperoleh siswa 1. Aktivitas guru
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 77
Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
Lembar observasi yang telah meningkat pada siklus II menjadi
disiapkan, diisi oleh observer I dan 48,27%. Namun sesuai dengan
observer II pada saat proses belajar ketuntasan belajar secara klasikal di
mengajar berlangsung dengan sekolah 85% hasil belajar siklus II
menerapkan model pembelajaran belum tercapai dan dinyatakan
problem based learning (PBL) pada belum tuntas. Oleh karena itu, dapat
materi pokok hukum-hukum dasar disimpulkan bahwa secara klasikal
kimia untuk meningkatkan hasil pada siklus II belum tercapai.
belajar siswa kelas X MIPA SMAN 2
3. Siklus III
Teluk Kuantan.
Persentase seluruh aktivitas Pada siklus III dilakukan
guru yang dicapai pada siklus II perbaikan terhadap kelemahan pada
adalah 91,6 % dan dikategorikan siklus II. Adapun perencanaan pada
baik. siklus III ini berdasarkan hasil refleksi
2. Aktivitas siswa pada siklus II.
Lembar observasi yang telah
disiapkan, diisi oleh observer I dan 1. Tahap perencanaan
observer II pada saat proses belajar Pada tahap perencanaan tindakan
mengajar berlangsung dengan ini dilakukan persiapan dan
menerapkan model pembelajaran perencanaan kegiatan pembelajaran
problem based learning (PBL) pada materi dengan model pembelajaran Problem
pokok hukum-hukum dasar kimia Based Leraning (PBL).
untuk meningkatkan hasil belajar siswa 2. Tahap pelaksanaan dan tindakan
kelas X MIPA SMAN 2 Teluk Kuantan.
Persentase seluruh aktivitas siswa yang Pelaksanaan pembelajaran siklus
dicapai pada silklus II adalah 77,8% dan III dilaksanakan dengan 1 kali
dikategorikan sangat baik. pertemuan (3 x 45 menit) dari pukul
08:15 – 10.30 wib. Dimana siklus III
3. Hasil belajar ini merupakan lanjutan dari siklus
Hasil belajar siswa diolah dengan
II yang hasil belajarnya belum
menggunakan rumus persentase. Data
tuntas, sehingga dilakukan
diperoleh dari hasil tes yang diberikan
pada siklus II. Hasil tes yang telah pengayaaan materi pada siklus I.
dicapai pada siklus II selanjutnya
3. Tahap observasi atau
dilakukan analisis ketuntasan belajar
pengamatan
baik secara individual maupun klasikal.
1. Aktivitas guru
4. Refleksi Lembar observasi yang
telah disiapkan, diisi oleh
Pada siklus II terjadi peningkatan observer I dan observer II pada
hasil belajar. Peningkatan ketuntasan saat proses belajar mengajar
klasikal belajar pada siklus II ini berlangsung dengan
dikarenakan kelemahan-kelemahan menerapkan model pembelajaran
pada siklus I sudah diperbaiki pada problem based learning (PBL) pada
siklus II. Adapun perhitungan nilai materi pokok hukum-hukum
ketuntasan klasikal belajar siswa dasar kimia untuk meningkatkan
pada siklus I sebesar 3,44% hasil belajar siswa kelas X MIPA
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 78
Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
SMAN 2 Teluk Kuantan. peningkatan sehingga
Persentase seluruh aktivitas dikategorikan sangat baik.
siswa yang dicapai pada siklus Semua aspek proses
III adalah 100% dan pembelajaran sudah
dikategorikan sangat baik. dilaksanakan dengan optimal.
2. Aktivitas siswa Hal ini disebabkan karena semua
kelemahan pada siklus II telah
Lembar observasi yang telah diperbaiki. Oleh karena itu tidak
disiapkan, diisi oleh observer I dan perlu pengulangan siklus.
observer II pada saat proses belajar
mengajar berlangsung dengan Berdasarkan nilai hasil tes
menerapkan model pembelajaran akhir, didapat 4 orang siswa
problem based learning (PBL) pada materi yang belum mencapai
pokok hukum-hukum dasar kimia ketuntasan belajar secara
untuk meningkatkan hasil belajar siswa individu yaitu siswa yang
kelas X MIPA SMAN 2 Teluk Kuantan. memperoleh ketuntasan
Persentase seluruh aktivitas siswa yang individu <78 sesuai dengan
dicapai pada silklus III adalah 100% KKM yang telah ditetapkan di
dan dikategorikan sangat baik. sekolah tersebut pada materi
3. Hasil belajar hukum-hukum dasar kimia sub
Hasil belajar siswa diolah materi hukum kekekalan massa
dengan menggunakan rumus dan siswa yang memperoleh
persentase. Data diperoleh dari ketuntasan individu >78
hasil tes yang diberikan pada berjumlah 25 orang dengan
siklus III. Hasil tes yang telah persentase ketuntasan belajar
dicapai pada siklus III secara klasikal sebesar 86,2%.
selanjutnya dilakukan analisis Sesuai dengan kriteria
ketuntasan belajar baik secara ketuntasan belajar secara
individual maupun klasikal. klasikal di sekolah dinyatakan
Nilai kriteria ketuntasan minimal tuntas apabila 85% siswa tuntas
(KKM) SMAN 2 Teluk Kuantan secara klasikal. Oleh karena itu,
untuk pelajaran kimia kelas X dapat disimpulkan bahwa
yang telah ditentukan yaitu 78. ketuntasan belajar secara
Adapun perhitungan nilai klasikal pada siklus II telah
ketuntasan klasikal belajar siswa tercapai.
pada siklus III adalah 86,2%
sesuai dengan ketuntasan belajar Kesimpulan
secara klasikal di sekolah
dinyatakan tuntas apabila 85% Berdasarkan hasil penyajian
siswa tuntas secara klasikal. data analisis data penelitian tentang
4. Tahap refleksi penerapan model problem based
Kegiatan guru dan siswa learning (PBL) pada materi hukum-
dalam mengelola pembelajaran hukum dasar kimia untuk
selama kegiatan belajar mengajar meningkatkan hasil belajar siswa
berlangsung mengalami kelas X MIPA SMAN 2 Teluk
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 79
Emelda, Nofri Yuhelman, Jumriana Rahayu Ningsih
Kuantan maka dapat disimpulkan Negeri Ar-Rainy
sebagai berikut: Darussalam.hal.54
1. kriteria ketuntasan minimum
Arikunto Suharsimi, Suhardjono, dan
yang ditetapkan yaitu >78. Supardi. 2016. penelitian
Untuk ketuntasan belajar klasikal tindakan kelas. Jakarta. PT
dinyatakan berhasil jika bumi Aksara
persentase siswa yang tuntas
mencapai 85% dari jumlah siswa
seluruhnya.
Budiningsih, Asri. 2012. Belajar dan
2. Dari hasil penelitian diperoleh
pembelajaran. Jakarta. PT.
bahwa rata-rata ketuntasan
Rineka Cipta
individu pada siklus I adalah
57,2%, dengan persentase Lisdawani. 2017. Pengaruh Model
ketuntasan klasikal hasil belajar Pembelajaran Problem Based
siswa adalah 3,44%. Learning (PBL) Pada Materi
3. Pada siklus II rata-rata Minyak Bumi Dan Petrokimia
ketuntasan individu adalah Terhadap Hasil Belajar Siswa
72,4%, persentase ketuntasan Kelas XI IPA Di Mas Babun
klasikal yaitu 48,27% Najah Banda Aceh (skripsi).
4. Pada siklus III rata-rata Universitas Islam Negeri
ketuntasan individu adalah Ar-Raniry Darussalam-
87,2%, persentase klasikal 86,2% Banda Aceh
dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa
pembelajaran dengan model
Problem Based Learning (PBL)
pada materi hukum-hukum
dasar kimia dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
Daftar Pustaka
Agustiadi. 2017. Penerapan Model
Pembelajaran NHT Dengan
Media Video Untuk Mengkatkan
Hasil Belajar Siswa Pada Materi
Sistem Koloid Di Mas Babun
Najah Banda Aceh (Skripsi).
Banda Aceh. Universitas Islam
JOM FTK UNIKS, Volume. 1, Nomor 1, Desember 2019 Page 80