Program Pelatihan Mebel Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Tongele, Ternate, Maluku Utara, 2015
Program Direktorat IKM Wilayah 3, Kemenperin
Instruktur: Deny Willy Junaidy
Ide Desain: Dodi Mulyadi
Pelaksana: PT. Permata Kamandaya
Pelatihan Desain Bambu Tutul di Desa Marikurubu, Perkebunan Cengkeh Afo di Lereng Gunung Gamalama, Ternate telah lama difasilitasi oleh Direktorat IKM Kemenperin. Pada pelatihan kali ini, dipilih 5 perajin ahli (master craftsmen) dari sentra kerajinan setempat, dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan baru yang lebih maju. Teknik yang diperkenalkan adalah teknik pres laminasi bambu dengan isian kayu hitam. Teknik laminasi bambu tutul dua sisi dengan pengisi bagian dalam dari kayu hitam menghasilkan tampilan yang khas menyerupai susunan kue wafer atau biskuit dengan permukaan seolah bertabur bercak coklat. Teknik tradisional pembuatan seperti krepyak/palupuh di Ternate lebih lazim disebut teknik cincang. Prosesnya dilakukan spt mencincang bagian dalam bambu hingga dapat menghasilkan lembaran krepayak yang cukup lebar untuk kemudian di pres dengan menggunakan catok (clamp).
Banyak sekali kesulitan yang ditemui dalam proses pelatihan kali ini. Mereka sangat mahir dalam pengolahan mebel bambu, khususnya mengunakan 3 alat utama seperti gergaji sebagai pemotong, golok sebagai pembelah dan pisau raut sebagai peraut atau membuat iratan. Namun, dengan teknik baru laminasi mereka dihadapi persoalan untuk mahir mengolah bidang dengan permukaan lurus, rata dan menyiku yang tidak lazim bagi mereka, sehingga nampak proses meraut bambu/kayu menggunakan mesin planner dan mesin amplas kayu menjadi tidak mudah bagi mereka.
Proses pembahanan perautan bambu menjadi bilah bambu serta bilah kayu hitam membutuhkan waktu sekitar 4 hari, proses perangkaan dan penyetelan menjadi semakin rumit, karena teknik konstruksi sambungan untuk lap joint atau mortise dan tenon (purus) joint betul-betul berbeda dengan teknik konstruksi bambu. Contohnya, penggunaan pahat kayu untuk membuat mortise (lubang untuk purus) tidak digunakan, para perajin lebih memilih mencungkil atau meraut lubang mortise dengan menggunakan pisau raut. Sehingga profil lubang mortise menghasilkan sudut melengkung , bukan menyiku.
Teknik lain yang diperkenalkan adalah konstruksi moduler kursi dan meja bambu tutul dengan sistem knockdown dengan pertimbangan kemudahan untuk pengiriman produk keluar pulau.
Secara keseluruhan, 3 produk berupa, Kursi Bambu Knock-down, Meja Knock-down, dan sebuah lampu dinding berhasil di selesaikan dengan hasil yang unik seperti keindahan Pulau Ternate, Pulau Tidore, Gunung Gamalama dan Danau Tolire yang megah.
Terakhir, Kami menamakan desain laminasi ini dengan laminasi ‘Wafer’.
Semoga kelak saya kembali ke tanah Ternate yang sangat indah.
























